اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ، اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ
Mungkin ada yang berkata:
«“Bukankah dia sudah taubat, Ustadz, dan sudah menulis klarifikasi?”»
Kita katakan: iya, betul.
Namun kalimat-kalimat yang dia tulis tidak menunjukkan secara tegas bahwa dia menarik ucapannya yang menyatakan bahwa Khalid Basalamah juga mengajarkan sunnah.
Dia tidak menarik ucapan tersebut.
Masih terkesan ada keraguan terhadap kehizbiyyahan orang Ikhwany tersebut.
Kemudian muncul lagi tulisan berikutnya dari Abu Salim Rahmat Iqbal.
Sebenarnya panjang, namun karena keterbatasan waktu kita, maka kita bacakan penggalan yang paling sensitif menurut sebagian pihak.
Yaitu ketika Abu Salim Rahmat Iqbal mengatakan:
«“Wahai Syaikh, aku memohon arahan dari Anda terkait dakwah di daerah kami. Setelah kepulanganku dari Madinah dan setelah mengamalkan nasihat antum, wahai Syaikh, kami langsung mengundang Ustadz Abul Harits untuk menyampaikan muhadharah via Telegram dalam acara penutupan tahun ajaran.”»
Kemudian beliau berkata:
«وَبَعْدَ ذٰلِكَ سَأَلَنِي بَعْضُ الْإِخْوَةِ: لِمَاذَا اسْتَدْعَيْنَا أَبَا الْحَارِثِ؟ فَأَجَبْتُ بِمَا تُرْشِدُنِي»
“Kemudian sebagian Ikhwah masih bertanya kepadaku: ‘Mengapa kita masih mengundang Abul Harits?’ Maka aku menjawab sesuai dengan arahanmu, wahai Syaikh.”
Kemudian beliau melanjutkan:
«ثُمَّ انْتَشَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ أَنَّ تَعْدِيلَكَ أَوْ تَزْكِيَتَكَ لِأَبِي الْحَارِثِ هٰذَا عَامٌّ، أَمَّا جَرْحُ الْأُسْتَاذِ لُقْمَانَ عَلَيْهِ فَمُفَسَّرٌ، وَالْجَرْحُ الْمُفَسَّرُ مُقَدَّمٌ عَلَى التَّعْدِيلِ»
“Kemudian tersebar setelah itu bahwa ta‘dil atau tazkiyah antum kepada Abul Harits bersifat umum, sedangkan jarh Ustadz Luqman terhadapnya bersifat mufassar (terperinci). Dan kaidah menyebutkan bahwa al-jarhul mufassar muqaddamun ‘alat ta‘dil.”
Na‘am.
Dan memang benar, sampai hari ini tazkiyah tersebut tidak dirinci.
Sementara jarh Ustadz Luqman bersifat mufassar, terperinci poin demi poin, sebagaimana telah kita sebutkan pada sesi pertama dan sesi kedua ini.
Dan memang dalam kaidah disebutkan:
«الْجَرْحُ الْمُفَسَّرُ مُقَدَّمٌ عَلَى التَّعْدِيلِ»
“Jarh yang dirinci didahulukan daripada ta‘dil.”
Kemudian beliau berkata:
«فَأَرْشِدْنَا يَا شَيْخَنَا، أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَجَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا»
“Maka berilah kami bimbingan, wahai Syaikh kami. Semoga Allah berbuat baik kepada Anda dan membalas Anda dengan kebaikan.”
Ini sebenarnya surat yang panjang.
Ada upaya dari beliau untuk meminta arahan kepada Syaikh.
Kemudian dijawab oleh Syaikh:
«وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، اِسْتَمِرُّوا فِي الِاسْتِفَادَةِ مِنْهُ»
“Wa‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Teruslah kalian mengambil faedah darinya.”
Ini jawaban Syaikh.
Yang kita sayangkan, ayyuhal Ikhwah, adalah cara Ustadz Iqbal menyampaikan pertanyaan kepada Syaikh.
Adapun Asy-Syaikh Arafat, tetap kita hormati dan kita muliakan.
Yang kita sayangkan adalah Ustadz Iqbal.
Karena sebenarnya kami berharap pada tulisan keduanya — ketika beliau mengatakan bahwa telah tersebar tazkiyah Syaikh kepada Ustadz Abul Harits sementara jarh Ustadz Luqman mufassar — mestinya beliau juga menyebutkan rincian jarh tersebut.
Walaupun tidak seluruhnya, paling tidak beliau menyampaikan:
«“Wahai Syaikh, Ustadz Luqman men-jarh Ustadz Abul Harits karena sampai sekarang beliau masih membela seorang Ikhwany, seorang Hizby. Dan sampai sekarang beliau juga tidak menarik serta tidak mengklarifikasi vonis-vonis berat istrinya yang mengatakan bahwa Ustadz Luqman adalah Hizby berbaju Salafy.”»
Mestinya ini yang disampaikan oleh Ustadz Iqbal.
Kenapa?
Karena para ulama mengatakan:
«الْحُكْمُ عَلَى الشَّيْءِ فَرْعٌ عَنْ تَصَوُّرِهِ»
“Hukum terhadap sesuatu sangat bergantung pada pemahaman terhadap hakikat sesuatu tersebut.”
Yakni jawaban seseorang tentu akan sesuai dengan bentuk pertanyaan yang dia terima.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Karena pertanyaan Ustadz Iqbal hanya:
«“Bagaimana pendapat Anda, wahai Syaikh, jika kami mengundang Ustadz Abul Harits?”»
Maka sebenarnya kita semua sudah bisa memperkirakan jawabannya, bahkan sebelum Syaikh menjawab.
Sebagaimana jika sekarang antum bertanya kepada Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan:
«“Wahai Syaikh Shalih al-Fauzan, bagaimana pendapat Anda jika kami mengundang Dzulqarnain untuk memberikan muhadharah di ma’had kami?”»
Antum tentu sudah bisa membayangkan apa jawaban Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan.
Namun, apakah seperti itu sikap seorang Sunni Salafy?
Bukankah kaidah mengatakan:
«الْجَرْحُ الْمُفَسَّرُ مُقَدَّمٌ عَلَى التَّعْدِيلِ»
Padahal Asy-Syaikh Rabi‘ telah mengeluarkan tahdzir terhadap Dzulqarnain:
«عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ أَنَّهُ لَعَّابٌ، مُتَلَوِّنٌ، مَاكِرٌ، يَمْشِي عَلَى طَرِيقِ الْحَلَبِيِّ فِي الْمَكْرِ»
“Bahwa Dzulqarnain adalah seorang yang suka bermain-main, berubah-ubah warna, penuh makar, dan berjalan di atas jalannya Al-Halaby dalam makar.”
Ini yang ana maksud:
Salafiyyun itu harus ilmiah.
Salafiyyun harus dididik dan diajarkan dengan sikap ilmiah.
Dan inilah yang kita sayangkan dari Ustadz Iqbal Pekanbaru.
Coba kalau beliau menyampaikan — walaupun tidak semuanya, cukup sebagian saja — alasan mengapa Ustadz Luqman men-jarh Ustadz Abul Harits.
Maka boleh jadi jawaban Syaikh akan berbeda dan sesuai dengan rincian pertanyaan yang disampaikan.
Namun:
«قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ»
“Apa yang Allah takdirkan, itulah yang terjadi.”
Sekarang pertanyaannya:
«“Apa sebenarnya isi jalsah Madinah antara Ustadzuna Luqman dengan Syaikhuna Arafat?”»
Mari kita simak dengan saksama.
Ana memohon taufik kepada Allah agar dimudahkan untuk menyampaikan ini dengan jujur dan amanah.
Semoga Allah menjauhkan ana dari sikap khianat.
Ana akan sampaikan:
«بِسْمِ اللَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»
Di antara isi majelis tersebut, Asy-Syaikh Arafat berkata kepada Ustadz Luqman:
«أَنْتَ يَا لُقْمَانُ، تَعْلَمُ كَلَامَ السَّلَفِ فِي تَقْسِيمِ الْمُبْتَدِعَةِ: دَاعٍ لِبِدْعَتِهِ وَغَيْرُ دَاعٍ لِبِدْعَتِهِ، وَهٰذَا رَحْمَةُ لَعَلَّهُ غَيْرُ دَاعٍ لِبِدْعَتِهِ أَوْ لِحِزْبِيَّتِهِ»
“Wahai Luqman, engkau tentu mengetahui ucapan Salaf tentang pembagian ahlul bid‘ah: ada yang mengajak kepada bid‘ahnya dan ada yang tidak mengajak kepada bid‘ahnya. Dan Rachmat Parenrengi ini, bisa jadi dia bukan termasuk orang yang mengajak kepada bid‘ah atau hizbiyyah-nya.”
Perhatikan baik-baik!
Ini ucapan Asy-Syaikh Arafat.
Dan beliau menyebut nama Rachmat dengan sangat jelas dan fasih.
Kemudian Ustadz Luqman menanggapi dengan penuh penghormatan, pemuliaan, dan adab.
Namun sebelum kita nukilkan jawaban beliau, ada satu poin penting yang perlu diperhatikan dari ucapan Asy-Syaikh Arafat tadi.
Yaitu bahwa beliau tidak mengingkari bahwa Rachmat tersebut adalah seorang Hizby atau mubtadi‘.
Beliau tidak mengingkari hal itu.
Akan tetapi, yang beliau ragukan adalah:
«“Apakah dia termasuk Hizby atau mubtadi‘ yang mengajak kepada hizbiyyah dan bid‘ahnya atau tidak?”»
Itu titik pembahasannya.
Kalau tidak, tentu beliau tidak akan mengatakan:
«لَعَلَّهُ غَيْرُ دَاعٍ لِبِدْعَتِهِ أَوْ لِحِزْبِيَّتِهِ»
“Bisa jadi dia bukan orang yang mengajak kepada bid‘ah atau hizbiyyah-nya.”
Artinya, beliau mengakui bahwa orang tersebut memang seorang Hizby mubtadi‘.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Lalu bagaimana tanggapan Ustadz Luqman?
Dengan penuh penghormatan dan pemuliaan kepada Asy-Syaikh Arafat, serta dengan penuh adab, Ustadz Luqman berkata:
«يَا شَيْخَنَا، أَمَّا كَلَامُ السَّلَفِ فَمُسَلَّمٌ، وَكُلُّنَا نَعْتَقِدُ أَنَّهُ حَقٌّ، وَلٰكِنْ حَقِيقَةُ الرَّجُلِ رَحْمَةَ هٰذَا، هَلْ هُوَ غَيْرُ دَاعٍ لِبِدْعَتِهِ أَوْ لِحِزْبِيَّتِهِ؟ أَمَّا أَنَا فَعِنْدِي وَثَائِقُ وَفِيدْيُوهَاتٌ دَالَّةٌ عَلَى أَنَّهُ حِزْبِيٌّ دَاعٍ لِحِزْبِيَّتِهِ»
“Wahai Syaikh kami, adapun ucapan Salaf yang engkau sebutkan tadi maka kami semua menerimanya, dan kami semua meyakini bahwa itu adalah kebenaran. Akan tetapi, hakikat orang ini — yakni Rachmat Parenrengi — apakah benar dia bukan pengajak kepada bid‘ah dan hizbiyyah-nya? Adapun saya, wahai Syaikh, saya memiliki dokumen-dokumen dan video-video yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang Hizby yang mengajak kepada hizbiyyah-nya.”
Mendengar tanggapan Ustadz Luqman ini, Syaikh Arafat pun terdiam.
Ana sampaikan kepada antum, ayyuhal Ikhwah:
Mendengar jawaban Ustadz Luqman tersebut, Syaikh Arafat terdiam.
Sebenarnya harapan kami kepada Syaikh Arafat — tanpa mengurangi rasa hormat dan pemuliaan kami kepada beliau — ketika Ustadz Luqman telah mengatakan:
«“Saya punya bukti, data, dan video.”»
Maka yang kami harapkan adalah beliau bertanya:
«“Mana datamu?”»
Sebagaimana itulah sikap imam kita, bapak-bapak kita:
Al-Imam Al-Mujahid, shahibur rayah al-jarh wat ta‘dil, Asy-Syaikh Rabi‘ bin Hadi Al-Madkhaly hafizhahullah.
Demikian pula Al-Imam Ubaid Al-Jabiry rahimahullah.
Ketika Ustadz Luqman dahulu menyampaikan tentang:
Ja‘far Umar Thalib, Dzulqarnain, Askary, hingga Muhammad bin Hady, maka Asy-Syaikh Rabi‘ tidak langsung menolak.
Namun beliau bertanya:
﴿قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴾
“Katakanlah: Datangkanlah bukti kalian jika kalian memang benar.”
(Q.S. al-Baqarah: 111)
«“Mana bukti kalian? Mana data kalian?”»
Itulah yang sebenarnya kami harapkan.
Namun demikian, kami tetap menghormati Syaikh Arafat.
Tidak sebagaimana yang dihembuskan dan dituduhkan bahwa kami mencela atau merendahkan beliau.
Dusta itu.
Tidak demikian.
Dan sebenarnya, ayyuhal Ikhwah, ketika Syaikh Arafat menyampaikan penilaian beliau tentang Rachmat Parenrengi tadi kepada Ustadz Luqman, di sisi kami muncul tanda tanya besar:
«“Dari mana Syaikh Arafat sampai pada penilaian tersebut?”»
Beliau menyebut nama Rachmat dengan sangat fasih.
Dari mana beliau mengetahui hal itu?
Mungkin Abu Faiz tahu jawabannya.
Atau Arifin Kendari tahu jawabannya.
Atau mungkin Ustadz Abul Harits sendiri bisa menjawab:
«“Bagaimana Syaikh Arafat bisa sampai pada penilaian tersebut?”»
Dari sisi kami, ada tiga kemungkinan mengapa Syaikh Arafat sampai pada penilaian itu:
1⃣ Yang pertama, boleh jadi beliau mencari sendiri informasi tersebut secara mandiri tentang Rachmat Parenrengi melalui video-video ataupun ceramah-ceramahnya.
Namun kemungkinan pertama ini kecil.
Kenapa?
Karena Rachmat Parenrengi dalam berbagai ceramahnya lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia.
2⃣ Kemungkinan yang kedua, boleh jadi karena Syaikh sangat menginginkan ishlah sehingga beliau tergiring — afwan — mungkin hanya memperkirakan saja tentang keadaan Rachmat Parenrengi ini.
Namun kemungkinan kedua ini juga kecil.
Tidak mungkin dalam perkara sebesar ini kemudian hanya dibangun di atas perkiraan semata.
Maka kami katakan, dengan penuh penghormatan dan pemuliaan kepada Syaikh, tidak mungkin hal seperti itu terjadi dari beliau.
3⃣ Atau kemungkinan yang ketiga — والله أعلم بالصواب — beliau mengetahui hal tersebut dari informasi yang datang dari Abul Harits atau pihak-pihak yang bersama Ustadz Abul Harits.
Dan jika kemungkinan ketiga inilah yang menjadi dasar penilaian beliau, maka sungguh sangat disayangkan.
Karena sebagian kasus Ustadz Abul Harits justru dibocorkan sendiri oleh Syaikh Arafat kepada kami.
Afwan, maaf-maaf saja, ayyuhal Ikhwah wal akhawat.
Na‘am.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Apa saja itu?
Nanti akan ada waktunya untuk dijelaskan.
Namun paling tidak, sekarang kita akan menyebutkan isi nasihat Asy-Syaikh Arafat kepada Ustadz Luqman. Na‘am.
Asy-Syaikh Arafat berkata kepada Ustadz Luqman:
«أَنَا قَدْ جَلَسْتُ مَعَ مُحَمَّدٍ مُصْلِحٍ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَدْ نَصَحْتُهُ، وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يَقْبَلُ النَّصِيحَةَ»
“Aku telah duduk bersama Muhammad Muslih — yakni Abul Harits — dan alhamdulillah aku telah menasihatinya, dan yang tampak padaku dia menerima nasihat.”
Namun sebelum itu, ayyuhal Ikhwah, ana ingin sedikit kembali kepada pembahasan tentang penilaian Syaikh Arafat terhadap Rachmat Parenrengi.
Sebenarnya Ustadz Luqman memiliki pertanyaan pada saat itu, namun beliau mengurungkannya karena penghormatan dan pemuliaan kepada Syaikh.
Karena kalau pertanyaan itu dilontarkan, dikhawatirkan nanti suasana berubah dan Syaikh menjadi tidak nyaman atau emosi.
Itu yang dijaga oleh Ustadz Luqman.
Padahal sebenarnya beliau punya hak untuk melakukan istifshal, meminta rincian.
Na‘am.
Beliau sebenarnya ingin bertanya:
«يَا شَيْخُ، مِنْ أَيْنَ لَكَ هٰذَا؟»
“Wahai Syaikh, dari mana Anda sampai pada penilaian ini?”
Namun pertanyaan itu diurungkan oleh Ustadz Luqman karena penghormatan beliau kepada Syaikh.
Kemudian, apa yang disampaikan Asy-Syaikh Arafat kepada Ustadz Luqman di akhir-akhir majelis tersebut?
Inilah di antara poin yang paling penting untuk menjawab:
«“Mengapa Syaikh Arafat menasihatkan agar diam?”»
«“Dan mengapa Ustadz Abu Fuad sekarang berbicara?”»
Karena inti permasalahannya bukan sekadar:
berbicara atau diam,
membahas atau tidak membahas.
Tetapi:
«“Apa alasannya?”»
Sebagaimana para Masyaikh kita, ketika disampaikan sebuah perkara, mereka bertanya:
«“Mana dalilnya?”»
«“Apa alasannya?”»
Demikian sikap seorang Sunni Salafy yang ilmiyyah.
Kata Syaikh kepada Ustadz Luqman:
«أَنَا قَدْ جَلَسْتُ مَعَ مُحَمَّدٍ مُصْلِحٍ»
“Aku telah duduk bersama Muhammad Muslih.”
Yakni Abul Harits.
Na‘am, nama asli Abul Harits adalah Muhammad Muslih.
Kemudian Syaikh berkata:
«وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَدْ نَصَحْتُهُ»
“Dan alhamdulillah aku telah menasihatinya.”
Catat baik-baik ini, ayyuhal Ikhwah.
Garis bawahi kalimat ini:
«قَدْ نَصَحْتُهُ»
“Aku telah menasihatinya.”
Kemudian beliau berkata:
«وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يَقْبَلُ النَّصِيحَةَ»
“Dan yang tampak padaku, dia menerima nasihat.”
Sekali lagi ana ulangi:
«قَدْ نَصَحْتُهُ»
“Aku telah menasihatinya.”
«وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يَقْبَلُ النَّصِيحَةَ»
“Dan yang tampak padaku, dia menerima nasihat.”
Ikhwany fiddin wa akhawati fillah rahimani wa rahimakumullah.
Sebenarnya Ustadz Luqman juga memiliki hak untuk meminta rincian.
Beliau bisa saja bertanya:
«“Dalam kasus yang mana beliau telah menerima nasihatmu, wahai Syaikh?”»
«“Pada poin apa beliau telah bertaubat?”»
Namun pertanyaan itu tidak beliau sampaikan.
Kenapa?
Karena penghormatan dan pemuliaan kepada Syaikh.
Dan juga karena Ustadz Luqman merasa senang dengan berita gembira tersebut, bahwa Abul Harits telah menerima nasihat dan bertaubat di hadapan Syaikh.
Jawaban “Absyir ya Syaikh”
Maka ketika mendengar kalimat tersebut, Ustadz Luqman langsung menjawab:
««أَبْشِرْ يَا شَيْخُ»»
“Bergembiralah, wahai Syaikh.”
Kalau diterjemahkan secara makna:
«“Jangan khawatir terhadap saya, wahai Syaikh. Saya siap menerima nasihat Anda.”»
Inilah sebab mengapa Ustadz Luqman langsung mengatakan:
«“Absyir ya Syaikh.”»
Karena alasannya jelas:
Asy-Syaikh Arafat telah menasihati Ustadz Abul Harits, dan beliau menerima nasihat tersebut.
Inilah juga alasan mengapa Syaikh Arafat menasihatkan agar diam.
Karena secara zahir — menurut penilaian beliau — Abul Harits telah menerima nasihat.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Kemudian setelah Ustadz Luqman berkata:
«“Absyir ya Syaikh.”»
Maka Asy-Syaikh Arafat melanjutkan:
«وَأَنْتَ يَا لُقْمَانُ، خَلِّهِ يُدَرِّسُ كَمَا كَانَ»
“Dan engkau wahai Luqman, biarkanlah Abul Harits kembali mengajar sebagaimana sebelumnya.”
Maka Ustadz Luqman kembali menjawab:
«“Absyir ya Syaikh.”»
“Bergembiralah wahai Syaikh, jangan khawatir.”
Kemudian Asy-Syaikh Arafat berkata lagi:
«خَلِّ الْكَلَامَ بَعْدَ هٰذَا يَعْنِي يَنْتَهِي، لَا يَكُنْ كَلَامٌ بَعْدَ هٰذَا»
“Dan setelah ini, hendaknya pembicaraan tentang masalah ini dihentikan. Jangan ada lagi pembicaraan setelah ini.”
Maka Ustadz Luqman kembali menjawab:
«“Absyir ya Syaikh.”»
“Jangan khawatir wahai Syaikh, saya menerima nasihat Anda.”
Apakah nasihat Syaikh hanya sampai di situ?
Tidak.
Setelah itu, Syaikh menitipkan pesan kepada Ustadz Luqman untuk disampaikan kepada Ustadz Abul Harits.
Ini juga penting untuk saya sampaikan dengan jujur, penuh amanah, apa adanya.
Na‘am.
Asy-Syaikh Arafat menitipkan beberapa pesan kepada Ustadz Luqman untuk disampaikan kepada Ustadz Abul Harits.
1⃣ Pesan Pertama
Asy-Syaikh Arafat berkata:
«قُلْ لَهُ، قُلْ لَهُ يَا لُقْمَانُ: عَجِّلْ، عَجِّلْ بِإِخْرَاجِ أَهْلِهِ مِنْ جَمْبَر.»
“Katakan kepadanya wahai Luqman, katakan kepada Abul Harits: segera, segera keluarkan istrinya dari Jember.”
هٰذَا الْأَوَّلُ
Ini yang pertama.
2⃣ Pesan Kedua
Asy-Syaikh Arafat berkata:
«قُلْ لَهُ: لَا تَتَدَخَّلْ فِي قَضَايَا الدَّعْوَةِ إِلَّا بِمَشُورَتِكَ.»
“Katakan kepadanya, wahai Abul Harits: jangan engkau masuk dalam perkara-perkara dakwah kecuali setelah bermusyawarah denganmu, wahai Luqman.”
Jangan Abul Harits masuk dalam urusan dakwah tanpa musyawarah denganmu. Jangan.
Sampaikan itu kepadanya.
هٰذَا الثَّانِي
Ini yang kedua.
3⃣ Pesan Ketiga
Asy-Syaikh Arafat berkata:
«قُلْ لَهُ: أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ.»
“Katakan kepadanya: tahan lisanmu, wahai Abul Harits.”
هٰذَا الثَّالِثُ
Ini yang ketiga.
4⃣ Pesan Keempat
Kemudian yang keempat — dan ini yang terakhir — Asy-Syaikh Arafat berkata:
«قُلْ لَهُ أَنْ يَبِيعَ مُمْتَلَكَاتِهِ لِرَدِّ أَمْوَالِ النَّاسِ الَّتِي عَلَيْهِ.»
“Katakan kepadanya, hendaklah dia menjual seluruh aset dan harta miliknya untuk mengembalikan hak-hak manusia dan menutupi hutang-hutangnya kepada orang lain.”
Ikhwani fiddin wa akhawati fillah rahimani wa rahimakumullah.
Beberapa pekan yang lalu banyak tersebar berbagai statement:
«“Wah, Ustadz Luqman menyembunyikan hasil jalsah di Madinah.”»
«“Kenapa Ustadz Luqman tidak menyampaikannya?”»
«“Kenapa takut?”»
«“Ada apa sebenarnya?”»
Nah, ini poin-poinnya.
Namun sebenarnya pembahasan kita bukan hanya pada poin pertama atau kedua.
Ada sesuatu yang terjadi beberapa saat sebelum dan sesudah jalsah tersebut.
Ini yang penting.
Karena dari sinilah akan terjawab pertanyaan:
«“Mengapa Abu Fuad tetap berbicara?”»
«“Bukankah sudah dinasihati untuk diam?”»
Ikhwani fiddin wa akhawati fillah.
Sebelum jalsah bersama Asy-Syaikh Arafat dimulai, ternyata Ustadz Abul Harits telah lebih dahulu mengirimkan pesan kepada Ustadz Luqman melalui WhatsApp.
Na‘am.
Pesan itu dikirim sebelum jalsah berlangsung.
Kemudian ada pula hal-hal yang terjadi beberapa saat setelah jalsah bersama Asy-Syaikh Arafat selesai.
Dan inilah poin yang penting.
Materi ini sebenarnya masih panjang.
Namun muhadharah kita sudah melewati batas waktu dan telah berlangsung lebih dari satu jam.
Meski demikian, tidak mengapa kita nukilkan sedikit terlebih dahulu.
Kalau memang harus berlanjut ke sesi yang ketiga, maka InsyaAllah akan kita lanjutkan.
Kecuali apabila Ustadz Abul Harits memberikan klarifikasi, bertaubat, dan rujuk.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Namun apabila sampai waktunya Ustadz Abul Harits masih belum bertaubat dan belum rujuk, maka InsyaAllah muhadharah sesi ketiga tetap akan kami lanjutkan.
Na‘am.
Lalu, apa isi pesan Ustadz Abul Harits kepada Ustadz Luqman?
Apa isi pesan Ustadz Abul Harits kepada Ustadz Luqman?
Nah, perlu untuk kita ketahui bahwa jalsah antara Ustadz Luqman dengan Asy-Syaikh Arafat terjadi pada tanggal 25 November 2025.
Dan tidak benar apabila dikatakan bahwa jalsah tersebut dilakukan bertiga antara Asy-Syaikh Arafat, Ustadz Luqman, dan Ustadz Abul Harits.
Itu tidak benar.
Yang benar adalah Asy-Syaikh Arafat telah lebih dahulu melakukan jalsah dengan Abul Harits sebelum bertemu dengan Ustadz Luqman.
Kemudian setelah itu, Asy-Syaikh Arafat melakukan jalsah dengan Ustadz Luqman.
Jadi tidak ada jalsah bertiga antara Asy-Syaikh Arafat, Ustadz Luqman, dan Ustadz Abul Harits.
Itu dusta, sebagaimana yang tersebar. Itu dusta.
Beberapa saat sebelum jalsah Ustadz Luqman bersama Asy-Syaikh Arafat, Ustadz Abul Harits — yang saat itu juga berada di negeri Madinah, di Kota Madinah — mengirimkan pesan WhatsApp kepada Ustadz Luqman.
Isi pesannya sebagai berikut:
«السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، كَيْفَ حَالُكَ يَا أُسْتَاذُ؟ عَسَاكَ بِخَيْرٍ وَعَافِيَةٍ.»
“Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana kabarmu wahai Ustadz? Semoga engkau berada dalam keadaan baik dan sehat.”
«الْحَمْدُ لِلَّهِ أُبَشِّرُكَ، قَدْ زُرْتُ شَيْخَنَا عَرَفَاتَ حَفِظَهُ اللهُ.»
“Alhamdulillah, aku ingin menyampaikan kabar gembira kepadamu. Aku telah mengunjungi Syaikh kita Arafat hafizhahullah.”
«وَجَلَسْتُ مَعَهُ جَلْسَةً طَيِّبَةً.»
“Dan aku telah melakukan jalsah bersama beliau dengan jalsah yang sangat baik.”
«تَذَاكَرْنَا فِيهَا بَعْضَ الْمُسْتَجَدَّاتِ فِي سَاحَةِ الدَّعْوَةِ وَغَيْرِهَا.»
“Dalam jalsah tersebut kami membahas beberapa perkembangan baru di medan dakwah dan yang selain itu.”
Beliau tidak merinci apa yang dimaksud dengan “dan yang selain itu”.
«وَأَرْشَدَنِي بِنَصَائِحَ وَتَوْجِيهَاتٍ، جَزَاهُ اللهُ خَيْرًا، وَجَعَلَ ذٰلِكَ فِي مِيزَانِ حَسَنَاتِهِ.»
“Dan beliau memberikan kepadaku berbagai nasihat dan arahan. Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan dan menjadikan itu sebagai pemberat timbangan amal kebaikan beliau.”
«تَجْتَمِعُ بِهَا كَلِمَةُ السَّلَفِيِّينَ، وَخَاصَّةً عِنْدَنَا فِي بِلَادِ إِنْدُونِيسِيَا.»
“Yang dengan nasihat dan arahan tersebut, InsyaAllah akan menyatukan kalimat Salafiyyin, khususnya di negeri kita Indonesia.”
«وَأَنْتَ أَخُونَا الْكَبِيرُ.»
“Dan engkau wahai Ustadz Luqman adalah saudara tua kami.”
Yakni orang yang kami tuakan.
«وَالشَّيْخُ طَلَبَ مِنِّي أَنْ أَرْجِعَ إِلَيْكَ.»
“Dan Syaikh meminta aku untuk kembali kepadamu.”
«وَأَسْتَشِيرَكَ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِأُمُورِ الدَّعْوَةِ وَغَيْرِهَا.»
“Dan agar aku senantiasa bermusyawarah denganmu dalam perkara-perkara dakwah dan selainnya.”
Beliau juga tidak merinci apa yang dimaksud dengan “selainnya”.
«وَأَنْتَ لَكَ جُهُودُكَ الَّتِي تُذْكَرُ فَتُشْكَرُ.»
“Dan engkau memiliki jasa dan kontribusi besar yang patut disebut dan disyukuri.”
«وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ نَزَغَاتِ الشَّيَاطِينِ.»
“Dan kita berlindung kepada Allah dari gangguan-gangguan setan.”
«أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُوَفِّقَنِي وَإِيَّاكَ لِمَا يُحِبُّ وَيَرْضَى.»
“Aku memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepadaku dan kepadamu pada perkara yang Dia cintai dan Dia ridai.”
«وَأَنْ يُجَنِّبَنَا الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.»
“Dan semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai fitnah, yang tampak maupun yang tersembunyi. Amin, wahai Rabb semesta alam.”
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Pesan ini dikirim menjelang jalsah bersama Asy-Syaikh Arafat. Karena itu, Ustadz Luqman belum sempat membalasnya.
Barulah setelah jalsah selesai — sebagaimana poin-poin jalsah yang telah kita sebutkan tadi — Ustadz Luqman memberikan jawaban.
Namun karena saat itu beliau baru keluar dari rumah Asy-Syaikh Arafat dan sedang berjalan kaki, maka beliau tidak mengetik balasan tersebut.
Beliau membalasnya dengan voice note atau pesan suara.
Ustadz Luqman menjawab:
«وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، حَيَّاكَ اللهُ يَا أَبَا الْحَارِثِ، حَيَّاكَ اللهُ.»
“Wa‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Allah memberikan kehidupan yang baik kepadamu, wahai Abul Harits. Semoga Allah memberikan kehidupan yang baik kepadamu.”
«مَرْحَبًا، مَرْحَبًا، الْحَمْدُ لِلَّهِ أَنَا بِخَيْرٍ.»
“Selamat datang, selamat datang. Alhamdulillah, aku dalam keadaan baik.”
«وَعَسَاكَ كَذٰلِكَ.»
“Dan aku berharap demikian pula keadaanmu.”
«نَعَمْ، إِنْ شَاءَ اللهُ نَجْلِسُ عِنْدَ وُصُولِنَا إِلَى إِنْدُونِيسِيَا بِإِذْنِ اللهِ تَعَالَى، وَنَسْأَلُ اللهَ التَّوْفِيقَ.»
“Na‘am. InsyaAllah nanti kita akan duduk bersama setelah sampai di Indonesia dengan izin Allah Ta‘ala. Dan kita memohon taufik dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala.”
Ayyuhal Ikhwah,
Baru saja Ustadz Luqman sampai di penginapan hotel. Belum sampai 24 jam sejak jalsah bersama Asy-Syaikh Arafat — yang tadi telah ana sampaikan garis besar isi pembicaraannya kepada antum — di mana Asy-Syaikh Arafat berkata:
«قَدْ نَصَحْتُهُ، وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يَقْبَلُ النَّصِيحَةَ.»
“Aku telah menasihatinya, dan yang tampak padaku dia menerima nasihat.”
Ini perlu dicatat.
Kemudian dalam suratnya kepada Ustadz Luqman, Abul Harits mengatakan bahwa:
- Syaikh telah memerintahkannya untuk bermusyawarah dengan Ustadz Luqman.
- Syaikh telah menasihatinya.
- Syaikh telah memberinya arahan.
- Dan Syaikh meminta dirinya untuk kembali merujuk kepada Ustadz Luqman serta bermusyawarah dengannya dalam perkara-perkara dakwah dan selainnya.
Na‘am.
Ini adalah janji Ustadz Abul Harits kepada Asy-Syaikh Arafat secara langsung, dan juga kepada Ustadz Luqman melalui pesan WhatsApp.
Namun — والعياذ بالله — belum sampai 24 jam. Saat itu Ustadz Luqman masih berada di negeri Madinah.
Demikian pula Ustadz Abul Harits masih berada di negeri Madinah.
Tiba-tiba muncul screenshot status dari istri kedua Ustadz Abul Harits. Kalau kita tidak menyebut ini sebagai bentuk pengkhianatan dari Ustadz Abul Harits, lalu apa lagi?
Baru saja beliau berjanji kepada Ustadz Luqman untuk memusyawarahkan segala perkara yang berkaitan dengan dakwah.
Lantas bagaimana dengan status istrinya yang berkaitan dengan dakwah?
Isi jalsah Madinah justru dibongkar oleh istrinya melalui status WhatsApp, bahkan belum sampai 24 jam.
Dan pada salah satu poin dari sekian poin yang disampaikan dalam status tersebut, ternyata tidak sesuai dengan isi jalsah Madinah.
Walaupun memang ada beberapa poin lain yang sesuai dengan isi jalsah Madinah.
Na‘am.
Apa isi status tersebut?
Apa sebenarnya isi status itu?
InsyaAllah akan kita beberkan dan kita sampaikan pada pertemuan berikutnya.
Na‘am.
Karena kita khawatir waktunya menjadi terlalu panjang.
Sekarang muhadharah sudah berlangsung lebih dari satu jam.
Kita tadi mulai pukul 06.30, dan sekarang sudah pukul 07.47.
Di antara antum mungkin ada yang harus bekerja atau mempersiapkan berbagai urusan.
Maka untuk muhadharah sesi kedua ini kita cukupkan sampai di sini terlebih dahulu.
InsyaAllah, terkait status istri Ustadz Abul Harits akan kita bahas pada sesi yang ketiga.
Kapan waktunya?
Nanti akan diumumkan, InsyaAllah.
وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Dan Allah lebih mengetahui mana yang benar.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Sebelum kita akhiri, ana secara pribadi ingin menyampaikan kepada Ustadz Abul Harits:
«“Ya akhona, ya Ustadz Abul Harits, hentikanlah apa-apa yang telah engkau lakukan ini.”»
Terus terang, sampai sekarang kami masih membuka pintu.
Sekiranya antum mau, sebenarnya perkara ini mudah.
Antum cukup mengklarifikasi dan menarik kembali tuduhan-tuduhan berat tersebut.
Sampaikan bahwa itu tidak benar.
Sampaikan bahwa itu dusta.
Karena Ustadz Luqman adalah seorang Sunni Salafy yang dikenal oleh para Masyaikhul Kibar, baik yang telah wafat maupun yang masih hidup.
Sebenarnya perkara ini mudah.
Namun mengapa terasa begitu berat bagi beliau?
Dan juga sangat mudah sebenarnya bagi beliau untuk mengatakan:
«“Orang tersebut adalah seorang Hizby Ikhwany dan saya mentahdzirnya.”»
Apa susahnya?
Semoga saja beliau bisa menerima nasihat ini.
Kalau tidak, maka InsyaAllah pada sesi ketiga nanti akan kita lanjutkan lagi penjelasannya.
وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
«سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.»
Rekaman Audio:
https://t.me/kajiansalafypalopo/8007
Catatan:
Transkrip ini tidak disajikan secara harfiah (verbatim), namun telah melalui penyuntingan ringan berupa penghapusan pengulangan kata dan penataan kalimat tanpa mengubah makna yang disampaikan dalam muhadharah, dengan tujuan menjaga kejelasan dan kenyamanan pembaca.
Transkrip ini telah dibaca dan disetujui oleh Ustadz Abu Fuad hafizhahullah.
🌏 Channel FBF:
t.me/ForumBerbagiFaidah
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from Salafy Probolinggo
Simak Sekarang!!
Siaran Langsung MUHADHARAH ILMIAH Sesi 1 Bertemakan: MENGHIDUPKAN CAHAYA SALAFIYYAH DI TENGAH GELAPNYA FITNAH (Renungan Penting Tentang Beberapa Kejahatan Terhadap Pokok-pokok Dakwah Salafiyyah) | Bersama Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, LC hafidzahullah | Bertempat di Masjid Al Fauzan Kompleks Ma'had Al I'tishom bis Sunnah Kraksaan Probolinggo
Tautan:
https://t.me/ahlussunnahprobolinggo?livestream
Siaran Langsung MUHADHARAH ILMIAH Sesi 1 Bertemakan: MENGHIDUPKAN CAHAYA SALAFIYYAH DI TENGAH GELAPNYA FITNAH (Renungan Penting Tentang Beberapa Kejahatan Terhadap Pokok-pokok Dakwah Salafiyyah) | Bersama Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, LC hafidzahullah | Bertempat di Masjid Al Fauzan Kompleks Ma'had Al I'tishom bis Sunnah Kraksaan Probolinggo
Tautan:
https://t.me/ahlussunnahprobolinggo?livestream
Telegram
Salafy Probolinggo
Kumpulan:
🔸Faedah ilmiah dari Al Qur'an, hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, penjelasan dan bimbingan ulama
🔸Info dan audio kajian ilmiah
🔸Poster dakwah
Bersama para da'i Ahlussunnah wal jama'ah di wilayah Probolinggo - Jawa Timur dan sekitarnya.
🔸Faedah ilmiah dari Al Qur'an, hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, penjelasan dan bimbingan ulama
🔸Info dan audio kajian ilmiah
🔸Poster dakwah
Bersama para da'i Ahlussunnah wal jama'ah di wilayah Probolinggo - Jawa Timur dan sekitarnya.
Forwarded from SALAFY BANDUNG
FIGUR ISTRI SHALIHAH KETIKA DI RUMAH | Pemateri : Al-Ustadz Abu Jundi hafizhahullah | KAJIAN RUTIN IKHWAH WAL UMMAHAT BANDUNG RAYA SETIAP AHAD SIANG (Pekan Ke-1 dan Ke-3)
📑Live Telekonferensi:
t.me/SalafyBandung
Barakallahu Fiikum
◽️◾️◽️◾️◽️◽️◾️◽️◾️◽️
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from SABILUL ANBIYA
📡🌙🇮🇩 PENETAPAN 1 Dzulhijjah 1447 H
Keputusan pemerintah RI melalui Kemenag berdasarkan hasil sidang isbat malam ini menetapkan bahwa, tanggal 1 Dzulhijjah 1447 H jatuh pada hari Senin, 18 Mei 2026 M.
🗓 Hari Raya Idul Adha 1447 H jatuh pada hari Rabu , tanggal 27 Mei 2026 M
🔹 قناة سبيل الأنبياء 🔹
📲 Join • Save • Share ll
http://t.me/sabilulanbiya
•
🔄
Keputusan pemerintah RI melalui Kemenag berdasarkan hasil sidang isbat malam ini menetapkan bahwa, tanggal 1 Dzulhijjah 1447 H jatuh pada hari Senin, 18 Mei 2026 M.
🗓 Hari Raya Idul Adha 1447 H jatuh pada hari Rabu , tanggal 27 Mei 2026 M
🔹 قناة سبيل الأنبياء 🔹
📲 Join • Save • Share ll
http://t.me/sabilulanbiya
•
🔄
Forwarded from Islam Hari Ini
🗂 💻 Artikel-artikel Tentang Bulan Dzulhijjah di Website islamhariini.com
1️⃣ Keistimewaan Bulan Dzulhijjah Berdasarkan Hadits-hadits Sahih
🔗 https://islamhariini.com/keistimewaan-bulan-dzulhijjah-berdasarkan-hadits-hadits-sahih/
2️⃣ Bulan Dzulhijjah Bulan yang Sangat Agung
🔗 https://islamhariini.com/bulan-dzulhijjah-bulan-yang-sangat-agung/
3️⃣ Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah yang Penting Diketahui
🔗 https://islamhariini.com/keutamaan-10-hari-pertama-bulan-dzulhijjah/
4️⃣ Amalan Hari Arafah Sesuai Sunnah
🔗 https://islamhariini.com/amalan-hari-arafah-sesuai-sunnah/
5️⃣ Keutamaan Hari Arafah Berdasarkan Hadits Nabi
🔗 https://islamhariini.com/keutamaan-hari-arafah-berdasarkan-hadits-nabi/
6️⃣ Amalan Hari Tasyrik Sesuai Bimbingan Nabi
🔗 https://islamhariini.com/amalan-hari-tasyrik-sesuai-bimbingan-nabi/
#kumpulan_artikel
Semoga Bermanfaat...
➖➖➖➖➖➖➖
🌏📡 Channel Islam Hari Ini
🔗🔎 https://t.me/islamhariini
🖥 Website: www.islamhariini.com
1️⃣ Keistimewaan Bulan Dzulhijjah Berdasarkan Hadits-hadits Sahih
🔗 https://islamhariini.com/keistimewaan-bulan-dzulhijjah-berdasarkan-hadits-hadits-sahih/
2️⃣ Bulan Dzulhijjah Bulan yang Sangat Agung
🔗 https://islamhariini.com/bulan-dzulhijjah-bulan-yang-sangat-agung/
3️⃣ Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah yang Penting Diketahui
🔗 https://islamhariini.com/keutamaan-10-hari-pertama-bulan-dzulhijjah/
4️⃣ Amalan Hari Arafah Sesuai Sunnah
🔗 https://islamhariini.com/amalan-hari-arafah-sesuai-sunnah/
5️⃣ Keutamaan Hari Arafah Berdasarkan Hadits Nabi
🔗 https://islamhariini.com/keutamaan-hari-arafah-berdasarkan-hadits-nabi/
6️⃣ Amalan Hari Tasyrik Sesuai Bimbingan Nabi
🔗 https://islamhariini.com/amalan-hari-tasyrik-sesuai-bimbingan-nabi/
#kumpulan_artikel
Semoga Bermanfaat...
➖➖➖➖➖➖➖
🌏📡 Channel Islam Hari Ini
🔗🔎 https://t.me/islamhariini
🖥 Website: www.islamhariini.com
Website Islam Hari Ini
Keistimewaan Bulan Dzulhijjah Berdasarkan Hadits-hadits Sahih | IHI
Bulan Dzulhijjah merupakan bulan mulia di dalam Islam. Bulan Dzulhijjah adalah salah satu dari empat bulan haram (suci) yang disebutkan di dalam firman
Forwarded from Salafy Probolinggo
🗓⛔️ KETENTUAN LARANGAN POTONG KUKU BAGI CALON PENUNAI KURBAN DAN HIKMAHNYA
Dari Ummu Salamah radhiyallahu anha beliau berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:
مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ، فَإِذَا أُهِلَّ هِلَالُ ذِي الْحِجَّةِ فَلَا يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعَرِهِ، وَلَا مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا، حَتَّى يُضَحِّيَ
"Barang siapa yang memilki binatang sembelihan yang hendak dia kurbankan, apabila telah terlihat hilal bulan Dzulhijjah janganlah dia mengambil bagian rambutnya, jangan pula kuku-kukunya sedikitpun, sampai dia menunaikan penyembelihan kurbannya." (HR. Muslim)
Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan,
ﻓﺈﺫا ﺩﺧﻞ اﻟﻌﺸﺮ ﻣﻦ ﺫﻱ اﻟﺤﺠﺔ ﻭﺃﻥ ﺗﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﺗﻀﺤﻲ ﺃﺿﺤﻴﺔ ﻋﻦ ﻧﻔﺴﻚ ﺃﻭ ﻋﻦ ﻏﻴﺮﻙ ﻣﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻓﻼ ﺗﺄﺧﺬ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺷﻌﺮﻙ ﻻ ﻣﻦ اﻹﺑﻂ ﻭﻻ ﻣﻦ اﻟﻌﺎﻧﺔ ﻭﻻ ﻣﻦ اﻟﺸﺎﺭﺏ ﻭﻻ ﻣﻦ اﻟﺮﺃﺱ ﺣﺘﻰ ﺗﻀﺤﻲ ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻻ ﺗﺄﺧﺬﻥ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ اﻟﻈﻔﺮ ﻇﻔﺮ اﻟﻘﺪﻡ ﺃﻭ ﻇﻔﺮ اﻟﻴﺪ ﺣﺘﻰ ﺗﻀﺤﻲ
"Jadi apabila telah masuk sepuluh hari permulaan bulan Dzulhijjah, sedangkan anda telah berencana menunaikan penyembelihan hewan kurban dari atas nama anda pribadi atau atas nama orang lain dari perolehan harta anda, janganlah anda mengambil sedikitpun (dengan cara apapun; mencabut ataupun memotong -pen) sedikitpun dari rambut anda, tidak boleh untuk ketiak, kemaluan, kumis maupun kepala anda, sampai anda melaksanakan penyembelihan kurban. Begitu pula janganlah memotong sedikitpun dari bagian kuku, baik itu kuku kaki maupun kuku tangan, sampai anda melakukan penyembelihan kurban.
ﻭﺯاﺩ ﻏﻴﺮ ﻣﺴﻠﻢ: ﻭَﻻَ ﻣِﻦ ﺑَﺸَﺮَﺗِﻪِ - ﻳﻌﻨﻲ ﻣﻦ ﺟﻠﺪﻩ - ﻻ ﻳﺄﺧﺬ ﺷﻴﺌﺎ ﺣﺘﻰ ﻳﻀﺤﻲ
Selain Imam Muslim ada yang menambahkan (redaksi riwayat): 'jangan pula (merontokkan) permukaan badannya'. Yaitu kulitnya, jangan sampai diambil sama sekali sampai dia melakukan penyembelihan kurbannya.
ﻭﺫﻟﻚ اﺣﺘﺮاﻡ للأضحية ﻭﻷﺟﻞ ﺃﻥ ﻳﻨﺎﻝ ﻏﻴﺮ اﻟﻤﺤﺮﻣﻴﻦ ﻣﺎ ﻧﺎﻟﻪ اﻟﻤﺤﺮﻣﻮﻥ ﻣﻦ اﺣﺘﺮاﻡ اﻟﺸﻌﻮﺭ لأن اﻹﻧﺴﺎﻥ ﺇﺫا ﺣﺞ ﺃﻭ اﻋﺘﻤﺮ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺤﻠﻖ ﺭﺃﺳﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺒﻠﻎ اﻟﻬﺪﻱ ﻣﺤﻠﻪ فأراد اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ اﻟﺬﻳﻦ ﻟﻢ ﻳﺤﺠﻮا ﻭﻳﻌﺘﻤﺮﻭا ﻧﺼﻴﺒﺎ ﻣﻦ ﺷﻌﺎﺋﺮ اﻟﻨﺴﻚ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ
(Ketentuan) demikian itu dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah kurban. Dan supaya selain jemaah haji yang tengah berihram juga memperoleh (keutamaan) sebagaimana yang diperoleh orang-orang yang berihram, berupa menjaga rambut-rambutnya. Karena sesungguhnya seseorang yang tengah menjalani ihram dia tidak diperbolehkan mencukur rambut kepalanya sampai hewan (hadyu) sesembelihannya telah sampai pada (waktu) dan tempat pembagiannya (pasca penyembelihan -pen). Sehingga Allah Azza wa Jalla berkehendak agar para hamba-Nya yang tidak menunaikan haji dan tidak sedang berumroh turut mendapatkan bagian dari (keutamaan) syariat ritual penyembelihan binatang ternak (An Nusuk). Wallahu a'lam."
📚 Syarh Riyadush-Shalihin 6/450
https://t.me/ahlussunnahprobolinggo/479
•••❁○┈○❁•••
Channel Telegram:
Salafy Probolinggo
@ahlussunnahprobolinggo
Dari Ummu Salamah radhiyallahu anha beliau berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:
مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ، فَإِذَا أُهِلَّ هِلَالُ ذِي الْحِجَّةِ فَلَا يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعَرِهِ، وَلَا مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا، حَتَّى يُضَحِّيَ
"Barang siapa yang memilki binatang sembelihan yang hendak dia kurbankan, apabila telah terlihat hilal bulan Dzulhijjah janganlah dia mengambil bagian rambutnya, jangan pula kuku-kukunya sedikitpun, sampai dia menunaikan penyembelihan kurbannya." (HR. Muslim)
Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan,
ﻓﺈﺫا ﺩﺧﻞ اﻟﻌﺸﺮ ﻣﻦ ﺫﻱ اﻟﺤﺠﺔ ﻭﺃﻥ ﺗﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﺗﻀﺤﻲ ﺃﺿﺤﻴﺔ ﻋﻦ ﻧﻔﺴﻚ ﺃﻭ ﻋﻦ ﻏﻴﺮﻙ ﻣﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻓﻼ ﺗﺄﺧﺬ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺷﻌﺮﻙ ﻻ ﻣﻦ اﻹﺑﻂ ﻭﻻ ﻣﻦ اﻟﻌﺎﻧﺔ ﻭﻻ ﻣﻦ اﻟﺸﺎﺭﺏ ﻭﻻ ﻣﻦ اﻟﺮﺃﺱ ﺣﺘﻰ ﺗﻀﺤﻲ ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻻ ﺗﺄﺧﺬﻥ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ اﻟﻈﻔﺮ ﻇﻔﺮ اﻟﻘﺪﻡ ﺃﻭ ﻇﻔﺮ اﻟﻴﺪ ﺣﺘﻰ ﺗﻀﺤﻲ
"Jadi apabila telah masuk sepuluh hari permulaan bulan Dzulhijjah, sedangkan anda telah berencana menunaikan penyembelihan hewan kurban dari atas nama anda pribadi atau atas nama orang lain dari perolehan harta anda, janganlah anda mengambil sedikitpun (dengan cara apapun; mencabut ataupun memotong -pen) sedikitpun dari rambut anda, tidak boleh untuk ketiak, kemaluan, kumis maupun kepala anda, sampai anda melaksanakan penyembelihan kurban. Begitu pula janganlah memotong sedikitpun dari bagian kuku, baik itu kuku kaki maupun kuku tangan, sampai anda melakukan penyembelihan kurban.
ﻭﺯاﺩ ﻏﻴﺮ ﻣﺴﻠﻢ: ﻭَﻻَ ﻣِﻦ ﺑَﺸَﺮَﺗِﻪِ - ﻳﻌﻨﻲ ﻣﻦ ﺟﻠﺪﻩ - ﻻ ﻳﺄﺧﺬ ﺷﻴﺌﺎ ﺣﺘﻰ ﻳﻀﺤﻲ
Selain Imam Muslim ada yang menambahkan (redaksi riwayat): 'jangan pula (merontokkan) permukaan badannya'. Yaitu kulitnya, jangan sampai diambil sama sekali sampai dia melakukan penyembelihan kurbannya.
ﻭﺫﻟﻚ اﺣﺘﺮاﻡ للأضحية ﻭﻷﺟﻞ ﺃﻥ ﻳﻨﺎﻝ ﻏﻴﺮ اﻟﻤﺤﺮﻣﻴﻦ ﻣﺎ ﻧﺎﻟﻪ اﻟﻤﺤﺮﻣﻮﻥ ﻣﻦ اﺣﺘﺮاﻡ اﻟﺸﻌﻮﺭ لأن اﻹﻧﺴﺎﻥ ﺇﺫا ﺣﺞ ﺃﻭ اﻋﺘﻤﺮ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺤﻠﻖ ﺭﺃﺳﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺒﻠﻎ اﻟﻬﺪﻱ ﻣﺤﻠﻪ فأراد اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ اﻟﺬﻳﻦ ﻟﻢ ﻳﺤﺠﻮا ﻭﻳﻌﺘﻤﺮﻭا ﻧﺼﻴﺒﺎ ﻣﻦ ﺷﻌﺎﺋﺮ اﻟﻨﺴﻚ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ
(Ketentuan) demikian itu dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah kurban. Dan supaya selain jemaah haji yang tengah berihram juga memperoleh (keutamaan) sebagaimana yang diperoleh orang-orang yang berihram, berupa menjaga rambut-rambutnya. Karena sesungguhnya seseorang yang tengah menjalani ihram dia tidak diperbolehkan mencukur rambut kepalanya sampai hewan (hadyu) sesembelihannya telah sampai pada (waktu) dan tempat pembagiannya (pasca penyembelihan -pen). Sehingga Allah Azza wa Jalla berkehendak agar para hamba-Nya yang tidak menunaikan haji dan tidak sedang berumroh turut mendapatkan bagian dari (keutamaan) syariat ritual penyembelihan binatang ternak (An Nusuk). Wallahu a'lam."
📚 Syarh Riyadush-Shalihin 6/450
https://t.me/ahlussunnahprobolinggo/479
•••❁○┈○❁•••
Channel Telegram:
Salafy Probolinggo
@ahlussunnahprobolinggo
Forwarded from SALAFY BANDUNG
LIVE Materi Tematik | Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah | Al-Ustadz Abdullah Rizal hafizhahullah | Kajian Rutin Selasa Malam Rabu di Rumbel Shabran Jamila Bandung
📑Live Telekonferensi:
t.me/SalafyBandung
Barakallahu Fiikum
◽️◾️◽️◾️◽️◽️◾️◽️◾️◽️
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from Ahlussunnah Timika
🪢 ❌ HUKUM MENGIKAT ATAU MEMEGANG KAKI KAMBING KETIKA DISEMBELIH
(Fatwa Al 'Allamah Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah)
هل من الإحسان أن يمسك بيديها ورجليها ؟
قلنا: ليس من الإحسان، بل الإحسان أن يدعها تتحرك بأرجلها الأربع، لأن هذا أريح لها، ولأنه أشد في تفريغ الدم، وتفريغ الدم من الذبيحة أمر مقصود للشرع.......... فالأولى أن لا تمسك اليدان والرجلان. لكن توضع الرجل على الرقبة، لأن هذا أريح للذبيحة عند ذبحها (فتح ذي الجلال والإكرام ١٤/٣١٩)
Apakah termasuk berbuat baik (kepada hewan sembelihan) dengan dipegangi kedua tangan dan kakinya ?
☝️ Kami katakan: (Yang demikian) bukan termasuk berbuat baik kepadanya, bahkan berbuat baik kepadanya dengan membiarkannya bergerak dengan keempat kakinya, karena hal ini lebih membuat nyaman hewan tersebut. Dan yang demikian juga lebih cepat untuk mengeluarkan darah darinya, sementara mengeluarkan darah dari hewan sembelihan merupakan perkara yang dimaukan dalam syariat........Maka yang lebih utama adalah dengan tidak dipegangi kedua tangan dan kaki hewan tersebut. Adapun cara yang tepat adalah dengan meletakkan kaki orang yang menyembelih di leher hewan itu (sembari membiarkan keempat kaki sembelihannya bergerak-gerak,pen) karena yang demikian lebih nyaman untuk hewan sembelihan tersebut ketika disembelih. (Fathu Dzil Jalali Wal lkram 14/319)
فلا بد أن يضع رجله على صفاحها، وهذا الوضع شديد بحيث يضبط البهيمة بلا شك (الفتح ١٤/٣٣٢)
✅ Maka sang penyembelih harus meletakkan kakinya di leher hewan sembelihannya tanpa diragukan lagi. Dan meletakkannya dilakukan secara kuat sehingga hewan tersebut (posisinya) stabil/tidak goyang. (Kitab yang sama 14/332)
أنه لا يسن الإمساك بأرجلها، لأن النبيﷺ لم يفعل، ولم يأمر بذلك (الفتح ١٤/٣٣٦)
⛔ Bahwasanya tidak disunnahkan memegang kaki-kakinya, karena Nabiﷺ tidak melakukannya dan tidak pula memerintahkan yang demikian. (Kitab yang sama 14/336)
•••--------◇◆🌸📗🌸◆◇--------•••
📻 📡 Ahlussunnah Timika
Gabung - Ikuti - Share
📟 ▶️ Kanal Telegram: https://t.me/ahlussunnah_timika
(Fatwa Al 'Allamah Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah)
هل من الإحسان أن يمسك بيديها ورجليها ؟
قلنا: ليس من الإحسان، بل الإحسان أن يدعها تتحرك بأرجلها الأربع، لأن هذا أريح لها، ولأنه أشد في تفريغ الدم، وتفريغ الدم من الذبيحة أمر مقصود للشرع.......... فالأولى أن لا تمسك اليدان والرجلان. لكن توضع الرجل على الرقبة، لأن هذا أريح للذبيحة عند ذبحها (فتح ذي الجلال والإكرام ١٤/٣١٩)
Apakah termasuk berbuat baik (kepada hewan sembelihan) dengan dipegangi kedua tangan dan kakinya ?
☝️ Kami katakan: (Yang demikian) bukan termasuk berbuat baik kepadanya, bahkan berbuat baik kepadanya dengan membiarkannya bergerak dengan keempat kakinya, karena hal ini lebih membuat nyaman hewan tersebut. Dan yang demikian juga lebih cepat untuk mengeluarkan darah darinya, sementara mengeluarkan darah dari hewan sembelihan merupakan perkara yang dimaukan dalam syariat........Maka yang lebih utama adalah dengan tidak dipegangi kedua tangan dan kaki hewan tersebut. Adapun cara yang tepat adalah dengan meletakkan kaki orang yang menyembelih di leher hewan itu (sembari membiarkan keempat kaki sembelihannya bergerak-gerak,pen) karena yang demikian lebih nyaman untuk hewan sembelihan tersebut ketika disembelih. (Fathu Dzil Jalali Wal lkram 14/319)
فلا بد أن يضع رجله على صفاحها، وهذا الوضع شديد بحيث يضبط البهيمة بلا شك (الفتح ١٤/٣٣٢)
✅ Maka sang penyembelih harus meletakkan kakinya di leher hewan sembelihannya tanpa diragukan lagi. Dan meletakkannya dilakukan secara kuat sehingga hewan tersebut (posisinya) stabil/tidak goyang. (Kitab yang sama 14/332)
أنه لا يسن الإمساك بأرجلها، لأن النبيﷺ لم يفعل، ولم يأمر بذلك (الفتح ١٤/٣٣٦)
⛔ Bahwasanya tidak disunnahkan memegang kaki-kakinya, karena Nabiﷺ tidak melakukannya dan tidak pula memerintahkan yang demikian. (Kitab yang sama 14/336)
•••--------◇◆🌸📗🌸◆◇--------•••
📻 📡 Ahlussunnah Timika
Gabung - Ikuti - Share
📟 ▶️ Kanal Telegram: https://t.me/ahlussunnah_timika
Telegram
Ahlussunnah Timika
Mendakwahkan Kajian Islam dari Timika
Channel ini dibina oleh:
- Al-Ustadz Abu Muhammad Musa bin Hadi
- Al-Ustadz Abu Hammadh Irbadh
- Al-Ustadz Abu lbrahim Muhammad Baraja
- Al-Ustadz Muhammad Aceh
Hafizhahumullah jami'an
Channel ini dibina oleh:
- Al-Ustadz Abu Muhammad Musa bin Hadi
- Al-Ustadz Abu Hammadh Irbadh
- Al-Ustadz Abu lbrahim Muhammad Baraja
- Al-Ustadz Muhammad Aceh
Hafizhahumullah jami'an
Forwarded from Ahlussunnah Timika
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
TATA CARA PENYEMBELIHAN HEWAN QURBAN SESUAI SUNNAH
🎥#VideoDakwah_Timika
Tiktok : bit.ly/TKahlussunnahtimika
Youtube : bit.ly/YTahlussunnahtimika
Facebook : bit.ly/FBahlussunnahtimika
X : bit.ly/Xahlussunnahtimika
Instagram : bit.ly/IGahlussunnahtimika
° follow ° share ° save ° https://t.me/ahlussunnah_timika
🎥#VideoDakwah_Timika
Tiktok : bit.ly/TKahlussunnahtimika
Youtube : bit.ly/YTahlussunnahtimika
Facebook : bit.ly/FBahlussunnahtimika
X : bit.ly/Xahlussunnahtimika
Instagram : bit.ly/IGahlussunnahtimika
° follow ° share ° save ° https://t.me/ahlussunnah_timika
Forwarded from Daurah Masyaikh Imam Al-Muzani
📢 DM Al Muzani 5
📆 Tahun 1448 H/2026 M
☝️ Semoga Allah mudahkan dan berkahi. Amin
🌱 Insyaallah
https://t.me/daurahimamalmuzani/4821
📆 Tahun 1448 H/2026 M
☝️ Semoga Allah mudahkan dan berkahi. Amin
🌱 Insyaallah
https://t.me/daurahimamalmuzani/4821
Forwarded from SALAFY KALIMANTAN
🔊🌱 Simak Sekarang !!
📚 Tausiyah : Teman Dekatmu, Cerminan Manhajmu
💺 Bersama : Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi Lc hafizhahullah
📲 Channel Telegram :
➡️ https://t.me/salafiyunkalimantan
📚 Tausiyah : Teman Dekatmu, Cerminan Manhajmu
💺 Bersama : Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi Lc hafizhahullah
📲 Channel Telegram :
➡️ https://t.me/salafiyunkalimantan
Forwarded from Salafy Purbalingga Bersama Ulama
📡 Simak Sekarang!! #SESI 1
Rangkaian Daurah Ilmiyah IMAM ASY SYAFI'I di Purbalingga
🎙Bersama: Al - Ustadz Abu Jundi Hafidzahulloh
📚 Pembahasan : Mewaspadai Bahaya Mumayyi'in Terhadap Salafiyyin
📲 Live Streaming di
▶️Chanel Telegram :
https://t.me/salafypurbalingga?livestream=ebf1ec2fd53d0aa5e9
▶️ Radio Versi Web :
http://manhajulanbiya.com
atau
Download Aplikasi di
http://manhajulanbiya.com/radio
Rangkaian Daurah Ilmiyah IMAM ASY SYAFI'I di Purbalingga
🎙Bersama: Al - Ustadz Abu Jundi Hafidzahulloh
📚 Pembahasan : Mewaspadai Bahaya Mumayyi'in Terhadap Salafiyyin
📲 Live Streaming di
▶️Chanel Telegram :
https://t.me/salafypurbalingga?livestream=ebf1ec2fd53d0aa5e9
▶️ Radio Versi Web :
http://manhajulanbiya.com
atau
Download Aplikasi di
http://manhajulanbiya.com/radio