::
📬 KEDUA ORANG YANG SALING MENCINTAI KARENA ALLAH BERTEMU DAN BERPISAH KARENA ALLAH
Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
Dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah. Keduanya saling bersatu karenaNya dan berpisah karenaNya. Yaitu masing-masing saling mencintai yang lain, bukan karena (tujuan apapun) selain Allah Azza Wa Jalla.
Padahal di antara keduanya tidak ada hubungan kekerabatan, pertalian harta, atau pertemanan secara tabiat. Hal yang membuatnya saling cinta adalah Allah Azza Wa Jalla.
Karena ia melihat (saudaranya itu) taat beribadah kepada Allah, istiqomah dalam menjalankan syariatNya. Maka ia mencintainya.
Kalaupun ada hubungan kekerabatan atau pertemanan dan semisalnya di antara keduanya, tidak ada halangan baginya mencintainya karena 2 sisi:
◽️sisi kekerabatan (pertemanan) dan
◽️sisi keimanan.
Kedua orang ini saling mencintai karena Allah menjadi 2 saudara karena ikat syar’i Diiniyyah yaitu ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Keduanya bersatu (berkumpul) di dunia dan terpisah karenanya. Yaitu tidaklah ada yang memisahkan keduanya kecuali kematian.
Kedua orang ini akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari saat tidak ada naungan kecuali naungan (dari)Nya.
Kedua orang itu juga dengan sikap saling cinta di antara keduanya, pada hari kiamat akan menjadi seperti yang disebutkan Allah Ta’ala:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
"Para sahabat dekat (yang saling mencintai) pada hari itu saling bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa" (Q.S az-Zukhruf ayat 67)
Hubungan pertemanan itu akan tetap kekal di dunia dan di akhirat.
(Syarh Riyadh as-Shalihin libni Utsaimin (1/68))
🇸🇦 Naskah Asli dalam Bahasa Arab:
رجلان تحابا في الله اجتمعا عليه وتفرقا عليه أي حب بعضهما بعضا لا لشيء سوى الله عز وجل فليس بينهما قرابة ولا صلة مالية ولا صداقة طبيعية إنما أحبه في الله عز وجل لأنه رآه عابدا لله مستقيما على شرعه فأحبه وإذا كان قريبا أو صديقا وما أشبه ذلك فلا مانع من أن يحبه من وجهين من جهة القرابة والصداقة ومن الجهة الإيمانية فهذان تحابا في الله وصارا كالأخوين لما بينهما من الرابطة الشرعية الدينية وهي عبادة الله سبحانه وتعالى اجتمعا عليه في الدنيا وتفرقا عليه أي لم يفرق بينهما إلا الموت هذان يظلهما الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله ويكونان يوم القيامة على محبتهما وعلى خلتهما كما قال الله تعالى { الأخلاء يومئذ بعضهم لبعض عدو إلا المتقين } تبقى الصداقة في الدنيا والآخرة
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 KEDUA ORANG YANG SALING MENCINTAI KARENA ALLAH BERTEMU DAN BERPISAH KARENA ALLAH
Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
Dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah. Keduanya saling bersatu karenaNya dan berpisah karenaNya. Yaitu masing-masing saling mencintai yang lain, bukan karena (tujuan apapun) selain Allah Azza Wa Jalla.
Padahal di antara keduanya tidak ada hubungan kekerabatan, pertalian harta, atau pertemanan secara tabiat. Hal yang membuatnya saling cinta adalah Allah Azza Wa Jalla.
Karena ia melihat (saudaranya itu) taat beribadah kepada Allah, istiqomah dalam menjalankan syariatNya. Maka ia mencintainya.
Kalaupun ada hubungan kekerabatan atau pertemanan dan semisalnya di antara keduanya, tidak ada halangan baginya mencintainya karena 2 sisi:
◽️sisi kekerabatan (pertemanan) dan
◽️sisi keimanan.
Kedua orang ini saling mencintai karena Allah menjadi 2 saudara karena ikat syar’i Diiniyyah yaitu ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Keduanya bersatu (berkumpul) di dunia dan terpisah karenanya. Yaitu tidaklah ada yang memisahkan keduanya kecuali kematian.
Kedua orang ini akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari saat tidak ada naungan kecuali naungan (dari)Nya.
Kedua orang itu juga dengan sikap saling cinta di antara keduanya, pada hari kiamat akan menjadi seperti yang disebutkan Allah Ta’ala:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
"Para sahabat dekat (yang saling mencintai) pada hari itu saling bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa" (Q.S az-Zukhruf ayat 67)
Hubungan pertemanan itu akan tetap kekal di dunia dan di akhirat.
(Syarh Riyadh as-Shalihin libni Utsaimin (1/68))
🇸🇦 Naskah Asli dalam Bahasa Arab:
رجلان تحابا في الله اجتمعا عليه وتفرقا عليه أي حب بعضهما بعضا لا لشيء سوى الله عز وجل فليس بينهما قرابة ولا صلة مالية ولا صداقة طبيعية إنما أحبه في الله عز وجل لأنه رآه عابدا لله مستقيما على شرعه فأحبه وإذا كان قريبا أو صديقا وما أشبه ذلك فلا مانع من أن يحبه من وجهين من جهة القرابة والصداقة ومن الجهة الإيمانية فهذان تحابا في الله وصارا كالأخوين لما بينهما من الرابطة الشرعية الدينية وهي عبادة الله سبحانه وتعالى اجتمعا عليه في الدنيا وتفرقا عليه أي لم يفرق بينهما إلا الموت هذان يظلهما الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله ويكونان يوم القيامة على محبتهما وعلى خلتهما كما قال الله تعالى { الأخلاء يومئذ بعضهم لبعض عدو إلا المتقين } تبقى الصداقة في الدنيا والآخرة
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
"INI SIHIR!" ADALAH UNGKAPAN YANG BIASA DIUCAPKAN ORANG-ORANG MUSYRIK UNTUK MENOLAK DAN MENCELA AL-HAQ
@annajiyahbatam
#bayan_sihir
@annajiyahbatam
#bayan_sihir
::
📬 "INI SIHIR!" ADALAH UNGKAPAN YANG BIASA DIUCAPKAN ORANG-ORANG MUSYRIK UNTUK MENOLAK AL-HAQ
Allah Ta'ala berfirman :
﴿وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ﴾
"Dan jika mereka melihat suatu ayat, mereka berpaling dan berkata, "(Ini adalah) sihir yang batil." (QS. al-Qomar : 2)
__________________
Berkata al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah tentang tafsir ayat di atas :
"Dan firman-Nya :
◻️ ﴿وَإِنْ يَرَوْا آيَةً﴾
"Dan jika mereka melihat suatu ayat..."
أَيْ دَلِيلًا وَحُجَّةً وَبُرْهَانًا
Yaitu dalil, hujjah, dan bukti,
◻️ ﴿يُعْرِضُوا﴾
"...mereka berpaling..."
أَيْ لَا يَنْقَادُونَ لَهُ بَلْ يُعْرِضُونَ عَنْهُ وَيَتْرُكُونَهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ
Yaitu tidak mau tunduk kepadanya (al-haq), bahkan berpaling darinya dan meninggalkannya di belakang punggung-punggung mereka.
◻️ ﴿وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ﴾
"...dan berkata, "(Ini adalah) sihir yang batil."
أَيْ وَيَقُولُونَ هَذَا الَّذِي شَاهَدْنَاهُ مِنَ الْحُجَجِ سِحْرٌ سُحِرْنَا بِهِ وَمَعْنَى مُسْتَمِرٌّ أَيْ ذَاهِبٌ، قَالَهُ مُجَاهِدٌ وقَتَادَةُ وَغَيْرُهُمَا: أَيْ بَاطِلٌ مُضْمَحِلٌّ لَا دَوَامَ لَهُ
Yaitu mereka berkata, "Apa yang kami saksikan dari hujjah-hujjah ini adalah sihir yang kami tersihir dengannya." Makna 'mustamir' adalah 'dzahib', -dinyatakan oleh Mujahid, Qotadah, dan selain keduanya- yaitu batil dan lenyap serta tidak akan kekal / bertahan lama." (Tafsir al-Qur'an al-'Azhim)
#bayan_sihir
🌐 www.salafybatam.com |@annajiyahbatam
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 "INI SIHIR!" ADALAH UNGKAPAN YANG BIASA DIUCAPKAN ORANG-ORANG MUSYRIK UNTUK MENOLAK AL-HAQ
Allah Ta'ala berfirman :
﴿وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ﴾
"Dan jika mereka melihat suatu ayat, mereka berpaling dan berkata, "(Ini adalah) sihir yang batil." (QS. al-Qomar : 2)
__________________
Berkata al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah tentang tafsir ayat di atas :
"Dan firman-Nya :
◻️ ﴿وَإِنْ يَرَوْا آيَةً﴾
"Dan jika mereka melihat suatu ayat..."
أَيْ دَلِيلًا وَحُجَّةً وَبُرْهَانًا
Yaitu dalil, hujjah, dan bukti,
◻️ ﴿يُعْرِضُوا﴾
"...mereka berpaling..."
أَيْ لَا يَنْقَادُونَ لَهُ بَلْ يُعْرِضُونَ عَنْهُ وَيَتْرُكُونَهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ
Yaitu tidak mau tunduk kepadanya (al-haq), bahkan berpaling darinya dan meninggalkannya di belakang punggung-punggung mereka.
◻️ ﴿وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ﴾
"...dan berkata, "(Ini adalah) sihir yang batil."
أَيْ وَيَقُولُونَ هَذَا الَّذِي شَاهَدْنَاهُ مِنَ الْحُجَجِ سِحْرٌ سُحِرْنَا بِهِ وَمَعْنَى مُسْتَمِرٌّ أَيْ ذَاهِبٌ، قَالَهُ مُجَاهِدٌ وقَتَادَةُ وَغَيْرُهُمَا: أَيْ بَاطِلٌ مُضْمَحِلٌّ لَا دَوَامَ لَهُ
Yaitu mereka berkata, "Apa yang kami saksikan dari hujjah-hujjah ini adalah sihir yang kami tersihir dengannya." Makna 'mustamir' adalah 'dzahib', -dinyatakan oleh Mujahid, Qotadah, dan selain keduanya- yaitu batil dan lenyap serta tidak akan kekal / bertahan lama." (Tafsir al-Qur'an al-'Azhim)
#bayan_sihir
🌐 www.salafybatam.com |@annajiyahbatam
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 LANGSUNG PERCAYA DAN MENERIMA BERITA DARI ORANG YANG BARU KENAL
Ibnu Uyainah berkisah, Imam ats-Tsauri memang menakjubkan. Suatu saat beliau pernah mengucapkan padaku,
عجبًا لرجل يعرفه صاحبه بمودته ونصيحته ولا يعلم منه إلا خيرا خمسين سنة ثم يأتيه رجل لا يعرفه فيخبره عنه بسوء فيقبله منه!
"Aneh sekali ada seorang yang sangat mengenal sahabat karibnya yang begitu mencintai dan gemar memberi nasehat kepadanya selama 50 tahun hanya kebaikan yang ia ketahui dari kawannya ini.
Suatu saat, tiba-tiba datang seseorang yang tidak begitu ia kenal. Ia memberitakan cerita buruk tentang sahabat karibnya tadi. Anehnya, dia langsung menerima berita tersebut !!"
🌼 Ansabu Al-Asyraf 11/314 @SyababSalafy
#bayan_majhul_diterima #majahil
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 LANGSUNG PERCAYA DAN MENERIMA BERITA DARI ORANG YANG BARU KENAL
Ibnu Uyainah berkisah, Imam ats-Tsauri memang menakjubkan. Suatu saat beliau pernah mengucapkan padaku,
عجبًا لرجل يعرفه صاحبه بمودته ونصيحته ولا يعلم منه إلا خيرا خمسين سنة ثم يأتيه رجل لا يعرفه فيخبره عنه بسوء فيقبله منه!
"Aneh sekali ada seorang yang sangat mengenal sahabat karibnya yang begitu mencintai dan gemar memberi nasehat kepadanya selama 50 tahun hanya kebaikan yang ia ketahui dari kawannya ini.
Suatu saat, tiba-tiba datang seseorang yang tidak begitu ia kenal. Ia memberitakan cerita buruk tentang sahabat karibnya tadi. Anehnya, dia langsung menerima berita tersebut !!"
🌼 Ansabu Al-Asyraf 11/314 @SyababSalafy
#bayan_majhul_diterima #majahil
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 KISAH SYAIKH AL-BAKRI DI NEGERI INDIA
Sebuah kisah nyata diceritakan oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathif alu Syaikh dalam Kitab Majmu’ Fatawa wa Rasail. Kitab ini merupakan hasil karya yang dikumpulkan oleh Muhammad bin Abdurrahman bin Qasim.
Beliau menyampaikan kisah ini dua kali, sebagaimana disebutkan dalam catatan kaki.
Kisah selengkapnya sebagai berikut, Sekarang saya (Syaikh Muhammad) akan menceritakan kisah Abdurrahman al-Bakri, seorang penduduk Nejed. Beliau dahulu adalah seorang penuntut ilmu di hadapan paman saya, Syaikh Abdullah (bin Abdul Lathif) dan ulama lainnya.
Setelah itu, beliau memutuskan untuk membuka madrasah di wilayah Oman dari jerih payah beliau sendiri. Di sana, Abdurrahman al-Bakri mengajarkan tauhid kepada para muridnya.
Apabila uangnya habis, al-Bakri bekerja sama dengan pemilik barang dagangan lalu ia menjualkannya ke India.
Syaikh al-Bakri berkisah,
Dahulu aku tinggal di dekat masjid di India. Di masjid tersebut ada seorang pengajar, apabila ia selesai dari pelajaran yang diajarkan, ia melaknat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Setiap keluar dari masjid, ia datang menemuiku. Ia berkata, “Saya bisa berbahasa arab dengan baik namun saya ingin mendengarkannya dari orang Arab asli,” sambil ia meminum air dingin di dekatku.
Kalimat-kalimatnya di saat ia menyampaikan pelajaran membuatku gelisah.
Syaikh al-Bakri melanjutkan kisahnya, aku lalu menyiapkan siasat untuknya dengan mengundangnya ke rumahku.
Aku ambil kitab Tauhid, kulepaskan sampulnya lalu kuletakkan di rak rumah sebelum kedatangan pengajar tadi. Saat ia hadir di rumah, kukatakan kepadanya, “Aku minta izin mengambil semangka.” Lantas akupun pergi meninggalkannya.
Tatkala aku kembali kepadanya, tiba tiba ia sedang membaca buku dan mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berkata, “Siapa penulis kitab ini? Judul-judul bab yang ada pada kitab ini mirip dengan judul-judul bab dalam Shahih al-Bukhari. Metodologi penulisan kitab ini, demi Allah sama persis dengan Shahih al-Bukhari.”
“Aku tidak tahu,” jawab Syaikh al-Bakri. “Tidakkah kita pergi ke Syaikh al-Ghazawi, kita tanyakan kepadanya siapa penulis kitab ini?” kata Syaikh al-Bakri lagi.
Syaikh al-Ghazawi adalah pemilik perpustakaan. Beliau memiliki kitab bantahan terhadap Jami-ul Bayan. Kami pun pergi ke sana dan menemui Syaikh al-Ghazawi.
Syaikh al-Bakri berkata kepada Syaikh al-Ghazawi, “Saya memiliki kumpulan kertas yang penulisnya ditanyakan oleh syaikh pengajar? Namun saya tidak mengetahuinya.” Syaikh al-Ghazawi memahami maksud dan tujuan kami.
Beliau lalu memanggil petugas, “Siapa yang bisa membawakan kitab Majmu’ah Tauhid?” Kemudian didatangkanlah kitab tersebut. Beliau membandingkan isi kumpulan kertas dengan kitab Majmu’ah Tauhid.
Syaikh al-Ghazawi berkata, “Kumpulan kertas ini karya Muhammad bin Abdul Wahhab.” Seketika itu juga, si pengajar sekaligus alim India itu marah seraya meninggikan suaranya, “Si kafir.” Mendengar itu kami terdiam.
Alim India itupun diam sejenak hingga kemarahannya mereda hingga ia mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Kemudian ia berkata, “Jika kitab ini adalah karyanya sungguh kami telah menzhaliminya.”
Akhirnya, setiap selesai pelajaran, ia mendoakan kebaikan bagi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Demikian pula para muridnya, mereka ikut mendoakan kebaikan untuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Selanjutnya, murid-murid sang alim India itu tersebar di berbagai wilayah India.
Apabila mereka selesai menyampaikan pelajaran, mereka semua mendoakan kebaikan untuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. (Sumber Majmu’ Fatawa wa Rasail Jilid Pertama) —selesai penukilan—
📬 KISAH SYAIKH AL-BAKRI DI NEGERI INDIA
Sebuah kisah nyata diceritakan oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathif alu Syaikh dalam Kitab Majmu’ Fatawa wa Rasail. Kitab ini merupakan hasil karya yang dikumpulkan oleh Muhammad bin Abdurrahman bin Qasim.
Beliau menyampaikan kisah ini dua kali, sebagaimana disebutkan dalam catatan kaki.
Kisah selengkapnya sebagai berikut, Sekarang saya (Syaikh Muhammad) akan menceritakan kisah Abdurrahman al-Bakri, seorang penduduk Nejed. Beliau dahulu adalah seorang penuntut ilmu di hadapan paman saya, Syaikh Abdullah (bin Abdul Lathif) dan ulama lainnya.
Setelah itu, beliau memutuskan untuk membuka madrasah di wilayah Oman dari jerih payah beliau sendiri. Di sana, Abdurrahman al-Bakri mengajarkan tauhid kepada para muridnya.
Apabila uangnya habis, al-Bakri bekerja sama dengan pemilik barang dagangan lalu ia menjualkannya ke India.
Syaikh al-Bakri berkisah,
Dahulu aku tinggal di dekat masjid di India. Di masjid tersebut ada seorang pengajar, apabila ia selesai dari pelajaran yang diajarkan, ia melaknat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Setiap keluar dari masjid, ia datang menemuiku. Ia berkata, “Saya bisa berbahasa arab dengan baik namun saya ingin mendengarkannya dari orang Arab asli,” sambil ia meminum air dingin di dekatku.
Kalimat-kalimatnya di saat ia menyampaikan pelajaran membuatku gelisah.
Syaikh al-Bakri melanjutkan kisahnya, aku lalu menyiapkan siasat untuknya dengan mengundangnya ke rumahku.
Aku ambil kitab Tauhid, kulepaskan sampulnya lalu kuletakkan di rak rumah sebelum kedatangan pengajar tadi. Saat ia hadir di rumah, kukatakan kepadanya, “Aku minta izin mengambil semangka.” Lantas akupun pergi meninggalkannya.
Tatkala aku kembali kepadanya, tiba tiba ia sedang membaca buku dan mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berkata, “Siapa penulis kitab ini? Judul-judul bab yang ada pada kitab ini mirip dengan judul-judul bab dalam Shahih al-Bukhari. Metodologi penulisan kitab ini, demi Allah sama persis dengan Shahih al-Bukhari.”
“Aku tidak tahu,” jawab Syaikh al-Bakri. “Tidakkah kita pergi ke Syaikh al-Ghazawi, kita tanyakan kepadanya siapa penulis kitab ini?” kata Syaikh al-Bakri lagi.
Syaikh al-Ghazawi adalah pemilik perpustakaan. Beliau memiliki kitab bantahan terhadap Jami-ul Bayan. Kami pun pergi ke sana dan menemui Syaikh al-Ghazawi.
Syaikh al-Bakri berkata kepada Syaikh al-Ghazawi, “Saya memiliki kumpulan kertas yang penulisnya ditanyakan oleh syaikh pengajar? Namun saya tidak mengetahuinya.” Syaikh al-Ghazawi memahami maksud dan tujuan kami.
Beliau lalu memanggil petugas, “Siapa yang bisa membawakan kitab Majmu’ah Tauhid?” Kemudian didatangkanlah kitab tersebut. Beliau membandingkan isi kumpulan kertas dengan kitab Majmu’ah Tauhid.
Syaikh al-Ghazawi berkata, “Kumpulan kertas ini karya Muhammad bin Abdul Wahhab.” Seketika itu juga, si pengajar sekaligus alim India itu marah seraya meninggikan suaranya, “Si kafir.” Mendengar itu kami terdiam.
Alim India itupun diam sejenak hingga kemarahannya mereda hingga ia mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Kemudian ia berkata, “Jika kitab ini adalah karyanya sungguh kami telah menzhaliminya.”
Akhirnya, setiap selesai pelajaran, ia mendoakan kebaikan bagi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Demikian pula para muridnya, mereka ikut mendoakan kebaikan untuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Selanjutnya, murid-murid sang alim India itu tersebar di berbagai wilayah India.
Apabila mereka selesai menyampaikan pelajaran, mereka semua mendoakan kebaikan untuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. (Sumber Majmu’ Fatawa wa Rasail Jilid Pertama) —selesai penukilan—
Renungkanlah!
Seandainya Syaikh al-Bakri rahimahullah sejak awal menyertakan sampul Kitab Tauhid secara lengkap dengan nama penulis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, sangat mungkin alim India itu akan enggan membacanya.
Ia akan antipati terhadapnya dan tetap dalam pendiriannya memvonis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah sebagai kafir dan melaknatnya sebagaimana yang ia lakukan setiap selesai menyampaikan pelajaran.
Benar, alim India itu melakukannya karena terbawa isu-isu negatif dan pembunuhan karakter yang ditebarkan musuh-musuh dakwah tauhid.
Walhamdulillah, dengan hidayah dari Allah semata kemudian kecerdikan Syaikh al-Bakri, seorang yang semula membenci menjadi seorang yang dengan mudah mendoakan kebaikan untuk Syaikh Muhammad rahimahullah.
Dari kisah di atas, dengan izin Allah kemudian dengan cara ini, dakwah tauhid dan sunnah akhirnya diterima, walhamdulillah.
Sumber:
https://mahad-assalafy.com/kisah-syaikh-al-bakri-di-negeri-india/
#anonim #manhaj_gharib #anonimisasi #majhul
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Seandainya Syaikh al-Bakri rahimahullah sejak awal menyertakan sampul Kitab Tauhid secara lengkap dengan nama penulis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, sangat mungkin alim India itu akan enggan membacanya.
Ia akan antipati terhadapnya dan tetap dalam pendiriannya memvonis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah sebagai kafir dan melaknatnya sebagaimana yang ia lakukan setiap selesai menyampaikan pelajaran.
Benar, alim India itu melakukannya karena terbawa isu-isu negatif dan pembunuhan karakter yang ditebarkan musuh-musuh dakwah tauhid.
Walhamdulillah, dengan hidayah dari Allah semata kemudian kecerdikan Syaikh al-Bakri, seorang yang semula membenci menjadi seorang yang dengan mudah mendoakan kebaikan untuk Syaikh Muhammad rahimahullah.
Dari kisah di atas, dengan izin Allah kemudian dengan cara ini, dakwah tauhid dan sunnah akhirnya diterima, walhamdulillah.
Sumber:
https://mahad-assalafy.com/kisah-syaikh-al-bakri-di-negeri-india/
#anonim #manhaj_gharib #anonimisasi #majhul
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 DISYARIATKANNYA MENGGANTI IMAM SAAT BATAL DI TENGAH SHOLAT
Jika Imam tidak bisa melanjutkan sholat karena sebab tertentu seperti batal wudhu’nya, lupa belum berwudhu’, atau sebab lainnya, maka ia bisa memilih makmum untuk menggantikan dirinya dan meneruskan sholat.
Sebagaimana Umar bin al-Khotthob ketika ditikam pada sholat Subuh, beliau memegang tangan Abdurrahman bin Auf untuk menggantikan beliau sebagai Imam (H.R al-Bukhari).
Demikian juga Ali bin Abi Tholib pernah terkena mimisan di hidungnya, kemudian beliau memilih salah satu makmum untuk menjadi Imam menggantikannya (riwayat Said bin Manshur).
Yang dipilih untuk menggantikan Imam sebaiknya adalah seseorang yang ikut sholat berjamaah sejak awal.
Namun, jika yang dipilih menggantikan Imam adalah masbuq, maka masbuq melanjutkan Imam.
Saat semestinya salam, masbuq yang menjadi Imam itu memberikan isyarat dan makmum boleh memilih, apakah memisahkan diri (salam duluan), atau duduk menunggu Imam masbuq ini menyelesaikan sholatnya (al-Minhaj karya anNawawy (1/64)).
Sebagian Ulama menjelaskan bahwa Imam masbuq yang hendak sampai pada bagian salam untuk makmum, bisa memilih salah satu makmum menggantikan dirinya sebagai Imam, agar Imam dan makmum salam bersama-sama, sedangkan dirinya melanjutkan sholat sendirian.
Jika Imam tidak memilih seseorang untuk menggantikan, maka makmum bisa saja melakukan salah satu hal:
(1). Memilih (dengan memberi isyarat) agar salah satu makmum menjadi Imam, atau
(2). Melanjutkan sholat sebagai sholat sendiri-sendiri
(disarikan dari penjelasan Ibnu Qudamah dalam asy-Syarhul Kabiir (1/498)).
(dikutip dari buku "Fiqh Bersuci dan Sholat", Abu Utsman Kharisman, penerbit Cahaya Sunnah Bandung)
WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 DISYARIATKANNYA MENGGANTI IMAM SAAT BATAL DI TENGAH SHOLAT
Jika Imam tidak bisa melanjutkan sholat karena sebab tertentu seperti batal wudhu’nya, lupa belum berwudhu’, atau sebab lainnya, maka ia bisa memilih makmum untuk menggantikan dirinya dan meneruskan sholat.
Sebagaimana Umar bin al-Khotthob ketika ditikam pada sholat Subuh, beliau memegang tangan Abdurrahman bin Auf untuk menggantikan beliau sebagai Imam (H.R al-Bukhari).
Demikian juga Ali bin Abi Tholib pernah terkena mimisan di hidungnya, kemudian beliau memilih salah satu makmum untuk menjadi Imam menggantikannya (riwayat Said bin Manshur).
Yang dipilih untuk menggantikan Imam sebaiknya adalah seseorang yang ikut sholat berjamaah sejak awal.
Namun, jika yang dipilih menggantikan Imam adalah masbuq, maka masbuq melanjutkan Imam.
Saat semestinya salam, masbuq yang menjadi Imam itu memberikan isyarat dan makmum boleh memilih, apakah memisahkan diri (salam duluan), atau duduk menunggu Imam masbuq ini menyelesaikan sholatnya (al-Minhaj karya anNawawy (1/64)).
Sebagian Ulama menjelaskan bahwa Imam masbuq yang hendak sampai pada bagian salam untuk makmum, bisa memilih salah satu makmum menggantikan dirinya sebagai Imam, agar Imam dan makmum salam bersama-sama, sedangkan dirinya melanjutkan sholat sendirian.
Jika Imam tidak memilih seseorang untuk menggantikan, maka makmum bisa saja melakukan salah satu hal:
(1). Memilih (dengan memberi isyarat) agar salah satu makmum menjadi Imam, atau
(2). Melanjutkan sholat sebagai sholat sendiri-sendiri
(disarikan dari penjelasan Ibnu Qudamah dalam asy-Syarhul Kabiir (1/498)).
(dikutip dari buku "Fiqh Bersuci dan Sholat", Abu Utsman Kharisman, penerbit Cahaya Sunnah Bandung)
WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 JIKA IMAM SHOLAT ISYA 5 ROKA'AT DAN TIDAK ADA MAKMUM YANG MENGINGATKAN
Bismillah
Afwan ijin bertanya, Bagaimana sikap kita yang benar jika kita sholat isya dimana imam salah rokaatnya_ dan sholat 5 rekaat, dan dibelakang imam tidak ada yang mengingatkan kalau imam salah. Karena tidak ada yang mengingatkan imam tidak merasa salah, dan sebagian jamaah ada yang mengulang dan ada juga yang sujud sahwi. Bagaimana sikap kita yang benar apakah mengulang sholatnya atau bagaimana?
Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
Berikut ini potongan fatwa Syaikh Bin Baz rahimahullah, semoga bermanfaat:
وإذا قام إلى خامسة ولم يرجع بالتنبيه فإن المأمومين لا يقومون معه.. يجلسون، فإذا سلم سلموا معه؛ لأنهم غير معذورين، أما هو قد يكون معذوراً، قد يعتقد أنه مصيب فلهذا لم يرجع، وهو إذا اعتقد أنه مصيب لا يرجع.. يستمر ويكمل، لكن المأموم إن كان يعتقد أنه مصيب جلس وانتظر حتى يسلم مع إمامه، وإن كان ليس عنده علم فإنه يقوم مع الإمام ويتابع الإمام، هذا هو الأصل.
ومن قام مع الإمام وتابعه من أجل سهوه، أو لجهله بالحكم الشرعي.. ما يعلم الحكم الشرعي؛ فصلاته صحيحة ولو زاد؛ لأنه إما جاهل وإما ساهي فلا شيء عليه، وأما العالم بالحكم الشرعي والعالم بالسهو فإنه لا يتابع الإمام، بل يجلس وينتظر حتى يسلم مع إمامه، هذا هو الحكم الشرعي في هذه المسألة.
بعض الناس ما يعرف الأحكام يقوم ولو درى أنه ساهي يحسب أنه يلزمه، فيقوم يتابع الإمام، فهذا مادام قام جهلاً منه فإن صلاته صحيحة وليس عليه شيء، ولكن في المرة الأخرى إذا وقع هذا لا يقوم، متى عرف الحكم الشرعي لا يقوم بل يجلس وينتظر، يقرأ التحيات ويكملها ويدعو ربه، يشتغل بالدعاء حتى يسلم إمامه فيسلم معه.
"Jika (Imam) bangkit ke rakaat ke-5 dan tidak kembali meski diingatkan, makmum (semestinya) tidak bangkit bersama dia. Makmum hendaknya duduk. Jika imam nanti salam, makmum salam bersamanya. Karena mereka (para makmum) tidaklah memiliki udzur.
Adapun imam ia memiliki udzur. Kadangkala ia meyakini bahwa ia benar. Karena itu ia tidak kembali (turun).
Kalau ia meyakini bahwasanya ia benar, ia tidak kembali (turun). Ia akan terus dan menyempurnakannya.
Namun, makmum jika berkeyakinan bahwa dirinya benar, ia duduk menunggu, hingga salam bersama imam. Kalau makmum itu tidak berilmu, ia berdiri dan mengikuti imam. Ini adalah secara asal.
Barangsiapa yang berdiri bersama imam dan mengikutinya karena lupa atau ketidaktahuan terhadap hukum syar’i, shalatnya sah, meskipun ia menambah (rakaat). Karena ia bisa jadi tidak tahu atau lupa. Tidak ada tanggungan apapun baginya.
Adapun orang yang mengetahui hukum syar’i dan mengetahui bahwa imam lupa, ia tidak mengikuti imam. Justru ia semestinya duduk menunggu hingga salam bersama imam. Ini adalah hukum syar’i dalam masalah ini.
Sebagian orang tidak mengetahui hukum sehingga berdiri. Kalau ia mengetahui bahwasanya imam lupa ia merasa ia harus ikut berdiri mengikuti imam (juga). Makmum ini selama berdirinya karena ketidaktahuan, shalatnya sah. Tidak ada tanggungan apapun baginya.
Namun, lain kali jika terjadi hal semacam itu, ia mestinya tidak ikut berdiri. Jika ia telah mengetahui hukum syar’i, ia tidak berdiri (mengikuti imam yang lupa, pent), namun justru duduk dan menunggu. Ia membaca tahiyyat dan menyempurnakannya, kemudian berdoa kepada Rabbnya. Ia sibukkan dengan doa hingga saat imam salam, ia pun salam.
Sumber selengkapnya:
http://bit.ly/2IXjZQw
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 JIKA IMAM SHOLAT ISYA 5 ROKA'AT DAN TIDAK ADA MAKMUM YANG MENGINGATKAN
Bismillah
Afwan ijin bertanya, Bagaimana sikap kita yang benar jika kita sholat isya dimana imam salah rokaatnya_ dan sholat 5 rekaat, dan dibelakang imam tidak ada yang mengingatkan kalau imam salah. Karena tidak ada yang mengingatkan imam tidak merasa salah, dan sebagian jamaah ada yang mengulang dan ada juga yang sujud sahwi. Bagaimana sikap kita yang benar apakah mengulang sholatnya atau bagaimana?
Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
Berikut ini potongan fatwa Syaikh Bin Baz rahimahullah, semoga bermanfaat:
وإذا قام إلى خامسة ولم يرجع بالتنبيه فإن المأمومين لا يقومون معه.. يجلسون، فإذا سلم سلموا معه؛ لأنهم غير معذورين، أما هو قد يكون معذوراً، قد يعتقد أنه مصيب فلهذا لم يرجع، وهو إذا اعتقد أنه مصيب لا يرجع.. يستمر ويكمل، لكن المأموم إن كان يعتقد أنه مصيب جلس وانتظر حتى يسلم مع إمامه، وإن كان ليس عنده علم فإنه يقوم مع الإمام ويتابع الإمام، هذا هو الأصل.
ومن قام مع الإمام وتابعه من أجل سهوه، أو لجهله بالحكم الشرعي.. ما يعلم الحكم الشرعي؛ فصلاته صحيحة ولو زاد؛ لأنه إما جاهل وإما ساهي فلا شيء عليه، وأما العالم بالحكم الشرعي والعالم بالسهو فإنه لا يتابع الإمام، بل يجلس وينتظر حتى يسلم مع إمامه، هذا هو الحكم الشرعي في هذه المسألة.
بعض الناس ما يعرف الأحكام يقوم ولو درى أنه ساهي يحسب أنه يلزمه، فيقوم يتابع الإمام، فهذا مادام قام جهلاً منه فإن صلاته صحيحة وليس عليه شيء، ولكن في المرة الأخرى إذا وقع هذا لا يقوم، متى عرف الحكم الشرعي لا يقوم بل يجلس وينتظر، يقرأ التحيات ويكملها ويدعو ربه، يشتغل بالدعاء حتى يسلم إمامه فيسلم معه.
"Jika (Imam) bangkit ke rakaat ke-5 dan tidak kembali meski diingatkan, makmum (semestinya) tidak bangkit bersama dia. Makmum hendaknya duduk. Jika imam nanti salam, makmum salam bersamanya. Karena mereka (para makmum) tidaklah memiliki udzur.
Adapun imam ia memiliki udzur. Kadangkala ia meyakini bahwa ia benar. Karena itu ia tidak kembali (turun).
Kalau ia meyakini bahwasanya ia benar, ia tidak kembali (turun). Ia akan terus dan menyempurnakannya.
Namun, makmum jika berkeyakinan bahwa dirinya benar, ia duduk menunggu, hingga salam bersama imam. Kalau makmum itu tidak berilmu, ia berdiri dan mengikuti imam. Ini adalah secara asal.
Barangsiapa yang berdiri bersama imam dan mengikutinya karena lupa atau ketidaktahuan terhadap hukum syar’i, shalatnya sah, meskipun ia menambah (rakaat). Karena ia bisa jadi tidak tahu atau lupa. Tidak ada tanggungan apapun baginya.
Adapun orang yang mengetahui hukum syar’i dan mengetahui bahwa imam lupa, ia tidak mengikuti imam. Justru ia semestinya duduk menunggu hingga salam bersama imam. Ini adalah hukum syar’i dalam masalah ini.
Sebagian orang tidak mengetahui hukum sehingga berdiri. Kalau ia mengetahui bahwasanya imam lupa ia merasa ia harus ikut berdiri mengikuti imam (juga). Makmum ini selama berdirinya karena ketidaktahuan, shalatnya sah. Tidak ada tanggungan apapun baginya.
Namun, lain kali jika terjadi hal semacam itu, ia mestinya tidak ikut berdiri. Jika ia telah mengetahui hukum syar’i, ia tidak berdiri (mengikuti imam yang lupa, pent), namun justru duduk dan menunggu. Ia membaca tahiyyat dan menyempurnakannya, kemudian berdoa kepada Rabbnya. Ia sibukkan dengan doa hingga saat imam salam, ia pun salam.
Sumber selengkapnya:
http://bit.ly/2IXjZQw
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
binbaz.org.sa
حكم متابعة المأمومين للإمام إذا زاد في الصلاة أو أنقص منها
الجواب: بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على عبده ورسوله،
::
📬 MENGAMBIL FAIDAH DARI KITAB AL-HAIDAH
Tahukah Anda Kitab al-Haidah?
Kitab ini berisi pembelaan terhadap al-Qur’an. Di dalamnya dijelaskan secara lugas dan gamblang bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Hanya saja nama penulisnya belum bisa dipastikan.
Perlu diketahui bahwa dalam tiga kurun pertama Islam, akidah sunnah sangatlah berjaya dan kuat. Para ulama sangat banyak dan keras dalam mengingkari ahli bid’ah. Kekuatan ada di tangan Ahlus-Sunnah. Sehingga para ulama terang-terangan dalam mendakwahkan tauhid, akidah sunnah dan membantah kebid’ahan.
Hingga saat ulama satu per satu wafat, lalu pada kondisi khalifah berpihak kepada kaum Jahmiyyah dan melakukan intimidasi kepada para ulama di masa itu untuk meyakini bahwa al-Qur’an adalah makhluk (akidah kufur yang merobohkan pondasi agama Islam dari dasarnya), muncullah kitab al-Haidah.
Kitab ini berisi pembelaan terhadap al-Qur’an. Di dalamnya dijelaskan secara lugas dan gamblang bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk.
Kitab ini, wallahu a’lam, siapa sesungguhnya yang menulisnya. Dalam sebuah pendapat, dikatakan bahwa penulisnya bernama Abdul Aziz al-Kinani. Namun Syaikh Rabi’ menyatakan tidak mengetahui siapa sebenarnya penulis kitab ini. Nash pertanyaan dan jawabannya adalah sebagai berikut,
السؤال :
هل كتاب الحيدة لعبد العزيز الكناني ثابت عنه أم لا ؟
الجواب :
بعضهم قال أنه لم يثبت عنه! لكن الأمّة تلقت هذا الكتاب بالقبول لما تضمنه من الحجج والبراهين التي تدحض أباطيل أهل القول بخلق القرآن؛ أباطيل المعتزلة ومن جرى مجراهم من الجهمية الذين يقولون (القرآن مخلوق)؛ فيها حجج دامغة, فيها نصرة لسنة الرسول عليه الصلاة والسلام والذبّ عن دينه فجزى الله المؤلف خيرا . ولعل المؤلف من كبار علماء السنة, ولا شك أنه عالم بارع ولا نستبعد أنه من تلاميذ الشافعي ولا نستبعد أنه هذا الكناني) عبد العزيز .(لكن سواء أثبتناه لهذا الإمام أولم نثبته؛ فإنّ كاتبه عالم ضليع ومتعمّق في اللغة ومتعمّق في معرفة أسرار القرآن وطرق الاحتجاج به فهذا مما يُنصَر به, فمن يطعن في هذا الكتاب أخشى أن فيه نزعة بدعية يريد أن يوهن حجج أهل السنة والجماعة .فنحن نقول هذا ألفه عالم قد يكون ما استطاع أن يظهر اسمه لأنّ السلطة كانت بأيدي الجهمية فخاف أن يُنال بالأذى, بالقتل وغيره كما أوذي أهل السنة وامتحنوا بالقول بخلق القرآن فخشي على نفسه فألف هذا الكتاب .فإما أن يكون هو الكناني وإما أن يكون غيره ,ولا شك أنه من علماء السنة ومن أئمتها النوابغ ,رحمه الله وجزاه عن الإسلام والمسلمين خيرا .فتاوى في العقيدة والمنهج الحلقة الأولى .
Pertanyaan:
Apakah kitab al-Haidah karya Abdul Aziz al-Kinany memang benar terbukti dari beliau ataukah tidak?
Jawab:
Sebagian ulama mengatakan bahwa kitab tersebut tidak benar jika dinisbatkan kepada beliau. Hanya saja, umat Islam menerima kitab tersebut dengan sambutan yang baik, mengingat kandungan hujah dan bukti di dalamnya yang membantah berbagai kebatilan para pengusung akidah bahwa al-Qur’an adalah makhluk, kebatilan kelompok Mu’tazilah, dan setiap orang yang berjalan dengan paham mereka, yaitu Jahmiyah yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk.
Di dalam kitab tersebut terkandung hujah-hujah yang melenyapkan kebatilan, berisi pembelaan terhadap sunnah Rasulullah ‘alaihis shalatu was salam dan agamanya. Semoga Allah membalas penulisnya dengan balasan kebaikan.
Bisa jadi sang penulis termasuk ulama sunnah yang senior, dan tentu tak diragukan lagi bahwa dia adalah seorang alim yang mahir. Kita pun tidak mengingkari bahwa dia termasuk murid Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Kita juga tidak memandang jauh bahwa dia adalah al-Kinany (Abdul Aziz).
📬 MENGAMBIL FAIDAH DARI KITAB AL-HAIDAH
Tahukah Anda Kitab al-Haidah?
Kitab ini berisi pembelaan terhadap al-Qur’an. Di dalamnya dijelaskan secara lugas dan gamblang bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Hanya saja nama penulisnya belum bisa dipastikan.
Perlu diketahui bahwa dalam tiga kurun pertama Islam, akidah sunnah sangatlah berjaya dan kuat. Para ulama sangat banyak dan keras dalam mengingkari ahli bid’ah. Kekuatan ada di tangan Ahlus-Sunnah. Sehingga para ulama terang-terangan dalam mendakwahkan tauhid, akidah sunnah dan membantah kebid’ahan.
Hingga saat ulama satu per satu wafat, lalu pada kondisi khalifah berpihak kepada kaum Jahmiyyah dan melakukan intimidasi kepada para ulama di masa itu untuk meyakini bahwa al-Qur’an adalah makhluk (akidah kufur yang merobohkan pondasi agama Islam dari dasarnya), muncullah kitab al-Haidah.
Kitab ini berisi pembelaan terhadap al-Qur’an. Di dalamnya dijelaskan secara lugas dan gamblang bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk.
Kitab ini, wallahu a’lam, siapa sesungguhnya yang menulisnya. Dalam sebuah pendapat, dikatakan bahwa penulisnya bernama Abdul Aziz al-Kinani. Namun Syaikh Rabi’ menyatakan tidak mengetahui siapa sebenarnya penulis kitab ini. Nash pertanyaan dan jawabannya adalah sebagai berikut,
السؤال :
هل كتاب الحيدة لعبد العزيز الكناني ثابت عنه أم لا ؟
الجواب :
بعضهم قال أنه لم يثبت عنه! لكن الأمّة تلقت هذا الكتاب بالقبول لما تضمنه من الحجج والبراهين التي تدحض أباطيل أهل القول بخلق القرآن؛ أباطيل المعتزلة ومن جرى مجراهم من الجهمية الذين يقولون (القرآن مخلوق)؛ فيها حجج دامغة, فيها نصرة لسنة الرسول عليه الصلاة والسلام والذبّ عن دينه فجزى الله المؤلف خيرا . ولعل المؤلف من كبار علماء السنة, ولا شك أنه عالم بارع ولا نستبعد أنه من تلاميذ الشافعي ولا نستبعد أنه هذا الكناني) عبد العزيز .(لكن سواء أثبتناه لهذا الإمام أولم نثبته؛ فإنّ كاتبه عالم ضليع ومتعمّق في اللغة ومتعمّق في معرفة أسرار القرآن وطرق الاحتجاج به فهذا مما يُنصَر به, فمن يطعن في هذا الكتاب أخشى أن فيه نزعة بدعية يريد أن يوهن حجج أهل السنة والجماعة .فنحن نقول هذا ألفه عالم قد يكون ما استطاع أن يظهر اسمه لأنّ السلطة كانت بأيدي الجهمية فخاف أن يُنال بالأذى, بالقتل وغيره كما أوذي أهل السنة وامتحنوا بالقول بخلق القرآن فخشي على نفسه فألف هذا الكتاب .فإما أن يكون هو الكناني وإما أن يكون غيره ,ولا شك أنه من علماء السنة ومن أئمتها النوابغ ,رحمه الله وجزاه عن الإسلام والمسلمين خيرا .فتاوى في العقيدة والمنهج الحلقة الأولى .
Pertanyaan:
Apakah kitab al-Haidah karya Abdul Aziz al-Kinany memang benar terbukti dari beliau ataukah tidak?
Jawab:
Sebagian ulama mengatakan bahwa kitab tersebut tidak benar jika dinisbatkan kepada beliau. Hanya saja, umat Islam menerima kitab tersebut dengan sambutan yang baik, mengingat kandungan hujah dan bukti di dalamnya yang membantah berbagai kebatilan para pengusung akidah bahwa al-Qur’an adalah makhluk, kebatilan kelompok Mu’tazilah, dan setiap orang yang berjalan dengan paham mereka, yaitu Jahmiyah yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk.
Di dalam kitab tersebut terkandung hujah-hujah yang melenyapkan kebatilan, berisi pembelaan terhadap sunnah Rasulullah ‘alaihis shalatu was salam dan agamanya. Semoga Allah membalas penulisnya dengan balasan kebaikan.
Bisa jadi sang penulis termasuk ulama sunnah yang senior, dan tentu tak diragukan lagi bahwa dia adalah seorang alim yang mahir. Kita pun tidak mengingkari bahwa dia termasuk murid Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Kita juga tidak memandang jauh bahwa dia adalah al-Kinany (Abdul Aziz).
Yang jelas, kita tetapkan kitab tersebut sebagai karya imam Abdul Aziz al-Kinany rahimahullah maupun tidak, sungguh penulisnya adalah seorang alim yang sangat ahli, orang yang mendalami ilmu bahasa (lughah), mendalami ilmu dalam hal mengenali rahasia-rahasia al-Qur’an serta metode berdalil dengannya.
Sehingga, karya ini termasuk karya yang harus dibela. Siapa yang mencela kitab tersebut sangat dikhawatirkan di dalam dirinya ada kecondongan kepada kebid’ahan, dia ingin melemahkan hujjah-hujjah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Sehingga, kami katakan kitab ini disusun oleh seorang alim yang beliau tidak bisa memperlihatkan namanya karena pemerintahan berada dalam genggaman paham Jahmiyah. Lalu beliau khawatir mendapat gangguan, baik dibunuh atau gangguan lain sebagaimana menimpa Ahlus Sunnah, disakiti dan diuji karena adanya fitnah al-Qur’an adalah makhluk.
Maka beliau pun mengkhawatirkan gangguan yang akan menimpa dirinya, lalu beliau menyusun kitab ini.
Bisa jadi beliau adalah al-Kinany yang dimaksud atau bisa jadi yang lainnya. Tak diragukan bahwa beliau termasuk ulama dan imam sunnah yang jenius. Semoga Allah merahmatinya dan mebalasnya dengan kebaikan atas jasanya terhadap islam dan kaum muslimin. (Fatawa Fil ‘Aqidah Wal Manhaj al-Halqatul-Ula) –selesai penukilan–
Jadi, kitab al-Haidah adalah kitab yang dikenal, bermanfaat dan sampai kepada kita di masa sekarang. Semoga Allah merahmati penulisnya.
Kitab tersebut tidak diingkari oleh para ulama. Pembahasan di dalamnya sangat bermanfaat, meskipun karya manusia tidak lepas dari kekurangan.
Sumber: https://mahad-assalafy.com/faidah-dari-kitab-al-haidah/
#anonim #jendi #jendela_info #sirriyah #rahasia
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Sehingga, karya ini termasuk karya yang harus dibela. Siapa yang mencela kitab tersebut sangat dikhawatirkan di dalam dirinya ada kecondongan kepada kebid’ahan, dia ingin melemahkan hujjah-hujjah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Sehingga, kami katakan kitab ini disusun oleh seorang alim yang beliau tidak bisa memperlihatkan namanya karena pemerintahan berada dalam genggaman paham Jahmiyah. Lalu beliau khawatir mendapat gangguan, baik dibunuh atau gangguan lain sebagaimana menimpa Ahlus Sunnah, disakiti dan diuji karena adanya fitnah al-Qur’an adalah makhluk.
Maka beliau pun mengkhawatirkan gangguan yang akan menimpa dirinya, lalu beliau menyusun kitab ini.
Bisa jadi beliau adalah al-Kinany yang dimaksud atau bisa jadi yang lainnya. Tak diragukan bahwa beliau termasuk ulama dan imam sunnah yang jenius. Semoga Allah merahmatinya dan mebalasnya dengan kebaikan atas jasanya terhadap islam dan kaum muslimin. (Fatawa Fil ‘Aqidah Wal Manhaj al-Halqatul-Ula) –selesai penukilan–
Jadi, kitab al-Haidah adalah kitab yang dikenal, bermanfaat dan sampai kepada kita di masa sekarang. Semoga Allah merahmati penulisnya.
Kitab tersebut tidak diingkari oleh para ulama. Pembahasan di dalamnya sangat bermanfaat, meskipun karya manusia tidak lepas dari kekurangan.
Sumber: https://mahad-assalafy.com/faidah-dari-kitab-al-haidah/
#anonim #jendi #jendela_info #sirriyah #rahasia
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
وَاعْلَمْ أَنَّ الْإِجْمَاعَ وَالْحُجَّةَ وَالسَّوَادَ الْأَعْظَمَ هُوَ الْعَالِمُ صَاحِبُ الْحَقِّ، وَإِنْ كَانَ وَحْدَهُ، وَإِنْ خَالَفَهُ أَهْلُ الْأَرْضِ
إعلام الموقعين ٣/٣٩٨
"Ketahuilah, bahwa IJMA' dan HUJJAH serta SAWADUL A'ZHOM adalah seorang alim shohibul haq walaupun bersendirian dan seluruh penduduk bumi menyelisihinya."
Kitab lbnul Qoyyim. l'laamul Muwaqqi'iin jilid 3 hal 398.
إعلام الموقعين ٣/٣٩٨
"Ketahuilah, bahwa IJMA' dan HUJJAH serta SAWADUL A'ZHOM adalah seorang alim shohibul haq walaupun bersendirian dan seluruh penduduk bumi menyelisihinya."
Kitab lbnul Qoyyim. l'laamul Muwaqqi'iin jilid 3 hal 398.
::
📬 WAJIB MEMBELA YANG TERZALIMI
Al-Allamah Rabi' bin Hadi al Madkhali - hafizhahullah - berkata,
فإذا كان هناك طائفتان تتقاتلان؛ فلنبادر إلى حقن الدماء وصون الأعراض، ونبذل ما نستطيع و نصلح بينهم؛ فإن بغت إحداهما على الأخرى وقفنا مع المظلومة؛ لأن نصرة المظلوم واجبة، نقف مع الطائفة المظلومة حتى نقضي على شر تلك الظالمة وتعود إلى جادة الحق.
"Apabila ada dua kelompok saling berperang, hendaknya kita segera mencegah terjadinya pertumpahan darah dan menjaga kehormatan, serta mengoptimalkan kemampuan kita untuk mendamaikan mereka.
Jika salah satu kelompok berbuat zalim kepada yang lain, maka kita membela kelompok yang terzalimi, karena membela orang yang terzalimi adalah wajib.
Hendaknya kita tetap berada di barisan kelompok yang terzalimi, sampai kita mampu menghilangkan kejelekan kelompok yang berbuat zalim dan mereka kembali ke jalan yang benar."
📚 [Adz Dzari'ah 1/186] @nasehatilmiah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 WAJIB MEMBELA YANG TERZALIMI
Al-Allamah Rabi' bin Hadi al Madkhali - hafizhahullah - berkata,
فإذا كان هناك طائفتان تتقاتلان؛ فلنبادر إلى حقن الدماء وصون الأعراض، ونبذل ما نستطيع و نصلح بينهم؛ فإن بغت إحداهما على الأخرى وقفنا مع المظلومة؛ لأن نصرة المظلوم واجبة، نقف مع الطائفة المظلومة حتى نقضي على شر تلك الظالمة وتعود إلى جادة الحق.
"Apabila ada dua kelompok saling berperang, hendaknya kita segera mencegah terjadinya pertumpahan darah dan menjaga kehormatan, serta mengoptimalkan kemampuan kita untuk mendamaikan mereka.
Jika salah satu kelompok berbuat zalim kepada yang lain, maka kita membela kelompok yang terzalimi, karena membela orang yang terzalimi adalah wajib.
Hendaknya kita tetap berada di barisan kelompok yang terzalimi, sampai kita mampu menghilangkan kejelekan kelompok yang berbuat zalim dan mereka kembali ke jalan yang benar."
📚 [Adz Dzari'ah 1/186] @nasehatilmiah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 BAGAIMANAKAH JIKA MAYORITAS BERADA DI ATAS KEBENARAN?
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata,
“Ya, jika mayoritas manusia berada di atas kebenaran, maka ini sesuatu yang baik.
Namun sunnatullah menunjukkan bahwa mayoritas (manusia) berada di atas kebatilan.
وَمَآ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوۡ حَرَصۡتَ بِمُؤۡمِنِينَ ١٠٣
“Dan mayoritas manusia tidak akan beriman, walaupun kamu (Muhammad) sangat menginginkannya.” (Yusuf: 103)
وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ
“Dan jika engkau menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (al-An’am: 116)
[Syarh Masail al-Jahiliah, hlm. 62]
Sumber:
Majalah Asy-Syari'ah Edisi 006 berjudul : "Menggugat Hukum Mayoritas"
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 BAGAIMANAKAH JIKA MAYORITAS BERADA DI ATAS KEBENARAN?
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata,
“Ya, jika mayoritas manusia berada di atas kebenaran, maka ini sesuatu yang baik.
Namun sunnatullah menunjukkan bahwa mayoritas (manusia) berada di atas kebatilan.
وَمَآ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوۡ حَرَصۡتَ بِمُؤۡمِنِينَ ١٠٣
“Dan mayoritas manusia tidak akan beriman, walaupun kamu (Muhammad) sangat menginginkannya.” (Yusuf: 103)
وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ
“Dan jika engkau menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (al-An’am: 116)
[Syarh Masail al-Jahiliah, hlm. 62]
Sumber:
Majalah Asy-Syari'ah Edisi 006 berjudul : "Menggugat Hukum Mayoritas"
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 DIANTARA KARAKTER JAHILIYYAH : MENILAI SUATU KEBENARAN DENGAN JUMLAH MAYORITAS, DAN MENILAI SUATU KESALAHAN DENGAN JUMLAH MINORITAS
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata,
“Di antara karakter jahiliah, mereka menilai suatu kebenaran dengan jumlah mayoritas, dan menilai suatu kesalahan dengan jumlah minoritas.
Sehingga sesuatu yang diikuti oleh kebanyakan orang berarti benar, sedangkan yang diikuti oleh segelintir orang berarti salah.
Inilah patokan yang ada pada diri mereka di dalam menilai yang benar dan yang salah.
Padahal patokan ini tidak benar, karena Allah ‘azza wa jalla berfirman:
وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ ١١٦
“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah subhanahu wa ta’la).” (al-An’am: 116)
Allah subhanahu wa ta’la juga berfirman:
وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ١٨٧
“Tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui.” (al-A’raf: 187)
وَمَا وَجَدۡنَا لِأَكۡثَرِهِم مِّنۡ عَهۡدٖۖ وَإِن وَجَدۡنَآ أَكۡثَرَهُمۡ لَفَٰسِقِينَ ١٠٢
“Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik.” (al-A’raf: 102)
Dan lain sebagainya.”
(Syarh Masail al-Jahiliah, hlm. 60).
Sumber:
Majalah Asy-Syari'ah Edisi 006 berjudul : "Menggugat Hukum Mayoritas"
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 DIANTARA KARAKTER JAHILIYYAH : MENILAI SUATU KEBENARAN DENGAN JUMLAH MAYORITAS, DAN MENILAI SUATU KESALAHAN DENGAN JUMLAH MINORITAS
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata,
“Di antara karakter jahiliah, mereka menilai suatu kebenaran dengan jumlah mayoritas, dan menilai suatu kesalahan dengan jumlah minoritas.
Sehingga sesuatu yang diikuti oleh kebanyakan orang berarti benar, sedangkan yang diikuti oleh segelintir orang berarti salah.
Inilah patokan yang ada pada diri mereka di dalam menilai yang benar dan yang salah.
Padahal patokan ini tidak benar, karena Allah ‘azza wa jalla berfirman:
وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ ١١٦
“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah subhanahu wa ta’la).” (al-An’am: 116)
Allah subhanahu wa ta’la juga berfirman:
وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ١٨٧
“Tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui.” (al-A’raf: 187)
وَمَا وَجَدۡنَا لِأَكۡثَرِهِم مِّنۡ عَهۡدٖۖ وَإِن وَجَدۡنَآ أَكۡثَرَهُمۡ لَفَٰسِقِينَ ١٠٢
“Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik.” (al-A’raf: 102)
Dan lain sebagainya.”
(Syarh Masail al-Jahiliah, hlm. 60).
Sumber:
Majalah Asy-Syari'ah Edisi 006 berjudul : "Menggugat Hukum Mayoritas"
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 JANGAN TERTIPU DENGAN JUMLAH YANG BANYAK (MAYORITAS)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy-Syaikh berkata,
“Hendaknya seorang muslim berhati-hati agar tidak tertipu dengan jumlah mayoritas, karena telah banyak orang-orang yang tertipu (dengannya), bahkan orang-orang yang mengaku berilmu sekalipun.
Mereka berkeyakinan di dalam beragama sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang bodoh lagi sesat (yaitu mengikuti mayoritas manusia, pen.) dan tidak mau melihat kepada apa yang dikatakan oleh Allah subhanahu wa ta’la dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
(Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, dinukil dari ta’liq [catatan kaki] Fathul Majid, hlm. 83, no. 1)
Sumber:
Majalah Asy-Syari'ah Edisi 006 berjudul : "Menggugat Hukum Mayoritas"
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 JANGAN TERTIPU DENGAN JUMLAH YANG BANYAK (MAYORITAS)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy-Syaikh berkata,
“Hendaknya seorang muslim berhati-hati agar tidak tertipu dengan jumlah mayoritas, karena telah banyak orang-orang yang tertipu (dengannya), bahkan orang-orang yang mengaku berilmu sekalipun.
Mereka berkeyakinan di dalam beragama sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang bodoh lagi sesat (yaitu mengikuti mayoritas manusia, pen.) dan tidak mau melihat kepada apa yang dikatakan oleh Allah subhanahu wa ta’la dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
(Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, dinukil dari ta’liq [catatan kaki] Fathul Majid, hlm. 83, no. 1)
Sumber:
Majalah Asy-Syari'ah Edisi 006 berjudul : "Menggugat Hukum Mayoritas"
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 FATWA AL-LAJNAH AD-DAAIMAH TENTANG WAHABI
Pertanyaan ke-2 dari fatwa nomor 9450: Apakah al-Wahhabiyyah (paham Wahabi, pent) itu?
Jawaban al-Lajnah ad-Daaimah:
Al-Wahhabiyyah adalah suatu penamaan dari musuh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab –semoga Allah merahmati beliau – terhadap dakwah beliau yang mengajak pada pemurnian tauhid, (pembersihan tauhid) dari kesyirikan-kesyirikan.
Beliau meninggalkan seluruh thoriqoh (jalan dalam beragama, pent) selain thoriqoh (Nabi) Muhammad bin Abdillah ﷺ.
Maksud mereka (dengan penamaan Wahabi) adalah untuk membuat manusia lari dari dakwah beliau dan menghalangi mereka untuk mengikuti dakwah beliau. Namun hal itu tidaklah memudaratkan. Justru semakin menambah (dakwah itu) tersebar di berbagai penjuru.
Semakin banyak orang yang rindu kepada dakwah tersebut karena diberi taufiq oleh Allah untuk mempelajari isi dakwah tersebut, tuduhan terhadapnya, dan dalil alQuran dan sunnah yang shahih yang melandasinya. Mereka semakin berpegang teguh dan komitmen terhadapnya serta mengajak manusia kepadanya. Segala puji hanya untuk Allah.
Taufiq hanyalah dengan pertolongan Allah. Semoga sholawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para Sahabat beliau.
Al-Lajnah ad-Daaimah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’ (Komite Tetap Pembahasan Ilmu dan Fatwa)
Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Wakil Ketua: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan
🇸🇦Naskah Asli dalam Bahasa Arab:
ما هي الوهابية؟
السؤال الثاني من الفتوى رقم ( 9450 ) :
س2: ما هي الوهابية؟
ج2: الوهابية: لفظة يطلقها خصوم الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمه الله على دعوته إلى تجريد التوحيد من الشركيات ونبذ جميع الطرق إلا طريق محمد بن عبد الله صلى الله عليه وسلم، ومرادهم من ذلك: تنفير الناس من دعوته وصدهم عما دعا إليه، ولكن لم يضرها ذلك، بل زادها انتشارا في الآفاق وشوقا إليها ممن وفقهم الله إلى زيادة البحث عن ماهية الدعوة وما ترمي إليه وما تستند عليه من أدلة الكتاب والسنة الصحيحة فاشتد تمسكهم بها وعضو ا عليها وأخذوا يدعون الناس إليها ولله الحمد.
وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو ... نائب رئيس اللجنة ... الرئيس
عبد الله بن غديان ... عبد الرزاق عفيفي ... عبد العزيز بن عبد الله بن باز
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 FATWA AL-LAJNAH AD-DAAIMAH TENTANG WAHABI
Pertanyaan ke-2 dari fatwa nomor 9450: Apakah al-Wahhabiyyah (paham Wahabi, pent) itu?
Jawaban al-Lajnah ad-Daaimah:
Al-Wahhabiyyah adalah suatu penamaan dari musuh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab –semoga Allah merahmati beliau – terhadap dakwah beliau yang mengajak pada pemurnian tauhid, (pembersihan tauhid) dari kesyirikan-kesyirikan.
Beliau meninggalkan seluruh thoriqoh (jalan dalam beragama, pent) selain thoriqoh (Nabi) Muhammad bin Abdillah ﷺ.
Maksud mereka (dengan penamaan Wahabi) adalah untuk membuat manusia lari dari dakwah beliau dan menghalangi mereka untuk mengikuti dakwah beliau. Namun hal itu tidaklah memudaratkan. Justru semakin menambah (dakwah itu) tersebar di berbagai penjuru.
Semakin banyak orang yang rindu kepada dakwah tersebut karena diberi taufiq oleh Allah untuk mempelajari isi dakwah tersebut, tuduhan terhadapnya, dan dalil alQuran dan sunnah yang shahih yang melandasinya. Mereka semakin berpegang teguh dan komitmen terhadapnya serta mengajak manusia kepadanya. Segala puji hanya untuk Allah.
Taufiq hanyalah dengan pertolongan Allah. Semoga sholawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para Sahabat beliau.
Al-Lajnah ad-Daaimah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’ (Komite Tetap Pembahasan Ilmu dan Fatwa)
Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Wakil Ketua: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan
🇸🇦Naskah Asli dalam Bahasa Arab:
ما هي الوهابية؟
السؤال الثاني من الفتوى رقم ( 9450 ) :
س2: ما هي الوهابية؟
ج2: الوهابية: لفظة يطلقها خصوم الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمه الله على دعوته إلى تجريد التوحيد من الشركيات ونبذ جميع الطرق إلا طريق محمد بن عبد الله صلى الله عليه وسلم، ومرادهم من ذلك: تنفير الناس من دعوته وصدهم عما دعا إليه، ولكن لم يضرها ذلك، بل زادها انتشارا في الآفاق وشوقا إليها ممن وفقهم الله إلى زيادة البحث عن ماهية الدعوة وما ترمي إليه وما تستند عليه من أدلة الكتاب والسنة الصحيحة فاشتد تمسكهم بها وعضو ا عليها وأخذوا يدعون الناس إليها ولله الحمد.
وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو ... نائب رئيس اللجنة ... الرئيس
عبد الله بن غديان ... عبد الرزاق عفيفي ... عبد العزيز بن عبد الله بن باز
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 JANGAN KATAKAN: "SESUNGGUHNYA KEUMUMAN ORANG-ORANG BERSIKAP DEMIKIAN, MENGAPA AKU BERSIKAP EKSKLUSIF TIDAK SAMA DENGAN MEREKA?"
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata,
“Tidak boleh tertipu dengan jumlah mayoritas, karena jumlah mayoritas terkadang di atas kesesatan. Allah subhanahu wa ta’la berfirman:
وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ ١١٦
“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah subhanahu wa ta’la).” (al-An’am: 116)
Jika kita melihat bahwa mayoritas penduduk bumi berada dalam kesesatan, maka janganlah tertipu dengan mereka. Jangan pula engkau katakan, ‘Sesungguhnya orang-orang melakukan demikian, mengapa aku bersikap eksklusif tidak sama dengan mereka?’.”
(al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, 1/106)
Sumber:
Majalah Asy-Syari'ah Edisi 006 berjudul : "Menggugat Hukum Mayoritas"
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 JANGAN KATAKAN: "SESUNGGUHNYA KEUMUMAN ORANG-ORANG BERSIKAP DEMIKIAN, MENGAPA AKU BERSIKAP EKSKLUSIF TIDAK SAMA DENGAN MEREKA?"
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata,
“Tidak boleh tertipu dengan jumlah mayoritas, karena jumlah mayoritas terkadang di atas kesesatan. Allah subhanahu wa ta’la berfirman:
وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ ١١٦
“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah subhanahu wa ta’la).” (al-An’am: 116)
Jika kita melihat bahwa mayoritas penduduk bumi berada dalam kesesatan, maka janganlah tertipu dengan mereka. Jangan pula engkau katakan, ‘Sesungguhnya orang-orang melakukan demikian, mengapa aku bersikap eksklusif tidak sama dengan mereka?’.”
(al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, 1/106)
Sumber:
Majalah Asy-Syari'ah Edisi 006 berjudul : "Menggugat Hukum Mayoritas"
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com