::
📬 KENAKALAN ANAK KECIL TETAP HARUS DIPERTANGGUNGJAWABKAN
Fatwa Komisi Tetap Pembahasan Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia nomor 17656
Pertanyaan:
Adik saya yang masih belum mencapai usia 7 tahun, sering berkumpul dengan banyak anak kecil lainnya untuk bermain bersama. (Suatu ketika) adik saya itu naik ke atas pohon sambil membawa kerikil lalu dia lemparkan ke arah salah satu anak.
Ternyata lemparannya tersebut tepat mengenai mata anak itu, hingga menyebabkan kerusakan pengelihatannya.
Sementara sejak dulu adik saya ini belum pernah menjelaskan yaitu tidak mengaku "sayalah yang telah melakukannya" sampai sekarang.
Sedangkan anak kecil (yang menjadi korban) kini telah dewasa dalam kondisi tidak pernah mengetahui siapa yang telah melemparnya dengan kerikil.
Apakah pada situasi ini terdapat ketentuan hukum syariat? Lalu apa pula yang perlu dilakukan?
Jawaban Komisi Tetap:
Adik anda harus meminta maaf terhadap orang yang menjadi korban tadi. Atau berusaha menawarkan solusi damai kepadanya dengan memberi ganti rugi sejumlah harta yang nominalnya dipertimbangkan oleh pihak korban.
Semoga Allah memberikan taufiq-Nya. Dan semoga pula sholawat dan keselamatan dari Allah tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, beserta para keluarga beliau dan sahabat beliau.
Fatwa Komisi Tetap Pembahasan Ilmiah
Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Anggota:
- Abdullah bin Ghudayan
- Shalih Al Fauzan
- Abdul Aziz AlusySyaikh
- Bakr Abu Zaid
Sumber:
Fatawa Al Lajnah Ad Daimah 21/263
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Artikel menarik lainnya
https://itishom.org/blog/artikel/hadits/seorang-muslim-tidak-akan-menyakiti-orang-lain/
https://itishom.org/blog/artikel/adab/hak-saudara-muslim/
https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/kebebasan-yang-membinasakan/
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
اﻟﻔﺘﻮﻯ ﺭﻗﻢ (17656)
ﺳ: ﺃﺧﻲ ﻭﻫﻮ ﺻﻐﻴﺮ ﻟﻢ ﻳﺘﻌﺪ اﻟﺴﺎﺑﻌﺔ ﻣﻦ ﻋﻤﺮﻩ، ﻛﺎﻥ ﻣﻊ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﻣﻦ اﻷﻃﻔﺎﻝ ﻳﻠﻌﺐﻭﻥ، ﻭﺃﺧﻲ ﻛﺎﻥ ﻓﻮﻕ ﺷﺠﺮﺓ، ﻭﺃﺧﺬ ﺣﺠﺮﺓ ﺻﻐﻴﺮﺓ ﻭﺭﻣﻰ ﺑﻬﺎ ﺃﺣﺪ اﻷﻃﻔﺎﻝ ﻓﺄﺻﺎﺑﻪ ﻓﻲ ﻋﻴﻨﻪ ﻓﺘﺴﺒﺐ ﻓﻲ ﻋﺎﻫﺔ ﻟﻪ، ﻭﻟﻢ ﻳﻈﻬﺮ ﺃﺧﻲ ﻧﻔﺴﻪ، ﺃﻱ: ﻟﻢ ﻳﻘﻞ ﺃﻧﺎ اﻟﺬﻱ ﻓﻌﻠﺖ ﻫﺬا ﺇﻟﻰ ﺣﺪ اﻵﻥ، ﻭﺫﻟﻚ اﻝﻃﻔﻞ ﺃﺻﺒﺢ ﺭﺟﻼ ﻟﻢ ﻳﻌﺮﻑ ﻣﻦ ﺭﻣﺎﻩ ﺑﺎﻟﺤﺠﺮ، ﻫﻞ ﻟﻬﺬا اﻟﺘﺼﺮﻑ ﺣﻜﻢ ﺷﺮﻋﻲ؟ ﻭﻣﺎﺫا ﻳﻤﻜﻦ ﻓﻌﻠﻪ؟
ﺟ: ﻋﻠﻰ ﺃﺧﻴﻚ ﺃﻥ ﻳﻄﻠﺐ اﻟﻤﺴﺎﻣﺤﺔ ﻣﻦ اﻟﺸﺨﺺ اﻟﻤﺠﻨﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻭ ﻳﺘﺼﺎﻟﺢ ﻣﻌﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﺮﻭﻧﻪ ﻣﻦ اﻟﻤﺎﻝ.
ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ اﻟﺘﻮﻓﻴﻖ، ﻭﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺳﻠﻢ.
اﻟﻠﺠﻨﺔ اﻟﺪاﺋﻤﺔ ﻟﻠﺒﺤﻮﺙ اﻟﻌﻠﻤﻴﺔ ﻭاﻹﻓﺘﺎء
ﻋﻀﻮ ... ﻋﻀﻮ ... ﻋﻀﻮ ... ﻋﻀﻮ ... اﻟﺮﺋﻴﺲ
ﺑﻜﺮ ﺃﺑﻮ ﺯﻳﺪ ... ﻋﺒﺪ اﻟﻌﺰﻳﺰ ﺁﻝ اﻟﺸﻴﺦ ... ﺻﺎﻟﺢ اﻟﻔﻮﺯاﻥ ... ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻏﺪﻳﺎﻥ ... ﻋﺒﺪ اﻟﻌﺰﻳﺰ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺑﺎﺯ
___
ﻓﺘﺎﻭﻯ اﻟﻠﺠﻨﺔ اﻟﺪاﺋﻤﺔ - 1-اﻟﻤﺠﻠﺪ اﻟﺤﺎﺩﻱ ﻭاﻟﻌﺸﺮﻭﻥ (اﻟﺮﺿﺎﻉ - اﻟﻜﻔﺎﺭاﺕ)-ﻭﻟﺪ ﺻﻐﻴﺮ ﺭﻣﻰ ﺣﺠﺮا ﻋﻠﻰ ﺃﻃﻔﺎﻝ ﺃﺻﺎﺏ ﻭاﺣﺪا ﺑﻌﻴﻨﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﻈﻬﺮ ﻧﻔﺴﻪ ﻣﺎﺫا ﻋﻠﻴﻪ- ج. ٢١ ﺻﻔﺤﺔ -263
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✒ Dialihbahasakan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Sofian hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 KENAKALAN ANAK KECIL TETAP HARUS DIPERTANGGUNGJAWABKAN
Fatwa Komisi Tetap Pembahasan Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia nomor 17656
Pertanyaan:
Adik saya yang masih belum mencapai usia 7 tahun, sering berkumpul dengan banyak anak kecil lainnya untuk bermain bersama. (Suatu ketika) adik saya itu naik ke atas pohon sambil membawa kerikil lalu dia lemparkan ke arah salah satu anak.
Ternyata lemparannya tersebut tepat mengenai mata anak itu, hingga menyebabkan kerusakan pengelihatannya.
Sementara sejak dulu adik saya ini belum pernah menjelaskan yaitu tidak mengaku "sayalah yang telah melakukannya" sampai sekarang.
Sedangkan anak kecil (yang menjadi korban) kini telah dewasa dalam kondisi tidak pernah mengetahui siapa yang telah melemparnya dengan kerikil.
Apakah pada situasi ini terdapat ketentuan hukum syariat? Lalu apa pula yang perlu dilakukan?
Jawaban Komisi Tetap:
Adik anda harus meminta maaf terhadap orang yang menjadi korban tadi. Atau berusaha menawarkan solusi damai kepadanya dengan memberi ganti rugi sejumlah harta yang nominalnya dipertimbangkan oleh pihak korban.
Semoga Allah memberikan taufiq-Nya. Dan semoga pula sholawat dan keselamatan dari Allah tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, beserta para keluarga beliau dan sahabat beliau.
Fatwa Komisi Tetap Pembahasan Ilmiah
Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Anggota:
- Abdullah bin Ghudayan
- Shalih Al Fauzan
- Abdul Aziz AlusySyaikh
- Bakr Abu Zaid
Sumber:
Fatawa Al Lajnah Ad Daimah 21/263
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Artikel menarik lainnya
https://itishom.org/blog/artikel/hadits/seorang-muslim-tidak-akan-menyakiti-orang-lain/
https://itishom.org/blog/artikel/adab/hak-saudara-muslim/
https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/kebebasan-yang-membinasakan/
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
اﻟﻔﺘﻮﻯ ﺭﻗﻢ (17656)
ﺳ: ﺃﺧﻲ ﻭﻫﻮ ﺻﻐﻴﺮ ﻟﻢ ﻳﺘﻌﺪ اﻟﺴﺎﺑﻌﺔ ﻣﻦ ﻋﻤﺮﻩ، ﻛﺎﻥ ﻣﻊ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﻣﻦ اﻷﻃﻔﺎﻝ ﻳﻠﻌﺐﻭﻥ، ﻭﺃﺧﻲ ﻛﺎﻥ ﻓﻮﻕ ﺷﺠﺮﺓ، ﻭﺃﺧﺬ ﺣﺠﺮﺓ ﺻﻐﻴﺮﺓ ﻭﺭﻣﻰ ﺑﻬﺎ ﺃﺣﺪ اﻷﻃﻔﺎﻝ ﻓﺄﺻﺎﺑﻪ ﻓﻲ ﻋﻴﻨﻪ ﻓﺘﺴﺒﺐ ﻓﻲ ﻋﺎﻫﺔ ﻟﻪ، ﻭﻟﻢ ﻳﻈﻬﺮ ﺃﺧﻲ ﻧﻔﺴﻪ، ﺃﻱ: ﻟﻢ ﻳﻘﻞ ﺃﻧﺎ اﻟﺬﻱ ﻓﻌﻠﺖ ﻫﺬا ﺇﻟﻰ ﺣﺪ اﻵﻥ، ﻭﺫﻟﻚ اﻝﻃﻔﻞ ﺃﺻﺒﺢ ﺭﺟﻼ ﻟﻢ ﻳﻌﺮﻑ ﻣﻦ ﺭﻣﺎﻩ ﺑﺎﻟﺤﺠﺮ، ﻫﻞ ﻟﻬﺬا اﻟﺘﺼﺮﻑ ﺣﻜﻢ ﺷﺮﻋﻲ؟ ﻭﻣﺎﺫا ﻳﻤﻜﻦ ﻓﻌﻠﻪ؟
ﺟ: ﻋﻠﻰ ﺃﺧﻴﻚ ﺃﻥ ﻳﻄﻠﺐ اﻟﻤﺴﺎﻣﺤﺔ ﻣﻦ اﻟﺸﺨﺺ اﻟﻤﺠﻨﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻭ ﻳﺘﺼﺎﻟﺢ ﻣﻌﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﺮﻭﻧﻪ ﻣﻦ اﻟﻤﺎﻝ.
ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ اﻟﺘﻮﻓﻴﻖ، ﻭﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺳﻠﻢ.
اﻟﻠﺠﻨﺔ اﻟﺪاﺋﻤﺔ ﻟﻠﺒﺤﻮﺙ اﻟﻌﻠﻤﻴﺔ ﻭاﻹﻓﺘﺎء
ﻋﻀﻮ ... ﻋﻀﻮ ... ﻋﻀﻮ ... ﻋﻀﻮ ... اﻟﺮﺋﻴﺲ
ﺑﻜﺮ ﺃﺑﻮ ﺯﻳﺪ ... ﻋﺒﺪ اﻟﻌﺰﻳﺰ ﺁﻝ اﻟﺸﻴﺦ ... ﺻﺎﻟﺢ اﻟﻔﻮﺯاﻥ ... ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻏﺪﻳﺎﻥ ... ﻋﺒﺪ اﻟﻌﺰﻳﺰ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺑﺎﺯ
___
ﻓﺘﺎﻭﻯ اﻟﻠﺠﻨﺔ اﻟﺪاﺋﻤﺔ - 1-اﻟﻤﺠﻠﺪ اﻟﺤﺎﺩﻱ ﻭاﻟﻌﺸﺮﻭﻥ (اﻟﺮﺿﺎﻉ - اﻟﻜﻔﺎﺭاﺕ)-ﻭﻟﺪ ﺻﻐﻴﺮ ﺭﻣﻰ ﺣﺠﺮا ﻋﻠﻰ ﺃﻃﻔﺎﻝ ﺃﺻﺎﺏ ﻭاﺣﺪا ﺑﻌﻴﻨﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﻈﻬﺮ ﻧﻔﺴﻪ ﻣﺎﺫا ﻋﻠﻴﻪ- ج. ٢١ ﺻﻔﺤﺔ -263
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✒ Dialihbahasakan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Sofian hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KALIMAT BERHARGA YANG DISAMPAIKAN SYAIKH SHOLIH AL-FAUZAN HAFIZHAHULLAH SAAT BELIAU MENERIMA VAKSIN COVID-19 PERTAMA
Setelah mendapatkan vaksin pertama untuk vaksin Covid-19, pada pekan akhir di bulan Februari 2021 lalu, Syaikh Sholih al-Fauzan hafizhahullah memberi keterangan sebagai berikut:
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Semoga sholawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ.
Pertama Kami mengucapkan syukur kepada Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi atas nikmat-nikmat-Nya baik lahir maupun batin.
Kemudian kami berterima kasih kepada (pemerintah) negeri kami yang mulia atas apa yang telah diberikannya kepada kaum muslimin berupa akses-akses kebaikan dalam bidang kesehatan, pengobatan, dan melakukan sebab-sebab perlindungan dengan izin Allah.
Ini adalah termasuk karunia Allah kepada kita dan kepada manusia (secara umum), namun kebanyakan manusia tidak bersyukur.
Kami bersyukur kepada Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi atas kemudahan ini dan fasilitas-fasilitas yang memudahkan kami mengerjakan sebab-sebab yang meringankan dan bermanfaat dalam memperoleh kesehatan dan afiyat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Sesungguhnya (manfaat yang dirasakan dari) penyebab-penyebab ini berasal dari Allah Ta’ala. Allah memberikan manfaat dengan sebab-sebab ini sesuatu yang kami harapkan.
Kami pun berharap agar Allah memberikan balasan kebaikan kepada pemerintah kami yang terbimbing, atas sumbangsihnya dalam perkara-perkara yang bermanfaat ini bagi masyarakat, bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan secara khusus, maupun manusia secara umum. Ini adalah upaya yang baik, yang terlihat, dan (patut) disyukuri.
Kami meminta kepada Allah untuk menambahkan kemudahan- kemudahan dan menambahkan taufiq dan pertolongan serta memberikan manfaat atas sumbangsih mereka dalam penyediaan sebab-sebab yang baik. Ini adalah kebaikan.
Semua pihak tidak ada yang ragu dalam menempuh sebab-sebab yang Allah perintahkan. Namun hendaknya jangan bersandar kepada sebab-sebab (itu). Semestinya bertawakkal hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Demikian. Kita meminta kepada Allah taufiq, petunjuk, dan pertolongan untuk semua pihak.
Sumber Audio: https://cutt.ly/2nYZiGE
كلمة الشيخ صالح الفوزان بعد أن تلقى الجرعة الأولى من لقاح فيروس كورونا:
الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم على نبينا محمد
أولا نشكر الله سبحانه وتعالى على نعامه الظاهرة والباطنة ثم نشكر دولتنا العزيزة على ما تقدمونه للمسلمين من إنجازات طيبة صحيا وعلاجات وفعل الأسباب الواقية بإذن الله
وهذا من فضل الله علينا وعلى الناس ولكن أكثر الناس لا يشكرون نشكر الله سبحانه وتعالى على هذا التيسير وعلى هذه الإمكانيات التي مكننا الله بها للعمل لأسباب مريحة وأسباب مفيدة لحصول الصحة والعافية من الله سبحانه وتعالى
وإنما هذه الأسباب من الله تعالى ينفع الله بهذه الأسباب نرجوه أن ينفع بهذه الأسباب وأن يثيب حكومتنا الرشيدة على ما تبذله من هذه الأمور المفيدة للشعب والمفيدة للمحتاجين على الخصوص وللناس كافة فهي جهود طيبة وجهود منظورة ومشكورة نسأل الله أن يزيدهم من الإمكانيات وأن يزيدهم من التوفيق والإعانة وأن ينفع به ما يبذلونه من أسباب طيبة هو خيرا
وكل ما في شك من اتخاذ الأساب مما أمر الله به ولكن لا يتكلون على الأسباب وإنما يتوكلون على الله سبحانه وتعالى هذا, ونسأل الله للجميع التوفيق والهداية والإعانة
📝CATATAN:
Demikianlah teladan dari salah seorang Ulama Ahlussunnah yang masih hidup di masa kini. Beliau mencontohkan penerapan vaksin Covid-19 dari pemerintah Saudi kepada diri beliau sendiri, mengungkapkan syukur kepada Allah kemudian berterima kasih atas kemudahan itu. Beliau pun mengingatkan bahwa vaksin itu adalah termasuk bagian upaya menjalani penyebab untuk mendapatkan perlindungan kesehatan, namun hendaknya tetap bertawakkal kepada Allah Azza Wa Jalla. Karena hanya Allah lah yang menentukan apakah penyebab-penyebab itu bisa memberikan manfaat atau tidak.
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 KALIMAT BERHARGA YANG DISAMPAIKAN SYAIKH SHOLIH AL-FAUZAN HAFIZHAHULLAH SAAT BELIAU MENERIMA VAKSIN COVID-19 PERTAMA
Setelah mendapatkan vaksin pertama untuk vaksin Covid-19, pada pekan akhir di bulan Februari 2021 lalu, Syaikh Sholih al-Fauzan hafizhahullah memberi keterangan sebagai berikut:
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Semoga sholawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ.
Pertama Kami mengucapkan syukur kepada Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi atas nikmat-nikmat-Nya baik lahir maupun batin.
Kemudian kami berterima kasih kepada (pemerintah) negeri kami yang mulia atas apa yang telah diberikannya kepada kaum muslimin berupa akses-akses kebaikan dalam bidang kesehatan, pengobatan, dan melakukan sebab-sebab perlindungan dengan izin Allah.
Ini adalah termasuk karunia Allah kepada kita dan kepada manusia (secara umum), namun kebanyakan manusia tidak bersyukur.
Kami bersyukur kepada Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi atas kemudahan ini dan fasilitas-fasilitas yang memudahkan kami mengerjakan sebab-sebab yang meringankan dan bermanfaat dalam memperoleh kesehatan dan afiyat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Sesungguhnya (manfaat yang dirasakan dari) penyebab-penyebab ini berasal dari Allah Ta’ala. Allah memberikan manfaat dengan sebab-sebab ini sesuatu yang kami harapkan.
Kami pun berharap agar Allah memberikan balasan kebaikan kepada pemerintah kami yang terbimbing, atas sumbangsihnya dalam perkara-perkara yang bermanfaat ini bagi masyarakat, bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan secara khusus, maupun manusia secara umum. Ini adalah upaya yang baik, yang terlihat, dan (patut) disyukuri.
Kami meminta kepada Allah untuk menambahkan kemudahan- kemudahan dan menambahkan taufiq dan pertolongan serta memberikan manfaat atas sumbangsih mereka dalam penyediaan sebab-sebab yang baik. Ini adalah kebaikan.
Semua pihak tidak ada yang ragu dalam menempuh sebab-sebab yang Allah perintahkan. Namun hendaknya jangan bersandar kepada sebab-sebab (itu). Semestinya bertawakkal hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Demikian. Kita meminta kepada Allah taufiq, petunjuk, dan pertolongan untuk semua pihak.
Sumber Audio: https://cutt.ly/2nYZiGE
كلمة الشيخ صالح الفوزان بعد أن تلقى الجرعة الأولى من لقاح فيروس كورونا:
الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم على نبينا محمد
أولا نشكر الله سبحانه وتعالى على نعامه الظاهرة والباطنة ثم نشكر دولتنا العزيزة على ما تقدمونه للمسلمين من إنجازات طيبة صحيا وعلاجات وفعل الأسباب الواقية بإذن الله
وهذا من فضل الله علينا وعلى الناس ولكن أكثر الناس لا يشكرون نشكر الله سبحانه وتعالى على هذا التيسير وعلى هذه الإمكانيات التي مكننا الله بها للعمل لأسباب مريحة وأسباب مفيدة لحصول الصحة والعافية من الله سبحانه وتعالى
وإنما هذه الأسباب من الله تعالى ينفع الله بهذه الأسباب نرجوه أن ينفع بهذه الأسباب وأن يثيب حكومتنا الرشيدة على ما تبذله من هذه الأمور المفيدة للشعب والمفيدة للمحتاجين على الخصوص وللناس كافة فهي جهود طيبة وجهود منظورة ومشكورة نسأل الله أن يزيدهم من الإمكانيات وأن يزيدهم من التوفيق والإعانة وأن ينفع به ما يبذلونه من أسباب طيبة هو خيرا
وكل ما في شك من اتخاذ الأساب مما أمر الله به ولكن لا يتكلون على الأسباب وإنما يتوكلون على الله سبحانه وتعالى هذا, ونسأل الله للجميع التوفيق والهداية والإعانة
📝CATATAN:
Demikianlah teladan dari salah seorang Ulama Ahlussunnah yang masih hidup di masa kini. Beliau mencontohkan penerapan vaksin Covid-19 dari pemerintah Saudi kepada diri beliau sendiri, mengungkapkan syukur kepada Allah kemudian berterima kasih atas kemudahan itu. Beliau pun mengingatkan bahwa vaksin itu adalah termasuk bagian upaya menjalani penyebab untuk mendapatkan perlindungan kesehatan, namun hendaknya tetap bertawakkal kepada Allah Azza Wa Jalla. Karena hanya Allah lah yang menentukan apakah penyebab-penyebab itu bisa memberikan manfaat atau tidak.
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 KHUTBAH JUMAT: BAHAYA KESYIRIKAN (TEMA: TAUHID)
✅ Khotbah Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ :{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ }, وَقَالَ الله عَزَّ جَلَّ: } وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا{ وَقَالَ الله عَزَّ جَلَّ } يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا () يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا () }. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّار
Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah...
Allah Ta’ala berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Beribadahlah hanya kepada Allah, dan janganlah berbuat kesyirikan dalam ibadah itu dengan suatu apapun (Q.S anNisaa’ ayat 36)
Kita harus mentauhidkan Allah dalam ibadah kita. Namun, kita tidak bisa mentauhidkan Allah secara benar, jika kita tidak menjauhi kesyirikan. Karena itu kita harus mengetahui bentuk-bentuk kesyirikan untuk kita jauhi.
Di antara bentuk kesyirikan yang bisa mengeluarkan seseorang dari Islam adalah berdoa kepada selain Allah. Allah melarang kita untuk berdoa kepada siapapun yang tidak mampu memberikan manfaat ataupun menolak kemudharatan. Tidak ada yang bisa memberikan manfaat dan menolak kemudharatan kecuali hanya Allah Ta’ala semata.
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ
Dan janganlah kamu berdoa kepada selain Allah segala sesuatu yang tidak bisa memberikan manfaat maupun memudharatkanmu. Jika engkau melakukan hal itu, maka sungguh engkau termasuk orang yang dzhalim (berbuat kesyirikan)(Q.S Yunus: 106).
Semua makhluk tidak ada yang bisa memberikan manfaat maupun menolak kemudharatan. Bahkan sekalipun makhluk yang paling mulia di sisi Allah, Nabi kita Muhammad shollallahu alaihi wasallam. Beliau tidak mampu memberikan manfaat maupun menolak kemudharatan.
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
Katakanlah: Aku tidak memiliki kemampuan (menolak) kemudharatan pada diriku, tidak pula (mendatangkan) kemanfaatan kecuali sesuai yang dikehendaki Allah (Q.S Yunus: 49)
قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya aku tidak memiliki (kemampuan memberikan kemudharatan) bagi kalian maupun petunjuk (Q.S al-Jin: 21).
Di antara bentuk kesyirikan adalah menyembelih binatang, mengalirkan darah sebagai bentuk pengagungan, kepada selain Allah. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ
Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah (H.R Muslim dari Ali bin Abi Tholib)
Bentuk kesyirikan yang lain adalah memakai jimat untuk keselamatan, penglaris usaha, mendapatkan jodoh, atau berbagai tujuan lainnya. Memakai jimat adalah salah satu kesyirikan yang dilarang oleh Nabi shollallahu alaihi wasallam.
📬 KHUTBAH JUMAT: BAHAYA KESYIRIKAN (TEMA: TAUHID)
✅ Khotbah Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ :{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ }, وَقَالَ الله عَزَّ جَلَّ: } وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا{ وَقَالَ الله عَزَّ جَلَّ } يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا () يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا () }. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّار
Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah...
Allah Ta’ala berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Beribadahlah hanya kepada Allah, dan janganlah berbuat kesyirikan dalam ibadah itu dengan suatu apapun (Q.S anNisaa’ ayat 36)
Kita harus mentauhidkan Allah dalam ibadah kita. Namun, kita tidak bisa mentauhidkan Allah secara benar, jika kita tidak menjauhi kesyirikan. Karena itu kita harus mengetahui bentuk-bentuk kesyirikan untuk kita jauhi.
Di antara bentuk kesyirikan yang bisa mengeluarkan seseorang dari Islam adalah berdoa kepada selain Allah. Allah melarang kita untuk berdoa kepada siapapun yang tidak mampu memberikan manfaat ataupun menolak kemudharatan. Tidak ada yang bisa memberikan manfaat dan menolak kemudharatan kecuali hanya Allah Ta’ala semata.
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ
Dan janganlah kamu berdoa kepada selain Allah segala sesuatu yang tidak bisa memberikan manfaat maupun memudharatkanmu. Jika engkau melakukan hal itu, maka sungguh engkau termasuk orang yang dzhalim (berbuat kesyirikan)(Q.S Yunus: 106).
Semua makhluk tidak ada yang bisa memberikan manfaat maupun menolak kemudharatan. Bahkan sekalipun makhluk yang paling mulia di sisi Allah, Nabi kita Muhammad shollallahu alaihi wasallam. Beliau tidak mampu memberikan manfaat maupun menolak kemudharatan.
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
Katakanlah: Aku tidak memiliki kemampuan (menolak) kemudharatan pada diriku, tidak pula (mendatangkan) kemanfaatan kecuali sesuai yang dikehendaki Allah (Q.S Yunus: 49)
قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya aku tidak memiliki (kemampuan memberikan kemudharatan) bagi kalian maupun petunjuk (Q.S al-Jin: 21).
Di antara bentuk kesyirikan adalah menyembelih binatang, mengalirkan darah sebagai bentuk pengagungan, kepada selain Allah. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ
Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah (H.R Muslim dari Ali bin Abi Tholib)
Bentuk kesyirikan yang lain adalah memakai jimat untuk keselamatan, penglaris usaha, mendapatkan jodoh, atau berbagai tujuan lainnya. Memakai jimat adalah salah satu kesyirikan yang dilarang oleh Nabi shollallahu alaihi wasallam.
Dalam hadits Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pernah didatangi oleh 10 orang yang ingin berbaiat dalam Islam kepada beliau. Nabi pun membaiat 9 orang, dan membiarkan 1 orang. Ketika beliau ditanya: Nabi menjelaskan bahwa beliau tidak membaiat 1 orang itu karena dia memakai jimat.
Maka orang tersebut kemudian memotong dan membuang jimatnya, hingga kemudian Nabi pun membaiatnya. Selanjutnya Nabi bersabda:
مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan (H.R Ahmad, dishahihkan oleh al-Hakim dan Syaikh al-Albaniy)
Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah...
Kesyirikan yang lain adalah tathoyyur. Tathoyyur atau thiyaroh adalah merasa sial terhadap tanda-tanda/kejadian yang dilihat, didengar, atau dialami, padahal tanda-tanda itu bukanlah penyebab yang dibenarkan secara syar’i ataupun qodariy. Bukan hubungan sebab akibat langsung yang dibenarkan secara ilmiah.
Misalkan, pada seseorang sedang berjalan dengan kendaraan, tiba-tiba di depannya melintas seekor kucing hitam. Kejadian itu menyebabkan orang tersebut mengurungkan niatnya untuk meneruskan perjalanan, karena menganggap bahwa jika ia teruskan perjalanan, ia akan mendapatkan kesialan. Ini adalah tathoyyur yang merupakan kesyirikan.
Contoh yang lain adalah anggapan sial dengan tanggal kelahiran tertentu, atau pelaksanaan pernikahan atau pindah rumah terkait hari tertentu. Atau bentuk rumah tertentu, yang tidak ada kaitan sebab akibat langsung secara ilmiah. Anggapan-anggapan sial yang tidak berdasarkan sebab akibat langsung secara syar’i maupun qodariy adalah bagian dari kesyirikan.
Nabi shollallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa tathoyyur atau thiyaroh semacam itu adalah kesyirikan, harus dilawan dengan perasaan tawakkal kepada Allah.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلَاثًا وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu dari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam beliau bersabda: Tathoyyur adalah kesyirikan, tathoyyur adalah kesyirikan, beliau mengucapkannya 3 kali. Tidaklah hal itu ada pada kami kecuali Allah telah menggantikannya dengan tawakkal (H.R Abu Dawud, Ibnu Majah, dishahihkan Ibnu Hibban dan al-Albaniy)
باَرَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا بِمَا فِيْهِ مِنَ الْبَيَانِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
✅ Khotbah Kedua:
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
قَاَلَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيم
Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah...
Termasuk kesyirikan yang lain adalah mendatangi tukang ramal yang mengaku mengetahui hal yang ghaib. Seperti ketika kehilangan barang, apakah motor atau selainnya, kemudian mendatangi orang yang dianggap bisa meramal dan dia menyatakan bahwa barang yang hilang itu berada di suatu tempat dengan ciri-ciri tertentu. Mendatangi tukang ramal semacam itu adalah kesyirikan.
Seseorang yang datang sekedar bertanya kepada tukang ramal, yang disebut sebagai ‘Arraaf, terancam sholatnya tidak diterima selama 40 malam.
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
Barangsiapa yang mendatangi ‘Arraaf (tukang ramal), kemudian bertanya kepadanya tentang sesuatu, tidak akan diterima sholatnya 40 malam (H.R Muslim)
Maka orang tersebut kemudian memotong dan membuang jimatnya, hingga kemudian Nabi pun membaiatnya. Selanjutnya Nabi bersabda:
مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka sungguh ia telah berbuat kesyirikan (H.R Ahmad, dishahihkan oleh al-Hakim dan Syaikh al-Albaniy)
Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah...
Kesyirikan yang lain adalah tathoyyur. Tathoyyur atau thiyaroh adalah merasa sial terhadap tanda-tanda/kejadian yang dilihat, didengar, atau dialami, padahal tanda-tanda itu bukanlah penyebab yang dibenarkan secara syar’i ataupun qodariy. Bukan hubungan sebab akibat langsung yang dibenarkan secara ilmiah.
Misalkan, pada seseorang sedang berjalan dengan kendaraan, tiba-tiba di depannya melintas seekor kucing hitam. Kejadian itu menyebabkan orang tersebut mengurungkan niatnya untuk meneruskan perjalanan, karena menganggap bahwa jika ia teruskan perjalanan, ia akan mendapatkan kesialan. Ini adalah tathoyyur yang merupakan kesyirikan.
Contoh yang lain adalah anggapan sial dengan tanggal kelahiran tertentu, atau pelaksanaan pernikahan atau pindah rumah terkait hari tertentu. Atau bentuk rumah tertentu, yang tidak ada kaitan sebab akibat langsung secara ilmiah. Anggapan-anggapan sial yang tidak berdasarkan sebab akibat langsung secara syar’i maupun qodariy adalah bagian dari kesyirikan.
Nabi shollallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa tathoyyur atau thiyaroh semacam itu adalah kesyirikan, harus dilawan dengan perasaan tawakkal kepada Allah.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلَاثًا وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu dari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam beliau bersabda: Tathoyyur adalah kesyirikan, tathoyyur adalah kesyirikan, beliau mengucapkannya 3 kali. Tidaklah hal itu ada pada kami kecuali Allah telah menggantikannya dengan tawakkal (H.R Abu Dawud, Ibnu Majah, dishahihkan Ibnu Hibban dan al-Albaniy)
باَرَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا بِمَا فِيْهِ مِنَ الْبَيَانِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
✅ Khotbah Kedua:
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
قَاَلَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيم
Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah...
Termasuk kesyirikan yang lain adalah mendatangi tukang ramal yang mengaku mengetahui hal yang ghaib. Seperti ketika kehilangan barang, apakah motor atau selainnya, kemudian mendatangi orang yang dianggap bisa meramal dan dia menyatakan bahwa barang yang hilang itu berada di suatu tempat dengan ciri-ciri tertentu. Mendatangi tukang ramal semacam itu adalah kesyirikan.
Seseorang yang datang sekedar bertanya kepada tukang ramal, yang disebut sebagai ‘Arraaf, terancam sholatnya tidak diterima selama 40 malam.
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
Barangsiapa yang mendatangi ‘Arraaf (tukang ramal), kemudian bertanya kepadanya tentang sesuatu, tidak akan diterima sholatnya 40 malam (H.R Muslim)
Kesyirikan yang lain adalah meminta bantuan kepada Jin. Allah Ta’ala berfirman:
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
Dan pada hari Allah mengumpulkan mereka seluruhnya. Allah berfirman: Wahai sekalian Jin, sungguh kalian telah banyak (menyesatkan) manusia. Manusia yang menjadi teman-teman Jin itu mengatakan: Wahai Tuhan kami, kami saling memberi manfaat satu sama lain. Dan telah sampai ajal yang telah Engkau tetapkan untuk kami. Allah berfirman: anNaar (Neraka) untuk kalian. Kalian kekal di dalamnya kecuali sesuai dengan kehendak Allah. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui (Q.S al-An’aam: 128)
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah menyatakan:
وَمَا كَانَ اسْتِمْتَاعُ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ إِلا أَنَّ الْجِنَّ أَمَرَتْ وَعَمِلَتِ الإِنْسُ
Sikap saling memberi manfaat (Jin dengan manusia) itu adalah: Jin memerintahkan, dan manusia mengamalkannya (diriwayatkan Ibn Abi Hatim dalam tafsirnya dengan sanad yang shahih sampai al-Hasan al-Bashri)
Di antara bentuk kesyirikan yang lain adalah bersumpah dengan selain Allah. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ
Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah berbuat syirik (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, dari Ibnu Umar)
Salah satu bentuk kesyirikan adalah mensejajarkan Allah dengan makhluk. Allah Ta’ala berfirman:
تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (97) إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (98)
Demi Allah, kami dulu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Karena kami menyejajarkan kalian dengan Rabb semesta alam (Q.S asy-Syu’araa’ ayat 97-98)
Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah sangat marah, ketika ada seseorang mensejajarkan Nabi dengan Allah dalam suatu kalimat. Dalam suatu ucapan. Orang itu mengatakan: Ini terjadi atas kehendak Allah dan anda, wahai Rasulullah. Mendengar hal itu, Nabi marah dan bersabda:
أَجَعَلْتَنِيْ ِللهِ نِدًّا قُلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ
‘Apakah engkau akan menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah !!!’ Cukup katakan : ‘Sesuai dengan apa yang Allah kehendaki saja!” (H.R anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan al-Hakim, adz-Dzahabiy, dan Syaikh al-Albaniy)
Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan rahmat, taufiq, pertolongan, dan ampunan kepada segenap kaum muslimin.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا... اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا... اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا...
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ ,"إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
Dan pada hari Allah mengumpulkan mereka seluruhnya. Allah berfirman: Wahai sekalian Jin, sungguh kalian telah banyak (menyesatkan) manusia. Manusia yang menjadi teman-teman Jin itu mengatakan: Wahai Tuhan kami, kami saling memberi manfaat satu sama lain. Dan telah sampai ajal yang telah Engkau tetapkan untuk kami. Allah berfirman: anNaar (Neraka) untuk kalian. Kalian kekal di dalamnya kecuali sesuai dengan kehendak Allah. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui (Q.S al-An’aam: 128)
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah menyatakan:
وَمَا كَانَ اسْتِمْتَاعُ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ إِلا أَنَّ الْجِنَّ أَمَرَتْ وَعَمِلَتِ الإِنْسُ
Sikap saling memberi manfaat (Jin dengan manusia) itu adalah: Jin memerintahkan, dan manusia mengamalkannya (diriwayatkan Ibn Abi Hatim dalam tafsirnya dengan sanad yang shahih sampai al-Hasan al-Bashri)
Di antara bentuk kesyirikan yang lain adalah bersumpah dengan selain Allah. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ
Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah berbuat syirik (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, dari Ibnu Umar)
Salah satu bentuk kesyirikan adalah mensejajarkan Allah dengan makhluk. Allah Ta’ala berfirman:
تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (97) إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (98)
Demi Allah, kami dulu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Karena kami menyejajarkan kalian dengan Rabb semesta alam (Q.S asy-Syu’araa’ ayat 97-98)
Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah sangat marah, ketika ada seseorang mensejajarkan Nabi dengan Allah dalam suatu kalimat. Dalam suatu ucapan. Orang itu mengatakan: Ini terjadi atas kehendak Allah dan anda, wahai Rasulullah. Mendengar hal itu, Nabi marah dan bersabda:
أَجَعَلْتَنِيْ ِللهِ نِدًّا قُلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ
‘Apakah engkau akan menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah !!!’ Cukup katakan : ‘Sesuai dengan apa yang Allah kehendaki saja!” (H.R anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan al-Hakim, adz-Dzahabiy, dan Syaikh al-Albaniy)
Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan rahmat, taufiq, pertolongan, dan ampunan kepada segenap kaum muslimin.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا... اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا... اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا...
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ ,"إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 BOLEHKAH BERKURBAN DENGAN HEWAN BETINA?
Al-Imam Muhammad Amin Asy-Syinqithi dalam tafsirnya, Adhwaul Bayan (3/485), menukil kesepakatan ulama tentang bolehnya menyembelih hewan qurban secara umum, baik yang jantan maupun betina.
Dalilnya adalah keumuman ayat yang menjelaskan masalah hewan qurban, tidak ada perincian harus jantan atau betina, seperti ayat 28, 34, dan 36 dari surat Al-Hajj.
Para ulama hanya berbeda pendapat tentang mana yang lebih afdhal. Yang rajih adalah bahwa kambing domba jantan lebih utama daripada yang betina.
Sebab Rasulullah ﷺ menyembelih kambing kibasy (jantan) bukan na’jah (betina). Wallahu a’lam bish-shawab.
📚 Sumber: http://asysyariah.com/memilih-hewan-kurban/
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,
فَشَرْطُ الْمُجْزِئِ فِي الْأُضْحِيَّةِ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْأَنْعَامِ وَهِيَ الْإِبِلُ وَالْبَقَرُ وَالْغَنَمُ… وَسَوَاءٌ الذَّكَرُ وَالْأُنْثَى مِنْ جَمِيعِ ذَلِكَ وَلَا خِلَافَ فِي شئ مِنْ هَذَا عِنْدَنَا
“Syarat sah pada hewan kurban adalah termasuk dari al-ān’am yaitu unta, sapi dan kambing… baik jantan maupun betina dari semua jenis hewan tersebut dan tidak ada perbedaan pendapat tentang hal ini di dalam mazhab kami.” (al-Majmu’, jilid 8, hlm. 393).
Boleh menggunakan hewan betina baik untuk akikah atau pun kurban. Al-Imam an-Nawawi pun menjelaskan,
قال النبي صلى الله عليه وسلم “على الغلام شاتان وعلى الجارية شاة لا يضركم ذكرانا كن أو أناثا ” وإذا جاز ذلك في العقيقة بهذا الخبر دل على جوازه في الأضحية ولأن لحم الذكر أطيب ولحم الأنثى أرطب
“Nabi ﷺ bersabda, ‘Untuk anak laki-laki akikah dengan dua kambing dan anak perempuan dengan satu kambing, tidak mengapa menggunakan kambing jantan atau pun betina’. Apabila ini dibolehkan dalam hal akikah dengan berlandaskan hadis ini, maka menunjukkan boleh juga dalam hal berkurban karena daging hewan jantan lebih bagus dan daging hewan betina lebih segar.” (al-Majmu’, jilid 8, hlm. 393).
Adapun dari sisi mana yang lebih utama, maka hewan jantan lebih utama untuk kurban karena Nabi ﷺ berkurban dengan hewan jantan, al-Hafizh Ibnu Hajar tatkala menerangkan hadis yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ berkurban dengan dua kambing jantan yang bertanduk, beliau menyebutkan,
وفيه أن الذَّكَرَ فِي الْأُضْحِيَّةِ أَفْضَلُ مِنَ الْأُنْثَى
“Di dalam hadis ini diambil faedah bahwa hewan jantan lebih utama daripada hewan betina untuk berkurban.” (Fath al-Bārī, jilid 10, hlm. 11).
Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk akikah yang wajib adalah menggunakan kambing, baik kambing jantan maupun betina, dua-duanya sah.
Adapun untuk berkurban maka yang wajib adalah menggunakan al-ān’am yaitu unta, sapi, atau kambing; baik hewan jantan atau pun betina, dua-duanya sah, namun yang afdal adalah hewan jantan.
Oleh karena ini antara kurban dan akikah ada sisi kesamaan dan perbedaan, sisi kesamaannya adalah akikah dan kurban boleh hewan jantan maupun betina, sisi perbedaannya adalah kurban harus dengan bahimatul an-‘ām sedangkan akikah harus dengan kambing.
📚 Sumber: https://www.alfudhail.com/faedah-penting-tentang-kurban-dan-akikah/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 BOLEHKAH BERKURBAN DENGAN HEWAN BETINA?
Al-Imam Muhammad Amin Asy-Syinqithi dalam tafsirnya, Adhwaul Bayan (3/485), menukil kesepakatan ulama tentang bolehnya menyembelih hewan qurban secara umum, baik yang jantan maupun betina.
Dalilnya adalah keumuman ayat yang menjelaskan masalah hewan qurban, tidak ada perincian harus jantan atau betina, seperti ayat 28, 34, dan 36 dari surat Al-Hajj.
Para ulama hanya berbeda pendapat tentang mana yang lebih afdhal. Yang rajih adalah bahwa kambing domba jantan lebih utama daripada yang betina.
Sebab Rasulullah ﷺ menyembelih kambing kibasy (jantan) bukan na’jah (betina). Wallahu a’lam bish-shawab.
📚 Sumber: http://asysyariah.com/memilih-hewan-kurban/
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,
فَشَرْطُ الْمُجْزِئِ فِي الْأُضْحِيَّةِ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْأَنْعَامِ وَهِيَ الْإِبِلُ وَالْبَقَرُ وَالْغَنَمُ… وَسَوَاءٌ الذَّكَرُ وَالْأُنْثَى مِنْ جَمِيعِ ذَلِكَ وَلَا خِلَافَ فِي شئ مِنْ هَذَا عِنْدَنَا
“Syarat sah pada hewan kurban adalah termasuk dari al-ān’am yaitu unta, sapi dan kambing… baik jantan maupun betina dari semua jenis hewan tersebut dan tidak ada perbedaan pendapat tentang hal ini di dalam mazhab kami.” (al-Majmu’, jilid 8, hlm. 393).
Boleh menggunakan hewan betina baik untuk akikah atau pun kurban. Al-Imam an-Nawawi pun menjelaskan,
قال النبي صلى الله عليه وسلم “على الغلام شاتان وعلى الجارية شاة لا يضركم ذكرانا كن أو أناثا ” وإذا جاز ذلك في العقيقة بهذا الخبر دل على جوازه في الأضحية ولأن لحم الذكر أطيب ولحم الأنثى أرطب
“Nabi ﷺ bersabda, ‘Untuk anak laki-laki akikah dengan dua kambing dan anak perempuan dengan satu kambing, tidak mengapa menggunakan kambing jantan atau pun betina’. Apabila ini dibolehkan dalam hal akikah dengan berlandaskan hadis ini, maka menunjukkan boleh juga dalam hal berkurban karena daging hewan jantan lebih bagus dan daging hewan betina lebih segar.” (al-Majmu’, jilid 8, hlm. 393).
Adapun dari sisi mana yang lebih utama, maka hewan jantan lebih utama untuk kurban karena Nabi ﷺ berkurban dengan hewan jantan, al-Hafizh Ibnu Hajar tatkala menerangkan hadis yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ berkurban dengan dua kambing jantan yang bertanduk, beliau menyebutkan,
وفيه أن الذَّكَرَ فِي الْأُضْحِيَّةِ أَفْضَلُ مِنَ الْأُنْثَى
“Di dalam hadis ini diambil faedah bahwa hewan jantan lebih utama daripada hewan betina untuk berkurban.” (Fath al-Bārī, jilid 10, hlm. 11).
Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk akikah yang wajib adalah menggunakan kambing, baik kambing jantan maupun betina, dua-duanya sah.
Adapun untuk berkurban maka yang wajib adalah menggunakan al-ān’am yaitu unta, sapi, atau kambing; baik hewan jantan atau pun betina, dua-duanya sah, namun yang afdal adalah hewan jantan.
Oleh karena ini antara kurban dan akikah ada sisi kesamaan dan perbedaan, sisi kesamaannya adalah akikah dan kurban boleh hewan jantan maupun betina, sisi perbedaannya adalah kurban harus dengan bahimatul an-‘ām sedangkan akikah harus dengan kambing.
📚 Sumber: https://www.alfudhail.com/faedah-penting-tentang-kurban-dan-akikah/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 JANGAN TELANTARKAN ANAK ANDA!
Syaikh Sholih bin Abdillah Al Fauzan hafizhahullah
https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/14450
Bertakwalah kalian kepada Allah wahai hamba-hamba Allah...
Perhatikanlah anak-anak anda sekalian. Masalahnya sekarang, apa yang hendak kita nasihatkan kepada para orangtua?! Orangtua tidak tahu-menahu perihal anaknya, kegiatannya kalau bukan mencari harta dan sibuk berdagang, ia berada di tempat-tempat yang penuh dengan hal-hal yang sia-sia dan kelalaian.
Ia begadang semalaman di tempat-tempat hiburan dengan bersenang-senang. Ia habiskan waktunya untuk berekreasi kemana-mana dan semacamnya.
Tak ketinggalan pula sang ibu. Sekarang para ibu telah menjelma menjadi pria pada umumnya, dimana ia tidak lagi menetap di rumah, ia dituntut untuk keluar rumah karena profesinya, alasan belajar, atau sekedar berkumpul bersama teman-temannya.
Sang ibu rela meninggalkan anaknya, sehingga di mana mereka berada? Mereka berada di panti asuhan, tempat-tempat penitipan anak, dan semisalnya.
Anak-anak dididik oleh orang yang tidak menyayangi maupun bersikap lembut kepada mereka. Anak-anak tumbuh di bawah asuhan orang yang tidak pernah peduli kepada mereka. Layaknya tukang gembala kambing, orang tersebut dibayar hanya agar sang anak tidak hilang saja.
Adapun tugas memerhatikan akhlak dan agama mereka tetaplah tugas kedua orangtua. Orang lain tidak akan memedulikan kebaikan atau kerusakan yang terjadi pada mereka.
Orang tersebut hanyalah diberi bayaran sebagaimana penggembala kambing, ia hanya bertugas menjaga agar gembalaannya tidak hilang saja.
Maka bertakwalah kalian wahai hamba-hamba Allah...
Selalu perhatikan anak-anak kalian. Karena sungguh kalian berada di suatu masa ketika fitnah padanya sangatlah dahsyat.
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً
Dan orang-orang yang berdoa, ‘wahai Rabb kami karuniakan untuk kami istri-istri dan anak-anak kami yang menyejukkan mata kami. Dan jadikanlah kami sebagai panutan untuk orang yang bertakwa. (QS. al Furqon: 74)
______________________
Baca juga:
https://itishom.org/blog/artikel/muamalah/kenakalan-anak-kecil-tetap-harus-dipertanggungjawabkan/
https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/menjaga-anak-agar-tetap-berada-di-atas-fitrah/
https://itishom.org/blog/artikel/akhlaq/istighfar-untuk-orangtua/
______________________
Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian semua kepada Allah ta’ala...
Sesungguhnya dampak dari buruknya pendidikan dan sikap penyia-nyiaan terhadap anak adalah berbagai hal yang kita saksikan sekarang, berupa para pemuda yang berperilaku sangat buruk.
Mereka atau mayoritas mereka biasa melakukan kebut-kebutan dengan kendaraan di jalanan sehingga membahayakan diri mereka sendiri maupun orang lain, membuat orang-orang dan tetangga sekitarnya merasa resah, serta membuat para pengguna jalan yang lain berada dalam bahaya. Sudah berapa banyak kecelakaan yang diakibatkan kebut-kebutan?! Berapa banyak sudah korban yang meninggal akibatnya?! Berapa banyak harta dan kendaraan yang terbuang dan hancur sia-sia tanpa hasil?!
Sang anak sebenarnya memiliki banyak waktu yang kosong namun ia tidak tersibukkan dengan sesuatu yang bermanfaat atau sesuatu yang baik, ia malah diberi sarana-sarana menuju kerusakan lalu ditinggalkan begitu saja. Akhirnya ia ambil mobilnya lalu memacunya di jalanan sehingga mengganggu orang lain. Membuat dirinya dan orang lain berada dalam bahaya.
Banyak dari mereka yang bahkan berani mendoakan kejelekan untuk orangtuanya, sebagaimana terjadi pada sebagian orang. Bahkan sebagian dari anak-anak tersebut sampai melaknat orangtuanya, karena orangtuanya memang tega meninggalkan sang anak dan membiarkan sang anak dalam bahaya, dimana sikap itu sangat menyakitinya.
📬 JANGAN TELANTARKAN ANAK ANDA!
Syaikh Sholih bin Abdillah Al Fauzan hafizhahullah
https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/14450
Bertakwalah kalian kepada Allah wahai hamba-hamba Allah...
Perhatikanlah anak-anak anda sekalian. Masalahnya sekarang, apa yang hendak kita nasihatkan kepada para orangtua?! Orangtua tidak tahu-menahu perihal anaknya, kegiatannya kalau bukan mencari harta dan sibuk berdagang, ia berada di tempat-tempat yang penuh dengan hal-hal yang sia-sia dan kelalaian.
Ia begadang semalaman di tempat-tempat hiburan dengan bersenang-senang. Ia habiskan waktunya untuk berekreasi kemana-mana dan semacamnya.
Tak ketinggalan pula sang ibu. Sekarang para ibu telah menjelma menjadi pria pada umumnya, dimana ia tidak lagi menetap di rumah, ia dituntut untuk keluar rumah karena profesinya, alasan belajar, atau sekedar berkumpul bersama teman-temannya.
Sang ibu rela meninggalkan anaknya, sehingga di mana mereka berada? Mereka berada di panti asuhan, tempat-tempat penitipan anak, dan semisalnya.
Anak-anak dididik oleh orang yang tidak menyayangi maupun bersikap lembut kepada mereka. Anak-anak tumbuh di bawah asuhan orang yang tidak pernah peduli kepada mereka. Layaknya tukang gembala kambing, orang tersebut dibayar hanya agar sang anak tidak hilang saja.
Adapun tugas memerhatikan akhlak dan agama mereka tetaplah tugas kedua orangtua. Orang lain tidak akan memedulikan kebaikan atau kerusakan yang terjadi pada mereka.
Orang tersebut hanyalah diberi bayaran sebagaimana penggembala kambing, ia hanya bertugas menjaga agar gembalaannya tidak hilang saja.
Maka bertakwalah kalian wahai hamba-hamba Allah...
Selalu perhatikan anak-anak kalian. Karena sungguh kalian berada di suatu masa ketika fitnah padanya sangatlah dahsyat.
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً
Dan orang-orang yang berdoa, ‘wahai Rabb kami karuniakan untuk kami istri-istri dan anak-anak kami yang menyejukkan mata kami. Dan jadikanlah kami sebagai panutan untuk orang yang bertakwa. (QS. al Furqon: 74)
______________________
Baca juga:
https://itishom.org/blog/artikel/muamalah/kenakalan-anak-kecil-tetap-harus-dipertanggungjawabkan/
https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/menjaga-anak-agar-tetap-berada-di-atas-fitrah/
https://itishom.org/blog/artikel/akhlaq/istighfar-untuk-orangtua/
______________________
Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian semua kepada Allah ta’ala...
Sesungguhnya dampak dari buruknya pendidikan dan sikap penyia-nyiaan terhadap anak adalah berbagai hal yang kita saksikan sekarang, berupa para pemuda yang berperilaku sangat buruk.
Mereka atau mayoritas mereka biasa melakukan kebut-kebutan dengan kendaraan di jalanan sehingga membahayakan diri mereka sendiri maupun orang lain, membuat orang-orang dan tetangga sekitarnya merasa resah, serta membuat para pengguna jalan yang lain berada dalam bahaya. Sudah berapa banyak kecelakaan yang diakibatkan kebut-kebutan?! Berapa banyak sudah korban yang meninggal akibatnya?! Berapa banyak harta dan kendaraan yang terbuang dan hancur sia-sia tanpa hasil?!
Sang anak sebenarnya memiliki banyak waktu yang kosong namun ia tidak tersibukkan dengan sesuatu yang bermanfaat atau sesuatu yang baik, ia malah diberi sarana-sarana menuju kerusakan lalu ditinggalkan begitu saja. Akhirnya ia ambil mobilnya lalu memacunya di jalanan sehingga mengganggu orang lain. Membuat dirinya dan orang lain berada dalam bahaya.
Banyak dari mereka yang bahkan berani mendoakan kejelekan untuk orangtuanya, sebagaimana terjadi pada sebagian orang. Bahkan sebagian dari anak-anak tersebut sampai melaknat orangtuanya, karena orangtuanya memang tega meninggalkan sang anak dan membiarkan sang anak dalam bahaya, dimana sikap itu sangat menyakitinya.
Anda bisa melihat di tembok-tembok itu! Banyak tembok bangunan yang menjadi korban perbuatan para pelajar remaja, mereka mencoretinya dengan berbagai macam tulisan yang buruk.
Jika anda membacanya anda akan mendapati ternyata itu adalah tulisan-tulisan berbau perzinaan. Itu menunjukkan bahwa dalam diri-diri mereka terdapat gejolak kerusakan. Mereka lampiaskan itu semua di tembok tersebut dengan tulisan-tulisan tadi.
Wahai sekalian hamba Allah, bertakwalah anda semua kepada Allah...
Banyak pula di antara mereka yang pergi ke padang-padang rumput lalu melancarkan aksi balapan (semacam off road) di sana sehingga mengakibatkan rusaknya padang tersebut; tidak lagi menumbuhkan tetumbuhan atau memberikan manfaat apapun.
Itu semua karena telah dirusak oleh para pemuda tadi dengan perbuatan mereka. Sungguh itu merupakan kegiatan yang merusak.
Wahai sekalian hamba Allah, bertakwalah anda semua kepada Allah...
Perhatikanlah anak-anak anda dan jangan telantarkan mereka. Berbagai kejahatan yang terpampang jelas itu merupakan dampak dari pendidikan yang buruk. Dilakukan secara terang-terangan sehingga bisa dilihat oleh siapapun.
Lihatlah orang-orang kafir, mereka begitu perhatian dengan pendidikan anak-anak mereka, walaupun tentu yang mereka tanamkan adalah pendidikan dalam hal dunia. Mereka benar-benar serius mendidik sang anak.
Anda tidak akan mendapati ada anak-anak mereka yang berkeliaran di jalanan dengan mobil atau di tempat manapun, dalam keadaan anak mereka banyak. Padahal mereka itu orang-orang kafir! Lalu bagaimana mungkin orang-orang islam kondisinya demikian buruknya?!
Wahai sekalian hamba Allah, bertakwalah anda semua kepada Allah!
Selalu perhatikan anak-anak anda dan curahkan perhatian untuk mereka. Ketahuilah mereka adalah ujian bagi anda. Anda yang akan membuatnya baik atau malah merusaknya. Dan sungguh anda semua akan ditanyai tentang mereka di hadapan Allah.
Jika mereka baik mereka akan menjadi penyejuk mata bagi kedua orangtuanya hingga di surga kelak. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
Dan orang-orang yang beriman beserta keturunan mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami kumpulkan mereka dengan keturunan mereka (di surga kelak). Dan Kami tidak akan mengurangi pahala mereka sedikitpun. Setiap orang tergantung dengan apa yang ia perbuat. (QS. ath Thuur: 21)
Berkata para ahli tafsir:
Sesungguhnya apabila seorang anak berada di surga bersama orangtuanya dan orangtuanya berada di tingkatan yang lebih tinggi darinya, maka Allah akan meninggikan derajat sang anak hingga ke tingkatan orangtuanya, agar mereka bisa berkumpul kembali sehingga pandangan orangtua menjadi sejuk dengan keberadaan sang anak.
Dengan itu, sang anak menjadi penyejuk pandangan orangtuanya di dunia dan di akhirat. (Riwayat ath-Thobari dalam tafsirnya dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, pent-)
Sumber: https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/14450
Diterjemahkan oleh Abu Dzayyal Muhammad Wafi hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Jika anda membacanya anda akan mendapati ternyata itu adalah tulisan-tulisan berbau perzinaan. Itu menunjukkan bahwa dalam diri-diri mereka terdapat gejolak kerusakan. Mereka lampiaskan itu semua di tembok tersebut dengan tulisan-tulisan tadi.
Wahai sekalian hamba Allah, bertakwalah anda semua kepada Allah...
Banyak pula di antara mereka yang pergi ke padang-padang rumput lalu melancarkan aksi balapan (semacam off road) di sana sehingga mengakibatkan rusaknya padang tersebut; tidak lagi menumbuhkan tetumbuhan atau memberikan manfaat apapun.
Itu semua karena telah dirusak oleh para pemuda tadi dengan perbuatan mereka. Sungguh itu merupakan kegiatan yang merusak.
Wahai sekalian hamba Allah, bertakwalah anda semua kepada Allah...
Perhatikanlah anak-anak anda dan jangan telantarkan mereka. Berbagai kejahatan yang terpampang jelas itu merupakan dampak dari pendidikan yang buruk. Dilakukan secara terang-terangan sehingga bisa dilihat oleh siapapun.
Lihatlah orang-orang kafir, mereka begitu perhatian dengan pendidikan anak-anak mereka, walaupun tentu yang mereka tanamkan adalah pendidikan dalam hal dunia. Mereka benar-benar serius mendidik sang anak.
Anda tidak akan mendapati ada anak-anak mereka yang berkeliaran di jalanan dengan mobil atau di tempat manapun, dalam keadaan anak mereka banyak. Padahal mereka itu orang-orang kafir! Lalu bagaimana mungkin orang-orang islam kondisinya demikian buruknya?!
Wahai sekalian hamba Allah, bertakwalah anda semua kepada Allah!
Selalu perhatikan anak-anak anda dan curahkan perhatian untuk mereka. Ketahuilah mereka adalah ujian bagi anda. Anda yang akan membuatnya baik atau malah merusaknya. Dan sungguh anda semua akan ditanyai tentang mereka di hadapan Allah.
Jika mereka baik mereka akan menjadi penyejuk mata bagi kedua orangtuanya hingga di surga kelak. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
Dan orang-orang yang beriman beserta keturunan mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami kumpulkan mereka dengan keturunan mereka (di surga kelak). Dan Kami tidak akan mengurangi pahala mereka sedikitpun. Setiap orang tergantung dengan apa yang ia perbuat. (QS. ath Thuur: 21)
Berkata para ahli tafsir:
Sesungguhnya apabila seorang anak berada di surga bersama orangtuanya dan orangtuanya berada di tingkatan yang lebih tinggi darinya, maka Allah akan meninggikan derajat sang anak hingga ke tingkatan orangtuanya, agar mereka bisa berkumpul kembali sehingga pandangan orangtua menjadi sejuk dengan keberadaan sang anak.
Dengan itu, sang anak menjadi penyejuk pandangan orangtuanya di dunia dan di akhirat. (Riwayat ath-Thobari dalam tafsirnya dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, pent-)
Sumber: https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/14450
Diterjemahkan oleh Abu Dzayyal Muhammad Wafi hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KERUKUNAN DAN PERSATUAN LEBIH DIUTAMAKAN DARIPADA MENERAPKAN PENDAPAT PILIHAN DALAM FIQH
Dalam beberapa kondisi terkadang kita dihadapkan pada permasalahan yang dilematis. Apakah tetap menjalankan suatu pendapat yang secara syar'i disukai (mustahab) dan lebih utama (afdhol), ataukah lebih mendahulukan pendapat lain yang tidak lebih utama (mafdhul) walaupun masih dalam taraf diperbolehkan.
Apabila tindakan yang mafdhul lebih dekat kepada tercapainya kerukunan dan persatuan muslimin, merupakan kebaikan dan hikmah apabila kita menjalaninya walaupun untuk sementara meninggalkan yang mustahab dan afdhol.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan:
ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﻟﻠﺮﺟﻞ ﺃﻥ ﻳﻘﺼﺪ ﺇﻟﻰ ﺗﺄﻟﻴﻒ ﻫﺬﻩ اﻟﻘﻠﻮﺏ ﺑﺘﺮﻙ ﻫﺬﻩ اﻟﻤﺴﺘﺤﺒﺎﺕ؛ ﻷﻥ ﻣﺼﻠﺤﺔ اﻟﺘﺄﻟﻴﻒ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ ﺃﻋﻈﻢ ﻣﻦ ﻣﺼﻠﺤﺔ ﻓﻌﻞ ﻣﺜﻞ ﻫﺬا، ﻛﻤﺎ ﺗﺮﻙ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺗﻐﻴﻴﺮ ﺑﻨﺎء اﻟﺒﻴﺖ ﻟﻤﺎ ﺭﺃﻯ ﻓﻲ ﺇﺑﻘﺎﺋﻪ ﻣﻦ ﺗﺄﻟﻴﻒ اﻟﻘﻠﻮﺏ
"Dianjurkan bagi seseorang untuk mengedepankan kerukunan antar hati ini, walaupun perlu meninggalkan beberapa hal yang disunnahkan.
Karena nilai manfaat bersatunya hati lebih agung kedudukannya dalam agama ini dibandingkan penerapan amalan mustahab semacam ini.
Sebagaimana Nabi ﷺ pernah mengurungkan rencana restorasi (mengembalikan) bangunan kakbah. Tatkala beliau mempertimbangkan bahwa membiarkannya tetap pada bentuknya saat itu menjadi bagian penyatuan antar hati mereka."
(Al Qowa'id anNuroniyyah hal. 46)
Beliau rahimahullah juga mengingatkan dengan hikmah fatwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu:
ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻟﻤﺎ ﺳﺄﻟﻪ ﺭﺟﻞ ﻋﻦ ﻭﻗﺖ اﻟﺮﻣﻲ، ﻓﺄﺧﺒﺮﻩ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ: اﻓﻌﻞ ﻛﻤﺎ ﻳﻔﻌﻞ ﺇﻣﺎﻣﻚ، ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ.
"Demikian pula Anas bin Malik rahimahullah ketika ada seseorang yang bertanya kepada beliau tentang waktu melempar jumroh, beliaupun menjelaskan batasan ketentuannya, lalu berkata: (jika sulit) lakukanlah sebagaimana dilakukan pemimpinmu!
Wallahu a'lam"
(Al Fatawa Al Kubro Kitab ashSholah hal. 252)
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
artikel lainnya:
https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/obat-untuk-melapangkan-dada/
https://itishom.org/blog/artikel/muamalah/tiga-etika-dasar-pergaulan/
https://itishom.org/blog/artikel/manhaj/perbedaan-dalam-prinsip-akidah-tidak-boleh-dibiarkan/
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Batasannya pernah beliau rahimahullah singgung pula di tempat lain dengan pernyataan beliau:
ﻭﻟﻬﺬا ﻧﺺ اﻷﺋﻤﺔ ﻛﺄﺣﻤﺪ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺑﺎﻟﺒﺴﻤﻠﺔ ﻭﻓﻲ ﻭﺻﻞ اﻟﻮﺗﺮ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻤﺎ ﻓﻴﻪ اﻟﻌﺪﻭﻝ ﻋﻦ اﻷﻓﻀﻞ ﺇﻟﻰ اﻟﺠﺎﺋﺰ اﻟﻤﻔﻀﻮﻝ ﻣﺮاﻋﺎﺓ اﺋﺘﻼﻑ اﻟﻤﺄﻣﻮﻣﻴﻦ ﺃﻭ ﻟﺘﻌﺮﻳﻔﻬﻢ اﻟﺴﻨﺔ ﻭﺃﻣﺜﺎﻝ ﺫﻟﻚ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ.
"Karenanyalah para imam semisal Imam Ahmad dan selainnya telah menyatakan hal itu (seperti) pada permasalahan (dimakluminya mengeraskan) bacaan basmalah, disambungnya rokaat sholat witir dan yang selainnya dengan mentolerir penerapan berbeda dari penerapannya yang afdhol menjadi sekedar menerapkan hal yang masih diperbolehkan (walaupun) mafdhul. Hal itu dilakukan sebagai upaya menjaga sikap kasih sayang pada mukminin, atau agar mereka bisa mengerti sunnah, dan tujuan lain semisal itu. Wallahu a'lam."
(Majmu' Al Fatawa 22/437)
Sehingga tatkala sosok Ahlussunnah yang dikenal kebaikannya menerapkan suatu tindakan yang tidak masuk kategori afdhol, selama bukan merupakan dosa ataupun permusuhan, jika kita tidak sepakat dengan tindakannya hendaknya diberikan sekian udzur baginya.
📬 KERUKUNAN DAN PERSATUAN LEBIH DIUTAMAKAN DARIPADA MENERAPKAN PENDAPAT PILIHAN DALAM FIQH
Dalam beberapa kondisi terkadang kita dihadapkan pada permasalahan yang dilematis. Apakah tetap menjalankan suatu pendapat yang secara syar'i disukai (mustahab) dan lebih utama (afdhol), ataukah lebih mendahulukan pendapat lain yang tidak lebih utama (mafdhul) walaupun masih dalam taraf diperbolehkan.
Apabila tindakan yang mafdhul lebih dekat kepada tercapainya kerukunan dan persatuan muslimin, merupakan kebaikan dan hikmah apabila kita menjalaninya walaupun untuk sementara meninggalkan yang mustahab dan afdhol.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan:
ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﻟﻠﺮﺟﻞ ﺃﻥ ﻳﻘﺼﺪ ﺇﻟﻰ ﺗﺄﻟﻴﻒ ﻫﺬﻩ اﻟﻘﻠﻮﺏ ﺑﺘﺮﻙ ﻫﺬﻩ اﻟﻤﺴﺘﺤﺒﺎﺕ؛ ﻷﻥ ﻣﺼﻠﺤﺔ اﻟﺘﺄﻟﻴﻒ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ ﺃﻋﻈﻢ ﻣﻦ ﻣﺼﻠﺤﺔ ﻓﻌﻞ ﻣﺜﻞ ﻫﺬا، ﻛﻤﺎ ﺗﺮﻙ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺗﻐﻴﻴﺮ ﺑﻨﺎء اﻟﺒﻴﺖ ﻟﻤﺎ ﺭﺃﻯ ﻓﻲ ﺇﺑﻘﺎﺋﻪ ﻣﻦ ﺗﺄﻟﻴﻒ اﻟﻘﻠﻮﺏ
"Dianjurkan bagi seseorang untuk mengedepankan kerukunan antar hati ini, walaupun perlu meninggalkan beberapa hal yang disunnahkan.
Karena nilai manfaat bersatunya hati lebih agung kedudukannya dalam agama ini dibandingkan penerapan amalan mustahab semacam ini.
Sebagaimana Nabi ﷺ pernah mengurungkan rencana restorasi (mengembalikan) bangunan kakbah. Tatkala beliau mempertimbangkan bahwa membiarkannya tetap pada bentuknya saat itu menjadi bagian penyatuan antar hati mereka."
(Al Qowa'id anNuroniyyah hal. 46)
Beliau rahimahullah juga mengingatkan dengan hikmah fatwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu:
ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻟﻤﺎ ﺳﺄﻟﻪ ﺭﺟﻞ ﻋﻦ ﻭﻗﺖ اﻟﺮﻣﻲ، ﻓﺄﺧﺒﺮﻩ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ: اﻓﻌﻞ ﻛﻤﺎ ﻳﻔﻌﻞ ﺇﻣﺎﻣﻚ، ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ.
"Demikian pula Anas bin Malik rahimahullah ketika ada seseorang yang bertanya kepada beliau tentang waktu melempar jumroh, beliaupun menjelaskan batasan ketentuannya, lalu berkata: (jika sulit) lakukanlah sebagaimana dilakukan pemimpinmu!
Wallahu a'lam"
(Al Fatawa Al Kubro Kitab ashSholah hal. 252)
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
artikel lainnya:
https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/obat-untuk-melapangkan-dada/
https://itishom.org/blog/artikel/muamalah/tiga-etika-dasar-pergaulan/
https://itishom.org/blog/artikel/manhaj/perbedaan-dalam-prinsip-akidah-tidak-boleh-dibiarkan/
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Batasannya pernah beliau rahimahullah singgung pula di tempat lain dengan pernyataan beliau:
ﻭﻟﻬﺬا ﻧﺺ اﻷﺋﻤﺔ ﻛﺄﺣﻤﺪ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺑﺎﻟﺒﺴﻤﻠﺔ ﻭﻓﻲ ﻭﺻﻞ اﻟﻮﺗﺮ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻤﺎ ﻓﻴﻪ اﻟﻌﺪﻭﻝ ﻋﻦ اﻷﻓﻀﻞ ﺇﻟﻰ اﻟﺠﺎﺋﺰ اﻟﻤﻔﻀﻮﻝ ﻣﺮاﻋﺎﺓ اﺋﺘﻼﻑ اﻟﻤﺄﻣﻮﻣﻴﻦ ﺃﻭ ﻟﺘﻌﺮﻳﻔﻬﻢ اﻟﺴﻨﺔ ﻭﺃﻣﺜﺎﻝ ﺫﻟﻚ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ.
"Karenanyalah para imam semisal Imam Ahmad dan selainnya telah menyatakan hal itu (seperti) pada permasalahan (dimakluminya mengeraskan) bacaan basmalah, disambungnya rokaat sholat witir dan yang selainnya dengan mentolerir penerapan berbeda dari penerapannya yang afdhol menjadi sekedar menerapkan hal yang masih diperbolehkan (walaupun) mafdhul. Hal itu dilakukan sebagai upaya menjaga sikap kasih sayang pada mukminin, atau agar mereka bisa mengerti sunnah, dan tujuan lain semisal itu. Wallahu a'lam."
(Majmu' Al Fatawa 22/437)
Sehingga tatkala sosok Ahlussunnah yang dikenal kebaikannya menerapkan suatu tindakan yang tidak masuk kategori afdhol, selama bukan merupakan dosa ataupun permusuhan, jika kita tidak sepakat dengan tindakannya hendaknya diberikan sekian udzur baginya.
Al I'tishom
Obat Untuk Melapangkan Dada – Al I'tishom
Apakah obat yang sesuai untuk melapangkan dada? Simak jawaban syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berikut ini.
Al Hafidz ibnu Katsir rahimahullah menukilkan:
"Dan telah dihikayatkan oleh Az Zuhri dan lainnya bahwa diantara alasan Utsman radhiyallahu 'anhu menggenapkan (jumlah rokaat di Mina) karena terdapat kekhawatiran nantinya kalangan badui pedalaman (yang ikut hadir) akan meyakini bahwa sholat memang difardhukan cukup 2 rokaat saja.
Ada juga yang menyatakan kemungkinannya bahwa beliau memiliki istri di Mekah. Dimana Ya'la dan lainnya pernah meriwayatkan hadits Ikrimah bin Ibrahim; "Telah menceritakan kepada saya Abdullah bin Abdurrohman bin Al Harits bin Abi Dzubab dari ayahandanya bahwasanya Utsman pernah sholat bersama mereka sejumlah 4 rokaat. Lalu Utsman menghadap ke arah mereka seraya berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
إذَا تزوَّج رَجُلٌ بِبَلَدٍ فَهُوَ مِنْ أَهْلِه
《Barangsiapa yang beristrikan penduduk suatu negeri, maka dia juga menjadi penduduk negeri tersebut.》
Sehingga aku sengaja menyempurnakan (jumlah roka'at sholat) karena memang aku beristrikan penduduk daerah ini sejak aku tiba di daerah ini."
(Al Bidayah wan Nihayah 7/244)
Walaupun hadits tersebut selanjutnya telah dikomentari sendiri oleh Al Hafidz ibnu Katsir sebagai hadits yang tidak shohih, namun kita tetap dapat mengambil pelajaran tentang upaya mencarikan udzur dari para ulama terkait tindakan Utsman radhiyallahu 'anhu. Memang, toleransi yang tepat dan mengedepankan persatuan adalah upaya yang patut disyukuri dan diteladani.
Wallahu a'lam
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✒ Dialihbahasakan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Sofian hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
"Dan telah dihikayatkan oleh Az Zuhri dan lainnya bahwa diantara alasan Utsman radhiyallahu 'anhu menggenapkan (jumlah rokaat di Mina) karena terdapat kekhawatiran nantinya kalangan badui pedalaman (yang ikut hadir) akan meyakini bahwa sholat memang difardhukan cukup 2 rokaat saja.
Ada juga yang menyatakan kemungkinannya bahwa beliau memiliki istri di Mekah. Dimana Ya'la dan lainnya pernah meriwayatkan hadits Ikrimah bin Ibrahim; "Telah menceritakan kepada saya Abdullah bin Abdurrohman bin Al Harits bin Abi Dzubab dari ayahandanya bahwasanya Utsman pernah sholat bersama mereka sejumlah 4 rokaat. Lalu Utsman menghadap ke arah mereka seraya berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
إذَا تزوَّج رَجُلٌ بِبَلَدٍ فَهُوَ مِنْ أَهْلِه
《Barangsiapa yang beristrikan penduduk suatu negeri, maka dia juga menjadi penduduk negeri tersebut.》
Sehingga aku sengaja menyempurnakan (jumlah roka'at sholat) karena memang aku beristrikan penduduk daerah ini sejak aku tiba di daerah ini."
(Al Bidayah wan Nihayah 7/244)
Walaupun hadits tersebut selanjutnya telah dikomentari sendiri oleh Al Hafidz ibnu Katsir sebagai hadits yang tidak shohih, namun kita tetap dapat mengambil pelajaran tentang upaya mencarikan udzur dari para ulama terkait tindakan Utsman radhiyallahu 'anhu. Memang, toleransi yang tepat dan mengedepankan persatuan adalah upaya yang patut disyukuri dan diteladani.
Wallahu a'lam
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✒ Dialihbahasakan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Sofian hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 MENUTUP HIDUNG DAN MULUT SERTA BERSANDAR KETIKA SHOLAT
Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah
Pertanyaan:
Apakah diperbolehkan menutup hidung dan mulut ketika sholat? Dan apakah (juga diperbolehkan) menyandarkan tubuh ke dinding atau tiang dan semisal itu?
Jawaban:
Dimakruhkan menutup hidung dan mulut ketika sholat kecuali ada alasan.
Juga tidak diperbolehkan bersandar di waktu sholat - khususnya sholat fardhu - pada dinding maupun tiang. Karena merupakan kewajiban bagi orang yang mampu untuk berdiri secara tegak tanpa bersandar.
Adapun untuk sholat sunnah, tidak mengapa melakukan hal itu. Karena (dalam sholat sunnah) diperbolehkan menunaikannya dalam posisi duduk. Walaupun penunaian sholat dalam posisi berdiri tetap lebih utama dibandingkan duduk.
(Dipublikasikan di surat kabar Okaz volume 10877 bertanggal 7 Muharram 1417 H. Majmu' Fatawa wa Maqolat AsySyaikh ibnu Baz 11/114).
=======================
التلثم في الصلاة
س: هل يجوز التلثم في الصلاة؟ أو الاستناد إلى جدار أو عمود ونحو ذلك؟
ج: يكره التلثم في الصلاة إلا من علة، ولا يجوز الاستناد في الصلاة -صلاة الفرض- إلى جدار أو عمود؛ لأن الواجب على المستطيع الوقوف معتدلًا غير مستند، فأما النافلة فلا حرج في ذلك؛ لأنه يجوز أداؤها قاعدًا، وأداؤها قائمًا أفضل من الجلوس[1].
نشرت في (جريدة عكاظ) العدد (10877) وتاريخ الجمعة 7 محرم 1417هـ. (مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 11/114).
Sumber:
https://binbaz.org.sa/fatwas/4051/%D8%A7%D9%84
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Baca juga artikel
https://itishom.org/blog/artikel/fiqh/hukum-sholat-malam-lagi-sebelum-sahur/
https://itishom.org/blog/artikel/fiqh/panduan-ringkas-shalat-jenazah/
https://itishom.org/blog/artikel/fiqh/sujud-sahwi/
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✒ Dialihbahasakan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Sofian hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 MENUTUP HIDUNG DAN MULUT SERTA BERSANDAR KETIKA SHOLAT
Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah
Pertanyaan:
Apakah diperbolehkan menutup hidung dan mulut ketika sholat? Dan apakah (juga diperbolehkan) menyandarkan tubuh ke dinding atau tiang dan semisal itu?
Jawaban:
Dimakruhkan menutup hidung dan mulut ketika sholat kecuali ada alasan.
Juga tidak diperbolehkan bersandar di waktu sholat - khususnya sholat fardhu - pada dinding maupun tiang. Karena merupakan kewajiban bagi orang yang mampu untuk berdiri secara tegak tanpa bersandar.
Adapun untuk sholat sunnah, tidak mengapa melakukan hal itu. Karena (dalam sholat sunnah) diperbolehkan menunaikannya dalam posisi duduk. Walaupun penunaian sholat dalam posisi berdiri tetap lebih utama dibandingkan duduk.
(Dipublikasikan di surat kabar Okaz volume 10877 bertanggal 7 Muharram 1417 H. Majmu' Fatawa wa Maqolat AsySyaikh ibnu Baz 11/114).
=======================
التلثم في الصلاة
س: هل يجوز التلثم في الصلاة؟ أو الاستناد إلى جدار أو عمود ونحو ذلك؟
ج: يكره التلثم في الصلاة إلا من علة، ولا يجوز الاستناد في الصلاة -صلاة الفرض- إلى جدار أو عمود؛ لأن الواجب على المستطيع الوقوف معتدلًا غير مستند، فأما النافلة فلا حرج في ذلك؛ لأنه يجوز أداؤها قاعدًا، وأداؤها قائمًا أفضل من الجلوس[1].
نشرت في (جريدة عكاظ) العدد (10877) وتاريخ الجمعة 7 محرم 1417هـ. (مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 11/114).
Sumber:
https://binbaz.org.sa/fatwas/4051/%D8%A7%D9%84
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Baca juga artikel
https://itishom.org/blog/artikel/fiqh/hukum-sholat-malam-lagi-sebelum-sahur/
https://itishom.org/blog/artikel/fiqh/panduan-ringkas-shalat-jenazah/
https://itishom.org/blog/artikel/fiqh/sujud-sahwi/
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✒ Dialihbahasakan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Sofian hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
binbaz.org.sa
حكم التلثم في الصلاة والاستناد إلى جدار أو عمود
ج: يكره التلثم في الصلاة إلا من علة، ولا يجوز الاستناد في الصلاة -صلاة الفرض- إلى جدار أو عمود؛
::
📬 KHOTBAH JUMAT: MERAJUT UKHUWWAH KARENA ALLAH
(disampaikan dalam khotbah Jumat di masjid al-Fauzan Ma'had Al I'tishom Sumberlele Kraksaan Probolinggo, 20 Rabiul Awwal 1442 H/6 Nov 2020 M)
✅ KHOTBAH PERTAMA:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،يُحْيِ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ،وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدَّيْنِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah…
Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menganugerahkan kepada kita nikmat yang sangat besar. Nikmat Islam dan Sunnah. Petunjuk Islam dan Sunnah ini seharusnya merekatkan kita dalam ikatan ukhuwwah yang menghantarkan kita masuk ke dalam Jannah.
Sebagaimana nikmat ukhuwwah imaniyyah ini Allah berikan kepada para Sahabat Nabi ridhwanullahi ‘alaihim ‘ajmain….
Dulu, kaum Anshar Aus dan Khazraj saling bermusuhan. Begitu kuat permusuhan itu, bahkan diwariskan. Untuk saling membenci dan memusuhi. Seakan-akan tidak akan hilang permusuhan itu.
Namun kemudian Allah menyatukan mereka dengan ajaran Islam. Rasul shollallahu alaihi wasallam mempersaudarakan mereka. Maka Allah ingatkan nikmat ini dalam firman-Nya:
...وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا...
…dan ingatlah nikmat Allah kepada kalian. Ketika kalian saling bermusuhan. Kemudian Allah satukan hati kalian sehingga dengan nikmat-Nya kalian menjadi bersaudara. Kalianpun sudah berada di jurang neraka, kemudian Allah selamatkan kalian darinya…(Q.S Ali Imran ayat 103)
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pun mengingatkan kaum Anshar akan nikmat tersebut setelah beliau membagi-bagikan harta rampasan perang Hunain:
يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ أَلَمْ أَجِدْكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمْ اللَّهُ بِي وَكُنْتُمْ مُتَفَرِّقِينَ فَأَلَّفَكُمْ اللَّهُ بِي
Wahai sekalian kaum Anshar, bukankah aku dulu mendapati kalian dalam keadaan sesat, kemudian Allah berikan hidayah kepada kalian dengan sebabku. Bukankah dulunya kalian terpecah belah, kemudian Allah satukan kalian dengan sebabku…(H.R al-Bukhari dan Muslim)
Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah…
Pengetahuan kita tentang tauhid dan sunnah, serta ajaran Nabi yang murni, seharusnya justru merekatkan kita. Menyatukan kita. Mempersaudarakan kita.
Berpegangteguhlah dengan tali Allah yaitu alQuran, Sunnah Nabi, dan pemahaman para Sahabat beliau. Janganlah berpecah belah.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا...
Berpegangteguhlah dengan tali Allah seluruhnya, janganlah kalian berpecah belah…(Q.S Ali Imran ayat 103)
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Taatilah Allah dan Rasul-Nya, janganlah kalian saling berselisih. (Jika kalian berselisih) kalian akan menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian. Bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar (Q.S al-Anfaal ayat 46)
Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah…
Allah Azza Wa Jalla juga mengisahkan dalam alQuran bahwa seluruh ikatan pertemanan dan persahabatan untuk selain Allah pada hari kiamat akan berubah menjadi permusuhan. Hanya ikatan baik antar orang-orang bertakwa sajalah yang tidak akan berganti menjadi permusuhan pada hari kiamat:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
Setiap pertemanan dan persahabatan pada hari itu (hari kiamat) akan berubah menjadi permusuhan kecuali orang-orang yang bertakwa (Q.S az-Zukhruf ayat 67)
📬 KHOTBAH JUMAT: MERAJUT UKHUWWAH KARENA ALLAH
(disampaikan dalam khotbah Jumat di masjid al-Fauzan Ma'had Al I'tishom Sumberlele Kraksaan Probolinggo, 20 Rabiul Awwal 1442 H/6 Nov 2020 M)
✅ KHOTBAH PERTAMA:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،يُحْيِ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ،وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدَّيْنِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah…
Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menganugerahkan kepada kita nikmat yang sangat besar. Nikmat Islam dan Sunnah. Petunjuk Islam dan Sunnah ini seharusnya merekatkan kita dalam ikatan ukhuwwah yang menghantarkan kita masuk ke dalam Jannah.
Sebagaimana nikmat ukhuwwah imaniyyah ini Allah berikan kepada para Sahabat Nabi ridhwanullahi ‘alaihim ‘ajmain….
Dulu, kaum Anshar Aus dan Khazraj saling bermusuhan. Begitu kuat permusuhan itu, bahkan diwariskan. Untuk saling membenci dan memusuhi. Seakan-akan tidak akan hilang permusuhan itu.
Namun kemudian Allah menyatukan mereka dengan ajaran Islam. Rasul shollallahu alaihi wasallam mempersaudarakan mereka. Maka Allah ingatkan nikmat ini dalam firman-Nya:
...وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا...
…dan ingatlah nikmat Allah kepada kalian. Ketika kalian saling bermusuhan. Kemudian Allah satukan hati kalian sehingga dengan nikmat-Nya kalian menjadi bersaudara. Kalianpun sudah berada di jurang neraka, kemudian Allah selamatkan kalian darinya…(Q.S Ali Imran ayat 103)
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pun mengingatkan kaum Anshar akan nikmat tersebut setelah beliau membagi-bagikan harta rampasan perang Hunain:
يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ أَلَمْ أَجِدْكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمْ اللَّهُ بِي وَكُنْتُمْ مُتَفَرِّقِينَ فَأَلَّفَكُمْ اللَّهُ بِي
Wahai sekalian kaum Anshar, bukankah aku dulu mendapati kalian dalam keadaan sesat, kemudian Allah berikan hidayah kepada kalian dengan sebabku. Bukankah dulunya kalian terpecah belah, kemudian Allah satukan kalian dengan sebabku…(H.R al-Bukhari dan Muslim)
Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah…
Pengetahuan kita tentang tauhid dan sunnah, serta ajaran Nabi yang murni, seharusnya justru merekatkan kita. Menyatukan kita. Mempersaudarakan kita.
Berpegangteguhlah dengan tali Allah yaitu alQuran, Sunnah Nabi, dan pemahaman para Sahabat beliau. Janganlah berpecah belah.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا...
Berpegangteguhlah dengan tali Allah seluruhnya, janganlah kalian berpecah belah…(Q.S Ali Imran ayat 103)
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Taatilah Allah dan Rasul-Nya, janganlah kalian saling berselisih. (Jika kalian berselisih) kalian akan menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian. Bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar (Q.S al-Anfaal ayat 46)
Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah…
Allah Azza Wa Jalla juga mengisahkan dalam alQuran bahwa seluruh ikatan pertemanan dan persahabatan untuk selain Allah pada hari kiamat akan berubah menjadi permusuhan. Hanya ikatan baik antar orang-orang bertakwa sajalah yang tidak akan berganti menjadi permusuhan pada hari kiamat:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
Setiap pertemanan dan persahabatan pada hari itu (hari kiamat) akan berubah menjadi permusuhan kecuali orang-orang yang bertakwa (Q.S az-Zukhruf ayat 67)
Salah satu dari 7 golongan yang akan Allah naungi pada hari kiamat, di hari tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah.
...وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ...
…dan dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dalam kecintaan karena Allah dan berpisah juga karena-Nya…(H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah).
anNawawiy rahimahullah menjelaskan makna hadits itu:
كَانَ سَبَبُ اجْتِمَاعِهِمَا حُبَّ اللهِ وَاسْتَمَرَّا عَلَى ذَلِكَ حَتَّى تَفَرَّقَا مِنْ مَجْلِسِهِمَا وَهُمَا صَادِقَانِ فِي حُبِّ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحِبِهِ لِلَّهِ تَعَالَى حَالَ اجْتِمَاعِهِمَا وَافْتِرَاقِهِمَا
Penyebab berkumpulnya kedua orang itu adalah karena cinta kepada Allah. Hal itu terus berlangsung hingga keduanya berpisah dari majelis. Dalam keadaan, keduanya benar-benar jujur mencintai rekannya karena Allah Ta’ala pada saat berkumpul maupun pada saat berpisah (al-Minhaj syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaaj (7/121)).
Sesungguhnya keimanan dan saling mencintai karena Allah akan menghantarkan seseorang menuju al-Jannah. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا...
Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan sempurna keimanannya hingga saling mencintai…(H.R Muslim)
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kita bersaudara dalam Islam dilandasi oleh kecintaan karena Allah dan semoga persaudaraan itu menghantarkan kita menuju al-Jannah atau surga-Nya.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
✅ KHOTBAH KEDUA:
الْحَمْدُ للهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ فِي رُبُوْبِيِّتِهِ وَإِلَهِيَّتِهِ وَأَسْمَاءِهِ وَصِفَاتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا
قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah...
Pada khotbah yang pertama kita telah membahas tentang keutamaan menjalin ukhuwwah karena Allah. Bagaimana cara mewujudkan ukhuwwah (persaudaraan) karena Allah itu?
Semua solusi dan arahannya ada dalam alQuran dan Sunnah Nabi shollallahu alaihi wasallam. Jika kita menerapkan semua bimbingan alQuran dan Sunnah, kita akan menjadi orang yang bertakwa, dan kita akan bisa mewujudkan ukhuwwah karena Allah. Hanya Allah semata yang bisa memberikan taufiq kepada hal itu.
Cintailah saudaramu karena Allah. Ketika ia adalah orang yang bertakwa, komitmen di atas sunnah. Cintailah ia karena perilaku dan manhajnya itu.
Doakan kebaikan untuk saudaramu. Bahkan doa yang dipanjatkan kepada Allah tanpa sepengetahuannya adalah doa yang mustajab.
Cintailah kebaikan pada saudaramu sebagaimana engkau suka kebaikan itu ada pada dirimu. Dengan demikian, engkau tidak akan memiliki sifat hasad, iri, dan dengki atas kebaikan yang ada pada saudaramu. Sesungguhnya mencintai kebaikan pada saudara kita sebagaimana kita suka kebaikan itu ada pada diri kita adalah termasuk sifat yang akan menghantarkan seseorang menuju al-Jannah.
Dalam sebuah hadits, Nabi shollallahu alaihi wasallam menyatakan kepada Yazid bin Asad:
أَتُحِبُّ الْجَنَّةَ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَأَحِبَّ لِأَخِيكَ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ
Apakah engkau senang (masuk) surga? Yazid menyatakan: Ya. Nabi bersabda: Maka cintailah untuk saudaramu sebagaimana engkau cinta (hal itu terjadi) kepada dirimu (H.R Ahmad, dishahihkan oleh alHakim dan disepakati oleh adz-Dzahaby)
Ukhuwaah imaniyyah dilandasi oleh sikap saling memberi nasihat. Nasihat adalah penyampaian yang dilandasi ketulusan ingin kebaikan untuk saudaranya. Tidak ada tendensi untuk menjatuhkan atau melecehkannya.
...وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ...
…dan dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dalam kecintaan karena Allah dan berpisah juga karena-Nya…(H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah).
anNawawiy rahimahullah menjelaskan makna hadits itu:
كَانَ سَبَبُ اجْتِمَاعِهِمَا حُبَّ اللهِ وَاسْتَمَرَّا عَلَى ذَلِكَ حَتَّى تَفَرَّقَا مِنْ مَجْلِسِهِمَا وَهُمَا صَادِقَانِ فِي حُبِّ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحِبِهِ لِلَّهِ تَعَالَى حَالَ اجْتِمَاعِهِمَا وَافْتِرَاقِهِمَا
Penyebab berkumpulnya kedua orang itu adalah karena cinta kepada Allah. Hal itu terus berlangsung hingga keduanya berpisah dari majelis. Dalam keadaan, keduanya benar-benar jujur mencintai rekannya karena Allah Ta’ala pada saat berkumpul maupun pada saat berpisah (al-Minhaj syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaaj (7/121)).
Sesungguhnya keimanan dan saling mencintai karena Allah akan menghantarkan seseorang menuju al-Jannah. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا...
Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan sempurna keimanannya hingga saling mencintai…(H.R Muslim)
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kita bersaudara dalam Islam dilandasi oleh kecintaan karena Allah dan semoga persaudaraan itu menghantarkan kita menuju al-Jannah atau surga-Nya.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
✅ KHOTBAH KEDUA:
الْحَمْدُ للهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ فِي رُبُوْبِيِّتِهِ وَإِلَهِيَّتِهِ وَأَسْمَاءِهِ وَصِفَاتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا
قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah...
Pada khotbah yang pertama kita telah membahas tentang keutamaan menjalin ukhuwwah karena Allah. Bagaimana cara mewujudkan ukhuwwah (persaudaraan) karena Allah itu?
Semua solusi dan arahannya ada dalam alQuran dan Sunnah Nabi shollallahu alaihi wasallam. Jika kita menerapkan semua bimbingan alQuran dan Sunnah, kita akan menjadi orang yang bertakwa, dan kita akan bisa mewujudkan ukhuwwah karena Allah. Hanya Allah semata yang bisa memberikan taufiq kepada hal itu.
Cintailah saudaramu karena Allah. Ketika ia adalah orang yang bertakwa, komitmen di atas sunnah. Cintailah ia karena perilaku dan manhajnya itu.
Doakan kebaikan untuk saudaramu. Bahkan doa yang dipanjatkan kepada Allah tanpa sepengetahuannya adalah doa yang mustajab.
Cintailah kebaikan pada saudaramu sebagaimana engkau suka kebaikan itu ada pada dirimu. Dengan demikian, engkau tidak akan memiliki sifat hasad, iri, dan dengki atas kebaikan yang ada pada saudaramu. Sesungguhnya mencintai kebaikan pada saudara kita sebagaimana kita suka kebaikan itu ada pada diri kita adalah termasuk sifat yang akan menghantarkan seseorang menuju al-Jannah.
Dalam sebuah hadits, Nabi shollallahu alaihi wasallam menyatakan kepada Yazid bin Asad:
أَتُحِبُّ الْجَنَّةَ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَأَحِبَّ لِأَخِيكَ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ
Apakah engkau senang (masuk) surga? Yazid menyatakan: Ya. Nabi bersabda: Maka cintailah untuk saudaramu sebagaimana engkau cinta (hal itu terjadi) kepada dirimu (H.R Ahmad, dishahihkan oleh alHakim dan disepakati oleh adz-Dzahaby)
Ukhuwaah imaniyyah dilandasi oleh sikap saling memberi nasihat. Nasihat adalah penyampaian yang dilandasi ketulusan ingin kebaikan untuk saudaranya. Tidak ada tendensi untuk menjatuhkan atau melecehkannya.
Sebagai pihak yang memberi nasihat, sampaikan nasihat itu dengan ikhlas. Karena Allah. Sampaikan dengan penyampaian yang baik dan hikmah. Dengan memperhatikan situasi dan keadaan yang tepat. Di waktu yang tepat. Sampaikan tanpa harus diketahui oleh pihak lain. Pastikan bahwa nasihat yang engkau sampaikan berdasarkan alQuran dan Sunnah dengan pemahaman para Sahabat Nabi.
Apabila masalah yang dibahas adalah masalah ijtihadiyyah, karena tidak adanya nash tegas dalam masalah itu, namun engkau memandang sesuatu yang menurutmu baik, sampaikan argumenmu dengan baik. Namun jangan memaksa bahwa itu harus diterima. Bahkan mungkin dalam majelis munashohah itu terbuka sisi pandang lain yang memiliki kekuatan dan kebaikan.
Dari sisi pihak yang dinasihati, sadarilah itikad baik dari saudaramu yang menginginkan kebaikan pada dirimu Cermatilah dengan baik masukan-masukan dan saran dari saudaramu. Uraikan pula dengan penyampaian yang baik. Dengan penyampaian yang baik dan beradab.
Saudaraku….
Seorang muslim yang secara dzhahir nampak sebagai pribadi yang adil, harus dikedepankan husnudzdzhon (baik sangka) terhadapnya. Jangan menerima berita-berita keburukan tentang dia dari sumber-sumber yang tidak jelas.
Kedepankan persangkaan yang baik untuk saudaramu Ahlussunnah. Terapkan tabayyun mengklarifikasi berita kepada pihak yang berwenang secara langsung. Sesungguhnya Allah Ta’ala membenci ucapan katanya dan katanya, yang tidak jelas sumber informasinya.
إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَال
Sesungguhnya Allah membenci untuk kalian tiga hal: Ungkapan katanya dan katanya, menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya (H.R al-Bukhari dan Muslim)
Janganlah pula engkau umbar aib dan keburukan saudaramu kepada pihak-pihak yang tidak memiliki kewenangan untuk menyampaikan nasihat atau perbaikan. Apalagi jika seandainya saudaramu itu telah bertobat dari kesalahan-kesalahan tersebut.
Seorang muslim lainnya, apabila melihat saudaranya berselisih, hendaknya berusaha untuk mendamaikan. Atau setidaknya mengurangi dampak perselisihan itu. Janganlah berpihak untuk mendukung satu pihak sampai benar-benar paham permasalahan. Jika kita tidak mampu untuk mendamaikan secara langsung, diamlah dan banyak berdoa kepada Allah Ta’ala.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menguatkan ukhuwwah kita karena Allah dan semoga hal itu menghantarkan kita menuju al-Jannah.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ وَالْأَدْوَاءِ
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَأَجِرْنَا مِنْ مُضِلَّاتِ الْفِتَنِ مَا أَحْيَيْتَنَا
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ
اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا... اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا... اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا...
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Apabila masalah yang dibahas adalah masalah ijtihadiyyah, karena tidak adanya nash tegas dalam masalah itu, namun engkau memandang sesuatu yang menurutmu baik, sampaikan argumenmu dengan baik. Namun jangan memaksa bahwa itu harus diterima. Bahkan mungkin dalam majelis munashohah itu terbuka sisi pandang lain yang memiliki kekuatan dan kebaikan.
Dari sisi pihak yang dinasihati, sadarilah itikad baik dari saudaramu yang menginginkan kebaikan pada dirimu Cermatilah dengan baik masukan-masukan dan saran dari saudaramu. Uraikan pula dengan penyampaian yang baik. Dengan penyampaian yang baik dan beradab.
Saudaraku….
Seorang muslim yang secara dzhahir nampak sebagai pribadi yang adil, harus dikedepankan husnudzdzhon (baik sangka) terhadapnya. Jangan menerima berita-berita keburukan tentang dia dari sumber-sumber yang tidak jelas.
Kedepankan persangkaan yang baik untuk saudaramu Ahlussunnah. Terapkan tabayyun mengklarifikasi berita kepada pihak yang berwenang secara langsung. Sesungguhnya Allah Ta’ala membenci ucapan katanya dan katanya, yang tidak jelas sumber informasinya.
إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَال
Sesungguhnya Allah membenci untuk kalian tiga hal: Ungkapan katanya dan katanya, menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya (H.R al-Bukhari dan Muslim)
Janganlah pula engkau umbar aib dan keburukan saudaramu kepada pihak-pihak yang tidak memiliki kewenangan untuk menyampaikan nasihat atau perbaikan. Apalagi jika seandainya saudaramu itu telah bertobat dari kesalahan-kesalahan tersebut.
Seorang muslim lainnya, apabila melihat saudaranya berselisih, hendaknya berusaha untuk mendamaikan. Atau setidaknya mengurangi dampak perselisihan itu. Janganlah berpihak untuk mendukung satu pihak sampai benar-benar paham permasalahan. Jika kita tidak mampu untuk mendamaikan secara langsung, diamlah dan banyak berdoa kepada Allah Ta’ala.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menguatkan ukhuwwah kita karena Allah dan semoga hal itu menghantarkan kita menuju al-Jannah.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ وَالْأَدْوَاءِ
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَأَجِرْنَا مِنْ مُضِلَّاتِ الْفِتَنِ مَا أَحْيَيْتَنَا
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ
اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا... اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا... اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا...
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Forwarded from Dhiyaussalaf al-Atsary Pekanbaru
NASIHAT UNTUK SALAFIYYIN DI INDONESIA.pdf
583.3 KB
"Nasihat Untuk Salafiyyin di Indonesia"