Saya paling sering berbagi ilmu dan insya Allah info terbaru di Telegram.
Akun resmi saya di Telegram, Instagram, dan Twitter adalah:
ipphoright
Istri saya, aktif di Instagram:
AstridSuhaimi
Di Instagram, istri saya lebih sering berbagi cerita soal anak.
Sebenarnya, seluruh link-link akun resmi saya sudah tertera di web www.ippho.com termasuk akun Facebook dan YouTube. Tak perlu nyasar ke mana-mana.
Happy learning!
Akun resmi saya di Telegram, Instagram, dan Twitter adalah:
ipphoright
Istri saya, aktif di Instagram:
AstridSuhaimi
Di Instagram, istri saya lebih sering berbagi cerita soal anak.
Sebenarnya, seluruh link-link akun resmi saya sudah tertera di web www.ippho.com termasuk akun Facebook dan YouTube. Tak perlu nyasar ke mana-mana.
Happy learning!
Yang pengen mobil, coba baca tulisan ini. Tenang-tenang ya » http://bit.ly/NgidamMobil
Yang pengen mencapai target, baca ini ya » http://bit.ly/RaguRagu
Ternyata keberuntungan punya pola tersendiri. Simak » http://bit.ly/SupayaBeruntung
Hormati ayah kita. Sayangi ayah kita. Berbaktilah kepadanya. Sangat jelas, tak terkira pengorbanan dan perjuangannya. Demi kita. Demi masa depan kita. Demi keselamatan akhirat kita. Begitulah, setiap ayah memang luar biasa!
- Adalah benar ibu itu hebat, tiada duanya. Tapi dengan izin Allah, ayahlah yang memilihkan ibu untuk kita dan mengarahkan ibu untuk mendampingi kita.
- Adalah benar ibu yang mengandung dan menyusui kita. Tapi ayahlah yang menafkahi ibu, sehingga ibu dapat mengandung dan menyusui kita dengan sempurna.
- Adalah benar ibu yang melahirkan kita, mempertaruhkan nyawanya. Tapi ayahlah yang sehari-hari melindungi kita, mempertaruhkan hidupnya.
- Adalah benar ibu yang memberi kita nasihat-nasihat kehidupan. Tapi dalam kehidupan, ayahlah yang bertindak sebagai penanggung-jawab dan kepala keluarga.
- Adalah benar, kalau kita ada masalah, ibu yang risau dan menangis. Tapi ayahlah yang mengajarkan ketegaran kepada kita dengan menyembunyikan kerisauannya.
- Adalah benar ibu itu hebat, tiada duanya. Tapi dengan izin Allah, ayahlah yang memilihkan ibu untuk kita dan mengarahkan ibu untuk mendampingi kita.
- Adalah benar ibu yang mengandung dan menyusui kita. Tapi ayahlah yang menafkahi ibu, sehingga ibu dapat mengandung dan menyusui kita dengan sempurna.
- Adalah benar ibu yang melahirkan kita, mempertaruhkan nyawanya. Tapi ayahlah yang sehari-hari melindungi kita, mempertaruhkan hidupnya.
- Adalah benar ibu yang memberi kita nasihat-nasihat kehidupan. Tapi dalam kehidupan, ayahlah yang bertindak sebagai penanggung-jawab dan kepala keluarga.
- Adalah benar, kalau kita ada masalah, ibu yang risau dan menangis. Tapi ayahlah yang mengajarkan ketegaran kepada kita dengan menyembunyikan kerisauannya.
Kadang, kita perlu berhenti sejenak dari kesibukan. Ngapain? Meluruskan arah, meluruskan niat, memperbaiki diri, introspeksi diri, mengevaluasi kinerja, mengamati pesaing, dst... Tulisan berikut rada berat. Hanya buat leader dan calon leader. Simak » http://bit.ly/introspeksi
Setiap leader mesti bisa 'meraba' kekuatan-kekuatan besar yang berasal dari dalam (inner) dan tidak terlihat (invisible). Rupa-rupanya, ini malah lebih dahsyat. Misalnya, soal niat dan visi. Terus, apa lagi? Simak ya » http://bit.ly/TakTerlihat
Sejenak renungkan ini:
- Mengapa manusia dijadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa? Supaya saling mengenal. Itulah pesan dari kitab suci.
- Mau lebih bahagia? Mau panjang umur? Mau murah rezeki? Silaturahim kuncinya. Itulah pesan Nabi Muhammad.
- Silaturahim, ini tidak main-main. Umat Nabi Nuh sampai-sampai dipersingkat umurnya, gara-gara memutus tali silaturahim dengan Nabi Nuh (Baca Nuh 4).
Jelas, saling mengenal dan silaturahim itu mengundang rezeki. Secara iman, kita sudah mengakui itu sejak lama. Namun adakah buktinya secara ilmiah? Ternyata ada. Simak deh » http://bit.ly/SILATURAHIM
- Mengapa manusia dijadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa? Supaya saling mengenal. Itulah pesan dari kitab suci.
- Mau lebih bahagia? Mau panjang umur? Mau murah rezeki? Silaturahim kuncinya. Itulah pesan Nabi Muhammad.
- Silaturahim, ini tidak main-main. Umat Nabi Nuh sampai-sampai dipersingkat umurnya, gara-gara memutus tali silaturahim dengan Nabi Nuh (Baca Nuh 4).
Jelas, saling mengenal dan silaturahim itu mengundang rezeki. Secara iman, kita sudah mengakui itu sejak lama. Namun adakah buktinya secara ilmiah? Ternyata ada. Simak deh » http://bit.ly/SILATURAHIM
Tepat 17 Agustus kemarin, saya diajak makan gado-gado sama Ustadz Arifin Ilham. Sekian tahun kenal, sekian kali bertemu, baru kali itulah kami foto bareng. Bagi saya, doa, zikir, dan ilmu beliau jauh lebih berarti (Doakan beliau ya, semoga selalu sehat. Aamiin). Demikian pula ketika saya bertemu Imam Sudais dan Syekh Hisyam. Nggak ada foto-foto. Bukannya dilarang foto-foto, namun bukan itu yang utama.
Saran saya, ketika Anda ingin belajar dari seseorang, usahakan untuk bertemu langsung. Buku atau YouTube tentu sangat bagus. Hanya saja, nggak cukup. Saat bertemu langsung, Anda bisa merasakan energi dan spirit sang guru, yang mana ini kurang terasa kalau cuma via buku atau YouTube. Karena itulah saya berusaha bertemu langsung dengan Yusuf Qardhawi, Richard Branson, Robert Kiyosaki, Tony Robbins, Nick Vujicic, Philip Kotler, dan lain-lain.
Syukur-syukur kalau Anda bisa makan bareng dengan sang guru. Saat saya bertamu dan dijamu kue-kue ringan oleh Yusuf Qardhawi, saat saya dinner semeja dengan BJ Habibie dan Ilham Habibie, saat saya tanya-jawab dan memberikan buku kepada Richard Branson, itu semua adalah unforgettable moment bagi saya. Sedikit-banyak, saya bisa merasakan energi dan spirit mereka. Membekas selama sekian tahun pada diri saya.
Unforgettable moment seperti ini, memang tidak mudah. Namun, sudah menjadi tugas murid untuk mengikhtiarkan. Dengan sungguh-sungguh. Namanya hal-hal hebat biasanya datang kepada kita setelah melalui perjuangan dan pengorbanan. Nggak asal-asalan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Saran saya, ketika Anda ingin belajar dari seseorang, usahakan untuk bertemu langsung. Buku atau YouTube tentu sangat bagus. Hanya saja, nggak cukup. Saat bertemu langsung, Anda bisa merasakan energi dan spirit sang guru, yang mana ini kurang terasa kalau cuma via buku atau YouTube. Karena itulah saya berusaha bertemu langsung dengan Yusuf Qardhawi, Richard Branson, Robert Kiyosaki, Tony Robbins, Nick Vujicic, Philip Kotler, dan lain-lain.
Syukur-syukur kalau Anda bisa makan bareng dengan sang guru. Saat saya bertamu dan dijamu kue-kue ringan oleh Yusuf Qardhawi, saat saya dinner semeja dengan BJ Habibie dan Ilham Habibie, saat saya tanya-jawab dan memberikan buku kepada Richard Branson, itu semua adalah unforgettable moment bagi saya. Sedikit-banyak, saya bisa merasakan energi dan spirit mereka. Membekas selama sekian tahun pada diri saya.
Unforgettable moment seperti ini, memang tidak mudah. Namun, sudah menjadi tugas murid untuk mengikhtiarkan. Dengan sungguh-sungguh. Namanya hal-hal hebat biasanya datang kepada kita setelah melalui perjuangan dan pengorbanan. Nggak asal-asalan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Di keluarga, ada yang merokok? Di pergaulan, ada yang merokok? Kebayang kalau sebungkus rokok harganya Rp50ribu?
Benarkah merokok itu nggak sehat? Anda yakin?
Sebelum menjawab dan memutuskan, baiknya kita pahami dulu untung-ruginya.
Pertama-tama, saya mau bertanya. Adakah ayah perokok yang menyarankan rokok pada anaknya? Nggak ada. Di lubuk hatinya yang paling dalam, si ayah tahu rokok itu beracun... Adakah sertifikat halal untuk rokok? Adakah anjuran membaca bismillah ketika merokok? Nggak ada...
Adakah ibu yang rela melihat anaknya menghirup racun? Nggak ada. Amoniak, zat yang ada pada kencing manusia, ternyata juga ada pada tembakau. Beracun. Ini gunanya untuk pupuk, bukan untuk dihirup. Pantas saja disebut, rokok membunuhmu...
Adakah dokter bertaraf internasional yang berani menyimpulkan, rokok itu bebas racun? Nggak ada... Dan pesan Nabi Muhammad, "Sesiapa yang menghirup racun hingga mati, maka ia akan menghirup racun itu di neraka jahanam."
Mengapa semakin maju sebuah negara dan semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin jauh mereka dari rokok? Karena mereka sudah sadar, bahaya rokok itu jauh lebih besar daripada manfaatnya.
Mengapa RJ Reynolds, salah satu produsen rokok terbesar dunia, malah melarang karyawannya untuk merokok? Karena bagi RJ Reynolds, karyawan dan kesehatan karyawan adalah aset yang berharga. Tulisan ini boleh Anda share sekarang, atau nanti saja, setelah selesai membacanya.
Perlukah anda dan anak-anak anda menenggak bir hanya karena pabrik bir itu membuka lapangan kerja? Nggak perlu. Sama sekali nggak perlu. Demikian pula dengan pabrik rokok.
Sekiranya kita semua berhenti merokok, toh pabrik rokok masih bisa memproduksi yang lain. Tenang saja. Lapangan kerja tak akan berkurang. Kalaupun anda masih kuatir dengan nasib buruh rokok, yah sedekahkan saja uang rokok anda kepada mereka, Rp 12.000 per hari.
Nah, karena saat ini anda sudah menimbang-nimbang untuk berhenti merokok, maka anda boleh membayangkan ganjaran-ganjaran yang bakal anda terima:
- keluarga anda akan lega dan bangga, yang mana ini membuat anda merasa begitu cool.
- anda pun memberi keteladanan dan pesan yang kuat kepada anak bahwa dia tak perlu ikut-ikutan merokok.
- uang rokok selama ini bisa anda alihkan untuk membeli vitamin anak dan susu anak, juga sedekah.
- anda telah melakukan mental switching dan ini adalah kemampuan istimewa karena kebanyakan orang tak memiliki-nya. Fyi, mental switching adalah modal dasar bagi mereka yang ingin menemukan titik balik dalam hidup.
Detik ini, mungkin anda membayangkan kenikmatan yang bertambah-tambah ketika berhasil berhenti merokok. Apalagi anda tahu persis, sebenarnya ini perkara mudah. Soal keputusan saja. Iya tho?
Orang yang bermental pemenang pastilah bisa mengambil keputusan dan tetap dalam keputusannya, sekaligus mengalahkan pengaruh candu. Dan lebih jauh lagi, teman sejati pastilah menghargai keputusan anda untuk berhenti merokok.
Wahai perokok. Saya, Ippho Santosa, menulis ini karena kepedulian saya kepada anda dan keluarga anda, walaupun banyak pihak tidak menyukainya. Dan siapapun kita, perokok atau tidak, mari sejenak kita renungkan dan sampaikan tulisan ini kepada teman-teman kita dan keluarga kita. Share ya.
Semoga kebaikan, hanya kebaikan, yang menjadi kebiasaan kita dan keluarga kita.
Benarkah merokok itu nggak sehat? Anda yakin?
Sebelum menjawab dan memutuskan, baiknya kita pahami dulu untung-ruginya.
Pertama-tama, saya mau bertanya. Adakah ayah perokok yang menyarankan rokok pada anaknya? Nggak ada. Di lubuk hatinya yang paling dalam, si ayah tahu rokok itu beracun... Adakah sertifikat halal untuk rokok? Adakah anjuran membaca bismillah ketika merokok? Nggak ada...
Adakah ibu yang rela melihat anaknya menghirup racun? Nggak ada. Amoniak, zat yang ada pada kencing manusia, ternyata juga ada pada tembakau. Beracun. Ini gunanya untuk pupuk, bukan untuk dihirup. Pantas saja disebut, rokok membunuhmu...
Adakah dokter bertaraf internasional yang berani menyimpulkan, rokok itu bebas racun? Nggak ada... Dan pesan Nabi Muhammad, "Sesiapa yang menghirup racun hingga mati, maka ia akan menghirup racun itu di neraka jahanam."
Mengapa semakin maju sebuah negara dan semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin jauh mereka dari rokok? Karena mereka sudah sadar, bahaya rokok itu jauh lebih besar daripada manfaatnya.
Mengapa RJ Reynolds, salah satu produsen rokok terbesar dunia, malah melarang karyawannya untuk merokok? Karena bagi RJ Reynolds, karyawan dan kesehatan karyawan adalah aset yang berharga. Tulisan ini boleh Anda share sekarang, atau nanti saja, setelah selesai membacanya.
Perlukah anda dan anak-anak anda menenggak bir hanya karena pabrik bir itu membuka lapangan kerja? Nggak perlu. Sama sekali nggak perlu. Demikian pula dengan pabrik rokok.
Sekiranya kita semua berhenti merokok, toh pabrik rokok masih bisa memproduksi yang lain. Tenang saja. Lapangan kerja tak akan berkurang. Kalaupun anda masih kuatir dengan nasib buruh rokok, yah sedekahkan saja uang rokok anda kepada mereka, Rp 12.000 per hari.
Nah, karena saat ini anda sudah menimbang-nimbang untuk berhenti merokok, maka anda boleh membayangkan ganjaran-ganjaran yang bakal anda terima:
- keluarga anda akan lega dan bangga, yang mana ini membuat anda merasa begitu cool.
- anda pun memberi keteladanan dan pesan yang kuat kepada anak bahwa dia tak perlu ikut-ikutan merokok.
- uang rokok selama ini bisa anda alihkan untuk membeli vitamin anak dan susu anak, juga sedekah.
- anda telah melakukan mental switching dan ini adalah kemampuan istimewa karena kebanyakan orang tak memiliki-nya. Fyi, mental switching adalah modal dasar bagi mereka yang ingin menemukan titik balik dalam hidup.
Detik ini, mungkin anda membayangkan kenikmatan yang bertambah-tambah ketika berhasil berhenti merokok. Apalagi anda tahu persis, sebenarnya ini perkara mudah. Soal keputusan saja. Iya tho?
Orang yang bermental pemenang pastilah bisa mengambil keputusan dan tetap dalam keputusannya, sekaligus mengalahkan pengaruh candu. Dan lebih jauh lagi, teman sejati pastilah menghargai keputusan anda untuk berhenti merokok.
Wahai perokok. Saya, Ippho Santosa, menulis ini karena kepedulian saya kepada anda dan keluarga anda, walaupun banyak pihak tidak menyukainya. Dan siapapun kita, perokok atau tidak, mari sejenak kita renungkan dan sampaikan tulisan ini kepada teman-teman kita dan keluarga kita. Share ya.
Semoga kebaikan, hanya kebaikan, yang menjadi kebiasaan kita dan keluarga kita.
Kepada ibu, berbakti.
Kepada ayah, juga berbakti.
Ketulusan (sincerity) dan pengorbanan (sacrifice) ayah, sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di sini, kita semua mesti menyempatkan diri untuk memaknai dan menghayati. Maka, sudah sepantasnya kita membuat dirinya bangga dan bahagia.
Yah, ada banyak caranya. Dua yang paling utama adalah dengan sukses dan sholat.
Terus-terang saja, bagi keluarga muslim, ayah mana yang tidak resah ketika meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan tidak sukses dan tidak sholat? Ayah mana yang tidak bahagia ketika meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan sukses dan sholat?
Bagi muslim, ketika ia sholat, besar kemungkinan itu pahala baginya juga amal jariyah bagi ayah-ibunya. Kok bisa? Ya bisa. Karena ayah-ibunya yang telah mendidik dan mendoakan dia agar tetap sholat. Bukankah begitu?
Sholat itu solusi.
Sholat itu bagian dari berbakti.
Sholat mencegah kita dari berbuat keji.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Agar menjadi amal kebaikan sama-sama, baiknya tulisan ini di-share kepada teman-teman dan saudara-saudara kita. Sekali lagi, niatkan untuk amal kebaikan.
Kepada ayah, juga berbakti.
Ketulusan (sincerity) dan pengorbanan (sacrifice) ayah, sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di sini, kita semua mesti menyempatkan diri untuk memaknai dan menghayati. Maka, sudah sepantasnya kita membuat dirinya bangga dan bahagia.
Yah, ada banyak caranya. Dua yang paling utama adalah dengan sukses dan sholat.
Terus-terang saja, bagi keluarga muslim, ayah mana yang tidak resah ketika meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan tidak sukses dan tidak sholat? Ayah mana yang tidak bahagia ketika meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan sukses dan sholat?
Bagi muslim, ketika ia sholat, besar kemungkinan itu pahala baginya juga amal jariyah bagi ayah-ibunya. Kok bisa? Ya bisa. Karena ayah-ibunya yang telah mendidik dan mendoakan dia agar tetap sholat. Bukankah begitu?
Sholat itu solusi.
Sholat itu bagian dari berbakti.
Sholat mencegah kita dari berbuat keji.
Sekian dari saya, Ippho Santosa. Agar menjadi amal kebaikan sama-sama, baiknya tulisan ini di-share kepada teman-teman dan saudara-saudara kita. Sekali lagi, niatkan untuk amal kebaikan.
PERCAKAPAN GURU DAN MURlD
(MENDINGAN MANA: orang banyak ibadah berakhlak buruk atau tak beribadah berakhlak baik)
"Wahai Guru, manakah yang lebih baik, orang beriman yang banyak ibadahnya tapi buruk akhlaknya, ataukah orang beriman yang tak beribadah tapi baik akhlaknya kepada sesama?" tanya si murid.
"Insya Allah, kedua-duanya BAIK," ujar sang guru sambil tersenyum.
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena orang yang tekun beribadah, boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk berakhlak mulia, bersebab ibadahnya. Dan karena orang yang baik akhlaknya, boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk semakin tekun beribadah kepada-Nya."
"Jadi, siapa yang lebih buruk?" desak si murid penasaran.
Sang guru sambil berkaca-kaca matanya akhirnya menjawab, "KITA, ANAKKU."
"Hm? Kita??"
"Iya. Kitalah Yang Layak Disebut Buruk, Sebab Kita Gemar Sekali Menghabiskan Waktu Untuk Menilai Orang Lain Dan Melupakan Diri Kita Sendiri."
PADAHAL KELAK KITA DI HADAPAN ALLAH, AKAN DITANYAI TENTANG DIRI KITA, BUKAN TENTANG ORANG LAIN.
(MENDINGAN MANA: orang banyak ibadah berakhlak buruk atau tak beribadah berakhlak baik)
"Wahai Guru, manakah yang lebih baik, orang beriman yang banyak ibadahnya tapi buruk akhlaknya, ataukah orang beriman yang tak beribadah tapi baik akhlaknya kepada sesama?" tanya si murid.
"Insya Allah, kedua-duanya BAIK," ujar sang guru sambil tersenyum.
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena orang yang tekun beribadah, boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk berakhlak mulia, bersebab ibadahnya. Dan karena orang yang baik akhlaknya, boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk semakin tekun beribadah kepada-Nya."
"Jadi, siapa yang lebih buruk?" desak si murid penasaran.
Sang guru sambil berkaca-kaca matanya akhirnya menjawab, "KITA, ANAKKU."
"Hm? Kita??"
"Iya. Kitalah Yang Layak Disebut Buruk, Sebab Kita Gemar Sekali Menghabiskan Waktu Untuk Menilai Orang Lain Dan Melupakan Diri Kita Sendiri."
PADAHAL KELAK KITA DI HADAPAN ALLAH, AKAN DITANYAI TENTANG DIRI KITA, BUKAN TENTANG ORANG LAIN.
Kendati seruan untuk membaca sudah tercantum dengan jelas dan tegas dalam Kitab Suci, rupa-rupanya minat membaca masyarakat kita masih sangat rendah. Nggak percaya? Kita simak saja data-data berikut ini.
Pada Maret 2016, dikabarkan Indonesia menempati posisi 60 dari 61 negara terkait tingkat literasi (minat baca). Penelitian ini digelar oleh Central Connecticut State University.
Menteri Pendidikan dan Kebudayan saat itu mengungkapkan, Indonesia hanya satu tingkat lebih baik dari Republik Botswana, sebuah negara di Afrika bagian selatan dalam hal literasi. Duh!
Data UNESCO tahun 2012 menerangkan, indeks minat baca masyarakat Indonesia cuma 0,001. Itu artinya, sangat sedikit penduduk Indonesia yang gemar membaca. Di negara-negara maju, angka ini bisa mencapai 0,45.
Sementara itu, data IKAPI tahun 2010 menunjukkan, ada sekitar 12.000 judul buku baru yang diterbitkan per tahun. Berdasarkan jenisnya, ada lima kelompok, antara lain, buku agama (17,95 persen), buku perguruan tinggi (13,96 persen), buku anak dan remaja (10,36 persen), buku umum (8,67 persen), dan buku pelajaran (4,45 persen). Tak termasuk buku nikah dan buku tabungan, hehehe.
Itulah kebiasaan orang rata-rata. Malas membaca. Kita, kalau mau nasibnya berbeda, yah mesti memiliki kebiasaan yang berbeda. Salah satunya, miliki kebiasaan membaca, terutama membaca buku. Bukan sekedar medsos. Karena memang berbeda dampaknya.
Ilmu itu cahaya. Mereka yang sungguh-sungguh sama ilmu dijamin tidak fakir. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Pada Maret 2016, dikabarkan Indonesia menempati posisi 60 dari 61 negara terkait tingkat literasi (minat baca). Penelitian ini digelar oleh Central Connecticut State University.
Menteri Pendidikan dan Kebudayan saat itu mengungkapkan, Indonesia hanya satu tingkat lebih baik dari Republik Botswana, sebuah negara di Afrika bagian selatan dalam hal literasi. Duh!
Data UNESCO tahun 2012 menerangkan, indeks minat baca masyarakat Indonesia cuma 0,001. Itu artinya, sangat sedikit penduduk Indonesia yang gemar membaca. Di negara-negara maju, angka ini bisa mencapai 0,45.
Sementara itu, data IKAPI tahun 2010 menunjukkan, ada sekitar 12.000 judul buku baru yang diterbitkan per tahun. Berdasarkan jenisnya, ada lima kelompok, antara lain, buku agama (17,95 persen), buku perguruan tinggi (13,96 persen), buku anak dan remaja (10,36 persen), buku umum (8,67 persen), dan buku pelajaran (4,45 persen). Tak termasuk buku nikah dan buku tabungan, hehehe.
Itulah kebiasaan orang rata-rata. Malas membaca. Kita, kalau mau nasibnya berbeda, yah mesti memiliki kebiasaan yang berbeda. Salah satunya, miliki kebiasaan membaca, terutama membaca buku. Bukan sekedar medsos. Karena memang berbeda dampaknya.
Ilmu itu cahaya. Mereka yang sungguh-sungguh sama ilmu dijamin tidak fakir. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kalau ditanya, kenapa rugi, kenapa bangkrut? Biasanya mulut kita enteng saja menjawab, "Yah, mau gimana lagi? Pesaing main curang. Konspirasi. Kongkalikong. Bersekongkol. Black campaign. Bla, bla, bla."
Yah, enakan ngomong begitu tho? Daripada ngaku:
- "Manajemenku memang nggak becus."
- "Produkku memang nggak keurus."
- "Pikiranku memang nggak fokus."
- "Pelayananku memang nggak bagus."
Btw, Indonesia diprediksi tak akan menjadi kekuatan baru, baik di panggung regional apalagi di pentas global. Ini bukan kata saya, melainkan prediksi Profesor Richard Robison dari Australia.
Sambungnya, "Tak terlihat intensi dan kapasitas untuk hadirnya kekuatan baru. Yang bisa mereka lakukan cuma menang debat di forum ini-itu." Anda tersindir?
Sejurus, saya sempat meradang mendengar analisa dan prediksi yang benar-benar menempeleng itu. Namun sekian detik kemudian, saya introspeksi. Yang sebenarnya, itulah sikap kita yang terbaik, introspeksi.
Yah, enakan ngomong begitu tho? Daripada ngaku:
- "Manajemenku memang nggak becus."
- "Produkku memang nggak keurus."
- "Pikiranku memang nggak fokus."
- "Pelayananku memang nggak bagus."
Btw, Indonesia diprediksi tak akan menjadi kekuatan baru, baik di panggung regional apalagi di pentas global. Ini bukan kata saya, melainkan prediksi Profesor Richard Robison dari Australia.
Sambungnya, "Tak terlihat intensi dan kapasitas untuk hadirnya kekuatan baru. Yang bisa mereka lakukan cuma menang debat di forum ini-itu." Anda tersindir?
Sejurus, saya sempat meradang mendengar analisa dan prediksi yang benar-benar menempeleng itu. Namun sekian detik kemudian, saya introspeksi. Yang sebenarnya, itulah sikap kita yang terbaik, introspeksi.
Memulai, perlu keberanian.
Membesarkan, perlu ilmu.
Itulah kuncinya dalam bisnis.
Ini pesan penting buat teman-teman entrepreneur. Sebagian mungkin bertanya-tanya, "Maksudnya gimana sih?" Begini. Agar bisnisnya membesar, belajarlah mengelola bisnis. Dengan belajar, risiko-risiko bisnis dapat ditekan.
Aktivitas-aktivitas bisnis pun menjadi lebih efisien dan lebih efektif. Apalagi kita sama-sama tahu, saat ini inovasi-inovasi bisnis perlu dirancang dengan cermat, nggak bisa lagi dadakan atau karbitan.
Memang, berani memulai atau berani action itu perlu. Mutlak. Tapi, maaf, ini saja nggak cukup. Perlu ilmu. Perlu perencanaan. Terutama untuk mengelola bisnis dan membesarkan bisnis.
Kalau coba-coba sendiri alias sekenanya, malah lebih menguras waktu dan uang. Itulah yang dulu saya alami. Karena itulah sekarang saya menyarankan teman-teman untuk selalu belajar. Baca buku. Ikut seminar. Ikut coaching.
Mudah-mudahan mengundang solusi bagi bisnisnya.
Membesarkan, perlu ilmu.
Itulah kuncinya dalam bisnis.
Ini pesan penting buat teman-teman entrepreneur. Sebagian mungkin bertanya-tanya, "Maksudnya gimana sih?" Begini. Agar bisnisnya membesar, belajarlah mengelola bisnis. Dengan belajar, risiko-risiko bisnis dapat ditekan.
Aktivitas-aktivitas bisnis pun menjadi lebih efisien dan lebih efektif. Apalagi kita sama-sama tahu, saat ini inovasi-inovasi bisnis perlu dirancang dengan cermat, nggak bisa lagi dadakan atau karbitan.
Memang, berani memulai atau berani action itu perlu. Mutlak. Tapi, maaf, ini saja nggak cukup. Perlu ilmu. Perlu perencanaan. Terutama untuk mengelola bisnis dan membesarkan bisnis.
Kalau coba-coba sendiri alias sekenanya, malah lebih menguras waktu dan uang. Itulah yang dulu saya alami. Karena itulah sekarang saya menyarankan teman-teman untuk selalu belajar. Baca buku. Ikut seminar. Ikut coaching.
Mudah-mudahan mengundang solusi bagi bisnisnya.
Mau memulai bisnis?
Mau membesarkan bisnis?
Mau menjadi penulis?
Mau mengembangkan potensi?
Izinkan saya, Ippho Santosa, membantu Anda secara personal dan detail. Boleh? Insya Allah dalam bentuk coaching yang terdiri dari 3 atau 4 peserta saja.
Kalau Anda mengikuti personal coaching dari yang lain, nilainya bisa puluhan juta rupiah. Ya, puluhan juta rupiah. Terutama kalau si coach sudah 'punya nama' dan benar-benar praktisi. Dulu pun saya dibayar belasan juta rupiah untuk jasa ini.
Cuma, hati saya terasa kurang nyaman. Istri saya juga merasakan hal yang sama. Apalagi sebagian peserta adalah entrepreneur pemula dan pengusaha mikro. Akhirnya saya memilih untuk menyesuaikan biaya (harga), agar lebih terjangkau dan tidak membebani peserta.
Namun, jujur saja, coaching yang solutif itu menguras waktu dan energi. Makanya jarang-jarang saya mengadakannya. Setelah sekian lama vakum, saya akan mengadakannya lagi pada 31 Agustus (sore dan malam) di Jakarta. Itu pun untuk beberapa orang saja.
Sekiranya teman-teman berminat, silakan sms 0877-7779-2779 (terkait biaya, jadwal, dll).
Saat kita bepergian menuju suatu tempat, akan lebih baik kalau diarahkan oleh orang yang sudah pernah bahkan sering sampai di tempat tersebut. Right? Demikian pula peran coach dalam mengarahkan seseorang menuju sukses dan lebih sukses.
Mau membesarkan bisnis?
Mau menjadi penulis?
Mau mengembangkan potensi?
Izinkan saya, Ippho Santosa, membantu Anda secara personal dan detail. Boleh? Insya Allah dalam bentuk coaching yang terdiri dari 3 atau 4 peserta saja.
Kalau Anda mengikuti personal coaching dari yang lain, nilainya bisa puluhan juta rupiah. Ya, puluhan juta rupiah. Terutama kalau si coach sudah 'punya nama' dan benar-benar praktisi. Dulu pun saya dibayar belasan juta rupiah untuk jasa ini.
Cuma, hati saya terasa kurang nyaman. Istri saya juga merasakan hal yang sama. Apalagi sebagian peserta adalah entrepreneur pemula dan pengusaha mikro. Akhirnya saya memilih untuk menyesuaikan biaya (harga), agar lebih terjangkau dan tidak membebani peserta.
Namun, jujur saja, coaching yang solutif itu menguras waktu dan energi. Makanya jarang-jarang saya mengadakannya. Setelah sekian lama vakum, saya akan mengadakannya lagi pada 31 Agustus (sore dan malam) di Jakarta. Itu pun untuk beberapa orang saja.
Sekiranya teman-teman berminat, silakan sms 0877-7779-2779 (terkait biaya, jadwal, dll).
Saat kita bepergian menuju suatu tempat, akan lebih baik kalau diarahkan oleh orang yang sudah pernah bahkan sering sampai di tempat tersebut. Right? Demikian pula peran coach dalam mengarahkan seseorang menuju sukses dan lebih sukses.
Coba sebutkan kata 'dengki'.
Terus, ulangi tiga kali.
Terus, ulangi tujuh kali.
Jangan teruskan membaca,
sebelum Anda mencobanya.
Sebutkan dulu.
Apa yang Anda rasakan?
Nggak nyaman kan?
Begitulah adanya.
Menyebutnya saja nggak nyaman.
Apalagi sampai memelihara perasaan itu
di dalam hati. Beneran nggak nyaman.
Bukan cuma penyakit hati, bahkan dengki juga bisa membawa penyakit bagi tubuh. Diteliti, ternyata rasa dengki yang berlarut-larut bisa menciderai pangkreas dan lambung, juga menyebabkan insomnia dan mengerutnya kulit. Ngeri!
Boleh dibilang, dengki itu seperti, “Kita minum racun, terus kita berharap orang lain yang mati.” Sebagai motivator, saya pun bertanya, "Yang konyol, siapa coba?" Tolong dijawab.
Bayangkan ini. Kalau seseorang memperoleh rezeki (mobil, rumah, jodoh, jabatan, kesembuhan, atau apa saja), terus kita dengki terhadap orang dan rezeki tersebut, berarti kita tidak ridha kepada Yang Memberikan Rezeki tersebut.
Simak bahaya-bahaya dengki yang lain » http://bit.ly/Dengki
Terus, ulangi tiga kali.
Terus, ulangi tujuh kali.
Jangan teruskan membaca,
sebelum Anda mencobanya.
Sebutkan dulu.
Apa yang Anda rasakan?
Nggak nyaman kan?
Begitulah adanya.
Menyebutnya saja nggak nyaman.
Apalagi sampai memelihara perasaan itu
di dalam hati. Beneran nggak nyaman.
Bukan cuma penyakit hati, bahkan dengki juga bisa membawa penyakit bagi tubuh. Diteliti, ternyata rasa dengki yang berlarut-larut bisa menciderai pangkreas dan lambung, juga menyebabkan insomnia dan mengerutnya kulit. Ngeri!
Boleh dibilang, dengki itu seperti, “Kita minum racun, terus kita berharap orang lain yang mati.” Sebagai motivator, saya pun bertanya, "Yang konyol, siapa coba?" Tolong dijawab.
Bayangkan ini. Kalau seseorang memperoleh rezeki (mobil, rumah, jodoh, jabatan, kesembuhan, atau apa saja), terus kita dengki terhadap orang dan rezeki tersebut, berarti kita tidak ridha kepada Yang Memberikan Rezeki tersebut.
Simak bahaya-bahaya dengki yang lain » http://bit.ly/Dengki
Sedekah dan berharap.
Bolehkah?
Sang Pencipta yang nyuruh kita berharap. Nabi juga bilang 'Beli kesulitanmu dengan sedekah'. Lha, giliran kita ngarep, kok jadi salah? Nggak dong. Bener, insya Allah. Kan Dia bukan PHP. Emangnya situ, suka PHP? Hehehe.
Kalau ngarep ke makhluk, itu yang dilarang. Apalagi ke tuyul, hehehe. Sekiranya anda beda pendapat sama saya, silakan. Yang penting, anda tetap sedekah. Itu yang penting.
Manusia tak bisa lepas dari harap. Pengen jalanan lancar, bebas macet. Pengen cuaca cerah, nggak kehujanan. Sampai harapan-harapan yang besar, seperti lulus kuliah, diterima jadi PNS, bertemu jodoh, dikaruniai jodoh dll. Lha, mau disandarkan ke mana harapan-harapan ini? Ke Allah dong, itu yang paling tepat.
Terus, apa saja pantangan dan syarat-syarat dalam berharap? Simak deh » http://bit.ly/NgarepDotCom
Bolehkah?
Sang Pencipta yang nyuruh kita berharap. Nabi juga bilang 'Beli kesulitanmu dengan sedekah'. Lha, giliran kita ngarep, kok jadi salah? Nggak dong. Bener, insya Allah. Kan Dia bukan PHP. Emangnya situ, suka PHP? Hehehe.
Kalau ngarep ke makhluk, itu yang dilarang. Apalagi ke tuyul, hehehe. Sekiranya anda beda pendapat sama saya, silakan. Yang penting, anda tetap sedekah. Itu yang penting.
Manusia tak bisa lepas dari harap. Pengen jalanan lancar, bebas macet. Pengen cuaca cerah, nggak kehujanan. Sampai harapan-harapan yang besar, seperti lulus kuliah, diterima jadi PNS, bertemu jodoh, dikaruniai jodoh dll. Lha, mau disandarkan ke mana harapan-harapan ini? Ke Allah dong, itu yang paling tepat.
Terus, apa saja pantangan dan syarat-syarat dalam berharap? Simak deh » http://bit.ly/NgarepDotCom
Salah satu peserta coaching saya nyobain sedekah ekstrim Ramadhan yang lalu. Ia lepaskan sebuah mobil.
Nggak cukup sampai di situ, lalu ia bersama istrinya nyedekahin barang-barang dagangannya senilai Rp150juta.
Sejatinya, bukan rezeki yang kurang, mungkin keyakinan yang kurang. Sehingga, kita sering bertele-tele untuk urusan sedekah. Apalagi #SedekahEkstrim.
Hm, apa itu sedekah ekstrim? Menyedekahkan sesuatu yang amat berharga dan amat bernilai, menurut kita.
Saat menjajal sedekah ekstrim, biasanya tubuh kita sampai bergetar, jantung kita sampai berdegup kencang, dan mata kita sampai berkaca-kaca. Berat!
Terus, gimana caranya biar mantap bersedekah ektrim dan nggak terasa berat? Simak » http://bit.ly/Ekstrim
Nggak cukup sampai di situ, lalu ia bersama istrinya nyedekahin barang-barang dagangannya senilai Rp150juta.
Sejatinya, bukan rezeki yang kurang, mungkin keyakinan yang kurang. Sehingga, kita sering bertele-tele untuk urusan sedekah. Apalagi #SedekahEkstrim.
Hm, apa itu sedekah ekstrim? Menyedekahkan sesuatu yang amat berharga dan amat bernilai, menurut kita.
Saat menjajal sedekah ekstrim, biasanya tubuh kita sampai bergetar, jantung kita sampai berdegup kencang, dan mata kita sampai berkaca-kaca. Berat!
Terus, gimana caranya biar mantap bersedekah ektrim dan nggak terasa berat? Simak » http://bit.ly/Ekstrim
Bolehkah kita cinta dunia? Sebagian mungkin menggeleng, sebagian mungkin mengangguk, sebagian lagi mungkin langsung keluar dari channel ini, hehehe.
Lalu, apa pendapat saya? Menurut saya, yah boleh-boleh saja. Cuma, ada syarat-syaratnya. Sebelum Anda protes, dengarkan saya dulu, inilah syarat-syaratnya:
- Kita mencintai dunia sewajarnya, tidak berlebihan.
- Kita mencintai dunia, karena Allah, bukan karena yang lain.
- Kita menempatkan Spiritual Love di atas Emotional Love dan Rational Love.
Lebih dari 1000 tahun yang lalu, kitab suci telah menegaskan bahwa dijadikan indah pada mata manusia terhadap wanita, anak, perhiasan, kendaraan, dan properti (QS 3: 14).
Dengan demikian, cinta dunia adalah fitrahnya manusia. Tidak mungkin dihilangkan. Malah kalau dihilangkan, bisa mengundang problema dan dilema. Orangtua, pasangan, dan anak Anda adalah bagian dari dunia.
Tentu saja, Anda boleh dan harus mencintai mereka. Hanya saja, jangan berlebihan. Hendaknya pula, Anda mencintai mereka karena Allah. Sebaliknya, kalaulah sampai kita tidak mencintai mereka, maka surga tidaklah layak bagi kita.
Mungkinkah cinta dibawa dalam karier dan bisnis yang kemudian mengantarkan kita pada kesuksesan? Bagaimana caranya? Simak lanjutannya » http://bit.ly/Cintailah
Lalu, apa pendapat saya? Menurut saya, yah boleh-boleh saja. Cuma, ada syarat-syaratnya. Sebelum Anda protes, dengarkan saya dulu, inilah syarat-syaratnya:
- Kita mencintai dunia sewajarnya, tidak berlebihan.
- Kita mencintai dunia, karena Allah, bukan karena yang lain.
- Kita menempatkan Spiritual Love di atas Emotional Love dan Rational Love.
Lebih dari 1000 tahun yang lalu, kitab suci telah menegaskan bahwa dijadikan indah pada mata manusia terhadap wanita, anak, perhiasan, kendaraan, dan properti (QS 3: 14).
Dengan demikian, cinta dunia adalah fitrahnya manusia. Tidak mungkin dihilangkan. Malah kalau dihilangkan, bisa mengundang problema dan dilema. Orangtua, pasangan, dan anak Anda adalah bagian dari dunia.
Tentu saja, Anda boleh dan harus mencintai mereka. Hanya saja, jangan berlebihan. Hendaknya pula, Anda mencintai mereka karena Allah. Sebaliknya, kalaulah sampai kita tidak mencintai mereka, maka surga tidaklah layak bagi kita.
Mungkinkah cinta dibawa dalam karier dan bisnis yang kemudian mengantarkan kita pada kesuksesan? Bagaimana caranya? Simak lanjutannya » http://bit.ly/Cintailah