منتدى نشر الفـــــــوائد
7.54K subscribers
4.31K photos
259 videos
279 files
5.62K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
::
🚇 BEBERAPA ADAB TERKAIT AL-QUR`AN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rahimahullah-

Pertanyaan:

Apakah termasuk syarat membaca Al-Qur’an untuk menghadap kiblat atau tidak?

Jawaban:

Tidak termasuk syarat membaca Al-Qur’an dengan menghadap kiblat.

Dan tidak termasuk syarat membaca Al-Qur’an untuk seseorang di atas thaharah. KECUALI jika ia membaca melalui mushaf (bukan dengan hafalan) maka ia tidak menyentuh mushaf kecuali dalam keadaan bersuci. Dan apabila ia ingin menyentuh mushaf dalam keadaan ia tidak bersuci maka ia menjadikan antara dirinya(tangannya) dengan mushaf suatu pembatas semisal saputangan dan yang lainnya. Lalu ia membaca.

Namun seorang yang sedang _junub_ tidak halal(haram) baginya untuk membaca Al-Qur’an sampai ia mandi(janabah).

Fataawa Nuurun ‘alad Darb: 2/ 198.

------------------------------------------

Pertanyaan:

Apa hukum membaca Al-Qur’an dari mushaf dengan (posisi)bertelekan atau bersandar?

Jawaban:

Tidak mengapa, sesungguhnya Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam – :

_“Beliau dahulu membaca Al-Qur’an dan beliau bersandar di kamar ‘Aisyah –radhiallahu ‘anha- yang sedang haidh.”_  H.R. al-Bukhori.

Apabila seorang insan membaca Al-Qur’an dari mushaf atau dengan hafalan sedang ia bersandar atau bertelekan maka tidak mengapa hal yang demikian ini.

Fataawa Nuurun ‘alad Darb: 2/ 200.

----------------------------------------------

Pertanyaan:

Apa hukum mencium mushaf(Al-Qur’an)?

Jawaban:

Mencium mushaf adalah bid’ah. Sebab orang yang mencium ini tidak lain menghendaki untuk _taqorrub_(mendekatkan diri) kepada Allah ‘azza wa jalla dengan menciumnya.

Suatu hal yang dimaklumi bahwa tidaklah mendekatkan diri kepada Allah kecuali dengan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla mensyariatkannya. Sedangkan Allah tidak mensyariatkan untuk mencium sesuatu yang tertulis Kalam-Nya di dalamnya.

Di zaman Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- Al-Qur’an telah ditulis namun belum terkumpul(secara keseluruhan). Tidak lain tertulis padanya ayat-ayat yang tertulis, bersamaan dengan itu beliau –shalallahu ‘alaihi wasallam-  tidak menciumnya. Dan tidak pula para Shahabat –semoga Allah meridhai mereka semua- mereka tidak mencium ayat-ayat yang tertulis tersebut. Sehingga hal itu adalah dan dilarang dari melakukannya.

Kemudian sungguh sebagian orang, aku melihatnya mencium Al-Qur’an dan meletakkannya di keningnya seakan ia sujud kepadanya, dan ini juga perbuatan MUNGKAR.

Fataawa Nuurun ‘alad Darb: 2/ 197.

--------------------------------------

Pertanyaan:

Apakah boleh bagi seseorang yang membaca mushaf yang mulia(Al-Qur’an) apabila ia melewati ayat tentang adzab untuk beristi’adzah(memohon perlindungan) kepada Allah dari neraka atau adzab, dan jika ia melewati ayat tentang rahmat-Nya ia pun memohon kepada Allah dari keutamaan-Nya, dan demikian ini di ayat-ayat lainnya?

Jawaban:

Yang terlihat dari pertanyaan ini bahwa si pembaca membacanya di luar shalat.  Dengannya kami jawab:

Ya, boleh baginya apabila melewati ayat tentang rahmat untuk memohon keutamaan dari Allah. Jika ia melewati ayat terkait ancaman ia berlindung kepada Allah dari ancaman tersebut. Apabila ia melewati ayat tentang suatu ibroh dan nasihat ia berucap: Subhanallah! Dan yang semisalnya.

Sebab hal ini termasuk sesuatu yang menolong seseorang untuk mentadabburi Al-Qur’an dan memikirkan kandungan makna-maknanya.

Adapun jika seseorang dalam keadaan shalat:

◾️Jika ia melakukan nafilah(shalat sunnah) maka disunnahkan untuk ia memohon kepada Allah ketika lewat ayat tentang rahmat dan memohon perlindungan ketika lewat ayat ancaman. Terutama ketika shalat malam. Sebab hal itu telah tsabit dari Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- sebagaimana datang di dalam hadits Hudzaifah:

“Aku shalat bersama Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- di suatu malam maka beliau tidaklah melewati ayat tentang rahmat kecuali beliau memohon (rahmat-Nya) dan tidak pula melewati ayat ancaman kecuali beliau meminta perlindungan.”
◾️Adapun dalam shalat yang wajib maka yang tampak dari keadaan Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- tidak melakukan hal tersebut dalam shalat fardhu. Sebab para Shahabat yang menyifati cara shalat beliau –shalallahu ‘alaihi wasallam- (dalam shalat fardhu) mereka tidak menyebutkan bahwa beliau memohon perlindungan ketika melewati ayat ancaman atau memohon ketika ayat rahmat.

Bersamaan dengan ini, apabila ia melakukannya maka ia tidak berdosa.

Fataawa Nuurun ‘alad Darb: 2/ 201 – 202.

---------------------------------------------------------

Pertanyaan:

Apakah seseorang yang membaca Al-Qur’an mendapat pahala walau ia tidak memahami makna-maknanya?

Jawaban:

Al-Qur’anul Karim penuh berkah sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ ﴿٢٩﴾

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran."  **[Q.S. Shaad: 029]**

Sehingga seorang insan mendapat pahala dari membacanya. Baik ia memahami maknanya ataupun tidak.

Namun tidak selayaknya bagi seorang mukmin untuk membaca bacaan -yang dibebankan untuk mengamalkannya-  tanpa memahami maknanya.

Seseorang jika ingin mempelajari kedokteran –misalnya- dan mempelajari buku-buku kedokteran maka tidak mungkin ia mengambil faidah darinya sampai ia memahami maknanya dan dijelaskan buku-buku itu kepadanya. Bahkan ia mesti bersemangat  dengan seluruh kesemangatan untuk memahami maknanya agar ia bisa menerapkannya.

Lalu bagaimana menurutmu tentang Kitab Allah –Subhanahu wa Ta’ala-, yang ia adalah obat untuk dada(hati) dan petuah bagi manusia , untuk seseorang membacanya tanpa tadabbur(merenungi) dan memahami kandungan maknanya?!

Oleh karenanya para Shahabat –semoga Allah meridhai mereka- mereka tidak melewati sepuluh ayat sampai mereka mempelajarinya , apa yang terkandung di dalamnya dari ilmu dan amal. Sehingga mereka mempelajari Al-Qur’an, ilmu, dan amal secara keseluruhan.”

Fataawa Nuurun ‘alad Darb: 2/ 199

 

#_muhibbukum fillah_

📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
::

🚇 BERANI KARENA TAUHID, TAKUT KARENA SYIRIK


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata:

“Seorang hamba apabila Allah memberi nikmat atasnya dengan tauhid maka ia akan mempersaksikan bahwa _Laa ilaaha illallah_ (tiada yang berhak diibadahi kecuali Allah) dengan ikhlas dari lubuk hatinya

---adapun _ilaah_ maknanya adalah _al-ma’bud_(yang diibadahi), yang berhak untuk mendapat PUNCAK rasa cinta, penghambaan, pengagungan, pemuliaan, rasa takut, dan pengharapan (dari hamba-Nya). Dengan sebab kecintaan kepada Allah maka akan fana(sirna) rasa cinta kepada selain-Nya,tidak akan ada permohonan kepada selain-Nya karena ia berdoa dan bertawakkal kepada-Nya, hilang ketaatan kepada selain-Nya dengan sebab ia menaati-Nya---

(dengannya) Allah anugerahkan rasa manis kepadanya dengan keamanan, kegembiraan, kesenangan, dan kasih sayang kepada makhluk. Serta berjihad fi sabilillah. Dia berjihad dan merahmati. Untuknya kesabaran dan rahmat. Allah Ta’ala berfirman:

وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ ﴿١٧﴾

"Dan mereka saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang." [Q.S. Al-Balad: 17]

◾️Dan setiapkali menguat tauhid di hati seorang hamba pasti akan menguat keimanan, rasa tenang, tawakkal, dan keyakinannya (kepada Allah).

◾️Adapun halnya rasa takut yang terjadi di hati-hati manusia maka itulah (sebab) syirik yang ada di hati-hati mereka. Allah Ta’ala berfirman:

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُواْ بِاللّهِ ﴿١٥١﴾

"Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu." [Q.S. Ali-Imraan : 151]

Dan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ وَقَدْ هَدَانِ ﴿٨٠﴾  

"Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku."

Sampai dengan firman-Nya:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." [Q.S. Al-An’aam : 80 – 82]

Dan di dalam hadits yang shahih:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَتَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

"Celakalah budak(yang menghamba kepada)dinar, celakalah budak dirham, celakalah budak al-khamishah(kain hitam/ merah bermotif –yaitu yang  lebih mementingkan penampilannya daripada ibadah)! Celakalah dan binasa! Jika ia tertusuk duri semoga tidak tercabut!"

Maka siapa yang di hatinya ada rasa kepemimpinan terhadap suatu makhluk maka terkandung penghambaan kepada makhluk tersebut sesuai kadarnya.

Sehingga ketika mereka (musyrikin) menakut-nakuti khalil-Nya(Ibrahim ‘alaihissalam) dengan apa-apa yang mereka sembah dan persekutukan Allah dengannya –suatu kesyirikan besar semisal ibadah- al-Khalil berucap:

وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلاَ تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالأَمْنِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٨١﴾

"Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah(alasan) kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?" [Q.S. Al-An’aam: 81]

Beliau –‘alaihissalam - berkata:

“Jika kalian menaati selain Allah, mengibadahi selain-Nya, dan berbicara tentang agama-Nya dengan sesuatu yang Dia tidak memberikan suatu keterangan MAKA mana di antara dua kelompok ini yang lebih berhak mendapat keamanan(dari murka Allah) jika kamu benar mengetahui?!”
Yaitu: Kalian (berani) melakukan kesyirikan kepada Allah dan tidak takut kepada-Nya sedangkan kalian menakut-nakuti aku ini dengan selain Allah(dari sesembahan kalian); maka siapa yang lebih pantas untuk mendapat keamanan(dari Allah)?

Sampai dengan firman-Nya:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾

"Mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." [Q.S. Al-An’aam : 82]

Yaitu: mereka adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan ikhlash(dalam ibadahnya).

Oleh karena ini Imam Ahmad berkata kepada sebagian orang:

“Andai kamu membenarkan (tauhidmu) kamu tidak akan pernah takut kepada seorang(makhluk)pun.”

Majmu’ al-Fatawa : 28/ 35 – 36.

--------------------------------------------

Catatan:

Faidah ini adalah petikan dari surat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah _rahimahullah_ ditujukan untuk teman dan murid-muridnya sebagai nasihat kepada mereka ketika beliau di penjara di Iskandariyah.

Sebagai penjelasan pembahasan bisa di atas bisa merenungi makna Kalamullah dalam surat Al-An’aam ayat 80 – 82 sebagaimana berikut:

وَحَآجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَن يَشَاءَ رَبِّي شَيْئاً وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ ﴿٨٠﴾ وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلاَ تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالأَمْنِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٨١﴾ الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾

_080. "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?"

_081. "Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?"

_082. "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk."

# _muhibbukum fillah_

📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
::
🚇 “DUA FAIDAH MEMPERLUAS KATA TATKALA BERDO'A”


Dari Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam- berkata di dalam sujudnya:

(( اللَّهُمَّ اغْفِرْ لي ذَنْبِي كُلَّهُ : دِقَّهُ وَجِلَّهُ ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ ))

_”Ya Allah Ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil dan besarnya, awal dan akhirnya, yang terang dan tersembunyi.”_ [H.R. Muslim dan Abu Daud]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Di sini sudah ditentukan tempat dari dzikir ini yaitu ketika sujud.

Dan hadits ini ada penjabaran (kata-kata doa) di dalamnya. Dengan mengingat bahwa mungkin bagi Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- untuk berkata “Ya Allah ampunilah aku” saja.

Dan bisa pula untuk beliau tidak menyebut “dosa” (dalam doanya) karena memohon ampunan tidak lain pasti terkait dengan dosa.

Namun dalam menjabarkan (kata dalam  doa) terkandung dua hal:

Pertama:

Bahwa manusia berada di hadapan Rabbnya ketika sedang berdoa -dan seorang mukmin mencintai Rabbnya- dan memperpanjang berposisi(doa) di hadapan Allah ‘azza wa jalla sangat menunjukkan sifat cinta (kepada-Nya).

Kedua:

Bahwa ia merasakan kehadiran dosa-dosanya. Sebab ada dosa yang besar dan kecil, terdahulu dan akan datang. Sehingga perincian (dalam doa memohon ampunan) tidak diragukan lebih kuat efeknya (bagi jiwa) daripada (ucapan doa yang)global.

Dan beranjak dari ini, ia akan lebih khusyuk dalam doanya dan lebih bersih (jiwanya) dalam permohonan(ampunan).

📖 At-Ta’liq ‘alal Muntaqo min Akhbaaril Musthofa: 1/ 407

📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
::

🚇 UJIAN TERDAHSYAT DI AKHIR HAYAT
(Hanya Lolos dan Selamat dengan Keyakinan )

✍🏻 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rahimahullah- berkata:

💥“Dan insan –kita memohon keselamatan- terkadang samar atasnya kebenaran dengan kebatilan ketika datang kematian.

Sampai datang (riwayat) menyebut bahwa sebagian manusia akan dipampangkan kepadanya agama-agama ketika datang ajalnya: Islam – yahudi – nashrani. Dan syaithon akan datang beralih rupa sebagai ayahnya mengajak kepada agama yahudi atau nashrani.

Padahal seseorang di saat-saat itu tidak memiliki akal yang sempurna KECUALI seseorang yang Allah –‘azza wa jalla- karuniai kekokohan. Sehingga bisa jadi ia memilih menjadi seorang yahudi atau nashrani –kita memohon perlindungan kepada Allah-.

☝🏻Namun hal ini tidak berlaku umum bagi setiap orang, sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah-.**

BAHKAN perkara tersebut –wallahua’lam- terjadi pada seorang yang di hatinya ada keraguan atau kebimbangan (terhadap kebenaran Islam). Sehingga dengannya ia dihukum dengan hukuman ini.

Dan yang tampak bahwa yang dipampangkan kepadanya adalah tiga agama saja, yang ditetapkan oleh para ulama. Adapun yang selainnya tidak berlaku.”

📖 At-Ta’liq ‘alal Muntaqo min Akhbaaril Musthofa: 1/ 385.

-----------------------------------------------------

Catatan:

** Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata:

“Adapun dibentangkan agama (di hadapan seseorang) ketika waktu kematian maka ini ujian untuk sebagian orang saja, tidak berlaku bagi yang lainnya.”
[Majmu’ Al-Fatawa 14/ 202].

# _yakin terhadap Islam dari awal - akhir kehidupan_

📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
..
🗂🔉Arsip Audio Klip FBF 1 s/d 10 :

📌Bukan karena Dunia Kita Berteman
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4339

📌Ingin Mengetahui Gaji Suami Orang Lain?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4344

📌Hukum anak menerima nafkah yang haram dari ayahnya?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4348

📌Muru'ah Ada 4 Perkara
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4351

📌Hikmah Duduk dengan Fakir Miskin
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4354

📌Orang Kafir Membantu Pembangunan Masjid?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4357

📌Berobat di Rumah Sakit Nasrani?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4367

📌Macam-Macam Jihad
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4369

📌Miliki Kepekaan Sosial
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4371

📌Dahsyatnya Pahala Khusyu'
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4375