"Baiknya bisnis sendiri atau bermitra?" ada yang bertanya begitu ketika saya coaching.
Terus apa jawaban saya?
Tergantung.
Bermitra itu ada keunggulan tersendiri. Kan saling melengkapi satu sama lain. Betul apa betul? Kuenya (rezekinya) mungkin dibagi-bagi, tapi kuenya sendiri membesar. Begitulah logika rezeki di balik bermitra.
Tapi, kita harus mengakui ada tipe orang yang sangat keras, sangat dominan, sekaligus perfeksionis. Nah, orang seperti ini baiknya bisnis sendiri saja. Tak perlu bermitra. Cukup cari karyawan saja.
Kalau dipaksakan bermitra, belum tentu mitranya betah. Kan repot.
Kembali ke teman-teman yang memutuskan untuk bermitra. Seandainya rugi atau gagal, bolehkah kita menyalahkan mitra? Dalam coaching itu, saya pun memberikan peringatan keras pada mereka. Be responsible.
Harusnya kita membatin, "Aku yang memutuskan untuk berbisnis. Aku yang ingin sukses. Aku yang dapat untungnya. Tentulah, aku yang harus memastikan ini semua berjalan. Andaikata nggak berjalan, akulah yang bertanggung-jawab, sepenuhnya." Sebuah pemikiran yang memberdayakan. Inilah sikap #SangPemenang.
Nyalah-nyalahin orang lain adalah sikap pecundang. Ya, pecundang. Maaf, memang begitulah adanya. Seorang mitra yang mangkir sekalipun, tetap saja ada kesalahan pada pihak kita. Itu artinya kita tidak selektif di awal. Atau MOU tidak jelas di awal. Sekali lagi, be responsible.
Sekiranya kita mau responsible dan mau introspeksi, maka kita akan naik level. Di mana kemudian kita akan berbenah dan berubah. Kalau begini, siapa yang diuntungkan? Kita tho? Akan beda ceritanya kalau kita nyalah-nyalahin.
Sebenarnya masih banyak lagi kisah-kisah di balik coaching saya selama ini. Seru. Kapan-kapan kita sambung lagi ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Terus apa jawaban saya?
Tergantung.
Bermitra itu ada keunggulan tersendiri. Kan saling melengkapi satu sama lain. Betul apa betul? Kuenya (rezekinya) mungkin dibagi-bagi, tapi kuenya sendiri membesar. Begitulah logika rezeki di balik bermitra.
Tapi, kita harus mengakui ada tipe orang yang sangat keras, sangat dominan, sekaligus perfeksionis. Nah, orang seperti ini baiknya bisnis sendiri saja. Tak perlu bermitra. Cukup cari karyawan saja.
Kalau dipaksakan bermitra, belum tentu mitranya betah. Kan repot.
Kembali ke teman-teman yang memutuskan untuk bermitra. Seandainya rugi atau gagal, bolehkah kita menyalahkan mitra? Dalam coaching itu, saya pun memberikan peringatan keras pada mereka. Be responsible.
Harusnya kita membatin, "Aku yang memutuskan untuk berbisnis. Aku yang ingin sukses. Aku yang dapat untungnya. Tentulah, aku yang harus memastikan ini semua berjalan. Andaikata nggak berjalan, akulah yang bertanggung-jawab, sepenuhnya." Sebuah pemikiran yang memberdayakan. Inilah sikap #SangPemenang.
Nyalah-nyalahin orang lain adalah sikap pecundang. Ya, pecundang. Maaf, memang begitulah adanya. Seorang mitra yang mangkir sekalipun, tetap saja ada kesalahan pada pihak kita. Itu artinya kita tidak selektif di awal. Atau MOU tidak jelas di awal. Sekali lagi, be responsible.
Sekiranya kita mau responsible dan mau introspeksi, maka kita akan naik level. Di mana kemudian kita akan berbenah dan berubah. Kalau begini, siapa yang diuntungkan? Kita tho? Akan beda ceritanya kalau kita nyalah-nyalahin.
Sebenarnya masih banyak lagi kisah-kisah di balik coaching saya selama ini. Seru. Kapan-kapan kita sambung lagi ya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Meningkatkan omset salah satu caranya adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang men-closing. Baik ketika bertemu langsung ataupun melalui telepon dan SMS/WA.
Ini sering saya sampaikan kepada peserta coaching. Intinya, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya cuma, “Ya!” Mau contoh? Simak baik-baik percakapan berikut.
“Mas, suplemen kemarin, mau diambil sendiri atau kami kirim?
"Mau dikirim pake TIKI atau JNE?”
“Mau dikirim hari ini atau besok?”
“Pembayarannya, mau ditransfer ke BCA atau BNI Syariah?”
Jangan pernah bertanya begini ke prospek, “Mas, jadi beli apa enggak?” Karena kemungkinan besar jawabannya, "Enggak."
Terus, berasumsilah bahwa mereka pasti beli. Ini bagian dari mengarahkan, baiksangka, doa, dan sugesti.
Penjualan adalah komunikasi. Perlu diingat, komunikasi adalah sekumpulan pertanyaan dan jawaban. Mengajukan pertanyaan yang keliru, jangan heran kalau jawaban dan hasil akhirnya juga keliru. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ini sering saya sampaikan kepada peserta coaching. Intinya, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya cuma, “Ya!” Mau contoh? Simak baik-baik percakapan berikut.
“Mas, suplemen kemarin, mau diambil sendiri atau kami kirim?
"Mau dikirim pake TIKI atau JNE?”
“Mau dikirim hari ini atau besok?”
“Pembayarannya, mau ditransfer ke BCA atau BNI Syariah?”
Jangan pernah bertanya begini ke prospek, “Mas, jadi beli apa enggak?” Karena kemungkinan besar jawabannya, "Enggak."
Terus, berasumsilah bahwa mereka pasti beli. Ini bagian dari mengarahkan, baiksangka, doa, dan sugesti.
Penjualan adalah komunikasi. Perlu diingat, komunikasi adalah sekumpulan pertanyaan dan jawaban. Mengajukan pertanyaan yang keliru, jangan heran kalau jawaban dan hasil akhirnya juga keliru. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Mau mencapai sesuatu? Mau menuju sesuatu?
Begini.
Kalau Anda ingin ke Pulau Komodo, pergilah bersama orang yang sudah bolak-balik ke sana. Setidaknya, tanya orang itu.
Kalau Anda ingin ke Pulau Sirandah, pergilah bersama orang yang sering pergi ke sana. Setidaknya, tanya orang itu.
Dengan begitu, adakah kemungkinan tersesat alias gagal? Ada, tapi kemungkinan itu kecil sekali.
Kalau kita coba-coba sendiri atau cari-cari sendiri, yah kelamaan. Bagaimanapun, mengikuti sang ahli yang teruji dan terbukti lebih dianjurkan.
Demikian pula dalam bisnis. Baiknya kita belajar dengan mereka yang relatif ahli dan pengalaman. Jangan trial and error sendiri.
Berani action itu perlu. Sangat perlu. Tapi nggak cukup. Setelah action, setelah melangkah, setelah memulai, hendaknya iringi dengan ilmu.
Ini pesan berharga bagi entrepreneur dan calon entrepreneur. Maksudnya gimana? Belajarlah memulai bisnis dan MENGELOLA BISNIS. Dengan berilmu, risiko-risiko bisnis dapat ditekan. Aktivitas-aktivitas bisnis pun menjadi lebih efisien dan lebih efektif.
Ilmu kita terbatas. Pengalaman kita juga terbatas. Jangan terlalu diandalkan. Right? Carilah ilmu. Carilah guru. Zaman sekarang, namanya macam-macam. Mungkin coach, mungkin mentor.
Sekali lagi, ilmu adalah keniscayaan, terutama untuk mengelola bisnis dan membesarkan bisnis. Kalau coba-coba sekenanya, malah lebih menguras waktu dan biaya. Itulah yang dulu saya alami.
Learn, then you will earn. Belajarlah, kemudian kita akan menghasilkan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Begini.
Kalau Anda ingin ke Pulau Komodo, pergilah bersama orang yang sudah bolak-balik ke sana. Setidaknya, tanya orang itu.
Kalau Anda ingin ke Pulau Sirandah, pergilah bersama orang yang sering pergi ke sana. Setidaknya, tanya orang itu.
Dengan begitu, adakah kemungkinan tersesat alias gagal? Ada, tapi kemungkinan itu kecil sekali.
Kalau kita coba-coba sendiri atau cari-cari sendiri, yah kelamaan. Bagaimanapun, mengikuti sang ahli yang teruji dan terbukti lebih dianjurkan.
Demikian pula dalam bisnis. Baiknya kita belajar dengan mereka yang relatif ahli dan pengalaman. Jangan trial and error sendiri.
Berani action itu perlu. Sangat perlu. Tapi nggak cukup. Setelah action, setelah melangkah, setelah memulai, hendaknya iringi dengan ilmu.
Ini pesan berharga bagi entrepreneur dan calon entrepreneur. Maksudnya gimana? Belajarlah memulai bisnis dan MENGELOLA BISNIS. Dengan berilmu, risiko-risiko bisnis dapat ditekan. Aktivitas-aktivitas bisnis pun menjadi lebih efisien dan lebih efektif.
Ilmu kita terbatas. Pengalaman kita juga terbatas. Jangan terlalu diandalkan. Right? Carilah ilmu. Carilah guru. Zaman sekarang, namanya macam-macam. Mungkin coach, mungkin mentor.
Sekali lagi, ilmu adalah keniscayaan, terutama untuk mengelola bisnis dan membesarkan bisnis. Kalau coba-coba sekenanya, malah lebih menguras waktu dan biaya. Itulah yang dulu saya alami.
Learn, then you will earn. Belajarlah, kemudian kita akan menghasilkan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kadang kita perlu mentor untuk memulai usaha dan mengembangkan usaha.
Istilahnya, naik level yang lebih tinggi.
Kepada internet marketer, ketika coaching, saya sering berbagi tips praktis. Terutama dalam mengelola website.
- Pastikan ada reward bagi pengunjung, sehingga pengunjung mau meninggalkan alamat emailnya dan mau men-share situs kita di socmed mereka.
- Fokuslah pada needs dan wants pengunjung. Jangan sampai memasang fitur-fitur yang tidak relevan. Salah satu penyebab kegagalan Yahoo adalah tidak fokus.
- Pastikan situs kita tampil cantik baik di desktop maupun di smartphone. Jangan salah satunya saja. User friendly itu harus, tapi tampil cantik juga harus.
- Perlakukan situs sebagai office. Socmed ibaratnya cuma stand pameran saja. Setelah traffic datang ke socmed kita, segeralah arahkan ke situs kita. Karena situs lebih bertahan lama ketimbang socmed.
Selama ini, saya memberikan coaching dengan tatap muka. Sayangnya, sebagian besar orang tidak bisa ikut karena kendala jarak dan waktu. Saya pun berpikir keras bagaimana solusinya buat semua.
Nah besok pagi (Jumat, 21 Juli), insya Allah saya akan menawarkan Business Coaching jarak jauh, dengan biaya yang lebih terjangkau. Yang minat, siap-siap saja. Detailnya akan diumumkan di grup WA ini.
Happy learning! Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Istilahnya, naik level yang lebih tinggi.
Kepada internet marketer, ketika coaching, saya sering berbagi tips praktis. Terutama dalam mengelola website.
- Pastikan ada reward bagi pengunjung, sehingga pengunjung mau meninggalkan alamat emailnya dan mau men-share situs kita di socmed mereka.
- Fokuslah pada needs dan wants pengunjung. Jangan sampai memasang fitur-fitur yang tidak relevan. Salah satu penyebab kegagalan Yahoo adalah tidak fokus.
- Pastikan situs kita tampil cantik baik di desktop maupun di smartphone. Jangan salah satunya saja. User friendly itu harus, tapi tampil cantik juga harus.
- Perlakukan situs sebagai office. Socmed ibaratnya cuma stand pameran saja. Setelah traffic datang ke socmed kita, segeralah arahkan ke situs kita. Karena situs lebih bertahan lama ketimbang socmed.
Selama ini, saya memberikan coaching dengan tatap muka. Sayangnya, sebagian besar orang tidak bisa ikut karena kendala jarak dan waktu. Saya pun berpikir keras bagaimana solusinya buat semua.
Nah besok pagi (Jumat, 21 Juli), insya Allah saya akan menawarkan Business Coaching jarak jauh, dengan biaya yang lebih terjangkau. Yang minat, siap-siap saja. Detailnya akan diumumkan di grup WA ini.
Happy learning! Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Seperti yang teman-teman tahu, saya (Ippho Santosa) sering memberikan Business Coaching pada entrepreneur dan calon entreprenuer, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Selain diikuti entrepreneur, ada juga profesional (karier), investor, calon investor, dan penulis non-fiksi.
Lazimnya mereka datang ke kantor saya. Di samping itu, kadang saya bikin coaching-nya di hotel atau restoran. Awal-awal, biaya yang mereka keluarkan bisa puluhan juta rupiah. Ya, saya yang men-charge segitu. Tapi terus-terang, saya merasa kurang nyaman dengan biaya setinggi itu. Walaupun sebenarnya sah-sah saja. Toh trainer-trainer lain melakukannya.
Sejauh ini, seorang trainer yang buku dan seminarnya laku keras bisa memasarkan jasa coaching-nya seharga ratusan juta rupiah, setidaknya puluhan juta rupiah. Bukan satu-dua trainer yang begini.
Akhirnya biaya coaching itu saya tekan sedemikian rupa, hanya sekian juta rupiah. Dengan tatap muka. Dengan bertemu langsung. Sayangnya, sebagian besar orang tetap saja tidak bisa ikut karena terkendala jarak dan waktu. Saya pun berpikir keras bagaimana solusi yang tepat buat semua.
Kemudian, teman-teman mendesak saya untuk memberikan Business Coaching via grup WA. Setelah saya pikir-pikir, boleh juga. Memang tidak sama persis dengan pertemuan langsung, tapi dari segi result dan impact insya Allah bisa dipertanggung-jawabkan. Maksudnya, tetap ngefek.
Soal biaya, gimana? Tenang, saya tekan sebisanya, hanya ratusan ribu rupiah. Bahkan ada diskon khusus untuk mereka yang mendaftar hari Jumat dan hari Sabtu (besok dan lusa). Mereka yang serius tentu tidak melewatkan diskon khusus ini.
Di grup WA ini, peserta boleh mengajukan 3 pertanyaan (konsultasi) terkait bisnis atau pengembangan diri. Saya bersama tim akan menjawabnya dalam bentuk text dan voice secara bertahap selama 3 hari. Setelah selesai, saya masih berbagi insight di grup WA tersebut secara berkala selama 3 bulan.
Dengan kata lain, proses coaching dan transfer ilmu dari saya berlangsung selama 3 bulan. Terus, adakah garansinya? Jujur saja, soal sukses atau tidak, saya tidak berani menggaransi.
Tapi izinkan saya memberikan statement ini, "Sekiranya apa-apa yang saya ajarkan sudah Anda praktekkan selama 6 bulan dengan SUNGGUH-SUNGGUH namun Anda merasa tidak ada perubahan sama sekali, maka Anda berhak untuk meminta refund."
Insya Allah akan kami refund 100%. Ya, kami refund 100%. Kami tidak berani menyebut ini sebagai garansi. Namun dari statement ini, Anda bisa menilai bahwa kami sangat serius dalam membimbing dan mengantarkan Anda menuju kesuksesan. Bukan asal coaching.
Jika Anda berminat dengan Business Coaching bersama saya, silakan tunggu kabar detailnya Jumat pagi. Happy action!
Lazimnya mereka datang ke kantor saya. Di samping itu, kadang saya bikin coaching-nya di hotel atau restoran. Awal-awal, biaya yang mereka keluarkan bisa puluhan juta rupiah. Ya, saya yang men-charge segitu. Tapi terus-terang, saya merasa kurang nyaman dengan biaya setinggi itu. Walaupun sebenarnya sah-sah saja. Toh trainer-trainer lain melakukannya.
Sejauh ini, seorang trainer yang buku dan seminarnya laku keras bisa memasarkan jasa coaching-nya seharga ratusan juta rupiah, setidaknya puluhan juta rupiah. Bukan satu-dua trainer yang begini.
Akhirnya biaya coaching itu saya tekan sedemikian rupa, hanya sekian juta rupiah. Dengan tatap muka. Dengan bertemu langsung. Sayangnya, sebagian besar orang tetap saja tidak bisa ikut karena terkendala jarak dan waktu. Saya pun berpikir keras bagaimana solusi yang tepat buat semua.
Kemudian, teman-teman mendesak saya untuk memberikan Business Coaching via grup WA. Setelah saya pikir-pikir, boleh juga. Memang tidak sama persis dengan pertemuan langsung, tapi dari segi result dan impact insya Allah bisa dipertanggung-jawabkan. Maksudnya, tetap ngefek.
Soal biaya, gimana? Tenang, saya tekan sebisanya, hanya ratusan ribu rupiah. Bahkan ada diskon khusus untuk mereka yang mendaftar hari Jumat dan hari Sabtu (besok dan lusa). Mereka yang serius tentu tidak melewatkan diskon khusus ini.
Di grup WA ini, peserta boleh mengajukan 3 pertanyaan (konsultasi) terkait bisnis atau pengembangan diri. Saya bersama tim akan menjawabnya dalam bentuk text dan voice secara bertahap selama 3 hari. Setelah selesai, saya masih berbagi insight di grup WA tersebut secara berkala selama 3 bulan.
Dengan kata lain, proses coaching dan transfer ilmu dari saya berlangsung selama 3 bulan. Terus, adakah garansinya? Jujur saja, soal sukses atau tidak, saya tidak berani menggaransi.
Tapi izinkan saya memberikan statement ini, "Sekiranya apa-apa yang saya ajarkan sudah Anda praktekkan selama 6 bulan dengan SUNGGUH-SUNGGUH namun Anda merasa tidak ada perubahan sama sekali, maka Anda berhak untuk meminta refund."
Insya Allah akan kami refund 100%. Ya, kami refund 100%. Kami tidak berani menyebut ini sebagai garansi. Namun dari statement ini, Anda bisa menilai bahwa kami sangat serius dalam membimbing dan mengantarkan Anda menuju kesuksesan. Bukan asal coaching.
Jika Anda berminat dengan Business Coaching bersama saya, silakan tunggu kabar detailnya Jumat pagi. Happy action!
Pelatih Terbaik di Dunia, Siapakah Dia?
Publik sering menyebut-nyebut nama Tony Robbins.
Banyak tokoh berpengaruh di dunia yang belajar dari coach Tony Robbins. Siapa saja yang belajar? Beragam. Misalnya Bill Clinton, Nelson Mandela, Lady Diana, Andre Aggasi (petenis), Serena Williams (petenis), Donna Karan (DKNY), Usher (Nice & Slow), Hugh Jackman (Wolverine), Tung Desem Waringin, dan saya.
Begitulah. Di negara-negara maju, orang-orang hebat sekalipun punya pelatih. Coach. Mentor. Ini lazim terjadi.
Karena pelatih ini bisa melihat potensi seseorang dan bantu mengasah potensi tersebut. Selain itu, pelatih pun tahu bagaimana cara mencapai sesuatu di bidang tertentu. Kenapa ia lebih tahu? Karena ilmu dan pengalamannya.
Bagi teman-teman yang ingin mengikuti 'Business Coaching via WA Group' bersama saya dan tim, silakan WA ke 0813-8333-5503. Nanti akan disampaikan biaya dan cara-caranya.
Sebenarnya, tidak harus coaching dengan saya. Boleh dengan coach mana saja, asalkan teman-teman yakin kredibilitas dan kapasitasnya. Ingat, memiliki pembimbing yang tepat bisa mempercepat dan memperbesar hasil. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Publik sering menyebut-nyebut nama Tony Robbins.
Banyak tokoh berpengaruh di dunia yang belajar dari coach Tony Robbins. Siapa saja yang belajar? Beragam. Misalnya Bill Clinton, Nelson Mandela, Lady Diana, Andre Aggasi (petenis), Serena Williams (petenis), Donna Karan (DKNY), Usher (Nice & Slow), Hugh Jackman (Wolverine), Tung Desem Waringin, dan saya.
Begitulah. Di negara-negara maju, orang-orang hebat sekalipun punya pelatih. Coach. Mentor. Ini lazim terjadi.
Karena pelatih ini bisa melihat potensi seseorang dan bantu mengasah potensi tersebut. Selain itu, pelatih pun tahu bagaimana cara mencapai sesuatu di bidang tertentu. Kenapa ia lebih tahu? Karena ilmu dan pengalamannya.
Bagi teman-teman yang ingin mengikuti 'Business Coaching via WA Group' bersama saya dan tim, silakan WA ke 0813-8333-5503. Nanti akan disampaikan biaya dan cara-caranya.
Sebenarnya, tidak harus coaching dengan saya. Boleh dengan coach mana saja, asalkan teman-teman yakin kredibilitas dan kapasitasnya. Ingat, memiliki pembimbing yang tepat bisa mempercepat dan memperbesar hasil. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Pengen keliling Indonesia?
Dulu sewaktu kecil dan pas-pasan, saya pengeeen banget keliling #Indonesia. Kalau saya lihat pemandangan-pemandangan di kartu pos, sepertinya indah-indah. Saya pun pengen melihatnya secara langsung.
Menatap pemandangan yang indah, siapa sih nggak pengen? Lalu, ketika saya jadi dosen di Batam sempat kebayang, kayaknya enak juga ya bisa keliling Indonesia sebagai dosen terbang. Berbagi ilmu plus jalan-jalan.
Sekarang bukan sekadar membayangkan, tapi alhamdulillah saya sudah berseminar di hampir seluruh provinsi di Indonesia, termasuk Kalimantan Utara, NTB, NTT, Gorontalo, Maluku Utara, Papua, Papua Barat dll. Yang belum cuma Provinsi Maluku (Ini beda dengan Provinsi Maluku Utara).
Teman-teman menyebut saya Travelling Motivator.
Saya turut mendoakan, mudah-mudahan kita semua juga bisa mengunjungi tempat-tempat yang indah di Indonesia, dengan caranya sendiri. Aamiin. Mungkin karena kunjungan dinas, kunjungan keluarga, studi banding, atau cara-cara lainnya. Yakin saja, nanti jalannya akan muncul dengan sendirinya.
Di seminar, kadang saya mengingatkan peserta untuk memuliakan ilmu. Dan Islam adalah agama yang sangat memuliakan ilmu, di antaranya dengan membaca. Semangat membaca itu pun tersirat dalam ayat pertama dan kata pertama yang diturunkan Illahi yaitu Surat Al-Alaq yang berbunyi, ”Bacalah!"
Sayangnya, menurut Unesco, pada 2011 indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001. Artinya, hanya ada 1 orang dari 1.000 penduduk yang masih mau membaca buku secara serius. Kondisi ini memojokkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam Indeks Pembangunan Manusia.
Angka produksi buku di Indonesia pun terhitung sangat rendah. Setiap tahun, cuma sekitar 7.000-8.000 judul buku yang dirilis, jauh lebih rendah ketimbang Malaysia yang merilis hingga 10.000 judul buku setiap tahunnya! Padahal penduduk kita 10 kali lipat lebih banyak daripada Malaysia!
Ironisnya lagi, jika merujuk data BPS pada tahun 2012 menunjukkan 91,68% penduduk yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi. Kalau membaca? Ternyata cuma sekitar 17,66% yang menyukai membaca surat kabar, buku, atau majalah.
Pada akhirnya, mari ingatkan keluarga kita untuk lebih giat mencari ilmu, salah satunya dengan membaca buku. Teramat banyak hal hebat yang kita peroleh dengan membaca buku. Dan ini tak tergantikan hanya dengan membaca socmed. Beda. Jelas-jelas berbeda.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dulu sewaktu kecil dan pas-pasan, saya pengeeen banget keliling #Indonesia. Kalau saya lihat pemandangan-pemandangan di kartu pos, sepertinya indah-indah. Saya pun pengen melihatnya secara langsung.
Menatap pemandangan yang indah, siapa sih nggak pengen? Lalu, ketika saya jadi dosen di Batam sempat kebayang, kayaknya enak juga ya bisa keliling Indonesia sebagai dosen terbang. Berbagi ilmu plus jalan-jalan.
Sekarang bukan sekadar membayangkan, tapi alhamdulillah saya sudah berseminar di hampir seluruh provinsi di Indonesia, termasuk Kalimantan Utara, NTB, NTT, Gorontalo, Maluku Utara, Papua, Papua Barat dll. Yang belum cuma Provinsi Maluku (Ini beda dengan Provinsi Maluku Utara).
Teman-teman menyebut saya Travelling Motivator.
Saya turut mendoakan, mudah-mudahan kita semua juga bisa mengunjungi tempat-tempat yang indah di Indonesia, dengan caranya sendiri. Aamiin. Mungkin karena kunjungan dinas, kunjungan keluarga, studi banding, atau cara-cara lainnya. Yakin saja, nanti jalannya akan muncul dengan sendirinya.
Di seminar, kadang saya mengingatkan peserta untuk memuliakan ilmu. Dan Islam adalah agama yang sangat memuliakan ilmu, di antaranya dengan membaca. Semangat membaca itu pun tersirat dalam ayat pertama dan kata pertama yang diturunkan Illahi yaitu Surat Al-Alaq yang berbunyi, ”Bacalah!"
Sayangnya, menurut Unesco, pada 2011 indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001. Artinya, hanya ada 1 orang dari 1.000 penduduk yang masih mau membaca buku secara serius. Kondisi ini memojokkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam Indeks Pembangunan Manusia.
Angka produksi buku di Indonesia pun terhitung sangat rendah. Setiap tahun, cuma sekitar 7.000-8.000 judul buku yang dirilis, jauh lebih rendah ketimbang Malaysia yang merilis hingga 10.000 judul buku setiap tahunnya! Padahal penduduk kita 10 kali lipat lebih banyak daripada Malaysia!
Ironisnya lagi, jika merujuk data BPS pada tahun 2012 menunjukkan 91,68% penduduk yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi. Kalau membaca? Ternyata cuma sekitar 17,66% yang menyukai membaca surat kabar, buku, atau majalah.
Pada akhirnya, mari ingatkan keluarga kita untuk lebih giat mencari ilmu, salah satunya dengan membaca buku. Teramat banyak hal hebat yang kita peroleh dengan membaca buku. Dan ini tak tergantikan hanya dengan membaca socmed. Beda. Jelas-jelas berbeda.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Lupakan passion-mu!
"Lho kok Mas Ippho ngomong gitu? Bukannya selama ini ngomong 'follow your passion'? Kenapa nih?"
Idealnya sih begitu, follow your passion.
Tapi, bagaimana kalau ternyata passion-mu tak seimbang dengan kemampuanmu? Anda suka menyanyi, misalnya. Tapi menurut orang-orang, suara Anda dan skill menyanyi Anda biasa-biasa saja. Bahkan terdengar buruk. Apa iya terus-menerus dipaksakan? Sampai kapan?
Belum lagi kalau rupanya passion-mu tidak match dengan keadaan dan keinginan pasar. Anda suka melukis, misalnya. Atau suka siaran. Perusahaan mana yang mau merekrut? Terbatas tho? Cermati deh skill-skill yang benar-benar dibutuhkan perusahaan. Mau jadi entrepreneur dengan melukis? Dengan siaran? Hm, sepertinya Anda harus berpikir ulang.
Jangan pula kita asyik bergonta-ganti pekerjaan atau bergonta-ganti produk, hanya karena Anda merasa bidang saat ini tidak terlalu sesuai dengan passion. Ingat, waktu terus berlalu. Umur bertambah, tanggungan bertambah. Keluarga gimana? Hm, ada baiknya Anda mencoba pekerjaan yang tidak sesuai passion dan berusaha pelan-pelan mencintainya.
Terus, kegiatan yang Anda anggap sesuai dengan passion (menyanyi, melukis, siaran dll), Anda jadikan sebagai pekerjaan sampingan atau kesibukan sampingan. Yah anggap saja wadah refreshing. Seru juga. Ketika weekend, Anda menyanyi. Ketika cuti, Anda melukis. Tetap happy tho?
Kejadian lain nih. Misal saat ini Anda menggeluti bidang peternakan dan Anda merasa ini bidang bukan passion Anda. Terus, terlintas di pikiran, Anda mau meninggalkan bidang ini. Hm, mungkin Anda berpikir begitu kalau hasilnya masih receh. Coba bayangkan kalau ternyata hasilnya Rp250juta sebulan. Apa iya mau ditinggalkan begitu saja hanya karena 'nggak passion'?
Tulisan ini sengaja saya buat untuk Anda-Anda yang tengah 'bertanya-tanya soal passion'. Mungkin tidak ideal, tapi semoga mensolusikan. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Copas tulisan ini buat teman-teman kita ya.
"Lho kok Mas Ippho ngomong gitu? Bukannya selama ini ngomong 'follow your passion'? Kenapa nih?"
Idealnya sih begitu, follow your passion.
Tapi, bagaimana kalau ternyata passion-mu tak seimbang dengan kemampuanmu? Anda suka menyanyi, misalnya. Tapi menurut orang-orang, suara Anda dan skill menyanyi Anda biasa-biasa saja. Bahkan terdengar buruk. Apa iya terus-menerus dipaksakan? Sampai kapan?
Belum lagi kalau rupanya passion-mu tidak match dengan keadaan dan keinginan pasar. Anda suka melukis, misalnya. Atau suka siaran. Perusahaan mana yang mau merekrut? Terbatas tho? Cermati deh skill-skill yang benar-benar dibutuhkan perusahaan. Mau jadi entrepreneur dengan melukis? Dengan siaran? Hm, sepertinya Anda harus berpikir ulang.
Jangan pula kita asyik bergonta-ganti pekerjaan atau bergonta-ganti produk, hanya karena Anda merasa bidang saat ini tidak terlalu sesuai dengan passion. Ingat, waktu terus berlalu. Umur bertambah, tanggungan bertambah. Keluarga gimana? Hm, ada baiknya Anda mencoba pekerjaan yang tidak sesuai passion dan berusaha pelan-pelan mencintainya.
Terus, kegiatan yang Anda anggap sesuai dengan passion (menyanyi, melukis, siaran dll), Anda jadikan sebagai pekerjaan sampingan atau kesibukan sampingan. Yah anggap saja wadah refreshing. Seru juga. Ketika weekend, Anda menyanyi. Ketika cuti, Anda melukis. Tetap happy tho?
Kejadian lain nih. Misal saat ini Anda menggeluti bidang peternakan dan Anda merasa ini bidang bukan passion Anda. Terus, terlintas di pikiran, Anda mau meninggalkan bidang ini. Hm, mungkin Anda berpikir begitu kalau hasilnya masih receh. Coba bayangkan kalau ternyata hasilnya Rp250juta sebulan. Apa iya mau ditinggalkan begitu saja hanya karena 'nggak passion'?
Tulisan ini sengaja saya buat untuk Anda-Anda yang tengah 'bertanya-tanya soal passion'. Mungkin tidak ideal, tapi semoga mensolusikan. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Copas tulisan ini buat teman-teman kita ya.
Kurang bersemangat?
Kurang termotivasi?
Bagaimana caranya agar semangat kerja atau motivasi kerja kembali pulih?
Pertama, coba ingat-ingat kembali alasan (reason) Anda bekerja atau berbisnis. Demi keluarga. Demi anak. Demi impian tertentu. Demi target tertentu. Atau karena yang lainnya. Jangan pernah melupakan reason ini.
Seiring bergulirnya waktu, tujuan awal ini bisa bergeser bahkan lengser. Anda perlu menemukan kembali niat Anda secara jelas dan tuntas. Setelah niat atau tujuan ini diluruskan, maka langkah akan lebih terarah dan tidak salah-salah.
Kedua, atur kembali kegiatan dalam kerja dan bisnis Anda. Ketika Anda berusaha untuk fokus, mungkin Anda merasa kegiatan Anda sehari-hari begitu monoton dan hasilnya kurang-lebih sama saja. Bila demikian, maka ubahlah. Maksudnya ubah apa-apa yang bisa.
Mengubah beberapa hal bukan berarti keluar jalur. Seringkali, melakukan hal berbeda tersebut justru meningkatkan kinerja. Contohnya, Anda biasa naik motor ke kantor, lalu ganti dengan naik bis. Anda biasa sarapan di kantin kantor, lalu ganti dengan sarapan di rumah.
Ketiga, tetaplah berpikir positif. Membayangkan hal-hal negatif akan membuat Anda merasa terjebak di satu pojok dan tidak bergerak ke mana-mana. Serasa powerless. Seringkali, itu membuat kita cepat lelah dan gerah.
Be positive. Boss yang galak, anggaplah itu sarana untuk mendisiplinkan diri. Jalanan yang macet, anggaplah itu motivasi untuk bangun dan ready lebih awal. Tim yang ceroboh, jadikan itu sarana untuk intens berkoordinasi.
Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kurang termotivasi?
Bagaimana caranya agar semangat kerja atau motivasi kerja kembali pulih?
Pertama, coba ingat-ingat kembali alasan (reason) Anda bekerja atau berbisnis. Demi keluarga. Demi anak. Demi impian tertentu. Demi target tertentu. Atau karena yang lainnya. Jangan pernah melupakan reason ini.
Seiring bergulirnya waktu, tujuan awal ini bisa bergeser bahkan lengser. Anda perlu menemukan kembali niat Anda secara jelas dan tuntas. Setelah niat atau tujuan ini diluruskan, maka langkah akan lebih terarah dan tidak salah-salah.
Kedua, atur kembali kegiatan dalam kerja dan bisnis Anda. Ketika Anda berusaha untuk fokus, mungkin Anda merasa kegiatan Anda sehari-hari begitu monoton dan hasilnya kurang-lebih sama saja. Bila demikian, maka ubahlah. Maksudnya ubah apa-apa yang bisa.
Mengubah beberapa hal bukan berarti keluar jalur. Seringkali, melakukan hal berbeda tersebut justru meningkatkan kinerja. Contohnya, Anda biasa naik motor ke kantor, lalu ganti dengan naik bis. Anda biasa sarapan di kantin kantor, lalu ganti dengan sarapan di rumah.
Ketiga, tetaplah berpikir positif. Membayangkan hal-hal negatif akan membuat Anda merasa terjebak di satu pojok dan tidak bergerak ke mana-mana. Serasa powerless. Seringkali, itu membuat kita cepat lelah dan gerah.
Be positive. Boss yang galak, anggaplah itu sarana untuk mendisiplinkan diri. Jalanan yang macet, anggaplah itu motivasi untuk bangun dan ready lebih awal. Tim yang ceroboh, jadikan itu sarana untuk intens berkoordinasi.
Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ketika ditanya, "Siapa yang MAU jadi pengusaha?" hampir semua orang mengacungkan tangannya.
Ketika lanjut ditanya, "Siapa yang SIAP jadi pengusaha?" sebagian besar orang menyembunyikan tangannya.
Anda termasuk yang mana?
Atau Anda jenis orang yang berani memulai usaha tapi tidak tahan dengan penolakan-penolakan?
Katanya mau jadi pengusaha. Jualan, malu. Ditolak, malu. Gagal, kapok. Bangkrut, kapok. Alasannya segerobak. Malesnya sekontainer. Situ serius mau jadi pengusaha? Hehehe.
Hei, punya usaha itu mudah. Untuk bener-bener jadi pengusaha, nah itu yang nggak mudah. Bukan sekadar berani melangkah, tapi harus pantang menyerah. Hm, siapkah?
Kali ini izinkan saya berbagi tips-tips sukses dalam menjalani usaha. Boleh?
Pertama, belajarlah. Seorang pengusaha, sekalipun sudah mengantongi omset ratusan juta rupiah bahkan miliaran rupiah, tetaplah ia harus terus belajar. Mungkin melalui buku, mungkin melalui seminar. Syukur-syukur kalau ada mentor yang bisa membimbing terus-menerus.
Ya, belajar. Setidaknya untuk memper-tahankan usahanya dari tekanan pesaing dan tuntutan zaman. Saat mentok alias mandek, tentu kita harus belajar lebih giat lagi, agar ke depannya usaha tersebut tidak lagi mengalami kemandekan.
Belajar ilmu menjual (secara offline dan online) adalah keniscayaan. Pesan guru saya, "Kalau nasib gitu-gitu saja, maka ada tiga kemungkinan. Pertama, mungkin ilmunya gitu-gitu saja. Kedua, mungkin action-nya gitu-gitu saja. Ketiga, mungkin sedekahnya gitu-gitu saja."
Kedua, buanglah mindset sulit. Sebagian orang merasa bahwa bisnis itu sulit. Padahal semua bisnis di dunia ini mempunyai karakteristik dan tantangan masing-masing. Untuk itu, kita harus mau mempelajari karakteristik tersebut dan siap menerima tantangan tersebut. Anggaplah hal tersebut sebagai 'ujian untuk naik level'.
Ketiga, pandai-pandailah mengatur waktu dan memanfaatkan waktu. Waktu weekend, misalnya. Kita semua sama-sama tahu, waktu yang kita miliki adalah terbatas. Akhirnya muncul keraguan apakah dapat mengurus bisnis dengan waktu yang serba terbatas ini. Sebenarnya yang diperlukan adalah manajemen waktu yang lebih baik.
Mau nyimak saran praktis dari saya? Begini. Selain bangun lebih awal dan beraktivitas lebih awal, kita juga harus bisa menyusun prioritas. Mana yang harus dilakukan detik ini juga, mana yang perlu ditunda, mana yang perlu diabaikan. Manfaatkan pula waktu weekend.
Kebiasaan-kebiasaan ini akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih efektif dalam mengelola berbagai hal. Jadi, jangan lagi bilang, "Saya nggak punya waktu untuk mengurusi bisnis." Berjanjilah untuk mengatur waktu lebih baik lagi sehingga bisnis dapat terurus dan keluarga juga dapat terurus.
Dengan kata lain, optimalkan waktu kita dan berhentilah menunda-nunda. Ingat, umur bertambah, tanggungan juga bertambah. Sebaliknya, kekuatan fisik semakin berkurang. Kalau bukan sekarang memulai usaha, kapan lagi? Kalau bukan sekarang memetik untung, kapan lagi?
Beberapa hari lagi saya akan menawarkan peluang usaha buat teman-teman. Kita bisa bermitra dan mitra akan saya bimbing. Modalnya? Nggak sampai Rp1juta. Marginnya? Sekitar 100%. Produknya? Cocok untuk anak-anak dan keluarga. Sangat tepat kalau dijual di socmed. Jumat pagi akan saya kabari detailnya di channel Telegram ini.
Masih banyak tips yang lain. Kapan-kapan kita sambung lagi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ketika lanjut ditanya, "Siapa yang SIAP jadi pengusaha?" sebagian besar orang menyembunyikan tangannya.
Anda termasuk yang mana?
Atau Anda jenis orang yang berani memulai usaha tapi tidak tahan dengan penolakan-penolakan?
Katanya mau jadi pengusaha. Jualan, malu. Ditolak, malu. Gagal, kapok. Bangkrut, kapok. Alasannya segerobak. Malesnya sekontainer. Situ serius mau jadi pengusaha? Hehehe.
Hei, punya usaha itu mudah. Untuk bener-bener jadi pengusaha, nah itu yang nggak mudah. Bukan sekadar berani melangkah, tapi harus pantang menyerah. Hm, siapkah?
Kali ini izinkan saya berbagi tips-tips sukses dalam menjalani usaha. Boleh?
Pertama, belajarlah. Seorang pengusaha, sekalipun sudah mengantongi omset ratusan juta rupiah bahkan miliaran rupiah, tetaplah ia harus terus belajar. Mungkin melalui buku, mungkin melalui seminar. Syukur-syukur kalau ada mentor yang bisa membimbing terus-menerus.
Ya, belajar. Setidaknya untuk memper-tahankan usahanya dari tekanan pesaing dan tuntutan zaman. Saat mentok alias mandek, tentu kita harus belajar lebih giat lagi, agar ke depannya usaha tersebut tidak lagi mengalami kemandekan.
Belajar ilmu menjual (secara offline dan online) adalah keniscayaan. Pesan guru saya, "Kalau nasib gitu-gitu saja, maka ada tiga kemungkinan. Pertama, mungkin ilmunya gitu-gitu saja. Kedua, mungkin action-nya gitu-gitu saja. Ketiga, mungkin sedekahnya gitu-gitu saja."
Kedua, buanglah mindset sulit. Sebagian orang merasa bahwa bisnis itu sulit. Padahal semua bisnis di dunia ini mempunyai karakteristik dan tantangan masing-masing. Untuk itu, kita harus mau mempelajari karakteristik tersebut dan siap menerima tantangan tersebut. Anggaplah hal tersebut sebagai 'ujian untuk naik level'.
Ketiga, pandai-pandailah mengatur waktu dan memanfaatkan waktu. Waktu weekend, misalnya. Kita semua sama-sama tahu, waktu yang kita miliki adalah terbatas. Akhirnya muncul keraguan apakah dapat mengurus bisnis dengan waktu yang serba terbatas ini. Sebenarnya yang diperlukan adalah manajemen waktu yang lebih baik.
Mau nyimak saran praktis dari saya? Begini. Selain bangun lebih awal dan beraktivitas lebih awal, kita juga harus bisa menyusun prioritas. Mana yang harus dilakukan detik ini juga, mana yang perlu ditunda, mana yang perlu diabaikan. Manfaatkan pula waktu weekend.
Kebiasaan-kebiasaan ini akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih efektif dalam mengelola berbagai hal. Jadi, jangan lagi bilang, "Saya nggak punya waktu untuk mengurusi bisnis." Berjanjilah untuk mengatur waktu lebih baik lagi sehingga bisnis dapat terurus dan keluarga juga dapat terurus.
Dengan kata lain, optimalkan waktu kita dan berhentilah menunda-nunda. Ingat, umur bertambah, tanggungan juga bertambah. Sebaliknya, kekuatan fisik semakin berkurang. Kalau bukan sekarang memulai usaha, kapan lagi? Kalau bukan sekarang memetik untung, kapan lagi?
Beberapa hari lagi saya akan menawarkan peluang usaha buat teman-teman. Kita bisa bermitra dan mitra akan saya bimbing. Modalnya? Nggak sampai Rp1juta. Marginnya? Sekitar 100%. Produknya? Cocok untuk anak-anak dan keluarga. Sangat tepat kalau dijual di socmed. Jumat pagi akan saya kabari detailnya di channel Telegram ini.
Masih banyak tips yang lain. Kapan-kapan kita sambung lagi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Pada tahun 2014 majalah Forbes menempatkan dia sebagai orang terkaya nomor 375 di dunia. Ya, urutan 375 di dunia. Kalau Anda urutan berapa? Di RT atau di RW? Hehehe...
Di sini saya lagi ngobrolin Chairul Tanjung, Muslim terkaya di Indonesia. Sudah baca bukunya Chairul Tanjung, Si Anak Singkong?
Kalau sudah baca, Anda bisa tahu bagaimana perjalanan bisnis CT, mulai dari berjualan buku stensil di sela-sela kuliah, sampai sekarang. Rata-rata ia bekerja belasan jam sehari.
Ya, belasan jam sehari. Ketika muda, ia bekerja 18 jam sehari. Sekarang, 14 jam sehari. Bangun pun sebelum subuh. Bukan kebetulan saya pernah diundang beliau bukber di rumahnya.
Kalau baca bukunya, berasa banget kerja kerasnya. Hm, kalau aslinya? Lebih getir dari apa-apa yang pernah diceritakan pada buku tersebut.
Jadi, kalau sekarang kita merasa "Kok bisnis saya gitu-gitu aja, nggak bergerak?" saran saya cuman satu, coba cek kerja keras kita. Saya ulang, cek kerja keras kita. Sudah sejauh mana?
Bisnis kita nggak pernah salah, tapi mungkin ikhtiar dan ilmu kita yang belum sampai. Untuk sukses besar, jelas, kita perlu action gila-gilaan tanpa 'tapi' tanpa 'nanti'.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Di sini saya lagi ngobrolin Chairul Tanjung, Muslim terkaya di Indonesia. Sudah baca bukunya Chairul Tanjung, Si Anak Singkong?
Kalau sudah baca, Anda bisa tahu bagaimana perjalanan bisnis CT, mulai dari berjualan buku stensil di sela-sela kuliah, sampai sekarang. Rata-rata ia bekerja belasan jam sehari.
Ya, belasan jam sehari. Ketika muda, ia bekerja 18 jam sehari. Sekarang, 14 jam sehari. Bangun pun sebelum subuh. Bukan kebetulan saya pernah diundang beliau bukber di rumahnya.
Kalau baca bukunya, berasa banget kerja kerasnya. Hm, kalau aslinya? Lebih getir dari apa-apa yang pernah diceritakan pada buku tersebut.
Jadi, kalau sekarang kita merasa "Kok bisnis saya gitu-gitu aja, nggak bergerak?" saran saya cuman satu, coba cek kerja keras kita. Saya ulang, cek kerja keras kita. Sudah sejauh mana?
Bisnis kita nggak pernah salah, tapi mungkin ikhtiar dan ilmu kita yang belum sampai. Untuk sukses besar, jelas, kita perlu action gila-gilaan tanpa 'tapi' tanpa 'nanti'.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dalam marketing, kita mengenal istilah 4P. Masih ingat? Product, Price, Place, dan Promotion.
Dalam bisnis, kita juga harus memperhatikan 4P yang terdiri dari Praising, Planet, People, dan Profit. Praising itu ingat Allah. Planet itu ingat lingkungan. People itu ingat karyawan, pelanggan, dan masyarakat. Profit? Jelas, ini soal laba.
Kali ini Joger yang kita jadikan pokok bahasan.
Nama Joger berasal dari singkatan, di mana suku kata "Jo" dari nama pendirinya yaitu Joseph dan suku kata "Ger" dari nama temannya yaitu Gerhard Seeger. Soalnya, Gerhard Seeger adalah satu sumber dana pendirian toko Joger awal-awal.
Happiness-oriented, ini adalah falsafah yang ia anut dan ia terapkan. Salah satunya, jam kerja yang manusiawi di tokonya, yakni mulai pukul 10.00 (pagi) hingga pukul 18.00 (sore). Saya pernah bertemu beliau belasan tahun yang lalu. Memang nyentrik orangnya.
Adapun motto hidupnya. "Lebih baik sedikit tapi cukup, daripada banyak tapi kurang." Dia sama sekali tidak tertarik untuk bersikap ekspansif besar-besaran pada bisnis kaosnya.
Selain bidang bisnis, Joseph juga aktif di bidang sosial dengan mendirikan Garing, yayasan yang menyantuni orang-orang yang belum mampu makan tiga piring nasi dalam sehari. Ya, Joger memperhatikan People. Bukan sekadar Profit.
Demikian pula madu dan propolis dari Bridlington, Inggris, yang turut memperhatikan masyarakat di sekitarnya, bukan karyawan dan konsumen belaka. Ini contoh yang bagus buat kita.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan sebagai pemain UKM? Berdayakan keluarga kita dan tetangga kita. Jangan sampai merusak alam apalagi kalau berdampak permanen. Jangan sampai menutup jalan dan trotoar saat berjualan. Jangan sampai menekan supplier walaupun kita berkesempatan untuk itu.
Inilah yang namanya shared values. Insya Allah, dengan begini bisnis kita bisa bertahan lama. Survive and sustain. Satu hal lagi, mudah-mudahan juga lebih berkah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dalam bisnis, kita juga harus memperhatikan 4P yang terdiri dari Praising, Planet, People, dan Profit. Praising itu ingat Allah. Planet itu ingat lingkungan. People itu ingat karyawan, pelanggan, dan masyarakat. Profit? Jelas, ini soal laba.
Kali ini Joger yang kita jadikan pokok bahasan.
Nama Joger berasal dari singkatan, di mana suku kata "Jo" dari nama pendirinya yaitu Joseph dan suku kata "Ger" dari nama temannya yaitu Gerhard Seeger. Soalnya, Gerhard Seeger adalah satu sumber dana pendirian toko Joger awal-awal.
Happiness-oriented, ini adalah falsafah yang ia anut dan ia terapkan. Salah satunya, jam kerja yang manusiawi di tokonya, yakni mulai pukul 10.00 (pagi) hingga pukul 18.00 (sore). Saya pernah bertemu beliau belasan tahun yang lalu. Memang nyentrik orangnya.
Adapun motto hidupnya. "Lebih baik sedikit tapi cukup, daripada banyak tapi kurang." Dia sama sekali tidak tertarik untuk bersikap ekspansif besar-besaran pada bisnis kaosnya.
Selain bidang bisnis, Joseph juga aktif di bidang sosial dengan mendirikan Garing, yayasan yang menyantuni orang-orang yang belum mampu makan tiga piring nasi dalam sehari. Ya, Joger memperhatikan People. Bukan sekadar Profit.
Demikian pula madu dan propolis dari Bridlington, Inggris, yang turut memperhatikan masyarakat di sekitarnya, bukan karyawan dan konsumen belaka. Ini contoh yang bagus buat kita.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan sebagai pemain UKM? Berdayakan keluarga kita dan tetangga kita. Jangan sampai merusak alam apalagi kalau berdampak permanen. Jangan sampai menutup jalan dan trotoar saat berjualan. Jangan sampai menekan supplier walaupun kita berkesempatan untuk itu.
Inilah yang namanya shared values. Insya Allah, dengan begini bisnis kita bisa bertahan lama. Survive and sustain. Satu hal lagi, mudah-mudahan juga lebih berkah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ketika sekolah, ia ditolak. Ketika kuliah, ia ditolak. Ketika melamar kerja, ia ditolak puluhan kali. Siapa dia? Jack Ma, namanya.
Salah satu orang terkaya di Tiongkok, itulah status Jack Ma sekarang. Hebat? Sangat! Dan, ia pernah memberikan sebuah pesan yang amat berharga:
* Saat kita berusia 20-an tahun, beranilah mengambil risiko (take a risk).
* Saat kita berusia 30-an tahun, temukan boss yang tepat (find the right boss).
* Saat kita berusia 40-an tahun, fokuslah pada satu bidang (focus on single field).
* Saat kita berusia 50-an tahun, invest-lah pada orang muda (invest to young people).
* Saat kita berusia 60-an tahun, berbagi dan mengajarlah (share and teach).
Ada sedikit perbedaan kalimat ketika ia menyampaikan konsep ini di sejumlah forum. Tapi intinya tetap sama. Selagi muda, beranilah mengambil risko dan hindari penundaan. Itu pesan beliau. Terus? Nikmati setiap penolakan dan kegagalan. Terus? Belajarlah dari orang yang tepat untuk mengurangi risiko kegagalan dan mempercepat kesukesan.
Umur bertambah, tanggungan pun bertambah. Apa iya cuma mengandalkan gaji? Kapan mau sungguh-sungguh memulai dan membesarkan bisnis? Besok pagi, saya akan menawarkan peluang usaha. Modalnya tak sampai Rp1juta, marginnya hampir 100%. Mitra-mitra akan saya bimbing. Yang minat, boleh WA 0812-8777-7100.
Ingat, penundaan sering kali berujung pada kegagalan. Sebenarnya, teman-teman boleh berbisnis sendiri atau bermitra dengan yang lain. Tidak harus bermitra dengan saya. Yang penting, teman-teman bersegera dan sungguh-sungguh dalam berbisnis.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Salah satu orang terkaya di Tiongkok, itulah status Jack Ma sekarang. Hebat? Sangat! Dan, ia pernah memberikan sebuah pesan yang amat berharga:
* Saat kita berusia 20-an tahun, beranilah mengambil risiko (take a risk).
* Saat kita berusia 30-an tahun, temukan boss yang tepat (find the right boss).
* Saat kita berusia 40-an tahun, fokuslah pada satu bidang (focus on single field).
* Saat kita berusia 50-an tahun, invest-lah pada orang muda (invest to young people).
* Saat kita berusia 60-an tahun, berbagi dan mengajarlah (share and teach).
Ada sedikit perbedaan kalimat ketika ia menyampaikan konsep ini di sejumlah forum. Tapi intinya tetap sama. Selagi muda, beranilah mengambil risko dan hindari penundaan. Itu pesan beliau. Terus? Nikmati setiap penolakan dan kegagalan. Terus? Belajarlah dari orang yang tepat untuk mengurangi risiko kegagalan dan mempercepat kesukesan.
Umur bertambah, tanggungan pun bertambah. Apa iya cuma mengandalkan gaji? Kapan mau sungguh-sungguh memulai dan membesarkan bisnis? Besok pagi, saya akan menawarkan peluang usaha. Modalnya tak sampai Rp1juta, marginnya hampir 100%. Mitra-mitra akan saya bimbing. Yang minat, boleh WA 0812-8777-7100.
Ingat, penundaan sering kali berujung pada kegagalan. Sebenarnya, teman-teman boleh berbisnis sendiri atau bermitra dengan yang lain. Tidak harus bermitra dengan saya. Yang penting, teman-teman bersegera dan sungguh-sungguh dalam berbisnis.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Jangan anti dengan masalah.
Hadirnya masalah membuat kita introspeksi, berbenah, dan berubah. Hasilnya? Kita jadi lebih cerdas, lebih kreatif, lebih tangguh, lebih dewasa, dan lebih tawakal.
Pada akhirnya, kita 'naik kelas'!
Hadirnya masalah membuat kita introspeksi, berbenah, dan berubah. Hasilnya? Kita jadi lebih cerdas, lebih kreatif, lebih tangguh, lebih dewasa, dan lebih tawakal.
Pada akhirnya, kita 'naik kelas'!
Ia menaruh minat dalam mengembangkan sesuatu sejak masih kecil. Ia pernah mengutak-utik alarm listrik supaya adiknya tidak masuk ke kamarnya. Garasi orangtua juga ia sulap jadi laboratorium untuk eksperimen ilmiah. Kemudian di usia muda, ia pernah menjadi Vice President untuk sebuah perusahaan keuangan. Selang beberapa tahun, ia memutuskan untuk resign. Orangtua dan atasannya awal-awal tidak setuju. Tapi rupa-rupanya hasratnya untuk bebas dan menjadi pengusaha tidak terbendung lagi. Lalu ia mendirikan toko online dan sekarang menjadi toko online terbesar di dunia. Dia sendiri menjadi orang terkaya di dunia per Kamis kemarin, melampaui Bill Gates. #JeffBezos nama orangnya. Amazon nama bisnisnya. Bayangkan kalau dia tidak berani mengambil keputusan untuk resign. Sepertinya Amazon tidak akan hadir... Ya, beranilah mengambil keputusan. Beranilah memulai bisnis...
Sekiranya Anda ingin menjadi entrepreneur, bekerjalah di perusahaan kecil. Ini BUKAN kata saya, tapi kata Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok.
Kenapa di perusahaan kecil? Yah, karena Anda bisa belajar tentang dream, spirit, dan passion langsung dari si founder. Ini nggak bakal Anda rasakan kalau Anda bekerja di perusahaan besar.
Sebagai pemula di perusahaan besar, lazimnya Anda tidak mengantongi akses untuk sering-sering berinterakasi dengan si founder. Right? Right.
Jadi, menurut Jack Ma, "Pikirkan which boss, BUKAN which company." Ini kalimat yang sangat tajam dan menghujam, menurut saya. Maksudnya? Sulit dibantah!
Ada isyarat untuk belajar di sini. Di mana secara tidak langsung si boss diharapkan akan mengajari kita. Mudah-mudahan ilmu yang diperoleh menjadi bekal saat kita jadi pengusaha kelak.
Sekian dari saya, Ippho Santosa (Hampir setiap hari Anda mendapat motivasi dan inspirasi dari channel Telegram ini. Kenapa nggak mengajak teman-teman Anda untuk bergabung? Biar belajar bareng dan sukses bareng).
Kenapa di perusahaan kecil? Yah, karena Anda bisa belajar tentang dream, spirit, dan passion langsung dari si founder. Ini nggak bakal Anda rasakan kalau Anda bekerja di perusahaan besar.
Sebagai pemula di perusahaan besar, lazimnya Anda tidak mengantongi akses untuk sering-sering berinterakasi dengan si founder. Right? Right.
Jadi, menurut Jack Ma, "Pikirkan which boss, BUKAN which company." Ini kalimat yang sangat tajam dan menghujam, menurut saya. Maksudnya? Sulit dibantah!
Ada isyarat untuk belajar di sini. Di mana secara tidak langsung si boss diharapkan akan mengajari kita. Mudah-mudahan ilmu yang diperoleh menjadi bekal saat kita jadi pengusaha kelak.
Sekian dari saya, Ippho Santosa (Hampir setiap hari Anda mendapat motivasi dan inspirasi dari channel Telegram ini. Kenapa nggak mengajak teman-teman Anda untuk bergabung? Biar belajar bareng dan sukses bareng).
Sebenarnya pemindahan ibukota bukan hal anyar di dunia. Beberapa negara malah sudah melakukannya jauh-jauh hari dan boleh dibilang berhasil dengan lebih bergeraknya roda ekonomi.
Berikut ini adalah sejumlah negara yang sudah berhasil memindahkan ibukota negaranya:
- Brasil, dari Rio de Jeneiro ke Brasilia. Jerman, dari Bonn ke Berlin. Kazakhstan, dari Almaty ke Astana.
- Ada lagi? Ada, misalnya Pakistan, India, Myanmar, Rusia, Australia, dan Inggris.
- Contoh lain? Belize, Tanzania, Nigeria, dan Pantai Gading.
Sampai detik ini wacana pemindahan ibukota Indonesia dari Jakarta belum pudar-pudar. Kajian demi kajian terus dihelat dengan penuh kehati-hatian.
Kembali ke Pakistan, contoh yang berhasil. Islamabad saat ini sudah masuk kategori global city dan memiliki indeks pengembangan manusia tertinggi di Pakistan.
Islamabad juga menjadi kota paling mahal di Pakistan dengan penduduk sebagian besar adalah warga middle dan upper.
Islamabad juga kota teraman di Pakistan dengan sistem pengawasan yang mengandalkan 1.900 kamera CCTV di berbagai penjuru.
Bagaimana dengan pemindahan ibukota di Indonesia? Jadikah? Seriuskah? Berhasilkah? Kita masih menunggu. Di negara-negara maju, sering terjadi pemisahan antara pusat pemerintahan, pusat perdagangan, dan pusat pendidikan. Di Indonesia? Semua masih menumpuk jadi satu di ibukota negara, Jakarta.
Saya termasuk jenis orang yang welcome dengan perubahan yang positif. Insya Allah Indonesia bisa dan hasilnya baik. Tentu, dengan dukungan semua kalangan termasuk Anda dan saya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Berikut ini adalah sejumlah negara yang sudah berhasil memindahkan ibukota negaranya:
- Brasil, dari Rio de Jeneiro ke Brasilia. Jerman, dari Bonn ke Berlin. Kazakhstan, dari Almaty ke Astana.
- Ada lagi? Ada, misalnya Pakistan, India, Myanmar, Rusia, Australia, dan Inggris.
- Contoh lain? Belize, Tanzania, Nigeria, dan Pantai Gading.
Sampai detik ini wacana pemindahan ibukota Indonesia dari Jakarta belum pudar-pudar. Kajian demi kajian terus dihelat dengan penuh kehati-hatian.
Kembali ke Pakistan, contoh yang berhasil. Islamabad saat ini sudah masuk kategori global city dan memiliki indeks pengembangan manusia tertinggi di Pakistan.
Islamabad juga menjadi kota paling mahal di Pakistan dengan penduduk sebagian besar adalah warga middle dan upper.
Islamabad juga kota teraman di Pakistan dengan sistem pengawasan yang mengandalkan 1.900 kamera CCTV di berbagai penjuru.
Bagaimana dengan pemindahan ibukota di Indonesia? Jadikah? Seriuskah? Berhasilkah? Kita masih menunggu. Di negara-negara maju, sering terjadi pemisahan antara pusat pemerintahan, pusat perdagangan, dan pusat pendidikan. Di Indonesia? Semua masih menumpuk jadi satu di ibukota negara, Jakarta.
Saya termasuk jenis orang yang welcome dengan perubahan yang positif. Insya Allah Indonesia bisa dan hasilnya baik. Tentu, dengan dukungan semua kalangan termasuk Anda dan saya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.