Ippho Santosa - ipphoright
26.2K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Ada Kak Seto, Om Tarzan (pelawak senior), Ria Miranda dan suami, Ayana (Muallaf Korea), Diera Bachir (fotografer artis), VP Oriflame, Ustadz Wijayanto, dan Pak Herry (Direktur Danamon Syariah).
Yang paling heboh komennya ketika saya dan istri bertemu Ayana, Muallaf asal Korea yang sedang gencar diliput berbagai TV. Orangnya ramah dan pintar. Alhamdulillah... Teman-teman ada pesan untuk dia? Silakan komen dan tanya di IG saya.

https://www.instagram.com/p/Bd1WCamh7f7/
Pertemuan dan foto saya dengan tokoh-tokoh tadi tentu bukan untuk narsis-narsisan. Sama sekali bukan. Tapi masing-masing menyimpan hikmah dan pesan tersendiri. Mau nyimak? Silakan dibaca satu per satu postingan di IG saya. Terutama 3 hari terakhir.
INSPIRASI PAGI

Bersama:
- Aa Gym
- Ippho Santosa

Ahad, 14 Januari 2018
Jam 08.30-12.00 WIB
Jakarta Pusat

Untuk mengetahui alamat detailnya, silakan WA ke 0821-1278-1199.

Silakan ajak teman dan saudara. Belajar bareng. Acara ini GRATIS dan terbuka untuk umum.

Karena banyaknya peserta, diharapkan peserta datang on-time. Agar dapat posisi yang terdepan.

Jadilah pembelajar! Jadilah pemenang!
Sampai jumpa!
Semoga kita bisa silaturahim di sana...
Doakan juga teman-teman kita yang datang dari luar kota...
Tadi malam saya nonton konsernya Liam Gallagher, Oasis. Di rockpit alias front row.

Detik-detik yang sangat menyenangkan bagi saya adalah saat dia membawa bendera #MerahPutih ke hadapan penonton sembari memuji, "Ini bendera yang bagus." Ini namanya personal touch. Good job, Liam!

Silakan lihat videonya di Instagram saya, @ipphoright.

Demikian pula Guns N Roses ketika mereka perform di Jakarta. Ada personal touch. Saya suka sekali saat mereka membawakan intro lagu #IndonesiaRaya, menjelang mereka menyanyikan lagu Don't Cry. Keren!

Kalau Weezer? Lebih keren lagi. Mereka kaya akan celetukan-celetukan khas Bahasa Indonesia seperti, "Kami Weezer, selamat malam." "Apa kabar?" "Mantap, konser ini akan menyenangkan." "Teriak lebih keras, sip?" "Terima kasih Jakarta. Selamat tinggal."

Penonton mana yang nggak senang? Saya pun tersenyum sumringah saat mendengar sapaan-sapaan yang penuh personal touch itu.

Begitulah. Produk nasional bahkan internasional sekalipun perlu memberikan personal touch. Mungkin dari segi bahasa, dari segi kemasan, atau yang lainnya. Sehingga masyarakat setempat merasa lebih dispesialkan. Dan ujung-ujungnya produk kita bisa lebih diterima.

Mari kita terapkan ini pada bisnis kita. Personal touch.
Bagi saya, "Bukan sekadar kaya. Periksa kembali niat dan caranya."

Begini. Kaya itu bukan soal akumulasi harta, melainkan soal distribusi harta. Hendaknya begitu. Dengan kata lain, yang dipikirkan itu sesama, bukan dirinya dan keluarganya saja. Manfaat, manfaat, manfaat.

Terus, gimana dengan kebahagiaan?

Miskin, bahagia. Kaya, bahagia. Tapi kalau kaya, kita bisa membahagiakan orang banyak. Right? Bikin berbagai program sosial, mulai dari sekolah, klinik, rumah sakit, rumah ibadah, sport centre, dll. Maka, niatkan untuk kaya. Niatkan, ikhtiarkan!

Satu lagi. Sebaik-baik harta berada di tangan orang beriman. Ini pesan Nabi. Kenapa? Agar orang baik-baik yang mengendalikan peradaban. Bukankah ini teramat penting? Nggak perlu nanya lagi!

Kalau kita lemah, maaf, maka kita akan dikendalikan. Ingat, orang beriman yang kuat lebih disukai Allah. Hm, kuat apanya? Kuat fisiknya, finansialnya, ilmunya, imannya, dan amalnya. Bantu share ya tulisan ini.

Kalau kaya, terus sombong, gimana tuh? Segerobak contoh orang miskin yang sombong. Itu mah tergantung orangnya. Insya Allah teman-teman di sini istimewa. Kaya, baik hati, tidak sombong, dan suka menabung. Hehehe.

Pikirkan lagi. Soal kaya. Fasilitas pendidikan seperti apa yang ingin kita berikan buat anak-anak kita? Fasilitas kesehatan seperti apa yang ingin kita berikan buat keluarga kita? Sebisanya beri yang terbaik. Meski itu relatif lebih mahal.

Think.
Be rich, be right.
Saya sempat kaget ketika tahu bahwa ketimpangan ekonomi di Indonesia berada di posisi ke-4 terparah di dunia >> http://www.independent.co.uk/news/world/politics/credit-suisse-global-wealth-world-most-unequal-countries-revealed-a7434431.html

Bank Dunia memetakan adanya ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi yang mencolok di Indonesia, di mana 1% elit menguasai 40% sampai 50% kekayaan nasional.

Menurut saya, ini bagai api dalam sekam. Mencekam. Karena bisa membara tiba-tiba lalu berakhir suram dan kelam.

Sebenarnya, keadaan mulai memburuk semenjak kita memasuki era reformasi, karena menurut Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI), lembaga yang dipimpin oleh Christianto Wibisono atau Oey Kian Kok, di tahun 1990-an masih 30% penduduk yang menguasai 70-an persen PDB.

Sementara itu, 0,2% elit dibiarkan menguasai 74% luas tanah di Indonesia. Termasuk perusahaan-perusahaan raksasa seperti Sinar Mas Group >> http://properti.kompas.com/read/2017/01/06/190000521/ombudsman.penguasaan.lahan.oleh.segelintir.orang.picu.konflik.agraria

Komnas HAM mendesak pemerintah mengambilalih sebagian besar tanah yang dikuasai sederet konglomerasi. Komnas HAM menyorot, bahkan ada satu perusahaan yang memiliki tanah 5 juta hektar.

"Pengalaman di Afrika Selatan, 5% penduduk kulit putih menguasai 50% tanah. Dan akhirnya negara itu bubar. Indonesia, inilah salah satu satu distribusi lahan paling ekstrim di dunia," ungkap Komnas HAM.

Kalau para konglomerat dibantu pemerintah sampai triliunan, yah silakan. Tapi hendaknya pedagang kecil dan UKM lebih dibantu. Benar-benar dibantu >> https://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20180116202504-92-269411/lima-konglomerat-sawit-disuntik-subsidi-mega-rp75-triliun

Menyikapi fakta yang suram dan kelam ini, menurut saya kita perlu mencetak lebih banyak lagi pengusaha yang pro rakyat (pro umat). Bukan apa-apa, ini demi mengurangi ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi tadi. Diharapkan, awalnya terbuka lapangan kerja dan akhirnya terjadi distribusi kekayaan.

Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Masing-masing kita hendaknya berkontribusi. Pada akhirnya, jadilah pengusaha. Yang pro rakyat, tentunya. Mulai dari diri kita, mulai dari keluarga kita. Semoga dimampukan, aamiin.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya setuju bahwa kondisi ekonomi kita harus dibantu oleh pemerintah. Dan saya yakin pemerintah tengah berupaya untuk itu.

Tapi saya tidak setuju kalau kita selalu menyalah-nyalahkan pemerintah atas ketidakmampuan ekonomi kita. Sudah semestinya kita berbuat. Misalnya, jadilah entrepreneur. Ini langkah nyata.

Selama 3 tahun terakhir, saya lumayan intens mengajarkan ilmu internet marketing atau digital marketing. Kenapa? Karena ini benar-benar solusi, menurut saya. Siapa saja bisa. Yang penting, mau belajar.

Kita tidak harus punya ruko. Kita tidak harus paham produksi. Bisa dari rumah. Bisa terukur hasilnya. Hei, sesuatu yang terukur itu penting. Hanya sesuatu yang terukur yang bisa ditingkatkan.

Bagi saya, kalaupun seminggu kita capek-capek belajar internet marketing, yah nggak masalah. Toh, langsung kelihatan hasilnya. Insya Allah kalau paham ilmunya, bisa langsung menghasilkan.

2018 diyakini adalah tahun yang sengit. Itu sih wajar. Dari waktu ke waktu, memang persaingan kian sengit. Maka, persiapkan diri kita. Salah satunya dengan mempelajari dan menerapkan ilmu internet marketing. Saya harap Anda setuju.
Punya bisnis online?
Seperti apa potensi online shop?

BPS mencatat pertumbuhan ekonomi RI pada 2017 ditopang oleh sejumlah sektor, salah satunya adalah informasi dan komunikasi yang tumbuh 9,01%. Ini kabar baik.

Hal itu didorong dari semakin maraknya pengguna internet, sehingga sektor informasi dan komunikasi kian bergairah. Ujung-ujungnya transaksi online pun bertambah.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey, mengakui masyarakat tengah mengalami perubahan perilaku, khususnya pola belanja. Sebagian memilih bertransaksi secara online dibanding secara konvensional.

Ini peluang.

Kalau kita memiliki smartphone, ada baiknya kita belajar bagaimana mengoptimasi Facebook dan Instagram agar benar-benar menghasilkan uang. Adalah rugi kalau hanya posting-posting untuk sekadar eksis, tapi tidak menghasilkan uang.

Jadilah pemain! Bukan sekadar penonton!
Kalau mau hiburan bermutu, nah ini dia
Photo from Ippho dan Tim
Pernak-pernik kehidupan di dunia ini kadang membuat kita terlena.

Guru saya pernah berpesan, "Carilah yang benar-benar penting. Jika tidak penting, itu hanya akan menghabiskan waktu dan mengalihkan fokus... Ridha Allah, itulah yang benar-benar penting dan hendaknya menjadi fokus..."

Masya Allah, kalimat ini tepat sekali.

Setelah ridha Allah, yah ridha keluarga terutama orangtua dan pasangan. Percayalah, orang-orang terdekat (baca: keluarga) yang mendukungmu dan ridha padamu, itu lebih berharga daripada puja-puji jutaan orang terhadapmu.

Tak jarang, waktu dan energi kita habis hanya untuk memikirkan 'apa kata orang'. Right? Apalagi sejak merebaknya socmed. Saat mem-posting, kita sering ingin membentuk persepsi tertentu, yang tidak terlalu sesuai dengan kondisi real-nya.

Kita ingin dipersepsi sebagai sosok yang sukses, soleh, bahagia, harmonis dll. Padahal, benarkah kita seperti itu? Hm, belum tentu. Hati-hati, kalau dibiarkan, ini bisa menjauhkan kita dari fokus utama kita. Apa itu? Ridha Allah.

Anda mungkin tahu, melalui beberapa postingan, belakangan ini saya disibukkan dengan penggalangan dana (FR) untuk pembebasan tanah dan pembangunan pesantren di Amerika. Insya Allah ini adalah pesantren pertama di Bumi Amerika.

Suka atau tidak suka, Amerika adalah pusat perhatian dunia. Menurut saya, sekiranya pesantren ini berhasil berdiri di sana, maka ini akan menjadi syiar dan persembahan Muslim Indonesia untuk dunia.

Dalam kesibukan FR saya untuk pesantren ini, saya pun berusaha menata niat saya. Jujur saja, pujian orang atau kritikan orang kadang membuat niat kita melenceng. Mohon doanya agar niat saya dan teman-teman yang lain tetap lurus.

Kembali soal postingan. Bagi saya, setiap posting adalah rangkaian inspirasi dengan niat yang benar. Maka, bila tidak ada inspirasi di sana, bila tidak lurus niatnya, lebih baik batalkan saja postingan tersebut. Perlu ditegaskan, saya menulis ini sebagai peringatan keras buat diri saya.

Semoga tulisan ringkas ini ada manfaatnya buat kita semua. Sekian dari saya, Ippho Santosa.