(lanjutan)
5. Baitul Maqdis disebut didalam Al-Qur’an sebagai kawasan Ardhul Muqaddasah (tanah suci), tanah inilah yang Allah berkahi sekelilingnya dan didalam tanah suci itu terdapat Pusat dari Pusat Barakah yaitu Masjidil Aqsha
Tulisan ini tidak akan cukup memuat keistimewaan-keistimewaan Masjidil Aqsha, tapi setidaknya kini kita tau, masjid yang dengannya orang-orang mengatakan “ngapain sih ngerebutin masjid” adalah bagian penting dari Islam di masa lalu, di masa kini dan di masa yang akan datang
#SahabatAlAqsha #KeistimewaanMasjidilAqsha #MasjidilAqshaKita #FaktaMasjidilAqsha
5. Baitul Maqdis disebut didalam Al-Qur’an sebagai kawasan Ardhul Muqaddasah (tanah suci), tanah inilah yang Allah berkahi sekelilingnya dan didalam tanah suci itu terdapat Pusat dari Pusat Barakah yaitu Masjidil Aqsha
Tulisan ini tidak akan cukup memuat keistimewaan-keistimewaan Masjidil Aqsha, tapi setidaknya kini kita tau, masjid yang dengannya orang-orang mengatakan “ngapain sih ngerebutin masjid” adalah bagian penting dari Islam di masa lalu, di masa kini dan di masa yang akan datang
#SahabatAlAqsha #KeistimewaanMasjidilAqsha #MasjidilAqshaKita #FaktaMasjidilAqsha
https://www.instagram.com/p/CPVVHQfhsG5/?utm_medium=copy_link
Banyak sekali diantara kita yang masih bingung, apa yang harus kita lakukann untuk membantu saudara-saudara kita di Syam?
Ada 3 jihad yang bisa kita semua lakukan
Yang pertama dan yang PALING UTAMA yang harus kita lakukan adalah jihad ilmu, sebagaimana dulu Rasulullah melakukan pembinaan terhadap para Sahabat di rumah Al-Arqam bin Abi al-Arqam pertama kali dalam keadaan sembunyi-sembunyi. Tapi sekarang kita bisa melakukannya kapanpun, dimanapun, siapapun bisa melakukannya. Hari ini Allah telah memberikan kita kesempatan yang luas lewat social media ini
Sebelumnya, kita sendiripun harus mempelajari sejarah tentang Baitul Maqdis dan keistimewaan-keistimewaannya. Setelah itu sebarkan seluas-luasnya, bagikan informasi kepada semua orang tentang keadaan disana; apa yang sedang terjadi, bagaimana keadaan saudara-saudara kita, JANGAN DIAM!
Lalu yang tak boleh luput juga dari kita adalah salah satu sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, “Jika seseorang tidak mampu pergi dan sholat ke Baitul Maqdis maka kirimkan minyak untuk peneranganya. Barangsiapa yang memberikannya, maka seolah ia telah mendatanginya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud dan Thabrani)
“Kiriman minyak” yang diperlukan saat ini adalah bantuan dana sebanyak-banyaknya untuk saudara-saudara kita yang sejak tahun 1948 bertahan menghadapi keganasan penjajah Zionis. Termasuk para Mujahidin yang pagi, siang, sore, malam berjuang dengan tenaga, pikiran, darah dan nyawanya untuk membebaskan Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis, Palestina dan seluruh kawasan Negeri Syam. Semoga Allah muliakan harta dan nyawa kita untuk Jalan yang Mensucikan ini. Aamiin
Banyak sekali diantara kita yang masih bingung, apa yang harus kita lakukann untuk membantu saudara-saudara kita di Syam?
Ada 3 jihad yang bisa kita semua lakukan
Yang pertama dan yang PALING UTAMA yang harus kita lakukan adalah jihad ilmu, sebagaimana dulu Rasulullah melakukan pembinaan terhadap para Sahabat di rumah Al-Arqam bin Abi al-Arqam pertama kali dalam keadaan sembunyi-sembunyi. Tapi sekarang kita bisa melakukannya kapanpun, dimanapun, siapapun bisa melakukannya. Hari ini Allah telah memberikan kita kesempatan yang luas lewat social media ini
Sebelumnya, kita sendiripun harus mempelajari sejarah tentang Baitul Maqdis dan keistimewaan-keistimewaannya. Setelah itu sebarkan seluas-luasnya, bagikan informasi kepada semua orang tentang keadaan disana; apa yang sedang terjadi, bagaimana keadaan saudara-saudara kita, JANGAN DIAM!
Lalu yang tak boleh luput juga dari kita adalah salah satu sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, “Jika seseorang tidak mampu pergi dan sholat ke Baitul Maqdis maka kirimkan minyak untuk peneranganya. Barangsiapa yang memberikannya, maka seolah ia telah mendatanginya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud dan Thabrani)
“Kiriman minyak” yang diperlukan saat ini adalah bantuan dana sebanyak-banyaknya untuk saudara-saudara kita yang sejak tahun 1948 bertahan menghadapi keganasan penjajah Zionis. Termasuk para Mujahidin yang pagi, siang, sore, malam berjuang dengan tenaga, pikiran, darah dan nyawanya untuk membebaskan Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis, Palestina dan seluruh kawasan Negeri Syam. Semoga Allah muliakan harta dan nyawa kita untuk Jalan yang Mensucikan ini. Aamiin
Instagram
👍1
https://www.instagram.com/p/CPW-f55hIqp/?utm_medium=copy_link
Dulu, saat Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah hal pertama yang dilakukan Rasulullah di tempatnya ini adalah mengubah nama Yatsrib menjadi Madinah, kemudian Rasulullah ﷺ bukan membangun gedung dan berbagai fasilitas fisik, melainkan membangun sumber daya manusia yang berkualitas khalifah di muka bumi, berkeadilan dan menolak kedzaliman, mengenal hak dan menunaikan kewajiban. Manusia yang terus gelisah, tak pernah tenang sebelum bendera tauhid yang mengibarkan semangat keadilan, persamaan, dan kemakmuran hidup menancap
Rasulullah mengemban visi dan misi jauh ke depan. Untuk itu beliau bekerja keras siang dan malam. Beliau mendidik sahabat, mengajari mereka syariat, dan merintis jalan untuk mereka lanjutkan kelak sepeninggal beliau. Kepemimpinannya tidak dapat dibandingkan dengan kepemimpinan siapa pun sebab kepemimpinannya selalu terikat pada masalah keimanan. Rasulullah ﷺ tidak melakukan manuver-manuver politik, jihad, ataupun perjanjian damai kecuali dengan dasar iman. Maka, jadilah Madinah sebuah negara ideal di segala bidang; politik, sosial, ekonomi, pembangunan, diplomasi, dan administrasi
Maka, langkah selanjutnya setelah melakukan jihad ilmu untuk membebaskan Al-Aqsha adalah melakukan jihad politik, bukan layaknya politik hari ini tapi politik yang Rasulullah ajarkan. Karena apapun yang Rasulullah lakukan, tindak-tanduk beliau adalah berdasarkan wahyu Allah. Jika semua bersumber dari wahyu maka apa yang perlu kita ragukan?
Tapi tentu semua ini tidak bisa terwujud begitu saja jika hanya segelintir orang yang memperjuangkannya maka tugas kita sebagai ummat Islam adalah terus mendorong penguasa agar memerintah berdasarkan Al-Qur'an agar mereka berhukum hanya dengan hukum Islam diseluruh ruang-ruang kehidupan
Dulu, saat Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah hal pertama yang dilakukan Rasulullah di tempatnya ini adalah mengubah nama Yatsrib menjadi Madinah, kemudian Rasulullah ﷺ bukan membangun gedung dan berbagai fasilitas fisik, melainkan membangun sumber daya manusia yang berkualitas khalifah di muka bumi, berkeadilan dan menolak kedzaliman, mengenal hak dan menunaikan kewajiban. Manusia yang terus gelisah, tak pernah tenang sebelum bendera tauhid yang mengibarkan semangat keadilan, persamaan, dan kemakmuran hidup menancap
Rasulullah mengemban visi dan misi jauh ke depan. Untuk itu beliau bekerja keras siang dan malam. Beliau mendidik sahabat, mengajari mereka syariat, dan merintis jalan untuk mereka lanjutkan kelak sepeninggal beliau. Kepemimpinannya tidak dapat dibandingkan dengan kepemimpinan siapa pun sebab kepemimpinannya selalu terikat pada masalah keimanan. Rasulullah ﷺ tidak melakukan manuver-manuver politik, jihad, ataupun perjanjian damai kecuali dengan dasar iman. Maka, jadilah Madinah sebuah negara ideal di segala bidang; politik, sosial, ekonomi, pembangunan, diplomasi, dan administrasi
Maka, langkah selanjutnya setelah melakukan jihad ilmu untuk membebaskan Al-Aqsha adalah melakukan jihad politik, bukan layaknya politik hari ini tapi politik yang Rasulullah ajarkan. Karena apapun yang Rasulullah lakukan, tindak-tanduk beliau adalah berdasarkan wahyu Allah. Jika semua bersumber dari wahyu maka apa yang perlu kita ragukan?
Tapi tentu semua ini tidak bisa terwujud begitu saja jika hanya segelintir orang yang memperjuangkannya maka tugas kita sebagai ummat Islam adalah terus mendorong penguasa agar memerintah berdasarkan Al-Qur'an agar mereka berhukum hanya dengan hukum Islam diseluruh ruang-ruang kehidupan
Instagram
https://www.instagram.com/p/CPXfWpzh_TZ/?utm_medium=copy_link
Setelah jihad yang pertama, jihad ilmu. Yang kedua, jihad politik. Kemudian last but not least adalah jihad militer. Yap! betul, memerangi kaum musyrik yang menjajah Baitul Maqdis dan bumi Syam yang diberkahi
Sebab sudah menjadi sunnah Rasulullah untuk membebaskan tanah suci, tak boleh ada satupun tanah dalam keadaan terjajah. Tapiiiii, melakukan futuh Baitul Maqdis tidak semudah itu Marimaaar~ tidak bisa hanya segelintir kelompok membangun pasukan lalu pergi memerangi zionis disana
Dakwah dan jihad adalah wajib hukumnya bagi kaum muslimin, dengan dua metode yang telah digariskan oleh Allah itu, kaum muslimin bisa mencapai kemuliaan
Jihad merupakan suatu upaya untuk mencapai keselamatan. Ia merupakan tuntunan Allah yang dapat mengantarkan manusia langsung masuk syurga. Allah berfirman dalam surah Ash-Shaff ayat 10-13 yang isinya adalah jika kita mengerjakan apa yang Allah perintahkan dan tunjukkan, niscaya “memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn”
Allah yang telah menjamin, jika kaum muslim berperang di jalan Allah dan menolong agama-Nya, maka Allah akan menolong dan menjadikan kaum muslim menang, pasti
Jelas ini bukan sembarang perang yang hanya didasari oleh hawa nafsu, yang hanya berharap kekuasaan di dunia. Islam tidak membenarkan itu, Islam tidak membenarkan segenap bentuk peperangan, kecuali jihad fii sabilillah, jihad di jalan Allah, sebab dalam Islam, perang bukan sekadar untuk mencapai kemenangan atau merampas harta musuh. Perang lebih bertujuan untuk menjalankan kewajiban jihad di jalan Allah demi tegaknya izzul Islam wal muslimin
(lanjut di kolom komentar)
Setelah jihad yang pertama, jihad ilmu. Yang kedua, jihad politik. Kemudian last but not least adalah jihad militer. Yap! betul, memerangi kaum musyrik yang menjajah Baitul Maqdis dan bumi Syam yang diberkahi
Sebab sudah menjadi sunnah Rasulullah untuk membebaskan tanah suci, tak boleh ada satupun tanah dalam keadaan terjajah. Tapiiiii, melakukan futuh Baitul Maqdis tidak semudah itu Marimaaar~ tidak bisa hanya segelintir kelompok membangun pasukan lalu pergi memerangi zionis disana
Dakwah dan jihad adalah wajib hukumnya bagi kaum muslimin, dengan dua metode yang telah digariskan oleh Allah itu, kaum muslimin bisa mencapai kemuliaan
Jihad merupakan suatu upaya untuk mencapai keselamatan. Ia merupakan tuntunan Allah yang dapat mengantarkan manusia langsung masuk syurga. Allah berfirman dalam surah Ash-Shaff ayat 10-13 yang isinya adalah jika kita mengerjakan apa yang Allah perintahkan dan tunjukkan, niscaya “memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn”
Allah yang telah menjamin, jika kaum muslim berperang di jalan Allah dan menolong agama-Nya, maka Allah akan menolong dan menjadikan kaum muslim menang, pasti
Jelas ini bukan sembarang perang yang hanya didasari oleh hawa nafsu, yang hanya berharap kekuasaan di dunia. Islam tidak membenarkan itu, Islam tidak membenarkan segenap bentuk peperangan, kecuali jihad fii sabilillah, jihad di jalan Allah, sebab dalam Islam, perang bukan sekadar untuk mencapai kemenangan atau merampas harta musuh. Perang lebih bertujuan untuk menjalankan kewajiban jihad di jalan Allah demi tegaknya izzul Islam wal muslimin
(lanjut di kolom komentar)
Instagram
👍1
(lanjutan)
Dulu, Rasulullah Shallallahu ﷺ pun membentuk pasukan militer pada awal dakwahnya di Madinah. Rasulullah mewajibkan latihan militer bagi tiap laki-laki muslim yang telah baligh. Hal ini tentu di dasari firman Allah, “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (QS. Al-Baqarah: 193)
Juga berdasarkan sabda Rasulullah, “Perangilah orang-orang musyrik itu, dengan harta benda, tangan, dan mulut kalian.” (HR. Abu Dawud)
Jadi sangat jelas, jihad militer ini (yang semoga Allah segerakan kita untuk melakukannya dalam rangka membebaskan Baitul Maqdis dan tanah Syam) semata-mata fii sabilillah, hanya karena Allah. Semoga Allah segerakan Islam mencapai masa kejayaan. Kejayaan yang sekaligus merupakan refleksi keimanan kaum muslimin kepada Allah, kedekatan pada firman-Nya, dan aplikasi syariat-Nya
Yang menjadikan Allah sebagai tujuan, Al-Qur’an sebagai undang-undang, Rasul sebagai panutan, jihad sebagai jalan hidup, dan mati syahid sebagai puncak cita-cita. Allahu Akbar!
Dulu, Rasulullah Shallallahu ﷺ pun membentuk pasukan militer pada awal dakwahnya di Madinah. Rasulullah mewajibkan latihan militer bagi tiap laki-laki muslim yang telah baligh. Hal ini tentu di dasari firman Allah, “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (QS. Al-Baqarah: 193)
Juga berdasarkan sabda Rasulullah, “Perangilah orang-orang musyrik itu, dengan harta benda, tangan, dan mulut kalian.” (HR. Abu Dawud)
Jadi sangat jelas, jihad militer ini (yang semoga Allah segerakan kita untuk melakukannya dalam rangka membebaskan Baitul Maqdis dan tanah Syam) semata-mata fii sabilillah, hanya karena Allah. Semoga Allah segerakan Islam mencapai masa kejayaan. Kejayaan yang sekaligus merupakan refleksi keimanan kaum muslimin kepada Allah, kedekatan pada firman-Nya, dan aplikasi syariat-Nya
Yang menjadikan Allah sebagai tujuan, Al-Qur’an sebagai undang-undang, Rasul sebagai panutan, jihad sebagai jalan hidup, dan mati syahid sebagai puncak cita-cita. Allahu Akbar!
👍1
https://www.instagram.com/p/CPZ3j4chzqW/?utm_medium=copy_link
KHIMARMU, SYIARMU🧕🏻
Belanja tapi dapet pahala?
BISA BANGET!
Allah itu emang Maha Baik, hari ini kita dibukakan banyaaaak banget pintu untuk beramal, ya kan?
Hari ini banyak banget pedagang-pedagang yang memberikan sebagian penjualan dari barang dagangannya untuk saudara-saudara, anak-anak, adik-adik kita di Syam
Pembagiannya juga luas, ada yang disalurkan untuk perjuangan di garis pertahanan, ada yang disalurkan untuk para janda dan anak-anak, ada yang disalurkan untuk pendidikan dan masih banyak lagi
Hijab Alila adalah salah satu yang berusaha demikian melalui @rumahquranalila. Foto yang ada di atas adalah “Khimar Al-Aqsha”nya Hijab Alila yang sebagian hasil penjualannya disalurkan untuk pendidikan adik-adik Syam kita yang ada di Rumah Qur’an Alila😊
Temen-temen disini kalau mau belanja sambil beramal boleh banget bawa pulang si khimar Al-Aqsha ini😁 katalognya bisa lihat di @kataloghijabalila dan ordernya bisa melalui kontak yang ada di @belanjahijabalila
Yuk semangat yuk beramal lewat jalan apa aja, yang terpenting adalah Allah ridho, kita bantu perjuangan saudara-saudara kita semampu kita🤍
____
Salurkan infaq terbaikmu untuk saudara-saudara kita di Syam
Bank Syariah Mandiri (BSM):
7141326807 a/n Yayasan Rumah Quran Alila
Bank BNI Syariah:
6005000900
Konfirmasi ke: bit.ly/beritahuSahabatJannah (klik link yang ada di bio)
—
#RumahQuranAlila #RQAlila #RQA #SahabatJannahmu #SahabatAhluSyam #OneUmmah #KhimarAlAqsha
KHIMARMU, SYIARMU🧕🏻
Belanja tapi dapet pahala?
BISA BANGET!
Allah itu emang Maha Baik, hari ini kita dibukakan banyaaaak banget pintu untuk beramal, ya kan?
Hari ini banyak banget pedagang-pedagang yang memberikan sebagian penjualan dari barang dagangannya untuk saudara-saudara, anak-anak, adik-adik kita di Syam
Pembagiannya juga luas, ada yang disalurkan untuk perjuangan di garis pertahanan, ada yang disalurkan untuk para janda dan anak-anak, ada yang disalurkan untuk pendidikan dan masih banyak lagi
Hijab Alila adalah salah satu yang berusaha demikian melalui @rumahquranalila. Foto yang ada di atas adalah “Khimar Al-Aqsha”nya Hijab Alila yang sebagian hasil penjualannya disalurkan untuk pendidikan adik-adik Syam kita yang ada di Rumah Qur’an Alila😊
Temen-temen disini kalau mau belanja sambil beramal boleh banget bawa pulang si khimar Al-Aqsha ini😁 katalognya bisa lihat di @kataloghijabalila dan ordernya bisa melalui kontak yang ada di @belanjahijabalila
Yuk semangat yuk beramal lewat jalan apa aja, yang terpenting adalah Allah ridho, kita bantu perjuangan saudara-saudara kita semampu kita🤍
____
Salurkan infaq terbaikmu untuk saudara-saudara kita di Syam
Bank Syariah Mandiri (BSM):
7141326807 a/n Yayasan Rumah Quran Alila
Bank BNI Syariah:
6005000900
Konfirmasi ke: bit.ly/beritahuSahabatJannah (klik link yang ada di bio)
—
#RumahQuranAlila #RQAlila #RQA #SahabatJannahmu #SahabatAhluSyam #OneUmmah #KhimarAlAqsha
Instagram
https://www.instagram.com/p/CPatNS8B7Ma/?utm_medium=copy_link
Yusya’ bin Nun ‘alaihis salam, namanya tak secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an, tak banyak yang pernah mendengar nama dan kisahnya, beliau adalah murid Nabi Musa ‘alaihi salam yang disebutkan dalam surat Al-Kahfi, “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun’.” (QS. Al-Kahfi: 60)
⠀
Dituliskan dalam kitab kisah para Nabi, Allah mencabut ke-berhak-an tanah Palestina atas Bani Israil sebab mereka telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, bukan hanya sekali. Saat Allah baru saja menyelamatkan mereka dari kejaran tentara Firaun mereka telah kembali mendurhakai-Nya, saat Nabi Musa menyampaikan kalam Allah “Wahai Kaumku, masuklah ke tanah suci Palestina yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang karena takut kepada musuh, maka kamu menjadi orang yang merugi” mereka malah menjawab “Hai Musa! Sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar daripadanya.” Padahal, mereka belum lama melihat kebesaran Allah saat ratusan ribu tentara Firaun yang Allah tenggelamkan begitu saja untuk menolong mereka
⠀
Sesudah wafatnya Nabi Musa dan Masjidil Aqsha belum berhasil dibebaskan—sebab Bani Israil menolak sehingga dihukum oleh Allah dengan berputar-putar di padah Tiih selama 40 tahun—, kemudian lahirlah sebuah generasi baru yang lebih baik juga taat yang berjuang bersama Nabi Yusya’ untuk membebaskan Masjidil Aqsha yang pada saat itu sedang dijajah oleh kaum Jabbarin. Pembebasan dimulai dari Nabi Yusya’ yang membuat pengecualian pada 3 kalangan ini untuk tidak turut serta dalam ekspedisi ini, mereka adalah;
1. Laki-laki yang baru saja menikah sementara ia belum menggauli istrinya
2. Seseorang yang sedang membangun rumahnya, sementara atapnya belum terpasang
3. Seseorang yang sudah bertanam tapi belum sempat memanennya kemudian seseorang yang memiliki kambing atau unta bunting dan ia sedang menanti kelahirannya
Nabi Yusya’ membutuhkan kualitas manusia yang bukan main-main
(berlanjut di kolom komentar)
Yusya’ bin Nun ‘alaihis salam, namanya tak secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an, tak banyak yang pernah mendengar nama dan kisahnya, beliau adalah murid Nabi Musa ‘alaihi salam yang disebutkan dalam surat Al-Kahfi, “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun’.” (QS. Al-Kahfi: 60)
⠀
Dituliskan dalam kitab kisah para Nabi, Allah mencabut ke-berhak-an tanah Palestina atas Bani Israil sebab mereka telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, bukan hanya sekali. Saat Allah baru saja menyelamatkan mereka dari kejaran tentara Firaun mereka telah kembali mendurhakai-Nya, saat Nabi Musa menyampaikan kalam Allah “Wahai Kaumku, masuklah ke tanah suci Palestina yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang karena takut kepada musuh, maka kamu menjadi orang yang merugi” mereka malah menjawab “Hai Musa! Sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar daripadanya.” Padahal, mereka belum lama melihat kebesaran Allah saat ratusan ribu tentara Firaun yang Allah tenggelamkan begitu saja untuk menolong mereka
⠀
Sesudah wafatnya Nabi Musa dan Masjidil Aqsha belum berhasil dibebaskan—sebab Bani Israil menolak sehingga dihukum oleh Allah dengan berputar-putar di padah Tiih selama 40 tahun—, kemudian lahirlah sebuah generasi baru yang lebih baik juga taat yang berjuang bersama Nabi Yusya’ untuk membebaskan Masjidil Aqsha yang pada saat itu sedang dijajah oleh kaum Jabbarin. Pembebasan dimulai dari Nabi Yusya’ yang membuat pengecualian pada 3 kalangan ini untuk tidak turut serta dalam ekspedisi ini, mereka adalah;
1. Laki-laki yang baru saja menikah sementara ia belum menggauli istrinya
2. Seseorang yang sedang membangun rumahnya, sementara atapnya belum terpasang
3. Seseorang yang sudah bertanam tapi belum sempat memanennya kemudian seseorang yang memiliki kambing atau unta bunting dan ia sedang menanti kelahirannya
Nabi Yusya’ membutuhkan kualitas manusia yang bukan main-main
(berlanjut di kolom komentar)
Instagram
👍1
(lanjutan)
Hikmah dari instruksi tersebut sangat jelas: setiap prajurit Bani Israil yang berangkat harus bisa fokus dan konsentrasi dalam tugas, yang mana di dalamnya bukan orang-orang yang masih punya keterikatan pada dunia
Pasukannya pun mulai merayap, perang telah dimulai. Saat posisi pasukan Bani Israil benar-benar dekat dengan Baitul Maqdis, dan masing-masing telah menempatkan diri, matahari telah bergerak condong ke barat kiranya telah masuk waktu Ashar. Untuk menaklukan dan merebut Baitul Maqdis dari kaum musyrikin, tentu membutuhkan waktu lebih dari sekadar rentang antara Ashar sampai tenggelamnya matahari
Terlebih lagi saat itu adalah hari Jumat. Jikalau terlambat, pertempuran akan melewati senja tenggelam di ufuk barat dan hari pun berganti, Jumat menjadi Sabtu. Sementara, hari Sabtu adalah hari suci bagi Bani Israil, hari yang sangat dihormati dan dimuliakan
Di sanalah peran penting seorang panglima, Nabi Yusya’ harus memutuskan dengan cepat dalam waktu singkat secara tepat. Kondisi dan situasi mengharuskan penaklukan Baitul Maqdis tidak dapat ditunda. Kemudian, keistimewaan inilah yang Allah berikan kepada beliau, Nabi Yusya’ bin Nun mengucapkan kepada matahari, “Engkau sedang menjalankan perintah, aku juga saat ini sedang melaksanakan perintah Allah, tahanlah matahari ini barang sesaat untukku.” Maka Allah kabulkan doanya, kemudian kemenangan Bani Israil pun dapat diraih sebelum matahari tenggelam. Masjidil Aqsha pun dikuasai oleh Bani Israil yang taat itu, Nabi Yusya' bin Nun tetap berada di tengah- tengah mereka untuk membimbing, mengarahkan, dan memimpin hingga beliau meninggal selisih 27 tahun setelah wafatnya Nabi Musa
Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat-Nya kepada beliau ‘alaihis salam dan semoga Allah memberi kehormatan pada kita semua agar bisa menjadi generasi selanjutnya yang membebaskan Baitul Maqdis
#SahabatAlAqsha #PembebasanPertamaMasjidilAqsha #PembebasanMasjidilAqsha #KisahPembebasanAlAqsha #KisahPembebasanMasjidilAqsha
Hikmah dari instruksi tersebut sangat jelas: setiap prajurit Bani Israil yang berangkat harus bisa fokus dan konsentrasi dalam tugas, yang mana di dalamnya bukan orang-orang yang masih punya keterikatan pada dunia
Pasukannya pun mulai merayap, perang telah dimulai. Saat posisi pasukan Bani Israil benar-benar dekat dengan Baitul Maqdis, dan masing-masing telah menempatkan diri, matahari telah bergerak condong ke barat kiranya telah masuk waktu Ashar. Untuk menaklukan dan merebut Baitul Maqdis dari kaum musyrikin, tentu membutuhkan waktu lebih dari sekadar rentang antara Ashar sampai tenggelamnya matahari
Terlebih lagi saat itu adalah hari Jumat. Jikalau terlambat, pertempuran akan melewati senja tenggelam di ufuk barat dan hari pun berganti, Jumat menjadi Sabtu. Sementara, hari Sabtu adalah hari suci bagi Bani Israil, hari yang sangat dihormati dan dimuliakan
Di sanalah peran penting seorang panglima, Nabi Yusya’ harus memutuskan dengan cepat dalam waktu singkat secara tepat. Kondisi dan situasi mengharuskan penaklukan Baitul Maqdis tidak dapat ditunda. Kemudian, keistimewaan inilah yang Allah berikan kepada beliau, Nabi Yusya’ bin Nun mengucapkan kepada matahari, “Engkau sedang menjalankan perintah, aku juga saat ini sedang melaksanakan perintah Allah, tahanlah matahari ini barang sesaat untukku.” Maka Allah kabulkan doanya, kemudian kemenangan Bani Israil pun dapat diraih sebelum matahari tenggelam. Masjidil Aqsha pun dikuasai oleh Bani Israil yang taat itu, Nabi Yusya' bin Nun tetap berada di tengah- tengah mereka untuk membimbing, mengarahkan, dan memimpin hingga beliau meninggal selisih 27 tahun setelah wafatnya Nabi Musa
Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat-Nya kepada beliau ‘alaihis salam dan semoga Allah memberi kehormatan pada kita semua agar bisa menjadi generasi selanjutnya yang membebaskan Baitul Maqdis
#SahabatAlAqsha #PembebasanPertamaMasjidilAqsha #PembebasanMasjidilAqsha #KisahPembebasanAlAqsha #KisahPembebasanMasjidilAqsha
https://www.instagram.com/p/CPcc8ZlBuEY/?utm_medium=copy_link
Setelah pembebasan yang dilakukan oleh Nabi Yusya’ bin Nun, Baitul Maqdis terus terlepas dari tangan ummat Islam. Kemudian pembebasan setelahnya terjadi pada era kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab. Tapi tentu persiapan untuk membebaskan Baitul Maqdis ini tidak cukup dengan waktu yang singkat. Bahkan persiapannya telah di lakukan sejak Rasulullah masih hidup
Sejak awal dakwah di Mekkah ketika kaum muslim sholat menghadap Baitul Maqdis sampai sesudah hijrah ke Madinah ketika kemudian Allah memerintahkan agar kaum muslim sholat menghadap Ka’bah, Rasulullah sudah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk merebut kembali Baitul Maqdis yang pada saat itu dijajah oleh bangsa Romawi Timur atau Bizantium. Yang termasuk dalam langkah penting itu diantaranya
1. Perang Mu’tah (8 H)
2. Perang Tabuk (9 H)
3. Pengiriman pasukan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma ke Baitul Maqdis
Tapi saat pasukan Usamah bin Zaid sudah siap berangkat, Rasulullah jatuh sakit dan meninggal kemudian Abu Bakar menjadi khalifah. Tapi pada masa pemerintahannya banyak terjadi pemurtadan dan muncul nabi-nabi palsu termasuk salah satunya Musailamah Al-Kadzab. Dengan tekad yang kuat Abu Bakar ingin meneruskan misi yang dipimpin Usamah bin Zaid tapi para sahabat radhiyallahu ‘anhum menyatakan keberatannya sebab mereka menganggap jauh lebih mendesak menghadapi mereka yang murtad dan menyerang kaum muslimin (masalah internal)
Namun, Abu Bakar mengatakan, ”Demi Allah, aku tidak akan menarik kembali pasukan yang oleh Rasulullahﷺ telah dipasangi panji-panji untuk berangkat. Bahkan kalaupun anjing-anjing kota Madinah menyerbu masuk ke rumah-rumah dan menggigit kaki-kaki para Ummahatul Mu’minin (termasuk Aisyah radhiyallahu ‘anha, putrinya), aku tidak akan menarik kembali pasukan ini.” beliau juga berkata, ”Demi Allah, aku lebih suka merebut sebuah desa kecil di Asy-Syam daripada sebuah kota besar di Iraq kerena Asy-Syam adalah tanah yang diberkahi Allah.”
MasyaAllah, beliau mengatakan demikian semata-mata sebagai bentuk ketegasan juga kecintaannya pada Baitul Maqdis yang mendalam
(lanjut di kolom komentar)
Setelah pembebasan yang dilakukan oleh Nabi Yusya’ bin Nun, Baitul Maqdis terus terlepas dari tangan ummat Islam. Kemudian pembebasan setelahnya terjadi pada era kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab. Tapi tentu persiapan untuk membebaskan Baitul Maqdis ini tidak cukup dengan waktu yang singkat. Bahkan persiapannya telah di lakukan sejak Rasulullah masih hidup
Sejak awal dakwah di Mekkah ketika kaum muslim sholat menghadap Baitul Maqdis sampai sesudah hijrah ke Madinah ketika kemudian Allah memerintahkan agar kaum muslim sholat menghadap Ka’bah, Rasulullah sudah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk merebut kembali Baitul Maqdis yang pada saat itu dijajah oleh bangsa Romawi Timur atau Bizantium. Yang termasuk dalam langkah penting itu diantaranya
1. Perang Mu’tah (8 H)
2. Perang Tabuk (9 H)
3. Pengiriman pasukan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma ke Baitul Maqdis
Tapi saat pasukan Usamah bin Zaid sudah siap berangkat, Rasulullah jatuh sakit dan meninggal kemudian Abu Bakar menjadi khalifah. Tapi pada masa pemerintahannya banyak terjadi pemurtadan dan muncul nabi-nabi palsu termasuk salah satunya Musailamah Al-Kadzab. Dengan tekad yang kuat Abu Bakar ingin meneruskan misi yang dipimpin Usamah bin Zaid tapi para sahabat radhiyallahu ‘anhum menyatakan keberatannya sebab mereka menganggap jauh lebih mendesak menghadapi mereka yang murtad dan menyerang kaum muslimin (masalah internal)
Namun, Abu Bakar mengatakan, ”Demi Allah, aku tidak akan menarik kembali pasukan yang oleh Rasulullahﷺ telah dipasangi panji-panji untuk berangkat. Bahkan kalaupun anjing-anjing kota Madinah menyerbu masuk ke rumah-rumah dan menggigit kaki-kaki para Ummahatul Mu’minin (termasuk Aisyah radhiyallahu ‘anha, putrinya), aku tidak akan menarik kembali pasukan ini.” beliau juga berkata, ”Demi Allah, aku lebih suka merebut sebuah desa kecil di Asy-Syam daripada sebuah kota besar di Iraq kerena Asy-Syam adalah tanah yang diberkahi Allah.”
MasyaAllah, beliau mengatakan demikian semata-mata sebagai bentuk ketegasan juga kecintaannya pada Baitul Maqdis yang mendalam
(lanjut di kolom komentar)
Instagram
(lanjutan 1)
Bahwa membebaskan Baitul Maqdis tak kalah penting bahkan sangat penting daripada masalah-masalah internal yang terjadi pada masa itu
Tapi, lagi, Abu Bakar wafat sebelum Baitul Maqdis berhasil dibebaskan. Akhirnya, jihad pembebasan Masjidil Aqsha berhasil di bawah pemerintahan Umar bin Khattab, yang dipimpin para panglima seperti Khalid bin Walid, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Amru bin al-As radhiyallahu ‘anhum pada perang Yarmuk yang terjadi tahun 636 M
Ketika pasukan Islam akan memasuki Baitul Maqdis, Sophronius (kepala gereja Kristen saat itu) menolak untuk menyerahkan Baitul Maqdis kepada selain khalifah Umar bin Khattab. Mendengar kabar tersebut, Umar langsung berangkat dari Madinah menuju Baitul Maqdis. Ketika akan memasuki Baitul Maqdis, Umar disarankan mengganti pakaiannya dengan yang mewah dan mengganti untanya dengan kuda yang gagah, tapi Umar menolak bahkan marah seraya mengatakan, “Kita adalah kaum yang diberikan kemuliaan oleh Allah dengan Islam. Bila kami mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita”. Kalimat yang didalamnya mengandung nilai keimanan yang sempurna, ketakwaan yang tinggi, akhlak yang agung, yang tidak sembarang orang mampu mengucapkan kalimat yang tegas tersebut, apalagi di zaman sekarang
Umar disambut oleh Sophronius yang benar-benar takjub dan kagum akan sosok yang berada di hadapannya, sosok pemimpin muslim yang sangat sederhana. Bahkan Sophronius mengira orang yang berada di atas unta adalah khalifah Umar, tapi ternyata orang yang menuntun unta itulah sosok khalifah Umar bin Khattab. Sebab perjalanan yang panjang (dari Madinah ke Baitul Maqdis) Umar bin Khattab rela bergantian menaiki unta dengan pengawalnya. Sungguh mulia akhlak beliau
Bahwa membebaskan Baitul Maqdis tak kalah penting bahkan sangat penting daripada masalah-masalah internal yang terjadi pada masa itu
Tapi, lagi, Abu Bakar wafat sebelum Baitul Maqdis berhasil dibebaskan. Akhirnya, jihad pembebasan Masjidil Aqsha berhasil di bawah pemerintahan Umar bin Khattab, yang dipimpin para panglima seperti Khalid bin Walid, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Amru bin al-As radhiyallahu ‘anhum pada perang Yarmuk yang terjadi tahun 636 M
Ketika pasukan Islam akan memasuki Baitul Maqdis, Sophronius (kepala gereja Kristen saat itu) menolak untuk menyerahkan Baitul Maqdis kepada selain khalifah Umar bin Khattab. Mendengar kabar tersebut, Umar langsung berangkat dari Madinah menuju Baitul Maqdis. Ketika akan memasuki Baitul Maqdis, Umar disarankan mengganti pakaiannya dengan yang mewah dan mengganti untanya dengan kuda yang gagah, tapi Umar menolak bahkan marah seraya mengatakan, “Kita adalah kaum yang diberikan kemuliaan oleh Allah dengan Islam. Bila kami mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita”. Kalimat yang didalamnya mengandung nilai keimanan yang sempurna, ketakwaan yang tinggi, akhlak yang agung, yang tidak sembarang orang mampu mengucapkan kalimat yang tegas tersebut, apalagi di zaman sekarang
Umar disambut oleh Sophronius yang benar-benar takjub dan kagum akan sosok yang berada di hadapannya, sosok pemimpin muslim yang sangat sederhana. Bahkan Sophronius mengira orang yang berada di atas unta adalah khalifah Umar, tapi ternyata orang yang menuntun unta itulah sosok khalifah Umar bin Khattab. Sebab perjalanan yang panjang (dari Madinah ke Baitul Maqdis) Umar bin Khattab rela bergantian menaiki unta dengan pengawalnya. Sungguh mulia akhlak beliau
(lanjutan 2)
Maka setelahnya diberikanlah kepada Umar kunci-kunci kota dari tangan Sophronius, kemudian Umar mengeluarkan Al-Uhda al-Umariyah (jaminan keamanan dari Umar) yang isinya adalah jaminan dari seorang ‘Amirul Mu’minin bagi penduduk kota non-Muslim, baik Kristen maupun Yahudi, untuk tetap tinggal damai dengan membayar jizyah
Ya, begitulah saat daulah Islamiyah tegak, semua orang terjamin keamanannya, nyawanya, hartanya. Tidak seorangpun non-Muslim yang merasa terancam dan diusir dari Baitu Maqdis dan mereka tak pernah dipaksa untuk meninggalkan kepercayaan mereka
Semoga kita dimampukan untuk kembali membebaskan Masjidil Aqsha, mengembalikan kemuliaannya dibawah kepemimpinan Islam
#SahabatAlAqsha #PembebasanKeduaMasjidilAqsha #PembebasanMasjidilAqsha #KisahPembebasanAlAqsha #KisahPembebasanMasjidilAqsha
Maka setelahnya diberikanlah kepada Umar kunci-kunci kota dari tangan Sophronius, kemudian Umar mengeluarkan Al-Uhda al-Umariyah (jaminan keamanan dari Umar) yang isinya adalah jaminan dari seorang ‘Amirul Mu’minin bagi penduduk kota non-Muslim, baik Kristen maupun Yahudi, untuk tetap tinggal damai dengan membayar jizyah
Ya, begitulah saat daulah Islamiyah tegak, semua orang terjamin keamanannya, nyawanya, hartanya. Tidak seorangpun non-Muslim yang merasa terancam dan diusir dari Baitu Maqdis dan mereka tak pernah dipaksa untuk meninggalkan kepercayaan mereka
Semoga kita dimampukan untuk kembali membebaskan Masjidil Aqsha, mengembalikan kemuliaannya dibawah kepemimpinan Islam
#SahabatAlAqsha #PembebasanKeduaMasjidilAqsha #PembebasanMasjidilAqsha #KisahPembebasanAlAqsha #KisahPembebasanMasjidilAqsha
👍2
https://www.instagram.com/p/CPdQMfpBWcr/?utm_medium=copy_link
Setelah Umar bin Khattab membebaskan Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha, lagi-lagi, kondisinya kembali jatuh di penghujung tahun 900-an, yang saat itu sedang dipimpin oleh penguasa Fatimiyah (bukan muslim) yang melakukan perusakan terhadap Masjidil Aqsha. Sebelumnya Masjdiil Aqsha adalah pusat penyebaran dan pengembangan ilmu; mulai dari bahasa Arab sampai hukum dan aqidah tapi saat Syiah Fatimiyah berkuasa semua itu dihentikan dan diganti dengan lambang-lambang Syiah
Puncaknya adalah di tahun 996 di masa kepemimpinan Al-Hakim, dia bukan saja menindas kaum muslim tapi juga mengaku sebagai tuhan dan memerintahkan agar namanya menggantikan nama Allah pada khutbah Jumat. Tahun 1021, Baitul Maqdis bukan lagi pusat keilmuan Islam
Pada tahun 1073, Baitul Maqdis kembali ke tangan kaum muslim yang direbut oleh orang-orang Turki Seljuk, mereka adalah muslim Sunni dari Asia Tengah
Tapi, lagi dan lagi. Geliat bangkitnya kehidupan ilmu di Masjidil Aqsha tidak bertahan lama sebab datangnya Pasukan Salib. Perang inilah yang kita kenal sebagai Perang Salib (sebab pasukan Kristen-Eropa menggunakan lambang salib di pundak dan panji-panji mereka). Perang ini bukan hanya sekali terjadi, melainkan berkali-kali dalam 200tahun bahkan masih terus berlangsung hingga tahun 1400an
Di tahun 1095, kaisar Romawi meminta bantuan pada Paus Urbanus II di Roma, hal ini yang membuat Baitul Maqdis kembali jatuh ke tangan para penjajah. Juli 1099, tentara Salib masuk ke kawasan Baitul Maqdis. Kaum muslimin mencoba berlindung di Masjidil Aqsha tapi pasukan Salib masuk ke dalamnya dan membantai semua orang yang ada di dalamnya. Inilah peristiwa yang paling mengerikan, satu dari mereka menyatakan betapa indahnya pemandangan para tentara Salib “berkubang darah sampai ke lutut” di dalam Masjidil Aqsha
(berlanjut di kolom komentar)
Setelah Umar bin Khattab membebaskan Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha, lagi-lagi, kondisinya kembali jatuh di penghujung tahun 900-an, yang saat itu sedang dipimpin oleh penguasa Fatimiyah (bukan muslim) yang melakukan perusakan terhadap Masjidil Aqsha. Sebelumnya Masjdiil Aqsha adalah pusat penyebaran dan pengembangan ilmu; mulai dari bahasa Arab sampai hukum dan aqidah tapi saat Syiah Fatimiyah berkuasa semua itu dihentikan dan diganti dengan lambang-lambang Syiah
Puncaknya adalah di tahun 996 di masa kepemimpinan Al-Hakim, dia bukan saja menindas kaum muslim tapi juga mengaku sebagai tuhan dan memerintahkan agar namanya menggantikan nama Allah pada khutbah Jumat. Tahun 1021, Baitul Maqdis bukan lagi pusat keilmuan Islam
Pada tahun 1073, Baitul Maqdis kembali ke tangan kaum muslim yang direbut oleh orang-orang Turki Seljuk, mereka adalah muslim Sunni dari Asia Tengah
Tapi, lagi dan lagi. Geliat bangkitnya kehidupan ilmu di Masjidil Aqsha tidak bertahan lama sebab datangnya Pasukan Salib. Perang inilah yang kita kenal sebagai Perang Salib (sebab pasukan Kristen-Eropa menggunakan lambang salib di pundak dan panji-panji mereka). Perang ini bukan hanya sekali terjadi, melainkan berkali-kali dalam 200tahun bahkan masih terus berlangsung hingga tahun 1400an
Di tahun 1095, kaisar Romawi meminta bantuan pada Paus Urbanus II di Roma, hal ini yang membuat Baitul Maqdis kembali jatuh ke tangan para penjajah. Juli 1099, tentara Salib masuk ke kawasan Baitul Maqdis. Kaum muslimin mencoba berlindung di Masjidil Aqsha tapi pasukan Salib masuk ke dalamnya dan membantai semua orang yang ada di dalamnya. Inilah peristiwa yang paling mengerikan, satu dari mereka menyatakan betapa indahnya pemandangan para tentara Salib “berkubang darah sampai ke lutut” di dalam Masjidil Aqsha
(berlanjut di kolom komentar)
Instagram
(lanjutan)
Setelahnya mereka mengubah Masjidil Aqsha menjadi kediaman penguasa pertama Kerajaan Islamicjerusalem, Godfrey. Semua kaligrafi ditutupi, sajadah-sajadah disingkirkan, dan mihrab-mihrab ditembok dengan bata. Kubah As-Sakhrah mereka ubah menjadi gereja dan mereka beri nama Temple of the Lord (Kuil Tuhan), mereka menutup semua tanda bangunan yang dikenal sebagai Masjidil Aqsha dengan marmer dan dijadikan altar
Tahun 1180, Sultan Shalahuddin Al Ayyubi, seorang dari kalangan ‘ajam (non-Arab), seorang yang tak diragukan ketaqwaannya. Taqwa adalah perisai sekaligus tameng untuk setiap keadaan. Semua itu tampak pada kesungguhan Shalahuddin untuk menanamkan aqidah yang kuat di dalam dirinya. Tak hanya bagi dia, juga bagi anak-anak keturunannya. Saat itu beliau menjabat sebagai khalifah dan berhasil menyatukan penduduk Mesir, Syam, Irak, Yaman, Hijaz dan Maroko dalam satu komando besar. Dan dibawah kepemimpinannya lah pasukan muslim bersatu mengalahkan pasukan Salib, membebaskan Baitul Maqdis dari cengkraman kaum Salib pada tahun 1187
Sultan Shalahuddin kemudian bersumpah akan membersihkan kembali Masjidil Aqsha dalam 1 pekan sesudah pembebasannya demi mempersiapkannya untuk sholat Jumat. Sama seperti Amirul Mu’minin, khalifah Umar bin Khattab 550 tahun sebelumnya. Shalahuddin beserta para Mujahidin membersihkan kawasan Masjidil Aqsha dengan tangan mereka sendiri, sisa bangunan Kristen dibongkar, kamar-kamar mandi dan perabotan yang ditinggalkan tentara Salib dikeluarkan dari Masjid Al-Qibly yang kemudian dibersihkan dengan air mawar dengan tangannya sendiri
Sebelumnya, sosok Shalahuddin yang bukan bangsa Arab-pun bisa membebaskan Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha sebab iman rasa kecintaannya terhadap “kampung halaman” para nabi
Akankah kita, seorang ‘ajam, juga bisa mengikuti jejaknya untuk membebaskan Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha juga?
Setelahnya mereka mengubah Masjidil Aqsha menjadi kediaman penguasa pertama Kerajaan Islamicjerusalem, Godfrey. Semua kaligrafi ditutupi, sajadah-sajadah disingkirkan, dan mihrab-mihrab ditembok dengan bata. Kubah As-Sakhrah mereka ubah menjadi gereja dan mereka beri nama Temple of the Lord (Kuil Tuhan), mereka menutup semua tanda bangunan yang dikenal sebagai Masjidil Aqsha dengan marmer dan dijadikan altar
Tahun 1180, Sultan Shalahuddin Al Ayyubi, seorang dari kalangan ‘ajam (non-Arab), seorang yang tak diragukan ketaqwaannya. Taqwa adalah perisai sekaligus tameng untuk setiap keadaan. Semua itu tampak pada kesungguhan Shalahuddin untuk menanamkan aqidah yang kuat di dalam dirinya. Tak hanya bagi dia, juga bagi anak-anak keturunannya. Saat itu beliau menjabat sebagai khalifah dan berhasil menyatukan penduduk Mesir, Syam, Irak, Yaman, Hijaz dan Maroko dalam satu komando besar. Dan dibawah kepemimpinannya lah pasukan muslim bersatu mengalahkan pasukan Salib, membebaskan Baitul Maqdis dari cengkraman kaum Salib pada tahun 1187
Sultan Shalahuddin kemudian bersumpah akan membersihkan kembali Masjidil Aqsha dalam 1 pekan sesudah pembebasannya demi mempersiapkannya untuk sholat Jumat. Sama seperti Amirul Mu’minin, khalifah Umar bin Khattab 550 tahun sebelumnya. Shalahuddin beserta para Mujahidin membersihkan kawasan Masjidil Aqsha dengan tangan mereka sendiri, sisa bangunan Kristen dibongkar, kamar-kamar mandi dan perabotan yang ditinggalkan tentara Salib dikeluarkan dari Masjid Al-Qibly yang kemudian dibersihkan dengan air mawar dengan tangannya sendiri
Sebelumnya, sosok Shalahuddin yang bukan bangsa Arab-pun bisa membebaskan Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha sebab iman rasa kecintaannya terhadap “kampung halaman” para nabi
Akankah kita, seorang ‘ajam, juga bisa mengikuti jejaknya untuk membebaskan Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha juga?
https://www.instagram.com/p/CPfg1s5BRtq/?utm_medium=copy_link
Apa peran Masjidil Aqsha di masa depan?
Rasulullahﷺ bersabda, Masjidil Aqsha adalah salah satu tempat (selain Makkah dan Madinah) yang tidak akan dimasuki Dajjal, “Dia tinggal di bumi ini selama 40 hari, kekuasaannya mencapai semua tempat, namun ia tidak dapat mendatangi empat masjid, Masjid Ka’bah, Masjid Rasulullahﷺ, Masjid Al-Aqsha dan Masjid Ath-Thur. Walaupun demikian, namun ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak buta sebelah.” (HR. Ahmad, al-Bukhari dan Muslim)
Dalam satu hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullahﷺ bersabda bahwasanya Nabi Isa ‘alayhissalam akan turun dari langit dan berpegangan pada sayap dua malaikat, lalu sholat di Masjidil Aqsha kemudian mengejar Dajjal dan membunuhnya di sebuah kota bernama Lud, letaknya di Palestina
Di masa depan, Baitul Maqdis juga akan menjadi Padang Mahsyar dan Mansyar, dari Maimunah binti Saad, ia bertanya pada Rasulullahﷺ, “Wahai Nabi Allah, berikan aku fatwa tentang Baitul Maqdis.” Rasulullahﷺ menjawab, “(Baitul Maqdis) adalah tempat Mahsyar (tempat berkumpulnya manusia untuk dihisab) dan Mansyar (tempat dibangkitkannya manusia setelah kematian).” (HR. Ibnu Majah)
Tapi, bagaimana keadaannya sekarang?
Terjajah
Maka ini sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk saling bahu membahu membebaskan tanah yang disucikan, tanah yang diberkahi, tanah yang dimana disanalah kehormatan kaum muslimin berada
Langkah awalnya adalah dengan ILMU, kita perlu mengenal juga membelanya sebaik kita mengenal Ka’bah di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah
Apa peran Masjidil Aqsha di masa depan?
Rasulullahﷺ bersabda, Masjidil Aqsha adalah salah satu tempat (selain Makkah dan Madinah) yang tidak akan dimasuki Dajjal, “Dia tinggal di bumi ini selama 40 hari, kekuasaannya mencapai semua tempat, namun ia tidak dapat mendatangi empat masjid, Masjid Ka’bah, Masjid Rasulullahﷺ, Masjid Al-Aqsha dan Masjid Ath-Thur. Walaupun demikian, namun ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak buta sebelah.” (HR. Ahmad, al-Bukhari dan Muslim)
Dalam satu hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullahﷺ bersabda bahwasanya Nabi Isa ‘alayhissalam akan turun dari langit dan berpegangan pada sayap dua malaikat, lalu sholat di Masjidil Aqsha kemudian mengejar Dajjal dan membunuhnya di sebuah kota bernama Lud, letaknya di Palestina
Di masa depan, Baitul Maqdis juga akan menjadi Padang Mahsyar dan Mansyar, dari Maimunah binti Saad, ia bertanya pada Rasulullahﷺ, “Wahai Nabi Allah, berikan aku fatwa tentang Baitul Maqdis.” Rasulullahﷺ menjawab, “(Baitul Maqdis) adalah tempat Mahsyar (tempat berkumpulnya manusia untuk dihisab) dan Mansyar (tempat dibangkitkannya manusia setelah kematian).” (HR. Ibnu Majah)
Tapi, bagaimana keadaannya sekarang?
Terjajah
Maka ini sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk saling bahu membahu membebaskan tanah yang disucikan, tanah yang diberkahi, tanah yang dimana disanalah kehormatan kaum muslimin berada
Langkah awalnya adalah dengan ILMU, kita perlu mengenal juga membelanya sebaik kita mengenal Ka’bah di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah
https://www.instagram.com/p/CPhmZ_vBhK8/
Jika ku tanya, sejak umur berapa kamu bisa membaca? 5 tahun? 6 tahun? atau 7 tahun? Ya, rata-rata di usia itulah kita bisa mulai membaca. Entah di ajarkan orang tua di rumah ataupun guru di sekolah
Tapi tahukan kamu, bahwa di negeri Syam ada BANYAK anak yang tak bisa membaca apalagi menulis. Bukan mereka mereka tak mau belajar, tapi mereka tak punya tempat belajar. Mungkin dulu ada, tapi kini telah rata dengan tanah
Tapi bukan hanya itu permasalahnnya, bukan hanya baca tulis biasa yang mereka tak bisa. Tapi mereka tak bisa bahkan tak menganal lafaz اللَّه
BAGAIMANA BISA? Bagaimana bisa anak-anak di negeri yang disanalah barometer iman akhir zaman bahkan tak mengenal Penciptanya? Ya Allah, ampuni kami, menangkanlah kami...
“Jika penduduk Syam rusak agamanya maka tak tersisa kebaikan di tengah kalian. Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang dimenangkan oleh Allah, dan mereka tidak memperdulikan orang yang berusaha menghinakan mereka hingga datang hari kiamat” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, Ibnu Majah)
#AnakAnakSyam #BarometerKeimanan #SahabatAlAqsha
Jika ku tanya, sejak umur berapa kamu bisa membaca? 5 tahun? 6 tahun? atau 7 tahun? Ya, rata-rata di usia itulah kita bisa mulai membaca. Entah di ajarkan orang tua di rumah ataupun guru di sekolah
Tapi tahukan kamu, bahwa di negeri Syam ada BANYAK anak yang tak bisa membaca apalagi menulis. Bukan mereka mereka tak mau belajar, tapi mereka tak punya tempat belajar. Mungkin dulu ada, tapi kini telah rata dengan tanah
Tapi bukan hanya itu permasalahnnya, bukan hanya baca tulis biasa yang mereka tak bisa. Tapi mereka tak bisa bahkan tak menganal lafaz اللَّه
BAGAIMANA BISA? Bagaimana bisa anak-anak di negeri yang disanalah barometer iman akhir zaman bahkan tak mengenal Penciptanya? Ya Allah, ampuni kami, menangkanlah kami...
“Jika penduduk Syam rusak agamanya maka tak tersisa kebaikan di tengah kalian. Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang dimenangkan oleh Allah, dan mereka tidak memperdulikan orang yang berusaha menghinakan mereka hingga datang hari kiamat” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, Ibnu Majah)
#AnakAnakSyam #BarometerKeimanan #SahabatAlAqsha
https://www.instagram.com/p/CPibrsGhx--/
Kemarin saat banyak info penghancuran, pengusiran saudara-saudara kita di Palestina kita semangat bersuara
Bagaimana dengan sekarang? Nanti? Saat info sudah jarang media ekspos, apakah kita masih bersemangat membela dan memperjuangkan kemerdekaannya seperti saat media gembor memberitakannya?
Jangan perlakukan Palestina, saudara-saudara kita di Syam dan Masjidil Aqsha seperti “trend”...
Pertahankan energi kita seperti beberapa hari pertama kita membelanya
Kemarin saat banyak info penghancuran, pengusiran saudara-saudara kita di Palestina kita semangat bersuara
Bagaimana dengan sekarang? Nanti? Saat info sudah jarang media ekspos, apakah kita masih bersemangat membela dan memperjuangkan kemerdekaannya seperti saat media gembor memberitakannya?
Jangan perlakukan Palestina, saudara-saudara kita di Syam dan Masjidil Aqsha seperti “trend”...
Pertahankan energi kita seperti beberapa hari pertama kita membelanya
https://www.instagram.com/p/CPnkNPUBWls/
Pertemuan bukan sekedar pertemuan
Romantis ya? Karna sama-sama paham, bahwa kita dipertemukan bukan karna sebuah kebetulan. Ada maksud Allah disana, maksud spesial
Nyatanya pertemuan kita disini sudah Allah tulisakan milyaran tahun sebelumnya🥲🤍
Pertemuan bukan sekedar pertemuan
Romantis ya? Karna sama-sama paham, bahwa kita dipertemukan bukan karna sebuah kebetulan. Ada maksud Allah disana, maksud spesial
Nyatanya pertemuan kita disini sudah Allah tulisakan milyaran tahun sebelumnya🥲🤍
https://www.instagram.com/p/CPswzCahpY0/
Pernah gak sih kalian berdoa supaya dipertemukan sama orang-orang, temen-temen, sahabat yang baik dimanapun kita menginjakkan kaki?
Orang-orang baik, yang baiknya bukan hanya dalam pandangan manusia, tapi baik yang menurut Allah... mereka yang akan selalu mengingatkan ketika kita lalai, meskipun terhadap hal yang receh
Apa kalian sudah Allah pertemukan?
Pernah gak sih kalian berdoa supaya dipertemukan sama orang-orang, temen-temen, sahabat yang baik dimanapun kita menginjakkan kaki?
Orang-orang baik, yang baiknya bukan hanya dalam pandangan manusia, tapi baik yang menurut Allah... mereka yang akan selalu mengingatkan ketika kita lalai, meskipun terhadap hal yang receh
Apa kalian sudah Allah pertemukan?
Instagram