Ippho Santosa - ipphoright
26K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Yuk nobar #Spiderman. Lihat penjelasannya di IG saya ๐Ÿ˜€
Ulama itu pembawa cahaya. Sekiranya kita sungguh-sungguh memuliakan ulama dan berusaha dekat dengan ulama, bukan mustahil kelak salah satu keturunan kita akan jadi ulama. Insya Allah.

Sabtu kemarin, untuk kesekian kalinya saya berjumpa dengan Ustadz Adi Hidayat. Tepatnya, di acara Nussa Rara, ICE-BSD. Banyak selebriti yang hadir di sana dalam rangka menuntut ilmu seperti Nagita Slavina, Chacha Frederica, Ferdy Hasan dll.

Alhamdulillah, Sandiaga Uno turut hadir. Dengan rendah hati, beliau duduk sebagai jamaah, mendengar ceramah Ustadz Adi sampai selesai. Namanya belajar kan harus. Nggak pandang status.

Setelah ceramah, di belakang panggung Ustadz Adi juga mengetes hafalan anak-anak. Menjelang pulang, #UstadzAdiHidayat sempat bertemu Annisa Posan (istri AHY) dan memberinya nasehat.

Tak terasa air mata saya menetes ketika mendengar ceramah dan nasehat beliau.

Orang-orang seperti saya ini, disebut santri aja nggak pantes, apalagi disebut ustadz. Tapi saya berusaha mengenal ustadz-ustadz lebih dekat. Berharap ilmu. Berharap nasehat. Berharap didoakan.

Sampai detik ini saya rutin ikut kajian minimal dua kali seminggu, di berbagai tempat. Sudah sekian tahun. Saran saya, apapun profesi kita dan posisi kita, sempatkan hadir di kajian. Setidaknya sekali seminggu. Insya Allah dampaknya bagus sekali buat kehidupan kita.

Keep on learning. Kata guru saya, "Mereka yang sungguh-sungguh dengan ilmu dijamin tidak fakir." Kok bisa? Ya bisa, karena ilmu itu cahaya, fakir itu gelap. Nggak bakal bertemu kedua-duanya!

Learn, then you earn. Kalau belajar, rezeki akan lebih mudah untuk dikejar. Dan lihatlah, agama memerintahkan kita untuk mencari ilmu, bukan menunggu ilmu. Maka, sudah semestinya kita mengalokasikan waktu dan menjadwalkan diri untuk mengikuti forum-forum ilmu seperti seminar, training, dan kajian.

Saya harap teman-teman setuju dengan saya.
Ada orang yang berutang sama Anda?

Betapa sering hati kita sesak hanya karena orang lain menyakiti hati kita atau berutang pada kita. Anda pernah mengalami?

Padahal, kalau hati lapang, rezeki juga turut lapang. Maka, miliki hati yang memaafkan.

Orang yang berutang pada kita, orang yang menahan hak kita, jangan dipikirkan berlarut-larut. Ini hanya membuat hati kita sesak.

Terus, baiknya? Ingatkan dia. Tagih tiga kali. Kalau tidak berhasil juga? Mulailah melupakan dan memaafkan.

"Ah, nggak semudah itu!"

Mungkin itu jawaban Anda. Memang nggak mudah. Siapa bilang mudah? Tapi, percayalah, ini dahsyat dampaknya. Keajaiban demi keajaiban menanti di ujung sana. Coba saja.

Cara pikir saya begini. Kalau memang hak kita, pasti akan kembali ke kita. Gimanapun caranya. Kalau nggak nyampe-nyampe ke kita, mungkin itu memang bukan hak kita. Think!

Memutihkan utang, itu lebih utama daripada bersedekah.

Yuk praktek! Semoga berkah berlimpah!
Donasi kami tak seberapa. Tapi kami berusaha berbuat. Ya, berbuat.

London School bersama British Propolis menggelar bakti sosial di Bekasi, alhamdulillah.

https://www.instagram.com/p/BzhmLP8lmKK/?igshid=r8thm5b4kb6j

Mohon doa dari teman-teman semua, semoga kegiatan positif seperti ini semakin membudaya di Indonesia. Dan keikhlasan si pemberi tetap terjaga...
Melangkah maju sepertinya mudah. Tapi bagi sebagian orang, tidak mudah juga.

Saat sholat berjamaah, ada beberapa orang yang enggan maju ke shaf di depannya walaupun itu kosong. Padahal pahala di depan lebih besar. Kok enggan? Mungkin karena sudah nyaman dengan sajadahnya, tempatnya, dan apa-apa yang ada di dekatnya.

Diam dan tetap di sana, dipikirnya itu lebih baik.

Dalam sehari-hari, ini juga sering terjadi. Acap kali kita gagal melangkah maju karena merasa terlalu nyaman. Padahal, kalau kita mau melangkah dan mau berpindah, mungkin kita mendapatkan sesuatu yang lebih baik dan lebih besar. Betul apa betul?

Keberanian memang sulit dipelajari. Lazimnya didapatkan dari pergaulan dan pengalaman. Keberanian, inilah yang membuat orang mau melangkah dan mau berpindah. Termasuk dalam dunia usaha.

Pada akhirnya, sampaikan tulisan ini kepada mereka yang belum berani memulai usaha. Mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini, mereka berani maju ke depan, satu shaf sama Anda, berjamaah sama Anda. Bermitra, istilahnya.

Semoga berkah berlimpah!
25-27 Juli insya Allah saya (Ippho Santosa) membuka kesempatan bermitra buat teman-teman semua.

Bagi yang berminat, catat tanggalnya ya. Mudah-mudahan jadi wasilah untuk sumber rezeki yang berkah dan berlimpah.

Aamiin.
Semalam saya seminar di Cirebon. Sebelumnya di Bandung.

Dengan tema 'Muhammad Sebagai Pedagang' saya dan kawan-kawan menyelenggarakan seminar ini. Non-profit. Non-sponsor. Yah, nggak masalah. Yang penting, pesan-pesan Rasulullah tentang entrepreneurship bisa kami sampaikan ke khalayak.

Dan inilah saran saya kepada entrepreneur. Mulailah berbisnis semuda mungkin. Mumpung lagi semangat-semangatnya. Mumpung lagi berani-beraninya. Mumpung ada banyak waktu. Mumpung masih sedikit tanggungan.

Yang saya lihat, tingkat semangat dan tingkat keberanian si muda, memang rada beda dengan senior-seniornya. Beneran, beda! Belum lagi, ketika muda, Anda punya banyak waktu untuk menghabiskan 'jatah gagal'. Ini sepertinya sepele, padahal nggak.

Dan jangan salah. Di Era Digital seperti sekarang ini, berbagai kemudahan ada di ujung jari kita. Boleh dibilang, smartphone adalah aset strategis yang bisa menghasilkan uang, TANPA HARUS keringatan, TANPA HARUS bepergian, TANPA HARUS punya ruko.

Ibu-ibu walaupun dasteran, bapak-bapak walaupun sarungan, bisa menjalankan bisnisnya sendiri. Cukup dari rumah saja. Right? Ini benar-benar kemudahan di Era Digital yang belum pernah kita rasakan belasan tahun yang lalu.

Bagaimana dengan kehadiran mentor yang membimbing kita dalam berbisnis? Ini pun sangat bagus. Setidaknya, ada dua manfaat. Pertama, mengurangi risiko kegagalan. Kedua, mempercepat pertumbuhan bisnis.

Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan. Semoga hidup Anda semakin berkah dan semakin berlimpah dengan menjadi entrepreneur, dengan memanfaatkan masa muda, dengan memanfaatkan teknologi. Aamiin.
Profesi reseller kadang dianggap rendah. Nggak keren, nggak prestise. Itu menurut sebagian orang. Kenapa? Karena reseller tidak memproduksi sesuatu. Cuma menjual doang.

Lantas, apa pendapat saya? Begini. Coba Anda perhatikan showroom mobil atau dealer motor. Mereka juga tidak memproduksi sesuatu. Tetap keren kok.

Terus, coba Anda ke konter resmi yang menjual laptop Mac dan ponsel Apple. Tertulis di depannya 'Authorized Reseller' atau 'Premium Reseller'. Kurang keren apanya? Kurang prestise apanya?

Namanya bisnis, tidak harus produksi sendiri.

Tidak harus punya karyawan.

Tidak harus punya toko.

Bukannya dilarang. Boleh-boleh saja. Tapi ini rada memberatkan bagi seorang pemula (beginner) yang jelas-jelas modalnya dan ilmunya sangat terbatas.

Karena itulah, buat pemula saya anjurkan:
- jangan buru-buru rekrut karyawan
- jangan dulu garap produksi
- jangan dulu sewa toko

Terus, baiknya?
- cari vendor dan produk yang bagus
- Anda jualkan, Anda distribusikan

Dengan cara ini, Anda bisa menghemat Rp5juta sampai Rp10juta sebulan. Soalnya Anda tidak perlu membayar gaji karyawan, sewa toko, listrik-air, dan proses produksi.

Seiring usaha semakin berkembang dan Anda semakin sibuk, barulah pelan-pelan Anda merekrut karyawan dan menyewa toko. Anda pun tidak keberatan melakukan ini karena sudah punya uangnya dan sudah paham ilmunya.

Zaman sekarang, untuk menjadi pengusaha jauh lebih mudah. Socmed bisa menjangkau ke mana-mana. Apalagi kalau ada mentornya. Dengan sedikit keberanian dan sedikit mentoring, Anda atau siapapun bisa jadi pengusaha. Insya Allah.

Siap? โ˜บ
Benarkah hidup itu rumit?

Sebenarnya hidup ini simple. Dari dulu yah gitu-gitu aja. Betul apa betul? Seringkali kita membuatnya rumit karena banyak keinginan, banyak ulah, dan banyak tingkah...

Alhamdulillah saya memboyong partner-partners saya, dari Sukabumi, Bandung, Cirebon, Pekalongan, Semarang, sampai Solo. Mereka nempel terus dan belajar terus sama saya. Jujur, saya bangga sekali sama mereka.

Kenapa? Karena mereka memilih untuk tetap sederhana dan nggak neko-neko, walaupun mereka dititipi rezeki yang lapang dan lumayan. Mereka nggak kepikir sama sekali untuk beli barang-barang branded.

Itulah yang tepat. Kalaupun kita dititipi kelapangan rezeki, jangan sampai itu dialokasinya untuk memuaskan keinginan pribadi. Hendaknya untuk meringankan beban sesama.

Yang seru, partner-partners saya memilih untuk membeli apa-apa serba cash. Dari HP sampai rumah dan mobil. Alhamdulillah mereka mampu untuk itu. Gimana saya nggak bangga?

https://www.instagram.com/p/Bz4H7LJFnI0/?igshid=11bowv6ask23p

Simak deh...
Pernah diusilin? Sama, saya juga pernah, hehehe. Kadang-kadang muncul orang usil yang meledek kita dan kita harus cerdas menanggapinya. Tanpa baper, tentunya.

Pas kita membeli hape baru dan mahal, dia menuduh kita OKB alias Orang Kaya Baru. Yah sebenarnya nggak apa-apa disebut orang kaya baru. Daripada dia, nggak kaya-kaya. Hahaha!

๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Mitra-mitra tertentu, sering saya 'paksa' beli hape yang bagus. Bukan apa-apa. Tujuannya untuk jualan, untuk bisnis. Saat ini, setiap postingan sama fungsinya seperti brosur dan flyer. Harus bagus. Betul apa betul?

Serunya lagi, tidak jarang hape mitra-mitra saya lebih bagus daripada hape saya. Di antara mereka ada yang pakai S10 Plus bahkan S10 Plus 1 Tera. Apa nggak boros? Nggak juga. Karena hasil fotonya juga lebih bagus. Ini akan jadi brosur digital. Tersebar di socmed.

Di sini, hape berfungsi sebagai barang produktif. Nggak konsumtif.

Apakah ini soal hape saja? Nggak juga. Alhamdulillah bukan sekali dua kali mitra-mitra saya berhasil membeli rumah dan mobil, dengan cash keras. Paling banter cash bertahap. Padahal mereka baru 2 tahun bermitra dengan saya.

Ini menyenangkan sekali. Karena itulah, 25-27 Juli saya kembali membuka kesempatan bermitra. Bagi teman-teman yang sudah punya bisnis dan sudah punya mentor, abaikan saja peluang ini. Tapi, sekiranya belum, mungkin ini bisa jadi solusi.

Yang saya mau, teman-teman punya usaha dan punya mentor. Boleh dengan saya. Boleh tanpa saya. Yang penting punya. Cuma itu. Sip ya? Semoga usaha kita semakin berkembang. Berkah berlimpah. Aamiin.
Tadi malam saya hadir di rumah Pak Din. Ada kajian bersama Ustadz Adi Hidayat (UAH).

Salah satu pesan UAH tadi malam, "Kalau ada masalah, iringi segera dengan amal soleh. Tidak ada masalah saja, kita beramal. Apalagi kalau ada masalah."

Saat kita beramal, mungkin solusi belum hadir seketika. Tapi, ketenangan pasti hadir, insya Allah. Dan jangan salah, ketenangan itu dekat dengan solusi.

Dalam bisnis, kita perlu ketenangan terutama dalam mengambil keputusan-keputusan yang besar di tengah masalah-masalah yang berat. Betul apa betul?

Biasanya kalau ada masalah-masalah yang berat, pikiran kita mudah panik. Saya yakin Anda pernah mengalami. Padahal kalau panik, kita semakin jauh dari solusi yang tepat.

Karena itulah, tenang dan tetap tenang adalah salah satu langkah untuk menghadapi masalah dan mengundang solusi. Saya harap Anda setuju dengan tulisan ini.
Insya Allah 25 Juli nanti saya membuka kesempatan untuk bermitra. Dan ini merupakan jawaban saya untuk WA masuk selama 2 hari terakhir.

Jujur saja, peluang usaha ini TIDAK dianjurkan buat semua orang. Yang sudah punya bisnis dan sudah punya mentor, abaikan saja peluang usaha ini.

Tapi, sekiranya belum, mungkin penawaran ini bisa jadi solusi.

Yang saya mau, Anda punya bisnis dan punya mentor. Dengan saya, boleh. Tanpa saya, juga boleh. With me or without me, you should have a great business.

Yang penting, apapun bisnisnya, kita saling mendoakan agar tumbuh sama-sama, besar sama-sama. Sip?
Seminar saya segera hadir:

Juli 2019
22, Bali, 0813-3719-0467
27, Depok, 0895-3060-3097
28, Serang, 0821-2473-3873

Agustus 2019
03, Bekasi, 0858-4254-4454
04, Karawang, 0857-5001-0297

Semua seminar konsepnya non-profit dan non-sponsor. Pembicara pun tidak dibayar. Kalau ada HTM (tiket), itu semata-mata untuk menutupi biaya operasional. Yang serius, silakan WA panitia setempat.
Alkisah di sebuah sawah, terjadi percakapan dua ekor burung.

A: Itu manusia apa orang-orangan sawah?

B: Sepertinya manusia. ๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚

A: Tau dari mana?

B: Ya tau aja. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

A: Taunya dari mana?

B: Kalau manusia, punya impian. Selain manusia, nggak punya impian. Gitu โ˜บโ˜บโ˜บ

Sedemikian uniknya manusia. Dia bisa memiliki impian, bahkan bisa memperjuangkan impiannya. Maaf, yang lain nggak bisa. Malaikat saja tidak bisa memiliki impian. Unik tho?

Meraih impian memang tidak mudah. Kadang kita gagal, ditolak, dan ditertawakan.

Pesan saya, "Saat impianmu ditertawakan atau diremehkan orang, sebenarnya itu adalah isyarat. Ya, isyarat bahwa impianmu layak diperjuangkan. Bayangkan kalau nanti impianmu terwujud, pastinya semua orang akan terinspirasi, termasuk mereka yang pernah mentertawakan dan meremehkan."

Sekali lagi, meraih impian memang tidak mudah. Dalam prosesnya, nanti akan tersaring dan terbedakan. Mana manusia yang bertipe berlian, mana manusia yang bertipe kerikil. Yang lemah, mudah lelah, dan mudah menyerah akan tersingkir dengan sendirinya. Inilah manusia tipe kerikil.

Apapun impian teman-teman, selagi itu kebaikan, saya turut mendoakan. Semoga berkah berlimpah. Aamiin.
Weekend kemarin saya ngumpul sama mitra-mitra saya. Kita ngumpul di Jakarta dan Surabaya, alhamdulillah. Di hadapan mereka saya bicara soal harta dan penafkahan. Menurut saya, saat mencari nafkah, ada semacam gas dan rem.

Dunia, termasuk harta, boleh dinikmati. Yang penting, jangan berlebih-lebihan dan jangan bermegah-megahan. Pesan saya, "Jangan tabu dengan harta. Jangan pula lebay sama harta." Kurang-lebih begitu.

Jika Anda punya uang Rp 1 triliun, bukan berarti setelah bersedekah sebesar 60%, Anda bebas menggunakan sekitar 40% seenaknya. Uang sebesar Rp 400 miliar, ini jumlah yang nggak main-main. Harus ada pertanggung-jawaban. Kepantasan. Kewajaran.

Boleh-boleh saja menikmati dunia. Tapi, sekali lagi, dengan kepantasan dan kewajaran. Tidak berlebih-lebihan dan tidak bermegah-megahan. Lihatlah sejarah. Kurang kaya apa Umar dan Usman di zamannya? Tapi mereka memilih untuk hidup sederhana.

Contoh, Anda membeli Volvo seharga hampir Rp 750 juta dengan tujuan keamanan pribadi dan keluarga. Itu sah-sah saja. Seorang kepala negara memakai sedan anti peluru seharga puluhan miliar dengan tujuan keamanan negara. Sama, itu pun sah-sah saja. Soal fungsi tho, bukan soal emosi.

Tapi kalau Anda memesan mobil khusus berinterior emas atau mengoleksi belasan mobil (koleksi pribadi ya, bukan untuk bisnis), kemungkinan itu bagian dari berlebih-lebihan dan bermegah-megahan. Israf. Sayangnya, kita masih menyaksikan fenomena semacam ini di sejumlah keluarga kaya.

Contoh lain. Anda membeli handphone berbasis satelit seharga 20-an juta dengan tujuan kemudahan kerja di hutan atau di pertambangan, itu sah-sah saja. Soal fungsi tho, bukan soal emosi. Tapi kalau Anda membeli handphone berlapis emas, kemungkinan itu bagian dari berlebih-lebihan dan bermegah-megahan.

Satu hal yang saya kagumi dari mitra-mitra saya adalah kesederhanaan mereka.

Soal uang, mereka punya. Nah, kalau barang-barang branded, mereka nggak terlalu suka. Tapi kalau untuk sedekah dan umrah, mereka tidak segan-segan mengurangi saldonya. Paling banter, sesekali mereka jalan-jalan ke luar kota. Menikmati dunia bersama keluarga.

Demikianlah. Boleh menikmati dunia. Tapi, dengan kepantasan dan kewajaran. Tidak bermegah-megahan. Tetap sederhana, itu lebih baik. Anda setuju? Saya harap begitu.