منتدى نشر الفـــــــوائد
7.61K subscribers
4.29K photos
256 videos
279 files
5.6K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
Terjemah_Muhadharah_Syaikh_Abdullah_binShalfiq_UstRuwaifi_25121442.pdf
1.6 MB
✍🏻📑 [ TERJEMAHAN ] Teleconference Fadhilah asy-Syaikh DR. Abdullah bin Shalfiq azh-Zhafiri hafizhahullah

🎙️ Muhadharah berjudul:

📝 وجوب التمسك بالسنة والحذر من الفتن

🚉 "KEWAJIBAN BERPEGANG KEPADA AS-SUNNAH dan WASPADA DARI FITNAH"

25 Dzulhijjah 1442 H (4 Agustus 2021 M) disiarkan LIVE dari Ma'had Minhajul Atsar Jember Indonesia

📥 Unduh
bit.ly/2Ubos7O

[ 1,7 MB ]


•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟 Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~
::
📬 BERBICARALAH SAAT DIBUTUHKAN DAN JANGAN BERBICARA KECUALI BERLANDASKAN ILMU


Sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu menyatakan:

مَنْ عَلِمَ عِلْمًا فَلْيَقُلْ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلْ اللَّهُ أَعْلَمُ مِنْ فِقْهِ الرَّجُلِ أَنْ يَقُولَ لِمَا لَا عِلْمَ لَهُ بِهِ اللَّهُ أَعْلَمُ

"Barang siapa yang mengetahui suatu ilmu, ucapkanlah berdasarkan ilmu itu. Barang siapa yang tidak mengetahui, ucapkanlah: Allahu A’lam (Allah yang lebih mengetahui). Termasuk kefahaman seseorang adalah ia berkata: Allahu A’lam terhadap hal yang tidak dia ketahui".(riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya)

Seseorang yang mengetahui tentang suatu ilmu dan dirasa akan bermanfaat pada orang lain, tidak menimbulkan fitnah atau mudharat, disampaikan di waktu dan kondisi yang tepat, hendaknya menyampaikan ilmu itu. Lenyap dan sirnanya ilmu adalah karena ilmu dibiarkan tersembunyi, tidak dinampakkan dan disebarluaskan.

Umar bin Abdil Aziz rahimahullah menyatakan:

وَلْتُفْشُوا الْعِلْمَ وَلْتَجْلِسُوا حَتَّى يُعَلَّمَ مَنْ لَا يَعْلَمُ فَإِنَّ الْعِلْمَ لَا يَهْلِكُ حَتَّى يَكُونَ سِرًّا

Hendaknya ilmu disebar. Duduklah kalian (di majelis ilmu) hingga diajari orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya ilmu tidaklah sirna hingga ia disembunyikan (dinukil oleh al-Bukhari dalam Shahihnya)

Apabila tepat waktunya untuk berbicara, berbicaralah. Jangan diam saat seharusnya anda berbicara. Berbicaralah dengan dilandasi ilmu dan ketakwaan kepada Allah Azza Wa Jalla.

Al-Ahnaf bin Qoys –seorang tabi’i- rahimahullah menyatakan:

اْلكَلاَمُ بِالْخَيْرِ أَفْضَلُ مِنَ السُّكُوْتِ وَالسُّكُوْتُ خَيْرٌ مِنَ اْلكَلاَمِ بِاللَّغْوِ وَاْلبَاطِلِ

Mengucapkan kalimat yang baik adalah lebih baik daripada diam, dan diam lebih baik daripada ucapan yang sia-sia dan batil (dinukil oleh Ibnu Abdil Bar dalam atTamhiid (17/447))

Thowus bin Kaisaan –seorang tabi’i- rahimahullah menyatakan:

مَنْ قَالَ وَاتَّقَى اللهَ خَيْرٌ مِمَّنْ صَمَتَ وَاتَّقَى اللهَ

Barang siapa yang berbicara dan bertakwa kepada Allah lebih baik dibandingkan orang yang diam dan bertakwa kepada Allah (riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’ (4/5)).

Ketika berbicara, seorang harus berlandaskan ilmu. Dalam kitab Majmu’ul Fataawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan beberapa kondisi yang tercela pada seseorang ketika ia berbicara. Di antaranya adalah:

1. Berbicara tanpa ilmu, sebagaimana disebutkan dalam surah al-Israa’ ayat 36 dan al-A’raaf ayat 33.

2. Menjelaskan sesuatu yang sudah benar-benar diketahui dan dipahami, kemudian dijelaskan lagi secara bertele-tele dan berlebihan (sebagaimana yang banyak didapati pada ilmu kalam dan filsafat, -pen) . Hal ini tercela sebagaimana dalam surah Shaad ayat 86.

3. Banyak berbicara tanpa faidah.

Allah Ta’ala memerintahkan agar kita berbicara dengan al-Qoul as-Sadiid (ucapan yang lurus: jujur; adil) dan al-Qoul al-Baligh (ucapan yang mengena; tepat sasaran) (disarikan dari Majmu’ul Fataawa (9/43)).

Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa memberikan taufiq kepada kita untuk berbicara berlandaskan ilmu di saat yang tepat dan dibutuhkan.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom

Situs Web: itishom.org
Telegram : @alitishombissunnah
Siaran Radio Kajian Ba'da Maghrib:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/ 
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 PANDANGAN AL-IMAM ASY-SYAFII DAN ULAMA SYAFIIYYAH TENTANG BERKUMPUL UNTUK MAKAN DI RUMAH DUKA


عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنْ النِّيَاحَةِ

Dari Jarir bin Abdillah al-Bajaliy –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Kami (para Sahabat Nabi) memandang berkumpulnya orang-orang pada keluarga mayit dan keluarga mayit membuatkan makanan untuk mereka setelah dikuburkan, adalah termasuk niyahah (meratap) [H.R Ahmad dan Ibnu Majah, dinyatakan sanadnya shahih oleh anNawawiy dalam al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab].

Perbuatan niyahah (meratap) adalah kebiasaan di masa Jahiliyyah yang hal itu termasuk dosa besar. Dalam hadits yang lain dinyatakan:

النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

Wanita yang melakukan ‘niyahah’ (meratap) jika tidak bertaubat sebelum meninggal, pada hari kiamat akan diberdirikan (di hadapan para makhluk) dengan memakai pakaian dari ter (cairan timah panas) dan pakaian kudis (H.R Muslim)

Al-Imam asy-Syafi’i dan para Ulama yang bermadzhab Syafi’iyyah -semoga Allah merahmati mereka- memandang berkumpulnya orang-orang di rumah duka bahkan makan-makan di sana adalah hal yang dibenci bahkan bid’ah yang harus dihindari. Berikut ini akan disampaikan kutipan ucapan mereka dalam kitab-kitab fiqh rujukan dalam madzhab al-Imam asy-Syafii.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan:

وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ فَإِنَّ ذَلِكَ يُجَدِّدُ الْحُزْنَ وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ

Dan saya membenci al-Ma’tam yaitu berkumpul (duduk-duduk dalam suasana duka) meskipun tidak ada tangisan. Karena hal itu akan memperbaharui perasaan sedih dan membebani pengeluaran (al-Umm (1/279))

Salah seorang Ulama bermadzhab Syafiiyyah, yaitu anNawawiy rahimahullah menyatakan:

قَالَ صَاحِبُ الشَّامِل وَأَمَّا إِصْلاَح ُأَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا وَجَمْعُهُمُ النَّاس عَلَيْه فَلَمْ يُنْقَلْ فِيْهِ شَىْءٌ قَالَ وَهُوَ بِدْعَةٌ غَيْرُ مُسْتَحَبَّةٍ وَهُوَ كَمَا قَالَ

Penulis kitab asy-Syamil berkata: Adapun keluarga mayit membuatkan makanan dan manusia berkumpul (untuk menyantap hidangan tersebut) tidaklah dinukil (riwayat apapun dari Nabi dan para Sahabat, pent). Itu adalah bid’ah yang tidak disukai. (anNawawiy berkata) benar, demikian seperti yang beliau nyatakan (Roudhotut Tholibin (2/145))

Dalam kitab Hasyiyah I’anatuth Tholibin, Abu Bakr ad-Dimyathiy rahimahullah menukil jawaban mufti di negeri al-Haram pada waktu itu:

مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنَ الْاِجْتِمَاعِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعِ الطَّعَامِ، مِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَى مَنْعِهَا وَالِي الْاَمْرِ

Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berkumpul di keluarga mayit dan dihidangkannya makanan adalah termasuk bid’ah yang munkar, yang jika pemimpin mencegahnya, ia akan mendapatkan pahala atas hal itu (Hasyiyah Ianatuth Tholibin (2/165)).

Bersambung..
Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitamiy –salah seorang Ulama Syafiiyyah, beliau wafat di tahun 974 H- menyatakan:

وَمَا اُعْتِيدَ مِنْ جَعْلِ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا لِيَدْعُوا النَّاسَ عَلَيْهِ بِدْعَةٌ مَكْرُوهَةٌ كَإِجَابَتِهِمْ لِذَلِكَ لِمَا صَحَّ عَنْ جَرِيرٍ كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصُنْعَهُمْ الطَّعَامَ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنْ النِّيَاحَةِ وَوَجْهُ عَدِّهِ مِنْ النِّيَاحَةِ مَا فِيهِ مِنْ شِدَّةِ الِاهْتِمَامِ بِأَمْرِ الْحُزْنِ وَمِنْ ثَمَّ كُرِهَ لِاجْتِمَاعِ أَهْلِ الْمَيِّتِ لِيُقْصَدُوا بِالْعَزَاءِ قَالَ الْأَئِمَّةُ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَنْصَرِفُوا فِي حَوَائِجِهِمْ فَمَنْ صَادَفَهُمْ عَزَّاهُم

Kebiasaan keluarga mayit membuatkan makanan kemudian mengundang orang-orang (menikmati hidangan itu) adalah bid’ah yang dibenci. Demikian juga menghadiri undangan itu. Karena telah shahih dari Jarir: Kami menganggap berkumpul menuju keluarga mayit dan mereka menghidangkan makanan setelah dimakamkannya (jenazah) adalah termasuk niyahah (meratap).

Diperhitungkannya hal itu termasuk meratap adalah karena (keluarga mayit tersebut sedang) dirundung kesedihan yang sangat. Atas dasar itu, berkumpul ke keluarga mayit dengan tujuan takziyah adalah dibenci. Para imam berkata: Justru semestinya masing-masing pergi menunaikan keperluan mereka. Barang siapa yang bertepatan bertemu, bisa menghibur (menguatkan hati) mereka (Tuhfatul Muhtaaj fi syarhil Minhaaj (11/440)).

Muhammad bin Ahmad al-Khothib asy-Syirbiiniy rahimahullah menyatakan:

أَمَّا إصْلَاحُ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا وَجَمْعُ النَّاسِ عَلَيْهِ فَبِدْعَةٌ غَيْرُ مُسْتَحَبٍّ

Keluarga mayit membuatkan makanan dan mengumpulkan manusia (untuk menyantap hidangan itu) adalah bid’ah, bukan hal yang dianjurkan (Mughniy al-Muhtaaj ilaa Ma’rifati Alfaadzhil Minhaaj (4/369)).

Sebenarnya yang disunnahkan adalah para tetangga dan kerabat memberikan makanan untuk keluarga yang berduka. Berdasarkan hadits:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اصْنَعُوا لِأَهْلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ

Dari Abdullah bin Ja’far radhiyallahu anhu beliau berkata: Ketika datang khabar kematian Ja’far, Nabi shollallaahu alaihi wasallam bersabda: Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far karena mereka tengah mengalami (kesedihan) yang menyibukkan mereka (H.R atTirmidzi, Ibnu Majah)

Namun, yang perlu dipahami adalah bahwa hidangan yang dikirim oleh para kerabat atau tetangga itu adalah untuk keluarga yang berduka. Bukan untuk dihidangkan lagi pada para pengunjung. Demikian yang dijelaskan oleh al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah:

قَالَ الشَّافِعِي فِي الْمُخْتَصَرِ وَأُحِبُّ لِقَرَابَةِ الْمَيِّتِ وَجِيْرَانِهِ أَنْ يَعْمَلُوْا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ طَعَامًا يُشْبِعُهُمْ فَإِنَّهُ سُنَّة

Asy-Syafi’i berkata dalam al-mukhtashar: Saya suka jika kerabat dan tetangga mayit membuatkan makanan untuk keluarga mayit yang mencukupinya (mengenyangkan mereka) dalam sehari semalam, karena itu adalah sunnah (al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab (5/319))

Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa melimpahkan taufiq, rahmat, dan ampunan-Nya kepada segenap kaum muslimin.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom

Situs Web:
itishom.org

Telegram :
@alitishombissunnah

Siaran Radio Kajian Ba'da Maghrib:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
🚇 BAGAIMANA CARA MELAKUKAN PUASA 'ASYURO (10 MUHARAM)? BOLEHKAH HANYA DILAKUKAN TANGGAL 10 SAJA? BAGAIMANA JIKA MASIH PUNYA HUTANG PUASA RAMADHAN?

🔬 Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Usamah Mahri -hafizhahullah-

📅 Dauroh "Menjaga Kehormatan Bulan Muharram" | Ahad, 1 Muharram 1438 H/ 2 Oktober 2016 di Masjid Al-Anshar, Sleman ~ DIY.

Durasi 08:21 (2,09 MB)
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Forwarded from Manhajul Anbiya
KABAR GEMBIRA

🎙️Aku sampaikan kabar gembira kepada Anda semua, bahwa guru kami Al-Imam Al-’Allamah Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali hafizhahullah dalam keadaan sangat baik walillah al-Hamd wa al-Minnah (segala puji dan karunia hanya milik Allah).

Saya telah berbicara dengan beliau pada hari ini: Ahad, 7 Muharram 1443 H.

🌷Aku sampaikan kepada beliau tentang beberapa perkara dakwah dan beliau pun sangat gembira dengan berita tersebut, diantaranya:

1. Terus berlanjutnya durus di Makkah, Jeddah, wilayah selatan Arab Saudi, dan daerah lainnya.
2. Sebagian pembahasan (karya) ilmiyah yang hampir selesai, diantaranya:
a. Irsyad ats-Tsiqat ila Kalam al-'Allamah Rabi' fi al-Firaq wa al-Jama'at.
b. Al-Jam'u al-Badi' li Syubuhat dahadhaha al-'Allamah Rabi'.
c. Al-Qaid li Kalam al-'Allamah Rabi' ala ba'dhi al-Qawaid.

Beliau berkata kepadaku: "Sampaikan salamku kepada keluarga, saudara-saudara, dan orang-orang kesayanganmu". Beliau pun mendoakan dengan doa yang baik nan menyejukkan dadaku.

🥀Lalu aku bertanya kepada beliau: "Apakah ada wasiat (untuk kami, pen)?".

🏵️ Beliau menjawab: "Aku wasiatkan kepada diriku dan dirimu untuk:
berpegang kepada ajaran Islam,
kokoh di atas Al-Quran & As-Sunnah sampai kita berjumpa dengan Allah di atas sikap tersebut".

Lalu aku sampaikan salam kepada beliau. Beliau pun membalas salamku: "Wa alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh".

🖼️ Semoga Allah menjaga guru kami (Al-Imam Al-'Allamah Rabi' bin Hadi 'Umair Al-Madkhali), semoga Allah memberikan manfaat dengan keberadaan beliau dan melimpahkan barakah pada ilmu, waktu, harta, keluarga beliau.

💐 Semoga Allah menutup untuk kita dan beliau, serta semua pihak yang kita hormati, dengan penutupan yang baik dan dengan keteguhan (tsabat) di atas Islam dan Sunnah.

✍🏻 Ahmad bin Yahya bin Khadhir Az-Zahrani.

بشـرى

أبشركم بأن شيخنا الإمام العلامة ربيع بن هادي عمير . -حفظه الله بخير وفي صحة جيدة ولله الحمد والمنة فقد كلمته اليوم الأحد ٧/١/١٤٤٣ هـ

وبشرته بعدة أمور فسر بها جدا، ومنها :
۱- استمرار الدروس في مكة وجدة والجنوب وغيرها.
٢- بعض الأبحاث العلمية التي أوشكت على الانتهاء منها مثل:
أ- إرشاد الثقات إلى كلام العلامة ربيع في الفرق والجماعات.
*ب- الجمع البديع لشبهات دحضها العلامة ربيع.**
*ت- القائد لكلام العلامة ربيع على بعض القواعد.**

ثم قال لي : سلم على أهلك وإخوانك وأحبابك. ودعا بدعوات طيبة أثلجت صدري.

فقلت له : هل من وصية ياشيخنا ؟

فقال : أوصي نفسي وإياك بالتمسك بالإسلام والثبات على الكتاب والسنة حتى نلقى الله على ذلك.

ثم سلمت عليه. فرد قائلا : وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.

حفظ الله شيخنا ونفع به وبارك في نفسه وعلمه ووقته وماله وأهله وختم لنا وله ولمن يعز علينا بالخاتمة الحسنة والثبات على الإسلام والسنة.

✍🏻 أحمد بن يحيى بن خضر الزهراني

••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟 Join Telegram https://telegram.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~
Forwarded from البركة مع أكابركم
::
📬 JANGAN MEMULAI MENGUCAPKAN SALAM KEPADA ORANG KAFIR

📖 KAJIAN KITABUL JAMI’ MIN BULUGHIL MARAM (bag 9)

📗BAB: ADAB

وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - - لَا تَبْدَؤُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى بِالسَّلَامِ, وَإِذَا لَقَيْتُمُوهُمْ فِي طَرِيقٍ, فَاضْطَرُّوهُمْ إِلَى أَضْيَقِهِ - أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Dan dari Abu Hurairah juga beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasalam bersabda: Janganlah kalian mendahului mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashara. Jika kalian bertemu dengan mereka di jalan, arahkan mereka menuju bagian yang sempit dari jalan itu (H.R Muslim)


💡Penjelasan:

Seorang muslim harus merasa bahwa agamanya adalah agama kemuliaan, bukan suatu hal yang hina atau rendah. Janganlah ia merasa minder dan kecil di hadapan pemeluk agama lain. Agama Islam adalah mulia dan tinggi.

Hadits ini berisi larangan dari Nabi untuk memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashara. Bagaimana dengan agama lain? Jawabannya adalah: Terlebih kepada agama lain, justru lebih terlarang lagi. Karena pada Yahudi dan Nashara ada sisi-sisi keringanan kita bermuamalah dengan mereka dibandingkan terhadap agama lain (disarikan dari Fathu Dzil Jalaali wal Ikram karya Syaikh Ibn Utsaimin (6/259)).

Adapun jika kita mengucapkan salam kepada sekelompok orang yang bercampur ada yang muslim dan ada yang kafir, hal itu tidak mengapa. Dengan meniatkan salamnya adalah untuk yang muslim saja. Sebagaimana hadits Usamah bin Zaid dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim bahwasanya Nabi yang sedang menaiki keledai mengucapkan salam ke suatu majelis yang di dalamnya berkumpul ada muslim, musyrik, penyembah berhala, dan Yahudi.

Bagaimana jika Ahlul Kitab (Yahudi atau Nashara) yang mulai mengucapkan salam kepada kita dengan mengatakan: Assalamualaikum? Nabi shollallahu alaihi wasallam memberikan bimbingan:

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ

Jika Ahlul Kitab mengucapkan salam kepada kalian, ucapkanlah: Wa alaikum (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

Apa makna sabda Nabi: “Jika kalian bertemu dengan mereka di jalan, arahkan mereka menuju bagian yang sempit dari jalan itu?”

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menukil perkataan al-Qurthubiy yang menyatakan: Maknanya adalah janganlah minggir untuk memuliakan atau menghormati mereka….Bukanlah maknanya jika kalian bertemu dengan mereka pepetlah mereka menuju pinggirnya hingga sempit area mereka. (Bukan demikian). Karena hal itu menyakiti mereka, sedangkan kita dilarang untuk menyakiti mereka tanpa sebab (Fathul Baari (11/40)).

Jadi, di dalam hadits ini terkandung larangan mengagungkan dan memuliakan orang-orang kafir dengan memulai mengucapkan salam kepada mereka dan tidak pula merendahkan diri dengan mempersilakan mereka menggunakan sisi yang luas sedangkan kita mengalah mengambil sisi yang sempit saat bertemu di jalan.

Wallaahu A’lam

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom

Situs Web:
itishom.org

Telegram :
https://t.me/alitishombissunnah/

Siaran Radio Kajian Ba'da Maghrib:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/ 
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
InsyaAllah Rabu dan Kamis..
بسم الله الرحمن الرحيم

Hari ini tanggal 8 Muharram.
Dua hari lagi hari 'Asyura' (tanggal 10 Muharram) yang disyariatkan utk berpuasa.

Terkait dengan keutamaan puasa 'Asyura' Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

صِيامُ يَومِ عاشُوراءَ، أحتسِبُ على اللهِ أن يكَفِّرَ السَّنةَ التي قَبْلَه  

Puasa 'Asyura', aku berharap kepada Allah dapat menghapus (dosa-dosa kecil) tahun yang lalu. (H.R. Muslim)

Yang afdhal puasa Asyura' diiringi dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.

Dan yang afdhal dari keduanya adalah diiringi dengan puasa sehari sebelumnya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

صُومُوا التَّاسِع وَالعَاشِر وَخَالِفُوا اليَهُود

Berpuasalah pada hari ke sembilan dan ke sepuluh (Muharram) dan selisihilah kaum Yahudi (H.R. Baihaqi)

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah,

فالأفضل أن يصوم يوم العاشر ويضيف إليه يوما قبله أو يوما بعده
وإضافة اليوم التاسع إليه أفضل من الحادي عشر

"Yang afdhal adalah berpuasa tanggal 10 (Muharram) dan ditambah dengan sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.

Menambahkan (puasa) tanggal 9 (Muharram) lebih afdhal dibandingkan tanggal 11 (Muharram) "
(Majmu'ul Fatawa, 20/34)

Semoga Allah memudahkan kita semua mengamalkan sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam.

https://t.me/ForumBerbagiFaidah/9507
::
📬 BERHATI-HATI DARI PERKARA YANG DIADA-ADAKAN OLEH SYIAH PADA HARI ASYURA


Menghidupkan kembali kedukaan dan ratapan tangis untuk musibah yang telah lama berlalu termasuk niyahah yang dilarang di dalam Islam. Adapun bagi kaum Syiah, hal ini dianggap sebuah ibadah.

Bagi umat Islam, hari Asyura adalah hari mereka berpuasa karena rasa syukur atas pertolongan Allah terhadap Nabi Musa dan kaumnya. Berbeda dengan kaum Syiah yang menganggap hari Asyura adalah hari dengan penuh sejarah kelam yaitu hari di saat terbunuhnya al-Husain bin Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhuma dengan penuh kezaliman pada 61 H. Mereka melakukan drama berkabung dengan menampilkan kaum laki-laki yang menyerupai wanita.

Di dalam Islam hal ini sangat dilarang. Larangan tersebut dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu:

لَعَنَ رَسُولُ الله الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang berpakaian seperti model pakaian wanita dan (melaknat) wanita yang berpakaian seperti lelaki". ¹

Bukan hanya itu, pada hari Asyura mereka juga menyuguhkan makanan yang sengaja dibuat tidak enak.

Tentu perkara yang mereka lakukan ini adalah perbuatan yang sia-sia dan bahkan terhatuh pada sekian keharaman. Perkara tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik ketika meninggal orang-orang besar di sisi beliau seperti Hamzah bin Abdil Muthalib radhiyallahu anhu atau yang lainnya.

Adapun istigasah yang mereka lakukan pada hari Asyura, dengan berdo’a kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, menganggap imam-imam mereka mengetahui perkara gaib, tanpa diragukan lagi bahwasanya hal itu adalah syirik besar berdasarkan ijma’ ulama.

Sungguh aneh yang mereka lakukan ini. Begitu berkabungnya mereka atas terbunuhnya Husain bin Ali radhiyallahu anhu sehingga melakukan hal-hal yang sangat berlebihan itu hingga diantaranya terjatuh pada kesyirikan.

Padahal kita tahu seseorang yang lebih utama dari Husain juga telah terbunuh, yaitu ayahnya Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu.

Sebelum itu juga telah terbunuh Umar bin al Khattab dan Utsman bin Affan radhiallahu anhuma. Namun syi’ah tidak menjadikan waktu terbunuhnya Ali, Utsman dan Umar radhiyallahu anhum sebagai hari berkabung.

Bukankah ini menunjukkan apa yang mereka lakukan itu adalah hiasan tipu daya setan semata kepada mereka untuk menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap kaum muslimin.

Maka sekarang kita telah mengetahui bahwa apa yang dilakukan orang-orang Syi’ah tersebut tidak ada dasarnya dalam Islam, bahkan ia bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Ibnu Rajab -rahimahumullah- berkata:

“Adapun menjadikannya (hari Asyura) sebagai hari ratapan sebagaimana yang dilakukan oleh syi’ah rafidhah dalam rangka memperingati kematian Al-Husain bin Ali radiallahu’anhu di hari itu, maka ini termasuk amalan orang-orang yang sia-sia usahanya di kehidupan dunia ini, dalam keadaan dia mengira telah berbuat kebaikan.

Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerintakan untuk menjadikan hari-hari terjadinya musibah dan kematian para nabi sebagai hari ratapan, lantas bagaimana dengan orang yang kedudukannya di bawah mereka??”

Adapun menurut umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, Al Husain meninggal sebagai syahid.

Oleh sebab itu, beliau dimuliakan. Beliau dan saudaranya, Al Hasan, adalah dua pemuda surga. Karena kedudukan yang tinggi harus diperoleh dengan pengorbanan yang besar pula.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,

أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ 
فَقَالَ: الْأَنِبْيَاءُ ثُمَّالصَّالِحُونَ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، 
فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌزِيدَ فِي بَلَائِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَعَنْهُ، 
وَ يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى الْأَرْضِ وَلَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Siapakah yang paling berat cobaannya?

Beliau menjawab, “Para nabi kemudian orang-orang shaleh, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.

Seseorang itu diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kokoh maka ditambah ujiannya. Jika agamanya lembek maka diringankan ujiannya.

Terus menerus bala menimpa seorang yang beriman hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak berdosa.”²



Footnotes

¹ HR. Abu Dawud no. 4098, Ahmad 2/325

² HR. Ahmad 1/172 dan ini lafadz beliau; at-Tirmidzi dalam  Sunan-nya 4/28, “Abwabuz Zuhud” no. 2509 dan beliau mengatakan hadits hasan sahih; ad-Darimi dalam Sunan-nya, “Kitab ar-Raqaiq” 2/320; Ibnu Majah dalam Sunan-nya, “Kitab al-Fitan” 2/1334 no. 4023

Sumber:  https://islamhariini.com/berhati-hati-dari-perkara-yang-diada-adakan-oleh-syiah-pada-hari-asyura/

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
KEUTAMAAN MEMBELA KEHORMATAN SEORANG MUSLIM

@AnnajiyahBatam
INFO UPDATE DONASI
PEMBANGUNAN MA'HAD QOULAN SADIDA



Bismillaah..
Alhamdulillaah..
Berikut ini kami sampaikan Update Donasi Pembangunan Asrama dan Madrasah Santriwati Ma'had Qoulan Sadida Banjarsari - Ciamis :

Per Hari Kamis,
10 Muharram 1443 H
19 Agustus 2021

Dana yang sudah terkumpul Sebesar :
Rp. 141.751.500,-

Sehingga, Sisa Kekurangan Dana Pembangunan sebesar :
Rp. 158.248.500,-

Adapun Pengeluaran Dana Pembangunan Sampai Saat ini sebesar :
Rp. 136.994.500,-

Bagi muhsinin yang hendak ber-Infaq dapat disalurkan melalui Rekening :

1️⃣
Bank Syariah Indonesia (BSI) atau Bank Syariah Mandiri
An. Elan Sutisna
No. Rek 708 340 3807
Kode Bank (451)

ATAU

2️⃣
Bank Rakyat Indonesia (BRI)
An. Agus Kartiwa
No. Rek 4246 010102 96532
Kode Bank (002)


Mohon Konfirmasi Setelah Transfer kepada :
Abu Ibrohim Elan
✔️ 0852 2335 1020
Abu Nashir
✔️ 0852 1943 1372

Jazaakumullaahu khairan atas apa yang telah diinfaqkan untuk pembangunan ini, semoga terhitung sebagai amal jariyah yang akan bermanfaat kelak di Akhirat.. Amiin..

✒️ Catatan :
Mohon untuk Tidak Diposting di Facebook ataupun Instagram.

جزاكم الله خيرا...و بارك الله في أهليكم و مالكم...🤲🏽

Tertanda,
Panitia Pembangunan
Ma'had Qoulan Sadida

Mengetahui,
Asatidzah Ma'had Qoulan Sadida hafidzahumullah