Ippho Santosa - ipphoright
26.3K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Kebayang... sebuah bisnis yang menguntungkan dan penuh bimbingan?

Kebayang... punya seorang mentor bisnis yang fokus dan total?

Yuk bermitra dengan saya (Ippho Santosa). Peluang usaha kali ini banyak kelebihannya. Sebelum teman-teman memutuskan untuk join, ada baiknya teman-teman tahu dulu apa saja kelebihannya...

Ini dia kelebihannya:
- Modal kecil,
- Margin besar,
- Balik modal cepat,
- Repeat order tinggi,
- Ongkir sangat murah,
- Standar internasional,
- Ratusan mitra terbukti sukses.

Insya Allah dibimbing oleh mentor yang fokus dan total (saya dan tim).

Btw, peluang usaha ini hanya dibuka sampai Jumat. Ya, sampai Jumat.

Minat? Tertarik? WA 0812-8777-7100. Sekarang, boleh. Sore nanti juga boleh.

Bismillah. Semoga kita bisa segera bermitra ya.
Punya bisnis?
Punya mentor?
Mentornya fokus?

BAYANGKAN sebentar lagi Anda memiliki sebuah bisnis yang menguntungkan dan sarat bimbingan.

BAYANGKAN sebentar lagi Anda dibimbing oleh seorang mentor bisnis yang fokus dan total.

Yuk bermitra bareng saya (Ippho Santosa). Kemitraan kali ini banyak kelebihannya. Sebelum teman-teman memutuskan untuk join, ada baiknya teman-teman tahu dulu apa saja kelebihannya...

Ini dia kelebihannya:
- Modal kecil,
- Margin besar,
- Balik modal cepat,
- Repeat order tinggi,
- Ongkir sangat murah,
- Standar internasional,
- Ratusan mitra terbukti sukses.

Insya Allah dibimbing oleh mentor yang fokus dan total (saya dan tim).

Btw, peluang usaha ini hanya dibuka sampai Jumat. Ya, sampai Jumat.

Minat? Tertarik? WA 0812-8777-7100. Sekarang, boleh. Siang nanti juga boleh.

Semoga kita bisa segera bermitra ya.
*TERAKHIR*

Hari ini dan besok (Kamis-Jumat) adalah kesempatan terakhir untuk bermitra dengan Ippho Santosa. Yang minat, WA 0812-8777-7100 ya.
HARTA

Siapa yang lebih kaya?
Batman atau Iron Man?

Harta dan kekayaan selalu menjadi pusat perhatian. Bahkan paling menarik perhatian. The most! Tapiiiii, sebenarnya inti dari kehidupan ini bukanlah pada kekayaan. Melainkan pada kebermanfaatan dan rasa syukur.

Sering saya sampaikan di mana-mana, "Kekayaanmu mungkin membuat orang lain terkesan. Akan tetapi, hanya manfaatmu dan akhlakmu yang membuat orang lain turut mendoakanmu."

Kalau belum KAYA, gimana? Nggak masalah. Fokus saja pada manfaatmu dan akhlakmu. Sampai di sini, saya harap Anda setuju. Menebar manfaat dan memperbaiki akhlak, itulah amalan yang ditunggu-tunggu malaikat untuk dicatat.

Ingat, menjadi kaya perlu proses. Tapi, menjadi insan yang bermanfaat, tak perlu proses. Semua orang bisa melakukannya. Sekarang. Seketika. Sip? Sekiranya belum bisa besar, mulai saja dari hal kecil di sekitar kita. Terhadap keluarga. Terhadap mitra. Terhadap prospek. Insya Allah pasti bisa. Insya Allah pasti joss!

Ya, nggak harus sekaya Batman, Iron Man, atau Black Panther. Kita luaskan saja manfaat sebisa kita. Insya Allah pelan-pelan kita akan dikayakan. Lagi-lagi saya berharap Anda setuju dan yakin.

Ali bin Husein pernah berpesan, "Orang yang terkaya adalah orang yang menerima pembagian dari Allah dengan rasa senang (syukur)." Pesan ini memotivasi kita untuk selalu bersyukur. Kapanpun, di manapun. Sampai ke level quantum.

Pada akhirnya, semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa. 😎
ENJOY

Seminggu ini saya berada di Jepang, alhamdulillah. Dan ini kali ke-6 saya berada di Jepang. Bedanya, kali ini saya ditraktir oleh salah satu mitra saya di BP. Senang rasanya, masya Allah.

Terhadap mitra-mitra, sering saya sampaikan bahwa impian boleh besar TAPI mesti SIAP BERPROSES dan ENJOY ketika berproses. Maaf, kalau sekedar impian, hampir semua orang juga bisa. Tapi soal siap dan enjoy, nggak semua orang bisa.

Ini beneran. Tak semua orang bahagia ketika menjalani proses. Mereka merasa menderita. Dan mereka pikir, bahagia itu ketika berhasil meraih impiannya. Kebanyakan orang, cara pikirnya yah begitu.

Bayangkan, ternyata impiannya baru berhasil diraih di usia 40 tahun. Itu kan artinya, dia nggak bahagia alias merasa menderita selama 39 tahun. Ini kan konyol. Kebangetan konyolnya!

Masa-masa sulit dan pahit, hendaknya dinikmati. Kalau perlu, dihayati. Toh ketika Anda sukses nanti, itu akan menjadi cerita manis yang menginspirasi bagi banyak orang, setidaknya bagi anak-anak Anda, itu pasti.

Saya, Ippho Santosa, turut mendokan, semoga teman-teman semua ditunjukkan jalan yang mudaaaaah menuju impiannya. Kalaupun tidak mudah, diberi mental yang tangguh dan hati yang lapang untuk menjalaninya.

Dan satu lagi, semakin taat kepada Yang Maha Kuasa ketika menjalani proses tersebut, terlebih-lebih lagi ketika berhasil meraih impian tersebut. Aamiin. Sekian, semoga berkah berlimpah.
MENJUAL

Setiap hari saya memberikan pembinaan buat mitra-mitra saya. Online dan offline. Salah satunya tentang menjual.

Jangan tabu dan ragu dengan menjual. Berbakat atau tidak, semua orang bisa menjual. Itulah yang sebenarnya.

Pesan saya selanjutnya, "Selling is about skill." Keterampilan (skill) tidak bisa didapat dari buku dan YouTube. Tapi dari praktek. Lebih tepatnya, dari sering-sering praktek. Saran saya, apapun yang terjadi, harus selalu praktek.

Yakin nggak yakin, tetaplah menawarkan. Praktek. πŸ˜‰

Paham nggak paham, tetaplah menawarkan. Praktek. πŸ˜‰

Closing nggak closing, tetaplah menawarkan. Praktek. πŸ˜‰

Kalau sering-sering praktek, maka pelan-pelan akan terasah kepedean sekaligus terasah skill. Beneran ini. Sekedar saran, prakteklah dengan berdoa dan berharap kepada Yang Maha Kuasa. Lebih powerful dan lebih closing, insya Allah.

Siap? 😎😎😎
BISNIS ANAK MUDA

Kemarin saya memberikan pembinaan untuk mitra-mitra. Ya, rutin. Mereka datang dari berbagai kota. Prinsip saya adalah BSD alias Bina Sampai Dahsyat. Di pembinaan, sedikit-banyak saya menyinggung soal distribusi.

Pengalaman saya, memahami alur distribusi dengan seksama bisa menghadirkan satu bisnis tersendiri.

Ketika memulai bisnis, sebagian orang muda suka berpikir aneh-aneh. Katanya nyari ide. Terus, menimbang-nimbang ide. Dipikirnya beras kali ya, ditimbang-timbang segala, hehehe. Padahal waktu yang habis itu jauuuh lebih mahal. Apalagi kita sepakat bahwa waktu lebih mahal daripada uang.

Okelah, nyari ide. Tapi sambil nyari ide, akan lebih baik kalau Anda bisa menghasilkan uang detik ini juga. Bukankah orang muda itu biasanya lebih bersegera dalam action? Mikir sih boleh, tapi jangan kebanyakan mikir. Sekiranya Anda setuju, silakan baca tulisan sampai selesai.

Salah satu pintu rezeki yang sudah dibuka dan dibuktikan oleh jutaan orang, adalah menjadi reseller. Atau agent. Atau distributor. Atau sejenisnya. Ya, Anda bisa menjadi orang tengah, menjualkan produk orang lain. Kata kunci di sini adalah distribusi.

Jangan salah, showroom dan dealer mobil itu juga semacam agent. Konter resmi iPhone dan Samsung itu juga semacam agent. Orang tengah, istilah lainnya. Dan ini bagian dari distribusi. Tetap bergengsi tho?

Menjadi reseller, agent, atau sejenisnya, ini sangat bagus. Kenapa? Karena sebagai orang muda yang nggak sabaran, Anda tidak perlu pusing sama produksi yang identik dengan mutu dan kepuasan. Apalagi produksi itu memerlukan cost yang lumayan dan pengalaman.

Saran saya, sebagai reseller, carilah produk yang bisa menghasilkan margin yang lumayan. Kalau margin-nya cuma 5%, begitu segelintir barang tidak terjual, otomatis itu akan β€˜merampok’ profit Anda seluruhnya.

Yah, boleh-boleh saja Anda menjual produk yang margin-nya 5% tapi Anda harus tahu dulu ke mana menjualnya dan seberapa banyak. Antisipasi ini sejak awal. Sehingga resiko Anda mengecil.

Jadi agent? Itu lebih baik lagi. Karena kemungkinan potensi marginnya akan jauh lebih besar. Pada akhirnya, happy selling. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
BUKAN UANG Yang Paling Mereka Harapkan



Mungkinkah bisnis kita bisa BESAR tanpa ridha dari orangtua?

Mungkinkah tim kita bisa BANYAK tanpa ridha dari orangtua?

Mungkinkah impian kita bisa TERCAPAI tanpa ridha dari orangtua?

Mungkinkah hidup kita bisa BAHAGIA tanpa ridha dari orangtua?

Sepertinya sangat sangat sulit.

Ingat, membahagiakan orangtua bukan saja amal ibadah, tapi juga mengundang kebahagiaan, kemudahan, dan rezeki pada hidup kita. Ini jangan dianggap wacana. Hei, ini sesuatu yang nyata!

Membahagiakan orangtua terutama ibu bukan sekedar ucapan. Yah boleh-boleh saja, tapi bukan itu yang utama. Bagaimana kita memuliakan dan membahagiakan mereka setiap harinya, itu jauh lebih utama.

Tanyalah ibu manapun, pastilah mereka senang teramat sangat kalau anaknya nggak neko-neko, anaknya selalu perhatian, anaknya selalu sholat (bagi yang muslim), dan seumpamanya.

Percayalah, BUKAN uang yang paling mereka harapkan. Coba lihat di luar sana, betapa banyak anak yang miskin namun berhasil memuliakan dan membahagiakan ibunya, karena memang si anak ini penuh perhatian.

Ia mengalokasikan waktu untuk ibunya. Makan bareng. Jalan bareng. Ketika jauh, ia pun sering menelepon atau WA ibunya. Coba baca kalimat tadi baik-baik. Apa susahnya? Nggak susah kan? Nggak harus pakai uang kan?

Tentu, kalau pakai waktu DAN uang, ini jauh lebih baik. Misalnya, liburan bareng. Atau umrah bareng. Sempatkan 5 detik untuk share artikel ini kepada teman-teman dan keluarga anda. Mengingatkan mereka.

Terhadap atasan atau orang asing, kita sering mengucapkan, β€œPak, ada yang bisa saya bantu?” Pernahkah kita mengucapkan ini kepada ibu? Kalau terhadap atasan atau orang asing saja kita bisa santun, mestinya kepada ibu kita bisa lebih daripada itu. Lebih!

Jangan sampai orangtua keburu meninggal dan kita menjadi anak yang menyesal. Kelak, anak kita pun ikut-ikutan lalai dan abai kepada kita, karena mereka jarang-jarang melihat contoh berbakti dari kita.

Sekiranya kita beda pendapat dengan ibu (misal, kita ingin berbisnis, sementara ibu ingin kita tetap bekerja) maka sampaikan pendapat kita dengan sikap yang baik dan waktu yang tepat. Jangan frontal.

Pada akhirnya, jadilah family figher. Semoga kita semua dimampukan untuk memuliakan dan membahagiakan ibu kita. Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan. Aamiin.
Punya anak? Punya ponakan?

Mendidik anak pada 7 tahun pertama, sedikit berbeda dan menantang.

Menurut Ali bin Abi Thalib, perlakukan mereka seperti raja. Dalam arti, layani mereka dan senangkan hati mereka.

Saat mereka berulah, baiknya orangtua tetap bersabar dan menahan amarah. Terus? Tetaplah membimbing mereka dengan telaten.

Kelak si anak akan mampu menahan amarahnya karena begitulah contoh yang didapatnya. Sampai di sini, masuk akal kan?

Yang namanya anak kecil memang identik dengan bermain dan hiburan. Kita sebagai orangtua harus sabar dan memaklumi.

Kalaupun kita ingin mendidik mereka, jangan lupakan dunia mereka. Apa itu? Bermain dan hiburan. Jelas, itulah dunianya.

Salah satunya mungkin melalui tayangan ini:

https://www.youtube.com/watch?v=0nGb4E4uCOc&feature=youtu.be&utm_source=IG&utm_medium=Riko

Insya Allah pas untuk anak kita. Juga ponakan kita. Karena menghibur sekaligus mendidik. Alhamdulillah anak-anak saya sampai nonton berulang.

Simak ya...
PENENTRAM

Mau hidup bahagia dan terhindar dari berbagai macam penyakit? Salah satu resepnya adalah memiliki pasangan (suami atau istri) yang tidak menyebalkan. Dengan kata lain, memiliki pasangan yang menentramkan.

Penelitian terkait hal ini digelar oleh Dr Bill Chopik dari Michigan State University, terhadap 2.000 pasangan selama 6 tahun. Para responden diminta terus-menerus melaporkan mengenai kondisi kebahagiaan dan kesehatan mereka.
 
Sebelumnya, riset bertajuk Novel Links Between Troubled Marriages, yang dihelat oleh Lisa Jaremka juga mengungkapkan perihal yang serupa. Hidup bahagia dan sehat salah satunya disebabkan oleh pasangan yang menyenangkan. Anda boleh menyebutnya, menentramkan.

Kejadian ini mengingatkan kita pada penciptaan Adam pertama kali. Adam tercipta dari tanah dan belum memiliki pasangan (istri). Walaupun sejak awal penciptaan, Adam sudah ditempatkan di surga, ternyata Adam tidak mampu menikmati keindahan surga secara sempurna tanpa adanya seorang pendamping hidup.

Di sinilah hikmah besar di balik pernikahan. Apa itu? Demi menghadirkan "kedamaian" (sakinah) dalam kehidupan manusia. Allah menjadikan istri, sebagai sosok yang bisa menentramkan tatkala suami melihatnya. Sudah ribuan tahun, hal ini terbukti. Right?

Oleh karenanya, penciptaan Hawa bukan saja sebagai pendamping hidup Adam. Tapi yang lebih penting lagi adalah bahwa hanya dengan pernikahan atau dengan ditetapkannya "institusi nikah" manusia akan merasakan kedamaian hidup (sakinah) itu.

Di komunitas BP, kami menggalakkan konsep couple-preneur. Yang utama di sini bukan soal jualan. Tapi soal keselarasan. Insya Allah ini akan berujung pada ketentraman dan kebahagiaan.

Siapa sih yang nggak mau hidup yang bahagia dan sehat? Nah, salah satu yang bisa menyebabkan itu adalah hadirnya pasangan yang menentramkan. Ya, riset dan dalil telah membuktikan hal ini sejak lama. Anggap saja tulisan ini reminder buat kita semua.

Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ketika Mitra Lepas...
.
.
.
Mitra mundur dan kabur dari kita?
.
Mitra kurang militan dan malas-malasan?
.
Ada baiknya kita introspeksi.
.
Mungkin kita:
- kurang pembinaan
- hanya peduli dengan transaksi
- tidak adil dan tidak wajar dalam bagi-bagi profit
- tidak sungguh-sungguh dalam mewujudkan impian tim
- tidak sungguh-sungguh dalam menyelesaikan masalah tim

Perhatikan baik-baik. Si mitra itu mungkin punya mitra lagi. Sebut saja, si A punya si B. Apakah kita sudah serius membina si B? Sudah sungguh-sungguh dalam mewujudkan impian si B? Sudah adil dalam bagi-bagi profit untuk B?

Jika belum, jangan heran kalau si A memutuskan mundur dan kabur dari kita.

Saran saya, jangan buru-buru menyalahkan orang lain atau keadaan. Bagaimanapun introspeksi dan berbenah itu lebih baik.

Ingat. Sekiranya kita memberikan value dan benefit jauh LEBIH BESAR daripada profit yang kita terima, kemungkinan besar mitra akan loyal dan militan sama kita. Begitulah hukum alamnya.

Think.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
BERBAGI, BUAT SIAPA?

Sedekah, berbagi, dan kedermawanan itu luas manfaatnya. Bahkan manfaat yang utama adalah buat diri kita.

Selama bertahun-tahun, alhamdulillah, bangsa Indonesia termasuk dalam 10 negara paling dermawan sedunia. Dan prestasi membanggakan ini semakin terlihat ketika terjadi bencana. Betul apa betul?

Ketika terjadi bencana, biasanya kita rame-rame bersedekah. Bahkan tanpa dikomando. Itu sih sudah bagus. Bagian dari empati dan solidaritas. Tapi, sekarang coba dibalik. Kita rame-rame bersedekah, selalu, maka mudah-mudahan kita terhindar dari #bencana.

Bukankah sedekah itu menolak bala?

Kalau secara pribadi kita rajin bersedekah, mudah-mudahan kita terhindar dari tabrakan, kerugian, atau sakit. Nah, kalau secara kolektif kita rajin bersedekah, tentunya manfaatnya akan lebih besar lagi. Bukan pada pribadi A atau B saja.

Yang saya yakini, sedekah itu luas manfaatnya.

Kata guru saya, "Saat kita berbagi (sedekah), terkesan orang lain yang dapat manfaat. Yang sebenarnya kita-lah yang dapat manfaat lebiiiiih besar. Rezeki, bertambah. Pahala, bertambah. Insya Allah."

Begitu pula dalam bisnis, terutama saat kita membina dan melayani mitra-mitra. Terkesan orang lain (mitra-mitra) yang dapat manfaat. Yang sebenarnya kita-lah yang dapat manfaat lebiiiiih besar. Bisnis, membesar. Profit, membesar. Insya Allah.

Karena itulah saya rutin memberikan pembinaan dan bimbingan pada mitra-mitra saya. Misalnya Senin dan Ahad kemarin. Saya berada di Jember dan Surabaya dalam rangka pembinaan.

So, jangan pernah lelah dalam memberi dan melayani. Luas sekali manfaatnya. Buat diri kita. Buat sesama. Siap? Praktek ya. Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Yakin itu Harus

Menariknya, keyakinan itu menular. Karena itulah, ada baiknya kita sering-sering bergaul dengan para mentor, orang-orang yang duluan sukses, dan orang-orang yang berpikir positif.

Keragu-raguan, sekecil apapun, harus dihindari.

Sekarang, coba Anda perhatikan ini. Banyak orang yang mengemudi lambat-lambat di jalan-raya. Selamatkah mereka? Kemungkinan besar, selamat.

Nah, banyak pula orang yang mengemudi cepat-cepat di jalan raya. Ngebut. Selamatkah mereka? Yah, selamat juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah mereka yang ragu-ragu.

Banyak orang orang memutuskan untuk jadi karyawan. Sukseskah mereka? Mungkin saja. Nah, banyak pula orang yang memutuskan berhenti jadi karyawan, terus jadi pengusaha.

Sukseskah mereka? Mungkin juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah karyawan yang coba-coba jadi pengusaha TAPI ragu-ragu. Ingat, ragu-ragu artinya yakin untuk gagal.

Satu lagi. Keyakinan jangan pernah disandarkan pada uang.
- Ada uang, yakin.
- Nggak ada uang, tetap #yakin.
- Sudah closing, yakin.
- Belum closing, tetap yakin.
- Selagi bersama Allah, kita harus yakin.

Apalagi di komunitas bisnis seperti BP, kita dibersamai para mentor, orang-orang yang duluan sukses, dan orang-orang yang berpikir positif. Harusnya tambah yakin dong!

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Bantu share tulisan ini ya. Semoga berkah berlimpah.
Apa sih salah ayam?

Tulisan nggak rapi, disebut cakar ayam.
Tidur nggak nyenyak, disebut tidur ayam.
Semangat turun, hangat-hangat tahi ayam.

Ya, ayam yang selalu disalahin, hehehe. 😁

Masih soal ayam nih. Capek-capek hamil (baca: bunting), capek-capek bertelur. Terus telurnya diambil dan dimasak. Adakah sedikit apresiasi pada ayam? Nggak ada. Jerih-payah itu dinamai telur mata sapi, hehehe. Ayam yang pasang badan, eh sapi yang dapat nama.

Sebenarnya, tak mengapa. Serius. Kalau kita bisa bersikap seperti itu, tidak mempermasalahkan, maka inilah yang disebut 'belajar untuk ikhlas'. Atau 'latihan untuk ikhlas'. Semacam pahlawan. Siap berjuang dan berkorban, namun kadang-kadang tak mendapat apresiasi. Bukan kadang-kadang. Sering malah.

Btw, tulisan ini saya ketik untuk menyemangati para pejuang keluarga (family fighter) di komunitas BP dan siapa saja. Saat kita membina tim, belum tentu kemudian tim akan ingat dengan kebaikan kita. Belum tentu. Yah nggak apa-apa tho? Hitung-hitung latihan jadi orang yang ikhlas.

Pesan guru saya, "Jangan pernah berharap pujian. Jangan pernah berharap apresiasi. Capek."

Lakukan saja yang terbaik untuk tim kita. 😎

Toh kita tahu bahwa Allah Maha Mencatat dan Maha Membalas. Tidak cukupkah balasan dari Tuhan-mu? Umar RA justru merasa risih dan khawatir dengan segala macam pujian, karena bisa melalaikan. Tak ada salahnya kita coba belajar seperti itu. Risih dengan pujian. Siap praktek?

Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa. πŸ˜€
Rabu pagi, insya Allah puluhan mitra saya berangkat ke Turki. Sebagian lagi berangkat umrah. Alhamdulillah. Saya senang sekali. Kenapa? Karena memang itulah impian mereka.

Setahun terakhir, mulai 2019, impian dan ambisi saya berkurang drastis. YANG SERING TERLINTAS di kepala saya adalah bagaimana caranya mewujudkan impian tim.

Seorang guru berpesan, "Perbesar impian kita. Masukkan impian orang lain dalam impian kita."

Guru yang lain berpesan, "Di kehidupan ini, ada baiknya kita berusaha untuk mewujudkan impian orang lain." Menariknya, saat kita berusaha memikirkan dan mewujudkan impian orang lain, maka impian kita lebih mudah untuk terwujud.

Dan inilah salah satu poin yang sering saya bahas di pembinaan:
-       Ingin maju? Majukan orang lain.
-       Ingin kaya? Kayakan orang lain.
-       Ingin cerdas? Cerdaskan orang lain.
-       Ingin mulia? Muliakan orang lain.
-       Ingin doa dikabulkan oleh-Nya? Doakan orang lain.
-       Ingin diberi uang oleh-Nya? Berikan uang kepada orang lain.

Bukan sekedar sukses. Berusahalah mengantarkan orang-orang di sekitar kita untuk ikut sukses. Bukan sekedar kaya. Berusahalah mengantarkan orang-orang di sekitar kita untuk ikut kaya. Kurang-lebih begitu.

Melalui berbagai dalil, hati kita berkali-kali disentuh dan diingatkan bahwa:
-       Sebenarnya, seluruh manusia adalah satu umat.
-       Membunuh satu manusia berarti membunuh seluruh manusia.
-       Menyelamatkan satu manusia berarti menyelamatkan seluruh manusia.
-       Menghina ayah orang lain, berarti menghina ayah kita sendiri.
-       Menyantuni ibu orang lain, maka fadilahnya akan sampai kepada ibu kita.
-       Mendoakan seseorang, berarti mendoakan diri kita sendiri.

Inilah yang terjadi dan selalu terjadi. Saya yakin, teman-teman setuju dan sedikit-banyak pernah mengalami.

Seorang guru suatu ketika berpesan, "Pikirkan perut dan dapur orang lain. Jangan egois. Setiap kali kita memikirkan dan mengurus kepentingan orang lain, percayalah, kepentingan kita akan diurus sama Allah." Semakin hari, saya pun semakin yakin dengan kalimat tersebut.

Bagaimana dengan teman-teman?

Saya pribadi tengah bekerja keras membersamai mitra-mitra saya. Kenapa sampai bekerja keras? Karena impian mereka yang berikutnya, setelah berumrah, adalah memiliki sebuah rumah. Tahu sendiri kan, harga sebuah rumah bisa 10 kali atau 20 kali biaya berumrah.

Pada akhirnya saya berharap, setelah membaca tulisan ini, teman-teman semua tambah semangat dalam mewujudkan impian orang lain, terutama impian mitra-mitra dan orang-orang terdekatnya. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Virus Corona & Penangkalnya



Ketika Kerajaan Saudi menutup sementara kesempatan orang luar untuk berumrah, saya dan mitra-mitra saya termasuk orang-orang yang terdampak. Kami tertahan sekian hari di Turki dan akhirnya kembali ke Tanah Air. Ya, kami tidak jadi berumrah.

Penyebabnya apa lagi kalau bukan mengantisipasi penyebaran virus corona. Bagaimanapun kami tetap bersyukur dan berpikir positif, walaupun umrah kami ditangguhkan. Begitu tiba di Tanah Air, saya pun coba mencari informasi lebih lanjut terkait virus corona dan penangkalnya.

Sejauh ini, saya menemukan sejumlah data yang menarik.

Ternyata senyawa propolis berpotensi menjadi alternatif obat terhadap virus corona (diberitakan di Kompas, Tempo, dan RRI pada Maret 2020).

Rupanya propolis itu bersifat antioksidan, antikanker, antijamur, anti-inflamasi, antibiotik, antiseptik, antinyeri, dan antialergi, sehingga dapat menangkal penyakit-penyakit akibat virus, termasuk virus corona (Tempo, Februari 2020).

Propolis dapat mencegah dan menyembuhkan kanker (Kompas TV, Februari 2020)

Propolis dapat meningkatkan kekebalan tubuh, menangkal virus, dan mengatasi kanker (Harapan Rakyat, Desember 2019).

Propolis berpotensi menyembuhkan HIV/AIDS (Liputan 6, Mei 2013).

Masih soal virus corona. Berikut ini adalah tips-tipsnya:
- cucilah tangan lebih intens
- jangan menyentuh wajah jika tangan tidak bersih
- hindari keramaian, kurangi bersalaman
- rutinkan minum propolis yang sarat flavonoid

Seperti yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan, dr Terawan, masker bukanlah hal utama dalam rangka mencegah virus corona. Kata kunci yang beliau serukan adalah imunitas, yang mana ini sangat terbantu apabila kita rutin meminum propolis. Apapun mereknya.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga bermanfaat.
*MENGUNDANG PERTOLONGAN ALLAH*

Hari Jumat telah tiba. Kali ini kita akan membahas tentang sholat.

Kalau agama itu diumpamakan bangunan, maka fondasinya adalah syahadat dan tiang-tiangnya adalah sholat. Perlu juga dicatat, salah satu makna mendirikan sholat adalah menegakkan nilai-nilai sholat di luar sholat, seperti disiplin (Indibath), konsisten (Istiqomah), dan merasa diawasi oleh Allah (Ihsan). Inilah PR besar bagi kita semua, karena masih banyak muslim yang mengerjakan sholat, belum mendirikan sholat.

Menariknya, mereka yang rutin sholat lebih mudah mengundang pertolongan Allah, daripada mereka yang tidak rutin. Dengan syarat, mereka menjaga diri dan menjauhkan diri dari dosa besar. Yah, mungkin saja masalah datang silih-berganti, namun mereka yang rutin sholat, didekatkan Allah dengan pertolongan. Begitu β€˜dipancing’ sedikit saja, dengan amal dan ikhtiar, maka pertolongan itu pun bergegas menghampiri. Inilah salah satu fadilah dan manfaat sholat yang jarang orang sadari. Kitab suci pun menegaskan hanya sabar dan sholat sebagai penolong.

3S
Sabar + Sholat = Solusi

Menariknya lagi, sholat juga menjadi salah satu syarat agar perniagaan tidak merugi. Saya ulang, tidak merugi. Hm, Anda-Anda yang pengusaha mungkin protes, β€œSaya sholat. Tapi kok nyatanya masih rugi?” Betul, tapi Allah siapkan juga gantinya, entah pada perniagaan itu maupun pada perihal yang lain. Kalau dihitung-hitung, yah tetap untung.

Sholat juga menyehatkan. Sudah teramat banyak penelitian yang membuktikan hal ini. Lebih jauh lagi, sholat juga indikator kesehatan dan kenormalan seseorang. Soalnya, sholat itu fitrahnya manusia. Jika seseorang sudah tidak mampu melakukan gerakan-gerakan sholat secara sempurna, itu adalah indikasi. Kemungkinan besar, ada yang kurang beres pada tubuhnya. Nah lho!

Pada akhirnya, mari kita jaga sholat kita. Siap?
MENTAL PEMENANG



Entrepreneur pastilah seorang pemenang. Maksudnya, bermental pemenang.

Tidak risih dengan penolakan.
Tidak takut dengan kerugian.
Tidak kapok dengan kegagalan.

Sejatinya, bagi mereka yang bermental pemenang, kegagalan dan tekanan adalah 'ruang belajar'. Yah, bukan berarti mereka pengen gagal. Nggak dong. Namun mereka berusaha memetik ilmu dan hikmah di balik kegagalan.

Dan, ada satu hal yang perlu kita catat benar-benar. Doa yang belum dikabulkan dan impian yang belum terwujudkan, menyimpan hikmah. Di antaranya, membuat kita lebih tangguh dan lebih sabar, juga lebih giat dalam beramal dan berikhtiar.

Betul apa betul?

Sejujurnya, menurut saya, gagal itu biasa. Sukses juga biasa. Nggak usah lebay. Tak perlu didramatisir. Lagi pula, kalau sedang gagal, jangan disebut-sebut. Ntar malah jadi doa. Makin gagal.

Orang lain pun muak dan mual mendengarnya. Mestinya harapkan yang baik-baik, ucapkan yang baik-baik, lakukan yang baik-baik. Mudah-mudahan hasilnya membaik. Insya Allah.

Dan sebagus-bagusnya rencana kita, belum tentu sesuai dengan rencana Allah. Perlu sabar, baik sangka, dan tawakal. Minimal, kita dicatat Allah sebagai hamba yang bersabar, berbaiksangka, dan ridha dengan ketetapan-Nya.

Awal Maret ini, saya dan 100-an mitra tidak jadi berumrah. Gagal berumrah. Kami ketahan di Turki. Kecewa, iya. Sedih, iya. Tapi kami berusaha untuk berbaiksangka. Toh cuma ditunda, bukan dibatalkan. Alhamdulillah kami pun berkesempatan untuk menjelajahi dan menikmati Turki.

Sekali lagi, jangan lebay dengan kegagalan. Biasa saja. Tak perlu didramatisir. Alih-alih begitu, anggaplah kegagalan sebagai 'ruang untuk belajar'. Siap? Nggak ada pilihan lain, setiap kita harus siap. Sekian dari saya, Ippho Santosa.