Swaranindya Ayu
2 subscribers
2 photos
1 video
1 link
Ada hari-hari yang terasa seperti fatamorgana: tampak dekat, tapi sulit digenggam—jadi yang bisa dilakukan cuma bertahan dan tidak kehilangan diri.
Download Telegram
Channel created
Ada seseorang yang kerap tiba lebih dahulu—bukan lantaran ingin mendahului, melainkan sebab hidup gemar menempatkannya di garis mula tanpa aba-aba. Ia melangkah sebagaimana orang-orang melangkah, tampak wajar, tampak lumrah; namun bila dipandangi lebih lama, ada bobot yang diam-diam bersemayam di cara ia menegakkan diri, seolah punggungnya sudah akrab dengan peran penopang yang tak pernah diumumkan, tak pernah diberi upacara, hanya diminta ada—dan tetap ada; Swaranindya Ayu adalah bunyi yang luruh perlahan seperti reronce nada, menimbulkan riak tipis yang tak gegap namun menjalar jauh—sunyi tapi menetap—dan orang-orang menyingkatnya menjadi Swara, sebab nama yang terlalu utuh kadang terasa seperti langit yang kelewat luas untuk ditatap tiap hari, maka dipetiklah satu suku kata agar bisa diselipkan ke saku ingatan tanpa terasa berat.


Makna namanya tak ia hamparkan di bawah sorot; ia menyimpannya seperti surat yang tak pernah sempat berangkat. Terlipat rapi, mengandung getar, menyimpan kilau yang tak meminta disaksikan—kelembutan yang tegas, keanggunan yang tak mencari panggung—hingga namanya sendiri terasa seperti doa yang disisipkan di sela napas: tidak lantang, tidak memaksa, namun bekerja pelan-pelan seperti bara kecil yang bertahan ketika malam memanjang; ia lahir di Tangerang pada 18 November 2009, di hari yang serupa ambang antara gerimis yang belum tuntas dan terang yang belum sepenuhnya pulih, lalu langit menitipkan tanda Scorpio di atasnya—kedalaman yang enggan dipertontonkan, keteguhan yang tak butuh pembuktian—dan meski rumahnya tampak lengkap, dengan ayah, ibu, kakak, abang, adik perempuan, adik laki-laki, Swara paham: lengkap tidak selalu hangat, utuh tidak selalu teduh, ramai tidak selalu pulang, sebab ada retak yang tak terlihat dari jarak pandang, ada sunyi yang tumbuh di tengah keramaian, dan ada tawa yang kadang hanya selubung halus untuk menutup bagian yang diam-diam runtuh.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Ada nama-nama yang tak lagi menetap, tapi jejaknya masih bersemayam di ingatan.
Bukan untuk mengulang, hanya merapikan kisah—ini serpih-serpih yang pernah singgah.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Pertama, izinkan aku mengenalkan seorang laki-laki bernama Abimanyu. Ia hadir dengan kebaikan yang tenang—dan dari jarak yang kupilih sendiri, aku hanya mampu mengaguminya, tanpa banyak suara.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Kedua, izinkan aku mengenalkan seorang laki-laki bernama Aan. Ia hadir dengan kebaikan yang teduh—namun semesta mempertemukannya denganku ketika hatiku masih menyimpan sisa-sisa nama yang belum benar-benar reda; ia sudah tepat, hanya saja waktunya terlampau keliru, hingga aku sempat menggenggamnya sementara sebagian rasaku masih berlabuh pada Abimanyu.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Ketiga, izinkan aku mengenalkan seorang laki-laki bernama Idad. Ia hadir di celah renggang yang tak terucap—dengan ketulusan yang tak pandai menyamar; lembut saat ingin lembut, keras saat harus keras, dan datang tepat ketika hatiku kehilangan pijakan.
Di lorong waktu yang sunyi, aku merajut rasa dari sisa-sisa hari yang jatuh tanpa suara; hidup mengalir seperti sungai yang tak pernah meminta izin, membawa luka dan harap dalam satu arus yang sama, dan di sudutnya tersimpan perasaan yang tampak “siap sedia”, seolah mudah dimiliki, padahal diam-diam menunggu hati yang benar-benar mau singgah dan memahami.
Nokos ready f19 nf r7 lagi gaass habisin, proof on @ProofJawira yaa