::
📬 SUDAH BERUSAHA MENCUCI NAJIS SECARA MAKSIMAL NAMUN MASIH TERSISA WARNANYA
Bagaimana Cara Menghilangkan Najis?
Cara menghilangkan najis adalah dengan berupaya menghilangkan warna, rasa, dan bau najis tersebut dengan berbagai media yang memungkinkan.
Paling utama dengan air. Namun, jika masih tersisa warna atau sedikit baunya (setelah melalui upaya maksimal), maka yang demikian dimaafkan.
Sebagaimana Khaulah bintu Yasar pernah bertanya kepada Nabi tentang cara membersihkan pakaian yang terkena darah haid, Nabi ﷺ bersabda:
يَكْفِيكِ الْمَاءُ وَلَا يَضُرُّكِ أَثَرُهُ
"Cukup bagimu (membersihkan) dengan air dan tidak mengapa (jika masih tersisa) bekasnya". (H.R Abu Dawud dan Ahmad, dinyatakan sanadnya shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir dan dishahihkan Syaikh al-Albaniy)
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ لَهَا امْرَأَةٌ : الدَّمُ يَكُونُ فِى الثَّوْبِ فَأَغْسِلُهُ فَلاَ يَذْهَبُ فَأُقَطِّعُهُ؟ قَالَتِ : الْمَاءُ طَهُورٌ
"Dari Aisyah, ada seorang wanita berkata kepadanya: Darah yang mengenai pakaian, aku sudah berusaha mencucinya namun tidak bisa hilang. Apakah perlu aku potong? Aisyah menjawab: Air sudah mensucikan". (riwayat ad-Daarimiy, dinyatakan sanadnya shahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim oleh Syaikh al-Albaniy dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
(dikutip dari buku "Fiqh Bersuci dan Sholat Sesuai Tuntunan Nabi" - edisi revisi, Abu Utsman Kharisman)
WA al I'tishom
Situs Web:
itishom.org
Telegram :
@alitishombissunnah
Siaran Radio Kajian Ba'da Maghrib:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 SUDAH BERUSAHA MENCUCI NAJIS SECARA MAKSIMAL NAMUN MASIH TERSISA WARNANYA
Bagaimana Cara Menghilangkan Najis?
Cara menghilangkan najis adalah dengan berupaya menghilangkan warna, rasa, dan bau najis tersebut dengan berbagai media yang memungkinkan.
Paling utama dengan air. Namun, jika masih tersisa warna atau sedikit baunya (setelah melalui upaya maksimal), maka yang demikian dimaafkan.
Sebagaimana Khaulah bintu Yasar pernah bertanya kepada Nabi tentang cara membersihkan pakaian yang terkena darah haid, Nabi ﷺ bersabda:
يَكْفِيكِ الْمَاءُ وَلَا يَضُرُّكِ أَثَرُهُ
"Cukup bagimu (membersihkan) dengan air dan tidak mengapa (jika masih tersisa) bekasnya". (H.R Abu Dawud dan Ahmad, dinyatakan sanadnya shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir dan dishahihkan Syaikh al-Albaniy)
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ لَهَا امْرَأَةٌ : الدَّمُ يَكُونُ فِى الثَّوْبِ فَأَغْسِلُهُ فَلاَ يَذْهَبُ فَأُقَطِّعُهُ؟ قَالَتِ : الْمَاءُ طَهُورٌ
"Dari Aisyah, ada seorang wanita berkata kepadanya: Darah yang mengenai pakaian, aku sudah berusaha mencucinya namun tidak bisa hilang. Apakah perlu aku potong? Aisyah menjawab: Air sudah mensucikan". (riwayat ad-Daarimiy, dinyatakan sanadnya shahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim oleh Syaikh al-Albaniy dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
(dikutip dari buku "Fiqh Bersuci dan Sholat Sesuai Tuntunan Nabi" - edisi revisi, Abu Utsman Kharisman)
WA al I'tishom
Situs Web:
itishom.org
Telegram :
@alitishombissunnah
Siaran Radio Kajian Ba'da Maghrib:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 SIAPAKAH YANG MENANTANG ALLAH DAN RASUL-NYA BERPERANG?!
Allah Ta’ala berfirman,
(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَذَرُوا۟ مَا بَقِیَ مِنَ ٱلرِّبَوٰۤا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِینَ فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُوا۟ فَأۡذَنُوا۟ بِحَرۡبࣲ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَإِن تُبۡتُمۡ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَ ٰلِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ وَلَا تُظۡلَمُونَ)
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika benar kalian adalah orang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah peperangan dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertaubat, maka kamu berhak atas pokok harta kamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan)." [QS. Al-Baqarah : 278 – 279].
Al-Imam Ismail bin Umar Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
“Ini merupakan ancaman keras dan peringatan yang ditekankan bagi siapa saja yang terus melakukan praktek ribawi setelah datangnya peringatan. Al-Imam Ibnu Juraij berkata: Ibnu Abbas menafsirkan ( فأذنوا بحرب ) dengan: “Yakinilah bahwa kamu akan diperangi oleh Allah dan RasulNya”.
Tafsir Al-Quranil Azhim 1/716 (cet. Daar At-Thayyibah).
————-
Nasehat Untuk Saudara Seiman
Wahai saudaraku muslim, apabila Engkau membutuhkan makan dan menyambung kehidupanmu janganlah engkau mengambilnya dari lembaga riba sedikitpun, terlebih lagi untuk membangun rumah ataupun membeli mobil.
Allah menghalalkan bangkai, daging babi, hewan yang mati terbanting, dan terjatuh dari ketinggian ketika kondisi darurat. Namun, Allah tidak pernah menghalalkan riba, dalam kondisi terdesak sekali pun.
Riba benar-benar berbahaya.
Riba sangat berbahaya.
Jangan bertransaksi dengan cara riba! Bersabarlah! Allah menyediakan jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa. Serta akan mendatangkan rezeki dari arah yang tidak terduga.
Riba adalah dosa besar dan membahayakan. Orang yang meyakini bahwa riba itu hukumnya halal, akan mengeluarkan dirinya dari keislaman.
Jika Engkau membutuhkan rumah, maka bersabarlah sampai Allah membukakan rezeki untukmu!
Kembalilah kepadaNya dengan bertaubat, bersandar dan berdoa serta tempuhlah sebab-sebabnya sampai Allah persiapkan rumah untukmu!
Jika belum pula mendapatkannya, mati dalam keadaan selamat dari tindakan memerangi Allah lebih baik bagimu.
Karena para lintah darat adalah orang-orang yang memerangi Allah na’udzubillah, sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat di atas.
BAHWA ALLAH MENGUMUMKAN PERANG TERHADAP PARA RENTENIR, LINTAH DARAT DAN PEMAKAN RIBA.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat para pemakan harta riba, para wakil, pencatat, dan kedua saksinya.
Apa yang Engkau harapkan setelah laknat Allah? Apakah rumah akan bermanfaat jika Neraka Jahannam ada di hadapan Engkau?
Sudah seharusnya seorang mukmin takut kepada Allah dan bersabar dalam menghadapi kemiskinannya.
Wabillahit taufiq wal hidayah
Sumber:
http://bit.ly/3A5a4xw
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 SIAPAKAH YANG MENANTANG ALLAH DAN RASUL-NYA BERPERANG?!
Allah Ta’ala berfirman,
(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَذَرُوا۟ مَا بَقِیَ مِنَ ٱلرِّبَوٰۤا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِینَ فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُوا۟ فَأۡذَنُوا۟ بِحَرۡبࣲ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَإِن تُبۡتُمۡ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَ ٰلِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ وَلَا تُظۡلَمُونَ)
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika benar kalian adalah orang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah peperangan dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertaubat, maka kamu berhak atas pokok harta kamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan)." [QS. Al-Baqarah : 278 – 279].
Al-Imam Ismail bin Umar Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
“Ini merupakan ancaman keras dan peringatan yang ditekankan bagi siapa saja yang terus melakukan praktek ribawi setelah datangnya peringatan. Al-Imam Ibnu Juraij berkata: Ibnu Abbas menafsirkan ( فأذنوا بحرب ) dengan: “Yakinilah bahwa kamu akan diperangi oleh Allah dan RasulNya”.
Tafsir Al-Quranil Azhim 1/716 (cet. Daar At-Thayyibah).
————-
Nasehat Untuk Saudara Seiman
Wahai saudaraku muslim, apabila Engkau membutuhkan makan dan menyambung kehidupanmu janganlah engkau mengambilnya dari lembaga riba sedikitpun, terlebih lagi untuk membangun rumah ataupun membeli mobil.
Allah menghalalkan bangkai, daging babi, hewan yang mati terbanting, dan terjatuh dari ketinggian ketika kondisi darurat. Namun, Allah tidak pernah menghalalkan riba, dalam kondisi terdesak sekali pun.
Riba benar-benar berbahaya.
Riba sangat berbahaya.
Jangan bertransaksi dengan cara riba! Bersabarlah! Allah menyediakan jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa. Serta akan mendatangkan rezeki dari arah yang tidak terduga.
Riba adalah dosa besar dan membahayakan. Orang yang meyakini bahwa riba itu hukumnya halal, akan mengeluarkan dirinya dari keislaman.
Jika Engkau membutuhkan rumah, maka bersabarlah sampai Allah membukakan rezeki untukmu!
Kembalilah kepadaNya dengan bertaubat, bersandar dan berdoa serta tempuhlah sebab-sebabnya sampai Allah persiapkan rumah untukmu!
Jika belum pula mendapatkannya, mati dalam keadaan selamat dari tindakan memerangi Allah lebih baik bagimu.
Karena para lintah darat adalah orang-orang yang memerangi Allah na’udzubillah, sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat di atas.
BAHWA ALLAH MENGUMUMKAN PERANG TERHADAP PARA RENTENIR, LINTAH DARAT DAN PEMAKAN RIBA.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat para pemakan harta riba, para wakil, pencatat, dan kedua saksinya.
Apa yang Engkau harapkan setelah laknat Allah? Apakah rumah akan bermanfaat jika Neraka Jahannam ada di hadapan Engkau?
Sudah seharusnya seorang mukmin takut kepada Allah dan bersabar dalam menghadapi kemiskinannya.
Wabillahit taufiq wal hidayah
Sumber:
http://bit.ly/3A5a4xw
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Buletin Al Ilmu
Audio: Siapa yang Menantang Allah dan Rasul-Nya Berperang?!!! - Buletin Al Ilmu
Allah Ta’ala berfirman, (یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَذَرُوا۟ مَا بَقِیَ مِنَ ٱلرِّبَوٰۤا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِینَ فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُوا۟ فَأۡذَنُوا۟ بِحَرۡبࣲ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَإِن تُبۡتُمۡ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَ ٰلِكُمۡ…
Forwarded from SABILUL ANBIYA
👍🏼 Walhamdulillah telah hadir kumpulan 4 Aplikasi Radio Ahlussunnah versi website (diakses via browser hp masing-masing):
✅ Radio Syariah
✅ RII
✅ Radio Minhajul Atsar
✅ Radio Rasyid
Link:
http://radiosalafy.com/
Bagi yang kapasitas memori hp nya terbatas karena terlalu banyak aplikasi yang memberatkan, bisa langsung klik alamat URL diatas.
Baarokallaahu fiikum..
✅ Radio Syariah
✅ RII
✅ Radio Minhajul Atsar
✅ Radio Rasyid
Link:
http://radiosalafy.com/
Bagi yang kapasitas memori hp nya terbatas karena terlalu banyak aplikasi yang memberatkan, bisa langsung klik alamat URL diatas.
Baarokallaahu fiikum..
http://www.radiosalafy.com
Tidak perlu install, tinggal klik.
Mudah diakses pakai browser biasa sekaligus solusi juga untuk hp iphone, linux, IOS, dll.
Tidak perlu install, tinggal klik.
Mudah diakses pakai browser biasa sekaligus solusi juga untuk hp iphone, linux, IOS, dll.
::
📬 PENENTUAN BATAS MASA HAIDH
Pertanyaan:
Saya adalah wanita yang berusaha sungguh-sungguh memperhatikan urusan kebersihan. Tetapi seringanya saya tidak mendapati cairan putih. Sehingga jumlah hari masa haidh saya dalam rentang 2 pekan. Sementara saya tidak melihat sisa darah kecuali pada pekan pertama yang terkadang maju sehari atau mundur sehari. Lalu muncul cairan yang berwarna khas atau keruh, kemudian setelahnya berwarna kekuningan. Setelah itu saya mendapati kelembaban yang biasa keluar dari wanita pada kesehariannya. Dan seperti saya sebutkan tadi, sering kali tidak saya dapati "cairan putih" (القصة البيضاء).
Saya berharap dari syaikh yang mulia penjelasan terkait hal-hal ini;
Kapankah dilakukan mandi untuk bersuci dari haidh pada situasi-situasi seperti itu?
Semoga Allah melindungi anda dari kesedihan di dunia maupun akhirat, demikian pula bagi kedua orang tua anda serta seluruh muslimin.
Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah:
Darah haidh apabila telah berhenti, lalu hanya tersisa cairan kekuningan atau cairan keruh, tidak perlu dianggap kondisi yang demikian. Maksudnya tidak ada pengaruh munculnya cairan keruh ataupun kekuningan (terhadap kesucian-pent.) setelah berhentinya darah. Karena Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى﴾ [البقرة:222]
"Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". (QS. Al Baqoroh : 222)
Sedangkan kotoran (yang dimaksud) yaitu darah (haidh).
Demikian pula Ummu 'Athiyah¹) radhiyallahu anha telah berkata:
كُنَّا لَا نَعُدُّ الصُّفْرَةَ وَالْكُدْرَةَ شَيْئًا
"Dulu kami (di masa sahabat Nabi) tidak menganggap munculnya cairan kekuningan (الصُّفْرَة) maupun cairan keruh (الْكُدْرَة) sama sekali."
Demikianlah disebutkan dalam riwayat Al Bukhori.²)
Sedangkan (ada penekanan tambahan-pent) dalam riwayat Abu Dawud:
بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا
".... setelah suci, sama sekali."
Namun (ingat) masa suci terhitung sejak terhentinya darah (haidh).
Berdasarkan hal ini, kami katakan untuk wanita (penanya) ini;
Selama anda masih mendapati haidh - yaitu darahnya - selama tujuh hari kemudian diikuti dengan munculnya cairan keruh maupun kekuningan, maka dia tetap mandi bersuci semenjak berhentinya darah haidh - yaitu berakhir ketika tujuh hari - kemudian hendaklah dia melakukan sholat ataupun puasa, serta berhubungan dengan suaminya jika dia memiliki suami, walaupun muncul cairan kekuningan ataupun cairan keruh."
السؤال:
أنا امرأة أجتهد كثيراً في أمر الطهارة ولكني لا أرى القصة البيضاء غالباً فتكون المدة التي أحيض فيها مدة أسبوعين، وأنا لا أرى الدم إلا مدة سبعة أيام تنقص يوماً أو تزيد يوماً، ثم تخرج مادة بنية اللون أو كدرة، ثم بعد ذلك صفرة، ثم أرى الرطوبة التي تخرج من المرأة في الأيام العادية، وكما ذكرت لا أرى القصة البيضاء في غالب الأمر، أرجو من فضيلتكم الإيضاح في هذا الأمر: متى يكون الاغتسال من الحيض في مثل هذه الحالة، كفاك الله هموم الدنيا والآخرة ووالديك وجميع المسلمين؟
الجواب:
دم الحيض إذا انقطع وخلفه صفرة أو كدرة فإنه لا عبرة بذلك، أي: لا عبرة بالكدرة والصفرة بعد انقطاع الدم؛ لأن الله تعالى يقول: ﴿وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى﴾ [البقرة:222] والأذى هو الدم، وقالت أم عطية : "كنا لا نعد الصفرة والكدرة شيئاً" هكذا رواية البخاري ولأبي داود : "بعد الطهر شيئاً" لكن يحصل الطهر إذا انقطع الدم.
وعلى هذا فنقول لهذه المرأة: ما دامت ترى الحيض -أي: الدم- سبعة أيام ثم يخلفه كدرة أو صفرة؛ فإنها تغتسل عند انقطاع دم الحيض -أي: عند تمام سبعة أيام- ثم تصلي وتصوم، ويأتيها زوجها إن كان لديها زوج ولو كان عليها صفرة أو كدرة.
https://binothaimeen.net/content/805
_________
Catatan kaki:
📬 PENENTUAN BATAS MASA HAIDH
Pertanyaan:
Saya adalah wanita yang berusaha sungguh-sungguh memperhatikan urusan kebersihan. Tetapi seringanya saya tidak mendapati cairan putih. Sehingga jumlah hari masa haidh saya dalam rentang 2 pekan. Sementara saya tidak melihat sisa darah kecuali pada pekan pertama yang terkadang maju sehari atau mundur sehari. Lalu muncul cairan yang berwarna khas atau keruh, kemudian setelahnya berwarna kekuningan. Setelah itu saya mendapati kelembaban yang biasa keluar dari wanita pada kesehariannya. Dan seperti saya sebutkan tadi, sering kali tidak saya dapati "cairan putih" (القصة البيضاء).
Saya berharap dari syaikh yang mulia penjelasan terkait hal-hal ini;
Kapankah dilakukan mandi untuk bersuci dari haidh pada situasi-situasi seperti itu?
Semoga Allah melindungi anda dari kesedihan di dunia maupun akhirat, demikian pula bagi kedua orang tua anda serta seluruh muslimin.
Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah:
Darah haidh apabila telah berhenti, lalu hanya tersisa cairan kekuningan atau cairan keruh, tidak perlu dianggap kondisi yang demikian. Maksudnya tidak ada pengaruh munculnya cairan keruh ataupun kekuningan (terhadap kesucian-pent.) setelah berhentinya darah. Karena Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى﴾ [البقرة:222]
"Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". (QS. Al Baqoroh : 222)
Sedangkan kotoran (yang dimaksud) yaitu darah (haidh).
Demikian pula Ummu 'Athiyah¹) radhiyallahu anha telah berkata:
كُنَّا لَا نَعُدُّ الصُّفْرَةَ وَالْكُدْرَةَ شَيْئًا
"Dulu kami (di masa sahabat Nabi) tidak menganggap munculnya cairan kekuningan (الصُّفْرَة) maupun cairan keruh (الْكُدْرَة) sama sekali."
Demikianlah disebutkan dalam riwayat Al Bukhori.²)
Sedangkan (ada penekanan tambahan-pent) dalam riwayat Abu Dawud:
بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا
".... setelah suci, sama sekali."
Namun (ingat) masa suci terhitung sejak terhentinya darah (haidh).
Berdasarkan hal ini, kami katakan untuk wanita (penanya) ini;
Selama anda masih mendapati haidh - yaitu darahnya - selama tujuh hari kemudian diikuti dengan munculnya cairan keruh maupun kekuningan, maka dia tetap mandi bersuci semenjak berhentinya darah haidh - yaitu berakhir ketika tujuh hari - kemudian hendaklah dia melakukan sholat ataupun puasa, serta berhubungan dengan suaminya jika dia memiliki suami, walaupun muncul cairan kekuningan ataupun cairan keruh."
السؤال:
أنا امرأة أجتهد كثيراً في أمر الطهارة ولكني لا أرى القصة البيضاء غالباً فتكون المدة التي أحيض فيها مدة أسبوعين، وأنا لا أرى الدم إلا مدة سبعة أيام تنقص يوماً أو تزيد يوماً، ثم تخرج مادة بنية اللون أو كدرة، ثم بعد ذلك صفرة، ثم أرى الرطوبة التي تخرج من المرأة في الأيام العادية، وكما ذكرت لا أرى القصة البيضاء في غالب الأمر، أرجو من فضيلتكم الإيضاح في هذا الأمر: متى يكون الاغتسال من الحيض في مثل هذه الحالة، كفاك الله هموم الدنيا والآخرة ووالديك وجميع المسلمين؟
الجواب:
دم الحيض إذا انقطع وخلفه صفرة أو كدرة فإنه لا عبرة بذلك، أي: لا عبرة بالكدرة والصفرة بعد انقطاع الدم؛ لأن الله تعالى يقول: ﴿وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى﴾ [البقرة:222] والأذى هو الدم، وقالت أم عطية : "كنا لا نعد الصفرة والكدرة شيئاً" هكذا رواية البخاري ولأبي داود : "بعد الطهر شيئاً" لكن يحصل الطهر إذا انقطع الدم.
وعلى هذا فنقول لهذه المرأة: ما دامت ترى الحيض -أي: الدم- سبعة أيام ثم يخلفه كدرة أو صفرة؛ فإنها تغتسل عند انقطاع دم الحيض -أي: عند تمام سبعة أيام- ثم تصلي وتصوم، ويأتيها زوجها إن كان لديها زوج ولو كان عليها صفرة أو كدرة.
https://binothaimeen.net/content/805
_________
Catatan kaki:
¹) Nama beliau adalah Nusaibah (ada yang menyatakan bintu Ka'ab ada yang menyatakan bintu Al Harits) Al Anshoriyyah radhiyallahu anha. Salah seorang ahli fiqh sahabat, dan shahabiyah yang dipercaya Nabi shollallahu 'alaihi wasallam untuk memandikan jenazah putri beliau, Zainab bintu Muhammad shollallahu alaihi wasallam. Beliau yang akhirnya menetap di Bashroh juga termasuk salah seorang wanita yang meriwayatkan sekian hadits dari Rasulillah shollallahu alaihi wasallam, radhiyallahu 'anha.
²) Redaksi riwayat Al Bukhari,
كُنَّا لَا نَعُدُّ الْكُدْرَةَ وَالصُّفْرَةَ شَيْئًا
Sementara yang disebutkan Syaikh rahimahullah sesuai redaksi pada riwayat An Nasai nomor hadits 368 dan dinyatakan Shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullah.
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
🖋️ Penerjemah: Abu Abdirrohman Sofian hafizhahullah | Grup WA Al I'tishom
Situs web resmi:
https://itishom.org/
Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
ـــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
²) Redaksi riwayat Al Bukhari,
كُنَّا لَا نَعُدُّ الْكُدْرَةَ وَالصُّفْرَةَ شَيْئًا
Sementara yang disebutkan Syaikh rahimahullah sesuai redaksi pada riwayat An Nasai nomor hadits 368 dan dinyatakan Shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullah.
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
🖋️ Penerjemah: Abu Abdirrohman Sofian hafizhahullah | Grup WA Al I'tishom
Situs web resmi:
https://itishom.org/
Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
ـــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 HUKUM SEORANG WANITA YANG MEMBERSIHKAN KOTORAN BAYINYA SETELAH BERWUDHU
Diajukan sebuah pertanyaan kepada Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah (Mufti Kerajaan Saudi Arabia semasa hidup beliau) sebagai berikut:
Permasalahan kedua:
Terkait seorang wanita yang telah berwudhu untuk mengerjakan shalat. Kemudian bayinya buang kotoran sehingga perlu untuk dibersihkan. Dia pun memandikan atau membersihkan bayinya dari najis tersebut. Apakah wudhuya batal dengan itu?
Beliau rahimahullah menjawab:
Apabila ia menyentuh salah satu kemaluan bayinya maka wudhunya menjadi batal karena hal itu. Namun jika tidak sampai menyentuh maka wudhunya tidak batal hanya karena membersihkan najis, meskipun tangannya bersentuhan langsung dengan kotoran tersebut saat mencucinya.
Yang perlu diperhatikan olehnya adalah hendaknya ia menyucikan tangannya setelah mencuci kotoran tadi dan menjaga agar najis tersebut tidak menempel pada badan atau bajunya.
Wassalamu alaikum…
Mufti Kerajaan Arab Saudi
Fatwa nomor 1127
Tertanggal: 16/4/1386 H
Sumber fatwa:
Fatawa Wa Rosail Syaikh Muhammad bin Ibrohim Alusy Syaikh 2/75
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Artikel bermanfaat lainnya
https://itishom.org/blog/artikel/fiqh/sudah-berusaha-mencuci-najis-secara-maksimal-namun-masih-tersisa-warnanya/
https://itishom.org/blog/artikel/fiqh/keutamaan-berwudhu/
https://itishom.org/blog/artikel/fiqh/hukum-menggunakan-air-hangat-untuk-bersuci/
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
_____
Catatan :
Sebagian Ulama lain berpendapat menyentuh kemaluan orang lain seperti anak kecil yang dimandikan ibunya tidaklah membatalkan wudhu. Hal ini adalah pendapat az-Zuhriy, al-Auza'iy, dan dikuatkan oleh Syaikh Ibn Utsaimin rahimahumullah
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
🖋️ Penerjemah: Abu Dzayyal Muhammad Wavi hafizhahullah | Grup WA Al I'tishom
Situs web resmi:
https://itishom.org/
Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
ـــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 HUKUM SEORANG WANITA YANG MEMBERSIHKAN KOTORAN BAYINYA SETELAH BERWUDHU
Diajukan sebuah pertanyaan kepada Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah (Mufti Kerajaan Saudi Arabia semasa hidup beliau) sebagai berikut:
Permasalahan kedua:
Terkait seorang wanita yang telah berwudhu untuk mengerjakan shalat. Kemudian bayinya buang kotoran sehingga perlu untuk dibersihkan. Dia pun memandikan atau membersihkan bayinya dari najis tersebut. Apakah wudhuya batal dengan itu?
Beliau rahimahullah menjawab:
Apabila ia menyentuh salah satu kemaluan bayinya maka wudhunya menjadi batal karena hal itu. Namun jika tidak sampai menyentuh maka wudhunya tidak batal hanya karena membersihkan najis, meskipun tangannya bersentuhan langsung dengan kotoran tersebut saat mencucinya.
Yang perlu diperhatikan olehnya adalah hendaknya ia menyucikan tangannya setelah mencuci kotoran tadi dan menjaga agar najis tersebut tidak menempel pada badan atau bajunya.
Wassalamu alaikum…
Mufti Kerajaan Arab Saudi
Fatwa nomor 1127
Tertanggal: 16/4/1386 H
Sumber fatwa:
Fatawa Wa Rosail Syaikh Muhammad bin Ibrohim Alusy Syaikh 2/75
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Artikel bermanfaat lainnya
https://itishom.org/blog/artikel/fiqh/sudah-berusaha-mencuci-najis-secara-maksimal-namun-masih-tersisa-warnanya/
https://itishom.org/blog/artikel/fiqh/keutamaan-berwudhu/
https://itishom.org/blog/artikel/fiqh/hukum-menggunakan-air-hangat-untuk-bersuci/
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
_____
Catatan :
Sebagian Ulama lain berpendapat menyentuh kemaluan orang lain seperti anak kecil yang dimandikan ibunya tidaklah membatalkan wudhu. Hal ini adalah pendapat az-Zuhriy, al-Auza'iy, dan dikuatkan oleh Syaikh Ibn Utsaimin rahimahumullah
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
🖋️ Penerjemah: Abu Dzayyal Muhammad Wavi hafizhahullah | Grup WA Al I'tishom
Situs web resmi:
https://itishom.org/
Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
ـــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Al I'tishom
Sudah Berusaha Mencuci Najis Secara Maksimal Namun Masih Tersisa Warnanya – Al I'tishom
Bagaimana Cara Menghilangkan Najis? Simak artikel kali ini. Semoga bermanfaat...
::
📬 BENARKAH QUSTHUL HINDI BERKHASIAT UNTUK COVID-19?
Akhir-akhir ini kita sering mendengar berbagai upaya pengobatan untuk menyembuhkan Covid-19, diantara yang sekarang mulai populer diperbincangkan tentang khasiatnya adalah Qusthul Hindi.
Saudaraku yang kami hormati,
Yang demikian tidak mengherankan, mengingat Qusthul Hindi sebenarnya telah menjadi obat dari berbagai penyakit sejak dahulu kala. Bahkan junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyebutkan khasiat Qusthul Hindi dalam beberapa haditsnya, di antaranya sebagai berikut :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْعُودِ الْهِنْدِيِّ فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ يُسْعَطُ بِهِ مِنْ الْعُذْرَةِ وَيُلَدُّ بِهِ مِنْ ذَاتِ الْجَنْبِ. (متفق عليه)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Gunakanlah kayu (Qusthul) Hindi, karena padanya terdapat tujuh ragam penyembuhan (dapat mengobati tujuh macam penyakit). (Di antaranya) dapat dijadikan sebagai obat tetes dengan memasukannya ke hidung untuk menyembuhkan penyakit Kerongkongan, dan dapat pula menyembuhkan penyakit radang selaput dada.” (Muttafaqun ‘alaih).
Saudaraku yang semoga dirahmati Allah, Telah disebutkan juga oleh banyak ulama tentang khasiat dari Qusthul Hindi ini, di antaranya untuk mengatasi penyakit yang berkaitan dengan pernapasan yang diakibatkan oleh lendir.
Diantara ulama tersebut adalah Al Hafizh lbnu Hajar di dalam kitab beliau yang agung Fathul Bari. Wallahu a’lamu bish shawab.
Semoga bermanfaat!
Sumber:
http://bit.ly/2XSfTQY
ـــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 BENARKAH QUSTHUL HINDI BERKHASIAT UNTUK COVID-19?
Akhir-akhir ini kita sering mendengar berbagai upaya pengobatan untuk menyembuhkan Covid-19, diantara yang sekarang mulai populer diperbincangkan tentang khasiatnya adalah Qusthul Hindi.
Saudaraku yang kami hormati,
Yang demikian tidak mengherankan, mengingat Qusthul Hindi sebenarnya telah menjadi obat dari berbagai penyakit sejak dahulu kala. Bahkan junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyebutkan khasiat Qusthul Hindi dalam beberapa haditsnya, di antaranya sebagai berikut :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْعُودِ الْهِنْدِيِّ فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ يُسْعَطُ بِهِ مِنْ الْعُذْرَةِ وَيُلَدُّ بِهِ مِنْ ذَاتِ الْجَنْبِ. (متفق عليه)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Gunakanlah kayu (Qusthul) Hindi, karena padanya terdapat tujuh ragam penyembuhan (dapat mengobati tujuh macam penyakit). (Di antaranya) dapat dijadikan sebagai obat tetes dengan memasukannya ke hidung untuk menyembuhkan penyakit Kerongkongan, dan dapat pula menyembuhkan penyakit radang selaput dada.” (Muttafaqun ‘alaih).
Saudaraku yang semoga dirahmati Allah, Telah disebutkan juga oleh banyak ulama tentang khasiat dari Qusthul Hindi ini, di antaranya untuk mengatasi penyakit yang berkaitan dengan pernapasan yang diakibatkan oleh lendir.
Diantara ulama tersebut adalah Al Hafizh lbnu Hajar di dalam kitab beliau yang agung Fathul Bari. Wallahu a’lamu bish shawab.
Semoga bermanfaat!
Sumber:
http://bit.ly/2XSfTQY
ـــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Buletin Al Ilmu
Audio: Benarkah Qusthul Hindi Berkhasiat untuk COVID-19? - Buletin Al Ilmu
Akhir-akhir ini kita sering mendengar berbagai upaya pengobatan untuk menyembuhkan Covid-19, diantara yang sekarang mulai populer diperbincangkan tentang khasiatnya adalah Qusthul Hindi. Saudaraku yang kami hormati, Yang demikian tidak mengherankan, mengingat…
::
📬 TIDAK ADA SATU HADITS SHOHIH PUN YANG MENYATAKAN BAHWA RASULULLAH ﷺ PERNAH MENGUAP
قال الشيخ مقبل بن هادي رحمه الله:
كذلك أيضًا التثاؤب ما فيه دليل على أن النبي - صلى الله عليه وعلى آله وسلم - تثاءب ، وأما التثاؤب فنعم أن النبي -ﷺ- قال : " العطاس من الله ، والتثاؤب من الشيطان "
Berkata Asy Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah:
"Begitu juga dengan menguap, tidak ada satu dalilpun yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah menguap. Adapun tentang menguap, maka sesungguhnya Nabi ﷺ telah bersabda:
العُطَاسُ مِنَ اللهِ، وَالتَّثَاؤُبُ مِنَ الشَّيطَانِ
"Perbuatan bersin berasal dari Allah, adapun menguap berasal dari syaitan."
Sumber:
https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2989
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 TIDAK ADA SATU HADITS SHOHIH PUN YANG MENYATAKAN BAHWA RASULULLAH ﷺ PERNAH MENGUAP
قال الشيخ مقبل بن هادي رحمه الله:
كذلك أيضًا التثاؤب ما فيه دليل على أن النبي - صلى الله عليه وعلى آله وسلم - تثاءب ، وأما التثاؤب فنعم أن النبي -ﷺ- قال : " العطاس من الله ، والتثاؤب من الشيطان "
Berkata Asy Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah:
"Begitu juga dengan menguap, tidak ada satu dalilpun yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah menguap. Adapun tentang menguap, maka sesungguhnya Nabi ﷺ telah bersabda:
العُطَاسُ مِنَ اللهِ، وَالتَّثَاؤُبُ مِنَ الشَّيطَانِ
"Perbuatan bersin berasal dari Allah, adapun menguap berasal dari syaitan."
Sumber:
https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2989
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
www.muqbel.net
هل الأنبياء يحتلمون ويتثأبون إلى غير ذلك من الأفعال التي تكون من آثار الشيطان ؟ | فتاوى الشيخ مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله
::
📬 BAGAIMANAKAH IKATAN PERSAUDARAAN ITU DAPAT TERAJUT KEMBALI DI TENGAH-TENGAH IKHWAH SALAFIYYIN DAN HUKUM DIAMNYA SEBAGIAN IKHWAH DALAM FITNAH DAN PERTIKAIAN SEMISAL (YANG TERJADI) INI (BAG.1)
Oleh:
Asy-Syaikh al-‘Allamah Profesor Doktor Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari Hafizhahullah
فلا يخفى على أحد منكم – بارك الله فيكم – ما يجري في بعض البلدان وفي بعض الأمصار بين بعض الإخوة من أهل السنة والجماعة أعني السلفيين أهل السنة المحضة من بعض الأمور الحادثة مما تولد عن ذلك شيء من الشحناء أو البغضاء أو النيل بعضهم من بعض أو الكلام بعضهم في بعض بلا حجة ولا برهان من البعض وإنما يقلد غيره بدون روية وتأمل.
Tidak tersembunyi bagi seorang pun dari kalian barakallahu fikum apa yang terjadi di sebagian negeri dan di sebagian kota di antara sebagian ikhwah dari kalangan Ahlussunnah Waljama’ah yang saya maksud adalah Salafiyyin Ahlussunnah sejati.
Dari sebagian perkara (dakwah) yang terjadi yang lahir dari itu sesuatu dari permusuhan, kebencian, celaan dari sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, atau perkataan dari sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, tanpa adanya hujjah dan bukti dari sebagian mereka itu, dengan hanya mengikuti secara buta (taqlid) kepada orang lain tanpa berpikir panjang dan renungan mendalam.
أقول: وجود مثل هذا يولد التقاطع والتدابر والتناحر بين الإخوة بعضهم بعضا، ولا شك أن المرء ليس معصوما ولا منزها عن الوقوع في الخطأ، فالخطأ وارد، من ذا الذي يسلم من الخطأ؟! فلا يكاد يسلم من الخطأ والغلط أحد. كما قال الإمام يحيى رحمه الله: " لَيْسَ الْعَجَبُ مِمَّنْ يُحَدِّثُ فَيُخْطِيءُ، وَإِنَّمَا الْعَجَبُ مِمَّنْ يُحَدِّثُ فَلَا يُخْطِيءُ."
وقد تواردت كلمات أهل العلم على ورود الإنسان أو وقوعه في الخطأ أو السهو أو النسيان، لكن في خضمّ هذا كله ومع ظهور الحق واستبانته تبقى النفوس وما فيها من بعضهم بعضا.
Saya katakan (baca: tegaskan): Keberadaan hal seperti ini akan melahirkan sikap saling memutuskan hubungan, saling berpaling, dan saling bertikai di antara ikhwah sebagian mereka terhadap sebagian yang lain.
Tidak diragukan lagi bahwa seseorang tidaklah ma’shum dan tidak pula bersih dari kemungkinan terjatuh dalam kesalahan. Maka kesalahan pasti terjadi. Siapakah orang yang bisa selamat dari kesalahan?!
Hampir-hampir tidak ada seseorang yang selamat dari kesalahan dan kekeliruan. Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam Yahya (bin Ma’in) rahimahullah,
لَيْسَ الْعَجَبُ مِمَّنْ يُحَدِّثُ فَيُخْطِيءُ، وَإِنَّمَا الْعَجَبُ مِمَّنْ يُحَدِّثُ فَلَا يُخْطِيءُ
“Tidaklah mengherankan seseorang yang menyampaikan hadits lalu tersalah, hanya saja yang mengherankan adalah seseorang yang menyampaikan hadits tanpa pernah salah.”
Telah banyak perkataan ahlul ilmi tentang kemungkinan terjatuhnya seorang manusia dalam kesalahan, kelalaian, atau lupa, namun di tengah ini semua dan seiring dengan telah tampak dan jelasnya kebenaran, ternyata jiwa mereka (ikhwah) dan gejolak yang ada di dalamnya masih belum lapang terhadap sebagian yang lain.
وهنا أُذَكِّرُ الإخوةَ – بارك الله فيكم – بأمر عظيم وخُلُقٍ نبيل جاء في النصوص في الوحيين وعن سلف الأمة في الحث على التحلي والتخلق به، ألا وهو العَفْوُ والصَّفْحُ. يقول الله جل وعلا: {وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ} (النور : 22)
Di sini, saya mengingatkan ikhwah barakallahu fikum dengan perkara yang agung dan perangai mulia yang terdapat di dalam nash-nash dua wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan mutiara kata dari salaful ummah (pendahulu terbaik umat ini) tentang hasungan untuk berhias dan berakhlaq dengannya. Ketahuilah, ia adalah perangai memaafkan dan berlapang dada.
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (an-Nur: 22)
Bersambung..
📼 Sumber Audio:
https://t.me/dr_elbukhary/839
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 BAGAIMANAKAH IKATAN PERSAUDARAAN ITU DAPAT TERAJUT KEMBALI DI TENGAH-TENGAH IKHWAH SALAFIYYIN DAN HUKUM DIAMNYA SEBAGIAN IKHWAH DALAM FITNAH DAN PERTIKAIAN SEMISAL (YANG TERJADI) INI (BAG.1)
Oleh:
Asy-Syaikh al-‘Allamah Profesor Doktor Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari Hafizhahullah
فلا يخفى على أحد منكم – بارك الله فيكم – ما يجري في بعض البلدان وفي بعض الأمصار بين بعض الإخوة من أهل السنة والجماعة أعني السلفيين أهل السنة المحضة من بعض الأمور الحادثة مما تولد عن ذلك شيء من الشحناء أو البغضاء أو النيل بعضهم من بعض أو الكلام بعضهم في بعض بلا حجة ولا برهان من البعض وإنما يقلد غيره بدون روية وتأمل.
Tidak tersembunyi bagi seorang pun dari kalian barakallahu fikum apa yang terjadi di sebagian negeri dan di sebagian kota di antara sebagian ikhwah dari kalangan Ahlussunnah Waljama’ah yang saya maksud adalah Salafiyyin Ahlussunnah sejati.
Dari sebagian perkara (dakwah) yang terjadi yang lahir dari itu sesuatu dari permusuhan, kebencian, celaan dari sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, atau perkataan dari sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, tanpa adanya hujjah dan bukti dari sebagian mereka itu, dengan hanya mengikuti secara buta (taqlid) kepada orang lain tanpa berpikir panjang dan renungan mendalam.
أقول: وجود مثل هذا يولد التقاطع والتدابر والتناحر بين الإخوة بعضهم بعضا، ولا شك أن المرء ليس معصوما ولا منزها عن الوقوع في الخطأ، فالخطأ وارد، من ذا الذي يسلم من الخطأ؟! فلا يكاد يسلم من الخطأ والغلط أحد. كما قال الإمام يحيى رحمه الله: " لَيْسَ الْعَجَبُ مِمَّنْ يُحَدِّثُ فَيُخْطِيءُ، وَإِنَّمَا الْعَجَبُ مِمَّنْ يُحَدِّثُ فَلَا يُخْطِيءُ."
وقد تواردت كلمات أهل العلم على ورود الإنسان أو وقوعه في الخطأ أو السهو أو النسيان، لكن في خضمّ هذا كله ومع ظهور الحق واستبانته تبقى النفوس وما فيها من بعضهم بعضا.
Saya katakan (baca: tegaskan): Keberadaan hal seperti ini akan melahirkan sikap saling memutuskan hubungan, saling berpaling, dan saling bertikai di antara ikhwah sebagian mereka terhadap sebagian yang lain.
Tidak diragukan lagi bahwa seseorang tidaklah ma’shum dan tidak pula bersih dari kemungkinan terjatuh dalam kesalahan. Maka kesalahan pasti terjadi. Siapakah orang yang bisa selamat dari kesalahan?!
Hampir-hampir tidak ada seseorang yang selamat dari kesalahan dan kekeliruan. Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam Yahya (bin Ma’in) rahimahullah,
لَيْسَ الْعَجَبُ مِمَّنْ يُحَدِّثُ فَيُخْطِيءُ، وَإِنَّمَا الْعَجَبُ مِمَّنْ يُحَدِّثُ فَلَا يُخْطِيءُ
“Tidaklah mengherankan seseorang yang menyampaikan hadits lalu tersalah, hanya saja yang mengherankan adalah seseorang yang menyampaikan hadits tanpa pernah salah.”
Telah banyak perkataan ahlul ilmi tentang kemungkinan terjatuhnya seorang manusia dalam kesalahan, kelalaian, atau lupa, namun di tengah ini semua dan seiring dengan telah tampak dan jelasnya kebenaran, ternyata jiwa mereka (ikhwah) dan gejolak yang ada di dalamnya masih belum lapang terhadap sebagian yang lain.
وهنا أُذَكِّرُ الإخوةَ – بارك الله فيكم – بأمر عظيم وخُلُقٍ نبيل جاء في النصوص في الوحيين وعن سلف الأمة في الحث على التحلي والتخلق به، ألا وهو العَفْوُ والصَّفْحُ. يقول الله جل وعلا: {وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ} (النور : 22)
Di sini, saya mengingatkan ikhwah barakallahu fikum dengan perkara yang agung dan perangai mulia yang terdapat di dalam nash-nash dua wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan mutiara kata dari salaful ummah (pendahulu terbaik umat ini) tentang hasungan untuk berhias dan berakhlaq dengannya. Ketahuilah, ia adalah perangai memaafkan dan berlapang dada.
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (an-Nur: 22)
Bersambung..
📼 Sumber Audio:
https://t.me/dr_elbukhary/839
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
قناة فضيلة الشيخ أ.د. عبد الله البخاري
•
#نصيحة وتنبيه بعنوان ⇣
°| كيف ترجع اللّحمة بين الإخوة السلفيين |°°
[ وحكم سكوت بعض الإخوة في مثل هذه الفتن والنزاعات ]
▪️للشيخ العلامة أ د. :
🎙 عبدالله بن عبدالرحيم البخاري حفظه الله
•
https://t.me/dr_elbukhary
•
🔄
#نصيحة وتنبيه بعنوان ⇣
°| كيف ترجع اللّحمة بين الإخوة السلفيين |°°
[ وحكم سكوت بعض الإخوة في مثل هذه الفتن والنزاعات ]
▪️للشيخ العلامة أ د. :
🎙 عبدالله بن عبدالرحيم البخاري حفظه الله
•
https://t.me/dr_elbukhary
•
🔄
Forwarded from قناة فضيلة الشيخ أ.د. عبد الله البخاري
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
•
#نصيحة وتنبيه بعنوان ⇣
°| كيف ترجع اللّحمة بين الإخوة السلفيين |°°
[ وحكم سكوت بعض الإخوة في مثل هذه الفتن والنزاعات ]
▪️للشيخ العلامة أ د. :
🎙 عبدالله بن عبدالرحيم البخاري حفظه الله
•
https://t.me/dr_elbukhary
•
🔄
#نصيحة وتنبيه بعنوان ⇣
°| كيف ترجع اللّحمة بين الإخوة السلفيين |°°
[ وحكم سكوت بعض الإخوة في مثل هذه الفتن والنزاعات ]
▪️للشيخ العلامة أ د. :
🎙 عبدالله بن عبدالرحيم البخاري حفظه الله
•
https://t.me/dr_elbukhary
•
🔄
::
📬 BAGAIMANAKAH IKATAN PERSAUDARAAN ITU DAPAT TERAJUT KEMBALI DI TENGAH-TENGAH IKHWAH SALAFIYYIN DAN HUKUM DIAMNYA SEBAGIAN IKHWAH DALAM FITNAH DAN PERTIKAIAN SEMISAL (YANG TERJADI) INI (BAG.2)
Oleh:
Asy-Syaikh al-‘Allamah Profesor Doktor Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari Hafizhahullah
ولا يخفى عليكم ما جرى في حديث الإفك الطويل، مع الصديقة بنت الصديق رضي الله تعالى عنها وعن أبيها وعن سائر أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم. ويقول الله جل وعلا: {وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)}
Tidak tersembunyi bagi kalian apa yang terjadi pada peristiwa Hadits al-Ifki (berita bohong) yang panjang yang dialami oleh ash-Shiddiqah bintu ash-Shiddiq (Ummul Mukminin Aisyah bintu Abu Bakr as-Shiddiq) semoga Allah meridhai beliau, ayah beliau dan semua sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
{وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)}
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 133-134)
يقول هنا شيخ شيوخنا العلامة السعدي رحمه الله في تفسيره في قوله تعالى: ( والعافين عن الناس) قال: "يدخل في العفو عن الناس العفو عن كل من أساء إليك بقول أو فعل، والعفو أبلغ من الكظم، لأن العفو ترك المجازات على الذنب مع المسامحة للمسيء." أو كما قال رحمه الله.
Berkata guru dari guru-guru kami, al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah tentang firman Allah Ta’ala,
{وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ}
“..dan memaafkan (kesalahan) orang.”
“Termasuk dalam perbuatan memaafkan (kesalahan) orang adalah memaafkan setiap orang yang berbuat kejelekan kepadamu dengan perkataan atau perbuatannya.
Memaafkan derajatnya lebih tinggi dari menahan amarah, karena memaafkan tidak membalas kejelekan sekaligus memaafkan orang yang berbuat kejelekan tersebut.” Kurang lebih demikian perkataan beliau rahimahullah.
ويقول الله تعالى : {وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (40)}
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (asy-Syura: 40)
يقول العلامة السعدي رحمه الله أيضا في تفسيره : إن الله جل وعلا جعل العقوبات على ثلاث مراتب:
- عدل، وهذا ظاهر في قوله: ( وجزاء سيئة سيئة مثلها)
- وفضل، ( فمن عفا وأصلح )
- وظلم، لقوله تعالى ( إنه لا يحب الظالمين )
Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah juga berkata di dalam tafsirnya,
“Sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Ala menjadikan balasan suatu kejahatan ada tiga tingkatan:
1⃣ Keadilan (balasan yang serupa), dan ini tampak jelas pada firman-Nya, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.”
2⃣ Keutamaan, (dan ini sebagaimana firman-Nya), “Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik.”
3⃣ Kezaliman, berdasarkan firman-Nya Ta’ala, “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”
ويقول جل في علاه: {وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ (37)}
Allah Jalla fi ‘Ulah berfirman, “dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (asy-Syura: 37)
📬 BAGAIMANAKAH IKATAN PERSAUDARAAN ITU DAPAT TERAJUT KEMBALI DI TENGAH-TENGAH IKHWAH SALAFIYYIN DAN HUKUM DIAMNYA SEBAGIAN IKHWAH DALAM FITNAH DAN PERTIKAIAN SEMISAL (YANG TERJADI) INI (BAG.2)
Oleh:
Asy-Syaikh al-‘Allamah Profesor Doktor Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari Hafizhahullah
ولا يخفى عليكم ما جرى في حديث الإفك الطويل، مع الصديقة بنت الصديق رضي الله تعالى عنها وعن أبيها وعن سائر أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم. ويقول الله جل وعلا: {وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)}
Tidak tersembunyi bagi kalian apa yang terjadi pada peristiwa Hadits al-Ifki (berita bohong) yang panjang yang dialami oleh ash-Shiddiqah bintu ash-Shiddiq (Ummul Mukminin Aisyah bintu Abu Bakr as-Shiddiq) semoga Allah meridhai beliau, ayah beliau dan semua sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
{وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)}
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 133-134)
يقول هنا شيخ شيوخنا العلامة السعدي رحمه الله في تفسيره في قوله تعالى: ( والعافين عن الناس) قال: "يدخل في العفو عن الناس العفو عن كل من أساء إليك بقول أو فعل، والعفو أبلغ من الكظم، لأن العفو ترك المجازات على الذنب مع المسامحة للمسيء." أو كما قال رحمه الله.
Berkata guru dari guru-guru kami, al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah tentang firman Allah Ta’ala,
{وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ}
“..dan memaafkan (kesalahan) orang.”
“Termasuk dalam perbuatan memaafkan (kesalahan) orang adalah memaafkan setiap orang yang berbuat kejelekan kepadamu dengan perkataan atau perbuatannya.
Memaafkan derajatnya lebih tinggi dari menahan amarah, karena memaafkan tidak membalas kejelekan sekaligus memaafkan orang yang berbuat kejelekan tersebut.” Kurang lebih demikian perkataan beliau rahimahullah.
ويقول الله تعالى : {وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (40)}
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (asy-Syura: 40)
يقول العلامة السعدي رحمه الله أيضا في تفسيره : إن الله جل وعلا جعل العقوبات على ثلاث مراتب:
- عدل، وهذا ظاهر في قوله: ( وجزاء سيئة سيئة مثلها)
- وفضل، ( فمن عفا وأصلح )
- وظلم، لقوله تعالى ( إنه لا يحب الظالمين )
Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah juga berkata di dalam tafsirnya,
“Sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Ala menjadikan balasan suatu kejahatan ada tiga tingkatan:
1⃣ Keadilan (balasan yang serupa), dan ini tampak jelas pada firman-Nya, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.”
2⃣ Keutamaan, (dan ini sebagaimana firman-Nya), “Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik.”
3⃣ Kezaliman, berdasarkan firman-Nya Ta’ala, “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”
ويقول جل في علاه: {وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ (37)}
Allah Jalla fi ‘Ulah berfirman, “dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (asy-Syura: 37)
قال الإمام ابن كثير رحمه الله في تفسيره: "أي سجيتهم وطبعهم وخلقهم العفو والصفح عن الناس، وليس من سجيتهم الانتقام من الناس." ( وإذا ما غضبوا هم يغفرون )
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya, “Yaitu, karakter, tabiat, dan perangai mereka adalah memaafkan dan berlapang dada terhadap manusia, dan bukan dari karakter mereka balas dendam terhadap manusia.”
( وإذا ما غضبوا هم يغفرون )
“dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.”
ويقول صلى الله عليه وآله وسلم فيما أخرجه مسلم في الصحيح من حديث أبي هريرة رضي الله تعالى عنه، قال عليه الصلاة والسلام: "مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ." وهذا كلام الصادق المصدوق صلى الله عليه وسلم، "وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا."
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam ash-Shahih, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu Ta’ala anhu, beliau alaihis shalatu wassalam bersabda,
"مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ." وهذا كلام الصادق المصدوق صلى الله عليه وسلم، "وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا."
“Tidaklah shadaqah itu mengurangi harta, tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan sebab memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendah diri karena Allah kecuali Allah mengangkat derajatnya.”
Dan ini perkataan ash-Shadiq al-Mashduq (seorang yang jujur dan dapat dipercaya) shallallahu alaihi wasallam,
"وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا."
“Dan tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan sebab memaafkan kecuali kemuliaan.”
وفي حديث عبد الله بن عمرو بن العاص أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "اِرْحَمُوا تُرْحَمُوا وَاغْفِرُوا يُغْفَرْ لَكُمْ." أخرج هذا الحديث الأئمة أحمد في مسنده والبخاري في الأدب المفرد والطبراني في الكبير، وجود إسناده الحافظ المنذري رحمه الله في الترغيب، وصححه العلامة أحمد شاكر في عمدة التفسير وكذا العلامة الألباني رحم الله الجميع في صحيح الترغيب والترهيب.
يقول الحافظ المناوي رحمه الله: "الله جل وعلا يحب أسماءه وصفاته، ومنها الرحمة والعفو، ويحب من عباده من تخلَّق بها،" أو كما قال رحمه الله.
Di dalam hadits Abdullah bin Amr bin al-‘Ash bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
"اِرْحَمُوا تُرْحَمُوا وَاغْفِرُوا يُغْفَرْ لَكُمْ."
“Berbuat kasih sayanglah niscaya kalian akan disayangi, dan berilah maaf niscaya kalian akan dimaafkan.”
(Hadits ini diriwayatkan oleh para imam, al-Imam Ahmad di dalam Musnadnya, al-Imam al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan al-Imam ath-Thabarani di dalam al-Kabir. Isnadnya dihukumi “jayyid” oleh al-Hafizh al-Mundziri rahimahullah di dalam at-Targhib, dishahihkan oleh al-‘Allamah Ahmad Syakir di dalam Umdah at-Tafsir, dan demikian pula al-‘Allamah al-Albani di dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, rahimallahu al-jami’.)
Al-Hafizh al-Munawi rahimahullah berkata, “Allah Jalla wa ‘Ala mencintai nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Diantaranya adalah sifat kasih sayang dan memaafkan. Allah pun mencintai dari hamba-hamba-Nya yang berperangai dengannya.” Kurang lebih seperti itu perkataan beliau rahimahullah.
Bersambung..
📼 Sumber Audio:
https://t.me/dr_elbukhary/839
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya, “Yaitu, karakter, tabiat, dan perangai mereka adalah memaafkan dan berlapang dada terhadap manusia, dan bukan dari karakter mereka balas dendam terhadap manusia.”
( وإذا ما غضبوا هم يغفرون )
“dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.”
ويقول صلى الله عليه وآله وسلم فيما أخرجه مسلم في الصحيح من حديث أبي هريرة رضي الله تعالى عنه، قال عليه الصلاة والسلام: "مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ." وهذا كلام الصادق المصدوق صلى الله عليه وسلم، "وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا."
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam ash-Shahih, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu Ta’ala anhu, beliau alaihis shalatu wassalam bersabda,
"مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ." وهذا كلام الصادق المصدوق صلى الله عليه وسلم، "وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا."
“Tidaklah shadaqah itu mengurangi harta, tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan sebab memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendah diri karena Allah kecuali Allah mengangkat derajatnya.”
Dan ini perkataan ash-Shadiq al-Mashduq (seorang yang jujur dan dapat dipercaya) shallallahu alaihi wasallam,
"وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا."
“Dan tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan sebab memaafkan kecuali kemuliaan.”
وفي حديث عبد الله بن عمرو بن العاص أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "اِرْحَمُوا تُرْحَمُوا وَاغْفِرُوا يُغْفَرْ لَكُمْ." أخرج هذا الحديث الأئمة أحمد في مسنده والبخاري في الأدب المفرد والطبراني في الكبير، وجود إسناده الحافظ المنذري رحمه الله في الترغيب، وصححه العلامة أحمد شاكر في عمدة التفسير وكذا العلامة الألباني رحم الله الجميع في صحيح الترغيب والترهيب.
يقول الحافظ المناوي رحمه الله: "الله جل وعلا يحب أسماءه وصفاته، ومنها الرحمة والعفو، ويحب من عباده من تخلَّق بها،" أو كما قال رحمه الله.
Di dalam hadits Abdullah bin Amr bin al-‘Ash bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
"اِرْحَمُوا تُرْحَمُوا وَاغْفِرُوا يُغْفَرْ لَكُمْ."
“Berbuat kasih sayanglah niscaya kalian akan disayangi, dan berilah maaf niscaya kalian akan dimaafkan.”
(Hadits ini diriwayatkan oleh para imam, al-Imam Ahmad di dalam Musnadnya, al-Imam al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan al-Imam ath-Thabarani di dalam al-Kabir. Isnadnya dihukumi “jayyid” oleh al-Hafizh al-Mundziri rahimahullah di dalam at-Targhib, dishahihkan oleh al-‘Allamah Ahmad Syakir di dalam Umdah at-Tafsir, dan demikian pula al-‘Allamah al-Albani di dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, rahimallahu al-jami’.)
Al-Hafizh al-Munawi rahimahullah berkata, “Allah Jalla wa ‘Ala mencintai nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Diantaranya adalah sifat kasih sayang dan memaafkan. Allah pun mencintai dari hamba-hamba-Nya yang berperangai dengannya.” Kurang lebih seperti itu perkataan beliau rahimahullah.
Bersambung..
📼 Sumber Audio:
https://t.me/dr_elbukhary/839
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
قناة فضيلة الشيخ أ.د. عبد الله البخاري
•
#نصيحة وتنبيه بعنوان ⇣
°| كيف ترجع اللّحمة بين الإخوة السلفيين |°°
[ وحكم سكوت بعض الإخوة في مثل هذه الفتن والنزاعات ]
▪️للشيخ العلامة أ د. :
🎙 عبدالله بن عبدالرحيم البخاري حفظه الله
•
https://t.me/dr_elbukhary
•
🔄
#نصيحة وتنبيه بعنوان ⇣
°| كيف ترجع اللّحمة بين الإخوة السلفيين |°°
[ وحكم سكوت بعض الإخوة في مثل هذه الفتن والنزاعات ]
▪️للشيخ العلامة أ د. :
🎙 عبدالله بن عبدالرحيم البخاري حفظه الله
•
https://t.me/dr_elbukhary
•
🔄
::
📬 BAGAIMANAKAH IKATAN PERSAUDARAAN ITU DAPAT TERAJUT KEMBALI DI TENGAH-TENGAH IKHWAH SALAFIYYIN DAN HUKUM DIAMNYA SEBAGIAN IKHWAH DALAM FITNAH DAN PERTIKAIAN SEMISAL (YANG TERJADI) INI (BAG.3)
Oleh:
Asy-Syaikh al-‘Allamah Profesor Doktor Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari Hafizhahullah
فهذه نصوص من الوحيين تحث على ماذا؟ على العفو والصفح ممن أساء إليك. فإذا جاءك معتذرا وقد علمت منه الندامة فاصفح واعف، وكن كريما وقابلِ الإساءة بالإحسان.
{ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)} (فصلت : 34-35)}
Maka inilah nash-nash dari dua wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) yang menghasung untuk apa?
Menghasung untuk memaafkan dan berlapang dada terhadap orang yang berbuat kejelekan kepadamu.
Jika dia datang kepadamu dalam keadaan meminta maaf dan engkau mengetahui darinya penyesalan, maka berlapang dadalah dan maafkan. Jadilah engkau seorang yang berjiwa besar dan balaslah kejelekan itu dengan kebaikan.
{ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)} (فصلت : 34-35)}
“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34-35)
في موطأ الإمام مالك – رحمه الله ورضي عنه – أن الإمام سعيد بن المسيب رحمه الله ورضي عنه قال: "مَا مِنْ شَيْءٍ إِلَّا وَيُحِبُّ اللهُ أَنْ يُعْفَى عَنْهُ مَا لَمْ يَكُنْ حَدًّا".
Di dalam kitab al-Muwaththa’ karya al-Imam Malik rahimahullahu waradhiya anhu bahwa al-Imam Sa’id bin al-Musayyib radhiyallahu anhu berkata, “Tidaklah ada suatu (kesalahan) kecuali Allah suka agar dimaafkan, selama itu bukan hukum had (pidana).”
وذكر العلامة ابن المفلح رحمه الله في الآداب الشرعية أثرا عن الإمام الحسن البصري رحمه الله أنه قال: "أفضل خُلُق المؤمن العَفْوُ."
Al-‘Allamah Ibnu Muflih rahimahullah menyebutkan di dalam al-Adab asy-Syar’iyyah sebuah atsar dari al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah bahwasanya beliau berkata, “Sebaik-baik perangai mukmin adalah memaafkan.”
وذكر الإمام ابن كثير رحمه الله في التفسير عن الإمام ابن أبي حاتم أنه ذكر في تفسيره وأسند عن الإمام إبراهيم بن يزيد النخعي أنه قال: "كَانَ الْمُؤْمِنُونَ يَكْرَهُونَ أَنْ يُسْتَذَلُّوا – لَا يَرْضَوْنَ بِالذِّلَّةِ وَيَكْرَهُونَ ذَلِكَ فَانْتَبِهْ أَنْ تُذِلَّ خَلْقَ اللهِ فَيُعَاقِبَكَ اللهُ جلَّ وعَلا بِمِثْلِ ذَلِكَ – وَكَانُوا إِذَا قَدَرُوا عَفَوْا."
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan di dalam at-Tafsir, dari al-Imam Ibnu Abi Hatim bahwasanya beliau menyebutkan di dalam tafsirnya dan menyebutkan sanadnya dari al-Imam Ibrahim bin Yazid an-Nakha’i bahwasanya beliau berkata,
"كَانَ الْمُؤْمِنُونَ يَكْرَهُونَ أَنْ يُسْتَذَلُّوا – لَا يَرْضَوْنَ بِالذِّلَّةِ وَيَكْرَهُونَ ذَلِكَ فَانْتَبِهْ أَنْ تُذِلَّ خَلْقَ اللهِ فَيُعَاقِبَكَ اللهُ جلَّ وعَلا بِمِثْلِ ذَلِكَ – وَكَانُوا إِذَا قَدَرُوا عَفَوْا."
“Kaum mukminin dahulu mereka tidak suka direndahkan (mereka tidak ridha dengan kerendahan dan tidak menyukainya, maka berhati-hatilah engkau dari merendahkan ciptaan Allah niscaya Allah akan menghukummu dengan yang semisal itu) dan mereka itu jika memiliki kemampuan membalas, mereka (justru) memaafkan.”
📬 BAGAIMANAKAH IKATAN PERSAUDARAAN ITU DAPAT TERAJUT KEMBALI DI TENGAH-TENGAH IKHWAH SALAFIYYIN DAN HUKUM DIAMNYA SEBAGIAN IKHWAH DALAM FITNAH DAN PERTIKAIAN SEMISAL (YANG TERJADI) INI (BAG.3)
Oleh:
Asy-Syaikh al-‘Allamah Profesor Doktor Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari Hafizhahullah
فهذه نصوص من الوحيين تحث على ماذا؟ على العفو والصفح ممن أساء إليك. فإذا جاءك معتذرا وقد علمت منه الندامة فاصفح واعف، وكن كريما وقابلِ الإساءة بالإحسان.
{ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)} (فصلت : 34-35)}
Maka inilah nash-nash dari dua wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) yang menghasung untuk apa?
Menghasung untuk memaafkan dan berlapang dada terhadap orang yang berbuat kejelekan kepadamu.
Jika dia datang kepadamu dalam keadaan meminta maaf dan engkau mengetahui darinya penyesalan, maka berlapang dadalah dan maafkan. Jadilah engkau seorang yang berjiwa besar dan balaslah kejelekan itu dengan kebaikan.
{ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)} (فصلت : 34-35)}
“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34-35)
في موطأ الإمام مالك – رحمه الله ورضي عنه – أن الإمام سعيد بن المسيب رحمه الله ورضي عنه قال: "مَا مِنْ شَيْءٍ إِلَّا وَيُحِبُّ اللهُ أَنْ يُعْفَى عَنْهُ مَا لَمْ يَكُنْ حَدًّا".
Di dalam kitab al-Muwaththa’ karya al-Imam Malik rahimahullahu waradhiya anhu bahwa al-Imam Sa’id bin al-Musayyib radhiyallahu anhu berkata, “Tidaklah ada suatu (kesalahan) kecuali Allah suka agar dimaafkan, selama itu bukan hukum had (pidana).”
وذكر العلامة ابن المفلح رحمه الله في الآداب الشرعية أثرا عن الإمام الحسن البصري رحمه الله أنه قال: "أفضل خُلُق المؤمن العَفْوُ."
Al-‘Allamah Ibnu Muflih rahimahullah menyebutkan di dalam al-Adab asy-Syar’iyyah sebuah atsar dari al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah bahwasanya beliau berkata, “Sebaik-baik perangai mukmin adalah memaafkan.”
وذكر الإمام ابن كثير رحمه الله في التفسير عن الإمام ابن أبي حاتم أنه ذكر في تفسيره وأسند عن الإمام إبراهيم بن يزيد النخعي أنه قال: "كَانَ الْمُؤْمِنُونَ يَكْرَهُونَ أَنْ يُسْتَذَلُّوا – لَا يَرْضَوْنَ بِالذِّلَّةِ وَيَكْرَهُونَ ذَلِكَ فَانْتَبِهْ أَنْ تُذِلَّ خَلْقَ اللهِ فَيُعَاقِبَكَ اللهُ جلَّ وعَلا بِمِثْلِ ذَلِكَ – وَكَانُوا إِذَا قَدَرُوا عَفَوْا."
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan di dalam at-Tafsir, dari al-Imam Ibnu Abi Hatim bahwasanya beliau menyebutkan di dalam tafsirnya dan menyebutkan sanadnya dari al-Imam Ibrahim bin Yazid an-Nakha’i bahwasanya beliau berkata,
"كَانَ الْمُؤْمِنُونَ يَكْرَهُونَ أَنْ يُسْتَذَلُّوا – لَا يَرْضَوْنَ بِالذِّلَّةِ وَيَكْرَهُونَ ذَلِكَ فَانْتَبِهْ أَنْ تُذِلَّ خَلْقَ اللهِ فَيُعَاقِبَكَ اللهُ جلَّ وعَلا بِمِثْلِ ذَلِكَ – وَكَانُوا إِذَا قَدَرُوا عَفَوْا."
“Kaum mukminin dahulu mereka tidak suka direndahkan (mereka tidak ridha dengan kerendahan dan tidak menyukainya, maka berhati-hatilah engkau dari merendahkan ciptaan Allah niscaya Allah akan menghukummu dengan yang semisal itu) dan mereka itu jika memiliki kemampuan membalas, mereka (justru) memaafkan.”
وقال الإمام أيوب السختياني رحمه الله، كما أخرج ذلك الحافظ ابن حبان في روضة العقلاء ونزهة الفضلاء: "لا يَنْبُلُ الرَّجُلُ حَتَّى تَكُونَ فِيْهِ خَصْلَتَانِ: اَلْعِفَّةُ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ - لِأَنَّ هَذَا مِنْ أَوْسَاخِ النَّاسِ – وَالتَّجَاوُزُ عَنْهُمْ – يَعْنِي اَلصَّفْحُ وَالْعَفْوُ."
Al-Imam Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah berkata, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibnu Hibban di dalam Raudhah al-Uqala’ wa Nuzhah al-Fudhala’,
"لا يَنْبُلُ الرَّجُلُ حَتَّى تَكُونَ فِيْهِ خَصْلَتَانِ: اَلْعِفَّةُ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ - لِأَنَّ هَذَا مِنْ أَوْسَاخِ النَّاسِ – وَالتَّجَاوُزُ عَنْهُمْ – يَعْنِي اَلصَّفْحُ وَالْعَفْوُ."
“Tidaklah mulia seorang lelaki sampai ada padanya dua perangai; memelihara diri dari meminta-minta yang ada di tangan manusia (karena ini termasuk orang-orang rendahan), dan memaafkan kesalahan mereka, yakni ash-Shafhu (berlapang dada) dan al-afwu (memaafkan).”
العفو هو ترك المؤاخذة بالذنب والعقاب عليه، كما قال نحو هذا العلامة المباركفوري رحمه الله في التحفة. ما هو الصفح؟ أعلى من ذلك. قال المناوي رحمه الله: الصفح هو ترك التأنيب. فانظر يا رعاك الله إلى هذه الفضائل وهذه المناقب التي جاءت في حق من عفا وأصلح، وكن من المثابرين المسارعين إلى تحقيقها بارك الله فيك. لا تقف كثيرا!، قد قرأنا عليكم في اللقاء الماضي كلاما عَذْبًا من إمام ناقد مُشْفِقٍ الإمام ابن القيم رحمه الله، في كلامه الذي هو يعتبر نبراسا، وفيه أنه قال رحمه الله: " وَمَنْ عَفَا عَفَا اللهُ عَنْهُ، وَمَنْ غَفَرَ غَفَرَ لَهُ، وَمَنْ حَاقَقَ حَاقَقَهُ." فانتبه! بارك الله فيك إلى هذا.
⬜️ Al-afwu (memaafkan) adalah tidak mengambil tindakan dan hukuman terhadap pelaku kesalahan. Kurang lebih seperti ini yang dikatakan oleh al-‘Allamah al-Mubarakfuri rahimahullah di dalam at-Tuhfah.
⬜️ Apa itu ash-Shafhu (berlapang dada)? Tingkatan yang lebih tinggi dari memaafkan. Al-Munawi rahimahullah berkata, “ash-Shafhu (berlapang dada) yaitu meninggalkan teguran (tidak mempermasalahkan).”
Maka camkanlah -semoga Allah menjagamu- keutamaan-keutamaan dan kemuliaan-kemuliaan yang ada terkait hak orang yang memaafkan dan berbuat kebajikan ini. Jadilah engkau termasuk orang-orang yang menetapi dan bergegas untuk merealisasikannya barakallahu fiik.
Jangan banyak menunggu! Sungguh kami telah membacakan kepada kalian pada pertemuan lalu perkataan yang menyejukkan dari seorang imam yang kritis lagi penuh belas kasih al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Di dalam perkataan beliau yang laksana pelita itu, beliau rahimahullah berkata, “Barang siapa memaafkan niscaya Allah akan memaafkannya, barang siapa memberi ampunan niscaya Allah akan mengampuninya, dan barang siapa memperkarakan niscaya Allah akan memperkarakannya.” Maka berhati-hatilah terhadap hal ini barakallahu fiik.
Bersambung..
📼 Sumber Audio:
https://t.me/dr_elbukhary/839
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Al-Imam Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah berkata, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibnu Hibban di dalam Raudhah al-Uqala’ wa Nuzhah al-Fudhala’,
"لا يَنْبُلُ الرَّجُلُ حَتَّى تَكُونَ فِيْهِ خَصْلَتَانِ: اَلْعِفَّةُ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ - لِأَنَّ هَذَا مِنْ أَوْسَاخِ النَّاسِ – وَالتَّجَاوُزُ عَنْهُمْ – يَعْنِي اَلصَّفْحُ وَالْعَفْوُ."
“Tidaklah mulia seorang lelaki sampai ada padanya dua perangai; memelihara diri dari meminta-minta yang ada di tangan manusia (karena ini termasuk orang-orang rendahan), dan memaafkan kesalahan mereka, yakni ash-Shafhu (berlapang dada) dan al-afwu (memaafkan).”
العفو هو ترك المؤاخذة بالذنب والعقاب عليه، كما قال نحو هذا العلامة المباركفوري رحمه الله في التحفة. ما هو الصفح؟ أعلى من ذلك. قال المناوي رحمه الله: الصفح هو ترك التأنيب. فانظر يا رعاك الله إلى هذه الفضائل وهذه المناقب التي جاءت في حق من عفا وأصلح، وكن من المثابرين المسارعين إلى تحقيقها بارك الله فيك. لا تقف كثيرا!، قد قرأنا عليكم في اللقاء الماضي كلاما عَذْبًا من إمام ناقد مُشْفِقٍ الإمام ابن القيم رحمه الله، في كلامه الذي هو يعتبر نبراسا، وفيه أنه قال رحمه الله: " وَمَنْ عَفَا عَفَا اللهُ عَنْهُ، وَمَنْ غَفَرَ غَفَرَ لَهُ، وَمَنْ حَاقَقَ حَاقَقَهُ." فانتبه! بارك الله فيك إلى هذا.
⬜️ Al-afwu (memaafkan) adalah tidak mengambil tindakan dan hukuman terhadap pelaku kesalahan. Kurang lebih seperti ini yang dikatakan oleh al-‘Allamah al-Mubarakfuri rahimahullah di dalam at-Tuhfah.
⬜️ Apa itu ash-Shafhu (berlapang dada)? Tingkatan yang lebih tinggi dari memaafkan. Al-Munawi rahimahullah berkata, “ash-Shafhu (berlapang dada) yaitu meninggalkan teguran (tidak mempermasalahkan).”
Maka camkanlah -semoga Allah menjagamu- keutamaan-keutamaan dan kemuliaan-kemuliaan yang ada terkait hak orang yang memaafkan dan berbuat kebajikan ini. Jadilah engkau termasuk orang-orang yang menetapi dan bergegas untuk merealisasikannya barakallahu fiik.
Jangan banyak menunggu! Sungguh kami telah membacakan kepada kalian pada pertemuan lalu perkataan yang menyejukkan dari seorang imam yang kritis lagi penuh belas kasih al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Di dalam perkataan beliau yang laksana pelita itu, beliau rahimahullah berkata, “Barang siapa memaafkan niscaya Allah akan memaafkannya, barang siapa memberi ampunan niscaya Allah akan mengampuninya, dan barang siapa memperkarakan niscaya Allah akan memperkarakannya.” Maka berhati-hatilah terhadap hal ini barakallahu fiik.
Bersambung..
📼 Sumber Audio:
https://t.me/dr_elbukhary/839
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
قناة فضيلة الشيخ أ.د. عبد الله البخاري
•
#نصيحة وتنبيه بعنوان ⇣
°| كيف ترجع اللّحمة بين الإخوة السلفيين |°°
[ وحكم سكوت بعض الإخوة في مثل هذه الفتن والنزاعات ]
▪️للشيخ العلامة أ د. :
🎙 عبدالله بن عبدالرحيم البخاري حفظه الله
•
https://t.me/dr_elbukhary
•
🔄
#نصيحة وتنبيه بعنوان ⇣
°| كيف ترجع اللّحمة بين الإخوة السلفيين |°°
[ وحكم سكوت بعض الإخوة في مثل هذه الفتن والنزاعات ]
▪️للشيخ العلامة أ د. :
🎙 عبدالله بن عبدالرحيم البخاري حفظه الله
•
https://t.me/dr_elbukhary
•
🔄
::
📬 BAGAIMANAKAH IKATAN PERSAUDARAAN ITU DAPAT TERAJUT KEMBALI DI TENGAH-TENGAH IKHWAH SALAFIYYIN DAN HUKUM DIAMNYA SEBAGIAN IKHWAH DALAM FITNAH DAN PERTIKAIAN SEMISAL (YANG TERJADI) INI (BAG.4/SELESAI)
Oleh:
Asy-Syaikh al-‘Allamah Profesor Doktor Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari Hafizhahullah
أقول: في خضم هذا الذي يحصل تحصل هذه الأمور، صحيح، بين بعض الإخوة. يبلغك عن زيد أو عمرو عن فلان أو عِلان، لا تقف كثيرا! ولا تنتسب بنفسك كثيرا! ادفع بالتي هي أحسن! إرم وراءك! وأقبل على الصفح والعفو! {أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ}
Saya katakan (baca: tegaskan): Di tengah apa yang terjadi saat ini, perkara-perkara semacam ini juga terjadi di antara sebagian ikhwah, benar!
Sampai kepadamu tentang si Zaid, Amr, fulan, atau ‘illan. Jangan terlalu lama menunggu! Dan jangan pula terlalu memberi kesempatan kepada hawa nafsumu (egois)! Balaslah dengan yang lebih baik! Buanglah permasalahan yang ada itu di belakangmu, dan tataplah ke depan dengan lapang dada dan memaafkan!
“Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (an-Nur: 22)
فيسارع المرء إلى مثل هذا، بارك الله فيك. جاءك أخوك أرسل لك رسالة، بعضهم مُتَهَيِّب، عرف أنه أخطأ، لكنه متهيب ماذا أفعل؟ قد يقال افعل! اكتب! سوِّ! كذا، كذا، الأمر أيسر من هذا، بما أنه جاءك معتذرا فاقبل عذره عفا الله عما سلف، استغفر الله، وادع الله لأخيك في ظهر الغيب، وليتجاوز المرء ولا يقف كثيرا! كثير من الناس تظهر لهم الحقائق بعد مدة، قد يكونوا وَلَجُوا في بعض القلاقل والمشاكل، صحيح؟! لا يعرفون كيف الخروج.
Hendaknya seseorang bergegas menuju perbuatan seperti ini, barakallahu fiik. Saudaramu mendatangimu dengan berkirim surat kepadamu, sebagian mereka ketakutan, mengetahui bahwa dirinya bersalah namun merasa takut, apa yang harus aku lakukan?” Takut kalau nanti dikatakan kepadanya, “lakukan ini, tulislah ini, kerjakan demikian dan demikian!”
Padahal permasalahannya lebih mudah dari ini. Selagi dia datang kepadamu dalam keadaan meminta maaf, maka terimalah maafnya, dan Allah memaafkan apa yang telah berlalu. Mintalah ampunan kepada Allah, do’akanlah saudaramu itu di saat lengang darinya. Hendaknya seseorang mudah memaafkan (saudaranya) dan jangan terlalu lama menunggu!
Tidak sedikit orang yang baru jelas bagi mereka hakikat permasalahan yang terjadi setelah sekian waktu lamanya, dan bisa jadi (sebelumnya) mereka ini masuk dalam sebagian kasus dan problem, -benar!?- dalam keadaan mereka tidak mengetahui bagaimana keluar darinya.
أنا أذكر بمقالات أو بأقوال سبق أن ذكرتها ونبهت عليها في هذا الجامع المبارك منذ أشهر، وأنا أقول: لا تدخل أنفك في كل قضية، ولا ينبغي أن يكون لك قول في كل نازلة، ابتعد يا أخي! بارك الله فيك، رب كلمة قالت لصاحبها دعني!
Saya ingatkan dengan perkataan-perkataan yang sebelumnya telah saya sebutkan dan saya peringatkan sejak beberapa bulan lalu di masjid jami’ yang barakah ini. Ketika itu saya berkata, “Janganlah engkau masukkan hidungmu di setiap permasalahan, dan tidak sepantasnya engkau memiliki statemen pada setiap permasalahan besar kontemporer. Menjauhlah wahai saudaraku! barakallahu fiik. Bisa jadi sebuah perkataan berkata kepada pengucapnya, “Tinggalkan aku!”
اترك! وَلِّ حارَّها مَنْ تَوَلَّى قارّها، ما لك ولها؟! لأنه بعد حين إذا ما تبينت الأمور وظهرت أكثر، الساكت لا يندم على سكوته، لأنه متحير أبى ابتداء، ولا يريد الخوض حفاظا على دينه وأن لا يكون قد وقع في مأزق لا يحسن الخروج منه. إنما الندامة دائما تصحب من يتكلم في الغالب الكثير، كما قال ابن حزم رحمه الله: "مَا عَلِمْنَا أَحَدًا أُخِذَ أَوْ نَدِمَ بِسُكُوتِهِ، إِنَّمَا غَالِبًا يَنْدَمُ أَوْ يُؤَاخَذُ الْمَرْءُ بِالْكَلَامِ." أو كما قال رحمه الله.
Tinggalkanlah! Serahkan kesulitan sebuah permasalahan kepada orang yang mumpuni di bidangnya! Apa urusanmu dengannya?! Karena setelah berlalu sekian masa, manakala hakikat suatu perkara telah tampak dan semakin jelas, orang yang diam tidak akan menyesal atas sikap diamnya. Mengingat, sejak awal dia bingung dan enggan masuk ke dalam perkara tersebut, tidak mau pula larut dalam permasalahan tersebut demi menjaga agamanya, serta agar tidak masuk ke dalam jalan sempit (problem) yang dia akan sulit keluar darinya.
📬 BAGAIMANAKAH IKATAN PERSAUDARAAN ITU DAPAT TERAJUT KEMBALI DI TENGAH-TENGAH IKHWAH SALAFIYYIN DAN HUKUM DIAMNYA SEBAGIAN IKHWAH DALAM FITNAH DAN PERTIKAIAN SEMISAL (YANG TERJADI) INI (BAG.4/SELESAI)
Oleh:
Asy-Syaikh al-‘Allamah Profesor Doktor Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari Hafizhahullah
أقول: في خضم هذا الذي يحصل تحصل هذه الأمور، صحيح، بين بعض الإخوة. يبلغك عن زيد أو عمرو عن فلان أو عِلان، لا تقف كثيرا! ولا تنتسب بنفسك كثيرا! ادفع بالتي هي أحسن! إرم وراءك! وأقبل على الصفح والعفو! {أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ}
Saya katakan (baca: tegaskan): Di tengah apa yang terjadi saat ini, perkara-perkara semacam ini juga terjadi di antara sebagian ikhwah, benar!
Sampai kepadamu tentang si Zaid, Amr, fulan, atau ‘illan. Jangan terlalu lama menunggu! Dan jangan pula terlalu memberi kesempatan kepada hawa nafsumu (egois)! Balaslah dengan yang lebih baik! Buanglah permasalahan yang ada itu di belakangmu, dan tataplah ke depan dengan lapang dada dan memaafkan!
“Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (an-Nur: 22)
فيسارع المرء إلى مثل هذا، بارك الله فيك. جاءك أخوك أرسل لك رسالة، بعضهم مُتَهَيِّب، عرف أنه أخطأ، لكنه متهيب ماذا أفعل؟ قد يقال افعل! اكتب! سوِّ! كذا، كذا، الأمر أيسر من هذا، بما أنه جاءك معتذرا فاقبل عذره عفا الله عما سلف، استغفر الله، وادع الله لأخيك في ظهر الغيب، وليتجاوز المرء ولا يقف كثيرا! كثير من الناس تظهر لهم الحقائق بعد مدة، قد يكونوا وَلَجُوا في بعض القلاقل والمشاكل، صحيح؟! لا يعرفون كيف الخروج.
Hendaknya seseorang bergegas menuju perbuatan seperti ini, barakallahu fiik. Saudaramu mendatangimu dengan berkirim surat kepadamu, sebagian mereka ketakutan, mengetahui bahwa dirinya bersalah namun merasa takut, apa yang harus aku lakukan?” Takut kalau nanti dikatakan kepadanya, “lakukan ini, tulislah ini, kerjakan demikian dan demikian!”
Padahal permasalahannya lebih mudah dari ini. Selagi dia datang kepadamu dalam keadaan meminta maaf, maka terimalah maafnya, dan Allah memaafkan apa yang telah berlalu. Mintalah ampunan kepada Allah, do’akanlah saudaramu itu di saat lengang darinya. Hendaknya seseorang mudah memaafkan (saudaranya) dan jangan terlalu lama menunggu!
Tidak sedikit orang yang baru jelas bagi mereka hakikat permasalahan yang terjadi setelah sekian waktu lamanya, dan bisa jadi (sebelumnya) mereka ini masuk dalam sebagian kasus dan problem, -benar!?- dalam keadaan mereka tidak mengetahui bagaimana keluar darinya.
أنا أذكر بمقالات أو بأقوال سبق أن ذكرتها ونبهت عليها في هذا الجامع المبارك منذ أشهر، وأنا أقول: لا تدخل أنفك في كل قضية، ولا ينبغي أن يكون لك قول في كل نازلة، ابتعد يا أخي! بارك الله فيك، رب كلمة قالت لصاحبها دعني!
Saya ingatkan dengan perkataan-perkataan yang sebelumnya telah saya sebutkan dan saya peringatkan sejak beberapa bulan lalu di masjid jami’ yang barakah ini. Ketika itu saya berkata, “Janganlah engkau masukkan hidungmu di setiap permasalahan, dan tidak sepantasnya engkau memiliki statemen pada setiap permasalahan besar kontemporer. Menjauhlah wahai saudaraku! barakallahu fiik. Bisa jadi sebuah perkataan berkata kepada pengucapnya, “Tinggalkan aku!”
اترك! وَلِّ حارَّها مَنْ تَوَلَّى قارّها، ما لك ولها؟! لأنه بعد حين إذا ما تبينت الأمور وظهرت أكثر، الساكت لا يندم على سكوته، لأنه متحير أبى ابتداء، ولا يريد الخوض حفاظا على دينه وأن لا يكون قد وقع في مأزق لا يحسن الخروج منه. إنما الندامة دائما تصحب من يتكلم في الغالب الكثير، كما قال ابن حزم رحمه الله: "مَا عَلِمْنَا أَحَدًا أُخِذَ أَوْ نَدِمَ بِسُكُوتِهِ، إِنَّمَا غَالِبًا يَنْدَمُ أَوْ يُؤَاخَذُ الْمَرْءُ بِالْكَلَامِ." أو كما قال رحمه الله.
Tinggalkanlah! Serahkan kesulitan sebuah permasalahan kepada orang yang mumpuni di bidangnya! Apa urusanmu dengannya?! Karena setelah berlalu sekian masa, manakala hakikat suatu perkara telah tampak dan semakin jelas, orang yang diam tidak akan menyesal atas sikap diamnya. Mengingat, sejak awal dia bingung dan enggan masuk ke dalam perkara tersebut, tidak mau pula larut dalam permasalahan tersebut demi menjaga agamanya, serta agar tidak masuk ke dalam jalan sempit (problem) yang dia akan sulit keluar darinya.
Mayoritas penyesalan itu selalu menyertai orang yang banyak berbicara. Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah,
"مَا عَلِمْنَا أَحَدًا أُخِذَ أَوْ نَدِمَ بِسُكُوتِهِ، إِنَّمَا غَالِبًا يَنْدَمُ أَوْ يُؤَاخَذُ الْمَرْءُ بِالْكَلَامِ."
“Kami tidak mengetahui seorang pun diperkarakan atau menyesal dengan sebab diamnya, seringkali seseorang menyesal atau diperkarakan hanyalah disebabkan oleh perkataan.” Kurang lebih seperti itu yang dikatakan oleh beliau rahimahullah.
فاحفظ لسانك! بارك الله فيك. وأقبل، بما أنه الأمور تظن أنك أخطأتَ فيها أو تبينتْ لك، اطلب من أخيك! ما تستطيع المواجهة معه، ارسل له رسالة أو ارسل مرسولا، وكما تكلَّمتَ فيه بين فلان وعلان إذا ما جاء مجلس معك قل: يا إخوان اعتذرت من الأخ ، وعفا الله عني وعنه وأنا أخطأتُ انتهينا. واضح يا إخوة؟
Maka jagalah lisanmu! barakallahu fiik. Tataplah ke depan, manakala kamu menyadari bahwa kamu telah bersalah dalam suatu perkara atau menjadi jelas bagimu hakikat suatu perkara, maka mintalah (maaf) kepada saudaramu! Jika engkau tidak mampu bertemu secara langsung dengannya maka berkirim suratlah kepadanya atau kirim seorang utusan.
Sebagaimana engkau telah berbicara tentangnya bersama fulan dan ‘illan maka ketika ada kesempatan duduk bersamamu, katakanlah, “Ya ikhwan, aku telah minta maaf kepada al-akh (saudara tersebut), semoga Allah memaafkan aku dan dia, dan aku telah bersalah, dengan ini berarti telah selasai permasalahan kita.” Jelas wahai ikhwah?!
هكذا ترجع اللُّحمة بين الإخوة وما أوجده الشيطان في نفوس كثيرين، ولا حول ولا قوة إلا بالله. أقبلوا على مثل هذه الفضائل والمناقب تُفْلِحوا إن شاء الله.
وفق الله الجميع لما فيه رضاه، وصلى الله على رسول الله وآله وصحبه وسلم
Demikianlah ikatan persaudaraan itu akan dapat terajut kembali di antara ikhwah, dan apa yang dimunculkan oleh syaithan pada jiwa kebanyakan mereka (akan dapat diatasi), wa laa haula wala quwwata illa billah. Songsonglah berbagai keutamaan dan kemuliaan semisal ini, niscaya kalian akan beruntung insya Allah.
Semoga Allah memberikan taufiq kepada semuanya untuk menggapai ridha-Nya. Wa shallallahu ala Rasulillah wa alihi washahbihi wasallam.
Diterjemahkan oleh: al-Faqir ila ‘afwi Rabbih Ruwaifi’ bin Sulaimi
Jember; Senin, 20 Shafar 1443 H/ 27 September 2021 M
📼 Sumber Audio:
https://t.me/dr_elbukhary/839
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
"مَا عَلِمْنَا أَحَدًا أُخِذَ أَوْ نَدِمَ بِسُكُوتِهِ، إِنَّمَا غَالِبًا يَنْدَمُ أَوْ يُؤَاخَذُ الْمَرْءُ بِالْكَلَامِ."
“Kami tidak mengetahui seorang pun diperkarakan atau menyesal dengan sebab diamnya, seringkali seseorang menyesal atau diperkarakan hanyalah disebabkan oleh perkataan.” Kurang lebih seperti itu yang dikatakan oleh beliau rahimahullah.
فاحفظ لسانك! بارك الله فيك. وأقبل، بما أنه الأمور تظن أنك أخطأتَ فيها أو تبينتْ لك، اطلب من أخيك! ما تستطيع المواجهة معه، ارسل له رسالة أو ارسل مرسولا، وكما تكلَّمتَ فيه بين فلان وعلان إذا ما جاء مجلس معك قل: يا إخوان اعتذرت من الأخ ، وعفا الله عني وعنه وأنا أخطأتُ انتهينا. واضح يا إخوة؟
Maka jagalah lisanmu! barakallahu fiik. Tataplah ke depan, manakala kamu menyadari bahwa kamu telah bersalah dalam suatu perkara atau menjadi jelas bagimu hakikat suatu perkara, maka mintalah (maaf) kepada saudaramu! Jika engkau tidak mampu bertemu secara langsung dengannya maka berkirim suratlah kepadanya atau kirim seorang utusan.
Sebagaimana engkau telah berbicara tentangnya bersama fulan dan ‘illan maka ketika ada kesempatan duduk bersamamu, katakanlah, “Ya ikhwan, aku telah minta maaf kepada al-akh (saudara tersebut), semoga Allah memaafkan aku dan dia, dan aku telah bersalah, dengan ini berarti telah selasai permasalahan kita.” Jelas wahai ikhwah?!
هكذا ترجع اللُّحمة بين الإخوة وما أوجده الشيطان في نفوس كثيرين، ولا حول ولا قوة إلا بالله. أقبلوا على مثل هذه الفضائل والمناقب تُفْلِحوا إن شاء الله.
وفق الله الجميع لما فيه رضاه، وصلى الله على رسول الله وآله وصحبه وسلم
Demikianlah ikatan persaudaraan itu akan dapat terajut kembali di antara ikhwah, dan apa yang dimunculkan oleh syaithan pada jiwa kebanyakan mereka (akan dapat diatasi), wa laa haula wala quwwata illa billah. Songsonglah berbagai keutamaan dan kemuliaan semisal ini, niscaya kalian akan beruntung insya Allah.
Semoga Allah memberikan taufiq kepada semuanya untuk menggapai ridha-Nya. Wa shallallahu ala Rasulillah wa alihi washahbihi wasallam.
Diterjemahkan oleh: al-Faqir ila ‘afwi Rabbih Ruwaifi’ bin Sulaimi
Jember; Senin, 20 Shafar 1443 H/ 27 September 2021 M
📼 Sumber Audio:
https://t.me/dr_elbukhary/839
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
قناة فضيلة الشيخ أ.د. عبد الله البخاري
•
#نصيحة وتنبيه بعنوان ⇣
°| كيف ترجع اللّحمة بين الإخوة السلفيين |°°
[ وحكم سكوت بعض الإخوة في مثل هذه الفتن والنزاعات ]
▪️للشيخ العلامة أ د. :
🎙 عبدالله بن عبدالرحيم البخاري حفظه الله
•
https://t.me/dr_elbukhary
•
🔄
#نصيحة وتنبيه بعنوان ⇣
°| كيف ترجع اللّحمة بين الإخوة السلفيين |°°
[ وحكم سكوت بعض الإخوة في مثل هذه الفتن والنزاعات ]
▪️للشيخ العلامة أ د. :
🎙 عبدالله بن عبدالرحيم البخاري حفظه الله
•
https://t.me/dr_elbukhary
•
🔄
::
📬 KETIKA ULAMA MENGHADAPI PARA PEMBENCI
قال المزني رحمه الله، وقال له رجل:
يا أبا إبراهيم، إن فلانا يبغضك. قال: ليس في قربه أُنْسٌ ولا في بُعده وَحشة
(مناقب الشافعي ٢/٣٥٥)
Berkata Al Muzany rahimahullah, ketika ada yang mengatakan kepada beliau:
"Wahai Aba Ibrohim (kunyah Al Muzani, pent) sesungguhnya fulan membenci kamu. Maka dijawab oleh beliau:
"Kedekatannya tidak membuat nyaman dan jauh darinya tidak membikin terasing."
(Manaqib As-Syafi'i 2/355)
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 KETIKA ULAMA MENGHADAPI PARA PEMBENCI
قال المزني رحمه الله، وقال له رجل:
يا أبا إبراهيم، إن فلانا يبغضك. قال: ليس في قربه أُنْسٌ ولا في بُعده وَحشة
(مناقب الشافعي ٢/٣٥٥)
Berkata Al Muzany rahimahullah, ketika ada yang mengatakan kepada beliau:
"Wahai Aba Ibrohim (kunyah Al Muzani, pent) sesungguhnya fulan membenci kamu. Maka dijawab oleh beliau:
"Kedekatannya tidak membuat nyaman dan jauh darinya tidak membikin terasing."
(Manaqib As-Syafi'i 2/355)
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
🏝️🚉 BAYAN AL - ILTIZAM (Penjelasan Komitmen)
🌅 Di antara kenikmatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada kita adalah bimbingan dan arahan dari ulama dan masyayikh kita.
🍋 Demikian pula termasuk nikmat adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepada kita taufik untuk menyambut bimbingan yang lurus dari para ulama, terkhusus pada masa-masa fitnah.
📑 Semoga dengan Bayan Iltizam ini menjadi sebab padamnya fitnah yang terjadi di Indonesia saat ini dan mengakhiri segala perselisihan yang terjadi.
🍓 Semoga Allah Ta'ala menyatukan kembali Asatidzah dan salafiyyin di Indonesia di atas al-Kitab dan as-Sunnah serta Manhaj Salafy. Amin.
✅ Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua untuk mengamalkannya. Wabillah at-Taufiq.
📥 Unduh PDF
bit.ly/3y3Q24z
[ 524 KB ]
📝 Catatan:
Bayan ini telah dibaca dan disetujui penyebarannya oleh Fadhilah asy-Syaikh al-'Allamah Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari hafizhahullah.
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram @ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
~~~~~~~~~~~~~
🌅 Di antara kenikmatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada kita adalah bimbingan dan arahan dari ulama dan masyayikh kita.
🍋 Demikian pula termasuk nikmat adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepada kita taufik untuk menyambut bimbingan yang lurus dari para ulama, terkhusus pada masa-masa fitnah.
📑 Semoga dengan Bayan Iltizam ini menjadi sebab padamnya fitnah yang terjadi di Indonesia saat ini dan mengakhiri segala perselisihan yang terjadi.
🍓 Semoga Allah Ta'ala menyatukan kembali Asatidzah dan salafiyyin di Indonesia di atas al-Kitab dan as-Sunnah serta Manhaj Salafy. Amin.
✅ Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua untuk mengamalkannya. Wabillah at-Taufiq.
📥 Unduh PDF
bit.ly/3y3Q24z
[ 524 KB ]
📝 Catatan:
Bayan ini telah dibaca dan disetujui penyebarannya oleh Fadhilah asy-Syaikh al-'Allamah Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari hafizhahullah.
•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram @ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi https://www.manhajul-anbiya.net
~~~~~~~~~~~~~