منتدى نشر الفـــــــوائد
7.61K subscribers
4.29K photos
256 videos
279 files
5.6K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
::
📬 MENSYUKURI KEMERDEKAAN ATAS BERKAT RAHMAT ALLAH

Kemerdekaan bagi sebuah bangsa adalah salah satu nikmat yang tak terkira. Terlepas dari penindasan dan kesewenang-wenangan. Bangsa Indonesia pun seharusnya bersyukur atas kemerdekaan itu.

Salah satu langkah benar wujud syukur itu dengan mengakui bahwa nikmat itu dari Allah. Kalau tidak karena Allah, kemerdekaan itu tidak akan terwujud.

Tanpa karunia dan rahmat Allah, sungguh kita semua termasuk orang-orang yang merugi.

...فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

... kalaulah tidak karena karunia Allah kepada kalian dan rahmat-Nya, sungguh kalian benar-benar termasuk orang yang merugi (Q.S al-Baqoroh ayat 64)

Dalam alinea ke-3 Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 dinyatakan: "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia adalah salah satu bagian sejarah. Jauh sebelum itu, Allah mengisahkan dalam al-Quran suatu bangsa yang awalnya terjajah, tertindas, kemudian Allah merdekakan mereka dengan rahmat-Nya. Itulah Bani Israil yang sebelumnya hidup menderita dalam jajahan dan penindasan Firaun.

Sungguh, kisah yang diabadikan dalam al-Quran itu, tentang penindasan Fir’aun terhadap Bani Israil, kemudian Allah memberi pertolongan karena kesabaran mereka, memberi pelajaran berharga bagi kita.

Allah mengisahkan dalam al-Quran, keadaan yang mengenaskan pada Bani Israil akibat kesewenang- wenangan Fira’un. Kehidupan Bani Israil penuh dengan siksaan. Bahkan anak laki-laki mereka pada periode tertentu disembelih. Sedangkan kaum wanita dibiarkan hidup, namun dipermalukan dan dihinakan:

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آَلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatan kalian dari pengikut Fir’aun yang menimpakan siksaan yang buruk kepada kalian, menyembelih putra-putra kalian dan membiarkan hidup para wanita kalian. Dan di dalam hal itu terdapat ujian yang besar dari Rabb kalian (QS al-Baqoroh ayat 49)

Allah mengutus Nabi Musa alaihissalam untuk membimbing mereka, bersabar, dan bertakwa kepada Allah:

قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Musa berkata kepada kaumnya: minta tolonglah kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini milik Allah. Dia akan mewariskannya kepada para hamba yang dikehendakiNya. (sesungguhnya) akhir akibat (yang baik) adalah untuk orang-orang yang bertakwa (QS al-A’raaf ayat 128)

Hingga Allah memberikan pertolongan mereka terlepas dari penindasan dan kesewenang-wenangan Firaun, dengan sebab kesabaran Bani Israil:

وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

Dan Kami wariskan kepada kaum yang tertindas itu, bumi bagian timur dan bagian baratnya yang telah Kami berkahi. Dan telah sempurnalah firman TuhanMu yang baik itu (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah mereka bangun (QS al-A’raaf ayat 137)

Allah anugerahkan peninggalan-peninggalan yang dimiliki Firaun itu kepada Bani Israil.

(Artinya) Betapa banyak taman-taman dan mata air-mata air yang mereka (Fir’aun dan pengikutnya) tinggalkan. Juga kebun-kebun serta tempat kediaman yang indah. Dan kesenangan-kesenangan yang dapat mereka nikmati di sana. Demikianlah, dan Kami wariskan (semua) itu kepada kaum yang lain (Bani Israil) (QS ad-Dukhaan ayat 25-28)

Terlepasnya Bani Israil dari penindasan, penjajahan, dan kesewenang-wenangan Fir’aun adalah salah satu dari sekian banyak nikmat Allah Ta’ala kepada mereka.
Allah ingatkan dengan nikmat-nikmat itu agar mereka bersyukur dengan bertakwa, taat, dan mentauhidkan Allah.

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ - وَآَمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآَيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ - وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ - وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

"Wahai Bani Israil, ingatlah nikmatKu kepada kalian. Penuhilah janji kalian terhadapKu niscaya Aku akan penuhi janjiKu kepada kalian. Dan semestinya hanya kepadaKulah kalian takut. Berimanlah kalian terhadap (al-Quran) yang telah Aku turunkan yang membenarkan (kitab Taurat) yang ada pada kalian. Janganlah kalian menjadi orang yang pertama kafir terhadapnya. Janganlah kalian menjual ayat-ayatKu dengan harga yang murah dan bertakwalah hanya kepadaKu. Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan janganlah kalian menyembunyikan kebenaran sedangkan kalian mengetahuinya. Dan tegakkanlah sholat dan tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku' " (QS al-Baqoroh ayat 40-43).

Sesungguhnya kemerdekaan yang kita dapatkan adalah dari Allah, sebagaimana Allah memerdekakan Bani Israil sebagai salah satu nikmat yang Allah ingatkan kepada mereka. Semestinya, sebagai bentuk syukur terhadap kemerdekaan itu, kita menjalankan sesuai bimbingan Allah dalam surat al-Baqoroh ayat 40-43 tersebut, yaitu:


1. Mentauhidkan Allah, tidak menyekutukanNya dengan suatu apapun, sebagaimana firman-Nya:

وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Dan seharusnya hanya kepadaKu kalian takut (QS al-Baqoroh ayat 40)

وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

Dan seharusnya hanya kepadaKu kalian bertakwa (QS al-Baqoroh ayat 41)

Mengisi kemerdekaan dengan mentauhidkan Allah, itulah syukur yang benar. Tapi mengisi kemerdekaan dengan menyekutukan Allah (kesyirikan), itu adalah bentuk kekufuran terhadap nikmat dari-Nya.


2. Berpegang teguh dengan aturan-aturan Allah dalam al-Quran dan hadits Nabi sebagai ajaran Islam:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ

Penuhilah janji kalian kepadaKu, niscaya Aku akan penuhi janjiKu kepada kalian (QS al-Baqoroh ayat 41)

Abul Aliyah rahimahullah –salah seorang tabi’i- menafsirkan makna penuhilah janji kalian kepadaKu adalah:

عَهْدُهُ إِلَى عِبَادِهِ: دِينُهُ الْإِسْلَامُ أَنْ يَتَّبِعُوهُ

Mereka berjanji untuk siap beribadah hanya kepada Allah, yaitu menjalankan agama Allah, Islam untuk diikuti (Tafsir Ibnu Katsir)


3. Beriman dan menjadikan al-Quran sebagai pedoman dalam kehidupan

وَآَمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ

Berimanlah kalian terhadap (al-Quran) yang telah Aku turunkan yang membenarkan (kitab Taurat) yang ada pada kalian (QS al-Baqoroh ayat 41)


4. Tidak mencampuradukkan al-haq dengan kebatilan.

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Janganlah kalian mencampuradukkan al-haq (kebenaran) dengan kebatilan, dan kalian sembunyikan kebenaran dalam keadaan kalian mengetahuinya (QS al-Baqoroh ayat 42)

Salah satu wujud syukur itu adalah mengajarkan ilmu Quran dan Sunnah dan mendakwahkan yang benar serta menjelaskan apa saja kebatilan itu. Jika seorang menjelaskan mana yang tauhid, mana yang syirik dengan bimbingan Ulama, itu bentuk syukur yang benar. Jika seorang menjelaskan mana yang sunnah, mana yang bid’ah, secara benar, itulah perwujudan syukur sesungguhnya. Jelaskan mana yang berupa ketaatan kepada Allah dan mana yang berupa kemaksiatan. Jangan dikaburkan. Jelaskan agar terang benderang, semoga Allah senantiasa merahmati kita.


5. Menjalankan amalan-amalan ketaatan

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan tegakkanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ (QS al-Baqoroh ayat 43)

Bersambung..
Bukanlah mengisi kemerdekaan itu dengan melakukan kemaksiatan. Salah satu bentuk kemaksiatan itu adalah nyanyian dan musik.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Dan di antara manusia ada yang membeli ‘lahwal hadiits’ untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya sebagai bahan ejekan. Bagi mereka adzab yang menghinakan (QS Luqman ayat 6)

Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud sampai bersumpah 3 kali bahwa yang dimaksud dengan ‘lahwal hadiits’ dalam ayat itu adalah nyanyian (Tafsir at-Thobary (20/127)). Penafsiran ‘lahwal hadiits’ sebagai nyanyian juga berasal dari Aisyah dan Abu Umamah.

Jual beli nyanyian dan pemasukan (penghasilan) dari nyanyian adalah haram, berdasarkan hadits:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْمُغَنِّيَاتِ وَعَنْ شِرَائِهِنَّ وَعَنْ كَسْبِهِنَّ وَعَنْ أَكْلِ أَثْمَانِهِنَّ

Rasulullah ﷺ melarang dari membeli wanita penyanyi, menjualnya, penghasilannya, dan dari memakan harganya (HR Ibnu Majah dari Abu Umamah)

Demikian juga alat-alat musik, dalam hadits dinyatakan:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

Sungguh-sungguh akan ada kaum-kaum dari umatku yang menghalalkan zina, sutra (untuk laki-laki), khamr, dan alat-alat musik (HR al-Bukhari secara ta’liq)

Sahabat Nabi Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:

الدُّفُّ حَرَامٌ وَالْمَعَازِفُ حَرَامٌ وَالْكُوبَةُ حَرَامٌ وَالْمِزْمَارُ حَرَامٌ

Rebana adalah haram, ma’aazif (alat musik) adalah haram, Kuubah (gendang kecil) adalah haram, dan seruling haram (HR al-Baihaqy dalam as-Sunan al-Kubra no 21529, disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Mathoolibul ‘Aaliyah no 2247)

Di dalam sebuah hadits dinyatakan:

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَتَى ذَاكَ قَالَ إِذَا ظَهَرَتْ الْقَيْنَاتُ وَالْمَعَازِفُ وَشُرِبَتْ الْخُمُورُ

Dari Imron bin Hushain –semoga Allah meridhainya- bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: Pada umat ini akan ada yang mengalami adzab (dari Allah) berupa ditenggelamkan ke dalam tanah, diubah wujud fisiknya, dan dilempari dengan bebatuan dari atas. Seorang laki-laki muslim berkata: Wahai Rasulullah, kapankah itu akan terjadi? Nabi bersabda: Jika sudah tersebar para penyanyi, alat-alat musik, dan khamr banyak diminum (HR atTirmidzi, dishahihkan Syaikh al-Albaniy dalam Silsilah as-Shahih)

Mari simak pula hadits berikut ini:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا اسْتَحَلَّتْ أُمَّتِي خَمْسًا فَعَلَيْهِمُ الدَّمَارُ، إِذَا ظَهَرَ التَّلَاعُنُ، وَشَرِبُوا الْخُمُورَ، وَلَبِسُوا الْحَرِيرَ، وَاتَّخِذُوا الْقِيَانَ، وَاكْتَفَى الرِّجَالُ بِالرِّجَالِ، وَالنِّسَاءُ بِالنِّسَاءِ

Dari Anas (bin Malik) –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: Jika umatku telah menghalalkan 5 hal, mereka akan mendapat kebinasaan. Yaitu, jika sikap saling melaknat (dan mencela) telah nampak (dan tersebar), mereka meminum khamr, (para lelaki) memakai sutera, dan mereka menikmati (nyanyian) para penyanyi, serta kaum lelaki merasa cukup dengan lelaki dan kaum wanita merasa cukup dengan wanita (merebaknya LGBT, homoseksual dan lesbian, pent) (HR al-Baihaqiy dalam Syuabul Iman, dinyatakan hasan li ghoyrihi oleh Syaikh al-Albaniy)

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala melimpahkan rahmat, taufiq, pertolongan, dan ampunanNya kepada segenap kaum muslimin....

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA Al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Contoh Doa Untuk Pemerintah
📚 ALTERNATIF MENGIKUTI SILSILAH DURUS TA'SHILIYYAH MASYAIKH AHLUS-SUNNAH

🎙 Bagi antum yang hendak mengikuti Silsilah Durus Ta'shiliyah Minhajul Atsar, maka berikut ini alternatif cara menyimaknya:

1️⃣ Radio Minhajul Atsar

https://www.minhajulatsar.com/radio

2️⃣ Aplikasi Mixlr:

https://www.minhajulatsar.com/mixlr

3️⃣ Aplikasi Telegram:

Untuk peserta pria:

https://www.minhajulatsar.com/khususpria

Untuk peserta wanita/akhwat:

https://www.minhajulatsar.com/khususwanita

☝️ Demikian semoga bermanfaat.

🌺 Barakallahufikum

NB:

📝 Jadwal durus setiap Senin bersama Syaikh Fawwaz al-Madkhali hafizhahullah dan Selasa bersama Syaikh Yahya Nahari hafizhahullah pada pukul 20.30 WIB.

🏠 Disiarkan langsung dari Ma'had Minhajul Atsar Jember.
::
📬 HUKUM SEPUTAR NA'YU (MENGUMUMKAN BERITA KEMATIAN SESEORANG)

Bagian ke-1

 
Para pembaca yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah Subhanahu Wata’ala...
 
Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita kematian seseorang, bukankah demikian? Berita tersebut banyak tersebar di media-media sosial (medsos) atau pengumuman langsung menggunakan pengeras suara di masjid-masjid.
 
Tak bisa dipungkiri memang, di tengah-tengah pandemi covid-19 yang belum kunjung usai ini tak sedikit orang yang terpapar dan akhirnya meninggal, nasalullaha as salamah wal 'afiyah.
 
Dalam masalah mengumumkan berita kematian seseorang, agama Islam yang sempurna ini telah membimbing umatnya. Oleh karena itu bagaimana bimbingan Islam dalam masalah tersebut? Maka mari kita baca pembahasannya dalam rubrik kali ini.

 
DEFINISI NA’YU
 
Pembahasan pertama yang perlu dikatahui terlebih dahulu adalah tentang arti dari Na’yu (النعي).
 
Secara bahasa susunan huruf “nun”, “ain” dan huruf ilat “alif” (نعى) menunjukan makna menyebarkan sesuatu (Ibnu Faris dalam Mu’jamu Maqayisil Lughah hal. 1036).
 
Sedangkan secara istilah syar’i, na’yu mengandung beberapa makna sebagaimana yang disebutkan oleh beberapa ulama diantaranya:
 
Al Imam At Tirmidzi menyebutkan: “An Na’yu menurut para ahlul ilmi adalah mengumumkan kepada manusia tentang kematian seseorang agar ditunaikan pengurusan jenazahnya." (Jami’ at Tirmidzi hal. 239)
 
Sedangkan Al Qalyubi dalam Hasyiyahnya (1/345) menyebutkan tentang makna na’yu yaitu: mengumumkan kematian seseorang sambil menyebutkan kebaikan-kebaikannya dan membangga-banggakannya.
 
Sehingga makna na’yu bisa jadi hanya sekedar mengumumkan kematian seseorang dan bisa juga bermakna mengumumkan kematian sembari diiringi pujian dan sanjungan dalam rangka membangga-banggakannya.


HUKUM NA’YU
 
Adapun hukum na’yu maka para ulama berselisih pendapat, ada yang membolehkan ada juga yang melarang.
 
Kata Al 'Allamah Muhammad Ali Adam Al Ityubi rahimahullah dalam Al Bahrul Muhith Ats Tsajjaj (18/435),

An Na’yu terbagi menjadi dua macam:
 
⬜️ YANG PERTAMA: NA’YU YANG DIHARAMKAN.

Yakni yang tidak ada tujuan syar’i. Seperti na’yunya kaum jahiliah dimana mereka ketika mengumumkan kematian seseorang diiringi penyebutan kebaikan-kebaikan si mayit, membangga-banggakannya sambil menampakkan perasaan sedih dan merasa kehilangaan dengan kematiannya. Na’yu jenis ini termasuk na'yu yang diharamkan dalam hadits Nabi ﷺ.
 
⬜️ ADAPUN YANG KEDUA: NA’YU YANG ADA TUJUAN SYAR’I.

Seperti untuk memperbanyak orang yang hadir menshalatinya agar mendoakannya di dalam sholat tersebut sehingga bisa tercapai jumlah yang dijanjikan bisa memberi syafa’at kepada si mayit. Demikian juga untuk tujuan menunaikan kepengurusan jenazahnya mulai dari memandikan, mengkafani, dan mengantarkannya sampai ke pemakaman. 
 

Dalil Bagi Yang Berpendapat Tidak Diperbolehkannya Na’yu
 
Perlu diketahui bahwa disana ada sebagian ulama salaf yang berpendapat bahwasanya na’yu itu tidak diperbolehkan sama sekali. Diantara dalilnya adalah:
 
Hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu beliau berkata:
 
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَنْهَى عَنِ النَّعْيِ وَ قَالَ إِيَاكُمْ وَ النَّعْيَ فَإِنَّهُ مِنْ عَمَلِ الجَاهِلِيَةِ
 
Bahwasanya Rasulullah ﷺ melarang dari na’yu (mengumumkan kematian seseorang). Maka Ibnu Mas’ud berkata: “Janganlah kalian mengumumkan kematian karena itu termasuk amalan jahiliyah.” (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Beliau tidak sendirian dalam pendapatnya tersebut. Bahkan terdapat atsar dari Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu anhu:
 
أَنَّهُ كَانَ إِذَا مَاتَ لَهُ مَيِّتٌ قَالَ: «لَا تُؤَذِنُوا بِهِ أَحَدًا، إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَكُوْنَ نَعْيًا،  إِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ يَنْهَى عَنْ النَعْيِ»
 
Dahulu apabila ada seseorang yang meninggal beliau berkata: “Janganlah kalian beritahu kepada seorangpun, karena sesungguhnya aku khawatir itu termsuk na’yu (jahiliyah) yang mana aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ melarang dari na’yu.” (HR. Ahmad dalam musnadnya (38/443), At Tirmidzi dalam Sunannya 1/503 dan beliau berkata: hadits hasan shahih, serta Ibnu Majah dalam Sunannya (1/474), hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Ahkamul Janaiz hal. 31)
 
Atsar Hudzaifah ini juga dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (3/117). Sebelumnya beliau berkata: "Terkadang didapati sebagian ulama salaf melarang keras perbuatan ini (yakni na’yu)." Lalu beliau  membawakan atsar Hudzaifah di atas.
 
Di antara ulama lain yang memegangi pendapat ini sebagaimana yang disebutkan oleh al Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra (4/74), beliau berkata: "Yang meriwayatkan tentang pelarangan na’yu adalah hadits dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, dan Abu Sa’id. Kemudian dari kalangan para tabi’in adalah 'Alqomah, Ibnul Musayyib, Rabi’ bin Khaitsam, dan Ibrahim An Nakha’i."
 
Adapun di antara ulama pada zaman kita sekarang ini yang memegangi pendapat tersebut adalah Asy Syaikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali hafidzahullah. Ketika ditanya oleh Syaikh Kholid bin Dzahwi Adz Dzafiri (penanggung jawab situs resmi Syaikh Rabi Al Madkhali), disebutkan:
 
Aku pernah bertanya kepada guru kami Syaikh Rabi’ -semoga Allah senantiasa menjaganya- tentang hukum mengumumkan berita kematian seseorang di forum-forum, apakah hal tersebut masuk dalam perbuatan na’yu yang dilarang?
 
Maka Syaikh Rabi menjawab: “Ya, hal tersebut termasuk kategori na’yu (yang dilarang).”
 
Aku (Syaikh Khalid ) katakan: “Kalau begitu berarti lebih baik ditinggalkan?”
 
Kata Syaikh Rabi’: “Bahkan wajib untuk meninggalkan perbutan tersebut”.
 
Semoga Allah memberikan taufik kepadamau
 

Dalil-dalil Bagi yang Berpendapat Bolehnya Mengumumkan Berita Kematian
 
Banyak hadits yang menunjukan bahwasanya Rasulullah ﷺ mengumumkan berita kematian seseorang untuk tujuan syar’i diantaranya:
 
Hadits dari Abu Hurairah tentang kisah meninggalnya Najasyi:
 
أَنَّ النَبِيَّ ﷺ نَعَى إِلَى الصَحَابَةِ النَجَشِيَ فِيْ الْيَوْمِ الذِّيْ مَاتَ فِيْهِ
 
Bahwasanya Nabi ﷺ mengumumkan kepada para shahabat tentang kematian Najasyi pada hari kematiannya.
 
Rasulullah ﷺbersabda:
 
صَلُّوا عَلَى أَخِيْكُمْ أَصْحَمَةَ فَإِنَّهُ قَدْ مَاتَ
 
“Shalatilah saudara kalian Ashamah (nama dari Najasyi) karena sesungguhnya dia telah meninggal.”
 
Maka para sahabat menshalatinya dengan empat kali takbir, yakni dengan sholat ghaib (HR. Al Bukhari 1333 dan Muslim 951)
 
Kemudian hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu tentang kisah seorang perempuan hitam yang biasa menyapu masjid Nabi. Suatu ketika Rasulullah ﷺ tidak menjumpainya maka beliau pun menanyakan perihal perempuan tersebut kepada para sahabat.
 
Para sahabat pun menjawab bahwasanya dia sudah meninggal.
 
Lantas Rasulullah ﷺ bersabda:
 
أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُوْنِيْ
 
“Tidakkah kalian tidak memberitahukan kepadaku."
 
Seakan-akan para sahabat meremehkan perempuan tersebut. Kemudian beliau meminta untuk ditunjukkan kuburannya lalu menshalatinya di kuburan tersebut. Dan beliau bersabda:
 
“Sesungguhnya kuburan ini sesak dan gelap bagi para penghuninya, dan Allah menyinarinya dengan shalatku padanya.” (HR. Al Bukhari 458 dan Muslim 956)
 
Juga hadits Anas bin Malik tentang kematian beberapa panglima perang dalam pertempuran Mu’tah:
 
أَنَّ النَّبِيَ ﷺ نَعَى زَيْدًا وَ جَعْفَرًا وَ ابْنُ رَوَاحَةَ لِلنَّاسِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَهُمْ خَبَرُهُمْ

Bahwasannya Rasulullah ﷺ mengumumkan kematian Zaid bin Haritsah, Ja’far, dan Abdullah bin Rawahah  kepada para sahabat sebelum datangnya berita tentang hal itu.
 
(Ketika itu beliau sedang berkhutbah di atas mimbar), beliau pun bersabda:
 
“Bendera tersebut diambil oleh Zaid, lalu dia terbunuh, kemudian bendera tersebut diambil oleh Ja’far, lalu dia terbunuh, kemudian selanjutnya bendera itu diambil oleh Abdullah bin Rawahah lalu dia pun terbunuh.”

Sedangkan kedua mata Rasulullah ﷺ meneteskan air mata.
 
 
(Kemudian beliau melanjutkan): "Kemudian bendera tersebut dipegang oleh salah satu pedang dari pedang Allah (Khalid bin al Walid) sampai Allah memberi kemenagan kepada mereka." (HR. Al Bukhari 3757)
 
Juga kisah pidato Abu Bakar Ash Shiddiq ketika Rasulullah ﷺ meninggal dunia, beliau berkata:
 
أَمَّا بَعْدُ  فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ وَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ يَعْبُدُ اللهَ فَإِنَّ اللهَ حَّيٌ لَا يَمُوْتُ
 
"Amma ba’du (adapun setelah itu), barangsiapa diantara kalian yang menyembah Muhammad ﷺ maka sesungguhnya dia telah meninggal dunia, dan barang siapa menyembah Allah maka sesungguhnya Allah Maha hidup dan tidak mati." (HR. Al Bukhari no. 4454)
 
Juga sebuah atsar dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa beliau suatu ketika melihat perkumpulan majelis, kemudian beliau berkata:
 
إِنَّ أَخَاكُمْ قَدْ مَاتَ فَاشْهِدُوا جَنَازَتَهُ
 
"Salah satu saudara kalian telah meninggal dunia maka datanglah untuk menunaikan hak jenazahnya." (H.R Ibnu Abdil Bar dalam Al Istidzkar 3/26)
 
Hadits-hadits dan atsar di atas menunjukan bolehnya mengumumkan berita kematian seseorang.
 

NA’YU HUKUMNYA BISA MENJADI MUSTAHAB
 
Na'yu bahkan terkadang hukumnya menjadi mustahab (dianjurkan) dan tidak hanya sekedar mubah (jaiz), sebagaimana kata Al Imam An Nawawi:
 
“Berdasarkan hadits-hadits shahih yang sudah kami sebutkan di atas disimpulkan bahwa mengumumkan kematian seseorang bagi yang belum mengetahuinya bukanlah hal yang dimakruhkan.
 
Bahkan jika maksud dari pemberitahuan tersebut adalah untuk memperbanyak orang yang menshalatinya maka hukumnya menjadi mustahab (sunnah).
 
Hanya saja yang dimakruhkan adalah ketika pengumuman tersebut diiringi dengan penyebutan kebaikan-kebaikannya secara berlebihan. Demikian juga sambil berkeliling kampung menyebarkan kebaikannya. Yang demikian ini menyerupai na’yunya kaum jahiliah.
 
(Al Majmu’ Syarhul Muhadzab 5/215-216)
 

SYARAT NA’YU YANG DIPERBOLEHKAN
 
Yang perlu diperhatikan adalah disana ada beberapa ketentuan tentang na’yu yang diperbolehkan. Sebagaimana yang disebutkan oleh Al Imam An Nawawi di dalam Syarah Shahih Muslim (7/21) ketika mensyarah hadits  tentang kematian Najasyi. Beliau berkata:
 
“Pada hadits ini terdapat anjuran untuk mengumumkan berita kematian seseorang, akan tetapi bukan dengan cara-cara kaum jahiliah. (Maka ketentuan na’yu diperbolehkan adalah dengan tujuan):
 
1. Hanya sekedar mengumumkan untuk menyolatinya dan mengurus jenazahnya
 
2. Memberi semangat dan meneguhkan hati keluarganya
 
3. Agar segera tertunaikan tanggungan-tanggungan si mayit (berupa utang dan yang semisalnya)
 
4. Tidak diiringi dengan penyebutan kemuliannya dan yang semisalnya dari pujian yang berlebihan.
 
Oleh karena itu ketika ada seseorang yang meninggal terkhusus dari orang yang memiliki keutamaan dan kemuliaan maka tidak perlu diiringi penyebutan kemuliaan-kemuliannya dalam pengumumannya.
 
Seperti ucapan sebagian orang ketika mengumumkan seorang alim yang meninggal, "telah meninggal alim fulan yang sudah memiliki andil besar dalam dakwah", "telah meninggal seorang alim yang menolong sunnah” atau kalimat yang semakna dengan ini.
 
Cukup dalam penyampaian kabar kematian adalah dimaksudkan agar orang datang menshalatinya dan menunaikan pengurusan jenazahnya.
 
Wallahu a'lam bishowab
 
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️

🖋️ Abu Abdil Karim Ubaidullah hafizhahullah | Grup WA Al I'tishom

Situs web resmi:
https://itishom.org/

Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 BOLEHKAH BERWUDHU’ DENGAN MENGGUNAKAN AIR KELAPA ATAU CAIRAN LAIN SELAIN AIR?


Tidak boleh bersuci dengan air kelapa atau cairan lain selain air mutlak.

Bersuci (berwudhu’ ataupun mandi) untuk menghilangkan hadats hanyalah boleh dengan menggunakan air yang suci. Tidak bisa dengan cairan lain apapun.

Ibnul Mundzir menukil ijma’ (kesepakatan Ulama) akan hal itu dalam kitab al-Ijma’ dan dinukil oleh Ibnu Qudamah dalam al-Mughni.

Ibnu Hubairah rahimahullah menyatakan:

وَاتَّفَقُوْا عَلَى أَنَّ الْحَدَثَ لَا يَرْفَعُهُ عَلَى الْإِطْلَاقِ إِلَّا الْمَاء

"Dan mereka (para Ulama) sepakat bahwasanya hadats tidaklah bisa dihilangkan secara mutlak kecuali dengan air". (Ikhtilaaful Aimmatil Ulamaa’ (1/30)).

(dikutip dengan penyesuaian dari buku "Fiqh Bersuci dan Sholat"-edisi revisi, Abu Utsman Kharisman)
WA al I'tishom

Situs Web:
itishom.org

Telegram :
https://t.me/alitishombissunnah/

Siaran Radio Kajian Ba'da Maghrib:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 HIKMAH NABI ﷺ MENYEBUT NAMA MALAIKAT JIBRIL, MIKAIL DAN ISRAFIL DALAM DOA ISTIFTAH DAN HIKMAH PEMBERIAN TUGAS KEPADA MALAIKAT

Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah berkata,

"Para ulama berkata: Tiga malaikat yang Nabi ﷺ membaca doa istiftah di saat shalat malam dengan Rububiyah Allah Ta'ala terhadap mereka dimana Beliau mengucapkan:

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وإسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ، عَالِمَ الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بيْنَ عِبَادِكَ فِيما كَانُوا فيه يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِما اخْتُلِفَ فيه مِنَ الحَقِّ بإذْنِكَ، إنَّكَ تَهْدِي مَن تَشَاءُ إلى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ.

‘Ya Allah, rabb bagi Jibril, Mikail dan Israfil, pencipta langit dan bumi, yang mengetahui hal yang ghaib dan yang nampak, engkaulah yang menetapkan keputusan diantara para hamba dalam berbagai hal yang mereka perselisihkan, berilah aku petunjuk untuk mengetahui kebenaran dalam hal hal yang diperselisihkan dengan izin-Mu sesungguhnya engkau itu memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki untuk menuju jalan yang lurus’ [Hadits riwayat Imam Muslim no. 770 dari hadits 'Aisyah radiyallahu 'anha].


Para ulama berkata:

Sesungguhnya Nabiﷺ membaca doa istiftah dengan menyebut ketiga malaikat ini karena masing-masingnya bertugas dengan hal yang mengandung kehidupan.

◽️Malaikat Jibril bertugas dengan hal yang terkandung padanya kehidupan hati yaitu wahyu.

◽️Israfil bertugas dengan hal yang terkandung padanya kehidupan badan yaitu akhir kehidupan dengan ia meniup sangkakalanya.

◽️Mikail bertugas dengan hal yang terkandung padanya kehidupan bumi yaitu menurunkan hujan dan menumbuhkan tanaman.

Namun ini semua tidak berarti Allah 'Azza wa Jalla dzat yang lemah. Allah 'Azza wa Jalla jika berkehendak tinggal mengucapkan: Jadilah, maka jadilah segala hal.

Akan tetapi ini semua untuk menunjukkan kebijaksanaan dan kuatnya kekuasaan serta Ia 'Azza wa Jalla memiliki tentara-tentara yang hanya diketahui Allah 'Azza wa Jalla lalu Allah 'Azza wa Jalla memberitahukan kepada kita sesuai yang dikehendakinya."

🏡 Liqa' al Bab al Maftuh 96

🌎http://binothaimeen.net/content/3906

📱@ukhwh

وقالوا: إن هؤلاء الثلاثة هم الذين كان النبي صلى الله عليه وسلم يستفتح في صلاة الليل بربوبية الله تعالى لهم حيث يقول: (اللهم رب جبرائيل وميكائيل وإسرافيل فاطر السماوات والأرض عالم الغيب والشهادة أنت تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يختلفون، اهدني لما اختلف فيه من الحق بإذنك إنك تهدي من تشاء إلى صراط مستقيم) قالوا: إنما كان يستفتح بهؤلاء الثلاثة؛ لأن كل واحد موكل بما فيه الحياة، فجبريل موكل بما فيه حياة القلوب وهو الوحي، وإسرافيل موكل بما فيه حياة الأبدان الحياة النهائية وهي النفخ في الصور، وميكائيل موكل بما فيه حياة الأرض وهو القطر والنبات، وهذا لا يعني: أن الله عز وجل عاجز، الله عز وجل لو شاء لقال: كن فيكون في كل شيء، لكن هذا لإظهار الحكمة وإظهار قوة السلطان وأنه جل وعلا له جنود لا يعلمها إلا هو عز وجل ويعلمنا ما شاء منها 
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 ORANG YANG TIDAK PAHAM PERMASALAHAN JANGAN IKUT BERBICARA


قال الحافظ المزي رحمه الله:

لو سكت من لا يدري لاستراح وأراح ، وقل الخطأ وكثر الصواب

تهذيب الكمال: 326/2

Berkata Al-Hafidz Al Mizzy rahimahullah:

"Kalau saja orang yang tidak tahu (bisa) bersikap diam (tidak ikut berbicara), niscaya dia akan merasa nyaman dan membuat nyaman orang lain, serta akan sedikit terjadi kesalahan dan tersebar banyak kebenaran."
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
🎗️HIMBAUAN TA'AWUN PEMBEBASAN LAHAN UNTUK PEMBANGUNAN MASJID SALAFY KISARAN

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
أما بعد :

📚 Allah Ta'ala berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ

"Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam (berbuat) dosa dan permusuhan." (Surat Al-Maidah ayat 2)

💡Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Jika seseorang meninggal, seluruh amalannya akan terputus, kecuali tiga: sedekah yang terus mengalir pahalanya, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

'Amma Ba'du

Alhamdulillah 'Alakulli haal Da'wah Salafiyah di kota kisaran Dalam perjalanannya mengalami pasang surut, kita ta'lim numpang di masjid umum & dirumah-rumah ikhwan...Dan sampai saat ini kita belum memiliki Masjid Sendiri. Namun hal itu tidak menyurutkan tekad ikhwah Kisaran untuk terus selalu berusaha menegakkan Da'wah sunnah yang Mulia ini Biidznillahi ta'ala.

Alhamdulillah…
Dengan Mengharap Pertolongan ALLOH Ta'ala, Kami ikhwah kota kisaran telah bermusyawarah untuk membebaskan tanah yang lokasinya berada di kelurahan siumbut baru kecamatan kisaran timur, kabupaten Asahan. SUMUT.

Yang Mana tanah tersebut sangat kita butuhkan untuk pembangunan masjid serta kegiatan dakwah yang lainya.

Adapun luas tanah tersebut adalah ± 1965 M² (± 5 rante) yang Lebih kurang harganya Rp. 190.000.000,- (seratus sembilan puluh juta rupiah).


🤲 Selanjutnya dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala, kami menyampaikan kepada kaum muslimin untuk Sudi kiranya ikut andil dalam kebaikan ini, dengan menginfaqkan harta dan berta'awun dalam proses pembebasan lahan tersebut.

💡Marilah sama-sama kita mengingat keutamaan orang yang berinfaq untuk pembangunan masjid

📜 Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738)

📄juga dari sahabat Utsman bin Affan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ

“Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari no. 450 dan Muslim no. 533).

💪 Mari semangat beramal jariyah memanfaatkan kesempatan ini, kita ingat apa yang kita infaqkan itulah harta kita yang sebenarnya, dan Allah pasti akan menggantinya.

Allah Ta'ala berfirman :

وَمَاۤ أَنفَقۡتُم مِّن شَیۡءࣲ فَهُوَ یُخۡلِفُهُۥۖ وَهُوَ خَیۡرُ ٱلرَّ ٰ⁠زِقِینَ

"Dan apa-apa yang kalian infaqkan, maka Allah pasti akan menggantinya, dan Dialah (Allah) sebaik-baik Pemberi Rezeki" (Surat Saba’ ayat 39)

💰 Bagi Ikhwan yang ingin berta'awun bisa mengirimnya ke rekening Bendahara pembebasan lahan dibawah ini :

🏧 Nomor rekening :
63202300009850

A/n. Muhammad Iqbal Fajri

📮Bank Sumut Syariah
Kode bank : 117

Silahkan konfirmasi setelah transfer ke:

📲 WA/tlpn: +6281376546954
Al Akh Muhammad Iqbal Fajri

🤲 Atas perhatian dan bantuannya, kami sampaikan jazakumullah khairan wa barakallahu fiikum.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Kota kisaran, 21 Muharram 1443 H/ 30 Agustus 2021

🔖 Panitia pembebasan lahan pembangunan masjid salafy kota kisaran.

🖋️Mengetahui :

✔️Al Ustadz Lukman Hakim Al Maidany
✔️Al Ustadz Abdul Majid Al Maidany
✔️Al Ustadz Hasan Batahan
✔️Al Ustadz Ismail Al Maidany

Hafidzahumullah

Tanbih :
Mohon untuk tidak disebarkan di FB.

🔲🔲🔲🔲🔲🔲🔲