"Udah optimis, kok masih gagal?" Apalagi kalau nggak optimis. Bisa nyungsep πππ
"Udah bisnis, kok masih miskin?" Apalagi kalau nggak bisnis. Bisa lebih miskin πππ
"Udah sedekah, kok masih susah?" Apalagi kalau nggak sedekah. Bisa lebih susah πππ
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul selama ini. Mungkin bukan pertanyaan, tapi tepatnya celetukan. Hehehe.
Akhir Juni dan awal Juni, insya Allah saya akan mengadakan seminar 'Muhammad Sebagai Pedagang' di beberapa kota. Acara ini non-profit. Kalaupun ada HTM, itu semata-mata untuk meng-cover biaya operasional.
Sengaja dibikin tanpa sponsor, biar pembicara lebih leluasa untuk sharing. Niat kami insya Allah untuk berbagi inspirasi dan membawa perubahan. Doakan ya, biar niat kami tetap lurus dan terjaga.
Apa saja yang dibahas? Rahasia kekayaan Nabi dan para sahabat. Memulai usaha dari nol. Bangkit kembali dari kegagalan. Meraih percepatan rezeki. Meraih Rp 100 juta pertama. Insya Allah saya ajak juga beberapa pengusaha untuk menemani saya sharing di panggung.
Buku dengan judul yang sama, Muhammad Sebagai Pedagang, alhamdulillah sudah lama beredar dan royalty for charity. Berikut ini adalah jadwal seminarnya dan nomor kontak panitia setempat.
23 Juni Manado, WA 0811-4326-787.
06 Juli Sukabumi, 0812-9666-5810.
07 Juli Bandung, 0819-9778-7888.
11 Juli Pekalongan, 0819-9778-7888.
14 Juli Solo, WA 0812-1543-6335.
Sampai jumpa ya!
"Udah bisnis, kok masih miskin?" Apalagi kalau nggak bisnis. Bisa lebih miskin πππ
"Udah sedekah, kok masih susah?" Apalagi kalau nggak sedekah. Bisa lebih susah πππ
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul selama ini. Mungkin bukan pertanyaan, tapi tepatnya celetukan. Hehehe.
Akhir Juni dan awal Juni, insya Allah saya akan mengadakan seminar 'Muhammad Sebagai Pedagang' di beberapa kota. Acara ini non-profit. Kalaupun ada HTM, itu semata-mata untuk meng-cover biaya operasional.
Sengaja dibikin tanpa sponsor, biar pembicara lebih leluasa untuk sharing. Niat kami insya Allah untuk berbagi inspirasi dan membawa perubahan. Doakan ya, biar niat kami tetap lurus dan terjaga.
Apa saja yang dibahas? Rahasia kekayaan Nabi dan para sahabat. Memulai usaha dari nol. Bangkit kembali dari kegagalan. Meraih percepatan rezeki. Meraih Rp 100 juta pertama. Insya Allah saya ajak juga beberapa pengusaha untuk menemani saya sharing di panggung.
Buku dengan judul yang sama, Muhammad Sebagai Pedagang, alhamdulillah sudah lama beredar dan royalty for charity. Berikut ini adalah jadwal seminarnya dan nomor kontak panitia setempat.
23 Juni Manado, WA 0811-4326-787.
06 Juli Sukabumi, 0812-9666-5810.
07 Juli Bandung, 0819-9778-7888.
11 Juli Pekalongan, 0819-9778-7888.
14 Juli Solo, WA 0812-1543-6335.
Sampai jumpa ya!
Anda pemula?
Banyak orang yang menunda-nunda untuk memulai bisnis. Mereka menjawab, "Besok-besok. Nanti-nanti." Sementara waktu terus berjalan, tak terhenti. Padahal, begitu dia memulai, sukses finansial tengah menanti.
Satu lagi. Biaya hidup dan tanggungan hidup terus meningkat. Anak pun masuk SD dan SMP. Asal tahu saja, biaya pendidikan di Indonesia naik 2 kali lipat setiap 5 tahun. Inflasi? Tak bisa ditahan. Biaya umrah? Sama, naik terus.
Jelas, menunda-nunda memulai bisnis bukanlah solusi. Dan sebenarnya, tidak harus pintar untuk menjadi entrepreneur. Tidak harus pengalaman. Tidak harus sarjana. Tidak harus terkenal. Tidak harus kaya. Tidak harus ini-itu.
Anda bisa memulainya segera. Walaupun Anda seorang pemula.
Yang pemula, disarankan untuk menjual dan menjualkan terlebih dahulu. Jangan malah menghabiskan uang dan energi untuk mengurusi produksi, ruko (kantor), dan SDM. Ini kompleks sekali dan menghabiskan biaya. Relatif berat bagi seorang pemula.
Bayangkan kalau awal-awal Anda harus menyewa ruko (toko). Membayar listrik-air. Menggaji dan mengelola karyawan. Membeli dan mengolah bahan baku. Selain kompleks sekali, ini semua benar-benar menghabiskan biaya.
Jadi, baiknya? Cari vendor yang bisa membuat produk yang bagus dan menjanjikan margin yang lumayan untuk Anda. Terus? Mulailah menjual dan menjualkan terlebih. Itu dulu. Setelah berkembang, barulah Anda cari SDM dan sewa ruko.
Sekiranya makin berkembang (itu artinya sudah ada demand yang pasti) dan uang Anda sudah memadai, barulah pelan-pelan Anda melakukan produksi. Sekali lagi, baiknya tidak melakukan produksi di awal. Terutama bagi seorang pemula.
Dengan tips-tips ini, Anda bisa memulai bisnis segera dan seketika, bahkan dengan risiko yang sangat minim. Tambahan, akan lebih baik lagi kalau Anda punya mentor yang siap membimbing. Bagaimana? Siap take action?
Banyak orang yang menunda-nunda untuk memulai bisnis. Mereka menjawab, "Besok-besok. Nanti-nanti." Sementara waktu terus berjalan, tak terhenti. Padahal, begitu dia memulai, sukses finansial tengah menanti.
Satu lagi. Biaya hidup dan tanggungan hidup terus meningkat. Anak pun masuk SD dan SMP. Asal tahu saja, biaya pendidikan di Indonesia naik 2 kali lipat setiap 5 tahun. Inflasi? Tak bisa ditahan. Biaya umrah? Sama, naik terus.
Jelas, menunda-nunda memulai bisnis bukanlah solusi. Dan sebenarnya, tidak harus pintar untuk menjadi entrepreneur. Tidak harus pengalaman. Tidak harus sarjana. Tidak harus terkenal. Tidak harus kaya. Tidak harus ini-itu.
Anda bisa memulainya segera. Walaupun Anda seorang pemula.
Yang pemula, disarankan untuk menjual dan menjualkan terlebih dahulu. Jangan malah menghabiskan uang dan energi untuk mengurusi produksi, ruko (kantor), dan SDM. Ini kompleks sekali dan menghabiskan biaya. Relatif berat bagi seorang pemula.
Bayangkan kalau awal-awal Anda harus menyewa ruko (toko). Membayar listrik-air. Menggaji dan mengelola karyawan. Membeli dan mengolah bahan baku. Selain kompleks sekali, ini semua benar-benar menghabiskan biaya.
Jadi, baiknya? Cari vendor yang bisa membuat produk yang bagus dan menjanjikan margin yang lumayan untuk Anda. Terus? Mulailah menjual dan menjualkan terlebih. Itu dulu. Setelah berkembang, barulah Anda cari SDM dan sewa ruko.
Sekiranya makin berkembang (itu artinya sudah ada demand yang pasti) dan uang Anda sudah memadai, barulah pelan-pelan Anda melakukan produksi. Sekali lagi, baiknya tidak melakukan produksi di awal. Terutama bagi seorang pemula.
Dengan tips-tips ini, Anda bisa memulai bisnis segera dan seketika, bahkan dengan risiko yang sangat minim. Tambahan, akan lebih baik lagi kalau Anda punya mentor yang siap membimbing. Bagaimana? Siap take action?
Tadi malam tetangga saya meninggal. Pagi ini saya ikut menyolatkan dan ikut mengangkat jenazah sampai ke mobil. Adapun keluarga almarhumah mengantarkan jenazah sampai ke makam.
Setelah dimakamkan, orang-orang pada pulang. Lantas, apa yang masih tersisa? Apa yang masih tertinggal? Cuma satu, amal kebaikan. Ya, hanya inilah yang benar-benar menemani. Sebut saja, ini bekal ketika mati.
Sudah semestinya, segala kesibukan kita jadi amal kebaikan. Jangan sekedar dapat uang tapi nggak dapat yang lain-lain. Kalau sekedar dapat uang, yah rugi.
Lahirnya atau meninggalnya seseorang, semua sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa. Tak dapat dimajukan, tak dapat dimundurkan, walau hanya sehari. Mari kita mempersiapkan diri.
Sekali lagi, pastikan segala kesibukan kita entah itu bisnis atau kerja, jadi amal kebaikan. Sekiranya berhasil jadi amal kebaikan, mudah-mudahan ini bisa menjadi bekal saat kita mati nanti. Aamiin.
Setelah dimakamkan, orang-orang pada pulang. Lantas, apa yang masih tersisa? Apa yang masih tertinggal? Cuma satu, amal kebaikan. Ya, hanya inilah yang benar-benar menemani. Sebut saja, ini bekal ketika mati.
Sudah semestinya, segala kesibukan kita jadi amal kebaikan. Jangan sekedar dapat uang tapi nggak dapat yang lain-lain. Kalau sekedar dapat uang, yah rugi.
Lahirnya atau meninggalnya seseorang, semua sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa. Tak dapat dimajukan, tak dapat dimundurkan, walau hanya sehari. Mari kita mempersiapkan diri.
Sekali lagi, pastikan segala kesibukan kita entah itu bisnis atau kerja, jadi amal kebaikan. Sekiranya berhasil jadi amal kebaikan, mudah-mudahan ini bisa menjadi bekal saat kita mati nanti. Aamiin.
Adakah orang di rumah Anda yang tidak terpengaruhi oleh internet? Kemungkinan Anda akan menjawab, "Hampir-hampir tidak ada." Saat ini, internet sudah menjadi bagian yang tak terlepaskan dari masyarakat perkotaan (urban society).
Bukan saja dalam pembelian barang, melainkan juga dalam komparasi harga. Dan hal ini saya tekankan pada mitra-mitra saya dalam setiap training. Ya, saya rutin memberikan training kepada mereka, bukan saja soal motivasi tapi juga soal teknis.
Walaupun seorang konsumen tengah berada dan belanja di swalayan, namun tetap saja dia meng-kroscek harga barang sejenis di internet. Diam-diam, dia googling. Cek harga di marketplace. Kalau harga barang di swalayan itu dirasa wajar, barulah dia beli. Kalau dianggap tidak wajar, dia hold dulu.
Ketika konsumen semakin lama menghabiskan waktunya bersama handphone dan internet, terus kita masih saja fokus memasang spanduk dan menyebar flyer, menurut saya itu BUKAN keputusan yang cerdas.
Jujur saja, selama ini saya mengajarkan mitra-mitra saya untuk benar-benar mahir ber-marketing-ria di socmed dan WA. Boleh-boleh saja kita cetak spanduk dan flyer, namun fokus utama kita adalah bagaimana menawarkan di Instagram dan Facebook, dua tongkrongan andalan netizen saat ini.
Harus diakui, Facebook adalah socmed terbesar saat ini, baik di Indonesia maupun di dunia. Adapun saya pribadi lebih menyukai Instagram ketimbang Facebook, apalagi fakta menunjukkan pengguna IG lebih berdaya beli ketimbang pengguna FB. Ini bukan soal selera, tapi soal realita.
Beberapa hari yang lalu, di forum ini saya sudah berbagi tips bisnis untuk pemula. Seorang pemula disarankan untuk menjual dan menjualkan terlebih dahulu. Jangan malah menghabiskan uang dan energi untuk mengurusi produksi, ruko (kantor), dan SDM. Itu tips bisnis dari saya untuk pemula.
Kenapa? Mengurusi produksi, ruko, dan SDM, ini pekerjaan yang kompleks sekali. Selain itu, juga menghabiskan biaya. Boleh dibilang, relatif berat bagi seorang pemula. Nah, kalau menawarkan lewat socmed dan WA, ini akan jauh lebih ringan.
Bayangkan, akhir-akhir ini, sekitar 90 persen orang Indonesia memiliki ponsel. Bahkan 1 orang bisa punya 2 ponsel. Dan hampir semua ponsel tersebut berbentuk smartphone. Ini menurut analis-analis. Itu artinya, masyarakat (baca: prospek) semakin familier dengan Instagram dan Facebook, juga WA.
Perlu diketahui, Indonesia juga merupakan 1 dari 12 negara di dunia yang penggunaan smartphone-nya lebih tinggi daripada penggunaan komputer. Melalui smartphone, masyarakat memanfaatkan fasilitas WA dan Telegram, di samping fasilitas socmed seperti Instagram dan Facebook.
Saya tahu Anda aktif di akun IG dan FB Anda. Tapi sepengalaman saya, untuk tujuan bisnis, aktif saja tidak cukup. Anda harus belajar (baiknya dibimbing) soal marketing di IG, FB, dan WA. Sekali lagi, aktif saja sama sekali tidak cukup.
Pada akhirnya percayalah, promosi-promosi tradisional (spanduk, flyer, ruko, bazaar, pameran, dan sejenisnya) pelan-pelan mulai ditinggalkan, terutama di kategori-kategori tertentu. Ada baiknya kita mulai melek dengan promosi-promosi berbasis internet. Saya harap Anda siap. Benar-benar siap.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Bukan saja dalam pembelian barang, melainkan juga dalam komparasi harga. Dan hal ini saya tekankan pada mitra-mitra saya dalam setiap training. Ya, saya rutin memberikan training kepada mereka, bukan saja soal motivasi tapi juga soal teknis.
Walaupun seorang konsumen tengah berada dan belanja di swalayan, namun tetap saja dia meng-kroscek harga barang sejenis di internet. Diam-diam, dia googling. Cek harga di marketplace. Kalau harga barang di swalayan itu dirasa wajar, barulah dia beli. Kalau dianggap tidak wajar, dia hold dulu.
Ketika konsumen semakin lama menghabiskan waktunya bersama handphone dan internet, terus kita masih saja fokus memasang spanduk dan menyebar flyer, menurut saya itu BUKAN keputusan yang cerdas.
Jujur saja, selama ini saya mengajarkan mitra-mitra saya untuk benar-benar mahir ber-marketing-ria di socmed dan WA. Boleh-boleh saja kita cetak spanduk dan flyer, namun fokus utama kita adalah bagaimana menawarkan di Instagram dan Facebook, dua tongkrongan andalan netizen saat ini.
Harus diakui, Facebook adalah socmed terbesar saat ini, baik di Indonesia maupun di dunia. Adapun saya pribadi lebih menyukai Instagram ketimbang Facebook, apalagi fakta menunjukkan pengguna IG lebih berdaya beli ketimbang pengguna FB. Ini bukan soal selera, tapi soal realita.
Beberapa hari yang lalu, di forum ini saya sudah berbagi tips bisnis untuk pemula. Seorang pemula disarankan untuk menjual dan menjualkan terlebih dahulu. Jangan malah menghabiskan uang dan energi untuk mengurusi produksi, ruko (kantor), dan SDM. Itu tips bisnis dari saya untuk pemula.
Kenapa? Mengurusi produksi, ruko, dan SDM, ini pekerjaan yang kompleks sekali. Selain itu, juga menghabiskan biaya. Boleh dibilang, relatif berat bagi seorang pemula. Nah, kalau menawarkan lewat socmed dan WA, ini akan jauh lebih ringan.
Bayangkan, akhir-akhir ini, sekitar 90 persen orang Indonesia memiliki ponsel. Bahkan 1 orang bisa punya 2 ponsel. Dan hampir semua ponsel tersebut berbentuk smartphone. Ini menurut analis-analis. Itu artinya, masyarakat (baca: prospek) semakin familier dengan Instagram dan Facebook, juga WA.
Perlu diketahui, Indonesia juga merupakan 1 dari 12 negara di dunia yang penggunaan smartphone-nya lebih tinggi daripada penggunaan komputer. Melalui smartphone, masyarakat memanfaatkan fasilitas WA dan Telegram, di samping fasilitas socmed seperti Instagram dan Facebook.
Saya tahu Anda aktif di akun IG dan FB Anda. Tapi sepengalaman saya, untuk tujuan bisnis, aktif saja tidak cukup. Anda harus belajar (baiknya dibimbing) soal marketing di IG, FB, dan WA. Sekali lagi, aktif saja sama sekali tidak cukup.
Pada akhirnya percayalah, promosi-promosi tradisional (spanduk, flyer, ruko, bazaar, pameran, dan sejenisnya) pelan-pelan mulai ditinggalkan, terutama di kategori-kategori tertentu. Ada baiknya kita mulai melek dengan promosi-promosi berbasis internet. Saya harap Anda siap. Benar-benar siap.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kaget saya. Nama saya sampai disebut-sebut di sidang MK
https://www.instagram.com/p/By_b--ElqwE/?igshid=17e50v95ug5c0
πππ
https://www.instagram.com/p/By_b--ElqwE/?igshid=17e50v95ug5c0
πππ
Instagram
IPPHO SANTOSA
Nama saya kebawa-bawa di Sidang MK. Nama yang lain juga. πππ . . Mudah-mudahan sidang sengketa pilpres ini berjalan lancar dan adil. Itu harapan saya. Kalau teman-teman, apa harapannya?
Ada pesan bagus.
"If you can't fly, then run. If you can't run, then walk. If you can't walk, then crawl. Whatever you do, you have to keep moving forward," Martin Luther King Jr.
Walaupun sedikit, walaupun sulit, tetaplah bergerak maju ke depan (keep moving forward). Sebut saja, progresif.
Misal, Anda mau membuka rumah makan. Yah silakan. Kalau belum bisa? Lakukan apa yang bisa. Mungkin buka konter dulu atau buka stand dulu. Belum bisa juga? Tawarkan makanan itu di Instagram dan WA. Lakukan sebisanya. Ini namanya progresif.
Misal, Anda mau membuka toko suplemen. Yah silakan. Kalau belum bisa? Lakukan apa yang bisa. Mungkin buka konter dulu atau buka stand dulu. Belum bisa juga? Jual suplemen itu di socmed dan WA. Lakukan sebisanya. Ini bagian dari progresif.
Harus ada kemajuan. Jangan karena berharap sesuatu yang ideal (besar), akhirnya kita tidak mau melakukan sesuatu yang kayaknya kecil. Jangan begitu.
Intinya, lakukan sesuatu sebisanya dan pelan-pelan diperbesar. Kalau Anda diam saja, yah nggak akan terjadi apa-apa. Dengan kata lain, kalau Anda diam, rezeki juga akan 'diam'. Sayangnya lagi, keberuntungan dan nasib seolah-olah menjauh dari Anda.
Lihatlah di luar sana. Di pohon-pohon. Banyak burung yang akhirnya tertembak mati, padahal dia sudah ingin terbang menyelamatkan diri. Kok bisa? Karena dia sekedar 'ingin terbang' tapi kakinya masih bertengger di dahan. Harusnya? Terbang beneran!
Demikian pula dengan kita. Ada yang ingin memulai usaha. Mau punya toko. Mau punya restoran. Mau punya bengkel. Tapi nggak mulai-mulai. Kenapa? Karena dia sekedar ingin. Harusnya? Mulai beneran. Action beneran.
Sudah action, apakah jaminan sukses? Nggak juga. Tapi ada kemajuan di situ. Apa-apa yang kurang, bisa Anda perbaiki sambil jalan. Sering saya berpesan di seminar, "Tidak harus sempurna untuk memulai sesuatu. Mulai saja, nanti sambil jalan disempurnakan."
Siap? π
"If you can't fly, then run. If you can't run, then walk. If you can't walk, then crawl. Whatever you do, you have to keep moving forward," Martin Luther King Jr.
Walaupun sedikit, walaupun sulit, tetaplah bergerak maju ke depan (keep moving forward). Sebut saja, progresif.
Misal, Anda mau membuka rumah makan. Yah silakan. Kalau belum bisa? Lakukan apa yang bisa. Mungkin buka konter dulu atau buka stand dulu. Belum bisa juga? Tawarkan makanan itu di Instagram dan WA. Lakukan sebisanya. Ini namanya progresif.
Misal, Anda mau membuka toko suplemen. Yah silakan. Kalau belum bisa? Lakukan apa yang bisa. Mungkin buka konter dulu atau buka stand dulu. Belum bisa juga? Jual suplemen itu di socmed dan WA. Lakukan sebisanya. Ini bagian dari progresif.
Harus ada kemajuan. Jangan karena berharap sesuatu yang ideal (besar), akhirnya kita tidak mau melakukan sesuatu yang kayaknya kecil. Jangan begitu.
Intinya, lakukan sesuatu sebisanya dan pelan-pelan diperbesar. Kalau Anda diam saja, yah nggak akan terjadi apa-apa. Dengan kata lain, kalau Anda diam, rezeki juga akan 'diam'. Sayangnya lagi, keberuntungan dan nasib seolah-olah menjauh dari Anda.
Lihatlah di luar sana. Di pohon-pohon. Banyak burung yang akhirnya tertembak mati, padahal dia sudah ingin terbang menyelamatkan diri. Kok bisa? Karena dia sekedar 'ingin terbang' tapi kakinya masih bertengger di dahan. Harusnya? Terbang beneran!
Demikian pula dengan kita. Ada yang ingin memulai usaha. Mau punya toko. Mau punya restoran. Mau punya bengkel. Tapi nggak mulai-mulai. Kenapa? Karena dia sekedar ingin. Harusnya? Mulai beneran. Action beneran.
Sudah action, apakah jaminan sukses? Nggak juga. Tapi ada kemajuan di situ. Apa-apa yang kurang, bisa Anda perbaiki sambil jalan. Sering saya berpesan di seminar, "Tidak harus sempurna untuk memulai sesuatu. Mulai saja, nanti sambil jalan disempurnakan."
Siap? π
"Cita-citanya apa, Nak?"
"Mau jadi dokter."
"Wah hebat. Tapi, kira-kira enakan mana, jadi dokter atau jadi yang punya rumah sakit?"
"Hm, jadi yang punya."
"Nah, yang punya itu namanya pengusaha."
"Oo..."
"Siapa yang mau jadi pengusaha?
"Saya! Saya!"
"Cita-citanya apa, Dik?"
"Mau jadi pilot."
"Wow keren. Tapi, kira-kira enakan mana, jadi pilot atau jadi yang punya pesawat?"
"Hm, jadi yang punya."
"Nah, yang punya itu namanya pengusaha."
"Oo..."
"Siapa yang mau jadi pengusaha?
"Saya! Saya!"
πππ
Itulah cuplikan dialog saya saat berjumpa anak-anak dan guru-guru di TK Khalifah. Ya, weekend kemarin saya berada di Makassar dan Manado untuk kesekian kalinya. Dan perjalanan kemarin terasa istimewa.
Apa istimewanya? Saya berada di Makassar dalam rangka visit 4 outlet TK Khalifah dan saya berada di Manado dalam rangka peresmian TK Khalifah yang baru beroperasi tahun ini. Alhamdulillah.
Jujur, saya nggak nyangka TK Khalifah bisa hadir di Manado.
Berawal dari satu cabang di Batam pada tahun 2007, sekarang TK Khalifah sudah puluhan cabang di seluruh Indonesia, alhamdulillah. Dari Aceh sampai Papua. Dinamai Khalifah yang artinya pemimpin dan pemakmur, karena saya ingin sekali menyebarkan jiwa entrepreneurship.
Saya bercita-cita, melalui TK dan SD Khalifah, hadir lebih banyak lagi pengusaha (entrepreneur) di Indonesia. Sebab itulah, sejak dulu sampai sekarang, slogan kami tetap tauhid dan entrepreneurship. Bukankah entrepreneur itu pemimpin? Bukankah entrepreneur itu pemakmur?
Sekali lagi, khalifah itu pemimpin, khalifah itu pemakmur.
Saya ingin membangkitkan dunia entrepreneurship di Indonesia. Ya, ingin sekali. Berhubung saya bukan pembuat keputusan di negeri ini dan belum bisa berbuat sesuatu yang besar, ya sudah, saya mulai saja sebisanya. Saya mulai dari sekolah, tepatnya dari TK.
"If you can't fly, then run."
"If you can't run, then walk."
"If you can't walk, then crawl."
"Whatever you do, you have to keep moving forward," pesan Martin Luther King Jr. Intinya, lakukan sebisanya dan pelan-pelan diperbesar. Jangan cuma diam. Jangan cuma menunggu. Harus ada proses dan kemajuan.
TK dan SD Khalifah, itulah salah satu kesibukan saya. Seperti yang teman-teman tahu, selain dunia pendidikan, saya juga aktif di dunia kesehatan, tepatnya pendistribusian produk kesehatan. Mudah-mudahan Allah meridhai. Aamiin.
"Mau jadi dokter."
"Wah hebat. Tapi, kira-kira enakan mana, jadi dokter atau jadi yang punya rumah sakit?"
"Hm, jadi yang punya."
"Nah, yang punya itu namanya pengusaha."
"Oo..."
"Siapa yang mau jadi pengusaha?
"Saya! Saya!"
"Cita-citanya apa, Dik?"
"Mau jadi pilot."
"Wow keren. Tapi, kira-kira enakan mana, jadi pilot atau jadi yang punya pesawat?"
"Hm, jadi yang punya."
"Nah, yang punya itu namanya pengusaha."
"Oo..."
"Siapa yang mau jadi pengusaha?
"Saya! Saya!"
πππ
Itulah cuplikan dialog saya saat berjumpa anak-anak dan guru-guru di TK Khalifah. Ya, weekend kemarin saya berada di Makassar dan Manado untuk kesekian kalinya. Dan perjalanan kemarin terasa istimewa.
Apa istimewanya? Saya berada di Makassar dalam rangka visit 4 outlet TK Khalifah dan saya berada di Manado dalam rangka peresmian TK Khalifah yang baru beroperasi tahun ini. Alhamdulillah.
Jujur, saya nggak nyangka TK Khalifah bisa hadir di Manado.
Berawal dari satu cabang di Batam pada tahun 2007, sekarang TK Khalifah sudah puluhan cabang di seluruh Indonesia, alhamdulillah. Dari Aceh sampai Papua. Dinamai Khalifah yang artinya pemimpin dan pemakmur, karena saya ingin sekali menyebarkan jiwa entrepreneurship.
Saya bercita-cita, melalui TK dan SD Khalifah, hadir lebih banyak lagi pengusaha (entrepreneur) di Indonesia. Sebab itulah, sejak dulu sampai sekarang, slogan kami tetap tauhid dan entrepreneurship. Bukankah entrepreneur itu pemimpin? Bukankah entrepreneur itu pemakmur?
Sekali lagi, khalifah itu pemimpin, khalifah itu pemakmur.
Saya ingin membangkitkan dunia entrepreneurship di Indonesia. Ya, ingin sekali. Berhubung saya bukan pembuat keputusan di negeri ini dan belum bisa berbuat sesuatu yang besar, ya sudah, saya mulai saja sebisanya. Saya mulai dari sekolah, tepatnya dari TK.
"If you can't fly, then run."
"If you can't run, then walk."
"If you can't walk, then crawl."
"Whatever you do, you have to keep moving forward," pesan Martin Luther King Jr. Intinya, lakukan sebisanya dan pelan-pelan diperbesar. Jangan cuma diam. Jangan cuma menunggu. Harus ada proses dan kemajuan.
TK dan SD Khalifah, itulah salah satu kesibukan saya. Seperti yang teman-teman tahu, selain dunia pendidikan, saya juga aktif di dunia kesehatan, tepatnya pendistribusian produk kesehatan. Mudah-mudahan Allah meridhai. Aamiin.
Karena banyak yang minta, tulisan ini kembali saya hadirkan.
Sejak lama, saya memberikan tips-tips berbisnis buat pemula (beginner). Sebut saja 'Business Tips For Beginner'. Ini biasanya saya sampaikan di training-training.
- No Production. Tidak harus produksi sendiri. Fokus saja pada penjualan. Karena, untuk menjalankan proses produksi yang efisien dan menguntungkan perlu modal dan pengalaman yang lumayan. Kalau pemula? Biasanya belum sanggup.
- No Operational. Jangan sampai waktu kita tersita di operasional. Fokus saja pada penjualan. Ini akan berdampak langsung pada penghasilan. Jangan pula setiap bulan kita harus membayar gaji karyawan, sewa tempat, dan listrik-air. Iya kalau laris. Kalau nggak laris, gimana cara membayar itu semua?
- Unperishable. Pilih produk yang tidak mudah rusak dan tidak mudah basi. Ingat, 80% teman kita di socmed, tempat tinggalnya beda kota dengan kita. Sebab itulah, produk harus bisa dikirim dengan mudah dan cepat, tanpa harus buka cabang.
- Delivery-able. Ringan di ongkir, tidak terkendala di berat dan size. Jangan pula mudah pecah. Sebaiknya pilih produk yang kecil ukurannya tapi nilai jualnya tinggi.
- High Quality. Pastikan kualitasnya nilai 8 atau 9, sehingga manfaat dan khasiatnya berbicara dengan sendiri. Konsumen pun, tanpa diminta, akan memberikan testimoni. Bisa viral dengan sendirinya. Lebih baik lagi kalau international standard.
- High Repetition. Cari produk yang harus dibeli ulang oleh konsumen dalam mingguan atau bulanan. Ini akan membantu kita dalam hal cahsflow. Ingat, mencari konsumen baru mengharuskan cost 6 kali lebih tinggi. Adalah menyenangkan kalau konsumen yang ada repeat order dengan sendirinya, mingguan atau bulanan.
- High Margin. Minimal marginnya 25%. Bukan karena kita serakah. Justru kita ingin bagi-bagi keuntungan kepada reseller, dropship, dsj. Kalau margin hanya 10%, gimana bagi-baginya?
- Sell to Seller. Produk harus bisa dijual pada penjual. Ini untuk mempercepat volume penjualan dan pertumbuhan bisnis. Satu lagi. Dengan cara ini, kita bisa membantu orang lain untuk jadi pengusaha.
Ya, sejak lama, saya memberikan tips-tips ini buat pemula. Silakan tanya alumni-alumni training saya. Nah sekarang, teman-teman, tinggal praktek saja. Siap? Semoga berkah berlimpah. Aamiin.
Sejak lama, saya memberikan tips-tips berbisnis buat pemula (beginner). Sebut saja 'Business Tips For Beginner'. Ini biasanya saya sampaikan di training-training.
- No Production. Tidak harus produksi sendiri. Fokus saja pada penjualan. Karena, untuk menjalankan proses produksi yang efisien dan menguntungkan perlu modal dan pengalaman yang lumayan. Kalau pemula? Biasanya belum sanggup.
- No Operational. Jangan sampai waktu kita tersita di operasional. Fokus saja pada penjualan. Ini akan berdampak langsung pada penghasilan. Jangan pula setiap bulan kita harus membayar gaji karyawan, sewa tempat, dan listrik-air. Iya kalau laris. Kalau nggak laris, gimana cara membayar itu semua?
- Unperishable. Pilih produk yang tidak mudah rusak dan tidak mudah basi. Ingat, 80% teman kita di socmed, tempat tinggalnya beda kota dengan kita. Sebab itulah, produk harus bisa dikirim dengan mudah dan cepat, tanpa harus buka cabang.
- Delivery-able. Ringan di ongkir, tidak terkendala di berat dan size. Jangan pula mudah pecah. Sebaiknya pilih produk yang kecil ukurannya tapi nilai jualnya tinggi.
- High Quality. Pastikan kualitasnya nilai 8 atau 9, sehingga manfaat dan khasiatnya berbicara dengan sendiri. Konsumen pun, tanpa diminta, akan memberikan testimoni. Bisa viral dengan sendirinya. Lebih baik lagi kalau international standard.
- High Repetition. Cari produk yang harus dibeli ulang oleh konsumen dalam mingguan atau bulanan. Ini akan membantu kita dalam hal cahsflow. Ingat, mencari konsumen baru mengharuskan cost 6 kali lebih tinggi. Adalah menyenangkan kalau konsumen yang ada repeat order dengan sendirinya, mingguan atau bulanan.
- High Margin. Minimal marginnya 25%. Bukan karena kita serakah. Justru kita ingin bagi-bagi keuntungan kepada reseller, dropship, dsj. Kalau margin hanya 10%, gimana bagi-baginya?
- Sell to Seller. Produk harus bisa dijual pada penjual. Ini untuk mempercepat volume penjualan dan pertumbuhan bisnis. Satu lagi. Dengan cara ini, kita bisa membantu orang lain untuk jadi pengusaha.
Ya, sejak lama, saya memberikan tips-tips ini buat pemula. Silakan tanya alumni-alumni training saya. Nah sekarang, teman-teman, tinggal praktek saja. Siap? Semoga berkah berlimpah. Aamiin.
Ulama itu pembawa cahaya. Sekiranya kita sungguh-sungguh memuliakan ulama dan berusaha dekat dengan ulama, bukan mustahil kelak salah satu keturunan kita akan jadi ulama. Insya Allah.
Sabtu kemarin, untuk kesekian kalinya saya berjumpa dengan Ustadz Adi Hidayat. Tepatnya, di acara Nussa Rara, ICE-BSD. Banyak selebriti yang hadir di sana dalam rangka menuntut ilmu seperti Nagita Slavina, Chacha Frederica, Ferdy Hasan dll.
Alhamdulillah, Sandiaga Uno turut hadir. Dengan rendah hati, beliau duduk sebagai jamaah, mendengar ceramah Ustadz Adi sampai selesai. Namanya belajar kan harus. Nggak pandang status.
Setelah ceramah, di belakang panggung Ustadz Adi juga mengetes hafalan anak-anak. Menjelang pulang, #UstadzAdiHidayat sempat bertemu Annisa Posan (istri AHY) dan memberinya nasehat.
Tak terasa air mata saya menetes ketika mendengar ceramah dan nasehat beliau.
Orang-orang seperti saya ini, disebut santri aja nggak pantes, apalagi disebut ustadz. Tapi saya berusaha mengenal ustadz-ustadz lebih dekat. Berharap ilmu. Berharap nasehat. Berharap didoakan.
Sampai detik ini saya rutin ikut kajian minimal dua kali seminggu, di berbagai tempat. Sudah sekian tahun. Saran saya, apapun profesi kita dan posisi kita, sempatkan hadir di kajian. Setidaknya sekali seminggu. Insya Allah dampaknya bagus sekali buat kehidupan kita.
Keep on learning. Kata guru saya, "Mereka yang sungguh-sungguh dengan ilmu dijamin tidak fakir." Kok bisa? Ya bisa, karena ilmu itu cahaya, fakir itu gelap. Nggak bakal bertemu kedua-duanya!
Learn, then you earn. Kalau belajar, rezeki akan lebih mudah untuk dikejar. Dan lihatlah, agama memerintahkan kita untuk mencari ilmu, bukan menunggu ilmu. Maka, sudah semestinya kita mengalokasikan waktu dan menjadwalkan diri untuk mengikuti forum-forum ilmu seperti seminar, training, dan kajian.
Saya harap teman-teman setuju dengan saya.
Sabtu kemarin, untuk kesekian kalinya saya berjumpa dengan Ustadz Adi Hidayat. Tepatnya, di acara Nussa Rara, ICE-BSD. Banyak selebriti yang hadir di sana dalam rangka menuntut ilmu seperti Nagita Slavina, Chacha Frederica, Ferdy Hasan dll.
Alhamdulillah, Sandiaga Uno turut hadir. Dengan rendah hati, beliau duduk sebagai jamaah, mendengar ceramah Ustadz Adi sampai selesai. Namanya belajar kan harus. Nggak pandang status.
Setelah ceramah, di belakang panggung Ustadz Adi juga mengetes hafalan anak-anak. Menjelang pulang, #UstadzAdiHidayat sempat bertemu Annisa Posan (istri AHY) dan memberinya nasehat.
Tak terasa air mata saya menetes ketika mendengar ceramah dan nasehat beliau.
Orang-orang seperti saya ini, disebut santri aja nggak pantes, apalagi disebut ustadz. Tapi saya berusaha mengenal ustadz-ustadz lebih dekat. Berharap ilmu. Berharap nasehat. Berharap didoakan.
Sampai detik ini saya rutin ikut kajian minimal dua kali seminggu, di berbagai tempat. Sudah sekian tahun. Saran saya, apapun profesi kita dan posisi kita, sempatkan hadir di kajian. Setidaknya sekali seminggu. Insya Allah dampaknya bagus sekali buat kehidupan kita.
Keep on learning. Kata guru saya, "Mereka yang sungguh-sungguh dengan ilmu dijamin tidak fakir." Kok bisa? Ya bisa, karena ilmu itu cahaya, fakir itu gelap. Nggak bakal bertemu kedua-duanya!
Learn, then you earn. Kalau belajar, rezeki akan lebih mudah untuk dikejar. Dan lihatlah, agama memerintahkan kita untuk mencari ilmu, bukan menunggu ilmu. Maka, sudah semestinya kita mengalokasikan waktu dan menjadwalkan diri untuk mengikuti forum-forum ilmu seperti seminar, training, dan kajian.
Saya harap teman-teman setuju dengan saya.
Silakan punya bisnis. Silakan sibuk dengan bisnisnya. Tapi jangan cuma bisnis yang ada di kepala kita. Simak deh...
https://www.instagram.com/p/BzRnqg5FYmt/?igshid=kdkx0rkwxlom
https://www.instagram.com/p/BzRnqg5FYmt/?igshid=kdkx0rkwxlom
Instagram
IPPHO SANTOSA
Masing-masing kami alhamdulillah punya bisnis. Tapi kalau ketemuan, jarang-jarang kami bahas bisnis. Yang dibahas biasanya soal keluarga, agama, dan kesehatan... Btw, terimakasih Mbak Dewi, sudah menemani ibu saya tadi malam, alhamdulillah... Perjalanan hidupβ¦
Ada orang yang berutang sama Anda?
Betapa sering hati kita sesak hanya karena orang lain menyakiti hati kita atau berutang pada kita. Anda pernah mengalami?
Padahal, kalau hati lapang, rezeki juga turut lapang. Maka, miliki hati yang memaafkan.
Orang yang berutang pada kita, orang yang menahan hak kita, jangan dipikirkan berlarut-larut. Ini hanya membuat hati kita sesak.
Terus, baiknya? Ingatkan dia. Tagih tiga kali. Kalau tidak berhasil juga? Mulailah melupakan dan memaafkan.
"Ah, nggak semudah itu!"
Mungkin itu jawaban Anda. Memang nggak mudah. Siapa bilang mudah? Tapi, percayalah, ini dahsyat dampaknya. Keajaiban demi keajaiban menanti di ujung sana. Coba saja.
Cara pikir saya begini. Kalau memang hak kita, pasti akan kembali ke kita. Gimanapun caranya. Kalau nggak nyampe-nyampe ke kita, mungkin itu memang bukan hak kita. Think!
Memutihkan utang, itu lebih utama daripada bersedekah.
Yuk praktek! Semoga berkah berlimpah!
Betapa sering hati kita sesak hanya karena orang lain menyakiti hati kita atau berutang pada kita. Anda pernah mengalami?
Padahal, kalau hati lapang, rezeki juga turut lapang. Maka, miliki hati yang memaafkan.
Orang yang berutang pada kita, orang yang menahan hak kita, jangan dipikirkan berlarut-larut. Ini hanya membuat hati kita sesak.
Terus, baiknya? Ingatkan dia. Tagih tiga kali. Kalau tidak berhasil juga? Mulailah melupakan dan memaafkan.
"Ah, nggak semudah itu!"
Mungkin itu jawaban Anda. Memang nggak mudah. Siapa bilang mudah? Tapi, percayalah, ini dahsyat dampaknya. Keajaiban demi keajaiban menanti di ujung sana. Coba saja.
Cara pikir saya begini. Kalau memang hak kita, pasti akan kembali ke kita. Gimanapun caranya. Kalau nggak nyampe-nyampe ke kita, mungkin itu memang bukan hak kita. Think!
Memutihkan utang, itu lebih utama daripada bersedekah.
Yuk praktek! Semoga berkah berlimpah!
Donasi kami tak seberapa. Tapi kami berusaha berbuat. Ya, berbuat.
London School bersama British Propolis menggelar bakti sosial di Bekasi, alhamdulillah.
https://www.instagram.com/p/BzhmLP8lmKK/?igshid=r8thm5b4kb6j
Mohon doa dari teman-teman semua, semoga kegiatan positif seperti ini semakin membudaya di Indonesia. Dan keikhlasan si pemberi tetap terjaga...
London School bersama British Propolis menggelar bakti sosial di Bekasi, alhamdulillah.
https://www.instagram.com/p/BzhmLP8lmKK/?igshid=r8thm5b4kb6j
Mohon doa dari teman-teman semua, semoga kegiatan positif seperti ini semakin membudaya di Indonesia. Dan keikhlasan si pemberi tetap terjaga...
Instagram
IPPHO SANTOSA
London School bersama British Propolis mengadakan bakti sosial di Bekasi, alhamdulillah... Hidup bukan urusan profit belaka. Tapi ada hal-hal yang lebih berharga daripada itu. Kebermanfaatan, salah satunya... Doakan ya, semoga niat kami tetap terjaga...
Kisah nyata. Very inspiring. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
https://www.instagram.com/p/BzjTi9fF9kj/?igshid=1ile93ogxuyt6
Baca caption sampai selesai ya.
https://www.instagram.com/p/BzjTi9fF9kj/?igshid=1ile93ogxuyt6
Baca caption sampai selesai ya.
Instagram
IPPHO SANTOSA
Suatu hari sekelompok orang miskin mendatangi Nabi dan curhat kepada Nabi, "Orang-orang kaya, dengan harta-benda mereka, mendapatkan kedudukan yang tinggi. Kami shalat, mereka juga shalat. Kami puasa, mereka juga puasa. Namun disebabkan harta mereka, merekaβ¦
Melangkah maju sepertinya mudah. Tapi bagi sebagian orang, tidak mudah juga.
Saat sholat berjamaah, ada beberapa orang yang enggan maju ke shaf di depannya walaupun itu kosong. Padahal pahala di depan lebih besar. Kok enggan? Mungkin karena sudah nyaman dengan sajadahnya, tempatnya, dan apa-apa yang ada di dekatnya.
Diam dan tetap di sana, dipikirnya itu lebih baik.
Dalam sehari-hari, ini juga sering terjadi. Acap kali kita gagal melangkah maju karena merasa terlalu nyaman. Padahal, kalau kita mau melangkah dan mau berpindah, mungkin kita mendapatkan sesuatu yang lebih baik dan lebih besar. Betul apa betul?
Keberanian memang sulit dipelajari. Lazimnya didapatkan dari pergaulan dan pengalaman. Keberanian, inilah yang membuat orang mau melangkah dan mau berpindah. Termasuk dalam dunia usaha.
Pada akhirnya, sampaikan tulisan ini kepada mereka yang belum berani memulai usaha. Mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini, mereka berani maju ke depan, satu shaf sama Anda, berjamaah sama Anda. Bermitra, istilahnya.
Semoga berkah berlimpah!
Saat sholat berjamaah, ada beberapa orang yang enggan maju ke shaf di depannya walaupun itu kosong. Padahal pahala di depan lebih besar. Kok enggan? Mungkin karena sudah nyaman dengan sajadahnya, tempatnya, dan apa-apa yang ada di dekatnya.
Diam dan tetap di sana, dipikirnya itu lebih baik.
Dalam sehari-hari, ini juga sering terjadi. Acap kali kita gagal melangkah maju karena merasa terlalu nyaman. Padahal, kalau kita mau melangkah dan mau berpindah, mungkin kita mendapatkan sesuatu yang lebih baik dan lebih besar. Betul apa betul?
Keberanian memang sulit dipelajari. Lazimnya didapatkan dari pergaulan dan pengalaman. Keberanian, inilah yang membuat orang mau melangkah dan mau berpindah. Termasuk dalam dunia usaha.
Pada akhirnya, sampaikan tulisan ini kepada mereka yang belum berani memulai usaha. Mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini, mereka berani maju ke depan, satu shaf sama Anda, berjamaah sama Anda. Bermitra, istilahnya.
Semoga berkah berlimpah!
25-27 Juli insya Allah saya (Ippho Santosa) membuka kesempatan bermitra buat teman-teman semua.
Bagi yang berminat, catat tanggalnya ya. Mudah-mudahan jadi wasilah untuk sumber rezeki yang berkah dan berlimpah.
Aamiin.
Bagi yang berminat, catat tanggalnya ya. Mudah-mudahan jadi wasilah untuk sumber rezeki yang berkah dan berlimpah.
Aamiin.
Semalam saya seminar di Cirebon. Sebelumnya di Bandung.
Dengan tema 'Muhammad Sebagai Pedagang' saya dan kawan-kawan menyelenggarakan seminar ini. Non-profit. Non-sponsor. Yah, nggak masalah. Yang penting, pesan-pesan Rasulullah tentang entrepreneurship bisa kami sampaikan ke khalayak.
Dan inilah saran saya kepada entrepreneur. Mulailah berbisnis semuda mungkin. Mumpung lagi semangat-semangatnya. Mumpung lagi berani-beraninya. Mumpung ada banyak waktu. Mumpung masih sedikit tanggungan.
Yang saya lihat, tingkat semangat dan tingkat keberanian si muda, memang rada beda dengan senior-seniornya. Beneran, beda! Belum lagi, ketika muda, Anda punya banyak waktu untuk menghabiskan 'jatah gagal'. Ini sepertinya sepele, padahal nggak.
Dan jangan salah. Di Era Digital seperti sekarang ini, berbagai kemudahan ada di ujung jari kita. Boleh dibilang, smartphone adalah aset strategis yang bisa menghasilkan uang, TANPA HARUS keringatan, TANPA HARUS bepergian, TANPA HARUS punya ruko.
Ibu-ibu walaupun dasteran, bapak-bapak walaupun sarungan, bisa menjalankan bisnisnya sendiri. Cukup dari rumah saja. Right? Ini benar-benar kemudahan di Era Digital yang belum pernah kita rasakan belasan tahun yang lalu.
Bagaimana dengan kehadiran mentor yang membimbing kita dalam berbisnis? Ini pun sangat bagus. Setidaknya, ada dua manfaat. Pertama, mengurangi risiko kegagalan. Kedua, mempercepat pertumbuhan bisnis.
Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan. Semoga hidup Anda semakin berkah dan semakin berlimpah dengan menjadi entrepreneur, dengan memanfaatkan masa muda, dengan memanfaatkan teknologi. Aamiin.
Dengan tema 'Muhammad Sebagai Pedagang' saya dan kawan-kawan menyelenggarakan seminar ini. Non-profit. Non-sponsor. Yah, nggak masalah. Yang penting, pesan-pesan Rasulullah tentang entrepreneurship bisa kami sampaikan ke khalayak.
Dan inilah saran saya kepada entrepreneur. Mulailah berbisnis semuda mungkin. Mumpung lagi semangat-semangatnya. Mumpung lagi berani-beraninya. Mumpung ada banyak waktu. Mumpung masih sedikit tanggungan.
Yang saya lihat, tingkat semangat dan tingkat keberanian si muda, memang rada beda dengan senior-seniornya. Beneran, beda! Belum lagi, ketika muda, Anda punya banyak waktu untuk menghabiskan 'jatah gagal'. Ini sepertinya sepele, padahal nggak.
Dan jangan salah. Di Era Digital seperti sekarang ini, berbagai kemudahan ada di ujung jari kita. Boleh dibilang, smartphone adalah aset strategis yang bisa menghasilkan uang, TANPA HARUS keringatan, TANPA HARUS bepergian, TANPA HARUS punya ruko.
Ibu-ibu walaupun dasteran, bapak-bapak walaupun sarungan, bisa menjalankan bisnisnya sendiri. Cukup dari rumah saja. Right? Ini benar-benar kemudahan di Era Digital yang belum pernah kita rasakan belasan tahun yang lalu.
Bagaimana dengan kehadiran mentor yang membimbing kita dalam berbisnis? Ini pun sangat bagus. Setidaknya, ada dua manfaat. Pertama, mengurangi risiko kegagalan. Kedua, mempercepat pertumbuhan bisnis.
Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan. Semoga hidup Anda semakin berkah dan semakin berlimpah dengan menjadi entrepreneur, dengan memanfaatkan masa muda, dengan memanfaatkan teknologi. Aamiin.