Apapun impiannya, beli dengan doa, usaha, dan amal. Amal? Iya, amal. Salah satu amalnya yah #sedekah. Alhamdulillah, ini yang saya lakoni saat bergelut dengan tantangan-tantangan dan bercumbu dengan impian-impian.
Terus, gimaa saran teknisnya? Biasakan sedekah minimal 20% setiap bulannya. Paksa, bisa, terbiasa. Rumusnya begitu. Selanjutnya, sesekali (1-2 kali setahun), coba #SedekahEkstrim, alias melepaskan sesuatu amat bernilai dan amat berat bagi kita.
Misalnya rumah, kendaraan, perhiasaan, handphone, setengah dari tabungan, dll.
Ada lagi? Ada. Misalnya merelakan orang yang berutang dan bermasalah sama kita, itu juga bagian dari sedekah ekstrim. Kenapa? Lazimnya kita merasa nyesek untuk hal-hal yang beginian. Betul apa betul?
Kalau sudah sedekah rutin 20% dan sesekali sedekah ekstrim, insya Allah perubahan nasib juga ekstrim. Percepatan demi percepatan! Dengan izin Allah, saya dan alumni seminar sudah mencicipi ini sejak lama. Sedap!
Sedekahnya ke mana? Ke mana saja, baik insya Allah. Masing-masing ada fadilah tersendiri. Saya pribadi menyukai objek sedekah yang sarat amal jariyah dan sangat darurat. Contohnya, sekolah-sekolah di pelosok Indonesia (sekolah tepian).
Yes, saatnya take action:
- Mumpung Ramadhan.
- Mumpung ada niat.
- Mumpung ada umur.
- Mumpung ada rezeki.
Dengan sedekah, insya Allah berbagai impian seperti termudahkan dan tersolusikan. Pengen jodoh? Pengen anak? Pengen ke Tanah Suci? Beli aja. Tapi 'harganya' beda. Nggak cukup dengan sedekah biasa. Mesti sedekah yang ekstrim, sekalian juga amal-amal lainnya.
Saya ulang lagi, coba deh sedekah ekstrim. Jadi, nggak semua radikal itu jelek. Sesekali, mesti dijajal sedekah radikal alias sedekah ekstrim. Hehehe. Istilah saya 'berfoya-foya' di jalan Allah. Hehehe.
Masih takut? Takut apa?
- Takut rugi. Takut jatuh miskin.
- Apa? Takut miskin? Emang ente pernah kaya? Hehehe.
Selama ini kita sama-sama tahu:
- Berbagi, tak bakal rugi.
- Menentramkan hati.
- Memudahkan #rezeki.
- Insya Allah ini pasti.
Bantu share ya. Sampaikan ke saudara-saudara kita juga teman-teman kita. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Terus, gimaa saran teknisnya? Biasakan sedekah minimal 20% setiap bulannya. Paksa, bisa, terbiasa. Rumusnya begitu. Selanjutnya, sesekali (1-2 kali setahun), coba #SedekahEkstrim, alias melepaskan sesuatu amat bernilai dan amat berat bagi kita.
Misalnya rumah, kendaraan, perhiasaan, handphone, setengah dari tabungan, dll.
Ada lagi? Ada. Misalnya merelakan orang yang berutang dan bermasalah sama kita, itu juga bagian dari sedekah ekstrim. Kenapa? Lazimnya kita merasa nyesek untuk hal-hal yang beginian. Betul apa betul?
Kalau sudah sedekah rutin 20% dan sesekali sedekah ekstrim, insya Allah perubahan nasib juga ekstrim. Percepatan demi percepatan! Dengan izin Allah, saya dan alumni seminar sudah mencicipi ini sejak lama. Sedap!
Sedekahnya ke mana? Ke mana saja, baik insya Allah. Masing-masing ada fadilah tersendiri. Saya pribadi menyukai objek sedekah yang sarat amal jariyah dan sangat darurat. Contohnya, sekolah-sekolah di pelosok Indonesia (sekolah tepian).
Yes, saatnya take action:
- Mumpung Ramadhan.
- Mumpung ada niat.
- Mumpung ada umur.
- Mumpung ada rezeki.
Dengan sedekah, insya Allah berbagai impian seperti termudahkan dan tersolusikan. Pengen jodoh? Pengen anak? Pengen ke Tanah Suci? Beli aja. Tapi 'harganya' beda. Nggak cukup dengan sedekah biasa. Mesti sedekah yang ekstrim, sekalian juga amal-amal lainnya.
Saya ulang lagi, coba deh sedekah ekstrim. Jadi, nggak semua radikal itu jelek. Sesekali, mesti dijajal sedekah radikal alias sedekah ekstrim. Hehehe. Istilah saya 'berfoya-foya' di jalan Allah. Hehehe.
Masih takut? Takut apa?
- Takut rugi. Takut jatuh miskin.
- Apa? Takut miskin? Emang ente pernah kaya? Hehehe.
Selama ini kita sama-sama tahu:
- Berbagi, tak bakal rugi.
- Menentramkan hati.
- Memudahkan #rezeki.
- Insya Allah ini pasti.
Bantu share ya. Sampaikan ke saudara-saudara kita juga teman-teman kita. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Indonesia di ambang perpecahan? Intoleransi dan radikalisme terjadi di mana-mana? Hm, kata siapa?
Maaf, amat sempit kalau kita menilai toleransi dan intoleransi hanya dari pilkada saja. Pilkada yah pilkada. Memang, kalau kita bicara pilkada DKI, ada kompetisi yang sengit di sana. Sebenarnya, ini sih lumrah, marak terjadi di mana-mana. Bukan cuma Jakarta. Bukan cuma Indonesia.
Terus, apa iya, orang Indonesia mendadak intoleran dan radikal hanya karena pilkada? Nggak dong. Kalaupun sempat terjadi, itu cuma temporer dan parsial. Waktu tertentu, tempat tertentu. Betul apa betul?
Fyi, merebaknya hoax dan hate speech di social media, bukan saja menjadi masalah Indonesia. Melainkan sudah menjadi masalah dunia. Sampai-sampai sejumlah negara meminta bantuan PBB. Tapi, tolong diingat, itu kebanyakan terjadi di social media saja.
Tentu, saya tidak membenarkan hoax dan hate speech di social media. Ini perlu kita tangkal sama-sama. Tapi, jangan pula kita melebih-lebihkan, seolah-olah ini sudah gawat darurat dan mewabah ke lingkungan rumah juga lingkungan kerja.
Di social media, karena absennya tatap muka, orang sering bicara seenaknya. Kadang rasis, kadang kebencian, kadang keceplosan, kadang salah paham. Nah, akan beda ceritanya kalau tatap muka. Orang cenderung menahan diri, mencoba mengerti, dan berempati.
Menariknya lagi, tidak ada istilah mayoritas dan minoritas dalam konstitusi kita. Yang ada cuma istilah kelompok yang berbeda-beda. Itulah hebatnya Founding Fathers kita. Visioner, sudah memikirkan ini sejak lama. Di Barat, jangan salah, memang sudah pakem istilah mayoritas dan minoritas itu.
Satu hal lagi. Sekhilaf-khilafnya kita, belum ada statement rasis dari Istana Negara. Siapapun presidennya. Paling cuma celetukan netizen. Lha di Amerika, statement rasis sudah menyeruak dari Gedung Putih. Kurang toleran apa Indonesia?
Kita amati dan cermati hal yang lebih kecil, seperti hari libur. Masing-masing penganut agama di Indonesia memiliki 'jatah' hari libur ketika tiba hari rayanya. Di Barat? Mana ada! Seringkali hari libur dinikmati hanya agama mayoritas. Kurang toleran apa Indonesia?
Presiden ke-44 Amerika, Barack Obama, saat berlibur ke Borobudur dan Prambanan, lalu berbicara di event diaspora Sabtu yang lalu, akhirnya mengakui betapa tolerannya Indonesia. Borobudur adalah candi Buddha terbesar. Prambanan adalah candi Hindu yang besar. Meskipun keduanya berada tepat di lingkungan Muslim, tapi tetap utuh terawat sampai sekarang.
Itulah Indonesia. Sejak dulu, sampai kapanpun, insya Allah. Sejarah merekam, agama-agama yang datang kemudian di nusantara, seperti Islam dan Kristen, bisa masuk dengan damai. Umat Hindu dan Buddha yang sudah ada sejak awal menunjukkan toleransinya.
Toleransi dan kebersamaan itu teramat mahal. Mari kita jaga sama-sama. Toh, laguku dan lagumu masih sama, Indonesia Raya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Maaf, amat sempit kalau kita menilai toleransi dan intoleransi hanya dari pilkada saja. Pilkada yah pilkada. Memang, kalau kita bicara pilkada DKI, ada kompetisi yang sengit di sana. Sebenarnya, ini sih lumrah, marak terjadi di mana-mana. Bukan cuma Jakarta. Bukan cuma Indonesia.
Terus, apa iya, orang Indonesia mendadak intoleran dan radikal hanya karena pilkada? Nggak dong. Kalaupun sempat terjadi, itu cuma temporer dan parsial. Waktu tertentu, tempat tertentu. Betul apa betul?
Fyi, merebaknya hoax dan hate speech di social media, bukan saja menjadi masalah Indonesia. Melainkan sudah menjadi masalah dunia. Sampai-sampai sejumlah negara meminta bantuan PBB. Tapi, tolong diingat, itu kebanyakan terjadi di social media saja.
Tentu, saya tidak membenarkan hoax dan hate speech di social media. Ini perlu kita tangkal sama-sama. Tapi, jangan pula kita melebih-lebihkan, seolah-olah ini sudah gawat darurat dan mewabah ke lingkungan rumah juga lingkungan kerja.
Di social media, karena absennya tatap muka, orang sering bicara seenaknya. Kadang rasis, kadang kebencian, kadang keceplosan, kadang salah paham. Nah, akan beda ceritanya kalau tatap muka. Orang cenderung menahan diri, mencoba mengerti, dan berempati.
Menariknya lagi, tidak ada istilah mayoritas dan minoritas dalam konstitusi kita. Yang ada cuma istilah kelompok yang berbeda-beda. Itulah hebatnya Founding Fathers kita. Visioner, sudah memikirkan ini sejak lama. Di Barat, jangan salah, memang sudah pakem istilah mayoritas dan minoritas itu.
Satu hal lagi. Sekhilaf-khilafnya kita, belum ada statement rasis dari Istana Negara. Siapapun presidennya. Paling cuma celetukan netizen. Lha di Amerika, statement rasis sudah menyeruak dari Gedung Putih. Kurang toleran apa Indonesia?
Kita amati dan cermati hal yang lebih kecil, seperti hari libur. Masing-masing penganut agama di Indonesia memiliki 'jatah' hari libur ketika tiba hari rayanya. Di Barat? Mana ada! Seringkali hari libur dinikmati hanya agama mayoritas. Kurang toleran apa Indonesia?
Presiden ke-44 Amerika, Barack Obama, saat berlibur ke Borobudur dan Prambanan, lalu berbicara di event diaspora Sabtu yang lalu, akhirnya mengakui betapa tolerannya Indonesia. Borobudur adalah candi Buddha terbesar. Prambanan adalah candi Hindu yang besar. Meskipun keduanya berada tepat di lingkungan Muslim, tapi tetap utuh terawat sampai sekarang.
Itulah Indonesia. Sejak dulu, sampai kapanpun, insya Allah. Sejarah merekam, agama-agama yang datang kemudian di nusantara, seperti Islam dan Kristen, bisa masuk dengan damai. Umat Hindu dan Buddha yang sudah ada sejak awal menunjukkan toleransinya.
Toleransi dan kebersamaan itu teramat mahal. Mari kita jaga sama-sama. Toh, laguku dan lagumu masih sama, Indonesia Raya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Bener-bener terkejut!
Ketika libur Lebaran, kita kurang aktif di Facebook.
Dampaknya? Ternyata ribuan orang yang tidak bisa melihat status Facebook saya, padahal mereka jelas-jelas follow (like) halaman saya sejak lama.
Mereka pun komplen, saya dianggap jarang update status. Sementara saya dan tim merasa sering update status. Terus, apa yang terjadi?
Rupanya, selama setahun terakhir, Facebook melakukan ‘kebijakan tersendiri’. Follower (member) yang cuma pasif membaca sebuah page, tapi tidak komen dan tidak share sama sekali, lama-lama tidak bisa melihat page itu lagi.
Ya, Facebook menginginkan interaktivitas. Jangan jadi pembaca pasif. Kita mesti komen atau share. Kalau nggak, kita dianggap tidak interaktif dan tidak intens, makanya tidak bisa melihat page bersangkutan. Kalaupun benar-benar mau lihat, harus search dulu.
Terus, apa solusinya? Begini. Minimal satu kali sehari, Anda mesti komen atau share di page Facebook saya. Menariknya, keterlibatan ini juga membuat Anda semakin termotivasi dan terinspirasi.
Apalagi selama seminggu terakhir, ada berbagai keseruan di page Facebook saya. Misalnya:
- Kisah sukses Chairul Tanjung (orang terkaya no.4).
- Kisah sukses Sulaiman Al-Rajhi (salah orang terkaya dunia asal Saudi).
- Nasehat dari Reza Rahadian, Menteri Susi, dan Oprah Winfrey.
- Sikap-sikap kita terhadap kekayaan, dari berbagai aspek.
- Motivasi harian dan masih banyak lagi, termasuk humor.
Ini alamat Facebook saya www.facebook.com/MotivatorIppho/
Sekali lagi, silakan komen atau share di sana. Minimal satu kali sehari.
Siap?
Ketika libur Lebaran, kita kurang aktif di Facebook.
Dampaknya? Ternyata ribuan orang yang tidak bisa melihat status Facebook saya, padahal mereka jelas-jelas follow (like) halaman saya sejak lama.
Mereka pun komplen, saya dianggap jarang update status. Sementara saya dan tim merasa sering update status. Terus, apa yang terjadi?
Rupanya, selama setahun terakhir, Facebook melakukan ‘kebijakan tersendiri’. Follower (member) yang cuma pasif membaca sebuah page, tapi tidak komen dan tidak share sama sekali, lama-lama tidak bisa melihat page itu lagi.
Ya, Facebook menginginkan interaktivitas. Jangan jadi pembaca pasif. Kita mesti komen atau share. Kalau nggak, kita dianggap tidak interaktif dan tidak intens, makanya tidak bisa melihat page bersangkutan. Kalaupun benar-benar mau lihat, harus search dulu.
Terus, apa solusinya? Begini. Minimal satu kali sehari, Anda mesti komen atau share di page Facebook saya. Menariknya, keterlibatan ini juga membuat Anda semakin termotivasi dan terinspirasi.
Apalagi selama seminggu terakhir, ada berbagai keseruan di page Facebook saya. Misalnya:
- Kisah sukses Chairul Tanjung (orang terkaya no.4).
- Kisah sukses Sulaiman Al-Rajhi (salah orang terkaya dunia asal Saudi).
- Nasehat dari Reza Rahadian, Menteri Susi, dan Oprah Winfrey.
- Sikap-sikap kita terhadap kekayaan, dari berbagai aspek.
- Motivasi harian dan masih banyak lagi, termasuk humor.
Ini alamat Facebook saya www.facebook.com/MotivatorIppho/
Sekali lagi, silakan komen atau share di sana. Minimal satu kali sehari.
Siap?
Facebook
Log in or sign up to view
See posts, photos and more on Facebook.
Mari jadikan makanan kita sebagai obat, supaya jangan obat yang jadi makanan kita. Maksudnya?
Begini. Menjadikan makanan sebagai obat, artinya kita memilih asupan yang berimbang dan sehat sehingga menjadi penangkal terhadap berbagai penyakit dan mudharat.
Terus? Perbanyak minum. Fakta menunjukkan, 70 persen dari kita mengalami dehidrasi. Ya, dehidrasi. Hal tersebut menyebabkan lesu, kembung, dan hilang konsentrasi.
Repotnya, apabila kita tak mempunyai mempunyai botol air minum di dekat kita, kemungkinan besar kita tak minum dengan cukup. Biasanya begitu.
Walaupun sudah mengonsumsi kopi atau teh dan merasa tidak haus, namun tetaplah minum air putih setidaknya satu liter setiap harinya. Bagaimana dengan madu dan propolis? Tidak ada perdebatan sama sekali, itu bagus sekali.
Terus, apa lagi? Sempatkan berdiri. Terlalu banyak duduk dapat memicu macam-macam penyakit, seperti bertambahnya berat badan, tidak lancarnya aliran darah, hingga potensi serangan jantung.
Nah, hal tersebut dapat disiasati dan diatasi dengan berdiri setiap beberapa menit sekali. Syukur-syukur kalau kita mau lari pagi minimal 2 kali seminggu. Ini sangat menyehatkan.
Jangan sampai kita capek-capek cari uang, tahu-tahu kehilangan sesuatu yang lebih mahal daripada uang, yaitu kesehatan. Be healthy, be wealthy. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(MARI ajak teman-teman kita beralih ke Telegram, terus cari channel Telegram Ippho Santosa atau @ipphoright)
Begini. Menjadikan makanan sebagai obat, artinya kita memilih asupan yang berimbang dan sehat sehingga menjadi penangkal terhadap berbagai penyakit dan mudharat.
Terus? Perbanyak minum. Fakta menunjukkan, 70 persen dari kita mengalami dehidrasi. Ya, dehidrasi. Hal tersebut menyebabkan lesu, kembung, dan hilang konsentrasi.
Repotnya, apabila kita tak mempunyai mempunyai botol air minum di dekat kita, kemungkinan besar kita tak minum dengan cukup. Biasanya begitu.
Walaupun sudah mengonsumsi kopi atau teh dan merasa tidak haus, namun tetaplah minum air putih setidaknya satu liter setiap harinya. Bagaimana dengan madu dan propolis? Tidak ada perdebatan sama sekali, itu bagus sekali.
Terus, apa lagi? Sempatkan berdiri. Terlalu banyak duduk dapat memicu macam-macam penyakit, seperti bertambahnya berat badan, tidak lancarnya aliran darah, hingga potensi serangan jantung.
Nah, hal tersebut dapat disiasati dan diatasi dengan berdiri setiap beberapa menit sekali. Syukur-syukur kalau kita mau lari pagi minimal 2 kali seminggu. Ini sangat menyehatkan.
Jangan sampai kita capek-capek cari uang, tahu-tahu kehilangan sesuatu yang lebih mahal daripada uang, yaitu kesehatan. Be healthy, be wealthy. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(MARI ajak teman-teman kita beralih ke Telegram, terus cari channel Telegram Ippho Santosa atau @ipphoright)
Facebook dan Instragram semakin powerful. Amat sayang kalau kita cuma jadi penonton. Harusnya jadi pemain juga.
Facebook dikabarkan akan membangun kantor dan membereskan perizinan di Indonesia. Ini disampaikan oleh Dirjen Aplikasi Informatika (APTIKA) Kementerian Komunikasi dan Informatika, Samuel Abrijani.
Serunya lagi, Facebook mencatat rekor baru dengan jumlah user tembus 2 miliar per bulan atau 51 kali dari populasi di California. Prestasi ini diperoleh Facebook kurang dari lima tahun dari sebelumnya hanya 1 miliar user per bulan.
Dan kita sama-sama tahu, Indonesia selalu masuk 5 besar dalam hal user terbanyak sedunia. Ini adalah pasar. Nah, begitulah Facebook. Gimana dengan Instagram (IG)?
Facebook adalah tempat berkumpulnya user yang paling besar. Kalau Instagram (IG)? Tempat berkumpulnya user yang paling prospek. Kedua-duanya perlu kita kuasai, bukan sekadar tahu.
"Instagram merupakan alat pemasaran yang sangat efektif bagi perusahaan untuk mengenalkan produknya. Selebriti juga memperhitungkan akun mereka secara efektif," ungkap Mike Bandar, pendiri HopperHQ.
Ia juga menyampaikan betapa Instagram punya banyak user, tepatnya sekitar 700 juta user aktif di dunia setiap bulan. Itu sama saja Instagram menjadi media pengiklan yang efektif. Apalagi user-nya lebih berdaya beli.
Instagram bahkan menjadi mesin uang, terutama bagi artis-artis, misalnya Selena Gomez. Pendapatannya tertinggi di Instagram. Setiap unggahan yang ia bagikan pada 122 juta pengikutnya bernilai Rp7,3 miliar.
Kita bukan artis. Kita adalah entrepreneur dan calon entrepreneur. Tak ada salahnya kalau kita mempelajari ilmu Facebook dan Instagram lebih dalam lagi, terutama buat bisnis. Apalagi orang perkotaan memegang handphone-nya 3 sampai 5 jam sehari.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Facebook dikabarkan akan membangun kantor dan membereskan perizinan di Indonesia. Ini disampaikan oleh Dirjen Aplikasi Informatika (APTIKA) Kementerian Komunikasi dan Informatika, Samuel Abrijani.
Serunya lagi, Facebook mencatat rekor baru dengan jumlah user tembus 2 miliar per bulan atau 51 kali dari populasi di California. Prestasi ini diperoleh Facebook kurang dari lima tahun dari sebelumnya hanya 1 miliar user per bulan.
Dan kita sama-sama tahu, Indonesia selalu masuk 5 besar dalam hal user terbanyak sedunia. Ini adalah pasar. Nah, begitulah Facebook. Gimana dengan Instagram (IG)?
Facebook adalah tempat berkumpulnya user yang paling besar. Kalau Instagram (IG)? Tempat berkumpulnya user yang paling prospek. Kedua-duanya perlu kita kuasai, bukan sekadar tahu.
"Instagram merupakan alat pemasaran yang sangat efektif bagi perusahaan untuk mengenalkan produknya. Selebriti juga memperhitungkan akun mereka secara efektif," ungkap Mike Bandar, pendiri HopperHQ.
Ia juga menyampaikan betapa Instagram punya banyak user, tepatnya sekitar 700 juta user aktif di dunia setiap bulan. Itu sama saja Instagram menjadi media pengiklan yang efektif. Apalagi user-nya lebih berdaya beli.
Instagram bahkan menjadi mesin uang, terutama bagi artis-artis, misalnya Selena Gomez. Pendapatannya tertinggi di Instagram. Setiap unggahan yang ia bagikan pada 122 juta pengikutnya bernilai Rp7,3 miliar.
Kita bukan artis. Kita adalah entrepreneur dan calon entrepreneur. Tak ada salahnya kalau kita mempelajari ilmu Facebook dan Instagram lebih dalam lagi, terutama buat bisnis. Apalagi orang perkotaan memegang handphone-nya 3 sampai 5 jam sehari.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dulu petingggi Yahoo awalnya menganggap Facebook hanyalah mainan anak muda. Siapa sangka, tahu-tahu Facebook membesar dan menguat. Sampai-sampai Yahoo tersadar dan ingin membeli Facebook dengan harga fantastis, namun ditolak mentah-mentah oleh Facebook.
Sekarang, Yahoo kurang terdengar lagi suaranya.
Untuk 10 tahun terakhir, media sosial (medsos) adalah salah satu akselerator dalam bisnis. Ya, membantu percepatan.
Sekali lagi, media sosial. Tentunya bukan sembarang medsos, melainkan medsos yang sudah teroptimasi. Maksudnya, mencuat, mencolok, dan mendominasi.
Kalau kita sudah menghelat optimasi FB, optimasi IG, optimasi blog, dan ilmu SEO, insya Allah ini akan berdampak sangat signifikan pada omset kita. Minimal bisa naik 30% sampai 40%.
Bagaimana dengan cost? Insya Allah bisa hemat 50% sampai 60%. Yang sering terjadi, malah lebih daripada itu semua. Tak perlu spanduk dan iklan koran lagi. Dengan kata lain, sangat efektif dan sangat efisien.
Itu artinya, medsos yang teroptimasi layak kita pelajari dan layak kita perjuangkan.
Dari berbagai data yang saya rangkum, sekitar 70% UKM kita belum melek internet. Di satu sisi, ini menyedihkan. Tapi di sisi lain, ini kesempatan emas bagi kita karena kita (berusaha untuk) melek internet.
Ingatlah, zaman sudah berubah. Cara mencari uang juga berubah. Adalah aneh kalau kita tidak mau berubah, berbenah, dan mempersiapkan diri.
Sudah saatnya kita mempersiapkan diri. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sekarang, Yahoo kurang terdengar lagi suaranya.
Untuk 10 tahun terakhir, media sosial (medsos) adalah salah satu akselerator dalam bisnis. Ya, membantu percepatan.
Sekali lagi, media sosial. Tentunya bukan sembarang medsos, melainkan medsos yang sudah teroptimasi. Maksudnya, mencuat, mencolok, dan mendominasi.
Kalau kita sudah menghelat optimasi FB, optimasi IG, optimasi blog, dan ilmu SEO, insya Allah ini akan berdampak sangat signifikan pada omset kita. Minimal bisa naik 30% sampai 40%.
Bagaimana dengan cost? Insya Allah bisa hemat 50% sampai 60%. Yang sering terjadi, malah lebih daripada itu semua. Tak perlu spanduk dan iklan koran lagi. Dengan kata lain, sangat efektif dan sangat efisien.
Itu artinya, medsos yang teroptimasi layak kita pelajari dan layak kita perjuangkan.
Dari berbagai data yang saya rangkum, sekitar 70% UKM kita belum melek internet. Di satu sisi, ini menyedihkan. Tapi di sisi lain, ini kesempatan emas bagi kita karena kita (berusaha untuk) melek internet.
Ingatlah, zaman sudah berubah. Cara mencari uang juga berubah. Adalah aneh kalau kita tidak mau berubah, berbenah, dan mempersiapkan diri.
Sudah saatnya kita mempersiapkan diri. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Perbedaan waktu itu nyata.
Ketika di ujung Papua sudah dhuha, di ujung Aceh masih tahajjud. Dari ujung ke ujung Indonesia, perbedaan waktu (terutama waktu sholat) bukan cuma 2 jam. Yang sebenarnya, hampir 3 jam.
Menariknya internet bisa bekerja tanpa batas waktu. Bahkan tetap bekerja saat kita tidur sekalipun.
Ya, internet itu mesin. Saran saya, "Biarkan mesin bekerja, maka kita akan punya waktu lebih leluasa untuk berlibur. Lebih sering, lebih lama." Anda juga punya waktu luang untuk keluarga dan ibadah.
Senior-senior saya mengajarkan, "Kurangi penggunaan flyer, spanduk, iklan koran, dan salesman. Dengan mesin bernama internet marketing, kita bisa menghasilkan pernjualan yang lebih banyak dan biaya yang lebih hemat."
Belakangan ini, kekuatan media konvensional kian dipertanyakan oleh pakar-pakar. Ternyata yah begitu. Makanya, sudah nggak zaman, promosi pakai flyer, spanduk, dan iklan koran. Dengan internet marketing, hasilnya bisa lebih efektif, lebih efisien, dan sangat terukur.
Lima tahun terakhir, internet kian menunjukkan taring dan cakarnya. Ditambah semakin meratanya penyebaran smartphone di tengah masyarakat. Apalagi orang perkotaan yang menghabiskan waktunya 3-5 jam sehari bersama smartphone.
Sudah semestinya semua pihak (mulai dari owner, manager, supervisor, staff, termasuk salesman) harus belajar internet. Jika tidak, akan digilas zaman! Ya, digilas zaman!
Ingat, bukan zaman yang kejam. Bukan internet yang kejam. Mungkin kita yang tidak mempersiapkan diri.
(Silakan ajak teman-teman kita beralih ke channel Telegram @ipphoright. Lebih ringan, lebih cepat, lebih aman)
Ketika di ujung Papua sudah dhuha, di ujung Aceh masih tahajjud. Dari ujung ke ujung Indonesia, perbedaan waktu (terutama waktu sholat) bukan cuma 2 jam. Yang sebenarnya, hampir 3 jam.
Menariknya internet bisa bekerja tanpa batas waktu. Bahkan tetap bekerja saat kita tidur sekalipun.
Ya, internet itu mesin. Saran saya, "Biarkan mesin bekerja, maka kita akan punya waktu lebih leluasa untuk berlibur. Lebih sering, lebih lama." Anda juga punya waktu luang untuk keluarga dan ibadah.
Senior-senior saya mengajarkan, "Kurangi penggunaan flyer, spanduk, iklan koran, dan salesman. Dengan mesin bernama internet marketing, kita bisa menghasilkan pernjualan yang lebih banyak dan biaya yang lebih hemat."
Belakangan ini, kekuatan media konvensional kian dipertanyakan oleh pakar-pakar. Ternyata yah begitu. Makanya, sudah nggak zaman, promosi pakai flyer, spanduk, dan iklan koran. Dengan internet marketing, hasilnya bisa lebih efektif, lebih efisien, dan sangat terukur.
Lima tahun terakhir, internet kian menunjukkan taring dan cakarnya. Ditambah semakin meratanya penyebaran smartphone di tengah masyarakat. Apalagi orang perkotaan yang menghabiskan waktunya 3-5 jam sehari bersama smartphone.
Sudah semestinya semua pihak (mulai dari owner, manager, supervisor, staff, termasuk salesman) harus belajar internet. Jika tidak, akan digilas zaman! Ya, digilas zaman!
Ingat, bukan zaman yang kejam. Bukan internet yang kejam. Mungkin kita yang tidak mempersiapkan diri.
(Silakan ajak teman-teman kita beralih ke channel Telegram @ipphoright. Lebih ringan, lebih cepat, lebih aman)
Malas beraktivitas di Senin pagi?
Saran saya, "Lakukan saja apa-apa yang membuat Anda bersemangat." Yang penting, itu legal dan halal.
Contohnya? Gunakan pakaian favorit. Atau kenakan pakaian dengan warna berbeda dibanding yang sudah-sudah.
Apa lagi? Mengganti belah rambut. Apa lagi? Anda juga bisa mengenakan aksesoris lucu atau memasang pajangan lucu di kantor.
Hal lain? Konsumsi cemilan dan minuman kesukaan. Intinya apapun yang bisa membangkitkan mood dan semangat Anda.
Satu lagi, jangan lupa berdoa.
Mood dan semangat di Senin pagi sangatlah penting. Kenapa? Karena bisa mempengaruhi kerja dan kinerja Anda sepanjang hari selama seminggu.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Selamat mencoba!
Saran saya, "Lakukan saja apa-apa yang membuat Anda bersemangat." Yang penting, itu legal dan halal.
Contohnya? Gunakan pakaian favorit. Atau kenakan pakaian dengan warna berbeda dibanding yang sudah-sudah.
Apa lagi? Mengganti belah rambut. Apa lagi? Anda juga bisa mengenakan aksesoris lucu atau memasang pajangan lucu di kantor.
Hal lain? Konsumsi cemilan dan minuman kesukaan. Intinya apapun yang bisa membangkitkan mood dan semangat Anda.
Satu lagi, jangan lupa berdoa.
Mood dan semangat di Senin pagi sangatlah penting. Kenapa? Karena bisa mempengaruhi kerja dan kinerja Anda sepanjang hari selama seminggu.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Selamat mencoba!
Sejauh ini, Spiderman sudah diperankan oleh tiga aktor dan tentu saja masing-masing punya kelebihan tersendiri juga fans tersendiri. Ini soal selera, hehehe.
Lantas, apa pendapat saya? Frankly speaking #TobeyMaguire is the best Spiderman. Yes, the best. I hope the next Spiderman movie will be better.
Boleh dibilang, Tobey Maguire berhasil memerankan Spiderman dan benar-benar menyentuh hati. Ia pun perform tanpa embel-embel Iron Man, Captain America, dan Avengers. Angka penjualan juga berbicara. Booming!
Tom Holland, pemeran Peter Parker alias Spiderman kali ini, memang terkesan lebih muda dan lebih kocak. Saya sih yakin penonton yang lain menangkap kesan yang sama seperti saya.
Sayangnya, di sini Peter Parker seolah-olah bergantung pada teknologi dan di bawah bayang-bayang Tony Stark alias Iron Man. Satu lagi, sepertinya yang ingin digadang-gadang oleh sutradara cuma nama Avengers belaka.
Ya, demikianlah karya Marvel terbaru.
Yang rada aneh, musuhnya Spiderman kali ini diperankan oleh Michael Keaton. Padahal Michael Keaton dua kali dipercaya oleh DC untuk memerankan Batman, yaitu pada 1989 dan 1992.
Jadi, sulit bagi saya membayangkan pemeran Batman jadi penjahat. Sulit. Hehehe. Walaupun sebenarnya Michael Keaton sudah pernah melakukan itu pada Robocop dan Need for Speed.
Begitulah, tidak mudah memilih orang dan menyusun tim. Apalagi yang bisa perform dan memuaskan semua pihak. Tantangan memilih orang ini berlaku dalam apa saja, termasuk dalam dunia kerja.
Apa tips dari saya? Pertama, amat penting untuk mengetahui internal needs dari perusahaan. Nah, dari needs inilah kemudian kita bergerak. Mencari orang dengan sifat dan skill yang tepat.
Kenapa saya menyebut sifat di sini? Ya memang begitu. Soalnya sifat lebih bertahan lama daripada skill. Misalnya skill-nya hebat, tapi belum tentu sifatnya cocok dengan Anda dan tim Anda.
Selanjutnya? Jangan terburu-buru dalam menyusun tim. Sekali lagi, jangan. Anda bukan Avengers atau Expendables. Orang yang tepat biasanya tidak mudah ditemukan. Perlu waktu.
Tips terakhir? Tanya dan cek social media mereka. Biasanya, karakter asli mereka tercermin melalui postingan-postingan mereka. Tentu, ini bukan patokan tapi sangat layak jadi bahan pertimbangan.
Selamat mencoba. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Lantas, apa pendapat saya? Frankly speaking #TobeyMaguire is the best Spiderman. Yes, the best. I hope the next Spiderman movie will be better.
Boleh dibilang, Tobey Maguire berhasil memerankan Spiderman dan benar-benar menyentuh hati. Ia pun perform tanpa embel-embel Iron Man, Captain America, dan Avengers. Angka penjualan juga berbicara. Booming!
Tom Holland, pemeran Peter Parker alias Spiderman kali ini, memang terkesan lebih muda dan lebih kocak. Saya sih yakin penonton yang lain menangkap kesan yang sama seperti saya.
Sayangnya, di sini Peter Parker seolah-olah bergantung pada teknologi dan di bawah bayang-bayang Tony Stark alias Iron Man. Satu lagi, sepertinya yang ingin digadang-gadang oleh sutradara cuma nama Avengers belaka.
Ya, demikianlah karya Marvel terbaru.
Yang rada aneh, musuhnya Spiderman kali ini diperankan oleh Michael Keaton. Padahal Michael Keaton dua kali dipercaya oleh DC untuk memerankan Batman, yaitu pada 1989 dan 1992.
Jadi, sulit bagi saya membayangkan pemeran Batman jadi penjahat. Sulit. Hehehe. Walaupun sebenarnya Michael Keaton sudah pernah melakukan itu pada Robocop dan Need for Speed.
Begitulah, tidak mudah memilih orang dan menyusun tim. Apalagi yang bisa perform dan memuaskan semua pihak. Tantangan memilih orang ini berlaku dalam apa saja, termasuk dalam dunia kerja.
Apa tips dari saya? Pertama, amat penting untuk mengetahui internal needs dari perusahaan. Nah, dari needs inilah kemudian kita bergerak. Mencari orang dengan sifat dan skill yang tepat.
Kenapa saya menyebut sifat di sini? Ya memang begitu. Soalnya sifat lebih bertahan lama daripada skill. Misalnya skill-nya hebat, tapi belum tentu sifatnya cocok dengan Anda dan tim Anda.
Selanjutnya? Jangan terburu-buru dalam menyusun tim. Sekali lagi, jangan. Anda bukan Avengers atau Expendables. Orang yang tepat biasanya tidak mudah ditemukan. Perlu waktu.
Tips terakhir? Tanya dan cek social media mereka. Biasanya, karakter asli mereka tercermin melalui postingan-postingan mereka. Tentu, ini bukan patokan tapi sangat layak jadi bahan pertimbangan.
Selamat mencoba. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kaya itu bukan soal akumulasi harta, melainkan distribusi harta. Hendaknya begitu.
Bank Dunia memetakan adanya ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi yang mencolok di Indonesia, di mana 1% penduduk menguasai 40% sampai 50% kekayaan nasional. Ini bukan saja mencolok, tapi mengerikan!
Hati-hati, ketimpangan ekonomi akan memicu kemarahan, kebencian, juga kriminalitas dari si miskin terhadap si kaya. Bagai bom waktu saja. Tak heran, kericuhan kecil bisa membesar karena bergeraknya dan berkumpulnya kaum yang disebut-sebut marginal ini.
"Dalam kekuatan yang besar, tersimpan tanggung-jawab yang besar," ini pesan moral dari film Spiderman (generasi awal). Ya, tanggung-jawab yang besar. Terutama kalau kita menjadi orang kaya.
Menurut riset yang digelar oleh ilmuwan dari Amerika dan Inggris, ditemukan bahwa ketika kelompok elit kian kaya, maka 99 persen manusia lainnya (yang tidak kaya) di bumi justru semakin tak bahagia. Lho kok gitu?
Ya begitu. "Studi kami menunjukkan, secara rata-rata, tingkat kepuasan hidup akan turun ketika si kaya semakin kaya," tulis para peneliti dalam riset bertajuk "Top Incomes and Human Well-Being Around the World" dan disarikan kembali dalam The Guardian.
Jan‐Emmanuel De Neve dan Nattavudh Powdthavee, dua ilmuwan dalam riset itu, menulis bahwa penelitian mereka bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh meningkatnya harta segelintir orang paling kaya di dunia dan dampaknya terhadap kondisi manusia secara keseluruhan.
Itu faktanya. Terus, apa solusinya?
"Produksi sebesar-besarnya, konsumsi sekedarnya, distribusi seluas-luasnya," itulah seruan saya sejak dulu. Yang namanya manusia mesti produktif. Namun yang dipakai seperlunya saja, nggak konsumtif. Dengan demikian, akan banyak yang tersisa. Nah, sisanya ini didistribusikan seluas-luasnya. Berbagi.
Tak perlu menuding si A atau si B. Mulai saja dari diri kita dan keluarga kita. Setelah itu, kita ingatkan dan ajak yang lain. Sekian dari saya, Ippho Santosa (silakan ajak keluarga bergabung ke channel Telegram @ipphoright).
Bank Dunia memetakan adanya ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi yang mencolok di Indonesia, di mana 1% penduduk menguasai 40% sampai 50% kekayaan nasional. Ini bukan saja mencolok, tapi mengerikan!
Hati-hati, ketimpangan ekonomi akan memicu kemarahan, kebencian, juga kriminalitas dari si miskin terhadap si kaya. Bagai bom waktu saja. Tak heran, kericuhan kecil bisa membesar karena bergeraknya dan berkumpulnya kaum yang disebut-sebut marginal ini.
"Dalam kekuatan yang besar, tersimpan tanggung-jawab yang besar," ini pesan moral dari film Spiderman (generasi awal). Ya, tanggung-jawab yang besar. Terutama kalau kita menjadi orang kaya.
Menurut riset yang digelar oleh ilmuwan dari Amerika dan Inggris, ditemukan bahwa ketika kelompok elit kian kaya, maka 99 persen manusia lainnya (yang tidak kaya) di bumi justru semakin tak bahagia. Lho kok gitu?
Ya begitu. "Studi kami menunjukkan, secara rata-rata, tingkat kepuasan hidup akan turun ketika si kaya semakin kaya," tulis para peneliti dalam riset bertajuk "Top Incomes and Human Well-Being Around the World" dan disarikan kembali dalam The Guardian.
Jan‐Emmanuel De Neve dan Nattavudh Powdthavee, dua ilmuwan dalam riset itu, menulis bahwa penelitian mereka bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh meningkatnya harta segelintir orang paling kaya di dunia dan dampaknya terhadap kondisi manusia secara keseluruhan.
Itu faktanya. Terus, apa solusinya?
"Produksi sebesar-besarnya, konsumsi sekedarnya, distribusi seluas-luasnya," itulah seruan saya sejak dulu. Yang namanya manusia mesti produktif. Namun yang dipakai seperlunya saja, nggak konsumtif. Dengan demikian, akan banyak yang tersisa. Nah, sisanya ini didistribusikan seluas-luasnya. Berbagi.
Tak perlu menuding si A atau si B. Mulai saja dari diri kita dan keluarga kita. Setelah itu, kita ingatkan dan ajak yang lain. Sekian dari saya, Ippho Santosa (silakan ajak keluarga bergabung ke channel Telegram @ipphoright).
Anda kenal Reza Rahadian? Bertepatan beberapa hari yang lalu saya sempat bertemu dan ngobrol-ngobrol dengan dia di sebuah forum. Selain film Rudy, Habibie, dan My Stupid Boss, saya juga menyukai penampilan dia di film HOS Tjokroaminoto.
Saya teringat adegan debat antara Semaun dan Agus Salim tentang tanah (properti) dan pendidikan (ilmu). Yang satu bersikeras, tanahlah yang lebih penting. Satunya bersikukuh, pendidikanlah yang paling penting. Kedua-duanya berdebat sengit.
Yah, kedua-duanya adalah tokoh berpengaruh yang sempat bergandeng tangan dengan HOS Tjokroaminoto dalam perjuangan. Lantas, siapakah yang benar? Semaun atau Agus Salim? Tanah atau pendidikan?
Di mana-mana saya selalu menganjurkan, invest dulu pada ilmunya. Belajar. Yang namanya bisnis, bisa untung, bisa rugi. Nah, kita dapat mengurangi resiko kerugian dengan memahami ilmunya terlebih dahulu. Sekali lagi, belajar.
Dengan ilmu, yah tetap saja, nggak jaminan untung. Akan tetapi ini lumayan membantu dan mengurangi resiko kerugian. Belajar, inilah yang saya lakukan dulu dan ini pula yang saya anjurkan sekarang.
Ketika melihat sebagian UKM, kadang saya merasa prihatin. Beneran. Banyak di antara mereka yang gagal menjual dan gagal bersaing hanya gara-gara tidak mengerti internet. Padahal internet adalah now market dan next market.
UKM ini, karena terus-menerus sulit menjual dan sulit bersaing, akhirnya berujung pada kerugian. Sebagian, tutup. Nah akan lain ceritanya kalau mereka mau menyisihkan waktu untuk belajar terlebih dahulu.
Kita perlu bersyukur, sekarang sudah tersedia berbagai macam training terkait internet marketing. Kalau 5 tahun yang lalu, mana ada? Kalaupun ada, yah langka! Lagi-lagi saya menyarankan Anda untuk mempelajari ilmunya terlebih dahulu.
Namanya belajar, nggak harus dengan saya. Anda boleh belajar dari siapapun, asalkan Anda yakin integritas dan kapasitas orangnya. Alhamdulillah, untuk magang 'Internet Marketing' bareng saya di akhir Juli sudah FULL. Insya Allah akan diadakan lagi di akhir Agustus (sepulang saya seminar di Korea).
Hei, zaman sudah berubah. Cara memasarkan produk dan cara mendapatkan uang juga berubah. Adalah konyol kalau kita tidak mempersiapkan diri. Bukan teknologi yang kejam. Mungkin kita yang tidak mempersiapkan diri. Think. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya teringat adegan debat antara Semaun dan Agus Salim tentang tanah (properti) dan pendidikan (ilmu). Yang satu bersikeras, tanahlah yang lebih penting. Satunya bersikukuh, pendidikanlah yang paling penting. Kedua-duanya berdebat sengit.
Yah, kedua-duanya adalah tokoh berpengaruh yang sempat bergandeng tangan dengan HOS Tjokroaminoto dalam perjuangan. Lantas, siapakah yang benar? Semaun atau Agus Salim? Tanah atau pendidikan?
Di mana-mana saya selalu menganjurkan, invest dulu pada ilmunya. Belajar. Yang namanya bisnis, bisa untung, bisa rugi. Nah, kita dapat mengurangi resiko kerugian dengan memahami ilmunya terlebih dahulu. Sekali lagi, belajar.
Dengan ilmu, yah tetap saja, nggak jaminan untung. Akan tetapi ini lumayan membantu dan mengurangi resiko kerugian. Belajar, inilah yang saya lakukan dulu dan ini pula yang saya anjurkan sekarang.
Ketika melihat sebagian UKM, kadang saya merasa prihatin. Beneran. Banyak di antara mereka yang gagal menjual dan gagal bersaing hanya gara-gara tidak mengerti internet. Padahal internet adalah now market dan next market.
UKM ini, karena terus-menerus sulit menjual dan sulit bersaing, akhirnya berujung pada kerugian. Sebagian, tutup. Nah akan lain ceritanya kalau mereka mau menyisihkan waktu untuk belajar terlebih dahulu.
Kita perlu bersyukur, sekarang sudah tersedia berbagai macam training terkait internet marketing. Kalau 5 tahun yang lalu, mana ada? Kalaupun ada, yah langka! Lagi-lagi saya menyarankan Anda untuk mempelajari ilmunya terlebih dahulu.
Namanya belajar, nggak harus dengan saya. Anda boleh belajar dari siapapun, asalkan Anda yakin integritas dan kapasitas orangnya. Alhamdulillah, untuk magang 'Internet Marketing' bareng saya di akhir Juli sudah FULL. Insya Allah akan diadakan lagi di akhir Agustus (sepulang saya seminar di Korea).
Hei, zaman sudah berubah. Cara memasarkan produk dan cara mendapatkan uang juga berubah. Adalah konyol kalau kita tidak mempersiapkan diri. Bukan teknologi yang kejam. Mungkin kita yang tidak mempersiapkan diri. Think. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Weekend, saatnya menambah ilmu dan menambah relasi. Jangan habiskan buat berleha-leha saja.
Gimana cara meningkatkan omset?
Banyak caranya. Salah satunya, menambah varian produk. Sehingga bisa terjadi cross-sell dan upsell. Misal, Anda jualan daster. Tak ada salahnya juga menjual baju anak.
Cara lain? Amati 3 pesaing terkuat, lalu berikan pelayanan berbeda ketimbang mereka. Misal, pesaing tutup toko jam 5 sore. Anda, tutuplah jam 6 sore.
Terus? Ajak ngobrol pelanggan yang loyal. Biasanya jumlah mereka cuma 10-20% tapi bisa menghasilkan omset 80-90%. Masukan dari mereka sangatlah penting.
Terus? Beri hadiah pada pelanggan lama yang berhasil mengajak pelanggan baru. Hadiah tidak harus berbentuk uang. Bisa jadi souvenir atau voucher. Sehingga tetap hemat.
Dan masih banyak lagi. Silakan praktek. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Banyak caranya. Salah satunya, menambah varian produk. Sehingga bisa terjadi cross-sell dan upsell. Misal, Anda jualan daster. Tak ada salahnya juga menjual baju anak.
Cara lain? Amati 3 pesaing terkuat, lalu berikan pelayanan berbeda ketimbang mereka. Misal, pesaing tutup toko jam 5 sore. Anda, tutuplah jam 6 sore.
Terus? Ajak ngobrol pelanggan yang loyal. Biasanya jumlah mereka cuma 10-20% tapi bisa menghasilkan omset 80-90%. Masukan dari mereka sangatlah penting.
Terus? Beri hadiah pada pelanggan lama yang berhasil mengajak pelanggan baru. Hadiah tidak harus berbentuk uang. Bisa jadi souvenir atau voucher. Sehingga tetap hemat.
Dan masih banyak lagi. Silakan praktek. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Siapa yang mencari uang di keluarga Anda? Ayah, ibu, atau dua-duanya?
Entah siapa yang menempelkan stereotype, seolah-olah mencari uang itu urusan ayah dan mengasuh anak itu urusan ibu. Stereotype itu melekat sejak zaman Siti Nurbaya sampai zaman Siti Nurhaliza.
Padahal yang namanya pengasuhan anak atau parenting adalah urusan ayah dan ibu. Ya, dua-duanya. Bahkan kalau bicara tanggung-jawab, itu adalah tanggung-jawab suami (ayah) sebagai imam (pemimpin). Sadar woy!
Penelitian University of Guelph, Kanada, pada tahun 2007 yang bertajuk The Effects of Father Involvement, menunjukkan bahwa anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini, mempunyai kemampuan kognitif lebih prima saat memasuki usia 6 bulan hingga 12 bulan.
Selain itu, mereka juga memiliki IQ yang lebih cemerlang saat menginjak usia 3 tahun dan berkembang menjadi sosok yang mampu memecahkan persoalan dengan lebih bijak. Jelas, ini bukan perkara sepele.
Sentuhan fisik seperti pijat, pelukan, dan berpegangan tangan dapat mengurangi stress dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ini menurut HealthCom. Bukan saja kepada pasangan, ini juga bisa dilakukan kepada anak.
Sekali lagi, pengasuhan anak adalah urusan ayah dan ibu. Bukan salah satunya. Mumpung weekend, mumpung Harganas, tidak ada salahnya kalau hal ini menjadi tumpuan perhatian kita.
Bisnis, penting. Karier, penting. Keluarga? Jauh lebih penting. Jangan sampai salah prioritas. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Entah siapa yang menempelkan stereotype, seolah-olah mencari uang itu urusan ayah dan mengasuh anak itu urusan ibu. Stereotype itu melekat sejak zaman Siti Nurbaya sampai zaman Siti Nurhaliza.
Padahal yang namanya pengasuhan anak atau parenting adalah urusan ayah dan ibu. Ya, dua-duanya. Bahkan kalau bicara tanggung-jawab, itu adalah tanggung-jawab suami (ayah) sebagai imam (pemimpin). Sadar woy!
Penelitian University of Guelph, Kanada, pada tahun 2007 yang bertajuk The Effects of Father Involvement, menunjukkan bahwa anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini, mempunyai kemampuan kognitif lebih prima saat memasuki usia 6 bulan hingga 12 bulan.
Selain itu, mereka juga memiliki IQ yang lebih cemerlang saat menginjak usia 3 tahun dan berkembang menjadi sosok yang mampu memecahkan persoalan dengan lebih bijak. Jelas, ini bukan perkara sepele.
Sentuhan fisik seperti pijat, pelukan, dan berpegangan tangan dapat mengurangi stress dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ini menurut HealthCom. Bukan saja kepada pasangan, ini juga bisa dilakukan kepada anak.
Sekali lagi, pengasuhan anak adalah urusan ayah dan ibu. Bukan salah satunya. Mumpung weekend, mumpung Harganas, tidak ada salahnya kalau hal ini menjadi tumpuan perhatian kita.
Bisnis, penting. Karier, penting. Keluarga? Jauh lebih penting. Jangan sampai salah prioritas. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Selain Telegram, saya rutin berbagi ilmu di WA. Dan sepertinya Anda perlu segera bergabung ke grup WA saya.
Telegram secara bertahap telah diblokir oleh pemerintah. Ya, diblokir. Awal-awal situsnya dulu. Kemudian menyusul yang lainnya.
Setidaknya, itulah yang diberitakan. Maka, silakan save nomor WA saya.
Untuk teman-teman di Jakarta-Jabar-Banten-Sumatera-Kalimantan >> 0812-8777-7388...
Untuk Jateng-Jatim-Bali-NTB-NTT-Sulawesi-Papua-LN >> 0812-8777-8336...
Setelah add, kirim pesan berisi nama dan kota domisili. Nanti akan kami masukkan ke dalam grup. Mesti sabar ya. Ada ribuan yang add.
Kenapa sih nomornya dibedakan? Agar bisa tertampung semuanya.
Memang di grup WA ini, peserta tidak bisa berdialog dan tanya-jawab. Dengan kata lain, hanya satu arah dari saya (Ippho Santosa) dan admin.
Dengan demikian, peserta akan fokus belajarnya alias mendapat ilmu-ilmu terbaru dari saya. Dan biasanya ini merupakan bocoran dari buku saya yang berikutnya.
Happy learning!
Telegram secara bertahap telah diblokir oleh pemerintah. Ya, diblokir. Awal-awal situsnya dulu. Kemudian menyusul yang lainnya.
Setidaknya, itulah yang diberitakan. Maka, silakan save nomor WA saya.
Untuk teman-teman di Jakarta-Jabar-Banten-Sumatera-Kalimantan >> 0812-8777-7388...
Untuk Jateng-Jatim-Bali-NTB-NTT-Sulawesi-Papua-LN >> 0812-8777-8336...
Setelah add, kirim pesan berisi nama dan kota domisili. Nanti akan kami masukkan ke dalam grup. Mesti sabar ya. Ada ribuan yang add.
Kenapa sih nomornya dibedakan? Agar bisa tertampung semuanya.
Memang di grup WA ini, peserta tidak bisa berdialog dan tanya-jawab. Dengan kata lain, hanya satu arah dari saya (Ippho Santosa) dan admin.
Dengan demikian, peserta akan fokus belajarnya alias mendapat ilmu-ilmu terbaru dari saya. Dan biasanya ini merupakan bocoran dari buku saya yang berikutnya.
Happy learning!
"Bisnis apa sih yang bagus?" celetuk mereka.
"Bisnis yang dimulai," sindir saya. Iya tho? Yang penting legal dan halal.
Ada yang buka bisnis fashion dan untung. Ada pula yang buka bisnis yang sama dan rugi. Apakah fashion-nya yang salah? Nggak. Ilmunya yang salah. Manajemennya yang salah. Orangnya yang salah.
Ada yang buka bisnis katering dan berkembang. Ada pula yang buka bisnis yang serupa dan bangkrut. Apakah katering-nya yang salah? Nggak. Ilmunya yang salah. Manajemennya yang salah. Orangnya yang salah.
Begini. Sekiranya Anda punya jatah gagal 5X atau 7X, maka jatah itu harus Anda habiskan. Kalau ditunda-tunda, yah dapat apa? Nggak dapat apa-apa. Mirisnya lagi, begitu Anda menunda, maka mood bisnis pun akan berkurang dan menghilang.
Pesan saya, terutama buat Anda yang muda-muda, segeralah mulai usaha, jangan ditunda-tunda. Lantas, apakah setelah memulai usaha, jaminan sukses itu ada? Kalau jaminan yah nggak ada. Tapi potensinya, sekian persen, ada. Sekarang, pilihan ada di tangan Anda.
Di sini, saya mau membeberkan sejumlah tips sukses. Siap? Pertama, cari produk yang mutunya bagus dan marginnya lumayan (tidak harus produksi sendiri). Kedua, miliki kemampuan menjual baik offline maupun online). Ketiga, miliki mentor yang tepat.
Simple tho? Nggak ribet. Kalau tiga tips tadi Anda terapkan baik-baik, saya yakin hasilnya akan kelihatan dalam 100 hari atau kurang. Ngefek ke income Anda. Tapi kalau sekedar dibaca-baca saja, yah nggak dapat apa-apa, kecuali wawasan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
"Bisnis yang dimulai," sindir saya. Iya tho? Yang penting legal dan halal.
Ada yang buka bisnis fashion dan untung. Ada pula yang buka bisnis yang sama dan rugi. Apakah fashion-nya yang salah? Nggak. Ilmunya yang salah. Manajemennya yang salah. Orangnya yang salah.
Ada yang buka bisnis katering dan berkembang. Ada pula yang buka bisnis yang serupa dan bangkrut. Apakah katering-nya yang salah? Nggak. Ilmunya yang salah. Manajemennya yang salah. Orangnya yang salah.
Begini. Sekiranya Anda punya jatah gagal 5X atau 7X, maka jatah itu harus Anda habiskan. Kalau ditunda-tunda, yah dapat apa? Nggak dapat apa-apa. Mirisnya lagi, begitu Anda menunda, maka mood bisnis pun akan berkurang dan menghilang.
Pesan saya, terutama buat Anda yang muda-muda, segeralah mulai usaha, jangan ditunda-tunda. Lantas, apakah setelah memulai usaha, jaminan sukses itu ada? Kalau jaminan yah nggak ada. Tapi potensinya, sekian persen, ada. Sekarang, pilihan ada di tangan Anda.
Di sini, saya mau membeberkan sejumlah tips sukses. Siap? Pertama, cari produk yang mutunya bagus dan marginnya lumayan (tidak harus produksi sendiri). Kedua, miliki kemampuan menjual baik offline maupun online). Ketiga, miliki mentor yang tepat.
Simple tho? Nggak ribet. Kalau tiga tips tadi Anda terapkan baik-baik, saya yakin hasilnya akan kelihatan dalam 100 hari atau kurang. Ngefek ke income Anda. Tapi kalau sekedar dibaca-baca saja, yah nggak dapat apa-apa, kecuali wawasan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
3 hari, langsung berdampak...
"Alhamdulillah, baru belajar 3 hari, blog saya berhasil masuk halaman 3 Google. Ditambah lagi, blog pribadi saya masuk halaman 1 Google, padahal baru dibuat 6 hari. Ini berkat magang Internet Marketing di kantor Pak Ippho."
"Awalnya saya bukanlah orang yang ngerti internet marketing. Tapi, karena kesungguhan belajar dan bimbingan selama magang, alhamdulillah, ini semua bisa terjadi."
"Bukan itu saja. Saya pun mulai usaha. Bahkan tak sampai seminggu setelah magang, saya menghasilkan uang yang lebih dari biaya magang. Ya, tak sampai seminggu."
Ini adalah pengalaman dan testimoni dari Mas Zakaria. Ia adalah seorang guru biasa, yang kemudian memutuskan ikut magang dan training #InternetMarketing di kantor saya (BSD, dekat Jakarta). Saat ini mungkin Anda mulai tertarik untuk mengikuti jejaknya.
Mau ikut magang dan training 'Internet Marketing' di kantor saya? Bisa. Kapan? Akhir Agustus, selama 8 hari. Tepatnya, jam 08.00-18.00. Biaya normal Rp 8 juta. Promo hanya Rp 3,9 juta (berlaku sampai sore ini saja).
Hampir semua orang tahu, ini sangat murah kalau dibandingkan dengan magang dan training sejenis. Karena Anda sudah memutuskan untuk ikut, transfer saja segera ke BCA 4977-234-777 an Ippho D Santosa. Yang serius, silakan transfer lalu SMS 0812-8777-7100 (SMS, bukan telp).
Hindari menunda-nunda! Saatnya menjemput perubahan!
"Alhamdulillah, baru belajar 3 hari, blog saya berhasil masuk halaman 3 Google. Ditambah lagi, blog pribadi saya masuk halaman 1 Google, padahal baru dibuat 6 hari. Ini berkat magang Internet Marketing di kantor Pak Ippho."
"Awalnya saya bukanlah orang yang ngerti internet marketing. Tapi, karena kesungguhan belajar dan bimbingan selama magang, alhamdulillah, ini semua bisa terjadi."
"Bukan itu saja. Saya pun mulai usaha. Bahkan tak sampai seminggu setelah magang, saya menghasilkan uang yang lebih dari biaya magang. Ya, tak sampai seminggu."
Ini adalah pengalaman dan testimoni dari Mas Zakaria. Ia adalah seorang guru biasa, yang kemudian memutuskan ikut magang dan training #InternetMarketing di kantor saya (BSD, dekat Jakarta). Saat ini mungkin Anda mulai tertarik untuk mengikuti jejaknya.
Mau ikut magang dan training 'Internet Marketing' di kantor saya? Bisa. Kapan? Akhir Agustus, selama 8 hari. Tepatnya, jam 08.00-18.00. Biaya normal Rp 8 juta. Promo hanya Rp 3,9 juta (berlaku sampai sore ini saja).
Hampir semua orang tahu, ini sangat murah kalau dibandingkan dengan magang dan training sejenis. Karena Anda sudah memutuskan untuk ikut, transfer saja segera ke BCA 4977-234-777 an Ippho D Santosa. Yang serius, silakan transfer lalu SMS 0812-8777-7100 (SMS, bukan telp).
Hindari menunda-nunda! Saatnya menjemput perubahan!
Omset sangat ditentukan oleh crowd (keramaian). Mesti ada produk-produk yang mengundang crowd. Mesti ada event berkala yang mengundang crowd. Mesti ada promosi khusus yang mengundang crowd.
Kalau ini benar-benar dilakukan, niscaya akan berdampak langsung ke omset.
Terus? Perbaiki tampilan. Berikan kesan pertama yang memikat, baik itu website, toko, front office, dan sebagainya. Apa-apa yang terlihat, terdengar, dan terhirup, pastikan bagus.
Kesan pertama yang positif akan mengarahkan pada hal-hal positif lainnya. Closing ujung-ujungnya. Sulit berharap konsumen untuk membeli sesuatu jika apa-apa yang ia lihat, dengar, dan hirup tidak nyaman.
Terus? Pilih kata-kata yang menjual. Baik itu kata-kata di terpampang di toko Anda maupun di situs Anda. Berikan penawaran yang hanya bisa diberikan oleh bisnis Anda. Misal, berupa diskon dan bonus. Atau sebaliknya, barang impor dan barang unik.
Jangan sampai, crowd sudah datang, tapi mereka hanya dipertemukan dengan kesan pertama yang hambar dan penawaran yang biasa-biasa saja. Saat mereka pulang, kabar negatif pun segera menyebar.
Terus? Hadirkan customer service yang ramah dan ringan tangan. Jangan rusak mood orang yang berkunjung dengan layanan yang tidak ramah, tidak cekatan, dan penampilan tim yang buruk.
Sekali lagi, kalau ini benar-benar dilakukan, maka akan berdampak langsung ke omset. Silakan praktek. Sungguh-sungguh praktek. Semoga ngefek. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kalau ini benar-benar dilakukan, niscaya akan berdampak langsung ke omset.
Terus? Perbaiki tampilan. Berikan kesan pertama yang memikat, baik itu website, toko, front office, dan sebagainya. Apa-apa yang terlihat, terdengar, dan terhirup, pastikan bagus.
Kesan pertama yang positif akan mengarahkan pada hal-hal positif lainnya. Closing ujung-ujungnya. Sulit berharap konsumen untuk membeli sesuatu jika apa-apa yang ia lihat, dengar, dan hirup tidak nyaman.
Terus? Pilih kata-kata yang menjual. Baik itu kata-kata di terpampang di toko Anda maupun di situs Anda. Berikan penawaran yang hanya bisa diberikan oleh bisnis Anda. Misal, berupa diskon dan bonus. Atau sebaliknya, barang impor dan barang unik.
Jangan sampai, crowd sudah datang, tapi mereka hanya dipertemukan dengan kesan pertama yang hambar dan penawaran yang biasa-biasa saja. Saat mereka pulang, kabar negatif pun segera menyebar.
Terus? Hadirkan customer service yang ramah dan ringan tangan. Jangan rusak mood orang yang berkunjung dengan layanan yang tidak ramah, tidak cekatan, dan penampilan tim yang buruk.
Sekali lagi, kalau ini benar-benar dilakukan, maka akan berdampak langsung ke omset. Silakan praktek. Sungguh-sungguh praktek. Semoga ngefek. Sekian dari saya, Ippho Santosa.