Kadang kita perlu jatuh, agar bisa lebih belajar, lebih tangguh, dan lebih tawadhu.
Selalu berhasil sering berujung pada kesombongan. Setelah itu? Yah jatuh.
Lebih baik jatuh karena kurang ilmu daripada jatuh karena kurang tawadhu.
Selalu berhasil sering berujung pada kesombongan. Setelah itu? Yah jatuh.
Lebih baik jatuh karena kurang ilmu daripada jatuh karena kurang tawadhu.
Mapan, siapa sih yang nggak mau?
Kalau mau, berarti kita mesti siap dengan tiga hal:
- rutin jualan
- hidup hemat
- beli aset
Insya Allah, pasti mapan.
Simple? Iya. Namun bukan berarti easy. Teramat jarang orang yang menguasai tiga hal tersebut. Misal, dia demen jualan tapi boros. Dia siap hidup hemat tapi anti jualan.
Pengen bokek selalu? Nah, langgarlah tiga hal tersebut. Dijamin bokek. Hehehe. Sepertinya Anda sudah tahu dan sudah mengalami. Hehehe.
Soal jualan, izinkan saya, Ippho Santosa, mengambil sebuah contoh sederhana. Saya mulai jualan sejak SMA. Semakin serius jualan, ketika kuliah. Mulai dari jualan baju, air, burger, dan entah apa lagi.
Jauh-jauh hari, guru saya pernah mengingatkan, "Jangan malu dan tabu dalam menjual. Ada barang bagus, kok didiamkan saja? Kasihtahu dong sama yang lain. Seluas-luasnya."
Karena saya gigih, alhamdulillah sebagian produk saya laku. Ya, laku. Sayangnya, sebagian tidak laku. Kenapa? Karena saya tidak terlalu paham ilmunya. Cuma mengandalkan kemauan saja.
Setelah kelak saya menjadi entrepreneur, barulah saya sadar, "Gigih itu harus. Sekali lagi, gigih itu harus. Tapi berilmu juga harus." Mau sampai kapan coba-coba terus tapi nggak laku-laku?
Dengan ilmu, kita dimampukan untuk menjual dengan lebih cepat dan lebih banyak. Misalnya, setelah belajar ilmu penjualan secara tatap muka (face to face), barulah kita tahu intonasi, bahasa tubuh, pakaian, timing, dan pertanyaan yang bersifat meng-closing.
Kabar baiknya, saya baru saja mempersiapkan e-book 'Menjual Lebih Cepat, Menjual Lebih Banyak'. Sampai di sini mungkin Anda tertarik untuk membacanya. Berikut adalah 5 poin utama dari e-book ini:
1. Ciri-ciri produk yang menguntungkan
2. Cara-cara menemukan prospek yang tepat
3. Tips dan teknik closing
4. Cara menjual lebih cepat
5. Cara menjual lebih banyak
Anda pun semakin tertarik untuk membaca, memiliki, dan menerapkannya. Itu wajar. Silakan WA (bukan SMS) ke 0813-9520-0092. Ya, WA dulu. Karena banyak peminatnya, mungkin Anda akan menerima reply WA yang rada slow. Sangat diharapkan kesabarannya.
Detak dan denyut sebuah bisnis ditentukan oleh penjualan. Tidak ada salahnya kalau kita mendalami sungguh-sungguh ilmu penjualan. Ingat, produk sebagus apapun, kalau tidak ada sentuhan penjualan, yah nggak akan ke mana-mana.
Mau sampai kapan coba-coba terus tapi nggak laku-laku?
Soal e-book, kalau serius, silakan WA ke 0813-9520-0092.
Kalau mau, berarti kita mesti siap dengan tiga hal:
- rutin jualan
- hidup hemat
- beli aset
Insya Allah, pasti mapan.
Simple? Iya. Namun bukan berarti easy. Teramat jarang orang yang menguasai tiga hal tersebut. Misal, dia demen jualan tapi boros. Dia siap hidup hemat tapi anti jualan.
Pengen bokek selalu? Nah, langgarlah tiga hal tersebut. Dijamin bokek. Hehehe. Sepertinya Anda sudah tahu dan sudah mengalami. Hehehe.
Soal jualan, izinkan saya, Ippho Santosa, mengambil sebuah contoh sederhana. Saya mulai jualan sejak SMA. Semakin serius jualan, ketika kuliah. Mulai dari jualan baju, air, burger, dan entah apa lagi.
Jauh-jauh hari, guru saya pernah mengingatkan, "Jangan malu dan tabu dalam menjual. Ada barang bagus, kok didiamkan saja? Kasihtahu dong sama yang lain. Seluas-luasnya."
Karena saya gigih, alhamdulillah sebagian produk saya laku. Ya, laku. Sayangnya, sebagian tidak laku. Kenapa? Karena saya tidak terlalu paham ilmunya. Cuma mengandalkan kemauan saja.
Setelah kelak saya menjadi entrepreneur, barulah saya sadar, "Gigih itu harus. Sekali lagi, gigih itu harus. Tapi berilmu juga harus." Mau sampai kapan coba-coba terus tapi nggak laku-laku?
Dengan ilmu, kita dimampukan untuk menjual dengan lebih cepat dan lebih banyak. Misalnya, setelah belajar ilmu penjualan secara tatap muka (face to face), barulah kita tahu intonasi, bahasa tubuh, pakaian, timing, dan pertanyaan yang bersifat meng-closing.
Kabar baiknya, saya baru saja mempersiapkan e-book 'Menjual Lebih Cepat, Menjual Lebih Banyak'. Sampai di sini mungkin Anda tertarik untuk membacanya. Berikut adalah 5 poin utama dari e-book ini:
1. Ciri-ciri produk yang menguntungkan
2. Cara-cara menemukan prospek yang tepat
3. Tips dan teknik closing
4. Cara menjual lebih cepat
5. Cara menjual lebih banyak
Anda pun semakin tertarik untuk membaca, memiliki, dan menerapkannya. Itu wajar. Silakan WA (bukan SMS) ke 0813-9520-0092. Ya, WA dulu. Karena banyak peminatnya, mungkin Anda akan menerima reply WA yang rada slow. Sangat diharapkan kesabarannya.
Detak dan denyut sebuah bisnis ditentukan oleh penjualan. Tidak ada salahnya kalau kita mendalami sungguh-sungguh ilmu penjualan. Ingat, produk sebagus apapun, kalau tidak ada sentuhan penjualan, yah nggak akan ke mana-mana.
Mau sampai kapan coba-coba terus tapi nggak laku-laku?
Soal e-book, kalau serius, silakan WA ke 0813-9520-0092.
Kalau anda WA nanya-nanya, sepertinya baru 2-3 jam baru dijawab.
Bukan apa-apa, ada ribuan yang WA. Ya begitulah, alhamdulillah.
Baiknya langsung transfer saja. Beli e-book-nya. Setelah itu, baru WA. Dan sabar. Insya Allah pasti dibalas.
Bukan apa-apa, ada ribuan yang WA. Ya begitulah, alhamdulillah.
Baiknya langsung transfer saja. Beli e-book-nya. Setelah itu, baru WA. Dan sabar. Insya Allah pasti dibalas.
Memang, kita di mana-mana dianjurkan untuk positive thinking. Tapi di waktu yang sama, saya juga menganjurkan proportional thinking.
Perlu contoh?
Anda lagi berjalan seorang diri di jalan yang gelap. Malam-malam. Beberapa menit kemudian, muncullah bayangan seorang laki-laki. Dia mendekat ke Anda. Bukan itu saja, dia menenteng sebuah clurit.
Terus Anda berlagak berpikir positif, "Ah, mungkin dia mau ke sawah. Makanya bawa clurit. Atau, dia lagi jualan clurit. Sisa satu, belum laku." Boleh seperti itu?
Begini. Yang saya anjurkan di sini adalah proportional thinking. Dan berhentilah berpikir positif. Maksudnya? Lari! Sekali lagi, lari!
Selama ini, motivator-motivator sering menyerukan positive thinking. Tapi pada prakteknya, sangat sulit. Bahkan sering berujung pada kekacauan. Kenapa? Karena tidak diimbangi dengan proportional thinking.
Seorang karyawan jelas-jelas mengambil uang kantor. Terus, Anda berlagak positive thinking. Ah, mungkin dia nggak sengaja. Ah, mungkin untuk keperluan kantor. Begitu? Saran saya, jangan begitu. Panggil dia. Kroscek. Kalau memang dia mencuri, yah hukum. Proporsional.
Siap?
Perlu contoh?
Anda lagi berjalan seorang diri di jalan yang gelap. Malam-malam. Beberapa menit kemudian, muncullah bayangan seorang laki-laki. Dia mendekat ke Anda. Bukan itu saja, dia menenteng sebuah clurit.
Terus Anda berlagak berpikir positif, "Ah, mungkin dia mau ke sawah. Makanya bawa clurit. Atau, dia lagi jualan clurit. Sisa satu, belum laku." Boleh seperti itu?
Begini. Yang saya anjurkan di sini adalah proportional thinking. Dan berhentilah berpikir positif. Maksudnya? Lari! Sekali lagi, lari!
Selama ini, motivator-motivator sering menyerukan positive thinking. Tapi pada prakteknya, sangat sulit. Bahkan sering berujung pada kekacauan. Kenapa? Karena tidak diimbangi dengan proportional thinking.
Seorang karyawan jelas-jelas mengambil uang kantor. Terus, Anda berlagak positive thinking. Ah, mungkin dia nggak sengaja. Ah, mungkin untuk keperluan kantor. Begitu? Saran saya, jangan begitu. Panggil dia. Kroscek. Kalau memang dia mencuri, yah hukum. Proporsional.
Siap?
Gimana cara meningkatkan omset? Banyak caranya. Dan hal ini sudah sering saya bahas di tulisan-tulisan sebelumnya. Kali ini kita perkaya dengan contoh-contoh.
Salah satunya, menambah varian produk. Sehingga bisa terjadi cross-sell dan upsell. Misal, Anda jualan daster. Tak ada salahnya juga menjual baju anak. Saat Anda jualan kosmetik, boleh juga jualan suplemen pelangsing.
Cara lain? Amati 3 pesaing terkuat (karena mereka sudah terbukti), lalu berikan pelayanan berbeda ketimbang mereka. Misal, pesaing tutup toko jam 5 sore. Anda, tutuplah jam 6 sore. Saat toko pesaing parkirnya sempit, Anda tawarkan parkir yang lebih lapang.
Terus? Ajak ngobrol pelanggan yang loyal. Biasanya jumlah mereka cuma 10-20% tapi bisa menghasilkan omset 80-90%. Masukan dari mereka sangatlah berharga. Mereka bukan pelanggan biasa. Dalam Hukum Pareto, mereka adalah prioritas dan penentu.
Terus? Beri hadiah pada pelanggan lama yang berhasil mengajak pelanggan baru. Hadiah tidak harus berbentuk uang. Bisa jadi souvenir atau voucher. Sehingga tetap hemat. Kalaupun terpaksa berupa uang atau diskon, boleh-boleh saja. Tapi harus diukur, mana yang lebih efektif.
Dan masih banyak lagi. Silakan praktek. Btw, sebelum praktek, pastikan produk Anda memang bagus. Sangat layak dijual. Jika tidak bagus, kiat-kiat di atas tidak berlaku sama sekali. Terutama untuk jangka panjang. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Salah satunya, menambah varian produk. Sehingga bisa terjadi cross-sell dan upsell. Misal, Anda jualan daster. Tak ada salahnya juga menjual baju anak. Saat Anda jualan kosmetik, boleh juga jualan suplemen pelangsing.
Cara lain? Amati 3 pesaing terkuat (karena mereka sudah terbukti), lalu berikan pelayanan berbeda ketimbang mereka. Misal, pesaing tutup toko jam 5 sore. Anda, tutuplah jam 6 sore. Saat toko pesaing parkirnya sempit, Anda tawarkan parkir yang lebih lapang.
Terus? Ajak ngobrol pelanggan yang loyal. Biasanya jumlah mereka cuma 10-20% tapi bisa menghasilkan omset 80-90%. Masukan dari mereka sangatlah berharga. Mereka bukan pelanggan biasa. Dalam Hukum Pareto, mereka adalah prioritas dan penentu.
Terus? Beri hadiah pada pelanggan lama yang berhasil mengajak pelanggan baru. Hadiah tidak harus berbentuk uang. Bisa jadi souvenir atau voucher. Sehingga tetap hemat. Kalaupun terpaksa berupa uang atau diskon, boleh-boleh saja. Tapi harus diukur, mana yang lebih efektif.
Dan masih banyak lagi. Silakan praktek. Btw, sebelum praktek, pastikan produk Anda memang bagus. Sangat layak dijual. Jika tidak bagus, kiat-kiat di atas tidak berlaku sama sekali. Terutama untuk jangka panjang. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Pernah minta tolong ke orang, terus ditolak?
Tak perlu kesal dan menyesal.
Begini, baiknya kita introspeksi. Kok dia nggak mau membantu? Selama ini, apa kekuranganku? Ketika meminta, gimana sikap dan caraku?
Mungkinkah aku tidak pernah menanam selama ini? Mungkinkah aku nggak pantas dan nggak bisa dipercaya untuk dibantu? Kenapa Tuhan-ku Yang Maha Pemurah tidak meng-gerakkan hati dia untuk membantu?
Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Introspeksi, itu jauh lebih baik.
Ada satu hal yang paling penting. Apa itu? Sudahkah kita memohon ke Allah dengan sungguh-sungguh sebelum kita minta tolong ke makhluk? Mari introspeksi.
Tak perlu kesal dan menyesal.
Begini, baiknya kita introspeksi. Kok dia nggak mau membantu? Selama ini, apa kekuranganku? Ketika meminta, gimana sikap dan caraku?
Mungkinkah aku tidak pernah menanam selama ini? Mungkinkah aku nggak pantas dan nggak bisa dipercaya untuk dibantu? Kenapa Tuhan-ku Yang Maha Pemurah tidak meng-gerakkan hati dia untuk membantu?
Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Introspeksi, itu jauh lebih baik.
Ada satu hal yang paling penting. Apa itu? Sudahkah kita memohon ke Allah dengan sungguh-sungguh sebelum kita minta tolong ke makhluk? Mari introspeksi.
Berharap ke makhluk sering berujung pada kekecewaan. Anehnya, kita sering mengulanginya...
Jarang-jarang saya mem-forward tulisan karya orang lain. Kali ini adalah pengecualian. Saya mendapatkan tulisan ini dari grup WA istri saya bersama teman-temannya, yang ditulis oleh Ustadz Fatih Karim. Karena penting sekali, silakan dibaca sampai selesai:
Ada 2 bagian tubuh kita yang kita tak sadar betapa bahayanya jika ia lepas, laksana anak panah yang menghujam... sangat berbahaya...
“Kemaluan dan mata,” demikian menurut Imam As-Suyuthi, “Dikancing Allah dengan sepasang anggota badan. Kemaluan dengan kaki, mata dengan kelopak.”
“Tapi khusus lisan, dikunci Allah dengan segel ganda. Sepasang bibir sekaligus sepasang deretan gigi di atas gusi. Sebab, betapa banyak manusia ditelungkupkan ke neraka oleh kata-katanya.”
"Betapa banyak ucapan yang kalian anggap biasa," ujar Sayyidina 'Abdullah ibn Mas'ud pada para tabi'in muridnya, "padahal dulu di masa Rasulullah saw kami menganggapnya sebagai pembinasa." Masya Allah!
Adalah Abu Dzar Al-Ghiffary pernah berkata kepada Sayyidina Bilal ibn Rabah ketika sedang jengkel padanya, "Hai anak budak hitam!"
Meski ini khilaf, tapi Sang Nabi menunjuk wajah Abu Dzar dengan marah dan bersabda, "Engkau... di dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliah..."
Maka Abu Dzar merebahkan dirinya, menaburi wajahnya dengan debu pasir lalu berkata, "Wahai Bilal, kemarilah, injak kepalaku, injak wajahku... Agar menjadi penebus dosaku di sisi Allah padamu..."
Dan muadzin kesayangan Rasulullah saw itu tersenyum berkata, "Aku menjadikannya simpanan kebaikan di sisi Allah."
Maka adalah wajar jika Baginda bersabda, tanda iman pada hari kiamat adalah berkata yang BAIK atau DIAM. Karena tulisan ini begitu penting, silakan forward dan share kepada kerabat-kerabat kita.
Apa yang keluar dari lisan kita, mencerminkan isi kepala kita. Dan memang demikianlah adanya. Layaknya teko, ia tak akan mengeluarkan sesuatu selain isi kandungannya. Tak akan bisa mengelabui!
Maka bagaimana mungkin seorang muslim atau muslimah yang setiap hari hiasannya adalah taklim dan ayat-ayat Al-Quran, tapi memiliki perkataan begitu tajam menghujam... kepada asisten rumahnya, anak-anaknya atau bahkan juga kepada pasangannya... Ah prihatinnya!
Baiknya pikirkan dulu sebelum berkata, karena akan meninggalkan luka yang mungkin tak terlupakan. Andai kita atau keturunan kita diperlakukan yang sama, tentu kita pun tidak akan rela!
Akhirnya, penjarakan harimaumu!!!
Ada 2 bagian tubuh kita yang kita tak sadar betapa bahayanya jika ia lepas, laksana anak panah yang menghujam... sangat berbahaya...
“Kemaluan dan mata,” demikian menurut Imam As-Suyuthi, “Dikancing Allah dengan sepasang anggota badan. Kemaluan dengan kaki, mata dengan kelopak.”
“Tapi khusus lisan, dikunci Allah dengan segel ganda. Sepasang bibir sekaligus sepasang deretan gigi di atas gusi. Sebab, betapa banyak manusia ditelungkupkan ke neraka oleh kata-katanya.”
"Betapa banyak ucapan yang kalian anggap biasa," ujar Sayyidina 'Abdullah ibn Mas'ud pada para tabi'in muridnya, "padahal dulu di masa Rasulullah saw kami menganggapnya sebagai pembinasa." Masya Allah!
Adalah Abu Dzar Al-Ghiffary pernah berkata kepada Sayyidina Bilal ibn Rabah ketika sedang jengkel padanya, "Hai anak budak hitam!"
Meski ini khilaf, tapi Sang Nabi menunjuk wajah Abu Dzar dengan marah dan bersabda, "Engkau... di dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliah..."
Maka Abu Dzar merebahkan dirinya, menaburi wajahnya dengan debu pasir lalu berkata, "Wahai Bilal, kemarilah, injak kepalaku, injak wajahku... Agar menjadi penebus dosaku di sisi Allah padamu..."
Dan muadzin kesayangan Rasulullah saw itu tersenyum berkata, "Aku menjadikannya simpanan kebaikan di sisi Allah."
Maka adalah wajar jika Baginda bersabda, tanda iman pada hari kiamat adalah berkata yang BAIK atau DIAM. Karena tulisan ini begitu penting, silakan forward dan share kepada kerabat-kerabat kita.
Apa yang keluar dari lisan kita, mencerminkan isi kepala kita. Dan memang demikianlah adanya. Layaknya teko, ia tak akan mengeluarkan sesuatu selain isi kandungannya. Tak akan bisa mengelabui!
Maka bagaimana mungkin seorang muslim atau muslimah yang setiap hari hiasannya adalah taklim dan ayat-ayat Al-Quran, tapi memiliki perkataan begitu tajam menghujam... kepada asisten rumahnya, anak-anaknya atau bahkan juga kepada pasangannya... Ah prihatinnya!
Baiknya pikirkan dulu sebelum berkata, karena akan meninggalkan luka yang mungkin tak terlupakan. Andai kita atau keturunan kita diperlakukan yang sama, tentu kita pun tidak akan rela!
Akhirnya, penjarakan harimaumu!!!
Jadwal seminar Ippho Santosa:
- Korea, +82-1049-5324-40
- Malang, 0816-887-542
- Kediri, 0816-887-542
- Surabaya, 0811-657-7711
- Bandung, 0811-657-7711
- Pekanbaru, 0852-7473-8158
- Sukabumi, 0852-1678-9740
Minat? Serius? Silakan SMS panitia setempat terkait biaya, waktu, dan tempat. Sekali lagi, SMS panitia setempat.
- Korea, +82-1049-5324-40
- Malang, 0816-887-542
- Kediri, 0816-887-542
- Surabaya, 0811-657-7711
- Bandung, 0811-657-7711
- Pekanbaru, 0852-7473-8158
- Sukabumi, 0852-1678-9740
Minat? Serius? Silakan SMS panitia setempat terkait biaya, waktu, dan tempat. Sekali lagi, SMS panitia setempat.
Yakin itu harus.
Dua senior saya, Andrie Wongso dan Tung Desem Waringin, sangat menganjurkan ini. Yakin.
Sekarang, coba Anda perhatikan ini. Banyak orang yang mengemudi lambat-lambat di jalan-raya. Selamatkah mereka? Kemungkinan besar, selamat. Nah, banyak pula orang yang mengemudi cepat-cepat di jalan raya. Ngebut. Selamatkah mereka? Yah, selamat juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah mereka yang ragu-ragu.
Banyak orang orang memutuskan untuk jadi karyawan. Sukseskah mereka? Mungkin saja. Nah, banyak pula orang yang memutuskan berhenti jadi karyawan, terus jadi pengusaha. Sukseskah mereka? Mungkin juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah karyawan yang coba-coba jadi pengusaha tapi ragu-ragu.
Keyakinan jangan pernah disandarkan pada uang.
- Ada uang, yakin.
- Nggak ada uang, tetap #yakin.
- Selagi bersama Allah, kita harus yakin.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Yang setuju, bantu share dan forward ya tulisan ini. Semoga berkah berlimpah.
Dua senior saya, Andrie Wongso dan Tung Desem Waringin, sangat menganjurkan ini. Yakin.
Sekarang, coba Anda perhatikan ini. Banyak orang yang mengemudi lambat-lambat di jalan-raya. Selamatkah mereka? Kemungkinan besar, selamat. Nah, banyak pula orang yang mengemudi cepat-cepat di jalan raya. Ngebut. Selamatkah mereka? Yah, selamat juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah mereka yang ragu-ragu.
Banyak orang orang memutuskan untuk jadi karyawan. Sukseskah mereka? Mungkin saja. Nah, banyak pula orang yang memutuskan berhenti jadi karyawan, terus jadi pengusaha. Sukseskah mereka? Mungkin juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah karyawan yang coba-coba jadi pengusaha tapi ragu-ragu.
Keyakinan jangan pernah disandarkan pada uang.
- Ada uang, yakin.
- Nggak ada uang, tetap #yakin.
- Selagi bersama Allah, kita harus yakin.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Yang setuju, bantu share dan forward ya tulisan ini. Semoga berkah berlimpah.
Orang Indonesia itu berani-berani.
Sama badai? Nggak takut.
Sama teror? Nggak takut.
Sama tagihan? Nah, itu baru takut.
Hehehe...
Ada tambahan? Ada...
"Kami hanya takut sama Satpol PP," kata pedagang-pedagang asongan.
"Kami hanya takut hidup menjomblo," kata mbak-mbak single.
"Kami hanya takut sama Allah," kata orang-orang beriman.
Sekali lagi, harus diakui orang Indonesia itu berani-berani. Bukankah nenek moyang kita sudah berlayar sampai ke Madagaskar, sebelum film animasi Madagaskar dipikirkan oleh Hollywood?
Berani, ini modal dasar untuk menjadi seorang entrepreneur. IQ boleh rendah. Saldo boleh sekedarnya. Relasi boleh seadanya. Tapi, kalau kita berani dan mau belajar, insya Allah sebuah bisnis bisa dimulai.
Catat ya. Untuk memulai, perlu berani. Untuk membesarkan, perlu ilmu. Kurang-lebih begitu.
Demikian pula dalam penjualan. Perlu keberanian. Tak semua orang pede dengan apa-apa yang ia tawarkan. Lha, dia saja ragu-ragu. Gimana mungkin orang lain bisa yakin?
"Jika ingin menaklukkan rasa takut, janganlah berdiam diri di rumah dan menghabiskan waktu untuk berpikir. Keluarlah dan sibukkan diri Anda," ungkap Dale Carnegie. Intinya, perbanyak action.
Saran saya, "Biasakan diri kita dengan risiko. Jangan tabu. Jangan ragu." Kalau kita anti-risiko, lha, hal besar apa yang mungkin kita capai? Nggak ada.
Coba perhatikan orang-orang besar. Entah di bidang bisnis, penjualan, olahraga, atau politik. Pastilah mereka berani mengambil langkah besar dan risiko besar.
Saya harap Anda setuju. Beranilah. Semoga berkah berlimpah.
Sama badai? Nggak takut.
Sama teror? Nggak takut.
Sama tagihan? Nah, itu baru takut.
Hehehe...
Ada tambahan? Ada...
"Kami hanya takut sama Satpol PP," kata pedagang-pedagang asongan.
"Kami hanya takut hidup menjomblo," kata mbak-mbak single.
"Kami hanya takut sama Allah," kata orang-orang beriman.
Sekali lagi, harus diakui orang Indonesia itu berani-berani. Bukankah nenek moyang kita sudah berlayar sampai ke Madagaskar, sebelum film animasi Madagaskar dipikirkan oleh Hollywood?
Berani, ini modal dasar untuk menjadi seorang entrepreneur. IQ boleh rendah. Saldo boleh sekedarnya. Relasi boleh seadanya. Tapi, kalau kita berani dan mau belajar, insya Allah sebuah bisnis bisa dimulai.
Catat ya. Untuk memulai, perlu berani. Untuk membesarkan, perlu ilmu. Kurang-lebih begitu.
Demikian pula dalam penjualan. Perlu keberanian. Tak semua orang pede dengan apa-apa yang ia tawarkan. Lha, dia saja ragu-ragu. Gimana mungkin orang lain bisa yakin?
"Jika ingin menaklukkan rasa takut, janganlah berdiam diri di rumah dan menghabiskan waktu untuk berpikir. Keluarlah dan sibukkan diri Anda," ungkap Dale Carnegie. Intinya, perbanyak action.
Saran saya, "Biasakan diri kita dengan risiko. Jangan tabu. Jangan ragu." Kalau kita anti-risiko, lha, hal besar apa yang mungkin kita capai? Nggak ada.
Coba perhatikan orang-orang besar. Entah di bidang bisnis, penjualan, olahraga, atau politik. Pastilah mereka berani mengambil langkah besar dan risiko besar.
Saya harap Anda setuju. Beranilah. Semoga berkah berlimpah.
Seberapa serius Anda terhadap bisnis Anda...
Ini terlihat dari bagaimana Anda menyikapi fungsi penjualan...
Ini terlihat dari bagaimana Anda menyikapi fungsi penjualan...
Punya produk?
Selagi produk kita benar-benar bagus, jangan pernah ragu dan tabu untuk menjual.
Mestinya ada perasaan bersalah, punya produk bagus, kok didiamkan saja? Nggak ngasih tahu orang lain.
Niatkan ingin membantu setiap kali kita menawarkan produk. Ya, membantu. Ini artinya, keberadaan kita bagian dari solusi.
Ingat, apapun bisnis Anda, akan mati seketika bila absen menjual. Ya, penjualan adalah penentu.
Jangan ragu dalam menjual.
Selagi produk kita benar-benar bagus, jangan pernah ragu dan tabu untuk menjual.
Mestinya ada perasaan bersalah, punya produk bagus, kok didiamkan saja? Nggak ngasih tahu orang lain.
Niatkan ingin membantu setiap kali kita menawarkan produk. Ya, membantu. Ini artinya, keberadaan kita bagian dari solusi.
Ingat, apapun bisnis Anda, akan mati seketika bila absen menjual. Ya, penjualan adalah penentu.
Jangan ragu dalam menjual.
Supel...
Istri saya ini supel. Kalau ngobrol, dia bisa nyambung dengan siapa saja. Termasuk dengan ibu saya, saudara saya, dan sepupu saya. Yah, semua.
Meski akrab dengan berbagai pengusaha, motivator, dan artis, tapi ia juga gampang klik kalau ngobrol sama mbak-mbak yang membantu di rumah.
Bahkan ketika mengantre di rumah sakit, ia bisa ngobrol lama-lama dengan babysitter dan asisten rumah dari keluarga lain. Nggak canggung. Nggak beda-bedain orang.
Menurut saya, ini hebat. Beneran. Tak semua orang bisa.
Saat aktif di luar (misalnya dengan sesama orangtua siswa), ia supel dan membawa namanya sendiri. Bukan istrinya Ippho atau semacamnya. Menurut kami, lebih enak begitu. Mandiri tho?
Supel ini bagian dari otak kanan. Kalau otak kiri? Serba kaku, maunya lurus-lurus saja. Nggak luwes. Di IG, ia memakai namanya sendiri dan nama ayahnya. Jadilah @AstridSuhaimi.
Kok nggak pake nama Ippho atau Santosa? Agama sebenarnya menganjurkan memakai nama ayah dan kami berusaha mengikutinya. Dengan begini, sampai kapanpun, silsilah tetap jelas.
Supel, seperlu apa sih? Manakala kita menjadi pemimpin atau pengusaha, kita dituntut untuk supel dan luwes. Kenapa? Karena kita membawahi karyawan yang beragam. Kita bertemu dengan klien yang beragam.
Sekali lagi, supel itu perlu. Be right. Be flexible. Begitu istilahnya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Istri saya ini supel. Kalau ngobrol, dia bisa nyambung dengan siapa saja. Termasuk dengan ibu saya, saudara saya, dan sepupu saya. Yah, semua.
Meski akrab dengan berbagai pengusaha, motivator, dan artis, tapi ia juga gampang klik kalau ngobrol sama mbak-mbak yang membantu di rumah.
Bahkan ketika mengantre di rumah sakit, ia bisa ngobrol lama-lama dengan babysitter dan asisten rumah dari keluarga lain. Nggak canggung. Nggak beda-bedain orang.
Menurut saya, ini hebat. Beneran. Tak semua orang bisa.
Saat aktif di luar (misalnya dengan sesama orangtua siswa), ia supel dan membawa namanya sendiri. Bukan istrinya Ippho atau semacamnya. Menurut kami, lebih enak begitu. Mandiri tho?
Supel ini bagian dari otak kanan. Kalau otak kiri? Serba kaku, maunya lurus-lurus saja. Nggak luwes. Di IG, ia memakai namanya sendiri dan nama ayahnya. Jadilah @AstridSuhaimi.
Kok nggak pake nama Ippho atau Santosa? Agama sebenarnya menganjurkan memakai nama ayah dan kami berusaha mengikutinya. Dengan begini, sampai kapanpun, silsilah tetap jelas.
Supel, seperlu apa sih? Manakala kita menjadi pemimpin atau pengusaha, kita dituntut untuk supel dan luwes. Kenapa? Karena kita membawahi karyawan yang beragam. Kita bertemu dengan klien yang beragam.
Sekali lagi, supel itu perlu. Be right. Be flexible. Begitu istilahnya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Rp 1 miliar,
pernah lihat?
Kalau Rp 3 miliar?
Ada e-book bagus.
Karya teman saya.
Tentang apa?
Bagaimana
mendapatkan
Rp 3 miliar
dalam 1 hari.
Ini kisah nyata.
Beneran terjadi.
Setelah saya baca,
sepertinya bisa
diterapkan oleh
semua orang.
Yang penting
orangnya serius.
Beberapa hari lagi
akan saya bagikan.
GRATIS.
Ya, e-book gratis.
Di mana? Kapan?
Gimana caranya?
Nanti dikabari lagi.
Siap-siap saja 😊
pernah lihat?
Kalau Rp 3 miliar?
Ada e-book bagus.
Karya teman saya.
Tentang apa?
Bagaimana
mendapatkan
Rp 3 miliar
dalam 1 hari.
Ini kisah nyata.
Beneran terjadi.
Setelah saya baca,
sepertinya bisa
diterapkan oleh
semua orang.
Yang penting
orangnya serius.
Beberapa hari lagi
akan saya bagikan.
GRATIS.
Ya, e-book gratis.
Di mana? Kapan?
Gimana caranya?
Nanti dikabari lagi.
Siap-siap saja 😊
Kenapa saya tertarik dengan berkuda? Begini.
Umar bin Khattab pernah berseru, "Ajari anak-anakmu berenang, memanah, dan berkuda."
“Segala sesuatu selain zikir kepada Allah adalah sia-sia dan permainan belaka, kecuali empat hal, yaitu latihan memanah, candaan suami kepada istrinya, seorang lelaki yang melatih kudanya, dan mengajarkan renang." HR Timirdzi.
"Setiap hal yang melalaikan seorang Muslim hukumnya batil, kecuali memanah dengan busur, melatih kuda, dan canda dengan istri.” HR Ibnu Majah.
"Pada ubun-ubun kuda itu, telah ditetapkan kebaikan, hingga Hari Kiamat." HR Bukhari.
Berkuda melatih ketenangan, keberanian, dan kepemimpinan. Itu beberapa manfaatnya. Hal ini pernah saya tanya langsung pada Aa Gym dan Ust Arifin Ilham. Yang menarik, zaman sekarang penyewaan kuda hadir di mana-mana dengan biaya yang relatif terjangkau.
Kalau kita menganggap berkuda sebagai olahraga? Yah, boleh juga. Insya Allah ini pun bagian dari syukur nikmat dan berpahala. Kok bisa? Begini. Tubuh yang sehat itu kan nikmat dan perlu dijaga. Right? Tulisan ini boleh Anda share.
Di sini saya melihat visi Nabi dan Umar yang mengagumkan. Benar-benar mengagumkan. Mereka menganjurkan berkuda, bukan berunta. Karena tidak semua negeri ada unta. Tapi kalau kuda, yah ada.
Tak ada salahnya kalau kita dan anak-anak kita mulai mencoba. Berkuda. Syukur-syukur dimampukan untuk rutin. Semoga berkah berlimpah.
Umar bin Khattab pernah berseru, "Ajari anak-anakmu berenang, memanah, dan berkuda."
“Segala sesuatu selain zikir kepada Allah adalah sia-sia dan permainan belaka, kecuali empat hal, yaitu latihan memanah, candaan suami kepada istrinya, seorang lelaki yang melatih kudanya, dan mengajarkan renang." HR Timirdzi.
"Setiap hal yang melalaikan seorang Muslim hukumnya batil, kecuali memanah dengan busur, melatih kuda, dan canda dengan istri.” HR Ibnu Majah.
"Pada ubun-ubun kuda itu, telah ditetapkan kebaikan, hingga Hari Kiamat." HR Bukhari.
Berkuda melatih ketenangan, keberanian, dan kepemimpinan. Itu beberapa manfaatnya. Hal ini pernah saya tanya langsung pada Aa Gym dan Ust Arifin Ilham. Yang menarik, zaman sekarang penyewaan kuda hadir di mana-mana dengan biaya yang relatif terjangkau.
Kalau kita menganggap berkuda sebagai olahraga? Yah, boleh juga. Insya Allah ini pun bagian dari syukur nikmat dan berpahala. Kok bisa? Begini. Tubuh yang sehat itu kan nikmat dan perlu dijaga. Right? Tulisan ini boleh Anda share.
Di sini saya melihat visi Nabi dan Umar yang mengagumkan. Benar-benar mengagumkan. Mereka menganjurkan berkuda, bukan berunta. Karena tidak semua negeri ada unta. Tapi kalau kuda, yah ada.
Tak ada salahnya kalau kita dan anak-anak kita mulai mencoba. Berkuda. Syukur-syukur dimampukan untuk rutin. Semoga berkah berlimpah.
Sudah punya usaha?
Bagaimana margin-nya, besarkah?
Bagaimana mentor-nya, ahlikah?
Kali ini saya, Ippho Santosa, membuka kesempatan. Dalam artian, teman-teman semua bisa bermitra dengan saya. Tepatnya, jadi reseller. Di sini kita akan memasarkan produk kesehatan (suplemen). Bukan MLM.
Begini. Harus pede jadi reseller. Bukankah Nabi Muhamamd awalnya seorang reseller? Kita sama-sama tahu, beliau sempat menjualkan barang-barang dari saudagar-saudagar di Mekkah.
Kembali ke bisnis ini:
- modalnya Rp1,2juta
- marginnya hampir 100%
- balik modalnya cepat
- repeat order-nya tinggi
- ongkirnya sangat murah
- standarnya internasional
- open sampai 20 September
Ngomong-ngomong, apa sih produknya? British Propolis (BP), asli dari Inggris.
Olla Ramlan, Andre Taulany, David Chalik, Shandy Aulia, Meyda Sefira, Ust Yusuf Mansur, Ust Maulana, Tung Desem Waringin, dan Jamil Azzaini adalah tokoh-tokoh yang turut meng-endorse produk ini.
Profit-nya?
Simak saja testimoni Triyanto, distributor BP di Jakarta Timur, "Baru gabung di #BritishPropolis selama 5 bulan, eh sudah dapat bonus jalan-jalan ke Lombok bersama Mas Ippho. Ini luar biasa. Soal omzet dan profit? Ndak usah ditanya. Sangat lumayan profit-nya."
Simak juga testimoni Wendi, distributor BP di Bandung, "Alhamdulillah, baru 4 bulan fokus jalani bisnis BP ini, omset saya sudah menyentuh Rp 200 juta. Ini 1000% lebih banyak daripada omset saya dari bisnis lainnya."
Perhatikan baik-baik. Margin-nya besar, hampir 100%. Amat langka produk seperti ini.
Terus, saya dan tim setiap hari membimbing Anda. Ya, setiap hari.
Bimbingan, adakah buktinya?
Ada. Melalui sebuah training yang powerful, saya dan tim akan mengajari Anda menjual lebih cepat dan lebih banyak. Ini salah satu buktinya.
Ya, Anda berhak mengikuti training (dengan seat VIP) senilai Rp900ribu di Hotel Grand Citra, Karawang. Di mana Anda tidak perlu bayar biaya training lagi. Asalkan Anda bergabung di bisnis ini sebelum 15 September.
Kapan training-nya?
24 September, seharian, dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Sekali lagi, ini training. Bukan seminar. Bukan sekedar ngumpul-ngumpul. Kita akan belajar detail bagaimana menjual lebih cepat dan lebih banyak!
Siapa saja yang bakal mengisi materi?
- Ippho Santosa, pendiri BP.
- Diaz Adriani (telah membimbing ribuan reseller, omset miliaran rupiah).
Yang lain?
MEYDA SEFIRA, aktris Ketika Cinta Bertasbih, juga hadir dan siap untuk foto bareng.
Jangan salah! Bergabungnya Anda dengan bisnis ini akan menjadi moment yang sangat menentukan! Karena insya Allah sangat berpengaruh pada peningkatan income Anda!
Minat?
Transfer saja ke Rp1,2juta ke BNI Syariah 7777-0909-00 a.n. Ippho D. Santosa.
Atau ke BCA 4979-091-777 a.n. Ippho D. Santosa.
Setelah transfer, WA ke 0813-9520-0092
Anda akan dikirimi dan mendapat produk senilai Rp2juta.
Siap jadi pengusaha? Siap usahanya saya bimbing?
Bagaimana margin-nya, besarkah?
Bagaimana mentor-nya, ahlikah?
Kali ini saya, Ippho Santosa, membuka kesempatan. Dalam artian, teman-teman semua bisa bermitra dengan saya. Tepatnya, jadi reseller. Di sini kita akan memasarkan produk kesehatan (suplemen). Bukan MLM.
Begini. Harus pede jadi reseller. Bukankah Nabi Muhamamd awalnya seorang reseller? Kita sama-sama tahu, beliau sempat menjualkan barang-barang dari saudagar-saudagar di Mekkah.
Kembali ke bisnis ini:
- modalnya Rp1,2juta
- marginnya hampir 100%
- balik modalnya cepat
- repeat order-nya tinggi
- ongkirnya sangat murah
- standarnya internasional
- open sampai 20 September
Ngomong-ngomong, apa sih produknya? British Propolis (BP), asli dari Inggris.
Olla Ramlan, Andre Taulany, David Chalik, Shandy Aulia, Meyda Sefira, Ust Yusuf Mansur, Ust Maulana, Tung Desem Waringin, dan Jamil Azzaini adalah tokoh-tokoh yang turut meng-endorse produk ini.
Profit-nya?
Simak saja testimoni Triyanto, distributor BP di Jakarta Timur, "Baru gabung di #BritishPropolis selama 5 bulan, eh sudah dapat bonus jalan-jalan ke Lombok bersama Mas Ippho. Ini luar biasa. Soal omzet dan profit? Ndak usah ditanya. Sangat lumayan profit-nya."
Simak juga testimoni Wendi, distributor BP di Bandung, "Alhamdulillah, baru 4 bulan fokus jalani bisnis BP ini, omset saya sudah menyentuh Rp 200 juta. Ini 1000% lebih banyak daripada omset saya dari bisnis lainnya."
Perhatikan baik-baik. Margin-nya besar, hampir 100%. Amat langka produk seperti ini.
Terus, saya dan tim setiap hari membimbing Anda. Ya, setiap hari.
Bimbingan, adakah buktinya?
Ada. Melalui sebuah training yang powerful, saya dan tim akan mengajari Anda menjual lebih cepat dan lebih banyak. Ini salah satu buktinya.
Ya, Anda berhak mengikuti training (dengan seat VIP) senilai Rp900ribu di Hotel Grand Citra, Karawang. Di mana Anda tidak perlu bayar biaya training lagi. Asalkan Anda bergabung di bisnis ini sebelum 15 September.
Kapan training-nya?
24 September, seharian, dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Sekali lagi, ini training. Bukan seminar. Bukan sekedar ngumpul-ngumpul. Kita akan belajar detail bagaimana menjual lebih cepat dan lebih banyak!
Siapa saja yang bakal mengisi materi?
- Ippho Santosa, pendiri BP.
- Diaz Adriani (telah membimbing ribuan reseller, omset miliaran rupiah).
Yang lain?
MEYDA SEFIRA, aktris Ketika Cinta Bertasbih, juga hadir dan siap untuk foto bareng.
Jangan salah! Bergabungnya Anda dengan bisnis ini akan menjadi moment yang sangat menentukan! Karena insya Allah sangat berpengaruh pada peningkatan income Anda!
Minat?
Transfer saja ke Rp1,2juta ke BNI Syariah 7777-0909-00 a.n. Ippho D. Santosa.
Atau ke BCA 4979-091-777 a.n. Ippho D. Santosa.
Setelah transfer, WA ke 0813-9520-0092
Anda akan dikirimi dan mendapat produk senilai Rp2juta.
Siap jadi pengusaha? Siap usahanya saya bimbing?
Orang-orang besar, apa yang mereka pikirkan? Bukan perutnya sendiri. Bukan dapurnya sendiri. Ternyata begitu. Visi mereka besar.
Saya pernah dinner bareng Pak Habibie dan anaknya, Pak Zulkifli (Ketua MPR) dan keluarganya, Dr Zakir Naik, Pak Chairul Tanjung, dan KH Ma'ruf Amin (Ketua MUI). Obrolan bersama mereka terasa berbeda.
Selalu ada terselip pemikiran besar atau visi besar.
Dalam bisnis, bukan sekadar ngomong, visi yang besar ini dimanifestasikan pada kerja keras setiap harinya. Pelan-pelan keajaiban terjadi. Kemudahan demi kemudahan pun hadir.
Ya, visi yang besar akan membuat orang-orang berdatangan dan bantu mewujudkan. Sementara visi yang kecil hanya akan diwujudkan oleh dirinya sendiri.
Sekarang, coba tanya pada hati Anda yang paling dalam. Apa visi besar Anda dalam berbisnis? Jika benar-benar terjawab, maka insya Allah sebesar apapun rintangan yang Anda hadapi, akan dianggap kecil, karena visi Anda dan semangat Anda jauh lebih besar.
Ingat, bisnis itu benda mati. Visi yang membuatnya hidup. So, find your vision.
Praktek ya. Istilahnya, "Mulai dari yang kanan. Mulai dari visi." Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saya pernah dinner bareng Pak Habibie dan anaknya, Pak Zulkifli (Ketua MPR) dan keluarganya, Dr Zakir Naik, Pak Chairul Tanjung, dan KH Ma'ruf Amin (Ketua MUI). Obrolan bersama mereka terasa berbeda.
Selalu ada terselip pemikiran besar atau visi besar.
Dalam bisnis, bukan sekadar ngomong, visi yang besar ini dimanifestasikan pada kerja keras setiap harinya. Pelan-pelan keajaiban terjadi. Kemudahan demi kemudahan pun hadir.
Ya, visi yang besar akan membuat orang-orang berdatangan dan bantu mewujudkan. Sementara visi yang kecil hanya akan diwujudkan oleh dirinya sendiri.
Sekarang, coba tanya pada hati Anda yang paling dalam. Apa visi besar Anda dalam berbisnis? Jika benar-benar terjawab, maka insya Allah sebesar apapun rintangan yang Anda hadapi, akan dianggap kecil, karena visi Anda dan semangat Anda jauh lebih besar.
Ingat, bisnis itu benda mati. Visi yang membuatnya hidup. So, find your vision.
Praktek ya. Istilahnya, "Mulai dari yang kanan. Mulai dari visi." Semoga berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.