Ibadah lahiriah, seperti sholat, baca Quran, haji, dan semisalnya. Hanya bisa dipersembahkan untuk Allah. Termasuk juga tidak diperbolehkan mempersembahkan penyembelihan binatang sebagai bentuk pengagungan, kecuali hanya untuk Allah. Seperti ibadah penyembelihan binatang kurban, atau aqiqoh, dipersembahkan hanya untuk Allah.
Ibadah hati seperti tawakkal, takut dalam bentuk ibadah, berharap dalam bentuk ibadah, bertaubat dan memohon ampunan, hanya dipersembahkan untuk Allah. Tidak boleh dibagi dengan yang lainnya.
Jangan meminta pertolongan untuk hal-hal yang merupakan kekhususan Allah. Seperti meminta kesembuhan dari penyakit, keselamatan dari api Neraka, mendapatkan jodoh yang sholih atau sholihah, mendapatkan anugerah anak, dan semisalnya. Permintaan semacam ini hanya Allah saja yang mampu memberikannya, tidak boleh seseorang meminta hal-hal semacam itu kepada selain Allah.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan taufiq kepada kita agar bisa memurnikan ibadah kita hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.
باَرَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا بِمَا فِيْهِ مِنَ الْبَيَانِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
✅Khotbah Kedua:
الْحَمْدُ للهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا.
قال الله تعالى : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah...
Kalimat syahadat yang kedua adalah persaksian bahwa Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah Rasul atau utusan Allah. Dalam sebagian hadits, disebutkan lafadz kalimat syahadat yang lebih lengkap adalah persaksian bahwa Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah hamba dan utusan Allah.
Seperti dalam doa setelah selesai wudhu’, barangsiapa yang mengucapkan dua kalimat syahadat, setelah berwudhu secara sempurna, akan dibukakan 8 pintu Surga. Dipersilakan kepadanya untuk memasuki Surga melalui pintu mana saja yang dikehendakinya. Dua kalimat syahadat dalam doa setelah selesai wudhu itu adalah ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ANNA MUHAMMADAN ABDULLAAHI WA ROSUULUH (Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya).
Dalam sebuah hadits, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
Dari Umar –radliyallaahu ‘anhu- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : Tidaklah seseorang berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’nya, kemudian berdoa : “Asy-hadu an laa ilaaha illallaah wa anna muhammadan abdullahi wa rosuuluh “ kecuali akan dibukakan untuknya pintu surga yang delapan, dan ia bisa masuk melalui pintu mana saja yang dikehendakinya (H.R Muslim)
Ibadah hati seperti tawakkal, takut dalam bentuk ibadah, berharap dalam bentuk ibadah, bertaubat dan memohon ampunan, hanya dipersembahkan untuk Allah. Tidak boleh dibagi dengan yang lainnya.
Jangan meminta pertolongan untuk hal-hal yang merupakan kekhususan Allah. Seperti meminta kesembuhan dari penyakit, keselamatan dari api Neraka, mendapatkan jodoh yang sholih atau sholihah, mendapatkan anugerah anak, dan semisalnya. Permintaan semacam ini hanya Allah saja yang mampu memberikannya, tidak boleh seseorang meminta hal-hal semacam itu kepada selain Allah.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan taufiq kepada kita agar bisa memurnikan ibadah kita hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.
باَرَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا بِمَا فِيْهِ مِنَ الْبَيَانِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
✅Khotbah Kedua:
الْحَمْدُ للهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا.
قال الله تعالى : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah...
Kalimat syahadat yang kedua adalah persaksian bahwa Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah Rasul atau utusan Allah. Dalam sebagian hadits, disebutkan lafadz kalimat syahadat yang lebih lengkap adalah persaksian bahwa Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah hamba dan utusan Allah.
Seperti dalam doa setelah selesai wudhu’, barangsiapa yang mengucapkan dua kalimat syahadat, setelah berwudhu secara sempurna, akan dibukakan 8 pintu Surga. Dipersilakan kepadanya untuk memasuki Surga melalui pintu mana saja yang dikehendakinya. Dua kalimat syahadat dalam doa setelah selesai wudhu itu adalah ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ANNA MUHAMMADAN ABDULLAAHI WA ROSUULUH (Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya).
Dalam sebuah hadits, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
Dari Umar –radliyallaahu ‘anhu- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : Tidaklah seseorang berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’nya, kemudian berdoa : “Asy-hadu an laa ilaaha illallaah wa anna muhammadan abdullahi wa rosuuluh “ kecuali akan dibukakan untuknya pintu surga yang delapan, dan ia bisa masuk melalui pintu mana saja yang dikehendakinya (H.R Muslim)
Dalam persaksian ini kita meyakini bahwa Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah hamba Allah. Karena itu beliau tidak boleh dituhankan. Beliau tidak boleh disembah. Beliau tidak memiliki sifat-sifat Uluhiyyah maupun Rububiyyah.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا . قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا
Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku tidak mampu menolak kemudharatan terhadap kalian, tidak pula mampu memberikan kebaikan apapun kepada kalian (jika Allah tidak menghendakinya). Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya (jika aku bermaksiat kepada Allah) tidak ada siapapun yang bisa melindungi aku dari adzab Allah. Aku tidak bisa mendapatkan siapapun selain Dia (Allah) sebagai pelindung (Q.S al-Jin ayat 21-22)
Kita tidak boleh menjadikan Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam sebagai tandingan bagi Allah.
...فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
...maka janganlah kalian menjadikan tandingan bagi Allah jika kalian mengetahuinya (Q.S al-Baqoroh ayat 22)
Kita juga bersaksi bahwasanya beliau adalah Rasul atau utusan Allah. Karena itu, janganlah mendustakan beliau. Jika kita bersaksi bahwa beliau adalah Rasul, benarkanlah setiap berita yang beliau sampaikan dalam hadits-hadits yang shahih. Janganlah ditolak meski tidak terjangkau oleh akal kita yang terbatas. Jangan menuruti perasaan hawa nafsu kita untuk menolak khabar atau perintah dari beliau. Taatilah perintah beliau dan jauhilah larangan beliau. Jangan beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat yang beliau ajarkan kepada kita.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita bisa merealisasikan dua kalimat syahadat yang kita ikrarkan secara benar sesuai dengan yang diridhai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَنَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ تَقْضِيهِ لَنَا خَيْرًا
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ ,"إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا . قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا
Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku tidak mampu menolak kemudharatan terhadap kalian, tidak pula mampu memberikan kebaikan apapun kepada kalian (jika Allah tidak menghendakinya). Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya (jika aku bermaksiat kepada Allah) tidak ada siapapun yang bisa melindungi aku dari adzab Allah. Aku tidak bisa mendapatkan siapapun selain Dia (Allah) sebagai pelindung (Q.S al-Jin ayat 21-22)
Kita tidak boleh menjadikan Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam sebagai tandingan bagi Allah.
...فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
...maka janganlah kalian menjadikan tandingan bagi Allah jika kalian mengetahuinya (Q.S al-Baqoroh ayat 22)
Kita juga bersaksi bahwasanya beliau adalah Rasul atau utusan Allah. Karena itu, janganlah mendustakan beliau. Jika kita bersaksi bahwa beliau adalah Rasul, benarkanlah setiap berita yang beliau sampaikan dalam hadits-hadits yang shahih. Janganlah ditolak meski tidak terjangkau oleh akal kita yang terbatas. Jangan menuruti perasaan hawa nafsu kita untuk menolak khabar atau perintah dari beliau. Taatilah perintah beliau dan jauhilah larangan beliau. Jangan beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat yang beliau ajarkan kepada kita.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita bisa merealisasikan dua kalimat syahadat yang kita ikrarkan secara benar sesuai dengan yang diridhai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَنَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ تَقْضِيهِ لَنَا خَيْرًا
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ ,"إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 KAJIAN KITABUL JAMI’ MIN BULUGHIL MARAM (bag 2)
BAB: ADAB
MELIHAT ORANG YANG DI BAWAH UNTUK MENUMBUHKAN PERASAAN BERSYUKUR
✅ Hadits no 1438
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ, وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ, فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dan dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: << Lihatlah kepada orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat kepada orang yang di atas kalian. Selayaknya hal itu akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian >> (muttafaqun alaih)
Penjelasan:
Cara kita memandang diri dan sekitar kita juga diatur oleh syariat. Salah satu upaya untuk memunculkan perasaan syukur terhadap nikmat Allah adalah dengan melihat ke arah orang-orang yang di bawah kita dalam hal harta dan kondisi fisik.
Dalam hadits yang lain, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ
Jika salah seorang dari kalian memandang kepada orang yang diberi kelebihan harta dan fisik, lihatlah kepada orang yang kondisinya di bawahnya (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Secara harta, lihatlah orang yang lebih kekurangan dibandingkan kita. Secara fisik, mungkin anggota tubuh kita lebih lengkap dan lebih berfungsi dibandingkan saudara-saudara kita yang lain. Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Ta’ala. (Faidah disarikan dari penjelasan as-Shon’aaniy dalam Subulus Salam)
Kita juga dibimbing untuk tidak silau melihat orang-orang kafir yang sukses kehidupan duniawinya. Sesungguhnya kesenangan duniawi hanyalah sementara. Surga yang Allah sediakan bagi orang-orang bertakwa jauh lebih nikmat rezekinya dan kekal tak akan sirna.
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى
Janganlah pandanganmu terpukau oleh bermacam gemerlap kehidupan dunia pada mereka. (Kenikmatan itu adalah) ujian Kami untuk mereka. Sedangkan rezeki Rabbmu (dalam kehidupan akhirat) lebih baik dan lebih kekal (Q.S Thoha ayat 131)
(Faidah disarikan dari penjelasan al-Munawiy dalam atTaisiir bi syarhil Jami’is Shoghir)
Jika dalam urusan duniawi kita hendaknya melihat kepada orang-orang yang di bawah kita, namun dalam amalan kebaikan dan urusan akhirat kita harus terpacu untuk lebih bersemangat dengan melihat pada orang-orang mulia yang berilmu dan bertakwa (disarikan dari penjelasan Syaikh Abdullah al-Basaam dalam Taudhihul Ahkam dan penjelasan Syaikh Bin Baz dalam al-Hulal al-Ibriziyyah)
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 KAJIAN KITABUL JAMI’ MIN BULUGHIL MARAM (bag 2)
BAB: ADAB
MELIHAT ORANG YANG DI BAWAH UNTUK MENUMBUHKAN PERASAAN BERSYUKUR
✅ Hadits no 1438
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ, وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ, فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dan dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: << Lihatlah kepada orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat kepada orang yang di atas kalian. Selayaknya hal itu akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian >> (muttafaqun alaih)
Penjelasan:
Cara kita memandang diri dan sekitar kita juga diatur oleh syariat. Salah satu upaya untuk memunculkan perasaan syukur terhadap nikmat Allah adalah dengan melihat ke arah orang-orang yang di bawah kita dalam hal harta dan kondisi fisik.
Dalam hadits yang lain, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ
Jika salah seorang dari kalian memandang kepada orang yang diberi kelebihan harta dan fisik, lihatlah kepada orang yang kondisinya di bawahnya (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Secara harta, lihatlah orang yang lebih kekurangan dibandingkan kita. Secara fisik, mungkin anggota tubuh kita lebih lengkap dan lebih berfungsi dibandingkan saudara-saudara kita yang lain. Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Ta’ala. (Faidah disarikan dari penjelasan as-Shon’aaniy dalam Subulus Salam)
Kita juga dibimbing untuk tidak silau melihat orang-orang kafir yang sukses kehidupan duniawinya. Sesungguhnya kesenangan duniawi hanyalah sementara. Surga yang Allah sediakan bagi orang-orang bertakwa jauh lebih nikmat rezekinya dan kekal tak akan sirna.
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى
Janganlah pandanganmu terpukau oleh bermacam gemerlap kehidupan dunia pada mereka. (Kenikmatan itu adalah) ujian Kami untuk mereka. Sedangkan rezeki Rabbmu (dalam kehidupan akhirat) lebih baik dan lebih kekal (Q.S Thoha ayat 131)
(Faidah disarikan dari penjelasan al-Munawiy dalam atTaisiir bi syarhil Jami’is Shoghir)
Jika dalam urusan duniawi kita hendaknya melihat kepada orang-orang yang di bawah kita, namun dalam amalan kebaikan dan urusan akhirat kita harus terpacu untuk lebih bersemangat dengan melihat pada orang-orang mulia yang berilmu dan bertakwa (disarikan dari penjelasan Syaikh Abdullah al-Basaam dalam Taudhihul Ahkam dan penjelasan Syaikh Bin Baz dalam al-Hulal al-Ibriziyyah)
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUL JAMI’ MIN BULUGHIL MARAM (bag 3)
BAB: ADAB
KEBAIKAN ADALAH AKHLAK YANG MULIA
وَعَنِ النَوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ - رضي الله عنه - قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - عَنِ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ? فَقَالَ: - الْبِرُّ: حُسْنُ الْخُلُقِ, وَالْإِثْمُ: مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ, وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ - أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
Dari anNawwaas bin Sam’aan –semoga Allah meridainya- ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tentang kebaikan dan dosa. Beliau bersabda: << Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah yang menggelisahkan hatimu dan engkau tidak suka diketahui oleh orang lain (H.R Muslim)
Penjelasan:
Para Ulama’ Salaf mendefinisikan akhlak yang baik, di antaranya :
Al-Hasan al-Bashri mengatakan : “ Akhlak yang baik adalah dermawan, banyak memberi bantuan, dan bersikap ihtimaal (memaafkan).
AsySya’bi menjelaskan : “ Akhlaq yang baik adalah suka memberi pertolongan dan bermuka manis “
Ibnul Mubaarok mengatakan : “ Akhlak yang baik adalah bermuka manis, suka memberi bantuan (ma’ruf) , dan menahan diri untuk tidak mengganggu/menyakiti orang lain “
(Jaami’ul ‘Uluum wal Hikaam karya Ibnu Rajab juz 1 hal 454-457)
Di antara hadits tentang keutamaan akhlak yang mulia adalah:
أَكْثَر مَا يُدْخِلُ اْلجَنَّةَ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ اْلخُلُقِ
“(Hal) yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik “ (H.R Ahmad, AtTirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al-Albany)
أَنَا زَعِيْمُ بَيْتٍ فِي أَعْلَى اْلجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ
“Aku menjamin rumah di bagian surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaknya” (H.R Abu Dawud dan AtThobrooni dan dihasankan oleh Syaikh al-Albany)
Allah Ta’ala menyebutkan satu ayat yang mencakup macam-macam kebaikan (al-Birr) sekaligus merupakan bentuk akhlak yang mulia:
...وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
...akan tetapi, kebaikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para Malaikat, Kitab (yang diturunkan Allah), para Nabi. Dan memberikan harta yang disukai kepada karib kerabat, anak-anak yatim, kaum miskin, Ibnus Sabil, (memerdekakan) hamba sahaya, menegakkan sholat, menunaikan zakat, memenuhi janji jika berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kondisi kekurangan, sakit, maupun saat pertempuran. Mereka itu adalah orang-orang yang jujur dan mereka adalah orang-orang yang bertaqwa (Q.S al-Baqoroh ayat 177).
Hadits ini juga menjelaskan tanda-tanda untuk mengenali suatu dosa. Sesuatu yang menggelisahkan hati orang beriman dan tidak suka jika orang lain mengetahuinya.
Kadangkala kita dihadapkan dengan suatu hal yang masih baru dan asing bagi kita hukumnya. Tidak jelas apakah ini halal atau haram. Jika sesuatu itu jelas berdasarkan dalil yang shahih bahwa itu haram, kita seharusnya meninggalkannya. Sebaliknya, jika jelas halal, kita juga dengan lapang dada memanfaatkannya.
📬 KAJIAN KITABUL JAMI’ MIN BULUGHIL MARAM (bag 3)
BAB: ADAB
KEBAIKAN ADALAH AKHLAK YANG MULIA
وَعَنِ النَوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ - رضي الله عنه - قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - عَنِ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ? فَقَالَ: - الْبِرُّ: حُسْنُ الْخُلُقِ, وَالْإِثْمُ: مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ, وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ - أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
Dari anNawwaas bin Sam’aan –semoga Allah meridainya- ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tentang kebaikan dan dosa. Beliau bersabda: << Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah yang menggelisahkan hatimu dan engkau tidak suka diketahui oleh orang lain (H.R Muslim)
Penjelasan:
Para Ulama’ Salaf mendefinisikan akhlak yang baik, di antaranya :
Al-Hasan al-Bashri mengatakan : “ Akhlak yang baik adalah dermawan, banyak memberi bantuan, dan bersikap ihtimaal (memaafkan).
AsySya’bi menjelaskan : “ Akhlaq yang baik adalah suka memberi pertolongan dan bermuka manis “
Ibnul Mubaarok mengatakan : “ Akhlak yang baik adalah bermuka manis, suka memberi bantuan (ma’ruf) , dan menahan diri untuk tidak mengganggu/menyakiti orang lain “
(Jaami’ul ‘Uluum wal Hikaam karya Ibnu Rajab juz 1 hal 454-457)
Di antara hadits tentang keutamaan akhlak yang mulia adalah:
أَكْثَر مَا يُدْخِلُ اْلجَنَّةَ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ اْلخُلُقِ
“(Hal) yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik “ (H.R Ahmad, AtTirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al-Albany)
أَنَا زَعِيْمُ بَيْتٍ فِي أَعْلَى اْلجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ
“Aku menjamin rumah di bagian surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaknya” (H.R Abu Dawud dan AtThobrooni dan dihasankan oleh Syaikh al-Albany)
Allah Ta’ala menyebutkan satu ayat yang mencakup macam-macam kebaikan (al-Birr) sekaligus merupakan bentuk akhlak yang mulia:
...وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
...akan tetapi, kebaikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para Malaikat, Kitab (yang diturunkan Allah), para Nabi. Dan memberikan harta yang disukai kepada karib kerabat, anak-anak yatim, kaum miskin, Ibnus Sabil, (memerdekakan) hamba sahaya, menegakkan sholat, menunaikan zakat, memenuhi janji jika berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kondisi kekurangan, sakit, maupun saat pertempuran. Mereka itu adalah orang-orang yang jujur dan mereka adalah orang-orang yang bertaqwa (Q.S al-Baqoroh ayat 177).
Hadits ini juga menjelaskan tanda-tanda untuk mengenali suatu dosa. Sesuatu yang menggelisahkan hati orang beriman dan tidak suka jika orang lain mengetahuinya.
Kadangkala kita dihadapkan dengan suatu hal yang masih baru dan asing bagi kita hukumnya. Tidak jelas apakah ini halal atau haram. Jika sesuatu itu jelas berdasarkan dalil yang shahih bahwa itu haram, kita seharusnya meninggalkannya. Sebaliknya, jika jelas halal, kita juga dengan lapang dada memanfaatkannya.
Apabila seseorang masih berada di atas fitrahnya, ia akan mengenali dengan kondisi hati dan jiwanya saat melakukan perbuatan yang masih samar hukumnya tersebut. Jika saat melakukannya hati menjadi gelisah dan tidak tenang, itu salah satu tanda bahwa perbuatan tersebut adalah dosa. Demikian juga jika kita tidak suka apabila orang lain mengetahui saat kita melakukannya. Itu tanda yang menunjukkan bahwa perbuatan itu dosa.
Nabi memberikan bimbingan demikian kepada anNawwaas bin Sam’aan seorang Sahabat Nabi yang mulia yang hatinya masih lurus bisa mengenali tanda-tanda dosa itu dengan hatinya.
Berbeda dengan orang yang sudah rusak tabiatnya, banyak berbuat kefasikan dan dosa, ia tidak akan merasa gelisah dengan perbuatan dosa yang dikerjakannya.
Bahkan justru akan merasa bangga. Parameter membedakan kebaikan dan dosa yang disebut dalam hadits ini hanya berlaku untuk orang yang baik dan lurus. Demikian juga hadits: mintalah fatwa kepada hatimu. (disarikan dari penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin dalam Syarh Arbain anNawawiyyah).
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Nabi memberikan bimbingan demikian kepada anNawwaas bin Sam’aan seorang Sahabat Nabi yang mulia yang hatinya masih lurus bisa mengenali tanda-tanda dosa itu dengan hatinya.
Berbeda dengan orang yang sudah rusak tabiatnya, banyak berbuat kefasikan dan dosa, ia tidak akan merasa gelisah dengan perbuatan dosa yang dikerjakannya.
Bahkan justru akan merasa bangga. Parameter membedakan kebaikan dan dosa yang disebut dalam hadits ini hanya berlaku untuk orang yang baik dan lurus. Demikian juga hadits: mintalah fatwa kepada hatimu. (disarikan dari penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin dalam Syarh Arbain anNawawiyyah).
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
🕰🐚📭
═══════════
A ᴜ ᴅ ɪ ᴏ R ᴇ ᴋ ᴀ ᴍ ᴀ ɴ
═══════════
🚇 UKHUWAH : MENJAGA KEBERSAMAAN DAN SALING MEMAHAMI ANTAR SALAFIYYIN
🔬 Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Usamah Faishal Mahri hafizhahullah
📅 Tausiyah hari Sabtu, 30 Rajab 1437 H / 7 Mei 2016 M di TKQ An Najiyah Perumahan Telaga Murni, Blok E19 no.2, Cikarang Barat, Bekasi
Link: bit.ly/1Wjb8rc
🅾 Durasi: 22:48 (5,43 MB)
═══════════════════
✅ Beberapa perkara yang hendaknya dijaga dalam menjaga persaudaraan adalah:
▪Adanya TASAAMUH & TAFAAHUM ( Saling berlapang dada serta Saling memahami )
▪Saling TANAASHUH ( Saling menasihati )
▪Adanya ITSAR ( Mementingkan kepentingan saudaranya )
▪Adanya AT-TAGHAFUL ( Saling melupakan & memaafkan ) kesalahan saudaramu
═══════════════════
#tasamuh #tafahum
•••••
📓Sumber:
@tholibulilmicikarang
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
═══════════
A ᴜ ᴅ ɪ ᴏ R ᴇ ᴋ ᴀ ᴍ ᴀ ɴ
═══════════
🚇 UKHUWAH : MENJAGA KEBERSAMAAN DAN SALING MEMAHAMI ANTAR SALAFIYYIN
🔬 Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Usamah Faishal Mahri hafizhahullah
📅 Tausiyah hari Sabtu, 30 Rajab 1437 H / 7 Mei 2016 M di TKQ An Najiyah Perumahan Telaga Murni, Blok E19 no.2, Cikarang Barat, Bekasi
Link: bit.ly/1Wjb8rc
🅾 Durasi: 22:48 (5,43 MB)
═══════════════════
✅ Beberapa perkara yang hendaknya dijaga dalam menjaga persaudaraan adalah:
▪Adanya TASAAMUH & TAFAAHUM ( Saling berlapang dada serta Saling memahami )
▪Saling TANAASHUH ( Saling menasihati )
▪Adanya ITSAR ( Mementingkan kepentingan saudaranya )
▪Adanya AT-TAGHAFUL ( Saling melupakan & memaafkan ) kesalahan saudaramu
═══════════════════
#tasamuh #tafahum
•••••
📓Sumber:
@tholibulilmicikarang
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUL JAMI’ MIN BULUGHIL MARAM (bag 4)
BAB: ADAB
LARANGAN MEMBUAT SEORANG MUSLIM BERSEDIH
✅ Hadits no 1440
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - - إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً, فَلَا يَتَنَاجَى اِثْنَانِ دُونَ اَلْآخَرِ, حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ; مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ
Dan dari Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridainya – ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: << Jika kalian bertiga, janganlah dua orang berbisik tanpa melibatkan satu orang yang lain, hingga mereka berbaur dengan orang-orang. Karena hal itu akan membuat (satu orang yang tidak dilibatkan dalam pembicaraan itu) akan bersedih (muttafaqun alaih, lafadz sesuai riwayat Muslim)
Penjelasan:
Hadits ini adalah salah satu bimbingan Nabi shollallahu alaihi wasallam untuk menjaga hubungan baik dan persaudaraan antar sesama muslim. Apabila dalam suatu kondisi ada 3 orang saja, tidak boleh ada pembicaraan rahasia yang hanya melibatkan 2 orang. Satu orang dibiarkan tidak terlibat dalam pembicaraan. Hal ini akan membuat satu orang itu bersedih.
Hadits ini menunjukkan larangan membuat seorang muslim bersedih. Membuat seorang muslim bersedih adalah termasuk hal yang menyakitkan baginya, dan orang yang berbuat demikian berdosa. Sebagaimana firman Allah Azza Wa Jalla:
وَالَّذِينَ يؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فقَدِ احْتَمَلُوا بهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang beriman laki-laki dan wanita, bukan dengan sebab (kesalahan) yang mereka lakukan, sungguh orang-orang itu telah membawa kedustaan dan dosa yang jelas (Q.S al-Ahzab ayat 58)
(faidah penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin)
Termasuk pembicaraan rahasia atau berbisik yang terlarang antar dua orang dan tidak melibatkan satu orang yang lain adalah apabila keduanya berbicara dengan bahasa yang hanya dipahami oleh mereka berdua. Sedangkan satu orang itu tidak memahami percakapan mereka (disarikan dari Taudhihul Ahkam karya Syaikh Abdullah al-Bassam)
Hal yang dipahami dari hadits itu adalah bahwa jika sekelompok orang itu total berjumlah 4 orang atau lebih, maka tidak mengapa terjadi pembicaraan rahasia hanya 2 orang tanpa melibatkan yang lain (Fathu Dzil Jalaali wal Ikraam (6/250)).
Dalam riwayat hadits yang lain disebutkan bahwa jika hanya bertiga dan 2 orang hendak melakukan pembicaraan rahasia, hal itu boleh dilakukan jika mendapatkan izin dari satu orang yang lainnya.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِثِ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ
Dari Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: << Jika kalian bertiga, janganlah dua orang berbicara rahasia (berbisik) tanpa melibatkan orang ketiga kecuali dengan seizinnya. Karena hal itu akan membuatnya bersedih >> (H.R Ahmad, dinyatakan sanadnya shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir)
Kalaupun ada pembicaraan rahasia antara 2 orang atau lebih, tidak boleh dalam pembicaraan yang mengandung dosa dan permusuhan. Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَةِ الرَّسُولِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian berbicara secara rahasia, janganlah kalian berbicara dosa dan permusuhan serta untuk bermaksiat kepada Rasul. Berbicaralah dalam kebaikan dan ketakwaan, bertakwalah kepada Allah yang hanya kepada-Nya lah kalian akan dikumpulkan (Q.S al-Mujadilah ayat 9)
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 KAJIAN KITABUL JAMI’ MIN BULUGHIL MARAM (bag 4)
BAB: ADAB
LARANGAN MEMBUAT SEORANG MUSLIM BERSEDIH
✅ Hadits no 1440
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - - إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً, فَلَا يَتَنَاجَى اِثْنَانِ دُونَ اَلْآخَرِ, حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ; مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ
Dan dari Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridainya – ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: << Jika kalian bertiga, janganlah dua orang berbisik tanpa melibatkan satu orang yang lain, hingga mereka berbaur dengan orang-orang. Karena hal itu akan membuat (satu orang yang tidak dilibatkan dalam pembicaraan itu) akan bersedih (muttafaqun alaih, lafadz sesuai riwayat Muslim)
Penjelasan:
Hadits ini adalah salah satu bimbingan Nabi shollallahu alaihi wasallam untuk menjaga hubungan baik dan persaudaraan antar sesama muslim. Apabila dalam suatu kondisi ada 3 orang saja, tidak boleh ada pembicaraan rahasia yang hanya melibatkan 2 orang. Satu orang dibiarkan tidak terlibat dalam pembicaraan. Hal ini akan membuat satu orang itu bersedih.
Hadits ini menunjukkan larangan membuat seorang muslim bersedih. Membuat seorang muslim bersedih adalah termasuk hal yang menyakitkan baginya, dan orang yang berbuat demikian berdosa. Sebagaimana firman Allah Azza Wa Jalla:
وَالَّذِينَ يؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فقَدِ احْتَمَلُوا بهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang beriman laki-laki dan wanita, bukan dengan sebab (kesalahan) yang mereka lakukan, sungguh orang-orang itu telah membawa kedustaan dan dosa yang jelas (Q.S al-Ahzab ayat 58)
(faidah penjelasan Syaikh Ibn Utsaimin)
Termasuk pembicaraan rahasia atau berbisik yang terlarang antar dua orang dan tidak melibatkan satu orang yang lain adalah apabila keduanya berbicara dengan bahasa yang hanya dipahami oleh mereka berdua. Sedangkan satu orang itu tidak memahami percakapan mereka (disarikan dari Taudhihul Ahkam karya Syaikh Abdullah al-Bassam)
Hal yang dipahami dari hadits itu adalah bahwa jika sekelompok orang itu total berjumlah 4 orang atau lebih, maka tidak mengapa terjadi pembicaraan rahasia hanya 2 orang tanpa melibatkan yang lain (Fathu Dzil Jalaali wal Ikraam (6/250)).
Dalam riwayat hadits yang lain disebutkan bahwa jika hanya bertiga dan 2 orang hendak melakukan pembicaraan rahasia, hal itu boleh dilakukan jika mendapatkan izin dari satu orang yang lainnya.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِثِ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ
Dari Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: << Jika kalian bertiga, janganlah dua orang berbicara rahasia (berbisik) tanpa melibatkan orang ketiga kecuali dengan seizinnya. Karena hal itu akan membuatnya bersedih >> (H.R Ahmad, dinyatakan sanadnya shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir)
Kalaupun ada pembicaraan rahasia antara 2 orang atau lebih, tidak boleh dalam pembicaraan yang mengandung dosa dan permusuhan. Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَةِ الرَّسُولِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian berbicara secara rahasia, janganlah kalian berbicara dosa dan permusuhan serta untuk bermaksiat kepada Rasul. Berbicaralah dalam kebaikan dan ketakwaan, bertakwalah kepada Allah yang hanya kepada-Nya lah kalian akan dikumpulkan (Q.S al-Mujadilah ayat 9)
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 BAGAIMANA SIKAP KITA DENGAN KONFLIK PALESTINA? MENGAPA ARAB SAUDI TIDAK TERJUN MENGERAHKAN MILITERNYA MELAWAN YAHUDI ISRAEL?
🎙Oleh :
Al-Ustadz Muhammad Afifuddin حفظه الله
📆 Audio Kajian "Ta'awwun Dalam Dakwah" | Sabtu, 4 Rabi'uts Tsani 1439 H ~ 23 Desember 2017 di Rumah Belajar As-Salafy, Manglayang Regency, Cimekar, Cileunyi, Bandung
📊 Durasi 06:28 [1,7 MB]
📚 Link http://bit.ly/3oRXmNG
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 BAGAIMANA SIKAP KITA DENGAN KONFLIK PALESTINA? MENGAPA ARAB SAUDI TIDAK TERJUN MENGERAHKAN MILITERNYA MELAWAN YAHUDI ISRAEL?
🎙Oleh :
Al-Ustadz Muhammad Afifuddin حفظه الله
📆 Audio Kajian "Ta'awwun Dalam Dakwah" | Sabtu, 4 Rabi'uts Tsani 1439 H ~ 23 Desember 2017 di Rumah Belajar As-Salafy, Manglayang Regency, Cimekar, Cileunyi, Bandung
📊 Durasi 06:28 [1,7 MB]
📚 Link http://bit.ly/3oRXmNG
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
🚇 (ARSIP) APA YANG HARUS KITA LAKUKAN TERKAIT TRAGEDI PALESTINA? : BENARKAH SAUDI TIDAK MAU PEDULI DENGAN MUSLIMIN PALESTINA?
🎙Bersama :
Al-Ustadz Luqman Ba'abduh حفظه الله
📆 Audio Kajian 16-25 Muharram 1430 H ~ 13-22 Juni 2009 M | Tasjilat as-Salafy Jember
📊 Durasi 15:27 [3,7 MB]
📚 Link: https://tinyurl.com/yhlrc5dt
(*) Juga Fatwa Ulama menyikapi tragedi Palestina: apakah dengan kita berdakwah disana, menyumbang dana/harta ataukah berjihad bertempur bersama mereka?
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
🚇 (ARSIP) APA YANG HARUS KITA LAKUKAN TERKAIT TRAGEDI PALESTINA? : BENARKAH SAUDI TIDAK MAU PEDULI DENGAN MUSLIMIN PALESTINA?
🎙Bersama :
Al-Ustadz Luqman Ba'abduh حفظه الله
📆 Audio Kajian 16-25 Muharram 1430 H ~ 13-22 Juni 2009 M | Tasjilat as-Salafy Jember
📊 Durasi 15:27 [3,7 MB]
📚 Link: https://tinyurl.com/yhlrc5dt
(*) Juga Fatwa Ulama menyikapi tragedi Palestina: apakah dengan kita berdakwah disana, menyumbang dana/harta ataukah berjihad bertempur bersama mereka?
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 SHOLAT GERHANA MATAHARI DAN BULAN : CARA SHOLAT KUSUF, SHALAT HUSUF, SHOLAT KHUSUF
✅ APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN SHOLAT GERHANA?
Jawab:
Sholat gerhana adalah sholat yang dilakukan saat terjadi gerhana bulan atau gerhana matahari. Jika terlihat di daerah itu gerhana bulan/ matahari baik penuh atau sebagian, disyariatkan bagi penduduk daerah tersebut untuk melaksanakan sholat gerhana.
Sedangkan jika di suatu daerah tidak terlihat gerhana, maka tidak disyariatkan sholat gerhana. Meski menurut prediksi ilmu astronomi akan terlihat gerhana di daerah itu. Jadi, patokannya adalah apakah pada saat kejadian terlihat atau tidak. Hal ini berdasarkan hadits Nabi:
فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَصَلُّوا حَتَّى يُفْرَجَ عَنْكُمْ
Jika kalian melihat hal itu (gerhana), maka sholatlah hingga dihilangkan hal itu terhadap kalian… (H.R al-Bukhari dari Aisyah)
Waktu pelaksanaan sholat sholat gerhana adalah dari sejak terlihat gerhana hingga tidak lagi terlihat gerhana. Sholat gerhana disunnahkan untuk dikerjakan meski pada saat terlarang melakukan sholat seperti setelah sholat Ashar, hal ini adalah pendapat yang benar dalam madzhab asySyafii.
✅ APAKAH HUKUM SHOLAT GERHANA?
Jawab: Jumhur (mayoritas) Ulama berpendapat bahwa sholat gerhana adalah sunnah muakkadah.
✅ APAKAH DISYARIATKAN MENGUMANDANGKAN : ASHSHOLAATU JAAMIAH UNTUK MEMANGGIL PARA JAMAAH DALAM SHOLAT GERHANA?
Jawab: Ya, disyariatkan mengumandangkan ashsholaatu Jaamiah saat terjadi gerhana.
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ مُنَادِيًا الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ فَاجْتَمَعُوا وَتَقَدَّمَ فَكَبَّرَ وَصَلَّى
Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam maka beliau mengutus orang untuk berseru: Assholaatu Jaamiah. Maka manusia berkumpul, kemudian beliau maju bertakbir dan sholat (H.R al-Bukhari dan Muslim)
✅ BAGAIMANA TATA CARA SHOLAT GERHANA?
Jawab:
Sholat gerhana bisa dikerjakan sendirian, dan akan lebih baik lagi jika dikerjakan berjamaah.Jika dikerjakan berjamaah, maka Imam membaca alFatihah dan surat setelahnya dengan keras (jahr) meski dilakukan di siang hari.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا جَهَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَإِذَا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَتِهِ كَبَّرَ فَرَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ يُعَاوِدُ الْقِرَاءَةَ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ
Dari Aisyah radhiyallahu anha : Nabi shollallahu alaihi wasallam mengeraskan bacaan dalam sholat gerhana. Jika selesai dari membaca ayat, beliau bertakbir kemudian ruku’. Setelah bangkit dari ruku’ beliau mengucapkan : Samiallaahu liman hamidah, robbanaa wa lakal hamdu. Kemudian mengulangi membaca (alFatihah dan surat). Dalam sholat gerhana terdapat 4 ruku’ dalam dua rokaat, dan ada 4 sujud (dalam keseluruhan) (H.R al-Bukhari)
Secara ringkas, tata cara sholat gerhana adalah sebagai berikut:
1. Takbiratul Ihram
2. Membaca istiftah, taawwudz, alFatihah dan surat lain (jika memungkinkan membaca surat yang panjang, seperti alBaqoroh, namun jika tidak memungkinkan, bisa surat apa saja).
3. Ruku’, jika memungkinkan dilakukan dalam waktu yang lama, apabila membaca surat yang panjang. Sebagaimana sunnah Nabi kadar lama ruku’ hampir sama dengan kadar membaca surat.
4. Bangkit dari ruku’ mengucapkan Samiallahu liman hamidah, kemudian membaca robbanaa wa lakal hamdu.
5. Tidak menuju sujud, namun berdiri kembali bersedekap dengan membaca alFatihah dan surat.
6. Ruku’ yang kedua dalam rokaat ini.
7. Bangkit dari ruku’, mengucapkan Samiallaahu liman hamidah, kemudian membaca robbanaa wa lakal hamdu.
8. Turun menuju sujud, kemudian bangkit dari sujud untuk duduk di antara dua sujud, kemudian sujud lagi.
9. Bangkit ke rokaat kedua, memulai dengan alFatihah kemudian membaca surat. Selanjutnya sama caranya dengan cara di rokaat pertama.
📬 SHOLAT GERHANA MATAHARI DAN BULAN : CARA SHOLAT KUSUF, SHALAT HUSUF, SHOLAT KHUSUF
✅ APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN SHOLAT GERHANA?
Jawab:
Sholat gerhana adalah sholat yang dilakukan saat terjadi gerhana bulan atau gerhana matahari. Jika terlihat di daerah itu gerhana bulan/ matahari baik penuh atau sebagian, disyariatkan bagi penduduk daerah tersebut untuk melaksanakan sholat gerhana.
Sedangkan jika di suatu daerah tidak terlihat gerhana, maka tidak disyariatkan sholat gerhana. Meski menurut prediksi ilmu astronomi akan terlihat gerhana di daerah itu. Jadi, patokannya adalah apakah pada saat kejadian terlihat atau tidak. Hal ini berdasarkan hadits Nabi:
فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَصَلُّوا حَتَّى يُفْرَجَ عَنْكُمْ
Jika kalian melihat hal itu (gerhana), maka sholatlah hingga dihilangkan hal itu terhadap kalian… (H.R al-Bukhari dari Aisyah)
Waktu pelaksanaan sholat sholat gerhana adalah dari sejak terlihat gerhana hingga tidak lagi terlihat gerhana. Sholat gerhana disunnahkan untuk dikerjakan meski pada saat terlarang melakukan sholat seperti setelah sholat Ashar, hal ini adalah pendapat yang benar dalam madzhab asySyafii.
✅ APAKAH HUKUM SHOLAT GERHANA?
Jawab: Jumhur (mayoritas) Ulama berpendapat bahwa sholat gerhana adalah sunnah muakkadah.
✅ APAKAH DISYARIATKAN MENGUMANDANGKAN : ASHSHOLAATU JAAMIAH UNTUK MEMANGGIL PARA JAMAAH DALAM SHOLAT GERHANA?
Jawab: Ya, disyariatkan mengumandangkan ashsholaatu Jaamiah saat terjadi gerhana.
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ مُنَادِيًا الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ فَاجْتَمَعُوا وَتَقَدَّمَ فَكَبَّرَ وَصَلَّى
Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam maka beliau mengutus orang untuk berseru: Assholaatu Jaamiah. Maka manusia berkumpul, kemudian beliau maju bertakbir dan sholat (H.R al-Bukhari dan Muslim)
✅ BAGAIMANA TATA CARA SHOLAT GERHANA?
Jawab:
Sholat gerhana bisa dikerjakan sendirian, dan akan lebih baik lagi jika dikerjakan berjamaah.Jika dikerjakan berjamaah, maka Imam membaca alFatihah dan surat setelahnya dengan keras (jahr) meski dilakukan di siang hari.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا جَهَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَإِذَا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَتِهِ كَبَّرَ فَرَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ يُعَاوِدُ الْقِرَاءَةَ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ
Dari Aisyah radhiyallahu anha : Nabi shollallahu alaihi wasallam mengeraskan bacaan dalam sholat gerhana. Jika selesai dari membaca ayat, beliau bertakbir kemudian ruku’. Setelah bangkit dari ruku’ beliau mengucapkan : Samiallaahu liman hamidah, robbanaa wa lakal hamdu. Kemudian mengulangi membaca (alFatihah dan surat). Dalam sholat gerhana terdapat 4 ruku’ dalam dua rokaat, dan ada 4 sujud (dalam keseluruhan) (H.R al-Bukhari)
Secara ringkas, tata cara sholat gerhana adalah sebagai berikut:
1. Takbiratul Ihram
2. Membaca istiftah, taawwudz, alFatihah dan surat lain (jika memungkinkan membaca surat yang panjang, seperti alBaqoroh, namun jika tidak memungkinkan, bisa surat apa saja).
3. Ruku’, jika memungkinkan dilakukan dalam waktu yang lama, apabila membaca surat yang panjang. Sebagaimana sunnah Nabi kadar lama ruku’ hampir sama dengan kadar membaca surat.
4. Bangkit dari ruku’ mengucapkan Samiallahu liman hamidah, kemudian membaca robbanaa wa lakal hamdu.
5. Tidak menuju sujud, namun berdiri kembali bersedekap dengan membaca alFatihah dan surat.
6. Ruku’ yang kedua dalam rokaat ini.
7. Bangkit dari ruku’, mengucapkan Samiallaahu liman hamidah, kemudian membaca robbanaa wa lakal hamdu.
8. Turun menuju sujud, kemudian bangkit dari sujud untuk duduk di antara dua sujud, kemudian sujud lagi.
9. Bangkit ke rokaat kedua, memulai dengan alFatihah kemudian membaca surat. Selanjutnya sama caranya dengan cara di rokaat pertama.
Intinya, total rokaat adalah 2 rokaat. Pada tiap rokaat ada dua ruku’ dan dua sujud. Total sujud pada seluruh rokaat adalah empat sujud.
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ مَا فَعَلَ فِي الْأُولَى ثُمَّ انْصَرَفَ
Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata: Terjadi gerhana di masa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam maka Rasulullah shollallahu alaihi wasallam sholat bersama manusia. Beliau berdiri dan lama dalam berdirinya. Kemudian beliau ruku’ hingga lama dalam ruku’nya. Kemydian beliau berdiri dengan lama berdiri kurang dari yang pertama. Kemudian beliau ruku’ memperpanjang ruku’nya kurang dari yang pertama. Kemudian sujud memperpanjang sujudnya kemudian melakukan seperti itu di rokaat pertama pada rokaat kedua. Kemudian selesai sholat (H.R al-Bukhari dari Aisyah).
✅ APAKAH DISYARIATKAN KHUTBAH DALAM SHOLAT GERHANA?
Jawab:
Disunnahkan khutbah setelah sholat gerhana jika sholat gerhana dilakukan berjamaah. Khotib tidak harus Imam sholat menurut Syaikh Ibn Utsaimin, namun bisa juga orang lain yang hadir saat itu yang bisa menyampaikan khutbah. Isi khutbah semestinya sesuai dengan keadaan yang dibutuhkan saat itu. Seperti saat meninggalnya anak Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam yang bernama Ibrahim, maka Nabi menjelaskan dalam khutbahnya setelah sholat gerhana bahwa gerhana itu bukanlah terjadi karena sebab kematian atau hidupnya seseorang, namun itu adalah salah satu tanda kebesaran Allah untuk membuat takut hambaNya.
Dijelaskan dalam hadits Aisyah radhiyallahu anha:
...ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ انْجَلَتِ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ
…kemudian setelah selesai sholat, sudah berlalu gerhana matahari, beliau berkhutbah memuja dan memuji Allah kemudian bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Tidaklah mengalami gerhana dengan sebab kematian atau kehidupan seseorang (H.R al-Bukhari dan Muslim)
Namun, khutbah ini bukanlah kewajiban atau rukun dalam sholat gerhana, karena yang diperintahkan Nabi shollallahu alaihi wasallam adalah sholat (ketika melihat gerhana), tidak ada penyebutan perintah berkhutbah setelahnya.
Sebagian Ulama memberikan perincian: jika dibutuhkan silakan berkhutbah, jika tidak, juga tidak mengapa. Sebagaimana dikutip hal itu oleh Syaikh Abdullah Aalu Bassam dalam Taudhihul Ahkam.
✅ SELAIN SHOLAT, APA SAJA YANG DIPERINTAHKAN NABI JIKA KITA MELIHAT GERHANA?
Jawab:
Pada saat terjadi gerhana kita diperintahkan untuk sholat, banyak berdzikir, berdoa, dan bershodaqoh.
فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Jika kalian melihat itu (gerhana) maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, sholat, dan bershodaqohlah (H.R al-Bukhari dari Aisyah)
Dalam sebagian riwayat dinyatakan:
فَإِذَا رَأَيْتُمْ كُسُوفًا فَاذْكُرُوا اللَّهَ حَتَّى يَنْجَلِيَا
Jika kalian melihat gerhana, berdzikirlah kepada Allah hingga nampak jelas (berakhir gerhananya)(H.R Muslim dari Aisyah)
(dikutip dari buku "Fiqh Bersuci dan Sholat", Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah, penerbit Cahaya Sunnah Bandung) WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ مَا فَعَلَ فِي الْأُولَى ثُمَّ انْصَرَفَ
Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata: Terjadi gerhana di masa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam maka Rasulullah shollallahu alaihi wasallam sholat bersama manusia. Beliau berdiri dan lama dalam berdirinya. Kemudian beliau ruku’ hingga lama dalam ruku’nya. Kemydian beliau berdiri dengan lama berdiri kurang dari yang pertama. Kemudian beliau ruku’ memperpanjang ruku’nya kurang dari yang pertama. Kemudian sujud memperpanjang sujudnya kemudian melakukan seperti itu di rokaat pertama pada rokaat kedua. Kemudian selesai sholat (H.R al-Bukhari dari Aisyah).
✅ APAKAH DISYARIATKAN KHUTBAH DALAM SHOLAT GERHANA?
Jawab:
Disunnahkan khutbah setelah sholat gerhana jika sholat gerhana dilakukan berjamaah. Khotib tidak harus Imam sholat menurut Syaikh Ibn Utsaimin, namun bisa juga orang lain yang hadir saat itu yang bisa menyampaikan khutbah. Isi khutbah semestinya sesuai dengan keadaan yang dibutuhkan saat itu. Seperti saat meninggalnya anak Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam yang bernama Ibrahim, maka Nabi menjelaskan dalam khutbahnya setelah sholat gerhana bahwa gerhana itu bukanlah terjadi karena sebab kematian atau hidupnya seseorang, namun itu adalah salah satu tanda kebesaran Allah untuk membuat takut hambaNya.
Dijelaskan dalam hadits Aisyah radhiyallahu anha:
...ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ انْجَلَتِ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ
…kemudian setelah selesai sholat, sudah berlalu gerhana matahari, beliau berkhutbah memuja dan memuji Allah kemudian bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Tidaklah mengalami gerhana dengan sebab kematian atau kehidupan seseorang (H.R al-Bukhari dan Muslim)
Namun, khutbah ini bukanlah kewajiban atau rukun dalam sholat gerhana, karena yang diperintahkan Nabi shollallahu alaihi wasallam adalah sholat (ketika melihat gerhana), tidak ada penyebutan perintah berkhutbah setelahnya.
Sebagian Ulama memberikan perincian: jika dibutuhkan silakan berkhutbah, jika tidak, juga tidak mengapa. Sebagaimana dikutip hal itu oleh Syaikh Abdullah Aalu Bassam dalam Taudhihul Ahkam.
✅ SELAIN SHOLAT, APA SAJA YANG DIPERINTAHKAN NABI JIKA KITA MELIHAT GERHANA?
Jawab:
Pada saat terjadi gerhana kita diperintahkan untuk sholat, banyak berdzikir, berdoa, dan bershodaqoh.
فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Jika kalian melihat itu (gerhana) maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, sholat, dan bershodaqohlah (H.R al-Bukhari dari Aisyah)
Dalam sebagian riwayat dinyatakan:
فَإِذَا رَأَيْتُمْ كُسُوفًا فَاذْكُرُوا اللَّهَ حَتَّى يَنْجَلِيَا
Jika kalian melihat gerhana, berdzikirlah kepada Allah hingga nampak jelas (berakhir gerhananya)(H.R Muslim dari Aisyah)
(dikutip dari buku "Fiqh Bersuci dan Sholat", Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah, penerbit Cahaya Sunnah Bandung) WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 KAJIAN KITABUL JAMI’ MIN BULUGHIL MARAM (bag 5)
BAB: ADAB
LARANGAN MENYURUH ORANG BERDIRI DARI TEMPAT DUDUKNYA KEMUDIAN IA JUSTRU DUDUK DI TEMPAT TERSEBUT
✅ Hadits no 1441
وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - - لَا يُقِيمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ, ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ, وَلَكِنْ تَفَسَّحُوا, وَتَوَسَّعُوا - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dan dari Ibnu Umar –semoga Allah meridhai keduanya – ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: << Janganlah seseorang menyuruh orang lain berdiri di tempat duduknya kemudian orang yang menyuruh itu duduk di tempat itu. Namun berilah kelapangan dan keluasan (di majelis) >> (Muttafaqun alaih)
Penjelasan:
Hadits ini memberikan bimbingan kepada kita dalam adab bermajelis. Setidaknya ada 2 pelajaran yang bisa diambil.
Pelajaran pertama: Bagi seseorang yang baru datang, janganlah ia menyuruh orang yang sudah lebih dahulu datang dan duduk di suatu tempat untuk berpindah dari tempat duduknya kemudian orang yang baru datang itu duduk di tempat itu. Karena orang yang sudah lebih dahulu datang itulah yang lebih berhak untuk menduduki tempat itu.
Kecuali apabila orang yang telah duduk itu merelakan haknya dan mempersilakan ia duduk di tempat tersebut. Seseorang juga tidak boleh duduk di tempat duduk tertentu meskipun kosong, apabila waliyyul amr melarangnya. (Tashilul Ilmam karya Syaikh Sholih al-Fauzan (6/163)).
Pelajaran kedua: Bagi orang-orang yang sudah duduk di majelis itu, apabila ada orang yang baru datang, hendaknya mereka memberikan kelapangan dan keluasan agar orang yang baru datang itu bisa bergabung duduk di majelis itu. Allah Azza Wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ...
Wahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepada kalian: Berikanlah kelapangan di majelis, maka berikanlah kelapangan, niscaya Allah melapangkan kalian…(Q.S al-Mujaadilah ayat 11).
(faidah dari Taudhihul Ahkam karya Syaikh Abdullah al-Bassam (4/534))
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 KAJIAN KITABUL JAMI’ MIN BULUGHIL MARAM (bag 5)
BAB: ADAB
LARANGAN MENYURUH ORANG BERDIRI DARI TEMPAT DUDUKNYA KEMUDIAN IA JUSTRU DUDUK DI TEMPAT TERSEBUT
✅ Hadits no 1441
وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - - لَا يُقِيمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ, ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ, وَلَكِنْ تَفَسَّحُوا, وَتَوَسَّعُوا - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dan dari Ibnu Umar –semoga Allah meridhai keduanya – ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: << Janganlah seseorang menyuruh orang lain berdiri di tempat duduknya kemudian orang yang menyuruh itu duduk di tempat itu. Namun berilah kelapangan dan keluasan (di majelis) >> (Muttafaqun alaih)
Penjelasan:
Hadits ini memberikan bimbingan kepada kita dalam adab bermajelis. Setidaknya ada 2 pelajaran yang bisa diambil.
Pelajaran pertama: Bagi seseorang yang baru datang, janganlah ia menyuruh orang yang sudah lebih dahulu datang dan duduk di suatu tempat untuk berpindah dari tempat duduknya kemudian orang yang baru datang itu duduk di tempat itu. Karena orang yang sudah lebih dahulu datang itulah yang lebih berhak untuk menduduki tempat itu.
Kecuali apabila orang yang telah duduk itu merelakan haknya dan mempersilakan ia duduk di tempat tersebut. Seseorang juga tidak boleh duduk di tempat duduk tertentu meskipun kosong, apabila waliyyul amr melarangnya. (Tashilul Ilmam karya Syaikh Sholih al-Fauzan (6/163)).
Pelajaran kedua: Bagi orang-orang yang sudah duduk di majelis itu, apabila ada orang yang baru datang, hendaknya mereka memberikan kelapangan dan keluasan agar orang yang baru datang itu bisa bergabung duduk di majelis itu. Allah Azza Wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ...
Wahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepada kalian: Berikanlah kelapangan di majelis, maka berikanlah kelapangan, niscaya Allah melapangkan kalian…(Q.S al-Mujaadilah ayat 11).
(faidah dari Taudhihul Ahkam karya Syaikh Abdullah al-Bassam (4/534))
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 AMALAN ORANG HIDUP YANG BERMANFAAT BAGI SI MAYIT (ORANG YANG SUDAH MENINGGAL)
Oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak hafizhahullah
Karena kemurahan dan karunia Allah subhanahu wa ta’ala , seorang yang mati masih bisa menikmati manfaat dari sebagian amalan yang pernah diamalkannya. Dia juga bisa mendapatkan manfaat dari sebagian amalan orang-orang yang masih hidup. Di antara perkara yang terus bermanfaat bagi seorang yang telah mati adalah:
1️⃣. SHADAQAH JARIYAH, SEPERTI WAKAF DAN SEJENISNYA
Seorang masih terus mendapatkan pahala shadaqah jariyah yang ia lakukan, seperti membangun masjid, pesantren, atau wakaf-wakaf lainnya dalam perkara yang baik. Rasulullah ﷺ menyatakan:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seorang meninggal, terputus amalannya kecuali tiga: shadaqah yang terus mengalir pahalanya, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
2️⃣. ILMU YANG BERMANFAAT
Ilmu yang bermanfaat yang ia ajarkan kepada orang lain akan terus mengalirkan pahala baginya walaupun ia telah meninggal, sebagaimana dalam hadits di atas. Selain hadits di atas, Rasulullah ﷺ juga menjelaskan:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa yang berdakwah kepada petunjuk (kebaikan) maka dia mendapatkan pahala seperti pahala yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu )
Beliau ﷺ juga bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menuntunkan sunnah yang baik maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang telah melakukannya.” (HR. Muslim dari Jarir bin Abdillah Radhiyallahu 'anhu )
3️⃣. SHADAQAH YANG DILAKUKAN ANAK ATAS NAMA ORANGTUANYA
Para ulama menjelaskan bahwa semua amalan baik seorang anak itu bermanfaat bagi orangtuanya. Orang akan mendapatkan pahala seperti yang diperoleh anaknya, karena anak adalah hasil usaha orangtua. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (An-Najm: 39)
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ
“Makanan terbaik bagi seseorang adalah dari hasil usahanya. Dan anaknya adalah juga hasil usahanya.”
(HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi, dikuatkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah sebagaimana dalam Ahkamul Jana’iz)
Terdapat hadits-hadits lain yang mendukung makna hadits ini, di antaranya:
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha :
أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ n: إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ
Ada seorang laki-laki berkata: “Ibuku meninggal tiba-tiba (dan tidak sempat berwasiat). Aku mengira jika sempat bicara dia akan bershadaqah. Apakah dia akan mendapatkan pahala jika aku bershadaqah atas namanya?” Rasulullah berkata: “Ya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:
أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهُوَ غَائِبٌ عَنْهَا فَأَتَى رَسُولَ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا فَهَلْ يَنْفَعُهَا إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَإِنِّي أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِي الْمَخْرَفَ صَدَقَةٌ عَنْهَا
Ibu dari Sa’d bin ‘Ubadah –saudara Bani Sa’idah– meninggal ketika Sa’d tidak di rumah. Dia lalu mendatangi Rasulullah n berkata: “Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal ketika aku tidak ada. Apakah bermanfaat baginya jika aku bershadaqah atas namanya?” Rasulullah ﷺ berkata: “Ya.” Sa’d berkata: “Persaksikanlah bahwa kebunku yang pepohonannya sedang berbuah adalah shadaqah atas namanya.” (HR. Muslim)
📬 AMALAN ORANG HIDUP YANG BERMANFAAT BAGI SI MAYIT (ORANG YANG SUDAH MENINGGAL)
Oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak hafizhahullah
Karena kemurahan dan karunia Allah subhanahu wa ta’ala , seorang yang mati masih bisa menikmati manfaat dari sebagian amalan yang pernah diamalkannya. Dia juga bisa mendapatkan manfaat dari sebagian amalan orang-orang yang masih hidup. Di antara perkara yang terus bermanfaat bagi seorang yang telah mati adalah:
1️⃣. SHADAQAH JARIYAH, SEPERTI WAKAF DAN SEJENISNYA
Seorang masih terus mendapatkan pahala shadaqah jariyah yang ia lakukan, seperti membangun masjid, pesantren, atau wakaf-wakaf lainnya dalam perkara yang baik. Rasulullah ﷺ menyatakan:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seorang meninggal, terputus amalannya kecuali tiga: shadaqah yang terus mengalir pahalanya, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
2️⃣. ILMU YANG BERMANFAAT
Ilmu yang bermanfaat yang ia ajarkan kepada orang lain akan terus mengalirkan pahala baginya walaupun ia telah meninggal, sebagaimana dalam hadits di atas. Selain hadits di atas, Rasulullah ﷺ juga menjelaskan:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa yang berdakwah kepada petunjuk (kebaikan) maka dia mendapatkan pahala seperti pahala yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu )
Beliau ﷺ juga bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menuntunkan sunnah yang baik maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang telah melakukannya.” (HR. Muslim dari Jarir bin Abdillah Radhiyallahu 'anhu )
3️⃣. SHADAQAH YANG DILAKUKAN ANAK ATAS NAMA ORANGTUANYA
Para ulama menjelaskan bahwa semua amalan baik seorang anak itu bermanfaat bagi orangtuanya. Orang akan mendapatkan pahala seperti yang diperoleh anaknya, karena anak adalah hasil usaha orangtua. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (An-Najm: 39)
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ
“Makanan terbaik bagi seseorang adalah dari hasil usahanya. Dan anaknya adalah juga hasil usahanya.”
(HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi, dikuatkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah sebagaimana dalam Ahkamul Jana’iz)
Terdapat hadits-hadits lain yang mendukung makna hadits ini, di antaranya:
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha :
أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ n: إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ
Ada seorang laki-laki berkata: “Ibuku meninggal tiba-tiba (dan tidak sempat berwasiat). Aku mengira jika sempat bicara dia akan bershadaqah. Apakah dia akan mendapatkan pahala jika aku bershadaqah atas namanya?” Rasulullah berkata: “Ya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:
أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهُوَ غَائِبٌ عَنْهَا فَأَتَى رَسُولَ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا فَهَلْ يَنْفَعُهَا إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَإِنِّي أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِي الْمَخْرَفَ صَدَقَةٌ عَنْهَا
Ibu dari Sa’d bin ‘Ubadah –saudara Bani Sa’idah– meninggal ketika Sa’d tidak di rumah. Dia lalu mendatangi Rasulullah n berkata: “Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal ketika aku tidak ada. Apakah bermanfaat baginya jika aku bershadaqah atas namanya?” Rasulullah ﷺ berkata: “Ya.” Sa’d berkata: “Persaksikanlah bahwa kebunku yang pepohonannya sedang berbuah adalah shadaqah atas namanya.” (HR. Muslim)
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata:
“Hadits-hadits dalam bab ini menjelaskan bahwa shadaqah anak itu bermanfaat bagi orangtuanya yang telah meninggal, walaupun tanpa wasiat dari keduanya.”
(Lihat Nailul Authar)
4️⃣. DOA KAUM MUKMININ
Di antara yang menunjukkan hal ini adalah ayat Allah subhanahu wa ta’ala :
وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (Al-Hasyr: 10)
● Di antara dalil masalah ini adalah disyariatkannya shalat jenazah dan ziarah kubur. Karena shalat jenazah disyariatkan untuk mendoakan si mayit. Rasulullah ﷺ berkata:
إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى الْمَيِّتِ فَأَخْلِصُوا لَهُ الدُّعَاءَ
“Jika kalian menshalatkan mayit, maka ikhlaskanlah doa baginya.” (HR. Abu Dawud dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu )
Beliau ﷺ juga bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللهِ شَيْئًا إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ
“Tidaklah ada muslim yang meninggal kemudian menshalatkan jenazahnya empat puluh orang yang tidak melakukan syirik, kecuali mereka akan diizinkan memberi syafaat kepadanya.”
(HR. Muslim)
● Demikian juga, ziarah kubur disyariatkan untuk mendoakan si mayit.
5️⃣. PEMBAYARAN HUTANGNYA WALAUPUN BUKAN OLEH AHLI WARIS NYA
Adapun hutang, boleh seorang membayarkan hutang orang lain yang telah meninggal walaupun bukan dari kerabatnya sekalipun, dan si mayit terbebas dari beban utang tersebut. (Lihat Ahkamul Jana’iz hal. 212-226)
✍️ Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:
“Seseorang yang telah mati bisa mendapatkan manfaat dari amalan orang yang hidup dalam perkara-perkara yang ditunjukkan oleh dalil, seperti :
◽️doa orang hidup untuknya,
◽️memintakan ampun untuknya,
◽️shadaqah atas namanya,
◽️haji dan umrah atas namanya,
◽️membayarkan hutang-hutangnya, dan
◽️menunaikan wasiat-wasiatnya.
Semua perkara tersebut disyariatkan sebagaimana telah ditunjukkan oleh dalil.
Sebagian ulama memasukkan semua bentuk taqarrub (ibadah) yang dilakukan muslim dan diperuntukkan pahalanya bagi muslim lain yang masih hidup atau telah mati, ke dalam perkara ini. Namun pendapat yang shahih (benar) adalah mencukupkan hanya yang ada di dalam dalil.
Perkara yang terdapat dalilnya mengkhususkan keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala :
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ
‘Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya’.”
(An-Najm: 39) [Lihat Fatawa ‘Aqidah hal. 48-49]
🔵 KESIMPULAN
Jika telah kita yakini bahwa seorang yang mati hanyalah membawa amalnya, maka hendaknya kita manfaatkan waktu yang tersisa untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan memperbanyak amal shalih.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Dan infaqkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?’.”
(Al-Munafiqun: 10)
“Hadits-hadits dalam bab ini menjelaskan bahwa shadaqah anak itu bermanfaat bagi orangtuanya yang telah meninggal, walaupun tanpa wasiat dari keduanya.”
(Lihat Nailul Authar)
4️⃣. DOA KAUM MUKMININ
Di antara yang menunjukkan hal ini adalah ayat Allah subhanahu wa ta’ala :
وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (Al-Hasyr: 10)
● Di antara dalil masalah ini adalah disyariatkannya shalat jenazah dan ziarah kubur. Karena shalat jenazah disyariatkan untuk mendoakan si mayit. Rasulullah ﷺ berkata:
إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى الْمَيِّتِ فَأَخْلِصُوا لَهُ الدُّعَاءَ
“Jika kalian menshalatkan mayit, maka ikhlaskanlah doa baginya.” (HR. Abu Dawud dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu )
Beliau ﷺ juga bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللهِ شَيْئًا إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ
“Tidaklah ada muslim yang meninggal kemudian menshalatkan jenazahnya empat puluh orang yang tidak melakukan syirik, kecuali mereka akan diizinkan memberi syafaat kepadanya.”
(HR. Muslim)
● Demikian juga, ziarah kubur disyariatkan untuk mendoakan si mayit.
5️⃣. PEMBAYARAN HUTANGNYA WALAUPUN BUKAN OLEH AHLI WARIS NYA
Adapun hutang, boleh seorang membayarkan hutang orang lain yang telah meninggal walaupun bukan dari kerabatnya sekalipun, dan si mayit terbebas dari beban utang tersebut. (Lihat Ahkamul Jana’iz hal. 212-226)
✍️ Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:
“Seseorang yang telah mati bisa mendapatkan manfaat dari amalan orang yang hidup dalam perkara-perkara yang ditunjukkan oleh dalil, seperti :
◽️doa orang hidup untuknya,
◽️memintakan ampun untuknya,
◽️shadaqah atas namanya,
◽️haji dan umrah atas namanya,
◽️membayarkan hutang-hutangnya, dan
◽️menunaikan wasiat-wasiatnya.
Semua perkara tersebut disyariatkan sebagaimana telah ditunjukkan oleh dalil.
Sebagian ulama memasukkan semua bentuk taqarrub (ibadah) yang dilakukan muslim dan diperuntukkan pahalanya bagi muslim lain yang masih hidup atau telah mati, ke dalam perkara ini. Namun pendapat yang shahih (benar) adalah mencukupkan hanya yang ada di dalam dalil.
Perkara yang terdapat dalilnya mengkhususkan keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala :
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ
‘Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya’.”
(An-Najm: 39) [Lihat Fatawa ‘Aqidah hal. 48-49]
🔵 KESIMPULAN
Jika telah kita yakini bahwa seorang yang mati hanyalah membawa amalnya, maka hendaknya kita manfaatkan waktu yang tersisa untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan memperbanyak amal shalih.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Dan infaqkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?’.”
(Al-Munafiqun: 10)
Rasulullah ﷺ menyatakan:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara yang lain: (Manfaatkan) masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, masa hidupmu sebelum datang masa matimu.” (HR. Al-Hakim dan lainnya, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani sebagaimana dalam tahqiq Iqtidha’ul ‘Ilmi Al-‘Amal)
Kita juga berusaha mengamalkan amalan yang pahalanya terus mengalir kepada kita sampai kita mati: menuntut ilmu agama untuk kita amalkan dan kita ajarkan, shadaqah jariyah, serta mendidik anak-anak kita agar menjadi anak-anak yang shalih.
Mudah-mudahan tulisan ini memberikan dorongan semangat bagi kita semua untuk beramal shalih. Walhamdulillah.
https://asysyariah.com/perkara-yang-bermanfaat-bagi-seorang-yang-telah-mati/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara yang lain: (Manfaatkan) masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, masa hidupmu sebelum datang masa matimu.” (HR. Al-Hakim dan lainnya, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani sebagaimana dalam tahqiq Iqtidha’ul ‘Ilmi Al-‘Amal)
Kita juga berusaha mengamalkan amalan yang pahalanya terus mengalir kepada kita sampai kita mati: menuntut ilmu agama untuk kita amalkan dan kita ajarkan, shadaqah jariyah, serta mendidik anak-anak kita agar menjadi anak-anak yang shalih.
Mudah-mudahan tulisan ini memberikan dorongan semangat bagi kita semua untuk beramal shalih. Walhamdulillah.
https://asysyariah.com/perkara-yang-bermanfaat-bagi-seorang-yang-telah-mati/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️