"Sesiapa yang suka melambat-lambatkan pekerjaan maka tidak akan dipercepat rezekinya," pesan Nabi Muhammad yang kemudian diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Maka, lakukan segala sesuatu dengan segera. Ya, segera. Bahkan ketika satu tugas sudah selesai, maka kerjakan tugas lain dengan segera. Jangan menunda. Demikianlah seruan Yang Maha Kuasa.
Menariknya, begitu kita menyelesaikan tugas yang penting, sebenarnya otak kita melepaskan hormon beta-endorphin. Hormon ini adalah remedi alami untuk kebahagiaan.
Dan hati-hati. Penundaan akan menggerus good mood. Penundaan akan mengundang kegagalan. Penundaan akan memantik masalah demi masalah.
Saran saya, "Selagi itu legal dan halal, ya sudah, lakukan saja. Jangan ditunda." Coba perhatikan kebiasaan orang-orang sukses. Mereka tidak suka menunda pekerjaan.
Gimana dengan Anda? Siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Maka, lakukan segala sesuatu dengan segera. Ya, segera. Bahkan ketika satu tugas sudah selesai, maka kerjakan tugas lain dengan segera. Jangan menunda. Demikianlah seruan Yang Maha Kuasa.
Menariknya, begitu kita menyelesaikan tugas yang penting, sebenarnya otak kita melepaskan hormon beta-endorphin. Hormon ini adalah remedi alami untuk kebahagiaan.
Dan hati-hati. Penundaan akan menggerus good mood. Penundaan akan mengundang kegagalan. Penundaan akan memantik masalah demi masalah.
Saran saya, "Selagi itu legal dan halal, ya sudah, lakukan saja. Jangan ditunda." Coba perhatikan kebiasaan orang-orang sukses. Mereka tidak suka menunda pekerjaan.
Gimana dengan Anda? Siap praktek? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Presiden Jokowi pernah berpesan, "Menurut World Bank, seharusnya tiap negara minimal punya 4 persen entrepreneurs dari jumlah penduduk. Nah, Indonesia baru punya 3,3 persen pengusaha. Singapura sudah punya 7 persen. Sementara, Malaysia dan Thailand punya 4-5 persen."
Ya, #EntrepreneursWanted. Indonesia membutuhkan entrepreneurs lebih banyak lagi.
Ujar Presiden Jokowi, "Kadang jalan pikiran anak muda tidak bisa dimengerti. Tapi, yang penting segeralah mulai usaha. Memulai bisa kapan saja. Tanpa memulai, usaha kita tak akan pernah jadi!" Bagi saya, itu ada benarnya. Hindari penundaan.
Menjadi pengusaha adalah cara kita untuk menuju mapan finansial, di mana dampaknya bisa dirasakan oleh diri kita dan keluarga kita. Belum lagi kemungkinan terbukanya lapangan kerja. Itu sangat menyenangkan dan membanggakan.
Bagi teman-teman yang terlintas keinginan untuk jadi pengusaha, baiknya segera take action. Sekali lagi, hindari penundaan. Tidak harus langsung besar. Kecil-kecilan dulu, boleh. Tidak harus produk sendiri. Menjualkan dulu juga boleh.
Semoga berkah berlimpah!
Ya, #EntrepreneursWanted. Indonesia membutuhkan entrepreneurs lebih banyak lagi.
Ujar Presiden Jokowi, "Kadang jalan pikiran anak muda tidak bisa dimengerti. Tapi, yang penting segeralah mulai usaha. Memulai bisa kapan saja. Tanpa memulai, usaha kita tak akan pernah jadi!" Bagi saya, itu ada benarnya. Hindari penundaan.
Menjadi pengusaha adalah cara kita untuk menuju mapan finansial, di mana dampaknya bisa dirasakan oleh diri kita dan keluarga kita. Belum lagi kemungkinan terbukanya lapangan kerja. Itu sangat menyenangkan dan membanggakan.
Bagi teman-teman yang terlintas keinginan untuk jadi pengusaha, baiknya segera take action. Sekali lagi, hindari penundaan. Tidak harus langsung besar. Kecil-kecilan dulu, boleh. Tidak harus produk sendiri. Menjualkan dulu juga boleh.
Semoga berkah berlimpah!
Anda punya akun Instagram (IG)?
Setidaknya teman-teman Anda pasti punya. Betul apa betul?
Kalau Facebook menjadi tempat berkumpulnya user yang paling banyak, maka Instagram menjadi tempat berkumpulnya user yang paling prospek. Kedua-duanya perlu kita kuasai, bukan sekadar tahu.
"Instagram merupakan tool pemasaran yang sangat efektif bagi perusahaan untuk memperkenalkan produknya. Selebriti juga memperhitungkan akun mereka secara efektif," ungkap Mike Bandar, pendiri HopperHQ.
Ia juga menyampaikan betapa Instagram punya banyak user, tepatnya sekitar 700 juta user aktif di dunia setiap bulan. Itu sama saja Instagram menjadi media pengiklan yang efektif. Apalagi user-nya lebih berdaya beli.
Instagram bahkan menjadi mesin uang, terutama bagi artis-artis. Raffi Ahmad, misalnya. Sekali endorse di Instagram, dia bisa mengantongi hampir Rp30juta. Kalau Prilly Latuconsina? Kurang-lebih sama.
Kita bukan artis. Kita adalah entrepreneur dan calon entrepreneur. Namun, ada baiknya kita mempelajari ilmu Facebook dan Instagram lebih dalam lagi, terutama buat bisnis. Apalagi orang perkotaan memegang handphone-nya 3 sampai 5 atau 6 jam sehari. Think.
Internet + Socmed = Magnet
Magnet apa? Konsumen, uang, dan berbagai kemungkinan lainnya. Akankah kita jadi penonton dan konsumen saja? Sekali lagi, think. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Setidaknya teman-teman Anda pasti punya. Betul apa betul?
Kalau Facebook menjadi tempat berkumpulnya user yang paling banyak, maka Instagram menjadi tempat berkumpulnya user yang paling prospek. Kedua-duanya perlu kita kuasai, bukan sekadar tahu.
"Instagram merupakan tool pemasaran yang sangat efektif bagi perusahaan untuk memperkenalkan produknya. Selebriti juga memperhitungkan akun mereka secara efektif," ungkap Mike Bandar, pendiri HopperHQ.
Ia juga menyampaikan betapa Instagram punya banyak user, tepatnya sekitar 700 juta user aktif di dunia setiap bulan. Itu sama saja Instagram menjadi media pengiklan yang efektif. Apalagi user-nya lebih berdaya beli.
Instagram bahkan menjadi mesin uang, terutama bagi artis-artis. Raffi Ahmad, misalnya. Sekali endorse di Instagram, dia bisa mengantongi hampir Rp30juta. Kalau Prilly Latuconsina? Kurang-lebih sama.
Kita bukan artis. Kita adalah entrepreneur dan calon entrepreneur. Namun, ada baiknya kita mempelajari ilmu Facebook dan Instagram lebih dalam lagi, terutama buat bisnis. Apalagi orang perkotaan memegang handphone-nya 3 sampai 5 atau 6 jam sehari. Think.
Internet + Socmed = Magnet
Magnet apa? Konsumen, uang, dan berbagai kemungkinan lainnya. Akankah kita jadi penonton dan konsumen saja? Sekali lagi, think. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Kalau Anda mengerjakan sesuatu karena cinta, insya Allah itu akan membahagiakan. Benar sekali, cinta itu membahagiakan. Juga menyehatkan.
Terkait kerja, mengapa Anda mau bekerja 6 sampai 8 jam sehari? Mungkin karena kecintaan Anda pada pekerjaan dan perusahaan Anda. Mungkin karena kecintaan Anda kepada orangtua, anak, dan istri Anda.
Kemungkinan lain? Mungkin karena kecintaan Anda kepada Tuhan dan Tuhan telah memerintahkan Anda untuk menjalankan peran khalifah dengan sebaik-baiknya, dengan sungguh-sungguh. Begitu kan?
Dengan kata lain, kekuatan ikhtiar tidak akan sempurna apabila tidak dilengkapi dengan bahan bakar cinta. Jelas sudah, cintalah yang membarakan, cintalah yang menggerakkan, cintalah yang membahagiakan!
Maka, apapun bidang kita saat ini, cintailah. Entah sudah passion atau belum passion. Kalau kita cintai, insya Allah passion itu bisa tumbuh pelan-pelan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Terkait kerja, mengapa Anda mau bekerja 6 sampai 8 jam sehari? Mungkin karena kecintaan Anda pada pekerjaan dan perusahaan Anda. Mungkin karena kecintaan Anda kepada orangtua, anak, dan istri Anda.
Kemungkinan lain? Mungkin karena kecintaan Anda kepada Tuhan dan Tuhan telah memerintahkan Anda untuk menjalankan peran khalifah dengan sebaik-baiknya, dengan sungguh-sungguh. Begitu kan?
Dengan kata lain, kekuatan ikhtiar tidak akan sempurna apabila tidak dilengkapi dengan bahan bakar cinta. Jelas sudah, cintalah yang membarakan, cintalah yang menggerakkan, cintalah yang membahagiakan!
Maka, apapun bidang kita saat ini, cintailah. Entah sudah passion atau belum passion. Kalau kita cintai, insya Allah passion itu bisa tumbuh pelan-pelan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ada sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia. Ini angka yang wow. Sementara hampir setengahnya adalah penggila medsos atau berkisar di angka 40%. Dan angka ini meningkat lumayan dibanding tahun lalu, di 2016. Luar biasa? Sangat!
Di 2017, Tetra Pak Index mencatat ada lebih dari 106 juta orang Indonesia menggunakan medsos setiap bulannya. Bayangkan 106 juta orang. Di mana 85% di antaranya mengakses social media melalui perangkat seluler.
"Pengguna internet di Indonesia didominasi oleh generasi millennial dan generasi Z," ini temuan menurut mereka.
Lanjut mereka, "Social media memiliki pengaruh besar dalam pertumbuhan bisnis, khususnya bisnis berbasis online di Indonesia. Konten buatan pengguna (user generated content) menjadi semakin penting."
Ya, social media memang dahsyat. Dan sekarang sudah saatnya kita jadi pemain. Jangan sekadar jadi penonton. Salah satunya, manfaatkan social media untuk menghasilkan uang.
Di 2017, Tetra Pak Index mencatat ada lebih dari 106 juta orang Indonesia menggunakan medsos setiap bulannya. Bayangkan 106 juta orang. Di mana 85% di antaranya mengakses social media melalui perangkat seluler.
"Pengguna internet di Indonesia didominasi oleh generasi millennial dan generasi Z," ini temuan menurut mereka.
Lanjut mereka, "Social media memiliki pengaruh besar dalam pertumbuhan bisnis, khususnya bisnis berbasis online di Indonesia. Konten buatan pengguna (user generated content) menjadi semakin penting."
Ya, social media memang dahsyat. Dan sekarang sudah saatnya kita jadi pemain. Jangan sekadar jadi penonton. Salah satunya, manfaatkan social media untuk menghasilkan uang.
Sekitar 45 juta orang Indonesia ternyata menggunakan media sosial ini secara aktif. Dan tercatat, Indonesia merupakan negara penghasil Instagram Story terbesar di dunia, dengan konten 2X lebih banyak dari rerata global.
Susan Rose, Product Marketing Director Instagram, melihat ini sebagai kesempatan yang bisa brand gunakan untuk lebih dekat dengan konsumennya. Adopsi bisnis melalui Instagram di Indonesia termasuk lima tertinggi di dunia.
Bahkan Instameet (komunitas Instagram) di Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Aktifnya bukan cuma di kota-kota besar, melainkan sampai kota-kota kecil. Ya, Instagram berada semakin jauh di depan rivalnya, Snapchat.
Di Instagram, saya aktif berbagi inspirasi dalam bentuk gambar dan video di akun @ipphoright.
Lantas, bagaimana dengan Facebook? Jumlah pengguna Facebook memang jauh lebih banyak, baik di Indonesia maupun di dunia. Tapi serunya, pengguna Instagram lebih konsumtif, lebih berdaya beli, dan terbiasa dengan belanja online.
Saran saya, "Berhentilah jadi penonton. Saatnya jadi pelaku, jadi pemain." Sayang sekali kalau pasar sepotensial ini sampai diabaikan. Ingat, punya akun Instagram saja tidaklah cukup. Harus dioptimasi agar bisa menjual dengan lebih mudah.
Silakan praktek. Semoga berkah berlimpah.
Susan Rose, Product Marketing Director Instagram, melihat ini sebagai kesempatan yang bisa brand gunakan untuk lebih dekat dengan konsumennya. Adopsi bisnis melalui Instagram di Indonesia termasuk lima tertinggi di dunia.
Bahkan Instameet (komunitas Instagram) di Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Aktifnya bukan cuma di kota-kota besar, melainkan sampai kota-kota kecil. Ya, Instagram berada semakin jauh di depan rivalnya, Snapchat.
Di Instagram, saya aktif berbagi inspirasi dalam bentuk gambar dan video di akun @ipphoright.
Lantas, bagaimana dengan Facebook? Jumlah pengguna Facebook memang jauh lebih banyak, baik di Indonesia maupun di dunia. Tapi serunya, pengguna Instagram lebih konsumtif, lebih berdaya beli, dan terbiasa dengan belanja online.
Saran saya, "Berhentilah jadi penonton. Saatnya jadi pelaku, jadi pemain." Sayang sekali kalau pasar sepotensial ini sampai diabaikan. Ingat, punya akun Instagram saja tidaklah cukup. Harus dioptimasi agar bisa menjual dengan lebih mudah.
Silakan praktek. Semoga berkah berlimpah.
Kadang kita perlu #sinergi, menggabungkan berbagai energi, demi meraih hasil yang lebih besar lagi. Teman-teman setuju dengan kalimat ini?
https://m.detik.com/news/berita/d-3780146/ippho-santosa-hingga-asma-nadia-temui-ketua-MPR-ini-yang-dibahas
https://m.detik.com/news/berita/d-3780146/ippho-santosa-hingga-asma-nadia-temui-ketua-MPR-ini-yang-dibahas
detiknews
Ippho Santosa hingga Asma Nadia Temui Ketua MPR, Ini yang Dibahas
Mereka yang hadir Hermawan Kertajaya, Tung Desem Waringin, Andre Wongso, Ippho Santosa dan Asma Nadia.
Senang sekali tadi diundang Ketua MPR Bapak Zulkifli Hasan. Alhamdulillah kali ini saya diizinkan mengajak motivator-motivator lainnya.
Sekitar 3 jam kami di sana. Memberi masukan untuk MPR, sekaligus menerima masukan dari MPR. Sebagai Ketua MPR, Pak Zul sangat rendah hati, menurut kami.
Semoga segala kebaikan yang kami bahas tadi, bisa membawa perubahan positif untuk negeri ini. Aamiin. Kami datang dengan hati 'zero'. Benar-benar 'zero'.
Maksudnya, kami datang tidak membawa kepentingan apapun, melainkan hanya kebaikan untuk negeri ini. Doakan niat kami tetap tulus dan lurus.
Btw, siapa saja tadi yang hadir?
#IpphoSantosa
#HermawanKartajaya
#AndrieWongso
#TungDesemWaringin
#EllyRisman
#JayaSetiabudi
#DwikiDharmawan
#Asmanadia
#PonijanLiaw
#BongChandra
#TeddySnada
#AhmadGozali
#AwamPrakoso
#PutuPutrayasa
#WendiAbdillah
#DedyHartono
Ya, #IndonesiaBersatu.
Teman-teman punya masukan untuk MPR? Silakan komen di IG saya. Nanti saya teruskan kepada pihak yang terkait. Ini link-nya >> https://www.instagram.com/p/Bc80D9_hPhX/
Sekitar 3 jam kami di sana. Memberi masukan untuk MPR, sekaligus menerima masukan dari MPR. Sebagai Ketua MPR, Pak Zul sangat rendah hati, menurut kami.
Semoga segala kebaikan yang kami bahas tadi, bisa membawa perubahan positif untuk negeri ini. Aamiin. Kami datang dengan hati 'zero'. Benar-benar 'zero'.
Maksudnya, kami datang tidak membawa kepentingan apapun, melainkan hanya kebaikan untuk negeri ini. Doakan niat kami tetap tulus dan lurus.
Btw, siapa saja tadi yang hadir?
#IpphoSantosa
#HermawanKartajaya
#AndrieWongso
#TungDesemWaringin
#EllyRisman
#JayaSetiabudi
#DwikiDharmawan
#Asmanadia
#PonijanLiaw
#BongChandra
#TeddySnada
#AhmadGozali
#AwamPrakoso
#PutuPutrayasa
#WendiAbdillah
#DedyHartono
Ya, #IndonesiaBersatu.
Teman-teman punya masukan untuk MPR? Silakan komen di IG saya. Nanti saya teruskan kepada pihak yang terkait. Ini link-nya >> https://www.instagram.com/p/Bc80D9_hPhX/
Instagram
Motivator Indonesia - IPPHO
Bareng Pak Tung, Pak Hermawan, Mas Bong, dan Mbak Asma. Teman-teman ada pesan untuk beliau-beliau?
"Mas Ippho, ngajak para motivator gitu ketemu Ketua MPR, ketemu Eyang Habibie, dll. Apa nggak merasa kesaing?" Alhamdulillah, sama sekali nggak. Semuanya teman, semuanya saudara.
Kebaikan jangan dimonopoli sendirian. Jangan. Hendaknya di-sinergi-kan dan di-distribusi-kan.
Seminggu ini saya diundang oleh Zoya, Mane Indonesia, dan BPD Jogja. Semacam in-house. Besok pagi (Ahad pagi) insya Allah saya seminar publik di Madiun. Mohon doa dari teman-teman ya. Semoga lancar dan berkah.
Tepat Desember tahun ini, saya berusia 40 tahun. Dan seumur hidup, saya tidak terlalu suka dengan yang namanya unjuk rasa. Bagi saya, kata 'unjuk rasa' memiliki konotasi yang negatif. Namun 17 Desember yang lalu adalah sebuah pengecualian.
Massa, yang dipimpin oleh MUI, berunjuk rasa menolak pengakuan sepihak AS yang menyatakan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Ingat, Palestina adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Boleh dibilang, kita berutang budi pada Palestina.
Namun muncul beberapa kendala teknis. Pertama, di hari yang sama anak saya ingin saya hadir di sekolahnya, ada event khusus yang melibatkan anak dan orangtuanya. Kedua, di hari yang sama, saya ada seminar di Semarang dan ratusan peserta telah menanti.
Lantas, apa pilihan saya? Bagi saya, semuanya adalah penting. Maka dari itu, pada akhirnya saya memutuskan untuk menghadiri ketiga-tiganya. Ya, ketiga-tiganya. Lha, gimana cara bagi-bagi waktunya?
Saya subuhan di Monas, tepatnya jam 3.30 pagi (sekitar 45 menit dari rumah saya). Lalu jam 7-an saya bergegas ke sekolah anak. Perjalanan dari Monas ke sekolah anak memerlukan waktu sekitar 1 jam. Ya, saya berusaha memenuhi harapan anak saya. Dan di sekolahnya, saya sempat main 3 game bersama dia, dari total 5 game.
Terus jam 10 saya pamit sama dia. Cuuus ke bandara. Sekitar 1 jam dari sekolah itu. Ya, saya bergegas menuju Semarang. Bukan apa-apa. Ratusan peserta telah membeli tiket seminar saya dan tidak boleh saya kecewakan begitu saja. Btw, mohon doa dari teman-teman ya. Semoga niat saya tetap terjaga.
Sekarang, apa yang terjadi?
Segala puji hanya untuk Allah. Sebanyak 128 negara di PBB akhirnya menolak pengakuan sepihak AS yang menyatakan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Hanya 9 negara yang setuju dengan klaim sepihak dan tidak adil itu. Ini terjadi kemarin.
Ternyata doa kita dijawab dan unjuk rasa kita didengar. Berpengaruh. Nggak main-main. Setidaknya, mereka kuatir kalau muslim-muslim sedunia memboikot produk-produk mereka. Bagi mereka, keuntungan ekonomi adalah segala-galanya.
Begini. Keberpihakan kita kepada Palestina bukan semata-mata karena alasan agama, melainkan juga karena alasan kemanusiaan dan keadilan. UUD 45 yang mengamanahkan itu. Saya yakin insya Allah Palestina akan merdeka dalam arti yang sebenarnya. Aamiin. Doakan ya.
Gegara saya ikut unjuk rasa, bisa jadi sebagian follower tidak lagi menyukai saya. Bukan mustahil saya dicap radikal atau apalah. Satu lagi. Bisa jadi Amerika tidak mengizinkan saya masuk ke sana dalam waktu dekat. Maafkan saya. Bagi saya, itu risiko yang harus saya ambil.
Bayangkan, tanah milik ibumu diserobot orang. Karena penyerobotan itu akhirnya ibumu hidup susah dan teraniaya. Akankah engkau berkata, "Bu, aku netral." Tentu tidak. Pastinya engkau akan bersuara dan bergerak, sebisanya! Saya harap Anda setuju dengan saya!
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Note: Anda tidak perlu meminta izin kepada saya sekiranya ingin menyebarkan tulisan ini)
Massa, yang dipimpin oleh MUI, berunjuk rasa menolak pengakuan sepihak AS yang menyatakan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Ingat, Palestina adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Boleh dibilang, kita berutang budi pada Palestina.
Namun muncul beberapa kendala teknis. Pertama, di hari yang sama anak saya ingin saya hadir di sekolahnya, ada event khusus yang melibatkan anak dan orangtuanya. Kedua, di hari yang sama, saya ada seminar di Semarang dan ratusan peserta telah menanti.
Lantas, apa pilihan saya? Bagi saya, semuanya adalah penting. Maka dari itu, pada akhirnya saya memutuskan untuk menghadiri ketiga-tiganya. Ya, ketiga-tiganya. Lha, gimana cara bagi-bagi waktunya?
Saya subuhan di Monas, tepatnya jam 3.30 pagi (sekitar 45 menit dari rumah saya). Lalu jam 7-an saya bergegas ke sekolah anak. Perjalanan dari Monas ke sekolah anak memerlukan waktu sekitar 1 jam. Ya, saya berusaha memenuhi harapan anak saya. Dan di sekolahnya, saya sempat main 3 game bersama dia, dari total 5 game.
Terus jam 10 saya pamit sama dia. Cuuus ke bandara. Sekitar 1 jam dari sekolah itu. Ya, saya bergegas menuju Semarang. Bukan apa-apa. Ratusan peserta telah membeli tiket seminar saya dan tidak boleh saya kecewakan begitu saja. Btw, mohon doa dari teman-teman ya. Semoga niat saya tetap terjaga.
Sekarang, apa yang terjadi?
Segala puji hanya untuk Allah. Sebanyak 128 negara di PBB akhirnya menolak pengakuan sepihak AS yang menyatakan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Hanya 9 negara yang setuju dengan klaim sepihak dan tidak adil itu. Ini terjadi kemarin.
Ternyata doa kita dijawab dan unjuk rasa kita didengar. Berpengaruh. Nggak main-main. Setidaknya, mereka kuatir kalau muslim-muslim sedunia memboikot produk-produk mereka. Bagi mereka, keuntungan ekonomi adalah segala-galanya.
Begini. Keberpihakan kita kepada Palestina bukan semata-mata karena alasan agama, melainkan juga karena alasan kemanusiaan dan keadilan. UUD 45 yang mengamanahkan itu. Saya yakin insya Allah Palestina akan merdeka dalam arti yang sebenarnya. Aamiin. Doakan ya.
Gegara saya ikut unjuk rasa, bisa jadi sebagian follower tidak lagi menyukai saya. Bukan mustahil saya dicap radikal atau apalah. Satu lagi. Bisa jadi Amerika tidak mengizinkan saya masuk ke sana dalam waktu dekat. Maafkan saya. Bagi saya, itu risiko yang harus saya ambil.
Bayangkan, tanah milik ibumu diserobot orang. Karena penyerobotan itu akhirnya ibumu hidup susah dan teraniaya. Akankah engkau berkata, "Bu, aku netral." Tentu tidak. Pastinya engkau akan bersuara dan bergerak, sebisanya! Saya harap Anda setuju dengan saya!
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
(Note: Anda tidak perlu meminta izin kepada saya sekiranya ingin menyebarkan tulisan ini)