Masih soal silaturahim.
Interaksi sosial dengan manusia lain alias silaturahim ternyata memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan sistem imun dan pencegahan demensia. Ya, menyehatkan.
Semakin sering Anda berinteraksi, semakin besar pula kesempatan bagi Anda untuk memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dan risiko demensia yang lebih kecil.
Penelitian-penelitian yang dihelat terhadap mereka yang berusia panjang, ditemukan fakta bahwa mereka adalah orang-orang yang ramah, bersahabat, dan senang bersosialisasi. Wow!
Orang-orang seperti itu biasanya senang tertawa dan membagi perasaan dengan orang lain, ketimbang menyimpannya dalam hati. Berhubung dia ramah dan bersahabat, maka orang lain pun tak keberatan menerimanya.
Selanjutnya, simaklah dalil-dalil berikut ini:
"Sesiapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahim,” HR Bukhari-Muslim.
Firman Allah, "Aku adalah Ar-Rahman. Aku menciptakan 'rahim' dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Sesiapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga hak-Nya. Dan sesiapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus darinya,” HR Ahmad.
Suatu ketika Nabi Muhammad menjelaskan tentang kunci surga, “Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahim,” HR Bukhari-Muslim.
Sekali lagi, begitu besar manfaat silaturahim. Setidaknya, inilah menurut berbagai penelitian dan dalil. Sekarang, tugas kita mempraktekkan dan membuktikan. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Interaksi sosial dengan manusia lain alias silaturahim ternyata memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan sistem imun dan pencegahan demensia. Ya, menyehatkan.
Semakin sering Anda berinteraksi, semakin besar pula kesempatan bagi Anda untuk memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dan risiko demensia yang lebih kecil.
Penelitian-penelitian yang dihelat terhadap mereka yang berusia panjang, ditemukan fakta bahwa mereka adalah orang-orang yang ramah, bersahabat, dan senang bersosialisasi. Wow!
Orang-orang seperti itu biasanya senang tertawa dan membagi perasaan dengan orang lain, ketimbang menyimpannya dalam hati. Berhubung dia ramah dan bersahabat, maka orang lain pun tak keberatan menerimanya.
Selanjutnya, simaklah dalil-dalil berikut ini:
"Sesiapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahim,” HR Bukhari-Muslim.
Firman Allah, "Aku adalah Ar-Rahman. Aku menciptakan 'rahim' dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Sesiapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga hak-Nya. Dan sesiapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus darinya,” HR Ahmad.
Suatu ketika Nabi Muhammad menjelaskan tentang kunci surga, “Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahim,” HR Bukhari-Muslim.
Sekali lagi, begitu besar manfaat silaturahim. Setidaknya, inilah menurut berbagai penelitian dan dalil. Sekarang, tugas kita mempraktekkan dan membuktikan. Siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.
Ramadhan mengajarkan dan melatih kita untuk berhemat. Baik dalam makan maupun dalam belanja. Itulah semestinya. Namun godaan selalu ada. Ya, selalu ada.
Survey platform belanja online asal AS, ThinkOver, menunjukkan perilaku belanja lebih spesifik pada wanita milenial. Adanya promosi potongan harga (diskon) menjadi faktor penting dalam keputusan berbelanja.
Sekitar 55 persen responden mengakui, mereka memeriksa situs web belanja untuk mengecek apakah ada diskon atau tidak. Dan 75 persen mengaku sangat kecewa jika barang yang diincar lagi diskon tapi mereka tidak menyadarinya.
Artinya, adanya pengumuman diskon sangatlah ditunggu-tunggu konsumen wanita milenial. Begitulah, adanya diskon besar-besaran merupakan godaan besar bagi wanita milenial.
Saya sering berpesan, "Kalau mau mapan, berarti kita mesti siap dengan tiga hal."
- rutin jualan
- hidup hemat
- beli aset
Terapkan. Insya Allah, pasti mapan. Boleh dibilang, hidup hemat itu penentu.
Simple? Iya. Namun bukan berarti easy. Teramat jarang orang yang menguasai tiga hal tersebut. Misal, dia demen jualan tapi boros. Dia siap hidup hemat tapi anti jualan.
Ramadhan insya Allah melatih kita untuk hidup hemat. Yuk kita serius atau lebih serius mengamalkannya. Semoga kita lulus dalam training ini.
Survey platform belanja online asal AS, ThinkOver, menunjukkan perilaku belanja lebih spesifik pada wanita milenial. Adanya promosi potongan harga (diskon) menjadi faktor penting dalam keputusan berbelanja.
Sekitar 55 persen responden mengakui, mereka memeriksa situs web belanja untuk mengecek apakah ada diskon atau tidak. Dan 75 persen mengaku sangat kecewa jika barang yang diincar lagi diskon tapi mereka tidak menyadarinya.
Artinya, adanya pengumuman diskon sangatlah ditunggu-tunggu konsumen wanita milenial. Begitulah, adanya diskon besar-besaran merupakan godaan besar bagi wanita milenial.
Saya sering berpesan, "Kalau mau mapan, berarti kita mesti siap dengan tiga hal."
- rutin jualan
- hidup hemat
- beli aset
Terapkan. Insya Allah, pasti mapan. Boleh dibilang, hidup hemat itu penentu.
Simple? Iya. Namun bukan berarti easy. Teramat jarang orang yang menguasai tiga hal tersebut. Misal, dia demen jualan tapi boros. Dia siap hidup hemat tapi anti jualan.
Ramadhan insya Allah melatih kita untuk hidup hemat. Yuk kita serius atau lebih serius mengamalkannya. Semoga kita lulus dalam training ini.
Barang mahal, kalau memang perlu, yah beli.
Barang murah, kalau nggak perlu, jangan dibeli.
Ini salah satu prinsip dalam hemat.
Barang murah, kalau nggak perlu, jangan dibeli.
Ini salah satu prinsip dalam hemat.
Sulit kita untuk mapan finansial, kalau kita tak mampu berhemat.
Merasa nyaman (comfort) itu berbahaya.
The biggest trap, the biggest dungeon in life is isn't laziness or bad luck, it's comfort.
Ini menurut Robert Kiyosaki, penulis buku #RichDad. Alhamdulillah, saya pribadi 2 kali berjumpa dengan beliau.
Memang kita dianjurkan untuk bersyukur. Tapi di sisi lain, kita juga dianjurkan untuk bertumbuh. Mereka yang merasa nyaman sering enggan untuk belajar dan bertumbuh. Ini bahaya.
Ingat. Belajar bukan di sekolah dan di kampus saja. Belajar itu di mana saja. Ya, di mana saja. Terutama bagi mereka yang ingin bertumbuh. Saya berharap Anda salah satunya.
Saya aktif di dunia seminar. Walaupun sekitar 70% bentuknya sudah charity (memang saya yang maunya begitu). Hm, kenapa saya aktif sampai sekarang? Karena di situ saya menabur dan menuai ilmu.
Maksudnya?
Sebenarnya, seminar itu proses belajar-mengajar. Sarat dengan ilmu. Ketika mengajar, menariknya, pada waktu yang sama saya juga belajar. Dan mengajar adalah salah satu cara tercepat untuk belajar. Setidaknya itulah yang saya alami.
Selain berbisnis, saya mendapat ilmu-ilmu terbaik dari para alumni seminar selama 10 tahun terakhir di 30-an provinsi di Indonesia dan di belasan negara di 5 benua. Ya, saya belajar dari para alumni seminar. Tepatnya, kami saling belajar.
Silakan bersyukur. Itu bagus. Itu harus. Tapi di sisi lain, kita juga harus bertumbuh. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merasa nyaman, terus enggan untuk belajar dan bertumbuh.
The biggest trap, the biggest dungeon in life is isn't laziness or bad luck, it's comfort.
Ini menurut Robert Kiyosaki, penulis buku #RichDad. Alhamdulillah, saya pribadi 2 kali berjumpa dengan beliau.
Memang kita dianjurkan untuk bersyukur. Tapi di sisi lain, kita juga dianjurkan untuk bertumbuh. Mereka yang merasa nyaman sering enggan untuk belajar dan bertumbuh. Ini bahaya.
Ingat. Belajar bukan di sekolah dan di kampus saja. Belajar itu di mana saja. Ya, di mana saja. Terutama bagi mereka yang ingin bertumbuh. Saya berharap Anda salah satunya.
Saya aktif di dunia seminar. Walaupun sekitar 70% bentuknya sudah charity (memang saya yang maunya begitu). Hm, kenapa saya aktif sampai sekarang? Karena di situ saya menabur dan menuai ilmu.
Maksudnya?
Sebenarnya, seminar itu proses belajar-mengajar. Sarat dengan ilmu. Ketika mengajar, menariknya, pada waktu yang sama saya juga belajar. Dan mengajar adalah salah satu cara tercepat untuk belajar. Setidaknya itulah yang saya alami.
Selain berbisnis, saya mendapat ilmu-ilmu terbaik dari para alumni seminar selama 10 tahun terakhir di 30-an provinsi di Indonesia dan di belasan negara di 5 benua. Ya, saya belajar dari para alumni seminar. Tepatnya, kami saling belajar.
Silakan bersyukur. Itu bagus. Itu harus. Tapi di sisi lain, kita juga harus bertumbuh. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merasa nyaman, terus enggan untuk belajar dan bertumbuh.
Sepertinya secara berkala kita perlu menilai (baca: evaluasi) hasil kinerja kita. Dengan demikian, kita tahu persis kelebihan dan kekurangan kita. Masih ingat soal SWOT Analysis? Ini penting.
Apa pentingnya? Jika nantinya Anda ingin ganti bisnis atau banting setir, Anda pun sudah memahami keunggulan-keunggulan Anda. Selain itu, Anda juga tahu hal-hal yang perlu dipertajam dan hal-hal yang cukup diabaikan.
Baiknya dievaluasi setiap berapa lama? Enam bulan adalah waktu relatif pas untuk mengevaluasi kinerja. Ya, setiap enam bulan. Bilamana ternyata kinerja kita kurang memuaskan, kita masih punya waktu untuk memperbaikinya hingga akhir tahun. Right?
Seterusnya, soal fokus. Terlalu banyak tujuan (target) bisa membuat kita kurang fokus. Ya, kurang fokus. Seperti anak kecil, rata-rata mereka punya masalah soal #fokus. Wajar, di usianya, mereka memang sulit untuk serius.
Padahal? Fokus itu bagus. Fokus itu harus. Percayalah, untuk sukses, ini adalah rumus. Bisnis yang tak terurus adalah pertanda perhatian yang tidak fokus. Lama-lama, profit yang tergerus.
Kita saat ini berada di pertengahan tahun. Dua hal yang saya tawarkan adalah evaluasi kinerja dan evaluasi kefokusan. Jangan sampai karena sibuk ini-itu, pada akhirnya kita mengabaikan evaluasi kinerja dan evaluasi kefokusan.
Semoga bermanfaat.
Apa pentingnya? Jika nantinya Anda ingin ganti bisnis atau banting setir, Anda pun sudah memahami keunggulan-keunggulan Anda. Selain itu, Anda juga tahu hal-hal yang perlu dipertajam dan hal-hal yang cukup diabaikan.
Baiknya dievaluasi setiap berapa lama? Enam bulan adalah waktu relatif pas untuk mengevaluasi kinerja. Ya, setiap enam bulan. Bilamana ternyata kinerja kita kurang memuaskan, kita masih punya waktu untuk memperbaikinya hingga akhir tahun. Right?
Seterusnya, soal fokus. Terlalu banyak tujuan (target) bisa membuat kita kurang fokus. Ya, kurang fokus. Seperti anak kecil, rata-rata mereka punya masalah soal #fokus. Wajar, di usianya, mereka memang sulit untuk serius.
Padahal? Fokus itu bagus. Fokus itu harus. Percayalah, untuk sukses, ini adalah rumus. Bisnis yang tak terurus adalah pertanda perhatian yang tidak fokus. Lama-lama, profit yang tergerus.
Kita saat ini berada di pertengahan tahun. Dua hal yang saya tawarkan adalah evaluasi kinerja dan evaluasi kefokusan. Jangan sampai karena sibuk ini-itu, pada akhirnya kita mengabaikan evaluasi kinerja dan evaluasi kefokusan.
Semoga bermanfaat.
Bukan YM namanya kalau nggak humoris, hehehe.
Muay-thai diadu dengan thai-tea.
Muay-thai diadu dengan thai-tea.
Indonesia adalah rumah kita. Tentu, kita menginginkan dan merindukan yang terbaik untuk Indonesia. Saya yakin Anda setuju dengan saya.
Kemarin (Jumat), dengan izin Allah, saya berbuka puasa bersama Ketua MPR Pak Zul, Presiden RI Pak Jokowi, sejumlah menteri, dan tokoh-tokoh lainnya. Alhamdulillah.
Ketika maghrib, #SyekhAliJaber yang menjadi imam. Saya, Pak Zul, Pak Jokowi, Pak Oesman Sapta Odang dll berada di shaf pertama (di foto, saya nggak kelihatan hehe).
Ketika isya, Ust #YusufMansur yang menjadi imam. Layaknya imam-imam lainnya, selesai sholat, Syekh Ali dan Ust Yusuf mendoakan yang baik-baik untuk Indonesia.
Latar belakang kita mungkin berbeda, pilihan politik kita mungkin berbeda, tapi kita sama-sama merindukan yang terbaik untuk Indonesia. Btw, terima kasih Pak Zul atas undangannya.
Mumpung Ramadhan, waktu yang istimewa, kita doakan yang terbaik untuk Indonesia. Maju, makmur, madani. Aamiin. Semoga Allah meridhai dan mengabulkan.
Kemarin (Jumat), dengan izin Allah, saya berbuka puasa bersama Ketua MPR Pak Zul, Presiden RI Pak Jokowi, sejumlah menteri, dan tokoh-tokoh lainnya. Alhamdulillah.
Ketika maghrib, #SyekhAliJaber yang menjadi imam. Saya, Pak Zul, Pak Jokowi, Pak Oesman Sapta Odang dll berada di shaf pertama (di foto, saya nggak kelihatan hehe).
Ketika isya, Ust #YusufMansur yang menjadi imam. Layaknya imam-imam lainnya, selesai sholat, Syekh Ali dan Ust Yusuf mendoakan yang baik-baik untuk Indonesia.
Latar belakang kita mungkin berbeda, pilihan politik kita mungkin berbeda, tapi kita sama-sama merindukan yang terbaik untuk Indonesia. Btw, terima kasih Pak Zul atas undangannya.
Mumpung Ramadhan, waktu yang istimewa, kita doakan yang terbaik untuk Indonesia. Maju, makmur, madani. Aamiin. Semoga Allah meridhai dan mengabulkan.