Ippho Santosa - ipphoright
25.9K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Seminar saya segera hadir:

Juli 2019
22, Bali, 0813-3719-0467
27, Depok, 0895-3060-3097
28, Serang, 0821-2473-3873

Agustus 2019
03, Bekasi, 0858-4254-4454
04, Karawang, 0857-5001-0297

Semua seminar konsepnya non-profit dan non-sponsor. Pembicara pun tidak dibayar. Kalau ada HTM (tiket), itu semata-mata untuk menutupi biaya operasional. Yang serius, silakan WA panitia setempat.
Alkisah di sebuah sawah, terjadi percakapan dua ekor burung.

A: Itu manusia apa orang-orangan sawah?

B: Sepertinya manusia. πŸ™‚πŸ™‚πŸ™‚

A: Tau dari mana?

B: Ya tau aja. 😏😏😏

A: Taunya dari mana?

B: Kalau manusia, punya impian. Selain manusia, nggak punya impian. Gitu ☺☺☺

Sedemikian uniknya manusia. Dia bisa memiliki impian, bahkan bisa memperjuangkan impiannya. Maaf, yang lain nggak bisa. Malaikat saja tidak bisa memiliki impian. Unik tho?

Meraih impian memang tidak mudah. Kadang kita gagal, ditolak, dan ditertawakan.

Pesan saya, "Saat impianmu ditertawakan atau diremehkan orang, sebenarnya itu adalah isyarat. Ya, isyarat bahwa impianmu layak diperjuangkan. Bayangkan kalau nanti impianmu terwujud, pastinya semua orang akan terinspirasi, termasuk mereka yang pernah mentertawakan dan meremehkan."

Sekali lagi, meraih impian memang tidak mudah. Dalam prosesnya, nanti akan tersaring dan terbedakan. Mana manusia yang bertipe berlian, mana manusia yang bertipe kerikil. Yang lemah, mudah lelah, dan mudah menyerah akan tersingkir dengan sendirinya. Inilah manusia tipe kerikil.

Apapun impian teman-teman, selagi itu kebaikan, saya turut mendoakan. Semoga berkah berlimpah. Aamiin.
Weekend kemarin saya ngumpul sama mitra-mitra saya. Kita ngumpul di Jakarta dan Surabaya, alhamdulillah. Di hadapan mereka saya bicara soal harta dan penafkahan. Menurut saya, saat mencari nafkah, ada semacam gas dan rem.

Dunia, termasuk harta, boleh dinikmati. Yang penting, jangan berlebih-lebihan dan jangan bermegah-megahan. Pesan saya, "Jangan tabu dengan harta. Jangan pula lebay sama harta." Kurang-lebih begitu.

Jika Anda punya uang Rp 1 triliun, bukan berarti setelah bersedekah sebesar 60%, Anda bebas menggunakan sekitar 40% seenaknya. Uang sebesar Rp 400 miliar, ini jumlah yang nggak main-main. Harus ada pertanggung-jawaban. Kepantasan. Kewajaran.

Boleh-boleh saja menikmati dunia. Tapi, sekali lagi, dengan kepantasan dan kewajaran. Tidak berlebih-lebihan dan tidak bermegah-megahan. Lihatlah sejarah. Kurang kaya apa Umar dan Usman di zamannya? Tapi mereka memilih untuk hidup sederhana.

Contoh, Anda membeli Volvo seharga hampir Rp 750 juta dengan tujuan keamanan pribadi dan keluarga. Itu sah-sah saja. Seorang kepala negara memakai sedan anti peluru seharga puluhan miliar dengan tujuan keamanan negara. Sama, itu pun sah-sah saja. Soal fungsi tho, bukan soal emosi.

Tapi kalau Anda memesan mobil khusus berinterior emas atau mengoleksi belasan mobil (koleksi pribadi ya, bukan untuk bisnis), kemungkinan itu bagian dari berlebih-lebihan dan bermegah-megahan. Israf. Sayangnya, kita masih menyaksikan fenomena semacam ini di sejumlah keluarga kaya.

Contoh lain. Anda membeli handphone berbasis satelit seharga 20-an juta dengan tujuan kemudahan kerja di hutan atau di pertambangan, itu sah-sah saja. Soal fungsi tho, bukan soal emosi. Tapi kalau Anda membeli handphone berlapis emas, kemungkinan itu bagian dari berlebih-lebihan dan bermegah-megahan.

Satu hal yang saya kagumi dari mitra-mitra saya adalah kesederhanaan mereka.

Soal uang, mereka punya. Nah, kalau barang-barang branded, mereka nggak terlalu suka. Tapi kalau untuk sedekah dan umrah, mereka tidak segan-segan mengurangi saldonya. Paling banter, sesekali mereka jalan-jalan ke luar kota. Menikmati dunia bersama keluarga.

Demikianlah. Boleh menikmati dunia. Tapi, dengan kepantasan dan kewajaran. Tidak bermegah-megahan. Tetap sederhana, itu lebih baik. Anda setuju? Saya harap begitu.
Teman-teman yang mau ber-partner dengan saya, besok dan lusa saya (Ippho Santosa) membuka kesempatan. Mulai besok, silakan WA ke 0812-8777-7100. Semoga kita berjodoh dalam bisnis ya...
Hampir semua barang, kalau kita tawarkan, bisa terjual. Ya, bisa terjual. Namun, tentu saja kita menolak untuk menjual barang yang tidak legal dan tidak halal. Kita hanya mau menjual barang yang legal dan halal.

Pesan saya buat pemula, "Selagi legal dan halal, yah jajal." Akan tetapi, cukupkah sekedar legal dan halal saja? Ternyata nggak juga. Alangkah baiknya kalau kita menjual sesuatu yang sarat manfaat. Bukan sekedar manfaat.

Sebagai orang beriman, ketika berbisnis kita menginginkan nilai tambah, selain uang. Izin ya, saya jelaskan soal ini lebih lanjut. Sebut saja, kita mau keselamatan. Kita mau keberkahan. Kita mau pahala. Betul apa betul?

Karena itu, ditegaskan kembali, "Cobalah menjual barang yang sarat manfaat." Bukan sekedar manfaat. Dengan kata lain, halal saja tidak cukup. Legal saja tidak cukup.

Sebagai penutup, sekiranya teman-teman mencari produk yang sarat manfaat, profit yang lumayan, dan bimbingan yang berterusan (dari saya dan para mentor), silakan WA ke 0812-8777-7100. Insya Allah kita bisa bermitra.

Sebagai gambaran, sejak Sabtu sampai Kamis (hari ini), saya mengalokasikan waktu produktif saya untuk membina mitra-mitra. Di Jakarta, Surabaya, dan Bali. Memang saya tidak menjamin kesuksesan, namun sebisanya saya berusaha membina mitra-mitra agar sukses.

Tapi ini cuma alternatif saja. Misalnya Anda sudah punya produk yang sarat manfaat dan sudah punya mentor yang sangat teruji, yah abaikan saja penawaran kemitraan dari saya ini. Semoga Anda sukses dengan bisnis Anda.

Mudah-mudahan berkah berlimpah!
Saya berusaha mendorong mitra-mitra saya untuk bertumbuh.

Yang pasti, di bisnis ini kita bukan sekedar bermitra, tapi juga bertumbuh sama-sama. Insya Allah. Silakan cek IG saya. Terlihat di sana, bagaimana saya rutin membina dan mendampingi mitra-mitra di berbagai kota. Alhamdulillah.

Di bisnis ini kita mengembangkan dan memasarkan sebuah produk. Bukan MLM. Apa saja kelebihannya?
- modalnya tidak sampai Rp 1 juta
- marginnya sangat lumayan
- balik modalnya cepat
- repeat order-nya tinggi
- ongkirnya sangat murah
- standarnya internasional
- ratusan mitra sudah terbukti sukses

Kalau Anda bergabung hari ini:
- gratis ongkir
- bonus DVD

Minat? WA segera 0812-8777-7100.

Semoga kita berjodoh dalam bisnis ya.
Bisnis kecil atau bisnis besar, bagi kita, capeknya sama. Mending besarin aja sekalian.

Bisnis kecil atau bisnis besar, bagi Allah, mudahnya sama. Mending besar aja sekalian.

Miliaran rupiah sebulan! Targetkan seperti itu!

Inilah yang saya ajarkan ke mitra-mitra saya. Bukan sekedar impian. Bukan sekedar target. Tapi saya tunjukkan juga panduan action untuk setiap harinya.

Alhamdulillah, kami (saya dan mitra-mitra) baru pulang dari Singapore. Sebelumnya, melalui bisnis ini, kami pernah jalan-jalan ke Bali, Raja Ampat, Thailand, dan Jepang.

Menurut saya, Allah itu Maha Besar dan Maha Kaya. Adalah wajar kalau kita bercita-cita besar dan kaya. Buat apa kita tanggung-tanggung? Saya pun bersyukur punya mitra-mitra yang bercita-cita besar dan mau berjuang bersama.

Saya harap teman-teman juga menemukan mitra-mitra yang mau berjuang bersama. Semoga berkah berlimpah!
Pahala berlapis, pernah dengar istilah ini?

Bayangkan saat kita berusaha membantu seseorang, sehingga orang itu akhirnya mampu memberi gizi terbaik untuk keluarganya dan memilih sekolah terbaik untuk anak-anaknya. Kalau ini terjadi, insya Allah kita akan memetik pahala berlapis.

Bayangkan saat kita berusaha membantu seseorang, sehingga orang itu akhirnya mampu memilih fasilitas kesehatan terbaik untuk orangtuanya dan membiayai umrah keluarganya. Kalau ini terjadi, insya Allah kita akan memetik pahala berlapis.

Mungkinkah itu terjadi? Mungkin saja.

Bagaimana caranya? Ketika Anda mengajarkan ilmu bisnis dan ilmu penafkahan pada seseorang, sehingga pada akhirnya dia mampu:
- menafkahi keluarga
- memberi gizi terbaik untuk keluarga
- memilih sekolah terbaik untuk anak
- memilih RS terbaik untuk orangtua
- membiayai umrah sekeluarga
- membantu sesama

Sekali lagi, ketika Anda mengajarkan ilmu bisnis dan ilmu penafkahan pada seseorang. Saya sudah melihat fenomena ini pada dua teman saya. Namanya Mr Joss dan Diaz Adriani. Yang satu pendiri komunitas Pengusaha Penghafal Al-Quran (PPQ). Satunya lagi pendiri komunitas Muslimah Millionaire (MM).

Melalui dua komunitas ini, alhamdulillah sudah ratusan orang menjadi pengusaha dan terbantu penafkahannya. Benar-benar terbantu. Mungkin mereka tidak menyangka, tapi itulah nyatanya. Insya Allah mereka sudah mencetak pahala berlapis dan amal jariyah.

Saya pribadi berusaha meraih pahala berlapis dengan membuka kesempatan kemitraan. Maaf, kalau sekedar jualan, lewat mana saja yah bisa. Misalnya, bisa saja saya menitipkan produk-produk suplemen saya di toko-toko besar yang khusus menjual suplemen.

Tapi saya tidak melakukan itu. Sengaja saya membuka kesempatan kemitraan dengan modal terjangkau agar para pemula bisa memulai usahanya dan terbantu penafkahannya. Soal untung (profit), tentu saya mau. Siapa sih yang nggak mau? Hanya saja, saya berusaha mengantongi untung dengan menguntungkan orang banyak.

Demikian pula yang dilakukan oleh Mr Joss dan Diaz Adriani selama ini. Kita doakan ya, semoga berkah berlimpah perniagaan mereka. Aamiin.
Weekend yang lalu, saya seminar di tiga titik. Kedutaan Malaysia, Karawang, dan Bekasi. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Sebenarnya kalau mau santai, saya cukup duduk-duduk saja di rumah. Nggak harus seminar.

Toh soal rezeki sudah ada dari sumber-sumber yang lain, alhamdulillah. Tapi ini soal kebermanfaatan dan amal jariyah. Kata guru saya, manusia diukur dari manfaatnya, bukan dari harta-bendanya.

Bagi saya pribadi, mungkin lebih tepat disebut, ngumpulin amal. Apalagi mengingat umur saya sudah 40 tahun lebih.

Sekitar 80% seminar saya konsepnya non-profit. Dalam artian, saya tidak dibayar. Kalaupun ada tiket yang dijual, itu untuk menutupi biaya operasional panitia dan sewa tempat. Kalau ada lebihnya? Yah buat sedekah.

Nggak dapat uang, tapi saya tetap bersemangat. Kenapa? Begini. Jarang orang tahu, ketika Anda mengajarkan ilmu bisnis dan ilmu penafkahan pada seseorang, insya Allah Anda akan memetik sesuatu yang sangat berharga, namanya pahala berlapis. Kok bisa?

Karena dengan ilmu bisnis itu, dia mampu menafkahi keluarga, memberi gizi terbaik untuk keluarga, memilih sekolah terbaik untuk anak, memilih rumahsakit terbaik untuk orangtua, membiayai umrah sekeluarga, bahkan membantu sesama.

Segala kebaikan itu, Anda punya andil. Dengan kata lain, Anda-lah yang menjadi wasilah dan perantara-nya. Pahala berlapis tuh. Saran saya, "Sedikit atau banyak, ajarkan ilmu bisnis kepada orang-orang di sekitar kita."

Akhir bulan nanti, saya bersama Diaz Adriani insya Allah akan mengadakan seminar 'Muhammad Sebagai Pedagang' di Pejaten. Berbagai rahasia dan tips bisnis dari Nabi Muhammad, insya Allah kami sampaikan di sini.

Teman-teman mungkin beda profesi dengan saya. Nggak masalah. Tapi soal kebermanfaatan dan amal jariyah, saya pikir ini concern semua orang, apapun profesinya apapun posisinya. Mari sama-sama kita ikhtiarkan. Siap?
Sekarang adalah bulan ke-8 pada tahun ini. Itu artinya sekitar 2/3 dari target setahun, harusnya sudah tercapai pada bulan ini. Ya, harusnya sudah tercapai. Nah, ada baiknya masing-masing kita melakukan evaluasi.

Evaluasi, buat apa? Ingat, hanya sesuatu yang terukur yang bisa ditingkatkan.

Target, prestasi, dan produktif adalah kata-kata yang dipopulerkan oleh manusia-manusia modern. Sah-sah saja. Dan kita mau nggak mau harus welcome dengan kata-kata ini. Juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saran saya, untuk mencapai target, masing-masing kita hendaknya menajamkan kefokusan. Saat kita fokus, energi terkumpul di situ dan pastilah terjadi sesuatu. Sebaliknya, saat kita tidak fokus, energi terpecah ke berbagai arah. Jadinya yah lemah.

Saya bersyukur sekali, melalui komunitas bisnis yang saya rintis, alhamdulillah saya berhasil mengantarkan puluhan orang income-nya membaik. Benar-benar membaik. Puluhan juta sebulan.

Tentu, ini tidak terjadi pada semua partner. Biasanya hanya terjadi pada partner-partner yang fokus. Contohnya partner-partner saya seperti Iwan, Naning, Arda, Tanto, Dayat, dan Malina.

Serunya lagi, ketika Anda fokus, hasilnya akan membesar dan kesibukan Anda akan berkurang. Sebaliknya, ketika Anda tidak fokus, hasilnya akan mengecil dan kesibukan Anda akan bertambah.

Fokus ini rumus yang simple. Saking simple-nya, banyak orang yang tidak percaya. Saya harap Anda termasuk segelintir orang yang percaya pada rumus ini. Percayalah, kalau serius dan fokus, hasilnya pasti bagus. Ini adalah rumus.

Siap?
Mungkin teman-teman sudah tahu bahwa salah satu bisnis saya adalah supplement. Tapi yang saya banggakan kali ini adalah distributor-distributornya, bukan produknya. Mereka ini adalah partner-partner saya.

Kenapa saya bangga sama mereka? Begini. Mereka ini sebenarnya adalah pesaing satu sama lain. Tapi hebatnya, mereka tidak pernah berpikir begitu. Sebaliknya, mereka malah saling bantu dan saling mendoakan, layaknya sahabat bahkan saudara. Inilah ekosistem yang terbangun selama ini.

Di mana-mana saya selalu bilang, "Bisnis yang masif manfaatnya dan positif ekosistemnya, layak diperjuangkan." Walaupun bisnis itu sesekali rugi, pertahankan. Ya, pertahankan. Apalagi kalau ternyata bisnis tersebut untung dan potensinya besar. Harus benar-benar dipertahankan serta diperjuangkan.

Saran saya, jangan sekedar berbisnis. Soal halal, itu sih sudah standar. Sebagai tambahan, cari bisnis yang ekosistemnya positif. Di mana lingkungan dalam bisnis itu membuat kita tambah dekat sama keluarga, tambah dekat sama agama, dan tambah peka terhadap sesama.

Indah tho? Sangat indah insya Allah.

Bisnis yang hanya bicara soal rupiah adalah bisnis yang murah, bahkan murahan. Kita orang beriman harus berpikir lebih daripada itu. Ada keberkahan. Ada ekosistem yang positif. Ada manfaat yang masif. Kalau sudah begini, insya Allah bisnisnya akan 'menjaga' kita. Selamat dunia akhirat.

Dalam perjalanan menuju Kuala Lumpur, saya sempat merenung, "Hidup adalah pilihan." Maka, selagi bisa memilih, pilih bisnis yang bisa 'menjaga kita'. Kalau belum dapat, yah cari. Proaktif. Jangan diam begitu saja. Siap? Semoga ujung-ujungnya hidup kita berkah berlimpah. Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan.
Kalau Anda ingin pergi ke suatu destinasi dan Anda belum pernah sampai di destinasi tersebut, ada baiknya Anda didampingi oleh tour guide atau sejenisnya. Dengan adanya tour guide, resmi atau tidak resmi, kemungkinan besar Anda bisa mencapai destinasi itu dalam waktu yang lebih cepat.

Bukan itu saja, Anda pun akan diberitahu spot-spot terbaik (terindah) di destinasi tersebut. Misalnya pekan lalu, ketika saya berada di Cameron Highland bersama partner-partner, kami dijamu dan dipandu oleh pengusaha hebat Coach Nick bersama tim. Alhamdulillah, perjalanan yang sangat menyenangkan dan sangat berkesan.

Dalam bisnis, ini juga terjadi. Namanya mentor. Dia adalah sumber ilmu.

Masih soal mentor. Di seminar-seminar sering saya sampaikan bahwa Nabi Muhammad saja punya mentor. Ini beneran. Untuk urusan bisnis, yang menjadi mentor adalah pamannya. Untuk urusan agama, yang menjadi mentor adalah Malaikat Jibril.

Boleh dibilang, mentor adalah pihak yang bisa membimbing kita menuju impian kita, karena dia lebih dahulu mencapainya dan dia bisa mengajarkan cara-cara untuk mencapainya. Hm, apakah ini penting? Bukan saja penting, tapi sangat penting!

Ada orang yang bisa mencapai, namun tidak bisa mengajarkan. Sebaliknya, ada orang yang bisa mengajarkan, namun belum pernah mencapai. Ini dua hal yang berbeda. Dan kedua-duanya perlu. Kalau cuma salah satu, yah kurang optimal proses mentoring-nya.

Sekiranya kita harus mengorbankan waktu dan uang demi mendekati sang mentor, yah keluarkan saja. Saya pun begitu, dari dulu sampai sekarang. Hasil akhirnya, malah menghemat waktu dan uang saya. Karena saya tahu persis, coba-coba sendiri jauh lebih lama dan jauh lebih mahal.

Pada akhirnya, belajarlah. Cari ilmu. Cari mentor. Dengan menerapkan ilmu dari seorang mentor yang ahli dan bijak, mudah-mudahan nasib kita akan lebih baik. Ya, lebih baik. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ketika sibuk mencari nafkah, hindari mengeluh. Itu hanya mengurangi keberkahan rezeki dan mengundang murka Sang Pemberi Rezeki. Bayangkan Anda diberi kue oleh seseorang, tapi Anda berkeluh-kesah tiada henti tentang kue tadi. Tentu saja, si pemberi kue itu sakit hati. Apa mungkin kue Anda ditambahi? Mana mungkin ini terjadi!

Lagi pula, mengeluh juga melemahkan otak dan tubuh. Jadinya gampang sakit. Tak cukup sampai di situ, si pengeluh juga mengusir orang yang baik-baik (karena muak mendengar keluhannya) dan menghimpun orang yang jelek-jelek (si pengeluh lainnya, katanya sih curhat). Parahnya lagi, apa yang Anda keluhkan malah semakin menjadi-jadi. Memburuk.

Ingat, sibuk beraktivitas adalah fitrahnya manusia. Maka dari itu, syukuri perniagaanmu. Syukuri pekerjaanmu. Syukuri kegiatanmu.

Sekiranya Nabi Adam tidak mengambil buah khuldi, apa yang akan terjadi? Masihkah ia, istrinya, dan seluruh keturunannya tetap menghuni surga? Nggak juga. Cepat atau lambat, ia akan take off dari surga dan landing di bumi. Dari berbagai ayat kita mengetahui bahwa Nabi Adam akan berdinas di bumi sebagai khalifah. Sibuk beraktivitas. Sebagai pemimpin. Sebagai pemakmur.

Perhatikan baik-baik. Sewaktu berdiam di surga, Adam tidak beroleh gelar khalifah. Namun sewaktu menjalani aktivitas dan rutinitas di bumi, barulah ia beroleh gelar khalifah. Memang, hidup di bumi itu penuh perjuangan. Yah begitulah fitrah manusia selagi ia masih hidup. Berikhtiar. Berjuang.

Ibaratnya kapal, memang aman dan nyaman saat diam bersandar di dermaga, tapi BUKAN untuk itu kapal dibuat. Sebuah kapal sejati dirancang untuk membelah ombak bahkan menerjang badai. Berikhtiar. Berjuang. Right?

Sekali lagi, syukuri perniagaanmu. Syukuri pekerjaanmu. Syukuri kegiatanmu. Kalau boleh, sampaikan tulisan ini kepada tim Anda dan keluarga Anda. Niatkan untuk mengingatkan mereka.

Di Surah Ar-Rahman, kalimat 'nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan' diulang sampai 31 kali. Kenapa diulang berkali-kali? Ini seruan kepada manusia untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Janganlah mendustakan. Ini menurut Syaikh Amru Khalid.

Menurut Imam As-Suyuthi pula, pengulangan itu untuk memantapkan pemahaman manusia tentang bersyukur. Wong sudah diulang 31 kali saja, kita masih mengeluh, apalagi kalau nggak diulang? Akhirnya, bersyukurlah. Semoga hidup kita semakin berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kalimat-kalimat yang populer, belum tentu benar.

Sering dianggap benar, padahal belum tentu benar.

Orang-orang menganggapnya benar karena mayoritas orang menyebut-nyebutnya dan melakukannya. Semacam ikut-ikutan. Boleh dibilang, ada Bandwagon Effect di sini.

"Terima aku apa adanya!" Ini sebenarnya kalimat yang salah dan berbahaya. Itu artinya kita nggak mau belajar, nggak mau bertumbuh.

Kalau Nabi Yusuf atau Nabi Sulaiman yang ngomong begitu, yah pantes. Wanita pun bisa menerima dengan senang hati. Wong prianya jelas-jelas ganteng, kaya, pinter, soleh, dan penuh wibawa.

Lha kalau kayak kita-kita ini? Yah nggak pantes ngomong begitu. Sama sekali nggak pantes. Banyak hal yang perlu kita perbaiki. Saran, carilah pasangan yang siap belajar dan siap bertumbuh.

"Saya nyari istri yang mau diajak hidup susah!" Ah, niat awalnya aja nggak bener. Udah susah, terus ngajak-ngajak orang lagi, hehehe.

Kalaupun sekian tahun kita hidup susah bersama pasangan, yah nggak apa-apa. Jalani. Tapi niat kita saat hendak menikahi adalah untuk membahagiakan. Bukan ngajak hidup susah. Hei, jangan main-main. Setiap kata adalah doa dan menjadi semacam rel yang mengarahkan langkah-langkah kita.

So, pilih kata-kata yang tepat dan memberdayakan. Siaaaap? 😎😎😎
Saya bukan pengusaha yang paling sukses.

Saya bukan entrpreneur yang paling senior.

Tapi, selama ini orang-orang sering bertanya sama saya soal bisnis. Konsultasi. Saya pun berusaha menjawabnya. Alhamdulillah banyak yang merasa terbantu. Dan inilah yang saya lakukan selama 10 tahun terakhir.

Seperti biasa, saya selalu ngomong blak-blakan dan to the point. Saran dan solusi dari saya kadang pahit. Tapi insya Allah mensolusikan. Cuma, sebagian orang nggak mau jawaban yang mensolusikan. Mereka lebih suka jawaban yang menghibur.

Sebenarnya itu nggak seberapa.

Terhadap partner-partner, jujur saja, saya lebih saklek lagi. Right to the point. Yang nurut, yang manut, alhamdulillah banyak yang melesat pertumbuhan bisnisnya. Biasanya begitu. Saya bisa tunjukkan bukti-buktinya.

Terlepas dari itu, saya pun bersyukur belakangan ini semakin banyak orang yang berminat untuk ber-partner dengan saya, alhamdulillah. Karena keterbatasan yang saya miliki, kesempatan ber-partner ini saya buka jarang-jarang. Yang terdekat adalah Kamis ini. Yang minat, silakan ya.

Adapun teman-teman yang sudah punya bisnis dan sudah punya mentor (pembimbing), abaikan saja kesempatan ber-partner ini. Fokus saja pada bisnis Anda. Lalu kita saling mendoakan saja. Boleh?

Terakhir, sekiranya kita ada masalah, fokuslah mencari jawaban yang mensolusikan. Bukan jawaban yang menghibur. Karena kita semua berharap jalan keluar dan kenyamaan untuk jangka panjang kan? Bukan sesaat.

Apapun bisnis dan kesibukan teman-teman, mudah-mudahan berkah berlimpah.
Bisnis yang praktis itu seperti apa?

Kemarin saya ngumpul bareng partner-partner. Ada Kak Diaz dari Jakarta, Kak Marida dari Bogor, Mbak Malina dari Yogya, dan Teh Teni dari Sukabumi. Ramai dan seru, alhamdulillah. Kami saling belajar satu sama lain. Kalau boleh, di sini saya akan share sedikit percakapan kami semalam. Tentang bisnis yang praktis. Ternyata ada ciri-cirinya.

Namanya bisnis tidak harus produksi sendiri. No production, istilahnya. Saran saya, "Fokus saja pada penjualan. Karena, untuk menjalankan proses produksi yang efisien dan menguntungkan perlu modal dan pengalaman yang lumayan. Kalau pemula? Biasanya belum sanggup."

Setelah no production, terus apa lagi? No operational. Jangan sampai waktu kita tersita di operasional. Sekali lagi, fokus saja pada penjualan. Ini akan berdampak langsung pada penghasilan (income). Dan jangan pula setiap bulan kita harus membayar gaji karyawan, sewa tempat, dan listrik-air. Iya kalau laris. Kalau nggak laris, gimana cara membayarnya?

Kemudian, saya menyarankan barang yang delivery-able. Ringan di ongkir, tidak terkendala di berat dan size. Jangan pula yang mudah pecah. Sebaiknya pilih produk yang kecil ukurannya tapi nilai jualnya tinggi. Syukur-syukur mudah disimpan, nggak nyita space.

Gimana dengan kualitas? High quality, saran saya. Pastikan kualitasnya nilai 8 atau 9, sehingga manfaat dan khasiatnya berbicara dengan sendiri. Konsumen pun, tanpa diminta, akan memberikan testimoni. Bisa viral, bisa nyebar. Ya, memang lebih baik kalau konsumen yang berbicara ketimbang penjual.

High repetition adalah saran saya yang berikutnya. Cari produk yang harus dibeli ulang oleh konsumen dalam mingguan atau bulanan. Ini akan membantu kita dalam hal cahsflow. Ingat, mencari-cari konsumen baru mengharuskan cost 6 kali lebih tinggi. Adalah menyenangkan kalau konsumen yang ada repeat order dengan sendirinya, mingguan atau bulanan.

Terakhir, high Margin. Minimal marginnya 25%. Itu minimal. Bukan karena kita kemaruk. Bukan. Justru kita ingin bagi-bagi keuntungan kepada reseller, dropship, dll. Kalau margin hanya 10%, gimana bagi-baginya? Rada repot.

Inilah ciri-ciri bisnis yang praktis. Dan insya Allah sangat bermanfaat buat pemula.
Dulu, gajinya cuma satu jutaan. Ya, satu jutaan. Profesinya SPG. Berangkat sebelum subuh, pulang malam-malam. Jalan kaki sekian kilometer, demi menghemat biaya transport PP. Sudah begitu, keluarganya pun berutang dan dia yang harus mencicilnya.

Sampailah kemudian dia coba-coba jualan. Ngambil barang dari tempat A, terus dijual di tempat B, C, dan D. Dia tekuni itu. Bahkan dia mengajak ibu-ibu lainnya untuk ikut jualan, tanpa harus mengurusi produksi dan operasional.

Yang terjadi selanjutnya adalah keajaiban. Benar-benar keajaiban.

Bukan saja berhasil jadi pengusaha, dia juga berhasil mencetak orang-orang jadi pengusaha. Saat ini, lebih dari 1000 orang yang partner-partner-nya. Bahkan partner-partner-nya, diajak liburan ke Jepang, Singapura, Malaysia, dan berumrah. Masya Allah.

Siapa namanya? Diaz Adriani, namanya. Sampai hari ini, dia rutin berbagi ilmu di komunitasnya. Tentang apa? Macam-macam. Selain tentang memulai dan membesarkan bisnis, dia juga sering berbagi ilmu tentang melunasi utang.

Saran saya, bagi teman-teman yang memiliki utang, segera cicil utangnya. Kalau belum bisa 100%, yah 10% dulu. Yang jelas, harus ada kesungguhan dalam melunasi utang. Sembari itu, perbanyak sedekah, istighfar, dan memohon ampun. Percayalah, ini semua akan mengikis utang.

Lari dari kenyataan, lari dari tanggung-jawab, lari dari si pemberi utang, ini sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Yang ada malah menambah masalah. Pada akhirnya, yang masih berutang, saya doakan, semoga segera lunas utangnya. Aamiin.