Ippho Santosa - ipphoright
26.3K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Internet dan gadget adalah kekuatan yang sangat dahsyat. Termasuk dalam bisnis.

Sayangnya, sebagian besar UKM kita kurang melek soal internet. Padahal internet adalah now market dan next market. Maksudnya? Saat ini, sangat besar. Ke depannya, jauh lebih besar.

Terus, sampai kapan kita cuma diam jadi penonton? Saran saya, jadilah pemain. Jadilah pelaku. Dengan internet, kita tidak perlu lagi menyewa ruko atau buka stand. Tidak perlu lagi memasang spanduk, flyer, dan iklan koran.

Hemat tho? Sangat hemat. Cukuplah kita mengoptimasi Facebook, Instagram, Whatsapp, dan Blogspot, sehingga otomatis bisnis kita muncul di mana-mana ketika konsumen mencari. Saya harap teman-teman semua siap dan terbiasa dengan itu.

Mitra-mitra saya alhamdulillah sudah terbiasa dengan itu semua. Misalnya, ganti profile picture, terus dapat closingan. Update WA story, terus dapat closingan. Posting di IG, terus dapat closingan. Simple tapi sangat ngefek.

Alhamdulillah, mereka sudah terbiasa. Karena memang sudah di-training dan dikondisikan setiap harinya. Bukan asal update. Bagi teman-teman yang belum paham, saran saya, cobalah belajar. Atau bergabung di komunitas di tepat.

Zaman sekarang, percayalah, nyari rupiah itu relatif mudah dan nggak harus keluar rumah. Salah satu caranya, pandai-pandailah kita memanfaatkan internet dan gadget. Simple banget. Bisa insya Allah, asalkan kita mau membuka mindset dan memantaskan diri.

Siap?
Bayangkan sejenak...

Tentang kenaikan:
- harga properti,
- biaya pendidikan,
- biaya umrah,
- tingkat inflasi.

Sekitar 15% sampai 25%. Relatif tinggi tho? Dan itu semua sepertinya sulit diimbangi dengan kenaikan gaji. Dengan kata lain, akan jauh lebih baik kalau Anda memulai bisnis sekarang juga. Tentunya, bisnis yang ada mentornya.

Kamis-Jumat, insya Allah saya akan membuka peluang usaha.

Di mana saya dan tim akan memberikan bimbingan (coaching) agar Anda jadi pengusaha, step by step. Modalnya hanya Rp 660 ribu. Sangat terjangkau kan? Dan baru kali ini saya membuka peluang usaha dengan modal seminim ini.

Terus? Setelah bergabung, sebagai pengusaha Anda harus fight dan focus selama 2 tahun. Itu yang saya minta. Dan Anda harus komit. Nah, kalau ternyata TIDAK terjadi perubahan income yang signifikan pada diri Anda, maka modal Anda saya GANTI 2X lipat.

Menarik? Insya Allah sangat menarik. Dan sangat menjanjikan. Kalau minat, Anda boleh WA sekarang ke 0812-8777-7100. Bismillah, WA yang masuk akan kami reply satu per satu. Jujur saja, saya sangat berharap kita bisa bermitra.
Jadilah mukmin.
Jadilah rahmatan lil alamin.

Dan jadikan ini gaya hidup.

Sebenarnya, gaya hidup 'rahmatan' adalah gaya hidup yang diimpi-impikan oleh kebanyakan orang. Kenapa? Yah, karena di dalamnya terdapat asas kebermanfaatan, kebersamaan, dan keadilan.

Jujur, ini sangat langka. Tapi kalau kita bisa menjadi seperti itu, yah kita akan dicari-cari orang. Diimpikan banyak orang. Betul apa betul?

Termasuk dalam muamalah (kerjasama bisnis). Harus ada gaya hidup 'rahmatan lil alamin' di sana. Bukankah Nabi menganjurkan kebermanfaatan dan keadilan dalam muamalah? Tentu ini kita harapkan terjadi di semua sektor, bukan di sektor tertentu saja.

Di rumah makan Padang misalnya, kita berharap ada gaya hidup 'rahmatan' ini. Maksudnya, ada keadilan dan kejelasan pada harga. Makanan? Relatif sehat. Dan itulah yang seharusnya. Jadi, yang namanya 'rahmatan' BUKAN pada bisnis-bisnis yang berlabel agama saja, seperti travel umrah dan distributor jilbab. Melainkan pada SEMUA bisnis.
  
Terus, bagaimana dengan kebersamaan atau sering disebut dengan sinergi? Sepenting apa? Bagi saya sinergi adalah saling percaya, saling saling membantu, dan saling mendoakan. Ini semacam keterkaitan satu sama lain. Interconnected. Terus, seperti apa contoh konkritnya?

Begini. Saat kita membantu seseorang, jangan berharap orang itu langsung membantu kita sebagai timbal-baliknya. Nggak harus begitu. Sebagai mukmin kita percaya sepenuhnya bahwa Allah itu maha membalas. Right?

Kalau mau bantu yah bantu saja. Soal timbal-balik atau balasan, kita serahkan ke Allah.

Bantu orang lain, maka Allah akan membantu kita. Muliakan orang lain, maka Allah akan memuliakan kita. Doakan orang lain, maka Allah akan mengabulkan doa kita. Donorkan darah ke orang lain, maka Allah akan menyehatkan darah kita. Inilah bagian dari gaya hidup 'rahmatan'.

Masih soal bisnis. Bagaimana dengan harga? Jangan over-price bagi konsumen. Bagi mitra-mitra, yah diuntungkan secara adil dan merata. Kalau produk? Usahakan benar-benar bermanfaat. Jangan bikin orang konsumtif (fashion misalnya). Seperlunya saja. Jangan juga mengundang kolestrol dan asam urat (misalnya kalau kita jual makanan).

Begitulah kurang-lebih. Dan kalau ini diterapkan, sungguh-sungguh diterapkan, mudah-mudahan kita pelan-pelan menuju gaya hidup 'rahmatan lil alamin'. Aamiin.
Saya ingin sekali mencetak dan menghadirkan pengusaha yang lebih banyak lagi di negeri ini.

Bukan sekedar wacana, tapi sudah saya konkritkan selama 10 tahun terakhir dengan membangun TK, SD, dan kampus di berbagai kota dengan visi entrepreneurship.

Karena itu pula, ketika saya punya produk suplemen dan laris, saya tetap komitmen untuk TIDAK MASUK ke toko-toko besar walaupun mereka memiliki jaringan nasional.

Saya lebih memilih cara kemitraan. Open reseller. Buka keagenan.

Kenapa? Dengan cara ini, saya percaya akan lebih banyak pengusaha yang dihadirkan dan lebih banyak keluarga yang benar-benar terbantu. Alhamdulillah, itulah yang terjadi 2 tahun terakhir.

Dari segi modal, saya bikin sangat terjangkau. Pembinaan? Setiap hari. Training? Hampir-hampir setiap hari. Soalnya saya tahu persis, kebanyakan mereka adalah pemula. Perlu dibina. Benar-benar dibina.

Bagi teman-teman yang ingin bermitra dengan saya, silakan WA ke 0812-8777-7100. Modalnya Rp 660 ribu sampai Rp 990 ribu. Kalau Anda join hari ini (Jumat), saya kasih free ongkir. Kesempatan bermitra ini saya buka sampai Sabtu.

Saatnya take action! Buktikan Anda memiliki mental pengusaha yang tidak suka menunda-nunda!
Banyak yang heran, kok bisa mitra-mitra saya income-nya melompat 3X sampai 12X lipat ketika bermitra dengan saya?

Pertama, saya mengajak mereka untuk fokus (pilih A, B, atau C). Saya biarkan mereka untuk memilih. Sekalipun saya tidak pernah memaksa mereka. Toh mereka sudah dewasa, mana bisa dipaksa-paksa?

Kedua, mereka mendapat pembinaan dari saya setiap hari. Ya, setiap hari. Silakan tanya mereka.

Gimana dengan iming-iming trip ke LN? Sebenarnya, ini BUKAN hal yang utama. Namanya orang berbisnis, yah pasti pengen hal-hal yang pokok, seperti dapurnya bisa ngepul, anaknya bisa sekolah, cicilannya bisa lunas. Gitu tho? Bukan karena pengen trip ke LN.

Btw, apa saya selalu mentraktir mitra-mitra setiap kali ke luar negeri (LN)? Nggak juga. Ada juga mereka bayar sendiri, misalnya pas ke Eropa dua minggu yang lalu. Kadang malah MEREKA yang MENTRAKTIR saya, misalnya pas ke China satu bulan yang lalu.

Seru ya? Iya! Ini yang namanya kesetaraan!

Saya bisa mentraktir mereka dan mereka pun bisa alias berkemampuan untuk mentraktir saya. Kok bisa? Karena pembagian profit antara saya dengan mereka yang relatif adil dan merata. Nggak timpang. Nggak jomplang. Menurut saya, ini baru bisa disebut grow together.

Bagi orang beriman, bisnis bukan sekedar halal saja. Tapi juga harus ada rasa keadilan, rasa kebersamaan, dan penuh pembinaan. Sehingga semua pihak merasa plong dan ridha satu sama lain. Kalau sudah begini, insya Allah semua pihak akan melejit potensi dan prestasinya. Insya Allah.

Saya harap Anda setuju dengan saya.
GRATIS!

Saya akan membagikan buku saya plus tanda tangan untuk *lima pemenang*. Ya, untuk lima pemenang. Gratis.

Selain dapat buku, masing-masing pemenang akan mendapatkan satu British Propolis. Gratis.

Caranya? Mudah saja. Teman-teman cukup komen di IG saya ini tentang _makna bisnis_ bagi teman-teman.

Lima komen terbaik insya Allah akan dipilih sebagai pemenang. Btw, Anda boleh komen berulang untuk memperbesar kemungkinan menang.

https://www.instagram.com/p/B5hpR-mFb5e/?igshid=1ovz2uxfgpsgq

Siap?
Coba lihat deh postingan saya kemarin di IG. Tentang naik income 2X lipat bahkan lebih.
Beramal ikhlas, tahu-tahu pahalanya terkikis bahkan habis.

Kok bisa? Karena kemudian ia merasa sombong, merasa berjasa, atau meremehkan orang lain. Tapi, bisa juga pahalanya berkurang karena salah dalam memilih respons.

Contohnya?

Membina. Tulus. Kemudian ia dituduh modus oleh seseorang dan ia tidak terima dengan tuduhan itu. Kesal. Kalau sudah begitu, bukan mustahil pahalanya akan berkurang.

Berbagi. Ikhlas. Kemudian ia dituduh pelit oleh seseorang dan ia tidak terima dengan tuduhan itu. Marah. Bukan mustahil pahalanya akan berkurang.

Berbakti. Sepenuh hati. Kemudian ia dituding durhaka oleh keluarganya dan ia tidak terima dengan tudingan itu. Sakit hati. Bukan mustahil pahalanya akan berkurang.

Begini. Kalau memang ridha Illahi yang dicari, mestinya kita tidak perlu terlalu pusing dengan pendapat manusia, sesinis apapun itu. Jangan terlalu dianggap.

Selanjutnya, apa saran saya? Cukuplah ingat nama-nama mereka, agar kelak kita bisa berhati-hati. Maksudnya? Begini. Sering-sering mendengar pendapat mereka, bisa melemahkan semangat kita sebagai pemula.

Ikhlas dan menuju ikhlas memang tidak mudah. Bagi saya, ini adalah perjuangan tanpa akhir. Jadi, teruslah berbuat. Teruslah beramal. Sambil kita jaga niat kita baik-baik.

Siap? 🙂
Jumat 6 Desember insya Allah saya (Ippho Santosa) akan berbagi ilmu di #HalalExpoIndonesia di ICE BSD. Jam 3.30 sore. Selain saya, insya Allah ada narsum-narsum lain juga. Keren-keren semua, masya Allah. Ustadz Adi Hidayat salah satunya. Artis-artis? Ada juga. Pastikan teman-teman hadir ya bareng keluarganya. Sampai jumpa!
Sebenarnya, pasangan kita (suami kita atau istri kita) adalah orang ditakdirkan untuk memperbaiki kita sekaligus melengkapi kita. Begitu juga sebaliknya, vice versa. Percayalah, dialah yang paling tepat. Tidak ada orang lain yang lebih tepat.

Terbukti kita ditakdirkan berjodoh dan menikah dengan dia. Padahal ada miliaran manusia yang hidup di dunia ini.

Saat kita berharap pasangan untuk berubah dan membaik, yang sebenarnya perubahan dan perbaikan itu harus dimulai dari diri kita. Ya, dari diri kita. Berharap dia yang berubah duluan adalah pekerjaan yang melelahkan dan tidak terlalu bijak.

Satu hal lagi. Apa itu? Harus ada kesabaran. Nabi sabar menunggu para sahabat untuk berubah. Allah? Maha Sabar. Lantas, kenapa kita nggak sabar?

Kadang kita kurang sabar ketika berharap pasangan untuk berubah. Kadang kita merasa sudah relatif baik, lalu kita menuntut pasangan untuk berubah dan membaik. Hei ingat, kecepatan dan momentum orang itu berbeda-beda ketika diharapkan untuk berubah.

Jangan digegas. Jangan di-gas.

Kita boleh berharap perubahan yang cepat kalau orang itu adalah diri kita sendiri. Perlu contoh? Misal, kita pengen tahajjud dan rutin. Ya sudah, mulai malam ini juga, berlanjut malam-malam berikutnya. Tapi saat kita berharap pasangan yang rutin tahajjud-nya, yah kita mesti sabar. Jangan mendesak dia untuk memulai malam ini juga.

Sabar. Doakan. Dan mulai perubahan itu dari diri kita.

Seperti Nabi Yunus yang awalnya gagal berdakwah utk sebuah kampung. Iya, gagal. Tapi kemudian, beliau berhasil juga. Kok bisa? Krn beliau memutuskan utk bertobat dan berubah. Tepatnya, memperbaiki diri dan memantaskan diri.

Dalam mendoakan, mesti ada sikap sabar dan rasa sayang. Hadirkan itu selalu. Apalagi terhadap orang yang ditakdirkan untuk melengkapi kita, yaitu pasangan kita. Sering kali, krn kesal, kita tidak membawa 'rasa sayang' dlm mendoakan. Ini kurang tepat.

Di mana-mana, setiap perubahan perlu pendampingan. Ya, setiap perubahan. Apalagi di komunitas BP yang saya rintis, kami selalu mengedepankan konsep couple-preneur. Perlu kesabaran. Perlu baiksangka. Perlu doa yang tidak putus-putus. Pastikan kita menghadirkan itu semua, demi pasangan kita.

Siap? 🙂
Soal penafkahan, sudah jelas, itu 100% urusan dan tanggung-jawab suami. Walaupun mungkin istri itu bekerja atau berbisnis. Yang namanya tanggung-jawab tetaplah tanggung-jawab. Harus ada upaya dari suami untuk mencukupi.

Ingat, menikahi artinya menafkahi.

Kekerasan pada istri (KDRT) bukan hanya sekedar kekerasan fisik dan mental saja. Ada juga bentuk lainnya. Kekerasan finansial (kelalaian finansial) adalah salah satu kekerasan dalam rumah tangga yang sering terjadi, namun suami jarang menyadarinya.

Seperti dilansir dari Boldsky, rasa hormat istri terhadap suami bisa pelan-pelan berkurang ketika suami lalai akan tanggung-jawabnya, terutama untuk urusan kurangnya nafkah dan hadirnya masalah-masalah.

Jangan sampai istri ikut pusing karena urusan kurangnya nafkah. Apalagi sampai dibenturkan dengan masalah-masalah. Kalau hal ini terjadi berkali-kali, selama bertahun-tahun, waduh, ini sama sekali nggak sehat untuk sebuah hubungan pernikahan.

Istri yang harusnya merasa nyaman (secure) dan dilindungi (protected) oleh suami, akhirnya merasa sebaliknya. Waswas. Cemas. Kalau sudah begini, rasa hormat istri terhadap suami bisa pelan-pelan berkurang dan hilang.

Ini nggak main-main. Bahkan beberapa psikolog menilai, RASA HORMAT lebih krusial daripada RASA CINTA dalam sebuah hubungan pernikahan. Hati-hati.

Sekiranya si suami sudah bersungguh-sungguh nyari nafkah dan ternyata hasilnya nggak seberapa, saya yakin si istri juga akan memaklumi dan tetap hormat. Tapi ingat, harus ada kesungguhan. Pertanyaannya, apakah si suami sudah bersungguh-sungguh selama ini?

Think.
Gratis!

Saya akan membagikan tiga e-books tentang bisnis. Awalnya satu e-book mau saya jual Rp 60 ribu.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, yah saya gratiskan saja. Niatnya mau berbagi ilmu.

Bagi teman-teman yang minat, silakan komen di postingan terakhir di IG saya.
Kadang dunia ini tidak ideal. Dalam perjalanan hidup, mungkin kita bertemu dengan orang-orang yang menzalimi kita dan menganiaya kita. Pada akhirnya, ini memancing kita untuk mendendam atau sikap-sikap negatif lainnya. Ini sebenarnya nggak baik.

Adalah 3D yang bisa menghalangi rezeki dan menutupi potensi. Bahkan juga bisa merusak kesehatan. Ya, merusak kesehatan. Apa saja 3D itu? Dengki, Dongkol, Dendam.

Sebaliknya, lapang hati dan memaafkan, seperti dilansir Mayo Clinic dan Telegraph, terbukti menyehatkan. Manfaatnya, antara lain, terhindar dari penyakit tekanan darah tinggi. Benarkah sampai seperti itu? Ya, benar.

Para peneliti dari University of California, San Diego, menemukan bahwa orang-orang yang mampu mengelola amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, cenderung lebih rendah risikonya mengalami lonjakan tekanan darah.

Sekiranya kita sadar bahwa dendam itu berdampak buruk terhadap rezeki dan kesehatan kita, tentulah kita akan membuang jauh-jauh sikap negatif ini. Kita pun semakin berhati-hati karena dendam ternyata juga memberangus amal-amal alias membuat hangus amal-amal. Ngeri.

Kesimpulannya, kalau lapang hati, akan lapang rezeki. Kalau sempit hati, akan sempit rezeki. Pilih mana? Saya yakin Anda akan menjatuhkan pilihan pada sikap yang memberdayakan untuk masa depan Anda. Sekian, semoga bermanfaat.
Haruskah kita anti harta?

Dunia, termasuk harta, boleh dinikmati. Yang penting, jangan berlebih-lebihan dan jangan bermegah-megahan. Kali ini saya mengajak teman-teman menyimak pendapat ulamanya para ulama. Boleh? Namanya Syaikh Yusuf Qardhawi.

Beberapa tahun yang lalu, alhamdulillah saya sempat bertamu dan bertemu dengan Syaikh Yusuf Qardhawi di rumahnya. Personal, masya Allah. Ada beberapa hal yang saya tanya dan beliau jawab, di antaranya peranan harta.

Sebagai ketua para ulama di dunia untuk sekian periode, beliau mengatakan bahwa harta itu mutlak diperlukan. Ya, mutlak. Lapar, kan perlu makan. Haus, kan perlu minum. Takut, kan perlu naungan. Termasuk urusan dakwah. Jangan tabu dengan harta.

Beliau pun mengingatkan pentingnya bersedekah dengan mengutip Surat Al-Ma’un. Namun beliau juga mengingatkan bahaya bermegah-megahan dengan mengutip Surat Al-Takatsur. Masya Allah, peringatan yang berimbang!

Boleh-boleh saja menikmati dunia. Tapi dengan kepantasan dan kewajaran. Tidak berlebih-lebihan, tidak bermegah-megahan.

Kurang kaya apa Umar dan Usman di zamannya? Demikian pula kekuasaannya. Tapi adakah mereka bermegah-megahan? Setahu saya, Umar dan Usman memilih gaya hidup yang sangat sederhana.

Perlu contoh konkrit?

Misal, Anda mau membeli handphone canggih seharga 10-an atau belasan juta, dengan tujuan untuk memudahkan urusan kerja. Camera-nya bagus, karena memang perlu, buat foto produk dan promosi. Memory-nya besar, karena memang perlu, buat menyimpan foto produk dan data-data penting terkait bisnis.

Boleh? Sah? Menurut saya, itu sah-sah saja. Silakan beli. Soal fungsi tho, bukan soal emosi. Tapi kalau Anda membeli handphone mahal untuk tujuan gaya-gaya saja, kemungkinan itu bagian dari berlebih-lebihan dan bermegah-megahan. Malah mendekati mubazir.

Contoh lain. Anda ingin menambah kendaraan. Cek dulu, apa tujuannya? Untuk delivery barang atau mengantar-ngantar tim. Nah, ini masih boleh. Tapi kalau Anda menambah kendaraan semata-mata untuk gonta-ganti saja atau kesenangan pribadi, kemungkinan itu bagian dari berlebih-lebihan.

Hati-hati. Kita semua paham bahwa harta halal akan dihisab. Harta haram akan diazab. Sekali lagi, hati-hati. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Bolehkah menghardik dan membentak anak? Begini. Tegas, nggak harus marah. Kalaupun harus marah (karena hal-hal prinsip), nggak perlu menghardik dan membentak.

"Memarahi anak dengan berteriak ternyata dapat merusak kepribadian mereka saat dewasa," ungkap Dr Ming-Te Wang, pemimpin penelitian dari Universitas Pittsburgh. Di mana penelitian ini dimunculkan di Journal of Child Development.

Apabila orangtua memarahi anak saat berusia 13 tahun, maka anak tersebut akan berisiko besar memiliki masalah perilaku dan masalah emosional saat dewasa. Bukan itu saja. Si anak bisa menderita depresi di usia 13 dan 14 tahun. Mereka pun cenderung berperilaku negatif di sekolah, sering berbohong, mencuri, dan berkelahi.

Dr. Ming-Te Wang menegaskan, memarahi anak dengan menghardik dan membentak BUKAN langkah yang efektif dalam menyelesaikan masalah. Sama sekali nggak efektif. Tindakan tersebut justru akan berdampak buruk pada anak, kendati hubungan anak dan orangtua cukup dekat. Bahkan anak cenderung MENIRU hardikan dan bentakan yang diterimanya.

Menurut Dr. Laura Markham lulusan Columbia University, hardikan dan bentakan orangtua kepada anak akan membuat anak menutup diri secara emosional. Menurut Martin Teicher, profesor di Harvard Medical School, teriakan orangtua kepada anak akan merusak struktur otak anak.

Terkait itu, menurut Lise Eliot dari Chicago Medical School, memarahi anak dengan nada tinggi dapat mengganggu struktur otak anak. Malah pada masa pertumbuhan (golden age), suara keras dan hardikan dari orangtua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh.

Sebagian kita mungkin berkilah, "Ah, nggak juga. Buktinya, aku dulu sering dibentak-bentak ibu. Toh sekarang pintar juga, IPK tiga koma sekian." Benarkah argumen ini? Padahal, mungkin saja, tanpa bentakan, ia bisa lebih pintar. Bahkan jenius!

Hal ini perlu kita bahas karena pada umumnya kita menempatkan anak dan keluarga sebagai prioritas. Ya, prioritas.

Sekiranya kita sayang sama anak-anak kita dan peduli dengan kecerdasan juga pertumbuhan mereka, baiknya kita urungkan saja niat kita untuk menghardik mereka. Sekiranya sesekali kita terpaksa marah (karena hal-hal prinsip), toh masih bisa dilakukan tanpa menghardik dan membentak. Sekian dari saya, Ippho Santosa.

Semoga bermanfaat.
Tetap berhemat dan hanya membeli barang-barang yang tepat, menjadi tantangan bagi mereka yang tiba-tiba 'punya uang'. Di antara mereka ada yang mendekati boros.

Bagaimanapun, boros adalah akhlak yang buruk.

Sepenting-pentingnya uang, ingat, lebih penting lagi ilmu dan akhlak di balik uang. Tanpa ilmu dan akhlak yang tepat, uang bisa menjadi bencana.

Dari dulu sampai sekarang, uang tidak pernah membawa masalah. Sekalipun tidak pernah. Yang masalah itu manusianya. Kurang ilmu, kurang pengendalian diri.

Terkait cara mencari uang, pahami dulu konsekuensi dan risikonya. Kalau memang mau bekerja, yah terimalah konsekuensinya. Uangnya (gajinya) nggak seberapa.

Kalau memang mau berbisnis, yah bersiaplah dengan segala konsekuensi dan resikonya. Bisnis mengharuskan kerja keras. Selain itu, kita harus pandai-pandai memutar uang dan menghemat uang.

Setidaknya ada tiga hal atau 'tiga i' yang dianjurkan saat kita mengelola penghasilan alias income:
- invest (putar lagi di bisnis, jadi stok)
- infaq (10% - 20% sedekahkan)
- insyaf (jangan lagi konsumtif)

Sayangnya, mereka yang tidak bertanggung-jawab cenderung menyalah-nyalahkan (blame) dan beralasan (excuse) saat keadaan tidak sesuai dengan harapan. Ini kurang bijak.

Kadang mereka mengeluh soal profit yang nggak seberapa. Padahal, profit-nya sudah lumayan. Pengendalian dirinya yang kurang. Betul apa betul?

Kadang mereka mengeluh soal produk yang sesekali indent. Padahal, produksi dari pusatnya sudah bagus. Manajemen stok di mitranya yang belum bagus.

Ada juga yang ngeluh soal nasibnya yang gitu-gitu aja. Dia lupa, ternyata infaq-nya selama ini juga gitu-gitu aja. Dan siapapun tahu, sedekah itu wasilah untuk berbagai macam perubahan.

Ya, sebagian orang tidak bertanggung-jawab dengan keputusan-keputusan yang telah diambil. Nggak serius di stok. Nggak serius di infaq. Selalu konsumtif, nggak insyaf-insyaf.

Padahal, yang namanya entrepreneur itu harus 100% bertanggung-jawab, nggak boleh menyalahkan keadaan. Pada akhirnya, daripada menyalah-nyalahkan keadaan, mari sama-sama kita berbenah. Siap?

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kadang orang-orang muda memiliki kerancuan berpikir tentang masa muda. Bahkan ini terjadi pada orang-orang yang sudah berusia 30-an. Harus dipahami ada perbedaan nyata antara menikmati masa muda dan menghancurkan masa depan.

Sebenarnya, terdapat berbagai pilihan untuk menikmati waktu luang. Terlebih di masa muda. Nah, pastikan kita memilih kegiatan-kegiatan positif yang membawa manfaat optimal bagi diri, keluarga, dan tim kita. Toh kita sama-sama tahu, waktu jauuuuuh lebih berharga daripada uang. Right?

Rasulullah pernah bersabda, “Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang.” (HR Al-Bukhari). Di tulisan ini, penekanan kita pada waktu luang.

Syaikh As-Sa’di pun mengingatkan, ”Termasuk di antara keajaiban takdir dan hikmah ilahiyyah adalah sesiapa yang meninggalkan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, padahal memungkinkan baginya untuk meraihnya (namun dia tidak berusaha meraihnya), maka dia akan mendapat UJIAN dengan disibukkan dalam hal-hal yang membahayakan bagi dirinya.”

Dengan kata lain, tidak sungguh-sungguh untuk hal-hal yang membawa manfaat akan menjatuhkan diri kita pada hal-hal yang membawa mudharat. Hati-hati, ini nggak main-main.

Uang itu amanah. Tapi jangan salah, waktu lebih amanah. Perlu dikelola benar-benar. Pastikan diri kita terlepas dari hal yang sia-sia, apalagi yang mudharat. Terutama kita yang sudah menjadi kepala rumahtangga, di mana tindakan kita akan dicontoh dan diteladani oleh istri juga anak-anak kita.

Tambahan lagi kalau kita pengusaha. Ya, kita punya tim dan mitra. Mereka perlu diperhatikan. Benar-benar diperhatikan. Kok kita sampai hati, begitu punya kelapangan waktu kita malah buang-buang waktu? Tim dan mitra juga mengharapkan keteladanan dari kita. Sekali lagi, keteladanan.

Ketimbang kepo-kepo di socmed (IG dan FB), lebih baik kasih komen-komen positif di socmed tim. Itu namanya motivasi. Ketimbang nonton konten-konten unfaedah di YouTube, lebih baik kasih chat positif di grup WA sama tim. Itu namanya interaksi.

Pada akhirnya, penuhi dan sesaki HARI KITA dengan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat. Otomatis kita akan menjauh dari aktivitas-aktivitas yang sia-sia. Insya Allah. Semoga tulisan ini menginspirasi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Internet + Socmed + WA Chat = Money Magnet

Ya, internet jika digunakan bareng socmed dan WA chat bisa menjelma jadi magnet. Tepatnya, mesin uang. Saran saya, "Biarkan mesin uang itu bekerja, maka kita akan punya waktu lebih leluasa untuk keluarga dan ibadah. Juga untuk liburan."

Senior-senior saya di bisnis selalu mengingatkan, "Nggak harus punya toko dan budget promosi yang besar untuk memulai bisnis. Nggak harus. Sebaliknya, cobalah kurangi penggunaan flyer, spanduk, dan salesman."

Ngelapak? Nggak harus. Buka stand? Nggak harus. Dengan mesin bernama internet dan socmed, kita bisa menghasilkan penjualan yang jauh lebih banyak dengan biaya yang jauh lebih hemat, dengan cara yang jauh lebih simple. Betul apa betul?

Belakangan ini, kekuatan media konvensional seperti spanduk, koran, dan radio kian dipertanyakan oleh pakar-pakar. Ternyata memang begitu, menurut saya. Makanya, sudah nggak zaman, promosi pakai brosur, flyer, spanduk, iklan koran, dan iklan radio. Kalaupun masih ada, yah nggak sebanyak dulu lagi.

Yang saya rasakan, dengan internet dan socmed, hasilnya bisa lebih efektif, lebih efisien, dan sangat terukur. Di komunitas saya (komunitas BP), mitra-mitra dilatih untuk melakukan sosialisasi produk melalui socmed. Setelah itu, diarahkan ke WA chat. Nah, karena penawaran yang menarik dan bukti-bukti yang real, akhirnya prospek pun berubah jadi konsumen, bahkan jadi partner. Alhamdulillah.

Begitulah. Lima tahun terakhir, internet dan socmed kian menunjukkan taring dan cakarnya. Ditambah semakin meratanya penyebaran smartphone di tengah masyarakat. Apalagi orang perkotaan menghabiskan waktunya 3-5 jam sehari bersama smartphone.

Sudah semestinya semua pihak (mulai dari brand owner, distributor, agent, reseller, termasuk staff CS) harus belajar benar-benar soal internet dan socmed. Jika tidak, akan digilas zaman! Ya, digilas zaman!

Ingat, BUKAN zaman yang kejam. BUKAN internet yang kejam. BUKAN socmed yang kejam. Mungkin kita yang tidak mempersiapkan diri. Saran saya, mari mempersiapkan diri. Daripada anti sama socmed, lebih baik mempelajari dan memanfaatkannya. Ready? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda bahagia?

Rekan-rekan anda bahagia?

Sebuah artikel bertajuk "16 Things Guaranteed To Make You Happy At Work" yang dimuat di Forbes menyarankan kita agar bahagia, untuk menjaga jarak dari orang-orang yang berpikiran negatif. Ya, menjaga jarak. Kenapa?
           
Soalnya, orang-orang yang berpikiran negatif cenderung tidak bahagia dan sering berkubang pada masalah. Sehingga gagal mencurahkan perhatian pada solusi. Repotnya lagi, mereka senang jika ada orang lain yang merasakan masalah yang sama.

Rupanya, hal itu dapat membuat mereka merasa lebih baik. Yang paling berbahaya adalah jika pengaruh negatif itu datang dari atasan (leader) yang tidak memiliki keterikatan. Ini parah.

Di BP, kita percaya bahwa leader adalah contoh alias teladan. Harus membawa pengaruh positif terhadap tim, setiap hari. Sekiranya sesekali leader keliru, kemungkinan tim masih bisa menerima dan memaafkan. Diterima, kenapa? Karena setiap hari leader itu sudah berusaha memberikan pengaruh yang positif terhadap tim.

Sebuah artikel berjudul "Being Happy At Work Matters" di Harvard Business Review memaparkan bahwa orang-orang yang tidak bahagia dan tidak memiliki keterikatan bukanlah rekan bisnis yang menyenangkan.

Lebih dari itu, mereka tidak bisa membawa nilai tambah, malahan dapat membawa pengaruh negatif terhadap bisnis. Lebih gawat lagi jika pihak yang lebih superior (leader) yang bersikap sedemikian. Disebut gawat, karena dapat mempengaruhi orang banyak.

So, hati-hati. Jangan biarkan bahagia anda direnggut oleh mereka yang berpikiran negatif dan tidak bahagia. Kalau anda bahagia, insya Allah itu akan sangat baik dampaknya buat diri anda, bisnis anda, dan keluarga anda.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.