Ippho Santosa - ipphoright
26.2K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Kebaikan jangan dimonopoli sendirian. Jangan. Hendaknya di-sinergi-kan dan di-distribusi-kan.
Seminggu ini saya diundang oleh Zoya, Mane Indonesia, dan BPD Jogja. Semacam in-house. Besok pagi (Ahad pagi) insya Allah saya seminar publik di Madiun. Mohon doa dari teman-teman ya. Semoga lancar dan berkah.
Tepat Desember tahun ini, saya berusia 40 tahun. Dan seumur hidup, saya tidak terlalu suka dengan yang namanya unjuk rasa. Bagi saya, kata 'unjuk rasa' memiliki konotasi yang negatif. Namun 17 Desember yang lalu adalah sebuah pengecualian.

Massa, yang dipimpin oleh MUI, berunjuk rasa menolak pengakuan sepihak AS yang menyatakan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Ingat, Palestina adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Boleh dibilang, kita berutang budi pada Palestina.

Namun muncul beberapa kendala teknis. Pertama, di hari yang sama anak saya ingin saya hadir di sekolahnya, ada event khusus yang melibatkan anak dan orangtuanya. Kedua, di hari yang sama, saya ada seminar di Semarang dan ratusan peserta telah menanti.

Lantas, apa pilihan saya? Bagi saya, semuanya adalah penting. Maka dari itu, pada akhirnya saya memutuskan untuk menghadiri ketiga-tiganya. Ya, ketiga-tiganya. Lha, gimana cara bagi-bagi waktunya?

Saya subuhan di Monas, tepatnya jam 3.30 pagi (sekitar 45 menit dari rumah saya). Lalu jam 7-an saya bergegas ke sekolah anak. Perjalanan dari Monas ke sekolah anak memerlukan waktu sekitar 1 jam. Ya, saya berusaha memenuhi harapan anak saya. Dan di sekolahnya, saya sempat main 3 game bersama dia, dari total 5 game.

Terus jam 10 saya pamit sama dia. Cuuus ke bandara. Sekitar 1 jam dari sekolah itu. Ya, saya bergegas menuju Semarang. Bukan apa-apa. Ratusan peserta telah membeli tiket seminar saya dan tidak boleh saya kecewakan begitu saja. Btw, mohon doa dari teman-teman ya. Semoga niat saya tetap terjaga.

Sekarang, apa yang terjadi?

Segala puji hanya untuk Allah. Sebanyak 128 negara di PBB akhirnya menolak pengakuan sepihak AS yang menyatakan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Hanya 9 negara yang setuju dengan klaim sepihak dan tidak adil itu. Ini terjadi kemarin.

Ternyata doa kita dijawab dan unjuk rasa kita didengar. Berpengaruh. Nggak main-main. Setidaknya, mereka kuatir kalau muslim-muslim sedunia memboikot produk-produk mereka. Bagi mereka, keuntungan ekonomi adalah segala-galanya.

Begini. Keberpihakan kita kepada Palestina bukan semata-mata karena alasan agama, melainkan juga karena alasan kemanusiaan dan keadilan. UUD 45 yang mengamanahkan itu. Saya yakin insya Allah Palestina akan merdeka dalam arti yang sebenarnya. Aamiin. Doakan ya.

Gegara saya ikut unjuk rasa, bisa jadi sebagian follower tidak lagi menyukai saya. Bukan mustahil saya dicap radikal atau apalah. Satu lagi. Bisa jadi Amerika tidak mengizinkan saya masuk ke sana dalam waktu dekat. Maafkan saya. Bagi saya, itu risiko yang harus saya ambil.

Bayangkan, tanah milik ibumu diserobot orang. Karena penyerobotan itu akhirnya ibumu hidup susah dan teraniaya. Akankah engkau berkata, "Bu, aku netral." Tentu tidak. Pastinya engkau akan bersuara dan bergerak, sebisanya! Saya harap Anda setuju dengan saya!

Sekian dari saya, Ippho Santosa.

(Note: Anda tidak perlu meminta izin kepada saya sekiranya ingin menyebarkan tulisan ini)
Kadang, kita perlu bersikap untuk hal-hal yang bersifat prinsip. Saran saya, jangan pasif. Sebaik-baiknya, proaktif.
Lapang hati, lapang rezeki
Sempit hati, sempit rezeki
Ridha terhadap pencapaian orang lain akan memudahkan pencapaian kita
Dengki? Tertutup rezeki
Buku gratis. Mau?

Ada hadiah dari saya untuk teman-teman semua. Terutama untuk #bumil alias ibu-ibu hamil... Di Kitab Suci, kata 'hamil' hampir-hampir selalu diiringi dengan kata 'kabar gembira'. Salah satu maknanya, ibu hamil harus dibuat gembira. Kalau hatinya gembira, proses persalinannya akan lebih lancar dan anaknya akan lebih cerdas. Ini menurut penelitian... So, silakan komen di sini. Sebanyak-banyaknya. Nanti akan saya pilih 20 pemenang. Dapat hadiah buku plus tanda tangan. Mau?

Yang mau, silakan komen di IG saya >> https://www.instagram.com/p/BdMZgUHh2D8/
Jelas, kita perlu positive thinking.

Namun di waktu yang sama, kita juga perlu proportional thinking.
Tetap bekerja di tengah suasana liburan kadang membuat kita malas. Betul apa betul? Nah, berikut ini tips-tips agar kita bersemangat kembali saat bekerja.

Pertama, bawa oleh-oleh ke kantor. Kita tentu sepakat bahwa makanan atau oleh-oleh bisa menyenangkan hati semua orang di kantor, termasuk diri kita sendiri.

Kedua, dengarkan musik. Mendengarkan musik-musik ceria bisa membangkitkan semangat. Terutama kalau beat-nya cepat. Dengar murottal juga boleh.

Ketiga, manfaatkan waktu makan lebih lama dari biasanya, dengan syarat masih dalam waktu istirahat. Misal, kita lazimnya makan siang sekitar 30 menit. Nah, sesekali boleh kita tambah jadi 45 menit.

Keempat, pergi bertemu teman setelah jam kerja. Boleh-boleh saja setelah jam kerja kita mampir dulu ke restoran bersama teman untuk sekadar menikmati makan malam. Ngobrol santai bisa meningkatkan semangat.

Kelima, tuliskan dan susun ulang rencana kegiatan yang akan dilakukan di kantor. Ini akan membantu kita untuk lebih fokus saat muncul rasa malas dan bingung.

Keenam, konsumsi alpukat, green tea, cokelat, tomat, bayam, madu, dan propolis. Di berbagai riset, ini semua dipercaya dapat memperbaiki mood. Dan tentunya, meningkatkan semangat.

Ketujuh, hindari mereka yang suka mengeluh. Sekali lagi, hindari mereka yang suka mengeluh. Bahaya. Kecuali kita ingin ikut-ikutan negatif seperti mereka.

Nggak sulit tho? Silakan praktek. Semoga sedikit-banyak membawa perubahan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Positive thinking bukanlah segalanya. Tapi, dari sinilah bermula pikiran yang jernih. Ide-ide bisa lahir. Inovasi-inovasi bisa hadir.
Teman-teman, mohon doa ya. Ibu saya lagi pemulihan di bagian bahunya. Semoga ibu saya dan ibu-ibu lainnya selalu dinaungi kesehatan. Aamiin.

Kita tahu, sakit adalah ujian. Sekaligus penambah kemuliaan bagi sesiapa yang menjalaninya dengan sabar dan tegar. Sampai detik ini, Nabi Ayub adalah teladan nyata yang penuh ibrah dan syiar.

Sakit adalah terapi kesabaran. Lagi-lagi Nabi Ayub kita jadikan contoh nyata karena berhasil membuat hati kita tersentuh dan trenyuh. Meski sakit di sekujur tubuh, sekalipun ia tak pernah mengeluh.

Sakit adalah zikir dan muhasabah. Dibanding ketika sehat, orang yang sakit akan lebih sering dan lebih khusyuk dalam menyebut nama Allah. Amal-amal pun ia tambah.

Sakit adalah tobat. Saat sakit, manusia cenderung sulit diajak berbuat sia-sia apalagi maksiat. Bahkan ia sedikit tertawa dan banyak menangis yang mana ini merupakan anjuran mereka yang taat. Alih-alih maksiat, si sakit malah menggiatkan tobat.

Sampai di sini, teman-teman sepakat? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saling mendoakan ya...
Satu hari sebelum saya milad (Jumat, 29 Desember), pagi-pagi Ustadz #YusufMansur sudah menelepon saya. Beliau mengucapkan selamat milad, masya Allah. Saya sampai speechless.

Terus-terang, selama ini, saya bukan jenis orang yang merayakan milad. Biasa saja.

Terus, saya Jumatan di At-Tin. Di sana Ustadz YM kasih kado dobel-dobel ke saya. Pertama, uang tunai Rp5juta (uangnya untuk sedekah). Kedua, dua kue tar (satu untuk saya, satu lagi untuk anak saya). Ketiga, ribuan jamaah diminta doain saya.

Masya Allah. Saya nggak tahu harus ngomong apa. Beneran. Hanya Allah yang mampu membalas kebaikan-kebaikan Ustadz YM. Semoga beliau selalu sehat dan dijaga Allah. Aamiin. Kita doakan ya.

Terus, pada 29 Desember itu juga, ada ucapan milad dari Ustadz Amir Faishol dari Tanah Suci. Alhamdulillah. Beliau kita kenal sebagai Juri Hafiz Indonesia di RCTI. Saya pribadi sudah lama berguru sama beliau.

30 Desember 2017, tepat saya berusia 40 tahun (hitungan Masehi). Medina, 2 tahun. Alhamdulillah, saya dikirim kue sama #EyangHabibie, Hotel Ayana, dkk. Sekali lagi, terima kasih atas doa dan ucapan dari teman-teman semua. Semoga berkah sisa umur kita. Aamiin.

Seperti yang saya singgung di awal, saya bukan jenis orang yang merayakan milad. Kalaupun saya bikin event akbar di hotel sekelas Ayana (Raisa dan Hamish resepsi di sini), itu karena grand seminar bersama mitra-mitra BP.

Saya #bersyukur sekali. Tak pernah saya minta, tapi Allah takdirkan saya dan anak ketiga saya lahir pada tanggal yang sama, 30 Desember. Normal lahirnya, alhamdulillah. Sekarang anak ketiga saya ini, Medina, sudah 2 tahun umurnya.

Satu lagi. Ibu saya yang sempat cidera bahunya karena terjatuh beberapa hari yang lalu, alhamdulillah kemarin sudah jauh lebih baik. Keadaan yang membaik ini pun patut kita syukuri. Bukankah begitu?

Dan izinkan saya memberikan apresiasi demi apresiasi. Terima kasih buat Uda David Chalik, Pak Jamil Azzaini, dan Kang Teddy Snada yang telah hadir di acara saya tadi di Ayana. Saya menyaksikan sebuah great performance dari tiga tokoh ini!

Terima kasih juga buat panitia (tim BSD dan tim TK), Kak Diaz dkk, Mas Jimmy dkk, dan mitra-mitra BP yang datang dari berbagai penjuru Indonesia. Saya sampai terharu! It's so great! Semoga segala kesibukan kita ini, semuanya terhitung berkah! Aamiin!