::
📬 HADITS TIDAK SHAHIH TENTANG PINGSANNYA NABI DAN MENANGISNYA BELIAU SELAMA 3 HARI KARENA ADA UMAT BELIAU PELAKU DOSA BESAR YANG MASUK NERAKA
Seorang rekan mengirim video ceramah kepada saya. Video itu berjudul Muhasabah Rasulullah Pingsan. Disampaikan oleh Ustadz Orange.
Disampaikan sebuah hadits yang panjang. Malaikat Jibril menemui Nabi ﷺ dan menyampaikan bahwa Allah pada hari itu sedang mengobarkan nyala api neraka dan seluruh para Malaikat ketakutan. Nabi meminta dijelaskan bagaimanakah neraka itu.
Malaikat Jibril menjelaskan bahwa neraka itu adalah bagaikan lubang-lubang yang terdiri dari 7 tingkat. Jarak antara lubang itu adalah perjalanan 70 tahun. Lubang paling bawah adalah yang paling panas.
Nabi bertanya: Siapa penghuni lubang-lubang itu. Malaikat Jibril menjawab bahwa lubang paling bawah adalah untuk orang-orang munafik. Lubang berikutnya adalah untuk para penyembah berhala. Lalu untuk penyembah bintang dan matahari. Malaikat Jibril terus menjelaskan hingga lubang yang ke-5, tempat umat Yahudi. Sedangkan yang ke-6 dihuni oleh umat Nasrani.
Setelah menjelaskan penghuni keenam tingkatan, Jibril terdiam lama. Nabi bertanya: Wahai Jibril, siapakah penghuni neraka ke-7. Jibril diam saja tidak menjawab. Rasulullah ﷺ mengulangi pertanyaannya, namun Jibril tetap diam. Setelah didesak, Jibril menjelaskan bahwa itu adalah untuk umat Nabi Muhammad ﷺ pelaku dosa besar yang belum sempat bertobat. Rasulullah ﷺ langsung jatuh pingsan. Jibril merangkulnya dan meletakkan tubuh beliau di pangkuannya.
Setelah sadar, beliau menangis kembali. Kemudian beliau menanyakan kembali apakah ada di kalangan umat beliau yang akan masuk neraka. Malaikat Jibril membenarkan: yaitu pelaku dosa besar yang belum sempat bertobat. Kemudian Nabi menghadap kiblat kemudian sujud kepada Allah sambil menangis dan berkata: "Ummati.... ya Robb". Beliau terus berbuat demikian selama 3 hari 3 malam, kecuali jika Bilal bin Rabah mengumandangkan adzan, barulah beliau bangkit menjadi imam shalat. Kemudian kembali sujud lagi.
Pada hari ke-3 Abu Bakr mendatangi dan mengetuk pintu Nabi dan mengucapkan salam 3 kali. Namun tidak terdengar jawaban. Abu Bakr bersedih dan berkata: Apakah ada jalan untuk masuk ke rumahmu ya Rasulullah. Tapi tidak ada jawaban. Kemudian setelah pergi, Abu Bakr di jalan bertemu dengan Umar. Beliau menceritakan keadaan Rasulullah ﷺ. Kemudian Umar pun ke rumah Nabi dan terjadi hal yang sama. Umar kembali pulang dalam keadaan menangis. Di jalan bertemu dengan Salman al-Farisi dan menceritakannya. Salman pun ikut menangis namun tidak berani melakukan hal yang sama. Kemudian Salman melangkah menuju rumah Fathimah radhiyallahu anha menceritakan hal itu. Setelah berlari, Fatimah menuju rumah ayah tercinta sambil mengetuk pintu mengucapkan salam.
Mendengar suara lembut putri tercinta, sejuklah dada Rasulullah. Beliau bangkit dari sujud dan membuka pintu. Alangkah terkejutnya Fatimah melihatnya ayahnya amat kurus dan pucat. Fatimah memeluknya dan menangis dan menanyakan. Nabi kembali menangis dan berkata: bagaimana mungkin aku tidak sedih sedangkan Jibril mengatakan akan ada kelak umatku yang akan masuk neraka.
Kisah itu disampaikan dengan gaya bertutur yang mengundang keharuan. Ustadz yang menyampaikan juga menangis. Ingin menunjukkan demikian cintanya Rasulullah ﷺ kepada umatnya.
NAMUN, APAKAH HADITS ITU SHAHIH?
Setelah dilakukan penelusuran dan pengkajian, hadits tersebut ada dalam kitab Tanbihul Ghafilin nomor hadits 110 halaman 49-50. Redaksi kalimat yang dikutip dalam kitab itu lebih panjang dari yang dikisahkan di video tersebut. Kesimpulannya adalah hadits tersebut sangat lemah.
Dalam kitab Tanbihul Ghafilin tersebut, hadits itu dinyatakan dengan kutipan:
روى يزيد الرقاشي عن أنس بن مالك قال: جاء جبريل إلى النبي ﷺ في ساعةٍ ما كان يأتيه فيها متغيّر اللون، فقال له النبي ﷺ: (( مالي أراك متغير اللون )) فقال: يا محمد جئتُكَ في الساعة التي أمر الله بمنافخ النار أن تنفخ فيها...
Yazid arRoqoosyi meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Jibril datang kepada Nabi ﷺ di waktu yang tidak biasanya Jibril mendatangi beliau.
📬 HADITS TIDAK SHAHIH TENTANG PINGSANNYA NABI DAN MENANGISNYA BELIAU SELAMA 3 HARI KARENA ADA UMAT BELIAU PELAKU DOSA BESAR YANG MASUK NERAKA
Seorang rekan mengirim video ceramah kepada saya. Video itu berjudul Muhasabah Rasulullah Pingsan. Disampaikan oleh Ustadz Orange.
Disampaikan sebuah hadits yang panjang. Malaikat Jibril menemui Nabi ﷺ dan menyampaikan bahwa Allah pada hari itu sedang mengobarkan nyala api neraka dan seluruh para Malaikat ketakutan. Nabi meminta dijelaskan bagaimanakah neraka itu.
Malaikat Jibril menjelaskan bahwa neraka itu adalah bagaikan lubang-lubang yang terdiri dari 7 tingkat. Jarak antara lubang itu adalah perjalanan 70 tahun. Lubang paling bawah adalah yang paling panas.
Nabi bertanya: Siapa penghuni lubang-lubang itu. Malaikat Jibril menjawab bahwa lubang paling bawah adalah untuk orang-orang munafik. Lubang berikutnya adalah untuk para penyembah berhala. Lalu untuk penyembah bintang dan matahari. Malaikat Jibril terus menjelaskan hingga lubang yang ke-5, tempat umat Yahudi. Sedangkan yang ke-6 dihuni oleh umat Nasrani.
Setelah menjelaskan penghuni keenam tingkatan, Jibril terdiam lama. Nabi bertanya: Wahai Jibril, siapakah penghuni neraka ke-7. Jibril diam saja tidak menjawab. Rasulullah ﷺ mengulangi pertanyaannya, namun Jibril tetap diam. Setelah didesak, Jibril menjelaskan bahwa itu adalah untuk umat Nabi Muhammad ﷺ pelaku dosa besar yang belum sempat bertobat. Rasulullah ﷺ langsung jatuh pingsan. Jibril merangkulnya dan meletakkan tubuh beliau di pangkuannya.
Setelah sadar, beliau menangis kembali. Kemudian beliau menanyakan kembali apakah ada di kalangan umat beliau yang akan masuk neraka. Malaikat Jibril membenarkan: yaitu pelaku dosa besar yang belum sempat bertobat. Kemudian Nabi menghadap kiblat kemudian sujud kepada Allah sambil menangis dan berkata: "Ummati.... ya Robb". Beliau terus berbuat demikian selama 3 hari 3 malam, kecuali jika Bilal bin Rabah mengumandangkan adzan, barulah beliau bangkit menjadi imam shalat. Kemudian kembali sujud lagi.
Pada hari ke-3 Abu Bakr mendatangi dan mengetuk pintu Nabi dan mengucapkan salam 3 kali. Namun tidak terdengar jawaban. Abu Bakr bersedih dan berkata: Apakah ada jalan untuk masuk ke rumahmu ya Rasulullah. Tapi tidak ada jawaban. Kemudian setelah pergi, Abu Bakr di jalan bertemu dengan Umar. Beliau menceritakan keadaan Rasulullah ﷺ. Kemudian Umar pun ke rumah Nabi dan terjadi hal yang sama. Umar kembali pulang dalam keadaan menangis. Di jalan bertemu dengan Salman al-Farisi dan menceritakannya. Salman pun ikut menangis namun tidak berani melakukan hal yang sama. Kemudian Salman melangkah menuju rumah Fathimah radhiyallahu anha menceritakan hal itu. Setelah berlari, Fatimah menuju rumah ayah tercinta sambil mengetuk pintu mengucapkan salam.
Mendengar suara lembut putri tercinta, sejuklah dada Rasulullah. Beliau bangkit dari sujud dan membuka pintu. Alangkah terkejutnya Fatimah melihatnya ayahnya amat kurus dan pucat. Fatimah memeluknya dan menangis dan menanyakan. Nabi kembali menangis dan berkata: bagaimana mungkin aku tidak sedih sedangkan Jibril mengatakan akan ada kelak umatku yang akan masuk neraka.
Kisah itu disampaikan dengan gaya bertutur yang mengundang keharuan. Ustadz yang menyampaikan juga menangis. Ingin menunjukkan demikian cintanya Rasulullah ﷺ kepada umatnya.
NAMUN, APAKAH HADITS ITU SHAHIH?
Setelah dilakukan penelusuran dan pengkajian, hadits tersebut ada dalam kitab Tanbihul Ghafilin nomor hadits 110 halaman 49-50. Redaksi kalimat yang dikutip dalam kitab itu lebih panjang dari yang dikisahkan di video tersebut. Kesimpulannya adalah hadits tersebut sangat lemah.
Dalam kitab Tanbihul Ghafilin tersebut, hadits itu dinyatakan dengan kutipan:
روى يزيد الرقاشي عن أنس بن مالك قال: جاء جبريل إلى النبي ﷺ في ساعةٍ ما كان يأتيه فيها متغيّر اللون، فقال له النبي ﷺ: (( مالي أراك متغير اللون )) فقال: يا محمد جئتُكَ في الساعة التي أمر الله بمنافخ النار أن تنفخ فيها...
Yazid arRoqoosyi meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Jibril datang kepada Nabi ﷺ di waktu yang tidak biasanya Jibril mendatangi beliau.
Jibril datang dengan wajah yang berubah (tampak sedih). Nabi ﷺ pun bertanya kepadanya: Mengapa aku melihat engkau berubah? Jibril berkata: Wahai Muhammad, aku datang di waktu Allah memerintahkan kepada (Malaikat) peniup api neraka untuk meniupkan (menyalakan) api neraka….
Di antara potongan lafadz hadits yang disebutkan dalam kitab Tanbihul Ghofilin tersebut, dinyatakan:
ألا تخبرني من سكان الباب السابع ؟ فقال: فيه أهل الكبائر من أمتك الذين ماتوا و لم يتوبوا . فخَرّ النبي ﷺ مغشيّاً عليه، فوضع جبريل رأسه على حِجْرِه حتى أفاق، فلما أفاق قال عليه الصلاة و السلام: (( يا جبريل عَظُمَتْ مصيبتي ، و اشتدّ حزني ، أَوَ يدخل أحدٌ من أمتي النار ؟؟؟ )) قال: نعم ، أهل الكبائر من أمتك . .ثم بكى رسول الله ﷺ، و بكى جبريل ..و دخل رسول الله ﷺ منزله و احتجب عن الناس ، فكان لا يخرج إلا إلى الصلاة يصلي و يدخل و لا يكلم أحداً، يأخذ في الصلاة يبكي و يتضرّع إلى الله تعالى . فلما كان اليوم الثالث ، أقبل أبو بكر رضي الله عنه حتى وقف بالباب...
"Maukah engkau memberitahukan kepadaku penghuni pintu ke-7? Jibril berkata: Itu adalah para pelaku dosa besar dari umatmu yang meninggal namun belum bertobat. Kemudian Nabi ﷺ jatuh pingsan. Jibril pun meletakkan kepala beliau di pangkuannya hingga siuman. Ketika siuman, beliau bertanya: Wahai Jibril, begitu besar musibahku. Begitu besar kesedihanku. Apakah ada umatku yang akan masuk neraka? Jibril menjawab: Ya. Orang-orang pelaku dosa besar dari umatmu…kemudian Rasulullah ﷺ menangis dan Jibril pun menangis. Rasulullah ﷺ masuk ke rumah beliau dan menghindar dari manusia. Beliau tidaklah keluar kecuali untuk shalat. (Jika datang waktu shalat) beliau shalat kemudian masuk (rumah lagi) dan tidak berbicara dengan siapapun. Beliau menangis dan shalat dan merendahkan diri kepada Allah Ta’ala. Pada hari ketiga, Abu Bakr radhiyallahu anhu datang hingga berdiri di pintu…"
Demikianlah sebagian kutipan dan terjemahan lafadz hadits yang panjang yang disebutkan dalam kitab Tanbihul Ghafilin nomor hadits 110 halaman 49-50.
Hadits tersebut sangat lemah (dhaif jiddan), karena setidaknya 2 sebab:
1. Ada perawi yang sangat lemah dan ditinggalkan periwayatannya, yaitu Yazid arRaqaasyi.
2. Terputus sanadnya. Hadits itu disampaikan secara mu’allaq. Menunjukkan terputusnya sanad. Karena, penyusun kitab itu yaitu Abul Laits Nashr bin Muhammad bin Ibrahim as-Samarqandiy meninggal di tahun 375 Hijriyah. Sedangkan Yazid arRaqaasyi adalah seorang Tabi’i meninggal di kisaran 100-an Hijriyah. Terpaut jarak masa hidup yang panjang antar keduanya. Selain muallaq juga mu’dhol (terputusnya sanad pada dua perawi atau lebih secara berurutan).
Bagaimanakah penilaian Ulama hadits terhadap perawi yang bernama Yazid (bin Abaan) arRaqaasyi? Al-Imam anNasaai menilai bahwa ia adalah perawi yang matruk (ditinggalkan periwayatannya). Al-Imam Ahmad menilainya sebagai munkarul hadits. Ad-Daraquthniy menilainya lemah.
Kitab Tanbihul Ghafilin karya Abul Laits as-Samarqandiy mengandung hadits yang lemah dan palsu selain juga ada hadits yang shahih. Karena itu, Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin menganjurkan agar janganlah membaca kitab tersebut kecuali orang yang bisa membedakan mana hadits shahih dan mana yang dhaif.
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:
وأما تنبيه الغافلين فهو كتاب وعظ، وغالب كتب المواعظ يكون فيها الضعيف وربما الموضوع، ويكون فيها حكايات غير صحيحة يريد المؤلفون بها أن يرققوا القلوب وأن يبكوا العيون، ولكن هذا ليس بطريقٍ سديد؛ لأن فيما جاء في كتاب الله وصح عن رسول الله ﷺ من المواعظ كفاية، ولا ينبغي أن يوعظ الناس بأشياء غير صحيحة، سواء نسبت إلى الرسول ﷺ أو نسبت إلى قومٍ صالحين، قد يكونون أخطؤوا فيما ذهبوا إليه من الأقوال أو الأعمال، والكتاب فيه أشياء لا بأس، بها ومع ذلك فإني لا أنصح أن يقرأه إلا شخص عنده علم وفهم وتمييز بين الصحيح والضعيف والموقوف
"Adapun Tanbihul Ghofilin (karya Abul Laits as-Samarqandiy, pent) adalah kitab berisi nasihat. Kebanyakan kitab-kitab nasihat di dalamnya terdapat riwayat yang dhaif, dan kadangkala maudhu’ (palsu). Di dalamnya terdapat kisah-kisah yang tidak benar.
Di antara potongan lafadz hadits yang disebutkan dalam kitab Tanbihul Ghofilin tersebut, dinyatakan:
ألا تخبرني من سكان الباب السابع ؟ فقال: فيه أهل الكبائر من أمتك الذين ماتوا و لم يتوبوا . فخَرّ النبي ﷺ مغشيّاً عليه، فوضع جبريل رأسه على حِجْرِه حتى أفاق، فلما أفاق قال عليه الصلاة و السلام: (( يا جبريل عَظُمَتْ مصيبتي ، و اشتدّ حزني ، أَوَ يدخل أحدٌ من أمتي النار ؟؟؟ )) قال: نعم ، أهل الكبائر من أمتك . .ثم بكى رسول الله ﷺ، و بكى جبريل ..و دخل رسول الله ﷺ منزله و احتجب عن الناس ، فكان لا يخرج إلا إلى الصلاة يصلي و يدخل و لا يكلم أحداً، يأخذ في الصلاة يبكي و يتضرّع إلى الله تعالى . فلما كان اليوم الثالث ، أقبل أبو بكر رضي الله عنه حتى وقف بالباب...
"Maukah engkau memberitahukan kepadaku penghuni pintu ke-7? Jibril berkata: Itu adalah para pelaku dosa besar dari umatmu yang meninggal namun belum bertobat. Kemudian Nabi ﷺ jatuh pingsan. Jibril pun meletakkan kepala beliau di pangkuannya hingga siuman. Ketika siuman, beliau bertanya: Wahai Jibril, begitu besar musibahku. Begitu besar kesedihanku. Apakah ada umatku yang akan masuk neraka? Jibril menjawab: Ya. Orang-orang pelaku dosa besar dari umatmu…kemudian Rasulullah ﷺ menangis dan Jibril pun menangis. Rasulullah ﷺ masuk ke rumah beliau dan menghindar dari manusia. Beliau tidaklah keluar kecuali untuk shalat. (Jika datang waktu shalat) beliau shalat kemudian masuk (rumah lagi) dan tidak berbicara dengan siapapun. Beliau menangis dan shalat dan merendahkan diri kepada Allah Ta’ala. Pada hari ketiga, Abu Bakr radhiyallahu anhu datang hingga berdiri di pintu…"
Demikianlah sebagian kutipan dan terjemahan lafadz hadits yang panjang yang disebutkan dalam kitab Tanbihul Ghafilin nomor hadits 110 halaman 49-50.
Hadits tersebut sangat lemah (dhaif jiddan), karena setidaknya 2 sebab:
1. Ada perawi yang sangat lemah dan ditinggalkan periwayatannya, yaitu Yazid arRaqaasyi.
2. Terputus sanadnya. Hadits itu disampaikan secara mu’allaq. Menunjukkan terputusnya sanad. Karena, penyusun kitab itu yaitu Abul Laits Nashr bin Muhammad bin Ibrahim as-Samarqandiy meninggal di tahun 375 Hijriyah. Sedangkan Yazid arRaqaasyi adalah seorang Tabi’i meninggal di kisaran 100-an Hijriyah. Terpaut jarak masa hidup yang panjang antar keduanya. Selain muallaq juga mu’dhol (terputusnya sanad pada dua perawi atau lebih secara berurutan).
Bagaimanakah penilaian Ulama hadits terhadap perawi yang bernama Yazid (bin Abaan) arRaqaasyi? Al-Imam anNasaai menilai bahwa ia adalah perawi yang matruk (ditinggalkan periwayatannya). Al-Imam Ahmad menilainya sebagai munkarul hadits. Ad-Daraquthniy menilainya lemah.
Kitab Tanbihul Ghafilin karya Abul Laits as-Samarqandiy mengandung hadits yang lemah dan palsu selain juga ada hadits yang shahih. Karena itu, Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin menganjurkan agar janganlah membaca kitab tersebut kecuali orang yang bisa membedakan mana hadits shahih dan mana yang dhaif.
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:
وأما تنبيه الغافلين فهو كتاب وعظ، وغالب كتب المواعظ يكون فيها الضعيف وربما الموضوع، ويكون فيها حكايات غير صحيحة يريد المؤلفون بها أن يرققوا القلوب وأن يبكوا العيون، ولكن هذا ليس بطريقٍ سديد؛ لأن فيما جاء في كتاب الله وصح عن رسول الله ﷺ من المواعظ كفاية، ولا ينبغي أن يوعظ الناس بأشياء غير صحيحة، سواء نسبت إلى الرسول ﷺ أو نسبت إلى قومٍ صالحين، قد يكونون أخطؤوا فيما ذهبوا إليه من الأقوال أو الأعمال، والكتاب فيه أشياء لا بأس، بها ومع ذلك فإني لا أنصح أن يقرأه إلا شخص عنده علم وفهم وتمييز بين الصحيح والضعيف والموقوف
"Adapun Tanbihul Ghofilin (karya Abul Laits as-Samarqandiy, pent) adalah kitab berisi nasihat. Kebanyakan kitab-kitab nasihat di dalamnya terdapat riwayat yang dhaif, dan kadangkala maudhu’ (palsu). Di dalamnya terdapat kisah-kisah yang tidak benar.
Para penulisnya menginginkan untuk melembutkan hati (pembaca) dan membuat mereka menangis. Namun, itu bukanlah metode yang benar. Karena nasihat yang berasal dari Kitab Allah dan hadits yang shahih dari Rasulullah ﷺ sudah mencukupi. Tidak boleh menasihati manusia dengan hal-hal yang tidak shahih. Baik engkau nisbatkan kepada kepada Rasul ﷺ atau engkau nisbatkan kepada orang shalih. Kadangkala mereka salah dalam ucapan atau perbuatannya. Kitab itu juga berisi hal-hal yang tidak mengapa (diambil pelajaran). Namun, meskipun demikian, aku tidak menasihatkan membacanya kecuali bagi seorang yang memiliki ilmu dan paham bisa membedakan antara yang shahih, dhaif, dan mauquf (Fataawa Nuurun alad Darb libni Utsaimin)
Apabila kita hendak menyampaikan nasihat berupa suatu hadits, pastikanlah terlebih dahulu keshahihan riwayat hadits tersebut. Masih banyak hadits-hadits shahih yang menunjukkan begitu besar kecintaan dan kasih sayang Nabi Muhammad ﷺ kepada umatnya.
Di antara hadits shahih yang menunjukkan begitu besarnya kecintaan dan kasih sayang Nabi kepada umatnya dan mengkhawatirkan adzab bagi umatnya, adalah hadits dalam Shahih Muslim:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِىَّ -ﷺ- تَلاَ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِى إِبْرَاهِيمَ ( رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِى فَإِنَّهُ مِنِّى) الآيَةَ. وَقَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ ( إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ « اللَّهُمَّ أُمَّتِى أُمَّتِى ». وَبَكَى فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ فَسَلْهُ مَا يُبْكِيكَ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ - عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ - فَسَأَلَهُ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ -ﷺ- بِمَا قَالَ. وَهُوَ أَعْلَمُ. فَقَالَ اللَّهُ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ فَقُلْ إِنَّا سَنُرْضِيكَ فِى أُمَّتِكَ وَلاَ نَسُوءُكَ.
dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash –semoga Allah meridhainya- bahwa Nabi ﷺ membaca firman Allah Azza Wa Jalla (tentang ucapan) Ibrahim:
رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِى فَإِنَّهُ مِنِّى
Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia. Barangsiapa yang mengikutiku, maka ia adalah bagianku (Q.S Ibrahim ayat 36)
Dan Isa alaihissalam berkata (sebagaimana dalam al-Quran):
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Jika Engkau mengadzab mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu. Jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S al-Maaidah ayat 118)
Kemudian Nabi (Muhammad) mengangkat kedua tangannya dan berkata: Ya Allah, umatku…umatku…Beliau menangis. Allah Azza Wa Jalla berfirman: Wahai Jibril, pergilah ke Muhammad –padahal Rabbmu lebih tahu- tanyakan kepada dia apa yang menyebabkan ia menangis. Kemudian Jibril alaihissholaatu wassalaam mendatangi beliau dan menanyakan kepada beliau. Rasulullah ﷺ mengkhabarkan kepadanya apa yang diucapkannya, dalam keadaan Allah Paling Mengetahui. Allah berfirman: Wahai Jibril, pergilah ke Muhammad dan sampaikan kepadanya bahwa Kami akan membuatmu ridha terhadap umatmu dan tidak akan membuatmu bersedih (H.R Muslim)
Di antara hal yang membuat ridha Nabi Muhammad ﷺ adalah bahwa umat beliau yang tetap menjaga tauhidnya, tetap sebagai muslim, akan berujung ke surga semua. Meski sebelumnya, mungkin ada yang sempat masuk ke neraka karena dosanya, namun kemudian akan dikeluarkan dari neraka dan masuk surga. Ada pula yang langsung masuk surga dengan rahmat Allah Azza Wa Jalla.
Wallaahu A’lam
(Abu Utsman Kharisman) - WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Apabila kita hendak menyampaikan nasihat berupa suatu hadits, pastikanlah terlebih dahulu keshahihan riwayat hadits tersebut. Masih banyak hadits-hadits shahih yang menunjukkan begitu besar kecintaan dan kasih sayang Nabi Muhammad ﷺ kepada umatnya.
Di antara hadits shahih yang menunjukkan begitu besarnya kecintaan dan kasih sayang Nabi kepada umatnya dan mengkhawatirkan adzab bagi umatnya, adalah hadits dalam Shahih Muslim:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِىَّ -ﷺ- تَلاَ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِى إِبْرَاهِيمَ ( رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِى فَإِنَّهُ مِنِّى) الآيَةَ. وَقَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ ( إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ « اللَّهُمَّ أُمَّتِى أُمَّتِى ». وَبَكَى فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ فَسَلْهُ مَا يُبْكِيكَ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ - عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ - فَسَأَلَهُ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ -ﷺ- بِمَا قَالَ. وَهُوَ أَعْلَمُ. فَقَالَ اللَّهُ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ فَقُلْ إِنَّا سَنُرْضِيكَ فِى أُمَّتِكَ وَلاَ نَسُوءُكَ.
dari Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash –semoga Allah meridhainya- bahwa Nabi ﷺ membaca firman Allah Azza Wa Jalla (tentang ucapan) Ibrahim:
رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِى فَإِنَّهُ مِنِّى
Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia. Barangsiapa yang mengikutiku, maka ia adalah bagianku (Q.S Ibrahim ayat 36)
Dan Isa alaihissalam berkata (sebagaimana dalam al-Quran):
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Jika Engkau mengadzab mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu. Jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S al-Maaidah ayat 118)
Kemudian Nabi (Muhammad) mengangkat kedua tangannya dan berkata: Ya Allah, umatku…umatku…Beliau menangis. Allah Azza Wa Jalla berfirman: Wahai Jibril, pergilah ke Muhammad –padahal Rabbmu lebih tahu- tanyakan kepada dia apa yang menyebabkan ia menangis. Kemudian Jibril alaihissholaatu wassalaam mendatangi beliau dan menanyakan kepada beliau. Rasulullah ﷺ mengkhabarkan kepadanya apa yang diucapkannya, dalam keadaan Allah Paling Mengetahui. Allah berfirman: Wahai Jibril, pergilah ke Muhammad dan sampaikan kepadanya bahwa Kami akan membuatmu ridha terhadap umatmu dan tidak akan membuatmu bersedih (H.R Muslim)
Di antara hal yang membuat ridha Nabi Muhammad ﷺ adalah bahwa umat beliau yang tetap menjaga tauhidnya, tetap sebagai muslim, akan berujung ke surga semua. Meski sebelumnya, mungkin ada yang sempat masuk ke neraka karena dosanya, namun kemudian akan dikeluarkan dari neraka dan masuk surga. Ada pula yang langsung masuk surga dengan rahmat Allah Azza Wa Jalla.
Wallaahu A’lam
(Abu Utsman Kharisman) - WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 KEDUA ORANG YANG SALING MENCINTAI KARENA ALLAH BERTEMU DAN BERPISAH KARENA ALLAH
Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
Dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah. Keduanya saling bersatu karenaNya dan berpisah karenaNya. Yaitu masing-masing saling mencintai yang lain, bukan karena (tujuan apapun) selain Allah Azza Wa Jalla.
Padahal di antara keduanya tidak ada hubungan kekerabatan, pertalian harta, atau pertemanan secara tabiat. Hal yang membuatnya saling cinta adalah Allah Azza Wa Jalla.
Karena ia melihat (saudaranya itu) taat beribadah kepada Allah, istiqomah dalam menjalankan syariatNya. Maka ia mencintainya.
Kalaupun ada hubungan kekerabatan atau pertemanan dan semisalnya di antara keduanya, tidak ada halangan baginya mencintainya karena 2 sisi:
◽️sisi kekerabatan (pertemanan) dan
◽️sisi keimanan.
Kedua orang ini saling mencintai karena Allah menjadi 2 saudara karena ikat syar’i Diiniyyah yaitu ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Keduanya bersatu (berkumpul) di dunia dan terpisah karenanya. Yaitu tidaklah ada yang memisahkan keduanya kecuali kematian.
Kedua orang ini akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari saat tidak ada naungan kecuali naungan (dari)Nya.
Kedua orang itu juga dengan sikap saling cinta di antara keduanya, pada hari kiamat akan menjadi seperti yang disebutkan Allah Ta’ala:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
"Para sahabat dekat (yang saling mencintai) pada hari itu saling bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa" (Q.S az-Zukhruf ayat 67)
Hubungan pertemanan itu akan tetap kekal di dunia dan di akhirat.
(Syarh Riyadh as-Shalihin libni Utsaimin (1/68))
🇸🇦 Naskah Asli dalam Bahasa Arab:
رجلان تحابا في الله اجتمعا عليه وتفرقا عليه أي حب بعضهما بعضا لا لشيء سوى الله عز وجل فليس بينهما قرابة ولا صلة مالية ولا صداقة طبيعية إنما أحبه في الله عز وجل لأنه رآه عابدا لله مستقيما على شرعه فأحبه وإذا كان قريبا أو صديقا وما أشبه ذلك فلا مانع من أن يحبه من وجهين من جهة القرابة والصداقة ومن الجهة الإيمانية فهذان تحابا في الله وصارا كالأخوين لما بينهما من الرابطة الشرعية الدينية وهي عبادة الله سبحانه وتعالى اجتمعا عليه في الدنيا وتفرقا عليه أي لم يفرق بينهما إلا الموت هذان يظلهما الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله ويكونان يوم القيامة على محبتهما وعلى خلتهما كما قال الله تعالى { الأخلاء يومئذ بعضهم لبعض عدو إلا المتقين } تبقى الصداقة في الدنيا والآخرة
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 KEDUA ORANG YANG SALING MENCINTAI KARENA ALLAH BERTEMU DAN BERPISAH KARENA ALLAH
Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
Dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah. Keduanya saling bersatu karenaNya dan berpisah karenaNya. Yaitu masing-masing saling mencintai yang lain, bukan karena (tujuan apapun) selain Allah Azza Wa Jalla.
Padahal di antara keduanya tidak ada hubungan kekerabatan, pertalian harta, atau pertemanan secara tabiat. Hal yang membuatnya saling cinta adalah Allah Azza Wa Jalla.
Karena ia melihat (saudaranya itu) taat beribadah kepada Allah, istiqomah dalam menjalankan syariatNya. Maka ia mencintainya.
Kalaupun ada hubungan kekerabatan atau pertemanan dan semisalnya di antara keduanya, tidak ada halangan baginya mencintainya karena 2 sisi:
◽️sisi kekerabatan (pertemanan) dan
◽️sisi keimanan.
Kedua orang ini saling mencintai karena Allah menjadi 2 saudara karena ikat syar’i Diiniyyah yaitu ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Keduanya bersatu (berkumpul) di dunia dan terpisah karenanya. Yaitu tidaklah ada yang memisahkan keduanya kecuali kematian.
Kedua orang ini akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari saat tidak ada naungan kecuali naungan (dari)Nya.
Kedua orang itu juga dengan sikap saling cinta di antara keduanya, pada hari kiamat akan menjadi seperti yang disebutkan Allah Ta’ala:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
"Para sahabat dekat (yang saling mencintai) pada hari itu saling bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa" (Q.S az-Zukhruf ayat 67)
Hubungan pertemanan itu akan tetap kekal di dunia dan di akhirat.
(Syarh Riyadh as-Shalihin libni Utsaimin (1/68))
🇸🇦 Naskah Asli dalam Bahasa Arab:
رجلان تحابا في الله اجتمعا عليه وتفرقا عليه أي حب بعضهما بعضا لا لشيء سوى الله عز وجل فليس بينهما قرابة ولا صلة مالية ولا صداقة طبيعية إنما أحبه في الله عز وجل لأنه رآه عابدا لله مستقيما على شرعه فأحبه وإذا كان قريبا أو صديقا وما أشبه ذلك فلا مانع من أن يحبه من وجهين من جهة القرابة والصداقة ومن الجهة الإيمانية فهذان تحابا في الله وصارا كالأخوين لما بينهما من الرابطة الشرعية الدينية وهي عبادة الله سبحانه وتعالى اجتمعا عليه في الدنيا وتفرقا عليه أي لم يفرق بينهما إلا الموت هذان يظلهما الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله ويكونان يوم القيامة على محبتهما وعلى خلتهما كما قال الله تعالى { الأخلاء يومئذ بعضهم لبعض عدو إلا المتقين } تبقى الصداقة في الدنيا والآخرة
Penerjemah: Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
"INI SIHIR!" ADALAH UNGKAPAN YANG BIASA DIUCAPKAN ORANG-ORANG MUSYRIK UNTUK MENOLAK DAN MENCELA AL-HAQ
@annajiyahbatam
#bayan_sihir
@annajiyahbatam
#bayan_sihir
::
📬 "INI SIHIR!" ADALAH UNGKAPAN YANG BIASA DIUCAPKAN ORANG-ORANG MUSYRIK UNTUK MENOLAK AL-HAQ
Allah Ta'ala berfirman :
﴿وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ﴾
"Dan jika mereka melihat suatu ayat, mereka berpaling dan berkata, "(Ini adalah) sihir yang batil." (QS. al-Qomar : 2)
__________________
Berkata al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah tentang tafsir ayat di atas :
"Dan firman-Nya :
◻️ ﴿وَإِنْ يَرَوْا آيَةً﴾
"Dan jika mereka melihat suatu ayat..."
أَيْ دَلِيلًا وَحُجَّةً وَبُرْهَانًا
Yaitu dalil, hujjah, dan bukti,
◻️ ﴿يُعْرِضُوا﴾
"...mereka berpaling..."
أَيْ لَا يَنْقَادُونَ لَهُ بَلْ يُعْرِضُونَ عَنْهُ وَيَتْرُكُونَهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ
Yaitu tidak mau tunduk kepadanya (al-haq), bahkan berpaling darinya dan meninggalkannya di belakang punggung-punggung mereka.
◻️ ﴿وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ﴾
"...dan berkata, "(Ini adalah) sihir yang batil."
أَيْ وَيَقُولُونَ هَذَا الَّذِي شَاهَدْنَاهُ مِنَ الْحُجَجِ سِحْرٌ سُحِرْنَا بِهِ وَمَعْنَى مُسْتَمِرٌّ أَيْ ذَاهِبٌ، قَالَهُ مُجَاهِدٌ وقَتَادَةُ وَغَيْرُهُمَا: أَيْ بَاطِلٌ مُضْمَحِلٌّ لَا دَوَامَ لَهُ
Yaitu mereka berkata, "Apa yang kami saksikan dari hujjah-hujjah ini adalah sihir yang kami tersihir dengannya." Makna 'mustamir' adalah 'dzahib', -dinyatakan oleh Mujahid, Qotadah, dan selain keduanya- yaitu batil dan lenyap serta tidak akan kekal / bertahan lama." (Tafsir al-Qur'an al-'Azhim)
#bayan_sihir
🌐 www.salafybatam.com |@annajiyahbatam
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 "INI SIHIR!" ADALAH UNGKAPAN YANG BIASA DIUCAPKAN ORANG-ORANG MUSYRIK UNTUK MENOLAK AL-HAQ
Allah Ta'ala berfirman :
﴿وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ﴾
"Dan jika mereka melihat suatu ayat, mereka berpaling dan berkata, "(Ini adalah) sihir yang batil." (QS. al-Qomar : 2)
__________________
Berkata al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah tentang tafsir ayat di atas :
"Dan firman-Nya :
◻️ ﴿وَإِنْ يَرَوْا آيَةً﴾
"Dan jika mereka melihat suatu ayat..."
أَيْ دَلِيلًا وَحُجَّةً وَبُرْهَانًا
Yaitu dalil, hujjah, dan bukti,
◻️ ﴿يُعْرِضُوا﴾
"...mereka berpaling..."
أَيْ لَا يَنْقَادُونَ لَهُ بَلْ يُعْرِضُونَ عَنْهُ وَيَتْرُكُونَهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ
Yaitu tidak mau tunduk kepadanya (al-haq), bahkan berpaling darinya dan meninggalkannya di belakang punggung-punggung mereka.
◻️ ﴿وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ﴾
"...dan berkata, "(Ini adalah) sihir yang batil."
أَيْ وَيَقُولُونَ هَذَا الَّذِي شَاهَدْنَاهُ مِنَ الْحُجَجِ سِحْرٌ سُحِرْنَا بِهِ وَمَعْنَى مُسْتَمِرٌّ أَيْ ذَاهِبٌ، قَالَهُ مُجَاهِدٌ وقَتَادَةُ وَغَيْرُهُمَا: أَيْ بَاطِلٌ مُضْمَحِلٌّ لَا دَوَامَ لَهُ
Yaitu mereka berkata, "Apa yang kami saksikan dari hujjah-hujjah ini adalah sihir yang kami tersihir dengannya." Makna 'mustamir' adalah 'dzahib', -dinyatakan oleh Mujahid, Qotadah, dan selain keduanya- yaitu batil dan lenyap serta tidak akan kekal / bertahan lama." (Tafsir al-Qur'an al-'Azhim)
#bayan_sihir
🌐 www.salafybatam.com |@annajiyahbatam
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 LANGSUNG PERCAYA DAN MENERIMA BERITA DARI ORANG YANG BARU KENAL
Ibnu Uyainah berkisah, Imam ats-Tsauri memang menakjubkan. Suatu saat beliau pernah mengucapkan padaku,
عجبًا لرجل يعرفه صاحبه بمودته ونصيحته ولا يعلم منه إلا خيرا خمسين سنة ثم يأتيه رجل لا يعرفه فيخبره عنه بسوء فيقبله منه!
"Aneh sekali ada seorang yang sangat mengenal sahabat karibnya yang begitu mencintai dan gemar memberi nasehat kepadanya selama 50 tahun hanya kebaikan yang ia ketahui dari kawannya ini.
Suatu saat, tiba-tiba datang seseorang yang tidak begitu ia kenal. Ia memberitakan cerita buruk tentang sahabat karibnya tadi. Anehnya, dia langsung menerima berita tersebut !!"
🌼 Ansabu Al-Asyraf 11/314 @SyababSalafy
#bayan_majhul_diterima #majahil
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 LANGSUNG PERCAYA DAN MENERIMA BERITA DARI ORANG YANG BARU KENAL
Ibnu Uyainah berkisah, Imam ats-Tsauri memang menakjubkan. Suatu saat beliau pernah mengucapkan padaku,
عجبًا لرجل يعرفه صاحبه بمودته ونصيحته ولا يعلم منه إلا خيرا خمسين سنة ثم يأتيه رجل لا يعرفه فيخبره عنه بسوء فيقبله منه!
"Aneh sekali ada seorang yang sangat mengenal sahabat karibnya yang begitu mencintai dan gemar memberi nasehat kepadanya selama 50 tahun hanya kebaikan yang ia ketahui dari kawannya ini.
Suatu saat, tiba-tiba datang seseorang yang tidak begitu ia kenal. Ia memberitakan cerita buruk tentang sahabat karibnya tadi. Anehnya, dia langsung menerima berita tersebut !!"
🌼 Ansabu Al-Asyraf 11/314 @SyababSalafy
#bayan_majhul_diterima #majahil
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 KISAH SYAIKH AL-BAKRI DI NEGERI INDIA
Sebuah kisah nyata diceritakan oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathif alu Syaikh dalam Kitab Majmu’ Fatawa wa Rasail. Kitab ini merupakan hasil karya yang dikumpulkan oleh Muhammad bin Abdurrahman bin Qasim.
Beliau menyampaikan kisah ini dua kali, sebagaimana disebutkan dalam catatan kaki.
Kisah selengkapnya sebagai berikut, Sekarang saya (Syaikh Muhammad) akan menceritakan kisah Abdurrahman al-Bakri, seorang penduduk Nejed. Beliau dahulu adalah seorang penuntut ilmu di hadapan paman saya, Syaikh Abdullah (bin Abdul Lathif) dan ulama lainnya.
Setelah itu, beliau memutuskan untuk membuka madrasah di wilayah Oman dari jerih payah beliau sendiri. Di sana, Abdurrahman al-Bakri mengajarkan tauhid kepada para muridnya.
Apabila uangnya habis, al-Bakri bekerja sama dengan pemilik barang dagangan lalu ia menjualkannya ke India.
Syaikh al-Bakri berkisah,
Dahulu aku tinggal di dekat masjid di India. Di masjid tersebut ada seorang pengajar, apabila ia selesai dari pelajaran yang diajarkan, ia melaknat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Setiap keluar dari masjid, ia datang menemuiku. Ia berkata, “Saya bisa berbahasa arab dengan baik namun saya ingin mendengarkannya dari orang Arab asli,” sambil ia meminum air dingin di dekatku.
Kalimat-kalimatnya di saat ia menyampaikan pelajaran membuatku gelisah.
Syaikh al-Bakri melanjutkan kisahnya, aku lalu menyiapkan siasat untuknya dengan mengundangnya ke rumahku.
Aku ambil kitab Tauhid, kulepaskan sampulnya lalu kuletakkan di rak rumah sebelum kedatangan pengajar tadi. Saat ia hadir di rumah, kukatakan kepadanya, “Aku minta izin mengambil semangka.” Lantas akupun pergi meninggalkannya.
Tatkala aku kembali kepadanya, tiba tiba ia sedang membaca buku dan mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berkata, “Siapa penulis kitab ini? Judul-judul bab yang ada pada kitab ini mirip dengan judul-judul bab dalam Shahih al-Bukhari. Metodologi penulisan kitab ini, demi Allah sama persis dengan Shahih al-Bukhari.”
“Aku tidak tahu,” jawab Syaikh al-Bakri. “Tidakkah kita pergi ke Syaikh al-Ghazawi, kita tanyakan kepadanya siapa penulis kitab ini?” kata Syaikh al-Bakri lagi.
Syaikh al-Ghazawi adalah pemilik perpustakaan. Beliau memiliki kitab bantahan terhadap Jami-ul Bayan. Kami pun pergi ke sana dan menemui Syaikh al-Ghazawi.
Syaikh al-Bakri berkata kepada Syaikh al-Ghazawi, “Saya memiliki kumpulan kertas yang penulisnya ditanyakan oleh syaikh pengajar? Namun saya tidak mengetahuinya.” Syaikh al-Ghazawi memahami maksud dan tujuan kami.
Beliau lalu memanggil petugas, “Siapa yang bisa membawakan kitab Majmu’ah Tauhid?” Kemudian didatangkanlah kitab tersebut. Beliau membandingkan isi kumpulan kertas dengan kitab Majmu’ah Tauhid.
Syaikh al-Ghazawi berkata, “Kumpulan kertas ini karya Muhammad bin Abdul Wahhab.” Seketika itu juga, si pengajar sekaligus alim India itu marah seraya meninggikan suaranya, “Si kafir.” Mendengar itu kami terdiam.
Alim India itupun diam sejenak hingga kemarahannya mereda hingga ia mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Kemudian ia berkata, “Jika kitab ini adalah karyanya sungguh kami telah menzhaliminya.”
Akhirnya, setiap selesai pelajaran, ia mendoakan kebaikan bagi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Demikian pula para muridnya, mereka ikut mendoakan kebaikan untuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Selanjutnya, murid-murid sang alim India itu tersebar di berbagai wilayah India.
Apabila mereka selesai menyampaikan pelajaran, mereka semua mendoakan kebaikan untuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. (Sumber Majmu’ Fatawa wa Rasail Jilid Pertama) —selesai penukilan—
📬 KISAH SYAIKH AL-BAKRI DI NEGERI INDIA
Sebuah kisah nyata diceritakan oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathif alu Syaikh dalam Kitab Majmu’ Fatawa wa Rasail. Kitab ini merupakan hasil karya yang dikumpulkan oleh Muhammad bin Abdurrahman bin Qasim.
Beliau menyampaikan kisah ini dua kali, sebagaimana disebutkan dalam catatan kaki.
Kisah selengkapnya sebagai berikut, Sekarang saya (Syaikh Muhammad) akan menceritakan kisah Abdurrahman al-Bakri, seorang penduduk Nejed. Beliau dahulu adalah seorang penuntut ilmu di hadapan paman saya, Syaikh Abdullah (bin Abdul Lathif) dan ulama lainnya.
Setelah itu, beliau memutuskan untuk membuka madrasah di wilayah Oman dari jerih payah beliau sendiri. Di sana, Abdurrahman al-Bakri mengajarkan tauhid kepada para muridnya.
Apabila uangnya habis, al-Bakri bekerja sama dengan pemilik barang dagangan lalu ia menjualkannya ke India.
Syaikh al-Bakri berkisah,
Dahulu aku tinggal di dekat masjid di India. Di masjid tersebut ada seorang pengajar, apabila ia selesai dari pelajaran yang diajarkan, ia melaknat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Setiap keluar dari masjid, ia datang menemuiku. Ia berkata, “Saya bisa berbahasa arab dengan baik namun saya ingin mendengarkannya dari orang Arab asli,” sambil ia meminum air dingin di dekatku.
Kalimat-kalimatnya di saat ia menyampaikan pelajaran membuatku gelisah.
Syaikh al-Bakri melanjutkan kisahnya, aku lalu menyiapkan siasat untuknya dengan mengundangnya ke rumahku.
Aku ambil kitab Tauhid, kulepaskan sampulnya lalu kuletakkan di rak rumah sebelum kedatangan pengajar tadi. Saat ia hadir di rumah, kukatakan kepadanya, “Aku minta izin mengambil semangka.” Lantas akupun pergi meninggalkannya.
Tatkala aku kembali kepadanya, tiba tiba ia sedang membaca buku dan mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berkata, “Siapa penulis kitab ini? Judul-judul bab yang ada pada kitab ini mirip dengan judul-judul bab dalam Shahih al-Bukhari. Metodologi penulisan kitab ini, demi Allah sama persis dengan Shahih al-Bukhari.”
“Aku tidak tahu,” jawab Syaikh al-Bakri. “Tidakkah kita pergi ke Syaikh al-Ghazawi, kita tanyakan kepadanya siapa penulis kitab ini?” kata Syaikh al-Bakri lagi.
Syaikh al-Ghazawi adalah pemilik perpustakaan. Beliau memiliki kitab bantahan terhadap Jami-ul Bayan. Kami pun pergi ke sana dan menemui Syaikh al-Ghazawi.
Syaikh al-Bakri berkata kepada Syaikh al-Ghazawi, “Saya memiliki kumpulan kertas yang penulisnya ditanyakan oleh syaikh pengajar? Namun saya tidak mengetahuinya.” Syaikh al-Ghazawi memahami maksud dan tujuan kami.
Beliau lalu memanggil petugas, “Siapa yang bisa membawakan kitab Majmu’ah Tauhid?” Kemudian didatangkanlah kitab tersebut. Beliau membandingkan isi kumpulan kertas dengan kitab Majmu’ah Tauhid.
Syaikh al-Ghazawi berkata, “Kumpulan kertas ini karya Muhammad bin Abdul Wahhab.” Seketika itu juga, si pengajar sekaligus alim India itu marah seraya meninggikan suaranya, “Si kafir.” Mendengar itu kami terdiam.
Alim India itupun diam sejenak hingga kemarahannya mereda hingga ia mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Kemudian ia berkata, “Jika kitab ini adalah karyanya sungguh kami telah menzhaliminya.”
Akhirnya, setiap selesai pelajaran, ia mendoakan kebaikan bagi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Demikian pula para muridnya, mereka ikut mendoakan kebaikan untuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Selanjutnya, murid-murid sang alim India itu tersebar di berbagai wilayah India.
Apabila mereka selesai menyampaikan pelajaran, mereka semua mendoakan kebaikan untuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. (Sumber Majmu’ Fatawa wa Rasail Jilid Pertama) —selesai penukilan—
Renungkanlah!
Seandainya Syaikh al-Bakri rahimahullah sejak awal menyertakan sampul Kitab Tauhid secara lengkap dengan nama penulis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, sangat mungkin alim India itu akan enggan membacanya.
Ia akan antipati terhadapnya dan tetap dalam pendiriannya memvonis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah sebagai kafir dan melaknatnya sebagaimana yang ia lakukan setiap selesai menyampaikan pelajaran.
Benar, alim India itu melakukannya karena terbawa isu-isu negatif dan pembunuhan karakter yang ditebarkan musuh-musuh dakwah tauhid.
Walhamdulillah, dengan hidayah dari Allah semata kemudian kecerdikan Syaikh al-Bakri, seorang yang semula membenci menjadi seorang yang dengan mudah mendoakan kebaikan untuk Syaikh Muhammad rahimahullah.
Dari kisah di atas, dengan izin Allah kemudian dengan cara ini, dakwah tauhid dan sunnah akhirnya diterima, walhamdulillah.
Sumber:
https://mahad-assalafy.com/kisah-syaikh-al-bakri-di-negeri-india/
#anonim #manhaj_gharib #anonimisasi #majhul
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Seandainya Syaikh al-Bakri rahimahullah sejak awal menyertakan sampul Kitab Tauhid secara lengkap dengan nama penulis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, sangat mungkin alim India itu akan enggan membacanya.
Ia akan antipati terhadapnya dan tetap dalam pendiriannya memvonis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah sebagai kafir dan melaknatnya sebagaimana yang ia lakukan setiap selesai menyampaikan pelajaran.
Benar, alim India itu melakukannya karena terbawa isu-isu negatif dan pembunuhan karakter yang ditebarkan musuh-musuh dakwah tauhid.
Walhamdulillah, dengan hidayah dari Allah semata kemudian kecerdikan Syaikh al-Bakri, seorang yang semula membenci menjadi seorang yang dengan mudah mendoakan kebaikan untuk Syaikh Muhammad rahimahullah.
Dari kisah di atas, dengan izin Allah kemudian dengan cara ini, dakwah tauhid dan sunnah akhirnya diterima, walhamdulillah.
Sumber:
https://mahad-assalafy.com/kisah-syaikh-al-bakri-di-negeri-india/
#anonim #manhaj_gharib #anonimisasi #majhul
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 DISYARIATKANNYA MENGGANTI IMAM SAAT BATAL DI TENGAH SHOLAT
Jika Imam tidak bisa melanjutkan sholat karena sebab tertentu seperti batal wudhu’nya, lupa belum berwudhu’, atau sebab lainnya, maka ia bisa memilih makmum untuk menggantikan dirinya dan meneruskan sholat.
Sebagaimana Umar bin al-Khotthob ketika ditikam pada sholat Subuh, beliau memegang tangan Abdurrahman bin Auf untuk menggantikan beliau sebagai Imam (H.R al-Bukhari).
Demikian juga Ali bin Abi Tholib pernah terkena mimisan di hidungnya, kemudian beliau memilih salah satu makmum untuk menjadi Imam menggantikannya (riwayat Said bin Manshur).
Yang dipilih untuk menggantikan Imam sebaiknya adalah seseorang yang ikut sholat berjamaah sejak awal.
Namun, jika yang dipilih menggantikan Imam adalah masbuq, maka masbuq melanjutkan Imam.
Saat semestinya salam, masbuq yang menjadi Imam itu memberikan isyarat dan makmum boleh memilih, apakah memisahkan diri (salam duluan), atau duduk menunggu Imam masbuq ini menyelesaikan sholatnya (al-Minhaj karya anNawawy (1/64)).
Sebagian Ulama menjelaskan bahwa Imam masbuq yang hendak sampai pada bagian salam untuk makmum, bisa memilih salah satu makmum menggantikan dirinya sebagai Imam, agar Imam dan makmum salam bersama-sama, sedangkan dirinya melanjutkan sholat sendirian.
Jika Imam tidak memilih seseorang untuk menggantikan, maka makmum bisa saja melakukan salah satu hal:
(1). Memilih (dengan memberi isyarat) agar salah satu makmum menjadi Imam, atau
(2). Melanjutkan sholat sebagai sholat sendiri-sendiri
(disarikan dari penjelasan Ibnu Qudamah dalam asy-Syarhul Kabiir (1/498)).
(dikutip dari buku "Fiqh Bersuci dan Sholat", Abu Utsman Kharisman, penerbit Cahaya Sunnah Bandung)
WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 DISYARIATKANNYA MENGGANTI IMAM SAAT BATAL DI TENGAH SHOLAT
Jika Imam tidak bisa melanjutkan sholat karena sebab tertentu seperti batal wudhu’nya, lupa belum berwudhu’, atau sebab lainnya, maka ia bisa memilih makmum untuk menggantikan dirinya dan meneruskan sholat.
Sebagaimana Umar bin al-Khotthob ketika ditikam pada sholat Subuh, beliau memegang tangan Abdurrahman bin Auf untuk menggantikan beliau sebagai Imam (H.R al-Bukhari).
Demikian juga Ali bin Abi Tholib pernah terkena mimisan di hidungnya, kemudian beliau memilih salah satu makmum untuk menjadi Imam menggantikannya (riwayat Said bin Manshur).
Yang dipilih untuk menggantikan Imam sebaiknya adalah seseorang yang ikut sholat berjamaah sejak awal.
Namun, jika yang dipilih menggantikan Imam adalah masbuq, maka masbuq melanjutkan Imam.
Saat semestinya salam, masbuq yang menjadi Imam itu memberikan isyarat dan makmum boleh memilih, apakah memisahkan diri (salam duluan), atau duduk menunggu Imam masbuq ini menyelesaikan sholatnya (al-Minhaj karya anNawawy (1/64)).
Sebagian Ulama menjelaskan bahwa Imam masbuq yang hendak sampai pada bagian salam untuk makmum, bisa memilih salah satu makmum menggantikan dirinya sebagai Imam, agar Imam dan makmum salam bersama-sama, sedangkan dirinya melanjutkan sholat sendirian.
Jika Imam tidak memilih seseorang untuk menggantikan, maka makmum bisa saja melakukan salah satu hal:
(1). Memilih (dengan memberi isyarat) agar salah satu makmum menjadi Imam, atau
(2). Melanjutkan sholat sebagai sholat sendiri-sendiri
(disarikan dari penjelasan Ibnu Qudamah dalam asy-Syarhul Kabiir (1/498)).
(dikutip dari buku "Fiqh Bersuci dan Sholat", Abu Utsman Kharisman, penerbit Cahaya Sunnah Bandung)
WA al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 JIKA IMAM SHOLAT ISYA 5 ROKA'AT DAN TIDAK ADA MAKMUM YANG MENGINGATKAN
Bismillah
Afwan ijin bertanya, Bagaimana sikap kita yang benar jika kita sholat isya dimana imam salah rokaatnya_ dan sholat 5 rekaat, dan dibelakang imam tidak ada yang mengingatkan kalau imam salah. Karena tidak ada yang mengingatkan imam tidak merasa salah, dan sebagian jamaah ada yang mengulang dan ada juga yang sujud sahwi. Bagaimana sikap kita yang benar apakah mengulang sholatnya atau bagaimana?
Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
Berikut ini potongan fatwa Syaikh Bin Baz rahimahullah, semoga bermanfaat:
وإذا قام إلى خامسة ولم يرجع بالتنبيه فإن المأمومين لا يقومون معه.. يجلسون، فإذا سلم سلموا معه؛ لأنهم غير معذورين، أما هو قد يكون معذوراً، قد يعتقد أنه مصيب فلهذا لم يرجع، وهو إذا اعتقد أنه مصيب لا يرجع.. يستمر ويكمل، لكن المأموم إن كان يعتقد أنه مصيب جلس وانتظر حتى يسلم مع إمامه، وإن كان ليس عنده علم فإنه يقوم مع الإمام ويتابع الإمام، هذا هو الأصل.
ومن قام مع الإمام وتابعه من أجل سهوه، أو لجهله بالحكم الشرعي.. ما يعلم الحكم الشرعي؛ فصلاته صحيحة ولو زاد؛ لأنه إما جاهل وإما ساهي فلا شيء عليه، وأما العالم بالحكم الشرعي والعالم بالسهو فإنه لا يتابع الإمام، بل يجلس وينتظر حتى يسلم مع إمامه، هذا هو الحكم الشرعي في هذه المسألة.
بعض الناس ما يعرف الأحكام يقوم ولو درى أنه ساهي يحسب أنه يلزمه، فيقوم يتابع الإمام، فهذا مادام قام جهلاً منه فإن صلاته صحيحة وليس عليه شيء، ولكن في المرة الأخرى إذا وقع هذا لا يقوم، متى عرف الحكم الشرعي لا يقوم بل يجلس وينتظر، يقرأ التحيات ويكملها ويدعو ربه، يشتغل بالدعاء حتى يسلم إمامه فيسلم معه.
"Jika (Imam) bangkit ke rakaat ke-5 dan tidak kembali meski diingatkan, makmum (semestinya) tidak bangkit bersama dia. Makmum hendaknya duduk. Jika imam nanti salam, makmum salam bersamanya. Karena mereka (para makmum) tidaklah memiliki udzur.
Adapun imam ia memiliki udzur. Kadangkala ia meyakini bahwa ia benar. Karena itu ia tidak kembali (turun).
Kalau ia meyakini bahwasanya ia benar, ia tidak kembali (turun). Ia akan terus dan menyempurnakannya.
Namun, makmum jika berkeyakinan bahwa dirinya benar, ia duduk menunggu, hingga salam bersama imam. Kalau makmum itu tidak berilmu, ia berdiri dan mengikuti imam. Ini adalah secara asal.
Barangsiapa yang berdiri bersama imam dan mengikutinya karena lupa atau ketidaktahuan terhadap hukum syar’i, shalatnya sah, meskipun ia menambah (rakaat). Karena ia bisa jadi tidak tahu atau lupa. Tidak ada tanggungan apapun baginya.
Adapun orang yang mengetahui hukum syar’i dan mengetahui bahwa imam lupa, ia tidak mengikuti imam. Justru ia semestinya duduk menunggu hingga salam bersama imam. Ini adalah hukum syar’i dalam masalah ini.
Sebagian orang tidak mengetahui hukum sehingga berdiri. Kalau ia mengetahui bahwasanya imam lupa ia merasa ia harus ikut berdiri mengikuti imam (juga). Makmum ini selama berdirinya karena ketidaktahuan, shalatnya sah. Tidak ada tanggungan apapun baginya.
Namun, lain kali jika terjadi hal semacam itu, ia mestinya tidak ikut berdiri. Jika ia telah mengetahui hukum syar’i, ia tidak berdiri (mengikuti imam yang lupa, pent), namun justru duduk dan menunggu. Ia membaca tahiyyat dan menyempurnakannya, kemudian berdoa kepada Rabbnya. Ia sibukkan dengan doa hingga saat imam salam, ia pun salam.
Sumber selengkapnya:
http://bit.ly/2IXjZQw
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 JIKA IMAM SHOLAT ISYA 5 ROKA'AT DAN TIDAK ADA MAKMUM YANG MENGINGATKAN
Bismillah
Afwan ijin bertanya, Bagaimana sikap kita yang benar jika kita sholat isya dimana imam salah rokaatnya_ dan sholat 5 rekaat, dan dibelakang imam tidak ada yang mengingatkan kalau imam salah. Karena tidak ada yang mengingatkan imam tidak merasa salah, dan sebagian jamaah ada yang mengulang dan ada juga yang sujud sahwi. Bagaimana sikap kita yang benar apakah mengulang sholatnya atau bagaimana?
Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
Berikut ini potongan fatwa Syaikh Bin Baz rahimahullah, semoga bermanfaat:
وإذا قام إلى خامسة ولم يرجع بالتنبيه فإن المأمومين لا يقومون معه.. يجلسون، فإذا سلم سلموا معه؛ لأنهم غير معذورين، أما هو قد يكون معذوراً، قد يعتقد أنه مصيب فلهذا لم يرجع، وهو إذا اعتقد أنه مصيب لا يرجع.. يستمر ويكمل، لكن المأموم إن كان يعتقد أنه مصيب جلس وانتظر حتى يسلم مع إمامه، وإن كان ليس عنده علم فإنه يقوم مع الإمام ويتابع الإمام، هذا هو الأصل.
ومن قام مع الإمام وتابعه من أجل سهوه، أو لجهله بالحكم الشرعي.. ما يعلم الحكم الشرعي؛ فصلاته صحيحة ولو زاد؛ لأنه إما جاهل وإما ساهي فلا شيء عليه، وأما العالم بالحكم الشرعي والعالم بالسهو فإنه لا يتابع الإمام، بل يجلس وينتظر حتى يسلم مع إمامه، هذا هو الحكم الشرعي في هذه المسألة.
بعض الناس ما يعرف الأحكام يقوم ولو درى أنه ساهي يحسب أنه يلزمه، فيقوم يتابع الإمام، فهذا مادام قام جهلاً منه فإن صلاته صحيحة وليس عليه شيء، ولكن في المرة الأخرى إذا وقع هذا لا يقوم، متى عرف الحكم الشرعي لا يقوم بل يجلس وينتظر، يقرأ التحيات ويكملها ويدعو ربه، يشتغل بالدعاء حتى يسلم إمامه فيسلم معه.
"Jika (Imam) bangkit ke rakaat ke-5 dan tidak kembali meski diingatkan, makmum (semestinya) tidak bangkit bersama dia. Makmum hendaknya duduk. Jika imam nanti salam, makmum salam bersamanya. Karena mereka (para makmum) tidaklah memiliki udzur.
Adapun imam ia memiliki udzur. Kadangkala ia meyakini bahwa ia benar. Karena itu ia tidak kembali (turun).
Kalau ia meyakini bahwasanya ia benar, ia tidak kembali (turun). Ia akan terus dan menyempurnakannya.
Namun, makmum jika berkeyakinan bahwa dirinya benar, ia duduk menunggu, hingga salam bersama imam. Kalau makmum itu tidak berilmu, ia berdiri dan mengikuti imam. Ini adalah secara asal.
Barangsiapa yang berdiri bersama imam dan mengikutinya karena lupa atau ketidaktahuan terhadap hukum syar’i, shalatnya sah, meskipun ia menambah (rakaat). Karena ia bisa jadi tidak tahu atau lupa. Tidak ada tanggungan apapun baginya.
Adapun orang yang mengetahui hukum syar’i dan mengetahui bahwa imam lupa, ia tidak mengikuti imam. Justru ia semestinya duduk menunggu hingga salam bersama imam. Ini adalah hukum syar’i dalam masalah ini.
Sebagian orang tidak mengetahui hukum sehingga berdiri. Kalau ia mengetahui bahwasanya imam lupa ia merasa ia harus ikut berdiri mengikuti imam (juga). Makmum ini selama berdirinya karena ketidaktahuan, shalatnya sah. Tidak ada tanggungan apapun baginya.
Namun, lain kali jika terjadi hal semacam itu, ia mestinya tidak ikut berdiri. Jika ia telah mengetahui hukum syar’i, ia tidak berdiri (mengikuti imam yang lupa, pent), namun justru duduk dan menunggu. Ia membaca tahiyyat dan menyempurnakannya, kemudian berdoa kepada Rabbnya. Ia sibukkan dengan doa hingga saat imam salam, ia pun salam.
Sumber selengkapnya:
http://bit.ly/2IXjZQw
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
binbaz.org.sa
حكم متابعة المأمومين للإمام إذا زاد في الصلاة أو أنقص منها
الجواب: بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على عبده ورسوله،
::
📬 MENGAMBIL FAIDAH DARI KITAB AL-HAIDAH
Tahukah Anda Kitab al-Haidah?
Kitab ini berisi pembelaan terhadap al-Qur’an. Di dalamnya dijelaskan secara lugas dan gamblang bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Hanya saja nama penulisnya belum bisa dipastikan.
Perlu diketahui bahwa dalam tiga kurun pertama Islam, akidah sunnah sangatlah berjaya dan kuat. Para ulama sangat banyak dan keras dalam mengingkari ahli bid’ah. Kekuatan ada di tangan Ahlus-Sunnah. Sehingga para ulama terang-terangan dalam mendakwahkan tauhid, akidah sunnah dan membantah kebid’ahan.
Hingga saat ulama satu per satu wafat, lalu pada kondisi khalifah berpihak kepada kaum Jahmiyyah dan melakukan intimidasi kepada para ulama di masa itu untuk meyakini bahwa al-Qur’an adalah makhluk (akidah kufur yang merobohkan pondasi agama Islam dari dasarnya), muncullah kitab al-Haidah.
Kitab ini berisi pembelaan terhadap al-Qur’an. Di dalamnya dijelaskan secara lugas dan gamblang bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk.
Kitab ini, wallahu a’lam, siapa sesungguhnya yang menulisnya. Dalam sebuah pendapat, dikatakan bahwa penulisnya bernama Abdul Aziz al-Kinani. Namun Syaikh Rabi’ menyatakan tidak mengetahui siapa sebenarnya penulis kitab ini. Nash pertanyaan dan jawabannya adalah sebagai berikut,
السؤال :
هل كتاب الحيدة لعبد العزيز الكناني ثابت عنه أم لا ؟
الجواب :
بعضهم قال أنه لم يثبت عنه! لكن الأمّة تلقت هذا الكتاب بالقبول لما تضمنه من الحجج والبراهين التي تدحض أباطيل أهل القول بخلق القرآن؛ أباطيل المعتزلة ومن جرى مجراهم من الجهمية الذين يقولون (القرآن مخلوق)؛ فيها حجج دامغة, فيها نصرة لسنة الرسول عليه الصلاة والسلام والذبّ عن دينه فجزى الله المؤلف خيرا . ولعل المؤلف من كبار علماء السنة, ولا شك أنه عالم بارع ولا نستبعد أنه من تلاميذ الشافعي ولا نستبعد أنه هذا الكناني) عبد العزيز .(لكن سواء أثبتناه لهذا الإمام أولم نثبته؛ فإنّ كاتبه عالم ضليع ومتعمّق في اللغة ومتعمّق في معرفة أسرار القرآن وطرق الاحتجاج به فهذا مما يُنصَر به, فمن يطعن في هذا الكتاب أخشى أن فيه نزعة بدعية يريد أن يوهن حجج أهل السنة والجماعة .فنحن نقول هذا ألفه عالم قد يكون ما استطاع أن يظهر اسمه لأنّ السلطة كانت بأيدي الجهمية فخاف أن يُنال بالأذى, بالقتل وغيره كما أوذي أهل السنة وامتحنوا بالقول بخلق القرآن فخشي على نفسه فألف هذا الكتاب .فإما أن يكون هو الكناني وإما أن يكون غيره ,ولا شك أنه من علماء السنة ومن أئمتها النوابغ ,رحمه الله وجزاه عن الإسلام والمسلمين خيرا .فتاوى في العقيدة والمنهج الحلقة الأولى .
Pertanyaan:
Apakah kitab al-Haidah karya Abdul Aziz al-Kinany memang benar terbukti dari beliau ataukah tidak?
Jawab:
Sebagian ulama mengatakan bahwa kitab tersebut tidak benar jika dinisbatkan kepada beliau. Hanya saja, umat Islam menerima kitab tersebut dengan sambutan yang baik, mengingat kandungan hujah dan bukti di dalamnya yang membantah berbagai kebatilan para pengusung akidah bahwa al-Qur’an adalah makhluk, kebatilan kelompok Mu’tazilah, dan setiap orang yang berjalan dengan paham mereka, yaitu Jahmiyah yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk.
Di dalam kitab tersebut terkandung hujah-hujah yang melenyapkan kebatilan, berisi pembelaan terhadap sunnah Rasulullah ‘alaihis shalatu was salam dan agamanya. Semoga Allah membalas penulisnya dengan balasan kebaikan.
Bisa jadi sang penulis termasuk ulama sunnah yang senior, dan tentu tak diragukan lagi bahwa dia adalah seorang alim yang mahir. Kita pun tidak mengingkari bahwa dia termasuk murid Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Kita juga tidak memandang jauh bahwa dia adalah al-Kinany (Abdul Aziz).
📬 MENGAMBIL FAIDAH DARI KITAB AL-HAIDAH
Tahukah Anda Kitab al-Haidah?
Kitab ini berisi pembelaan terhadap al-Qur’an. Di dalamnya dijelaskan secara lugas dan gamblang bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Hanya saja nama penulisnya belum bisa dipastikan.
Perlu diketahui bahwa dalam tiga kurun pertama Islam, akidah sunnah sangatlah berjaya dan kuat. Para ulama sangat banyak dan keras dalam mengingkari ahli bid’ah. Kekuatan ada di tangan Ahlus-Sunnah. Sehingga para ulama terang-terangan dalam mendakwahkan tauhid, akidah sunnah dan membantah kebid’ahan.
Hingga saat ulama satu per satu wafat, lalu pada kondisi khalifah berpihak kepada kaum Jahmiyyah dan melakukan intimidasi kepada para ulama di masa itu untuk meyakini bahwa al-Qur’an adalah makhluk (akidah kufur yang merobohkan pondasi agama Islam dari dasarnya), muncullah kitab al-Haidah.
Kitab ini berisi pembelaan terhadap al-Qur’an. Di dalamnya dijelaskan secara lugas dan gamblang bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk.
Kitab ini, wallahu a’lam, siapa sesungguhnya yang menulisnya. Dalam sebuah pendapat, dikatakan bahwa penulisnya bernama Abdul Aziz al-Kinani. Namun Syaikh Rabi’ menyatakan tidak mengetahui siapa sebenarnya penulis kitab ini. Nash pertanyaan dan jawabannya adalah sebagai berikut,
السؤال :
هل كتاب الحيدة لعبد العزيز الكناني ثابت عنه أم لا ؟
الجواب :
بعضهم قال أنه لم يثبت عنه! لكن الأمّة تلقت هذا الكتاب بالقبول لما تضمنه من الحجج والبراهين التي تدحض أباطيل أهل القول بخلق القرآن؛ أباطيل المعتزلة ومن جرى مجراهم من الجهمية الذين يقولون (القرآن مخلوق)؛ فيها حجج دامغة, فيها نصرة لسنة الرسول عليه الصلاة والسلام والذبّ عن دينه فجزى الله المؤلف خيرا . ولعل المؤلف من كبار علماء السنة, ولا شك أنه عالم بارع ولا نستبعد أنه من تلاميذ الشافعي ولا نستبعد أنه هذا الكناني) عبد العزيز .(لكن سواء أثبتناه لهذا الإمام أولم نثبته؛ فإنّ كاتبه عالم ضليع ومتعمّق في اللغة ومتعمّق في معرفة أسرار القرآن وطرق الاحتجاج به فهذا مما يُنصَر به, فمن يطعن في هذا الكتاب أخشى أن فيه نزعة بدعية يريد أن يوهن حجج أهل السنة والجماعة .فنحن نقول هذا ألفه عالم قد يكون ما استطاع أن يظهر اسمه لأنّ السلطة كانت بأيدي الجهمية فخاف أن يُنال بالأذى, بالقتل وغيره كما أوذي أهل السنة وامتحنوا بالقول بخلق القرآن فخشي على نفسه فألف هذا الكتاب .فإما أن يكون هو الكناني وإما أن يكون غيره ,ولا شك أنه من علماء السنة ومن أئمتها النوابغ ,رحمه الله وجزاه عن الإسلام والمسلمين خيرا .فتاوى في العقيدة والمنهج الحلقة الأولى .
Pertanyaan:
Apakah kitab al-Haidah karya Abdul Aziz al-Kinany memang benar terbukti dari beliau ataukah tidak?
Jawab:
Sebagian ulama mengatakan bahwa kitab tersebut tidak benar jika dinisbatkan kepada beliau. Hanya saja, umat Islam menerima kitab tersebut dengan sambutan yang baik, mengingat kandungan hujah dan bukti di dalamnya yang membantah berbagai kebatilan para pengusung akidah bahwa al-Qur’an adalah makhluk, kebatilan kelompok Mu’tazilah, dan setiap orang yang berjalan dengan paham mereka, yaitu Jahmiyah yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk.
Di dalam kitab tersebut terkandung hujah-hujah yang melenyapkan kebatilan, berisi pembelaan terhadap sunnah Rasulullah ‘alaihis shalatu was salam dan agamanya. Semoga Allah membalas penulisnya dengan balasan kebaikan.
Bisa jadi sang penulis termasuk ulama sunnah yang senior, dan tentu tak diragukan lagi bahwa dia adalah seorang alim yang mahir. Kita pun tidak mengingkari bahwa dia termasuk murid Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Kita juga tidak memandang jauh bahwa dia adalah al-Kinany (Abdul Aziz).
Yang jelas, kita tetapkan kitab tersebut sebagai karya imam Abdul Aziz al-Kinany rahimahullah maupun tidak, sungguh penulisnya adalah seorang alim yang sangat ahli, orang yang mendalami ilmu bahasa (lughah), mendalami ilmu dalam hal mengenali rahasia-rahasia al-Qur’an serta metode berdalil dengannya.
Sehingga, karya ini termasuk karya yang harus dibela. Siapa yang mencela kitab tersebut sangat dikhawatirkan di dalam dirinya ada kecondongan kepada kebid’ahan, dia ingin melemahkan hujjah-hujjah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Sehingga, kami katakan kitab ini disusun oleh seorang alim yang beliau tidak bisa memperlihatkan namanya karena pemerintahan berada dalam genggaman paham Jahmiyah. Lalu beliau khawatir mendapat gangguan, baik dibunuh atau gangguan lain sebagaimana menimpa Ahlus Sunnah, disakiti dan diuji karena adanya fitnah al-Qur’an adalah makhluk.
Maka beliau pun mengkhawatirkan gangguan yang akan menimpa dirinya, lalu beliau menyusun kitab ini.
Bisa jadi beliau adalah al-Kinany yang dimaksud atau bisa jadi yang lainnya. Tak diragukan bahwa beliau termasuk ulama dan imam sunnah yang jenius. Semoga Allah merahmatinya dan mebalasnya dengan kebaikan atas jasanya terhadap islam dan kaum muslimin. (Fatawa Fil ‘Aqidah Wal Manhaj al-Halqatul-Ula) –selesai penukilan–
Jadi, kitab al-Haidah adalah kitab yang dikenal, bermanfaat dan sampai kepada kita di masa sekarang. Semoga Allah merahmati penulisnya.
Kitab tersebut tidak diingkari oleh para ulama. Pembahasan di dalamnya sangat bermanfaat, meskipun karya manusia tidak lepas dari kekurangan.
Sumber: https://mahad-assalafy.com/faidah-dari-kitab-al-haidah/
#anonim #jendi #jendela_info #sirriyah #rahasia
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Sehingga, karya ini termasuk karya yang harus dibela. Siapa yang mencela kitab tersebut sangat dikhawatirkan di dalam dirinya ada kecondongan kepada kebid’ahan, dia ingin melemahkan hujjah-hujjah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Sehingga, kami katakan kitab ini disusun oleh seorang alim yang beliau tidak bisa memperlihatkan namanya karena pemerintahan berada dalam genggaman paham Jahmiyah. Lalu beliau khawatir mendapat gangguan, baik dibunuh atau gangguan lain sebagaimana menimpa Ahlus Sunnah, disakiti dan diuji karena adanya fitnah al-Qur’an adalah makhluk.
Maka beliau pun mengkhawatirkan gangguan yang akan menimpa dirinya, lalu beliau menyusun kitab ini.
Bisa jadi beliau adalah al-Kinany yang dimaksud atau bisa jadi yang lainnya. Tak diragukan bahwa beliau termasuk ulama dan imam sunnah yang jenius. Semoga Allah merahmatinya dan mebalasnya dengan kebaikan atas jasanya terhadap islam dan kaum muslimin. (Fatawa Fil ‘Aqidah Wal Manhaj al-Halqatul-Ula) –selesai penukilan–
Jadi, kitab al-Haidah adalah kitab yang dikenal, bermanfaat dan sampai kepada kita di masa sekarang. Semoga Allah merahmati penulisnya.
Kitab tersebut tidak diingkari oleh para ulama. Pembahasan di dalamnya sangat bermanfaat, meskipun karya manusia tidak lepas dari kekurangan.
Sumber: https://mahad-assalafy.com/faidah-dari-kitab-al-haidah/
#anonim #jendi #jendela_info #sirriyah #rahasia
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
وَاعْلَمْ أَنَّ الْإِجْمَاعَ وَالْحُجَّةَ وَالسَّوَادَ الْأَعْظَمَ هُوَ الْعَالِمُ صَاحِبُ الْحَقِّ، وَإِنْ كَانَ وَحْدَهُ، وَإِنْ خَالَفَهُ أَهْلُ الْأَرْضِ
إعلام الموقعين ٣/٣٩٨
"Ketahuilah, bahwa IJMA' dan HUJJAH serta SAWADUL A'ZHOM adalah seorang alim shohibul haq walaupun bersendirian dan seluruh penduduk bumi menyelisihinya."
Kitab lbnul Qoyyim. l'laamul Muwaqqi'iin jilid 3 hal 398.
إعلام الموقعين ٣/٣٩٨
"Ketahuilah, bahwa IJMA' dan HUJJAH serta SAWADUL A'ZHOM adalah seorang alim shohibul haq walaupun bersendirian dan seluruh penduduk bumi menyelisihinya."
Kitab lbnul Qoyyim. l'laamul Muwaqqi'iin jilid 3 hal 398.
::
📬 WAJIB MEMBELA YANG TERZALIMI
Al-Allamah Rabi' bin Hadi al Madkhali - hafizhahullah - berkata,
فإذا كان هناك طائفتان تتقاتلان؛ فلنبادر إلى حقن الدماء وصون الأعراض، ونبذل ما نستطيع و نصلح بينهم؛ فإن بغت إحداهما على الأخرى وقفنا مع المظلومة؛ لأن نصرة المظلوم واجبة، نقف مع الطائفة المظلومة حتى نقضي على شر تلك الظالمة وتعود إلى جادة الحق.
"Apabila ada dua kelompok saling berperang, hendaknya kita segera mencegah terjadinya pertumpahan darah dan menjaga kehormatan, serta mengoptimalkan kemampuan kita untuk mendamaikan mereka.
Jika salah satu kelompok berbuat zalim kepada yang lain, maka kita membela kelompok yang terzalimi, karena membela orang yang terzalimi adalah wajib.
Hendaknya kita tetap berada di barisan kelompok yang terzalimi, sampai kita mampu menghilangkan kejelekan kelompok yang berbuat zalim dan mereka kembali ke jalan yang benar."
📚 [Adz Dzari'ah 1/186] @nasehatilmiah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 WAJIB MEMBELA YANG TERZALIMI
Al-Allamah Rabi' bin Hadi al Madkhali - hafizhahullah - berkata,
فإذا كان هناك طائفتان تتقاتلان؛ فلنبادر إلى حقن الدماء وصون الأعراض، ونبذل ما نستطيع و نصلح بينهم؛ فإن بغت إحداهما على الأخرى وقفنا مع المظلومة؛ لأن نصرة المظلوم واجبة، نقف مع الطائفة المظلومة حتى نقضي على شر تلك الظالمة وتعود إلى جادة الحق.
"Apabila ada dua kelompok saling berperang, hendaknya kita segera mencegah terjadinya pertumpahan darah dan menjaga kehormatan, serta mengoptimalkan kemampuan kita untuk mendamaikan mereka.
Jika salah satu kelompok berbuat zalim kepada yang lain, maka kita membela kelompok yang terzalimi, karena membela orang yang terzalimi adalah wajib.
Hendaknya kita tetap berada di barisan kelompok yang terzalimi, sampai kita mampu menghilangkan kejelekan kelompok yang berbuat zalim dan mereka kembali ke jalan yang benar."
📚 [Adz Dzari'ah 1/186] @nasehatilmiah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 BAGAIMANAKAH JIKA MAYORITAS BERADA DI ATAS KEBENARAN?
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata,
“Ya, jika mayoritas manusia berada di atas kebenaran, maka ini sesuatu yang baik.
Namun sunnatullah menunjukkan bahwa mayoritas (manusia) berada di atas kebatilan.
وَمَآ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوۡ حَرَصۡتَ بِمُؤۡمِنِينَ ١٠٣
“Dan mayoritas manusia tidak akan beriman, walaupun kamu (Muhammad) sangat menginginkannya.” (Yusuf: 103)
وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ
“Dan jika engkau menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (al-An’am: 116)
[Syarh Masail al-Jahiliah, hlm. 62]
Sumber:
Majalah Asy-Syari'ah Edisi 006 berjudul : "Menggugat Hukum Mayoritas"
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 BAGAIMANAKAH JIKA MAYORITAS BERADA DI ATAS KEBENARAN?
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata,
“Ya, jika mayoritas manusia berada di atas kebenaran, maka ini sesuatu yang baik.
Namun sunnatullah menunjukkan bahwa mayoritas (manusia) berada di atas kebatilan.
وَمَآ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوۡ حَرَصۡتَ بِمُؤۡمِنِينَ ١٠٣
“Dan mayoritas manusia tidak akan beriman, walaupun kamu (Muhammad) sangat menginginkannya.” (Yusuf: 103)
وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ
“Dan jika engkau menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (al-An’am: 116)
[Syarh Masail al-Jahiliah, hlm. 62]
Sumber:
Majalah Asy-Syari'ah Edisi 006 berjudul : "Menggugat Hukum Mayoritas"
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com