منتدى نشر الفـــــــوائد
7.6K subscribers
4.29K photos
256 videos
279 files
5.6K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
::
📬 KAJIAN KITABUL JAMI’ MIN BULUGHIL MARAM (bag 6)

📗 BAB: ADAB
MENJILATI JARI TANGAN DARI SISA MAKANAN SEBELUM MENGUSAP ATAU MEMBASUH TANGAN


Hadits no 1442


وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - - إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا, فَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ, حَتَّى يَلْعَقَهَا, أَوْ يُلْعِقَهَا - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Abbas –semoga Allah meridhai keduanya- ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Jika salah seorang dari kalian memakan suatu makanan, janganlah ia mengusap tangannya hingga ia (sendiri) menjilatinya atau ada orang yang menjilatinya (muttafaqun alaih)



💡Penjelasan:

Makanan dan minuman adalah salah satu nikmat Allah yang harus disyukuri dan dimuliakan. Tidak boleh disia-siakan atau dihinakan. Apabila menempel sisa makanan di tangan kita, janganlah membersihkan tangan itu dengan air atau hal lainnya sehingga sebagian sisa makanan itu akan terbuang tanpa termanfaatkan, sebelum orang itu menjilati jari atau tangannya sendiri.

Bisa juga orang lain yang memiliki kedekatan dan kasih sayang terhadapnya yang menjilatinya, seperti istri, anak, atau hamba sahaya miliknya. Kalaupun tidak tercapai hal itu, setidaknya ia mengusap sisa makanan di tangannya dengan saputangan/tisu yang nantinya dibuang di tempat yang bersih, kemudian ia mencuci tangannya setelah itu. Namun yang lebih utama adalah mengikuti sunnah sebagaimana disebutkan dalam hadits ini (disarikan dari Taudhihul Ahkam karya Syaikh Abdullah al-Bassam (4/535)).

Di dalam hadits yang lain, Nabi shollallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk tidak melewatkan makanan yang tersisa, baik dengan menjilati tangan atau wadah makanan itu, karena seseorang tidak mengetahui di bagian mana pada makanannya terdapat keberkahan. Apabila ada bagian dari makanan itu yang terjatuh, hendaknya ia bersihkan bagian yang kotor kemudian ia makan, jangan membiarkannya untuk setan.

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِلَعْقِ الأَصَابِعِ وَالصَّحْفَةِ وَقَالَ « إِنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ فِى أَيِّهِ الْبَرَكَةُ »

dari Jabir bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk menjilat jari jemari dan piring (setelah makan, pent). Beliau bersabda: Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di bagian mana yang ada keberkahannya (H.R Muslim)

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ وَلاَ يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى فِى أَىِّ طَعَامِهِ الْبَرَكَةُ ».

dari Jabir ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Jika suapan (makanan) kalian jatuh, ambillah dan hilangkan kotoran yang mengenainya. Kemudian makanlah. Janganlah dibiarkan untuk setan. Janganlah ia mengusap tangannya dengan saputangan hingga ia menjilat jari-jarinya. Karena ia tidak mengetahui di bagian mana pada makanannya terdapat keberkahan (H.R Muslim)
anNawawiy rahimahullah menjelaskan:”Dianjuran memakan suapan makanan yang terjatuh setelah membersihkan kotoran yang mengenainya. Hal ini jika makanan itu tidak terjatuh di tempat najis. Jika mengenai tempat najis, perlu dibersihkan jika memungkinkan. Jika tidak mungkin, diberikan makanan itu kepada hewan” (al-Minhaj syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj (13/204)).

Menjilati sisa makanan yang menempel di tangan sebelum mengusap tangan itu adalah bagian dari sikap tawadhu’. Hadits ini juga memberikan pelajaran bahwa seseorang hendaknya bersikap bersih, karena di masa Rasul shollallahu alaihi wasallam tangan (biasanya) diusap setelah makan. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan sebagian orang yang tidak peduli apakah masih menempel sisa makanan di tangannya atau tidak. Ini menyelisihi muru-ah.

Anjuran untuk menjilati sisa makanan pada tangan atau dijilati oleh orang lain itu adalah apabila tidak menimbulkan mudharat, seperti misalkan di tangan itu ada luka yang tidak nampak atau di mulutnya ada luka (disarikan dari Fathu Dzil Jalaali wal Ikraam karya Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin (6/255)).

Perbuatan menjilati (sisa makanan) itu bukanlah sesuatu hal yang menjijikkan. Meskipun demikianlah yang disangka oleh orang yang rusak akalnya dan berubah tabiatnya (dari fitrah). Karena Nabi shollallahu alaihi wasallam tidaklah memerintahkan kepada hal yang menjijikkan dan buruk. Semua yang beliau perintahkan adalah al-haq (kebenaran) (Ta’siisul Ahkam syarh Umdatil Ahkam karya Syaikh Ahmad bin Yahya anNajmiy (5/151)).

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KHUTBAH JUMAT: TANDA-TANDA KEBAHAGIAAN


KHOTBAH PERTAMA:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي ظَهَرَ لِأَوْلِيَائِهِ بِنُعُوْتِ جَلَالِهِ . وَأَنَارَ قُلُوْبَ أَصْفِيَائِهِ بِمُشَاهَدَةِ صِفَاتِ كَمَالِهِ . وَتَحَبَّبَ إِلَى عِبَادِهِ بِمَا أَسْدَاهُ إِلَيْهِمْ مِنْ إِنْعَامِهِ وَإِفْضَالِهِ . أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدَ عَبْدٍ أَخْلَصَ لِلَّهِ فِي أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ . وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَلاَ مُعِيْنَ فِي تَدْبِيْرِهِ وَأَفْعَالِهِ . وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ نَبِيٌّ أَنْعَمَ اللهُ عَلَى جَمِيْعِ أَهْلِ الْأَرْضِ بِبَعْثِهِ وَإِرْسَالِهِ . اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى جَمِيْعِ أَصْحَابِهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كثيراً
قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah…

Sebagian Ulama menjelaskan bahwa tanda kebahagiaan bagi seseorang adalah jika diberi nikmat bersyukur, jika diuji bersabar, dan jika melakukan kesalahan atau dosa memohon ampunan.


1⃣ Tanda kebahagiaan yang pertama adalah jika dia diberi nikmat, ia bersyukur. Allah Ta’ala tidak akan mengadzab orang beriman yang bersyukur.

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآَمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Apa perlunya Allah mengadzab kalian jika kalian bersyukur dan beriman? Sesungguhnya Allah adalah Yang Maha Bersyukur (membalas kebaikan yang sedikit dengan pembalasan yang banyak) lagi Maha Mengetahui (Q.S anNisaa’ ayat 147)

Bagian dari perbuatan syukur adalah mengungkapkan kalimat pujian kepada Allah secara lisan, meyakini bahwa nikmat itu adalah berasal dari Allah, kemudian memanfaatkan nikmat itu untuk taat kepada Allah. Bagian dari perbuatan syukur pula adalah meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa.

Termasuk bersyukur kepada Allah adalah berterimakasih kepada orang-orang yang berjasa dan berbuat baik kepada kita.

لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur (berterimakasih) kepada manusia (H.R Abu Dawud dari Abu Hurairah)

Alhamdulillah, kita bersyukur pemerintah kita di Indonesia memiliki perhatian dan komitmen yang tinggi untuk kemaslahatan rakyatnya. Termasuk dalam hal pencegahan maupun pengobatan terhadap Covid-19. Seperti penyediaan vaksin yang gratis. Itu bagian yang harus kita syukuri dan kita dukung. Sebagaimana imbauan pemerintah untuk menjalankan protokol kesehatan. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq dan pertolongan kepada para pemimpin kita.


2⃣ Tanda kebahagiaan yang kedua adalah jika seseorang diberi ujian, ia bersabar. Ia bersabar untuk tetap taat kepada Allah. Ia bersabar untuk tetap meninggalkan hal-hal yang dilarang. Ia pun bersabar terhadap takdir Allah Azza Wa Jalla.

Bersyukur saat mendapat nikmat dan bersabar ketika mendapatkan musibah adalah karakteristik orang yang beriman. Maka orang beriman yang menerapkan hal itu akan selalu berlimpah pahala. Pahala syukur saat mendapat nikmat, dan pahala sabar saat mendapat musibah.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ إِذَا أَصَابَهُ خَيْرٌ حَمِدَ اللَّهَ وَشَكَرَ وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ حَمِدَ اللَّهَ وَصَبَرَ فَالْمُؤْمِنُ يُؤْجَرُ فِي كُلِّ أَمْرِهِ

Aku takjub dengan keadaan orang yang beriman. Jika ia ditimpa kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur. Jika ia ditimpa musibah, ia memuji Allah dan bersabar. Seorang yang beriman akan mendapatkan pahala dalam seluruh perkaranya (H.R Ahmad, dinyatakan sanadnya shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir)

Kondisi kita di masa pandemi ini benar-benar membutuhkan kesabaran. Di antaranya bersabar untuk tetap menerapkan protokol kesehatan sesuai imbauan pemerintah. Serta berbagai bentuk kesabaran yang lain.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan taufiq dan pertolongan kepada kita semua.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHOTBAH KEDUA:

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا ، فَصَّلَ وَبَيَّنَ وَقَرَّرَ صِرَاطاً مُسْتَقِيْماً وَمَنْهَجاً . وَنَصَبَ وَوَضَّحَ مِنْ بَرَاهِيْنِ مَعْرِفَتِهِ وَتَوْحِيْدِهِ سُلْطَاناً مُبِيناً وَحُجَجاً . أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدَ عَبْدٍ جَعَلَ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ، وَمِنْ كُلِّ ضَيْقٍ مَخْرَجًا . وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، شَهَادَةً تَرْفَعُ الصَّادِقِيْنَ إِلَى مَنَازِلِ الْمُقَرَّبِيْنَ دَرَجًا . وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي وَضَعَ اللهُ بِرِسَالَتِهِ عَنِ الْمُكَلَّفِيْنَ آصَاراً وَأَغْلَالًا وَحَرَجًا . اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرِ الْأَنَامِ طَرِيْقَةً وَأَهْدَاهُمْ مَنْهَجاً . وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كثيراً
قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah…


3⃣ Tanda kebahagiaan yang ketiga adalah jika seseorang melakukan perbuatan dosa, ia memohon ampunan kepada Allah. Bertobat dari dosa tersebut dengan sebenar- benarnya.

Allah Azza Wa Jalla berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)

Dan orang-orang yang jika melakukan perbuatan keji atau mendzhalimi diri mereka sendiri, mereka mengingat Allah dan memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka. Dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Allah. Kemudian mereka tidak terus melakukan perbuatan dosa itu dalam keadaan mengetahuinya. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Rabb mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Sungguh baik balasan untuk orang-orang yang beramal (sholih)(Q.S Ali Imran ayat 135-136)

Para Ulama menjelaskan syarat tobat yang sebenar-benarnya adalah meninggalkan perbuatan itu, menyesali perbuatannya, dan bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi selama-lamanya. Apabila hak itu terkait hak hamba Allah yang lain, ia berusaha mengembalikan hak itu atau minta dihalalkan (meminta maaf).

Saudaraku kaum muslimin rahimahukumullah…

Banyaklah beristighfar memohon ampunan kepada Allah. Baik untuk diri kita sendiri, orangtua kita, maupun seluruh kaum beriman. Barang siapa yang memohonkan ampunan untuk kaum beriman, maka ia akan mendapat catatan pahala kebaikan sebanyak orang beriman tersebut. Subhanallah, sungguh sangat banyak.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ لِلْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً

Barangsiapa yang beristighfar untuk orang beriman laki-laki dan wanita maka Allah akan catatkan kebaikan untuknya sebanyak jumlah orang-orang beriman laki-laki dan wanita (hadits dalam Shahihul Jami’)
Lafadz istighfar tersebut bisa berupa:

"Allaahummaghfir lii wa lil mukminin wal mukminaat atau Robbighfir lii wa lil mukminiin wal mukminaat", dan semisalnya.

Bisa juga dengan doa dalam bahasa yang kita pahami sendiri:

"Ya Allah, ampunilah aku dan seluruh orang beriman laki-laki dan wanita".

Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq, pertolongan dan ampunan-Nya kepada kita dan segenap kaum beriman.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ وَالْأَدْوَاءِ
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَأَجِرْنَا مِنْ مُضِلَّاتِ الْفِتَنِ مَا أَحْيَيْتَنَا
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ
اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا... اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا... اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا...
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ ,"إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 ORANG TUA HARUS MENJADI TELADAN BAGI ANAKNYA DAN BERSIKAP ADIL TERHADAP MEREKA

[Kutipan khutbah Asy Syaikh Sholih Al-Fauzan hafizhohullah]


Bertakwalah kalian kepada Allah wahai hamba-hamba Allah...

Hendaknya orangtua menjadi teladan yang baik bagi anaknya sebelum segala sesuatunya. Ia juga harus bisa menjadi teladan bagi dirinya sendiri. Lalu apa yang akan terjadi jika orangtua adalah sosok yang rusak, selalu bergelimang dengan hal-hal buruk, meninggalkan shalat, terlelap dalam tidur hingga tidak melaksanakan shalat.

Ia tidak pernah pulang ke rumah kecuali hanya untuk makan atau minum, karena hidupnya diisi dengan bersenang-senang di tempat-tempat hiburan, bepergian kemana-mana, dan lain-lainnya. Ia tidak pernah menanyakan keadaan anaknya.

Begitulah sosok orangtuanya, orangtua yang layaknya hewan. Bukan sosok orangtua yang mampu mengemban pertanggungjawaban di hadapan Allah subhanahu wata’ala.

Jadilah anda teladan yang baik untuk anak anda sebelum segala sesuatunya. Jangan lupakan pula doa kebaikan untuk mereka.

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

Silakan baca artikel lainnya

https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/anak-adalah-ujian-bagi-orangtua/

https://itishom.org/blog/artikel/fatwa/bolehkah-seorang-ayah-memaksa-putrinya-untuk-menikah/

https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/nasihat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-rahimahullah-bagi-para-wali-santri/

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

Ibrohim alaihissalam berkata mendoakan keturunan beliau:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأَصْنَامَ

Dan jauhkanlah aku dan keturunanku dari peribadahan kepada berhala. (QS. Ibrahim: 35)

Beliau alaihissalam selalu menyertakan anak-anaknya dalam doa yang beliau panjatkan:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Wahai Rabbku, jadikan aku dan keturunanku orang-orang yang selalu melaksanakan shalat. Duhai Rabb kami, perkenankanlah doaku. (QS. Ibrahim: 40)

Doakan selalu anak-anak anda dengan tetap menempuh berbagai sebab demi pendidikan mereka! Mintalah kepada Allah agar Dia membantu anda dan memperbaiki keadaan mereka! Bersihkan rumah anda dari segala media perusak, sarana-sarana komunikasi yang merusak, nyanyian, alat-alat musik, dan gambar-gambar tak senonoh! Jika tidak, rumah anda akan menjadi sarang kerusakan.

Jadikan rumah anda sebagai tempat yang suci, digunakan untuk beribadah dan berdzikir kepada Allah, tiada terdengar darinya kecuali bacaan dzikir, bacaan alQuran, kata-kata yang baik dan bersih dari segala kotoran.

Ajari anak anda ilmu dan menghafal alQuran! Pilihkan untuknya sekolah yang baik, yang pimpinan, para pengajar, serta para siswanya adalah orang-orang yang baik pula.

Masukkan ia ke sekolah yang bagus! Teruslah mengontrolnya dalam kegiatan belajar yang ia lalui. Berikan kepadanya bantuan dan motivasi agar terus bersemangat.

Jika anda ingin memberi sesuatu kepada salah satu anak anda berikan pula yang sama kepada yang anak anda yang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بين أَوْلاَدِكُمْ

Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersikap adillah terhadap anak-anak kalian. (Muttafaqun alaihi)

Suatu ketika ada seorang sahabat Nabi yang ingin memberikan sesuatu kepada salah seorang anaknya. Lalu istrinya mengatakan, (jangan dulu) sampai engkau meminta persaksian kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ia pun berangkat menemui beliau shallallahu alaihi wasallam untuk meminta persaksian atas pemberiannya untuk sang anak.

Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya, ‘apakah seluruh anakmu engkau berikan yang serupa?’
Ia menjawab, tidak.

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Mintalah persaksian dari selainku, sungguh aku tidak akan mempersaksikan sebuah ketidakadilan.’

Beliau shallallahu alahi wasallam juga bersabda: ‘Tidakkah membuatmu senang jika mereka itu sama dalam kebaikan?’ Orang itu menjawab, tentu. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melanjutkan: ‘Jika begitu, tidak (akan aku berikan persaksian untuk itu).’


◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Sampaipun dalam masalah berbicara. Saat anak-anak anda hadir semua jangan engkau khususkan salah satu dari mereka untuk mengobrol dan tertawa bersamanya. Anda juga memuji-mujinya.

Namun seharusnya anda perhatikan pula yang lain, bercengkeramalah bersama semuanya, semangati mereka semua, dan doakan kebaikan untuk semuanya.

Walaupun anak-anakmu yang lain memang di bawah anak yang anda cintai tadi, namun sesungguhnya mereka semua adalah anakmu dan semuanya memiliki hak yang harus anda tunaikan.



🇸🇦 Teks Arab:

فاتقوا الله عباد الله، فليكون الوالد قدوة صالحة لولده قبل كل شيء، قدوة هو في نفسه يكون قدوة فكيف إذا كان الوالد فاسدًا يمارس الفساد، يضيع الصلاة، ينام عن الصلاة لا يأتي إلى البيت إلا للأكل والشرب وإلا فإنه في الاستراحات وقصور الأفراح والرحلات وغير ذلك، ولا يسأل عن أولاده، هذا والد، هذا والد بهيمي، ليس والداً يتحمل المسئولية أمام الله سبحانه وتعالى،
كن قدوة صالحة لأولادك قبل كل شيء، أيضا الدعاء للأولاد، إبراهيم عليه السلام قال: (وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأَصْنَامَ)، أشرك بنيه معه في الدعوة: (رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ)، أدعو لأولادك مع فعل السبب في تربيتهم، أدعو الله أن يعينك وأن يصلحهم، أخلي بيتك من وسائل الفساد، وسائل الاتصالات الفاسدة من الأغاني والمزامير والصور الخليعة وإلا سيكون بيتك وكرًا للفساد،
أجعل بيتك طاهرًا محل عبادة وذكر لله، لا يسمع فيه إلا الذكر، وتلاوة القرآن، والكلام الطيب، الكلام البريء النزيه، علم ولدك أو شيء حفظ ولدك القرآن، واختر له المدرسة الصالحة بمديرها وبمدرسيها، وبطلابها،
اختر له المدرسة الصالحة وتابعه في دراسته وسأل عنه، وساعده على الدراسة وشجعه عليها، إذا أعطيت ولدك بعض أولادك عطية فأعطي الآخرين مثله، قال صلى الله عليه وسلم: اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بين أَوْلاَدِكُمْ ، وهب رجل من الصحابة هبةً لولده فقالت أمه حتى تشهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، فذهب ليشهد الرسول على عطية ولده قال صلى الله عليه وسلم: أَكُلَّ وَلَدِكَ أَعْطَيْتَهُم مثل هَذَا ، قال: لا، قال: أشهد على هذا غيري، فَإِنِّي لاَ أَشْهَدُ عَلَى جَوْرٌ ، وقال صلى الله عليه وسلم: أَيَسُرُّكَ أَنْ يَكُونُوا لكَ فِي الْبِرِّ سَوَاءً ، قال: نعم، قال: فَلاَ إِذًا ،
يعني: لا تعطي بعضهم وتترك الآخرين، حتى الكلام إذا كانوا حاضرين لا تخص واحدًا منهم بالكلام والضحك معه، والثناء عليه؛ بل لاحظ الآخرين تكلم مع الجميع، شجع الجميع، أدعو للجميع، ولو كانوا دون مستوى هذا الذي يعجبك، فهم أبناءك كلهم، وكلهم حقهم عليك.

Sumber : https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/14450
Diterjemahkan oleh Abu Dzayyal Muhammad Wafi hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
SABAR DAN MENELITI (TATSABBUT)
::
📬 ISTIQOMAH MENJAGA KEISLAMAN SAMPAI MATI

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

...dan janganlah sekali-kali kalian meninggal, kecuali dalam keadaan sebagai muslim (Q.S Ali Imran ayat 102)

عَنْ أَبِي أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

Dari Abu ‘Amrah Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu anhu, ia berkata: "Aku telah berkata: ‘Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu’. Bersabdalah Rasululloh ﷺ: ‘Katakanlah: Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah kamu’“.(HR. Muslim)

Istiqomah bukanlah berarti seseorang tidak pernah berbuat dosa sama sekali. Namun seharusnya saat ia tergelincir, ia kembali bangkit memohon ampunan kepada Allah, dan berusaha untuk istiqomah lagi. Karena itu, Allah gandengkan perintah istiqomah dengan perintah beristighfar.

...فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ...

...maka bersikaplah istiqomah kepadaNya, dan memohonlah ampunan (beristighfarlah) kepadaNya…(Q.S Fushshilat:6)

Ibnu Rojab menyatakan: ayat ini merupakan isyarat bahwasanya dalam upaya beristiqomah pasti mengandung kekurangan, sehingga ditutupi dengan istighfar yang mengharuskan adanya taubat dan kembali untuk bersikap istiqomah. Hal ini juga seperti sabda Nabi kepada Muadz (bin Jabal): Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan ikutkanlah perbuatan kebaikan setelah perbuatan keburukan, niscaya (kebaikan) itu akan menghapusnya (keburukan) (Jaami’ul Uluum wal Hikam (1/205))

Nabi juga telah menyatakan bahwa seseorang tidak akan mungkin bisa berbuat istiqomah dengan sebenar-benarnya istiqomah (secara sempurna tanpa cacat sedikitpun):

اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا...

Bersikaplah istiqomah, (namun kalian) tidak akan mampu bersikap demikian (secara sempurna)…(H.R Ahmad, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al-Albany)

Rasulullah ﷺ juga menyatakan:

سَدِّدُوا وَقَارِبُوا

Berusahalah untuk mengerjakan kebaikan secara tepat benar (tidak melampaui batas dan tidak pula kurang darinya), (jika tidak bisa) usahakan mendekati (H.R alBukhari dan Muslim, disarikan dari Jaami’ul Ulum wal Hikam karya Ibnu Rojab (1/205)).

Berikut ini beberapa langkah yang bisa ditempuh agar seseorang bisa istiqomah di atas keislaman dan keimanannya.

1⃣ BERDOA KEPADA ALLAH

Seperti doa dalam al-Qur’an:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau menyimpangkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk. Anugerahkan kepada kami rahmat dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Anugerah (Q.S Aali Imran:8)

Demikian juga doa yang banyak dibaca Nabi ﷺ:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Wahai (Allah) Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu (H.R atTirmidzi, anNasaai, Ahmad, dishahihkan oleh al-Hakim dan al-Albany)


2⃣ MENJAGA HATI DAN LISAN

Hal paling awal yang harus dijaga agar seseorang bisa istiqomah adalah menjaga hati. Jika hati seseorang baik, maka akan baik anggota tubuhnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits anNu’man bin Basyir riwayat al-Bukhari dan Muslim:

وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ingatlah bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, bahwa (segumpal daging) itu adalah hati (H.R alBukhari dan Muslim)

Setelah menjaga hati, selanjutnya adalah menjaga lisan agar tidak mengucapkan ucapan-ucapan yang dilarang Allah.

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
Pada pagi hari, seluruh anggota tubuh anak Adam semuanya tunduk pada lisan, dan berkata: (wahai lisan), bertakwalah kamu kepada Allah atas (keselamatan) kami.Karena keadaan kami tergantung engkau.Jika engkau istiqomah, kami akan istiqomah. Jika engkau menyimpang, kami (juga) menyimpang (H.R atTirmidzi dari Abu Said al-Khudry, al-Munawy menyatakan bahwa sanadnya shohih dalam Faydhul Qodiir)

Sesuai juga dengan kelanjutan lafadz hadits ini, bahwa setelah Rasul memberikan wasiat untuk beriman dan beristiqomah, Sahabat Nabi Sufyan bin Abdillah bertanya lagi:

مَا أَكْثَرُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ

Apakah yang paling banyak engkau takutkan terhadapku?

فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا

Kemudian Rasulullah ﷺ memegang lisan beliau sendiri, kemudian berkata: Ini (riwayat Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati adz-Dzahaby)

Hal itu menunjukkan bahwa untuk bisa istiqomah, seseorang harus menjaga lisannya.


3⃣ SELALU MENGKAJI AQIDAH YANG SHAHIH DAN PRINSIP-PRINSIP UTAMA DALAM ISLAM DAN IMAN

Para Ulama’ telah menulis prinsip-prinsip aqidah yang shahih dalam Islam, seperti Ashlus Sunnah wa I’tiqodud Dien karya Ibnu Abi Hatim, Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad, Syarhus Sunnah karya al-Muzany maupun al-Barbahary, dan karya-karya Ulama Ahlussunnah setelahnya. Banyaklah mengikuti kajian-kajian ilmiyyah, membaca buku, mendengarkan rekaman untuk kajian ilmu yang dibimbing oleh orang yang berilmu, beraqidah dan bermanhaj lurus.

Karena sepanjang kehidupan kita akan sering ditemui syubhat-syubhat dan penyimpangan dalam hal aqidah atau dalam hal muamalah. Kuatkan pondasi ilmu kita, agar tidak mudah goyah dan terpengaruh dengan berbagai penyimpangan yang ada.

Sebaliknya, jauhilah bacaan-bacaan atau ceramah-ceramah yang menyimpang dari aqidah yang benar dan ajaran Rasulullah ﷺ.


4⃣ SELALU BERKUMPUL BERSAMA ORANG-ORANG YANG BERAQIDAH DAN BERMANHAJ LURUS, ORANG-ORANG SHALIH DAN BERSABAR DI ATAS MANHAJ YANG LURUS

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنْ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ

Wajib atas kalian untuk bersatu dalam al-Jamaah, hati-hatilah dari perpecahan. Karena syaithan bersama 1 orang (yang menyendiri), dan terhadap 2 orang syaithan lebih jauh (H.R atTirmidzi, anNasaai, dishahihkan oleh al-Hakim dan al-Albany)

Jika seseorang menyendiri, akan mudah dipengaruhi oleh syaithan. Berbeda dengan jika ia sering berkumpul bersama komunitas yang sarat dengan ilmu, iman, amal sholih, dakwah, amar ma’ruf nahi munkar di atas Tauhid dan Sunnah Rasul ﷺ dengan pemahaman para Sahabat Nabi dan Ulama’ Ahlussunnah yang mengikuti mereka dengan baik. Tinggalkanlah komunitas orang-orang yang lalai dari mengingat Allah, atau komunitas yang banyak melakukan kesyirikan, kebid’ahan, atau kemaksiatan.


5⃣ BANYAK BERAMAL SHOLIH DI ATAS SUNNAH NABI

Memperbanyak amal sholih yang ikhlas karena Allah dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah ﷺ adalah tameng dari fitnah yang membahayakan agama seseorang.

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Bersegeralah beramal (sebelum datang) fitnah, bagaikan potongan malam yang gelap. Pagi harinya seorang masih mukmin, sorenya menjadi kafir. Atau, sorenya masih mukmin paginya kafir. Ia menjual agamanya (ditukar) dengan kepentingan dunia (H.R Muslim)


6⃣ BERSABAR KARENA ALLAH DALAM MENJALANI KEHIDUPAN DUNIA

Ia hendaknya menjalankan kesabaran dalam semua sisinya, yaitu :

a. Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala.
b. Sabar dalam menjauhi hal-hal yang dilarang (kesyirikan/ kekafiran, kemaksiatan, dan kebid’ahan).
c. Sabar dalam menerima takdir Allah Azza Wa Jalla.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan istiqomah kepada kita di atas Islam dan sunnah hingga kita meninggal dunia.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Ketika Kalbu/ Hati Sakit
::
📬 DOA MEMINTA TAMBAHAN KEIMANAN, KEYAKINAN, DAN PEMAHAMAN

Di antara doa yang diucapkan Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu adalah:

اللَّهُمَّ زِدْنَا إِيمَانًا وَيَقِينًا وَفِقْهًا

Ya Allah, berikanlah kami tambahan keimanan, keyakinan, dan pemahaman (riwayat Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro dan Ahmad dalam al-Iman, dinyatakan sanadnya shahih oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (1/48))

Hadits ini adalah salah satu dalil pemahaman Sahabat Nabi bahwasanya iman itu bisa bertambah (sebagaimana juga bisa berkurang). Dalam doa tersebut salah satu yang diminta kepada Allah adalah pertambahan iman.

Kita juga meminta tambahan keyakinan. Keyakinan pada seseorang itu bertingkat-tingkat:

⬜️ Tingkatan pertama adalah Ilmul Yaqin. Misalkan, ketika anda diberitahu oleh orang yang terpercaya bahwa di lembah itu ada mata air.

⬜️ Tingkatan kedua adalah ‘Ainul Yaqin, keyakinan karena melihat langsung. Setelah anda melihat langsung mata air di lembah yang dimaksud, anda bertambah yakin dibandingkan keyakinan sebelumnya.

⬜️ Tingkatan ketiga, yang tertinggi, adalah Haqqul Yaqin, keyakinan karena merasakan sendiri. Misalkan, anda langsung mendatangi mata air di lembah itu, kemudian meminumnya langsung.

Contoh yang lain:

Keimanan kita akan adanya surga dan neraka saat di dunia adalah Ilmul Yaqin.

Nanti, saat pada hari kiamat surga didekatkan kepada orang-orang bertakwa dan bisa disaksikan para makhluk, neraka juga dinampakkan kepada orang-orang yang menyimpang, bisa disaksikan makhluk, itu adalah ‘Ainul Yaqin.

Saat kemudian penghuni surga masuk ke dalam surga dan penghuni neraka masuk ke dalam neraka, itu adalah Haqqul Yaqin.

Penjelasan tentang tingkatan keyakinan dan contohnya ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitab Miftah Daaris Sa’aadah (1/149)) dan Madaarijus Saalikin (1/472)).

Dalam doa Ibnu Mas’ud itu juga terdapat permintaan agar Allah menambahkan pemahaman agama kepada kita. Semakin seorang paham agama, semakin banyak kebaikan akan menghampirinya.

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan kepadanya, Dia jadikan orang itu paham (ajaran) agama (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa menambahkan keimanan, keyakinan, dan pemahaman yang benar kepada kita.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Penghalang Shalat Malam dan Puasa
::
📬 BALASAN RUMAH DI SURGA BAGI YANG MEMBANGUN MASJID

Barang siapa yang membangun masjid dengan ikhlas karena Allah Ta’ala, Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga.

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَوْسَعَ مِنْهُ

Barang siapa yang membangun masjid karena Allah, Allah akan membangunkan rumah di surga yang lebih luas dari itu (H.R atThobaroniy dari Abu Umamah, dishahihkan Syaikh al-Albaniy dalam Silsilah as-Shahihah)

Dalam hadits yang lain, terdapat penekanan harusnya ikhlas dalam membangun masjid tersebut:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا، لَا يُرِيدُ بِهِ رِيَاءً، وَلَا سُمْعَةً، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Barang siapa yang membangun masjid, tidak menginginkan riya’ (pamer), sum’ah (ingin didengar), Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga (H.R at-Thobaroniy dari Aisyah, dinyatakan hasan li ghoirihi oleh Syaikh al-Albaniy)

Kadangkala seseorang yang kaya karena usaha tertentu, ingin berbagi dengan sekitarnya. Salah satunya dengan membangun masjid atau musholla. Namun, ia harus ikhlas. Luruskan niat kembali pada tujuannya membangun masjid adalah untuk menggapai keridhaan dan pahala dari Allah Ta’ala.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan oleh Orang yang akan Membangun Masjid:


1⃣ JANGAN MEMBANGUN MASJID DI ATAS KUBURAN, ATAU MEMBANGUN MASJID DI AREAL KUBURAN

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Laknat Allah terhadap orang Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan para Nabi-Nabi mereka sebagai masjid (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah dan Ibnu Abbas)

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ فِيهَا تَصَاوِيرُ فَذَكَرَتَا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Aisyah –radhiyallahu anha- Ummul Mukminin bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah keduanya menceritakan kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam apa yang mereka lihat berupa gereja di Habasyah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar. Maka Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya mereka itu jika ada seorang shalih yang meninggal mereka membangunkan masjid pada kuburnya dan mereka menggambar dengan gambar-gambar itu. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat (H.R al-Bukhari dan Muslim)


2⃣ MENCEGAH AGAR MASJID YANG DIBANGUN TIDAK DIGUNAKAN SEBAGAI KESYIRIKAN DAN KEMAKSIATAN

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Dan sesungguhnya masjid-masjid adalah hanya milik Allah, maka janganlah berdoa (beribadah) bersamaan dengan kepada Allah juga kepada yang lainnya (Q.S al-Jin:18)


3⃣ MENCEGAH AGAR MASJID YANG DIBANGUN TIDAK DIGUNAKAN UNTUK ACARA-ACARA KEBID’AHAN

Abu Idris al-Khoulaaniy - murid Sahabat Nabi Abu Dzar radhiyallahu anhu – berkata:

لَأَنْ أَرَى فِي الْمَسْجِدِ نَارًا لَا أَسْتَطِيْعُ إِطْفَاءَهَا أَحَبُّ إِليَّ مِنْ أَرَى فِيْهِ بِدْعَةً لَا أَسْتَطِيْعُ تَغْيِيْرَهَا

Seandainya aku melihat di masjid ada api yang tidak bisa aku padamkan, itu masih lebih aku sukai dibandingkan aku melihat di dalamnya kebid’ahan yang tidak mampu aku ubah (hilangkan)(riwayat al-Marwaziy dalam as-Sunnah, al-Harowiy dalam Dzammul Kalaam, Ibnu Wadhdhoh dalam al-Bida’, Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’, al-Firyaabiy dalam al-Qodar, Ibnu Baththoh dalam al-Ibaanah)

Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu pernah mengingkari dengan keras perbuatan sekelompok orang yang mengadakan dzikir berjamaah di masjid. Dzikir yang dikomando oleh satu orang dengan jumlah bilangan tertentu.

Dalam sebuat hadits dinyatakan:
عَمْرُو بْنُ يَحْيَى قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ فَإِذَا خَرَجَ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَقَالَ أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بَعْدُ قُلْنَا لَا فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا خَيْرًا قَالَ فَمَا هُوَ فَقَالَ إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ قَالَ رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ وَفِي أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ كَبِّرُوا مِائَةً فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً فَيَقُولُ هَلِّلُوا مِائَةً فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً وَيَقُولُ سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً قَالَ فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ قَالَ مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ وَانْتِظَارَ أَمْرِكَ قَالَ أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ قَالُوا يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ قَالَ فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ قَالُوا وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ قَالَ وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حدثنا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ

‘Amr bin Yahya berkata: saya mendengar ayahku menyampaikan hadits dari ayahnya:

Kami duduk di depan pintu rumah Abdullah bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud) sebelum shalat Subuh. Kalau nanti beliau keluar, kami akan berjalan bersama beliau ke masjid. Kemudian datang kepada kami Abu Musa al-Asy’ariy dan berkata: Apakah Abu Abdirrohman (Ibnu Mas’ud) telah keluar menuju kalian? Kami katakan: Tidak. Maka beliau (Abu Musa al-‘Asy’ari pun duduk bersama kami) hingga keluarnya Ibnu Mas’ud.

Ketika Ibnu Mas’ud telah keluar, kami semua bangkit kemudian Abu Musa berkata: Wahai Abu Abdirrohman, aku baru saja melihat di masjid suatu perkara yang aku ingkari. Dan aku tidak melihat, Alhamdulillah kecuali kebaikan. Ibnu Mas’ud bertanya: Apa itu? Abu Musa mengatakan: Kalau nanti engkau masih hidup, engkau akan melihatnya.

Aku melihat di masjid ada lingkaran-lingkaran (majelis) mereka duduk menunggu shalat. Pada setiap lingkaran itu ada seorang yang di tangannya memegang kerikil kemudian berkata: Bertakbirlah 100 kali. Maka jamaah di lingkaran itupun bertakbir 100 kali. Dia berkata: ucapkan tahlil 100 kali, merekapun bertahlil 100 kali. Dia berkata: ucapkan tasbih 100 kali, merekapun bertasbih 100 kali.

Ibnu Mas’ud bertanya: Apa yang kau katakan kepada mereka? (abu Musa) berkata: Aku tidak berkata apa-apa karena menunggu pendapat dan perintahmu.

Ibnu Mas’ud berkata: Mengapa engkau tidak memerintahkan mereka untuk menghitung saja kesalahan-kesalahan mereka, dan engkau jamin bahwasanya kebaikan-kebaikan mereka tidak akan sia-sia.

Kemudian berlanjutlah perjalanan itu hingga ketika Ibnu Mas’ud telah mendatangi salah satu lingkaran (majelis) itu beliau berdiri di dekat mereka kemudian berkata: Apa ini yang kalian perbuat? Mereka berkata: Wahai Abu Abdirrohman, kerikil-kerikil ini kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih.
Ibnu Mas’ud berkata: Hitunglah keburukan-keburukan kalian. Aku menjamin bahwa kebaikan-kebaikan kalian tidak akan sia-sia. Celaka kalian wahai umat Muhammad, sungguh cepat kebinasaan kalian.

Para Sahabat Nabi kalian shollallahu alaihi wasallam masih banyak. Pakaian-pakaian beliau masih belum basah, bejana-bejana beliau belum rusak.

Demi (Allah) Yang jiwaku di TanganNya, apakah kalian (merasa) berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk dibandingkan agama Muhammad, ataukah kalian membuka pintu kesesatan?!

Mereka berkata: Demi Allah, wahai Abu Abdirrohman, kami tidaklah menginginkan kecuali kebaikan. Ibnu Mas’ud berkata: Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak bisa mendapatkannya.

Sesungguhnya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam telah menceritakan kepada kami bahwa suatu kaum membaca al-Quran tapi (bacaannya) tidak sampai melewati kerongkongannya. Demi Allah, aku tidak tahu apakah kebanyak mereka adalah termasuk di antara kalian. Kemudian Ibnu Mas’ud berpaling dari mereka.

‘Amr bin Salamah berkata: Kami melihat kebanyakan mereka yang ikut majelis itu berperang melawan kami pada hari Nahrowan bersama para Khowarij (H.R ad-Daarimi)

Segala macam bentuk pelanggaran syar’i (kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan) tidak boleh dilakukan di mana saja, apalagi di masjid yang suci yang merupakan rumah Allah.


4⃣ MEMAKMURKAN MASJID DENGAN SHALAT BERJAMAAH 5 WAKTU DAN MAJELIS ILMU SYAR’I

Di antara isi surat Umar bin Abdil Aziz rahimahullah adalah:

فَأْمُرْ أَهْلَ الْعِلْمِ أَنْ يَنْشُرُوْا الْعِلْمَ فِي مَسَاجِدِهِمْ فَإِنَّ السُّنَّةَ كَانَتْ قَدْ أُمِيْتَتْ

Perintahkan kepada orang-orang yang berilmu untuk menyebarkan ilmu di masjid-masjid mereka, karena sunnah telah dimatikan (riwayat arRoomarurmuuziy dalam al-Muhadditsul Faashil dari Ikrimah bin ‘Ammaar, dikuatkan juga dengan riwayat Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayaanil Ilmi wa Fadhlih dari Ja’far bin Burqaan)


5⃣ TIDAK MENGHIAS MASJID

مَا أُمِرْتُ بِتَشْيِيدِ الْمَسَاجِدِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

Aku tidak diperintah untuk meninggikan (bangunan) masjid (untuk kemegahan, pent). Ibnu Abbas berkata: Sungguh-sungguh kalian akan menghiasnya (masjid) sebagaimana Yahudi dan Nashrani menghias (tempat peribadatan mereka)(H.R Abu Dawud dari Ibnu Abbas, dishahihkan Ibnu Hibban dan al-Albany)

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

Tidak datang hari kiamat hingga manusia berbangga-bangga (bermegah-megahan) dengan masjid-masjid (H.R Abu Dawud, anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan Ibnu Khuzaimah dan al-Albany)

(dikutip dari naskah buku “Membangun Rumah di Surga”, Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah)
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE 1)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA

Pendahuluan


Kitabut Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab anNajdi rahimahullah adalah salah satu karya tulis di bidang aqidah yang banyak memberikan manfaat bagi kaum muslimin setelahnya.

Pada tiap bab hanya disebutkan dalil dari al-Quran dan hadits Nabi kemudian dijelaskan faidah-faidah yang bisa diambil dari hadits.

Pada tulisan kajian Kitabut Tauhid ini dan serial tulisan berikutnya insyaAllah kami menggunakan metode sebagai berikut:

1. Menyebutkan tema pada setiap bab di bawah penyebutan bab.

2. Menyebutkan dalil ayat atau hadits sesuai urutannya.

3. Jika itu hadits, maka disebutkan sesuai lafadz pada kitab induk Ulama hadits yang meriwayatkan, serta penilaian ulama yang menshahihkan atau menghasankannya. Jika menurut pendapat yang rajih dari Ulama Ahlul Hadits ternyata hadits itu dinilai lemah, maka dijelaskan kelemahannya. Jika ada penguat dari riwayat lain, maka disebutkan dalilnya.

4. Pada setiap dalil ayat dan hadits itu kami sarikan penjelasan-penjelasan para Ulama Ahlussunnah yang menafsirkan ayat atau mensyarah hadits tersebut.

Serial tulisan ini sekedar untuk menyajikan rangkuman penjelasan yang mudah bagi makna ayat dan hadits dalam Kitabut Tauhid.

Penjelasan-penjelasan terbaik tetaplah yang telah dikemukakan para Ulama’ dalam syarah-syarah mereka baik dalam bentuk tulisan ataupun ceramah. Diharapkan pembaca termotivasi untuk mengkaji lebih lanjut kitab-kitab para Ulama’ yang mensyarah Kitabut Tauhid tersebut.


Dalil Pertama:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah (hanya) kepadaKu (Q.S adz-Dzaariyaat:56)


Penjelasan Dalil Pertama:

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: Semua penyebutan ibadah dalam al-Quran maknanya adalah tauhid (Tafsir al-Qurthuby (18/193)).

Artinya, jika dalam al-Quran terdapat perintah untuk beribadah kepada Allah, maksudnya adalah tauhidkan Allah atau sembahlah (beribadahlah) hanya kepada Allah. Karena itu, makna ayat ini adalah: Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali agar mereka beribadah hanya kepadaKu.

Ibadah adalah penghambaan. Segala macam perbuatan atau ucapan yang dicintai dan diridhai oleh Allah adalah ibadah. Termasuk juga amalan hati seperti cinta kepada Allah, tunduk; menghinakan dan merendahkan diri, takut, berharap, tawakkal, semuanya adalah ibadah.

Jika di dalam al-Quran dan hadits terdapat perintah terhadap sesuatu, maka sesuatu itu adalah ibadah. Jika Allah dan RasulNya melarang sesuatu, maka meninggalkan sesuatu itu adalah ibadah.

Sebagian Ulama menjelaskan bahwa perasaan yang harus dibangun pada saat beribadah harus mengandung 3 hal:

(i) cinta dengan pengagungan,
(ii) takut, dan
(iii) berharap.

◽️Barangsiapa yang dalam seluruh ibadah hanya mendasari pada cinta saja, maka ia adalah zindiq.

◽️Barangsiapa yang dalam seluruh ibadahnya hanya takut saja maka ia adalah Haruri (khowarij).

◽️Barangsiapa yang dalam seluruh ibadahnya hanya berharap saja, maka ia adalah Murji’ah.

◽️Barangsiapa yang menggabungkan perasaan cinta, berharap, dan takut dalam ibadah-ibadahnya, maka ia adalah seorang yang beriman.

Sebagaimana ungkapan ini dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim sebagai ucapan sebagian Ulama Salaf.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE-2)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA


Dalil Kedua:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت

Dan sungguh Kami utus Rasul pada setiap umat agar mereka menyembah hanya kepada Allah dan menjauhi Taghut (Q.S anNahl:36)


Penjelasan Dalil Kedua:

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengutus Rasul (utusanNya) pada setiap umat. Misi dakwah semua Rasul itu sama tidak berbeda, yaitu dua hal:

1. Beribadah hanya kepada Allah (mentauhidkan Allah).

2. Menjauhi Taghut.

Apa makna Thaghut? Ada beberapa definisi Taghut dari para Sahabat maupun Ulama Salaf.

Umar bin al-Khottob dan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu menyatakan: Thaghut adalah Syaithan (riwayat atThobary, dinyatakan sanadnya kuat oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari). Imam Malik menjelaskan makna Thaghut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah (riwayat Ibnu Abi Hatim).

Secara bahasa, kata Thaghut berasal dari kata thaghaa yang maknanya adalah ‘melampaui batas’.

Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah merangkum penjelasan-penjelasan para Ulama sebagai definisi Thaghut secara istilah syar’i adalah : segala sesuatu yang diperlakukan melampaui batas dalam hal disembah, diikuti, atau ditaati (I’laamul Muwaqqi’iin (1/50)).

Ayat ini juga menjelaskan kepada kita bahwa tauhid tidak akan sempurna tanpa meninggalkan seluruh sesembahan selain Allah. Tidak bisa sempurna ibadah seseorang kepada Allah tanpa menjauhi Thaghut.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE-3)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA


Dalil Ketiga:


وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan Tuhanmu telah menetapkan agar kalian tidaklah beribadah kecuali hanya kepadaNya dan hendaknya berbuat baik kepada kedua orangtua (Q.S al-Israa’:23)


Penjelasan Dalil Ketiga:

Di dalam potongan ayat ini, Allah memerintahkan kepada kita pada 2 hal, yaitu:

1. Tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah (tauhid).

2. Berbuat baik kepada kedua orangtua.

Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang menggandengkan penyebutan perintah mentauhidkan Allah dan tidak berbuat kesyirikan, kemudian menunaikan hak orangtua. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut ini:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan ketika Kami mengambil perjanjian kepada Bani Israil agar janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada Allah dan berbuat baik kepada kedua orangtua (Q.S al-Baqoroh: 83).

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan sembahlah Allah dan jangan berbuat kesyirikan kepadaNya dengan suatu apapun dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua (Q.S anNisaa’:36)

Hal itu menunjukkan bahwa hak orangtua bagi anak adalah sangat besar. Maka janganlah seorang anak yang berusaha mentauhidkan Allah mendurhakai orangtuanya.

Namun, seorang anak jika diperintah untuk bermaksiat kepada Allah, tidak boleh ia mengikuti perintah itu. Ia tinggalkan perintah itu, namun dalam hal lain ia tetap berbuat baik dan tidak durhaka kepadanya.

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ

Tidak ada ketaatan (kepada siapapun) dalam hal bermaksiat kepada Allah (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Ali, dengan lafadz riwayat Muslim)

Apalagi jika ia diperintah oleh orangtuanya untuk berbuat kesyirikan, maka jelaslah ia harus mendahulukan ketaatan kepada Allah, tidak boleh ia taati perintah orangtuanya dalam hal kesyirikan, namun tetap menjalin hubungan baik dengan orangtua dan mentaatinya dalam urusan duniawi yang lain yang tidak mengandung dosa.

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Dan jika mereka berdua (orangtua) memaksamu untuk mensekutukan Aku dalam hal yang engkau tidak memiliki ilmu padanya, janganlah mentaati keduanya. Dan tetaplah menjalin hubungan baik kepada keduanya dalam urusan duniawi (Q.S Luqman: 15)

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️