Ippho Santosa - ipphoright
26.3K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Hari Ibu telah berlalu? Nggak juga. Karena pada hakekatnya, Hari Ibu itu harus diperingati, dimaknai, dan diisi setiap hari.

Cristiano Ronaldo terkenal sangat dekat dengan ibunya. Ia sempat memberikan kejutan kepada ibunya. Nggak main-main, ketika ibunya berulang tahun pada 31 Desember beberapa waktu yang lalu, Ronaldo menghadiahkan sebuah mobil Porsche Boxster berwarna putih!

Orang seperti ini mungkin disebut anak mami.

Disebut anak mami, emang napa? Yang penting, nggak manja. Satu temuan dari Grant Study, Harvard University, justru menunjukkan ‘anak mami’ memiliki potensi sukses lebih besar ketimbang mereka yang memiliki hubungan kurang harmonis dengan ibunya. Nah lho!

Studi tersebut memaparkan 'anak mami' secara konsisten dan persisten mengalami peningkatan karier dan income. Sedangkan pria yang selalu bersitegang dengan ibunya, jarang mendapatkan promosi jabatan bahkan sering mandek!

Pria yang harmonis dan berbakti sama ibunya diketahui beroleh gaji bulanan yang lebih tinggi. Selain itu, risiko terjangkit dementia saat mencapai masa lansia, disinyalir sangat rendah. Keren ya, berbakti itu ternyata menyukseskan juga menyehatkan!

Btw, benarkah penelitian ini?

Grant Study adalah penelitian terkait hubungan orangtua dan anak paling lama dalam sejarah ilmu psikologi. Bermula tahun 1938 dan terus berjalan hingga puluhan tahun kemudian. Studi ini di-refresh 2 tahun sekali, dengan meneliti kehidupan 200-an mahasiswa pria di Harvard University, sewaktu mereka masih kuliah, lulus, dan bekerja.

Menurut YourTango.com pula, pria yang berlabel 'anak mami' rupa-rupanya cenderung lebih setia, lebih empati, lebih bertanggung-jawab, dan lebih menghormati wanita. Jadi, nggak usah risih disebut 'anak mami'. Hehehe. Asal nggak cengeng aja.

Di komunitas bisnis saya, kami menempatkan keluarga sebagai salah satu prioritas. Masih ingat soal 3A?

Pesan seorang senior, "Jangan takut dicemooh 'anak mami'. Pemuda yang dekat dan menghormati orang tuanya, pastilah lebih sukses." Saya sejak lama membahas ini dalam ilmu #7KeajaibanRezeki. Apa pendapat Anda? Kalau boleh, sampaikan tulisan ini kepada saudara-saudara Anda. Mengingatkan.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Perbesar impian kita. Di kehidupan ini, ada baiknya kita berusaha untuk mewujudkan impian orang lain. Menariknya, saat kita berusaha memikirkan dan mewujudkan impian orang lain, maka impian kita lebih mudah untuk terwujud.

Dan inilah salah satu poin yang sering saya bahas di seminar:
-       Ingin maju? Majukan orang lain.
-       Ingin kaya? Kayakan orang lain.
-       Ingin cerdas? Cerdaskan orang lain.
-       Ingin mulia? Muliakan orang lain.
-       Ingin doa dikabulkan oleh-Nya? Doakan orang lain.
-       Ingin diberi uang oleh-Nya? Berikan uang kepada orang lain.

Bukan sekedar sukses. Berusahalah mengantarkan orang-orang di sekitar kita untuk ikut sukses. Bukan sekedar kaya. Berusahalah mengantarkan orang-orang di sekitar kita untuk ikut kaya. Kurang-lebih begitu.

Melalui berbagai dalil, hati kita berkali-kali disentuh dan diingatkan bahwa:
-       Sebenarnya, seluruh manusia adalah satu umat.
-       Membunuh satu manusia berarti membunuh seluruh manusia.
-       Menyelamatkan satu manusia berarti menyelamatkan seluruh manusia.
-       Menghina ayah orang lain, berarti menghina ayah kita sendiri.
-       Menyantuni ibu orang lain, maka fadilahnya akan sampai kepada ibu kita.
-       Mendoakan seseorang, berarti mendoakan diri kita sendiri.

Inilah yang terjadi dan selalu terjadi. Saya yakin, teman-teman setuju dan sedikit-banyak pernah mengalami.

Guru saya suatu ketika berpesan, "Pikirkan perut dan dapur orang lain. Jangan egois. Setiap kali kita memikirkan dan mengurus kepentingan orang lain, percayalah, kepentingan kita akan diurus sama Allah." Semakin hari, saya pun semakin yakin dengan kalimat tersebut. Bagaimana dengan teman-teman?

Saya berharap, setelah membaca tulisan ini, teman-teman semua tambah semangat dalam mewujudkan impian orang lain, terutama impian mitra-mitra dan orang-orang terdekatnya. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Apa persamaan mereka?
CEO Apple, Tim Cook 
CEO Disney, Bob Iger
CEO Starbucks, Howard Schultz
CEO Twitter, Dan Dorsey
CEO Chrysler, Sergio Marchionne
CEO General Motors, Mary Barra
CEO Virgin America, David Cush
Founder Virgin, Richard Branson
Michelle Obama
Martha Stewart
Kris Jenner

Mereka semua ternyata gemar bangun pagi, bahkan bangun awal. Btw tulisan ini pernah saya posting beberapa minggu yang lalu dan hari ini kembali saya posting dengan sedikit tambahan. Karena memang penting.

Satu hal yang pasti, sejak lama, saya membiasakan bangun sebelum subuh. Istilahnya, bangun awal. Dan saya berharap ini menjadi tradisi juga di BP. Besar manfaatnya. Bagi saya, setengah jam sebelum subuh dan setengah jam setelah subuh, adalah waktu istimewa. Golden time.

Kok disebut istimewa? Yah, karena memang begitu. Apapun yang Anda kerjakan di waktu itu akan menjadi ‘sesuatu’. Apakah itu menyusun rencana, mengevaluasi hasil, menyapa tim, mengirim VN, menulis artikel, ataupun kesibukan-kesibukan produktif lainnya.

Tubuh yang baru bangun dan lagi segar-segarnya, lalu disergap dengan udara yang segar, wah benar-benar men-simsalabim-kan keadaan. Extra fresh! Nggak percaya? Yah, Anda coba saja. Bangun awal.

Awet muda, menyehatkan, menyegarkan, meringankan kesibukan, dan mengundang keberkahan, itulah manfaat-manfaat tersembunyi dari bangun lebih awal. Hm, berat? Kalau bangun awal aja susah, gimana mau bangun rumahtangga? Hehehe.

Mereka yang selalu telat bangunnya (setelah subuh) kemungkinan akan sering mengeluh karena sakit-sakit yang mungkin kesannya sepele. Misalnya pening dan lemas. Tapi jangan salah. Lama-lama ini nggak sepele lagi. Bisa parah.

Hati-hati, bangun telat lama-lama bisa mengganggu metabolisme tubuh. Selain itu, bisa memicu sakit kepala berterusan karena cairan serebrospinal bergerak menuju otak. Bukan itu saja, bangun telat juga bisa memicu masalah pencernaan dan kanker hati.

Pantaslah Nabi menganjurkan kita untuk bangun awal dan bergerak, nggak diam. Karena memang itu menyehatkan, mengundang rezeki, dan mengundang keberkahan. Itu janji Nabi. Daripada tersinggung, lebih baik Anda lakukan dan rutinkan saja, bangun awal. Nggak ada ruginya! Untung malah!

Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Siapa yang mencari uang di keluarga Anda? Ayah, ibu, atau dua-duanya? Suami, istri, atau dua-duanya?

Entah siapa yang menempelkan stereotype, seolah-olah mencari uang itu urusan ayah dan mengasuh anak itu urusan ibu. Stereotype itu melekat sejak zaman Siti Nurbaya sampai zaman Siti Nurhaliza. Hehe.

Padahal yang namanya pengasuhan anak atau parenting adalah urusan ayah dan ibu. Ya, dua-duanya. Bahkan kalau bicara tanggung-jawab, itu adalah tanggung-jawab suami (ayah) sebagai imam (pemimpin). Sadar woy!

Penelitian University of Guelph, Kanada, pada tahun 2007 yang bertajuk The Effects of Father Involvement, menunjukkan bahwa anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini, mempunyai kemampuan kognitif lebih prima saat memasuki usia 6 bulan hingga 12 bulan.

Selain itu, mereka juga memiliki IQ yang lebih cemerlang saat menginjak usia 3 tahun dan berkembang menjadi sosok yang mampu memecahkan persoalan dengan lebih bijak. Jelas, ini bukan perkara sepele.

Sentuhan fisik seperti pijat, pelukan, dan berpegangan tangan dapat mengurangi stress dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ini menurut HealthCom. Bukan saja kepada pasangan, ini juga bisa dilakukan kepada anak.

So, anak yang dekat dengan kedua orangtuanya akan relatif lebih cerdas dan lebih sehat. Sekali lagi, pengasuhan anak adalah urusan ayah dan ibu. Bukan salah satunya. Mumpung awal tahun, tidak ada salahnya kalau hal ini menjadi tumpuan perhatian kita. Soal keluarga nih.

Di komunitas BP, kami meyakini ada 3 prioritas dalam hidup, yaitu 3A:
- Allah dan Rasul
- Anak dan keluarga
- Amal jariyah

Bisnis, penting. Profit, penting. Keluarga? Jauh lebih penting. Jangan sampai salah prioritas. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
JUJUR = MUJUR

Memiliki orangtua yang kaya memang membanggakan. Tapi dikaruniai orangtua yang jujur, amanah, dan bisa dipercaya lebih membanggakan. Betul apa betul?

Kalau ngomong orangtua dan keluarga, biasanya kita selalu membahasnya dengan penuh perhatian. Bahkan sampai terharu. Begitulah, hampir semua orang membanggakan orangtuanya. Dan itu sah-sah saja karena demikian besar jasa mereka.

Didikan dari orangtua selama belasan tahun, membekas dalam hati kita, bahkan dalam tarikan nafas kita. Nggak heran kalau kemudian itu mewarnai keputusan-keputusan kita. Bahkan mempengaruhi peruntungan kita. Dan ini jamak terjadi pada siapa saja, termasuk Anda dan saya.

Sekarang, giliran kita yang menjadi orangtua, setidaknya calon orangtua. Maka bawa pulanglah rezeki yang baik-baik, yang bersih. Jangan sampai kepolosan anak-anak kita di rumah, kita kotori dengan rezeki yang tidak halal. Jangan sampai.

Ingatlah, rezeki yang halal akan mempengaruhi peruntungan anak-anak kita dan keluarga kita. Sudah banyak contohnya. Apalagi kita ingin menjadi orangtua yang benar-benar dibanggakan oleh anak-anaknya.

Menurut riset Thomas Stanley, sikap jujur adalah salah satu faktor penentu menuju kesuksesan. Jujur yah mujur. Selanjutnya, menurut riset Anita Kelly dan Lijuan Wang dari University of Notre Dame, jika ingin hidup tenang dan sehat, maka berhentilah berbohong. Ya, demikianlah faktanya!

Sukses atau tidak, terkenal atau tidak, kaya atau tidak, sudah semestinya kita berusaha menjadi orangtua yang bisa dibanggakan oleh anak-anak kita. Dengan apa? Dengan menjadi sosok yang jujur, amanah, dan bisa dipercaya, apapun latar belakang kita. Saya yakin, Anda setuju dengan saya. Teman-teman setuju?

Pada akhirnya, saat kita jujur, anak pun akan merasa, "Aku adalah anak yang beruntung." Mujur! Sekian dari saya, Ippho Santosa.
REZEKI PUN MENINGKAT...

Tahun 2019 yang lalu, alhamdulillah saya berkesempatan umrah bareng mitra-mitra BP. Ini pengalaman yang sangat mengesankan bagi saya. Btw, apa saja keutamaan umrah? Banyak. Salah satunya, peningkatan dari segi rezeki.

Begini. Kita sedekah Rp2juta saja, terasa balasannya. Dahsyat. Hebat. Apalagi berumrah, di mana kita mengeluarkan uang Rp20juta bahkan lebih. Sampai-sampai mengorbankan waktu dan meninggalkan keluarga. Betul apa betul?

Bukan karena kaya, kita berumrah. Tapi, karena berumrah, insya Allah kita akan dikayakan. Kaya, ini sih bukan tujuan. Melainkan keutamaan dan fadilah dari berumrah.

Hm, apa iya sih? Dulu, kalau nggak salah tahun 2009, ibu saya tanpa sengaja pernah bercerita tentang keinginannya untuk berumrah di bulan Ramadhan. Sebut saja, angan-angan. Tahu sendiri kan, umrah Ramadhan dua kali lipat lebih mahal daripada umrah biasa.

Saat itu saya nggak punya uang. Bener-bener nggak punya uang. Tapi alhamdulillah, saya masih punya keyakinan. Langsung saja saya sambar, "Insya Allah berangkat, Bu. Umrah Ramadhan." Ternyata, beneran. Dengan izin Allah, tahu-tahu uangnya ada dan ibu saya bisa berangkat. Surprise-nya lagi, saya pun ikut berangkat.

Sepulang umrah, masya Allah, terjadi peningkatan dari segi rezeki. Sangat banyak. Itulah yang saya alami. Dan itu pula yang terjadi pada kebanyakan orang. Mungkin juga pada Anda. So, jangan pernah kuatir uang bakal habis karena biaya umrah. Keluarkan saja. Tenang, pasti berbalas kok.

Saya pun turut mendoakan, semoga teman-teman yang belum berumrah, bisa berumrah. Segera. Aamiin. Dengan pembimbing mana saja, dengan travel mana saja. Boleh dengan saya. Boleh dengan BP. Boleh dengan yang lain. Nggak masalah. Yang penting, berangkat.

Semoga kita semua dimampukan. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
TIMPANG

Seorang rabi Yahudi, Michael Lerner, pernah meminta pemerintah Amerika Serikat turut andil dalam mewujudkan pemerintahan Palestina yang sah. Ungkapnya, "Semua manusia sama berharganya di hadapan Tuhan, termasuk rakyat Palestina dan manusia lainnya." Ini soal keadilan.

Sang rabi juga menyayangkan ketimpangan ekonomi AS di mana 1% kaum elite menguasai 80% kekayaan negara. Sekedar perbandingan, di Indonesia 1% menguasai 40%. Dengan kata lain, di Indonesia timpang, tapi di AS dua kali lebih timpang!

Bagaimana Islam menyikapi ini? Hadirnya perintah sedekah, zakat, kurban, dan wakaf adalah salah satu cara Sang Pencipta untuk mendistribusikan kekayaan. Setidaknya, bisa mendekati angka 10% di mana 10% pengusaha menguasai 90% kekayaan, seperti yang diisyaratkan oleh Nabi Muhammad.

Syukur-syukur bisa di angka 20%, di mana 20% orang yang menguasai 80% kekayaan, seperti yang diisyaratkan dalam Hukum Pareto. Semakin merata, yah semakin baik. Karena ini akan mencegah penindasan, kedengkian dan kriminalitas.

Dengan adanya sedekah, zakat, kurban, dan wakaf, mau nggak mau si kaya harus melayani orang banyak. Inilah salah satu cara dari Sang Pencipta. Jangan salah, melayani itu mulia, nggak hina.

Terus, adakah cara lainnya untuk mengentaskan ketimpangan ekonomi dan menegakkan keadilan ekonomi? Ada, yaitu dengan menghadirkan peluang usaha yang sangat mudah diakses dan dimulai oleh siapa saja. BP salah satunya insya Allah.

Terlepas dari itu, di komunitas BP setiap leader harus melayani timnya. Ya, harus melayani timnya. Ini arahan saya untuk semua leader. Dan harus berusaha keras agar timnya meraih income yang tinggi, tapi relatif merata satu sama lain. Bukankah itu spirit BP sejak awal? Profit-nya relatif adil dan relatif merata. Jangan terlalu timpang!

Sesama distributor di satu komunitas harusnya punya income yang tidak terlalu jauh berbeda. Sesama agent di satu komunitas harusnya punya income yang tidak terlalu jauh berbeda. Kalau ini benar-benar terjadi, berarti leader-nya berhasil.

Mungkin beberapa bisnis, pemerataan ini belum terjadi. Nggak apa-apa. Saya bilang ke mereka, "Mari sama-sama kita berbenah." Kalau perlu, income agent tidak terlalu jomplang dengan income distributor. Bismillah, ini pun bisa insya Allah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sudah punya rumah?

Begini.

Lebih baik rumah tipe 500 tapi punya sendiri, daripada rumah kecil tapi masih ngontrak. Yeee, anak SD juga tau! Hehehe. Nggak usah tersinggung, mending berdoa aja agar dimampukan. Saya turut mengaminkan. Aamiin.
 
Benarkah rumah, mobil, dan harta itu nggak bisa dibawa mati? Siapa bilang! Sebenarnya bisa-bisa saja. Yang ngomong nggak bisa, mungkin memang nggak punya rumah, hehehe. Jangan buru-buru melotot. Saya akan jelaskan pelan-pelan.

Contoh, Anda punya rumah tipe 500. Anda gunakan rumah itu untuk menaungi anak dan istri. Bukankah itu bagian dari ibadah, bahkan salah satu ibadah yang utama? Lalu Anda siapkan satu kamar, kalau-kalau ada tamu. Lalu, sesekali Anda adakan majelis zikir dan majelis ilmu di rumah.

Lalu, sekian lama Anda tampung sanak-keluarga yang merantau di kota Anda. Lalu, Anda punya beberapa rumah, nah dua di antaranya Anda gunakan untuk mess karyawan dan rumah tahfidz. Insya Allah itu semua jadi amal kebaikan. Kalaupun nanti diwariskan, itu juga jadi amal kebaikan. Betul apa betul?

Lha, gimana kalau belum punya rumah? Hehehe, nggak usah panik, mending pergi piknik. Diniatkan dan diikhtiarkan aja. Tipe 200? Boleh. Tipe 500? Boleh. Beberapa unit? Juga boleh. Saya turut mendoakan, semoga Anda segera memiliki rumah idaman dan itu menjadi simpul kebaikan, seumur hidup Anda bahkan setelah Anda tutup usia. Aamiin.

Di komunitas BP, mereka yang sudah berumrah, saya arahkan agar mulai men-DP rumah. Jualan, hemat-hemat, nabung-nabung. Insya Allah kalau konsisten dan persisten, akan cukup uangnya. Bisa DP rumah, bahkan beli cash. Alhamdulillah, sejauh ini sudah banyak buktinya. Bukan satu-dua orang. Yang belum punya rumah, semoga dimudahkan ya.
Sudah DIUKUR? 🤔🤔🤔

Dalam menjalankan bisnis pada tahun kedua dan tahun-tahun berikutnya, saya menyukai sesuatu yang terukur, terutama untuk urusan uang. Karena, hanya sesuatu yang terukur yang bisa ditingkatkan.

Kalau nggak terukur, apa yang mau ditingkatkan?

Omset, diukur.
Profit, diukur.
Zakat, diukur.
Sedekah, diukur.
Cost, diukur.

Begitulah seharusnya. Kemudian, barulah dievaluasi untuk ditingkatkan.

Action memang perlu. Berani juga perlu. Terutama untuk memulai. Tapi, untuk membesarkan, kita perlu ilmu. Perlu perencanaan. Perlu perhitungan. Perlu analisa. Nggak bisa asal action.

Kembali soal uang, tepatnya soal income. Di komunitas BP setidaknya ada lima hal atau 'lima i' yang dianjurkan saat kita mengelola income:
- in project (alokasikan pada project, silakan konsultasi sama mentor yang kompeten)
- invest (putar lagi di bisnis, jadi stok)
- infaq (10% - 20% sedekahkan)
- insyaf (jangan lagi konsumtif)
- irit-irit alias berhemat

Kalau dirangkum dan dirangkai, jadilah 5i atau 'lima i'. Simple tapi tokcer.

Percayalah, yang sering terjadi BUKAN kurangnya uang. Tapi kurangnya ilmu pengelolaan uang. Nah 'lima i' tadi adalah ilmu dasar dalam menyikapi uang, tepatnya menyikapi income. Simple, semoga tetap bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Berapa UMUR Anda? Berapa lagi SISANYA? Bismillah, kali ini saya akan membahas soal harta dan prioritas.

Guru saya pernah bertanya, "Benarkah harta itu titipan? Benarkah harta itu tangan kita? Jangan-jangan sudah masuk ke hati kita." Saya pun terdiam mendengar pernyataan itu. Sejenak, saya coba merenung.

Kita bilang, harta itu titipan. TAPI begitu harta diambil, kita menyebutnya 'ujian'. Wajah kita menunjukkan kesan 'berat' dan 'derita'. Begitu asyiknya kita sama harta, sampai-sampai lupa sama prioritas.

Hei, pahami benar-benar soal 'Prioritas 3A'
- Allah dan Rasul (A1)
- Anak dan keluarga (A2)
- Amal jariyah (A3)

Bukannya nggak boleh punya harta. BOLEH. Tapi, hendaknya diarahkan ke '3A'.

Begitulah. Sudah semestinya setiap langkah yang diayunkan mengarah pada '3A' ini. Jika tidak, dapat dipastikan Anda sudah salah langkah dan salah arah. Di komunitas BP, berkali-kali saya ingatkan soal ini, terutama buat diri saya sendiri.

Hati-hati. Durasi menunjukkan prioritas. Ini sih nggak jaminan, tapi menunjukkan. Sebut saja, indikator. Mau contoh?

Begini. Anda bilang, sholat itu penting. Tapi sholat Anda lebih cepat daripada bayi berganti popok. Selalu seperti itu. Maka, ada kemungkinan sholat nggak terlalu penting bagi Anda.

Anda bilang, socmed tidak penting. Tapi Anda bermain socmed lebih lama daripada bayi yang tidur siang. Selalu seperti itu. Maka, ada kemungkinan socmed sangat penting bagi Anda.

Ya, durasi menunjukkan prioritas.

Hidup ini singkat. Betapa sering Anda bertemu teman kuliah dan begitu Anda perhatikan wajahnya baik-baik, Anda melihat garis-garis ketuaan di wajahnya. Padahal dulu Anda mengenalnya begitu energik dan begitu segar di kampus.

Ya, sekarang Anda menganggapnya telah menua. Padahal, di waktu yang sama, dia juga menganggap begitu terhadap Anda. Sama-sama terlihat menua!

Steve Jobs menjelang sekarat, barulah paham tentang satu di antara '3A'. Kita jangan sampai terlambat!

Btw, saya suka travelling. Anda juga kan? Padahal, ke manapun kita travelling, sebenarnya destinasi terakhir yang kita tuju adalah liang kubur. Ya, liang kubur.

Dengan kata lain, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, masing-masing kita setiap harinya melangkah menuju dan mendekat ke liang kubur. Itu pasti, tak ada keraguan seujung kuku pun!

Sebelumnya, saya mau bertanya. Berapa umur Anda sekarang? Saat artikel ini ditulis, umur saya sekitar 42. Misal, saya diberi jatah umur 65. Yah, ini sekedar contoh saja. Bukan mustahil sebenarnya malah lebih singkat.

Kalau umur saya sekarang 42 dan diberi jatah umur sampai 65, itu artinya 2/3 badan saya sudah masuk ke liang kubur. Tanah sudah sampai sedada saya. Tak lama lagi, tanah akan menyentuh hidung dan mulut saya.

Selang beberapa tahun, orang akan menyebut saya 'bau tanah'. Duh!

Umur Anda 30, 31, atau 32 tahun? Berarti setengah dari badan Anda sudah masuk ke liang kubur!

Pertanyaan terakhir, sudahkah bisnis Anda menjadi amal jariyah bagi Anda? Sudahkah bisnis Anda mengarahkan Anda pada 3A? Sudahkah harta berada di tangan Anda, bukan di hati Anda? Think. Selagi masih ada waktu, mari kita sama-sama berbenah. Siap?

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
LAGI KURANG SEHAT?

Jatuh sakit, jatuh bangkrut, dan kecurian adalah hal-hal yang kurang menyenangkan. Kadang kita menyebutnya dengan musibah. Lantas, apa saran saya? Izinkan saya bercerita sebentar.

Hari itu saya menjenguk sahabat saya di sebuah rumah sakit. Seperti yang sudah-sudah, saya datang bersama istri. Kebiasaan saya, kalau menjenguk orang sakit selalu setel wajah cerah dan ceria. Menyebarkan optimisme.

Kalau kita setel wajah suram dan muram, itu pesan yang melemahkan bagi si sakit dan kemungkinan besar terekam oleh otak bawah sadarnya. Pesimis, efeknya. Nggak bagus.

Kepada istri si sakit, saya berusaha menuliskan pesan singkat. Di mana pesan ini saya kutip dari kata-kata guru saya, "Acapkali Allah bekerja dengan cara yang misterius. Kadang kita nggak tahu apa tujuan dan hikmahnya. Yang jelas, kita tahu bahwa Allah itu maha baik, satu kali pun TAK PERNAH zalim."

Sakit. Mungkin ini untuk menaikkan derajat. Mungkin ini untuk menggugurkan dosa.

Sambung saya, "Jadi, tugas kita adalah berbaiksangka dan bersabar. Termasuk, besar harapan. Toh kita sama-sama menyadari, Allah adalah sebaik-baik perencana. Tidak ada rencana-Nya yang sia-sia. Insya Allah semua dalam bingkai kasih dan sayang-Nya."

Hidup + Ujian = Kualitas Hidup

Dan terakhir pesan saya, "Sesayang-sayangnya kita sama pasangan kita, ternyata Allah LEBIH sayang sama dia. Jauh lebih sayang, sangat penyayang, bahkan maha penyayang. Sekali lagi, tak mungkin Allah bertindak zalim."

Berbaiksangka dan bersabar, memang ini tidak mudah. Namun tidak ada salahnya kita upayakan. Sekiranya teman-teman kita atau keluarga kita tengah sakit, teruskan pesan saya ini kepada mereka. Demikian juga mereka yang bangkrut, kecurian, dan terkena musibah.

Mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini, bertambah-tambah baiksangka dan sabar mereka. Aamiin. Mohon doanya untuk saya dan keluarga saya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Massive Action, Massive Income

Manusia dikaruniai akal dan tenaga. Selain itu, manusia juga dikasih kesempatan untuk memilih dan bermimpi. Apalagi manusia juga dikasih kemampuan untuk berubah dan beradaptasi.

Ya, makhluk yang bernama manusia itu komplit, kompleks, dan hebat sekali.

Nikmat manakah yang kita dustakan? Jika kita mengingat nikmat-nikmat dari-Nya, insyaAllah kita malu untuk berkeluh-kesah, termasuk saat terlintas keinginan untuk jadi pengusaha. Pada dasarnya, setiap kita bisa jadi pengusaha.

Nggak ada modal? Jangan-jangan nggak ada kemauan. 😅

Nggak ngerti jualan? Jangan-jangan nggak mau belajar. 😅

Nggak ada waktu? Jangan-jangan nggak ngerti prioritas. 😅

Daripada ngeluh kecilnya gaji, daripada ngeluh tingginya inflasi, daripada ngeluh biaya umrah dan haji, mending coba mandiri. Bisnis sendiri. Mulai sebisanya, sambil jalan coba belajar dan beradaptasi.

Di komunitas BP, alhamdulillah kami sama-sama sudah mengalami apa itu percepatan.

Ingat. Kalau income kita lumayan, banyak hal konkrit yang bisa kita lakukan untuk keluarga, sesama, dan agama. Belum bisa? Aminkan, ikhtiarkan. Setidaknya saat ini kita harus berusaha keras mencukupi kebutuhan keluarga. Itu yang utama.

Melalui bisnis BP, saya berusaha membantu mitra-mitra:
- mereka nggak perlu pusing soal produksi, keuangan, SDM, dan legal.
- biaya operasional super-minim
- pembinaan mitra super-intens
- margin dan repeat order sangat lumayan
- produk tahan lama

Alhamdulillah, risiko dan hal-hal yang kita takutkan dalam bisnis hampir-hampir terkikis habis.

Menurut saya, untuk sukses di bisnis, yang penting kita mau belajar dan mau mencoba. So, berhentilah mengeluh. Alihkan saja energi kita untuk terus-menerus belajar dan terus-menerus mencoba. Pantang menyerah. Istilahnya, massive action. Mudah-mudahan dengan massive action, dalam waktu singkat kita bisa mencetak massive income.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Siap? 😎
4 LAPIS YANG MENENTUKAN

Di setiap pembinaan ke mitra-mitra, panjang-lebar penjelasan yang saya berikan dan salah satunya tentang pergaulan dan lingkungan. Istilah lainnya, ekosistem. Saya percaya, bisnis yang bagus BUKAN soal tim dan sistem saja, tapi juga ekosistem.

Bergaul dengan siapa saja, boleh. Supel. Namun soal sahabat, jangan main-main. Mesti kita pilah dan pilih. Karena akan mempengaruhi akhak, amal, dan pendapatan kita. Nggak percaya? Coba ingat-ingat lagi kalimat hikmah berikut ini, "Bergaul dengan penjual wangi, dapat bau wanginya. Bergaul dengan pembakar besi, dapat bau bakarannya."

Dan menurut ilmu pengembangan diri, siapa Anda tercermin melalui lima orang sampai sepuluh orang yang terdekat dengan Anda. Nabi Muhammad pun wanti-wanti, "Kesolehan seseorang sesuai dengan kesolehan teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya,” yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi.

Menariknya, sebanyak apapun teman Facebook Anda dan follower Instagram Anda, sebenarnya Anda hanya bisa memiliki lima orang teman yang benar-benar dekat dalam satu waktu. Apa iya? Iya! Pernyataan mengejutkan tersebut dibuktikan Robin Dunbar lewat penelitian antropologis.

Pada tahun 1990-an, Robin Dunbar menghelat penelitian akbar terhadap enam juta panggilan telepon dari 35 juta orang. Dia menganalisis hubungan seseorang dengan yang lainnya. Lalu, dia mencermati frekuensi menelepon satu sama lain dan mengkategorikan hubungan tersebut.

Hasilnya? Berdasarkan penelitian ini, ia mengemukakan Teori Lapisan Dunbar. Teori tersebut menyatakan bahwa manusia pada dasarnya hanya mampu membangun hubungan yang berarti dengan maksimal 150 orang dan dibagi menjadi empat lapisan.

- Lapisan pertama adalah 4 sampai 5 orang sahabat terdekat.

- Lapisan kedua yaitu 11 orang terdekat.

- Lapisan ketiga yaitu 30 orang teman.

- Lapisan keempat yaitu 129 orang teman.

Karena bagi Anda tulisan ini sangat penting, Anda boleh men-share tulisan ini. Boleh sekarang, atau nanti saja begitu Anda selesai membacanya.

Uniknya, menurut Washington Post, orang-orang pintar biasanya memiliki teman lebih sedikit. Salah satu sebabnya, seringkali pemikiran orang-orang pintar ini mengembara pada hal-hal yang sangat besar atau terkait masa depan (visioner), di mana khayalak awam lazimnya belum sanggup mengimbanginya.

Sekali lagi, terkait sahabat, jangan main-main. Mesti kita pilah dan pilih. Keberadaan mereka hendaknya mengarahkan kita pada impian kita, baik impian jangka pendek (dunia) maupun impian jangka panjang (akhirat). Insya Allah ekosistem di BP sangat memperhatikan dua hal itu, impian jangka pendek dan impian jangka panjang.

Pada akhirnya, bisnis yang bagus BUKAN soal tim dan sistem saja, tapi juga ekosistem. Insya Allah kita semua bisa menemukan bisnis yang tepat. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Boleh di-share.
CROWD & CASH

Facebook (FB) dan Instagram (IG) adalah dua senjata penjualan andalan kita saat ini. Boleh dibilang, FB dan IG sekarang tengah ramai-ramainya, terutama IG. Ada keunikan di sana. Apa itu?

Ibaratnya media, di FB dan IG, yang menjadi redaktur dan editornya adalah Anda. Ya, Anda. Pembacanya? Teman-teman Anda dan keluarga Anda. Mereka pun bisa me-reply. Interaktif. Di social media, begitulah cara kerjanya. Beda dengan koran biasa (koran fisik).

Orang-orang bisnis dan pemasaran mesti melek soal beginian.

Prinsip pemasaran itu kan sederhana. Di mana ada keramaian (crowd), di situlah entrepreneur dan marketer turut berada. Mendekat. Merapat. Dari sana bisa menghasilkan uang (cash). Pesan senior saya, "Mari kelola baik-baik akun Facebook dan Instagram kita. Sepertinya Facebook dan Instagram akan bertahan sangat lama dan semakin berpengaruh."

Di koran biasa, komunikasi hanya berlaku satu arah. Kalau di FB dan IG? Yah, dua arah. Interaktif.

Memiliki akun FB dan IG adalah langkah awal yang bijak. Maka aktiflah di sana. Tapi maaf, itu sama sekali tidak cukup. Kita harus belajar ilmu optimasi agar akun kita bisa muncul dan selalu muncul ketika netizen melakukan pencarian (search atau explore). Dan ini ada ilmunya. Optimasi nama ilmunya. Saat ini saya bikin training-nya hanya untuk mitra-mitra saya.

Berikut ini adalah beberapa tips IG untuk kita semua.

5 Cara Bertumbuh Secara Organik di IG

1. Posting dengan data dan kata-kata yang positif. Kalau postingan negatif, orang-orang yang positif dan potensial akan unfollow.

2. Upload setidaknya 1 postingan dan 4 story per hari. Ini menunjukkan keaktifan dan menjaga interaksi.

3. Gunakan semua fitur yang ada di IG, seperti Video, IGTV, Stickers, dan Live. Setidaknya, gunakan dua di antaranya.

4. Gunakan headline yang dominan dan mencuri perhatian. So, cukup pilih satu atau dua kata sebagai headline.

5. Tetap pada niche kita. Fokus, fokus, fokus. Jangan gonta-ganti topik, tetaplah bahas satu topik.

Siap praktek ya?

8 Alasan Kenapa Orang Unfollow Anda

1. Kurang keterlibatan (interaksi)
2. Posting yang tidak konsisten
3. Terlalu banyak posting dalam satu waktu
4. Kualitas video dan foto yang buruk
5. Postingan yang terlalu emosional
6. Posting hal dan gambar aneh
7. Tiba-tiba bicara di luar topik
8. Terlalu sering merepost

Semua hal ada ilmunya, termasuk mengelola Instagram. Semoga bermanfaat.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Hadirnya masalah itu wajar.

Mana ada manusia yang lepas dari masalah?

Terus, gimana kalau ternyata ada masalah TAPI nggak ada solusinya, nggak ada jalan keluarnya? Sebelum saya jawab, silakan teman-teman baca dulu analogi-analogi berikut ini.

Mungkinkah guru memberikan ujian tanpa menyiapkan jawabannya?

Mungkinkah guru memberikan ujian tanpa mempersiapkan muridnya?

Mungkinkah guru memberikan ujian melebihi kemampuan muridnya?

Mungkinkah guru memberikan ujian dengan niat menyusahkan muridnya?

TIDAK MUNGKIN...

Kalau guru saja sedemikian baik terhadap muridnya, apalagi Allah terhadap hamba-Nya. Jalan keluar pasti ada, insya Allah. Manusia pasti mampu, insya Allah. Berbesarhatilah saat menghadapi #masalah.

Sebenarnya, masalah itu membuat kita semakin matang, semakin tangguh, semakin tawakal, semakin kreatif, dan naik derajat. Ya, naik kelas. Maka, tetaplah berbesar hati. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
SEKARANG ANDA KELAS BERAPA?

Setiap kita ingin 'naik kelas'.

Yang sekarang mahasiswa, pengen jadi sarjana.

Yang sekarang nganggur, pengen jadi karyawan.

Yang sekarang staf, pengen jadi supervisor atau manajer.

Yang sekarang entrepreneur, pengen jadi miliarder.

Yang sekarang jomblo, pengen? Pengen nangis, hehehe.

Nah, begitu kita naik level, sebenarnya kadar masalah pun bertambah. Betul apa betul? Masalah yang dihadapi seorang manajer tentulah lebih rumit daripada masalah yang dihadapi seorang staf.

Masalah yang dihadapi seorang gubernur tentulah lebih rumit daripada masalah yang dihadapi seorang walikota. Mana mungkin berkurang? Dengan kata lain, bertambahnya kadar masalah itu sesuatu yang wajar.

Sebagai hamba-Nya mesti paham soal kadar masalah seperti ini. Jangan berharap segala sesuatu jadi lebih mudah. Lebih baik berharap dan mempersiapkan diri untuk lebih tangguh.

Setuju? 😉
Gagal? Rugi?

Berjumpa teman-teman yang mengalami itu, saya langsung mengutip kata-kata dari guru saya, "Acapkali Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Kadang kita nggak tahu apa tujuan dan hikmahnya. Yang jelas, kita tahu bahwa Dia itu maha baik, satu kali pun tak pernah bertindak zalim."

Gagal. Rugi. Bangkrut. Mungkin ini untuk membersihkan hati dan harta. Mungkin ini untuk menaikkan derajat. Mungkin ini untuk menggugurkan dosa. Mungkin ini untuk menegur kelalaian kita. Atau kemungkinan lainnya.

Sambung saya, "Jadi, tugas kita adalah berbaiksangka dan bersabar. Termasuk, besar harapan. Toh kita sama-sama menyadari, Allah adalah sebaik-baik perencana. Tidak ada rencana-Nya yang sia-sia. Insya Allah semua dalam bingkai kasih dan sayang-Nya."

Dan terakhir pesan saya, "Sesayang-sayangnya kita sama diri kita dan keluarga kita, TERNYATA Allah lebih sayang sama diri kita dan keluarga kita. Jauh lebih sayang, sangat penyayang, bahkan maha penyayang. Sekali lagi, tak mungkin Allah bertindak zalim."

Berbaiksangka dan bersabar, memang ini tidak mudah. Apalagi ketika tagihan dan utang bertumpuk. Namun tidak ada salahnya kita upayakan. Sekiranya teman-teman kita atau keluarga kita tengah jatuh, berikan tulisan saya ini kepada mereka. Mudah-mudahan setelah membaca, bertambah-tambah baiksangka dan sabar mereka.

Setelah itu? Ajak mereka berbenah. Entah itu dari segi ikhtiar, amal, maupun akhlak. Kemungkinan besar, kita bisa jatuh karena kita mengabaikan satu atau beberapa faktor terpenting. Maka, benahi itu.

Tradisi kami di komunitas BP adalah introspeksi.
 
Introspection + Istighfar = Improvement

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Saya pengusaha, alhamdulillah.

Tidak cukup sampai di situ. Saya juga ingin mencetak dan menghadirkan pengusaha yang lebih banyak lagi di negeri ini.

Bukan sekedar wacana, tapi sudah saya konkritkan selama 12 tahun terakhir dengan membangun TK, SD, dan kampus di berbagai kota dengan visi entrepreneurship.

Karena itu pula, ketika saya punya produk suplemen dan laris, saya tetap komitmen untuk TIDAK MASUK ke toko-toko besar walaupun mereka memiliki jaringan nasional.

Saya lebih memilih cara kemitraan. Open reseller. Buka keagenan.

Kenapa? Dengan cara ini, saya percaya akan lebih banyak pengusaha yang dihadirkan dan lebih banyak keluarga yang benar-benar terbantu. Alhamdulillah, itulah yang terjadi 2 tahun terakhir.

Dari segi modal, saya bikin sangat terjangkau. Pembinaan? Setiap hari. Training? Hampir-hampir setiap hari. Soalnya saya tahu persis, kebanyakan mereka adalah pemula. Perlu dibina. Benar-benar dibina.

Lebih capek? Lebih menghabiskan waktu? Mungkin. Tapi demi Allah, saya lebih bahagia.

Doakan saya ya, semoga istiqomah dalam membina mitra-mitra.
Saya penasaran...

Sekiranya saya (Ippho Santosa) menawarkan kesempatan untuk konsultasi bisnis atau mentoring bisnis langsung dengan saya, kira-kira berapa orang ya yang berminat?

Mungkin secara online. Mungkin secara offline.

Bagi teman-teman yang kira-kira ingin konsultasi bisnis dengan saya, silakan WA ke 0812-8777-7100.
STRESS

Pelapor: "Pak Polisi, saya mau lapor. Saya ini distributor. Dan sekarang saya lagi stress."

Polisi: "Stress? Kenapa?"

Pelapor: "Ada dua calon mitra berantem, ngerebutin saya."

Polisi: "Lalu, masalahnya apa?"

Pelapor: "Sepertinya yang bakal menang yang kere, Pak."

🤣🤣🤣

Btw, apapun posisi dan prestasi kita, tak bisa lepas dari stress.

Faktanya, orang miskin yang stress lebih cepat meninggal ketimbang orang kaya yang stress. "Efek kemiskinan ditambah efek stress itu ibarat bom," kata Antonio Ivan Lazzarino, peneliti dari University College London, Inggris.

Profesor Glyn Lewis, pakar epidemiologi psikiatri di Universitas Bristol di Inggris, tidak terkejut dengan temuan tersebut. Karena memang ini lazim terjadi. Terus, gimana solusinya?

Saran saya, harus dicari tahu dulu akar permasalahannya. Jalan-jalan dan liburan hanya bisa memberi kesenangan sesaat. Solusi sejati tidak bisa terhadirkan dari aktivitas-aktivitas tersebut.

Saran berikutnya, minta masukan dari pasangan dan mentor. Hei, ini penting. Sepertinya mereka memiliki pandangan yang lebih jernih terhadap masalah kita. Juga lebih jujur.

Terakhir, bawa setiap masalah dalam doa dan ibadah. Kita semua tahu, hanya DIA yang menggenggam segala solusi. Hanya DIA pula yang bisa menentramkan setiap hati.

Dengan begitu, mudah-mudahan kita, tim kita, dan keluarga kita terbebas dari masalah. Kalaupun ada masalah, nggak sampai stress insya Allah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.