Seperti yang Anda tahu, sebentar lagi akan dirilis buku saya, Karyawan Juga Bisa Kaya (royalty for charity). Sebagian mungkin sudah bisa menebak-nebak, ini soal investasi. Itu ada benarnya. Namun tidak melulu soal itu. Akan dibahas juga ilmu quantum, ilmu spiritualitas, ilmu optimisme, ilmu alturisme, ilmu properti, ilmu emas, ilmu pensiun, dll... Terkait emas, sebenarnya sudah berulang kali saya bahas. Ini cocok sekali buat pemula. Modal ratusan ribu rupiah juga bisa. Simak » http://bit.ly/2aju0Vr
Properti diadu dengan emas, apa jadinya? Semua orang tahu, dari segi capital gain, properti menang telak dan mutlak ketimbang emas. Namun properti juga menyandang kelemahan tersendiri, semisal tidak likuid (perlu proses lama untuk jual-beli), dikekang aturan bank, dan modal relatif besar. Kalau emas? Likuid, bebas bank, dan modal relatif kecil. Rp 100 ribu juga bisa. Simak » http://bit.ly/2aju0Vr
Besok, 5 Agustus, adalah hari terakhir.
Hari terakhir, apa? Harga promo untuk 3 DVD Pengubah Nasib.
Seperti yang Anda tahu, inilah 3 DVD dari Ippho Santosa:
- 7 Keajaiban Rezeki (Exclusive)
- Raih Rp 100 Jt Pertama (Versi 4)
- Menjual & Melipatgandakan Omset Tanpa Biaya Tambahan
Ya, ditawarkan 3 sekaligus, agar benar-benar berdampak pada nasib dan kehidupan Anda.
Nah, sebelum membeli, ada baiknya Anda tahu dulu berapa total harganya:
Harga Normal:
Rp 550 ribu (mulai 6 Agustus)
Harga Promo:
Rp 399 ribu (sampai 5 Agustus)
Dibanding perubahan yang akan diperoleh, Anda pun merasa harga DVD ini tidaklah seberapa.
Karena Anda sudah memutuskan untuk memiliki, yah transfer saja:
- BNI Syariah 7777-0909-00 a.n. Ippho D. Santosa
- Atau BCA 497-2013-777 a.n. Ippho D. Santosa
- Setelah transfer, SMS 0815-4333-3600 dan SMS juga 0812-9183-0777 (SMS, bukan WA, bukan telp)
Untuk Indonesia, bebas ongkir.
Untuk luar negeri, tambah ongkir.
Tambahkan juga tiga nomor terakhir HP Anda pada nilai transaksi. Ini untuk memudahkan pengecekan. Anda boleh take action hari ini. Atau besok. Atau lusa. Kapan saja yang menurut Anda nyaman.
Happy action!
Hari terakhir, apa? Harga promo untuk 3 DVD Pengubah Nasib.
Seperti yang Anda tahu, inilah 3 DVD dari Ippho Santosa:
- 7 Keajaiban Rezeki (Exclusive)
- Raih Rp 100 Jt Pertama (Versi 4)
- Menjual & Melipatgandakan Omset Tanpa Biaya Tambahan
Ya, ditawarkan 3 sekaligus, agar benar-benar berdampak pada nasib dan kehidupan Anda.
Nah, sebelum membeli, ada baiknya Anda tahu dulu berapa total harganya:
Harga Normal:
Rp 550 ribu (mulai 6 Agustus)
Harga Promo:
Rp 399 ribu (sampai 5 Agustus)
Dibanding perubahan yang akan diperoleh, Anda pun merasa harga DVD ini tidaklah seberapa.
Karena Anda sudah memutuskan untuk memiliki, yah transfer saja:
- BNI Syariah 7777-0909-00 a.n. Ippho D. Santosa
- Atau BCA 497-2013-777 a.n. Ippho D. Santosa
- Setelah transfer, SMS 0815-4333-3600 dan SMS juga 0812-9183-0777 (SMS, bukan WA, bukan telp)
Untuk Indonesia, bebas ongkir.
Untuk luar negeri, tambah ongkir.
Tambahkan juga tiga nomor terakhir HP Anda pada nilai transaksi. Ini untuk memudahkan pengecekan. Anda boleh take action hari ini. Atau besok. Atau lusa. Kapan saja yang menurut Anda nyaman.
Happy action!
"Sedekah kok ngarep?"
Begini. Dalam sholat saja, kita boleh ngarep. Coba ingat-ingat doa kita saat duduk di antara dua sujud... Ngarep? Iya. Ngarep apa? Mulai dari petunjuk, kesehatan, sampai rezeki. Dalam sholat saja boleh ngarep, masak dalam sedekah nggak boleh, hehehe...
Ketika kondisi normal, mungkin kita nggak ngarep. Kebayang kondisi lagi susah? Anak sakit. Utang melilit. Bisnis pailit. Masalah rumit. Darurat nih. Mau ngarep kemana lagi? Woy, jawab woy! Orang biasa kalau pengen apa-apa, cuma ikhtiar. Kita mah beda, berikhtiar sekalian berdoa dan beramal. Ini keren apa keren banget? Ingat ya:
- Berharap kepada-Nya = berdoa
- Berharap kepada-Nya = bukti iman
- Berharap kepada-Nya = enggan berharap ke makhluk
- Berharap kepada-Nya = menuruti perintah-Nya karena itulah yang Dia perintahkan.
- Bagus tho, itu semua menjadi amal tersendiri. Salahnya di mana? Di Hongkong? Hehehe.
Begini. Dalam sholat saja, kita boleh ngarep. Coba ingat-ingat doa kita saat duduk di antara dua sujud... Ngarep? Iya. Ngarep apa? Mulai dari petunjuk, kesehatan, sampai rezeki. Dalam sholat saja boleh ngarep, masak dalam sedekah nggak boleh, hehehe...
Ketika kondisi normal, mungkin kita nggak ngarep. Kebayang kondisi lagi susah? Anak sakit. Utang melilit. Bisnis pailit. Masalah rumit. Darurat nih. Mau ngarep kemana lagi? Woy, jawab woy! Orang biasa kalau pengen apa-apa, cuma ikhtiar. Kita mah beda, berikhtiar sekalian berdoa dan beramal. Ini keren apa keren banget? Ingat ya:
- Berharap kepada-Nya = berdoa
- Berharap kepada-Nya = bukti iman
- Berharap kepada-Nya = enggan berharap ke makhluk
- Berharap kepada-Nya = menuruti perintah-Nya karena itulah yang Dia perintahkan.
- Bagus tho, itu semua menjadi amal tersendiri. Salahnya di mana? Di Hongkong? Hehehe.
Beberapa waktu yang lalu, saya diajak talkshow bareng Aa Gym, Sandiaga Uno, dan Mas Mono. Setelah itu, kami langsung lunch bersama. Alhamdulillah, sebagai tuan rumah, Aa Gym yang mengambilkan nasi untuk saya, persis 10 tahun yang lalu. Demikian pula Sandiaga Uno, walaupun bukan tuan rumah, menambahkan nasi untuk saya. Masya Allah, inilah dua guru sejati, karena benar-benar rendah hati. Saya sebagai murid sampai malu sendiri.
Suatu ketika, mungkin tahun 2011 atau 2012, saya melihat Pak Sandiaga (dan dia tidak melihat saya) naik pesawat biasa. Bukan Garuda Indonesia. Bukan business class. Ada seorang asisten di sampingnya, tapi dia tetap menenteng barangnya sendiri. Ah, itu kan biasa. Ya, memang biasa. Menjadi luar biasa karena saat itu ia termasuk dalam 30 orang terkaya di Indonesia!
Pernah juga saya diundang sarapan sama Tung Desem Waringin, pelatih kondang di Indonesia, di sebuah restoran di lapangan golf. Awalnya cuma sarapan, tahu-tahu kami ngobrol lebih dari 5 jam! Tidak terasa! Cuaca yang panas dan tidak ber-AC, sama sekali tidak berhasil mengusik dan mengusir kami. Ketika saya mau membayar, eh ternyata Pak Tung sudah duluan membayar. Rupanya dia telah meletakkan kartu kreditnya di kasir sejak awal.
Inilah yang disebut mental kaya. Gemar melayani, gemar mentraktir. Betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap sebaliknya. Ngarep-ngarep ditraktir. Nggak heran, semakin nyungsep hidupnya. Saran saya, setiap kali ada kesempatan, usahakan untuk mentraktir. Walaupun dia yang jadi atasan, walaupun dia yang lebih kaya. Lagi-lagi, ini soal mental kaya. Seperti kemarin, saya ditraktir sate kambing sama mantan staf saya, Gerry. Zaman saya susah dulu, saya sudah terbiasa mentraktir. Apalagi sekarang, yang insya Allah nggak susah lagi. Btw, mentraktir itu bagian dari sedekah. Siap?
Suatu ketika, mungkin tahun 2011 atau 2012, saya melihat Pak Sandiaga (dan dia tidak melihat saya) naik pesawat biasa. Bukan Garuda Indonesia. Bukan business class. Ada seorang asisten di sampingnya, tapi dia tetap menenteng barangnya sendiri. Ah, itu kan biasa. Ya, memang biasa. Menjadi luar biasa karena saat itu ia termasuk dalam 30 orang terkaya di Indonesia!
Pernah juga saya diundang sarapan sama Tung Desem Waringin, pelatih kondang di Indonesia, di sebuah restoran di lapangan golf. Awalnya cuma sarapan, tahu-tahu kami ngobrol lebih dari 5 jam! Tidak terasa! Cuaca yang panas dan tidak ber-AC, sama sekali tidak berhasil mengusik dan mengusir kami. Ketika saya mau membayar, eh ternyata Pak Tung sudah duluan membayar. Rupanya dia telah meletakkan kartu kreditnya di kasir sejak awal.
Inilah yang disebut mental kaya. Gemar melayani, gemar mentraktir. Betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap sebaliknya. Ngarep-ngarep ditraktir. Nggak heran, semakin nyungsep hidupnya. Saran saya, setiap kali ada kesempatan, usahakan untuk mentraktir. Walaupun dia yang jadi atasan, walaupun dia yang lebih kaya. Lagi-lagi, ini soal mental kaya. Seperti kemarin, saya ditraktir sate kambing sama mantan staf saya, Gerry. Zaman saya susah dulu, saya sudah terbiasa mentraktir. Apalagi sekarang, yang insya Allah nggak susah lagi. Btw, mentraktir itu bagian dari sedekah. Siap?
Bukan sekedar sukses, tapi juga menyukseskan. Bukan sekedar kaya, tapi juga mengayakan. Kalau belum bisa secara langsung, bisa juga secara tidak langsung. Caranya? Ajak sahabat dan saudaranya bergabung di channel ini. Semakin banyak orang yang kita bantu menuju sukses, insya Allah semakin mudah pula kesuksesan dan rezeki kita. BUKTIKAN!
Ini video ringkas yang menjelaskan tentang Sepasang Bidadari, yaitu ibu kita dan istri kita. Simak deh, penting banget
Banyak yang berubah nasibnya, setelah melakukan ini. Termasuk saya dan sebagian alumni. Coba deh » http://bit.ly/2anmrxc
Blogspot
Di Pelatihan Pengembangan SDM (Nasional), Ippho Santosa Ajak Orang Indonesia Untuk Berbagi
Di Pelatihan Pengembangan SDM (Nasional), Ippho Santosa Ajak Orang Indonesia Untuk Berbagi. Ia Telah Berseminar di Belasan Negara.
Sedekah kok bisa menola bala? Yah, bisa. Karena dari satu kebaikan terus tumbuh hingga 700 kebaikan. Nah, 700 kebaikan inilah yang kemudian ‘menahan’ bala, sehingga tidak jadi menimpa kita.
Sedekah juga bermakna tumbuh bersama. Pesan saya kepada karyawan-karyawan saya, "Perusahaan hanya bisa maju jika seluruh karyawan mau tumbuh bersama. Bukan jalan sendiri-sendiri."
Bicara soal tumbuh bersama, maka ingatlah:
- Ingin maju? Majukan orang lain.
- Ingin kaya? Kayakan orang lain.
- Ingin cerdas? Cerdaskan orang lain.
- Ingin mulia? Muliakan orang lain.
- Ingin doa dikabulkan oleh-Nya? Doakan orang lain.
- Ingin diberi uang oleh-Nya? Berikan uang kepada orang lain.
Melalui berbagai dalil, hati kita berkali-kali digedor dan diingatkan bahwa:
- Sebenarnya, seluruh manusia adalah satu umat.
- Membunuh satu manusia berarti membunuh seluruh manusia.
- Menyelamatkan satu manusia berarti menyelamatkan seluruh manusia.
- Menghina ayah orang lain, berarti menghina ayah kita sendiri.
- Menyantuni ibu orang lain, maka fadilahnya akan sampai kepada ibu kita.
- Mendoakan seseorang, berarti mendoakan diri kita sendiri.
Kadang, kita suka bicara yang muluk-muluk. Sebut saja, ingin memakmurkan Indonesia atau ingin memajukan umat. Yah, boleh-boleh saja. Namun hendaknya kita mulai dari yang terkeciiiiil. Dari mana? Dari rumah kita, dari kantor kita. Maksudnya, dari orang-orang bekerja dengan kita. Misal, asisten rumah (PRT), babysitter, office boy, dan supir. Dream boleh besar. Action mulai dari yang terkecil. Dan dari situlah kasih-sayang hendaknya diulurkan. Right?
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sedekah juga bermakna tumbuh bersama. Pesan saya kepada karyawan-karyawan saya, "Perusahaan hanya bisa maju jika seluruh karyawan mau tumbuh bersama. Bukan jalan sendiri-sendiri."
Bicara soal tumbuh bersama, maka ingatlah:
- Ingin maju? Majukan orang lain.
- Ingin kaya? Kayakan orang lain.
- Ingin cerdas? Cerdaskan orang lain.
- Ingin mulia? Muliakan orang lain.
- Ingin doa dikabulkan oleh-Nya? Doakan orang lain.
- Ingin diberi uang oleh-Nya? Berikan uang kepada orang lain.
Melalui berbagai dalil, hati kita berkali-kali digedor dan diingatkan bahwa:
- Sebenarnya, seluruh manusia adalah satu umat.
- Membunuh satu manusia berarti membunuh seluruh manusia.
- Menyelamatkan satu manusia berarti menyelamatkan seluruh manusia.
- Menghina ayah orang lain, berarti menghina ayah kita sendiri.
- Menyantuni ibu orang lain, maka fadilahnya akan sampai kepada ibu kita.
- Mendoakan seseorang, berarti mendoakan diri kita sendiri.
Kadang, kita suka bicara yang muluk-muluk. Sebut saja, ingin memakmurkan Indonesia atau ingin memajukan umat. Yah, boleh-boleh saja. Namun hendaknya kita mulai dari yang terkeciiiiil. Dari mana? Dari rumah kita, dari kantor kita. Maksudnya, dari orang-orang bekerja dengan kita. Misal, asisten rumah (PRT), babysitter, office boy, dan supir. Dream boleh besar. Action mulai dari yang terkecil. Dan dari situlah kasih-sayang hendaknya diulurkan. Right?
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Benarkah orang kaya itu identik dengan masalah, seperti pemberitaan selama ini? Simak » http://bit.ly/2aK5R6I
Hanya sedikit orang yang menyukai hari Senin.
Terutama karyawan. Hehehe.
Maka, inilah seruan saya pagi ini:
“Ayo kerja! Jangan manja!”
“Ayo kerja keras! Jangan malas!”
Ular dan burung saja dijamin rezekinya, apalagi manusia. Apalagi orang beriman. Apalagi orang beramal. Namun itu bukanlah alasan bagi kita untuk bermalas-malasan. Tetaplah bekerja keras.
Kemarin di seminar ‘Rezeki Tak Disangka-Sangka’ saya bersama Nasrullah (pelopor property syariah), Shamsi Ali (imam dari New York), dan Peggy Melati (inspirator hijrah) berbagi ilmu serta pengalaman. Sayang sekali mereka yang tidak ikutan seminar ini. Di tengah acara, hadir juga Sandiaga Uno (orang terkaya urutan ke-47) dan Muhammad Assad (penulis Notes from Qatar).
Kami bicara soal banyak hal, mulai dari positive energy, attitude ketika dipecat, attitude ketika krisis, merintis bisnis, sampai dakwah di 20-an negara. Satu poin yang kami sadari bersama, tak mudah mengelola bisnis dan mengelola orang. Sandiaga Uno kemudian berkisah tentang pengalamannya mengelola 50.000 karyawan di bisnisnya sendiri.
Saat pemerintah menyerukan, “Kerja, kerja, kerja,” saya tambahkan dengan seruan, “Positif, positif, positif.” Kenapa? Begini. Ketika hati berada di zona yang positif (good mood), itu akan lebih mudah menarik rezeki yang tidak disangka-sangka. Pekerjaan seperti dimudahkan. Atasan dan bawahan tidak sesulit yang dibayangkan. Urusan-urusan kelar lebih cepat daripada yang diperkirakan. Anda pernah mengalaminya?
Dan masih banyak lagi tips-tips lain terkait rezeki yang tidak disangka-sangka. Kapan-kapan kita bahas. Shamsi Ali juga berkisah tentang pengalamannya, yang dulu cuma anak kampung di Sulawesi Selatan, tahu-tahu sekarang menjadi imam di ‘ibukota dunia’ yakni New York. Itu juga rezeki yang tidak disangka-sangka.
Imam yang sangat dekat dengan Jusuf Kalla, Michael Bloomberg, dan Bill Clinton ini lalu menggunakan posisinya ini untuk membangun dialog demi dialog dengan berbagai kalangan. Termasuk di gedung PBB. Dan pelan-pelan masyarakat Barat mulai mengenal Islam yang salah satu wasilahnya melalui Shamsi Ali.
Yakinlah, rezeki tak pernah bergerak linier alias lurus-lurus saja. Akan selalu ada pertolongan dan rezeki yang tidak disangka-sangka. Bagi siapa? Bagi mereka yang sudah pantas dan selalu memperbaiki diri. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Terutama karyawan. Hehehe.
Maka, inilah seruan saya pagi ini:
“Ayo kerja! Jangan manja!”
“Ayo kerja keras! Jangan malas!”
Ular dan burung saja dijamin rezekinya, apalagi manusia. Apalagi orang beriman. Apalagi orang beramal. Namun itu bukanlah alasan bagi kita untuk bermalas-malasan. Tetaplah bekerja keras.
Kemarin di seminar ‘Rezeki Tak Disangka-Sangka’ saya bersama Nasrullah (pelopor property syariah), Shamsi Ali (imam dari New York), dan Peggy Melati (inspirator hijrah) berbagi ilmu serta pengalaman. Sayang sekali mereka yang tidak ikutan seminar ini. Di tengah acara, hadir juga Sandiaga Uno (orang terkaya urutan ke-47) dan Muhammad Assad (penulis Notes from Qatar).
Kami bicara soal banyak hal, mulai dari positive energy, attitude ketika dipecat, attitude ketika krisis, merintis bisnis, sampai dakwah di 20-an negara. Satu poin yang kami sadari bersama, tak mudah mengelola bisnis dan mengelola orang. Sandiaga Uno kemudian berkisah tentang pengalamannya mengelola 50.000 karyawan di bisnisnya sendiri.
Saat pemerintah menyerukan, “Kerja, kerja, kerja,” saya tambahkan dengan seruan, “Positif, positif, positif.” Kenapa? Begini. Ketika hati berada di zona yang positif (good mood), itu akan lebih mudah menarik rezeki yang tidak disangka-sangka. Pekerjaan seperti dimudahkan. Atasan dan bawahan tidak sesulit yang dibayangkan. Urusan-urusan kelar lebih cepat daripada yang diperkirakan. Anda pernah mengalaminya?
Dan masih banyak lagi tips-tips lain terkait rezeki yang tidak disangka-sangka. Kapan-kapan kita bahas. Shamsi Ali juga berkisah tentang pengalamannya, yang dulu cuma anak kampung di Sulawesi Selatan, tahu-tahu sekarang menjadi imam di ‘ibukota dunia’ yakni New York. Itu juga rezeki yang tidak disangka-sangka.
Imam yang sangat dekat dengan Jusuf Kalla, Michael Bloomberg, dan Bill Clinton ini lalu menggunakan posisinya ini untuk membangun dialog demi dialog dengan berbagai kalangan. Termasuk di gedung PBB. Dan pelan-pelan masyarakat Barat mulai mengenal Islam yang salah satu wasilahnya melalui Shamsi Ali.
Yakinlah, rezeki tak pernah bergerak linier alias lurus-lurus saja. Akan selalu ada pertolongan dan rezeki yang tidak disangka-sangka. Bagi siapa? Bagi mereka yang sudah pantas dan selalu memperbaiki diri. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Mau berumrah?
Mau mengumrahkan?
Kalau Anda mau berumrah atau mengumrahkan, berarti tulisan ini untuk Anda. Ya, untuk Anda. Sempatkan membaca...
Ditanya, mau umrah nggak? Jawabnya, "Buat makan aja susah!" Aneh nih orang. Ditanya apa, jawabnya apa. Nggak ngerti Bahasa Indonesia kali ya, hehehe. Berpikirlah positif. Bukankah Tuhanmu maha kaya dan maha besar, tak sekecil pikiranmu? Berapapun saldo kita masing-masing, saya harap kita semua setuju.
Seorang muslim, kalau ditanya soal umrah, yah jawab saja, "Insya Allah mau. Insya Allah berangkat." Nggak susah tho? Ini soal pola pikir saja. Lha, kalau kita ngomong, "Buat makan aja susah," walhasil makannya makin susah dan umrahnya makin payah! Bertambah-tambah! Kata-kata itu kan doa. Apalagi kalau sampai terekam oleh otak bawah sadar.
Begini. Umrah BUKAN soal mampu atau tidak mampu. Tapi soal mau atau tidak mau. Yang beginian, saya yakin Anda sudah tahu. Kalau benar-benar niat (mau) dan dibuktikan dengan memantaskan diri, maka akan dimampukan. Sudah banyak contohnya. Ya, b-a-n-y-a-k. Miskin tapi dimampukan Allah dan diundang sama Allah. Eh, berangkat juga akhirnya.
Sebagian orang teriak-teriak pengen berumrah, "Mau, mau, mau," tapi enggan dan sungkan memantaskan diri. Rekening khusus, nggak ada. DP umrah, nggak ada. Paspor, nggak ada. Ikut manasik, nggak pernah. Baca buku panduan, nggak pernah. Tanya ustadz, nggak pernah. Mohon maaf, ini omong kosong namanya! Sekali lagi, omong kosong!
Jadi, baiknya? Pantaskan diri. Allah BUKAN menilai jumlah uang kita untuk mendaftar di travel umrah. Allah menilai kesungguhan kita dalam memantaskan diri. Buktikan dan tunjukkan kesungguhan itu. Buka rekening khusus (berapapun itu). Nabung secara rutin (berapapun itu). Bikin paspor. Ikut manasik. Dan seterusnya. Termasuk memperbaiki amal dan sedekah ekstrim.
Mereka yang sungguh-sungguh memantaskan diri, biasanya tak sampai 12 bulan, berangkat juga insya Allah. Anda yakin? Seberapa yakin?
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Mau mengumrahkan?
Kalau Anda mau berumrah atau mengumrahkan, berarti tulisan ini untuk Anda. Ya, untuk Anda. Sempatkan membaca...
Ditanya, mau umrah nggak? Jawabnya, "Buat makan aja susah!" Aneh nih orang. Ditanya apa, jawabnya apa. Nggak ngerti Bahasa Indonesia kali ya, hehehe. Berpikirlah positif. Bukankah Tuhanmu maha kaya dan maha besar, tak sekecil pikiranmu? Berapapun saldo kita masing-masing, saya harap kita semua setuju.
Seorang muslim, kalau ditanya soal umrah, yah jawab saja, "Insya Allah mau. Insya Allah berangkat." Nggak susah tho? Ini soal pola pikir saja. Lha, kalau kita ngomong, "Buat makan aja susah," walhasil makannya makin susah dan umrahnya makin payah! Bertambah-tambah! Kata-kata itu kan doa. Apalagi kalau sampai terekam oleh otak bawah sadar.
Begini. Umrah BUKAN soal mampu atau tidak mampu. Tapi soal mau atau tidak mau. Yang beginian, saya yakin Anda sudah tahu. Kalau benar-benar niat (mau) dan dibuktikan dengan memantaskan diri, maka akan dimampukan. Sudah banyak contohnya. Ya, b-a-n-y-a-k. Miskin tapi dimampukan Allah dan diundang sama Allah. Eh, berangkat juga akhirnya.
Sebagian orang teriak-teriak pengen berumrah, "Mau, mau, mau," tapi enggan dan sungkan memantaskan diri. Rekening khusus, nggak ada. DP umrah, nggak ada. Paspor, nggak ada. Ikut manasik, nggak pernah. Baca buku panduan, nggak pernah. Tanya ustadz, nggak pernah. Mohon maaf, ini omong kosong namanya! Sekali lagi, omong kosong!
Jadi, baiknya? Pantaskan diri. Allah BUKAN menilai jumlah uang kita untuk mendaftar di travel umrah. Allah menilai kesungguhan kita dalam memantaskan diri. Buktikan dan tunjukkan kesungguhan itu. Buka rekening khusus (berapapun itu). Nabung secara rutin (berapapun itu). Bikin paspor. Ikut manasik. Dan seterusnya. Termasuk memperbaiki amal dan sedekah ekstrim.
Mereka yang sungguh-sungguh memantaskan diri, biasanya tak sampai 12 bulan, berangkat juga insya Allah. Anda yakin? Seberapa yakin?
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda karyawan?
Atau punya karyawan?
Coba baca ini…
Semua orang tahu #KerjaItuIbadah (Work with Worship).
- Bukankah dengan bekerja, ia mencukupi dirinya sendiri, sehingga menjaga dirinya dari meminta-minta.
- Bukankah dengan bekerja, ia mencukupi keluarga inti dan membantu keluarga besar.
- Bukankah dengan bekerja, ia berusaha menjadi teladan terbaik bagi anak-anaknya.
- Bukankah dengan bekerja, ia berusaha untuk jujur dan gigih, agar menjadi amal jariyah bagi orangtua dan guru-gurunya.
- Bukankah dengan bekerja, ia menjalankan perannya sebagai khalifah, di mana ia pantang menyia-nyiakan potensi dan pantang berbuat kerusakan.
- Kerja itu ibadah, dakwah, amanah, anugerah, kehormatan, pelayanan, panggilan, aktualisasi, potensi, dan seni. Setidaknya, ada sepuluh makna. Dan inilah kelebihan kita, karena literatur Barat tidak mengenal konsep kerja sebagai ibadah.
Ya, kerja itu ibadah. Demikian pula bisnis dan kuliah, itu semua ibadah. Asalkan niatnya dan caranya benar. Lantas, bagaimana dengan falsafah ‘kerja kerja kerja’? Simak kelanjutannya » bit.ly/2aQgt6V
Atau punya karyawan?
Coba baca ini…
Semua orang tahu #KerjaItuIbadah (Work with Worship).
- Bukankah dengan bekerja, ia mencukupi dirinya sendiri, sehingga menjaga dirinya dari meminta-minta.
- Bukankah dengan bekerja, ia mencukupi keluarga inti dan membantu keluarga besar.
- Bukankah dengan bekerja, ia berusaha menjadi teladan terbaik bagi anak-anaknya.
- Bukankah dengan bekerja, ia berusaha untuk jujur dan gigih, agar menjadi amal jariyah bagi orangtua dan guru-gurunya.
- Bukankah dengan bekerja, ia menjalankan perannya sebagai khalifah, di mana ia pantang menyia-nyiakan potensi dan pantang berbuat kerusakan.
- Kerja itu ibadah, dakwah, amanah, anugerah, kehormatan, pelayanan, panggilan, aktualisasi, potensi, dan seni. Setidaknya, ada sepuluh makna. Dan inilah kelebihan kita, karena literatur Barat tidak mengenal konsep kerja sebagai ibadah.
Ya, kerja itu ibadah. Demikian pula bisnis dan kuliah, itu semua ibadah. Asalkan niatnya dan caranya benar. Lantas, bagaimana dengan falsafah ‘kerja kerja kerja’? Simak kelanjutannya » bit.ly/2aQgt6V
Dr Syafii Antonio adalah salah satu guru saya (Ippho Santosa). Silakan ikut kajiannya. Gratis
Kelebihan kita...
Kekurangan kita...
Siapa yang dapat melihatnya?
Tidak lain, orang itu adalah pasangan kita. Tentunya, pasangan sah. Apa bedanya dengan orang lain? Tentu saja beda. Pertama, dia orang yang paling dekat dan paling memahami Anda. Kedua, telah terbukti, dia mendukung Anda dengan tulus dan telaten. Itu yang mahal. Pasangan yang setia, ketika Anda gagal saja, ia tetap berdiri di samping Anda, apalagi ketika Anda berhasil.
By the way, dianugerahi pasangan yang setia itu menyehatkan dan memberdayakan:
- Menurut penelitian Penn State College of Medicine dan Brigham Young University, orang yang menikah berkurang 14% risiko kematiannya karena kanker.
- Menurut HappyWorker.com, pria yang setiap pagi mencium istrinya, memiliki harapan hidup lima tahun lebih lama ketimbang yang tidak melakukan.
- Menurut Boldsky, ciuman dapat mengurangi migrain serta membuat awet.
Pantaslah orang yang belum menikah, ada semacam tabir yang membatasi kesuksesan dan rezekinya. Ya, membatasi. Yang belum menikah, semoga disegerakan ya. Aamiin.
Kekurangan kita...
Siapa yang dapat melihatnya?
Tidak lain, orang itu adalah pasangan kita. Tentunya, pasangan sah. Apa bedanya dengan orang lain? Tentu saja beda. Pertama, dia orang yang paling dekat dan paling memahami Anda. Kedua, telah terbukti, dia mendukung Anda dengan tulus dan telaten. Itu yang mahal. Pasangan yang setia, ketika Anda gagal saja, ia tetap berdiri di samping Anda, apalagi ketika Anda berhasil.
By the way, dianugerahi pasangan yang setia itu menyehatkan dan memberdayakan:
- Menurut penelitian Penn State College of Medicine dan Brigham Young University, orang yang menikah berkurang 14% risiko kematiannya karena kanker.
- Menurut HappyWorker.com, pria yang setiap pagi mencium istrinya, memiliki harapan hidup lima tahun lebih lama ketimbang yang tidak melakukan.
- Menurut Boldsky, ciuman dapat mengurangi migrain serta membuat awet.
Pantaslah orang yang belum menikah, ada semacam tabir yang membatasi kesuksesan dan rezekinya. Ya, membatasi. Yang belum menikah, semoga disegerakan ya. Aamiin.
Tulisan bagus buat teman-teman yang mengejar target. Tak sampai 1 menit, baca deh » http://bit.ly/2aDQS2f