Abdul Somad atau Ustadz Abdul Somad Lc, teman-teman kenal?
Selasa yang lalu, untuk kesekian kalinya saya mengikuti kajian beliau. Alhamdulillah. Kali ini diadakan oleh teman-teman Musawarah, seperti Dude Harlino, Dimas Seto, Teuku Wisnu dll. Di sini saya sebagai peserta biasa.
Menariknya, ketika ceramah, Ustadz Abdul Somad menganjurkan jamaah untuk mengambil peran di berbagai bidang. Mulai dari hiburan, pendidikan, politik, sampai ekonomi. Bukan satu-dua bidang saja. Tidak pula meninggalkan bidang yang rasa-rasanya kita ahli di situ.
Saya setuju dengan statement itu. Seperti yang teman-teman tahu, saya memutuskan berjuang di bidang ekonomi. Ya, bidang ekonomi. Menurut saya, setiap kita mesti melek finansial. Setidaknya keuangan kita sendiri.
Ingat. Biaya hidup dan tanggungan hidup terus meningkat. Anak pun masuk SD dan SMP. Asal tahu saja, biaya pendidikan di Indonesia naik 2 kali lipat setiap 5 tahun. Inflasi? Tak bisa ditahan. Biaya umrah? Sama, naik terus.
Jelas, menunda-nunda memulai bisnis bukanlah solusi. Ya, bukanlah solusi. Sebenarnya, tidak harus pintar untuk menjadi entrepreneur. Tidak harus pengalaman. Tidak harus sarjana. Tidak harus terkenal. Tidak harus kaya. Tidak harus ini-itu.
Terus, apa yang penting? Anda memilih dan membuat keputusan. Cuma itu. Jangan salah, memilih dan membuat keputusan itu perlu keberanian. Di antara kita, ada yang memilih jadi profesional, ada juga yang memilih jadi entrepreneur. Yah silakan saja. Choice. Masing-masing ada konsekuensi.
Dan inilah saran saya kepada entrepreneur serta calon entrepreneur. Mulailah berbisnis semuda mungkin. Mumpung lagi semangat-semangatnya. Mumpung lagi berani-beraninya. Mumpung ada banyak waktu. Mumpung masih sedikit tanggungan.
Satu lagi. Usahakan punya mentor. Sekitar 90 persen bisnis gagal pada 2 tahun pertama. Kenapa? Karena tidak ada yang membimbing. Nah, dengan adanya mentor, insya Allah ini akan mengurangi risiko kegagalan.
Seperti yang dianjurkan oleh Ustadz Abdul Somad, saya berusaha mengambil peran di bidang ekonomi. Bukan itu saja. Saya pun berusaha mengajarkan soal bisnis dan ekonomi kepada orang banyak. Mungkin Anda salah satunya. Mudah-mudahan bermanfaat.
Ujung-ujungnya, semoga berkah berlimpah.
Selasa yang lalu, untuk kesekian kalinya saya mengikuti kajian beliau. Alhamdulillah. Kali ini diadakan oleh teman-teman Musawarah, seperti Dude Harlino, Dimas Seto, Teuku Wisnu dll. Di sini saya sebagai peserta biasa.
Menariknya, ketika ceramah, Ustadz Abdul Somad menganjurkan jamaah untuk mengambil peran di berbagai bidang. Mulai dari hiburan, pendidikan, politik, sampai ekonomi. Bukan satu-dua bidang saja. Tidak pula meninggalkan bidang yang rasa-rasanya kita ahli di situ.
Saya setuju dengan statement itu. Seperti yang teman-teman tahu, saya memutuskan berjuang di bidang ekonomi. Ya, bidang ekonomi. Menurut saya, setiap kita mesti melek finansial. Setidaknya keuangan kita sendiri.
Ingat. Biaya hidup dan tanggungan hidup terus meningkat. Anak pun masuk SD dan SMP. Asal tahu saja, biaya pendidikan di Indonesia naik 2 kali lipat setiap 5 tahun. Inflasi? Tak bisa ditahan. Biaya umrah? Sama, naik terus.
Jelas, menunda-nunda memulai bisnis bukanlah solusi. Ya, bukanlah solusi. Sebenarnya, tidak harus pintar untuk menjadi entrepreneur. Tidak harus pengalaman. Tidak harus sarjana. Tidak harus terkenal. Tidak harus kaya. Tidak harus ini-itu.
Terus, apa yang penting? Anda memilih dan membuat keputusan. Cuma itu. Jangan salah, memilih dan membuat keputusan itu perlu keberanian. Di antara kita, ada yang memilih jadi profesional, ada juga yang memilih jadi entrepreneur. Yah silakan saja. Choice. Masing-masing ada konsekuensi.
Dan inilah saran saya kepada entrepreneur serta calon entrepreneur. Mulailah berbisnis semuda mungkin. Mumpung lagi semangat-semangatnya. Mumpung lagi berani-beraninya. Mumpung ada banyak waktu. Mumpung masih sedikit tanggungan.
Satu lagi. Usahakan punya mentor. Sekitar 90 persen bisnis gagal pada 2 tahun pertama. Kenapa? Karena tidak ada yang membimbing. Nah, dengan adanya mentor, insya Allah ini akan mengurangi risiko kegagalan.
Seperti yang dianjurkan oleh Ustadz Abdul Somad, saya berusaha mengambil peran di bidang ekonomi. Bukan itu saja. Saya pun berusaha mengajarkan soal bisnis dan ekonomi kepada orang banyak. Mungkin Anda salah satunya. Mudah-mudahan bermanfaat.
Ujung-ujungnya, semoga berkah berlimpah.
Pilih mana?
Buku atau e-book?
Buku atau socmed?
Ternyata membaca buku asli (cetak atau fisik) lebih mudah mengingat isi buku dan alur cerita buku, dibandingkan membaca secara digital seperti e-book. Alasannya, pembaca Kindle, PDF, atau sejenisnya tidak bisa merasakan konstruksi mental seperti yang dirasakan oleh pembaca buku asli (cetak atau fisik).
“Saat membaca buku yang dicetak, Anda merasakan buku dan ketebalannya, di mana ketika Anda membuka lembaran-lembaran buku, bagian kiri mulai menebal dan bagian kanan makin menipis,” ungkap peneliti Anne Mangen, PhD, dari Universitas Stavanger.
Saran saya, apapun pilihan Anda, buku asli harus diprioritaskan. Satu lagi, sempatkan membaca minimal satu buku setiap bulannya. Ya, minimal satu buku. Sampai sekarang, saya sudah bertemu ratusan ribu orang dan saya menemukan wawasan yang lebih unggul pada orang-orang yang gemar membaca.
Alhamdulillah, dulu saya dilibatkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayan, melalui program Belajar Bersama Mentor. Salah satu pesan penting yang saya ajarkan dan anjurkan di sana adalah kebiasaan membaca.
Karena kebiasaan membaca itu akan meningkatkan kosa kata, kecerdasan, komunikasi, konsentrasi, dan mencegah kepikunan. Bukan saja soal wawasan, tapi membaca ini juga soal kesehatan. Praktek ya.
Buku atau e-book?
Buku atau socmed?
Ternyata membaca buku asli (cetak atau fisik) lebih mudah mengingat isi buku dan alur cerita buku, dibandingkan membaca secara digital seperti e-book. Alasannya, pembaca Kindle, PDF, atau sejenisnya tidak bisa merasakan konstruksi mental seperti yang dirasakan oleh pembaca buku asli (cetak atau fisik).
“Saat membaca buku yang dicetak, Anda merasakan buku dan ketebalannya, di mana ketika Anda membuka lembaran-lembaran buku, bagian kiri mulai menebal dan bagian kanan makin menipis,” ungkap peneliti Anne Mangen, PhD, dari Universitas Stavanger.
Saran saya, apapun pilihan Anda, buku asli harus diprioritaskan. Satu lagi, sempatkan membaca minimal satu buku setiap bulannya. Ya, minimal satu buku. Sampai sekarang, saya sudah bertemu ratusan ribu orang dan saya menemukan wawasan yang lebih unggul pada orang-orang yang gemar membaca.
Alhamdulillah, dulu saya dilibatkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayan, melalui program Belajar Bersama Mentor. Salah satu pesan penting yang saya ajarkan dan anjurkan di sana adalah kebiasaan membaca.
Karena kebiasaan membaca itu akan meningkatkan kosa kata, kecerdasan, komunikasi, konsentrasi, dan mencegah kepikunan. Bukan saja soal wawasan, tapi membaca ini juga soal kesehatan. Praktek ya.
Berapa lama Anda memegang telepon seluler dalam sehari? 5 jam? 6 jam? Atau lebih?
Dunia telah berubah. Benar-benar berubah. Salah satunya, dominasi internet, termasuklah di dalamnya media sosial. Tercatat 87,4 persen netizen mengakses internet untuk menggunakan jejaring sosial. Kemudian disusul 68,7 persen untuk mencari informasi.
Dalam berselancar di dunia maya ini, netizen lebih banyak mengakses melalui telepon seluler dengan angka sebesar 85 persen, diikuti di belakangnya melalui laptop. Orang perkotaan bisa memegang telepon seluler 5-6 jam sehari. Lumayan lama ya. Sangat.
Segala sesuatu kalau sudah melibatkan internet, pastilah menyebabkan suatu perubahan dan perubahan itu berlangsung relatif cepat. Di mana-mana, begitulah faktanya. Mau tidak mau, kita harus siap.
Ya, karena internet, semua berubah begitu cepat. Tidak bisa disangkal, keterlambatan dalam berpikir dan bertindak akan berdampak negatif pada keberlangsungan bisnis. Right? Ironisnya, pemerintah belum tentu memahami aspek ini.
Bank Dunia mencatat peringkat kemudahan berbisnis atau 'ease of doing business' di Indonesia turun dari peringkat 72 ke 73. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyoroti kinerja aparatur di tingkat pusat maupun di tingkat daerah.
Sudahlah, kita lupakan dulu faktor aparat. Sebagai entrepreneur, kita lakukan dulu apa yang bisa kita lakukan. Contohnya? Menjual melalui media sosial. Kalau kita berani mencoba dan mau belajar, insya Allah hasilnya bisa mengalahkan gaji orang kantoran.
Kita sebagai entrepreneur atau profesi sejenis, kalau tidak memahami perubahan yang serba cepat ini, berarti bersiap-siaplah digilas zaman. Blackberry, Nokia, dan Kodak adalah contoh kecilnya. Di sisi lain, Tabloid Bola dan Sinar Harapan memilih untuk tutup alias tidak terbit lagi.
Hari ini dan kemarin saya berada di Karawang. Saya bertemu dengan ratusan entrepreneur. Selain menggarap dunia offline, mereka juga menekuni dunia online. Mungkin media sosial. Mungkin marketplace. Hasilnya membuat saya geleng-geleng kepala.
Jangan anggap enteng menjual melalui media sosial. Sekali lagi, kalau kita berani mencoba dan mau belajar, insya Allah hasilnya bisa mengalahkan gaji orang kantoran. Terakhir, saya menyarankan Anda bergabung di ekosistem yang tepat, sehingga melek dengan hal-hal seperti ini. Siap?
Dunia telah berubah. Benar-benar berubah. Salah satunya, dominasi internet, termasuklah di dalamnya media sosial. Tercatat 87,4 persen netizen mengakses internet untuk menggunakan jejaring sosial. Kemudian disusul 68,7 persen untuk mencari informasi.
Dalam berselancar di dunia maya ini, netizen lebih banyak mengakses melalui telepon seluler dengan angka sebesar 85 persen, diikuti di belakangnya melalui laptop. Orang perkotaan bisa memegang telepon seluler 5-6 jam sehari. Lumayan lama ya. Sangat.
Segala sesuatu kalau sudah melibatkan internet, pastilah menyebabkan suatu perubahan dan perubahan itu berlangsung relatif cepat. Di mana-mana, begitulah faktanya. Mau tidak mau, kita harus siap.
Ya, karena internet, semua berubah begitu cepat. Tidak bisa disangkal, keterlambatan dalam berpikir dan bertindak akan berdampak negatif pada keberlangsungan bisnis. Right? Ironisnya, pemerintah belum tentu memahami aspek ini.
Bank Dunia mencatat peringkat kemudahan berbisnis atau 'ease of doing business' di Indonesia turun dari peringkat 72 ke 73. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyoroti kinerja aparatur di tingkat pusat maupun di tingkat daerah.
Sudahlah, kita lupakan dulu faktor aparat. Sebagai entrepreneur, kita lakukan dulu apa yang bisa kita lakukan. Contohnya? Menjual melalui media sosial. Kalau kita berani mencoba dan mau belajar, insya Allah hasilnya bisa mengalahkan gaji orang kantoran.
Kita sebagai entrepreneur atau profesi sejenis, kalau tidak memahami perubahan yang serba cepat ini, berarti bersiap-siaplah digilas zaman. Blackberry, Nokia, dan Kodak adalah contoh kecilnya. Di sisi lain, Tabloid Bola dan Sinar Harapan memilih untuk tutup alias tidak terbit lagi.
Hari ini dan kemarin saya berada di Karawang. Saya bertemu dengan ratusan entrepreneur. Selain menggarap dunia offline, mereka juga menekuni dunia online. Mungkin media sosial. Mungkin marketplace. Hasilnya membuat saya geleng-geleng kepala.
Jangan anggap enteng menjual melalui media sosial. Sekali lagi, kalau kita berani mencoba dan mau belajar, insya Allah hasilnya bisa mengalahkan gaji orang kantoran. Terakhir, saya menyarankan Anda bergabung di ekosistem yang tepat, sehingga melek dengan hal-hal seperti ini. Siap?
FOCUS.
Follow One Course Until Successful.
Dalam olahraga perlu fokus, dalam bisnis juga sama, perlu #fokus. Bahkan sangat perlu.
Ingat. Apa saja yang kita fokuskan akan membesar...
Kecepatan membesarnya eksponensial.
2, 4, 8, 16, 32, 64, 128.
Sesuatu yg tidak fokus, hasilnya cuma linier.
2, 4, 6, 8, 10, 12, 14.
Fokus itu pertanda bahwa kita komit untuk menekuni dan menuntaskan sesuatu dengan sepenuh hati (full heart), bukan sekedar full time. Dan apapun yang dilakukan dengan sepenuh hati, maka akan jelas hasilnya. Sukses besar, itu soal waktu saja.
Sekali lagi, fokuslah. Siaaaap?
Follow One Course Until Successful.
Dalam olahraga perlu fokus, dalam bisnis juga sama, perlu #fokus. Bahkan sangat perlu.
Ingat. Apa saja yang kita fokuskan akan membesar...
Kecepatan membesarnya eksponensial.
2, 4, 8, 16, 32, 64, 128.
Sesuatu yg tidak fokus, hasilnya cuma linier.
2, 4, 6, 8, 10, 12, 14.
Fokus itu pertanda bahwa kita komit untuk menekuni dan menuntaskan sesuatu dengan sepenuh hati (full heart), bukan sekedar full time. Dan apapun yang dilakukan dengan sepenuh hati, maka akan jelas hasilnya. Sukses besar, itu soal waktu saja.
Sekali lagi, fokuslah. Siaaaap?
Ayah, sesibuk apapun, harus menyempatkan diri bercengkrama dengan keluarga. Silakan bekerja. Silakan berjuang. Silakan sibuk. Tapi ingat, anak dan keluarga memiliki hak atas diri kita.
Penelitian University of Guelph, Kanada, pada tahun 2007 yang bertajuk The Effects of Father Involvement, menunjukkan bahwa anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini, mempunyai kemampuan kognitif lebih prima saat memasuki usia 6 bulan hingga 12 bulan.
Selain itu, mereka juga memiliki IQ yang lebih cemerlang saat menginjak usia 3 tahun dan berkembang menjadi sosok yang mampu memecahkan persoalan dengan lebih bijak. Jelas, ini bukan perkara sepele.
Sentuhan fisik seperti pijat, pelukan, dan berpegangan tangan dapat mengurangi stress dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ini menurut HealthCom. Bukan saja kepada pasangan, ini juga bisa dilakukan kepada anak.
Guru saya #UstadzAdiHidayat giat mengajar, giat pula belajar. Tapi masya Allah, beliau masih sempat juga berolahraga dan bercengkrama dengan keluarga. Ini pelajaran buat kita semua... Foto berikut ini di Dago Dream Park...
https://www.instagram.com/p/BqlHTyDFwT_/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=qc3t2grq0kgi
Sesibuk apapun, keluarga memiliki hak atas diri kita. Sempatkan, prioritaskan.
Penelitian University of Guelph, Kanada, pada tahun 2007 yang bertajuk The Effects of Father Involvement, menunjukkan bahwa anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini, mempunyai kemampuan kognitif lebih prima saat memasuki usia 6 bulan hingga 12 bulan.
Selain itu, mereka juga memiliki IQ yang lebih cemerlang saat menginjak usia 3 tahun dan berkembang menjadi sosok yang mampu memecahkan persoalan dengan lebih bijak. Jelas, ini bukan perkara sepele.
Sentuhan fisik seperti pijat, pelukan, dan berpegangan tangan dapat mengurangi stress dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ini menurut HealthCom. Bukan saja kepada pasangan, ini juga bisa dilakukan kepada anak.
Guru saya #UstadzAdiHidayat giat mengajar, giat pula belajar. Tapi masya Allah, beliau masih sempat juga berolahraga dan bercengkrama dengan keluarga. Ini pelajaran buat kita semua... Foto berikut ini di Dago Dream Park...
https://www.instagram.com/p/BqlHTyDFwT_/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=qc3t2grq0kgi
Sesibuk apapun, keluarga memiliki hak atas diri kita. Sempatkan, prioritaskan.
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Guru saya @UstadzAdiHidayat giat mengajar, giat pula belajar. Tapi masya Allah, beliau masih sempat juga berolahraga dan bercengkrama dengan keluarga. Ini pelajaran buat kita semua... Foto ini di Dago Dream Park... Sesibuk apapun, keluarga memiliki hak atas…
DIAZ ADRIANI - E BOOK 5 TIPS MELUNASi HUTANG DENGAN JUALAN.pdf
Berjualan di socmed tentu berbeda dengan berjualan tatap muka di pasar konvensional.
Kemungkinan besar di socmed, Anda akan berbicara dengan konsumen tanpa melihat wajahnya secara langsung. Right? Dengan begitu, Anda diwajibkan mengetahui bagaimana cara menarik minat konsumen untuk singgah di blog atau socmed Anda.
Semakin greget cara-cara yang Anda pakai, maka semakin ramai konsumen yang akan berkunjung. Mereka akan singgah, baca-baca, dan kemudian membeli. Pada akhirnya bisnis online Anda akan semakin menguntungkan.
Memang diperlukan waktu yang cukup lama untuk mempelajari ilmu socmed secara detail dan teknis. Berlanjut dengan ilmu WA marketing. Bisa 1 sampai 2 hari. Namun jika Anda sering-sering berlatih dan sering-sering menerapkan ilmu tersebut, maka Anda akan semakin ahli.
Itu artinya, Anda akan lebih mudah dan lebih cepat dalam menawarkan apapun. Mengaku gaptek adalah pertanda kemalasan dan keengganan untuk berubah. Kalau Anda masih berusia 40 tahun ke bawah, jangan pakai kata 'gaptek' itu. Memalukan.
Sebenarnya, dari segi modal, WA marketing jauh lebih ringan. Siapkan saja kelengkapan dasar seperti laptop atau smartphone. Dan, tentunya Anda juga harus memastikan bahwa kuota aman. Setelah itu, siapkan pula chat service berupa WA. Nggak rumit tho?
Percayalah, ini jauh lebih murah daripada Anda berjualan di toko atau ruko. Saran saya, "Mumpung masih muda, belajarlah ilmu socmed dan WA marketing. Coba. Dalami. Praktekkan. Insya Allah akan menghasilkan".
Kemungkinan besar di socmed, Anda akan berbicara dengan konsumen tanpa melihat wajahnya secara langsung. Right? Dengan begitu, Anda diwajibkan mengetahui bagaimana cara menarik minat konsumen untuk singgah di blog atau socmed Anda.
Semakin greget cara-cara yang Anda pakai, maka semakin ramai konsumen yang akan berkunjung. Mereka akan singgah, baca-baca, dan kemudian membeli. Pada akhirnya bisnis online Anda akan semakin menguntungkan.
Memang diperlukan waktu yang cukup lama untuk mempelajari ilmu socmed secara detail dan teknis. Berlanjut dengan ilmu WA marketing. Bisa 1 sampai 2 hari. Namun jika Anda sering-sering berlatih dan sering-sering menerapkan ilmu tersebut, maka Anda akan semakin ahli.
Itu artinya, Anda akan lebih mudah dan lebih cepat dalam menawarkan apapun. Mengaku gaptek adalah pertanda kemalasan dan keengganan untuk berubah. Kalau Anda masih berusia 40 tahun ke bawah, jangan pakai kata 'gaptek' itu. Memalukan.
Sebenarnya, dari segi modal, WA marketing jauh lebih ringan. Siapkan saja kelengkapan dasar seperti laptop atau smartphone. Dan, tentunya Anda juga harus memastikan bahwa kuota aman. Setelah itu, siapkan pula chat service berupa WA. Nggak rumit tho?
Percayalah, ini jauh lebih murah daripada Anda berjualan di toko atau ruko. Saran saya, "Mumpung masih muda, belajarlah ilmu socmed dan WA marketing. Coba. Dalami. Praktekkan. Insya Allah akan menghasilkan".
Beri ikannya?
Atau beri kailnya?
Saat kita hidup mapan dan berusaha membantu orang-orang di sekitar kita, maka orang bijak pun menasehati, "Beri kailnya. Bukan ikannya. Dengan kail, ia bisa memancing dan menafkahi hidupnya setiap hari. Tapi kalau cuma ikan, itu hanya mencukupi hidupnya satu-dua hari saja."
Lantas, apa pendapat saya? Soal kail ini, menurut saya, bisa benar atau tidak. Saya lebih setuju pada 'beri ilmu memancing' dan 'tunjukkan kolam pancingnya'. Hm, maksudnya? Begini.
Saya bahas dengan analogi kail dan ikan semata-mata karena analogi ini sudah sangat popoler di tengah-tengah masyarakat. Anda pasti pernah mendengarnya. Walaupun saya pribadi tidak terlalu suka dengan dunia pancing-memancing. Dan seperti biasa, tulisan saya boleh di-share.
Kail, ini identik dengan fasilitas demi fasilitas. Kalau kita berikan, hati-hati, ini bisa memanjakan saudara kita atau sahabat kita. Bahkan melemahkan potensi mereka. Bahaya. Namanya manusia, begitu merasa nyaman atau sangat nyaman, hampir otomatis tertutup potensinya. Alih-alih menggali potensi, mereka cenderung menikmati fasilitas yang sudah ada. Betul apa betul?
Contoh, Anda berikan mobil kepada adik Anda yang tengah kuliah atau bekerja. Apakah dengan ini, si adik akan berpikir keras dan berusaha keras untuk mendapatkan sebuah mobil? Kemungkinan besar, tidak. Dia akan cenderung menikmati mobil yang sudah ada, tanpa perlu berpikir dan berusaha ini-itu lagi. Sebenarnya, kalaupun mau membantu, berikan si adik itu motor. Seken pun tak masalah. Jangan mobil.
Termasuk saat kita punya 5 restoran, lalu serta-merta kita memberikan 1 restoran kepada saudara kita atau sahabat kita. Lha, apa dia tahu ilmunya? Ingat, sepenting-pentingnya bisnis, lebih penting lagi ilmu di balik bisnis. Namanya bisnis, bisa untung bisa rugi. Tapi kalau tahu ilmunya, kita bisa mencetak untung berkali-kali walaupun sebelumnya pernah rugi. Right?
Camkan baik-baik. Kita tidak hidup selamanya. Kita tidak sehat selamanya. Bukan mustahil, kita yang meninggal duluan. Kasihan saudara kita kalau kita tidak mempersiapkan dia. Maka, kalau memang peduli dan sayang sama dia, persiapkan dia. Gembleng dia. Ajari dia. Inilah yang saya sebut 'beri ilmu memancing' dan 'tunjukkan kolam pancingnya'.
Kalaupun karena terpaksa, Anda memberikan kail, yah silakan. Tapi pastikan Anda beri kail itu sekalian dengan ilmu dan prosesnya. Sekali lagi saya ingatkan, memberi kail dan hanya kail, bisa memanjakan dia bahkan melemahkan potensi dia. Yang saya amati, saat kail ini hilang atau Anda ambil kembali, dia bisa depresi atau emosi karena memang dia tidak siap. Akan beda ceritanya kalau dia sudah tahu ilmunya.
Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Atau beri kailnya?
Saat kita hidup mapan dan berusaha membantu orang-orang di sekitar kita, maka orang bijak pun menasehati, "Beri kailnya. Bukan ikannya. Dengan kail, ia bisa memancing dan menafkahi hidupnya setiap hari. Tapi kalau cuma ikan, itu hanya mencukupi hidupnya satu-dua hari saja."
Lantas, apa pendapat saya? Soal kail ini, menurut saya, bisa benar atau tidak. Saya lebih setuju pada 'beri ilmu memancing' dan 'tunjukkan kolam pancingnya'. Hm, maksudnya? Begini.
Saya bahas dengan analogi kail dan ikan semata-mata karena analogi ini sudah sangat popoler di tengah-tengah masyarakat. Anda pasti pernah mendengarnya. Walaupun saya pribadi tidak terlalu suka dengan dunia pancing-memancing. Dan seperti biasa, tulisan saya boleh di-share.
Kail, ini identik dengan fasilitas demi fasilitas. Kalau kita berikan, hati-hati, ini bisa memanjakan saudara kita atau sahabat kita. Bahkan melemahkan potensi mereka. Bahaya. Namanya manusia, begitu merasa nyaman atau sangat nyaman, hampir otomatis tertutup potensinya. Alih-alih menggali potensi, mereka cenderung menikmati fasilitas yang sudah ada. Betul apa betul?
Contoh, Anda berikan mobil kepada adik Anda yang tengah kuliah atau bekerja. Apakah dengan ini, si adik akan berpikir keras dan berusaha keras untuk mendapatkan sebuah mobil? Kemungkinan besar, tidak. Dia akan cenderung menikmati mobil yang sudah ada, tanpa perlu berpikir dan berusaha ini-itu lagi. Sebenarnya, kalaupun mau membantu, berikan si adik itu motor. Seken pun tak masalah. Jangan mobil.
Termasuk saat kita punya 5 restoran, lalu serta-merta kita memberikan 1 restoran kepada saudara kita atau sahabat kita. Lha, apa dia tahu ilmunya? Ingat, sepenting-pentingnya bisnis, lebih penting lagi ilmu di balik bisnis. Namanya bisnis, bisa untung bisa rugi. Tapi kalau tahu ilmunya, kita bisa mencetak untung berkali-kali walaupun sebelumnya pernah rugi. Right?
Camkan baik-baik. Kita tidak hidup selamanya. Kita tidak sehat selamanya. Bukan mustahil, kita yang meninggal duluan. Kasihan saudara kita kalau kita tidak mempersiapkan dia. Maka, kalau memang peduli dan sayang sama dia, persiapkan dia. Gembleng dia. Ajari dia. Inilah yang saya sebut 'beri ilmu memancing' dan 'tunjukkan kolam pancingnya'.
Kalaupun karena terpaksa, Anda memberikan kail, yah silakan. Tapi pastikan Anda beri kail itu sekalian dengan ilmu dan prosesnya. Sekali lagi saya ingatkan, memberi kail dan hanya kail, bisa memanjakan dia bahkan melemahkan potensi dia. Yang saya amati, saat kail ini hilang atau Anda ambil kembali, dia bisa depresi atau emosi karena memang dia tidak siap. Akan beda ceritanya kalau dia sudah tahu ilmunya.
Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Setiap ayah adalah superhero.
- Adalah benar ibu itu hebat, tiada duanya. Tapi dengan izin Allah, ayahlah yang memilihkan ibu untuk kita dan mengarahkan ibu untuk mendampingi kita.
- Adalah benar ibu yang mengandung dan menyusui kita. Tapi ayahlah yang menafkahi ibu, sehingga ibu dapat mengandung dan menyusui kita dengan sempurna.
- Adalah benar ibu yang melahirkan kita, mempertaruhkan nyawanya. Tapi ayahlah yang sehari-hari melindungi kita, mempertaruhkan hidupnya.
- Adalah benar ibu yang memberi kita nasihat-nasihat kehidupan. Tapi dalam kehidupan, ayahlah yang bertindak sebagai penanggung-jawab dan kepala keluarga.
- Adalah benar, kalau kita ada masalah, ibu yang risau dan menangis. Tapi ayahlah yang mengajarkan ketegaran kepada kita dengan menyembunyikan kerisauannya.
Hormati ayah kita.
Sayangi ayah kita.
Doakan ayah kita.
Itu bagian dari berbakti. Dan saat kita berusaha untuk berbakti, tanpa terasa, ternyata itu memudahkan rezeki kita. Pun membuat anak mencontoh, lalu berbakti kepada kita. Belum lagi soal berkah dan pahala. Insya Allah ini nyata.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
- Adalah benar ibu itu hebat, tiada duanya. Tapi dengan izin Allah, ayahlah yang memilihkan ibu untuk kita dan mengarahkan ibu untuk mendampingi kita.
- Adalah benar ibu yang mengandung dan menyusui kita. Tapi ayahlah yang menafkahi ibu, sehingga ibu dapat mengandung dan menyusui kita dengan sempurna.
- Adalah benar ibu yang melahirkan kita, mempertaruhkan nyawanya. Tapi ayahlah yang sehari-hari melindungi kita, mempertaruhkan hidupnya.
- Adalah benar ibu yang memberi kita nasihat-nasihat kehidupan. Tapi dalam kehidupan, ayahlah yang bertindak sebagai penanggung-jawab dan kepala keluarga.
- Adalah benar, kalau kita ada masalah, ibu yang risau dan menangis. Tapi ayahlah yang mengajarkan ketegaran kepada kita dengan menyembunyikan kerisauannya.
Hormati ayah kita.
Sayangi ayah kita.
Doakan ayah kita.
Itu bagian dari berbakti. Dan saat kita berusaha untuk berbakti, tanpa terasa, ternyata itu memudahkan rezeki kita. Pun membuat anak mencontoh, lalu berbakti kepada kita. Belum lagi soal berkah dan pahala. Insya Allah ini nyata.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Sabtu yang lalu, saya kembali belajar sama Ustadz Adi Hidayat. Belajar itu harus. Yang saya pahami, "Ilmu itu cahaya. Fakir itu gelap. Mereka yang sungguh-sungguh dengan ilmu, dijamin tidak fakir. Yah, tak akan bertemu antara cahaya dan kegelapan."
Satu lagi. Seberapa serius Anda dengan perubahan nasib? Ini terlihat dari seberapa serius Anda belajar.
Lantas, apa pesan saya untuk mereka yang menginginkan perubahan nasib? Simple saja. 5B, yaitu belajar, berhemat, berbisnis, berinvestasi, dan berbagi. Praktek minimal 2 tahun. Niscaya akan terlihat hasilnya.
Terkait bisnis, ada baiknya kita paham dulu. Belajar, berilmu. Kalau sekedar memulai, boleh tanpa ilmu. Tapi kalau membesarkan, yah perlu ilmu. Misalnya, sistem yang rapi, SDM yang solid, promosi yang efektif, dan lain-lain. Itu semua perlu dipelajari. Coba-coba sendiri? Boleh, tapi jadinya malah lebih lama dan lebih mahal.
Saya, demi membenahi TK Khalifah, sempat memanggil sejumlah konsultan dan tenaga ahli. Saya belajar. Bukan sehari dua hari, melainkan bertahun-tahun. Karena saya tahu persis, kalau coba-coba sendiri jadinya malah lebih lama dan lebih mahal.
Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok, juga menganjurkan kita untuk memiliki mentor. Tentunya, the real mentor. Gimana dengan Anda, sudah punya mentor? Di komunitas BP, saya berupaya menghadirkan lima mentor untuk semua member. Agar terarah, tak salah langkah.
Satu hal yang selalu dipesankan oleh orang-orang bijak, "Lima tahun lagi, kita akan jadi seperti apa? Kemungkinan besar, sangat dipengaruhi oleh teman-teman kita dan buku-buku yang kita baca." Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Yang ingin punya mentor, komen di sini ya >> https://www.instagram.com/p/BrJTQGKltqf/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=dp1kgckc7i64
Satu lagi. Seberapa serius Anda dengan perubahan nasib? Ini terlihat dari seberapa serius Anda belajar.
Lantas, apa pesan saya untuk mereka yang menginginkan perubahan nasib? Simple saja. 5B, yaitu belajar, berhemat, berbisnis, berinvestasi, dan berbagi. Praktek minimal 2 tahun. Niscaya akan terlihat hasilnya.
Terkait bisnis, ada baiknya kita paham dulu. Belajar, berilmu. Kalau sekedar memulai, boleh tanpa ilmu. Tapi kalau membesarkan, yah perlu ilmu. Misalnya, sistem yang rapi, SDM yang solid, promosi yang efektif, dan lain-lain. Itu semua perlu dipelajari. Coba-coba sendiri? Boleh, tapi jadinya malah lebih lama dan lebih mahal.
Saya, demi membenahi TK Khalifah, sempat memanggil sejumlah konsultan dan tenaga ahli. Saya belajar. Bukan sehari dua hari, melainkan bertahun-tahun. Karena saya tahu persis, kalau coba-coba sendiri jadinya malah lebih lama dan lebih mahal.
Jack Ma, salah satu orang terkaya di Tiongkok, juga menganjurkan kita untuk memiliki mentor. Tentunya, the real mentor. Gimana dengan Anda, sudah punya mentor? Di komunitas BP, saya berupaya menghadirkan lima mentor untuk semua member. Agar terarah, tak salah langkah.
Satu hal yang selalu dipesankan oleh orang-orang bijak, "Lima tahun lagi, kita akan jadi seperti apa? Kemungkinan besar, sangat dipengaruhi oleh teman-teman kita dan buku-buku yang kita baca." Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Yang ingin punya mentor, komen di sini ya >> https://www.instagram.com/p/BrJTQGKltqf/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=dp1kgckc7i64
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Kadang kita belajar. Kadang kita mengajar... Ada saatnya kita jadi murid. Ada saatnya kita jadi guru. Jadi guru? Ya. Mungkin terhadap pasangan, anak, atau tim. Dijalani saja... Teman-teman setujuuuuu? 👨🎓👨🎓👨🎓
Poligami
Sebagian besar keluarga memilih hidup monogami. Yang lain, sebagian kecil, memilih hidup poligami. Yah silakan. Masing-masing ada konsekuensi dan tanggung-jawab tersendiri.
Presiden Soekarno, poligami (beristri lebih dari dua). Wapres Hamzah Haz, poligami. Pendiri Muhammadiyah, poligami. Pendiri NU, poligami. Sampai sekarang, tidak ada yang berani mengolok-olok poligaminya mereka. Hm, ada yang berani?
Nah, bagaimana dengan nabi-nabi? Ada juga yang berpoligami, seperti Nabi Ibrahim (Abraham) dan Nabi Musa. Kita sama-sama tahu, Nabi Ibrahim adalah buyutnya Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Demikian pula Nabi Sulaiman dan Nabi Daud, sangat banyak istrinya.
Sebelum Nabi Muhammad diutus jadi nabi, seorang pria bisa menikahi beberapa wanita sekaligus dengan jumlah tanpa batas. Dan ini terjadi di seluruh dunia, bukan di Tanah Arab saja.
Bahkan dua wanita bersaudara pun boleh dinikahi pada waktu bersamaan. Justru melalui risalah Islam, Nabi Muhammad mengajarkan pembatasan poligami dengan syarat-syarat yang sangat ketat. Tulisan ini boleh di-share.
Lha, apa jadinya kalau tidak dibatasi? Yah, seorang pria bisa menikahi para wanita sesukanya. OC Kaligis istrinya 10. Eyang Subur istrinya 8. Iwan Tjahyadikarta (Eng Thiong) dari 9 Naga, istrinya 5. Itu sih yang ketahuan, karena mereka sangat populer. Tentu lebih banyak tokoh yang tidak ketahuan.
Seorang muslim sekiranya anti dengan poligami atau menolak syariat poligami, berarti ada dua kemungkinan. Pertama, belum tahu sejarah Islam dan sejarah Indonesia. Kedua, lagi nyari sensasi. Caper (Mbok ya kalau caper itu dengan prestasi, bukan sensasi).
Begini. Ada seorang sahabat yang bersedekah 99%. Abubakar namanya. Ada seorang salaf yang menggendong ibunya berhaji. Uwais Al-Qarni namanya. Ada seorang nabi yang berkurban ribuan hewan. Ibrahim namanya.
Kita sebagai muslim kalau belum sanggup atau tidak sanggup seperti itu, yah nggak apa-apa. Tapi jangan sampai kita mengolok-olok kisah tersebut atau menyangkalnya. Demikian pula dengan kehidupan poligami. Buat apa Anda mengolok atau menyangkalnya?
Sekali lagi. Sebagian besar keluarga di Indonesia memilih hidup monogami. Yang lain, sebagian kecil, memilih hidup poligami. Yah silakan. Tidak perlu kita mempermasalahkan satu sama lain, apalagi mengolok atau menyangkalnya. Saran saya, urus saja rumahtangga kita masing-masing.
Kalau bersikeras mau mempermasalahkan, yah permasalahkan mereka yang hidup serumah tanpa menikah (kumpul kebo), juga gay dan lesbian. Karena ini jelas-jelas bertentangan dengan Sila Pertama dan Sila Kedua dalam Pancasila, juga bertentangan dengan ajaran semua agama di Indonesia. Think.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sebagian besar keluarga memilih hidup monogami. Yang lain, sebagian kecil, memilih hidup poligami. Yah silakan. Masing-masing ada konsekuensi dan tanggung-jawab tersendiri.
Presiden Soekarno, poligami (beristri lebih dari dua). Wapres Hamzah Haz, poligami. Pendiri Muhammadiyah, poligami. Pendiri NU, poligami. Sampai sekarang, tidak ada yang berani mengolok-olok poligaminya mereka. Hm, ada yang berani?
Nah, bagaimana dengan nabi-nabi? Ada juga yang berpoligami, seperti Nabi Ibrahim (Abraham) dan Nabi Musa. Kita sama-sama tahu, Nabi Ibrahim adalah buyutnya Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Demikian pula Nabi Sulaiman dan Nabi Daud, sangat banyak istrinya.
Sebelum Nabi Muhammad diutus jadi nabi, seorang pria bisa menikahi beberapa wanita sekaligus dengan jumlah tanpa batas. Dan ini terjadi di seluruh dunia, bukan di Tanah Arab saja.
Bahkan dua wanita bersaudara pun boleh dinikahi pada waktu bersamaan. Justru melalui risalah Islam, Nabi Muhammad mengajarkan pembatasan poligami dengan syarat-syarat yang sangat ketat. Tulisan ini boleh di-share.
Lha, apa jadinya kalau tidak dibatasi? Yah, seorang pria bisa menikahi para wanita sesukanya. OC Kaligis istrinya 10. Eyang Subur istrinya 8. Iwan Tjahyadikarta (Eng Thiong) dari 9 Naga, istrinya 5. Itu sih yang ketahuan, karena mereka sangat populer. Tentu lebih banyak tokoh yang tidak ketahuan.
Seorang muslim sekiranya anti dengan poligami atau menolak syariat poligami, berarti ada dua kemungkinan. Pertama, belum tahu sejarah Islam dan sejarah Indonesia. Kedua, lagi nyari sensasi. Caper (Mbok ya kalau caper itu dengan prestasi, bukan sensasi).
Begini. Ada seorang sahabat yang bersedekah 99%. Abubakar namanya. Ada seorang salaf yang menggendong ibunya berhaji. Uwais Al-Qarni namanya. Ada seorang nabi yang berkurban ribuan hewan. Ibrahim namanya.
Kita sebagai muslim kalau belum sanggup atau tidak sanggup seperti itu, yah nggak apa-apa. Tapi jangan sampai kita mengolok-olok kisah tersebut atau menyangkalnya. Demikian pula dengan kehidupan poligami. Buat apa Anda mengolok atau menyangkalnya?
Sekali lagi. Sebagian besar keluarga di Indonesia memilih hidup monogami. Yang lain, sebagian kecil, memilih hidup poligami. Yah silakan. Tidak perlu kita mempermasalahkan satu sama lain, apalagi mengolok atau menyangkalnya. Saran saya, urus saja rumahtangga kita masing-masing.
Kalau bersikeras mau mempermasalahkan, yah permasalahkan mereka yang hidup serumah tanpa menikah (kumpul kebo), juga gay dan lesbian. Karena ini jelas-jelas bertentangan dengan Sila Pertama dan Sila Kedua dalam Pancasila, juga bertentangan dengan ajaran semua agama di Indonesia. Think.
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Nabi Muhammad itu kaya. Ya, kaya. Bayangkan, 25 tahun beliau berbisnis. Jangankan Nabi, orang biasa saja kalau berbisnis selama 25 tahun, disertai kejujuran, kegigihan, dan bimbingan, insya Allah kemudian pasti kaya. Itu orang biasa, apalagi Nabi!
Pernahkah beliau miskin? Pernah juga. Kapan?
- Ketika kecil saat jadi penggembala.
- Ketika istrinya dan pamannya meninggal lalu beliau diboikot.
Perhatikan baik-baik. Sewaktu kaya, beliau tetap sederhana. Rumahnya kecil. Alas tidurnya kasar. Makanan, sering beliau bagi-bagikan ke orang lain dan beliau sendiri memilih untuk puasa. Dan jangan ditanya sedekahnya, selalu besar-besaran. Sulit disaingi oleh para sahabat.
Simak lanjutannya >>
https://www.instagram.com/p/BrgdAqAlKgT/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=147915f1r319g
Pernahkah beliau miskin? Pernah juga. Kapan?
- Ketika kecil saat jadi penggembala.
- Ketika istrinya dan pamannya meninggal lalu beliau diboikot.
Perhatikan baik-baik. Sewaktu kaya, beliau tetap sederhana. Rumahnya kecil. Alas tidurnya kasar. Makanan, sering beliau bagi-bagikan ke orang lain dan beliau sendiri memilih untuk puasa. Dan jangan ditanya sedekahnya, selalu besar-besaran. Sulit disaingi oleh para sahabat.
Simak lanjutannya >>
https://www.instagram.com/p/BrgdAqAlKgT/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=147915f1r319g
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
"Tidak ada yang bisa mengalahkan sedekahnya nabi," ungkap Ibnu Abbas. Beliau kaya tapi sangat sederhana dan sangat dermawan. Semoga kita-kita di sini juga bisa seperti itu, kaya tapi sangat sederhana dan sangat dermawan. Aamiin.
Berapa maskawin Anda?
500 dirham, inilah maskawin Nabi Muhammad kepada Aisyah, menurut hadis riwayat Muslim. Satu dinar emas kurang-lebih setara dengan 10 dirham perak. Kalau dikonversi, 500 dirham itu minimal Rp 40 juta.
Yup, ini soal mahar. Mesti sungguh-sungguh.
Bagaimana dengan Ali? Baju besi buatan Huthomiyyah, inilah maskawin Ali kepada Fathimah, menurut hadis riwayat Abu Dawud. Bagi Ali, baju perang adalah sesuatu yang sangat berharga dan itulah yang kemudian ia berikan.
Benar, wanita sebaiknya menetapkan mahar yang ringan.
Tapi pria sebaiknya memberikan mahar yang terbaik.
Begitulah, seorang pria mesti berusaha kuat fisiknya dan kuat finansialnya, selain kuat imannya dan ilmunya. Dengan kata lain, kuat dalam segala hal selagi itu manfaat dan kebaikan.
"Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada masing-masing itu terdapat kebaikan. Bersemangatlah pada hal-hal yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan menjadi lemah," ini pesan Nabi Muhammad.
So, be strong!
Suatu ketika Ustadz Adi Hidayat berpesan, "Lebih baik kaya masuk surga daripada miskin nggak jelas."
Simak lanjutannya >> https://www.instagram.com/p/BrlVrphlXSw/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=b9mluwl8fyt1
500 dirham, inilah maskawin Nabi Muhammad kepada Aisyah, menurut hadis riwayat Muslim. Satu dinar emas kurang-lebih setara dengan 10 dirham perak. Kalau dikonversi, 500 dirham itu minimal Rp 40 juta.
Yup, ini soal mahar. Mesti sungguh-sungguh.
Bagaimana dengan Ali? Baju besi buatan Huthomiyyah, inilah maskawin Ali kepada Fathimah, menurut hadis riwayat Abu Dawud. Bagi Ali, baju perang adalah sesuatu yang sangat berharga dan itulah yang kemudian ia berikan.
Benar, wanita sebaiknya menetapkan mahar yang ringan.
Tapi pria sebaiknya memberikan mahar yang terbaik.
Begitulah, seorang pria mesti berusaha kuat fisiknya dan kuat finansialnya, selain kuat imannya dan ilmunya. Dengan kata lain, kuat dalam segala hal selagi itu manfaat dan kebaikan.
"Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada masing-masing itu terdapat kebaikan. Bersemangatlah pada hal-hal yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan menjadi lemah," ini pesan Nabi Muhammad.
So, be strong!
Suatu ketika Ustadz Adi Hidayat berpesan, "Lebih baik kaya masuk surga daripada miskin nggak jelas."
Simak lanjutannya >> https://www.instagram.com/p/BrlVrphlXSw/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=b9mluwl8fyt1
Instagram
IPPHO SANTOSA - Motivator
Benarkah #AbdurrahmanBinAuf sulit masuk surga karena hartanya? Ini asumsi yang keliru... Semoga Allah menjadikan kita semua hartawan yang dermawan. Aamiin...
Nangis. Ya, nangis. Itulah respons ribuan orang ketika cuplikan lagu ini saya posting kemarin. Padahal itu baru cuplikannya saja. Nah, ini versi lengkapnya. Simak deh » https://www.youtube.com/watch?v=bevaxXHbMiw
YouTube
Fadly Padi - Teddy Snada - Dwiki Dharmawan - Ippho Santosa - KASIH IBU - Lagu Motivasi - Inspirasi
#HariIbu bukan diperingati satu hari saja, melainkan setiap hari setiap saat. Kalaupun ada hari khusus, itu semata-mata untuk mengingatkan kita semua. Mungkin sebagian kita lupa... #KasihIbu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Lagu nan indah ini digubah…