::
🚇 BERANI KARENA TAUHID, TAKUT KARENA SYIRIK
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata:
“Seorang hamba apabila Allah memberi nikmat atasnya dengan tauhid maka ia akan mempersaksikan bahwa _Laa ilaaha illallah_ (tiada yang berhak diibadahi kecuali Allah) dengan ikhlas dari lubuk hatinya
---adapun _ilaah_ maknanya adalah _al-ma’bud_(yang diibadahi), yang berhak untuk mendapat PUNCAK rasa cinta, penghambaan, pengagungan, pemuliaan, rasa takut, dan pengharapan (dari hamba-Nya). Dengan sebab kecintaan kepada Allah maka akan fana(sirna) rasa cinta kepada selain-Nya,tidak akan ada permohonan kepada selain-Nya karena ia berdoa dan bertawakkal kepada-Nya, hilang ketaatan kepada selain-Nya dengan sebab ia menaati-Nya---
(dengannya) Allah anugerahkan rasa manis kepadanya dengan keamanan, kegembiraan, kesenangan, dan kasih sayang kepada makhluk. Serta berjihad fi sabilillah. Dia berjihad dan merahmati. Untuknya kesabaran dan rahmat. Allah Ta’ala berfirman:
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ ﴿١٧﴾
"Dan mereka saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang." [Q.S. Al-Balad: 17]
◾️Dan setiapkali menguat tauhid di hati seorang hamba pasti akan menguat keimanan, rasa tenang, tawakkal, dan keyakinannya (kepada Allah).
◾️Adapun halnya rasa takut yang terjadi di hati-hati manusia maka itulah (sebab) syirik yang ada di hati-hati mereka. Allah Ta’ala berfirman:
سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُواْ بِاللّهِ ﴿١٥١﴾
"Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu." [Q.S. Ali-Imraan : 151]
Dan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ وَقَدْ هَدَانِ ﴿٨٠﴾
"Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku."
Sampai dengan firman-Nya:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." [Q.S. Al-An’aam : 80 – 82]
Dan di dalam hadits yang shahih:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَتَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ
"Celakalah budak(yang menghamba kepada)dinar, celakalah budak dirham, celakalah budak al-khamishah(kain hitam/ merah bermotif –yaitu yang lebih mementingkan penampilannya daripada ibadah)! Celakalah dan binasa! Jika ia tertusuk duri semoga tidak tercabut!"
Maka siapa yang di hatinya ada rasa kepemimpinan terhadap suatu makhluk maka terkandung penghambaan kepada makhluk tersebut sesuai kadarnya.
Sehingga ketika mereka (musyrikin) menakut-nakuti khalil-Nya(Ibrahim ‘alaihissalam) dengan apa-apa yang mereka sembah dan persekutukan Allah dengannya –suatu kesyirikan besar semisal ibadah- al-Khalil berucap:
وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلاَ تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالأَمْنِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٨١﴾
"Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah(alasan) kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?" [Q.S. Al-An’aam: 81]
Beliau –‘alaihissalam - berkata:
“Jika kalian menaati selain Allah, mengibadahi selain-Nya, dan berbicara tentang agama-Nya dengan sesuatu yang Dia tidak memberikan suatu keterangan MAKA mana di antara dua kelompok ini yang lebih berhak mendapat keamanan(dari murka Allah) jika kamu benar mengetahui?!”
🚇 BERANI KARENA TAUHID, TAKUT KARENA SYIRIK
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata:
“Seorang hamba apabila Allah memberi nikmat atasnya dengan tauhid maka ia akan mempersaksikan bahwa _Laa ilaaha illallah_ (tiada yang berhak diibadahi kecuali Allah) dengan ikhlas dari lubuk hatinya
---adapun _ilaah_ maknanya adalah _al-ma’bud_(yang diibadahi), yang berhak untuk mendapat PUNCAK rasa cinta, penghambaan, pengagungan, pemuliaan, rasa takut, dan pengharapan (dari hamba-Nya). Dengan sebab kecintaan kepada Allah maka akan fana(sirna) rasa cinta kepada selain-Nya,tidak akan ada permohonan kepada selain-Nya karena ia berdoa dan bertawakkal kepada-Nya, hilang ketaatan kepada selain-Nya dengan sebab ia menaati-Nya---
(dengannya) Allah anugerahkan rasa manis kepadanya dengan keamanan, kegembiraan, kesenangan, dan kasih sayang kepada makhluk. Serta berjihad fi sabilillah. Dia berjihad dan merahmati. Untuknya kesabaran dan rahmat. Allah Ta’ala berfirman:
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ ﴿١٧﴾
"Dan mereka saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang." [Q.S. Al-Balad: 17]
◾️Dan setiapkali menguat tauhid di hati seorang hamba pasti akan menguat keimanan, rasa tenang, tawakkal, dan keyakinannya (kepada Allah).
◾️Adapun halnya rasa takut yang terjadi di hati-hati manusia maka itulah (sebab) syirik yang ada di hati-hati mereka. Allah Ta’ala berfirman:
سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُواْ بِاللّهِ ﴿١٥١﴾
"Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu." [Q.S. Ali-Imraan : 151]
Dan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ وَقَدْ هَدَانِ ﴿٨٠﴾
"Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku."
Sampai dengan firman-Nya:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." [Q.S. Al-An’aam : 80 – 82]
Dan di dalam hadits yang shahih:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَتَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ
"Celakalah budak(yang menghamba kepada)dinar, celakalah budak dirham, celakalah budak al-khamishah(kain hitam/ merah bermotif –yaitu yang lebih mementingkan penampilannya daripada ibadah)! Celakalah dan binasa! Jika ia tertusuk duri semoga tidak tercabut!"
Maka siapa yang di hatinya ada rasa kepemimpinan terhadap suatu makhluk maka terkandung penghambaan kepada makhluk tersebut sesuai kadarnya.
Sehingga ketika mereka (musyrikin) menakut-nakuti khalil-Nya(Ibrahim ‘alaihissalam) dengan apa-apa yang mereka sembah dan persekutukan Allah dengannya –suatu kesyirikan besar semisal ibadah- al-Khalil berucap:
وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلاَ تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالأَمْنِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٨١﴾
"Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah(alasan) kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?" [Q.S. Al-An’aam: 81]
Beliau –‘alaihissalam - berkata:
“Jika kalian menaati selain Allah, mengibadahi selain-Nya, dan berbicara tentang agama-Nya dengan sesuatu yang Dia tidak memberikan suatu keterangan MAKA mana di antara dua kelompok ini yang lebih berhak mendapat keamanan(dari murka Allah) jika kamu benar mengetahui?!”
Yaitu: Kalian (berani) melakukan kesyirikan kepada Allah dan tidak takut kepada-Nya sedangkan kalian menakut-nakuti aku ini dengan selain Allah(dari sesembahan kalian); maka siapa yang lebih pantas untuk mendapat keamanan(dari Allah)?
Sampai dengan firman-Nya:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾
"Mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." [Q.S. Al-An’aam : 82]
Yaitu: mereka adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan ikhlash(dalam ibadahnya).
Oleh karena ini Imam Ahmad berkata kepada sebagian orang:
“Andai kamu membenarkan (tauhidmu) kamu tidak akan pernah takut kepada seorang(makhluk)pun.”
Majmu’ al-Fatawa : 28/ 35 – 36.
--------------------------------------------
Catatan:
➰Faidah ini adalah petikan dari surat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah _rahimahullah_ ditujukan untuk teman dan murid-muridnya sebagai nasihat kepada mereka ketika beliau di penjara di Iskandariyah.
➰Sebagai penjelasan pembahasan bisa di atas bisa merenungi makna Kalamullah dalam surat Al-An’aam ayat 80 – 82 sebagaimana berikut:
وَحَآجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَن يَشَاءَ رَبِّي شَيْئاً وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ ﴿٨٠﴾ وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلاَ تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالأَمْنِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٨١﴾ الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾
_080. "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?"
_081. "Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?"
_082. "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk."
# _muhibbukum fillah_
📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Sampai dengan firman-Nya:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾
"Mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." [Q.S. Al-An’aam : 82]
Yaitu: mereka adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan ikhlash(dalam ibadahnya).
Oleh karena ini Imam Ahmad berkata kepada sebagian orang:
“Andai kamu membenarkan (tauhidmu) kamu tidak akan pernah takut kepada seorang(makhluk)pun.”
Majmu’ al-Fatawa : 28/ 35 – 36.
--------------------------------------------
Catatan:
➰Faidah ini adalah petikan dari surat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah _rahimahullah_ ditujukan untuk teman dan murid-muridnya sebagai nasihat kepada mereka ketika beliau di penjara di Iskandariyah.
➰Sebagai penjelasan pembahasan bisa di atas bisa merenungi makna Kalamullah dalam surat Al-An’aam ayat 80 – 82 sebagaimana berikut:
وَحَآجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَن يَشَاءَ رَبِّي شَيْئاً وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ ﴿٨٠﴾ وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلاَ تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالأَمْنِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٨١﴾ الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾
_080. "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?"
_081. "Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?"
_082. "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk."
# _muhibbukum fillah_
📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇 “DUA FAIDAH MEMPERLUAS KATA TATKALA BERDO'A”
Dari Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam- berkata di dalam sujudnya:
(( اللَّهُمَّ اغْفِرْ لي ذَنْبِي كُلَّهُ : دِقَّهُ وَجِلَّهُ ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ ))
_”Ya Allah Ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil dan besarnya, awal dan akhirnya, yang terang dan tersembunyi.”_ [H.R. Muslim dan Abu Daud]
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:
“Di sini sudah ditentukan tempat dari dzikir ini yaitu ketika sujud.
Dan hadits ini ada penjabaran (kata-kata doa) di dalamnya. Dengan mengingat bahwa mungkin bagi Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- untuk berkata “Ya Allah ampunilah aku” saja.
Dan bisa pula untuk beliau tidak menyebut “dosa” (dalam doanya) karena memohon ampunan tidak lain pasti terkait dengan dosa.
Namun dalam menjabarkan (kata dalam doa) terkandung dua hal:
Pertama:
Bahwa manusia berada di hadapan Rabbnya ketika sedang berdoa -dan seorang mukmin mencintai Rabbnya- dan memperpanjang berposisi(doa) di hadapan Allah ‘azza wa jalla sangat menunjukkan sifat cinta (kepada-Nya).
Kedua:
Bahwa ia merasakan kehadiran dosa-dosanya. Sebab ada dosa yang besar dan kecil, terdahulu dan akan datang. Sehingga perincian (dalam doa memohon ampunan) tidak diragukan lebih kuat efeknya (bagi jiwa) daripada (ucapan doa yang)global.
Dan beranjak dari ini, ia akan lebih khusyuk dalam doanya dan lebih bersih (jiwanya) dalam permohonan(ampunan).
📖 At-Ta’liq ‘alal Muntaqo min Akhbaaril Musthofa: 1/ 407
📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
🚇 “DUA FAIDAH MEMPERLUAS KATA TATKALA BERDO'A”
Dari Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam- berkata di dalam sujudnya:
(( اللَّهُمَّ اغْفِرْ لي ذَنْبِي كُلَّهُ : دِقَّهُ وَجِلَّهُ ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ ))
_”Ya Allah Ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil dan besarnya, awal dan akhirnya, yang terang dan tersembunyi.”_ [H.R. Muslim dan Abu Daud]
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:
“Di sini sudah ditentukan tempat dari dzikir ini yaitu ketika sujud.
Dan hadits ini ada penjabaran (kata-kata doa) di dalamnya. Dengan mengingat bahwa mungkin bagi Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- untuk berkata “Ya Allah ampunilah aku” saja.
Dan bisa pula untuk beliau tidak menyebut “dosa” (dalam doanya) karena memohon ampunan tidak lain pasti terkait dengan dosa.
Namun dalam menjabarkan (kata dalam doa) terkandung dua hal:
Pertama:
Bahwa manusia berada di hadapan Rabbnya ketika sedang berdoa -dan seorang mukmin mencintai Rabbnya- dan memperpanjang berposisi(doa) di hadapan Allah ‘azza wa jalla sangat menunjukkan sifat cinta (kepada-Nya).
Kedua:
Bahwa ia merasakan kehadiran dosa-dosanya. Sebab ada dosa yang besar dan kecil, terdahulu dan akan datang. Sehingga perincian (dalam doa memohon ampunan) tidak diragukan lebih kuat efeknya (bagi jiwa) daripada (ucapan doa yang)global.
Dan beranjak dari ini, ia akan lebih khusyuk dalam doanya dan lebih bersih (jiwanya) dalam permohonan(ampunan).
📖 At-Ta’liq ‘alal Muntaqo min Akhbaaril Musthofa: 1/ 407
📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇 UJIAN TERDAHSYAT DI AKHIR HAYAT
(Hanya Lolos dan Selamat dengan Keyakinan )
✍🏻 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rahimahullah- berkata:
💥“Dan insan –kita memohon keselamatan- terkadang samar atasnya kebenaran dengan kebatilan ketika datang kematian.
Sampai datang (riwayat) menyebut bahwa sebagian manusia akan dipampangkan kepadanya agama-agama ketika datang ajalnya: Islam – yahudi – nashrani. Dan syaithon akan datang beralih rupa sebagai ayahnya mengajak kepada agama yahudi atau nashrani.
❗Padahal seseorang di saat-saat itu tidak memiliki akal yang sempurna KECUALI seseorang yang Allah –‘azza wa jalla- karuniai kekokohan. Sehingga bisa jadi ia memilih menjadi seorang yahudi atau nashrani –kita memohon perlindungan kepada Allah-.
☝🏻Namun hal ini tidak berlaku umum bagi setiap orang, sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah-.**
BAHKAN perkara tersebut –wallahua’lam- terjadi pada seorang yang di hatinya ada keraguan atau kebimbangan (terhadap kebenaran Islam). Sehingga dengannya ia dihukum dengan hukuman ini.
Dan yang tampak bahwa yang dipampangkan kepadanya adalah tiga agama saja, yang ditetapkan oleh para ulama. Adapun yang selainnya tidak berlaku.”
📖 At-Ta’liq ‘alal Muntaqo min Akhbaaril Musthofa: 1/ 385.
-----------------------------------------------------
Catatan:
** Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata:
“Adapun dibentangkan agama (di hadapan seseorang) ketika waktu kematian maka ini ujian untuk sebagian orang saja, tidak berlaku bagi yang lainnya.” [Majmu’ Al-Fatawa 14/ 202].
# _yakin terhadap Islam dari awal - akhir kehidupan_
📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
🚇 UJIAN TERDAHSYAT DI AKHIR HAYAT
(Hanya Lolos dan Selamat dengan Keyakinan )
✍🏻 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rahimahullah- berkata:
💥“Dan insan –kita memohon keselamatan- terkadang samar atasnya kebenaran dengan kebatilan ketika datang kematian.
Sampai datang (riwayat) menyebut bahwa sebagian manusia akan dipampangkan kepadanya agama-agama ketika datang ajalnya: Islam – yahudi – nashrani. Dan syaithon akan datang beralih rupa sebagai ayahnya mengajak kepada agama yahudi atau nashrani.
❗Padahal seseorang di saat-saat itu tidak memiliki akal yang sempurna KECUALI seseorang yang Allah –‘azza wa jalla- karuniai kekokohan. Sehingga bisa jadi ia memilih menjadi seorang yahudi atau nashrani –kita memohon perlindungan kepada Allah-.
☝🏻Namun hal ini tidak berlaku umum bagi setiap orang, sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah-.**
BAHKAN perkara tersebut –wallahua’lam- terjadi pada seorang yang di hatinya ada keraguan atau kebimbangan (terhadap kebenaran Islam). Sehingga dengannya ia dihukum dengan hukuman ini.
Dan yang tampak bahwa yang dipampangkan kepadanya adalah tiga agama saja, yang ditetapkan oleh para ulama. Adapun yang selainnya tidak berlaku.”
📖 At-Ta’liq ‘alal Muntaqo min Akhbaaril Musthofa: 1/ 385.
-----------------------------------------------------
Catatan:
** Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata:
“Adapun dibentangkan agama (di hadapan seseorang) ketika waktu kematian maka ini ujian untuk sebagian orang saja, tidak berlaku bagi yang lainnya.” [Majmu’ Al-Fatawa 14/ 202].
# _yakin terhadap Islam dari awal - akhir kehidupan_
📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
..
🗂🔉Arsip Audio Klip FBF 1 s/d 10 :
📌Bukan karena Dunia Kita Berteman
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4339
📌Ingin Mengetahui Gaji Suami Orang Lain?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4344
📌Hukum anak menerima nafkah yang haram dari ayahnya?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4348
📌Muru'ah Ada 4 Perkara
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4351
📌Hikmah Duduk dengan Fakir Miskin
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4354
📌Orang Kafir Membantu Pembangunan Masjid?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4357
📌Berobat di Rumah Sakit Nasrani?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4367
📌Macam-Macam Jihad
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4369
📌Miliki Kepekaan Sosial
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4371
📌Dahsyatnya Pahala Khusyu'
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4375
🗂🔉Arsip Audio Klip FBF 1 s/d 10 :
📌Bukan karena Dunia Kita Berteman
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4339
📌Ingin Mengetahui Gaji Suami Orang Lain?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4344
📌Hukum anak menerima nafkah yang haram dari ayahnya?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4348
📌Muru'ah Ada 4 Perkara
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4351
📌Hikmah Duduk dengan Fakir Miskin
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4354
📌Orang Kafir Membantu Pembangunan Masjid?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4357
📌Berobat di Rumah Sakit Nasrani?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4367
📌Macam-Macam Jihad
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4369
📌Miliki Kepekaan Sosial
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4371
📌Dahsyatnya Pahala Khusyu'
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4375
Telegram
Forum Berbagi Faidah [ FBF ]
::
🚇 TIGA UNSUR PENYEMPURNA SUSUNAN KATA TATKALA BERDOA
Dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata kepada Rasulullah ﷺ:
“Ajarkan kepadaku suatu doa yang aku berdoa dengannya di dalam shalatku.
Rasulullah ﷺ pun bersabda:
“Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
”Ya Allah sungguh aku telah menzhalimi diriku dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan sayangilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Muttafaqun ‘alaih].
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rahimahullah- berkata:
“Doa ini mengumpulkan konteks yang sempurna dalam berdoa.
✍🏻Sebab doa:
🔘Terkadang menyebut keadaan orang yang berdoa saja
🔘Terkadang hanya menyebut sifat yang dihaturkan kepadanya doa(yaitu Allah)
🔘Kadangkala dengan menyebut permintaannya saja
🔘Dan terkadang menyebutkan seluruhnya (yang tersebut di atas).
☝🏻Contoh doa yang di dalamnya hanya mengucapkan permintaan saja yaitu jika kamu katakan:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
Ya Allah ampunilah aku.
☝🏻Permisalan doa yang menyebut keadaan orang yang berdoa saja seperti ucapan Nabi Musa –‘alaihissalam- dalam firman Allah Ta’ala:
فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ ﴿٢٤﴾
_Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Duhai Rabb-ku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". [Q.S. Al-Qashash: 24]
Di sini tidak disebut kecuali keadaan orang yang berdoa saja yang berkonsekuensi meminta kedekatan dan rahmat-Nya.
☝🏻Dan contoh doa yang menyebut keadaan orang yang berdoa dan permintaan, seperti ucapan Nabi Musa –‘alaihissalam- (dalam firman Allah Ta’ala):
قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿١٦﴾
_“Musa berdoa: "Wahai Rabbku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[Q.S. Al-Qashash: 16]
Dan doa yang paling sempurna yang disebut di dalamnya:
▪ keadaan orang yang berdoa,
▪ yang dipintakan doa kepadanya,
▪ dan permintaan.
☝🏻 Sebagaimana di dalam hadits ini.
Oleh karenanya Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- mengajarkan kepada beliau (Abu Bakr) ucapan yang paling mencakup dalam konteks kalimat dan permintaannya.
📖 At-Ta’liq ‘alal Muntaqo min Akhbaaril Musthofa, 1/394.
_________
Catatan:
✍🏻اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا،
”Ya Allah sungguh aku telah menzhalimi diriku dengan kezhaliman yang banyak,"
Ini penyebutan kondisi orang yang berdoa
✍🏻 وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ
"sedangkan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau,_"
Ini penyebutan sifat yang dipintakan doa kepadanya
✍🏻 فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي،
"maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan sayangilah aku,"
Ini permintaannya.
✍🏻 إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ini penyebutan sifat yang dipintakan doa kepadanya.
📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
🚇 TIGA UNSUR PENYEMPURNA SUSUNAN KATA TATKALA BERDOA
Dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata kepada Rasulullah ﷺ:
“Ajarkan kepadaku suatu doa yang aku berdoa dengannya di dalam shalatku.
Rasulullah ﷺ pun bersabda:
“Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
”Ya Allah sungguh aku telah menzhalimi diriku dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan sayangilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Muttafaqun ‘alaih].
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rahimahullah- berkata:
“Doa ini mengumpulkan konteks yang sempurna dalam berdoa.
✍🏻Sebab doa:
🔘Terkadang menyebut keadaan orang yang berdoa saja
🔘Terkadang hanya menyebut sifat yang dihaturkan kepadanya doa(yaitu Allah)
🔘Kadangkala dengan menyebut permintaannya saja
🔘Dan terkadang menyebutkan seluruhnya (yang tersebut di atas).
☝🏻Contoh doa yang di dalamnya hanya mengucapkan permintaan saja yaitu jika kamu katakan:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
Ya Allah ampunilah aku.
☝🏻Permisalan doa yang menyebut keadaan orang yang berdoa saja seperti ucapan Nabi Musa –‘alaihissalam- dalam firman Allah Ta’ala:
فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ ﴿٢٤﴾
_Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Duhai Rabb-ku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". [Q.S. Al-Qashash: 24]
Di sini tidak disebut kecuali keadaan orang yang berdoa saja yang berkonsekuensi meminta kedekatan dan rahmat-Nya.
☝🏻Dan contoh doa yang menyebut keadaan orang yang berdoa dan permintaan, seperti ucapan Nabi Musa –‘alaihissalam- (dalam firman Allah Ta’ala):
قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿١٦﴾
_“Musa berdoa: "Wahai Rabbku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[Q.S. Al-Qashash: 16]
Dan doa yang paling sempurna yang disebut di dalamnya:
▪ keadaan orang yang berdoa,
▪ yang dipintakan doa kepadanya,
▪ dan permintaan.
☝🏻 Sebagaimana di dalam hadits ini.
Oleh karenanya Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- mengajarkan kepada beliau (Abu Bakr) ucapan yang paling mencakup dalam konteks kalimat dan permintaannya.
📖 At-Ta’liq ‘alal Muntaqo min Akhbaaril Musthofa, 1/394.
_________
Catatan:
✍🏻اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا،
”Ya Allah sungguh aku telah menzhalimi diriku dengan kezhaliman yang banyak,"
Ini penyebutan kondisi orang yang berdoa
✍🏻 وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ
"sedangkan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau,_"
Ini penyebutan sifat yang dipintakan doa kepadanya
✍🏻 فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي،
"maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan sayangilah aku,"
Ini permintaannya.
✍🏻 إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ini penyebutan sifat yang dipintakan doa kepadanya.
📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com