منتدى نشر الفـــــــوائد
7.61K subscribers
4.29K photos
256 videos
279 files
5.6K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
::
📬 BERHATI-HATI DARI PERKARA YANG DIADA-ADAKAN OLEH SYIAH PADA HARI ASYURA


Menghidupkan kembali kedukaan dan ratapan tangis untuk musibah yang telah lama berlalu termasuk niyahah yang dilarang di dalam Islam. Adapun bagi kaum Syiah, hal ini dianggap sebuah ibadah.

Bagi umat Islam, hari Asyura adalah hari mereka berpuasa karena rasa syukur atas pertolongan Allah terhadap Nabi Musa dan kaumnya. Berbeda dengan kaum Syiah yang menganggap hari Asyura adalah hari dengan penuh sejarah kelam yaitu hari di saat terbunuhnya al-Husain bin Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhuma dengan penuh kezaliman pada 61 H. Mereka melakukan drama berkabung dengan menampilkan kaum laki-laki yang menyerupai wanita.

Di dalam Islam hal ini sangat dilarang. Larangan tersebut dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu:

لَعَنَ رَسُولُ الله الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang berpakaian seperti model pakaian wanita dan (melaknat) wanita yang berpakaian seperti lelaki". ¹

Bukan hanya itu, pada hari Asyura mereka juga menyuguhkan makanan yang sengaja dibuat tidak enak.

Tentu perkara yang mereka lakukan ini adalah perbuatan yang sia-sia dan bahkan terhatuh pada sekian keharaman. Perkara tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik ketika meninggal orang-orang besar di sisi beliau seperti Hamzah bin Abdil Muthalib radhiyallahu anhu atau yang lainnya.

Adapun istigasah yang mereka lakukan pada hari Asyura, dengan berdo’a kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, menganggap imam-imam mereka mengetahui perkara gaib, tanpa diragukan lagi bahwasanya hal itu adalah syirik besar berdasarkan ijma’ ulama.

Sungguh aneh yang mereka lakukan ini. Begitu berkabungnya mereka atas terbunuhnya Husain bin Ali radhiyallahu anhu sehingga melakukan hal-hal yang sangat berlebihan itu hingga diantaranya terjatuh pada kesyirikan.

Padahal kita tahu seseorang yang lebih utama dari Husain juga telah terbunuh, yaitu ayahnya Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu.

Sebelum itu juga telah terbunuh Umar bin al Khattab dan Utsman bin Affan radhiallahu anhuma. Namun syi’ah tidak menjadikan waktu terbunuhnya Ali, Utsman dan Umar radhiyallahu anhum sebagai hari berkabung.

Bukankah ini menunjukkan apa yang mereka lakukan itu adalah hiasan tipu daya setan semata kepada mereka untuk menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap kaum muslimin.

Maka sekarang kita telah mengetahui bahwa apa yang dilakukan orang-orang Syi’ah tersebut tidak ada dasarnya dalam Islam, bahkan ia bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Ibnu Rajab -rahimahumullah- berkata:

“Adapun menjadikannya (hari Asyura) sebagai hari ratapan sebagaimana yang dilakukan oleh syi’ah rafidhah dalam rangka memperingati kematian Al-Husain bin Ali radiallahu’anhu di hari itu, maka ini termasuk amalan orang-orang yang sia-sia usahanya di kehidupan dunia ini, dalam keadaan dia mengira telah berbuat kebaikan.

Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerintakan untuk menjadikan hari-hari terjadinya musibah dan kematian para nabi sebagai hari ratapan, lantas bagaimana dengan orang yang kedudukannya di bawah mereka??”

Adapun menurut umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, Al Husain meninggal sebagai syahid.

Oleh sebab itu, beliau dimuliakan. Beliau dan saudaranya, Al Hasan, adalah dua pemuda surga. Karena kedudukan yang tinggi harus diperoleh dengan pengorbanan yang besar pula.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,

أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ 
فَقَالَ: الْأَنِبْيَاءُ ثُمَّالصَّالِحُونَ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، 
فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌزِيدَ فِي بَلَائِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَعَنْهُ، 
وَ يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى الْأَرْضِ وَلَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Siapakah yang paling berat cobaannya?

Beliau menjawab, “Para nabi kemudian orang-orang shaleh, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.

Seseorang itu diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kokoh maka ditambah ujiannya. Jika agamanya lembek maka diringankan ujiannya.

Terus menerus bala menimpa seorang yang beriman hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak berdosa.”²



Footnotes

¹ HR. Abu Dawud no. 4098, Ahmad 2/325

² HR. Ahmad 1/172 dan ini lafadz beliau; at-Tirmidzi dalam  Sunan-nya 4/28, “Abwabuz Zuhud” no. 2509 dan beliau mengatakan hadits hasan sahih; ad-Darimi dalam Sunan-nya, “Kitab ar-Raqaiq” 2/320; Ibnu Majah dalam Sunan-nya, “Kitab al-Fitan” 2/1334 no. 4023

Sumber:  https://islamhariini.com/berhati-hati-dari-perkara-yang-diada-adakan-oleh-syiah-pada-hari-asyura/

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
KEUTAMAAN MEMBELA KEHORMATAN SEORANG MUSLIM

@AnnajiyahBatam
INFO UPDATE DONASI
PEMBANGUNAN MA'HAD QOULAN SADIDA



Bismillaah..
Alhamdulillaah..
Berikut ini kami sampaikan Update Donasi Pembangunan Asrama dan Madrasah Santriwati Ma'had Qoulan Sadida Banjarsari - Ciamis :

Per Hari Kamis,
10 Muharram 1443 H
19 Agustus 2021

Dana yang sudah terkumpul Sebesar :
Rp. 141.751.500,-

Sehingga, Sisa Kekurangan Dana Pembangunan sebesar :
Rp. 158.248.500,-

Adapun Pengeluaran Dana Pembangunan Sampai Saat ini sebesar :
Rp. 136.994.500,-

Bagi muhsinin yang hendak ber-Infaq dapat disalurkan melalui Rekening :

1️⃣
Bank Syariah Indonesia (BSI) atau Bank Syariah Mandiri
An. Elan Sutisna
No. Rek 708 340 3807
Kode Bank (451)

ATAU

2️⃣
Bank Rakyat Indonesia (BRI)
An. Agus Kartiwa
No. Rek 4246 010102 96532
Kode Bank (002)


Mohon Konfirmasi Setelah Transfer kepada :
Abu Ibrohim Elan
✔️ 0852 2335 1020
Abu Nashir
✔️ 0852 1943 1372

Jazaakumullaahu khairan atas apa yang telah diinfaqkan untuk pembangunan ini, semoga terhitung sebagai amal jariyah yang akan bermanfaat kelak di Akhirat.. Amiin..

✒️ Catatan :
Mohon untuk Tidak Diposting di Facebook ataupun Instagram.

جزاكم الله خيرا...و بارك الله في أهليكم و مالكم...🤲🏽

Tertanda,
Panitia Pembangunan
Ma'had Qoulan Sadida

Mengetahui,
Asatidzah Ma'had Qoulan Sadida hafidzahumullah
::
📬 MENSYUKURI KEMERDEKAAN ATAS BERKAT RAHMAT ALLAH

Kemerdekaan bagi sebuah bangsa adalah salah satu nikmat yang tak terkira. Terlepas dari penindasan dan kesewenang-wenangan. Bangsa Indonesia pun seharusnya bersyukur atas kemerdekaan itu.

Salah satu langkah benar wujud syukur itu dengan mengakui bahwa nikmat itu dari Allah. Kalau tidak karena Allah, kemerdekaan itu tidak akan terwujud.

Tanpa karunia dan rahmat Allah, sungguh kita semua termasuk orang-orang yang merugi.

...فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

... kalaulah tidak karena karunia Allah kepada kalian dan rahmat-Nya, sungguh kalian benar-benar termasuk orang yang merugi (Q.S al-Baqoroh ayat 64)

Dalam alinea ke-3 Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 dinyatakan: "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia adalah salah satu bagian sejarah. Jauh sebelum itu, Allah mengisahkan dalam al-Quran suatu bangsa yang awalnya terjajah, tertindas, kemudian Allah merdekakan mereka dengan rahmat-Nya. Itulah Bani Israil yang sebelumnya hidup menderita dalam jajahan dan penindasan Firaun.

Sungguh, kisah yang diabadikan dalam al-Quran itu, tentang penindasan Fir’aun terhadap Bani Israil, kemudian Allah memberi pertolongan karena kesabaran mereka, memberi pelajaran berharga bagi kita.

Allah mengisahkan dalam al-Quran, keadaan yang mengenaskan pada Bani Israil akibat kesewenang- wenangan Fira’un. Kehidupan Bani Israil penuh dengan siksaan. Bahkan anak laki-laki mereka pada periode tertentu disembelih. Sedangkan kaum wanita dibiarkan hidup, namun dipermalukan dan dihinakan:

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آَلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatan kalian dari pengikut Fir’aun yang menimpakan siksaan yang buruk kepada kalian, menyembelih putra-putra kalian dan membiarkan hidup para wanita kalian. Dan di dalam hal itu terdapat ujian yang besar dari Rabb kalian (QS al-Baqoroh ayat 49)

Allah mengutus Nabi Musa alaihissalam untuk membimbing mereka, bersabar, dan bertakwa kepada Allah:

قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Musa berkata kepada kaumnya: minta tolonglah kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini milik Allah. Dia akan mewariskannya kepada para hamba yang dikehendakiNya. (sesungguhnya) akhir akibat (yang baik) adalah untuk orang-orang yang bertakwa (QS al-A’raaf ayat 128)

Hingga Allah memberikan pertolongan mereka terlepas dari penindasan dan kesewenang-wenangan Firaun, dengan sebab kesabaran Bani Israil:

وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

Dan Kami wariskan kepada kaum yang tertindas itu, bumi bagian timur dan bagian baratnya yang telah Kami berkahi. Dan telah sempurnalah firman TuhanMu yang baik itu (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah mereka bangun (QS al-A’raaf ayat 137)

Allah anugerahkan peninggalan-peninggalan yang dimiliki Firaun itu kepada Bani Israil.

(Artinya) Betapa banyak taman-taman dan mata air-mata air yang mereka (Fir’aun dan pengikutnya) tinggalkan. Juga kebun-kebun serta tempat kediaman yang indah. Dan kesenangan-kesenangan yang dapat mereka nikmati di sana. Demikianlah, dan Kami wariskan (semua) itu kepada kaum yang lain (Bani Israil) (QS ad-Dukhaan ayat 25-28)

Terlepasnya Bani Israil dari penindasan, penjajahan, dan kesewenang-wenangan Fir’aun adalah salah satu dari sekian banyak nikmat Allah Ta’ala kepada mereka.
Allah ingatkan dengan nikmat-nikmat itu agar mereka bersyukur dengan bertakwa, taat, dan mentauhidkan Allah.

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ - وَآَمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآَيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ - وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ - وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

"Wahai Bani Israil, ingatlah nikmatKu kepada kalian. Penuhilah janji kalian terhadapKu niscaya Aku akan penuhi janjiKu kepada kalian. Dan semestinya hanya kepadaKulah kalian takut. Berimanlah kalian terhadap (al-Quran) yang telah Aku turunkan yang membenarkan (kitab Taurat) yang ada pada kalian. Janganlah kalian menjadi orang yang pertama kafir terhadapnya. Janganlah kalian menjual ayat-ayatKu dengan harga yang murah dan bertakwalah hanya kepadaKu. Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan janganlah kalian menyembunyikan kebenaran sedangkan kalian mengetahuinya. Dan tegakkanlah sholat dan tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku' " (QS al-Baqoroh ayat 40-43).

Sesungguhnya kemerdekaan yang kita dapatkan adalah dari Allah, sebagaimana Allah memerdekakan Bani Israil sebagai salah satu nikmat yang Allah ingatkan kepada mereka. Semestinya, sebagai bentuk syukur terhadap kemerdekaan itu, kita menjalankan sesuai bimbingan Allah dalam surat al-Baqoroh ayat 40-43 tersebut, yaitu:


1. Mentauhidkan Allah, tidak menyekutukanNya dengan suatu apapun, sebagaimana firman-Nya:

وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Dan seharusnya hanya kepadaKu kalian takut (QS al-Baqoroh ayat 40)

وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

Dan seharusnya hanya kepadaKu kalian bertakwa (QS al-Baqoroh ayat 41)

Mengisi kemerdekaan dengan mentauhidkan Allah, itulah syukur yang benar. Tapi mengisi kemerdekaan dengan menyekutukan Allah (kesyirikan), itu adalah bentuk kekufuran terhadap nikmat dari-Nya.


2. Berpegang teguh dengan aturan-aturan Allah dalam al-Quran dan hadits Nabi sebagai ajaran Islam:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ

Penuhilah janji kalian kepadaKu, niscaya Aku akan penuhi janjiKu kepada kalian (QS al-Baqoroh ayat 41)

Abul Aliyah rahimahullah –salah seorang tabi’i- menafsirkan makna penuhilah janji kalian kepadaKu adalah:

عَهْدُهُ إِلَى عِبَادِهِ: دِينُهُ الْإِسْلَامُ أَنْ يَتَّبِعُوهُ

Mereka berjanji untuk siap beribadah hanya kepada Allah, yaitu menjalankan agama Allah, Islam untuk diikuti (Tafsir Ibnu Katsir)


3. Beriman dan menjadikan al-Quran sebagai pedoman dalam kehidupan

وَآَمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ

Berimanlah kalian terhadap (al-Quran) yang telah Aku turunkan yang membenarkan (kitab Taurat) yang ada pada kalian (QS al-Baqoroh ayat 41)


4. Tidak mencampuradukkan al-haq dengan kebatilan.

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Janganlah kalian mencampuradukkan al-haq (kebenaran) dengan kebatilan, dan kalian sembunyikan kebenaran dalam keadaan kalian mengetahuinya (QS al-Baqoroh ayat 42)

Salah satu wujud syukur itu adalah mengajarkan ilmu Quran dan Sunnah dan mendakwahkan yang benar serta menjelaskan apa saja kebatilan itu. Jika seorang menjelaskan mana yang tauhid, mana yang syirik dengan bimbingan Ulama, itu bentuk syukur yang benar. Jika seorang menjelaskan mana yang sunnah, mana yang bid’ah, secara benar, itulah perwujudan syukur sesungguhnya. Jelaskan mana yang berupa ketaatan kepada Allah dan mana yang berupa kemaksiatan. Jangan dikaburkan. Jelaskan agar terang benderang, semoga Allah senantiasa merahmati kita.


5. Menjalankan amalan-amalan ketaatan

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan tegakkanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ (QS al-Baqoroh ayat 43)

Bersambung..