Ippho Santosa - ipphoright
26K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Mau panjang umur?

Peneliti di University of California telah menemukan kaitan antara pergaulan dan usia yang panjang. Nah lho!

Studi ini diikuti 1.600 orang dengan usia rata-rata 71 tahun. Meskipun status sosial ekonomi dan kesehatan turut mempengaruhi usia seseorang, namun ternyata kesepian memainkan peran yang sangat krusial, bahkan bisa berujung pada kematian.

Hampir 23 persen dari peserta yang kesepian meninggal dalam enam tahun penelitian. Ini menyedihkan. Sedangkan responden yang mempunyai hubungan persahabatan dilaporkan tingkat kematiannya lebih rendah di kurun waktu yang sama, yakni 14 persen.

Pesan saya, "Sendiri, boleh. Kesepian, jangan."

"Kebutuhan yang kita perlukan seumur hidup adalah orang-orang mengenali kita, menghargai kita, menggembirakan hati kita, dan itu tidak pernah hilang," papar Barbara Moscowitz dari Rumah Sakit Umum Massachusetts.

Pada akhirnya, kalau lagi sendirian, jangan lama-lama. Perbanyak teman. Perluas pergaulan. Masuk ke komunitas-komunitas. Bukan saja membuka pintu-pintu rezeki, tapi juga membuat panjang umur. Insya Allah.
Sebagian kita mungkin punya tim.

Karena itulah, kita disebut leader (pemimpin).

Misal, dalam dunia penjualan.

Tolong dicatat, tim itu amanah. Tim yang sudah berhasil jualan atau belum berhasil jualan, harus kita bina. Ya, harus kita bina.

Leader itu penanggungjawab. Kalau tim belum berhasil dalam bisnisnya, leader harus siap dan berani bertanggung-jawab. Jangan buru-buru menyalahkan tim, apalagi sampai merendahkan, menghina, atau menghardik mereka.

Ingat-ingat ini:
- Mengajak, bukan mengejek
- Membina, bukan menghina
- Mendidik, bukan menghardik
- Mengajar, bukan menghajar

Renungkan.

Siapa yang merekrut tim itu? Leader.

Siapa yang mendidiknya selama ini? Leader.

Jadi, kalau mereka belum berhasil dalam bisnisnya, yah leader-lah yang harus bertanggung-jawab. Bukan mustahil keteladanan dan pembinaan yang masih minim selama ini.

Tim rontok? Tim mundur? Sebagai leader, kita harus benar-benar introspeksi. Mungkin dia tidak mendapat sesuatu yang signifikan dari kita, sehingga ia memutuskan untuk mundur atau menjauh dari kita.

Satu lagi. Ada kabar baik nih.

Saat kita sungguh-sungguh membina tim, percayalah, Yang Maha Kuasa mempersiapkan sesuatu yang lebih indah untuk kita. Dan menariknya lagi, sewaktu kita serius membina tim, maka mentor (seseorang di atas kita) pun semakin serius membina kita.

Life is an echo.
What you give, you get.
What you sow, you reap.
What you see in others, exists in you.
What you send out, sends back to you.

Give them positivity and surely positivity will come back to you.

Bring them a success and surely a bigger success will come back to you.

Sesederhana itu.
Avengers masih berhadap-hadapan dengan Thanos. Dalam film, tentunya.

Meski efek jentikan jari Thanos tampak mengerikan, hal tersebut sebenarnya tidak ada apa-apanya dibanding kehancuran yang pernah melanda Bumi di masa silam. Ini diungkapkan Alfio Alessandro, ahli paleontologi dari Inggris.

Ia memaparkan bahwa 252 juta tahun lalu, kepunahan massal yang dipicu letusan gunung ternyata berhasil memusnahkan 96% spesies di laut. Kejadian mematikan tersebut dikenal sebagai The Great Dying. 

Thanos adalah kisah fiktif.

The Great Dying adalah kisah nyata.

Di antara keduanya, mana yang lebih merisaukan hati saya? Ternyata BUKAN kedua-duanya. Keserakahan, inilah yang lebih merisaukan hati saya. Ya, keserakahan.

Zaman dahulu, tumbuhnya industri telah menciptakan extreme gap antara pekerja dengan pengusaha yang kala itu disebut robber baron (diartikan sebagai kapitalis perampok yang tak bermoral).

Zaman sekarang, sayangnya, hal ini masih terjadi dan terus terjadi.

Segelintir orang menguasai perputaran uang dalam jumlah dan kecepatan yang benar-benar tak masuk akal. Bukan saja menjadi raksasa agresif di bidang ekonomi, mereka juga menapakkan kakinya kuat-kuat di bidang politik.

Begini. Sebenarnya, bumi ini cukup menghidupi 7 miliar manusia. Namun, tidak pernah cukup menghidupi 7 orang yang serakah. Catat baik-baik, tidak pernah merasa cukup, itulah ciri orang yang serakah.

Hati-hati. Rasa serakah bukan saja merasuki benak konglomerat. Pikiran orang biasa juga dirasuki. Termasuk kita-kita di sini. Anda dan saya. Tak perlu saling menuding, mari kita sama-sama introspeksi.

Apakah kita sangat agresif dalam mencari uang sampai-sampai melanggar aturan dan menyakiti orang lain? Kalau ini sampai terjadi, berarti benih-benih keserakahan sebenarnya bersemayam di hati kita. Hati-hati.

Lupakan soal Thanos. Lupakan juga soal The Great Dying. Ada yang lebih berbahaya itu. Apa? Benih-benih keserakahan yang tumbuh dan berkembang di hati kita. Ini jauh lebih berbahaya. Think.
Avengers: Endgame, teman-teman sudah nonton?

Ada satu scene yang membuat mata saya berkaca-kaca, yaitu saat Tony Stark (Iron Man) berdialog dengan ayahnya. Ada juga moment-moment fatherhood lainnya yang membuat saya benar-benar terharu.

Kadang seorang ayah tidak ekspresif dalam menyatakan cinta pada anaknya. Betul apa betul? Tapi, jangan ditanya betapa besar cintanya pada si anak.

Menurut saya, setiap ayah adalah superhero. Ya, superhero. Meskipun ia tidak memiliki baju besi, tameng prajurit, atau palu dewa seperti karakter-karakter di Marvel.

Memang ibu itu hebat, tiada duanya. Tapi dengan izin Allah, ayahlah yang memilihkan ibu untuk kita dan mengarahkan ibu untuk mendampingi kita.

Memang ibu yang mengandung dan menyusui kita. Tapi ayahlah yang menafkahi ibu, sehingga ibu dapat mengandung dan menyusui kita dengan sempurna.

Memang ibu yang melahirkan kita, mempertaruhkan nyawanya. Tapi ayahlah yang sehari-hari melindungi kita, mempertaruhkan hidupnya.

Memang ibu yang memberi kita nasihat-nasihat kehidupan. Tapi dalam kehidupan, ayahlah yang bertindak sebagai penanggung-jawab dan kepala keluarga.

Kalau kita ada masalah, memang ibu yang risau dan menangis. Tapi ayahlah yang mengajarkan ketegaran kepada kita dengan menyembunyikan kerisauannya.

Pada akhirnya:
- Hormati ayah kita. 
- Sayangi ayah kita. 
- Doakan ayah kita.

Jangan seperti Tony Stark yang kemudian mengalami penyesalan karena sering bertengkar dengan ayahnya. Ingat, tidak ada ayah yang sempurna, tapi kasih-sayangnya untuk kita insya Allah sempurna.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Saya pribadi adalah seorang ayah yang tengah berusaha keras untuk menjadi sosok baik yang diharapkan oleh anak-anaknya. Mohon doanya.
Ada yang bertanya ke saya, bolehlah bertepuk-tangan? Misal dalam seminar.

Begini.

Tepuk tangan kalau dijadikan bagian dari ibadah, apalagi di masjid, jelas-jelas haram hukumnya. Ini menurut Islam.

Tepuk tangan kalau dijadikan penyemangat, insya Allah boleh. Karena hukum asal untuk perkara non-ibadah adalah halal dan mubah.

Adapun manfaat tepuk tangan dari segi kesehatan menurut Rahul Dogra dan Boldsky:
1. Melancarkan sirkulasi darah
2. Melancarkan aliran oksigen
3. Meredakan nyeri otot dan sendi
4. Memperbaiki masalah pencernaan
5. Mempertajam kefokus belajar
6. Meningkatkan kekebalan tubuh
7. Menghadirkan good mood

Karena itulah di seminar, kadang saya meminta peserta untuk bertepuk-tangan. Membangkitkan semangat dan mempertahankan kesehatan, inilah yang menjadi alasan utama. Itu pun sekedarnya saja.
Selagi roda kehidupan masih berputar, tentulah masalah akan selalu ada.

Masalah demi masalah sebenarnya membuat kita 'naik kelas'. Maka dari itu, anggaplah masalah sebagai tantangan. Hadapi, jangan dihindari. Pura-pura nggak tahu, ini pun BUKAN sikap yang baik.

Simak lanjutannya >>

https://www.instagram.com/p/BwwSIY8F0xk/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=1lfd6eo0ndvsc
Anda punya bisnis?

Bisnis kecil atau bisnis besar, capeknya sama. Mending dibesarin aja sekalian.

Jumat kemarin, saya sharing untuk pimpinan-pimpinan Pelindo (IPC). Blak-blakan saya bilang ke mereka, "Target yang besar itu bagus. Karena ini akan memompa potensi-potensi yang besar. Mudah-mudahan bisnis yang kita kelola akan turut membesar."

“GO BIG or go home,” pesan Jack Ma.

Berpikir dan bermimpi besar, ini bagian dari otak kanan. Profesional dan entrepreneur sudah semestinya mengoptimalkan otak kanannya, di mana ini sering diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menariknya, dari otak kanan inilah kemudian muncul kemampuan untuk berkreasi, berimajinasi, dan berempati. Hal serupa saya sampaikan ke tim Bank Indonesia di Kempinski Sabtu yang lalu. Alhamdulillah, mereka 100% setuju.

Punya impian besar, cukupkah sampai di situ? Nggak juga.

Kalau sudah punya target atau impian yang besar, coba sampaikan dan selaraskan dengan orang-orang terdekat. Mungkin dengan keluarga di rumah. Mungkin dengan rekan kerja di kantor.

Penyelarasan, memang ini tidak mudah. Tapi bisa. Insya Allah pasti bisa. Sekiranya sudah selaras, benar-benar selaras, kecepatan dan kekuatannya bisa bertambah 27 kali lipat bahkan lebih!

Orang rata-rata menyebutnya keselarasan impian. Saya menyebutnya Vision Alignment. Kalau sudah dilakukan, hasilnya benar-benar mengagumkan. Bukan sekali atau dua kali saya melihat ini terjadi. Benar-benar terjadi!

Lantas, bagaimana dengan masalah?

Burung unta, ketika terjadi badai pasir, sering menyembunyikan kepalanya ke dalam pasir. Masalahnya tetap ada. Yang penting bagi dia, nggak lihat masalahnya. Tepatkah sikap seperti ini? Tentu tidak.

Kadang, sebagian kita bersikap begitu dalam karier dan bisnis. Alih-alih menyelesaikan masalah, kita malah pura-pura tidak tahu dengan masalah tersebut. Sekali lagi, ini kurang elok. Mari kita sama-sama introspeksi.

Alhamdulillah, setelah sharing untuk Pelindo dan Bank Indonesia, berlanjut Senin sore saya sharing untuk Toyota. Masih soal pencapaian target. Hebatnya lagi, menurut riset, mereka yang terbiasa dengan target yang besar dan enggan mengeluh walaupun ada masalah, cenderung lebih sehat juga panjang umur.

Nah, Anda termasuk yang mana?
Punya impian?

Pernah ditertawakan?

Pernah diremehkan?

Saat impianmu ditertawakan atau diremehkan orang, sebenarnya itu adalah isyarat. Ya, isyarat bahwa impianmu layak diperjuangkan. Bayangkan kalau impianmu terwujud, pastinya semua orang akan terinspirasi, termasuk dia yang pernah mentertawakan dan meremehkan.

Jangan anggap enteng segala impianmu. Kalau dirimu saja meremehkan, apalagi orang lain. Demikian pula terhadap anak-anakmu dan murid-muridmu. Hargai impian mereka. Lalu, bimbing mereka, semangati mereka, doakan mereka. Keberuntungan, tidak ada yang bisa menerka!

Sebagian orang, anehnya, tidak berani bicara soal big dream. Padahal, berpikir besar dan bermimpi besar adalah bagian dari otak kanan. Semua orang punya itu. Dan ingat, Tuhan-mu Maha Besar. Karunia-Nya teramat besar. Ngapain mimpi yang kecil-kecil aja?

Impian yang besar memang tidak mudah. Namun insya Allah akan berakhir indah. Terutama bagi mereka yang pantang menyerah. Dan suatu hari nanti, diceritakan kemana-mana karena memang menggugah.

Di berbagai forum, saya sering berpesan, "Jangan biarkan hidupmu mengalir begitu saja. Pilih sungainya. Pilih arusnya. Kalau tidak sesuai, bikin sungaimu sendiri." Dengan kata lain, rancang dan perjuangkan impianmu. Jangan lemah. Jangan mudah lelah. Jangan mudah menyerah.

Siap?

Simak lanjutannya >> https://www.instagram.com/p/Bw6N1qPlJN7/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=13hsyri6gd4b3
Setiap kita merindukan perubahan. Tentunya, ke arah yang lebih baik. Sebagian kita akhirnya menunggu momentum yang tepat untuk berubah.

Saya sindir mereka, "Hari buruh, udah. Hari pendidikan, udah. Bulan puasa, juga udah. Kok nggak ada perubahan yang berarti?"

Why? Karena sebenarnya inisiator perubahan itu adalah diri kita. Bukan orang lain. Bukan keadaan. Bukan momentum.

So, berhentilah menyalah-nyalahkan orang lain dan keadaan. Jadilah penanggung-jawab atas nasib kita sendiri. Ini baru namanya mental pemenang.

Setiap kali mengalami hal-hal yang tidak nyaman atau kegagalan, seorang pemenang memilih untuk berbenah dan belajar. Bukan excuse.

Maaf, rada beda dengan orang rata-rata yang sering menyalah-nyalahkan pesaing ketika rugi atau gagal. Sering pula menyalahkan peraturan pemerintah.

Hei, ingat. Pembenaran mungkin menentramkan hati, namun tak pernah membawa solusi. Sekali lagi, tak pernah membawa solusi.

Berbenah dan belajar, itu yang saya sarankan.

"Belajar, belajar, belajar!" Kalau belajar, rezeki akan lebih mudah untuk dikejar. Kalau belajar, kita akan berdiri dengan lainnya dengan sejajar.

Namun tak semua orang mau belajar. Di antara mereka malah mengajukan pembenaran dan alasan-alasan yang tak wajar.

Padahal, kita semua sepakat bahwa yang suka beralasan dan bermalasan itu adalah ciri pecundang. Sepenuh hati saya berharap, Anda menghindari ciri ini.

Ramadhan adalah bulan perubahan. Bukan saja amal dan akhlak, tapi sikap dan pendapatan harusnya juga membaik. So, tekadkan Ramadhan kali ini sebagai titik balik perubahan.

Pada akhirnya saya berpesan, selamat menunaikan ibadah puasa dan mohon maaf lahir batin.
Waktu terasa singkat saat Anda gembira.

Anehnya, waktu juga terasa singkat bahkan terasa kurang, saat Anda terlambat.

Waktu terasa lambat saat Anda menunggu atau bosan.

Anehnya, waktu pun terasa lambat bahkan terasa berhenti saat Anda sedih dan susah.

Perhatikan baik-baik.

Ternyata waktu terasa berbeda saat perasaan kita juga berbeda. Dengan kata lain, pemaknaan kita terhadap waktu sangat dipengaruhi oleh perasaan. Tidak ditentukan oleh durasi dan arloji.

Maka, nikmati waktu kita. Manfaatkan waktu kita. Karena ini akan menentukan perasaan kita juga pencapaian kita.

Bagi teman-teman yang berpuasa, selamat menunaikan ibadah puasa. Kalau boleh, doakan juga saya. Mudah-mudahan puasa saya dan puasa teman-teman diterima oleh Yang Maha Kuasa. Aamiin.
Sudah saatnya Indonesia menjadi negara yang benar-benar maju dan makmur. Di mana kemajuan dan kemakmurannya dirasakan oleh seluruh rakyatnya, aamiin. Jujur saja, ini menjadi doa dan harapan kita sejak lama.

Lantas, apa yang membuat Indonesia ini sulit untuk maju dan makmur? Ada banyak hal. Dua di antaranya, menurut saya, adalah korupsi dan ketidakselarasan. Begini. Keselarasan pikiran itu penting. Jangan dianggap enteng.

1% saja orang di kota Anda berpikir secara kolektif (selaras) dan fokus (tearah), ternyata bisa menurunkan angka kriminalitas dan meningkatkan angka harmoni alias keteraturan di kota Anda.

Hebat ya? Sangat hebat. Ini namanya Maharishi Effect.

Bayangkan kalau seluruh rakyat Indonesia berpikir bahwa Indonesia itu maju dan makmur. Benar-benar maju dan makmur. Setidaknya, bakal maju dan makmur. Saya yakin, siapapun presidennya, Indonesia bakal maju dan makmur sungguhan.

Begitulah, keselarasan pikiran itu penting.

Satu contoh kecil. Walau tidak satu kantor, walau tidak satu ruangan, mereka yang sevisi (selaras) bisa bekerjasama. Ya, orang-orang hebat perlu dikumpulkan. Tapi yang lebih perlu adalah orang-orang sevisi (selaras).

Saya tahu, menemukan orang-orang yang sefrekuensi (selaras) memang tidak mudah. Tapi kalau ini berhasil, maka kita akan menuai hasil yang menakjubkan dan mengejutkan. Anda boleh pegang kata-kata saya.

Keselarasan, mari jadikan ini sebagai kriteria utama dalam memajukan perusahaan, memajukan organisasi, juga memajukan negara. Bakalan hebat, insya Allah. Siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga makin berkah berlimpah.

Note: Mohon doa ya untuk kesehatan ibu saya. Terima kasih atas ketulusan dan kebaikan teman-teman. Semoga Allah balas berlipatganda. Aamiin.
Captain Marvel dan Wonder Woman, mana yang lebih kuat? Entahlah. Bagi saya, seorang istri atau seorang ibu, itu jauh lebih kuat. Dan lebih nyata tentunya.

Sekilas, wanita itu terlihat lemah. Namun tidak demikian adanya. Wanita itu sebenarnya kuat bahkan bisa menguatkan suaminya. Terbukti, tugas yang teramat berat seperti mengandung, melahirkan, dan menyusui, diberikan kepada wanita.

Para pria, coba anda pasang tas ransel seberat 2 kg di perut anda selama 3 bulan. Berat? Banget! Nah, wanita yang hamil mengalami itu bahkan lebih dari itu. Betul apa betul?

Saya pun kenal seorang suami yang nggak sanggup mendampingi istrinya ketika melahirkan. Si suami mengaku bisa pingsan kalau dipaksa melihat istrinya melahirkan. Lha, melihatnya saja terasa berat, gimana si istri yang mengalami?

Melahirkan, siapa yang berani ngomong itu pekerjaan ringan? 

Pak Harto pernah dianggap sebagai The Strongest Man in Asia. Pak Habibie disebut-disebut sebagai tokoh paling cerdas dan paling berprestasi di negeri ini. Namun lihat apa yang terjadi ketika sang istri meninggal. Mereka jadi begitu lemah. Mendadak lemah.

Begitu pula kakek saya. Saat nenek saya meninggal, berat badan kakek saya langsung merosot dan sakit-sakitan. Padahal nenek saya jauh lebih tua daripada kakek saya.

Kita pun sama-sama maklum, apa yang terjadi pada Nabi Muhammad ketika Khadijah meninggal. Seperti itulah peran seorang wanita. Ia tidak lemah. Sebaliknya, ia KUAT bahkan bisa MENGUATKAN suaminya.

Pada akhirnya, jangan anggap enteng wanita di sekitarmu. Entah itu istrimu atau ibumu. Saya menyebutnya Sepasang Bidadari.
Bagaimana puasa teman-teman hari ini? Semoga lancar-lancar saja semuanya.

Gabriel Cousens, MD, Founder Tree Of Life Rejuvenation Center, mengakui bahwa mereka yang berpuasa akan mengalami peningkatan konsentrasi, kreativitas, dan ketenangan.

Btw, terkait #BulanPuasa, hanya segelintir orang yang tahu bahwa hal-hal berikut ini beneran terjadi:

-       Ternyata Fatahillah merebut kembali Sunda Kelapa (Jayakarta) ketika bulan puasa.

-       Ternyata NKRI tercinta ini merdeka ketika bulan puasa, tepatnya Jumat 9 Ramadhan.

-       Ternyata Peristiwa Badar dan Peristiwa Tabuk dimenangkan ketika bulan puasa.

-       Ternyata Penaklukkan Makkah dan Pembukaan Andalusia terjadi ketika bulan puasa.

-       Ternyata Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan kembali negeri-negeri yang dikuasai musuh ketika bulan puasa.

-       Ternyata pendirian Universitas Al-Azhar, Kairo (salah satu kampus tertua di dunia), terjadi ketika bulan puasa.

Demikianlah. #Ramadhan disebut-sebut bulan yang penuh berkah. Apa sih ciri-ciri keberkahan itu? Salah satunya, dengan waktu yang sedikit terhasilkan manfaat yang banyak. Oleh karena itu, berpuasa janganlah dijadikan dalih untuk bermalas-malasan.

Ini sama sekali tidak cocok dengan semangat Ramadhan itu sendiri. Sejarah sudah berkali-kali membuktikannya. Ramadhan hendaknya menjadi bulan yang efektif (karena banyak hal hebat yang dicapai) dan efisien (karena banyak hal rutin yang dihemat).

Ramadhan memang hebat, tiada duanya. Sekiranya Anda setuju dengan tulisan ini, silakan tulisan ini di-share kepada keluarga dan sahabat-sahabat Anda. Mention mereka. Semoga menjadi amal baik bagi kita semua.

Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan. Aamiin.
Adakah yang mustahil bagi Sang Pencipta? Tidak ada. Dengan izin-Nya, nasib bisa berubah. Bahkan takdir pun bisa berubah. Benar-benar berubah.

Tentu, jika kita paham ilmunya dan sungguh-sungguh action-nya. Bukan sekedar tahu, bukan sekedar action. Di dunia ini tidak ada yang bisa mengalahkan kesungguhan.

Sejarah pun sarat dengan contoh. Ada orang biasa, tahu-tahu melejit dan nge-hits. Nasibnya berubah. Sepertinya ini kebetulan atau sekadar beruntung, padahal yang sebenarnya tidak segampang itu.

Menurut saya, setidaknya ada tiga solusi untuk perubahan nasib. Karena Anda semakin tertarik untuk membacanya, izinkan saya menyampaikan tiga solusi tersebut. Boleh?

Tiga solusi itu adalah mendapatkan ridha dari orangtua, memperbanyak sedekah, dan menekuni satu bidang (fokus).

Sampai di sini, Anda pun menyadari bahwa ketiga-tiganya adalah solusi yang tepat bagi siapa saja yang menginginkan perubahan, terutama perubahan nasib. Itu 100% benar.

Alhamdulillah sudah teramat banyak testimoni keberhasilan yang kita dengar selama ini, wasilahnya dari tiga hal tersebut. Sekiranya kita mengalami kegagalan, tiga hal ini adalah yang pertama yang perlu kita introspeksi.

Memang, tiada yang mustahil bagi Sang Pencipta. Bagi-Nya, semua serba mungkin. Namun sebagai manusia, kita harus berusaha. Nah, iringi usaha kita dengan tiga hal tersebut. Insya Allah akan lebih cepat dan lebih dahsyat hasilnya.

Siap?
Sekarang kita bicara soal prospecting.

Jelas, perlu persiapan dan perencanaan sebelum bertemu prospek. Juga perlu visualisasi soal closing. Persis seperti atlit yang membayangkan kemenangan sebelum bertanding.

Jadi, ada dua hal di sini, yaitu persiapan dan visualisasi. Bukan sekedar action. Bukan sekedar semangat.

Memahami kelebihan kita dan kelebihan pesaing adalah bagian dari persiapan. Know yourself, know your enemies. Maka 100 kali perang, 100 kali menang. Ini pesan Sun Tzu, seorang ahli perang dari Tiongkok.

Fitrahnya pelanggan selalu mengungkit-ungkit kelemahan produk. Nah, kita harus siap dengan fakta itu. Dan selanjutnya, kita harus 'membalasnya'.

Ya, membalasnya dengan cara mengingatkan mereka soal kelebihan produk kita. Sebagai entrepreneur, kita harus bisa menyebutkan 5 kelebihan produk kita dengan cepat.

Ingat. Seorang entrepreneur tidak pernah mendapat profit dari mengetahui kelebihan pesaing. Tapi dari mengekspos kelebihan produk miliknya.

Bagaimana dengan semangat? Semangat itu modal awal. Perlu. Harus. Tapi tidak cukup. Sama sekali tidak cukup. Harus paham soal kelebihan dan asal-usul produk.

Satu lagi. Kita harus yakin dulu sama produk, perusahaan (country of origin), dan diri kita. Catat baik-baik, acapkali konsumen membeli karena:
- Produk
- Perusahaan
- Diri kita

Ayo persiapkan diri kita!
Puasa melatih kita untuk ikhlas.

Tidak berharap puja-puji dan apresiasi.

Sejenak, coba kita perhatikan nasib ayam. Capek-capek hamil (baca: bunting), capek-capek bertelur. Terus? Telurnya diambil dan dimasak. Adakah sedikit apresiasi pada ayam? Nggak ada. Jerih-payah itu dinamai telur mata sapi, hehehe. Ayam yang pasang badan, sapi yang dapat nama.

Untunglah si ayam sudah belajar ilmu ikhlas 😁

Ini pun terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Susah-payah sang ibu mendidik anaknya, tahu-tahu si ayah yang beroleh apresiasi. Kok bisa? Ya bisa. Ini sering terjadi pada ayah-ayah yang terkenal atau menjabat. Kalau anaknya pintar, orang-orang pada nyeletuk, "Pantesan anaknya pinter. Wong bapaknya anggota dewan."

Masalahkah ini? Mestinya nggak masalah bagi mereka yang berupaya untuk ikhlas. Tak berharap apresiasi, itulah bagian dari ikhlas. Termasuk kalau ada apresiasi yang salah alamat. Sama sekali tak pernah berkeringat, tahu-tahu apresiasi dia yang dapat.

Bagi kita, cukuplah apresiasi dari Yang Maha Kuasa. Bukankah dulu para pejuang nggak pernah kepikir dirinya bakal dianggap pahlawan? Berjuang, yah berjuang saja. Kalaupun kemudian kita beroleh apresiasi, jadikan itu tambahan motivasi untuk berbuat lebih baik. Bukan sesuatu yang diharap-harapkan.

Teman-teman setuju? 😊
Kali ini tentang nafkah.

Halal aja nggak cukup. Sebagai orang beriman, kita harus go beyond dalam mencari nafkah. Benar-benar go beyond. Maksudnya, berusaha meraih sesuatu yang lebih baik. Insya Allah.

Pastikan sarat manfaat. Bukan sekedar manfaat.

Usahakan penuh berkah. Bukan sekedar halal.

Apa itu berkah?

Kalau berkah, yah pasti halal.
Kalau halal, belum tentu berkah.

Jadi, apa itu berkah?

BERKAH = BERhasil Karena AllaH

Boleh dibilang, berkah itu:
- adanya ridha Allah
- bersih dan tumbuh
- menentramkan
- mencukupkan

Itulah tanda-tanda atau ciri-ciri berkah.

Salah satu kerisauan saya belakangan ini adalah dijualnya barang-barang yang membuat masyarakat tambah konsumtif. Semakin hari, semakin massif.

Terutama di bulan Ramadhan, yang harusnya orang lebih terkendali hawa nafsunya. Right?

Jujur, dulu saya pun seperti itu, saat berkecimpung di bisnis fashion. Namanya bisnis fashion, ya sudah, saya tampilkan artis-artis kondang. Saya hadirkan desain-desain anyar. Kita mau jualan nih.

Padahal orang-orang itu sudah punya baju. Masih bagus bajunya. Sangat layak bajunya. Tapi karena artis dan desain yang saya tawarkan, akhirnya mereka tertarik untuk membeli dan terus membeli.

Perhatikan baik-baik. Ini bukan lagi soal needs, tapi wants.

Bukan lagi soal menutup aurat, tapi untuk tampil lebih bergaya.

Mereka menjadi konsumtif karena iklan saya. Ya Allah.

Bukannya nggak boleh bisnis fashion. Boleh. Tapi kita harus mengendalikan iklan kita. Jangan sampai orang jadi konsumtif gara-gara iklan kita. Ingat, suatu hari nanti kita akan dihisab.

Begitu pula bisnis makanan. Boleh. Bagus malah. Tapi jangan sampai orang jadi naik kolestrolnya atau kambuh asam uratnya gara-gara makanan kita. Hati-hati, suatu hari nanti kita akan dihisab.

Begitu pula bisnis-bisnis lainnya. Sedemikian banyak barang di luar sana. Sedemikian banyak cara untuk menjual. Sedemikian banyak segmen untuk ditawari. Orang beriman tentunya pandai memilih.

Maka, pilihlah yang sarat manfaat dan penuh keberkahan. Dengan adanya pilihan yang tepat, mudah-mudahan kesibukan kita dalam perniagaan jadi amal semuanya. Penuh keberkahan. Aamiin.