◾️Adapun dalam shalat yang wajib maka yang tampak dari keadaan Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- tidak melakukan hal tersebut dalam shalat fardhu. Sebab para Shahabat yang menyifati cara shalat beliau –shalallahu ‘alaihi wasallam- (dalam shalat fardhu) mereka tidak menyebutkan bahwa beliau memohon perlindungan ketika melewati ayat ancaman atau memohon ketika ayat rahmat.
Bersamaan dengan ini, apabila ia melakukannya maka ia tidak berdosa.
Fataawa Nuurun ‘alad Darb: 2/ 201 – 202.
---------------------------------------------------------
Pertanyaan:
Apakah seseorang yang membaca Al-Qur’an mendapat pahala walau ia tidak memahami makna-maknanya?
Jawaban:
Al-Qur’anul Karim penuh berkah sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ ﴿٢٩﴾
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." **[Q.S. Shaad: 029]**
Sehingga seorang insan mendapat pahala dari membacanya. Baik ia memahami maknanya ataupun tidak.
Namun tidak selayaknya bagi seorang mukmin untuk membaca bacaan -yang dibebankan untuk mengamalkannya- tanpa memahami maknanya.
Seseorang jika ingin mempelajari kedokteran –misalnya- dan mempelajari buku-buku kedokteran maka tidak mungkin ia mengambil faidah darinya sampai ia memahami maknanya dan dijelaskan buku-buku itu kepadanya. Bahkan ia mesti bersemangat dengan seluruh kesemangatan untuk memahami maknanya agar ia bisa menerapkannya.
Lalu bagaimana menurutmu tentang Kitab Allah –Subhanahu wa Ta’ala-, yang ia adalah obat untuk dada(hati) dan petuah bagi manusia , untuk seseorang membacanya tanpa tadabbur(merenungi) dan memahami kandungan maknanya?!
Oleh karenanya para Shahabat –semoga Allah meridhai mereka- mereka tidak melewati sepuluh ayat sampai mereka mempelajarinya , apa yang terkandung di dalamnya dari ilmu dan amal. Sehingga mereka mempelajari Al-Qur’an, ilmu, dan amal secara keseluruhan.”
Fataawa Nuurun ‘alad Darb: 2/ 199
#_muhibbukum fillah_
📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Bersamaan dengan ini, apabila ia melakukannya maka ia tidak berdosa.
Fataawa Nuurun ‘alad Darb: 2/ 201 – 202.
---------------------------------------------------------
Pertanyaan:
Apakah seseorang yang membaca Al-Qur’an mendapat pahala walau ia tidak memahami makna-maknanya?
Jawaban:
Al-Qur’anul Karim penuh berkah sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ ﴿٢٩﴾
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." **[Q.S. Shaad: 029]**
Sehingga seorang insan mendapat pahala dari membacanya. Baik ia memahami maknanya ataupun tidak.
Namun tidak selayaknya bagi seorang mukmin untuk membaca bacaan -yang dibebankan untuk mengamalkannya- tanpa memahami maknanya.
Seseorang jika ingin mempelajari kedokteran –misalnya- dan mempelajari buku-buku kedokteran maka tidak mungkin ia mengambil faidah darinya sampai ia memahami maknanya dan dijelaskan buku-buku itu kepadanya. Bahkan ia mesti bersemangat dengan seluruh kesemangatan untuk memahami maknanya agar ia bisa menerapkannya.
Lalu bagaimana menurutmu tentang Kitab Allah –Subhanahu wa Ta’ala-, yang ia adalah obat untuk dada(hati) dan petuah bagi manusia , untuk seseorang membacanya tanpa tadabbur(merenungi) dan memahami kandungan maknanya?!
Oleh karenanya para Shahabat –semoga Allah meridhai mereka- mereka tidak melewati sepuluh ayat sampai mereka mempelajarinya , apa yang terkandung di dalamnya dari ilmu dan amal. Sehingga mereka mempelajari Al-Qur’an, ilmu, dan amal secara keseluruhan.”
Fataawa Nuurun ‘alad Darb: 2/ 199
#_muhibbukum fillah_
📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Yaitu: Kalian (berani) melakukan kesyirikan kepada Allah dan tidak takut kepada-Nya sedangkan kalian menakut-nakuti aku ini dengan selain Allah(dari sesembahan kalian); maka siapa yang lebih pantas untuk mendapat keamanan(dari Allah)?
Sampai dengan firman-Nya:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾
"Mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." [Q.S. Al-An’aam : 82]
Yaitu: mereka adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan ikhlash(dalam ibadahnya).
Oleh karena ini Imam Ahmad berkata kepada sebagian orang:
“Andai kamu membenarkan (tauhidmu) kamu tidak akan pernah takut kepada seorang(makhluk)pun.”
Majmu’ al-Fatawa : 28/ 35 – 36.
--------------------------------------------
Catatan:
➰Faidah ini adalah petikan dari surat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah _rahimahullah_ ditujukan untuk teman dan murid-muridnya sebagai nasihat kepada mereka ketika beliau di penjara di Iskandariyah.
➰Sebagai penjelasan pembahasan bisa di atas bisa merenungi makna Kalamullah dalam surat Al-An’aam ayat 80 – 82 sebagaimana berikut:
وَحَآجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَن يَشَاءَ رَبِّي شَيْئاً وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ ﴿٨٠﴾ وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلاَ تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالأَمْنِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٨١﴾ الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾
_080. "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?"
_081. "Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?"
_082. "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk."
# _muhibbukum fillah_
📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Sampai dengan firman-Nya:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾
"Mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." [Q.S. Al-An’aam : 82]
Yaitu: mereka adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan ikhlash(dalam ibadahnya).
Oleh karena ini Imam Ahmad berkata kepada sebagian orang:
“Andai kamu membenarkan (tauhidmu) kamu tidak akan pernah takut kepada seorang(makhluk)pun.”
Majmu’ al-Fatawa : 28/ 35 – 36.
--------------------------------------------
Catatan:
➰Faidah ini adalah petikan dari surat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah _rahimahullah_ ditujukan untuk teman dan murid-muridnya sebagai nasihat kepada mereka ketika beliau di penjara di Iskandariyah.
➰Sebagai penjelasan pembahasan bisa di atas bisa merenungi makna Kalamullah dalam surat Al-An’aam ayat 80 – 82 sebagaimana berikut:
وَحَآجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَن يَشَاءَ رَبِّي شَيْئاً وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ ﴿٨٠﴾ وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلاَ تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالأَمْنِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٨١﴾ الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾
_080. "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?"
_081. "Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?"
_082. "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk."
# _muhibbukum fillah_
📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
..
🚇 SIKAP MANUSIA DALAM QADHA
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rahimahullah- berkata:
“Dahulu orang-orang menjadi umat yang satu, satu golongan. Tidak tercerai-berai dan berpecah lalu berselisih.
Di negeri kita ini(Arab Saudi) dahulunya orang-orang tunduk kepada amir dan patuh kepada ulama.
Sampai-sampai seseorang datang bersama lawannya (dalam sengketa suatu permasalahan) dalam kondisi ia berpendapat kebenaran ada bersamanya. Lalu qadhi(hakim penengah) memutus mengalahkannya.
Orang itu pun berlalu dalam keadaan tenteram dan tenang.
Jika ditanya kepadanya,”Wahai fulan bagaimana lawanmu bisa mengalahkanmu?”
Dia menjawab, ”Syariat yang memungkiri (yaitu menetapkan aku salah).”
💦Adapun sekarang ini perkaranya berkebalikan.
Kamu akan menemui seorang yang berselisih apabila ditetapkan hukum atasnya(ia dikalahkan), sementara penetapan hukum itu sudah benar, ia pergi mengulur dan memperpanjang permasalahan. Ia menuntut untuk diangkat muamalah untuk _tamyiiz_(yaitu naik banding).
Dan ia maju ke majelis qadha’ yang tertinggi walaupun ia melihat bahwa kebenaran itu menyelisihinya dan tidak bersamanya. Namun ia ingin memudharatkan lawannya saja.
💥Perselisihan di waktu sekarang telah terjadi.
Contohnya pemahaman-pemahaman manusia hampir-hampir kamu tidak bisa menghitungnya.
Diantara mereka :
• ada yang berpemikiran _ilhad_(penyimpangan yang kufur),
• ada yang pemikirannya lebih di bawahnya,
• ada pula yang pemahamannya JELEK dalam akhlak,
• dan ada yang di bawah itu.”
📖 Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah. Hadits ke-28, hal. 338 – 339.
# _ muhibbukum fillah_
📑 Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
🚇 SIKAP MANUSIA DALAM QADHA
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rahimahullah- berkata:
“Dahulu orang-orang menjadi umat yang satu, satu golongan. Tidak tercerai-berai dan berpecah lalu berselisih.
Di negeri kita ini(Arab Saudi) dahulunya orang-orang tunduk kepada amir dan patuh kepada ulama.
Sampai-sampai seseorang datang bersama lawannya (dalam sengketa suatu permasalahan) dalam kondisi ia berpendapat kebenaran ada bersamanya. Lalu qadhi(hakim penengah) memutus mengalahkannya.
Orang itu pun berlalu dalam keadaan tenteram dan tenang.
Jika ditanya kepadanya,”Wahai fulan bagaimana lawanmu bisa mengalahkanmu?”
Dia menjawab, ”Syariat yang memungkiri (yaitu menetapkan aku salah).”
💦Adapun sekarang ini perkaranya berkebalikan.
Kamu akan menemui seorang yang berselisih apabila ditetapkan hukum atasnya(ia dikalahkan), sementara penetapan hukum itu sudah benar, ia pergi mengulur dan memperpanjang permasalahan. Ia menuntut untuk diangkat muamalah untuk _tamyiiz_(yaitu naik banding).
Dan ia maju ke majelis qadha’ yang tertinggi walaupun ia melihat bahwa kebenaran itu menyelisihinya dan tidak bersamanya. Namun ia ingin memudharatkan lawannya saja.
💥Perselisihan di waktu sekarang telah terjadi.
Contohnya pemahaman-pemahaman manusia hampir-hampir kamu tidak bisa menghitungnya.
Diantara mereka :
• ada yang berpemikiran _ilhad_(penyimpangan yang kufur),
• ada yang pemikirannya lebih di bawahnya,
• ada pula yang pemahamannya JELEK dalam akhlak,
• dan ada yang di bawah itu.”
📖 Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah. Hadits ke-28, hal. 338 – 339.
# _ muhibbukum fillah_
📑 Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Dan Allah Ta’ala berfiman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً ﴿٨٢﴾
"Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." [Q.S. Al-Israa’: 82].
📖 Kitab At-Taubah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 42 – 43.
======###======
Takutlah kepada Allah wahai saudaraku...
Tidak ada gelar yang baik untuk orang yang menyesal dari melakukan taubat atas kesalahannya. Kafir. Fasik. Jahil. Sesat. Munafik. Baik hukum itu dalam jenis _akbar_ ataupun _ashghar_ keduanya adalah kejelekan.
Maka bersegeralah bertaubat dari "rujuk dari taubat". Sebelum datang hari perhitungan yang akan ditegakkan keadilan di dalamnya. Masing-masing akan dinilai sesuai dengan apa yang ia lakukan.
# _muhibbukum fillah_
📑 Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً ﴿٨٢﴾
"Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." [Q.S. Al-Israa’: 82].
📖 Kitab At-Taubah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 42 – 43.
======###======
Takutlah kepada Allah wahai saudaraku...
Tidak ada gelar yang baik untuk orang yang menyesal dari melakukan taubat atas kesalahannya. Kafir. Fasik. Jahil. Sesat. Munafik. Baik hukum itu dalam jenis _akbar_ ataupun _ashghar_ keduanya adalah kejelekan.
Maka bersegeralah bertaubat dari "rujuk dari taubat". Sebelum datang hari perhitungan yang akan ditegakkan keadilan di dalamnya. Masing-masing akan dinilai sesuai dengan apa yang ia lakukan.
# _muhibbukum fillah_
📑 Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇 Batasan Udzur atas Kejahilan terhadap Hukum-hukum Syariat
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rahimahullah-
Pertanyaan:
Kami sering mendengar bahwa seseorang diberi udzur atas kejahilannya(dalam melaksanakan syariat), seandainya memang ada udzur atas kejahilan maka apa batasan kejahilan terhadap hukum-hukum syar’i ini?
Jawaban:
Al-jahl(kejahilan) –semoga Allah memberkahimu- adalah ketiadaan ilmu. Namun terkadang seseorang diberi udzur atas kejahilan di masa lalu bukan saat sekarang.
Contohnya:
Apa yang datang dalam shahihain dari hadits Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki datang dan melaksanakan shalat tanpa tuma’ninah di dalam shalatnya. Kemudian ia mendatangi dan mengucap salam kepada Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- maka Beliau bersabda:
"Kembalilah lalu shalatlah, sungguh engkau belum shalat!"
Hal tersebut berulang tiga kali. Laki-laki itu pun berkata,”Demi Yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak mampu lebih baik dari ini maka beritahukanlah kepadaku ilmunya.” Maka Beliau mengajarinya NAMUN Beliau tidak memerintah kepada laki-laki itu untuk meng-qadha’ apa yang telah lewat karena ia jahil. Beliau hanya memerintahkan kepadanya untuk mengulangi shalatnya di waktu itu saja.
Dan apabila seseorang tidak melaksanakan shalat –sebagai permisalan- di masa lalu yang dibangun di atas keyakinan bahwa shalat itu tidak wajib atasnya dan ia berada di tempat terpencil yang tidak ada seorang berilmu yang bisa ditanya maka kita tidak menyuruhnya untuk meng-qadha’ apa yang telah lewat. Sebab ia mendapat udzur(dalam kondisi ini).
Adapun jika ia berada di negeri yang ditemui ulama di dalamnya namun ia tafrith/ mengganggap remeh (tidak mau bertanya hukum suatu permasalahan) maka orang ini tidak mendapat udzur atas kejahilannya.
Hal seperti ini banyak terjadi pada wanita yang haid dalam keadaan masih kecil. Sehingga ia mengira bahwa ia belum baligh karena berkeyakinan bahwa baligh itu jika telah sempurna berumur limabelas tahun. Kemudian kamu mendapati wanita ini meninggalkan puasa (yang wajib) karena mengira ia belum baligh. Lalu ia datang dan bertanya dan kamu jelaskan bahwa ia telah baligh. Sebab ia telah haidh –misalnya- dan ia telah melewati dua atau tiga tahun tidak melaksanakan puasa Ramadhan, apakah ia harus meng-qadha?
(Jawabannya) Kita lihat, jika ia berada di suatu negeri yang ada ulama di sana dan mungkin untuk ia bertanya kepadanya maka ia termasuk mufarrith (orang yang bermudah-mudahan) sehingga kita mengharuskan kepadanya untuk meng-qadha’.
Adapun apabila wanita itu berada di tempat yang jauh dari ulama seperti penduduk daerah pedalaman maka kita tidak mewajibkan qadha untuknya. Sebab ia jahil dan mendapat udzur dikarenakan tidak ada orang yang bisa ditanya dan tidak ada ilmu(syar’i) yang tersebar di daerah pedalaman tersebut.
Sehingga segala sesuatu yang seorang insan mendapat udzur di dalamnya maka ia dimaafkan, berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً ﴿١٥﴾
"dan Kami tidak akan meng`azab sebelum Kami mengutus seorang rasul". Q.S. Al-Israa’: 15.
Dan Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولاً يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ ﴿٥٩﴾
"Dan adalah tidak pantas untuk Rabb-mu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman". Q.S. Al-Qashash: 59.
Liqaa’atul Baabil Maftuuh: 1/ 700 – 701.
# muhibbukum fillah
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
🚇 Batasan Udzur atas Kejahilan terhadap Hukum-hukum Syariat
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rahimahullah-
Pertanyaan:
Kami sering mendengar bahwa seseorang diberi udzur atas kejahilannya(dalam melaksanakan syariat), seandainya memang ada udzur atas kejahilan maka apa batasan kejahilan terhadap hukum-hukum syar’i ini?
Jawaban:
Al-jahl(kejahilan) –semoga Allah memberkahimu- adalah ketiadaan ilmu. Namun terkadang seseorang diberi udzur atas kejahilan di masa lalu bukan saat sekarang.
Contohnya:
Apa yang datang dalam shahihain dari hadits Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki datang dan melaksanakan shalat tanpa tuma’ninah di dalam shalatnya. Kemudian ia mendatangi dan mengucap salam kepada Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- maka Beliau bersabda:
"Kembalilah lalu shalatlah, sungguh engkau belum shalat!"
Hal tersebut berulang tiga kali. Laki-laki itu pun berkata,”Demi Yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak mampu lebih baik dari ini maka beritahukanlah kepadaku ilmunya.” Maka Beliau mengajarinya NAMUN Beliau tidak memerintah kepada laki-laki itu untuk meng-qadha’ apa yang telah lewat karena ia jahil. Beliau hanya memerintahkan kepadanya untuk mengulangi shalatnya di waktu itu saja.
Dan apabila seseorang tidak melaksanakan shalat –sebagai permisalan- di masa lalu yang dibangun di atas keyakinan bahwa shalat itu tidak wajib atasnya dan ia berada di tempat terpencil yang tidak ada seorang berilmu yang bisa ditanya maka kita tidak menyuruhnya untuk meng-qadha’ apa yang telah lewat. Sebab ia mendapat udzur(dalam kondisi ini).
Adapun jika ia berada di negeri yang ditemui ulama di dalamnya namun ia tafrith/ mengganggap remeh (tidak mau bertanya hukum suatu permasalahan) maka orang ini tidak mendapat udzur atas kejahilannya.
Hal seperti ini banyak terjadi pada wanita yang haid dalam keadaan masih kecil. Sehingga ia mengira bahwa ia belum baligh karena berkeyakinan bahwa baligh itu jika telah sempurna berumur limabelas tahun. Kemudian kamu mendapati wanita ini meninggalkan puasa (yang wajib) karena mengira ia belum baligh. Lalu ia datang dan bertanya dan kamu jelaskan bahwa ia telah baligh. Sebab ia telah haidh –misalnya- dan ia telah melewati dua atau tiga tahun tidak melaksanakan puasa Ramadhan, apakah ia harus meng-qadha?
(Jawabannya) Kita lihat, jika ia berada di suatu negeri yang ada ulama di sana dan mungkin untuk ia bertanya kepadanya maka ia termasuk mufarrith (orang yang bermudah-mudahan) sehingga kita mengharuskan kepadanya untuk meng-qadha’.
Adapun apabila wanita itu berada di tempat yang jauh dari ulama seperti penduduk daerah pedalaman maka kita tidak mewajibkan qadha untuknya. Sebab ia jahil dan mendapat udzur dikarenakan tidak ada orang yang bisa ditanya dan tidak ada ilmu(syar’i) yang tersebar di daerah pedalaman tersebut.
Sehingga segala sesuatu yang seorang insan mendapat udzur di dalamnya maka ia dimaafkan, berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً ﴿١٥﴾
"dan Kami tidak akan meng`azab sebelum Kami mengutus seorang rasul". Q.S. Al-Israa’: 15.
Dan Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولاً يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ ﴿٥٩﴾
"Dan adalah tidak pantas untuk Rabb-mu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman". Q.S. Al-Qashash: 59.
Liqaa’atul Baabil Maftuuh: 1/ 700 – 701.
# muhibbukum fillah
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇 AKIDAH SALAF DALAM MENGHADAPI ANCAMAN KHAWARIJ DAN MALING
Al-Imam Ali Ibnul Madiniy –rahimahullah- berkata:
“Dan halal untuk qitaal /memerangi khawarij dan pencuri apabila mereka mengancam jiwa dan hartanya. Ataupun (ancaman) selain jiwanya.
⚔🛡 Maka boleh untuk memerangi dalam rangka pembelaan diri dan melindungi hartanya sampai ia mempertahankannya dalam posisi yang demikian.
▪Namun tidak boleh baginya --apabila mereka menjauh dan meninggalkannya—untuk mengejar mereka dan mengikuti jejak mereka (sebab) sungguh ia telah selamat dari mereka. Adapun (mengejar dan mengikuti mereka) itu dikembalikan kepada imam (pemerintah).
▪Tidak lain ia hanya membela dirinya pada posisinya (saat itu). Dan ia sungguh berupaya meniatkan tidak ingin membunuh seorangpun. Kemudian apabila terjadi lewat tangannya(membunuh) ketika melindungi dirinya dalam pergulatan maka semoga Allah binasakan orang yang terbunuh itu.
▪Apabila ia yang terbunuh dalam kondisi tersebut –ketika sedang membela diri dan hartanya- kita mengharapkan mati syahid untuknya. Sebagaimana disebut di dalam atsar.
✍🏻 Dan seluruh atsar tidak lain yang diperintah adalah al-qitaal (memeranginya) bukan al-qatl (membunuhnya).
🔺Dan tidak boleh ia menegakkan hukum had atas mereka. Namun ia menyerahkannya kepada orang yang Allah jadikan wali (pemegang urusannya yaitu pemerintah). Maka wali itu yang memberi hukum kepadanya (khawarij atau maling).
📖 Al-Jaami’ fi Aqaaid wa Rasaaili Ahlissunnah wal Atsar, hal.444
# muhibbukum fillah
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
🚇 AKIDAH SALAF DALAM MENGHADAPI ANCAMAN KHAWARIJ DAN MALING
Al-Imam Ali Ibnul Madiniy –rahimahullah- berkata:
“Dan halal untuk qitaal /memerangi khawarij dan pencuri apabila mereka mengancam jiwa dan hartanya. Ataupun (ancaman) selain jiwanya.
⚔🛡 Maka boleh untuk memerangi dalam rangka pembelaan diri dan melindungi hartanya sampai ia mempertahankannya dalam posisi yang demikian.
▪Namun tidak boleh baginya --apabila mereka menjauh dan meninggalkannya—untuk mengejar mereka dan mengikuti jejak mereka (sebab) sungguh ia telah selamat dari mereka. Adapun (mengejar dan mengikuti mereka) itu dikembalikan kepada imam (pemerintah).
▪Tidak lain ia hanya membela dirinya pada posisinya (saat itu). Dan ia sungguh berupaya meniatkan tidak ingin membunuh seorangpun. Kemudian apabila terjadi lewat tangannya(membunuh) ketika melindungi dirinya dalam pergulatan maka semoga Allah binasakan orang yang terbunuh itu.
▪Apabila ia yang terbunuh dalam kondisi tersebut –ketika sedang membela diri dan hartanya- kita mengharapkan mati syahid untuknya. Sebagaimana disebut di dalam atsar.
✍🏻 Dan seluruh atsar tidak lain yang diperintah adalah al-qitaal (memeranginya) bukan al-qatl (membunuhnya).
🔺Dan tidak boleh ia menegakkan hukum had atas mereka. Namun ia menyerahkannya kepada orang yang Allah jadikan wali (pemegang urusannya yaitu pemerintah). Maka wali itu yang memberi hukum kepadanya (khawarij atau maling).
📖 Al-Jaami’ fi Aqaaid wa Rasaaili Ahlissunnah wal Atsar, hal.444
# muhibbukum fillah
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
________
✅ Diantara faidah yang bisa dipetik dari kalam Syaikh al-Fauzan hafizhahullah:
1. Membela ahlul haq dan menjelaskan thariqah mereka dalam menegakkan kebenaran dan membantah kebatilan.
2. Membungkam orang-orang yang ingin menggembosi al-haq dan ahlul haq, baik disadarinya atau tidak.
3.Menegakkan al-haq dalam rangka mencari ridha Allah. Tidak peduli orang ridha atau tidak.
4. Ilmiah, jujur, dan amanah dalam mengungkap kebatilan.
# _muhibbukum fillah_
📑 Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
✅ Diantara faidah yang bisa dipetik dari kalam Syaikh al-Fauzan hafizhahullah:
1. Membela ahlul haq dan menjelaskan thariqah mereka dalam menegakkan kebenaran dan membantah kebatilan.
2. Membungkam orang-orang yang ingin menggembosi al-haq dan ahlul haq, baik disadarinya atau tidak.
3.Menegakkan al-haq dalam rangka mencari ridha Allah. Tidak peduli orang ridha atau tidak.
4. Ilmiah, jujur, dan amanah dalam mengungkap kebatilan.
# _muhibbukum fillah_
📑 Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇 ISLAM, IMAN, DAN YAKIN
"...Iman adalah hati dari Islam dan intinya. Adapun Al-Yaqin adalah hati dan inti dari Iman.
[Ibnul Qayyim rahimahullah, Ad-Daa' wad Dawaa', hal. 137]
# sifat seorang mukmin sejati adalah selalu di atas yakin, bukan peragu.
# muhibbukum fillah
🚇 ADA SESUATU?
"Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kuat iman dan yakin maka telah disusupi (kerusakan).
Dan setiap iman yang tidak membangkitkan amalan maka telah dirasuki (kejelekan)."
📖 [Ibnul Qayyim rahimahullah, Ad-Daa' wad Dawaa', hal. 137]
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
🚇 ISLAM, IMAN, DAN YAKIN
"...Iman adalah hati dari Islam dan intinya. Adapun Al-Yaqin adalah hati dan inti dari Iman.
[Ibnul Qayyim rahimahullah, Ad-Daa' wad Dawaa', hal. 137]
# sifat seorang mukmin sejati adalah selalu di atas yakin, bukan peragu.
# muhibbukum fillah
🚇 ADA SESUATU?
"Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kuat iman dan yakin maka telah disusupi (kerusakan).
Dan setiap iman yang tidak membangkitkan amalan maka telah dirasuki (kejelekan)."
📖 [Ibnul Qayyim rahimahullah, Ad-Daa' wad Dawaa', hal. 137]
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇 AKIBAT MENINGGALKAN AL-HAQ
✍🏻 Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah berkata:
“ Tanaaqudh (kontradiksi) adalah ucapan-ucapan yang saling berbenturan dan berselisih.
💥 Maka siapa yang meninggalkan al-haq sungguh ia akan ditimpakan dengan tanaaqudh dan ucapan-ucapannya akan saling bertolak-belakang. SEBAB kesesatan itu bercabang-cabang dan tidak terbatas cabang-cabangnya.
☝🏻 Adapun al-haq maka ia tunggal, tidak bercabang dan berselisih. Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi berfirman:
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ ﴿٣٢﴾
maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Q.S. Yunus : 32.
❗Siapa yang meninggalkan al-haq niscaya terjatuh dalam kesesatan. Sementara kesesatan itu labirin (sangat rumit dan berbelit-belit ). Wal’iyadzubillah (kita memohon perlindungan kepada Allah).
Sehingga kamu akan menemui orang-orangnya akan saling berselisih antara mereka. Bahkan kamu dapati salah seorang mereka akan berbeda-beda dalam pendapatnya sendiri. SEBAB tiada suatu pedoman yang ia berjalan di atasnya. Tidak lain ia galau dan bingung. Suatu waktu ia berkata begini di waktu lain ia berucap begitu."
📖 [ Syarhu Masaailil Jaahiliyyah, hal. 287.]
# renungi ciri kesesatan dan penyimpangan ini. Semoga menjadi pedoman memilih dan memilah antara al-haq dengan al-bathil.
# muhibbukum fillah
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
🚇 AKIBAT MENINGGALKAN AL-HAQ
✍🏻 Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah berkata:
“ Tanaaqudh (kontradiksi) adalah ucapan-ucapan yang saling berbenturan dan berselisih.
💥 Maka siapa yang meninggalkan al-haq sungguh ia akan ditimpakan dengan tanaaqudh dan ucapan-ucapannya akan saling bertolak-belakang. SEBAB kesesatan itu bercabang-cabang dan tidak terbatas cabang-cabangnya.
☝🏻 Adapun al-haq maka ia tunggal, tidak bercabang dan berselisih. Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi berfirman:
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ ﴿٣٢﴾
maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Q.S. Yunus : 32.
❗Siapa yang meninggalkan al-haq niscaya terjatuh dalam kesesatan. Sementara kesesatan itu labirin (sangat rumit dan berbelit-belit ). Wal’iyadzubillah (kita memohon perlindungan kepada Allah).
Sehingga kamu akan menemui orang-orangnya akan saling berselisih antara mereka. Bahkan kamu dapati salah seorang mereka akan berbeda-beda dalam pendapatnya sendiri. SEBAB tiada suatu pedoman yang ia berjalan di atasnya. Tidak lain ia galau dan bingung. Suatu waktu ia berkata begini di waktu lain ia berucap begitu."
📖 [ Syarhu Masaailil Jaahiliyyah, hal. 287.]
# renungi ciri kesesatan dan penyimpangan ini. Semoga menjadi pedoman memilih dan memilah antara al-haq dengan al-bathil.
# muhibbukum fillah
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Saudara-saudaraku fillah, hafizhakumullah
Persembahkan kepedulian dan perhatian untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana. Di saat mereka mengakui diri mereka selama ini diatas kezaliman.
Mari perbaiki hati-hati mereka yang sedang melunak dan takut. Berikan untaian kalimat indah nan lembut. Penggugah hati. Bersumber dari Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Mengajak untuk takut, berharap, dan cinta kepada Allah. Tunduk dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Wasiat dan petuah yang menumbuhkan kegembiraan dan harapan menyongsong kehidupan yang diridhai Ar-Rahman. Sampai datangnya kematian.
Jangan lupa diingatkan! Hari ini mungkin luput dari kematian. Namun ia akan tetap datang. Jika sudah saatnya untuk hadir, tidak ada yang mampu berlari dan menyingkir. Ingatlah firman Allah:
ذَرْهُمْ يَأْكُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ وَيُلْهِهِمُ الأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ ﴿٣﴾ وَمَا أَهْلَكْنَا مِن قَرْيَةٍ إِلاَّ وَلَهَا كِتَابٌ مَّعْلُومٌ ﴿٤﴾ مَّا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ ﴿٥﴾
003. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).
004. Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan.
005. Tidak ada suatu umatpun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan (nya). Q.S. Al-Hijr : 3 – 5.
Kosongkan dari hati-hati mereka berbagai bentuk kebatilan. Lalu tuangkan nilai-nilai akidah dan keimanan. Dengannya akan kokoh hati insan. Ringan dalam menerima kebenaran. Mudah untuk beramal ibadah dan kebaikan.
Jangan lewatkan kesempatan ini! Saat-saat lemah mereka siap untuk diisi. Curahkan aneka nasihat dari kalam Rabbani. Dan juga petuah yang terkandung dalam bimbingan rasul(utusan) al-Hadi(Yang Maha Pemberi Petunjuk).
Andai kamu berlambat-lambat. Peluang dakwah ini akan luput dan lewat. Terlebih ketika kesempitan telah memudar. Kelapangan kembali berpendar. Kebanyakan manusia kembali lalai dari Allah Yang Maha Besar.
Sampaikan nasihat secara langsung atau melalui pesan. Sungguh kepedulian di tengah kesempitan akan menjadikan hati terkesan.
Saudara-saudaraku fillah, hafizhakumullah
Apabila kamu memiliki waktu dan kesempatan untuk bisa terjun langsung ke wilayah musibah. Persiapkan niat ikhlas di hati. Berbagai logistik jasmani jangan lupa untuk dilengkapi. Agar tidak menjadi beban dan memberatkan saudara-saudara kita ini.
Ingatlah! Kunjungan fisik dan nasihat pengingat jannah akan menguatkan iman. Plus menumbuhkan rasa cinta sesama saudara beriman.
Jadikan bantuan logistik sebagai wasilah. Agar mereka menyimak tausiyah terkait tauhid dan sunnah. Sungguh nutrisi batin lebih bermanfaat untuk selamat menuju jannah.
Sumbangan harta, makanan, dan sandang tidak dipungkiri bermanfaat. Namun hal tersebut bisa dilakukan oleh siapapun yang memiliki kemampuan logistik berlipat. Adapun nasihat dari ilmu yang bermanfaat tidak akan bisa dipetik kecuali dari AHLUSSUNNAH firqatun najiyah / golongan yang selamat.
Saudara-saudaraku fillah, hafizhakumullah
JANGAN LEPASKAN PELUANG BESAR INI!
Sungguh Ahlussunnah telah memetik buah terjun secara jasmani (hadir) dan rohani(dakwah). Tentunya kita tidak lupa. Pengalaman berjuang membela kaum muslimin, secara jasmani dan rohani, di wilayah-wilayah konflik yang dahulu terjadi. Tidak semua orang mendapat hidayah. Namun Allah berikan petunjuk kepada sekian orang untuk tegak dan mengakarnya dakwah di tempat-tempat tersebut. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Wallahu Ta’ala a’lam bishshawab.
# muhibbukum fillah
📑 Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Persembahkan kepedulian dan perhatian untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana. Di saat mereka mengakui diri mereka selama ini diatas kezaliman.
Mari perbaiki hati-hati mereka yang sedang melunak dan takut. Berikan untaian kalimat indah nan lembut. Penggugah hati. Bersumber dari Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Mengajak untuk takut, berharap, dan cinta kepada Allah. Tunduk dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Wasiat dan petuah yang menumbuhkan kegembiraan dan harapan menyongsong kehidupan yang diridhai Ar-Rahman. Sampai datangnya kematian.
Jangan lupa diingatkan! Hari ini mungkin luput dari kematian. Namun ia akan tetap datang. Jika sudah saatnya untuk hadir, tidak ada yang mampu berlari dan menyingkir. Ingatlah firman Allah:
ذَرْهُمْ يَأْكُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ وَيُلْهِهِمُ الأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ ﴿٣﴾ وَمَا أَهْلَكْنَا مِن قَرْيَةٍ إِلاَّ وَلَهَا كِتَابٌ مَّعْلُومٌ ﴿٤﴾ مَّا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ ﴿٥﴾
003. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).
004. Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan.
005. Tidak ada suatu umatpun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan (nya). Q.S. Al-Hijr : 3 – 5.
Kosongkan dari hati-hati mereka berbagai bentuk kebatilan. Lalu tuangkan nilai-nilai akidah dan keimanan. Dengannya akan kokoh hati insan. Ringan dalam menerima kebenaran. Mudah untuk beramal ibadah dan kebaikan.
Jangan lewatkan kesempatan ini! Saat-saat lemah mereka siap untuk diisi. Curahkan aneka nasihat dari kalam Rabbani. Dan juga petuah yang terkandung dalam bimbingan rasul(utusan) al-Hadi(Yang Maha Pemberi Petunjuk).
Andai kamu berlambat-lambat. Peluang dakwah ini akan luput dan lewat. Terlebih ketika kesempitan telah memudar. Kelapangan kembali berpendar. Kebanyakan manusia kembali lalai dari Allah Yang Maha Besar.
Sampaikan nasihat secara langsung atau melalui pesan. Sungguh kepedulian di tengah kesempitan akan menjadikan hati terkesan.
Saudara-saudaraku fillah, hafizhakumullah
Apabila kamu memiliki waktu dan kesempatan untuk bisa terjun langsung ke wilayah musibah. Persiapkan niat ikhlas di hati. Berbagai logistik jasmani jangan lupa untuk dilengkapi. Agar tidak menjadi beban dan memberatkan saudara-saudara kita ini.
Ingatlah! Kunjungan fisik dan nasihat pengingat jannah akan menguatkan iman. Plus menumbuhkan rasa cinta sesama saudara beriman.
Jadikan bantuan logistik sebagai wasilah. Agar mereka menyimak tausiyah terkait tauhid dan sunnah. Sungguh nutrisi batin lebih bermanfaat untuk selamat menuju jannah.
Sumbangan harta, makanan, dan sandang tidak dipungkiri bermanfaat. Namun hal tersebut bisa dilakukan oleh siapapun yang memiliki kemampuan logistik berlipat. Adapun nasihat dari ilmu yang bermanfaat tidak akan bisa dipetik kecuali dari AHLUSSUNNAH firqatun najiyah / golongan yang selamat.
Saudara-saudaraku fillah, hafizhakumullah
JANGAN LEPASKAN PELUANG BESAR INI!
Sungguh Ahlussunnah telah memetik buah terjun secara jasmani (hadir) dan rohani(dakwah). Tentunya kita tidak lupa. Pengalaman berjuang membela kaum muslimin, secara jasmani dan rohani, di wilayah-wilayah konflik yang dahulu terjadi. Tidak semua orang mendapat hidayah. Namun Allah berikan petunjuk kepada sekian orang untuk tegak dan mengakarnya dakwah di tempat-tempat tersebut. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Wallahu Ta’ala a’lam bishshawab.
# muhibbukum fillah
📑 Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇 JANGAN SALAHKAN PENGUASA, PERIKSA DAHULU AMALANMU!
Ath-Thurthusy –rahimahullah- berkata:
“Senantiasa aku mendengar orang-orang berucap:
أَعْمَالُكُمْ عُمَّالُكُمْ كَـمَـا تَـكُـونُـوا يُـولَّـى عَـلَـيْـكُـم
Amalan-amalanmu itulah penguasamu. Sebagaimana kondisimu, demikianlah (dijadikan) keadaanku pemegang urusanmu.
Sampai aku kemudian mendapati makna ini di dalam Al-Qur’an pada firman Allah Ta’ala:
َكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ ﴿١٢٩﴾
"Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi wali bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka lakukan." Q.S. Al-An’aam: 129.
Siraajul Muluuk, hal. 197
======================
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy –rahimahullah- berkata dalam tafsirnya tentang ayat di atas:
“Dan demikian pula termasuk dari sunnah Kami (Allah Ta’ala) untuk memberikan kuasa atas orang yang zhalim dengan orang zhalim semisalnya yang menggerakkan dan mendorongnya kepada kejelekan dan menjauhkannya dan membuatnya lari dari kebaikan.
Hal itu termasuk hukuman Allah yang sangat besar, yang sangat jelek efeknya, dan sangat besar bahayanya. Dan dosanya (yang menjadi sebab datangnya hukuman itu) adalah dosa dari orang yang berbuat zhalim tersebut. Dialah yang memasukkan kejelekan pada dirinya dan atas dirinya ia telah berbuat jinayah. Tidaklah Rabb-mu sekalipun berbuat zhalim kepada hamba-Nya.
Dan termasuk dalam perkara tersebut bahwa para hamba apabila mereka banyak melakukan kelaliman, kerusakan, dan meninggalkan hak-hak yang wajib(atas mereka) niscaya dikuasakan kepada mereka orang-orang yang lalim yang menimpakan kepada mereka siksa yang berat, menghukum mereka dengan sewenang-wenang dan tidak adil dengan lebih berlipat-lipat (akibatnya) dari apa yang mereka tinggalkan dari hak-hak Allah dan hak-hak para hamba-Nya, dalam keadaan mereka tidak diberi ganjaran dan tidak pula mengharapkannya.
Sebagaimana juga, jikalau para hamba mereka berbuat keshalihan dan istiqamah niscaya Allah perbaiki keadaan pemimpin-pemimpin mereka. Dan Dia jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang adil dan lurus. Bukan penguasa yang lalim dan sewenang-wenang.”
Taisirul Karimiir Rahman, As-Sa’diy, hal. 295.
# _muhibbukum fillah_
# perbaiki amalan untuk mendapat pemimpin yang baik.
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
🚇 JANGAN SALAHKAN PENGUASA, PERIKSA DAHULU AMALANMU!
Ath-Thurthusy –rahimahullah- berkata:
“Senantiasa aku mendengar orang-orang berucap:
أَعْمَالُكُمْ عُمَّالُكُمْ كَـمَـا تَـكُـونُـوا يُـولَّـى عَـلَـيْـكُـم
Amalan-amalanmu itulah penguasamu. Sebagaimana kondisimu, demikianlah (dijadikan) keadaanku pemegang urusanmu.
Sampai aku kemudian mendapati makna ini di dalam Al-Qur’an pada firman Allah Ta’ala:
َكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ ﴿١٢٩﴾
"Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi wali bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka lakukan." Q.S. Al-An’aam: 129.
Siraajul Muluuk, hal. 197
======================
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy –rahimahullah- berkata dalam tafsirnya tentang ayat di atas:
“Dan demikian pula termasuk dari sunnah Kami (Allah Ta’ala) untuk memberikan kuasa atas orang yang zhalim dengan orang zhalim semisalnya yang menggerakkan dan mendorongnya kepada kejelekan dan menjauhkannya dan membuatnya lari dari kebaikan.
Hal itu termasuk hukuman Allah yang sangat besar, yang sangat jelek efeknya, dan sangat besar bahayanya. Dan dosanya (yang menjadi sebab datangnya hukuman itu) adalah dosa dari orang yang berbuat zhalim tersebut. Dialah yang memasukkan kejelekan pada dirinya dan atas dirinya ia telah berbuat jinayah. Tidaklah Rabb-mu sekalipun berbuat zhalim kepada hamba-Nya.
Dan termasuk dalam perkara tersebut bahwa para hamba apabila mereka banyak melakukan kelaliman, kerusakan, dan meninggalkan hak-hak yang wajib(atas mereka) niscaya dikuasakan kepada mereka orang-orang yang lalim yang menimpakan kepada mereka siksa yang berat, menghukum mereka dengan sewenang-wenang dan tidak adil dengan lebih berlipat-lipat (akibatnya) dari apa yang mereka tinggalkan dari hak-hak Allah dan hak-hak para hamba-Nya, dalam keadaan mereka tidak diberi ganjaran dan tidak pula mengharapkannya.
Sebagaimana juga, jikalau para hamba mereka berbuat keshalihan dan istiqamah niscaya Allah perbaiki keadaan pemimpin-pemimpin mereka. Dan Dia jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang adil dan lurus. Bukan penguasa yang lalim dan sewenang-wenang.”
Taisirul Karimiir Rahman, As-Sa’diy, hal. 295.
# _muhibbukum fillah_
# perbaiki amalan untuk mendapat pemimpin yang baik.
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇 KENAPA JAUH DARI-NYA?
"Siapa yang menginginkan petunjuk dari selain Al-Qur’an dan Sunnah, hal itu hanya akan menambah jauh dari Allah". (Ibnu Taimiyyah rahimahullah, Majmu’ul Fatawa, jil. 5 hal. 120)
#melihat ulang posisi diri di hadapan Al-Qur'an dan Sunnah dalam tadabbur dan amal.
# muhibbukum fillah
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
🚇 KENAPA JAUH DARI-NYA?
"Siapa yang menginginkan petunjuk dari selain Al-Qur’an dan Sunnah, hal itu hanya akan menambah jauh dari Allah". (Ibnu Taimiyyah rahimahullah, Majmu’ul Fatawa, jil. 5 hal. 120)
#melihat ulang posisi diri di hadapan Al-Qur'an dan Sunnah dalam tadabbur dan amal.
# muhibbukum fillah
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇 AKIBAT MENINGGALKAN AL-HAQ
✍🏻 Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah berkata:
“ Tanaaqudh (kontradiksi) adalah ucapan-ucapan yang saling berbenturan dan berselisih.
💥 Maka siapa yang meninggalkan al-haq sungguh ia akan ditimpakan dengan tanaaqudh dan ucapan-ucapannya akan saling bertolakbelakang. SEBAB kesesatan itu bercabang-cabang dan tidak terbatas cabang-cabangnya.
Adapun al-haq maka ia tunggal, tidak bercabang dan berselisih. Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi berfirman:
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ ﴿٣٢﴾
maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Q.S. Yunus : 32.
❗Siapa yang meninggalkan al-haq niscaya terjatuh dalam kesesatan. Sementara kesesatan itu labirin (sangat rumit dan berbelit-belit ). Wal’iyadzubillah (kita memohon perlindungan kepada Allah).
Sehingga kamu akan menemui orang-orangnya akan saling berselisih antara mereka. Bahkan kamu dapati salah seorang mereka akan berbeda-beda dalam pendapatnya sendiri.
SEBAB tiada suatu pedoman yang ia berjalan di atasnya. Tidak lain ia galau dan bingung. Suatu waktu ia berkata begini di waktu lain ia berucap begitu."
📖 [ Syarhu Masaailil Jaahiliyyah, hal. 287.]
#POSTING ULANG untuk musha'fiqah yang masih membela Muhammad bin Hadi setelah menetapkan vonis cambuk untuk qadzf-nya.
# renungi ciri kesesatan dan penyimpangan ini. Semoga menjadi pedoman memilih dan memilah antara al-haq dengan al-bathil.
# muhibbukum fillah
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
🚇 AKIBAT MENINGGALKAN AL-HAQ
✍🏻 Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah berkata:
“ Tanaaqudh (kontradiksi) adalah ucapan-ucapan yang saling berbenturan dan berselisih.
💥 Maka siapa yang meninggalkan al-haq sungguh ia akan ditimpakan dengan tanaaqudh dan ucapan-ucapannya akan saling bertolakbelakang. SEBAB kesesatan itu bercabang-cabang dan tidak terbatas cabang-cabangnya.
Adapun al-haq maka ia tunggal, tidak bercabang dan berselisih. Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi berfirman:
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ ﴿٣٢﴾
maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Q.S. Yunus : 32.
❗Siapa yang meninggalkan al-haq niscaya terjatuh dalam kesesatan. Sementara kesesatan itu labirin (sangat rumit dan berbelit-belit ). Wal’iyadzubillah (kita memohon perlindungan kepada Allah).
Sehingga kamu akan menemui orang-orangnya akan saling berselisih antara mereka. Bahkan kamu dapati salah seorang mereka akan berbeda-beda dalam pendapatnya sendiri.
SEBAB tiada suatu pedoman yang ia berjalan di atasnya. Tidak lain ia galau dan bingung. Suatu waktu ia berkata begini di waktu lain ia berucap begitu."
📖 [ Syarhu Masaailil Jaahiliyyah, hal. 287.]
#POSTING ULANG untuk musha'fiqah yang masih membela Muhammad bin Hadi setelah menetapkan vonis cambuk untuk qadzf-nya.
# renungi ciri kesesatan dan penyimpangan ini. Semoga menjadi pedoman memilih dan memilah antara al-haq dengan al-bathil.
# muhibbukum fillah
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇 BERSYUKUR DI BAWAH RINTIK KESABARAN
Betapa sedihnya kita manakala tergolong hamba yang kurang bersyukur dan minim kesabaran?! Sampai kapankah kita rela mendekam di balik jeruji kenistaan?!
Padahal syukur dan sabar ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Bahkan, keduanya merupakan bagian inti dari keimanan.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Iman terdiri dari dua bagian. Pertama sabar, dan yang kedua syukur." (Uddatush Shabirin, hlm. 93)
Betapa indahnya sebuah ungkapan, "Bersyukur di bawah rintik kesabaran."
Saudaraku...
Memang, seringkali manusia tak menyadari manakala dirinya berada dalam kenikmatan. Yang selalu bersemayam dalam jiwanya adalah kekurangan dan kesempitan.
Di sisi yang lain adalah panjangnya angan-angan. Terlebih bila selalu menatap gemerlapnya dunia dan keadaan orang yang lebih berkecukupan. Jiwanya seakan meronta, "Sampai kapan aku hidup dalam penderitaan?"
Itulah manusia, tak banyak dari mereka yang pandai bersyukur kepada Allah Dzat Yang Mahakaya lagi Maharahman. Allah berfirman,
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
"Dan sedikit sekali di antara para hamba-Ku yang pandai bersyukur." (Saba': 34)
Padahal dengan bersyukur itulah kenikmatan yang tercurah akan semakin ditambah oleh Ar-Rahman. Kenikmatan di atas kenikmatan. Allah berfirman,
لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Sungguh jika kalian bersyukur niscaya Aku akan tambahkan (nikmat-Ku) kepada kalian. Namun jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sungguh azab-Ku amat dahsyat." (Ibrahim: 7)
Semoga untaian kata ini tersemat sebagai nasehat yang menyejukkan. Menjadi pengingat dalam kelalaian dan pelita dalam kegelapan. Sekaligus sebagai pendongkrak bagi kualitas syukur dan sabar kita di hari-hari penuh ujian.
اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
"Ya Allah bantulah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah yang terbaik kepada-Mu."
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
📝 20 Ramadhan 1441 H / 13 Mei 2020 M | Muhibbukum fillah Ruwaifi' bin Sulaimi
Sumber: https://www.tanggapcovid19.com/bersyukur-di-bawah-rintik-kesabaran/
••••
📶 https://bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
🚇 BERSYUKUR DI BAWAH RINTIK KESABARAN
Betapa sedihnya kita manakala tergolong hamba yang kurang bersyukur dan minim kesabaran?! Sampai kapankah kita rela mendekam di balik jeruji kenistaan?!
Padahal syukur dan sabar ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Bahkan, keduanya merupakan bagian inti dari keimanan.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Iman terdiri dari dua bagian. Pertama sabar, dan yang kedua syukur." (Uddatush Shabirin, hlm. 93)
Betapa indahnya sebuah ungkapan, "Bersyukur di bawah rintik kesabaran."
Saudaraku...
Memang, seringkali manusia tak menyadari manakala dirinya berada dalam kenikmatan. Yang selalu bersemayam dalam jiwanya adalah kekurangan dan kesempitan.
Di sisi yang lain adalah panjangnya angan-angan. Terlebih bila selalu menatap gemerlapnya dunia dan keadaan orang yang lebih berkecukupan. Jiwanya seakan meronta, "Sampai kapan aku hidup dalam penderitaan?"
Itulah manusia, tak banyak dari mereka yang pandai bersyukur kepada Allah Dzat Yang Mahakaya lagi Maharahman. Allah berfirman,
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
"Dan sedikit sekali di antara para hamba-Ku yang pandai bersyukur." (Saba': 34)
Padahal dengan bersyukur itulah kenikmatan yang tercurah akan semakin ditambah oleh Ar-Rahman. Kenikmatan di atas kenikmatan. Allah berfirman,
لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Sungguh jika kalian bersyukur niscaya Aku akan tambahkan (nikmat-Ku) kepada kalian. Namun jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sungguh azab-Ku amat dahsyat." (Ibrahim: 7)
Semoga untaian kata ini tersemat sebagai nasehat yang menyejukkan. Menjadi pengingat dalam kelalaian dan pelita dalam kegelapan. Sekaligus sebagai pendongkrak bagi kualitas syukur dan sabar kita di hari-hari penuh ujian.
اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
"Ya Allah bantulah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah yang terbaik kepada-Mu."
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
📝 20 Ramadhan 1441 H / 13 Mei 2020 M | Muhibbukum fillah Ruwaifi' bin Sulaimi
Sumber: https://www.tanggapcovid19.com/bersyukur-di-bawah-rintik-kesabaran/
••••
📶 https://bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
::
📬 BERAT SAMA DIPIKUL, RINGAN SAMA DIJINJING
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه. أما بعد:
Perjalanan hidup anak manusia tak dapat dipisahkan dari suka dan duka. Terkadang datang masa suka dan terkadang datang masa duka. Keduanya datang silih berganti, sambung menyambung menjadi satu.
Itulah kehidupan dunia.
◽️Liku-likunya berkelok tajam.
◽️Lintasannya penuh aral dan rintangan.
◽️Godaan syubhat dan rayuan syahwatnya amat dahsyat.
Tak ada seorang anak manusia pun yang kuat menghadapi pahit getir dan pernak-perniknya sendirian.
Duhai betapa beratnya!? Kalaulah bukan karena pertolongan Allah, kemudian kebaikan dan bantuan dari saudara seiman, sulit rasanya untuk bisa bertahan di atas norma-norma yang luhur. Bertutur kata yang mulia, bersikap dengan bijak, dan berprilaku santun.
Tak heran, bila Allah Subhanahu Wata'ala memerintahkan para hamba-Nya untuk saling tolong-menolong di atas kebajikan dan ketakwaan. Saling menopang dan menguatkan. Agar kehidupan yang berat itu terasa lebih ringan.
Lebih dari itu, terbimbing di atas kebajikan dan ketakwaan yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Sebaliknya, kehidupan yang berat itu akan terasa semakin berat dan hampa dari barakah, manakala diwarnai oleh sikap tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan.
Allah Subhanahu Wata'ala berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ َتَعَاوَنُوا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
"Saling tolong-menolonglah kalian di atas kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian saling tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan." (Al-Maidah: 2)
Bersyukurlah orang-orang yang hidup di lingkungan yang baik. Saling tolong-menolong di atas kebajikan dan ketakwaan. Problem kehidupan yang berat insyaAllah dapat teratasi dengan kebersamaan yang terpuji.
Betapa nikmatnya bila masing-masing dapat menjaga diri dari dosa dan permusuhan. Karena dosa dan permusuhan dapat merusak persaudaraan dan kebersamaan. Dengan dosa dan permusuhan akan terkikis bahkan sirna berbagai kenikmatan yang telah lama dirasakan.
Terkhusus di masa pandemi Covid-19 yang sedang melanda ini. Saat-saat yang dibutuhkan padanya sikap empati dan peduli. Kondisi darurat untuk kita saling tolong-menolong di atas kebajikan dan ketakwaan, jauh dari sikap tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing..
Semua itu akan dimudahkan dan mendapatkan taufik dari Allah, manakala qalbu dan amalan kita bercahayakan ilmu. Cinta kepada ilmu, majelis ilmu, lingkungan ilmu, dan orang-orang yang berilmu.
Dengan ilmu, seseorang akan terbimbing menuju hidayah dan istiqamah. Kehadirannya di majelis ilmu menjadi tabungan kebaikan yang sangat berharga. Kehidupannya di tengah-tengah lingkungan ilmu akan menjadi benteng bagi keistiqamahan diri dan keluarganya. Kedekatan dan ihtiramnya kepada orang-orang yang berilmu menjadi pangkal kebaikan hidupnya.
Betapa indahnya ungkapan hikmah yang pernah disampaikan oleh Aun bin Abdillah rahimahullah di hadapan Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah,
إِنِ اسْتَطَعْتَ فَكُنْ عَالِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَكُنْ مُتَعَلِّمًا، وَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَأَحِبَّهُمْ، وَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَلَا تَبْغَضْهُمْ
"Jika engkau mampu, maka jadilah orang berilmu. Jika engkau tidak mampu (menjadi orang berilmu), maka jadilah penuntut ilmu. Jika engkau tidak mampu (menjadi penuntut ilmu), maka cintailah mereka. Jika engkau tidak mampu (mencintai mereka), maka janganlah membenci mereka." (Jami' Bayanil Ilmi Wafadhlihi, karya al-Imam Ibnu Abdil Bar no. 143)
Semoga Allah yang Maha Rahman senantiasa memberikan kemudahan kepada kita dalam mengarungi kehidupan dunia ini, mencurahkan segala berkah dan meneguhkan jiwa kita di atas keistiqamahan, selama hayat masih dikandung badan. Amiin, Yaa Mujiibas sailiin..
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
4 Dzul Qa'dah 1441H | Muhibbukum Fillah: Al-Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi hafizhahullah @tanggapcovid19
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
📬 BERAT SAMA DIPIKUL, RINGAN SAMA DIJINJING
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه. أما بعد:
Perjalanan hidup anak manusia tak dapat dipisahkan dari suka dan duka. Terkadang datang masa suka dan terkadang datang masa duka. Keduanya datang silih berganti, sambung menyambung menjadi satu.
Itulah kehidupan dunia.
◽️Liku-likunya berkelok tajam.
◽️Lintasannya penuh aral dan rintangan.
◽️Godaan syubhat dan rayuan syahwatnya amat dahsyat.
Tak ada seorang anak manusia pun yang kuat menghadapi pahit getir dan pernak-perniknya sendirian.
Duhai betapa beratnya!? Kalaulah bukan karena pertolongan Allah, kemudian kebaikan dan bantuan dari saudara seiman, sulit rasanya untuk bisa bertahan di atas norma-norma yang luhur. Bertutur kata yang mulia, bersikap dengan bijak, dan berprilaku santun.
Tak heran, bila Allah Subhanahu Wata'ala memerintahkan para hamba-Nya untuk saling tolong-menolong di atas kebajikan dan ketakwaan. Saling menopang dan menguatkan. Agar kehidupan yang berat itu terasa lebih ringan.
Lebih dari itu, terbimbing di atas kebajikan dan ketakwaan yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Sebaliknya, kehidupan yang berat itu akan terasa semakin berat dan hampa dari barakah, manakala diwarnai oleh sikap tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan.
Allah Subhanahu Wata'ala berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ َتَعَاوَنُوا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
"Saling tolong-menolonglah kalian di atas kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian saling tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan." (Al-Maidah: 2)
Bersyukurlah orang-orang yang hidup di lingkungan yang baik. Saling tolong-menolong di atas kebajikan dan ketakwaan. Problem kehidupan yang berat insyaAllah dapat teratasi dengan kebersamaan yang terpuji.
Betapa nikmatnya bila masing-masing dapat menjaga diri dari dosa dan permusuhan. Karena dosa dan permusuhan dapat merusak persaudaraan dan kebersamaan. Dengan dosa dan permusuhan akan terkikis bahkan sirna berbagai kenikmatan yang telah lama dirasakan.
Terkhusus di masa pandemi Covid-19 yang sedang melanda ini. Saat-saat yang dibutuhkan padanya sikap empati dan peduli. Kondisi darurat untuk kita saling tolong-menolong di atas kebajikan dan ketakwaan, jauh dari sikap tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing..
Semua itu akan dimudahkan dan mendapatkan taufik dari Allah, manakala qalbu dan amalan kita bercahayakan ilmu. Cinta kepada ilmu, majelis ilmu, lingkungan ilmu, dan orang-orang yang berilmu.
Dengan ilmu, seseorang akan terbimbing menuju hidayah dan istiqamah. Kehadirannya di majelis ilmu menjadi tabungan kebaikan yang sangat berharga. Kehidupannya di tengah-tengah lingkungan ilmu akan menjadi benteng bagi keistiqamahan diri dan keluarganya. Kedekatan dan ihtiramnya kepada orang-orang yang berilmu menjadi pangkal kebaikan hidupnya.
Betapa indahnya ungkapan hikmah yang pernah disampaikan oleh Aun bin Abdillah rahimahullah di hadapan Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah,
إِنِ اسْتَطَعْتَ فَكُنْ عَالِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَكُنْ مُتَعَلِّمًا، وَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَأَحِبَّهُمْ، وَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَلَا تَبْغَضْهُمْ
"Jika engkau mampu, maka jadilah orang berilmu. Jika engkau tidak mampu (menjadi orang berilmu), maka jadilah penuntut ilmu. Jika engkau tidak mampu (menjadi penuntut ilmu), maka cintailah mereka. Jika engkau tidak mampu (mencintai mereka), maka janganlah membenci mereka." (Jami' Bayanil Ilmi Wafadhlihi, karya al-Imam Ibnu Abdil Bar no. 143)
Semoga Allah yang Maha Rahman senantiasa memberikan kemudahan kepada kita dalam mengarungi kehidupan dunia ini, mencurahkan segala berkah dan meneguhkan jiwa kita di atas keistiqamahan, selama hayat masih dikandung badan. Amiin, Yaa Mujiibas sailiin..
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
4 Dzul Qa'dah 1441H | Muhibbukum Fillah: Al-Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi hafizhahullah @tanggapcovid19
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
Forwarded from SABILUL ANBIYA
🌠📚💐 SEMANGATLAH, SELAGI ADA KESEMPATAN BERTEMU ULAMA!
●●●●●●●●●●●●●●
✍🏼 Taushiyah al-Ustadz Abu Yahya al-Maedany rahimahullah,
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله و على آله و من ولاه، أما بعد:
Ayyuhal ikhwah,
Rihlah menuntut ilmu karena Allah akan meraih pahala.
Ingatlah!
Perjalanan kita tidak seberat mereka yang datang dari ujung sumatera atau Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Papua, Lombok, dll.
Biaya yang kita keluarkan tidak sebesar bekal mereka.
Tenaga yang kita kerahkan tidak melebihi kelelahan yang mereka rasakan.
Demikianlah mereka melakukan salah satu amalan salafus Shalih:
Rihlah demi menuntut ilmu.
❗Jika kamu memiliki uang, tenaga, dan kesempatan, lalu bermudah-mudahan meninggalkan amalan salaf ini, bisa jadi Allah cabut darimu rasa nikmat menghadiri majelis ilmu yang dekat!
Jika sudah demikian, jangan harap bisa istiqamah. Karena majelis ilmu wasilah penguat istiqamah. Sudah terbukti, jangan coba mempertanyakan lagi.
"Afwan, saya tidak punya waktu....saya bekerja.... saya harus begini begitu...."
Ingatlah, kita dicipta bukan untuk bekerja. Kita bekerja untuk mudah ibadah. Jangan sampai memiliki pekerjaan yang mengekang waktumu, sungguh itu azab, bukan nikmat.
Kamu bekerja untuk bebas beribadah kepada Allah di setiap waktu. Dan menuntut ilmu termasuk ibadah.
Nikmat bertemu ulama bukanlah hal yang ditemui di setiap hari. Bahkan belum tentu setahun sekali.
Saat ini ada peluang dan kesempatan, Jangan dilewatkan.
Belum tentu terjadi di tahun depan. Kondisi permusuhan terhadap dakwah sangatlah kuat dan semakin kuat dari waktu ke waktu -semoga Allah melemahkan kekuatan mereka-.
Masih ada waktu, tidak perlu menunggu, tekadkan niat untuk rihlah menuntut ilmu. Semoga Allah anugerahkan barokah padamu, melapangkan hatimu, meluaskan pandanganmu, dan mencurahkan barokah pada rezekimu.
Muhibbukum fillah.
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maedany rahimahullah
Semoga menjadi pendorong ikhwah semua.
➖➖➖➖➖
📝 Ambil Faedahnya Dan Amalkan
📥 https://t.me/sabilulanbiya
📲 Join • Save • Share ll
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
●●●●●●●●●●●●●●
✍🏼 Taushiyah al-Ustadz Abu Yahya al-Maedany rahimahullah,
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله و على آله و من ولاه، أما بعد:
Ayyuhal ikhwah,
Rihlah menuntut ilmu karena Allah akan meraih pahala.
Ingatlah!
Perjalanan kita tidak seberat mereka yang datang dari ujung sumatera atau Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Papua, Lombok, dll.
Biaya yang kita keluarkan tidak sebesar bekal mereka.
Tenaga yang kita kerahkan tidak melebihi kelelahan yang mereka rasakan.
Demikianlah mereka melakukan salah satu amalan salafus Shalih:
Rihlah demi menuntut ilmu.
❗Jika kamu memiliki uang, tenaga, dan kesempatan, lalu bermudah-mudahan meninggalkan amalan salaf ini, bisa jadi Allah cabut darimu rasa nikmat menghadiri majelis ilmu yang dekat!
Jika sudah demikian, jangan harap bisa istiqamah. Karena majelis ilmu wasilah penguat istiqamah. Sudah terbukti, jangan coba mempertanyakan lagi.
"Afwan, saya tidak punya waktu....saya bekerja.... saya harus begini begitu...."
Ingatlah, kita dicipta bukan untuk bekerja. Kita bekerja untuk mudah ibadah. Jangan sampai memiliki pekerjaan yang mengekang waktumu, sungguh itu azab, bukan nikmat.
Kamu bekerja untuk bebas beribadah kepada Allah di setiap waktu. Dan menuntut ilmu termasuk ibadah.
Nikmat bertemu ulama bukanlah hal yang ditemui di setiap hari. Bahkan belum tentu setahun sekali.
Saat ini ada peluang dan kesempatan, Jangan dilewatkan.
Belum tentu terjadi di tahun depan. Kondisi permusuhan terhadap dakwah sangatlah kuat dan semakin kuat dari waktu ke waktu -semoga Allah melemahkan kekuatan mereka-.
Masih ada waktu, tidak perlu menunggu, tekadkan niat untuk rihlah menuntut ilmu. Semoga Allah anugerahkan barokah padamu, melapangkan hatimu, meluaskan pandanganmu, dan mencurahkan barokah pada rezekimu.
Muhibbukum fillah.
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maedany rahimahullah
Semoga menjadi pendorong ikhwah semua.
➖➖➖➖➖
📝 Ambil Faedahnya Dan Amalkan
📥 https://t.me/sabilulanbiya
📲 Join • Save • Share ll
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Telegram
SABILUL ANBIYA
📜 Mengikuti Jalannya Para Nabi Dan Ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah
📂 قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ
🔄
--------------------
Pembimbing :
Al-Ustadz Muhammad Ali Mahdi hafizhahullah
📂 قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ
🔄
--------------------
Pembimbing :
Al-Ustadz Muhammad Ali Mahdi hafizhahullah
Forwarded from Manhajul Anbiya
🖊 MELAKSANAKAN IMBAUAN PEMERINTAH UNTUK MELAKSANAKAN QUNUT NAZILAH DAN SHALAT GHAIB TERKAIT PALESTINA
Pada tanggal 26 Rabiul Akhir 1445 H, kami telah mengirim kepada sejumlah Masyaikh pertanyaan berikut,
Semoga Allah memberi kebaikan kepada Anda,
Pemerintah kami mengimbau kaum muslimin untuk melakukan Qunut Nazilah terkait kejadian di Palestina dan melakukan shalat untuk pada korban meninggal. Apakah kami melaksanakan imbauan tersebut?
Para masyaikh tersebut menjawab sebagai berikut,
Syaikh Arafat, hafizhahullah menjawab:
"Doa (Qunut) iya (laksanakan). Adapun Shalat (menyalatkan para korban meninggalkan) maka tidak ada dalil untuk melakukannya. Namun, jika kalian khawatir terjadi fitnah (kejelekan), maka kerjakanlah shalat tersebut.
Syaikh Yahya An-Nahari, hafizhahullah menjawab : "Iya, laksanakanlah."
Syaikh Munir As-Sa'di, hafizhahullah menjawab : "Iya, patuhilah imbauan tersebut."
ASyaikh Sholah Kantusy, hafizhahullah menjawab: "Jika terdapat perintah dari pemerintah maka harus dilaksanakan dan berqunut. Jika pemerintah meminta untuk melaksanakan Qunut (Nazilah) maka laksanakanlah qunut. Adapun terkait menyalatkan para korban meninggal, maka yang saya ketahui Allahu a'lam, hal tersebut menyelisihi pendapat yang benar. Akan tetapi selama hal itu merupakan perintah dari pemerintah maka dilaksanakan sebagai bentuk ketaatan kepada pemerintah.
Yakni kalian melaksanakan shalat untuk para korban meninggal, yang itu merupakan Shalat Ghaib, sebagai bentuk pelaksanaan (terhadap imbauan pemerintah). Walaupun tentunya pendapat yang benar adalah Shalat Ghaib tidak disyariatkan kecuali dalam kondisi ketika tidak ada seorang pun yang menyalatinya. Namun selama itu merupakan perintah dari pemerintah maka laksanakanlah.
Semoga Allah memberkahi kalian."
Syaikh Fawwaz, hafizhahulalh menjawab : "Jika memang pemerintah kalian memerintahkan untuk berqunut atas kejadian di Palestina, maka wajib atas kalian untuk melaksanakan perintah tersebut. Ini termasuk bentuk ketaatan kepada pemerintah.
Semoga Allah memberkahi kalian."
Syaikh Abbas Al-Jaunah, hafizhahullah menjawab : "Iya, laksanakanlah."
Semoga Allah menjaga seluruh Masyaikh kami dan membalas mereka dengan kebaikan.
Ditulis oleh,
Muhibbukum Abu Amr Ahmad - Indonesia
Sabtu pagi, 27 Rabiul Akhir 1445 H
===============
📡 Kanal Resmi Salafiyyin Makassar
📟⏩ Join Telegram:
https://t.me/salafiyyinmakassar/1265
• Simpan • Sebar • Amalkan
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Pada tanggal 26 Rabiul Akhir 1445 H, kami telah mengirim kepada sejumlah Masyaikh pertanyaan berikut,
Semoga Allah memberi kebaikan kepada Anda,
Pemerintah kami mengimbau kaum muslimin untuk melakukan Qunut Nazilah terkait kejadian di Palestina dan melakukan shalat untuk pada korban meninggal. Apakah kami melaksanakan imbauan tersebut?
Para masyaikh tersebut menjawab sebagai berikut,
Syaikh Arafat, hafizhahullah menjawab:
"Doa (Qunut) iya (laksanakan). Adapun Shalat (menyalatkan para korban meninggalkan) maka tidak ada dalil untuk melakukannya. Namun, jika kalian khawatir terjadi fitnah (kejelekan), maka kerjakanlah shalat tersebut.
Syaikh Yahya An-Nahari, hafizhahullah menjawab : "Iya, laksanakanlah."
Syaikh Munir As-Sa'di, hafizhahullah menjawab : "Iya, patuhilah imbauan tersebut."
ASyaikh Sholah Kantusy, hafizhahullah menjawab: "Jika terdapat perintah dari pemerintah maka harus dilaksanakan dan berqunut. Jika pemerintah meminta untuk melaksanakan Qunut (Nazilah) maka laksanakanlah qunut. Adapun terkait menyalatkan para korban meninggal, maka yang saya ketahui Allahu a'lam, hal tersebut menyelisihi pendapat yang benar. Akan tetapi selama hal itu merupakan perintah dari pemerintah maka dilaksanakan sebagai bentuk ketaatan kepada pemerintah.
Yakni kalian melaksanakan shalat untuk para korban meninggal, yang itu merupakan Shalat Ghaib, sebagai bentuk pelaksanaan (terhadap imbauan pemerintah). Walaupun tentunya pendapat yang benar adalah Shalat Ghaib tidak disyariatkan kecuali dalam kondisi ketika tidak ada seorang pun yang menyalatinya. Namun selama itu merupakan perintah dari pemerintah maka laksanakanlah.
Semoga Allah memberkahi kalian."
Syaikh Fawwaz, hafizhahulalh menjawab : "Jika memang pemerintah kalian memerintahkan untuk berqunut atas kejadian di Palestina, maka wajib atas kalian untuk melaksanakan perintah tersebut. Ini termasuk bentuk ketaatan kepada pemerintah.
Semoga Allah memberkahi kalian."
Syaikh Abbas Al-Jaunah, hafizhahullah menjawab : "Iya, laksanakanlah."
Semoga Allah menjaga seluruh Masyaikh kami dan membalas mereka dengan kebaikan.
Ditulis oleh,
Muhibbukum Abu Amr Ahmad - Indonesia
Sabtu pagi, 27 Rabiul Akhir 1445 H
===============
📡 Kanal Resmi Salafiyyin Makassar
📟⏩ Join Telegram:
https://t.me/salafiyyinmakassar/1265
• Simpan • Sebar • Amalkan
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Telegram
SALAFY MAKASSAR
Bersama Ulama Kibar dalam Dakwah Ilallah
📍Pembina:
Al Ustadz Luqman Ba'abduh
Al Ustadz Ruwaifi' Lc
Al Ustadz Ahmad Alfian
حفظهم الله تعالى
Pengelola: Asatidzah Madrasah Ahlis Sunnah Makassar حفظهم الله تعالى
📍Pembina:
Al Ustadz Luqman Ba'abduh
Al Ustadz Ruwaifi' Lc
Al Ustadz Ahmad Alfian
حفظهم الله تعالى
Pengelola: Asatidzah Madrasah Ahlis Sunnah Makassar حفظهم الله تعالى