Punya produk yang sejenis dengan teman? Sebut saja, bersaing satu sama lain. Sebenarnya nggak masalah. Kalau perlu, bantu teman kita untuk jualan.
Sekiranya ada potential customer, jangan malah rebutan. Cobalah mengalah. Insya Allah ini bagian dari sedekah. Ya, bagian dari mental kaya.
Saat kita rebutan prospect, berarti kita berpikir secara sadar atau tidak sadar bahwa REZEKI ITU TERBATAS. Sampai diperebutkan segala.
Padahal, rezeki itu tanpa batas. Adalah benar rezeki harus diikhtiarkan namun tak perlu sampai rebut-rebutan apalagi ribut-ribut. Betul apa betul?
Lapang hati diterapkan bukan saat berdoa dan berzikir saja. Tapi hendaknya juga diterapkan dalam keseharian, kerja dan bisnis. Praktek deh. Semoga berkah berlimpah.
Sekiranya ada potential customer, jangan malah rebutan. Cobalah mengalah. Insya Allah ini bagian dari sedekah. Ya, bagian dari mental kaya.
Saat kita rebutan prospect, berarti kita berpikir secara sadar atau tidak sadar bahwa REZEKI ITU TERBATAS. Sampai diperebutkan segala.
Padahal, rezeki itu tanpa batas. Adalah benar rezeki harus diikhtiarkan namun tak perlu sampai rebut-rebutan apalagi ribut-ribut. Betul apa betul?
Lapang hati diterapkan bukan saat berdoa dan berzikir saja. Tapi hendaknya juga diterapkan dalam keseharian, kerja dan bisnis. Praktek deh. Semoga berkah berlimpah.
Dr David Hugh Jones dan tim peneliti dari University of East Anglia (UEA) menemukan bahwa tingkat kejujuran seseorang berbeda di setiap negara. Menurutnya, warga Inggris dan warga Jepang mencatatkan poin tertinggi dalam hal kejujuran.
Beberapa waktu ke depan, saya diminta memberikan training selama dua hari untuk sebuah lembaga negara yang amat disegani. Salah satu materi yang mereka request adalah soal kejujuran.
Kejujuran, ini adalah barang langka. Ya, orang #jujur memang langka. Tapi kalau kita berusaha untuk jujur, maka kita akan menjadi orang yang dicari-cari dan dinanti-nanti. Betul apa betul?
Lihatlah kerugian karena kasus kondensat yang mencapai Rp 35 triliun, dengan tersangka Honggo Wendratmo alias Hong Go Wie. Betapa besar mudharat yang dirasakan oleh orang banyak akibat dari ketidakjujuran.
Rezeki atau nafkah kalau diperoleh dengan jujur, niscaya akan membawa ketenangan. Ingat, ketenangan jauh lebih berharga daripada kekayaan. Apalah artinya harta berlimpah kalau hati selalu gundah?
"Jujur, mujur. Nggak jujur? Bakal tersungkur," itu nasihat guru saya.
Sambung beliau, "Nggak jujur? Resah. Gelisah. Jauh dari berkah."
Menjadi jujur dan selalu jujur memang tidak mudah. Ada saja tantangannya. Tapi bisa, insya Allah. Perubahan besar baiknya dimulai dari perubahan kecil, yaitu diri kita dan keluarga kita. Hei, apa salahnya kalau kita mulai dari sana? Jadilah contoh. Jadilah inspirasi.
Mudah-mudahan nanti banyak yang mengikuti. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Beberapa waktu ke depan, saya diminta memberikan training selama dua hari untuk sebuah lembaga negara yang amat disegani. Salah satu materi yang mereka request adalah soal kejujuran.
Kejujuran, ini adalah barang langka. Ya, orang #jujur memang langka. Tapi kalau kita berusaha untuk jujur, maka kita akan menjadi orang yang dicari-cari dan dinanti-nanti. Betul apa betul?
Lihatlah kerugian karena kasus kondensat yang mencapai Rp 35 triliun, dengan tersangka Honggo Wendratmo alias Hong Go Wie. Betapa besar mudharat yang dirasakan oleh orang banyak akibat dari ketidakjujuran.
Rezeki atau nafkah kalau diperoleh dengan jujur, niscaya akan membawa ketenangan. Ingat, ketenangan jauh lebih berharga daripada kekayaan. Apalah artinya harta berlimpah kalau hati selalu gundah?
"Jujur, mujur. Nggak jujur? Bakal tersungkur," itu nasihat guru saya.
Sambung beliau, "Nggak jujur? Resah. Gelisah. Jauh dari berkah."
Menjadi jujur dan selalu jujur memang tidak mudah. Ada saja tantangannya. Tapi bisa, insya Allah. Perubahan besar baiknya dimulai dari perubahan kecil, yaitu diri kita dan keluarga kita. Hei, apa salahnya kalau kita mulai dari sana? Jadilah contoh. Jadilah inspirasi.
Mudah-mudahan nanti banyak yang mengikuti. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
"Hati-hati. Setiap keinginan harus diteliti... Boleh ikhtiar mati-matian, hanya untuk sesuatu yang bisa dibawa mati... Sesuatu yang nggak abadi, ngapain masuk ke hati?" Itulah pesan guru saya jauh-jauh hari. Dan ini perlu kita resapi.
Apakah mobil dan rumah bisa dibawa mati? Hm, karena Anda sudah sering membaca tulisan-tulisan saya, pastilah Anda menjawab, "Bisa!" Pakailah mobil dan rumahnya untuk kebaikan. Misal, mencari nafkah, mencari ilmu, mengantar anak, mengantar tamu, dll. Insya Allah mobilnya kelak dibawa mati sebagai amal kebaikan.
Right?
Bahkan mencari nafkah dan mencari ilmu itu terhitung jihad, bukan ibadah biasa. Sekali lagi, bukan ibadah biasa. Telah diserukan di mana-mana, berjuang atau ber-jihad-lah di jalan Allah.
Sambil bercanda, teman saya ngomong begini, "Biarlah Fortuner, biarlah Pajero, biarlah CRV, yang penting punya sendiri. Daripada motor second tapi nyewa." Hehehe. Yang belum punya mobil, semoga segera ya. Beli cash. Aamiin. Saya bantu doain. Lebih baik bilang amin, daripada tersinggung, hehehe.
Tapi, inilah keluhan mereka:
"DP sih bisa, tapi nyicilnya itu lho."
"Badai pasti berlalu, cicilan belum tentu."
"Teroris, kami tidak takut. Debt collector, barulah kami takut."
Hehehe, ada-ada saja. Mendengar celetukan ini, saya cuma tersenyum. Menurut saya, karena itulah kita perlu belajar memperbesar Self-Capacity, sehingga Outer Problem mengecil dengan sendirinya. Termasuk cicilan dan tagihan.
Di bisnis, saya berusaha menuntun para mitra step-by-step untuk memperbesar Self-Capacity. Termasuk memiliki mobil impian dan rumah impian. Sekalian berumrah. Nggak terlalu sulit, ternyata. Ingatlah, ganteng nggak jaminan. sertifikat tanah baru bisa jadi jaminan, hehehe.
Terus baiknya, punya mobil dulu, atau punya rumah dulu? Sebenarnya, lebih baik punya mobil sekalian garasinya. Nggak usah ketawa. Bilang amin lagi, hehehe. Dalam berdoa, biasakan pakai 'dan' bukan 'atau'. Dua-duanya boleh kok, nggak harus salah satu. Buktinya, bertahun-tahun Anda berdoa agar selamat dunia dan akhirat, bukan salah satu. Bukankah begitu?
Fyi, menjelang 2018, jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 26,5 juta jiwa. Mobil masih terhitung barang mewah bagi sebagian besar orang Indonesia.
Punya motor, yah disyukuri. Itu mesti. Second, tetap disyukuri. Masih nyicil dan nunggak-nunggak, tetap disyukuri. Sambil berusaha lebih baik lagi. Bukan untuk gaya sana-sini. Tapi niatnya untuk menyamankan keluarga yang dinafkahi. Sekiranya niat baik sudah dimiliki, Yang Maha Baik tentulah memudahkan, itu pasti.
Sekali lagi, mari perbaiki niat kita saat menginginkan sesuatu. Ada Allah dalam setiap keinginan kita. Niat itu salah satu cara memperbesar Self-Capacity... Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan teman-teman di sini. Semoga hidup Anda berkah berlimpah. Doakan juga saya dan keluarga saya...
Apakah mobil dan rumah bisa dibawa mati? Hm, karena Anda sudah sering membaca tulisan-tulisan saya, pastilah Anda menjawab, "Bisa!" Pakailah mobil dan rumahnya untuk kebaikan. Misal, mencari nafkah, mencari ilmu, mengantar anak, mengantar tamu, dll. Insya Allah mobilnya kelak dibawa mati sebagai amal kebaikan.
Right?
Bahkan mencari nafkah dan mencari ilmu itu terhitung jihad, bukan ibadah biasa. Sekali lagi, bukan ibadah biasa. Telah diserukan di mana-mana, berjuang atau ber-jihad-lah di jalan Allah.
Sambil bercanda, teman saya ngomong begini, "Biarlah Fortuner, biarlah Pajero, biarlah CRV, yang penting punya sendiri. Daripada motor second tapi nyewa." Hehehe. Yang belum punya mobil, semoga segera ya. Beli cash. Aamiin. Saya bantu doain. Lebih baik bilang amin, daripada tersinggung, hehehe.
Tapi, inilah keluhan mereka:
"DP sih bisa, tapi nyicilnya itu lho."
"Badai pasti berlalu, cicilan belum tentu."
"Teroris, kami tidak takut. Debt collector, barulah kami takut."
Hehehe, ada-ada saja. Mendengar celetukan ini, saya cuma tersenyum. Menurut saya, karena itulah kita perlu belajar memperbesar Self-Capacity, sehingga Outer Problem mengecil dengan sendirinya. Termasuk cicilan dan tagihan.
Di bisnis, saya berusaha menuntun para mitra step-by-step untuk memperbesar Self-Capacity. Termasuk memiliki mobil impian dan rumah impian. Sekalian berumrah. Nggak terlalu sulit, ternyata. Ingatlah, ganteng nggak jaminan. sertifikat tanah baru bisa jadi jaminan, hehehe.
Terus baiknya, punya mobil dulu, atau punya rumah dulu? Sebenarnya, lebih baik punya mobil sekalian garasinya. Nggak usah ketawa. Bilang amin lagi, hehehe. Dalam berdoa, biasakan pakai 'dan' bukan 'atau'. Dua-duanya boleh kok, nggak harus salah satu. Buktinya, bertahun-tahun Anda berdoa agar selamat dunia dan akhirat, bukan salah satu. Bukankah begitu?
Fyi, menjelang 2018, jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 26,5 juta jiwa. Mobil masih terhitung barang mewah bagi sebagian besar orang Indonesia.
Punya motor, yah disyukuri. Itu mesti. Second, tetap disyukuri. Masih nyicil dan nunggak-nunggak, tetap disyukuri. Sambil berusaha lebih baik lagi. Bukan untuk gaya sana-sini. Tapi niatnya untuk menyamankan keluarga yang dinafkahi. Sekiranya niat baik sudah dimiliki, Yang Maha Baik tentulah memudahkan, itu pasti.
Sekali lagi, mari perbaiki niat kita saat menginginkan sesuatu. Ada Allah dalam setiap keinginan kita. Niat itu salah satu cara memperbesar Self-Capacity... Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan teman-teman di sini. Semoga hidup Anda berkah berlimpah. Doakan juga saya dan keluarga saya...
Membangun silaturahim bukan pekerjaaan satu hari dua hari, melainkan pekerjaan bertahun-tahun bahkan seumur hidup. Ya, a long-term work.
Kita mesti mau mengalokasikan waktu, kadang harus melepas kesempatan-kesempatan yang lain. Karena kita tidak bisa hadir di dua tempat sekaligus pada waktu yang sama. Right?
Manfaatnya sangatlah banyak.
Menurut penelitian, semakin sering Anda bersilaturahim, semakin besar pula kesempatan bagi Anda untuk memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dan risiko demensia yang lebih kecil.
Dan inilah pesan guru saya:
- Silaturahim menyehatkan rohani.
- Silaturahim menyehatkan jasmani.
- Silaturahim memudahkan rezeki.
- Silaturahim membangun reputasi.
Hebat ya? Sangat hebat!
Silaturahim, mari kita rutinkan!
Kita mesti mau mengalokasikan waktu, kadang harus melepas kesempatan-kesempatan yang lain. Karena kita tidak bisa hadir di dua tempat sekaligus pada waktu yang sama. Right?
Manfaatnya sangatlah banyak.
Menurut penelitian, semakin sering Anda bersilaturahim, semakin besar pula kesempatan bagi Anda untuk memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dan risiko demensia yang lebih kecil.
Dan inilah pesan guru saya:
- Silaturahim menyehatkan rohani.
- Silaturahim menyehatkan jasmani.
- Silaturahim memudahkan rezeki.
- Silaturahim membangun reputasi.
Hebat ya? Sangat hebat!
Silaturahim, mari kita rutinkan!
Punya mobil? Punya rumah?
Menurut Gaikindo, rasio jumlah kendaraan terhadap penduduk Indonesia adalah 1 mobil banding 70 penduduk. Artinya, satu mobil untuk 70 orang.
Data BPS menunjukkan bahwa sekitar 82 persen masyarakat Indonesia sudah memiliki rumah sendiri, sementara sisanya sekitar 17 persen belum memiliki rumah sendiri.
Anda termasuk yang mana?
Kalau sekarang Anda sudah punya ini dan itu, bukan berarti Anda telah sukses. Belum tentu. Yang benar, orangtua dan guru Anda-lah yang telah sukses. Kok gitu? Yah begitu. Bukankah mereka yang telah mengantarkan Anda meraih ini dan itu?
Tak sedikit pemimpin (leader) yang malas-malasan saat sudah berhasil mempunyai mobil, punya rumah, dan berumrah. Mereka nggak mikir, apakah tim dan tangan kanan-nya sudah berhasil mencapai hal serupa, apa belum.
Sekiranya kita ingin disebut sukses, hendaknya ini kita buktikan dengan mengantarkan orang lain meraih ini dan itu. Dengan kata lain, bukan sekedar kita yang mencapai impian. Melainkan juga mengantarkan orang lain mencapai impian. Itu baru layak disebut sukses!
Kalau sekedar meraih impian, itu adalah pemikiran yang egois. Mengantarkan orang lain meraih impiannya, nah itu baru pemikiran yang humanis. Insya Allah akan berbuah manis. Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan Anda beserta tim Anda bisa tumbuh bersama, maju bersama, sukses bersama, di tengah persaingan yang begitu dinamis.
Semoga berkah berlimpah!
Menurut Gaikindo, rasio jumlah kendaraan terhadap penduduk Indonesia adalah 1 mobil banding 70 penduduk. Artinya, satu mobil untuk 70 orang.
Data BPS menunjukkan bahwa sekitar 82 persen masyarakat Indonesia sudah memiliki rumah sendiri, sementara sisanya sekitar 17 persen belum memiliki rumah sendiri.
Anda termasuk yang mana?
Kalau sekarang Anda sudah punya ini dan itu, bukan berarti Anda telah sukses. Belum tentu. Yang benar, orangtua dan guru Anda-lah yang telah sukses. Kok gitu? Yah begitu. Bukankah mereka yang telah mengantarkan Anda meraih ini dan itu?
Tak sedikit pemimpin (leader) yang malas-malasan saat sudah berhasil mempunyai mobil, punya rumah, dan berumrah. Mereka nggak mikir, apakah tim dan tangan kanan-nya sudah berhasil mencapai hal serupa, apa belum.
Sekiranya kita ingin disebut sukses, hendaknya ini kita buktikan dengan mengantarkan orang lain meraih ini dan itu. Dengan kata lain, bukan sekedar kita yang mencapai impian. Melainkan juga mengantarkan orang lain mencapai impian. Itu baru layak disebut sukses!
Kalau sekedar meraih impian, itu adalah pemikiran yang egois. Mengantarkan orang lain meraih impiannya, nah itu baru pemikiran yang humanis. Insya Allah akan berbuah manis. Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan Anda beserta tim Anda bisa tumbuh bersama, maju bersama, sukses bersama, di tengah persaingan yang begitu dinamis.
Semoga berkah berlimpah!
Pernah merantau?
Ternyata banyak manfaatnya. Apa saja? Anda akan menjadi seseorang yang berani mengambil risiko dan tantangan, sekaligus menjadi seseorang yang mandiri dan bertanggungjawab. Selain itu, menjadi seseorang yang mudah beradaptasi dan lebih toleran. Tambahan lagi, semakin mencintai daerah asal sembari menghargai adat dan kebiasaan dari daerah-daerah lain.
Biasanya begitu.
Di seminar kemarin di Korea, saya juga mengupas soal merantau. Jauh-jauh hari Imam Syafii telah menyerukan itu, “Pergilah dari rumahmu demi lima faedah, yaitu menghilangkan kejenuhan, mencari bekal hidup, mencari ilmu, mencari teman, dan belajar tatakrama.”
Bukan sekedar menganjurkan, Imam Syafii juga melakukan. Terlahir di Palestina, kemudian ia hijrah ke Madinah, Irak, dan Mesir.” Alhamdulillah, saya dan keluarga pernah menziarahi makamnya dua kali di Mesir.
Menyikapi merantau, Imam Syafii pernah menuliskan seuntai perumpamaan yang indah, “Air akan bening dan layak minum, jika ia mengalir. Singa akan beroleh mangsa, jika ia meninggalkan sarangnya. Anak panah akan beroleh sasaran, jika ia meninggalkan busurnya. Nah, manusia akan beroleh derajat mulia, jika ia meninggalkan tempat aslinya dan mendapatkan tempat barunya. Bagaikan emas yang terangkat dari tempat asalnya.”
Ingatlah, rezeki itu perlu dijemput.
- Kadang rezeki orang di negeri kita.
- Kadang rezeki kita di negeri orang.
Saya pribadi, terlahir di Pekanbaru, kemudian merantau ke Malaysia, lalu balik ke Batam, dan sekarang menetap di BSD, dekat Jakarta. Ibu saya, Sumatera. Ayah saya, Jawa. Istri saya, Kalimantan. Jadi, anak saya disebut orang mana? Yang jelas, orang baik-baik, hehehe.
Pesan dari Sang Pencipta, manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Pesan kebaikan ini teramat sulit untuk dilaksanakan sekiranya tidak ada yang merantau. Tulisan ini boleh di-share.
Gimana dengan rezeki? Insya Allah akan lebih baik. Sesiapa yang berhijrah dan niatnya lurus, maka ia akan dianugerahi rezeki yang luas, bahkan bisa memiliki properti. Soal ini, ada dalilnya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ternyata banyak manfaatnya. Apa saja? Anda akan menjadi seseorang yang berani mengambil risiko dan tantangan, sekaligus menjadi seseorang yang mandiri dan bertanggungjawab. Selain itu, menjadi seseorang yang mudah beradaptasi dan lebih toleran. Tambahan lagi, semakin mencintai daerah asal sembari menghargai adat dan kebiasaan dari daerah-daerah lain.
Biasanya begitu.
Di seminar kemarin di Korea, saya juga mengupas soal merantau. Jauh-jauh hari Imam Syafii telah menyerukan itu, “Pergilah dari rumahmu demi lima faedah, yaitu menghilangkan kejenuhan, mencari bekal hidup, mencari ilmu, mencari teman, dan belajar tatakrama.”
Bukan sekedar menganjurkan, Imam Syafii juga melakukan. Terlahir di Palestina, kemudian ia hijrah ke Madinah, Irak, dan Mesir.” Alhamdulillah, saya dan keluarga pernah menziarahi makamnya dua kali di Mesir.
Menyikapi merantau, Imam Syafii pernah menuliskan seuntai perumpamaan yang indah, “Air akan bening dan layak minum, jika ia mengalir. Singa akan beroleh mangsa, jika ia meninggalkan sarangnya. Anak panah akan beroleh sasaran, jika ia meninggalkan busurnya. Nah, manusia akan beroleh derajat mulia, jika ia meninggalkan tempat aslinya dan mendapatkan tempat barunya. Bagaikan emas yang terangkat dari tempat asalnya.”
Ingatlah, rezeki itu perlu dijemput.
- Kadang rezeki orang di negeri kita.
- Kadang rezeki kita di negeri orang.
Saya pribadi, terlahir di Pekanbaru, kemudian merantau ke Malaysia, lalu balik ke Batam, dan sekarang menetap di BSD, dekat Jakarta. Ibu saya, Sumatera. Ayah saya, Jawa. Istri saya, Kalimantan. Jadi, anak saya disebut orang mana? Yang jelas, orang baik-baik, hehehe.
Pesan dari Sang Pencipta, manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Pesan kebaikan ini teramat sulit untuk dilaksanakan sekiranya tidak ada yang merantau. Tulisan ini boleh di-share.
Gimana dengan rezeki? Insya Allah akan lebih baik. Sesiapa yang berhijrah dan niatnya lurus, maka ia akan dianugerahi rezeki yang luas, bahkan bisa memiliki properti. Soal ini, ada dalilnya. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Dalam keluarga, nafkah itu perlu. Tapi bukan penentu.
Menyoal penghasilan, Robert Waldinger dalam riset 75 tahun pernah mengungkap bahwa uang bukanlah hal yang membuat orang paling bahagia.
Hubungan penuh cinta yang sehatlah yang membuat orang merasa paling bahagia. Waldinger menceritakan hasil risetnya dalam sesi TED talk.
Hidup memang butuh uang. Ini mutlak. Namun saat Anda berada pada titik nyaman, korelasi antara uang dan kebahagiaan menjadi kabur. Blur.
Karena itu, baiknya pasangan yang kuat dimaknai bukan dari materi. Melainkan dari sosok yang membuat pasangannya menjadi lebih bahagia dan lebih baik (ilmu, iman, amal).
Saya harap Anda setuju dengan saya. Semoga berkah berlimpah.
Menyoal penghasilan, Robert Waldinger dalam riset 75 tahun pernah mengungkap bahwa uang bukanlah hal yang membuat orang paling bahagia.
Hubungan penuh cinta yang sehatlah yang membuat orang merasa paling bahagia. Waldinger menceritakan hasil risetnya dalam sesi TED talk.
Hidup memang butuh uang. Ini mutlak. Namun saat Anda berada pada titik nyaman, korelasi antara uang dan kebahagiaan menjadi kabur. Blur.
Karena itu, baiknya pasangan yang kuat dimaknai bukan dari materi. Melainkan dari sosok yang membuat pasangannya menjadi lebih bahagia dan lebih baik (ilmu, iman, amal).
Saya harap Anda setuju dengan saya. Semoga berkah berlimpah.
Anda sudah menikah?
Sudah dikaruniai anak?
Alhamdulillah, selama ini di rumah saya ada satu anak asuh. Sudah sekian tahun ikut keluarga saya. Mulai kemarin, dia sudah masuk pesantren, tidak di rumah lagi. Jadi santri ceritanya.
Saya pribadi senang sekali kalau dikaruniai banyak anak, termasuk anak asuh dan anak didik. Saat ini saya diamanahi ribuan anak didik, melalui TK, SD, dan kampus yang saya asuh. Alhamdulillah, saya senang sekali.
Apa tujuannya? Apa lagi kalau bukan amal jariyah. Ya, demi amal jariyah.
Satu lagi. Anak itu rezeki dan mengundang rezeki. Ingat kalimat ini baik-baik. Janganlah heran, ketika seseorang memiliki pasangan, terus memiliki keturunan, maka sekonyong-konyong rezekinya bertambah-tambah!
Betul apa betul?
Saya pribadi sudah 4x seminar di Korea dan di Jepang. Orang sana biasanya tak mau punya banyak anak. Bahkan sering pula memutuskan untuk tidak punya anak sama sekali. Karena dianggap merepotkan. Duh!
Hei, sekalipun jangan pernah menganggap anak itu beban. Ada pula yang takut menambah anak karena merasa gaji atau income-nya tak mencukupi. Ini cara pikir yang keliru. Bener-bener keliru. Setiap anak, percayalah, ada rezekinya sendiri.
Yang saya tahu, menjomblo itu menggalaukan, hehehe. Kalau menikah? Mengayakan. Kalau punya anak? Lebih mengayakan.
Perhatikan baik-baik. Sholat itu ibadah sekian menit. Puasa itu ibadah sekian jam. Haji itu ibadah sekian hari. Kalau menikah? Inilah ibadah seumur-umur. Kalau punya anak? Inilah ibadah selama-lamanya.
Bukankah anak yang sholeh akan menjadi amal jariyah? Kalau belum menikah, boleh dibilang, masih setengah agamanya, masih setengah saldonya, hehehe. Kalau sudah menikah dan sudah punya anak? Maka berlipatgandalah segala-galanya!
Setelah menikah, ada yang naik gajinya. Ada pula yang tidak naik gajinya. Namun anehnya, ia malah mampu menafkahi anak-anak, menafkahi orangtua, menyicil rumah, menyicil kendaraan, pokoknya macam-macam.
Aneh kan? Ya. Itulah berkah pernikahan. Dan benarlah, Yang Maha Kaya menepati janji-Nya, di mana Dia akan memampukan dan mengayakan orang-orang yang menikah. Pantaslah MENIKAH itu dimaknai dengan Mesra-Nikmat-Berkah.
Yang belum dikaruniai jodoh, yang belum dikaruniai anak, saya doakan ya. Semoga segera. Kalau perlu, tahun ini juga. Aamiin. Mudah-mudahan berujung pada berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sudah dikaruniai anak?
Alhamdulillah, selama ini di rumah saya ada satu anak asuh. Sudah sekian tahun ikut keluarga saya. Mulai kemarin, dia sudah masuk pesantren, tidak di rumah lagi. Jadi santri ceritanya.
Saya pribadi senang sekali kalau dikaruniai banyak anak, termasuk anak asuh dan anak didik. Saat ini saya diamanahi ribuan anak didik, melalui TK, SD, dan kampus yang saya asuh. Alhamdulillah, saya senang sekali.
Apa tujuannya? Apa lagi kalau bukan amal jariyah. Ya, demi amal jariyah.
Satu lagi. Anak itu rezeki dan mengundang rezeki. Ingat kalimat ini baik-baik. Janganlah heran, ketika seseorang memiliki pasangan, terus memiliki keturunan, maka sekonyong-konyong rezekinya bertambah-tambah!
Betul apa betul?
Saya pribadi sudah 4x seminar di Korea dan di Jepang. Orang sana biasanya tak mau punya banyak anak. Bahkan sering pula memutuskan untuk tidak punya anak sama sekali. Karena dianggap merepotkan. Duh!
Hei, sekalipun jangan pernah menganggap anak itu beban. Ada pula yang takut menambah anak karena merasa gaji atau income-nya tak mencukupi. Ini cara pikir yang keliru. Bener-bener keliru. Setiap anak, percayalah, ada rezekinya sendiri.
Yang saya tahu, menjomblo itu menggalaukan, hehehe. Kalau menikah? Mengayakan. Kalau punya anak? Lebih mengayakan.
Perhatikan baik-baik. Sholat itu ibadah sekian menit. Puasa itu ibadah sekian jam. Haji itu ibadah sekian hari. Kalau menikah? Inilah ibadah seumur-umur. Kalau punya anak? Inilah ibadah selama-lamanya.
Bukankah anak yang sholeh akan menjadi amal jariyah? Kalau belum menikah, boleh dibilang, masih setengah agamanya, masih setengah saldonya, hehehe. Kalau sudah menikah dan sudah punya anak? Maka berlipatgandalah segala-galanya!
Setelah menikah, ada yang naik gajinya. Ada pula yang tidak naik gajinya. Namun anehnya, ia malah mampu menafkahi anak-anak, menafkahi orangtua, menyicil rumah, menyicil kendaraan, pokoknya macam-macam.
Aneh kan? Ya. Itulah berkah pernikahan. Dan benarlah, Yang Maha Kaya menepati janji-Nya, di mana Dia akan memampukan dan mengayakan orang-orang yang menikah. Pantaslah MENIKAH itu dimaknai dengan Mesra-Nikmat-Berkah.
Yang belum dikaruniai jodoh, yang belum dikaruniai anak, saya doakan ya. Semoga segera. Kalau perlu, tahun ini juga. Aamiin. Mudah-mudahan berujung pada berkah berlimpah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda pernah ikut seminar? Berapa kali?
Suatu hari saya merenung, berapa biaya yang telah saya keluarkan untuk berguru alias belajar selama 5 tahun terakhir. Hitung-hitung, ternyata sudah ratusan juta rupiah (Sebenarnya, wajar-wajar saja. Untuk kuliah saja, kita menghabiskan biaya hingga puluhan juta rupiah).
Karena itulah, saya salut sama teman-teman yang ikut seminar saya. Biasanya, sepertiga dari mereka berasal dari luar kota. Sengaja datang jauh-jauh hanya untuk mencari ilmu. Ya, mencari ilmu. Sebenarnya, nggak bakal rugi. Kalau sedekah saja berbalas, menuntut ilmu akan lebih berbalas. Soalnya memang wajib.
Dua orang alumni saya, Mas Basori dan Kak Diaz, terkenal gandrung sama seminar-seminar saya. Mereka sungguh-sungguh terhadap ilmu bisnis dan ilmu lainnya. Masing-masing mereka telah mengikuti seminar saya sampai puluhan kali. Mereka pun bela-belain kuliah S2 demi mencari ilmu.
Namanya ilmu, guru, dan buku harus diburu, jangan ditunggu. Ketika dulu kuliah, saya sering nggak makan karena terbatasnya uang. Tapi yang namanya buku, saya selalu beli. Nggak pernah terlewat. Sewaktu tamat kuliah, di antara teman-teman, sayalah yang paling lengkap bukunya.
Apa yang saya pahami kemudian, mereka yang sungguh-sungguh dengan ilmu, dijamin tidak fakir. Ilmu itu cahaya. Fakir itu gelap. Mana mungkin bertemu kedua-duanya? Agama pun memuliakan mereka yang terlibat dengan ilmu.
Ya, sesiapa yang terlibat dengan ilmu, semua dimuliakan. Misalnya orang yang belajar, orang yang mengajar, orang yang meneliti, orang yang membiayai kegiatan keilmuan, orang yang menyiapkan majelis ilmu, dan lain-lain.
Kembali ke dua orang alumni saya, Mas Basori dan Kak Diaz. Mereka bukan saja mempelajari dan mendalami ilmu bisnis, tapi juga menerapkannya. Lebih dari itu, mereka juga membimbing ratusan orang sehingga berhasil menjadi pebisnis dengan omzet puluhan sampai ratusan juta rupiah. Sukses dan menyukseskan, istilah saya.
Pesan saya, sungguh-sungguhlah terhadap ilmu. Agar berubah nasibmu dan membaik rezekimu. Belum lagi dari segi keberkahan yang akan menyertai selalu. Pada akhirnya, "Happy learning! Happy earning!"
Suatu hari saya merenung, berapa biaya yang telah saya keluarkan untuk berguru alias belajar selama 5 tahun terakhir. Hitung-hitung, ternyata sudah ratusan juta rupiah (Sebenarnya, wajar-wajar saja. Untuk kuliah saja, kita menghabiskan biaya hingga puluhan juta rupiah).
Karena itulah, saya salut sama teman-teman yang ikut seminar saya. Biasanya, sepertiga dari mereka berasal dari luar kota. Sengaja datang jauh-jauh hanya untuk mencari ilmu. Ya, mencari ilmu. Sebenarnya, nggak bakal rugi. Kalau sedekah saja berbalas, menuntut ilmu akan lebih berbalas. Soalnya memang wajib.
Dua orang alumni saya, Mas Basori dan Kak Diaz, terkenal gandrung sama seminar-seminar saya. Mereka sungguh-sungguh terhadap ilmu bisnis dan ilmu lainnya. Masing-masing mereka telah mengikuti seminar saya sampai puluhan kali. Mereka pun bela-belain kuliah S2 demi mencari ilmu.
Namanya ilmu, guru, dan buku harus diburu, jangan ditunggu. Ketika dulu kuliah, saya sering nggak makan karena terbatasnya uang. Tapi yang namanya buku, saya selalu beli. Nggak pernah terlewat. Sewaktu tamat kuliah, di antara teman-teman, sayalah yang paling lengkap bukunya.
Apa yang saya pahami kemudian, mereka yang sungguh-sungguh dengan ilmu, dijamin tidak fakir. Ilmu itu cahaya. Fakir itu gelap. Mana mungkin bertemu kedua-duanya? Agama pun memuliakan mereka yang terlibat dengan ilmu.
Ya, sesiapa yang terlibat dengan ilmu, semua dimuliakan. Misalnya orang yang belajar, orang yang mengajar, orang yang meneliti, orang yang membiayai kegiatan keilmuan, orang yang menyiapkan majelis ilmu, dan lain-lain.
Kembali ke dua orang alumni saya, Mas Basori dan Kak Diaz. Mereka bukan saja mempelajari dan mendalami ilmu bisnis, tapi juga menerapkannya. Lebih dari itu, mereka juga membimbing ratusan orang sehingga berhasil menjadi pebisnis dengan omzet puluhan sampai ratusan juta rupiah. Sukses dan menyukseskan, istilah saya.
Pesan saya, sungguh-sungguhlah terhadap ilmu. Agar berubah nasibmu dan membaik rezekimu. Belum lagi dari segi keberkahan yang akan menyertai selalu. Pada akhirnya, "Happy learning! Happy earning!"
Makan siang, teratur.
Makan malam, teratur.
Jam tidur, teratur.
Jam bangun, teratur.
Kalau bisa rutin seperti ini, insya Allah kita akan lebih sehat.
Saran saya, "Mari biasakan bangun sebelum subuh." Bagi saya, setengah jam sebelum subuh dan setengah jam setelah subuh, adalah waktu istimewa. Golden time.
Kok disebut istimewa? Yah, karena memang begitu. Apapun yang Anda kerjakan di waktu itu akan menjadi ‘sesuatu’. Apakah itu tugas kantor, menyusun skripsi, menulis buku, ataupun kesibukan lainnya.
Tubuh yang segar disergap dengan udara yang segar, wah benar-benar mengajaibkan segala proses. Hm, nggak percaya? Yah, Anda coba saja. #BangunAwal.
Awet muda, menyehatkan, menyegarkan, meringankan kesibukan, dan mengundang keberkahan, itulah manfaat-manfaat tersembunyi dari bangun lebih awal.
Hm, berat? Kalau bangun lebih awal saja susah, gimana mau bangun rumahtangga? Gimana mau bangun perumahan? Hehehe.
Daripada tersinggung, lebih baik Anda lakukan dan rutinkan saja. Nggak ada ruginya! Untung malah! Mudah-mudahan awal dari keberkahan dan keberlimphan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Makan malam, teratur.
Jam tidur, teratur.
Jam bangun, teratur.
Kalau bisa rutin seperti ini, insya Allah kita akan lebih sehat.
Saran saya, "Mari biasakan bangun sebelum subuh." Bagi saya, setengah jam sebelum subuh dan setengah jam setelah subuh, adalah waktu istimewa. Golden time.
Kok disebut istimewa? Yah, karena memang begitu. Apapun yang Anda kerjakan di waktu itu akan menjadi ‘sesuatu’. Apakah itu tugas kantor, menyusun skripsi, menulis buku, ataupun kesibukan lainnya.
Tubuh yang segar disergap dengan udara yang segar, wah benar-benar mengajaibkan segala proses. Hm, nggak percaya? Yah, Anda coba saja. #BangunAwal.
Awet muda, menyehatkan, menyegarkan, meringankan kesibukan, dan mengundang keberkahan, itulah manfaat-manfaat tersembunyi dari bangun lebih awal.
Hm, berat? Kalau bangun lebih awal saja susah, gimana mau bangun rumahtangga? Gimana mau bangun perumahan? Hehehe.
Daripada tersinggung, lebih baik Anda lakukan dan rutinkan saja. Nggak ada ruginya! Untung malah! Mudah-mudahan awal dari keberkahan dan keberlimphan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Indonesia, dari segi waktu penggunaan internet, menempati peringkat keempat dunia, dengan durasi rata-rata menggunakan internet hampir 9 jam setiap harinya. Bayangkan, hampir 9 jam setiap harinya! Yang saya kuatirkan, itu cuma untuk shopping dan senang-senang saja, bukan untuk tujuan produktif.
Ternyata ada peringatan bahaya lain untuk kita semua. Apa itu? Kertegantungan belanja online mulai marak dan merebak di masyarakat Indonesia.
Ada tiga cirinya.
Pertama, memiliki lebih dari 3 kartu kredit yang aktif untuk belanja. Sebaiknya berhati-hati jika kita sudah menggunakan lebih dari 3 kartu kredit untuk belanja online, bahkan tanpa sadar telah berbelanja melebihi income bulanan.
Kedua, menghabiskan lebih dari 3 jam sehari untuk melihat-lihat fitur belanja online. Ketagihan belanja online dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Perhatikan baik-baik, kebiasaan ini bisa mengganggu pekerjaan utama kita karena dilakukan berlebihan.
Ketiga, setiap minggu pasti ada beberapa kiriman paket belanja online. Apalagi kita mulai membayarnya dengan mencicil. Atau terpaksa mengorbankan pos-pos keuangan yang lain. Ini benar-benar bahaya.
Mari kita lihat dalam perspektif yang lebih luas.
Populasi penduduk Indonesia saat ini mencapai 262 juta orang. Lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta orang telah terhubung jaringan internet sepanjang 2017. Angka ini tidak terlalu jelek sebagai negara berkembang.
Dengan kata lain, ini sebenarnya potensi bisnis yang menggiurkan. Pertanyaan selanjutnya, sudahkah kita memanfaatkan perkembangan internet di Indonesia ini sebagai pelaku bisnis? Atau hanya sebagai konsumen produk?
Bijaklah. Sudah saatnya kita jadi pelaku. Jadi pemain. Jadi penjual. Jadi produsen. Besar harapan saya, semoga ke depan lebih banyak lagi orang Indonesia yang memanfaatkan internet untuk tujuan bisnis. Aamiin.
Mudah-mudahan berkah berlimpah.
Ternyata ada peringatan bahaya lain untuk kita semua. Apa itu? Kertegantungan belanja online mulai marak dan merebak di masyarakat Indonesia.
Ada tiga cirinya.
Pertama, memiliki lebih dari 3 kartu kredit yang aktif untuk belanja. Sebaiknya berhati-hati jika kita sudah menggunakan lebih dari 3 kartu kredit untuk belanja online, bahkan tanpa sadar telah berbelanja melebihi income bulanan.
Kedua, menghabiskan lebih dari 3 jam sehari untuk melihat-lihat fitur belanja online. Ketagihan belanja online dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Perhatikan baik-baik, kebiasaan ini bisa mengganggu pekerjaan utama kita karena dilakukan berlebihan.
Ketiga, setiap minggu pasti ada beberapa kiriman paket belanja online. Apalagi kita mulai membayarnya dengan mencicil. Atau terpaksa mengorbankan pos-pos keuangan yang lain. Ini benar-benar bahaya.
Mari kita lihat dalam perspektif yang lebih luas.
Populasi penduduk Indonesia saat ini mencapai 262 juta orang. Lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta orang telah terhubung jaringan internet sepanjang 2017. Angka ini tidak terlalu jelek sebagai negara berkembang.
Dengan kata lain, ini sebenarnya potensi bisnis yang menggiurkan. Pertanyaan selanjutnya, sudahkah kita memanfaatkan perkembangan internet di Indonesia ini sebagai pelaku bisnis? Atau hanya sebagai konsumen produk?
Bijaklah. Sudah saatnya kita jadi pelaku. Jadi pemain. Jadi penjual. Jadi produsen. Besar harapan saya, semoga ke depan lebih banyak lagi orang Indonesia yang memanfaatkan internet untuk tujuan bisnis. Aamiin.
Mudah-mudahan berkah berlimpah.
Apa profesi Anda? Profesional atau entrepreneur?
Di antara kita, sebagian memilih jadi profesional, sebagian lagi memilih jadi entrepreneur. Yah silakan saja. Choice. Masing-masing ada konsekuensi.
Kakek saya, ayah saya, ibu saya, dan kakak saya, mereka semua memilih jadi profesional, sepanjang hidup mereka. Dan mereka-lah yang menafkahi saya sebelum saya mencari nafkah sendiri. Tanpa mereka, saya nggak akan jadi apa-apa.
Gimana dengan entrepreneurship?
Inilah saran saya kepada entrepreneur. Mulailah berbisnis semuda mungkin. Mumpung lagi semangat-semangatnya. Mumpung lagi berani-beraninya. Mumpung ada banyak waktu. Mumpung masih sedikit tanggungan.
Yang saya lihat, tingkat semangat dan tingkat keberanian si muda, memang rada beda dengan senior-seniornya. Beneran, beda! Belum lagi, ketika muda, Anda punya banyak waktu untuk menghabiskan 'jatah gagal'. Ini sepertinya sepele atau lelucon, padahal nggak.
Dan jangan salah. Di Era Digital seperti sekarang ini, berbagai kemudahan ada di ujung jari kita. Boleh dibilang, jempol adalah aset yang teramat besar pun bisa menghasilkan uang, TANPA HARUS keringatan, TANPA HARUS macet-macetan, TANPA HARUS punya ruko dan kios.
Jempol + Internet = Duit
Bijaklah. Ketika orang lain menghabiskan waktu bersama gadget dan komputernya, Anda malah menghasilkan uang melalui gadget dan komputer Anda. Keren nggak tuh? Yah keren banget!
Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan. Semoga hidup Anda semakin berkah dan semakin berlimpah dengan menjadi entrepreneur, dengan memanfaatkan masa muda, dengan memanfaatkan internet, socmed, dan gadget. Aamiin.
Di antara kita, sebagian memilih jadi profesional, sebagian lagi memilih jadi entrepreneur. Yah silakan saja. Choice. Masing-masing ada konsekuensi.
Kakek saya, ayah saya, ibu saya, dan kakak saya, mereka semua memilih jadi profesional, sepanjang hidup mereka. Dan mereka-lah yang menafkahi saya sebelum saya mencari nafkah sendiri. Tanpa mereka, saya nggak akan jadi apa-apa.
Gimana dengan entrepreneurship?
Inilah saran saya kepada entrepreneur. Mulailah berbisnis semuda mungkin. Mumpung lagi semangat-semangatnya. Mumpung lagi berani-beraninya. Mumpung ada banyak waktu. Mumpung masih sedikit tanggungan.
Yang saya lihat, tingkat semangat dan tingkat keberanian si muda, memang rada beda dengan senior-seniornya. Beneran, beda! Belum lagi, ketika muda, Anda punya banyak waktu untuk menghabiskan 'jatah gagal'. Ini sepertinya sepele atau lelucon, padahal nggak.
Dan jangan salah. Di Era Digital seperti sekarang ini, berbagai kemudahan ada di ujung jari kita. Boleh dibilang, jempol adalah aset yang teramat besar pun bisa menghasilkan uang, TANPA HARUS keringatan, TANPA HARUS macet-macetan, TANPA HARUS punya ruko dan kios.
Jempol + Internet = Duit
Bijaklah. Ketika orang lain menghabiskan waktu bersama gadget dan komputernya, Anda malah menghasilkan uang melalui gadget dan komputer Anda. Keren nggak tuh? Yah keren banget!
Saya, Ippho Santosa, turut mendoakan. Semoga hidup Anda semakin berkah dan semakin berlimpah dengan menjadi entrepreneur, dengan memanfaatkan masa muda, dengan memanfaatkan internet, socmed, dan gadget. Aamiin.
Pagi ini saya (Ippho Santosa) senang sekaligus terharu...
Kacang tak boleh lupa sama kulitnya. Beliau berdua (tampak di foto) besar sekali jasanya ke saya dan keluarga saya. Encik Yulian dan Puan Asma namanya. Mereka, orang Malaysia asli. Encik Yulian, orang Chinese asli...
Mereka-lah yang dulu membantu biaya kuliah saya. Ngasih pinjaman. Begitu tamat kuliah, saya berusaha mencicil pinjaman tersebut. Beliau menolak. Katanya, nanti saja bayarnya, setelah Ippho dapat pekerjaan yang lumayan. Setelah bertahun-tahun, setelah didesak-desak, barulah beliau mau menerima cicilan dari saya. Masya Allah...
Ternyata beliau ngasih pinjaman seperti itu, bukan ke saya saja, melainkan ke banyak orang. Tanpa membeda-bedakan ras, agama, dan warga negara. Masya Allah. Mudah-mudahan beliau dan keluarga beliau selalu dirahmati Allah, selamat dunia-akhirat. Aamiin...
Hanya doa yang bisa saya berikan untuk beliau sekeluarga...
Kacang tak boleh lupa sama kulitnya. Beliau berdua (tampak di foto) besar sekali jasanya ke saya dan keluarga saya. Encik Yulian dan Puan Asma namanya. Mereka, orang Malaysia asli. Encik Yulian, orang Chinese asli...
Mereka-lah yang dulu membantu biaya kuliah saya. Ngasih pinjaman. Begitu tamat kuliah, saya berusaha mencicil pinjaman tersebut. Beliau menolak. Katanya, nanti saja bayarnya, setelah Ippho dapat pekerjaan yang lumayan. Setelah bertahun-tahun, setelah didesak-desak, barulah beliau mau menerima cicilan dari saya. Masya Allah...
Ternyata beliau ngasih pinjaman seperti itu, bukan ke saya saja, melainkan ke banyak orang. Tanpa membeda-bedakan ras, agama, dan warga negara. Masya Allah. Mudah-mudahan beliau dan keluarga beliau selalu dirahmati Allah, selamat dunia-akhirat. Aamiin...
Hanya doa yang bisa saya berikan untuk beliau sekeluarga...
Selama 3 hari, saya dan tim berkesempatan untuk melatih mitra-mitra saya. Kami tidak bicara soal bisnis saja, melainkan juga soal kesehatan. Yah, apa gunanya kaya-raya tapi kalau ternyata sakit-sakitan? Right?
Di sini ada sejumlah tips sehat yang mentor-mentor ajarkan. Apa saja? Pertama, makan buah 3 kali sehari, sebelum makan. Kedua, hindari setidaknya kurangi goreng-gorengan. Ketiga, ganti gula dengan madu atau aren. Ini sangat sederhana, tapi dampaknya besar sekali.
Ngomong-ngomong, kenapa pria lebih cepat meninggal? Suka atau tidak suka, secara ilmiah, faktanya yah begitu. Kenapa?
Pertama, dibanding wanita, pria lebih susah diajak untuk menjalani gaya hidup sehat dan sering makan berlebihan. Kedua, sebagian besar pria malas menjalani tes kesehatan karena masalah ego atau masalah kepedean.
Ketiga, sebagian pria semasa mudanya memiliki perilaku yang agresif dan kebiasaan yang berbahaya. Nah, sebenarnya, ketiga faktor yang terakhir ini masih bisa dikendalikan. Ya, masih bisa dikendalikan.
Lantas, adakah faktor-faktor yang tidak bisa dikendalikan? Ada. Mari kita simak ulasan berikut ini.
Survei Vanity Fair terhadap sekitar 1.000 pria dewasa, ternyata 70% pria, kalau boleh memilih, akan memilih meninggal duluan sebelum istrinya. Yah maunya begitu. Dan rupa-rupanya, kemauan mereka itu 'terkabul' dalam dunia nyata, hehehe. Terjadi beneran.
Terlepas dari itu, kenapa pria lebih cepat meninggal ketimbang wanita? Ini dijawab oleh Buzzle.
Begini. Pertama, pria tidak terlatih menghadapi perubahan fisik yang ekstrim. Beda dengan wanita yang terlatih, berhubung pernah hamil dan melahirkan. Btw, ini lazim terjadi pada mamalia, di mana si betina cenderung hidup relatif lebih lama ketimbang si jantan.
Sebab-sebab lain? Kedua, karena adanya menstruasi, wanita mengalami pengurangan zat besi dan juga pengurangan radikal bebas. Ini ada baiknya. Sementara, pria tidak mengalami fenomena ini.
Ketiga, pria pun terus-menerus memproduksi hormon testosteron sepanjang hidupnya, di mana ini tidak menguntungkan saat mereka beranjak tua. Boleh dibilang, faktor-faktor di atas sulit untuk dikendalikan.
Sekali lagi, ini adalah faktor-faktor yang sulit bahkan tidak bisa dikendalikan.
Lantas, apa saran praktis saya? Fokuslah pada faktor-faktor yang masih bisa kita kendalikan. Perbaiki. Lalu, bagaimana dengan faktor-faktor yang belum bisa kita kendalikan? Yah, berpikir positif saja. Setelah itu, yah berdoa. Insya Allah hasilnya bisa jauh lebih baik. Siap praktek?
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga bermanfaat!
Di sini ada sejumlah tips sehat yang mentor-mentor ajarkan. Apa saja? Pertama, makan buah 3 kali sehari, sebelum makan. Kedua, hindari setidaknya kurangi goreng-gorengan. Ketiga, ganti gula dengan madu atau aren. Ini sangat sederhana, tapi dampaknya besar sekali.
Ngomong-ngomong, kenapa pria lebih cepat meninggal? Suka atau tidak suka, secara ilmiah, faktanya yah begitu. Kenapa?
Pertama, dibanding wanita, pria lebih susah diajak untuk menjalani gaya hidup sehat dan sering makan berlebihan. Kedua, sebagian besar pria malas menjalani tes kesehatan karena masalah ego atau masalah kepedean.
Ketiga, sebagian pria semasa mudanya memiliki perilaku yang agresif dan kebiasaan yang berbahaya. Nah, sebenarnya, ketiga faktor yang terakhir ini masih bisa dikendalikan. Ya, masih bisa dikendalikan.
Lantas, adakah faktor-faktor yang tidak bisa dikendalikan? Ada. Mari kita simak ulasan berikut ini.
Survei Vanity Fair terhadap sekitar 1.000 pria dewasa, ternyata 70% pria, kalau boleh memilih, akan memilih meninggal duluan sebelum istrinya. Yah maunya begitu. Dan rupa-rupanya, kemauan mereka itu 'terkabul' dalam dunia nyata, hehehe. Terjadi beneran.
Terlepas dari itu, kenapa pria lebih cepat meninggal ketimbang wanita? Ini dijawab oleh Buzzle.
Begini. Pertama, pria tidak terlatih menghadapi perubahan fisik yang ekstrim. Beda dengan wanita yang terlatih, berhubung pernah hamil dan melahirkan. Btw, ini lazim terjadi pada mamalia, di mana si betina cenderung hidup relatif lebih lama ketimbang si jantan.
Sebab-sebab lain? Kedua, karena adanya menstruasi, wanita mengalami pengurangan zat besi dan juga pengurangan radikal bebas. Ini ada baiknya. Sementara, pria tidak mengalami fenomena ini.
Ketiga, pria pun terus-menerus memproduksi hormon testosteron sepanjang hidupnya, di mana ini tidak menguntungkan saat mereka beranjak tua. Boleh dibilang, faktor-faktor di atas sulit untuk dikendalikan.
Sekali lagi, ini adalah faktor-faktor yang sulit bahkan tidak bisa dikendalikan.
Lantas, apa saran praktis saya? Fokuslah pada faktor-faktor yang masih bisa kita kendalikan. Perbaiki. Lalu, bagaimana dengan faktor-faktor yang belum bisa kita kendalikan? Yah, berpikir positif saja. Setelah itu, yah berdoa. Insya Allah hasilnya bisa jauh lebih baik. Siap praktek?
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga bermanfaat!
Punya bisnis?
Saran saya, "Belajarlah memulai bisnis dan MENGELOLA bisnis."
Dengan belajar, dengan ilmu, risiko-risiko bisnis dapat ditekan. Aktivitas-aktivitas bisnis pun menjadi lebih efisien dan lebih efektif. Apalagi kita tahu, saat ini inovasi perlu dirancang dengan cermat, nggak bisa lagi dadakan atau karbitan.
Memang, action itu teramat perlu. Mutlak. Tapi nggak cukup. Perlu ilmu. Perlu perencanaan. Perlu analisa. Terutama untuk ekspansi bisnis atau membesarkan bisnis. Kalau coba-coba sekenanya, malah lebih menguras waktu dan biaya. Itulah yang dulu saya alami.
Dalam menjalankan bisnis pada tahun kedua dan tahun-tahun berikutnya, saya menyukai sesuatu yang terukur. Karena, hanya sesuatu yang terukur yang bisa ditingkatkan. Kalau tidak terukur, apa yang mau ditingkatkan?
Omset, diukur.
Profit, diukur.
Zakat, diukur.
Jumlah karyawan, diukur.
Kinerja karyawan, diukur.
Kemudian, dievaluasi untuk ditingkatkan.
Sekali lagi, action itu perlu. Berani itu perlu. Terutama untuk memulai. Tapi, untuk membesarkan, kita perlu ilmu. Perlu perencanaan. Perlu analisa. Nggak bisa asal action.
Soal membesarkan bisnis, teman-teman bisa belajar dari Mr Joss, Dedy Duit, dan Wendi Abdillah. Boleh juga jadi mitra mereka. Setahu saya, mereka senang sekali berbagi ilmu untuk entrepreneur dan calon entrepreneur.
Mudah-mudahan dengan belajar dan tahu hal-hal teknis, bukan sekedar motivasi, bisnis kita bisa membesar dan menaungi banyak orang. Berkah berlimpah. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saran saya, "Belajarlah memulai bisnis dan MENGELOLA bisnis."
Dengan belajar, dengan ilmu, risiko-risiko bisnis dapat ditekan. Aktivitas-aktivitas bisnis pun menjadi lebih efisien dan lebih efektif. Apalagi kita tahu, saat ini inovasi perlu dirancang dengan cermat, nggak bisa lagi dadakan atau karbitan.
Memang, action itu teramat perlu. Mutlak. Tapi nggak cukup. Perlu ilmu. Perlu perencanaan. Perlu analisa. Terutama untuk ekspansi bisnis atau membesarkan bisnis. Kalau coba-coba sekenanya, malah lebih menguras waktu dan biaya. Itulah yang dulu saya alami.
Dalam menjalankan bisnis pada tahun kedua dan tahun-tahun berikutnya, saya menyukai sesuatu yang terukur. Karena, hanya sesuatu yang terukur yang bisa ditingkatkan. Kalau tidak terukur, apa yang mau ditingkatkan?
Omset, diukur.
Profit, diukur.
Zakat, diukur.
Jumlah karyawan, diukur.
Kinerja karyawan, diukur.
Kemudian, dievaluasi untuk ditingkatkan.
Sekali lagi, action itu perlu. Berani itu perlu. Terutama untuk memulai. Tapi, untuk membesarkan, kita perlu ilmu. Perlu perencanaan. Perlu analisa. Nggak bisa asal action.
Soal membesarkan bisnis, teman-teman bisa belajar dari Mr Joss, Dedy Duit, dan Wendi Abdillah. Boleh juga jadi mitra mereka. Setahu saya, mereka senang sekali berbagi ilmu untuk entrepreneur dan calon entrepreneur.
Mudah-mudahan dengan belajar dan tahu hal-hal teknis, bukan sekedar motivasi, bisnis kita bisa membesar dan menaungi banyak orang. Berkah berlimpah. Aamiin. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Di pusat keramaian, di deretan ruko-ruko, saya berjalan ke sana ke mari mencari koran. Ternyata tidak ada satupun yang menjual. Rupanya, perusahaan-perusahaan suratkabar saat ini jarang-jarang menjual koran versi cetak. Mereka lebih memilih untuk mengaktifkan koran versi online. Go digital, istilahnya.
Jujur, saya tidak tahu bagaimana nasib industri koran dan iklan koran ke depannya. Benar-benar tidak tahu. Sudah sekian kali saya mengalami, ternyata viral di Facebook dan viral di Instagram jelas-jelas lebih ampuh daripada iklan koran. Serius. Biayanya jauh lebih murah, targetnya jauh lebih terarah.
Boleh dibilang, FB dan IG sekarang tengah ramai-ramainya. Ada keunikan di sana.
Di FB dan IG, yang menjadi redaktur dan editornya adalah Anda. Ya, Anda. Pembacanya? Teman-teman Anda dan keluarga Anda. Interaktif. Di social media, begitulah cara kerjanya. Beda dengan koran biasa. Orang-orang bisnis dan pemasaran mesti melek soal beginian.
Prinsip pemasaran itu kan sederhana. Di mana ada keramaian, di situlah entrepreneur dan marketer turut berada. Mendekat. Merapat. Pesan senior saya, "Mari kelola baik-baik akun Facebook dan Instagram kita. Sepertinya Facebook dan Instagram akan bertahan sangat lama dan semakin berpengaruh."
Di koran biasa, komunikasi hanya berlaku satu arah. Kalau di FB dan IG? Yah, dua arah. Interaktif.
Memiliki akun FB dan IG adalah langkah awal yang bijak. Aktiflah di sana. Tapi maaf, itu sama sekali tidak cukup. Kita harus belajar ilmu optimasi agar akun kita bisa muncul dan selalu muncul ketika netizen melakukan pencarian (search atau explore). Ini ada ilmunya. Optimasi nama ilmunya.
Ilmu optimasi, internet marketing, digital marketing atau apapun namanya, sangat perlu dipelajari. Anda boleh belajar dari siapa saja. Yang penting, harus teknis dan detail. Nggak cukup cuma sesi motivasi yang serba singkat.
Menariknya, dengan internet marketing, bisnis kita bisa go national. Benar-benar go national. Manfaat lainnya? Bisa hemat besar-besaran (nggak perlu toko, nggak perlu banyak stok, nggak perlu banyak staf). Satu lagi, bisa jualan 24 jam (SEO membantu akun kita dan web kita berada di halaman 1 Google).
Sekali lagi, sempatkan untuk belajar internet marketing. Teknis, detail. Mungkin dua hari. Mungkin tiga hari. Seminggu, itu lebih baik. Zaman sudah berubah. Bila kita enggan berubah dan berbenah, bukan mustahil kita dan bisnis kita akan punah. Persis seperti koran versi cetak.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Jujur, saya tidak tahu bagaimana nasib industri koran dan iklan koran ke depannya. Benar-benar tidak tahu. Sudah sekian kali saya mengalami, ternyata viral di Facebook dan viral di Instagram jelas-jelas lebih ampuh daripada iklan koran. Serius. Biayanya jauh lebih murah, targetnya jauh lebih terarah.
Boleh dibilang, FB dan IG sekarang tengah ramai-ramainya. Ada keunikan di sana.
Di FB dan IG, yang menjadi redaktur dan editornya adalah Anda. Ya, Anda. Pembacanya? Teman-teman Anda dan keluarga Anda. Interaktif. Di social media, begitulah cara kerjanya. Beda dengan koran biasa. Orang-orang bisnis dan pemasaran mesti melek soal beginian.
Prinsip pemasaran itu kan sederhana. Di mana ada keramaian, di situlah entrepreneur dan marketer turut berada. Mendekat. Merapat. Pesan senior saya, "Mari kelola baik-baik akun Facebook dan Instagram kita. Sepertinya Facebook dan Instagram akan bertahan sangat lama dan semakin berpengaruh."
Di koran biasa, komunikasi hanya berlaku satu arah. Kalau di FB dan IG? Yah, dua arah. Interaktif.
Memiliki akun FB dan IG adalah langkah awal yang bijak. Aktiflah di sana. Tapi maaf, itu sama sekali tidak cukup. Kita harus belajar ilmu optimasi agar akun kita bisa muncul dan selalu muncul ketika netizen melakukan pencarian (search atau explore). Ini ada ilmunya. Optimasi nama ilmunya.
Ilmu optimasi, internet marketing, digital marketing atau apapun namanya, sangat perlu dipelajari. Anda boleh belajar dari siapa saja. Yang penting, harus teknis dan detail. Nggak cukup cuma sesi motivasi yang serba singkat.
Menariknya, dengan internet marketing, bisnis kita bisa go national. Benar-benar go national. Manfaat lainnya? Bisa hemat besar-besaran (nggak perlu toko, nggak perlu banyak stok, nggak perlu banyak staf). Satu lagi, bisa jualan 24 jam (SEO membantu akun kita dan web kita berada di halaman 1 Google).
Sekali lagi, sempatkan untuk belajar internet marketing. Teknis, detail. Mungkin dua hari. Mungkin tiga hari. Seminggu, itu lebih baik. Zaman sudah berubah. Bila kita enggan berubah dan berbenah, bukan mustahil kita dan bisnis kita akan punah. Persis seperti koran versi cetak.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Seperti yang teman-teman tahu, kadang saya memberikan coaching untuk entrepreneur dan calon entrepreneur.
"Bisnis apa sih yang bagus?" celetuk seorang peserta coaching.
"Bisnis yang dimulai," sindir saya. Iya tho? Yang penting legal dan halal.
Ada yang buka bisnis fashion dan untung. Ada pula yang buka bisnis yang sama dan rugi. Apakah fashion-nya yang salah? Nggak. Ilmunya yang salah. Manajemennya yang salah. Orangnya yang salah.
Ada yang buka bisnis katering dan berkembang. Ada pula yang buka bisnis yang serupa dan bangkrut. Apakah katering-nya yang salah? Nggak. Ilmunya yang salah. Manajemennya yang salah. Orangnya yang salah.
Begini. Sekiranya Anda punya jatah gagal 5X atau 7X, maka jatah itu harus Anda habiskan. Kalau ditunda-tunda, yah dapat apa? Nggak dapat apa-apa. Mirisnya lagi, begitu Anda menunda, maka mood bisnis pun akan berkurang dan menghilang.
Pesan saya, terutama buat Anda yang muda-muda, segeralah mulai usaha, jangan ditunda-tunda. Lantas, apakah setelah memulai usaha, jaminan sukses itu ada? Kalau jaminan yah nggak ada. Tapi potensinya, sekian persen, ada. Sekarang, pilihan ada di tangan Anda.
Di sini, saya mau membeberkan sejumlah tips sukses. Siap? Pertama, cari produk yang mutunya bagus dan marginnya lumayan (tidak harus produksi sendiri). Kedua, miliki kemampuan menjual baik offline maupun online). Ketiga, miliki mentor yang tepat.
Simple tho? Nggak ribet. Kalau tiga tips tadi Anda terapkan baik-baik, saya yakin hasilnya akan kelihatan dalam 100 hari atau kurang. Ngefek ke income Anda. Tapi kalau sekedar dibaca-baca saja, yah nggak dapat apa-apa, kecuali menambah wawasan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mudah-mudahan berkah berlimpah.
(Sejak lama, saya rutin berbagi ilmu bisnis dan ilmu rezeki di channel Telegram @ipphoright ini. Mari ajak sahabat dan keluarga untuk join. Sama-sama kita belajar.)
"Bisnis apa sih yang bagus?" celetuk seorang peserta coaching.
"Bisnis yang dimulai," sindir saya. Iya tho? Yang penting legal dan halal.
Ada yang buka bisnis fashion dan untung. Ada pula yang buka bisnis yang sama dan rugi. Apakah fashion-nya yang salah? Nggak. Ilmunya yang salah. Manajemennya yang salah. Orangnya yang salah.
Ada yang buka bisnis katering dan berkembang. Ada pula yang buka bisnis yang serupa dan bangkrut. Apakah katering-nya yang salah? Nggak. Ilmunya yang salah. Manajemennya yang salah. Orangnya yang salah.
Begini. Sekiranya Anda punya jatah gagal 5X atau 7X, maka jatah itu harus Anda habiskan. Kalau ditunda-tunda, yah dapat apa? Nggak dapat apa-apa. Mirisnya lagi, begitu Anda menunda, maka mood bisnis pun akan berkurang dan menghilang.
Pesan saya, terutama buat Anda yang muda-muda, segeralah mulai usaha, jangan ditunda-tunda. Lantas, apakah setelah memulai usaha, jaminan sukses itu ada? Kalau jaminan yah nggak ada. Tapi potensinya, sekian persen, ada. Sekarang, pilihan ada di tangan Anda.
Di sini, saya mau membeberkan sejumlah tips sukses. Siap? Pertama, cari produk yang mutunya bagus dan marginnya lumayan (tidak harus produksi sendiri). Kedua, miliki kemampuan menjual baik offline maupun online). Ketiga, miliki mentor yang tepat.
Simple tho? Nggak ribet. Kalau tiga tips tadi Anda terapkan baik-baik, saya yakin hasilnya akan kelihatan dalam 100 hari atau kurang. Ngefek ke income Anda. Tapi kalau sekedar dibaca-baca saja, yah nggak dapat apa-apa, kecuali menambah wawasan.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Mudah-mudahan berkah berlimpah.
(Sejak lama, saya rutin berbagi ilmu bisnis dan ilmu rezeki di channel Telegram @ipphoright ini. Mari ajak sahabat dan keluarga untuk join. Sama-sama kita belajar.)
Ribuan pertanyaan telah masuk ke saya. Mereka semua japri ke tim saya.
Walaupun sangat melelahkan, saya berusaha menjawabnya. Setidaknya, sebagian. Saya menjawabnya melalui artikel-artikel. Ke depan, saya akan dibantu beberapa mentor bisnis yang teruji, seperti Mr Joss, Dedy Duit, dan Wendi Abdillah.
Beberapa pertanyaan masuk adalah soal memulai bisnis.
Ini respons saya. Seberapa yakin Anda untuk menunda-nunda memulai bisnis dengan dalih besok-besok atau nanti-nanti, sementara waktu terus berganti tak terhenti? Padahal, begitu Anda mulai, sukses finansial tengah menanti.
Satu lagi. Biaya hidup dan tanggungan hidup terus meningkat. Inflasi tak bisa ditahan, tak bisa dicegat. Jelas, menunda-nunda memulai bisnis bukanlah solusi. Ya, bukanlah solusi.
"Mas Ippho, bisnis apa sih yang bagus?" celetuk mereka.
"Bisnis yang dimulai," sindir saya. Iya tho? Yang penting legal dan halal.
Sekiranya Anda punya jatah gagal 4X atau 5X, maka jatah itu harus Anda habiskan. Kalau ditunda-tunda, yah dapat apa? Nggak dapat apa-apa. Mirisnya lagi, begitu Anda menunda, maka mood bisnis pun akan berkurang dan mereda.
Pesan saya, terutama buat Anda yang muda-muda, segeralah mulai usaha, jangan ditunda-tunda. Lantas, apakah setelah memulai usaha, jaminan sukses itu ada? Kalau jaminan yah nggak ada. Tapi potensinya, sekian persen, ada. Sekarang, pilihan ada di tangan Anda.
Syukur-syukur kalau dapat bisnis yang marginnya lumayan dan repeat order-nya juga lumayan. Yang seperti itu, ada di sekitar kita. Cari saja. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Walaupun sangat melelahkan, saya berusaha menjawabnya. Setidaknya, sebagian. Saya menjawabnya melalui artikel-artikel. Ke depan, saya akan dibantu beberapa mentor bisnis yang teruji, seperti Mr Joss, Dedy Duit, dan Wendi Abdillah.
Beberapa pertanyaan masuk adalah soal memulai bisnis.
Ini respons saya. Seberapa yakin Anda untuk menunda-nunda memulai bisnis dengan dalih besok-besok atau nanti-nanti, sementara waktu terus berganti tak terhenti? Padahal, begitu Anda mulai, sukses finansial tengah menanti.
Satu lagi. Biaya hidup dan tanggungan hidup terus meningkat. Inflasi tak bisa ditahan, tak bisa dicegat. Jelas, menunda-nunda memulai bisnis bukanlah solusi. Ya, bukanlah solusi.
"Mas Ippho, bisnis apa sih yang bagus?" celetuk mereka.
"Bisnis yang dimulai," sindir saya. Iya tho? Yang penting legal dan halal.
Sekiranya Anda punya jatah gagal 4X atau 5X, maka jatah itu harus Anda habiskan. Kalau ditunda-tunda, yah dapat apa? Nggak dapat apa-apa. Mirisnya lagi, begitu Anda menunda, maka mood bisnis pun akan berkurang dan mereda.
Pesan saya, terutama buat Anda yang muda-muda, segeralah mulai usaha, jangan ditunda-tunda. Lantas, apakah setelah memulai usaha, jaminan sukses itu ada? Kalau jaminan yah nggak ada. Tapi potensinya, sekian persen, ada. Sekarang, pilihan ada di tangan Anda.
Syukur-syukur kalau dapat bisnis yang marginnya lumayan dan repeat order-nya juga lumayan. Yang seperti itu, ada di sekitar kita. Cari saja. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!