Internet dengan segala potensinya tidak bisa dianggap enteng. Setiap harinya bertambah orang-orang yang mencoba bahkan aktif di internet. Mungkin Anda juga melihat fenomena ini terjadi di sekitar Anda.
Maraknya bisnis berbasis internet ini bisa dilihat dari data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang menyebut, sepanjang tahun 2017 terdapat 1.600 perusahaan rintisan (startup) di Tanah Air.
Data lain yang dirilis StartUpRanking juga menyebut Indonesia berada di urutan ke-4 negara dengan jumlah startup terbanyak di dunia, setelah Amerika Serikat, India, dan Inggris.
Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Santoso Sungkari mengungkapkan, dengan jumlah sebanyak itu, seharusnya keberadaan startup bisa memberikan sumbangan signifikan bagi ekonomi nasional.
Sayangnya, menurut Hari Santoso, dari sekitar 1.600 startup tersebut, hanya beberapa saja yang terlihat eksistensinya, sedangkan sebagian besar masih berskala kecil. Tulisan ini dikutip dari Sindo.
Ketua Asosiasi Modal Ventura Indonesia untuk Startup Indonesia, Jefri R Sirait menambahkan, nilai transaksi di bidang e-commerce pada tahun 2017 diperkirakan mencapai Rp160 triliun. Angka tersebut meningkat signifikan dibanding 2016 di mana transaksi e-commerce-nya hanya di kisaran Rp70 triliun.
Data-data di atas menunjukkan bahwa kian bertambah orang-orang yang aktif dan bertransaksi di internet. Ini peluang bagi kita semua. Bukan saja bagi market place. Maka, sudah saatnya kita semua jadi pemain, melek internet, bukan sekadar jadi penonton.
Maraknya bisnis berbasis internet ini bisa dilihat dari data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang menyebut, sepanjang tahun 2017 terdapat 1.600 perusahaan rintisan (startup) di Tanah Air.
Data lain yang dirilis StartUpRanking juga menyebut Indonesia berada di urutan ke-4 negara dengan jumlah startup terbanyak di dunia, setelah Amerika Serikat, India, dan Inggris.
Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Santoso Sungkari mengungkapkan, dengan jumlah sebanyak itu, seharusnya keberadaan startup bisa memberikan sumbangan signifikan bagi ekonomi nasional.
Sayangnya, menurut Hari Santoso, dari sekitar 1.600 startup tersebut, hanya beberapa saja yang terlihat eksistensinya, sedangkan sebagian besar masih berskala kecil. Tulisan ini dikutip dari Sindo.
Ketua Asosiasi Modal Ventura Indonesia untuk Startup Indonesia, Jefri R Sirait menambahkan, nilai transaksi di bidang e-commerce pada tahun 2017 diperkirakan mencapai Rp160 triliun. Angka tersebut meningkat signifikan dibanding 2016 di mana transaksi e-commerce-nya hanya di kisaran Rp70 triliun.
Data-data di atas menunjukkan bahwa kian bertambah orang-orang yang aktif dan bertransaksi di internet. Ini peluang bagi kita semua. Bukan saja bagi market place. Maka, sudah saatnya kita semua jadi pemain, melek internet, bukan sekadar jadi penonton.
#JalanJalan tak melulu duniawi. Tergantung bagaimana kita meniatkan. Saat travelling, kita bisa merenungi sejarah, men-tadabur alam, dan mensyukuri nikmat. Kalau sudah begini, insya Allah travelling bukan lagi kegiatan yang sia-sia.
Profesi dan posisi saya sebagai entrepreneur dan motivator mengharuskan saya untuk jalan-jalan. Memberi manfaat, berbagi semangat. Kadang menggalang dana untuk masyarakat setempat. Semoga dihitung malaikat, dianggap amal kelak di akhirat. Aamiin.
Kembali soal jalan-jalan. Sejarah Islam mengenal para penjelajah (Ibnu Battuta, Cheng Ho, dll). Bahkan agama Islam memudahkan dan memuliakan para musafir. Imam Syafii juga menganjurkan kita untuk menjelajah negeri-negeri.
Kitab Suci pun menganjurkan kita untuk mengenal suku-suku dan bangsa-bangsa. Nah, amat sulit bagi kita untuk mengenali suku-suku dan bangsa-bangsa kalau kita diam saja di tempat tinggal kita. Betul apa betul?
Go travelling!
Profesi dan posisi saya sebagai entrepreneur dan motivator mengharuskan saya untuk jalan-jalan. Memberi manfaat, berbagi semangat. Kadang menggalang dana untuk masyarakat setempat. Semoga dihitung malaikat, dianggap amal kelak di akhirat. Aamiin.
Kembali soal jalan-jalan. Sejarah Islam mengenal para penjelajah (Ibnu Battuta, Cheng Ho, dll). Bahkan agama Islam memudahkan dan memuliakan para musafir. Imam Syafii juga menganjurkan kita untuk menjelajah negeri-negeri.
Kitab Suci pun menganjurkan kita untuk mengenal suku-suku dan bangsa-bangsa. Nah, amat sulit bagi kita untuk mengenali suku-suku dan bangsa-bangsa kalau kita diam saja di tempat tinggal kita. Betul apa betul?
Go travelling!
27 Januari (setelah maghrib), saya ada acara di Jakarta bareng Ust Shamsi, Dude Harlino, Opick dll...
Ntar dikabari lagi ya detailnya...
Ntar dikabari lagi ya detailnya...
Anda punya berapa ponsel? Satu atau dua?
Akhir-akhir ini, sekitar 90 persen orang Indonesia memiliki ponsel. Bahkan 1 orang bisa punya 2 ponsel. Dan kemungkinan besar, ke depannya semua ponsel tersebut akan berbentuk smartphone.
Ya, smartphone.
Indonesia juga merupakan salah satu dari 12 negara di dunia yang penggunaan smartphone-nya lebih tinggi daripada penggunaan komputer. This is amazing. Melalui smartphone, masyarakat memanfaatkan fasilitas WA dan Telegram, termasuk ber-socmed.
Kita adalah entrepreneur dan calon entrepreneur. Right? Nah, ada baiknya kita mempelajari ilmu menjual di WA, Facebook, dan Instagram lebih dalam lagi, terutama buat mereka yang ingin memulai dan membesarkan usaha dengan modal yang minim.
Sekadar posting tidak akan mencetak angka penjualan yang menggembirakan. Harus ada ilmunya, sehingga bisa terjual 'tanpa menjual', bisa terpromosikan 'tanpa promosi'.
Ponsel adalah pasar. Apalagi orang perkotaan memegang ponsel-nya 3 sampai 5 jam sehari. Think. Akankah kita jadi penonton dan konsumen saja? Sekali lagi, think. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Akhir-akhir ini, sekitar 90 persen orang Indonesia memiliki ponsel. Bahkan 1 orang bisa punya 2 ponsel. Dan kemungkinan besar, ke depannya semua ponsel tersebut akan berbentuk smartphone.
Ya, smartphone.
Indonesia juga merupakan salah satu dari 12 negara di dunia yang penggunaan smartphone-nya lebih tinggi daripada penggunaan komputer. This is amazing. Melalui smartphone, masyarakat memanfaatkan fasilitas WA dan Telegram, termasuk ber-socmed.
Kita adalah entrepreneur dan calon entrepreneur. Right? Nah, ada baiknya kita mempelajari ilmu menjual di WA, Facebook, dan Instagram lebih dalam lagi, terutama buat mereka yang ingin memulai dan membesarkan usaha dengan modal yang minim.
Sekadar posting tidak akan mencetak angka penjualan yang menggembirakan. Harus ada ilmunya, sehingga bisa terjual 'tanpa menjual', bisa terpromosikan 'tanpa promosi'.
Ponsel adalah pasar. Apalagi orang perkotaan memegang ponsel-nya 3 sampai 5 jam sehari. Think. Akankah kita jadi penonton dan konsumen saja? Sekali lagi, think. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Konser & Inspirasi 'Satu Hati'
Insya Allah Imam Shamsi Ali (dari New York) dan saya ada event istimewa bareng Dude Harlino, Dwiki Dharmawan, Opick, dll.
Kapan? 27 Januari (setelah maghrib). Di mana? Kuningan City, Jaksel...
Tertarik? Kamis pagi dikabari detailnya...
Insya Allah Imam Shamsi Ali (dari New York) dan saya ada event istimewa bareng Dude Harlino, Dwiki Dharmawan, Opick, dll.
Kapan? 27 Januari (setelah maghrib). Di mana? Kuningan City, Jaksel...
Tertarik? Kamis pagi dikabari detailnya...
Begitu disebutkan merek Energizer, apa yang terlintas di benak Anda? Baterai, gitu kan?
Itu betul. Tapi ternyata mereka juga coba merambah bisnis lainnya. Apa itu? Ponsel.
Ya, vendor baterai terkemuka, Energizer, ikutan nyemplung ke bisnis ponsel. Power Max P600S yang menjadi perangkat pertamanya.
Layarnya hampir 6 inch. Dan ponsel ini mengusung layar kekinian dengan aspek rasio 18:9 dengan resolusi Full HD.
Menurut Quarterly Mobile Phone Tracker, smartphone di kelas mid-range (menengah) meraih pertumbuhan yang sangat signifikan di Indonesia pada 2017. Itu artinya, semakin banyak orang Indonesia yang memakai smartphone.
Apa yang mereka (orang Indonesia) lakukan bersama smartphone-nya? Pertama, mengecek WA dan Telegram. Kedua, bersocmed terutama Facebook dan Instagram. Btw, aktivitas menelepon dan berfoto bukanlah hal yang paling menyita waktu.
Dengan kata lain, WA dan Telegram itu pasar. Kalau Facebook dan Instagram? Jelas-jelas itu pasar. Menurut saya, sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan. Pada akhirnya, ada baiknya kita lebih melek dan belajar soal berbisnis melalui socmed.
Siap?
Itu betul. Tapi ternyata mereka juga coba merambah bisnis lainnya. Apa itu? Ponsel.
Ya, vendor baterai terkemuka, Energizer, ikutan nyemplung ke bisnis ponsel. Power Max P600S yang menjadi perangkat pertamanya.
Layarnya hampir 6 inch. Dan ponsel ini mengusung layar kekinian dengan aspek rasio 18:9 dengan resolusi Full HD.
Menurut Quarterly Mobile Phone Tracker, smartphone di kelas mid-range (menengah) meraih pertumbuhan yang sangat signifikan di Indonesia pada 2017. Itu artinya, semakin banyak orang Indonesia yang memakai smartphone.
Apa yang mereka (orang Indonesia) lakukan bersama smartphone-nya? Pertama, mengecek WA dan Telegram. Kedua, bersocmed terutama Facebook dan Instagram. Btw, aktivitas menelepon dan berfoto bukanlah hal yang paling menyita waktu.
Dengan kata lain, WA dan Telegram itu pasar. Kalau Facebook dan Instagram? Jelas-jelas itu pasar. Menurut saya, sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan. Pada akhirnya, ada baiknya kita lebih melek dan belajar soal berbisnis melalui socmed.
Siap?
Jarang orang tahu, di konstitusi sejumlah negara memang ada istilah mayoritas dan minoritas, baik secara langsung maupun tidak langsung. Di konstitusi Indonesia? Tidak ada. Yang ada hanyalah istilah 'kelompok yang berbeda-beda' dan 'antargolongan'.
Di Indonesia, hari raya semua agama dijadikan hari libur nasional. Tidak masalah apakah itu agama mayoritas atau minoritas. Catat ya, kebijakan seperti ini tidak terjadi di seluruh negara, di negara maju sekalipun.
Fyi, Idul Fitri baru ditetapkan sebagai hari libur di sekolah-sekolah publik di New York mulai 2016. Itu pun setelah melalui perjuangan sekian lama. Studi Columbia University menyebutkan, sekitar 10% pelajar di sekolah publik New York adalah muslim.
Apakah ini berlaku di seluruh AS? Tidak, penetapan hari libur seperti ini hanya berlaku di New York, Vermont, Massachusetts, dan New Jersey. Kalau di Inggris? Idul Fitri bukanlah hari libur nasional di Inggris. Ya, seperti itulah keadaan minoritas Muslim di AS dan Inggris.
Terus, gimana dengan pertumbuhan rumah ibadah si minoritas dan mayoritas di Indonesia? Menurut Jusuf Kalla, dalam rentang waktu 20 tahun, pertumbuhan gereja sebesar 130%, sedangkan masjid hanya 63%. Demikianlah, penganut agama minoritas bisa tumbuh dan berkembang di Indonesia.
Di suatu kesempatan, saya pernah ngobrol dengan Romo Markus, segelintir orang Indonesia yang menjadi pejabat di Tahta Suci Vatikan. Beliau bercerita, saat tiba pertama kalinya di Vatikan, petinggi-petinggi di Vatikan justru memperlihatkan peta Indonesia ke hadapan beliau dan memuji, "Inilah negeri yang paling beragam dan paling toleran di dunia."
Obama pun mengakui itu, apalagi sejak ia melihat langsung keindahan serta keutuhan Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang saat ini jelas-jelas berada di lingkungan Muslim. Ya, Indonesia sudah khatam soal keragaman dan toleransi.
Si mayoritas mengayomi. Si minoritas pun tahu diri. Itulah pesan guru saya dan sepertinya sudah diterapkan di Indonesia. Sejak dulu sampai sekarang. Ingat, di Tanah Jawa dulu yang mayoritas adalah umat Hindu. Tapi aturan tak tertulis 'mengayomi' dan 'tahu diri' ini sudah diamalkan sejak dulu.
Kita bandingkan dengan negeri jiran, Malaysia. Di Malaysia, etnis Melayu (baca: mayoritas) berhak memperoleh kemudahan tertentu untuk kredit usaha, kredit rumah, dan beasiswa. Di Indonesia? Nggak ada pakem seperti itu.
Jadi, jangan lagi kita membuat pernyataan atau gurauan seolah-olah si mayoritas di Indonesia itu mau menang sendiri dan tidak mengayomi. Ngawur tuh. Dan dampaknya sangat buruk bagi kerukunan di negeri ini. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Bantu share ya.
Di Indonesia, hari raya semua agama dijadikan hari libur nasional. Tidak masalah apakah itu agama mayoritas atau minoritas. Catat ya, kebijakan seperti ini tidak terjadi di seluruh negara, di negara maju sekalipun.
Fyi, Idul Fitri baru ditetapkan sebagai hari libur di sekolah-sekolah publik di New York mulai 2016. Itu pun setelah melalui perjuangan sekian lama. Studi Columbia University menyebutkan, sekitar 10% pelajar di sekolah publik New York adalah muslim.
Apakah ini berlaku di seluruh AS? Tidak, penetapan hari libur seperti ini hanya berlaku di New York, Vermont, Massachusetts, dan New Jersey. Kalau di Inggris? Idul Fitri bukanlah hari libur nasional di Inggris. Ya, seperti itulah keadaan minoritas Muslim di AS dan Inggris.
Terus, gimana dengan pertumbuhan rumah ibadah si minoritas dan mayoritas di Indonesia? Menurut Jusuf Kalla, dalam rentang waktu 20 tahun, pertumbuhan gereja sebesar 130%, sedangkan masjid hanya 63%. Demikianlah, penganut agama minoritas bisa tumbuh dan berkembang di Indonesia.
Di suatu kesempatan, saya pernah ngobrol dengan Romo Markus, segelintir orang Indonesia yang menjadi pejabat di Tahta Suci Vatikan. Beliau bercerita, saat tiba pertama kalinya di Vatikan, petinggi-petinggi di Vatikan justru memperlihatkan peta Indonesia ke hadapan beliau dan memuji, "Inilah negeri yang paling beragam dan paling toleran di dunia."
Obama pun mengakui itu, apalagi sejak ia melihat langsung keindahan serta keutuhan Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang saat ini jelas-jelas berada di lingkungan Muslim. Ya, Indonesia sudah khatam soal keragaman dan toleransi.
Si mayoritas mengayomi. Si minoritas pun tahu diri. Itulah pesan guru saya dan sepertinya sudah diterapkan di Indonesia. Sejak dulu sampai sekarang. Ingat, di Tanah Jawa dulu yang mayoritas adalah umat Hindu. Tapi aturan tak tertulis 'mengayomi' dan 'tahu diri' ini sudah diamalkan sejak dulu.
Kita bandingkan dengan negeri jiran, Malaysia. Di Malaysia, etnis Melayu (baca: mayoritas) berhak memperoleh kemudahan tertentu untuk kredit usaha, kredit rumah, dan beasiswa. Di Indonesia? Nggak ada pakem seperti itu.
Jadi, jangan lagi kita membuat pernyataan atau gurauan seolah-olah si mayoritas di Indonesia itu mau menang sendiri dan tidak mengayomi. Ngawur tuh. Dan dampaknya sangat buruk bagi kerukunan di negeri ini. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Bantu share ya.
MORNING INSPIRATION
Bersama:
- Aa Gym
- Ippho Santosa
Ahad, 14 Januari 2018
Jam 08.30-12.00 WIB
Jakarta Pusat
Untuk mengetahui alamat detailnya, silakan WA ke 0821-1278-1199.
Silakan ajak teman dan saudara. Belajar bareng. Acara ini GRATIS dan terbuka untuk umum.
Karena banyaknya peserta, diharapkan peserta datang on-time. Agar dapat posisi yang terdepan.
Learn, then you earn!
Bersama:
- Aa Gym
- Ippho Santosa
Ahad, 14 Januari 2018
Jam 08.30-12.00 WIB
Jakarta Pusat
Untuk mengetahui alamat detailnya, silakan WA ke 0821-1278-1199.
Silakan ajak teman dan saudara. Belajar bareng. Acara ini GRATIS dan terbuka untuk umum.
Karena banyaknya peserta, diharapkan peserta datang on-time. Agar dapat posisi yang terdepan.
Learn, then you earn!
Berhentilah ngeles dengan berseru, "Maaf, saya gaptek." Itu sebenarnya hanya menunjukkan kemalasan Anda serta keengganan Anda untuk belajar dan berbenah. Betul apa betul?
Ingat. Zaman sekarang, diam di tempat artinya sama dengan melangkah mundur. Hati-hati.
Melawan teknologi yang tengah marak dan merebak adalah pekerjaan yang sia-sia. Kita lihat sendiri bagaimana nasib mesin ketik, kartu pos, pager, dan kapal laut, yang pelan-pelan ditinggalkan. Komputer, internet, ponsel, dan pesawat terbang adalah penggantinya.
Terhadap teknologi, lebih baik kita mempersiapkan diri, memperbaiki diri. Tingkatkan layanan, tingkatkan mutu. Permudah prosesi, permudah pelanggan. Bukan malah mengkritik pemain-pemain yang adaptif dan kompetitif.
Maka, belajarlah. Istilah saya, lebih baik belajar dan berubah daripada punah. Jujur saja, saya ngomong gini karena sering dan intens menggunakan internet dan socmed dalam konteks bisnis.
Perhatikan baik-baik. Mereka yang memiliki gerai-gerai secara fisik sering mengeluh ini-itu. Di antaranya, menyalahkan online shop. Tapi mereka sendiri nggak bercermin. Lha sudah diberi kesempatan untuk belajar dan berbenah, eh malah ogah-ogahan. Serasa nggak butuh pelanggan.
Mendiang ayah saya adalah pegawai rendahan. Saya pun sempat jadi pelayan restoran. Kami tahu diri. Namanya orang biasa, nggak usah milih-milih banget soal kerjaan. Kalau ada kerjaan dan itu halal, yah ambil. Nggak males-malasen. Nggak ogah-ogahan. Sembari itu, yah belajar.
Menurut saya, malas itu akhlak yang buruk dan itu mengusir rezeki. Kalau kita rajin dan mau belajar, insya Allah itu akan mengundang rezeki demi rezeki. Pasti. Siapa yang berani ngebantah kalimat ini?
Saya pribadi bukan orang IT. Tapi saya belajar. Benar-benar belajar. Bahkan saya terjun langsung memperbaiki web-web saya. Ya, saya perbaiki semua dengan tangan saya sendiri, agar lebih disukai Google. Begitulah, saya berusaha melek SEO. Setelah dicoba, ternyata nggak sulit-sulit amat.
Pada akhirnya saya menyimpulkan, "Bukan persaingan yang kejam. Mungkin kita yang enggan belajar dan berbenah." Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ingat. Zaman sekarang, diam di tempat artinya sama dengan melangkah mundur. Hati-hati.
Melawan teknologi yang tengah marak dan merebak adalah pekerjaan yang sia-sia. Kita lihat sendiri bagaimana nasib mesin ketik, kartu pos, pager, dan kapal laut, yang pelan-pelan ditinggalkan. Komputer, internet, ponsel, dan pesawat terbang adalah penggantinya.
Terhadap teknologi, lebih baik kita mempersiapkan diri, memperbaiki diri. Tingkatkan layanan, tingkatkan mutu. Permudah prosesi, permudah pelanggan. Bukan malah mengkritik pemain-pemain yang adaptif dan kompetitif.
Maka, belajarlah. Istilah saya, lebih baik belajar dan berubah daripada punah. Jujur saja, saya ngomong gini karena sering dan intens menggunakan internet dan socmed dalam konteks bisnis.
Perhatikan baik-baik. Mereka yang memiliki gerai-gerai secara fisik sering mengeluh ini-itu. Di antaranya, menyalahkan online shop. Tapi mereka sendiri nggak bercermin. Lha sudah diberi kesempatan untuk belajar dan berbenah, eh malah ogah-ogahan. Serasa nggak butuh pelanggan.
Mendiang ayah saya adalah pegawai rendahan. Saya pun sempat jadi pelayan restoran. Kami tahu diri. Namanya orang biasa, nggak usah milih-milih banget soal kerjaan. Kalau ada kerjaan dan itu halal, yah ambil. Nggak males-malasen. Nggak ogah-ogahan. Sembari itu, yah belajar.
Menurut saya, malas itu akhlak yang buruk dan itu mengusir rezeki. Kalau kita rajin dan mau belajar, insya Allah itu akan mengundang rezeki demi rezeki. Pasti. Siapa yang berani ngebantah kalimat ini?
Saya pribadi bukan orang IT. Tapi saya belajar. Benar-benar belajar. Bahkan saya terjun langsung memperbaiki web-web saya. Ya, saya perbaiki semua dengan tangan saya sendiri, agar lebih disukai Google. Begitulah, saya berusaha melek SEO. Setelah dicoba, ternyata nggak sulit-sulit amat.
Pada akhirnya saya menyimpulkan, "Bukan persaingan yang kejam. Mungkin kita yang enggan belajar dan berbenah." Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Allah itu Maha Besar dan Maha Kaya. Adalah wajar kalau kita bercita-cita besar dan kaya. Buat apa kita tanggung-tanggung?
Satu lagi. Niat itu memancar. Saat kita ingin kaya, niatnya apa? Mau terlihat keren? Mau terlihat sukses?
Atau mau menebar manfaat lebih luas lagi? Mari perbaiki niat kita. Maka ini akan memudahkan tercapainya cita-cita dan impian kita. Niat yang benar itu menguatkan.
Selanjutnya, ada tiga tips dari saya. Pertama, sensitif. Pastikan impian kita bisa dirasakan (sense) oleh empat panca indera. Kedua, proaktif. Pastikan kita melakukan apa-apa yang MASIH BISA kita lakukan.
Ketiga? Jaga makanan kita. Lho apa kaitannya? Begini. Makanan yang tidak halal atau meragukan akan menghalangi tercapainya impian dan doa. Rada panjang penjelasannya, tapi begitulah kurang-lebih.
Nah, kalau ketiga hal ini sudah diterapkan, insya Allah hasilnya bukan lagi 2M atau 2T. Melainkan 2B. Apa itu? Berkah Berlimpah.
Teman-teman yakin? Saya harap begitu. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Satu lagi. Niat itu memancar. Saat kita ingin kaya, niatnya apa? Mau terlihat keren? Mau terlihat sukses?
Atau mau menebar manfaat lebih luas lagi? Mari perbaiki niat kita. Maka ini akan memudahkan tercapainya cita-cita dan impian kita. Niat yang benar itu menguatkan.
Selanjutnya, ada tiga tips dari saya. Pertama, sensitif. Pastikan impian kita bisa dirasakan (sense) oleh empat panca indera. Kedua, proaktif. Pastikan kita melakukan apa-apa yang MASIH BISA kita lakukan.
Ketiga? Jaga makanan kita. Lho apa kaitannya? Begini. Makanan yang tidak halal atau meragukan akan menghalangi tercapainya impian dan doa. Rada panjang penjelasannya, tapi begitulah kurang-lebih.
Nah, kalau ketiga hal ini sudah diterapkan, insya Allah hasilnya bukan lagi 2M atau 2T. Melainkan 2B. Apa itu? Berkah Berlimpah.
Teman-teman yakin? Saya harap begitu. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sepekan ini rasanya seru sekali. Tanpa saya rencanakan, eh, bisa bertemu berbagai tokoh... Walaupun sebenarnya ini bukan pertemuan pertama saya dengan mereka...
Siapa saja mereka?
Siapa saja mereka?