Ippho Santosa - ipphoright
26.2K subscribers
315 photos
57 videos
18 files
297 links
Download Telegram
Berbagi, bergembira...
Anda karyawan? Anda profesional?

Sepertinya secara berkala Anda perlu menilai hasil kinerja Anda. Dengan demikian, Anda tahu persis kelebihan dan kekurangan Anda. Ini penting. Jika nantinya Anda ingin pindah kerja atau banting setir, Anda pun sudah memahami keunggulan-keunggulan Anda.
          
Baiknya dievaluasi setiap berapa lama? Enam bulan adalah waktu relatif pas untuk mengevaluasi kinerja. Ya, setiap enam bulan. Bilamana ternyata kinerja kita kurang memuaskan, kita masih punya waktu untuk memperbaikinya hingga akhir tahun. Right?

Terus, coba perhatikan satu hal. Apakah atasan sering memberi Anda tugas? Sebenarnya, kalau atasan percaya pada hasil kerja kita, kemungkinan besar dia akan mengamanahkan kita berbagai tugas. Terutama tugas-tugas baru. Ini pertanda baik.

Perlakuan rekan kerja terhadap diri kita juga dapat dijadikan patokan. Apakah selama ini mereka sering menanyai pendapat kita seputar pekerjaan? Atasan yang mengamanahkan tugas dan rekan yang meminta pendapat soal tugas, ini adalah dua patokan sederhana bagi kita dalam menilai kinerja kita.

Sebenarnya, senang bekerja sendiri adalah sesuatu yang bagus. Dapat bekerja secara independen, itu berarti Anda memiliki inisiatif yang tinggi dan tidak perlu banyak bimbingan. Namun, jika Anda tidak bisa bekerja dalam tim, ini adalah sesuatu yang jelek. Ya, jelek. Lambat-laun sikap dan kebiasaan ini akan menghambat kinerja Anda.

Kinerja Anda juga dinilai bermasalah jika Anda tidak pandai mengatur waktu. Ingat, Anda hanya membuang-buang waktu bila menghabiskan waktu terus-menerus mengecek socmed dan WA. Saatnya Anda bekerja lebih disiplin dan lebih fokus.

Demikianlah tips-tips terkait evaluasi kinerja bagi Anda yang karyawan dan profesional. Semoga bermanfaat. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda suka band musik?

Saya sempat menonton konser Weezer ketika mereka singgah di Indonesia. Teman-teman tahu band ini? Yang bikin saya kaget adalah mereka berkali-kali menggunakan Bahasa Indonesia dari awal sampai akhir.

Kalimat keren-keren. Seperti, "Kami Weezer, selamat malam." "Apa kabar?" "Mantap, konser ini akan menyenangkan." "Teriak lebih keras, sip?" "Terima kasih Jakarta. Selamat tinggal."

Bahkan Weezer sempat memainkan lagu 'Heavy Rotation' dari AKB48. Kenapa? Pertama, mereka memang suka meng-cover lagu orang lain. Kedua, mereka tahu bahwa 'Heavy Rotation' sangat populer di Indonesia.

'Think globally, act locally!' Ini adalah salah satu filosofi marketing dan Weezer berhasil menerapkannya ketika berada di Jakarta. Berpikir secara global, bertindak secara lokal. Begitulah kurang-lebih.

Mungkin ini seperti KFC yang melakukan penyesuaian rasa dan menu ketika masuk di sejumlah negara. Fleksibel, tidak kaku. Demikian pula Unilever dan Procter & Gamble.

Ya, Weezer salah satu band kesukaan saya. Kalau Guns N Roses? Saya suka juga.

Intro lagu #IndonesiaRaya sempat dibawakan Guns N Roses ketika mereka perform di Jakarta. Keren ya? Banget. Ini event lama. Saya sempat hadir di sana bagian depan, bareng Mas Denny Cagur.

Teman-teman mungkin tahu atau sangat familier dengan band ini. Terlepas kita suka atau tidak, yang jelas Guns N Roses berusaha 'Think globally, act locally!' Tidak semua band seperti. Misalnya, saat saya menonton Good Charlotte. Kurang sentuhan lokalnya.

Awal-awal saya seminar dan keliling Indonesia, saya berusaha mempelajari kultur setempat. Saya baca koran lokalnya. Saya berdialog dengan panitia di sana. Saya googling hal-hal terkait di sana. Supaya apa? Supaya bisa memberikan sentuhan lokal yang mengena dan bermakna.

Sekali lagi, "Think globally, act locally." Setiap tempat punya value dan habit tersendiri. Jangan dianggap enteng. Tak ada salahnya kalau kita pelajari. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Mau buku gratis?
Saya menyiapkan 10 buku dan ebook gratis buat teman-teman semua. Ya, gratis. Mau?

Gampang caranya. Klik ini >>
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1779585442083650&id=144175158958028

Atau boleh juga buka Instagram saya. Namanya @ipphoright
Semoga dimampukan dan berjodoh untuk mengikuti program 1 bulan ini.
Dalam bersedekah, ikhlas itu penting. Tapi, jumlah juga penting. Sangat penting! Lha, kalau jumlah tidak penting, buat apa Abubakar sedekah sampai 99%? Buat apa Umar sedekah sampai 50%?

Demikianlah para sahabat. Mereka yakin dan berani. Bagaimana dengan kita? Idealnya, kita menyedekahkan yang TERBAIK. Tapi, sekiranya belum bisa, hendaknya kita menyedekahkan yang baik-baik.

Maksudnya? Dari sumber yang baik. Terus? Bentuk dan manfaatnya masih baik. Bukan sesuatu yang sudah rusak bentuknya dan turun manfaatnya. Lebih afdol lagi kalau kita bersedekah lebih sering, lebih banyak, dan lebih ikhlas. Upayakan begitu.

Yakinlah, setiap sedekah itu pasti berbalas. Nggak pake insya Allah. Lha, Allah sendiri yang berjanji, mana mungkin Allah mengingkari? Orang yang suka menunda-nunda sedekah, berarti dia kurang yakin dengan balasan sedekah. Ya, kurang yakin.

Boleh dibilang, bisnis pasangannya adalah sedekah. Memang begitulah adanya. Dengan bisnis, kita menggerakkan uang dan barang. Demikian pula dengan sedekah, kita juga menggerakkan uang dan barang.

Pelit bersedekah, berarti pelit terhadap diri sendiri. Ya, pelit itu bagai menolak rezeki bahkan mengusir rezeki. Rugi. Benar-benar rugi. Sebaliknya, orang yang dermawan, jangan heran kalau dirinya semakin mantap jadi hartawan.

Semoga kita semua dimampukan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Di antara semua, siapakah Presiden Indonesia yang paling sedikit haters-nya? Coba tebak. Kemungkinan besar jawabannya adalah BJ Habibie. Setuju? Setuju atau tidak, silakan teman-teman lanjut membaca.

Sewaktu berada di rumah Eyang Habibie, saya sempat nanya-nanya perihal pribadi sama beliau, di samping membahas program-program beliau untuk negeri ini. Ternyata sewaktu kecil beliau susah tidur. Ya, susah tidur.

Adalah sang ayah yang gemar mengaji, dua juz sehari. Ternyata lantunan ayat suci sang ayah ini berhasil menidurkan Habibie cilik. Kisah ini kemudian saya sampaikan ke sahabat saya, Kang Abik, penulis Ayat-Ayat Cinta.

Kang Abik langsung teringat surat Al-Kahfi, bagaimana kesolehan orangtua bisa menjaga anak dan keturunannya. Karena sangat menggugah, tulisan ini boleh di-share. Sekarang, boleh. Sebentar lagi juga boleh.

Begitulah. Ayah beliau rutin mengaji dua juz sehari. Istri beliau (Bu Ainun) bisa khatam Al-Quran hanya dalam beberapa hari. Dan beliau sendiri, belakangan ini, menghabiskan setengah waktunya bersama Al-Quran.

Menariknya, Habibie muda pernah belajar di sekolah non muslim selama sekian tahun. Bahkan ibunya mengizinkan Habibie muda mengikuti pelajaran agama lain. Karena sang ibu yakin dengan iman anaknya dan ingin wawasan anaknya bertambah.

Inilah cuplikan-cuplikan kisah yang saya dengar langsung dari beliau dalam sejumlah pertemuan. Bukan kata orang. Boleh dibilang, perpaduan antara imtaq dan iptek, beliau adalah kyai-nya. Itu menurut saya.

Sewaktu Eyang Habibie jadi presiden, ada pengawal beliau yang sangat setia, anggota Kopassus. Saat Eyang Habibie tidak lagi jadi presiden, pengawal itu memilih meninggalkan kesatuannya untuk tetap bersama Eyang Habibie.

Pengawalnya itu bercerita banyak hal tentang tawadhu-nya Eyang Habibie, baik saat jadi presiden maupun setelah itu. Sampai sekarang, sebagian besar orang di negeri ini menyukai beliau. Hampir-hampir tanpa haters. Beda dengan politisi lain yang berderet-deret haters-nya.

Untuk menyimak kisah Eyang Habibie lainnya, silakan klik >> http://bit.ly/EyangHabibie

Semoga Yang Maha Kuasa memberkahi umur Eyang Habibie. Penuh rahmat dan selalu sehat. Aamiin. Bantu share ya. Dengan di-share, mudah-mudahan semakin banyak anak muda Indonesia yang terinspirasi dan termotivasi.
Boleh?
Sudah nonton film Justice League? Saya dan istri sudah menontonnya pada hari pertama.

Jauh-jauh hari sebelumnya, di film Goosebumps telah disampaikan bahwa sebenarnya film itu cuma punya tiga bagian. Pertama, pendahuluan. Kedua, pertengahan. Ketiga, KEJUTAN. Cuma itu.

Justice League, bagi saya, minim kejutannya. Kita tahu dia bakal bangkit. Dan kita juga tahu dia bakal menang dengan mudah. Hampir-hampir tanpa keringat. Bahkan tanpa deg-degan.

Tapi, ini soal selera. Saya tahu persis banyak orang yang tergila-gila dengan Justice League.

Kejutan menjadi sesuatu yang wajib dalam bisnis. Begini. Tak harus dengan produk baru. Namun kita bisa mengejutkan konsumen dengan iklan baru atau endorser baru. Di British Propolis, saya sampai memilih Andre Taulany, Olla Ramlan, dan Gisella sebagai endorser.

Di TK dan SD, saya bersama tim pusat berusaha meng-update materi pengajaran, selalu. Walaupun terkesan sama (begitulah dunia pendidikan), tapi harus ada hal-hal baru dan segar yang kami tawarkan dari waktu ke waktu.

Sudah fitrahnya manusia menyukai kejutan. Dengan cara positif, tentunya. Kalau sampai nabrak tiang listrik, maaf, itu terlalu negatif. Hehehe. Mari selipkan kejutan demi kejutan dalam bisnis kita. Tidak harus mahal. Tidak harus besar-besaran.

Gimana? Anda siap? Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Jauh-jauh hari Mahatma Gandhi mengajarkan tujuh pantangan yang harus dihindari, yakni:
- kaya tanpa bekerja,
- kesenangan tanpa kesadaran,
- pengetahuan tanpa karakter,
- bisnis tanpa moral,
- ilmu tanpa kemanusiaan,
- penghargaan tanpa pengorbanan,
- politik tanpa prinsip.

Tujuh hal tersebut sangat sulit dibantah, karena memang benar adanya.

Gandhi adalah seorang Hindu namun dia menggandrungi pemikiran-pemikiran dari agama Islam dan Kristen. Pada akhir Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang pria Hindu yang murka kepada Gandhi karena ia dianggap terlalu berpihak kepada Muslim.

Kembali ke salah satu pantangan di atas. Kaya tanpa bekerja. Agama manapun pastilah mensyaratkan kesuksesan dan kekayaan dengan kerja keras. Manusia hanya mendapatkan apa-apa yang ia upayakan. Secara umum yah seperti itu.

Kerja keras yang dimaksud bukan soal ikhtiar belaka. Termasuk juga soal belajar yang sungguh-sungguh, amal yang sungguh-sungguh, dan doa yang sungguh-sungguh. Right? Dengan demikian, kemungkinan sukses akan jauh lebih besar.

Drama korupsi e-KTP telah membuat kita muak. Ironisnya sebagian orang menjadi kaya-raya karena korupsi itu. Perhatikan, di sini beberapa pantangan Gandhi telah dilanggar oleh mereka yang terlibat dalam korupsi tersebut. Apa hasilnya? Kekacauan, penzaliman, malu, marah, dsb.

Mari kita petik hikmah dari tujuh pantangan tersebut. Sebisa-bisanya kita terapkan. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Semoga berkah berlimpah!
Jaga penafkahan kita. Pastikan halal. Niscaya menentramkan
Kesuksesan bisnis bukan saja ditentukan oleh tim dan sistem. Tapi juga ekosistem.

Mau jadi pengusaha, ngumpul sama pengusaha.

Mau jadi miliarder, ngumpul sama miliarder.

Mau jadi orang soleh, ngumpul sama orang soleh.

Di British Propolis kami berusaha mencetak miliarder yang positif dan soleh. Nggak jaminan ini tercapai. Tapi saya berusaha sebisanya. Ya, sebisanya.

Bergaul dengan pembakar besi, bisa terkena bakaran besi. Setidaknya terkena aromanya.

Kalau bergaul dengan penjual wangi? Yah dapat wangi dan dapat diskon, hehehe.

Soal ekosistem, jangan dianggap enteng. Ada baiknya secara sadar kita membentuk lingkungan dan pergaulan kita, demi tercapainya impian kita. Pertama, impian yang terkait dunia. Kedua, impian yang terkait akhirat.

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Anda kenal tokoh yang satu ini? Arcandra Tahar namanya.

Ir. #ArcandraTahar, M.Sc, Ph.D adalah putra Minang yang kemudian kuliah dan bekerja di Texas, Amerika. Sebelumnya beliau adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) walaupun hanya 20 hari, yang menjadikannya menteri dengan masa kerja terpendek.

Sekarang, beliau adalah Wakil Menteri ESDM. Kita abaikan dulu latar belakang beliau yang sempat rada kontroversi. Selama di Texas, beliau nyambi sebagai guru ngaji (tahsin). Ya, guru ngaji. Boleh dibilang, beliau ini penggiat di Islamic Family Academy di Houston, Texas.

Salah satu peserta di sana, Yuyud Tomtom, mengaku, “Tahun lalu, saya bertemu dengan dia di Islamic Family Academy Houston Spring Camp. Kemudian, saya tahu jika dia adalah seorang guru ngaji. Dia mengajari anggota keluarga saya bagaimana membaca Al-Quran secara benar. Itu adalah bagian dari kebaikannya. Semoga Allah memberi pahala yang berlimpah."

Karena itulah, saat bertemu beliau saya bertanya soal agama. Tepatnya, tentang kesalahan-kesalahan kita terhadap orang lain dan bagaimana cara meminta maafnya andai kita tidak bisa bertemu juga menghubungi orang itu secara langsung.

Pejabat yang satu ini memang sederhana dan rendah hati. Tapi ilmu agamanya insya Allah bisa diandalkan. Pertanyaan saya ini dijawab panjang-lebar oleh beliau. Lugas. Menurut beliau, kita harus berusaha mencari orang tersebut dengan sungguh-sungguh. Soal sungguh-sungguh ini hanya Allah dan hati kita yang tahu.

Bila tidak bertemu juga, carilah kerabatnya. Begitulah. Minta maaf sama manusia, minta ampun sama Allah. Pantaslah di kalangan tertentu beliau dipanggil 'buya'. Semoga beliau selalu sehat dan dilindungi Allah. Aamiin.

Lantas, bagaimana rasanya tinggal dan berkeluarga di negeri yang secara iman kita adalah minoritas? Beliau mengajarkan analogi tentang sungai. Apakah kita 'membangun pagar bagi anak' atau 'mengajarkan anak berenang'. Beliau menyarankan alternatif yang terakhir, mengajarkan anak berenang.

Masih banyak lagi ilmu-ilmu bermanfaat dari beliau. Kapan-kapan kita sambung lagi. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Maafkan mereka yang pernah mengecewakan dirimu. Niscaya akan lebih tentram dan lebih bahagia dirimu.
Disukai atau dibenci, jadikan motivasi untuk lebih sukses
Humor itu bagian dari otak kanan. Jamak diketahui, humor dapat mencairkan suasana dan memuluskan percakapan. Nabi Muhammad pun membolehkan humor (gurauan), asalkan tidak berdusta dan tidak berlebihan.

Lihatlah orang Jawa. Hm, kok bawa-bawa orang Jawa segala? Begini. Mereka sudah terbiasa dengan kehadiran pelawak semenjak zaman kerajaan-kerajaan. Demikian pula dengan Inggris. Yah, Anda tidak perlu sekocak Ustadz Abdul Somad. Tetapi, sekali waktu, cobalah untuk bergurau dengan lawan bicara Anda. Terutama di awal.

Lakukan itu. Apakah Anda berprofesi sebagai pengusaha, perawat, pengajar, penyanyi, atau profesi apa saja yang mengharuskan people contact. Tentunya, gurauan mesti mencermati sikon. Bayangkan saja Anda bersenda-gurau dan terbahak-bahak di sebuah pemakaman. Semua mata bisa mendelik ke arah Anda. Hehehe.

“Mas Ippho, profesi saya tidak mengharuskan people contact. Bagaimana ini?” Mungkin ada keluhan seperti itu. Lantas, apa jawaban saya? “Lha, itu ‘kan urusan Anda. Emangnya saya pikirin!” Hehehe, saya bercanda.

Begini. Dengarkan saran saya, “Cobalah bergurau dengan diri Anda sendiri dan cobalah untuk tertawa. Atau simak tulisan dan film yang jenaka.” Bahkan, sesekali Anda boleh meniru anak kecil. Hm, nggak salah tuh? Tidak.

Anak kecil—di mana mereka cenderung dominan otak kanannya— dapat tertawa tanpa tahu penyebabnya. Tertawa, ya, tertawa. Tidak perlu pakai sebab. Sejatinya, itulah yang terbaik. Begitu Anda tertawa, ini dapat memancing rasa senang bahkan rasa bahagia. Yang penting, jangan berlebihan.

Silakan praktek. Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah!
Jangan jual barang yang kita sendiri nggak pakai atau nggak puas. Pastikan dipakai sendiri dan puas, barulah sampaikan ke orang-orang terdekat dan mereka yang bener-bener butuh.

Terus, gimana baiknya? Ada yang dijual, ada pula yang dikasih. Dua-duanya bagus dan berkah. Kalau dijual, namanya muamalah. Kalau dikasih, namanya sedekah. Ini berlaku pada produk apa saja, termasuk suplemen.

Kasih (gratis) ke orang-orang terdekat yang kita kenal dan sepertinya perlu produk kita. Jangan kasih ke orang yang nggak perlu atau ogah-ogahan. Yah, percuma.

Selanjutnya, kasih ke orang yang bener-bener butuh. Tapi jangan dibikin serba mudah. Bersyarat saja, misal suruh dia jogging 7 kali berturut-turut. Setelah itu, kasih produk kita (contohnya suplemen kesehatan). Atau suruh dia bayar seikhlasnya. Kalau bener-bener butuh, pastilah dia mau sedikit berkorban. Setelah itu, minta testimoni dari dia. Testimoninya lebih ampuh tuh.

Satu lagi. Kasih juga ke orang yang ahli. Ya, ahli tentang produk yang kita jual. Komen dari sang ahli ini akan membuat produk seperti teruji. Sama seperti dapat sertifikasi tertentu. Pada akhirnya ini akan menambah nilai jual produk kita.

Begitulah. Ada yang dijual, ada pula yang dikasih. Kalaupun mau dikasih, pastikan kasih ke orang-orang yang tepat. Sepakat?
Tulisan di atas menjawab dilema antara jual barang dan ngasih barang. Hal ini sering ditanyakan ke saya.