Ada MASALAH di kantor? Sampai konflik? Itu wajar. Mungkin interaksi orang-orang di dalamnya begitu intens.
Terus, apa tips dari saya? Pertama, ketika terjadi konflik, tempatkan diri kita dalam posisi orang lain. Ini namanya empati. Catat, em-pa-ti.
Mungkin sulit menempatkan diri kita dalam posisi mereka. Tapi, bukannya mustahil. Perlu diingat, empati dan kompromi seringkali lebih efektif ketimbang konfrontasi.
Kedua? Pertimbangkan kemungkinan terburuk bagi kedua belah pihak. Mengetahui hal ini, kita akan berhati-hati dalam memutuskan dan berusaha menghindari konfrontasi.
Terus? Cari pendapat pihak ketiga yang ahli dan netral. Jika Anda menemui jalan buntu dengan 'pihak lawan' dan belum punya solusi konkrit walaupun sudah berusaha sebaik-baiknya, maka carilah pihak ketiga untuk bantu mendamaikan.
Terus? Fokus pada persamaan dan kompromilah sesekali. Selagi tidak berbenturan dengan hal-hal prinsip, tak ada salahnya kalau kita mau berkompromi. Sekali lagi, hindari konfrontasi.
Kalau doa? Tentu saja ini harus. Sebagai orang beriman, kita sama-sama tahu bahwa doa adalah bagian tak terpisahkan dari ikhtiar. Maka, sertakan ini sejak awal ketika memulai dialog.
Dengan begini, mudah-mudahan konflik tersebut bisa reda dan redam. Silakan dicoba. Sip? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Terus, apa tips dari saya? Pertama, ketika terjadi konflik, tempatkan diri kita dalam posisi orang lain. Ini namanya empati. Catat, em-pa-ti.
Mungkin sulit menempatkan diri kita dalam posisi mereka. Tapi, bukannya mustahil. Perlu diingat, empati dan kompromi seringkali lebih efektif ketimbang konfrontasi.
Kedua? Pertimbangkan kemungkinan terburuk bagi kedua belah pihak. Mengetahui hal ini, kita akan berhati-hati dalam memutuskan dan berusaha menghindari konfrontasi.
Terus? Cari pendapat pihak ketiga yang ahli dan netral. Jika Anda menemui jalan buntu dengan 'pihak lawan' dan belum punya solusi konkrit walaupun sudah berusaha sebaik-baiknya, maka carilah pihak ketiga untuk bantu mendamaikan.
Terus? Fokus pada persamaan dan kompromilah sesekali. Selagi tidak berbenturan dengan hal-hal prinsip, tak ada salahnya kalau kita mau berkompromi. Sekali lagi, hindari konfrontasi.
Kalau doa? Tentu saja ini harus. Sebagai orang beriman, kita sama-sama tahu bahwa doa adalah bagian tak terpisahkan dari ikhtiar. Maka, sertakan ini sejak awal ketika memulai dialog.
Dengan begini, mudah-mudahan konflik tersebut bisa reda dan redam. Silakan dicoba. Sip? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Mohon doa. #BundaFirda (paling kiri, kerudung merah) adalah guru TK Khalifah angkatan pertama. Penyayang sama anak-anak bahkan dipilih 90% anak-anak sebagai guru favorit. Dia juga saksi atas perjuangan saya merintis TK Khalifah di Batam. Boleh dibilang, dia anak emas bagi saya, istri saya, dan manajemen. Ketika tim perdana resign satu per satu, dia tetap bertahan. Sampailah tadi pagi Allah memanggilnya. Dia berpulang (karena sakit). Semoga Allah menerima amal-amalnya dan mengampuni dosa-dosanya. Aamiin. Sekali lagi, mohon doanya.
Saran saya, "Mulailah berbisnis semuda mungkin."
- Mumpung lagi mood.
- Mumpung lagi semangat-semangatnya.
- Mumpung lagi berani-beraninya.
- Mumpung ada stamina.
- Mumpung ada waktu.
- Mumpung ada peluang.
- Mumpung masih sedikit tanggungan.
- Mumpung Anda membaca tulisan ini.
Yang saya lihat, tingkat semangat dan tingkat keberanian si muda, rada beda dengan senior-seniornya. Si muda lebih menyala-nyala. Kebanyakan yah begitu.
Di sini kita nggak bisa menggadang-gadang kisah langka alias kisah pengecualian seperti Kolonel Sanders dengan KFC-nya.
Dan satu lagi. Orang-orang muda demen sama teknologi juga perubahan. Saya sih yakin, Indonesia bahkan dunia bisa mencicipi perubahan yang lebih cepat sekiranya orang-orang mudanya diberi kesempatan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
- Mumpung lagi mood.
- Mumpung lagi semangat-semangatnya.
- Mumpung lagi berani-beraninya.
- Mumpung ada stamina.
- Mumpung ada waktu.
- Mumpung ada peluang.
- Mumpung masih sedikit tanggungan.
- Mumpung Anda membaca tulisan ini.
Yang saya lihat, tingkat semangat dan tingkat keberanian si muda, rada beda dengan senior-seniornya. Si muda lebih menyala-nyala. Kebanyakan yah begitu.
Di sini kita nggak bisa menggadang-gadang kisah langka alias kisah pengecualian seperti Kolonel Sanders dengan KFC-nya.
Dan satu lagi. Orang-orang muda demen sama teknologi juga perubahan. Saya sih yakin, Indonesia bahkan dunia bisa mencicipi perubahan yang lebih cepat sekiranya orang-orang mudanya diberi kesempatan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Istri, jangan meminta.
Suami, mestinya memberi.
Istri, jangan boros.
Suami, mestinya mencukupi.
Imbang tho?
Jangan memanjakan istri semata-mata dengan harta. Itu betul. Tapi, sudah tugas suami untuk membuat istri lebih nyaman. Dengan apa? Yah dengan semuanya. Perhatian, sentuhan, waktu, ilmu, harta, dll. Jangan salah satunya saja.
Misal, Anda mengajak istri berlibur. Di situ terlibat berbagai komponen. Mulai dari perhatian, sentuhan, waktu, sampai harta. Dan sekiranya istri ingin berlibur di Raja Ampat terus Anda mampu, yah apa salahnya? Boleh, insya Allah.
Menjadikan harta sebagai komponen utama dalam memanjakan keluarga, jelas itu pilihan dan keputusan yang keliru. Ya, ke-li-ru. Tapi kita mesti paham, kadang harta memang dilibatkan. Sebagai pendukung.
Kalau kita belajar ilmu penafkahan (di mana ini sepenuhnya tanggung-jawab suami), maka kita akan dipahamkan bahwa memang ada komponen harta di sana. Nggak bisa nggak. Jadi, jangan risih kalau bicara soal harta.
Bantu share ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Suami, mestinya memberi.
Istri, jangan boros.
Suami, mestinya mencukupi.
Imbang tho?
Jangan memanjakan istri semata-mata dengan harta. Itu betul. Tapi, sudah tugas suami untuk membuat istri lebih nyaman. Dengan apa? Yah dengan semuanya. Perhatian, sentuhan, waktu, ilmu, harta, dll. Jangan salah satunya saja.
Misal, Anda mengajak istri berlibur. Di situ terlibat berbagai komponen. Mulai dari perhatian, sentuhan, waktu, sampai harta. Dan sekiranya istri ingin berlibur di Raja Ampat terus Anda mampu, yah apa salahnya? Boleh, insya Allah.
Menjadikan harta sebagai komponen utama dalam memanjakan keluarga, jelas itu pilihan dan keputusan yang keliru. Ya, ke-li-ru. Tapi kita mesti paham, kadang harta memang dilibatkan. Sebagai pendukung.
Kalau kita belajar ilmu penafkahan (di mana ini sepenuhnya tanggung-jawab suami), maka kita akan dipahamkan bahwa memang ada komponen harta di sana. Nggak bisa nggak. Jadi, jangan risih kalau bicara soal harta.
Bantu share ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Apapun agama Anda, tulisan ini perlu Anda baca.
Islam merupakan agama tercepat pertumbuhannya dalam lima tahun di Australia, dengan peningkatan 39,9 persen. Fakta tersebut terungkap dalam laporan International Centre for Muslim and non-Muslim Understanding.
Itu yang terjadi di Australia. Bagaimana dengan di Indonesia? Kali ini saya tidak ingin bicara soal jumlah penganutnya. Saya lebih tertarik bicara soal tingkat kesalehannya. Penelitian Riaz Hassan dari Flinders University, Australia mengungkapkan bahwa muslim Indonesia mempunyai kesalehan ritual tinggi.
Sewaktu saya diundang Pak Chairul Tanjung di rumahnya, ia menyampaikan bahwa mahasiswi berjilbab jumlahnya meningkat pesat selama 5 tahun terakhir. Ini menurut pengalaman dan pengamatannya saat sharing ilmu di Universitas Indonesia untuk sekian tahun terakhir.
Apa implikasinya?
Sebagai entrepreneur dan marketer, kita harus peka dengan fenomena ini. Mengabaikan faktor agama bisa membuat customer terusik dan meninggalkan bisnis kita. Setuju atau tidak, Aksi 411 dan Aksi 212 menunjukkan bahwa agama beserta nilai-nilainya adalah hal yang teramat penting bagi umat Muslim di Indonesia.
Kajian demi kajian, sekarang bukan saja di masjid dan musholla. Tapi juga hadir di perkantoran dan rumah-rumah. Sambil ngobrol, saya dan istri saya pernah memberi masukan kepada pemilik salon Irwan Team agar menyiapkan space kecil dan tertutup untuk customer Muslimah. Input itu kemudian ia terapkan di sejumlah cabang.
Sekali lagi, mengabaikan faktor agama bisa membuat customer terusik dan meninggalkan bisnis kita. Sudah saatnya kita lebih peka. Bantu share ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Islam merupakan agama tercepat pertumbuhannya dalam lima tahun di Australia, dengan peningkatan 39,9 persen. Fakta tersebut terungkap dalam laporan International Centre for Muslim and non-Muslim Understanding.
Itu yang terjadi di Australia. Bagaimana dengan di Indonesia? Kali ini saya tidak ingin bicara soal jumlah penganutnya. Saya lebih tertarik bicara soal tingkat kesalehannya. Penelitian Riaz Hassan dari Flinders University, Australia mengungkapkan bahwa muslim Indonesia mempunyai kesalehan ritual tinggi.
Sewaktu saya diundang Pak Chairul Tanjung di rumahnya, ia menyampaikan bahwa mahasiswi berjilbab jumlahnya meningkat pesat selama 5 tahun terakhir. Ini menurut pengalaman dan pengamatannya saat sharing ilmu di Universitas Indonesia untuk sekian tahun terakhir.
Apa implikasinya?
Sebagai entrepreneur dan marketer, kita harus peka dengan fenomena ini. Mengabaikan faktor agama bisa membuat customer terusik dan meninggalkan bisnis kita. Setuju atau tidak, Aksi 411 dan Aksi 212 menunjukkan bahwa agama beserta nilai-nilainya adalah hal yang teramat penting bagi umat Muslim di Indonesia.
Kajian demi kajian, sekarang bukan saja di masjid dan musholla. Tapi juga hadir di perkantoran dan rumah-rumah. Sambil ngobrol, saya dan istri saya pernah memberi masukan kepada pemilik salon Irwan Team agar menyiapkan space kecil dan tertutup untuk customer Muslimah. Input itu kemudian ia terapkan di sejumlah cabang.
Sekali lagi, mengabaikan faktor agama bisa membuat customer terusik dan meninggalkan bisnis kita. Sudah saatnya kita lebih peka. Bantu share ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
CEO Telegram, Pavel Durov, menyampaikan data ini:
Setiap hari, 600.000 pengguna baru mendaftar ke Telegram secara global.
Setiap hari, 20.000 pengguna baru mendaftar ke Telegram dari Indonesia.
Karena faktor berita dan keunggulannya, Telegram semakin diminati.
Mari ajak keluarga kita install Telegram, lalu search channel Telegram @ipphoright
Setiap hari, 600.000 pengguna baru mendaftar ke Telegram secara global.
Setiap hari, 20.000 pengguna baru mendaftar ke Telegram dari Indonesia.
Karena faktor berita dan keunggulannya, Telegram semakin diminati.
Mari ajak keluarga kita install Telegram, lalu search channel Telegram @ipphoright
Kemarin saya ke Kampus Umar Usman. Seperti biasa, di sini saya rapat internal lalu mengajar. Sebelum mengajar, saya meeting sejenak dengan sahabat saya, dr Phaidon Toruan. Seru juga.
Saya sempat bengong, seorang dokter Nasrani seperti dr Phaidon Toruan bisa menyampaikan tips-tips sehat ala Nabi Muhammad, sekalian ayat dan hadits-nya. Kata beliau, ikuti saja pola makan Nabi Muhammad, biar sehat.
Beliau ini partner dari Ade Rai, Tung Desem Waringin, dan Rhenald Kasali. Pernah juga melatih atlit-atlit untuk Olimpiade 2004, 2008, dan 2012. Indy Barends menyebut nama beliau sebagai penasihat utamanya untuk urusan kesehatan.
Ada ungkapan, "Makan SEBELUM lapar, berhenti sebelum kenyang." Ini sering disebut-sebut sebagai hadits, padahal ada perbedaan makna di sana.
"Kita adalah kaum yang hanya makan BILA lapar dan berhenti sebelum kenyang“ Inilah hadits-nya. BILA lapar tentu saja berbeda makna dengan SEBELUM lapar. Btw, ini pun hadits dhaif.
Satu lagi. Hikmah utama yang disampaikan di sini juga soal kesederhanaan, bukan teknis soal makan. Karena Nabi mengizinkan makan dan kenyang. Yang dilarang itu kekenyangan.
Terlepas dari itu, banyak pula hadits-hadits yang sahih dan kuat soal makanan. Misalnya saja, makan buah di awal (bukan di akhir), merutinkan kurma, jintan hitam, delima, air dari daun bidara, dll.
Madu dan propolis? Madu dan propolis adalah produk turunan dari lebah, di mana soal lebah ini juga tertera di berbagai kitab suci, termasuk Al-Quran. Insya Allah sangat baik.
Semangka? Nabi menyukainya. Ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tirmidzi. Terus, dibahas pula oleh Ibnu Abbas Ibnu Qoyyim. Manfaatnya beragam, salah satunya sangat berdampak bagi penderita asam urat.
Saya pun pernah membaca dua hadits tentang perut Nabi yang kotak-kotak. Luar biasa! Kita? Yah setidaknya sehat dan bugar-lah. Jangan sakit-sakitan. Jangan kekurusan, jangan pula kegemukan.
Saya pribadi berusaha jogging 3 kali seminggu dan berenang 1 kali sebulan. Olahraga itu kan bagian dari syukur nikmat. Ingat, kesehatan itu suatu nikmat dan mesti dijaga. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya sempat bengong, seorang dokter Nasrani seperti dr Phaidon Toruan bisa menyampaikan tips-tips sehat ala Nabi Muhammad, sekalian ayat dan hadits-nya. Kata beliau, ikuti saja pola makan Nabi Muhammad, biar sehat.
Beliau ini partner dari Ade Rai, Tung Desem Waringin, dan Rhenald Kasali. Pernah juga melatih atlit-atlit untuk Olimpiade 2004, 2008, dan 2012. Indy Barends menyebut nama beliau sebagai penasihat utamanya untuk urusan kesehatan.
Ada ungkapan, "Makan SEBELUM lapar, berhenti sebelum kenyang." Ini sering disebut-sebut sebagai hadits, padahal ada perbedaan makna di sana.
"Kita adalah kaum yang hanya makan BILA lapar dan berhenti sebelum kenyang“ Inilah hadits-nya. BILA lapar tentu saja berbeda makna dengan SEBELUM lapar. Btw, ini pun hadits dhaif.
Satu lagi. Hikmah utama yang disampaikan di sini juga soal kesederhanaan, bukan teknis soal makan. Karena Nabi mengizinkan makan dan kenyang. Yang dilarang itu kekenyangan.
Terlepas dari itu, banyak pula hadits-hadits yang sahih dan kuat soal makanan. Misalnya saja, makan buah di awal (bukan di akhir), merutinkan kurma, jintan hitam, delima, air dari daun bidara, dll.
Madu dan propolis? Madu dan propolis adalah produk turunan dari lebah, di mana soal lebah ini juga tertera di berbagai kitab suci, termasuk Al-Quran. Insya Allah sangat baik.
Semangka? Nabi menyukainya. Ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tirmidzi. Terus, dibahas pula oleh Ibnu Abbas Ibnu Qoyyim. Manfaatnya beragam, salah satunya sangat berdampak bagi penderita asam urat.
Saya pun pernah membaca dua hadits tentang perut Nabi yang kotak-kotak. Luar biasa! Kita? Yah setidaknya sehat dan bugar-lah. Jangan sakit-sakitan. Jangan kekurusan, jangan pula kegemukan.
Saya pribadi berusaha jogging 3 kali seminggu dan berenang 1 kali sebulan. Olahraga itu kan bagian dari syukur nikmat. Ingat, kesehatan itu suatu nikmat dan mesti dijaga. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Purpose of life is more important than the life itself. Tujuan hidup lebih penting daripada hidup itu sendiri. Contohnya saja, para pejuang rela yang mengorbankan hidupnya (baca: nyawa) demi tujuan yang lebih besar. Apa itu? Kemerdekaan bangsanya.
Mari kita simak kisah seorang pahlawan wanita bernama Tjoet Nyak Dhien. Ia berasal dari keluarga bangsawan. Ia cantik lagi cerdas. Kalau saja dia mau sedikit kompromi atau sedikit berdamai dengan Belanda, tentu saja ia hidup nyaman.
Tapi ia memilih untuk melawan dan berjuang. Ya, ia punya tujuan hidup. Demi kemuliaan agama dan bangsanya. Akibatnya ia diasingkan sampai ke Sumedang. Tepatnya, dibuang. Karena tak dirawat, di sana kesehatannya memburuk. Ketika tua, ia nyaris tak pernah keluar rumah.
Hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien memang dihiasi dengan sunyi dan sepi. Menyedihkan. Bagaimana tidak? Jauh dari tanah kelahiran, jauh pula dari orang-orang yang dicintai.
Namun demikian, ia tidak pernah menyesal. Karena sejak kecil ia telah dididik untuk memiliki tujuan hidup. Ayahnya adalah hulubalang bernama Teuku Nanta Setia, keturunan Minang yang datang dari Sumatera Barat ke Aceh sekitar abad 18.
Kita mungkin tidak seberani Tjoet Nyak Dhien. Namun kita hendaknya memiliki tujuan besar dalam hidup. Jangan mengalir begitu saja tahu-tahu masuk selokan. Fleksibel, boleh. Namun terhadap tujuan besar mesti konsisten dan persisten.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Mari kita simak kisah seorang pahlawan wanita bernama Tjoet Nyak Dhien. Ia berasal dari keluarga bangsawan. Ia cantik lagi cerdas. Kalau saja dia mau sedikit kompromi atau sedikit berdamai dengan Belanda, tentu saja ia hidup nyaman.
Tapi ia memilih untuk melawan dan berjuang. Ya, ia punya tujuan hidup. Demi kemuliaan agama dan bangsanya. Akibatnya ia diasingkan sampai ke Sumedang. Tepatnya, dibuang. Karena tak dirawat, di sana kesehatannya memburuk. Ketika tua, ia nyaris tak pernah keluar rumah.
Hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien memang dihiasi dengan sunyi dan sepi. Menyedihkan. Bagaimana tidak? Jauh dari tanah kelahiran, jauh pula dari orang-orang yang dicintai.
Namun demikian, ia tidak pernah menyesal. Karena sejak kecil ia telah dididik untuk memiliki tujuan hidup. Ayahnya adalah hulubalang bernama Teuku Nanta Setia, keturunan Minang yang datang dari Sumatera Barat ke Aceh sekitar abad 18.
Kita mungkin tidak seberani Tjoet Nyak Dhien. Namun kita hendaknya memiliki tujuan besar dalam hidup. Jangan mengalir begitu saja tahu-tahu masuk selokan. Fleksibel, boleh. Namun terhadap tujuan besar mesti konsisten dan persisten.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Risiko?
Itu wajar.
Saran Chairul Tanjung:
- Jangan takut mengambil resiko.
- Jika berhasil, Anda akan bahagia.
- Jika gagal, Anda akan lebih bijaksana.
Saran saya, "Biasakan diri kita dengan risiko. Jangan tabu. Jangan ragu." Kalau kita anti-risiko, lha, hal besar apa yang mungkin kita capai? Nggak ada.
Coba perhatikan orang-orang besar. Entah di bidang bisnis, olahraga, atau politik. Pastilah mereka pernah mengambil langkah besar dan risiko besar. Right?
Berdasar data Bappenas hingga Juni 2017, penjualan sepeda motor tumbuh minus 26,9% secara year on year. Rendahnya permintaan juga tercermin dari pertumbuhan penjualan mobil yang tercatat minus 27,5% secara year on year.
Ya, daya beli tengah merosot. Itu harus kita akui. Tapi, jangan sampai berita-berita seperti ini melemahkan semangat entrepreneurship kita. Jangan sampai. Kalau mau buka usaha, yah buka saja.
Ketika ekonomi lagi slow, biasanya pesaing diam dan menahan diri. Nah, sebenarnya ini kesempatan bagi kita untuk masuk. Nanti, begitu ekonomi grow, kita sudah 'terbang'. Yang lain? Baru mempertimbangkan untuk masuk.
Sekali lagi, biasakan diri kita dengan risiko. Jangan tabu. Jangan ragu. Teman-teman setuju? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Itu wajar.
Saran Chairul Tanjung:
- Jangan takut mengambil resiko.
- Jika berhasil, Anda akan bahagia.
- Jika gagal, Anda akan lebih bijaksana.
Saran saya, "Biasakan diri kita dengan risiko. Jangan tabu. Jangan ragu." Kalau kita anti-risiko, lha, hal besar apa yang mungkin kita capai? Nggak ada.
Coba perhatikan orang-orang besar. Entah di bidang bisnis, olahraga, atau politik. Pastilah mereka pernah mengambil langkah besar dan risiko besar. Right?
Berdasar data Bappenas hingga Juni 2017, penjualan sepeda motor tumbuh minus 26,9% secara year on year. Rendahnya permintaan juga tercermin dari pertumbuhan penjualan mobil yang tercatat minus 27,5% secara year on year.
Ya, daya beli tengah merosot. Itu harus kita akui. Tapi, jangan sampai berita-berita seperti ini melemahkan semangat entrepreneurship kita. Jangan sampai. Kalau mau buka usaha, yah buka saja.
Ketika ekonomi lagi slow, biasanya pesaing diam dan menahan diri. Nah, sebenarnya ini kesempatan bagi kita untuk masuk. Nanti, begitu ekonomi grow, kita sudah 'terbang'. Yang lain? Baru mempertimbangkan untuk masuk.
Sekali lagi, biasakan diri kita dengan risiko. Jangan tabu. Jangan ragu. Teman-teman setuju? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Anda suka tidur siang? Menariknya, karyawan Seoul Metropolitan Government (SMG) di Korea diberikan kesempatan untuk tidur siang. Ya, dibolehkan. Walaupun sebenarnya ini bukan barang baru.
Berdasar survey National Sleep Foundation dari Amerika Serikat, ditemukan bahwa rata-rata pekerja Jepang hanya tidur sekitar 6 jam 22 menit pada malam hari. Dan itu angka rata-rata. Yang kurang dari itu juga banyak.
Durasi itu masih kurang berbanding negara-negara yang lain. Karena itulah, belakangan banyak perusahaan di Jepang yang mendorong karyawannya untuk tidur siang saat jam kerja. Inemuri istilahnya.
Salah satunya Okuta, perusahaan renovasi rumah di Tokyo, yang membolehkan karyawannya tidur sekitar 20 menit. Alasannya, demi meningkatkan produktivitas kerja. Dan itu kemudian terbukti.
Hugo Inc, perusahaan konsultan internet yang berbasis di Osaka juga menerapkan hal serupa. Apalagi Kementerian Kesehatan Jepang juga telah mengeluarkan pedoman tentang pentingnya tidur siang selama 30 menit.
Bila tak ingin tidur di kantor, boleh juga tidur di jasa penyediaan tempat tidur. Misalnya, Kafe Ohirune di Tokyo yang menyediakan 8 tempat tidur bagi karyawan. Ya, di Jepang tidur siang dianggap pegawai tersebut sudah bekerja keras, bukan pertanda malas.
Menurut penelitian Dr Brigite Steger, Dosen Senior di Modern Japanese Studies, University of Cambridge, sebenarnya kebiasaan tidur siang (inemuri) sudah berlangsung sejak lama di Jepang. Bahkan sejak era samurai.
Bagaimana dengan di Amerika Serikat? Perusahaan Casper di New York bahkan membangun tiga kamar mungil. Selain itu, perusahaan seperti Google, Time Warner, dan Ben & Jerry’s menyediakan “kapsul tidur” untuk karyawan yang kurang tidur.
Soalnya pentingnya tidur siang disampaikan oleh Prof Richard Horner, Dr Brian Murray, dan Dr Charles Morindi dari Kanada.
Menurut Dr Michael Breus dari Valley Sleep Center di Arizona, perusahaan wajib memastikan karyawannya cukup tidur. Dr Jennifer Turgiss, co-authored dari Virgin Pulse Institute (Virgin Group) juga menyerukan hal senada.
Tapi, janganlah tidur siang lama-lama. Penelitian dari Leiden University, Belanda, menemukan, mereka yang tidur siang lebih dari satu jam sehari, berpotensi untuk mengalami gangguan metabolisme.
Selama bertahun-tahun, saya pun rutin tidur siang dengan durasi 15-20 menit. Kenapa? Yang saya pelajari, Nabi Muhammad juga melakukan ini. Namanya qailulah. Sekarang, tak sedikit perusahaan di negara-negara maju menerapkan hal yang sama.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Setiap hari Anda mendapat inspirasi dan motivasi dari channel ini. Rutin. Tak inginkah Anda keluarga dan sahabatnya menjadi lebih baik juga lebih sukses? Mari ajak mereka bergabung di channel ini. Belajar bareng, sukses bareng)
Berdasar survey National Sleep Foundation dari Amerika Serikat, ditemukan bahwa rata-rata pekerja Jepang hanya tidur sekitar 6 jam 22 menit pada malam hari. Dan itu angka rata-rata. Yang kurang dari itu juga banyak.
Durasi itu masih kurang berbanding negara-negara yang lain. Karena itulah, belakangan banyak perusahaan di Jepang yang mendorong karyawannya untuk tidur siang saat jam kerja. Inemuri istilahnya.
Salah satunya Okuta, perusahaan renovasi rumah di Tokyo, yang membolehkan karyawannya tidur sekitar 20 menit. Alasannya, demi meningkatkan produktivitas kerja. Dan itu kemudian terbukti.
Hugo Inc, perusahaan konsultan internet yang berbasis di Osaka juga menerapkan hal serupa. Apalagi Kementerian Kesehatan Jepang juga telah mengeluarkan pedoman tentang pentingnya tidur siang selama 30 menit.
Bila tak ingin tidur di kantor, boleh juga tidur di jasa penyediaan tempat tidur. Misalnya, Kafe Ohirune di Tokyo yang menyediakan 8 tempat tidur bagi karyawan. Ya, di Jepang tidur siang dianggap pegawai tersebut sudah bekerja keras, bukan pertanda malas.
Menurut penelitian Dr Brigite Steger, Dosen Senior di Modern Japanese Studies, University of Cambridge, sebenarnya kebiasaan tidur siang (inemuri) sudah berlangsung sejak lama di Jepang. Bahkan sejak era samurai.
Bagaimana dengan di Amerika Serikat? Perusahaan Casper di New York bahkan membangun tiga kamar mungil. Selain itu, perusahaan seperti Google, Time Warner, dan Ben & Jerry’s menyediakan “kapsul tidur” untuk karyawan yang kurang tidur.
Soalnya pentingnya tidur siang disampaikan oleh Prof Richard Horner, Dr Brian Murray, dan Dr Charles Morindi dari Kanada.
Menurut Dr Michael Breus dari Valley Sleep Center di Arizona, perusahaan wajib memastikan karyawannya cukup tidur. Dr Jennifer Turgiss, co-authored dari Virgin Pulse Institute (Virgin Group) juga menyerukan hal senada.
Tapi, janganlah tidur siang lama-lama. Penelitian dari Leiden University, Belanda, menemukan, mereka yang tidur siang lebih dari satu jam sehari, berpotensi untuk mengalami gangguan metabolisme.
Selama bertahun-tahun, saya pun rutin tidur siang dengan durasi 15-20 menit. Kenapa? Yang saya pelajari, Nabi Muhammad juga melakukan ini. Namanya qailulah. Sekarang, tak sedikit perusahaan di negara-negara maju menerapkan hal yang sama.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Setiap hari Anda mendapat inspirasi dan motivasi dari channel ini. Rutin. Tak inginkah Anda keluarga dan sahabatnya menjadi lebih baik juga lebih sukses? Mari ajak mereka bergabung di channel ini. Belajar bareng, sukses bareng)