Ippho Santosa - ipphoright
26.1K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Awal Oktober ini, saya senang sekali. Peserta magang internet marketing di kantor saya ternyata berhasil mencetak berbagai output lebih cepat daripada perkiraan saya. Mereka magang sekitar 14 hari.

Sebagian peserta sangat serius. Misalnya, seorang ibu-ibu berhasil meng-closing Rp 8 juta dalam waktu kurang dari 10 hari. Tak sampai 14 hari. Tentunya, dengan ilmu-ilmu yang diajarkan ketika magang.

Tak cukup sampai di situ. Tiga orang peserta berhasil menyundul blog-nya hingga masuk di halaman 3-4 Google. Itu kan keren sekali alias luar biasa. Padahal lazimnya bisa makan waktu berbulan-bulan.

Serunya lagi, mereka semua adalah amatir awalnya. Nggak ngerti soal blog dan SEO sama sekali. Begitu belajar dan pelan-pelan diarahkan, alhamdulillah langsung bisa. Menghasilkan pula.

Sekarang, zamannya internet. Amat sayang kalau tidak bisa melakukan offering produk melalui internet. Punya website saja tidak cukup.

Harus teroptimasi dan muncul di halaman 1-2 Google. Itu artinya, setara dengan beriklan di koran nasional setiap harinya. Atau, berada di konter terdepan di sebuah mall. Gratis pula!

Seru? Banget! Maka belajarlah. Anda siap?
Sejatinya, berbagi itu bukan untuk orang lain. Yang sebenarnya, berbagi itu untuk kita. Ya, untuk kita.

Bukankah berbagi itu mengundang rezeki dan solusi?

Jelas, orang yang diberi memetik manfaat. Namun kita yang memberi memetik manfaat yang jauh lebih besar.

Simak video saya bersama Ust Yusuf Mansur » https://www.youtube.com/watch?v=_xLEeMvdPcE
Tulisan berikut ini penting sekali buat Anda yang karyawan atau punya karyawan.

Hal-hal kecil ternyata bisa meningkatkan motivasi kerja. Pulih. Benar-benar pulih.

Misalnya? Yah, ambil cuti dua hari atau tiga hari. Setidaknya, satu hari. Istilahnya, me-time. Tidak perlu mahal-mahal, tidak harus jauh-jauh. Kaum Hawa bisa memanjakan diri dengan perawatan-perawatan, sementara kaum Adam bisa menjalani hobi-hobinya. Mahal? Tidak juga. Relatif.

Terus, apa lagi? Mengganti suasana makan. Kalau biasanya makan siang di kantin kantor, boleh juga sesekali makan di luar. Tidak apa-apa kalau mungkin agak mahal. Toh sesekali, bukan setiap hari. Jangan lupa, ajak teman-teman keluar bareng untuk menghilangkan penat dan jenuh.

Terus? Pilih bacaan yang menyenangkan dan tidak membuat kening berkerut. Lalu, hindari berita politik, berita kriminal, dan gosip-gosip. Itu semua hanya mengikis mood Anda. Buat apa? Sekali lagi, hindari saja.

Ada lagi? Ada. Simak » http://bit.ly/Semangaaaaat
Orang Indonesia memegang handphone (HP) sekitar 5 jam sehari. Dan sepertiga untuk online.

Kabar baiknya, pasar online Indonesia adalah salah satu yang terbesar dan teraktif sedunia. Hebatnya lagi, pasar sebagus ini bisa dicapai dari laptop dan HP Anda. Sebut saja, internet marketing.
 
Lagian ini tidak sesulit yang Anda bayangkan. Terbukti anak SMP dan SMU bisa melakukannya. Making money. Dan sudah banyak buktinya.

Begini. Awal-awal berbisnis, mungkin kita asal buka dan asal online. Yah, silakan. Namun untuk membesarkan bisnis, kita perlu ilmu dan strategi. Nggak ngasal.

Dengan kata lain, belajar itu harus. Karena, dengan belajar akan terjadi percepatan. Dan sebisanya, belajarlah intens bersama ahli-ahlinya. Mereka yang telah membuktikan.

Menimbang hal ini, saya merasa perlu menghadirkan kelas yang komprehensif. Semacam kelas entrepreneurship untuk siapa saja yang ingin memulai dan membesarkan bisnis, secara online.

Mudah-mudahan bisa mencetak Rp 100 juta pertama. Alhamdulillah, sejauh ini semakin banyak alumni yang membuktikan keampuhan materinya. Bisa langsung menghasilkan.

Di kelas ini insya Allah saya terjun langsung bersama tim, membimbing peserta. Lebih intens. Lebih detail. Dibatasi 20-an peserta saja. Beda dengan seminar biasa.

Apa saja materinya?
- Meriset produk-produk yang laris
- SEO (agar masuk halaman 1 Google)
- Facebook Ads
- Facebook Marketing
- Cuma segini, tapi mendalam.

Mengapa Online Marketing?
- Bisa Dipelajari Siapapun
- Tertarget dan Tersegmen
- Sangat Terukur
- Sangat Murah
- Sangat Mudah
- Bertahan Lama

Berapa lama belajarnya?
- 2 hari training
- 6 hari magang
- totalnya dua minggu

Kapan?
- mulai 27 November
- sampai 4 Desember
- jam 8.30 - 17.00 WIB

Di mana?
Di kantor saya, BSD
(dekat Jakarta)

Siapa yang perlu ikut?
- Pengusaha yang ingin membesarkan usahanya secara online. 
- Pengusaha online yang ingin bisnis dan web-nya teroptimasi.
- Karyawan yang ingin belajar memulai bisnis secara online.
- Ibu rumah tangga yang menginginkan income sampingan.
- Mahasiswa, lulusan SMU, atau SMK.

Syaratnya?
- Usia 15 - 40 tahun
- Punya laptop sendiri
- Bawa modem sendiri
- Bisa bikin email dan akun FB

Biayanya?
Hanya Rp 6 juta. Dan diskon 50% alias cuma Rp 3 juta saja untuk mereka yang mendaftar serta membayar sebelum 28 Oktober.

Biaya tersebut sudah termasuk makan siang (tapi BELUM termasuk sarapan, makan malam, juga penginapan). Sekiranya perlu, kami akan bantu mencarikan penginapan, berupa hotel terdekat atau kos-kosan terdekat.

Soal biaya insya Allah worth it. Bandingkan saja dengan training lain yang biayanya 2X sampai 4x lebih tinggi. Dan kalau kita mendatangi mentor satu per satu, biayanya malah lebih besar.

Ingat, bukan cuma ilmu, di sini peserta juga memperoleh akses langsung ke mentor-mentor terkemuka, yang merupakan pengusaha-pengusaha nasional. Benar-benar kesempatan langka. 

Biaya ini terasa semakin kecil, sekiranya dihitung dampak finansialnya kelak terhadap bisnis Anda dan nasib Anda. Lagi pula, mentornya 100% pengusaha. Teruji.

Pesertanya insya Allah dijamin 100% bisa menghasilkan uang secara online, walaupun sebelumnya tidak punya pengalaman. Jika tidak bisa menghasilkan, investasinya dikembalikan.

Minat? Serius?

-       Transfer BNI Syariah 7777-0909-00 a.n. Ippho D. Santosa

-       Atau BCA 4972-013-777 a.n. Ippho D. Santosa

-       Setelah transfer, SMS 0811-212-9955 dan SMS juga 0815-4333-3600 (SMS, bukan WA, bukan telp)

Sekiranya sudah transfer, silakan SMS konfirmasi pada dua nomor di atas.

Mari sisihkan waktu dan uang untuk belajar. Itu akan mengundang percepatan. Coba-coba sendiri jadinya malah lebih lamaaa dan lebih mahaaal.

Lihatlah pengusaha, profesional, dan motivator zaman sekarang. Muda-muda, sudah sukses. Kok bisa? Karena mereka mau menyisihkan waktu dan uang untuk belajar. Sekarang giliran kita!

Seminggu training dan magang, insya Allah akan menjadi hari-hari yang menentukan atas nasib juga masa depan Anda. Rp 100 juta pertama, insya Allah bukan hal muluk-muluk.

Sekiranya Anda minat, baiknya segera take action (sebelum full).
Orang-orang selalu bilang, masa kecil itu adalah masa yang paling indah. Itu betul. Jadi, ketika Anda berbisnis dan bisnisnya masih kecil, yah nikmati saja masa kecil Anda.

Sekali lagi, nikmati saja masa kecil Anda. Salah satu manfaatnya, Anda dapat mengatur arah perubahan. Ibaratnya kapal kecil. Lebih mudah berbelok tho, ketimbang kapal besar.

Nikmati, inilah salah satu tips dari saya. Namun demikian, jangan salah kaprah ya. Ini semua kudu diiringi dengan upaya-upaya untuk menjadi besar.

Sebab itulah, saya tidak terlalu sreg dengan istilah UKM alias Usaha Kecil dan Menengah. Kecil sih boleh, tetapi jangan mau dicap begitu. Kecil seumur-umur, baru tahu rasa! Kata-kata kan doa!

Cukuplah istilah UKM itu berputar di kalangan perbankan dan pemerintahan saja. Bilamana bisnis Anda masih kecil, sebut saja BBB alias Bisnis Bakal Besar atau Be a Big Brand. Hehehe.

Nah, itu ‘kan lebih memberdayakan! Apa pendapat Anda?
Ketika disuruh sedekah, masih ada yang ngeles "Biar dikit asal ikhlas."

Kebayang kalau malaikat penabur rezeki berkata seperti itu kepadamu, hehehe.
"Punya uang nggak jaminan bahagia." Yeee, apalagi kalau nggak punya uang? Hehehe. Orang kaya tidak pernah menghina atau meremehkan uang. Tapi entah kenapa, sebagian orang miskin malah berkata uang itu tidak penting. Meremehkan.

Aneh? Sangat!

Begini. Uang itu netral. Maka, mari kita maknai secara positif. Misal, dengan banyaknya uang aku bisa membantu keluarga, sesama, dan agama. Jadi kebaikan tho? Ini lebih memberdayakan daripada berpikir 'banyak uang banyak masalah dan akhirnya nggak bahagia'.

Be positive. Termasuk terhadap uang. Itulah pesan saya selama seminar kemarin di Bali dan Lombok. Insya Allah sore ini saya seminar lagi untuk para orangtua di TK Khalifah Lombok. Mohon doanya.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Bayangkan seorang kepala daerah berjilbab tahu-tahu berpidato, "Jangan mau dibodohin pake Injil." Kira-kira gimana respons publik? Saya yakin, hampir semua kelompok akan berang dan meradang, termasuk Muslim.

Umat beragama mana pun merasa itu BUKAN kalimat yang pas dan pantas diucapkan seorang pejabat, berseragam dinas, di depan umum pula. Dan untunglah, kisah di atas cuma fiktif, sekadar komparasi terhadap statement Pak Basuki tentang Surah Al-Maidah 51.

Beliau merasa berhak menafsirkan karena mengaku 9 tahun belajar di sekolah Islam (padahal itu sekolah negeri biasa, bukan sekolah Islam). Terlepas dari itu, selama 9 tahun saya belajar di sekolah Katholik, yang saya pahami, umat Kristiani yang taat dilarang menghina kitab suci agama orang lain.

Demikian pula Islam. Muslim yang taat dilarang menghina sesembahan orang lain (baca QS 6: 108). Saling menghormati. Menahan diri. Sekiranya ini semua diterapkan, betapa damainya dunia ini. Lebih damai daripada Bumi Serpong Damai, hehe.

Terkait Al-Maidah 51 ini, saya sempat bertanya kepada guru saya. Dan inilah jawabannya, "Bukan Al-Maidah 51 saja. Ada juga ayat-ayat serupa, seperti Al-Imran 28, Al-Imran 149 dan 150, An-Nisa 144, Al-Maidah 57, At-Taubah 23, dan Al-Mujadilah 22."

Lalu guru saya melanjutkan, "Sayangnya, segelintir Muslim mencari kisah-kisah darurat untuk membantah ayat-ayat itu. Misalnya, ketika para sahabat meminta perlindungan ke raja non muslim di Afrika. Atau, ketika pengungsi Suriah hijrah ke Jerman dan Belgia, yang artinya siap dipimpin oleh non muslim. Padahal itu semua darurat."

Repotnya, kalau Muslim mengutip Al-Quran dituduh sentimen SARA. Lha, giliran yang lain mengutip Al-Quran dan bebas menafsirkan, dianggap 'inilah demokrasi'.

Kita sama-sama tahu, Al-Quran adalah sumber hukum tertinggi bagi Muslim. Sangat dimuliakan. Kalau diolok-olok? Wajar saja kalau Muslim jadi berang dan meradang, termasuk saya. Apakah selama ini saya sentimen terhadap Pak Basuki? Hehe, insya Allah nggak.

Lihat saja status FB saya selama 5 tahun terakhir. Adakah menjelekkan beliau? Nggak ada. Yang ada malah status saya memuji keharmonisan beliau bersama sang istri. Ada fotonya pula.

Apakah saya SARA? Begini. Saudara-saudara dari ayah saya banyak yang Khatolik. Ada pula yang Hindu. Kami hidup rukun sejak kecil. Tak mungkin saya sentimen terhadap pemeluk agama lain. Islam pun tidak mengajarkan saya bersikap seperti itu.

Salah satu tante saya, seorang aktivis gereja. Dia sayang sama saya. Dan saya pun sayang sama dia. Setiap kali bertemu, saya selalu mencium tangannya, meminta doanya, dan juga mendoakannya. Perbedaan iman tidak menghalangi kami untuk saling menghormati dan menyayangi.

Sekali lagi, apakah saya SARA? Mungkin malah sebaliknya. Sejak 2010, saya sering menulis tentang 'dekatnya' Islam dan China dulunya, baik di nusantara maupun di dunia. Gegara tulisan-tulisan ini, sampai-sampai saya dituduh macam-macam. Hehe, ada-ada saja.

Adapun artikel tentang Pak Basuki kali ini TERPAKSA saya tulis, karena ini soal prinsip. P-r-i-n-s-ip. Saya tahu, sebagian follower saya akan kecewa dengan artikel saya ini. Yah, mau gimana lagi? Saya harap teman-teman semua bisa mengerti dan berempati. Kalau boleh, paragraf pertama dibaca lagi.

Dan saya tidak mau berdebat dengan teman-teman Muslim yang mengabaikan ayat-ayat tertera di atas dan tetap memilih Pak Basuki. Itu hak politik Anda. Sekali lagi, itu hak politik Anda. Saya cuma ingin menyampaikan satu hal. Boleh?

Saya mungkin sama seperti Anda. Mengaku Muslim, tapi jarang sholat on time dan jarang buka Al-Quran. Namun saat Al-Quran diolok-olok bahkan ulama yang mengutipnya dianggap melakukan pembodohan, mestinya hati kita terusik. Ini soal prinsip.

Contoh lain. Anda subuhan tanpa qunut, yang lain berqunut. Tetap saja Anda TIDAK BOLEH berseru 'pembodohan' terhadap mereka yang berqunut. Padahal ini soal khilafiyah. Untuk hal-hal khilafiyah saja, kita sesama Muslim dilarang berseru 'bodoh' apalagi untuk hal-hal prinsip seperti Al-Maidah 51.

Saya pun sedikit lega. Setelah sekian hari bersikeras bahwa dirinya tak bersalah, akhirny
a Pak Basuki mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Karena video versi ringkas dan lengkapnya, isinya sama-sama merendahkan Al-Maidah 51 dan merendahkan ulama-ulama yang mengutipnya.

Yah memang perlu penyesalan dan permintaan maaf. Semoga insiden seperti ini tidak terjadi lagi.

Lantas, bagaimana dengan proses hukum terhadap Pak Basuki? Perlukah diteruskan demi mencegah kejadian-kejadian serupa? Seingat saya, Ibu Rusgiani sempat dipenjara 14 bulan karena menghina agama Hindu di Bali.

Kejadiannya tepat 3 tahun yang lalu, Oktober 2013. Tapi, terus-terang saja, saya ini bukan orang hukum dan setahu saya sudah banyak pihak yang mengurusi itu. Adapun concern saya cuma satu, kemuliaan Al-Quran.

Terakhir, himbauan saya buat seluruh Muslim. Secara hakikat, mungkin kejadian ini teguran buat kita. Lha, kita saja jarang membuka Al-Quran. Itu kan artinya kita kurang menghormati Al-Quran. Kalau kita saja kurang menghormati, gimana mungkin orang lain mau menghormati?

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Yang setuju, bantu share dan forward ya.
Kemarin saya berdiskusi panjang dengan Pak Bohari, salah satu raja properti di Lombok. Beliau juga mitra TK Khalifah di Mataram. Kami bicara soal uang dan kesederhanaan. Kami sepakat, ini adalah topik penting yang selama ini sering diabaikan pengusaha dan karyawan.


Kisah lain...


Dia salah satu artis ternama di negeri ini. Hampir setiap hari dia muncul di TV, selama sekian tahun terakhir. Uangnya banyak. Beli properti secara cash pun dia sanggup. Namun saya terkesan ketika melihat ponselnya. Ternyata iPhone lama. Dan murah tentunya.


Dia salah satu motivator ternama di negeri ini. Chinese. Fee-nya sekali tampil bisa membeli 5 ponsel Samsung yang high-end. Anak-anaknya kuliah di luar negeri. Namun saya terkesan ketika melihat ponselnya. Ternyata Samsung lama. Dan sudah retak layarnya.


Mereka sederhana. Hanya membeli yang perlu-perlu saja. Berbeda dengan seorang motivator pemula. Baru beli jam mahal saja, langsung dia foto, zoom, dan upload ke media sosial. Btw, adalah hak anda untuk memiliki barang mahal. Sah. Tapi kalau anda zoom-zoom seperti itu terus di-upload, maaf, anda terlihat kurang matang.


Saya juga melihat Bu Nur (pemilik Wardah) memilih terbang dengan maskapai biasa, bukan Garuda. Padahal dia adalah triliuner, bukan lagi miliarder. Seorang direksi Kimia Farma, ketika terbang, juga memilih kelas ekonomi walaupun kantornya membolehkan Business Class.


Begini ya. Bukan tak boleh membeli barang mahal. Boleh. Tapi seperlunya saja. Barang Rp1juta, kalau perlu, yah beli. Barang Rp100ribu, kalau nggak perlu, jangan beli. Unta dan pedang Nabi adalah terbaik (Anda boleh lihat salah satu pedangnya di Museum Topkapi). Tapi baju, makanan, dan alas tidur Nabi sangatlah sederhana.


Isa dan Buddha juga memilih gaya hidup yang sangat sederhana. Ingatlah. Kekayaan bukan saja soal menghasilkan uang, tapi juga soal menghemat uang dan mengelola uang. Kita lihat, Mike Tyson dan MC Hammer pernah kaya, namun kemudian bangkrut karena mereka kurang pandai mengelola uang.


Saya, Ippho Santosa, berharap semoga kita semua pandai mendapatkan uang. Juga pandai menghemat uang dan mengelola uang. Semoga berkah berlimpah.
Cintamu pada ulama...
Cintamu pada Al-Quran...

Bukan mustahil akan menyelamatkan dirimu di Hari Akhir.

Cintamu pada politisi duniawi...
Cintamu pada pemikiran liberal...

Mungkinkah menyelamatkan dirimu di Hari Akhir?

Tak perlu dijawab.
Renungkan saja.

Ulama ngomong, dipelototin. Ustadz nangis, dibecandain... Nih orang serasa hidup selamanya...

"Tapi Mas Ippho, kan memang gayanya kayak gitu. Sudah bawaan dari lahir," kilah mereka. Mungkin saja. Namun kalau Anda lihat videonya, jelas sekali orang ini nyolot dan meremehkan ulama.

Saat kita tersesat di sebuah hutan, lalu datanglah orang yang menunjukkan jalan. Seperti itulah peran ulama. Menunjukkan jalan. Bagi kita juga anak-anak kita. Jangan diolok, jangan diremehkan.

Dulu, ketika pemilihan lurah saja, para kandidat berusaha mendekati ulama. Ada yang niatnya kampanye. Ada juga yang niatnya minta ridha dan doa dari ulama. Sekarang? Betapa beraninya mereka mengolok-olok ulama. Ignoran. Arogan.

Gimana dengan Guntur Bumi, Dimas Kanjeng, dan Aa Gatot? Lha, siapa bilang mereka itu ustadz? Boro-boro ulama! Ada yang ustadz, ada yang ngaku-ngaku ustadz. Ini 100% berbeda. Orang yang berakal sehat, tentu bisa membedakan. Kita serahkan saja mereka kepada pihak yang berwajib.

Sekiranya kita belum sanggup mengikuti apa-apa yang dinasehatkan oleh ulama, setidaknya kita diam. Tahan diri. Jangan malah menunjukkan sikap membangkang. Salah-salah, bisa dicabut keberkahan sepanjang hidup kita dan buruk di penghujung hidup kita.

Umur saya sekarang hampir 40. Katakanlah, saya diberi umur sampai 60. Apa artinya? Itu artinya 2/3 badan saya sudah berada di liang kubur. Tanah sudah sampai sedada saya. Lalu, masih beranikah saya petatang-peteteng di hadapan ulama dan Al-Quran?

Mari kita semua saling mendoakan. Semoga bertabur berkah kehidupan kita dan baik di penghujung hidup kita. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kemarin saya diundang oleh Bank Indonesia untuk kesekian kalinya.

Menjadi pembicara itu menyenangkan. Sekaligus menantang. Mungkin Anda pernah mengalaminya di forum-forum kecil atau internal.

Seorang pembicara adalah sosok yang telah melakukan sebelum menganjurkan dan itulah pembicara yang baik. Do, then talk.

Dengan kata lain, bukan sekadar bicara. Lakukan dulu sebelum menganjurkan. Terutama bagi pemimpin. Anda setuju? Saya yakin, Anda setuju.

Nah, begitu dilakukan, maka bicara kita akan lebih berbobot dan bermakna. Bukan sekadar retorika dan permainan kata, yang sering terjadi pada pembicara rata-rata.

Lakukan dulu. Dan pada akhirnya itu akan membawa dampak kepada mereka yang mendengarkan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Bagi teman-teman yang baru bergabung, mungkin ingin mengenal saya lebih jauh. Dipersilakan. Dengan senang hati.

Ini biografi ringkas saya » http://bit.ly/2e9m4cn
"Alhamdulillah, baru belajar 3 hari, blog saya berhasil masuk halaman 3 Google. Ditambah lagi, blog pribadi saya masuk halaman 1 Google, padahal baru dibuat 6 hari. Ini berkat magang Internet Marketing di kantor Pak Ippho."

"Awalnya saya bukan orang yang ngerti internet marketing. Tapi, karena kesungguhan belajar dan bimbingan selama magang, alhamdulillah, ini semua bisa terjadi."

"Bukan itu saja. Saya pun mulai usaha. Bahkan tak sampai seminggu setelah magang, saya menghasilkan uang yang lebih dari biaya magang."

Ini adalah testimoni dari Mas Zakaria. Ia adalah seorang guru biasa, yang kemudian memutuskan ikut magang Internet Marketing di Kantor Ippho Santosa.

Mau ikut magang Internet Marketing di Kantor Ippho Santosa? Biaya normal Rp 6 juta. Promo hanya Rp 3 juta. Yang serius, silakan SMS 0811-212-9955 dan SMS juga 0815-4333-3600 (SMS, bukan WA, bukan telp).
Ini salah satu tulisan saya tentang seminar-seminar saya. Bagi teman-teman yang alumni, saya berharap masukan-masukannya. Silakan buka link di bawah, terus kasih komen.

https://ar-ar.facebook.com/notes/ippho-santosa-tim-khalifah/seminar-motivasi-training-motivasi-buku-motivasi/1186254611432220

Segala masukan yang positif insya Allah membuat saya semakin termotivasi. Sekali lagi, mohon masukan-masukannya. Juga mohon doa tulusnya. Terima kasih ya.
Bukan banyaknya uang yang membuat kita sombong atau malas. Tapi karena kurangnya akhlak. Moral.

Sepenting-pentingnya uang, lebih penting lagi ilmu dan akhlak di balik uang. Tanpa ilmu dan akhlak yang tepat, uang bisa menjadi bencana. Sekali lagi, bencana. Ini sering saya sampaikan dalam konsultasi bisnis.

Dari dulu sampai sekarang, uang tidak pernah membawa masalah. Sekalipun tidak pernah. Yang masalah itu manusianya. Kurang ilmu, kurang moral.

Terkait cara mencari uang, pahami dulu konsekuensi dan risikonya. Kalau memang mau bekerja, yah terimalah konsekuensinya. Uangnya nggak seberapa. Kalau memang mau berbisnis, yah siaplah dengan segala resikonya. Ruginya nggak kira-kira.

Mereka yang tidak berilmu cenderung menyalah-nyalahkan (blame) dan beralasan (excuse) saat keadaan tidak sesuai dengan harapan. Ya, mereka tidak bertanggung-jawab dengan keputusan-keputusan yang telah diambil.

Belajar, berilmu. Niscaya perubahan demi perubahan akan menghampiri hidupmu. Share kalau setuju.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Weekend? Optimis.
Weekday? Tetap optimis.

Seperti bahan bakar, optimis itu memicu semangat dan tekad. Karena itulah, optimis itu sebuah keharusan. Tidak bisa tidak...

Optimis? Pertanda pikiran kita sehat-sehat saja, karena isinya semangat dan baiksangka. Pikiran yang tidak sehat, isinya sampah semua hehehe. Akhirnya, tidak bersemangat dan buruksangka. Ujung-ujungnya, celaka!

Optimis? Saya berani menyimpulkan bahwa ini akan mendongkrak hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Optimisme dan antusiasme akan memaksa kita melangkah, meskipun berat. Demikianlah, kita tetap melangkah, demi masa depan kita, demi orang-orang tercinta...

Optimis! Siap?
Kalau bangun pagi saja beralasan dan bermalasan, apalagi kalau bangun rumahtangga? Hehehe.

Apalagi kalau bangun perumahan. Hehehe.

Mari biasakan bangun pagi. Menyehatkan tubuh. Memudahkan rezeki.

Setidaknya, cobalah 21 hari berturut-turut. Akan menjadi kebiasaan (habit). Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Rezeki itu pasti adanya.

Namun terdapat juga ketidakpastian terkait rezeki (kapan, berapa, di mana, melalui siapa).

Ketidakpastian ini kadang membuat kita stress. Di sisi lain, ini membuat kita sungguh-sungguh dalam berikhtiar dan berdoa.

Penelitian University College London membuktikan bahwa ketidakpastian akan suatu hal, misalnya menunggu sesuatu yang tak jelas kapan datangnya, lebih memicu stress daripada jika kita tahu pasti, bahkan ketika itu hal buruk sekalipun.

"Lebih baik kita tahu penerbangan dibatalkan, daripada tak tahu pasti seberapa lama penerbangan ditunda, dan akan dibatalkan atau tidak," jelas ketua penelitian Dr. Archy de Berker.

"Sama halnya saat kita melamar pekerjaan. Kita lebih santai jika tahu tak mungkin diterima, atau pasti diterima," jelas peneliti lain, Dr Robb Rutledge.

Menyikapi ketidakpastian, di sinilah manusia perlu bertawakal. Berserah diri dan menerima takdir.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.