Ippho Santosa - ipphoright
26.2K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Kalau Papua Nugini punya 830-an bahasa, maka Indonesia punya 700-an bahasa, di mana masing-masing bahasa itu berbeda dan digunakan aktif oleh warga negaranya. Dahsyat ya.

Ini menjadikan Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan ragam bahasa terbanyak. Ya, peringkat kedua. Saya pernah dua kali ke NTT. Ternyata mereka yang tinggal di daerah bersebelahan saja, bisa beda bahasanya.

Selain peringkat, ragam bahasa ini juga mengantarkan Indonesia pada keuntungan-keuntungan tersendiri. Riset-riset menyimpulkan, mampu berbicara lebih dari satu bahasa akan menambah kosakata, meningkatkan kemampuan berkomunikasi, dan mencegah penuaan dini.

Weekend ini saya berada di Banyuwangi dan Jember. Dari segi bahasa, mereka tidak jauh berbeda. Sama-sama Jawa Timur tho? Tapi dari segi logat, nah jelas-jelas berbeda. Begitulah Indonesia, begitu kaya dan beragam.

Saya selalu menyarankan teman-teman saya dan keluarga saya untuk memahami bahasa setempat. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kurang-lebih yah begitu. Niscaya ini akan memudahkan kita dalam menjalankan bisnis dan karier.

Bahasa adalah komponen utama dalam berkomunikasi. Ya, komponen utama. Ketidakpekaan kita dalam memahami bahasa dan logat bisa membuat komunikasi kita tersendat-sendat. Ini akan berdampak pada bisnis dan karier.

Pada akhirnya, cobalah pelajari. Pahami. Setidaknya, pelajari kata-kata yang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Training IM angkatan 13 sudah penuh. Mohon maaf bagi teman-teman yang tidak kebagian seat.
Apalah arti sebuah nama? Ujar seorang pujangga. Dia keliru. Nama sangatlah berarti. Terbukti, dia bangga dengan namanya dan tidak mau diganti namanya.

Menurut survey, wanita dengan nama Jennifer dipersepsi lebih cantik daripada wanita dengan nama Gertrude. Memang, ini hanya persepsi. Tapi, bukankah segala sesuatu berawal dari persepsi (first impression)?

Di Barat, sebuah riset dilakukan oleh situs The Knowledge Academy untuk mengetahui nama-nama wanita seperti apa yang cenderung sukses berkarier.

Mereka pun berusaha mencari tahu nama-nama wanita dari 500 ribu CV. Tepatnya, data ini berupa nama depan dan gaji tahunan mereka. Ternyata seru juga.

Dan inilah tiga nama wanita yang menurut riset berpendapatan besar, yaitu Lily, Isabella, dan Ella. Selain itu, nama-nama wanita lain yang menurut riset berpendapatan besar adalah Amelia, Emily, Mia, Jessica, dan Olivia.

Tentu saja, ini di Barat. Bukan di Indonesia.

Dalam Islam, nama itu doa. Hendaknya dipilih yang baik-baik. Nabi Muhammad bahkan pernah mengganti nama seseorang karena nama orang itu mengandung makna yang tidak baik.

Adapun umat Kristiani berpegang pada Amsal 22:1 yaitu, "Lebih utama memilih nama yang baik daripada kekayaan yang melimpah." Ya, nama bukan sesuatu yang sepele.

Maka, sudah semestinya kita berhati-hati dan bersungguh-sungguh dalam memilih nama atau merek (brand). Jangan asal. Jangan dangkal. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda punya smartphone?

Di Indonesia, ternyata 72 persen orang mengakses internet melalui ponsel pintarnya (smartphone). Ya, Indonesia berada di peringkat kedua sebagai negara yang mengakses internet menggunakan ponsel pintar.

Ingat, internet adalah pasar yang sangat besar. Bahkan pasar yang sangat dekat. Sedekat jarak tangan kita ke smartphone kita. Nah, sejauh mana kita melek internet? Sejauh mana kita menghasilkan uang dari internet? Apakah kita hanya jadi penonton dan konsumen saja di internet?

Ada baiknya kita ikut jadi pemain. Mulai sebisanya. Action sebisanya.
Bekerja keras (work your hardest) dan berpikir positive (stay positive) akan membuahkan hasil.
Buku gratis...

Kali ini saya akan bagi-bagi hadiah berupa 5 buku GRATIS...

Teman-teman minat? Klik >> http://bit.ly/rahasiaippho
Di seminar kali ini, saya akan bagi-bagi hadiah berupa 5 buku GRATIS...

Menariknya, di sini saya nggak tampil sendiri. Hadir juga pakar-pakar lainnya...

Teman-teman minat? Klik >> http://bit.ly/rahasiaippho

Kesempatan sangat terbatas!
Menyerah (giving up) itulah kegagalan yang terbesar
Membaca buku tidaklah sama dengan membaca socmed. Di buku ada penyampaian ilmu yang lebih matang dan lebih mendalam.

Sebuah riset pada 2013 di Emory University membandingkan hasil pemindaian otak antara orang yang gemar membaca dan yang tidak lewat pemindaian MRI. Sebelumnya, setiap peserta diminta untuk membaca buku literatur klasik.

Peneliti menemukan ternyata aktivitas otak mereka yang hobi membaca meningkat di area pemahaman bahasa dan visualisasi gerakan. Kedua area otak itu berperan penting dalam membangun emosi dan empati seseorang.

Di samping bisa meningkatkan rasa empati terhadap orang lain, membaca buku juga berpengaruh pada kesehatan fisik. Membaca buku memberikan ketenangan dan menurunkan tekanan darah.

Terlepas dari itu, bacaan menyajikan sebuah dunia imajinasi dan alternatif sebagai pelarian sementara dari masalah dunia nyata. Oleh karena itu, membaca buku bisa jadi terapi pencegah stress dan depresi.

Mari rutinkan membaca. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Siapa sangka, transaksi belanja online yang dibukukan selama program Hari Belanja Online (Harbolnas) pada tahun ini menembus Rp 4 triliun selama 3 hari. Bayangkan, 4 T selama 3 hari.

Adrian Panggabean dari CIMB Niaga mengungkapkan omzet Harbolnas menembus Rp4 triliun, lebih tinggi ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Ya, transaksinya terus meningkat mencapai 4 kali dalam 3 tahun, bahkan mencapai 60 kali dalam 5 tahun.

Belum lagi transaksi yang terjadi via Facebook, Instagram, WhatsApp, Blackberry yang tidak terlacak oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Ditjen Pajak. Boleh dibilang, internet memang pasar yang teramat dahsyat.

Ketika Harbolnas, omset Lazada (bagian dari Alibaba) naik hingga 10 kali lipat dibandingkan hari biasa. Adapun transaksi di Gramedia.com naik 40.000 persen.

Saat ini, omset penjualan e-commerce di Indonesia berada di sekitar 3,5% dari PDB. Di Amerika, rasionya sekitar 6% sampai 8%. Jadi e-commerce Indonesia sebenarnya sudah relatif besar secara angka.

Kue ekonomi yang sedemikian besar, sudahkah kita menikmatinya? Atau sekedar tahu dan takjub saja? Ada baiknya kita mulai mempelajari dan mendalami digital marketing. Jadilah pemain. Jadilah pelaku.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
"Sesiapa yang suka melambat-lambatkan pekerjaan maka tidak akan dipercepat rezekinya," pesan Nabi Muhammad yang kemudian diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Maka, lakukan segala sesuatu dengan segera. Ya, segera. Bahkan ketika satu tugas sudah selesai, maka kerjakan tugas lain dengan segera. Jangan menunda. Demikianlah seruan Yang Maha Kuasa.

Menariknya, begitu kita menyelesaikan tugas yang penting, sebenarnya otak kita melepaskan hormon beta-endorphin. Hormon ini adalah remedi alami untuk kebahagiaan.

Dan hati-hati. Penundaan akan menggerus good mood. Penundaan akan mengundang kegagalan. Penundaan akan memantik masalah demi masalah.

Saran saya, "Selagi itu legal dan halal, ya sudah, lakukan saja. Jangan ditunda." Coba perhatikan kebiasaan orang-orang sukses. Mereka tidak suka menunda pekerjaan.

Gimana dengan Anda? Siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Presiden Jokowi pernah berpesan, "Menurut World Bank, seharusnya tiap negara minimal punya 4 persen entrepreneurs dari jumlah penduduk. Nah, Indonesia baru punya 3,3 persen pengusaha. Singapura sudah punya 7 persen. Sementara, Malaysia dan Thailand punya 4-5 persen."

Ya, #EntrepreneursWanted. Indonesia membutuhkan entrepreneurs lebih banyak lagi.

Ujar Presiden Jokowi, "Kadang jalan pikiran anak muda tidak bisa dimengerti. Tapi, yang penting segeralah mulai usaha. Memulai bisa kapan saja. Tanpa memulai, usaha kita tak akan pernah jadi!" Bagi saya, itu ada benarnya. Hindari penundaan.

Menjadi pengusaha adalah cara kita untuk menuju mapan finansial, di mana dampaknya bisa dirasakan oleh diri kita dan keluarga kita. Belum lagi kemungkinan terbukanya lapangan kerja. Itu sangat menyenangkan dan membanggakan.

Bagi teman-teman yang terlintas keinginan untuk jadi pengusaha, baiknya segera take action. Sekali lagi, hindari penundaan. Tidak harus langsung besar. Kecil-kecilan dulu, boleh. Tidak harus produk sendiri. Menjualkan dulu juga boleh.

Semoga berkah berlimpah!
Anda punya akun Instagram (IG)?

Setidaknya teman-teman Anda pasti punya. Betul apa betul?

Kalau Facebook menjadi tempat berkumpulnya user yang paling banyak, maka Instagram menjadi tempat berkumpulnya user yang paling prospek. Kedua-duanya perlu kita kuasai, bukan sekadar tahu.

"Instagram merupakan tool pemasaran yang sangat efektif bagi perusahaan untuk memperkenalkan produknya. Selebriti juga memperhitungkan akun mereka secara efektif," ungkap Mike Bandar, pendiri HopperHQ.

Ia juga menyampaikan betapa Instagram punya banyak user, tepatnya sekitar 700 juta user aktif di dunia setiap bulan. Itu sama saja Instagram menjadi media pengiklan yang efektif. Apalagi user-nya lebih berdaya beli.

Instagram bahkan menjadi mesin uang, terutama bagi artis-artis. Raffi Ahmad, misalnya. Sekali endorse di Instagram, dia bisa mengantongi hampir Rp30juta. Kalau Prilly Latuconsina? Kurang-lebih sama.

Kita bukan artis. Kita adalah entrepreneur dan calon entrepreneur. Namun, ada baiknya kita mempelajari ilmu Facebook dan Instagram lebih dalam lagi, terutama buat bisnis. Apalagi orang perkotaan memegang handphone-nya 3 sampai 5 atau 6 jam sehari. Think.

Internet + Socmed = Magnet

Magnet apa? Konsumen, uang, dan berbagai kemungkinan lainnya. Akankah kita jadi penonton dan konsumen saja? Sekali lagi, think. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kalau Anda mengerjakan sesuatu karena cinta, insya Allah itu akan membahagiakan. Benar sekali, cinta itu membahagiakan. Juga menyehatkan.

Terkait kerja, mengapa Anda mau bekerja 6 sampai 8 jam sehari? Mungkin karena kecintaan Anda pada pekerjaan dan perusahaan Anda. Mungkin karena kecintaan Anda kepada orangtua, anak, dan istri Anda.

Kemungkinan lain? Mungkin karena kecintaan Anda kepada Tuhan dan Tuhan telah memerintahkan Anda untuk menjalankan peran khalifah dengan sebaik-baiknya, dengan sungguh-sungguh. Begitu kan?

Dengan kata lain, kekuatan ikhtiar tidak akan sempurna apabila tidak dilengkapi dengan bahan bakar cinta. Jelas sudah, cintalah yang membarakan, cintalah yang menggerakkan, cintalah yang membahagiakan!

Maka, apapun bidang kita saat ini, cintailah. Entah sudah passion atau belum passion. Kalau kita cintai, insya Allah passion itu bisa tumbuh pelan-pelan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ada sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia. Ini angka yang wow. Sementara hampir setengahnya adalah penggila medsos atau berkisar di angka 40%. Dan angka ini meningkat lumayan dibanding tahun lalu, di 2016. Luar biasa? Sangat!

Di 2017, Tetra Pak Index mencatat ada lebih dari 106 juta orang Indonesia menggunakan medsos setiap bulannya. Bayangkan 106 juta orang. Di mana 85% di antaranya mengakses social media melalui perangkat seluler.

"Pengguna internet di Indonesia didominasi oleh generasi millennial dan generasi Z," ini temuan menurut mereka.

Lanjut mereka, "Social media memiliki pengaruh besar dalam pertumbuhan bisnis, khususnya bisnis berbasis online di Indonesia. Konten buatan pengguna (user generated content) menjadi semakin penting."

Ya, social media memang dahsyat. Dan sekarang sudah saatnya kita jadi pemain. Jangan sekadar jadi penonton. Salah satunya, manfaatkan social media untuk menghasilkan uang.
Anda siap?
Sekitar 45 juta orang Indonesia ternyata menggunakan media sosial ini secara aktif. Dan tercatat, Indonesia merupakan negara penghasil Instagram Story terbesar di dunia, dengan konten 2X lebih banyak dari rerata global.

Susan Rose, Product Marketing Director Instagram, melihat ini sebagai kesempatan yang bisa brand gunakan untuk lebih dekat dengan konsumennya. Adopsi bisnis melalui Instagram di Indonesia termasuk lima tertinggi di dunia.

Bahkan Instameet (komunitas Instagram) di Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Aktifnya bukan cuma di kota-kota besar, melainkan sampai kota-kota kecil. Ya, Instagram berada semakin jauh di depan rivalnya, Snapchat.

Di Instagram, saya aktif berbagi inspirasi dalam bentuk gambar dan video di akun @ipphoright.

Lantas, bagaimana dengan Facebook? Jumlah pengguna Facebook memang jauh lebih banyak, baik di Indonesia maupun di dunia. Tapi serunya, pengguna Instagram lebih konsumtif, lebih berdaya beli, dan terbiasa dengan belanja online.

Saran saya, "Berhentilah jadi penonton. Saatnya jadi pelaku, jadi pemain." Sayang sekali kalau pasar sepotensial ini sampai diabaikan. Ingat, punya akun Instagram saja tidaklah cukup. Harus dioptimasi agar bisa menjual dengan lebih mudah.

Silakan praktek. Semoga berkah berlimpah.