Mengeluh?
Mengaduh?
Rezeki menjauh.
Teman-teman pun menjauh.
Sesusah-susahnya kita, toh masih ada orang lain yang lebih susah. Yah, buat apa kita berkeluh-kesah? Apalagi sampai menyalah-nyalahkan Sang Pencipta.
Orang yang jauh dari Tuhan-nya, ketika masalah menimpa, susahnya akan bertambah-tambah. Kenapa? Karena masalah itu sendiri dan tiadanya ridha Tuhan-nya.
Orang yang bersandar sama Yang Maha Kuasa, hampir-hampir tiada masalah yang berarti baginya. Hanya Allah yang besar baginya, yang lain terasa kecil.
Repotnya, manusia sering bertindak bodoh. Sehingga masalah pun bertambah-tambah. Hidupnya resah, gelisah, dan terasa serba salah. Hati-hati.
Penting banget. Simak » http://bit.ly/DuaKebodohan
Mengaduh?
Rezeki menjauh.
Teman-teman pun menjauh.
Sesusah-susahnya kita, toh masih ada orang lain yang lebih susah. Yah, buat apa kita berkeluh-kesah? Apalagi sampai menyalah-nyalahkan Sang Pencipta.
Orang yang jauh dari Tuhan-nya, ketika masalah menimpa, susahnya akan bertambah-tambah. Kenapa? Karena masalah itu sendiri dan tiadanya ridha Tuhan-nya.
Orang yang bersandar sama Yang Maha Kuasa, hampir-hampir tiada masalah yang berarti baginya. Hanya Allah yang besar baginya, yang lain terasa kecil.
Repotnya, manusia sering bertindak bodoh. Sehingga masalah pun bertambah-tambah. Hidupnya resah, gelisah, dan terasa serba salah. Hati-hati.
Penting banget. Simak » http://bit.ly/DuaKebodohan
Penelitian-penelitian menunjukkan, selain menurunkan hormon kortisol, ternyata networking atau silaturahim dapat meningkatkan hormon endorfin dan hormon oxytocin, sehingga menyehatkan. Sekali lagi, menyehatkan.
Ini juga berlaku dalam dunia kerja dan dunia usaha.
Terkait konteks ibadah, ternyata silaturahim selalu menyertai:
- Dalam sholat berjamaah, terjadilah silaturahim sesama muslim di suatu kawasan. Demikian pula dalam sholat tarawih dan buka puasa bersama.
- Dalam haji dan umrah, terjadilah silaturahim sesama muslim sedunia.
Dan terkait konteks bisnis, inilah istilahnya:
- Tanpa network, artinya not work (tidak berhasil).
- Network artinya net worth (kekayaan bersih).
- Network memang nice word (kata yang indah).
Gimana, Anda setuju? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Ini juga berlaku dalam dunia kerja dan dunia usaha.
Terkait konteks ibadah, ternyata silaturahim selalu menyertai:
- Dalam sholat berjamaah, terjadilah silaturahim sesama muslim di suatu kawasan. Demikian pula dalam sholat tarawih dan buka puasa bersama.
- Dalam haji dan umrah, terjadilah silaturahim sesama muslim sedunia.
Dan terkait konteks bisnis, inilah istilahnya:
- Tanpa network, artinya not work (tidak berhasil).
- Network artinya net worth (kekayaan bersih).
- Network memang nice word (kata yang indah).
Gimana, Anda setuju? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Bagaimana mengatasi rutinitas kerja yang membosankan?
Bagaimana mengatasi utang yang melilit dan masalah yang membelit?
Apa saja tips-tips mapan bagi karyawan dan pengusaha?
Ini semua akan dibahas oleh Ippho Santosa, seorang International Trainer dan Mega-Bestselling Author. Seminarnya telah menembus belasan negara di 4 benua.
Selain Ippho Santosa, hadir juga seorang CEO perusahaan nasional dan motivator skala internasional, yang akan berbagi pengalaman-pengalaman berharga soal meraih kesuksesan. Nama dua tokoh ini masih dirahasiakan.
Awalnya, tiket seminarnya hendak dijual ratusan ribu rupiah. Namun pada detik-detik terakhir diputuskan untuk dijual nol rupiah saja alias GRATIS. Agar bisa bermanfaat luas bagi seluruh kalangan.
Baca detailnya » https://www.dompetdhuafa.org/post/detail/7722/motivator-indonesia-ippho-santosa-ungkap-rahasia-rahasia-sukses
Sampai saat ini, sudah ratusan orang yang mendaftar. Setiap menitnya, ada saja yang mendaftar. Alhamdulillah. Sepertinya Anda harus segera mendaftar. Ya, segera.
Gimana cara daftarnya? Klik ini dan SMS nomor yang tertera » https://www.dompetdhuafa.org/post/detail/7722/motivator-indonesia-ippho-santosa-ungkap-rahasia-rahasia-sukses
Bagaimana mengatasi utang yang melilit dan masalah yang membelit?
Apa saja tips-tips mapan bagi karyawan dan pengusaha?
Ini semua akan dibahas oleh Ippho Santosa, seorang International Trainer dan Mega-Bestselling Author. Seminarnya telah menembus belasan negara di 4 benua.
Selain Ippho Santosa, hadir juga seorang CEO perusahaan nasional dan motivator skala internasional, yang akan berbagi pengalaman-pengalaman berharga soal meraih kesuksesan. Nama dua tokoh ini masih dirahasiakan.
Awalnya, tiket seminarnya hendak dijual ratusan ribu rupiah. Namun pada detik-detik terakhir diputuskan untuk dijual nol rupiah saja alias GRATIS. Agar bisa bermanfaat luas bagi seluruh kalangan.
Baca detailnya » https://www.dompetdhuafa.org/post/detail/7722/motivator-indonesia-ippho-santosa-ungkap-rahasia-rahasia-sukses
Sampai saat ini, sudah ratusan orang yang mendaftar. Setiap menitnya, ada saja yang mendaftar. Alhamdulillah. Sepertinya Anda harus segera mendaftar. Ya, segera.
Gimana cara daftarnya? Klik ini dan SMS nomor yang tertera » https://www.dompetdhuafa.org/post/detail/7722/motivator-indonesia-ippho-santosa-ungkap-rahasia-rahasia-sukses
Jualan itu sulit?
Supaya mapan finansial, saya selalu menganjurkan dan mengajarkan lima hal, salah satunya 'gemar jualan'. Ini saya sampaikan di seminar-seminar saya, terutama di kalangan entrepreneur.
Kemarin saya membawakan seminar 'Marketing with Love' untuk sebuah komunitas. Ramai alhamdulillah. Rencananya sih, saya tampil 2.5 jam. Karena keasyikan, eh jadinya malah 3,5 jam. Hehehe. Soalnya wajah-wajah mereka terlihat sangat antusias.
Mbak Diaz, inisiator komunitas itu, sekarang sudah mencetak omset Rp 2 M sebulan. Apa resepnya? Di hadapan teman-temannya, ia mengaku sudah belasan kali mengikuti seminar saya dan menerapkan apa-apa yang saya sampaikan. Rp 2 M itulah salah satu hasilnya. Belum lagi karunia lain berupa keturunan, meningkatnya amal, dll.
Jadi, benarkah jualan itu sulit? Tak sedikit orang yang menganggap jualan itu sulit. Jangan-jangan Anda juga termasuk.
Begini. Cobalah berpikir soal jualan itu dengan sudut pandang yang berbeda. Kalau sudut pandang ini Anda ubah, maka semangat jualan Anda akan menyala dan membara kembali, seperti saat gembiranya Anda mendapat closingan pertama kali. Wow!
Yang bilang jualan itu susah, yah memang iya. Kalau mau dibuat susah. Padahal bisa dibawa mudah dan menyenangkan. Bukankan jualan itu sebenarnya membantu urusan orang dan memudahkan urusan orang. (Saya dkk lagi menyusun buku tips laris jualan buat pemula. Doakan cepat kelar ya.)
Lho kok bisa? Ya, bisa. Bukankah orang lapar dan butuh makan pagi, kemudian dibantu dengan adanya penjual nasi uduk? Ada orang haus di pinggir jalan, kemudian dibantu dengan adanya penjual teh botol.
Ada orang letih dan lelah, kemudian dibantu dengan adanya tukang pijat dan jasa refleksi. Macam-macamlah contohnya. Intinya jualan itu membantu orang. Mensolusikan. Mulia sekali tho?
Sudah 2 hari ini, saya menemani peserta yang magang. Saya salut sama mereka. Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia. Dari Bali, Aceh, Palembang, Semarang, Malang, dll. Menjemput ilmu, judulnya. Nyantri, istilah lainnya.
Saya dan tim membimbing mereka untuk mahir jualan secara offline, pada 2 hari pertama. Kemudian berlanjut, mahir jualan secara online. Kenapa? Mapan finansial, itulah salah satu tujuannya. Mari biasakan diri kita dengan 'gemar jualan'.
Supaya mapan finansial, saya selalu menganjurkan dan mengajarkan lima hal, salah satunya 'gemar jualan'. Ini saya sampaikan di seminar-seminar saya, terutama di kalangan entrepreneur.
Kemarin saya membawakan seminar 'Marketing with Love' untuk sebuah komunitas. Ramai alhamdulillah. Rencananya sih, saya tampil 2.5 jam. Karena keasyikan, eh jadinya malah 3,5 jam. Hehehe. Soalnya wajah-wajah mereka terlihat sangat antusias.
Mbak Diaz, inisiator komunitas itu, sekarang sudah mencetak omset Rp 2 M sebulan. Apa resepnya? Di hadapan teman-temannya, ia mengaku sudah belasan kali mengikuti seminar saya dan menerapkan apa-apa yang saya sampaikan. Rp 2 M itulah salah satu hasilnya. Belum lagi karunia lain berupa keturunan, meningkatnya amal, dll.
Jadi, benarkah jualan itu sulit? Tak sedikit orang yang menganggap jualan itu sulit. Jangan-jangan Anda juga termasuk.
Begini. Cobalah berpikir soal jualan itu dengan sudut pandang yang berbeda. Kalau sudut pandang ini Anda ubah, maka semangat jualan Anda akan menyala dan membara kembali, seperti saat gembiranya Anda mendapat closingan pertama kali. Wow!
Yang bilang jualan itu susah, yah memang iya. Kalau mau dibuat susah. Padahal bisa dibawa mudah dan menyenangkan. Bukankan jualan itu sebenarnya membantu urusan orang dan memudahkan urusan orang. (Saya dkk lagi menyusun buku tips laris jualan buat pemula. Doakan cepat kelar ya.)
Lho kok bisa? Ya, bisa. Bukankah orang lapar dan butuh makan pagi, kemudian dibantu dengan adanya penjual nasi uduk? Ada orang haus di pinggir jalan, kemudian dibantu dengan adanya penjual teh botol.
Ada orang letih dan lelah, kemudian dibantu dengan adanya tukang pijat dan jasa refleksi. Macam-macamlah contohnya. Intinya jualan itu membantu orang. Mensolusikan. Mulia sekali tho?
Sudah 2 hari ini, saya menemani peserta yang magang. Saya salut sama mereka. Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia. Dari Bali, Aceh, Palembang, Semarang, Malang, dll. Menjemput ilmu, judulnya. Nyantri, istilah lainnya.
Saya dan tim membimbing mereka untuk mahir jualan secara offline, pada 2 hari pertama. Kemudian berlanjut, mahir jualan secara online. Kenapa? Mapan finansial, itulah salah satu tujuannya. Mari biasakan diri kita dengan 'gemar jualan'.
Sudahkah kita mengajarkan arti perjuangan kepada keluarga kita?
Tulisan berikut, saya cuplik dari salah satu guru saya. Karena teramat penting, sempatkan satu menit untuk membacanya.
Inilah kisah beliau.
Suatu ketika, ayah saya pernah mengatakan, setengah memerintah: “Nak ikut tuh berjuang dengan mahasiswa dan pelajar. Apa yang mereka perjuangkan itu benar. Pemudalah yang harus berdiri membela rakyatnya. Waktu ayah muda, ayah berjuang juga melawan penjajah. Sekarang kalian berjuang membela yang benar, bela kebenaran!”
Mulai hari itu, saya yang berusia 14 tahun, bergabung dengan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia).
Tanggal 24 Februari 1966, mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam KAMI dan KAPI melakukan demo di Lapangan Banteng, dengan tuntutan yang sama, TRITURA. Bergerak menuju istana.
Dalam mengendalikan massa, ternyata pihak aparat menggunakan senjata. Terdengarlah letusan senjata api yang kemudian diketahui menembus dada salah seorang mahasiswa. Dan saya berada dalam kerumunan itu.
Lalu, saya berlari, tidak berhenti. Pulang. Setiba di rumah, melihat saya berlari-lari begitu, ayah saya langsung berdiri dan menghampiri saya dengan tergopoh-gopoh. Beliau bertanya,” Ada apa Nak?” Lalu saya menceritakan semua apa yang terjadi.
Tanpa saya duga-duga, ayah saya malah memandang saya dengan tajam lalu berkata,” Kenapa Elly pulang Nak?”
Saya menjawab bingung, “Takuuut Yah!”
Ayah saya mengangkat tangan kanannya tinggi sekali, menunjuk ke arah istana dan berkata dengan tegasnya, "Ayah bilang Elly balik! Ya, balik ke istana!"
Saya memandang ayah saya dengan rasa takut, heran, bingung, semua campur aduk jadi satu. Yang keluar dari mulut saya cuma, ”Haaah?”
Ayah saya meneruskan perintahnya dengan menundukkan sedikit kepalanya sehingga matanya sejajar dengan mata saya dan mengucapkan kalimat ini, "Ayah lebih suka anak ayah mati ditembak peluru, daripada mati di kamar (sambil menujuk arah kamar tidur saya), digigit nyamuk. Paham Elly? Balik !!!"
Saya berdiri mematung, dan datanglah sang penyelamat, ibu saya tersayang.
Beliau langsung ambil posisi, berdiri di depan saya dan berhadapan dengan ayah saya. Dengan perlahan beliau mengatakan, “Elly, capek Yah. Dan dia lagi ketakutan."
"Dia juga lapar. Juga belum sembahyang, iya kan Nak ?” Tanya-nya pada saya.
Ayah saya langsung duduk dan pelan-pelan berkata: "Yah sudah, makan dan sholat dulu, abis itu balik lagi ke istana!”
Sambil makan ibu saya mendengarkan cerita saya yang menakutkan dan menegangkan. Setelah sholat, ibu saya mendekati saya dan berpesan, "Patuh sama apa yang disuruh ayahmu, balik ke sana tapi jangan sampai ke istana ya. Sampai Pecenongan saja!"
Terharu, mengenang semuanya. Ya Allah sayangilah kedua orangtuaku, sebagaimana beliau menyayangiku dulu. Bukan sekali ayah dan ibu saya mengajarkan saya untuk berjuang bagi kepentingan orang banyak.
Demikianlah cuplikan tulisan Bu Elly Risman, guru saya dan guru dari Bunda Neno Warisman.
Akhirnya, sudahkah kita mengajarkan arti perjuangan kepada anak dan keluarga kita?
Tulisan berikut, saya cuplik dari salah satu guru saya. Karena teramat penting, sempatkan satu menit untuk membacanya.
Inilah kisah beliau.
Suatu ketika, ayah saya pernah mengatakan, setengah memerintah: “Nak ikut tuh berjuang dengan mahasiswa dan pelajar. Apa yang mereka perjuangkan itu benar. Pemudalah yang harus berdiri membela rakyatnya. Waktu ayah muda, ayah berjuang juga melawan penjajah. Sekarang kalian berjuang membela yang benar, bela kebenaran!”
Mulai hari itu, saya yang berusia 14 tahun, bergabung dengan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia).
Tanggal 24 Februari 1966, mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam KAMI dan KAPI melakukan demo di Lapangan Banteng, dengan tuntutan yang sama, TRITURA. Bergerak menuju istana.
Dalam mengendalikan massa, ternyata pihak aparat menggunakan senjata. Terdengarlah letusan senjata api yang kemudian diketahui menembus dada salah seorang mahasiswa. Dan saya berada dalam kerumunan itu.
Lalu, saya berlari, tidak berhenti. Pulang. Setiba di rumah, melihat saya berlari-lari begitu, ayah saya langsung berdiri dan menghampiri saya dengan tergopoh-gopoh. Beliau bertanya,” Ada apa Nak?” Lalu saya menceritakan semua apa yang terjadi.
Tanpa saya duga-duga, ayah saya malah memandang saya dengan tajam lalu berkata,” Kenapa Elly pulang Nak?”
Saya menjawab bingung, “Takuuut Yah!”
Ayah saya mengangkat tangan kanannya tinggi sekali, menunjuk ke arah istana dan berkata dengan tegasnya, "Ayah bilang Elly balik! Ya, balik ke istana!"
Saya memandang ayah saya dengan rasa takut, heran, bingung, semua campur aduk jadi satu. Yang keluar dari mulut saya cuma, ”Haaah?”
Ayah saya meneruskan perintahnya dengan menundukkan sedikit kepalanya sehingga matanya sejajar dengan mata saya dan mengucapkan kalimat ini, "Ayah lebih suka anak ayah mati ditembak peluru, daripada mati di kamar (sambil menujuk arah kamar tidur saya), digigit nyamuk. Paham Elly? Balik !!!"
Saya berdiri mematung, dan datanglah sang penyelamat, ibu saya tersayang.
Beliau langsung ambil posisi, berdiri di depan saya dan berhadapan dengan ayah saya. Dengan perlahan beliau mengatakan, “Elly, capek Yah. Dan dia lagi ketakutan."
"Dia juga lapar. Juga belum sembahyang, iya kan Nak ?” Tanya-nya pada saya.
Ayah saya langsung duduk dan pelan-pelan berkata: "Yah sudah, makan dan sholat dulu, abis itu balik lagi ke istana!”
Sambil makan ibu saya mendengarkan cerita saya yang menakutkan dan menegangkan. Setelah sholat, ibu saya mendekati saya dan berpesan, "Patuh sama apa yang disuruh ayahmu, balik ke sana tapi jangan sampai ke istana ya. Sampai Pecenongan saja!"
Terharu, mengenang semuanya. Ya Allah sayangilah kedua orangtuaku, sebagaimana beliau menyayangiku dulu. Bukan sekali ayah dan ibu saya mengajarkan saya untuk berjuang bagi kepentingan orang banyak.
Demikianlah cuplikan tulisan Bu Elly Risman, guru saya dan guru dari Bunda Neno Warisman.
Akhirnya, sudahkah kita mengajarkan arti perjuangan kepada anak dan keluarga kita?
Video saya di lokasi longsor dan banjir, Garut... banjir setinggi rumah melanda desa, berimbas pada 1000-an warga... tak sampai 1 menit, sempatkan lihat ya...
Dalam beberapa hari terakhir, saya disibukkan penggalangan dana untuk korban banjir dan longsor di Garut. Bersama ACT, tentunya.
Berawal dari penggalangan dana di media-media sosial, berlanjut dengan malam dana di Rolling Stones bersama artis-artis seperti Snada, Rain, Mulan Jameela, Sheila Marcia, Demian, dll.
Kemudian saya bersama ibu dan mertua berkunjung ke Cimacan dan Cijambe, Garut. Di sinilah banjir paling dahsyat menerjang. Bayangkan, banjirnya setinggi rumah.
Tak heran, rumah-rumah pun rata dengan tanah. Puluhan orang tewas. Sebagian lagi belum ditemukan. 1000-an orang terkena dampaknya. Dan ngerinya, ini semua terjadi dalam hitungan menit!
Anak-anak yang kehilangan ayah dan ibunya, membuat hati saya tersentuh. Siapa sih yang nggak? Ibu dan mertua saya bahkan sampai meneteskan air mata.
Saya tak dapat membayangkan kalau itu terjadi pada keluarga saya. Anda dapat membayangkan kalau itu terjadi pada keluarga Anda? Maka, pada kesempatan kali ini saya mengajak teman-teman untuk berbuat. Aksi nyata. Berdoa, bersedekah.
Yang belum donasi, bisa transfer ke BCA 5995 11 0048 a.n Aksi Cepat Tanggap. Yang sudah donasi, boleh juga kembali berdonasi.
Karena dengan bersedekah untuk orang-orang terkena bencana, itu akan menjauhkan kita dari bala dan bencana. Membantu orang-orang susah, itu akan menjauhkan kita dari masalah dan kesusahan.
Garut itu saudara kita. Tak ada bedanya dengan tetangga di sebelah rumah kita. Mari berbuat. Dengan doa. Dengan donasi. Setidaknya, share tulisan ini. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Berawal dari penggalangan dana di media-media sosial, berlanjut dengan malam dana di Rolling Stones bersama artis-artis seperti Snada, Rain, Mulan Jameela, Sheila Marcia, Demian, dll.
Kemudian saya bersama ibu dan mertua berkunjung ke Cimacan dan Cijambe, Garut. Di sinilah banjir paling dahsyat menerjang. Bayangkan, banjirnya setinggi rumah.
Tak heran, rumah-rumah pun rata dengan tanah. Puluhan orang tewas. Sebagian lagi belum ditemukan. 1000-an orang terkena dampaknya. Dan ngerinya, ini semua terjadi dalam hitungan menit!
Anak-anak yang kehilangan ayah dan ibunya, membuat hati saya tersentuh. Siapa sih yang nggak? Ibu dan mertua saya bahkan sampai meneteskan air mata.
Saya tak dapat membayangkan kalau itu terjadi pada keluarga saya. Anda dapat membayangkan kalau itu terjadi pada keluarga Anda? Maka, pada kesempatan kali ini saya mengajak teman-teman untuk berbuat. Aksi nyata. Berdoa, bersedekah.
Yang belum donasi, bisa transfer ke BCA 5995 11 0048 a.n Aksi Cepat Tanggap. Yang sudah donasi, boleh juga kembali berdonasi.
Karena dengan bersedekah untuk orang-orang terkena bencana, itu akan menjauhkan kita dari bala dan bencana. Membantu orang-orang susah, itu akan menjauhkan kita dari masalah dan kesusahan.
Garut itu saudara kita. Tak ada bedanya dengan tetangga di sebelah rumah kita. Mari berbuat. Dengan doa. Dengan donasi. Setidaknya, share tulisan ini. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Doakan ya, kita semua terjaga niatnya. Tetap lurus, tetap tulus. Lillah, itu harus... Saya berada di posisi yang diharapkan contohnya, bahkan harus ada visual dan fotonya... Kata ACT, demi menginspirasi dan menggerakkan teman-teman semua... Niat bisa tergelincir. Sekali lagi, mohon doanya. Terutama buat saya...
Sel-sel otak anak bisa rusak, ketika ia dibentak. Maka, hindari marah-marah ke anak. Kalaupun harus marah, jangan sampai membentak » http://m.jpnn.com/news.php?id=470222
Penelitian-penelitian sudah berkali-kali menjabarkan hal ini. Nabi Muhammad pun tak pernah membentak anak-anak dan cucu-cucunya. Anehnya, sebagian kita masih saja membantah, seolah-olah lebih pintar daripada para peneliti.
Tapi penelitian kan bisa salah! Kalau penelitian saja bisa salah, apalagi pendapat ente, hehehe. Berhentilah berbantah-bantahan tanpa ilmu.
Di keseharian, banyak ayah yang salah paham. Menunjukkan tegasnya dengan membentak anaknya. Padahal itu cuma menunjukkan ketidakmampuan si ayah dalam mengelola emosinya.
Bolehkah selalu tegas? Bolehkah sesekali keras? Ya, boleh. Tapi ingat, tegas dan keras bukan berarti membentak. Beda jauh, bro!
Think!
Penelitian-penelitian sudah berkali-kali menjabarkan hal ini. Nabi Muhammad pun tak pernah membentak anak-anak dan cucu-cucunya. Anehnya, sebagian kita masih saja membantah, seolah-olah lebih pintar daripada para peneliti.
Tapi penelitian kan bisa salah! Kalau penelitian saja bisa salah, apalagi pendapat ente, hehehe. Berhentilah berbantah-bantahan tanpa ilmu.
Di keseharian, banyak ayah yang salah paham. Menunjukkan tegasnya dengan membentak anaknya. Padahal itu cuma menunjukkan ketidakmampuan si ayah dalam mengelola emosinya.
Bolehkah selalu tegas? Bolehkah sesekali keras? Ya, boleh. Tapi ingat, tegas dan keras bukan berarti membentak. Beda jauh, bro!
Think!
1-2 orangtua mendidik anaknya dengan membentak dan memukul. Ternyata kemudian si anak berhasil alias sukses. Tak heran 'cerita sukses' inilah yang digadang ke mana-mana. Seolah-olah membentak dan memukul itu baik.
Padahal berbagai penelitian menunjukkan kecenderungan dan statistik yang sebaliknya. Anak yang sering dibentak dan dikerasi, cenderung akan mendendam. Saya yakin kita pernah melihat anak yang seperti ini.
Selain itu, anak yang dikerasi akan berkurang kecerdasannya dan relatif membenarkan kekerasan terhadap orang lain ketika terjadi masalah. Apakah itu yang kita inginkan pada anak kita dan lingkungan kita?
Bicaralah pakai data dan dalil...
Nabi Muhammad pun tidak menganjurkan kekerasan terhadap anak. Adakah kisah Nabi membentak-bentak anak dan cucunya? Tegas 100% beda dengan keras. Sekali lagi, beda.
Di usia tertentu, anak yang meninggalkan sholat boleh ditepuk salah satu anggota tubuhnya. Untuk sekadar mengingatkan. Bukan menyakiti, bukan menciderai.
Akhirnya, hindari marah-marah ke anak. Kalaupun harus marah, jangan sampai membentak apalagi sampai memukul. Sel-sel otaknya bisa rusak » http://m.jpnn.com/news.php?id=470222
Padahal berbagai penelitian menunjukkan kecenderungan dan statistik yang sebaliknya. Anak yang sering dibentak dan dikerasi, cenderung akan mendendam. Saya yakin kita pernah melihat anak yang seperti ini.
Selain itu, anak yang dikerasi akan berkurang kecerdasannya dan relatif membenarkan kekerasan terhadap orang lain ketika terjadi masalah. Apakah itu yang kita inginkan pada anak kita dan lingkungan kita?
Bicaralah pakai data dan dalil...
Nabi Muhammad pun tidak menganjurkan kekerasan terhadap anak. Adakah kisah Nabi membentak-bentak anak dan cucunya? Tegas 100% beda dengan keras. Sekali lagi, beda.
Di usia tertentu, anak yang meninggalkan sholat boleh ditepuk salah satu anggota tubuhnya. Untuk sekadar mengingatkan. Bukan menyakiti, bukan menciderai.
Akhirnya, hindari marah-marah ke anak. Kalaupun harus marah, jangan sampai membentak apalagi sampai memukul. Sel-sel otaknya bisa rusak » http://m.jpnn.com/news.php?id=470222
Mohon maaf, Magang Online Marketing di kantor saya untuk bulan Oktober, sudah FULL. Sama seperti sebelumnya, langsung FULL begitu diumumkan.
Kapan lagi diadakan? Saya belum berani menjanjikan. Yang jelas, ini memang kesempatan langka dan terbatas. Cuma untuk 20-an orang saja per angkatan.
Kapan lagi diadakan? Saya belum berani menjanjikan. Yang jelas, ini memang kesempatan langka dan terbatas. Cuma untuk 20-an orang saja per angkatan.
Ketika libur...
Ketika weekend...
Baiknya apa yang kita lakukan?
Apakah berleha-leha saja?
Atau ada hal lain?
Saya akan membeberkan beberapa tips, yang kalau diterapkan, insya Allah akan mengubah nasib Anda dalam 2 tahun mendatang.
Coba deh » http://bit.ly/SaatLibur
Ketika weekend...
Baiknya apa yang kita lakukan?
Apakah berleha-leha saja?
Atau ada hal lain?
Saya akan membeberkan beberapa tips, yang kalau diterapkan, insya Allah akan mengubah nasib Anda dalam 2 tahun mendatang.
Coba deh » http://bit.ly/SaatLibur
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Besok pagi jam 4 Ippho Santosa di Metro TV. Tentang semangat perubahan.
Tak sedikit yang bertanya sama saya terkait motivator yang menolak tes DNA dan berhenti tampil di TV? Apakah ia merasa bersalah?
Ini jawaban saya » http://bit.ly/motivatorTV
Ini jawaban saya » http://bit.ly/motivatorTV
Mau memulai bisnis?
Mau membesarkan bisnis?
Mau menjadi penulis?
Mau mengembangkan potensi?
Izinkan saya, Ippho Santosa, membantu Anda secara personal dan detail. Boleh? Insya Allah dalam bentuk coaching yang terdiri dari 3 atau 4 peserta saja.
Kalau Anda mengikuti personal coaching dari yang lain, nilainya bisa puluhan juta rupiah. Ya, puluhan juta rupiah. Terutama kalau si coach sudah 'punya nama' dan benar-benar praktisi. Dulu pun saya dibayar belasan juta rupiah untuk jasa ini.
Cuma, hati saya terasa kurang nyaman. Istri saya juga merasakan hal yang sama. Apalagi sebagian peserta adalah entrepreneur pemula dan pengusaha mikro. Akhirnya saya memilih untuk menyesuaikan biaya (harga), agar lebih terjangkau dan tidak membebani peserta.
Namun, jujur saja, coaching yang solutif itu menguras waktu dan energi. Makanya jarang-jarang saya mengadakannya. Setelah sekian lama vakum, saya akan mengadakannya lagi pada awal Oktober (sore dan malam) di Jakarta. Itu pun untuk beberapa orang saja.
Sekiranya teman-teman berminat, silakan sms 0877-7779-2779 (terkait biaya, jadwal, dll).
Saat kita bepergian menuju suatu tempat, akan lebih baik kalau diarahkan oleh orang yang sudah pernah bahkan sering sampai di tempat tersebut. Right? Demikian pula peran coach dalam mengarahkan seseorang menuju sukses dan lebih sukses...
Klik bit.ly/consultingippho
Mau membesarkan bisnis?
Mau menjadi penulis?
Mau mengembangkan potensi?
Izinkan saya, Ippho Santosa, membantu Anda secara personal dan detail. Boleh? Insya Allah dalam bentuk coaching yang terdiri dari 3 atau 4 peserta saja.
Kalau Anda mengikuti personal coaching dari yang lain, nilainya bisa puluhan juta rupiah. Ya, puluhan juta rupiah. Terutama kalau si coach sudah 'punya nama' dan benar-benar praktisi. Dulu pun saya dibayar belasan juta rupiah untuk jasa ini.
Cuma, hati saya terasa kurang nyaman. Istri saya juga merasakan hal yang sama. Apalagi sebagian peserta adalah entrepreneur pemula dan pengusaha mikro. Akhirnya saya memilih untuk menyesuaikan biaya (harga), agar lebih terjangkau dan tidak membebani peserta.
Namun, jujur saja, coaching yang solutif itu menguras waktu dan energi. Makanya jarang-jarang saya mengadakannya. Setelah sekian lama vakum, saya akan mengadakannya lagi pada awal Oktober (sore dan malam) di Jakarta. Itu pun untuk beberapa orang saja.
Sekiranya teman-teman berminat, silakan sms 0877-7779-2779 (terkait biaya, jadwal, dll).
Saat kita bepergian menuju suatu tempat, akan lebih baik kalau diarahkan oleh orang yang sudah pernah bahkan sering sampai di tempat tersebut. Right? Demikian pula peran coach dalam mengarahkan seseorang menuju sukses dan lebih sukses...
Klik bit.ly/consultingippho
Kembali saya sharing soal rezeki yang tak disangka-sangka. Pagi ini, izinkan saya berbagi satu tips. Tentunya tips yang baru dan berbeda. Boleh?
Simak » http://bit.ly/RezekiTakTerduga
Kenapa nggak ditulis di sini saja? Pengalaman saya membimbing orang selama bertahun-tahun, ada baiknya orang itu diarahkan untuk sedikit berikhtiar atau berusaha, ketimbang disuapi begitu saja.
Adanya ikhtiar atau usaha, walaupun sedikit, itu akan membuat sebuah gagasan (ilmu) membekas di hati dan pikirannya. Maaf, mereka yang selalu disuapi, cenderung menganggap enteng sebuah gagasan (ilmu).
Inilah satu tips tentang rezeki yang tak disangka-sangka. Simak deh » http://bit.ly/RezekiTakTerduga
Simak » http://bit.ly/RezekiTakTerduga
Kenapa nggak ditulis di sini saja? Pengalaman saya membimbing orang selama bertahun-tahun, ada baiknya orang itu diarahkan untuk sedikit berikhtiar atau berusaha, ketimbang disuapi begitu saja.
Adanya ikhtiar atau usaha, walaupun sedikit, itu akan membuat sebuah gagasan (ilmu) membekas di hati dan pikirannya. Maaf, mereka yang selalu disuapi, cenderung menganggap enteng sebuah gagasan (ilmu).
Inilah satu tips tentang rezeki yang tak disangka-sangka. Simak deh » http://bit.ly/RezekiTakTerduga
Jarang-jarang saya baca blog orang lain, hehehe. Tapi kali ini beda, saya baca. Dan isinya bukan tentang saya.
Melainkan tentang seorang PRT alias asisten rumah. Isinya simple tapi memberdayakan. Baca deh » http://difana.com/blog/?p=2356#more-2356
Melainkan tentang seorang PRT alias asisten rumah. Isinya simple tapi memberdayakan. Baca deh » http://difana.com/blog/?p=2356#more-2356