Manusia sering terjatuh karena kerikil-kerikil kecil. Bukan karena batu-batu besar...
Hampir-hampir tidak ada hal yang sepele. Hati-hati...
Hampir-hampir tidak ada hal yang sepele. Hati-hati...
Ayat-Ayat Cinta 2, teman-teman sudah nonton?
Saya, Mas Mono (Entrepreneur), Reza Syarief (Trainer), dan artis-artis ada jadwal nobar pada 5 Januari di CGV, BTC, Bekasi Timur, jam 13.00-16.00 insya Allah.
Teman-teman ikutan?
Saya, Mas Mono (Entrepreneur), Reza Syarief (Trainer), dan artis-artis ada jadwal nobar pada 5 Januari di CGV, BTC, Bekasi Timur, jam 13.00-16.00 insya Allah.
Teman-teman ikutan?
Bosan, pernah?
Tentu pernah. Saya pun pernah.
Terus, gimana cara mengatasinya?
Salah satu kuncinya ialah engagement. Kita harus merasa melekat dan terikat pada suatu hal, entah itu hobi, passion, bakat, atau apapun itu, yang bisa menjadi adiktif bagi diri kita.
Sudah sewajarnya manusia memiliki keterikatan pada sesuatu. Dengan kata lain, kita harus menemukan adiksi tertentu. Nah, sayangnya sebagian orang memiliki kecanduan yang kurang baik (seperti merokok dan ngemil berlebihan).
Karena itulah cara yang relevan dan masuk akal untuk melawan rasa bosan, termasuk kecanduan yang kurang baik, adalah dengan menemukan adiksi yang baru yang lebih positif, yang lebih memberdayakan.
Perlu contoh?
Begini. Ngobrol bareng teman-teman yang positif. Fitness atau olahraga. Menggambar atau ngeblog. Mengikuti majelis zikir atau majelis ilmu. Apa sajalah selagi positif.
Serunya lagi kalau kita bisa mengawinkan antara bakat dan kepantasan kita untuk dibayar terkait hal tersebut. Contohnya, kita suka ngeblog terus kita dibayar untuk ngeblog. Ini kan seru.
Silakan praktek. Semoga ngefek. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Tentu pernah. Saya pun pernah.
Terus, gimana cara mengatasinya?
Salah satu kuncinya ialah engagement. Kita harus merasa melekat dan terikat pada suatu hal, entah itu hobi, passion, bakat, atau apapun itu, yang bisa menjadi adiktif bagi diri kita.
Sudah sewajarnya manusia memiliki keterikatan pada sesuatu. Dengan kata lain, kita harus menemukan adiksi tertentu. Nah, sayangnya sebagian orang memiliki kecanduan yang kurang baik (seperti merokok dan ngemil berlebihan).
Karena itulah cara yang relevan dan masuk akal untuk melawan rasa bosan, termasuk kecanduan yang kurang baik, adalah dengan menemukan adiksi yang baru yang lebih positif, yang lebih memberdayakan.
Perlu contoh?
Begini. Ngobrol bareng teman-teman yang positif. Fitness atau olahraga. Menggambar atau ngeblog. Mengikuti majelis zikir atau majelis ilmu. Apa sajalah selagi positif.
Serunya lagi kalau kita bisa mengawinkan antara bakat dan kepantasan kita untuk dibayar terkait hal tersebut. Contohnya, kita suka ngeblog terus kita dibayar untuk ngeblog. Ini kan seru.
Silakan praktek. Semoga ngefek. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Seminar saya:
Cirebon, 0816-887-542
Sorong, 0811-486-818
Karawang, 0816-887-542
Silakan SMS panitia setempat untuk detailnya.
Cirebon, 0816-887-542
Sorong, 0811-486-818
Karawang, 0816-887-542
Silakan SMS panitia setempat untuk detailnya.
Ayat-Ayat Cinta 2, katanya seru. Sudah tembus 2 juta penonton. Teman-teman sudah nonton?
Saya, Mas Mono, Reza Syarief, Valentino Dinsi, Derry Sulaiman, dan artis-artisnya ada jadwal nobar pada 5 Januari di CGV, BTC, Bekasi Timur, jam 13.00-16.00 insya Allah.
Teman-teman yang di Jabodetabek, yuk ikutan!
Saya, Mas Mono, Reza Syarief, Valentino Dinsi, Derry Sulaiman, dan artis-artisnya ada jadwal nobar pada 5 Januari di CGV, BTC, Bekasi Timur, jam 13.00-16.00 insya Allah.
Teman-teman yang di Jabodetabek, yuk ikutan!
Banyak orang salah paham soal konsep sederhana.
Bagi saya, "Hidup nggak boleh sederhana."
Hidup mesti hebat, dahsyat, dan luar biasa!
Prestasi, banyak. Bisnis, banyak. Harta, banyak. Manfaat, banyak. Amal, banyak. Yang sederhana itu sikapnya. Sekali lagi, sikapnya. Right?
Jadi, tak ada masalah dengan harta yang banyak. Asalkan jelas dari mana dan ke mana-nya.
"Berjuanglah dengan harta dan jiwa," demikian perintah-Nya. Perhatikan, kata 'harta' diletakkan di depan. Begitulah keutamaan harta. Primer, bukan sekunder.
Membangun sekolah, membangun rumah sakit, membangun rumah ibadah, haji, umrah, akikah, kurban, sedekah, zakat, wakaf, dan ekonomi syariah, semuanya perlu #harta. Betul apa betul?
Maka, jangan tabu terhadap harta. Biasa saja. Boleh-boleh saja didapatkan dalam jumlah yang banyak. Asalkan jelas dari mana dan ke mana-nya. Semoga kita semua dimampukan. Aamiin.
Niatkan, ikhtiarkan. Siap? Pesan Nabi, "Sebaik-baiknya harta berada di tangan orang beriman." Menurut Nabi, orang beriman dianjurkan untuk memiliki harta. Agar bisa mengendalikan kebaikan dan peradaban. Jika tidak? Akan dikendalikan!
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Bagi saya, "Hidup nggak boleh sederhana."
Hidup mesti hebat, dahsyat, dan luar biasa!
Prestasi, banyak. Bisnis, banyak. Harta, banyak. Manfaat, banyak. Amal, banyak. Yang sederhana itu sikapnya. Sekali lagi, sikapnya. Right?
Jadi, tak ada masalah dengan harta yang banyak. Asalkan jelas dari mana dan ke mana-nya.
"Berjuanglah dengan harta dan jiwa," demikian perintah-Nya. Perhatikan, kata 'harta' diletakkan di depan. Begitulah keutamaan harta. Primer, bukan sekunder.
Membangun sekolah, membangun rumah sakit, membangun rumah ibadah, haji, umrah, akikah, kurban, sedekah, zakat, wakaf, dan ekonomi syariah, semuanya perlu #harta. Betul apa betul?
Maka, jangan tabu terhadap harta. Biasa saja. Boleh-boleh saja didapatkan dalam jumlah yang banyak. Asalkan jelas dari mana dan ke mana-nya. Semoga kita semua dimampukan. Aamiin.
Niatkan, ikhtiarkan. Siap? Pesan Nabi, "Sebaik-baiknya harta berada di tangan orang beriman." Menurut Nabi, orang beriman dianjurkan untuk memiliki harta. Agar bisa mengendalikan kebaikan dan peradaban. Jika tidak? Akan dikendalikan!
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Orang beriman yang kuat lebih disukai Allah. Ini pesan Nabi.
Kuat apanya? Semuanya. Fisik, finansial, iman, ilmu, amal dll.
Kalau lemah? Maaf, akan dikendalikan oleh yang lain.
Kuat apanya? Semuanya. Fisik, finansial, iman, ilmu, amal dll.
Kalau lemah? Maaf, akan dikendalikan oleh yang lain.
Inilah dua sikap ideal suami terhadap istri:
- Kasih sayang
- Kasih uang
Hehehe.
Kalau kasih bunga, kasih coklat, boleh nggak? Silakan. Boleh-boleh saja.
Tapi, akan jauh lebih baik kalau kasih bunga, sekalian dengan taman dan rumahnya. Kasih coklat, sekalian dengan pabrik dan tokonya. Hehehe, nggak usah tersinggung. Bilang 'amin' aja.
Begini. Menjadikan harta sebagai komponen utama dalam memanjakan keluarga, jelas itu pilihan dan keputusan yang keliru. Ya, ke-li-ru. Tapi kita mesti paham, kadang harta memang dilibatkan. Sebagai pendukung.
Kalau kita belajar ilmu penafkahan (di mana ini sepenuhnya tanggung-jawab suami), maka kita akan dipahamkan bahwa memang ada komponen harta di sana. Nggak bisa nggak. Jadi, jangan risih kalau bicara soal harta.
Sudah sepantasnya para pria (para suami) itu bekerja keras dalam mencari nafkah. Pertama, itu memang tanggung-jawabnya. Kedua, ini bagian dari ibadah. Ketiga, niatkan untuk membahagiakan keluarga.
Yang kerja, serius kerjanya.
Yang bisnis, serius bisnisnya.
Saya harap Anda setuju. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
- Kasih sayang
- Kasih uang
Hehehe.
Kalau kasih bunga, kasih coklat, boleh nggak? Silakan. Boleh-boleh saja.
Tapi, akan jauh lebih baik kalau kasih bunga, sekalian dengan taman dan rumahnya. Kasih coklat, sekalian dengan pabrik dan tokonya. Hehehe, nggak usah tersinggung. Bilang 'amin' aja.
Begini. Menjadikan harta sebagai komponen utama dalam memanjakan keluarga, jelas itu pilihan dan keputusan yang keliru. Ya, ke-li-ru. Tapi kita mesti paham, kadang harta memang dilibatkan. Sebagai pendukung.
Kalau kita belajar ilmu penafkahan (di mana ini sepenuhnya tanggung-jawab suami), maka kita akan dipahamkan bahwa memang ada komponen harta di sana. Nggak bisa nggak. Jadi, jangan risih kalau bicara soal harta.
Sudah sepantasnya para pria (para suami) itu bekerja keras dalam mencari nafkah. Pertama, itu memang tanggung-jawabnya. Kedua, ini bagian dari ibadah. Ketiga, niatkan untuk membahagiakan keluarga.
Yang kerja, serius kerjanya.
Yang bisnis, serius bisnisnya.
Saya harap Anda setuju. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
27 Januari (setelah maghrib), saya ada acara di Jakarta bareng Ust Shamsi, Dude Harlino, Opick dll...
Teman-teman pengen ikutan? Ntar dikabari lagi ya...
Teman-teman pengen ikutan? Ntar dikabari lagi ya...
Jatuh cinta, berjuta rasanya.
Jatuh cinta, berjuta rupiahnya.
Hehehe.
Pria dilarang jatuh cinta kalau nggak punya rupiah. Apa iya? Iya, kurang-lebih begitu. Bukankah mahar dan walimah memang tanggung-jawab pria?
🤣🤣🤣
Jatuh cinta, berjuta rupiahnya.
Hehehe.
Pria dilarang jatuh cinta kalau nggak punya rupiah. Apa iya? Iya, kurang-lebih begitu. Bukankah mahar dan walimah memang tanggung-jawab pria?
🤣🤣🤣
Saya senang sekali pagi ini. Kenapa? Bertemu dengan peserta training 'Internet Marketing'. Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia. Wajah mereka antusias-antusias.
Di sana saya beserta tim berusaha mengajarkan ilmu #InternetMarketing atau #DigitalMarketing. Ini benar-benar solusi, menurut saya.
Kita tidak harus punya ruko. Kita tidak harus paham produksi. Bisa dari rumah. Bisa terukur hasilnya. Sesuatu yang terukur itu penting. Hanya sesuatu yang terukur yang bisa ditingkatkan.
Bagi saya, kalaupun seminggu kita capek-capek belajar Internet Marketing, yah nggak masalah. Toh, langsung kelihatan hasilnya. Betul apa betul?
Begini. Soal Internet Marketing, teman-teman boleh belajar dengan siapa saja, nggak harus dengan saya. Yang penting, ilmunya terbukti dan pengajarnya terpercaya.
Sektor industri kecil dan menengah (IKM) harusnya merespons sungguh-sungguh atas jumlah pengguna internet di Indonesia, yang diperkirakan mencapai 93,4 juta orang. Ya, hampir 100 juta orang. It's a big market.
Istilah saya, internet adalah 'now market' dan 'next market'. Sekarang, besar. Ke depan, lebih besar lagi. Akankah kita diam saja? Maka, berhentilah jadi penonton. Saatnya jadi pemain.
Pada akhirnya, belajarlah ilmu Internet Marketing. Boleh belajar dengan siapa saja, nggak harus dengan saya. Semoga berkah berlimpah.
Di sana saya beserta tim berusaha mengajarkan ilmu #InternetMarketing atau #DigitalMarketing. Ini benar-benar solusi, menurut saya.
Kita tidak harus punya ruko. Kita tidak harus paham produksi. Bisa dari rumah. Bisa terukur hasilnya. Sesuatu yang terukur itu penting. Hanya sesuatu yang terukur yang bisa ditingkatkan.
Bagi saya, kalaupun seminggu kita capek-capek belajar Internet Marketing, yah nggak masalah. Toh, langsung kelihatan hasilnya. Betul apa betul?
Begini. Soal Internet Marketing, teman-teman boleh belajar dengan siapa saja, nggak harus dengan saya. Yang penting, ilmunya terbukti dan pengajarnya terpercaya.
Sektor industri kecil dan menengah (IKM) harusnya merespons sungguh-sungguh atas jumlah pengguna internet di Indonesia, yang diperkirakan mencapai 93,4 juta orang. Ya, hampir 100 juta orang. It's a big market.
Istilah saya, internet adalah 'now market' dan 'next market'. Sekarang, besar. Ke depan, lebih besar lagi. Akankah kita diam saja? Maka, berhentilah jadi penonton. Saatnya jadi pemain.
Pada akhirnya, belajarlah ilmu Internet Marketing. Boleh belajar dengan siapa saja, nggak harus dengan saya. Semoga berkah berlimpah.
Meski uang terbatas, meski waktu terbatas, sempatkan untuk belajar.
Tadi pagi barusan saya posting artikel soal penafkahan di FB. Penting banget.
Saya berharap para pria membacanya, karena itu memang tanggung-jawab pria.
Sayangnya, banyak pria yang belum sadar soal itu dan kita perlu menyadarkan mereka.
Caranya? Simple saja. Silakan share artikel di FB ini seluas-luasnya. Biar mereka baca >> https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1849247005117493&id=144175158958028
Saya berharap para pria membacanya, karena itu memang tanggung-jawab pria.
Sayangnya, banyak pria yang belum sadar soal itu dan kita perlu menyadarkan mereka.
Caranya? Simple saja. Silakan share artikel di FB ini seluas-luasnya. Biar mereka baca >> https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1849247005117493&id=144175158958028