::
📬 HAKIKAT HASAD (IRI DENGKI)
Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi rahimahullah berkata,
“Hakikat hasad adalah apabila ada orang lain yang menerangkan kebenaran, dia (orang yang dalam hatinya ada iri dan dengki) menganggap bahwa apabila dia menerima kebenaran tersebut, berarti dia telah mengakui ilmu, keutamaan, dan kebenaran yang ada pada diri orang tersebut.
Hal itu tentu akan semakin membesarkan kewibawaannya di mata umat, dan bisa jadi orang yang mengikutinya akan semakin banyak.
Sungguh, engkau akan menjumpai sebagian orang yang begitu berambisi menyalahkan orang lain, adalah dari kalangan ulama meskipun mereka melakukannya DENGAN CARA YANG BATIL.
Semua ini karena kedengkiannya dan upayanya untuk menjatuhkan kedudukan orang yang ia dengki di mata umat. Perasaan iri dan dengki sering muncul di antara orang-orang yang seusia, sederajat, seprofesi, atau sekelas.” (at-Tankil, 2/190)
Sumber:
https://asysyariah.com/kebenaran-tercampakkan-karena-kedengkian-dan-kesombongan/%3famp
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 HAKIKAT HASAD (IRI DENGKI)
Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi rahimahullah berkata,
“Hakikat hasad adalah apabila ada orang lain yang menerangkan kebenaran, dia (orang yang dalam hatinya ada iri dan dengki) menganggap bahwa apabila dia menerima kebenaran tersebut, berarti dia telah mengakui ilmu, keutamaan, dan kebenaran yang ada pada diri orang tersebut.
Hal itu tentu akan semakin membesarkan kewibawaannya di mata umat, dan bisa jadi orang yang mengikutinya akan semakin banyak.
Sungguh, engkau akan menjumpai sebagian orang yang begitu berambisi menyalahkan orang lain, adalah dari kalangan ulama meskipun mereka melakukannya DENGAN CARA YANG BATIL.
Semua ini karena kedengkiannya dan upayanya untuk menjatuhkan kedudukan orang yang ia dengki di mata umat. Perasaan iri dan dengki sering muncul di antara orang-orang yang seusia, sederajat, seprofesi, atau sekelas.” (at-Tankil, 2/190)
Sumber:
https://asysyariah.com/kebenaran-tercampakkan-karena-kedengkian-dan-kesombongan/%3famp
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
AsySyariah.com
Kebenaran Tercampakkan karena Kedengkian dan Kesombongan
Banyak sebab yang menghalangi dan menggelincirkan seseorang dari kebenaran. Sebab yang terbesar adalah kesombongan dan hasad (kedengkian).
::
📬 BENARKAH TIDAK PERLU TATSABBUT PADA KHOBAR TSIQOH?
Dalam masalah ini ada faidah dari Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Beliau pernah ditanya,
بعض الدعاة يتهم داعية آخر، فإذا قيل له في ذلك قال: حدثني رجل معروف بعلمه وعدله. فإذا قلت: تثبت. قال: التثبت فيما إذا كان الناقل فاسقاً. فما رأيكم في هذا؟ هذا صحيح، كلامه صحيح من حيث الظاهر؛ أنه إذا أخبرك رجل ثقة فلا حاجة للتثبت؛ لأن الله قال: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا} [الحجرات:6] لكن قد يكون الإنسان ثقة ولكن له هوى فتضعف الثقة من هذه الناحية.
Sebagian dai menuduh dai lainnya. Jika ia ditanya tentang hal itu, ia menjawab:
"Telah menyampaikan berita kepadaku seorang laki-laki yang telah dikenal dengan keilmuan dan keadilannya (tsiqah)".
Jika dikatakan kepada dia: "Hendaknya engkau mengonfirmasi berita terlebih dahulu!".
Ia berkata: "Konfirmasi (tatsabbut) itu jika yang menukil adalah orang yang fasik". Bagaimana pendapat Anda dalam hal ini?
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab,
"Ini benar. Ucapannya benar secara zhahir. Bahwasanya jika seorang yang terpercaya mengabarkan kepadamu, tidak perlu klarifikasi lagi. Karena Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasik menyampaikan berita, pastikanlah terlebih dahulu kebenarannya.” (QS. al-Hujurat: 6)
Namun, KADANGKALA SEORANG ITU TSIQAH, AKAN TETAPI IA MEMILIKI HAWA NAFSU. Sehingga dengan sebab ini, sisi keterpercayaan yang ada pada dia menjadi lemah". (Liqa’ al-Baab al-Maftuh 182/28)
Sumber: https://mahad-assalafy.com/benarkah-tidak-perlu-tatsabbut-pada-khabar-tsiqah/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 BENARKAH TIDAK PERLU TATSABBUT PADA KHOBAR TSIQOH?
Dalam masalah ini ada faidah dari Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Beliau pernah ditanya,
بعض الدعاة يتهم داعية آخر، فإذا قيل له في ذلك قال: حدثني رجل معروف بعلمه وعدله. فإذا قلت: تثبت. قال: التثبت فيما إذا كان الناقل فاسقاً. فما رأيكم في هذا؟ هذا صحيح، كلامه صحيح من حيث الظاهر؛ أنه إذا أخبرك رجل ثقة فلا حاجة للتثبت؛ لأن الله قال: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا} [الحجرات:6] لكن قد يكون الإنسان ثقة ولكن له هوى فتضعف الثقة من هذه الناحية.
Sebagian dai menuduh dai lainnya. Jika ia ditanya tentang hal itu, ia menjawab:
"Telah menyampaikan berita kepadaku seorang laki-laki yang telah dikenal dengan keilmuan dan keadilannya (tsiqah)".
Jika dikatakan kepada dia: "Hendaknya engkau mengonfirmasi berita terlebih dahulu!".
Ia berkata: "Konfirmasi (tatsabbut) itu jika yang menukil adalah orang yang fasik". Bagaimana pendapat Anda dalam hal ini?
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab,
"Ini benar. Ucapannya benar secara zhahir. Bahwasanya jika seorang yang terpercaya mengabarkan kepadamu, tidak perlu klarifikasi lagi. Karena Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasik menyampaikan berita, pastikanlah terlebih dahulu kebenarannya.” (QS. al-Hujurat: 6)
Namun, KADANGKALA SEORANG ITU TSIQAH, AKAN TETAPI IA MEMILIKI HAWA NAFSU. Sehingga dengan sebab ini, sisi keterpercayaan yang ada pada dia menjadi lemah". (Liqa’ al-Baab al-Maftuh 182/28)
Sumber: https://mahad-assalafy.com/benarkah-tidak-perlu-tatsabbut-pada-khabar-tsiqah/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 BENARKAH UCAPAN SELAMAT NATAL TIDAK MEMPENGARUHI AKIDAH?
Ucapan seseorang harus selalu dijaga. Terkadang seorang mengucapkan sesuatu yang dia anggap sepele, ternyata dapat melemparkannya ke dalam neraka jahanam.
Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
"Sungguh, seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang menyebabkan kemurkaan Allah, yang tidak ia pikirkan akibatnya; membuat ia terjerumus ke dalam neraka jahanam akibat ucapannya tersebut." (HR. al-Bukhari no. 6478)
Ada sebuah kisah yang menunjukkan bahwa ucapan seseorang bisa berpengaruh fatal terhadap keimanannya.
Dalam perjalanan perang Tabuk, ada salah seorang yang berkata, “Kita belum pernah melihat qurra’ (ahli baca al-Qur’an) seperti mereka ini, paling gendut perutnya, paling dusta ucapannya, paling takut ketika bertemu musuh.”
Maksudnya, Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya adalah sosok yang terlalu banyak makan sehingga perutnya gendut (tidak ada pekerjaan lain kecuali makan), selalu berbicara dusta, sangat takut betemu musuh, dan pasti melarikan diri.
Pasukan lain yang mendengar ucapan tersebut pun tersentak. Dengan sigap, dia segera mengadukan ucapan tersebut kepada Rasulullah ﷺ.
Ketika sang pembicara mengetahui ucapannya diadukan kepada Rasulullah ﷺ, dia bersegera memacu kudanya mendatangi Rasulullah untuk menyampaikan alasan, “Wahai Rasul, kami mengucapkannya hanya bersenda gurau dan bermain-main,” kelitnya.
Namun, ternyata Rasulullah ﷺ menjawab dengan membacakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ٦٥
“Mengapa terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (At-Taubah: 65)
Dengan tegas pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa berolok-olok dengan Allah dan Rasul-Nya adalah kekafiran.
لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُم
“Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman.” (At-Taubah: 66)
Disebutkan pada beberapa riwayat, sang pembicara tadi terus-menerus membujuk Rasulullah ﷺ agar diampuni. Namun, Rasulullah ﷺ tetap bergeming. (Lihat Ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul hlm. 123)
Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah, kami mengajak sekali lagi supaya kita merenungi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh tadabur dan penghayatan, disertai keimanan dan rasa takut kepada Zat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu,
وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ٦٥ لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ إِن نَّعۡفُ عَن طَآئِفَةٖ مِّنكُمۡ نُعَذِّبۡ طَآئِفَةَۢ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ ٦٦
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka ucapkan itu), niscaya mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main.’ Katakanlah, ‘Mengapa terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak perlu kamu meminta maaf karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian kamu (karena telah tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa.” (At-Taubah: 65—66)
(Bersambung)
📬 BENARKAH UCAPAN SELAMAT NATAL TIDAK MEMPENGARUHI AKIDAH?
Ucapan seseorang harus selalu dijaga. Terkadang seorang mengucapkan sesuatu yang dia anggap sepele, ternyata dapat melemparkannya ke dalam neraka jahanam.
Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
"Sungguh, seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang menyebabkan kemurkaan Allah, yang tidak ia pikirkan akibatnya; membuat ia terjerumus ke dalam neraka jahanam akibat ucapannya tersebut." (HR. al-Bukhari no. 6478)
Ada sebuah kisah yang menunjukkan bahwa ucapan seseorang bisa berpengaruh fatal terhadap keimanannya.
Dalam perjalanan perang Tabuk, ada salah seorang yang berkata, “Kita belum pernah melihat qurra’ (ahli baca al-Qur’an) seperti mereka ini, paling gendut perutnya, paling dusta ucapannya, paling takut ketika bertemu musuh.”
Maksudnya, Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya adalah sosok yang terlalu banyak makan sehingga perutnya gendut (tidak ada pekerjaan lain kecuali makan), selalu berbicara dusta, sangat takut betemu musuh, dan pasti melarikan diri.
Pasukan lain yang mendengar ucapan tersebut pun tersentak. Dengan sigap, dia segera mengadukan ucapan tersebut kepada Rasulullah ﷺ.
Ketika sang pembicara mengetahui ucapannya diadukan kepada Rasulullah ﷺ, dia bersegera memacu kudanya mendatangi Rasulullah untuk menyampaikan alasan, “Wahai Rasul, kami mengucapkannya hanya bersenda gurau dan bermain-main,” kelitnya.
Namun, ternyata Rasulullah ﷺ menjawab dengan membacakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ٦٥
“Mengapa terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (At-Taubah: 65)
Dengan tegas pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa berolok-olok dengan Allah dan Rasul-Nya adalah kekafiran.
لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُم
“Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman.” (At-Taubah: 66)
Disebutkan pada beberapa riwayat, sang pembicara tadi terus-menerus membujuk Rasulullah ﷺ agar diampuni. Namun, Rasulullah ﷺ tetap bergeming. (Lihat Ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul hlm. 123)
Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah, kami mengajak sekali lagi supaya kita merenungi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh tadabur dan penghayatan, disertai keimanan dan rasa takut kepada Zat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu,
وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ٦٥ لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ إِن نَّعۡفُ عَن طَآئِفَةٖ مِّنكُمۡ نُعَذِّبۡ طَآئِفَةَۢ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ ٦٦
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka ucapkan itu), niscaya mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main.’ Katakanlah, ‘Mengapa terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak perlu kamu meminta maaf karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian kamu (karena telah tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa.” (At-Taubah: 65—66)
(Bersambung)
Dari kisah tersebut kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa ucapan yang keluar dari lisan kita, bisa berakibat fatal terhadap keimanan kita.
Jika ingin selamat, hendaknya kita benar-benar bersungguh-sungguh menjaga semua ucapan dan amalan kita.
Apabila kita hendak berucap atau berbuat, selalu timbang setiap ucapan dan perbuatan kita dengan timbangan ilmu dan syariat. Sebab, ternyata ucapan pun bisa membuat akidah kita ternoda. Bahkan, pada tahap tertentu bisa menghantarkan kepada kekufuran.
Kesimpulannya, ucapan lisan sangat berpengaruh terhadap keimanan dan agama seseorang. Hal ini menunjukkan kekeliruan pernyataan sebagian pihak yang telah tersebar di tengah-tengah kaum muslimin.
“Tidak apa-apa kita mengucapkan selamat hari raya agama lain, yang penting akidah kita tetap terjaga. Sekadar ucapan selamat tidak akan mempengaruhi akidah.”
“Cemen sekali keimanan seseorang kalau mengucapkan selamat hari raya agama lain kemudian mempengaruhi akidahnya.”
Menanggapi pernyataan-pernyataan di atas, kita katakan, “Sungguh, kami Ahlussunnah wal Jamaah berkeyakinan bahwa iman meliputi keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Iman bisa bertambah (dengan ketaatan) dan berkurang (dengan melakukan pelanggaran syariat).”
Ar-Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah menyatakan, “Aku mendengar Imam Asy-Syafi’i berkata, ‘Iman mencakup ucapan dan perbuatan, (bisa) bertambah dan berkurang.’”
(Siyar al-A’lam an-Nubala 10/32)
Demikian halnya dengan ucapan selamat Natal. Mengucapkan selamat Natal akan berpengaruh terhadap keimanan seorang muslim.
Sebab, ucapan selamat Natal adalah bentuk keridhaan dan persetujuan seseorang terhadap perayaan Natal yang merupakan syiar dan simbol kekufuran.
Sumber: http://bit.ly/TentangSelamatNatal
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Jika ingin selamat, hendaknya kita benar-benar bersungguh-sungguh menjaga semua ucapan dan amalan kita.
Apabila kita hendak berucap atau berbuat, selalu timbang setiap ucapan dan perbuatan kita dengan timbangan ilmu dan syariat. Sebab, ternyata ucapan pun bisa membuat akidah kita ternoda. Bahkan, pada tahap tertentu bisa menghantarkan kepada kekufuran.
Kesimpulannya, ucapan lisan sangat berpengaruh terhadap keimanan dan agama seseorang. Hal ini menunjukkan kekeliruan pernyataan sebagian pihak yang telah tersebar di tengah-tengah kaum muslimin.
“Tidak apa-apa kita mengucapkan selamat hari raya agama lain, yang penting akidah kita tetap terjaga. Sekadar ucapan selamat tidak akan mempengaruhi akidah.”
“Cemen sekali keimanan seseorang kalau mengucapkan selamat hari raya agama lain kemudian mempengaruhi akidahnya.”
Menanggapi pernyataan-pernyataan di atas, kita katakan, “Sungguh, kami Ahlussunnah wal Jamaah berkeyakinan bahwa iman meliputi keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Iman bisa bertambah (dengan ketaatan) dan berkurang (dengan melakukan pelanggaran syariat).”
Ar-Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah menyatakan, “Aku mendengar Imam Asy-Syafi’i berkata, ‘Iman mencakup ucapan dan perbuatan, (bisa) bertambah dan berkurang.’”
(Siyar al-A’lam an-Nubala 10/32)
Demikian halnya dengan ucapan selamat Natal. Mengucapkan selamat Natal akan berpengaruh terhadap keimanan seorang muslim.
Sebab, ucapan selamat Natal adalah bentuk keridhaan dan persetujuan seseorang terhadap perayaan Natal yang merupakan syiar dan simbol kekufuran.
Sumber: http://bit.ly/TentangSelamatNatal
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 NASIHAT DAN PENJELASAN IBNUL QAYYIM TENTANG HUKUM MEMBERI UCAPAN ATAS HARI RAYA AGAMA LAIN
وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ، ولا يدري قبح ما فعل ، فمن هنّأ عبداً بمعصية أو بدعة ، أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه.
(أحکام أهل الذمة 441/1)
“Adapun memberi ucapan selamat pada syiar-syiar kekufuran orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat Natal, -pent.) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijmak (kesepakatan) ulama.
Contohnya adalah memberi ucapan selamat atas hari raya dan puasa mereka, seperti mengatakan, ‘Ied mubarak atasmu,’ atau dengan ucapan, ‘Selamat hari raya,’ dan semacamnya. Seandainya orang yang mengucapkannya selamat dari kekufuran, minimalnya dia terjatuh pada perkara yang haram.
Ucapan selamat hari raya kepada mereka seperti ini sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan kepada salib.
Bahkan, ucapan selamat hari raya tersebut lebih besar dosanya dan lebih dibenci oleh Allah daripada seseorang memberi ucapan selamat kepada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.
Banyak orang yang kurang menghargai agama Islam terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat.
Oleh karena itu, barang siapa memberi ucapan selamat atas perbuatan maksiat, bid’ah, atau kekufuran; dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah.”
(Ahkamu Ahlidz Dzimmah 1/441)
Beberapa kesimpulan dari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah:
1. Hukum mengucapkan selamat hari raya agama lain adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama.
2. Ucapan selamat hari raya kepada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib.
3. Bagaimana pendapat Anda apabila ada seorang yang mengatakan kepada para peminum khamar (minuman keras), “Selamat minum khamar....” atau kepada para pembunuh, “Selamat membunuh....” atau mengatakan kepada para pezina, ”Selamat berzina....”?
Apakah orang yang berakal akan menilai bahwa ucapan tersebut adalah ucapan yang “sah-sah” saja? Atau pengucapnya pasti akan dicela?
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa dosa ucapan selamat hari raya agama lain lebih besar dan lebih dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada ucapan selamat kepada orang yang minum khamar (minuman keras), membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.
Sumber: http://bit.ly/TentangSelamatNatal
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 NASIHAT DAN PENJELASAN IBNUL QAYYIM TENTANG HUKUM MEMBERI UCAPAN ATAS HARI RAYA AGAMA LAIN
وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ، ولا يدري قبح ما فعل ، فمن هنّأ عبداً بمعصية أو بدعة ، أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه.
(أحکام أهل الذمة 441/1)
“Adapun memberi ucapan selamat pada syiar-syiar kekufuran orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat Natal, -pent.) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijmak (kesepakatan) ulama.
Contohnya adalah memberi ucapan selamat atas hari raya dan puasa mereka, seperti mengatakan, ‘Ied mubarak atasmu,’ atau dengan ucapan, ‘Selamat hari raya,’ dan semacamnya. Seandainya orang yang mengucapkannya selamat dari kekufuran, minimalnya dia terjatuh pada perkara yang haram.
Ucapan selamat hari raya kepada mereka seperti ini sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan kepada salib.
Bahkan, ucapan selamat hari raya tersebut lebih besar dosanya dan lebih dibenci oleh Allah daripada seseorang memberi ucapan selamat kepada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.
Banyak orang yang kurang menghargai agama Islam terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat.
Oleh karena itu, barang siapa memberi ucapan selamat atas perbuatan maksiat, bid’ah, atau kekufuran; dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah.”
(Ahkamu Ahlidz Dzimmah 1/441)
Beberapa kesimpulan dari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah:
1. Hukum mengucapkan selamat hari raya agama lain adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama.
2. Ucapan selamat hari raya kepada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib.
3. Bagaimana pendapat Anda apabila ada seorang yang mengatakan kepada para peminum khamar (minuman keras), “Selamat minum khamar....” atau kepada para pembunuh, “Selamat membunuh....” atau mengatakan kepada para pezina, ”Selamat berzina....”?
Apakah orang yang berakal akan menilai bahwa ucapan tersebut adalah ucapan yang “sah-sah” saja? Atau pengucapnya pasti akan dicela?
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa dosa ucapan selamat hari raya agama lain lebih besar dan lebih dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada ucapan selamat kepada orang yang minum khamar (minuman keras), membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.
Sumber: http://bit.ly/TentangSelamatNatal
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KEMUNGKARAN DALAM PERAYAAN NATAL
Kita sepakat bahwa memberi ucapan selamat atas perbuatan mungkar, hukumnya haram.
Haram mengucapkan selamat berzina, selamat minum khamar, selamat membunuh, dan semisalnya.
Demikian pula perayaan Natal, haram mengucapkan selamat atasnya karena perayaan natal penuh dengan kemungkaran yang lebih besar dari minum khamar, membunuh, dan berzina.
Di antara kemungkaran yang ada dalam misa Natal:
1. Ikrar bahwa Isa adalah putra Tuhan.
2. Mempersembahkan doa kepada Isa.
3. Lagu-lagu rohani yang mengandung puji-pujian dan ikrar bahwa Isa adalah putra Tuhan.
Mengucapkan selamat Natal berarti mengucapkan selamat atas kemungkaran-kemungkaran tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَقَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَلَدٗا ٨٨ لَّقَدۡ جِئۡتُمۡ شَيًۡٔا إِدّٗا ٨٩ تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِنۡهُ وَتَنشَقُّ ٱلۡأَرۡضُ وَتَخِرُّ ٱلۡجِبَالُ هَدًّا ٩٠ أَن دَعَوۡاْ لِلرَّحۡمَٰنِ وَلَدٗا ٩١ وَمَا يَنۢبَغِي لِلرَّحۡمَٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا ٩٢
Mereka berkata, "(Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak.” Sungguh, kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar, hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu), karena mereka menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Dan tidak mungkin bagi (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. (Maryam: 88—92)
Hampir saja langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh; akibat keyakinan mereka.
Masihkah pantas diberi ucapan selamat?
Apa Tujuan Seseorang Mengucapkan Selamat Natal?
Sebagian mungkin akan menjawab, “Toleransi.” Pertanyaan berikutnya, “Apa itu toleransi?”
“Bagaimana toleransi yang benar menurut pandangan Islam?”
“Apa sikap kita jika toleransi harus mengorbankan prinsip dan ajaran Islam?”
“Bagaimana toleransi Islam dalam aspek keberagamaan?”
“Siapakah yang intoleran?”
Penjelasan tentang hal ini secara lengkap bisa dibaca pada Majalah Asy Syariah edisi 123 “Islam Agama Toleran”.
Berikut sebagian cuplikannya, silakan klik :
1. https://t.me/asysyariah/25
2. https://t.me/asysyariah/28
3. https://t.me/asysyariah/31
4. https://t.me/asysyariah/32
5. https://t.me/asysyariah/33
6. https://t.me/asysyariah/34
Sumber: http://bit.ly/TentangSelamatNatal
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 KEMUNGKARAN DALAM PERAYAAN NATAL
Kita sepakat bahwa memberi ucapan selamat atas perbuatan mungkar, hukumnya haram.
Haram mengucapkan selamat berzina, selamat minum khamar, selamat membunuh, dan semisalnya.
Demikian pula perayaan Natal, haram mengucapkan selamat atasnya karena perayaan natal penuh dengan kemungkaran yang lebih besar dari minum khamar, membunuh, dan berzina.
Di antara kemungkaran yang ada dalam misa Natal:
1. Ikrar bahwa Isa adalah putra Tuhan.
2. Mempersembahkan doa kepada Isa.
3. Lagu-lagu rohani yang mengandung puji-pujian dan ikrar bahwa Isa adalah putra Tuhan.
Mengucapkan selamat Natal berarti mengucapkan selamat atas kemungkaran-kemungkaran tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَقَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَلَدٗا ٨٨ لَّقَدۡ جِئۡتُمۡ شَيًۡٔا إِدّٗا ٨٩ تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِنۡهُ وَتَنشَقُّ ٱلۡأَرۡضُ وَتَخِرُّ ٱلۡجِبَالُ هَدًّا ٩٠ أَن دَعَوۡاْ لِلرَّحۡمَٰنِ وَلَدٗا ٩١ وَمَا يَنۢبَغِي لِلرَّحۡمَٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا ٩٢
Mereka berkata, "(Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak.” Sungguh, kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar, hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu), karena mereka menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Dan tidak mungkin bagi (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. (Maryam: 88—92)
Hampir saja langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh; akibat keyakinan mereka.
Masihkah pantas diberi ucapan selamat?
Apa Tujuan Seseorang Mengucapkan Selamat Natal?
Sebagian mungkin akan menjawab, “Toleransi.” Pertanyaan berikutnya, “Apa itu toleransi?”
“Bagaimana toleransi yang benar menurut pandangan Islam?”
“Apa sikap kita jika toleransi harus mengorbankan prinsip dan ajaran Islam?”
“Bagaimana toleransi Islam dalam aspek keberagamaan?”
“Siapakah yang intoleran?”
Penjelasan tentang hal ini secara lengkap bisa dibaca pada Majalah Asy Syariah edisi 123 “Islam Agama Toleran”.
Berikut sebagian cuplikannya, silakan klik :
1. https://t.me/asysyariah/25
2. https://t.me/asysyariah/28
3. https://t.me/asysyariah/31
4. https://t.me/asysyariah/32
5. https://t.me/asysyariah/33
6. https://t.me/asysyariah/34
Sumber: http://bit.ly/TentangSelamatNatal
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
Asy-Syariah
Majalah AsySyariah edisi 123 "Islam Agama Toleran" #posterasysyariah #poster_quote #posterdakwah www.asysyariah.com
Insya Allah Kajian Online Malam ini pukul 20.00
"BERSAUDARA DI BAWAH BIMBINGAN AGAMA YANG SEMPURNA"
Ust.Muhammad Noer hafizhahullah
📥 Copas link berikut di browser anda: http://jember.radioislam.my.id:9999/index.html?sid=1
Kemudian klik tombol "play" ▶️ di bagian bawah
📲 Atau download aplikasi radionya di Playstore: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.minhajul.atsar
Baarokallaahu fiikum
"BERSAUDARA DI BAWAH BIMBINGAN AGAMA YANG SEMPURNA"
Ust.Muhammad Noer hafizhahullah
📥 Copas link berikut di browser anda: http://jember.radioislam.my.id:9999/index.html?sid=1
Kemudian klik tombol "play" ▶️ di bagian bawah
📲 Atau download aplikasi radionya di Playstore: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.minhajul.atsar
Baarokallaahu fiikum
::
📬 TUJUAN YANG SEMU
Jika kita bertanya dengan jujur kepada pihak yang mengucapkan selamat Natal, “Apa yang terbetik di hati Anda ketika mengucapkan selamat Natal?
Apakah Anda mengucapkannya dengan perasaan penuh kebencian?
Atau di hati Anda tidak ada perasaan apa-apa alias biasa-biasa saja?
Atau di hati Anda ada (walau sedikit) rasa ridha?
Bagaimana raut muka dan mimik wajah Anda ketika mengucapkannya?
Apakah Anda ucapkan dengan wajah masam dan cemberut?
Atau wajah senyum dan berseri?”
Apapun jawabannya, kami sarankan untuk menyimak kembali keterangan di atas, terkhusus penjelasan Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.
Di sisi lain kita katakan, minimalnya tujuan ucapan selamat Natal adalah supaya kaum Nasrani yang mereka ucapi selamat tersebut ridha atau senang. Bukankah begitu?
Rasulullah ﷺ bersabda,
ومن التَمس رضا الناسِ بسخَطِ اللهِ ، سخِط اللهُ عليه ، وأسخَط عليه الناسَ
“Barang siapa mencari keridhaan manusia dengan jalan yang Allah murkai, Allah akan murka kepadanya dan Allah akan membuat manusia (yang dicari keridhaannya tersebut) murka kepadanya pula.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2414, lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 2250)
Oleh karena itu, tidak akan mungkin tujuan dari ucapan selamat Natal tersebut tercapai sedikit pun. Kalaupun beralasan toleransi, itu adalah toleransi yang semu.
Jika yang diharapkan adalah persatuan dan kerukunan, itu adalah persatuan dan kerukunan yang maya. Selama tujuan tersebut diraih dengan jalan yang Allah murkai, hakikat tujuan tersebut tidak akan pernah tercapai.
Persatuan dan kerukunan yang sebenarnya adalah dengan menjalin toleransi dan kerukunan di atas sikap berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah, dengan pemahaman para sahabat.
Terakhir, kami mengingatkan kepada segenap kaum muslimin untuk merenungi dan senantiasa mengingat kembali firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, Pencipta kita, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk yang tersembunyi dalam dada-dada manusia,
وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ١٢٠
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).’ Sesungguhnya jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah .” (Al-Baqarah: 120)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik dan petunjuk-Nya kepada kita untuk menjaga akidah dan keimanan sampai akhir hayat.
Disusun oleh: Tim Redaksi Forumsalafy
Sumber: http://bit.ly/TentangSelamatNatal
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 TUJUAN YANG SEMU
Jika kita bertanya dengan jujur kepada pihak yang mengucapkan selamat Natal, “Apa yang terbetik di hati Anda ketika mengucapkan selamat Natal?
Apakah Anda mengucapkannya dengan perasaan penuh kebencian?
Atau di hati Anda tidak ada perasaan apa-apa alias biasa-biasa saja?
Atau di hati Anda ada (walau sedikit) rasa ridha?
Bagaimana raut muka dan mimik wajah Anda ketika mengucapkannya?
Apakah Anda ucapkan dengan wajah masam dan cemberut?
Atau wajah senyum dan berseri?”
Apapun jawabannya, kami sarankan untuk menyimak kembali keterangan di atas, terkhusus penjelasan Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.
Di sisi lain kita katakan, minimalnya tujuan ucapan selamat Natal adalah supaya kaum Nasrani yang mereka ucapi selamat tersebut ridha atau senang. Bukankah begitu?
Rasulullah ﷺ bersabda,
ومن التَمس رضا الناسِ بسخَطِ اللهِ ، سخِط اللهُ عليه ، وأسخَط عليه الناسَ
“Barang siapa mencari keridhaan manusia dengan jalan yang Allah murkai, Allah akan murka kepadanya dan Allah akan membuat manusia (yang dicari keridhaannya tersebut) murka kepadanya pula.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2414, lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 2250)
Oleh karena itu, tidak akan mungkin tujuan dari ucapan selamat Natal tersebut tercapai sedikit pun. Kalaupun beralasan toleransi, itu adalah toleransi yang semu.
Jika yang diharapkan adalah persatuan dan kerukunan, itu adalah persatuan dan kerukunan yang maya. Selama tujuan tersebut diraih dengan jalan yang Allah murkai, hakikat tujuan tersebut tidak akan pernah tercapai.
Persatuan dan kerukunan yang sebenarnya adalah dengan menjalin toleransi dan kerukunan di atas sikap berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah, dengan pemahaman para sahabat.
Terakhir, kami mengingatkan kepada segenap kaum muslimin untuk merenungi dan senantiasa mengingat kembali firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, Pencipta kita, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk yang tersembunyi dalam dada-dada manusia,
وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ١٢٠
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).’ Sesungguhnya jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah .” (Al-Baqarah: 120)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik dan petunjuk-Nya kepada kita untuk menjaga akidah dan keimanan sampai akhir hayat.
Disusun oleh: Tim Redaksi Forumsalafy
Sumber: http://bit.ly/TentangSelamatNatal
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KENAPA ALERGI DENGAN KLARIFIKASI?
Hal yang perlu dipahami bersama adalah:
Jangan alergi dengan klarifikasi. Klarifikasi yang disampaikan dengan baik dan hikmah, itu sesuai sunnah.
Bukankah Nabi shollallahu alaihi wasallam melakukan klarifikasi dalam beberapa keadaan? Penjelasan bagaimana sebenarnya, untuk menepis tuduhan atau mengantisipasi anggapan yang tidak benar. Ditegakkan di atas bukti dan kejujuran.
Insyaallah kita masih ingat bagaimana pelajaran hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam ketika beliau pulang mengantarkan Shofiyyah dari masjid ketika beliau beri’tikaf? Ketika melihat Nabi bersama seorang wanita, ada Sahabat Nabi yang berjalan cepat.
Nabi pun mengklarifikasi bahwa itu adalah Shofiyyah, istri beliau. Nabi mengkhawatirkan syaithan melemparkan keburukan berupa dugaan-dugaan yang tidak benar ke dalam hati kedua Sahabat itu. Berikut ini ana kutipkan haditsnya:
عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَىٍّ قَالَتْ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلاً فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ لأَنْقَلِبَ فَقَامَ مَعِىَ لِيَقْلِبَنِى. وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِى دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ فَمَرَّ رَجُلاَنِ مِنَ الأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَسْرَعَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ ». فَقَالاَ سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا شَرًّا ». أَوْ قَالَ « شَيْئًا »
Dari Shofiyyah bintu Huyay ia berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah beri’tikaf, kemudian aku datang menemui beliau di waktu malam. Aku berbincang dengan beliau kemudian aku bangkit untuk kembali. Beliau pun berdiri bersamaku untuk mengantarkan aku.Tempat tinggal Shofiyyah bintu Huyay berada di rumah (yang nanti ditempati) Usamah bin Zaid. Nabi berpapasan dengan 2 orang laki-laki dari Anshar. Ketika keduanya melihat Nabi shollallahu alaihi wasallam, keduanya mempercepat berjalannya dan Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: "Tetaplah kalian berdua tenang dalam berjalan. Sesungguhnya ini adalah Shofiyyah bintu Huyay!" Keduanya berkata: "Subhanallah, wahai Rasulullah!". Nabi bersabda: "Sesungguhnya setan berjalan di peredaran darah manusia. Aku khawatir ia melemparkan keburukan ke dalam hati kalian berdua!" (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat Muslim)
Apabila ada saudara kita melakukan klarifikasi dengan penyampaian yang baik dan benar, disertai bukti-bukti seharusnya kita dukung. Apalagi jika berasal dari asatidzah Ahlus Sunnah, siapapun dia.
Sebagaimana jika seseorang dituduh dengan tuduhan-tuduhan yang dusta, ia berhak untuk mengklarifikasi. Urusan setelah klarifikasi itu ada diskusi, itu adalah langkah berikutnya. Bukan dengan menyebar aib di media-media umum.
Adapun mencemooh dan mengejek sikap klarifikasi dari saudaranya yang sudah tepat, itu semestinya kita hindari.
Baarakallaahu fiikum
(Nasihat Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah di grup Muamalah KHAS)
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 KENAPA ALERGI DENGAN KLARIFIKASI?
Hal yang perlu dipahami bersama adalah:
Jangan alergi dengan klarifikasi. Klarifikasi yang disampaikan dengan baik dan hikmah, itu sesuai sunnah.
Bukankah Nabi shollallahu alaihi wasallam melakukan klarifikasi dalam beberapa keadaan? Penjelasan bagaimana sebenarnya, untuk menepis tuduhan atau mengantisipasi anggapan yang tidak benar. Ditegakkan di atas bukti dan kejujuran.
Insyaallah kita masih ingat bagaimana pelajaran hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam ketika beliau pulang mengantarkan Shofiyyah dari masjid ketika beliau beri’tikaf? Ketika melihat Nabi bersama seorang wanita, ada Sahabat Nabi yang berjalan cepat.
Nabi pun mengklarifikasi bahwa itu adalah Shofiyyah, istri beliau. Nabi mengkhawatirkan syaithan melemparkan keburukan berupa dugaan-dugaan yang tidak benar ke dalam hati kedua Sahabat itu. Berikut ini ana kutipkan haditsnya:
عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَىٍّ قَالَتْ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلاً فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ لأَنْقَلِبَ فَقَامَ مَعِىَ لِيَقْلِبَنِى. وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِى دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ فَمَرَّ رَجُلاَنِ مِنَ الأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَسْرَعَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ ». فَقَالاَ سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا شَرًّا ». أَوْ قَالَ « شَيْئًا »
Dari Shofiyyah bintu Huyay ia berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah beri’tikaf, kemudian aku datang menemui beliau di waktu malam. Aku berbincang dengan beliau kemudian aku bangkit untuk kembali. Beliau pun berdiri bersamaku untuk mengantarkan aku.Tempat tinggal Shofiyyah bintu Huyay berada di rumah (yang nanti ditempati) Usamah bin Zaid. Nabi berpapasan dengan 2 orang laki-laki dari Anshar. Ketika keduanya melihat Nabi shollallahu alaihi wasallam, keduanya mempercepat berjalannya dan Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: "Tetaplah kalian berdua tenang dalam berjalan. Sesungguhnya ini adalah Shofiyyah bintu Huyay!" Keduanya berkata: "Subhanallah, wahai Rasulullah!". Nabi bersabda: "Sesungguhnya setan berjalan di peredaran darah manusia. Aku khawatir ia melemparkan keburukan ke dalam hati kalian berdua!" (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat Muslim)
Apabila ada saudara kita melakukan klarifikasi dengan penyampaian yang baik dan benar, disertai bukti-bukti seharusnya kita dukung. Apalagi jika berasal dari asatidzah Ahlus Sunnah, siapapun dia.
Sebagaimana jika seseorang dituduh dengan tuduhan-tuduhan yang dusta, ia berhak untuk mengklarifikasi. Urusan setelah klarifikasi itu ada diskusi, itu adalah langkah berikutnya. Bukan dengan menyebar aib di media-media umum.
Adapun mencemooh dan mengejek sikap klarifikasi dari saudaranya yang sudah tepat, itu semestinya kita hindari.
Baarakallaahu fiikum
(Nasihat Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah di grup Muamalah KHAS)
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 KEDUDUKAN NABI ISA DI DALAM ISLAM
Sungguh Nabi yang mulia ini, nabi Isa bin Maryam, memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Namun sangat disayangkan, kaum Yahudi dan Nasrani pura-pura tidak tahu (kalau tidak dikatakan memang tidak tahu) mengenai hal ini.
Itu tampak pada kehidupan nyata mereka, keyakinan yang mereka anut, dan tulisan-tulisan yang mereka buat.
Berbeda dengan Islam, agama ini menetapkan kedudukan Nabi ‘Isa dengan sangat istimewa, sangat sempurna, dan sangat obyektif. Banyak ayat mulia di dalam al-Quran dengan gamblang menjelaskan perkara ini.
Akal yang sehat lagi jujur pun pasti tidak akan menerima selain keyakinan yang telah ditetapkan oleh Islam, serta akan menolak keyakinan yang dianut kaum Yahudi berupa tuduhan keji terhadap beliau dan ibunda beliau, juga akan menolak keyakinan kaum Nasrani yang melampaui batas pada hak beliau.
Terkadang mereka menganggap beliau sebagai Tuhan, terkadang sebagai anak Allah, terkadang sebagai Allah itu sendiri, terkadang sebagai salah satu dari trinitas[1], dan terkadang malah merendahkan dan menghinakan beliau, yang semua ini menunjukkan kesesatan serta penyimpangan agama dan akal mereka.
Allah telah mengisahkan kepada kita kisah terbaik dan terindah tentang Nabi ‘Isa beserta ibunda beliau dengan sebaik-baik penjelasan serta penuh pemuliaan dari sejak awal kehidupan mereka, termasuk lika-liku yang mereka hadapi di dalam hidup.
Kaum mukminin pasti mengimaninya sebagai bentuk kesempurnaan pengikutan mereka kepada Nabi Muhammad, memposisikan Nabi ‘Isa dan ibunda beliau dengan semestinya, serta sangat menghormati keduanya. Sebagaimana mereka juga menghormati serta beriman kepada seluruh nabi dan rasul.
Bahkan agama Islam menetapkan perkara ini termasuk rukun yang mulia di antara rukun-rukun iman. Siapa yang meremehkan salah seorang dari mereka sedikit saja, dia telah kafir dan keluar dari agama Islam, lalu bagaimana dengan orang mendustakan mereka atau salah seorang mereka.
Allah memuji dan menyanjung Nabi ‘Isa dan ibunda beliau Maryam pada banyak tempat di dalam al-Quran, kami akan menyebutkan sebagiannya. Di antaranya firman Allah dalam surat Ali ‘Imran:
إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحٗا وَءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمۡرَٰنَ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ٣٣ ذُرِّيَّةَۢ بَعۡضُهَا مِنۢ بَعۡضٖۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ٣٤ إِذۡ قَالَتِ ٱمۡرَأَتُ عِمۡرَٰنَ رَبِّ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ٣٥ فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ وَإِنِّي سَمَّيۡتُهَا مَرۡيَمَ وَإِنِّيٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ ٣٦ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٖ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنٗا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّاۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقٗاۖ قَالَ يَٰمَرۡيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَاۖ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ ٣٧ هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥۖ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ٣٨ﵞ
📬 KEDUDUKAN NABI ISA DI DALAM ISLAM
Sungguh Nabi yang mulia ini, nabi Isa bin Maryam, memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Namun sangat disayangkan, kaum Yahudi dan Nasrani pura-pura tidak tahu (kalau tidak dikatakan memang tidak tahu) mengenai hal ini.
Itu tampak pada kehidupan nyata mereka, keyakinan yang mereka anut, dan tulisan-tulisan yang mereka buat.
Berbeda dengan Islam, agama ini menetapkan kedudukan Nabi ‘Isa dengan sangat istimewa, sangat sempurna, dan sangat obyektif. Banyak ayat mulia di dalam al-Quran dengan gamblang menjelaskan perkara ini.
Akal yang sehat lagi jujur pun pasti tidak akan menerima selain keyakinan yang telah ditetapkan oleh Islam, serta akan menolak keyakinan yang dianut kaum Yahudi berupa tuduhan keji terhadap beliau dan ibunda beliau, juga akan menolak keyakinan kaum Nasrani yang melampaui batas pada hak beliau.
Terkadang mereka menganggap beliau sebagai Tuhan, terkadang sebagai anak Allah, terkadang sebagai Allah itu sendiri, terkadang sebagai salah satu dari trinitas[1], dan terkadang malah merendahkan dan menghinakan beliau, yang semua ini menunjukkan kesesatan serta penyimpangan agama dan akal mereka.
Allah telah mengisahkan kepada kita kisah terbaik dan terindah tentang Nabi ‘Isa beserta ibunda beliau dengan sebaik-baik penjelasan serta penuh pemuliaan dari sejak awal kehidupan mereka, termasuk lika-liku yang mereka hadapi di dalam hidup.
Kaum mukminin pasti mengimaninya sebagai bentuk kesempurnaan pengikutan mereka kepada Nabi Muhammad, memposisikan Nabi ‘Isa dan ibunda beliau dengan semestinya, serta sangat menghormati keduanya. Sebagaimana mereka juga menghormati serta beriman kepada seluruh nabi dan rasul.
Bahkan agama Islam menetapkan perkara ini termasuk rukun yang mulia di antara rukun-rukun iman. Siapa yang meremehkan salah seorang dari mereka sedikit saja, dia telah kafir dan keluar dari agama Islam, lalu bagaimana dengan orang mendustakan mereka atau salah seorang mereka.
Allah memuji dan menyanjung Nabi ‘Isa dan ibunda beliau Maryam pada banyak tempat di dalam al-Quran, kami akan menyebutkan sebagiannya. Di antaranya firman Allah dalam surat Ali ‘Imran:
إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰٓ ءَادَمَ وَنُوحٗا وَءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ وَءَالَ عِمۡرَٰنَ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ٣٣ ذُرِّيَّةَۢ بَعۡضُهَا مِنۢ بَعۡضٖۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ٣٤ إِذۡ قَالَتِ ٱمۡرَأَتُ عِمۡرَٰنَ رَبِّ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ٣٥ فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ وَإِنِّي سَمَّيۡتُهَا مَرۡيَمَ وَإِنِّيٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ ٣٦ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٖ وَأَنۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنٗا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّاۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا ٱلۡمِحۡرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقٗاۖ قَالَ يَٰمَرۡيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَاۖ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ إِنَّ ٱللَّهَ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ ٣٧ هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥۖ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ٣٨ﵞ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), sebagiannya merupakan keturunan dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(Ingatlah), ketika istri ‘Imran berkata: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang ada di kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Maka terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’.
Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: ‘Ya Rabb-ku, sesunguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta anak-anak keturunannya dari setan yang terkutuk.’
Maka Rabb nya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakariya sebagai pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: ‘Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’, Maryam menjawab: ‘Makanan itu dari sisi Allah.’. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hitungan.
Di sanalah Zakariya berdoa kepada Rabb-nya, seraya berkata: ‘Ya Rabb-ku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali ‘Imran: 33-38)
Allah memulai kisah Maryam dengan menyebutkan kisah orang-orang mulia yang Allah pilih dari sekian banyak manusia di alam ini.
Diantara mereka adalah keluarga ‘Imran, ayah dari Maryam. Demi menjelaskan bahwa Maryam berasal dari keluarga yang mulia, dan keturunan para nabi yang terpilih.
Ibundanya adalah seorang wanita shalihah, dimana dia menazarkan anak dalam kandungannya untuk menjadi anak yang berkhidmat kepada Allah. Dia berharap anak yang lahir adalah laki-laki, ternyata yang lahir adalah anak perempuan.
Dia pun mengembalikan urusannya kepada Allah seraya meminta uzur dan memohon perlindungan untuk putri serta keturunannya dari gangguan dan godaan setan yang terkutuk. Allah mengabulkan doanya, dan menerima nazarnya dengan baik.
Kemudian Allah tugaskan Nabi Zakariyya untuk memelihara Maryam. Ini semua dalam rangka menjaga serta memuliakan ibunda Nabi ‘Isa. Dan berkat keutamaan dan kemuliaan-Nya, Allah tambah itu semua. Dimana setelahnya Allah mengabarkan:
وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَـٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ وَطَهَّرَكِ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٤٢ يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ وَٱسۡجُدِي وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّـٰكِعِينَ ٤٣ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَۚ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يُلۡقُونَ أَقۡلَٰمَهُمۡ أَيُّهُمۡ يَكۡفُلُ مَرۡيَمَ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يَخۡتَصِمُونَ ٤٤ﵞ
“Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).
Hai Maryam, taatlah kepada Rabb-mu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.’
Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak bersama mereka, ketika mereka melemparkan pena-pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.” (Ali ‘Imran: 42-44)
(Ingatlah), ketika istri ‘Imran berkata: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang ada di kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Maka terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’.
Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: ‘Ya Rabb-ku, sesunguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya serta anak-anak keturunannya dari setan yang terkutuk.’
Maka Rabb nya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakariya sebagai pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: ‘Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’, Maryam menjawab: ‘Makanan itu dari sisi Allah.’. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hitungan.
Di sanalah Zakariya berdoa kepada Rabb-nya, seraya berkata: ‘Ya Rabb-ku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali ‘Imran: 33-38)
Allah memulai kisah Maryam dengan menyebutkan kisah orang-orang mulia yang Allah pilih dari sekian banyak manusia di alam ini.
Diantara mereka adalah keluarga ‘Imran, ayah dari Maryam. Demi menjelaskan bahwa Maryam berasal dari keluarga yang mulia, dan keturunan para nabi yang terpilih.
Ibundanya adalah seorang wanita shalihah, dimana dia menazarkan anak dalam kandungannya untuk menjadi anak yang berkhidmat kepada Allah. Dia berharap anak yang lahir adalah laki-laki, ternyata yang lahir adalah anak perempuan.
Dia pun mengembalikan urusannya kepada Allah seraya meminta uzur dan memohon perlindungan untuk putri serta keturunannya dari gangguan dan godaan setan yang terkutuk. Allah mengabulkan doanya, dan menerima nazarnya dengan baik.
Kemudian Allah tugaskan Nabi Zakariyya untuk memelihara Maryam. Ini semua dalam rangka menjaga serta memuliakan ibunda Nabi ‘Isa. Dan berkat keutamaan dan kemuliaan-Nya, Allah tambah itu semua. Dimana setelahnya Allah mengabarkan:
وَإِذۡ قَالَتِ ٱلۡمَلَـٰٓئِكَةُ يَٰمَرۡيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ وَطَهَّرَكِ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٤٢ يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ وَٱسۡجُدِي وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّـٰكِعِينَ ٤٣ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَۚ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يُلۡقُونَ أَقۡلَٰمَهُمۡ أَيُّهُمۡ يَكۡفُلُ مَرۡيَمَ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يَخۡتَصِمُونَ ٤٤ﵞ
“Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).
Hai Maryam, taatlah kepada Rabb-mu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.’
Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak bersama mereka, ketika mereka melemparkan pena-pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.” (Ali ‘Imran: 42-44)
Seorang Nabi yang tidak bisa baca tulis, Nabi Muhammad beserta para sahabatnya sebelumnya tidak mengetahui kisah-kisah besar nan jujur lagi nyata tentang para rasul yang semisal ini.
Tidak pula kisah tentang Maryam, ibundanya, Nabi Zakariyya, dan orang-orang yang bersengketa dengannya memperebutkan pemeliharaan Maryam, demikian pula kisah tentang terpilihnya Nabi Zakariyya untuk memelihara Maryam setelah melakukan undian dengan pena.
Demikian pula tentang keramahan beliau terhadap Maryam, dan tentang rezeki (makanan) yang diperoleh Maryam dari sisi Allah, dalam rangka memuliakannya.
Yang kejadian tersebut membuat Nabi Zakariyya termotivasi untuk meminta keturunan yang baik dari sisi Allah, padahal beliau sudah tua renta dan istrinya adalah wanita yang mandul.
Sedikitpun Nabi Muhammad demikian pula para sahabatnya tidak tahu akan ini semua. Dan anda tidak mungkin mendapatkan di kitab Injil atau selainnya, yang menyerupai perkataan dengan tingkat kefasihan, susunan kosakata, dan penyampaian yang setinggi, semulia, sebaik, dan seindah ini.
Yang menjadi bukti jujurnya Nabi Muhammad, dan bahwasannya beliau benar-benar seorang utusan Allah, beliau tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, dan tidak lah yang terlontar dari ucapan beliau melainkan sebuah wahyu yang disampaikan oleh Tuhan semesta alam. [1] Ketuhanan dari tiga bentuk; bapak, putra, dan Roh Kudus dalam agama Kristen Katolik.
=====
Diambil dari Karya Syaikh Rabi’ hafizhahullah dari Kitab Mauqiful Islam min ‘Isa bin Maryam diterjemahkan oleh Abdul Halim Perawang 4A Takhasus
Sumber: https://www.minhajulatsar.com/kedudukan-nabi-isa-di-dalam-islam-bag-2/ | MINHAJULATSAR.COM
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Tidak pula kisah tentang Maryam, ibundanya, Nabi Zakariyya, dan orang-orang yang bersengketa dengannya memperebutkan pemeliharaan Maryam, demikian pula kisah tentang terpilihnya Nabi Zakariyya untuk memelihara Maryam setelah melakukan undian dengan pena.
Demikian pula tentang keramahan beliau terhadap Maryam, dan tentang rezeki (makanan) yang diperoleh Maryam dari sisi Allah, dalam rangka memuliakannya.
Yang kejadian tersebut membuat Nabi Zakariyya termotivasi untuk meminta keturunan yang baik dari sisi Allah, padahal beliau sudah tua renta dan istrinya adalah wanita yang mandul.
Sedikitpun Nabi Muhammad demikian pula para sahabatnya tidak tahu akan ini semua. Dan anda tidak mungkin mendapatkan di kitab Injil atau selainnya, yang menyerupai perkataan dengan tingkat kefasihan, susunan kosakata, dan penyampaian yang setinggi, semulia, sebaik, dan seindah ini.
Yang menjadi bukti jujurnya Nabi Muhammad, dan bahwasannya beliau benar-benar seorang utusan Allah, beliau tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, dan tidak lah yang terlontar dari ucapan beliau melainkan sebuah wahyu yang disampaikan oleh Tuhan semesta alam. [1] Ketuhanan dari tiga bentuk; bapak, putra, dan Roh Kudus dalam agama Kristen Katolik.
=====
Diambil dari Karya Syaikh Rabi’ hafizhahullah dari Kitab Mauqiful Islam min ‘Isa bin Maryam diterjemahkan oleh Abdul Halim Perawang 4A Takhasus
Sumber: https://www.minhajulatsar.com/kedudukan-nabi-isa-di-dalam-islam-bag-2/ | MINHAJULATSAR.COM
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
MinhajulAtsar.com
Kedudukan Nabi Isa di Dalam Islam (Bag. 2)
Sungguh Nabi yang mulia ini, nabi Isa bin Maryam, memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Namun sangat disayangkan, kaum Yahudi dan Nasrani pura-pura tidak tahu (kalau tidak dikatakan memang tidak tahu) mengenai hal ini. Itu tampak pada kehidupan nyata…