Ippho Santosa - ipphoright
26.3K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
TERKUAT

Pernah dengar soal Zeus? Di antara para dewa, Zeus kononnya yang TERKUAT. Selama ratusan tahun, bahkan ribuan tahun, itulah kisah yang kita dengar. Saya pernah melihat patung aslinya yang sudah berumur ribuan tahun. Hm, mitos ternyata.

Hercules adalah anaknya Zeus. Lantas, siapa yang lebih kuat, Hercules apa Zeus? Seiring berjalannya waktu, kemudian kita sadar bahwa yang TERKUAT itu bukan Hercules, bukan Zeus. Terus, siapa?

Yang terkuat adalah mereka yang:
- berhasil menundukkan hawa nafsu,
- tetap bersabar walaupun keadaan tidak sesuai dengan harapan,
- mau memaafkan walaupun punya kekuatan untuk membalas,
- mau berbagi walaupun punya kemampuan untuk mengumpulkan.

Rupanya puasa melatih kita untuk bisa seperti itu. Inilah kekuatan sejati. Masya Allah.

Saya pun coba melakukan itu sebisa saya. Terutama soal berbagi.

Belakangan ini, aktivitas saya lumayan padat, diisi dengan zoom event. Boleh dibilang, setiap hari. Kemarin untuk student-student di Turki. Sebelumnya untuk BUMN. Dan seperti biasa, narsum pasti dapat FEE, hehe. Rezeki, alhamdulillah.

Sebelum pandemi, saya sering minta fee saya langsung disalurkan ke lembaga sosial, seperti Dompet Dhuafa (DD). Ketika pandemi, apalagi Ramadhan, semakin mantap menyalurkan 100% ke lembaga sosial. Insya Allah untuk pengadaan APD, masker, dan sejenisnya. Berbagi.

Saya orang biasa. BUKAN pejabat. Belum punya power untuk menggerakkan jutaan orang dan menyalurkan triliuan rupiah. Tapi, saya berusaha berbuat sebisanya. Berbagi. Semoga langkah kecil ini jadi contoh dan inspirasi.

Bismillah.
Bagaimana cara Pak Tung Desem Waringin mengalahkan virus Corona? Sebelumnya beliau pernah dirawat di RS karena positif Corona.

Bagaimana cara Pak Tung mencetak untung Rp 800 juta saat dirawat dan diisolasi di RS?

Apa saja tips-tips bisnis dari Pak Tung menyikapi pandemi seperti sekarang?

Beliau adalah pengusaha, miliarder, dan penulis mega-bestseller seperti Financial Revolution dan Marketing Revolution. Dahsyat-dahsyat ilmunya.

Yang jelas, beliau juga senior, sahabat, dan guru saya.

Yuk kita simak solusi dari beliau. Klik:

https://bit.ly/TDWcorona
Benarkah data PDP di media saat ini? Adakah konspirasi besar di balik wabah ini?

Sudah tepatkah stategi PSBB dan stay at home? Bolehkah keluar rumah? Kalau terpaksa, gimana?

Kapankah Indonesia akan pulih? dr Tirta bersama Ippho Santosa membahas Virus Corona dari A sampai Z.

Simak deh:

https://www.youtube.com/watch?v=WtrVjdEDm_I
Di luar sana, karena bisnisnya terdampak pandemi, sebagian orang sudah:
- Mantab
- Manset
- Matang

Maksudnya:
- Makan tabungan
- Makan aset
- Makan utang

Duh!

Sungguh, saya prihatin. Pada kesempatan kali ini, izinkan saya memberikan nasehat. Boleh?

Begini. Langit tak selamanya gelap, tak semuanya gelap. Sebagian mungkin gelap, tapi sebagian lagi terang kok. Begitu juga dalam bisnis. Ada bisnis-bisnis yang redup ketika pandemi ini, tapi ada juga yang cerah dan berkilau...

Saran saya, jangan gengsi untuk berubah. Ya, berubah. Mungkin dari segi produk. Mungkin dari segi strategi. Mungkin dari segi konsumen. Harga? Kemitraan? Distribusi? Mungkin saja, turut berubah...

Ingat, uang itu tetap ada, sama sekali nggak berkurang jumlahnya. Kalau kita kreatif, go online, dan memperhatikan faktor kesehatan (health-concerned), insya Allah bisnis kita akan tetap bertahan bahkan bertumbuh...

Mohon maaf, hewan saja memiliki kemampuan untuk survive dan sustain. Padahal mereka nggak sekolah, nggak seminar, nggak kreatif, nggak online. Hehe. Manusia? Harusnya lebih. Bukan sekedar bertahan, tapi juga mampu mengeluarkan segenap potensinya.

Itulah yang saya yakini.

Bagaimana dengan Anda? Yakin?
Sebelumnya saya sering membahas soal sedekah. Berkali-kali saya menyampaikan bahwa sedekah itu mengundang solusi. Lantas, gimana dengan sholat? Yang sebenarnya, sholat itu lebih mengundang solusi.

Ya, sekarang coba kita amati dan cermati perintah sholat. Hampir semuanya menggunakan frase ‘mendirikan sholat’ bukan ‘mengerjakan sholat’. Ini tidak main-main. Maknanya sangat mendalam.

Mendirikan memang tidak mudah. Sebut saja, mendirikan bangunan, mendirikan organisasi, atau mendirikan negara. Nggak ada yang mudah, iya kan? Akan tetapi, kalau sudah berdiri, sulit untuk dihancurkan. Umumnya, yah begitu.

Apalagi kita semua tahu, kalau agama itu diumpamakan bangunan, maka fondasinya adalah syahadat dan tiang-tiangnya adalah sholat. Perlu juga dicatat, salah satu makna mendirikan sholat adalah menegakkan nilai-nilai sholat di luar sholat seperti disiplin, mempersembahkan yang terbaik (itqan), dan merasa diawasi oleh Allah (iman).

Inilah PR besar bagi kita semua, karena masih banyak muslim di luar sana yang mengerjakan sholat, belum mendirikan sholat.

Menariknya, mereka yang rutin sholat lebih mudah mengundang pertolongan Allah, daripada mereka yang tidak rutin. Dengan syarat, mereka menjaga diri dan menjauhkan diri dari dosa-dosa besar. Yah, mungkin saja masalah datang silih-berganti, namun mereka yang rutin sholat, didekatkan Allah dengan pertolongan.

Begitu ‘dipancing’ sedikit saja, dengan amal dan ikhtiar, maka pertolongan itu pun bergegas menghampiri. Inilah salah satu fadilah dan manfaat sholat yang jarang orang sadari. Kitab suci pun menegaskan hanya sabar dan sholat sebagai penolong.

3S
Sabar + Sholat = Solusi

Menariknya lagi, sholat juga menjadi salah satu syarat agar perniagaan tidak merugi. Saya ulang, tidak merugi. Hm, Anda-Anda yang pengusaha mungkin protes, “Saya sholat. Tapi kok nyatanya masih rugi?”

Betul, tapi Allah siapkan juga gantinya, entah pada perniagaan itu maupun pada perihal yang lain. Kalau dihitung-hitung, yah tetap untung. U-n-t-u-n-g. Terakhir, sholat juga menyehatkan. Sudah teramat banyak penelitian yang membuktikan hal ini.

Mumpung Ramadhan, mumpung di rumah saja, mari kita perbaiki sholat kita.
Adanya Corona membuat perjuangan dakwah di Amerika semakin menantang. Ya, semakin menantang.

Imam Shamsi Ali bersama Ippho Santosa juga membahas perkembangan pesantren di Amerika, mengapa sebagian orang Amerika tertarik dengan Islam, dan kisah-kisah para muallaf di Amerika. Simak semuanya di channel YouTube Ippho Santosa.

Selama ini, Imam Shamsi Ali dan Ippho Santosa telah menulis dua buku bersama, juga sering mengadakan event bersama. Untuk jelasnya, simak dialog Imam Shamsi Ali dan Ippho Santosa di link berikut ini.

Simak: https://www.youtube.com/watch?v=AltUV2CIbJg
Banyak yang menangis ketika mendengar shalawat ini, masya Allah.

Saya pun sampai terharu. Belasan artis yang merupakan sahabat-sahabat saya akhirnya berkenan membawakan shalawat ini. Dengan kesungguhan.

Ketika awal-awal saya ajak mereka terlibat di project ini, tidak semuanya langsung mengiyakan. Ada yang ragu-ragu juga, karena merasa dirinya bukan vokalis.

Yoyo Padi, misalnya. Sebagai drummer, awalnya beliau sempat menolak. Tapi kemudian beliau memantapkan diri dan jadilah ini rekaman shalawat PERTAMA bagi beliau.

Demikian pula aktor-aktor seperti Ricky Perdana, Mario Irwinsyah, Adhin Abdul Hakim (aktor di film Hayya), dan Cupink Topan (aktor di film Wiro Sableng). Sempat bertanya-tanya mulanya.

Selain itu, ada Natta Reza juga, penyanyi muda yang sering viral dan jutaan follower-nya. Pas sekali ketika beliau menimpali Fadly Padi dan Arie Untung di shalawat ini.

Masih banyak lagi yang lain.

Simak deh: https://m.youtube.com/watch?v=raF60WNY-uI
Makhluk Paling Sibuk Saat Ini...

Selain nakes, mungkin ibu-ibu adalah orang paling sibuk saat ini. Ya, paling sibuk. Sebelum pandemi, mereka sudah sibuk. Ketika pandemi, mereka makin sibuk. Kok bisa? Selain ngurusin rumah dan rumahtangga, mereka juga ngurusin anak-anak yang sekarang seharian di rumah. Betul apa betul?

Saya pun salut sama ibu-ibu yang mengelola bisnis dari rumah. Di antara mereka ada yang membuat lauk-pauk, bumbu dapur, atau cemilan. Lalu menjualnya. Ini bukan saja bagus, tapi juga mengagumkan. Soalnya, urusan nafkah sebenarnya BUKAN tanggung-jawab dia, tapi tetap saja dia lakukan demi membantu suami.

Silakan, silakan. Insya Allah itu kegiatan yang sangat positif, ketimbang berbulan-bulan di rumah hanya dipakai untuk menonton drama Korea dan film India, hehehe. Tapi, izinkan saya memberitahu alternatif lain yang insya Allah lebih ringan dan lebih menghasilkan. Boleh?

Misal, kita punya waktu produktif 8 jam sehari. Pilihan pertama, 4 jam dihabiskan untuk membuat atau memproduksi sesuatu, lalu 4 jam berikutnya dihabiskan untuk memasarkan. Pilihan kedua, 8 jam FULL dihabiskan untuk memasarkan saja. Mana yang lebih ringan dan lebih menghasilkan?

Kemungkinan besar adalah pilihan yang kedua. Terus, yang bikin produknya siapa? Kita bisa di-supply oleh vendor luar yang memang punya keahlian, pengalaman, dan kapasitas produksinya sudah berskala besar (otomatis, biayanya rendah tuh). Tugas kita memasarkan saja. Ini akan lebih ringan (nggak sibuk) dan lebih menghasilkan.

Saya tahu, sebagian kita akan merasa puas kalau berhasil membuat produk sendiri, lalu merancang merek sendiri. Seru rasanya. Yah boleh-boleh saja. Pilihan tho? Tapi, coba pikirkan yang barusan saya sampaikan. Memproduksi sendiri, itu akan sangat melelahkan, makan waktu, dan makan biaya. Jujur ya, itu ribet.

Saran saya, bagi teman-teman yang ingin cashflow cepat dan nggak terlalu capek, lebih baik fokus saja di pemasaran. Jangan salah, showroom Toyota, dealer Yamaha, dan toko iPhone juga fokus di pemasaran. Mereka nggak memproduksi dan merakit sama sekali. Tetap keren kok.

Tulisan saya mungkin agak menyinggung perasaan sebagian orang. Tapi insya Allah ada benarnya kok. Think. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga bermanfaat. Sekali lagi, think.
PHK & SOLUSINYA

Imbas dari pandemi, inilah yang terjadi di Tanah Air.

Produsen sepatu Adidas? PHK 2.500 karyawan.

Matahari Departement Store? Menutup seluruh gerainya secara nasional.

Ramayana? Merumahkan seluruh karyawan tokonya.

McDonald's Sarinah Thamrin? Tutup selamanya.

Ya, saat ini gelombang PHK tengah terjadi. Menurut Kementerian Ketenagakerjaan, sekitar 3 juta pekerja telah terdampak. Dari jumlah itu, lebih dari 2 juta pekerja datanya sudah valid bahwa mereka dirumahkan dan PHK. Sedangkan sekitar 1 juta pekerja sisanya masih menjalani validasi data.

Belum lagi karyawan yang gajinya dipotong 50% dan THR-nya ditiadakan. Ini benar-benar terjadi.

Terus, apa respons saya? Mungkin inilah saatnya Anda jadi entrepreneur, jadi pengusaha. Nggak susah kok.

Saran pertama dari saya, cobalah go online. Kedua, temukan produk yang mudah dan murah dikirim secara nasional (nggak harus produksi sendiri). Ketiga, temukan mentor yang teruji dan terbukti. Keempat, temukan prospek dan kumpulkan database. Kelima, mulailah menawarkan.

Apa tujuannya? Ini semua demi mengurangi resiko kegagalan dan mempercepat hasil usaha.

Enam-tujuh tahun terakhir, memulai usaha tidak sesulit yang kita bayangkan. Tidak harus punya toko, ruko, dan baliho. Punya ponsel saja sudah cukup, untuk seorang pemula. Yang penting, mau belajar dan mau diajar. Ini kayaknya sepele, padahal nggak. Karena ini sangat menentukan arah dan perkembangan ke depannya.

Begini. Anda tidak harus bermitra dengan saya. Anda boleh bermitra dengan siapa saja. Asalkan lima langkah di atas diterapkan benar-benar.

Happy action!
14% YANG MENENTUKAN

Rasio jumlah entrepreneur atau pengusaha di Indonesia saat ini baru sekitar 2 sampai 3 persen dari total penduduk. Idealnya, menurut pemerintah dan APINDO, adalah 14 persen agar bisa mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Di kesempatan berbeda disampaikan, syarat untuk menjadi negara maju ialah jumlah entrepreneur harus 14 persen atau lebih. Jelas, perlu diadakan percepatan dan kemudahan, agar pelaku bisnis di Tanah Air bisa meningkat kuantitas dan kualitasnya.

Menurut Global Entrepreneurship Index 2018, empat negara dengan posisi teratas adalah Amerika (US), Swiss, Kanada, dan Inggris (UK). Indonesia? Di posisi 94, bahkan masih kalah dengan Rwanda dan Ghana.

Bagaimana dengan tahun 2019? Lima teratas adalah US, Swiss, Kanada, Denmark, dan UK. Indonesia? Alhamdulillah membaik, di posisi 75, walaupun masih kalah dengan Vietnam dan Maroko. Suka atau tidak, itulah kenyataannya.

Tahun 2020? Berbeda dengan pesimisme yang ditunjukkan oleh mayoritas ekonom, saya justru menduga akan terjadi ledakan entrepreneurship di Indonesia pada tahun ini. Gelombang PHK memang menghempas sebagian orang jadi pengangguran. Tapi sebagian lagi insya Allah jadi entrepreneur.

Saran saya, “Sebisanya jangan lagi jadi job seeker, tapi jadilah job creator.” Bukan lagi mencari lapangan kerja, tapi membuka lapangan kerja. Saat ini, itulah yang sangat mulia dan sangat dibutuhkan. Serius!

“Nggak punya modal!” itu alasan klasik mereka. Padahal mungkin tidak sampai seperti itu juga. Maaf, untuk jualan pakai gerobak di pinggir jalan saja, modalnya bisa Rp 3 juta sampai Rp 5 juta. Orang-orang pada bisa kok.

Apa iya uang Rp 1 juta Anda benar-benar nggak punya? Hati-hati kalau bicara, jadi doa tuh. Saran saya, berhentilah beralasan.

Yang saya yakini, saat Anda jadi entrepreneur atau pengusaha, maka Anda jadi solusi bagi diri Anda, keluarga Anda, juga bangsa Anda.

Pada akhirnya, jadilah entrepreneur!
Bolehkah wanita berbisnis? Apa saja syaratnya?
Apa saja kelebihan dan kekurangan woman-preneur?
Apa saja tantangan dan peluang bagi woman-preneur?
Bagaimana bisnis tetap bertumbuh dengan WFH?
Bagaimana kalau orangtua dan suami tidak mendukung?

Temukan jawabannya di zoom seminar ini!

Pembicara:
- Ippho Santosa, Penulis 7 Keajaiban Rezeki
- Ratu Anandita, Mom-Preneur & Aktivis Dakwah

Walaupun jarang dipublikasikan, seminar ini sudah berkali-kali kami adakan dan selalu FULL. Judulnya ‘Ketika Wanita Berbisnis’.

Biasanya peserta membayar HTM sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu. Kali ini, kami gratiskan. Ya, kami gratiskan.

Ini Ramadhan. Dan lagi pandemi. Kami ingin berkontribusi lebih banyak dan lebih sering. Karena itulah kami gratiskan.

Yang minat, WA 0811-1360-177. Seat hampir habis.

Di seminar ini sama sekali TIDAK ADA penawaran buku, seminar lanjutan, training lanjutan, atau peluang usaha. Sama sekali tidak ada.

Daftar sekarang!
Awal Maret 2020, ketika pemerintah mengumumkan dua orang positif terinfeksi virus Corona, satu Indonesia langsung geger. Padahal saat itu angkanya cuma dua orang. Sekarang? Belasan ribu orang! Anehnya, kebanyakan kita sekarang merasa tenang-tenang saja. Sepertinya itu dianggap wajar-wajar saja.

Dalam konteks berbeda, sebenarnya ini juga terjadi dalam bully dan caci-maki. Ketika Anda pertama kali di-bully, Anda mungkin merasa drop dan down. Sedih, kecewa, atau marah. Tapi, saat Anda sudah mengalami ribuan kali bully dan caci-maki, Anda akan lebih mampu dalam mengendalikan emosi. Nggak reaktif.

Demikian pula dalam bisnis. Ketika Anda pertama kali mengalami kegagalan, kemungkinan Anda merasa drop dan down. Tapi, saat Anda sudah menghadapi kegagalan, penolakan, bahkan kebangkrutan berkali-kali, Anda cenderung lebih mampu dalam mengendalikan perasaan dan tindakan. Nggak reaktif.

Begitulah. Seiring berjalannya waktu, manusia memang dirancang untuk mampu mengendalikan diri dan beradaptasi. Salah satu mitra saya, ketika pertama kali mengalami penolakan, kepalanya langsung keliyengan dan tensinya langsung naik. Tapi, itu dulu. Sekarang? Alhamdulillah dia merasa lebih tenang. Santai.

Prediksi saya, setelah Lebaran, akan lebih banyak pengusaha yang terbiasa dengan pandemi. Mereka akan kembali menjalankan roda usahanya seperti semula walaupun dengan berbagai penyesuaian. Bahkan karyawan pun akan diminta untuk WFO, nggak WFH lagi. Toh kehidupan tetap berjalan.

Mungkin ini yang dimaksud Presiden Jokowi ‘berdamai dengan Corona’.

Begini. Menurut saya, nggak mungkin kita berdiam diri selama berbulan-bulan, hanya menunggu rilisnya obat atau vaksin Corona. Mustahil. Bersama-sama kita harus mencari cara untuk tetap aktif dan produktif, tanpa mengabaikan faktor kesehatan dan keselamatan. Betul apa betul?

Saya dan mitra-mitra saya nggak terlalu masalah dengan WFH, karena sejak dulu yah kami sudah begitu. Tapi, tidak semua orang seperti kami. Sebagian besar orang memang perlu keluar rumah untuk mendapatkan nafkah, meluaskan manfaat, dan menyalurkan potensi. Sekali lagi, kehidupan tetap berjalan.

Benarkah prediksi saya? Hm, kita lihat saja setelah Lebaran.
MORAL in MARKETING

Orang-orang sampai kaget ketika saya mengeluarkan statement resmi, "KURANGI KONSUMSI SUPLEMEN." Tentu saja kita perlu suplemen, terutama bagi orang-orang yang pola makannya belum sehat dan masih sering bepergian. Tapi, jangan juga konsumsi suplemennya berlebihan.

Jujur, omset suplemen saya meningkat di Maret dan April yang lalu (Mei juga). Alhamdulillah. Saya pun berusaha meng-evaluasi. Ternyata tidak sedikit konsumen yang meng-konsumsi suplemen saya 3X sehari, bahkan lebih. Yang 5X juga ada...

Yes, Corona Effect. Mungkin karena takut, panik, bingung, atau untuk jaga-jaga. Ada juga karena tidak tahu. Terus-terang di Maret saya juga begitu. Meng-konsumsi 3X sehari. Untuk jaga-jaga...

Dengan ini, izinkan saya mengabarkan sesuatu apa adanya. KALAU teman-teman 100% #DiRumahAja dan tidak sakit, cukup konsumsi #BritishPropolis 1X sehari. Ya, 1X sehari. Kalau sering keluar, kalau lagi sakit, boleh konsumsi 2X sehari. Cukup...

Serius, saya TIDAK INGIN orang-orang meng-konsumsi berlebihan, entah itu suplemen saya atau suplemen manapun, karena faktor takut (fear). Walaupun itu 100% aman, tidak ada efek samping, dan sudah dijamin oleh BPOM...

Bagi saya, bisnis BUKAN semata-mata soal omset dan profit. Ada nilai-nilai yang lebih besar daripada itu. Moral salah satunya. Saya yakin teman-teman sesama entrepreneur juga setuju dengan saya...

"Mas Ippho nggak kuatir omsetnya berkurang?" Ada yang nanya begitu. Saya cuma senyum...

Blak-blakan saja, saya tetap ingin omset saya meningkat. Ya, meningkat. Manusiawi tho? Tapi BUKAN karena faktor takut, melainkan karena semakin banyaknya orang-orang yang melek kesehatan dan pelan-pelan meng-konsumsi suplemen...

Kata guru saya, "Ketika satu pintu tertutup, percayalah, pintu-pintu lain terbuka... Uang mungkin terbatas, tapi #rezeki itu luas dan rahmat-Nya tanpa batas... Terus, buat apa kita cemas dan waswas?"

Kalau burung dan lebah saja dijamin rezekinya, apalagi kita. Padahal burung dan lebah tidak pernah sekolah, tidak pernah seminar, tidak bisa Instagram, tidak bisa Zoom. Yakinlah. Rezeki itu luas. Rahmat-Nya tanpa batas. Teman-teman yakin?

Ingat, yakin itu mempengaruhi 50% hasil...
Happy Ending

Kali ini kita membahas soal Itqan. Tepatnya, berusaha mempersembahkan hasil yang terbaik. Coba Anda cermati dan amati nama-nama Allah. Semuanya serba superior. Semuanya serba ultimate. Iya kan? Sebut saja, Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha Mengetahui, dan lain-lain.

Tidak ada yang biasa-biasa saja atau sedang-sedang saja. Maka sudah sepantasnya, manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya dan makhluk pilihan-Nya juga berusaha untuk mempersembahkan hasil yang terbaik. BUKAN biasa-biasa saja, BUKAN sedang-sedang saja.

Ingatlah, itqan itu melampaui TQM alias Total Quality Management. Itqan itu bekerja dengan teliti, hati-hati, sepenuh hati, bermutu tinggi, dan sulit disaingi. Itulah itqan. Hm, mungkin ada baiknya paragraf ini Anda baca ulang. Biar lebih meresap.

Semua orang maklum, akhir hidup hendaknya khusnul khotimah. Right? Demikian pula dengan akhir pekerjaan sehari-sehari, hendaknya juga khusnul khotimah. Happy ending. Dengan kata lain, apa-apa yang sudah dimulai, pastikan selesai. Se-le-sai.

Mirip-mirip ibadah umrah. Ini kan ‘cuma’ ibadah sunnah, bukan ibadah wajib. Menariknya, kalau sudah dimulai, yah harus selesai. Kalau tidak selesai, yah kena denda (dam). Sekali lagi, mari kita persembahkan hasil yang terbaik. Entah kita sebagai karyawan, pengusaha, mahasiswa, ibu rumah tangga, atau siapa saja.

Bagaimana? Siap? Ayolah, nggak perlu ragu-ragu, jawablah seruan saya, “Siap!”
PHK 7 Juta

Bukan hal yang mengejutkan lagi, sebagian karyawan mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan dirumahkan tanpa tanggungan akibat pandemi ini. Berapa jumlahnya? Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat, ada 7 juta karyawan.

Data ini jauh lebih besar ketimbang data yang dirilis oleh pemerintah.

"Yang dirumahkan atau dicutikan di luar tanggungan perusahaan (unpaid leave), itu kondisinya mayoritas. Tapi kalau yang di-PHK, jumlahnya relatif lebih kecil," ungkap Ketua Umum (Apindo) Hariyadi Sukamdani kepada CNBC Indonesia, Mei 2020.

Ingat. Ini baru di bulan April dan Mei, keadaannya sudah seperti itu. Ke depan, bukan mustahil angkanya melonjak dengan sangat signifikan. Ada juga karyawan yang mengalami pemotongan gaji 50% hingga 60% dan ini relatif sulit untuk terdata.

Lantas, apa solusi dari saya? Selain berhemat, saran saya berikutnya adalah melakukan check-up finansial. Hitung tabungan Anda. Periksa aset-aset Anda, baik yang aset likuid maupun aset tak bergerak.

Lalu tentukan aset mana yang harus direlakan lebih dahulu kalau-kalau dibutuhkan. Tolong diingat, aset-aset yang ‘berkualitas’ hendaknya tetap dipertahankan sebisa-bisanya.

Bagaimana dengan mencari pekerjaan tambahan atau pekerjaan pengganti? Silakan saja. Ini bagian dari ikhtiar. Tapi saya lebih menyarankan Anda untuk memulai usaha yang bisa dilakukan dari rumah dan ditawarkan secara online. Yah, ada banyak yang bisa Anda jual. Misal, bumbu dapur, katering, snack, kue, minuman, atau sejenisnya.

Cari yang tahan lama. Boleh dibikin kering atau dibekukan.

Saya pribadi lebih menyarankan pemula untuk TIDAK memproduksi. Lebih baik habiskan 100% waktu produktif Anda untuk menawarkan dan memasarkan. Percayalah, ini akan lebih ringan dan lebih menghasilkan. Biarkan pengusaha lebih berpengalaman yang memproduksi barangnya untuk Anda.

Menjual suplemen adalah sesuatu yang sangat saya anjurkan. Selain menyehatkan dan sangat diperlukan saat ini, suplemen juga hemat space, hemat ongkir, dan tahan lama. Begitu habis dalam 3 atau 4 minggu, konsumen akan repeat order lagi.

Selanjutnya, hindari utang konsumtif. Kalaupun terpaksa berutang, pastikan Anda mampu membayarnya. Kita sama-sama tahu, porsi utang yang sehat adalah 30% dari penghasilan. Misal, penghasilan Anda Rp 6 juta, maka utang Anda tidak boleh lebih dari Rp 2 juta.

Maaf, ke depan keadaan ekonomi kita bisa begini-begini saja atau lebih buruk. Maka, persiapkan diri kita. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Jadilah seperti air, kata Bruce Lee. Maksudnya, luwes dan mau beradaptasi. Yang menarik, inilah salah satu ciri otak kanan, yaitu luwes dan mau beradaptasi...

REZEKI bukan berada di kantor. REZEKI bukan berada di toko. Rezeki bisa DATANG dari mana saja. Yang penting, kita mau beradaptasi, mau menyesuaikan diri...

Bisnis online, bisa. Bisnis rumahan, bisa. Jadi distributor, bisa. Jadi agent, bisa. Macam-macam. Nggak harus keluar rumah. Nggak harus ke toko...

#DiRumahAja tapi tetap produktif. WFH tapi tetap menghasilkan. Ini bukan wacana, bukan rencana. Sudah banyak yang membuktikan ini. Bisa kok...

Dan sepertinya, pandemi ini belum berakhir dalam waktu singkat. Lebih baik kita BERADAPTASI, baik dalam kegiatan sehari-hari maupun dalam mencari nafkah...

Kenapa dinosaurus bisa punah padahal sangat besar dan sangat kuat? Mayoritas penelitian menunjukkan bahwa dinosaurus enggan beradaptasi...

Kita? Insya Allah beda. Mau beradaptasi. Siap?
Jepang relatif berhasil mengatasi pandemi, setidaknya membuatnya terkendali.

Status darurat Corona telah dicabut!

Apa sih rahasianya? Ternyata 3C dan tradisi. Setidaknya, itu yang mencolok dan terpantau oleh media.

Begini. Kita membahas ini yah agar jadi bahan pembelajaran dan solusi. Buat bangsa kita, setidaknya buat keluarga kita. Simak ya.

Hindari "3 C" yaitu:
- closed space atau ruang tertutup
- crowded place atau tempat ramai
- close contact atau kontak dekat

Gimana dengan tradisi? Mereka mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang higienis dan sistem kesehatan yang amat kondusif.

Di antaranya, kebiasaan melepas sepatu kala masuk ruangan tertentu dan menunduk alih-alih berjabat tangan. Secara umum, ini lebih sehat.

Kalau masker? Mereka sudah terbiasa dengan masker sejak lama. Saya pribadi sudah 6 kali ke Jepang. Saya melihat, sebagian masyarakatnya memang terbiasa dengan itu ketika berada di simpul-simpul keramaian.

Kita juga dapat melihat fenomena itu di komik dan film mereka. Orang-orang yang bermasker, bukan sesuatu yang asing.

Selain itu, pemerintah juga konsisten dengan aturan-aturannya dan masyarakat pun patuh terhadap pemerintahnya. Jadi, sinkron satu sama lain.

Ada baiknya hal-hal ini kita terapkan sebisa kita. Ya, sebisa kita. Pada akhirnya, semoga pandemi segera berlalu dan keadaan pulih seperti sebelumnya. Aamiin.
MOBIL IMPIAN

Benarkah sebagian mitra-mitra saya berhasil beli mobil? Apa saja yang mereka lakukan sehingga akhirnya bisa beli mobil? Izinkan saya menyampaikan semua apa adanya.

Begini. Mereka sebenarnya orang biasa. Sama seperti saya, orang biasa. Boleh dibilang belum terlalu lama kami bermitra. Yang jelas, kami saling mendukung satu sama lain. Berjuang bersama. Bertumbuh bersama. Bahkan travelling bersama.

Sekian lama bermitra, saya pribadi BELUM ADA nambah mobil atau ganti mobil. Tapi nggak masalah. Mitra-mitra? Malah beli. Demi Allah saya senang dan bangga sekali melihat mitra-mitra punya mobil baru. Ya, mobil baru. Saya pun terharu.

Kalau teman-teman kepo, siapa saja mereka, silakan lihat IG saya. Terpajang foto-foto mereka. Bukan hoax. Nyata, insya Allah.

Alhamdulillah, mereka berhasil membeli mobil pertama mereka (rata-rata, ini mobil pertama mereka). Hm, apa sih tips-tips-nya? Sebenarnya, nggak ada tips yang terlalu istimewa. Saya yakin siapapun bisa menduplikasi dan mengikuti.

Selain didukung faktor produk dan faktor mentor, mereka juga teachable dan berusaha keras mewujudkan impian orang-orang di sekitar mereka. Nggak egois, nggak selfish. Walhasil impian mereka malah dimudahkan. Tercapai.

Menurut saya, sikap mereka ini sangat mulia. Berorientasi pada kepentingan orang lain. Nggak heran Allah menghadirkan impian-impian mereka satu per satu. Alhamdulillah. Kami pun bersyukur. Benar-benar bersyukur.

Kita doakan ya, semoga kendaraan-kendaraan yang Allah titipkan ke kita bisa digunakan untuk berbagai kebaikan di jalan-Nya. Aamiin. Yang belum punya, semoga segera punya. Motor, punya. Mobil, juga punya. Aamiin.

Saran, kalau teman-teman lagi mencari peluang usaha (BO) atau kemitraan bisnis, pilih BO yang memprioritaskan kepentingan mitra-mitranya. Jangan sampai sudah sekian tahun bisnisnya berjalan, yang makmur cuma founder. Mitra-mitra cuma dapat remah-remah.

Saat ini, teliti sebelum membeli, insya Allah adalah sikap yang tepat dan bagian dari hati-hati.