Ippho Santosa - ipphoright
25.2K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Banyak yang menangis ketika mendengar shalawat ini, masya Allah.

Saya pun sampai terharu. Belasan artis yang merupakan sahabat-sahabat saya akhirnya berkenan membawakan shalawat ini. Dengan kesungguhan.

Ketika awal-awal saya ajak mereka terlibat di project ini, tidak semuanya langsung mengiyakan. Ada yang ragu-ragu juga, karena merasa dirinya bukan vokalis.

Yoyo Padi, misalnya. Sebagai drummer, awalnya beliau sempat menolak. Tapi kemudian beliau memantapkan diri dan jadilah ini rekaman shalawat PERTAMA bagi beliau.

Demikian pula aktor-aktor seperti Ricky Perdana, Mario Irwinsyah, Adhin Abdul Hakim (aktor di film Hayya), dan Cupink Topan (aktor di film Wiro Sableng). Sempat bertanya-tanya mulanya.

Selain itu, ada Natta Reza juga, penyanyi muda yang sering viral dan jutaan follower-nya. Pas sekali ketika beliau menimpali Fadly Padi dan Arie Untung di shalawat ini.

Masih banyak lagi yang lain.

Simak deh: https://m.youtube.com/watch?v=raF60WNY-uI
Makhluk Paling Sibuk Saat Ini...

Selain nakes, mungkin ibu-ibu adalah orang paling sibuk saat ini. Ya, paling sibuk. Sebelum pandemi, mereka sudah sibuk. Ketika pandemi, mereka makin sibuk. Kok bisa? Selain ngurusin rumah dan rumahtangga, mereka juga ngurusin anak-anak yang sekarang seharian di rumah. Betul apa betul?

Saya pun salut sama ibu-ibu yang mengelola bisnis dari rumah. Di antara mereka ada yang membuat lauk-pauk, bumbu dapur, atau cemilan. Lalu menjualnya. Ini bukan saja bagus, tapi juga mengagumkan. Soalnya, urusan nafkah sebenarnya BUKAN tanggung-jawab dia, tapi tetap saja dia lakukan demi membantu suami.

Silakan, silakan. Insya Allah itu kegiatan yang sangat positif, ketimbang berbulan-bulan di rumah hanya dipakai untuk menonton drama Korea dan film India, hehehe. Tapi, izinkan saya memberitahu alternatif lain yang insya Allah lebih ringan dan lebih menghasilkan. Boleh?

Misal, kita punya waktu produktif 8 jam sehari. Pilihan pertama, 4 jam dihabiskan untuk membuat atau memproduksi sesuatu, lalu 4 jam berikutnya dihabiskan untuk memasarkan. Pilihan kedua, 8 jam FULL dihabiskan untuk memasarkan saja. Mana yang lebih ringan dan lebih menghasilkan?

Kemungkinan besar adalah pilihan yang kedua. Terus, yang bikin produknya siapa? Kita bisa di-supply oleh vendor luar yang memang punya keahlian, pengalaman, dan kapasitas produksinya sudah berskala besar (otomatis, biayanya rendah tuh). Tugas kita memasarkan saja. Ini akan lebih ringan (nggak sibuk) dan lebih menghasilkan.

Saya tahu, sebagian kita akan merasa puas kalau berhasil membuat produk sendiri, lalu merancang merek sendiri. Seru rasanya. Yah boleh-boleh saja. Pilihan tho? Tapi, coba pikirkan yang barusan saya sampaikan. Memproduksi sendiri, itu akan sangat melelahkan, makan waktu, dan makan biaya. Jujur ya, itu ribet.

Saran saya, bagi teman-teman yang ingin cashflow cepat dan nggak terlalu capek, lebih baik fokus saja di pemasaran. Jangan salah, showroom Toyota, dealer Yamaha, dan toko iPhone juga fokus di pemasaran. Mereka nggak memproduksi dan merakit sama sekali. Tetap keren kok.

Tulisan saya mungkin agak menyinggung perasaan sebagian orang. Tapi insya Allah ada benarnya kok. Think. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga bermanfaat. Sekali lagi, think.
PHK & SOLUSINYA

Imbas dari pandemi, inilah yang terjadi di Tanah Air.

Produsen sepatu Adidas? PHK 2.500 karyawan.

Matahari Departement Store? Menutup seluruh gerainya secara nasional.

Ramayana? Merumahkan seluruh karyawan tokonya.

McDonald's Sarinah Thamrin? Tutup selamanya.

Ya, saat ini gelombang PHK tengah terjadi. Menurut Kementerian Ketenagakerjaan, sekitar 3 juta pekerja telah terdampak. Dari jumlah itu, lebih dari 2 juta pekerja datanya sudah valid bahwa mereka dirumahkan dan PHK. Sedangkan sekitar 1 juta pekerja sisanya masih menjalani validasi data.

Belum lagi karyawan yang gajinya dipotong 50% dan THR-nya ditiadakan. Ini benar-benar terjadi.

Terus, apa respons saya? Mungkin inilah saatnya Anda jadi entrepreneur, jadi pengusaha. Nggak susah kok.

Saran pertama dari saya, cobalah go online. Kedua, temukan produk yang mudah dan murah dikirim secara nasional (nggak harus produksi sendiri). Ketiga, temukan mentor yang teruji dan terbukti. Keempat, temukan prospek dan kumpulkan database. Kelima, mulailah menawarkan.

Apa tujuannya? Ini semua demi mengurangi resiko kegagalan dan mempercepat hasil usaha.

Enam-tujuh tahun terakhir, memulai usaha tidak sesulit yang kita bayangkan. Tidak harus punya toko, ruko, dan baliho. Punya ponsel saja sudah cukup, untuk seorang pemula. Yang penting, mau belajar dan mau diajar. Ini kayaknya sepele, padahal nggak. Karena ini sangat menentukan arah dan perkembangan ke depannya.

Begini. Anda tidak harus bermitra dengan saya. Anda boleh bermitra dengan siapa saja. Asalkan lima langkah di atas diterapkan benar-benar.

Happy action!
14% YANG MENENTUKAN

Rasio jumlah entrepreneur atau pengusaha di Indonesia saat ini baru sekitar 2 sampai 3 persen dari total penduduk. Idealnya, menurut pemerintah dan APINDO, adalah 14 persen agar bisa mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Di kesempatan berbeda disampaikan, syarat untuk menjadi negara maju ialah jumlah entrepreneur harus 14 persen atau lebih. Jelas, perlu diadakan percepatan dan kemudahan, agar pelaku bisnis di Tanah Air bisa meningkat kuantitas dan kualitasnya.

Menurut Global Entrepreneurship Index 2018, empat negara dengan posisi teratas adalah Amerika (US), Swiss, Kanada, dan Inggris (UK). Indonesia? Di posisi 94, bahkan masih kalah dengan Rwanda dan Ghana.

Bagaimana dengan tahun 2019? Lima teratas adalah US, Swiss, Kanada, Denmark, dan UK. Indonesia? Alhamdulillah membaik, di posisi 75, walaupun masih kalah dengan Vietnam dan Maroko. Suka atau tidak, itulah kenyataannya.

Tahun 2020? Berbeda dengan pesimisme yang ditunjukkan oleh mayoritas ekonom, saya justru menduga akan terjadi ledakan entrepreneurship di Indonesia pada tahun ini. Gelombang PHK memang menghempas sebagian orang jadi pengangguran. Tapi sebagian lagi insya Allah jadi entrepreneur.

Saran saya, “Sebisanya jangan lagi jadi job seeker, tapi jadilah job creator.” Bukan lagi mencari lapangan kerja, tapi membuka lapangan kerja. Saat ini, itulah yang sangat mulia dan sangat dibutuhkan. Serius!

“Nggak punya modal!” itu alasan klasik mereka. Padahal mungkin tidak sampai seperti itu juga. Maaf, untuk jualan pakai gerobak di pinggir jalan saja, modalnya bisa Rp 3 juta sampai Rp 5 juta. Orang-orang pada bisa kok.

Apa iya uang Rp 1 juta Anda benar-benar nggak punya? Hati-hati kalau bicara, jadi doa tuh. Saran saya, berhentilah beralasan.

Yang saya yakini, saat Anda jadi entrepreneur atau pengusaha, maka Anda jadi solusi bagi diri Anda, keluarga Anda, juga bangsa Anda.

Pada akhirnya, jadilah entrepreneur!
Bolehkah wanita berbisnis? Apa saja syaratnya?
Apa saja kelebihan dan kekurangan woman-preneur?
Apa saja tantangan dan peluang bagi woman-preneur?
Bagaimana bisnis tetap bertumbuh dengan WFH?
Bagaimana kalau orangtua dan suami tidak mendukung?

Temukan jawabannya di zoom seminar ini!

Pembicara:
- Ippho Santosa, Penulis 7 Keajaiban Rezeki
- Ratu Anandita, Mom-Preneur & Aktivis Dakwah

Walaupun jarang dipublikasikan, seminar ini sudah berkali-kali kami adakan dan selalu FULL. Judulnya ‘Ketika Wanita Berbisnis’.

Biasanya peserta membayar HTM sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu. Kali ini, kami gratiskan. Ya, kami gratiskan.

Ini Ramadhan. Dan lagi pandemi. Kami ingin berkontribusi lebih banyak dan lebih sering. Karena itulah kami gratiskan.

Yang minat, WA 0811-1360-177. Seat hampir habis.

Di seminar ini sama sekali TIDAK ADA penawaran buku, seminar lanjutan, training lanjutan, atau peluang usaha. Sama sekali tidak ada.

Daftar sekarang!
Awal Maret 2020, ketika pemerintah mengumumkan dua orang positif terinfeksi virus Corona, satu Indonesia langsung geger. Padahal saat itu angkanya cuma dua orang. Sekarang? Belasan ribu orang! Anehnya, kebanyakan kita sekarang merasa tenang-tenang saja. Sepertinya itu dianggap wajar-wajar saja.

Dalam konteks berbeda, sebenarnya ini juga terjadi dalam bully dan caci-maki. Ketika Anda pertama kali di-bully, Anda mungkin merasa drop dan down. Sedih, kecewa, atau marah. Tapi, saat Anda sudah mengalami ribuan kali bully dan caci-maki, Anda akan lebih mampu dalam mengendalikan emosi. Nggak reaktif.

Demikian pula dalam bisnis. Ketika Anda pertama kali mengalami kegagalan, kemungkinan Anda merasa drop dan down. Tapi, saat Anda sudah menghadapi kegagalan, penolakan, bahkan kebangkrutan berkali-kali, Anda cenderung lebih mampu dalam mengendalikan perasaan dan tindakan. Nggak reaktif.

Begitulah. Seiring berjalannya waktu, manusia memang dirancang untuk mampu mengendalikan diri dan beradaptasi. Salah satu mitra saya, ketika pertama kali mengalami penolakan, kepalanya langsung keliyengan dan tensinya langsung naik. Tapi, itu dulu. Sekarang? Alhamdulillah dia merasa lebih tenang. Santai.

Prediksi saya, setelah Lebaran, akan lebih banyak pengusaha yang terbiasa dengan pandemi. Mereka akan kembali menjalankan roda usahanya seperti semula walaupun dengan berbagai penyesuaian. Bahkan karyawan pun akan diminta untuk WFO, nggak WFH lagi. Toh kehidupan tetap berjalan.

Mungkin ini yang dimaksud Presiden Jokowi ‘berdamai dengan Corona’.

Begini. Menurut saya, nggak mungkin kita berdiam diri selama berbulan-bulan, hanya menunggu rilisnya obat atau vaksin Corona. Mustahil. Bersama-sama kita harus mencari cara untuk tetap aktif dan produktif, tanpa mengabaikan faktor kesehatan dan keselamatan. Betul apa betul?

Saya dan mitra-mitra saya nggak terlalu masalah dengan WFH, karena sejak dulu yah kami sudah begitu. Tapi, tidak semua orang seperti kami. Sebagian besar orang memang perlu keluar rumah untuk mendapatkan nafkah, meluaskan manfaat, dan menyalurkan potensi. Sekali lagi, kehidupan tetap berjalan.

Benarkah prediksi saya? Hm, kita lihat saja setelah Lebaran.
MORAL in MARKETING

Orang-orang sampai kaget ketika saya mengeluarkan statement resmi, "KURANGI KONSUMSI SUPLEMEN." Tentu saja kita perlu suplemen, terutama bagi orang-orang yang pola makannya belum sehat dan masih sering bepergian. Tapi, jangan juga konsumsi suplemennya berlebihan.

Jujur, omset suplemen saya meningkat di Maret dan April yang lalu (Mei juga). Alhamdulillah. Saya pun berusaha meng-evaluasi. Ternyata tidak sedikit konsumen yang meng-konsumsi suplemen saya 3X sehari, bahkan lebih. Yang 5X juga ada...

Yes, Corona Effect. Mungkin karena takut, panik, bingung, atau untuk jaga-jaga. Ada juga karena tidak tahu. Terus-terang di Maret saya juga begitu. Meng-konsumsi 3X sehari. Untuk jaga-jaga...

Dengan ini, izinkan saya mengabarkan sesuatu apa adanya. KALAU teman-teman 100% #DiRumahAja dan tidak sakit, cukup konsumsi #BritishPropolis 1X sehari. Ya, 1X sehari. Kalau sering keluar, kalau lagi sakit, boleh konsumsi 2X sehari. Cukup...

Serius, saya TIDAK INGIN orang-orang meng-konsumsi berlebihan, entah itu suplemen saya atau suplemen manapun, karena faktor takut (fear). Walaupun itu 100% aman, tidak ada efek samping, dan sudah dijamin oleh BPOM...

Bagi saya, bisnis BUKAN semata-mata soal omset dan profit. Ada nilai-nilai yang lebih besar daripada itu. Moral salah satunya. Saya yakin teman-teman sesama entrepreneur juga setuju dengan saya...

"Mas Ippho nggak kuatir omsetnya berkurang?" Ada yang nanya begitu. Saya cuma senyum...

Blak-blakan saja, saya tetap ingin omset saya meningkat. Ya, meningkat. Manusiawi tho? Tapi BUKAN karena faktor takut, melainkan karena semakin banyaknya orang-orang yang melek kesehatan dan pelan-pelan meng-konsumsi suplemen...

Kata guru saya, "Ketika satu pintu tertutup, percayalah, pintu-pintu lain terbuka... Uang mungkin terbatas, tapi #rezeki itu luas dan rahmat-Nya tanpa batas... Terus, buat apa kita cemas dan waswas?"

Kalau burung dan lebah saja dijamin rezekinya, apalagi kita. Padahal burung dan lebah tidak pernah sekolah, tidak pernah seminar, tidak bisa Instagram, tidak bisa Zoom. Yakinlah. Rezeki itu luas. Rahmat-Nya tanpa batas. Teman-teman yakin?

Ingat, yakin itu mempengaruhi 50% hasil...
Happy Ending

Kali ini kita membahas soal Itqan. Tepatnya, berusaha mempersembahkan hasil yang terbaik. Coba Anda cermati dan amati nama-nama Allah. Semuanya serba superior. Semuanya serba ultimate. Iya kan? Sebut saja, Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha Mengetahui, dan lain-lain.

Tidak ada yang biasa-biasa saja atau sedang-sedang saja. Maka sudah sepantasnya, manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya dan makhluk pilihan-Nya juga berusaha untuk mempersembahkan hasil yang terbaik. BUKAN biasa-biasa saja, BUKAN sedang-sedang saja.

Ingatlah, itqan itu melampaui TQM alias Total Quality Management. Itqan itu bekerja dengan teliti, hati-hati, sepenuh hati, bermutu tinggi, dan sulit disaingi. Itulah itqan. Hm, mungkin ada baiknya paragraf ini Anda baca ulang. Biar lebih meresap.

Semua orang maklum, akhir hidup hendaknya khusnul khotimah. Right? Demikian pula dengan akhir pekerjaan sehari-sehari, hendaknya juga khusnul khotimah. Happy ending. Dengan kata lain, apa-apa yang sudah dimulai, pastikan selesai. Se-le-sai.

Mirip-mirip ibadah umrah. Ini kan ‘cuma’ ibadah sunnah, bukan ibadah wajib. Menariknya, kalau sudah dimulai, yah harus selesai. Kalau tidak selesai, yah kena denda (dam). Sekali lagi, mari kita persembahkan hasil yang terbaik. Entah kita sebagai karyawan, pengusaha, mahasiswa, ibu rumah tangga, atau siapa saja.

Bagaimana? Siap? Ayolah, nggak perlu ragu-ragu, jawablah seruan saya, “Siap!”
PHK 7 Juta

Bukan hal yang mengejutkan lagi, sebagian karyawan mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan dirumahkan tanpa tanggungan akibat pandemi ini. Berapa jumlahnya? Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat, ada 7 juta karyawan.

Data ini jauh lebih besar ketimbang data yang dirilis oleh pemerintah.

"Yang dirumahkan atau dicutikan di luar tanggungan perusahaan (unpaid leave), itu kondisinya mayoritas. Tapi kalau yang di-PHK, jumlahnya relatif lebih kecil," ungkap Ketua Umum (Apindo) Hariyadi Sukamdani kepada CNBC Indonesia, Mei 2020.

Ingat. Ini baru di bulan April dan Mei, keadaannya sudah seperti itu. Ke depan, bukan mustahil angkanya melonjak dengan sangat signifikan. Ada juga karyawan yang mengalami pemotongan gaji 50% hingga 60% dan ini relatif sulit untuk terdata.

Lantas, apa solusi dari saya? Selain berhemat, saran saya berikutnya adalah melakukan check-up finansial. Hitung tabungan Anda. Periksa aset-aset Anda, baik yang aset likuid maupun aset tak bergerak.

Lalu tentukan aset mana yang harus direlakan lebih dahulu kalau-kalau dibutuhkan. Tolong diingat, aset-aset yang ‘berkualitas’ hendaknya tetap dipertahankan sebisa-bisanya.

Bagaimana dengan mencari pekerjaan tambahan atau pekerjaan pengganti? Silakan saja. Ini bagian dari ikhtiar. Tapi saya lebih menyarankan Anda untuk memulai usaha yang bisa dilakukan dari rumah dan ditawarkan secara online. Yah, ada banyak yang bisa Anda jual. Misal, bumbu dapur, katering, snack, kue, minuman, atau sejenisnya.

Cari yang tahan lama. Boleh dibikin kering atau dibekukan.

Saya pribadi lebih menyarankan pemula untuk TIDAK memproduksi. Lebih baik habiskan 100% waktu produktif Anda untuk menawarkan dan memasarkan. Percayalah, ini akan lebih ringan dan lebih menghasilkan. Biarkan pengusaha lebih berpengalaman yang memproduksi barangnya untuk Anda.

Menjual suplemen adalah sesuatu yang sangat saya anjurkan. Selain menyehatkan dan sangat diperlukan saat ini, suplemen juga hemat space, hemat ongkir, dan tahan lama. Begitu habis dalam 3 atau 4 minggu, konsumen akan repeat order lagi.

Selanjutnya, hindari utang konsumtif. Kalaupun terpaksa berutang, pastikan Anda mampu membayarnya. Kita sama-sama tahu, porsi utang yang sehat adalah 30% dari penghasilan. Misal, penghasilan Anda Rp 6 juta, maka utang Anda tidak boleh lebih dari Rp 2 juta.

Maaf, ke depan keadaan ekonomi kita bisa begini-begini saja atau lebih buruk. Maka, persiapkan diri kita. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Jadilah seperti air, kata Bruce Lee. Maksudnya, luwes dan mau beradaptasi. Yang menarik, inilah salah satu ciri otak kanan, yaitu luwes dan mau beradaptasi...

REZEKI bukan berada di kantor. REZEKI bukan berada di toko. Rezeki bisa DATANG dari mana saja. Yang penting, kita mau beradaptasi, mau menyesuaikan diri...

Bisnis online, bisa. Bisnis rumahan, bisa. Jadi distributor, bisa. Jadi agent, bisa. Macam-macam. Nggak harus keluar rumah. Nggak harus ke toko...

#DiRumahAja tapi tetap produktif. WFH tapi tetap menghasilkan. Ini bukan wacana, bukan rencana. Sudah banyak yang membuktikan ini. Bisa kok...

Dan sepertinya, pandemi ini belum berakhir dalam waktu singkat. Lebih baik kita BERADAPTASI, baik dalam kegiatan sehari-hari maupun dalam mencari nafkah...

Kenapa dinosaurus bisa punah padahal sangat besar dan sangat kuat? Mayoritas penelitian menunjukkan bahwa dinosaurus enggan beradaptasi...

Kita? Insya Allah beda. Mau beradaptasi. Siap?
Jepang relatif berhasil mengatasi pandemi, setidaknya membuatnya terkendali.

Status darurat Corona telah dicabut!

Apa sih rahasianya? Ternyata 3C dan tradisi. Setidaknya, itu yang mencolok dan terpantau oleh media.

Begini. Kita membahas ini yah agar jadi bahan pembelajaran dan solusi. Buat bangsa kita, setidaknya buat keluarga kita. Simak ya.

Hindari "3 C" yaitu:
- closed space atau ruang tertutup
- crowded place atau tempat ramai
- close contact atau kontak dekat

Gimana dengan tradisi? Mereka mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang higienis dan sistem kesehatan yang amat kondusif.

Di antaranya, kebiasaan melepas sepatu kala masuk ruangan tertentu dan menunduk alih-alih berjabat tangan. Secara umum, ini lebih sehat.

Kalau masker? Mereka sudah terbiasa dengan masker sejak lama. Saya pribadi sudah 6 kali ke Jepang. Saya melihat, sebagian masyarakatnya memang terbiasa dengan itu ketika berada di simpul-simpul keramaian.

Kita juga dapat melihat fenomena itu di komik dan film mereka. Orang-orang yang bermasker, bukan sesuatu yang asing.

Selain itu, pemerintah juga konsisten dengan aturan-aturannya dan masyarakat pun patuh terhadap pemerintahnya. Jadi, sinkron satu sama lain.

Ada baiknya hal-hal ini kita terapkan sebisa kita. Ya, sebisa kita. Pada akhirnya, semoga pandemi segera berlalu dan keadaan pulih seperti sebelumnya. Aamiin.
MOBIL IMPIAN

Benarkah sebagian mitra-mitra saya berhasil beli mobil? Apa saja yang mereka lakukan sehingga akhirnya bisa beli mobil? Izinkan saya menyampaikan semua apa adanya.

Begini. Mereka sebenarnya orang biasa. Sama seperti saya, orang biasa. Boleh dibilang belum terlalu lama kami bermitra. Yang jelas, kami saling mendukung satu sama lain. Berjuang bersama. Bertumbuh bersama. Bahkan travelling bersama.

Sekian lama bermitra, saya pribadi BELUM ADA nambah mobil atau ganti mobil. Tapi nggak masalah. Mitra-mitra? Malah beli. Demi Allah saya senang dan bangga sekali melihat mitra-mitra punya mobil baru. Ya, mobil baru. Saya pun terharu.

Kalau teman-teman kepo, siapa saja mereka, silakan lihat IG saya. Terpajang foto-foto mereka. Bukan hoax. Nyata, insya Allah.

Alhamdulillah, mereka berhasil membeli mobil pertama mereka (rata-rata, ini mobil pertama mereka). Hm, apa sih tips-tips-nya? Sebenarnya, nggak ada tips yang terlalu istimewa. Saya yakin siapapun bisa menduplikasi dan mengikuti.

Selain didukung faktor produk dan faktor mentor, mereka juga teachable dan berusaha keras mewujudkan impian orang-orang di sekitar mereka. Nggak egois, nggak selfish. Walhasil impian mereka malah dimudahkan. Tercapai.

Menurut saya, sikap mereka ini sangat mulia. Berorientasi pada kepentingan orang lain. Nggak heran Allah menghadirkan impian-impian mereka satu per satu. Alhamdulillah. Kami pun bersyukur. Benar-benar bersyukur.

Kita doakan ya, semoga kendaraan-kendaraan yang Allah titipkan ke kita bisa digunakan untuk berbagai kebaikan di jalan-Nya. Aamiin. Yang belum punya, semoga segera punya. Motor, punya. Mobil, juga punya. Aamiin.

Saran, kalau teman-teman lagi mencari peluang usaha (BO) atau kemitraan bisnis, pilih BO yang memprioritaskan kepentingan mitra-mitranya. Jangan sampai sudah sekian tahun bisnisnya berjalan, yang makmur cuma founder. Mitra-mitra cuma dapat remah-remah.

Saat ini, teliti sebelum membeli, insya Allah adalah sikap yang tepat dan bagian dari hati-hati.
BADAI PASTI BERLALU, CICILAN BELUM TENTU

Badai pandemi insya Allah pasti berlalu. Tapi kita belum tahu kapan berlalunya.

Jujur, menurut saya, sepertinya badai belum segera berlalu di negeri ini. Daripada menyalah-nyalahkan pemerintah dan menyesali keadaan, lebih baik beradaptasi. Ya, menyesuaikan diri. Termasuk dalam mencari nafkah dan membayar cicilan.

Saran saya, jadilah pembelajar.
- Business for beginner, pelajari.
- Online marketing, pelajari.
- WA marketing, pelajari.
- Database management, pelajari.
- Jangan lagi ngomong ‘nggak ngerti'.
- Kalau nggak ngerti, yah pelajari.
- Ya, beradaptasi.

Sudah banyak kok, yang membuktikan dan menghasilkan. Misalnya, mitra-mitra binaan saya. Modalnya nggak seberapa, tapi hasilnya bisa lumayan. Kalau orang lain bisa, insya Allah kita semua juga PASTI BISA.

Satu lagi. Produk nggak harus bikin sendiri (biar hemat dan cepat). Ingat, bisnis BUKAN dimulai dari produksi dan SDM. Tapi dari penawaran. Saya ulang, dari penawaran. Dan dalam menawarkan, harus optimis. Insya Allah pasti laris.

Sampai di sini kata kuncinya adalah beradaptasi.

Masih ingat soal Nokia? Hm, dia raja di zamannya. Saat itu, siapa yang nggak pake Nokia? Hampir semua orang pake. Sekarang? Yang jelas, Nokia BUKAN lagi pemain utama di industri smartphone. Kok bisa? Menurut para pakar, Nokia lambat beradaptasi.

Hal lain. Komodo adalah hewan purba. Ya, hewan purba. Saya dan ibu saya sempat melihatnya langsung di Pulau Komodo NTT beberapa tahun yang lalu. Bahkan kami sempat bermalam di Pulau Komodo. Kenapa komodo bisa bertahan sampai sekarang? Padahal sebagai hewan purba, dia nggak terlalu besar dan nggak terlalu kuat. Soalnya komodo cepat beradaptasi.

Hei, zaman sudah berubah. Cara nyari uang juga berubah. Apalagi sejak Corona mewabah. Ada baiknya kita beradaptasi. Maksudnya, cepat beradaptasi. Kalau nggak, bisnis kita yah punah alias mati. Selagi ada waktu, cobalah beradaptasi dan menyesuaikan diri.

Jangan lagi ngomong gaptek. Maaf, yang ngomong gaptek sebenarnya ingin menjelaskan 'saya malas berubah'. Kabar baiknya, saat kita memutuskan mau belajar dan mau berubah, maka kemungkinan besar keadaan akan LEBIH BAIK dari yang sudah-sudah.

Teman-teman siap beradaptasi?
RUMAH IMPIAN

SUDAH PUNYA RUMAH? Kalau sudah, abaikan artikel ini. Tapi kalau belum, berarti artikel ini buat Anda. Simak deh tips-tips berikut ini.

Pengalaman saya ketika pertama kali beli rumah, rasanya menyenangkan. Tapi TERNYATA ada yang lebih menyenangkan dan mengharukan. Apa itu? Saat melihat mitra-mitra akhirnya berhasil beli rumah atau bangun rumah, masya Allah.

Ada juga yang KPR-nya 10 tahun lebih, BISA LUNAS dalam 7 bulan. Beneran lunas, alhamdulillah. Saya sampai geleng-geleng kepala. Apa sih tips-tips-nya? Izinkan saya berbagi cerita. Sebenarnya, mereka ini petarung. Mereka ini pembelajar.

Maksudnya, selain gigih, mereka juga mau diajar (teachable). Diminta berumrah dulu, mau. Diminta berbakti dulu, mau. Diminta fokus, mau. Diminta nyetok, mau. Diminta nulis, mau. Nggak banyak nanya, apalagi sampai bantah-bantahan.

Cukupkah sampai di situ? Nggak juga. Ikut pembinaan di luar kota (sebelum pandemi), mau. Ikut pembinaan via Zoom (ketika pandemi), mau. Pokoknya macam-macam, mau semua. Teachable. Akhirnya alhamdulillah, lumayan hasilnya.

Saat merintis bisnis, yang benar-benar kita perlukan adalah WHO (orang yang tepat), bukan lagi WHAT atau HOW. Hei, ketika kita bertemu dengan orang yang tepat alias mentor, maka cara-cara akan kita ketahui dengan sendirinya.

Kalau teman-teman penasaran, siapa saja mereka, silakan lihat IG saya. Terpajang foto-foto mereka. Bukan hoax. Nyata, insya Allah.

Saya doakan ya, bagi teman-teman yang BELUM punya rumah, semoga segera punya rumah. Yang SUDAH punya rumah, semoga segera nambah rumah. Dan tetap sakinah. Aamiin. Saling mendoakan, nggak ada ruginya tho?

Terakhir, saya ingin menyarankan sesuatu, boleh? Sekiranya teman-teman lagi mencari peluang usaha (BO), pilih BO yang memprioritaskan kepentingan mitra-mitranya. Jangan sampai sudah sekian tahun berjalan, yang kaya cuma founder, yang punya rumah cuma founder. Mitra-mitra cuma dapat sisa-sisa.

Think!
TUJUH PERAN SUAMI YANG SERING TERLUPAKAN

Setiap suami harus baca tulisan ini!

Jujur, hati saya sering panas saat mendengar kabar bagaimana seorang suami lalai soal tanggung-jawabnya terhadap istri. Kurang menafkahi. Kurangi melindungi. Bahkan ada juga yang nggak menafkahi dan main tangan ke istri. Duh!

Ingat. Suami itu pemimpin, panafkah, pelindung, penanggung-jawab, pendidik, teladan, dan kebanggaan. Nggak mudah jadi suami. Ada tujuh perannya. Di akhirat nanti, yang pertama ditanya dan yang bertanggung-jawab adalah suami.

JIKA peran sebagai pemimpin, panafkah, pelindung, penanggung-jawab, pendidik, teladan, dan kebanggaan ini tidak dilaksanakan, jangan heran kalau anak dan istri akan berkurang rasa hormatnya. Bahkan berkurang juga ketaatannya. Pas hisab nanti, bermasalah. Berat!

Husband is Hero (H = H).

Father is Fighter (F = F).

Begini. Dalam penafkahan, bukan jumlah uang yang utama, TAPI kesungguhan suami dalam menafkahi dan melindungi. Sekali lagi, kesungguhan. Bantu share tulisan ini ya. Maaf, zaman sekarang banyak suami yang kurang sungguh-sungguh dalam mencari nafkah.

Padahal penafkahan 100% berada di pundak suami. Ya, tanggung-jawab suami.,Termasuk juga soal melindungi, itu juga tanggung-jawab suami. Hei, harus ada rasa MALU! Tunjukkan tanggung-jawabmu!
New Normal Vs New Tactics

Sebanyak 1.785 koperasi dan 163.713 UMKM terdampak karena pandemi ini, ungkap Menteri Teten Masduki. Ini nggak main-main. Menurut data statistik, penyerapan tenaga kerja di UMKM adalah 97%, sementara share UMKM terhadap PDB nasional sebesar 60%.

Tapi apakah semuanya turun? Nggak juga.

Penjualan barang elektronik malah meningkat. Yang lain? Produk kesehatan meningkat 90%, produk hobi 70%, makanan pokok 350% dan herbal 200%. "Pergerakan ekonomi dari rumah bisa menjadi trend baru untuk beberapa waktu ke depan," ucap Menteri Teten Masduki.

Ya, sudah saatnya kita beradaptasi. Virus boleh bermutasi, tapi manusia bisa beradaptasi.

Ketika istilah New Normal muncul di mana-mana, saya pribadi lebih sreg menggaungkan istilah-istilah berikut ini:
- New Tactics
- New Business
- New Customer

Apakah kita perlu memakai taktik dan strategi baru tanpa mengubah bisnis asal? Misalnya, tetap di kuliner tapi hanya delivery dan take away.

Apakah kita perlu mencoba bisnis baru dan produk baru, karena bisnis asal benar-benar terdampak? Misalnya, pariwisata.

Apakah kita perlu mencari prospek baru dan konsumen baru, karena segmen asal benar-benar terdampak? Misalnya, hotel menerima jasa karantina.

Think.

Terakhir, untuk pemula, saya selalu menyarankan, “Jangan dulu produksi. Itu menyita waktu dan biaya.” Pilih produk yang kecil (hemat space), ringan (hemat ongkir), dan tahan lama, sehingga bisa di-delivery se-Indonesia. Terus? Sebisanya ada mentor teruji yang mendampingi untuk mengurangi risiko kegagalan.

Insya Allah kita akan melalui masa-masa sulit ini bersama-sama. Modal dasarnya adalah mau beradaptasi. Sekali lagi, beradaptasi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
SALING DUKUNG

Anda punya anak atau keponakan yang masih kecil? Ketika ia menggambar dan tidak bagus, apakah kemudian Anda mengolok-ngoloknya? Ngetawain? Nggak tho? Sebaliknya, Anda malah tersenyum dan memujinya. Sekalipun Anda memberi koreksi ini-itu, yah tetap saja Anda memujinya. Kenapa?

Karena Anda tahu persis, potensi seorang anak hanya bisa tumbuh jika ia punya self-esteem, dan itu bisa mencuat kalau ia dihargai. Demikian pula dengan negeri ini. Walaupun ada ketidaksempurnaan di sana-sini, Indonesia memiliki keunggulan-keunggulan yang sebenarnya bisa membuat dunia tercengang dan iri.

Orang Indonesia itu ramah-ramah. Biasa hidup prihatin. Suka gotong-royong. Dan masih banyak lagi. Belum lagi soal alam dan SDA-nya. Dengan keunggulan-keunggulan sedemikian rupa, menurut saya, Indonesia yang berdaya dan unggul sangat mungkin untuk terjadi.

So, sekiranya ada teman kita yang belum bagus produknya, jangan dicecar. Berikan input dengan japri. Diam-diam. Bukan dengan posting terang-terangan.

Sekiranya ada kenalan kita yang salah-salah strateginya, jangan dikecam. Berikan input dengan meneleponnya langsung. Bukan dengan menyindirnya di socmed.

Pada akhirnya, kalau saja kita mau saling mendukung, saya yakin UMKM di negeri ini akan tambah besar dan tambah kuat. Insya Allah Indonesia pun tambah berdaya. Aamiin.
Anda suka drakor?

Anda suka BTS?

Suka Gangnam Style?

Setidaknya, tau kan?

Dulu, kita nggak tertinggal jauh dari Korea Selatan. Namun kini dengan dance, band, dan dramanya, mereka benar-benar meninggalkan kita jauh-jauh. Belum lagi Samsung, LG, dan Hyundai-nya. Mereka mendunia. Adu kuat dengan iPhone, menampar telak produk-produk Jepang.

Kenapa ini bisa terjadi? Yah, banyak faktornya. Salah satunya, mereka baik rakyatnya maupun pemerintahnya sangat menghargai (apresiasi) prestasi-prestasi yang muncul dari dalam negeri. Tentu saja, ini memicu dan memacu prestasi-prestasi yang berikutnya.

Yang Maha Kuasa saja menghargai dan memuji hamba-Nya yang beramal baik. Pun mengganjar ini-itu. Apa tujuannya? Salah satunya, agar kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Sekali lagi, berlomba-lomba dalam kebaikan.

Saya percaya, setiap manusia yang lahir dititipi potensi yang WOW dan memukau. Adalah tugas kita untuk menemukan dan menajamkan potensi tersebut. Menariknya, saya kita berusaha menghargai dan memuji potensi seseorang, maka potensi orang itu akan semakin tajam dan semakin kuat.

Di Indonesia, yang kita butuhkan saat ini adalah apresiasi. Jujur, saya sedikit risau melihat celetukan-celetukan negatif dari kalangan netizen. Kalau entrepreneur, penulis, atau artis pemula mulai berkarya, bukannya diberi dukungan, eh malah dicari-cari kesalahannya. Bahkan dimaki-maki.

Menurut saya, kita hanya bisa menaklukkan pandemi ini dan hadir sebagai bangsa pemenang, kalau kita semua kompak dan tidak pelit dalam memberi apresiasi satu sama lain. Di mana-mana, ketika terjadi musibah, masyarakat cenderung untuk bersatu. Kita kok belum juga?

Tentu, tidak mudah kalau saya menyeru se-Indonesia. Yah sudah, saya mulai saja dari lingkungan dan lingkaran saya. Di bisnis saya, terdapat beberapa komunitas. Soal saling memberi apresiasi ini saya sampaikan kepada mereka dan alhamdulillah mereka menerapkan jauh lebih baik dari apa-apa yang pernah saya serukan.

Yang saya lihat, akhirnya mereka semua grow. Benar-benar grow. Saya harap, teman-teman juga melakukan itu pada orang-orang di sekitarnya. Ada tetangga buka usaha, beri apresiasi. Ada teman kuliah coba-coba menulis, beri apresiasi. Insya Allah semua kebaikan kita tebar PASTI berbalas.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Pada akhirnya, semoga berkah berlimpah!