(lanjutan)
Hikmah dari instruksi tersebut sangat jelas: setiap prajurit Bani Israil yang berangkat harus bisa fokus dan konsentrasi dalam tugas, yang mana di dalamnya bukan orang-orang yang masih punya keterikatan pada dunia
Pasukannya pun mulai merayap, perang telah dimulai. Saat posisi pasukan Bani Israil benar-benar dekat dengan Baitul Maqdis, dan masing-masing telah menempatkan diri, matahari telah bergerak condong ke barat kiranya telah masuk waktu Ashar. Untuk menaklukan dan merebut Baitul Maqdis dari kaum musyrikin, tentu membutuhkan waktu lebih dari sekadar rentang antara Ashar sampai tenggelamnya matahari
Terlebih lagi saat itu adalah hari Jumat. Jikalau terlambat, pertempuran akan melewati senja tenggelam di ufuk barat dan hari pun berganti, Jumat menjadi Sabtu. Sementara, hari Sabtu adalah hari suci bagi Bani Israil, hari yang sangat dihormati dan dimuliakan
Di sanalah peran penting seorang panglima, Nabi Yusya’ harus memutuskan dengan cepat dalam waktu singkat secara tepat. Kondisi dan situasi mengharuskan penaklukan Baitul Maqdis tidak dapat ditunda. Kemudian, keistimewaan inilah yang Allah berikan kepada beliau, Nabi Yusya’ bin Nun mengucapkan kepada matahari, “Engkau sedang menjalankan perintah, aku juga saat ini sedang melaksanakan perintah Allah, tahanlah matahari ini barang sesaat untukku.” Maka Allah kabulkan doanya, kemudian kemenangan Bani Israil pun dapat diraih sebelum matahari tenggelam. Masjidil Aqsha pun dikuasai oleh Bani Israil yang taat itu, Nabi Yusya' bin Nun tetap berada di tengah- tengah mereka untuk membimbing, mengarahkan, dan memimpin hingga beliau meninggal selisih 27 tahun setelah wafatnya Nabi Musa
Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat-Nya kepada beliau ‘alaihis salam dan semoga Allah memberi kehormatan pada kita semua agar bisa menjadi generasi selanjutnya yang membebaskan Baitul Maqdis
#SahabatAlAqsha #PembebasanPertamaMasjidilAqsha #PembebasanMasjidilAqsha #KisahPembebasanAlAqsha #KisahPembebasanMasjidilAqsha
Hikmah dari instruksi tersebut sangat jelas: setiap prajurit Bani Israil yang berangkat harus bisa fokus dan konsentrasi dalam tugas, yang mana di dalamnya bukan orang-orang yang masih punya keterikatan pada dunia
Pasukannya pun mulai merayap, perang telah dimulai. Saat posisi pasukan Bani Israil benar-benar dekat dengan Baitul Maqdis, dan masing-masing telah menempatkan diri, matahari telah bergerak condong ke barat kiranya telah masuk waktu Ashar. Untuk menaklukan dan merebut Baitul Maqdis dari kaum musyrikin, tentu membutuhkan waktu lebih dari sekadar rentang antara Ashar sampai tenggelamnya matahari
Terlebih lagi saat itu adalah hari Jumat. Jikalau terlambat, pertempuran akan melewati senja tenggelam di ufuk barat dan hari pun berganti, Jumat menjadi Sabtu. Sementara, hari Sabtu adalah hari suci bagi Bani Israil, hari yang sangat dihormati dan dimuliakan
Di sanalah peran penting seorang panglima, Nabi Yusya’ harus memutuskan dengan cepat dalam waktu singkat secara tepat. Kondisi dan situasi mengharuskan penaklukan Baitul Maqdis tidak dapat ditunda. Kemudian, keistimewaan inilah yang Allah berikan kepada beliau, Nabi Yusya’ bin Nun mengucapkan kepada matahari, “Engkau sedang menjalankan perintah, aku juga saat ini sedang melaksanakan perintah Allah, tahanlah matahari ini barang sesaat untukku.” Maka Allah kabulkan doanya, kemudian kemenangan Bani Israil pun dapat diraih sebelum matahari tenggelam. Masjidil Aqsha pun dikuasai oleh Bani Israil yang taat itu, Nabi Yusya' bin Nun tetap berada di tengah- tengah mereka untuk membimbing, mengarahkan, dan memimpin hingga beliau meninggal selisih 27 tahun setelah wafatnya Nabi Musa
Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat-Nya kepada beliau ‘alaihis salam dan semoga Allah memberi kehormatan pada kita semua agar bisa menjadi generasi selanjutnya yang membebaskan Baitul Maqdis
#SahabatAlAqsha #PembebasanPertamaMasjidilAqsha #PembebasanMasjidilAqsha #KisahPembebasanAlAqsha #KisahPembebasanMasjidilAqsha
(lanjutan 2)
Maka setelahnya diberikanlah kepada Umar kunci-kunci kota dari tangan Sophronius, kemudian Umar mengeluarkan Al-Uhda al-Umariyah (jaminan keamanan dari Umar) yang isinya adalah jaminan dari seorang ‘Amirul Mu’minin bagi penduduk kota non-Muslim, baik Kristen maupun Yahudi, untuk tetap tinggal damai dengan membayar jizyah
Ya, begitulah saat daulah Islamiyah tegak, semua orang terjamin keamanannya, nyawanya, hartanya. Tidak seorangpun non-Muslim yang merasa terancam dan diusir dari Baitu Maqdis dan mereka tak pernah dipaksa untuk meninggalkan kepercayaan mereka
Semoga kita dimampukan untuk kembali membebaskan Masjidil Aqsha, mengembalikan kemuliaannya dibawah kepemimpinan Islam
#SahabatAlAqsha #PembebasanKeduaMasjidilAqsha #PembebasanMasjidilAqsha #KisahPembebasanAlAqsha #KisahPembebasanMasjidilAqsha
Maka setelahnya diberikanlah kepada Umar kunci-kunci kota dari tangan Sophronius, kemudian Umar mengeluarkan Al-Uhda al-Umariyah (jaminan keamanan dari Umar) yang isinya adalah jaminan dari seorang ‘Amirul Mu’minin bagi penduduk kota non-Muslim, baik Kristen maupun Yahudi, untuk tetap tinggal damai dengan membayar jizyah
Ya, begitulah saat daulah Islamiyah tegak, semua orang terjamin keamanannya, nyawanya, hartanya. Tidak seorangpun non-Muslim yang merasa terancam dan diusir dari Baitu Maqdis dan mereka tak pernah dipaksa untuk meninggalkan kepercayaan mereka
Semoga kita dimampukan untuk kembali membebaskan Masjidil Aqsha, mengembalikan kemuliaannya dibawah kepemimpinan Islam
#SahabatAlAqsha #PembebasanKeduaMasjidilAqsha #PembebasanMasjidilAqsha #KisahPembebasanAlAqsha #KisahPembebasanMasjidilAqsha
👍2