Berhentilah ngeles dengan berseru, "Maaf, saya gaptek." Itu sebenarnya hanya menunjukkan kemalasan Anda serta keengganan Anda untuk belajar dan berbenah. Betul apa betul?
Ingat. Zaman sekarang, diam di tempat artinya sama dengan melangkah mundur. Hati-hati.
Melawan teknologi yang tengah marak dan merebak adalah pekerjaan yang sia-sia. Kita lihat sendiri bagaimana nasib mesin ketik, kartu pos, pager, dan kapal laut, yang pelan-pelan ditinggalkan. Komputer, internet, ponsel, dan pesawat terbang adalah penggantinya.
Terhadap teknologi, lebih baik kita mempersiapkan diri, memperbaiki diri. Tingkatkan layanan, tingkatkan mutu. Permudah prosesi, permudah pelanggan. Bukan malah mengkritik pemain-pemain yang adaptif dan kompetitif.
Maka, belajarlah. Istilah saya, lebih baik belajar dan berubah daripada punah. Jujur saja, saya ngomong gini karena sering dan intens menggunakan internet dan socmed dalam konteks bisnis.
Perhatikan baik-baik. Mereka yang memiliki gerai-gerai secara fisik sering mengeluh ini-itu. Di antaranya, menyalahkan online shop. Tapi mereka sendiri nggak bercermin. Lha sudah diberi kesempatan untuk belajar dan berbenah, eh malah ogah-ogahan. Serasa nggak butuh pelanggan.
Mendiang ayah saya adalah pegawai rendahan. Saya pun sempat jadi pelayan restoran. Kami tahu diri. Namanya orang biasa, nggak usah milih-milih banget soal kerjaan. Kalau ada kerjaan dan itu halal, yah ambil. Nggak males-malasen. Nggak ogah-ogahan. Sembari itu, yah belajar.
Menurut saya, malas itu akhlak yang buruk dan itu mengusir rezeki. Kalau kita rajin dan mau belajar, insya Allah itu akan mengundang rezeki demi rezeki. Pasti. Siapa yang berani ngebantah kalimat ini?
Saya pribadi bukan orang IT. Tapi saya belajar. Benar-benar belajar. Bahkan saya terjun langsung memperbaiki web-web saya. Ya, saya perbaiki semua dengan tangan saya sendiri, agar lebih disukai Google. Begitulah, saya berusaha melek SEO. Setelah dicoba, ternyata nggak sulit-sulit amat.
Pada akhirnya saya menyimpulkan, "Bukan persaingan yang kejam. Mungkin kita yang enggan belajar dan berbenah." Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ingat. Zaman sekarang, diam di tempat artinya sama dengan melangkah mundur. Hati-hati.
Melawan teknologi yang tengah marak dan merebak adalah pekerjaan yang sia-sia. Kita lihat sendiri bagaimana nasib mesin ketik, kartu pos, pager, dan kapal laut, yang pelan-pelan ditinggalkan. Komputer, internet, ponsel, dan pesawat terbang adalah penggantinya.
Terhadap teknologi, lebih baik kita mempersiapkan diri, memperbaiki diri. Tingkatkan layanan, tingkatkan mutu. Permudah prosesi, permudah pelanggan. Bukan malah mengkritik pemain-pemain yang adaptif dan kompetitif.
Maka, belajarlah. Istilah saya, lebih baik belajar dan berubah daripada punah. Jujur saja, saya ngomong gini karena sering dan intens menggunakan internet dan socmed dalam konteks bisnis.
Perhatikan baik-baik. Mereka yang memiliki gerai-gerai secara fisik sering mengeluh ini-itu. Di antaranya, menyalahkan online shop. Tapi mereka sendiri nggak bercermin. Lha sudah diberi kesempatan untuk belajar dan berbenah, eh malah ogah-ogahan. Serasa nggak butuh pelanggan.
Mendiang ayah saya adalah pegawai rendahan. Saya pun sempat jadi pelayan restoran. Kami tahu diri. Namanya orang biasa, nggak usah milih-milih banget soal kerjaan. Kalau ada kerjaan dan itu halal, yah ambil. Nggak males-malasen. Nggak ogah-ogahan. Sembari itu, yah belajar.
Menurut saya, malas itu akhlak yang buruk dan itu mengusir rezeki. Kalau kita rajin dan mau belajar, insya Allah itu akan mengundang rezeki demi rezeki. Pasti. Siapa yang berani ngebantah kalimat ini?
Saya pribadi bukan orang IT. Tapi saya belajar. Benar-benar belajar. Bahkan saya terjun langsung memperbaiki web-web saya. Ya, saya perbaiki semua dengan tangan saya sendiri, agar lebih disukai Google. Begitulah, saya berusaha melek SEO. Setelah dicoba, ternyata nggak sulit-sulit amat.
Pada akhirnya saya menyimpulkan, "Bukan persaingan yang kejam. Mungkin kita yang enggan belajar dan berbenah." Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Allah itu Maha Besar dan Maha Kaya. Adalah wajar kalau kita bercita-cita besar dan kaya. Buat apa kita tanggung-tanggung?
Satu lagi. Niat itu memancar. Saat kita ingin kaya, niatnya apa? Mau terlihat keren? Mau terlihat sukses?
Atau mau menebar manfaat lebih luas lagi? Mari perbaiki niat kita. Maka ini akan memudahkan tercapainya cita-cita dan impian kita. Niat yang benar itu menguatkan.
Selanjutnya, ada tiga tips dari saya. Pertama, sensitif. Pastikan impian kita bisa dirasakan (sense) oleh empat panca indera. Kedua, proaktif. Pastikan kita melakukan apa-apa yang MASIH BISA kita lakukan.
Ketiga? Jaga makanan kita. Lho apa kaitannya? Begini. Makanan yang tidak halal atau meragukan akan menghalangi tercapainya impian dan doa. Rada panjang penjelasannya, tapi begitulah kurang-lebih.
Nah, kalau ketiga hal ini sudah diterapkan, insya Allah hasilnya bukan lagi 2M atau 2T. Melainkan 2B. Apa itu? Berkah Berlimpah.
Teman-teman yakin? Saya harap begitu. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Satu lagi. Niat itu memancar. Saat kita ingin kaya, niatnya apa? Mau terlihat keren? Mau terlihat sukses?
Atau mau menebar manfaat lebih luas lagi? Mari perbaiki niat kita. Maka ini akan memudahkan tercapainya cita-cita dan impian kita. Niat yang benar itu menguatkan.
Selanjutnya, ada tiga tips dari saya. Pertama, sensitif. Pastikan impian kita bisa dirasakan (sense) oleh empat panca indera. Kedua, proaktif. Pastikan kita melakukan apa-apa yang MASIH BISA kita lakukan.
Ketiga? Jaga makanan kita. Lho apa kaitannya? Begini. Makanan yang tidak halal atau meragukan akan menghalangi tercapainya impian dan doa. Rada panjang penjelasannya, tapi begitulah kurang-lebih.
Nah, kalau ketiga hal ini sudah diterapkan, insya Allah hasilnya bukan lagi 2M atau 2T. Melainkan 2B. Apa itu? Berkah Berlimpah.
Teman-teman yakin? Saya harap begitu. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Sepekan ini rasanya seru sekali. Tanpa saya rencanakan, eh, bisa bertemu berbagai tokoh... Walaupun sebenarnya ini bukan pertemuan pertama saya dengan mereka...
Siapa saja mereka?
Siapa saja mereka?
Ada Kak Seto, Om Tarzan (pelawak senior), Ria Miranda dan suami, Ayana (Muallaf Korea), Diera Bachir (fotografer artis), VP Oriflame, Ustadz Wijayanto, dan Pak Herry (Direktur Danamon Syariah).
Yang paling heboh komennya ketika saya dan istri bertemu Ayana, Muallaf asal Korea yang sedang gencar diliput berbagai TV. Orangnya ramah dan pintar. Alhamdulillah... Teman-teman ada pesan untuk dia? Silakan komen dan tanya di IG saya.
https://www.instagram.com/p/Bd1WCamh7f7/
https://www.instagram.com/p/Bd1WCamh7f7/
Instagram
Motivator Indonesia - IPPHO
Talk about many things with Korean Muallaf, Miss @xoLovelyAyana. Awalnya ia tidak tertarik sama Islam. Tapi pelan-pelan ia terkesan dengan akhlak muslim-muslim yang ia jumpai. Lalu ia mempelajari Islam lebih dalam lagi, sampailah akhirnya menjadi Muallaf.…
Pertemuan dan foto saya dengan tokoh-tokoh tadi tentu bukan untuk narsis-narsisan. Sama sekali bukan. Tapi masing-masing menyimpan hikmah dan pesan tersendiri. Mau nyimak? Silakan dibaca satu per satu postingan di IG saya. Terutama 3 hari terakhir.
INSPIRASI PAGI
Bersama:
- Aa Gym
- Ippho Santosa
Ahad, 14 Januari 2018
Jam 08.30-12.00 WIB
Jakarta Pusat
Untuk mengetahui alamat detailnya, silakan WA ke 0821-1278-1199.
Silakan ajak teman dan saudara. Belajar bareng. Acara ini GRATIS dan terbuka untuk umum.
Karena banyaknya peserta, diharapkan peserta datang on-time. Agar dapat posisi yang terdepan.
Jadilah pembelajar! Jadilah pemenang!
Bersama:
- Aa Gym
- Ippho Santosa
Ahad, 14 Januari 2018
Jam 08.30-12.00 WIB
Jakarta Pusat
Untuk mengetahui alamat detailnya, silakan WA ke 0821-1278-1199.
Silakan ajak teman dan saudara. Belajar bareng. Acara ini GRATIS dan terbuka untuk umum.
Karena banyaknya peserta, diharapkan peserta datang on-time. Agar dapat posisi yang terdepan.
Jadilah pembelajar! Jadilah pemenang!
Tadi malam saya nonton konsernya Liam Gallagher, Oasis. Di rockpit alias front row.
Detik-detik yang sangat menyenangkan bagi saya adalah saat dia membawa bendera #MerahPutih ke hadapan penonton sembari memuji, "Ini bendera yang bagus." Ini namanya personal touch. Good job, Liam!
Silakan lihat videonya di Instagram saya, @ipphoright.
Demikian pula Guns N Roses ketika mereka perform di Jakarta. Ada personal touch. Saya suka sekali saat mereka membawakan intro lagu #IndonesiaRaya, menjelang mereka menyanyikan lagu Don't Cry. Keren!
Kalau Weezer? Lebih keren lagi. Mereka kaya akan celetukan-celetukan khas Bahasa Indonesia seperti, "Kami Weezer, selamat malam." "Apa kabar?" "Mantap, konser ini akan menyenangkan." "Teriak lebih keras, sip?" "Terima kasih Jakarta. Selamat tinggal."
Penonton mana yang nggak senang? Saya pun tersenyum sumringah saat mendengar sapaan-sapaan yang penuh personal touch itu.
Begitulah. Produk nasional bahkan internasional sekalipun perlu memberikan personal touch. Mungkin dari segi bahasa, dari segi kemasan, atau yang lainnya. Sehingga masyarakat setempat merasa lebih dispesialkan. Dan ujung-ujungnya produk kita bisa lebih diterima.
Mari kita terapkan ini pada bisnis kita. Personal touch.
Detik-detik yang sangat menyenangkan bagi saya adalah saat dia membawa bendera #MerahPutih ke hadapan penonton sembari memuji, "Ini bendera yang bagus." Ini namanya personal touch. Good job, Liam!
Silakan lihat videonya di Instagram saya, @ipphoright.
Demikian pula Guns N Roses ketika mereka perform di Jakarta. Ada personal touch. Saya suka sekali saat mereka membawakan intro lagu #IndonesiaRaya, menjelang mereka menyanyikan lagu Don't Cry. Keren!
Kalau Weezer? Lebih keren lagi. Mereka kaya akan celetukan-celetukan khas Bahasa Indonesia seperti, "Kami Weezer, selamat malam." "Apa kabar?" "Mantap, konser ini akan menyenangkan." "Teriak lebih keras, sip?" "Terima kasih Jakarta. Selamat tinggal."
Penonton mana yang nggak senang? Saya pun tersenyum sumringah saat mendengar sapaan-sapaan yang penuh personal touch itu.
Begitulah. Produk nasional bahkan internasional sekalipun perlu memberikan personal touch. Mungkin dari segi bahasa, dari segi kemasan, atau yang lainnya. Sehingga masyarakat setempat merasa lebih dispesialkan. Dan ujung-ujungnya produk kita bisa lebih diterima.
Mari kita terapkan ini pada bisnis kita. Personal touch.