Ippho Santosa - ipphoright
26.2K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Boleh?
Sudah nonton film Justice League? Saya dan istri sudah menontonnya pada hari pertama.

Jauh-jauh hari sebelumnya, di film Goosebumps telah disampaikan bahwa sebenarnya film itu cuma punya tiga bagian. Pertama, pendahuluan. Kedua, pertengahan. Ketiga, KEJUTAN. Cuma itu.

Justice League, bagi saya, minim kejutannya. Kita tahu dia bakal bangkit. Dan kita juga tahu dia bakal menang dengan mudah. Hampir-hampir tanpa keringat. Bahkan tanpa deg-degan.

Tapi, ini soal selera. Saya tahu persis banyak orang yang tergila-gila dengan Justice League.

Kejutan menjadi sesuatu yang wajib dalam bisnis. Begini. Tak harus dengan produk baru. Namun kita bisa mengejutkan konsumen dengan iklan baru atau endorser baru. Di British Propolis, saya sampai memilih Andre Taulany, Olla Ramlan, dan Gisella sebagai endorser.

Di TK dan SD, saya bersama tim pusat berusaha meng-update materi pengajaran, selalu. Walaupun terkesan sama (begitulah dunia pendidikan), tapi harus ada hal-hal baru dan segar yang kami tawarkan dari waktu ke waktu.

Sudah fitrahnya manusia menyukai kejutan. Dengan cara positif, tentunya. Kalau sampai nabrak tiang listrik, maaf, itu terlalu negatif. Hehehe. Mari selipkan kejutan demi kejutan dalam bisnis kita. Tidak harus mahal. Tidak harus besar-besaran.

Gimana? Anda siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Jauh-jauh hari Mahatma Gandhi mengajarkan tujuh pantangan yang harus dihindari, yakni:
- kaya tanpa bekerja,
- kesenangan tanpa kesadaran,
- pengetahuan tanpa karakter,
- bisnis tanpa moral,
- ilmu tanpa kemanusiaan,
- penghargaan tanpa pengorbanan,
- politik tanpa prinsip.

Tujuh hal tersebut sangat sulit dibantah, karena memang benar adanya.

Gandhi adalah seorang Hindu namun dia menggandrungi pemikiran-pemikiran dari agama Islam dan Kristen. Pada akhir Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang pria Hindu yang murka kepada Gandhi karena ia dianggap terlalu berpihak kepada Muslim.

Kembali ke salah satu pantangan di atas. Kaya tanpa bekerja. Agama manapun pastilah mensyaratkan kesuksesan dan kekayaan dengan kerja keras. Manusia hanya mendapatkan apa-apa yang ia upayakan. Secara umum yah seperti itu.

Kerja keras yang dimaksud bukan soal ikhtiar belaka. Termasuk juga soal belajar yang sungguh-sungguh, amal yang sungguh-sungguh, dan doa yang sungguh-sungguh. Right? Dengan demikian, kemungkinan sukses akan jauh lebih besar.

Drama korupsi e-KTP telah membuat kita muak. Ironisnya sebagian orang menjadi kaya-raya karena korupsi itu. Perhatikan, di sini beberapa pantangan Gandhi telah dilanggar oleh mereka yang terlibat dalam korupsi tersebut. Apa hasilnya? Kekacauan, penzaliman, malu, marah, dsb.

Mari kita petik hikmah dari tujuh pantangan tersebut. Sebisa-bisanya kita terapkan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Semoga berkah berlimpah!
Jaga penafkahan kita. Pastikan halal. Niscaya menentramkan
Kesuksesan bisnis bukan saja ditentukan oleh tim dan sistem. Tapi juga ekosistem.

Mau jadi pengusaha, ngumpul sama pengusaha.

Mau jadi miliarder, ngumpul sama miliarder.

Mau jadi orang soleh, ngumpul sama orang soleh.

Di British Propolis kami berusaha mencetak miliarder yang positif dan soleh. Nggak jaminan ini tercapai. Tapi saya berusaha sebisanya. Ya, sebisanya.

Bergaul dengan pembakar besi, bisa terkena bakaran besi. Setidaknya terkena aromanya.

Kalau bergaul dengan penjual wangi? Yah dapat wangi dan dapat diskon, hehehe.

Soal ekosistem, jangan dianggap enteng. Ada baiknya secara sadar kita membentuk lingkungan dan pergaulan kita, demi tercapainya impian kita. Pertama, impian yang terkait dunia. Kedua, impian yang terkait akhirat.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Anda kenal tokoh yang satu ini? Arcandra Tahar namanya.

Ir. #ArcandraTahar, M.Sc, Ph.D adalah putra Minang yang kemudian kuliah dan bekerja di Texas, Amerika. Sebelumnya beliau adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) walaupun hanya 20 hari, yang menjadikannya menteri dengan masa kerja terpendek.

Sekarang, beliau adalah Wakil Menteri ESDM. Kita abaikan dulu latar belakang beliau yang sempat rada kontroversi. Selama di Texas, beliau nyambi sebagai guru ngaji (tahsin). Ya, guru ngaji. Boleh dibilang, beliau ini penggiat di Islamic Family Academy di Houston, Texas.

Salah satu peserta di sana, Yuyud Tomtom, mengaku, “Tahun lalu, saya bertemu dengan dia di Islamic Family Academy Houston Spring Camp. Kemudian, saya tahu jika dia adalah seorang guru ngaji. Dia mengajari anggota keluarga saya bagaimana membaca Al-Quran secara benar. Itu adalah bagian dari kebaikannya. Semoga Allah memberi pahala yang berlimpah."

Karena itulah, saat bertemu beliau saya bertanya soal agama. Tepatnya, tentang kesalahan-kesalahan kita terhadap orang lain dan bagaimana cara meminta maafnya andai kita tidak bisa bertemu juga menghubungi orang itu secara langsung.

Pejabat yang satu ini memang sederhana dan rendah hati. Tapi ilmu agamanya insya Allah bisa diandalkan. Pertanyaan saya ini dijawab panjang-lebar oleh beliau. Lugas. Menurut beliau, kita harus berusaha mencari orang tersebut dengan sungguh-sungguh. Soal sungguh-sungguh ini hanya Allah dan hati kita yang tahu.

Bila tidak bertemu juga, carilah kerabatnya. Begitulah. Minta maaf sama manusia, minta ampun sama Allah. Pantaslah di kalangan tertentu beliau dipanggil 'buya'. Semoga beliau selalu sehat dan dilindungi Allah. Aamiin.

Lantas, bagaimana rasanya tinggal dan berkeluarga di negeri yang secara iman kita adalah minoritas? Beliau mengajarkan analogi tentang sungai. Apakah kita 'membangun pagar bagi anak' atau 'mengajarkan anak berenang'. Beliau menyarankan alternatif yang terakhir, mengajarkan anak berenang.

Masih banyak lagi ilmu-ilmu bermanfaat dari beliau. Kapan-kapan kita sambung lagi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Maafkan mereka yang pernah mengecewakan dirimu. Niscaya akan lebih tentram dan lebih bahagia dirimu.
Disukai atau dibenci, jadikan motivasi untuk lebih sukses
Humor itu bagian dari otak kanan. Jamak diketahui, humor dapat mencairkan suasana dan memuluskan percakapan. Nabi Muhammad pun membolehkan humor (gurauan), asalkan tidak berdusta dan tidak berlebihan.

Lihatlah orang Jawa. Hm, kok bawa-bawa orang Jawa segala? Begini. Mereka sudah terbiasa dengan kehadiran pelawak semenjak zaman kerajaan-kerajaan. Demikian pula dengan Inggris. Yah, Anda tidak perlu sekocak Ustadz Abdul Somad. Tetapi, sekali waktu, cobalah untuk bergurau dengan lawan bicara Anda. Terutama di awal.

Lakukan itu. Apakah Anda berprofesi sebagai pengusaha, perawat, pengajar, penyanyi, atau profesi apa saja yang mengharuskan people contact. Tentunya, gurauan mesti mencermati sikon. Bayangkan saja Anda bersenda-gurau dan terbahak-bahak di sebuah pemakaman. Semua mata bisa mendelik ke arah Anda. Hehehe.

“Mas Ippho, profesi saya tidak mengharuskan people contact. Bagaimana ini?” Mungkin ada keluhan seperti itu. Lantas, apa jawaban saya? “Lha, itu ‘kan urusan Anda. Emangnya saya pikirin!” Hehehe, saya bercanda.

Begini. Dengarkan saran saya, “Cobalah bergurau dengan diri Anda sendiri dan cobalah untuk tertawa. Atau simak tulisan dan film yang jenaka.” Bahkan, sesekali Anda boleh meniru anak kecil. Hm, nggak salah tuh? Tidak.

Anak kecil—di mana mereka cenderung dominan otak kanannya— dapat tertawa tanpa tahu penyebabnya. Tertawa, ya, tertawa. Tidak perlu pakai sebab. Sejatinya, itulah yang terbaik. Begitu Anda tertawa, ini dapat memancing rasa senang bahkan rasa bahagia. Yang penting, jangan berlebihan.

Silakan praktek. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Jangan jual barang yang kita sendiri nggak pakai atau nggak puas. Pastikan dipakai sendiri dan puas, barulah sampaikan ke orang-orang terdekat dan mereka yang bener-bener butuh.

Terus, gimana baiknya? Ada yang dijual, ada pula yang dikasih. Dua-duanya bagus dan berkah. Kalau dijual, namanya muamalah. Kalau dikasih, namanya sedekah. Ini berlaku pada produk apa saja, termasuk suplemen.

Kasih (gratis) ke orang-orang terdekat yang kita kenal dan sepertinya perlu produk kita. Jangan kasih ke orang yang nggak perlu atau ogah-ogahan. Yah, percuma.

Selanjutnya, kasih ke orang yang bener-bener butuh. Tapi jangan dibikin serba mudah. Bersyarat saja, misal suruh dia jogging 7 kali berturut-turut. Setelah itu, kasih produk kita (contohnya suplemen kesehatan). Atau suruh dia bayar seikhlasnya. Kalau bener-bener butuh, pastilah dia mau sedikit berkorban. Setelah itu, minta testimoni dari dia. Testimoninya lebih ampuh tuh.

Satu lagi. Kasih juga ke orang yang ahli. Ya, ahli tentang produk yang kita jual. Komen dari sang ahli ini akan membuat produk seperti teruji. Sama seperti dapat sertifikasi tertentu. Pada akhirnya ini akan menambah nilai jual produk kita.

Begitulah. Ada yang dijual, ada pula yang dikasih. Kalaupun mau dikasih, pastikan kasih ke orang-orang yang tepat. Sepakat?
Tulisan di atas menjawab dilema antara jual barang dan ngasih barang. Hal ini sering ditanyakan ke saya.
Pernah curhat?

Saat kita curhat, biasanya kita curhat pada orang yang dekat dengan kita dan kita anggap mampu melindungi kita. Right?

Ya, biasanya kita minta solusi kepada orang yang sayang sama kita dan kita anggap mampu melindungi kita.

Nggak mungkin kita curhat sama orang yang baru saja kita temui di pinggir jalan. Iya tho?

Lalu, saya pun ingin bertanya kepada teman-teman semua. Bukankah Allah itu sangat dekat dengan kita? Bukankah Allah itu sangat kuat dan mampu melindungi kita? Terus, kenapa kita masih bingung berlebihan saat ada masalah dan memikirkan solusinya. Think.

Boleh-boleh saja kita curhat dengan orang yang kita percaya. Boleh. Tapi jangan sampai kita menomorduakan bahkan mengabaikan Allah. Sebaliknya, jadikan Allah sebagai sandaran pertama dan utama. Bukan yang lain. Dengan melibatkan Allah, niscaya hati akan terasa lebih tentram.

Ya, artikel ini merupakan teguran buat saya dan kita semua. Semoga bermanfaat.
Beda pendapat itu wajar. Berpecah-belah, itu yang tidak wajar.
Mereka maulid atau tak maulid, pastinya mereka mencintai Nabi yang sama
Perbedaan kecil tak perlu dibesar-besarkan.
Kalau perbedaan kecil dibesar-besarkan, maka rahmat pun mengecil.
Niat itu semacam impian.

Niat adalah sesuatu yang diletakkan paling awal, sekaligus akan menentukan hasil akhir. Niat baik (tulus), perkataan baik, dan perbuatan pasti baik, maka hasilnya mudah-mudahan akan lebih baik. Sebaliknya, kalau niat buruk, maka ujung-ujungnya pasti buruk.

Tidak terkecuali dalam bisnis. Perlu niat baik. Jadi, kalau niat kita sudah baik dan selaras dengan orang-orang terdekat, maka yakinlah Yang Maha Kuasa akan menjawab keseriusan kita dengan memberikan bisnis yang baik-baik bahkan ideal buat kita.

Memang, berbisnis itu tidak mudah. Tapi bisa. Asalkan kita benar-benar niat.

Tapi anehnya, orang Indonesia lebih suka melamar kerja berulang-ulang daripada bangkit dari bisnis saat gagal. Mindset seperti ini terkadang membuat saya bingung dan geleng-geleng kepala. Dengan kata lain, sebenarnya niat mereka masih lemah.

Saran saya, “Lakukan saja apa-apa yang Anda tahu. Jika belum mampu sepenuhnya, lakukan saja semampunya. Sembari itu, belajarlah. Pantaskan diri dan kumpulkan uangnya.” Kalau ada niat, tentu ada jalan.

Misal, produksi belum bisa. Jualan, masih bisa tho? Jadi developer, belum bisa. Jadi broker, masih bisa tho? Lakukan saja semampunya. Saya yakin, Anda akan dimampukan. Ya, niat adalah sesuatu yang diletakkan paling awal, tapi akan menentukan hasil akhir.

Pada akhirnya, pastikan niat kita tulus dan kuat! Semoga berkah berlimpah!
Kita sama-sama tahu bahwa bisnis itu penting tapi parenting (pengasuhan anak) jauh lebih penting. Bahkan bisnis boleh gagal, tapi parenting tidak boleh gagal... Selama ini saya kerepotan mencari video parenting yang bagus terutama untuk ortu-ortu muda. Nah, video sekian menit ini cukup nge-pop dan mudah dipahami oleh ortu-ortu muda.

Simak deh >> https://m.youtube.com/watch?v=CMwVLEXymJc&feature=youtu.be
Apa bisnis Anda? Majukah? Berkembangkah?

Tips bisnis dari saya pagi ini adalah ATM.

ATM itu ampuh. Bener-bener ampuh. Maksudnya, Amati-Tiru-Modifikasi. Misal, bisnis orang lain yang terbukti dan teruji sukses, yah kita tiru saja. Namun di sini bukan sekedar meniru. Perlu kreativitas juga. Iya tho?

Di mana kita harus melakukan sedikit modifikasi agar sesuai dengan perusahaan kita (C1, Company), sesuai dengan selera pelanggan kita (C2, Customer), dan berbeda dengan pesaing kita (C3, Competitor). Kisah sukses merek-merek besar menginspirasi entrepreneur-entrepreneur lokal untuk menjadi jagoan di kotanya masing-masing.

Entrepreneur-entrepreneur lokal ini memodifikasi, sehingga hadirlah bisnis-bisnis yang kreatif. Ibaratnya fitur copy paste di pengetikan, kita harus menambahkan editing-editing agar hasilnya lebih apik dan lebih menarik. Sekali lagi, ini beda dengan plagiat dan imitasi. Bener-bener beda.

Misalnya:
- Merek A harganya mahal. Kita? Tawarkan harga murah.
- Merek B ukurannya besar. Kita? Berikan ukuran kecil.
- Merek C distribusinya di supermarket. Kita? Jual melalui reseller.
- Merek D promosinya di stasiun TV. Kita? Sosialisasi di socmed.
- Merek E target pasarnya keluarga. Kita? Segmennya anak muda.

Ini yang namanya modifikasi. Sekarang tugas kita, carilah merek-merek nasional yang relevan. Lalu, kita amati dan cermati. Dengan teliti dan hati-hati. Terus, kita ikuti. Kemudikan lakukan sedikit modifikasi. Agar produk kita lebih disukai customer, menyentuh hati.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Silakan praktek. Dan ajak teman-teman kita join channel ini. Semoga berkah berlimpah.