Ippho Santosa - ipphoright
26.2K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Crowd is cash.

Misal, Anda jualan pakaian.

Maka:
- kaos kaki mungkin dimurahin
- syal atau scarf mungkin dimurahin
- agar orang-orang datang (crowd)
- kemeja dll dijual dengan harga normal

Dapat disimpulkan, ada 1 atau 2 produk yang digunakan untuk memancing crowd. Ada juga produk-produk yang dirancang untuk mencetak keuntungan.

Cash sangat ditentukan oleh crowd (keramaian). So? Mesti ada produk-produk yang mengundang crowd. Mesti ada event berkala yang mengundang crowd. Mesti ada promosi khusus yang mengundang crowd.

Kalau ini benar-benar dilakukan, niscaya akan berdampak langsung ke cash. Ya, berdampak langsung.

Contoh lain?

Misal, Anda jualan bakso.

Maka:
- baskonya mungkin dimurahin
- terus, murahnya ini dipromosiin
- agar orang-orang datang (crowd)
- teh botol dll dijual dengan harga normal

Crowd is cash. Paham sampai di sini?

Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ketika saya seminar di Bogor dan Karawang, beberapa peserta sempat bertanya, "Sedekah kok ngarep?"

Begini. Dalam sholat saja, kita boleh ngarep. Coba ingat-ingat doa kita saat duduk di antara dua sujud... Ngarep? Iya. Ngarep apa? Mulai dari petunjuk, kesehatan, sampai rezeki. Dalam sholat saja boleh ngarep, masak dalam sedekah nggak boleh, hehe...

Selagi berharap sama Allah, itu ikhlas namanya.

Ingat:
-       Berharap pada-Nya = berdoa
-       Berharap pada-Nya = bukti iman
-       Berharap pada-Nya = enggan berharap ke makhluk
-       Berharap pada-Nya = menuruti perintah-Nya karena itulah yang Dia perintahkan.

Bagus tho, itu semua menjadi amal tersendiri, insya Allah. Salahnya di mana?

Allah yang nyuruh kita berharap. Nabi juga bilang 'Beli kesulitanmu dengan sedekah' dan 'Obati penyakitmu dengan sedekah'. Lha, giliran kita ngarep, kok jadi salah? Nggak dong. Bener, insya Allah. Kan Allah bukan PHP. Emangnya situ, suka PHP? Hehe.

Kalau ngarep ke makhluk, itu yang dilarang. Apalagi ke tuyul, hehe… Sekiranya anda beda pendapat sama saya, yah silakan. Yang penting, anda tetap sedekah. Itu yang utama... Jangan sampai kita berdebat berjam-jam terus jadinya nggak sedekah. Ngawur tuh...

Yuk sedekah. Mulai dari yang terdekat. Semoga berkah berlimpah.
Dua hari terakhir saya berseminar untuk OJK dan PLN. Salah satu pesan saya kepada mereka, "Jangan mudah menyerah. Dari waktu ke waktu, perubahan dan tantangan tidak pernah menjadi lebih mudah. Maka, bersiaplah."

Ambil contoh soal kejujuran. Ini adalah barang langka. Ya, orang #jujur memang langka. Tapi kalau kita berusaha jujur, maka kita akan menjadi orang yang dicari-cari dan dinanti-nanti. Betul apa betul?

Lihat. Kerugian karena kasus e-KTP mencapai Rp 2,3 triliun, dengan tersangka Setya Novanto. Sementara, kerugian karena kasus kondensat mencapai Rp 35 triliun, dengan tersangka Honggo Wendratno alias Hong Go Wie. Betapa besar mudharat yang dirasakan oleh orang banyak akibat dari ketidakjujuran.

Rezeki atau nafkah kalau diperoleh dengan jujur, niscaya akan membawa ketenangan. Ingat, ketenangan jauh lebih berharga daripada kekayaan. Apalah artinya harta berlimpah kalau hati selalu gundah?

"Jujur, mujur. Nggak jujur? Bakal tersungkur," itu nasihat guru saya.

Sambung beliau, "Nggak jujur? Resah. Gelisah. Jauh dari berkah."

Menjadi jujur dan selalu jujur memang tidak mudah. Tapi bisa, insya Allah. Perubahan besar baiknya dimulai dari perubahan kecil, yaitu diri kita dan keluarga kita. Hei, apa salahnya kalau kita mulai dari sana? Jadilah contoh. Jadilah inspirasi.

Semoga nanti banyak yang mengikuti. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Bokek biasanya terjadi karena dua hal. Apa itu?
Pertama, nggak bisa jualan.
Kedua, nggak bisa berhemat.
Masalah ini sering terjadi di mana-mana, berkali-kali.
Saya pun berusaha mencari tahu penyebabnya.
Rupanya terjadi semacam sifat yang kontra.

Maksudnya?
Mereka yang ahli menjual, biasanya tidak pandai berhemat. Mereka terbiasa nge-gas.

Dan mereka yang pandai berhemat, biasanya tidak ahli menjual. Mereka terbiasa nge-rem.
Paham sampai di sini?
Itu artinya, suka atau nggak suka, kita harus menguasal hal tadi. Jualan. Berhemat.
Bukan salah satu.
Yang cilaka adalah nggak bisa jualan sekaligus nggak bisa berhemat. Ini namanya kiamat finansial.
Mari introspeksi.
Malas beraktivitas di Senin pagi?

Kurang mood?

Saran saya, "Lakukan apa-apa yang membuat Anda bersemangat." Yang penting, itu legal, halal, dan masuk akal.

Contohnya? Gunakan pakaian favorit. Atau kenakan pakaian dengan warna berbeda dibanding yang sudah-sudah.

Apa lagi? Mengganti belah rambut. Biasa belah kiri, ganti jadi belah kanan. Biasa belah kanan, ganti jadi belah kiri.

Apa lagi? Anda juga bisa mengenakan aksesoris lucu atau memasang pajangan lucu di kantor. Ya, apa saja yang membuat Anda lebih bersemangat.

Hal lain? Konsumsi cemilan dan minuman kesukaan. Yang penting, sehat. Intinya apapun yang bisa membangkitkan mood dan semangat Anda.

Satu lagi, jangan lupa berdoa.

Mood dan semangat di Senin pagi sangatlah krusial. Kenapa? Karena bisa mempengaruhi kerja dan kinerja Anda sepanjang hari selama seminggu.

Siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah. (Mari ajak teman-teman kita join channel @ipphoright)
Saya tidak pernah menganggap enteng doa orang lain. Malahan saya sering minta doa dari orang lain. Termasuk kali ini.

Dua bulan yang lalu, ibu saya terjatuh. Sempat #cedera bahu dan kakinya. Lumayan cederanya. Sampai sekarang, beliau diterapi setiap harinya. Sholatnya berdiri atau duduk di kursi saja, belum bisa bersimpuh. However, tetap alhamdulillah.

Dua hari ini saya ajak beliau ke luar kota. Liburan ceritanya. Soalnya beliau sudah lama nggak liburan. Mohon doa dari teman-teman, semoga ibu saya kembali sehat dan pulih seperti semula. Demikian pula ibu kita semua. Sehat selalu. Aamiin.

Kadang, doa kita gagal menembus langit. Tapi, doa teman kita, siapa tahu, bisa menembus langit. Apalagi kalau teman kita itu mendokan dengan diam-diam.

Ibu dari Komjen Syafruddin, Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Hj. Lulu Iyah, juga tidak pernah meremehkan kekuatan doa. Beliau pun meminta doa dari banyak orang saat meresmikan sekolah. Saya pribadi mengenal Pak Wakapolri saat berada di rumah Pak Din.

Doa, doa, doa. Insya Allah ini sangat baik dan powerful.
Ditraktir, itu menyenangkan.

Mentraktir, mestinya lebih menyenangkan.

Teman-teman pilih ditraktir atau mentraktir? Gemar mentraktir, inilah yang disebut #MentalKaya. Betapa banyak orang di sekitar kita yang bersikap sebaliknya.

Istri saya kalau makan di luar, sering mentraktir pengunjung-pengunjung di rumah makan itu. Yang biasanya, tidak ia kenal sama sekali. Dan ini ia lakukan sebelum dan sesudah menikah dengan saya.

Ibunya (mertua saya) juga begitu. Ketika dulu-dulu naik angkot dan turun pertama, dia sering mentraktir penumpang-penumpang di angkot itu. Demikian pula ibu saya dalam konteks yang berbeda.

Ditraktir, apakah salah? Tidak juga. Tapi kalau kita sengaja atau minta-minta agar ditraktir, ini tentu saja kurang elok. Dan kalau kita terbiasa dengan perangai ini, itu artinya kita belum memiliki mental kaya.

Nah, apapun posisi dan profesi Anda, ayo miliki mental kaya, salah satunya dengan gemar mentraktir. Mari dibiasakan. Sekecil apapun. Semoga berkah dan berlimpah. Insya Allah. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Mental kaya itu perlu dilatih setiap harinya, bukan pekerjaan satu hari dua hari.
Saat ini, yang memimpin peradaban dunia adalah bangsa-bangsa yang berhasil mengelola dan mengedepankan SDM, bukan lagi SDA. Dengan kata lain, kuncinya adalah pendidikan.