::
📬 JANGAN FANATIK DENGAN INDIVIDU TERTENTU
✍🏻 Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah
"Kita mendapati banyak dari salafiyin yang hanya mengikuti individu-individu tertentu, tidak tunduk kepada kebenaran. Ini termasuk penyakit yang berbahaya. Hendaknya kita menjauhi sikap seperti ini.
Kita wajib menimbang individu-individu itu dengan kebenaran. Jangan menimbang kebenaran dengan mereka. Hendaknya kita mengenali kadar seseorang itu dengan (timbangan) kebenaran. Kita tidak boleh mengenali kebenaran dengan (timbangan orang tertentu)".
ـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
"وجدنا كثيرًا من السلفيين يدور حول الأشخاص لا يدور حول الحق، هذا مرض خطير، إيّانا أن ندور مع الأشخاص.
فيجب أن نَزِنَ الأشخاص بالحق،لا نزن الحق بالأشخاص، وأن نعرف الرجال بالحق، لا نعرف الحق بالرجال".
📚 Munazharah haula Al-Audha' fi Afghanistan kaset 1 @forumsalafy
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 JANGAN FANATIK DENGAN INDIVIDU TERTENTU
✍🏻 Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah
"Kita mendapati banyak dari salafiyin yang hanya mengikuti individu-individu tertentu, tidak tunduk kepada kebenaran. Ini termasuk penyakit yang berbahaya. Hendaknya kita menjauhi sikap seperti ini.
Kita wajib menimbang individu-individu itu dengan kebenaran. Jangan menimbang kebenaran dengan mereka. Hendaknya kita mengenali kadar seseorang itu dengan (timbangan) kebenaran. Kita tidak boleh mengenali kebenaran dengan (timbangan orang tertentu)".
ـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
"وجدنا كثيرًا من السلفيين يدور حول الأشخاص لا يدور حول الحق، هذا مرض خطير، إيّانا أن ندور مع الأشخاص.
فيجب أن نَزِنَ الأشخاص بالحق،لا نزن الحق بالأشخاص، وأن نعرف الرجال بالحق، لا نعرف الحق بالرجال".
📚 Munazharah haula Al-Audha' fi Afghanistan kaset 1 @forumsalafy
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 RIDHA MANUSIA TAK KAN TERCAPAI
Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullahu berkata,
"Seandainya engkau mencurahkan segala upaya dan kesungguhan agar semua manusia meridhaimu maka hal itu tak akan bisa tercapai.
Jika demikian realitanya maka ikhlaskan amal dan niatmu karena Allah semata".
📚[ Manaqib as Syafi'i Lil Baihaqi 2/173 ]
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
قال الإمام الشافعي - رحِمَهُ اللّٰه -: لو اجتهدت كُلّ الجهد على أن ترضي النّاس كُلّهُم فلا سبيل إليْهٍ، فإذا كانَ كذلك فأخلص عملكَ ونيّتكَ لِلّهِ.
📚[مناقب الشافعي للبيهقي (١٧٣/٢)]
@ManhajulAnbiya
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 RIDHA MANUSIA TAK KAN TERCAPAI
Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullahu berkata,
"Seandainya engkau mencurahkan segala upaya dan kesungguhan agar semua manusia meridhaimu maka hal itu tak akan bisa tercapai.
Jika demikian realitanya maka ikhlaskan amal dan niatmu karena Allah semata".
📚[ Manaqib as Syafi'i Lil Baihaqi 2/173 ]
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
قال الإمام الشافعي - رحِمَهُ اللّٰه -: لو اجتهدت كُلّ الجهد على أن ترضي النّاس كُلّهُم فلا سبيل إليْهٍ، فإذا كانَ كذلك فأخلص عملكَ ونيّتكَ لِلّهِ.
📚[مناقب الشافعي للبيهقي (١٧٣/٢)]
@ManhajulAnbiya
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 BELUM KLARIFIKASI DAN KROSCEK SUDAH LANGSUNG MENYEBARKAN: "NGAPAIN KAMU SAMPAIKAN KALAU KAMU SENDIRI ENGGAK KETAHUI KEBENARANNYA?!"
🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Usamah Mahri -hafizhahullah-
◙ Link: http://bit.ly/38xNSAU
Transkrip:
وَكَفَى بالْمَرْءِ كذِبًا أن يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Dan dalam riwayat (memang disebutkan) di Muqaddimah Shahih Muslim:
"Cukup teranggap kedustaan, sudah teranggap dusta ketika kamu berbicara segala yang kamu dengar!"
Apapun yang kamu dengar.. kamu sampaikan!
Sementara..
KAMU BELUM PASTIKAN!
KAMU BELUM KROSCEK!
KAMU BELUM KLARIFIKASI!
KAMU BELUM PUNYA DATANYA YANG VALID!
Hanya karena..
Lho yang aku dengar begini..!
KATANYA FULAN SEPERTI INI..!
OH INI SUDAH MA'RUF, SUDAH VIRAL, SUDAH RAMAI..!
(DIA SENDIRI ENGGAK PUNYA DATA, ENGGAK PUNYA BUKTI YANG KUAT), ITU SUDAH KEDUSTAAN !!
Sudah merupakan bentuk kedustaan..! dan itu merusak kejujurannya dan menjatuhkan martabatnya..
Makanya kaidah mulia (kaidah emas yang ulama sebutkan):
لَيْسَ كُلُّ مَا يُعْرَفُ يُقَال
"TIDAK SEMUA YANG KAMU KETAHUI BISA KAMU SAMPAIKAN"
Tidak semua yang kamu tahu (disampaikan)..!!
Na'am mungkin kamu tahu TAPI KAN BELUM TENTU BENARNYA, hanya kamu tahu saja dengar sampai kepadamu ada informasi, ada berita begini.. begitu..! (Masuk memang kepadamu!)
TAPI NGGAK SEMUANYA BISA KAMU SAMPAIKAN, telitilah dan disiplinlah!
Makanya kalau sebagian Muhadditsin (Ulama hadits) dulu mereka pun punya kaidah semakna dengan ini, mereka katakan:
(إذَا رَوَيتَ فَقَمِّشْ، وَإِذَا حَدَّثْتَ فَفَتِّشْ)
"Kalau kamu mau meriwayatkan (artinya mengambil riwayat, kamu mendengar), قَمِّشْ. Qommisy itu dengar dari siapapun..! kamu duduk di Majelis Syaikh Fulan, Syaikh Fulan.. sebanyak mungkin riwayat kamu dengar.. silahkan.. qommisy! sebanyak mungkin!!
Kamu dengar disini 100 riwayat, disitu 500 riwayat, disitu 1000.. sebanyak mungkin kamu cari kesana-kemari karena kamu sedang mengumpulkan riwayat (dalam bab riwayat).
Tapi saat kamu menyampaikan, (sekarang kamu punya tanggung jawab) bahwa ini riwayatmu..!
Orang yang tahu fulan yang menyampaikan (kamu)!! bahwa ini diriwayatkan disampaikan oleh Fulan bin Fulan, namamu dibawa maka فَتِّشْ (hati-hati teliti)!!
Jangan sembarangan!!
RIWAYATKAN YANG KAMU KETAHUI KEBENARANNYA!!
YANG KAMU PASTIKAN KESHAHIHANNYA!!
NGGAK SEMUANYA, Na'am..
Dari Abdulloh Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu:
حَسْبُ الْمُؤمِن مِنَ الْكَذِب أنْ يُحَدِّثَ بكُلِّ مَا سَمِعَ
"Cukup kedustaan bagi seorang mukmin kalau dia berbicara segala yang dia dengar"
ITU SUDAH STEMPEL DIA SEBAGAI PENDUSTA!!
Nggak bisa kamu kemudian beralasan: "ANA CUMA NYAMPAIKAN.. INFORMASINYA BEGITU, YA TELITI SENDIRI OLEHMU! ANA CUMA NYAMPAIKAN..!
NGGAK BISA...!!
LAH SIAPA MEMAKSA KAMU MENYAMPAIKAN?!
DAN NGAPAIN KAMU SAMPAIKAN KALAU KAMU SENDIRI NGGAK KETAHUI KEBENARANNYA?!
Cukup sebagai kedustaan kalau seorang mukmin itu menyampaikan segala sesuatu yang dia dengar!
فَتِّشْ..
(Saat kamu menyampaikan), TELITILAH! PASTIKAN KEBENARANNYA! Karena itu akan menjadi penilaian orang terhadapmu..!
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 BELUM KLARIFIKASI DAN KROSCEK SUDAH LANGSUNG MENYEBARKAN: "NGAPAIN KAMU SAMPAIKAN KALAU KAMU SENDIRI ENGGAK KETAHUI KEBENARANNYA?!"
🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Usamah Mahri -hafizhahullah-
◙ Link: http://bit.ly/38xNSAU
Transkrip:
وَكَفَى بالْمَرْءِ كذِبًا أن يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Dan dalam riwayat (memang disebutkan) di Muqaddimah Shahih Muslim:
"Cukup teranggap kedustaan, sudah teranggap dusta ketika kamu berbicara segala yang kamu dengar!"
Apapun yang kamu dengar.. kamu sampaikan!
Sementara..
KAMU BELUM PASTIKAN!
KAMU BELUM KROSCEK!
KAMU BELUM KLARIFIKASI!
KAMU BELUM PUNYA DATANYA YANG VALID!
Hanya karena..
Lho yang aku dengar begini..!
KATANYA FULAN SEPERTI INI..!
OH INI SUDAH MA'RUF, SUDAH VIRAL, SUDAH RAMAI..!
(DIA SENDIRI ENGGAK PUNYA DATA, ENGGAK PUNYA BUKTI YANG KUAT), ITU SUDAH KEDUSTAAN !!
Sudah merupakan bentuk kedustaan..! dan itu merusak kejujurannya dan menjatuhkan martabatnya..
Makanya kaidah mulia (kaidah emas yang ulama sebutkan):
لَيْسَ كُلُّ مَا يُعْرَفُ يُقَال
"TIDAK SEMUA YANG KAMU KETAHUI BISA KAMU SAMPAIKAN"
Tidak semua yang kamu tahu (disampaikan)..!!
Na'am mungkin kamu tahu TAPI KAN BELUM TENTU BENARNYA, hanya kamu tahu saja dengar sampai kepadamu ada informasi, ada berita begini.. begitu..! (Masuk memang kepadamu!)
TAPI NGGAK SEMUANYA BISA KAMU SAMPAIKAN, telitilah dan disiplinlah!
Makanya kalau sebagian Muhadditsin (Ulama hadits) dulu mereka pun punya kaidah semakna dengan ini, mereka katakan:
(إذَا رَوَيتَ فَقَمِّشْ، وَإِذَا حَدَّثْتَ فَفَتِّشْ)
"Kalau kamu mau meriwayatkan (artinya mengambil riwayat, kamu mendengar), قَمِّشْ. Qommisy itu dengar dari siapapun..! kamu duduk di Majelis Syaikh Fulan, Syaikh Fulan.. sebanyak mungkin riwayat kamu dengar.. silahkan.. qommisy! sebanyak mungkin!!
Kamu dengar disini 100 riwayat, disitu 500 riwayat, disitu 1000.. sebanyak mungkin kamu cari kesana-kemari karena kamu sedang mengumpulkan riwayat (dalam bab riwayat).
Tapi saat kamu menyampaikan, (sekarang kamu punya tanggung jawab) bahwa ini riwayatmu..!
Orang yang tahu fulan yang menyampaikan (kamu)!! bahwa ini diriwayatkan disampaikan oleh Fulan bin Fulan, namamu dibawa maka فَتِّشْ (hati-hati teliti)!!
Jangan sembarangan!!
RIWAYATKAN YANG KAMU KETAHUI KEBENARANNYA!!
YANG KAMU PASTIKAN KESHAHIHANNYA!!
NGGAK SEMUANYA, Na'am..
Dari Abdulloh Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu:
حَسْبُ الْمُؤمِن مِنَ الْكَذِب أنْ يُحَدِّثَ بكُلِّ مَا سَمِعَ
"Cukup kedustaan bagi seorang mukmin kalau dia berbicara segala yang dia dengar"
ITU SUDAH STEMPEL DIA SEBAGAI PENDUSTA!!
Nggak bisa kamu kemudian beralasan: "ANA CUMA NYAMPAIKAN.. INFORMASINYA BEGITU, YA TELITI SENDIRI OLEHMU! ANA CUMA NYAMPAIKAN..!
NGGAK BISA...!!
LAH SIAPA MEMAKSA KAMU MENYAMPAIKAN?!
DAN NGAPAIN KAMU SAMPAIKAN KALAU KAMU SENDIRI NGGAK KETAHUI KEBENARANNYA?!
Cukup sebagai kedustaan kalau seorang mukmin itu menyampaikan segala sesuatu yang dia dengar!
فَتِّشْ..
(Saat kamu menyampaikan), TELITILAH! PASTIKAN KEBENARANNYA! Karena itu akan menjadi penilaian orang terhadapmu..!
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 JAUHI YANG MERAGUKAN AGAR TIDAK DIRAGUKAN
✍🏼 Abu Hatim rahimahullahu berkata,
"Persahabatan dengan orang-orang yang jelek akan mewariskan prasangka buruk kepada orang-orang yang baik. Barangsiapa yang bersahabat dengan orang-orang yang jelek dia tidak akan selamat dari terperosok ke dalam golongan mereka.
Maka wajib bagi orang yang berakal agar menjauhi orang yang meragukan (agamanya) supaya ia tidak menjadi orang yang diragukan pula (agamanya). Sebagaimana persahabatan dengan orang-orang yang baik akan membuahkan kebaikan, demikian pula persahabatan dengan orang-orang jelek akan mengakibatkan kejelekan."
[ Raudhatu al-Uqala, hal 100 ]
✍🏼قال أبو حاتم رحمه الله " ...وصحبة الأشرار تورث سوء الظن بالأخيار، ومن خادن الأشرار لم يسلم من الدخول في جملتهم، فالواجب على العاقل أن يجتنب أهل الريب لئلا يكون مريبا، فكما أنّ صحبة الأخيار تورث الخير ، كذلك صحبة الأشرار تورث الشر ."
📚[ روضة العقلاء ص ١٠٠ ]
@ManhajulAnbiya
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 JAUHI YANG MERAGUKAN AGAR TIDAK DIRAGUKAN
✍🏼 Abu Hatim rahimahullahu berkata,
"Persahabatan dengan orang-orang yang jelek akan mewariskan prasangka buruk kepada orang-orang yang baik. Barangsiapa yang bersahabat dengan orang-orang yang jelek dia tidak akan selamat dari terperosok ke dalam golongan mereka.
Maka wajib bagi orang yang berakal agar menjauhi orang yang meragukan (agamanya) supaya ia tidak menjadi orang yang diragukan pula (agamanya). Sebagaimana persahabatan dengan orang-orang yang baik akan membuahkan kebaikan, demikian pula persahabatan dengan orang-orang jelek akan mengakibatkan kejelekan."
[ Raudhatu al-Uqala, hal 100 ]
✍🏼قال أبو حاتم رحمه الله " ...وصحبة الأشرار تورث سوء الظن بالأخيار، ومن خادن الأشرار لم يسلم من الدخول في جملتهم، فالواجب على العاقل أن يجتنب أهل الريب لئلا يكون مريبا، فكما أنّ صحبة الأخيار تورث الخير ، كذلك صحبة الأشرار تورث الشر ."
📚[ روضة العقلاء ص ١٠٠ ]
@ManhajulAnbiya
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 FAEDAH PENELITIAN SANAD HADITS MENGANGKAT TANGAN PADA (SELURUH TAKBIR) SHOLAT JENAZAH
Pertanyaan:
Apakah anda menilai hadits Ibnu Umar tentang mengangkat kedua tangan ketika sholat jenazah¹ sebagai hadits shohih yang marfu' (sebagai sabda Nabi ﷺ ?
Jawaban Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkholi hafizhahullah:
InsyaAllah benar. (Karena) hadits ini (walaupun) telah dianggap mengandung illat (yang melemahkan) oleh AdDaruquthni dan diikuti oleh Al Hafidz Ibnu Hajar namun dihasankan Syaikh bin Baz.²
Sementara kami juga telah melakukan penelitian hingga sampai pada kesimpulan bahwa derajat hadits ini minimalnya hasan atau bisa sampai derajat shohih. Karena yang meriwayatkan hadits ini adalah Umar bin Syabbah. Yang dikatakan oleh Ad Daruquthni bahwa dia telah diselisihi oleh perawi lain (dalam riwayat ini).
Dan kami juga sudah mempelajari hal yang disebut penyelisihan Umar bin Syabbah tersebut, namun kami tidak mendapati penyelisihan tersebut dapat menimbulkan dampak cacatnya riwayat itu, dengan alasan;
YANG PERTAMA, beliau (Ad Daruquthni rahimahullah) tidak menyebutkan, siapa perawi lain yang diselisihi oleh Umar bin Syabbah.
YANG KEDUA, sebetulnya beliau yakni Ibnu Syabbah ternyata masuk kategori perawi tsiqqoh atau setidaknya shoduq, dengan kecenderungan lebih tampak beliau termasuk kategori tsiqqoh.
Sehingga memang hadits tersebut valid insyaAllah. Dan memang telah dikuatkan juga dengan beberapa atsar, diantaranya ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma sendiri dan Umar bin Abdul Aziz, serta beberapa ulama yang lain rahimahumullah.
...
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
(Syaikh Robi' hafizhahullah melanjutkan) ...
Syaikh Al Albani adalah guru kami rahimahullah akan tetapi manhaj salaf (mendidik kita) bahwa kebenaran lebih besar (kecintaan kita) daripada sosok siapapun. Jelas (syaikh) Al Albani ini merupakan sosok yang kita cintai, syaikh kita, yang beliau memiliki kapasitas besar. Namun apabila beliau salah, tentu perlu kita kritik kesalahan beliau dan tidak begitu saja kita terima, tentu kita mengkritik dengan adab dan penghormatan.
Hadits tersebut dinilai cacat oleh Ad Daruquthni karena dianggap sekedar mauquf (hanya perbuatan sahabat, belum pasti dilakukan nabi ﷺ). Sehingga di sini terjadi perbedaan penilaian antara berhenti di sahabat (الوقف) dengan sampai nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam (الرفع).
Apa yang kita lakukan jika terjadi perbedaan pendapat antara الرفع dan الوقف ?
Kita perlu memperhatikan kepada dalil-dalilnya, sehingga kita bisa menguatkan pendapat yang dikuatkan oleh dalil-dalil itu.
Di sini memang terjadi silang pendapat antara الوقف dan الرفع. Sedangkan kita peroleh petunjuk bahwa الرفع lebih dominan kecenderungannya dibandingkan الوقف, ditambah adanya atsar-atsar (praktek salaf) yang mendukungnya. (Diantaranya atsar) dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma sendiri, beliau disebutkan biasa mengangkat kedua tangannya apabila sholat jenazah.
Sementara kita dapati ternyata hadits-hadits yang dijadikan sandaran oleh Syaikh Al Albani merupakan hadits yang sangat lemah, dimana disebutkan dalam Sunan Ad Daruquthni rahimahullah diantaranya hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang terdapat kelemahan parah pula.
Demikian juga hadits Abdullah ibnu Abbas juga memiliki sisi kelemahan yang juga parah. (Derajat) hadits tersebut tidak bisa dibandingkan dengan hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma ataupun atsar yang dijadikan sandaran oleh beliau.
Memang dulu saya sempat mengikuti pendapat Syaikh Al Albani rahimahullah, lalu setelah saya pelajari hadits ini pendapat sayapun berubah.
Kemudian pada suatu malam, beliau pernah sholat jenazah di samping saya di (kompleks) masjid Nabawi, di luar masjid. Kami melakukan sholat jenazah, dimana saat itu beliau tidak mengangkat kedua tangannya, sedangkan saya mengangkat kedua tanganku. Sementara saya persis berada di samping beliau.
(Bersambung)
📬 FAEDAH PENELITIAN SANAD HADITS MENGANGKAT TANGAN PADA (SELURUH TAKBIR) SHOLAT JENAZAH
Pertanyaan:
Apakah anda menilai hadits Ibnu Umar tentang mengangkat kedua tangan ketika sholat jenazah¹ sebagai hadits shohih yang marfu' (sebagai sabda Nabi ﷺ ?
Jawaban Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkholi hafizhahullah:
InsyaAllah benar. (Karena) hadits ini (walaupun) telah dianggap mengandung illat (yang melemahkan) oleh AdDaruquthni dan diikuti oleh Al Hafidz Ibnu Hajar namun dihasankan Syaikh bin Baz.²
Sementara kami juga telah melakukan penelitian hingga sampai pada kesimpulan bahwa derajat hadits ini minimalnya hasan atau bisa sampai derajat shohih. Karena yang meriwayatkan hadits ini adalah Umar bin Syabbah. Yang dikatakan oleh Ad Daruquthni bahwa dia telah diselisihi oleh perawi lain (dalam riwayat ini).
Dan kami juga sudah mempelajari hal yang disebut penyelisihan Umar bin Syabbah tersebut, namun kami tidak mendapati penyelisihan tersebut dapat menimbulkan dampak cacatnya riwayat itu, dengan alasan;
YANG PERTAMA, beliau (Ad Daruquthni rahimahullah) tidak menyebutkan, siapa perawi lain yang diselisihi oleh Umar bin Syabbah.
YANG KEDUA, sebetulnya beliau yakni Ibnu Syabbah ternyata masuk kategori perawi tsiqqoh atau setidaknya shoduq, dengan kecenderungan lebih tampak beliau termasuk kategori tsiqqoh.
Sehingga memang hadits tersebut valid insyaAllah. Dan memang telah dikuatkan juga dengan beberapa atsar, diantaranya ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma sendiri dan Umar bin Abdul Aziz, serta beberapa ulama yang lain rahimahumullah.
...
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
(Syaikh Robi' hafizhahullah melanjutkan) ...
Syaikh Al Albani adalah guru kami rahimahullah akan tetapi manhaj salaf (mendidik kita) bahwa kebenaran lebih besar (kecintaan kita) daripada sosok siapapun. Jelas (syaikh) Al Albani ini merupakan sosok yang kita cintai, syaikh kita, yang beliau memiliki kapasitas besar. Namun apabila beliau salah, tentu perlu kita kritik kesalahan beliau dan tidak begitu saja kita terima, tentu kita mengkritik dengan adab dan penghormatan.
Hadits tersebut dinilai cacat oleh Ad Daruquthni karena dianggap sekedar mauquf (hanya perbuatan sahabat, belum pasti dilakukan nabi ﷺ). Sehingga di sini terjadi perbedaan penilaian antara berhenti di sahabat (الوقف) dengan sampai nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam (الرفع).
Apa yang kita lakukan jika terjadi perbedaan pendapat antara الرفع dan الوقف ?
Kita perlu memperhatikan kepada dalil-dalilnya, sehingga kita bisa menguatkan pendapat yang dikuatkan oleh dalil-dalil itu.
Di sini memang terjadi silang pendapat antara الوقف dan الرفع. Sedangkan kita peroleh petunjuk bahwa الرفع lebih dominan kecenderungannya dibandingkan الوقف, ditambah adanya atsar-atsar (praktek salaf) yang mendukungnya. (Diantaranya atsar) dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma sendiri, beliau disebutkan biasa mengangkat kedua tangannya apabila sholat jenazah.
Sementara kita dapati ternyata hadits-hadits yang dijadikan sandaran oleh Syaikh Al Albani merupakan hadits yang sangat lemah, dimana disebutkan dalam Sunan Ad Daruquthni rahimahullah diantaranya hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang terdapat kelemahan parah pula.
Demikian juga hadits Abdullah ibnu Abbas juga memiliki sisi kelemahan yang juga parah. (Derajat) hadits tersebut tidak bisa dibandingkan dengan hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma ataupun atsar yang dijadikan sandaran oleh beliau.
Memang dulu saya sempat mengikuti pendapat Syaikh Al Albani rahimahullah, lalu setelah saya pelajari hadits ini pendapat sayapun berubah.
Kemudian pada suatu malam, beliau pernah sholat jenazah di samping saya di (kompleks) masjid Nabawi, di luar masjid. Kami melakukan sholat jenazah, dimana saat itu beliau tidak mengangkat kedua tangannya, sedangkan saya mengangkat kedua tanganku. Sementara saya persis berada di samping beliau.
(Bersambung)
Kemudian saya mengatakan kepada beliau, "Syaikh, sebenarnya dulu saya mengikuti pendapat anda. Lalu saya berbeda pendapat dengan anda pada masalah ini."
Beliau menjawab, "Baiklah".
Sayapun selanjutnya menyampaikan beberapa hujjah dan dalil-dalil yang saya dapati. Ternyata beliau menerimanya dengan adab dan penghargaan beliau rahimahullah.
Berselang beberapa waktu setelah itu, beliau secara implisit menyebut tentang saya dalam (revisi) kitab beliau (Ahkam) Al Janaiz. Disana beliau menyatakan, "Dan salah seorang yang mulia telah berpendapat demikian dan demikian." Yang dimaksud ini adalah hal-hal yang saya sampaikan kepada beliau itu.
Kemudian (juga) saya pernah melihat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushobi hafizhahullah³ tidak mengangkat tangan (pula). Ketika saya mencoba berdiskusi dengan beliau, awalnya beliau bersikeras dengan pendapatnya. Sampai kami memutuskan bersama menuju perpustakaan dan kami pelajari bersama hadits tersebut. Hingga beliau sendiri sampai pada kesimpulan bahwa sanad hadits Umar bin Syabbah⁴ tersebut shohih.
(Demikianlah) Ahli hadits selalu berusaha mengikuti kebenaran insyaAllah. Tentu saja dibarengi dengan sikap saling mencintai dan saling menghormati. Sedangkan perbedaan pendapat yang terjadi di antara mereka tidaklah menjadi permusuhan.
Selama mereka bersama dalam aqidah dan manhaj (yang satu), kalaupun kemudian pendapatnya salah, mereka tidaklah keluar dari potensi memperoleh pahala. Seorang ahli ijtihad apabila benar (dalam upayanya berijtihad) dia akan memperoleh 2 pahala. Jikapun ternyata ijitihadnya salah dia masih mendapatkan 1 pahala.
Karenanya kita dapat mengetahui dalam sejarah bila ada yang berbeda pendapat dalam permasalahan seperti ini, memang mereka menyampaikan bantahan (ilmiah) menghadapi ucapan dan lawan-lawan diskusinya. Namun itu dilakukan dengan tetap mempertahankan adab dan menjaga kehormatan. Tanpa mencela, tidak dengan merendahkan, juga tanpa mencaci. Karena memang maksud mereka adalah menyampaikan nasihat dan menjelaskan kebenaran.
______________
Catatan kaki:
¹) Hadits yang dimaksudkan tampaknya adalah:
ﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ اﻟﺠﺮاﺡ، ﻭاﺑﻦ ﻣﺨﻠﺪ، ﻗﺎﻻ: ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺷﺒﺔ، ﻗﺎﻝ: ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻳﺰﻳﺪ ﺑﻦ ﻫﺎﺭﻭﻥ، ﻗﺎﻝ: ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﺳﻌﻴﺪ، ﻋﻦ ﻧﺎﻓﻊ، ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ؛ ﺃﻥ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﺇﺫا ﺻﻠﻰ ﻋﻠﻰ ﺟﻨﺎﺯﺓ ﺭﻓﻊ ﻳﺪﻳﻪ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ، ﻭﺇﺫا اﻧﺼﺮﻑ ﺳﻠﻢ.
Ahmad bin Muhammad bin Al Jarroh dan Ibnu Makhlad beliau berdua berkata, telah menceritakan kepada kami Umar bin Syabbah dia berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dia berkata, telah meyampaikan berita kepada kami Yahya bin Sa'id dari Nafi' dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma "bahwa Nabi ﷺ beliau biasanya jika melaksanakan sholat jenazah beliau mengangkat kedua tangannya pada setiap takbirnya, dan apabila beliau hendak mengakhirinya beliau membaca salam (sekali)."
(HR. Ad Daruquthni dalam Al 'Ilal no. 2908)
²) Syaikh bin Baz rahimahullah menyebutkan,
"السنة رفع اليدين مع التكبيرات الأربع كلها ; لما ثبت عن ابن عمر وابن عباس أنهما كانا يرفعان مع التكبيرات كلها , ورواه الدار قطني مرفوعا من حديث ابن عمر بسند جيد" (مجموع الفتاوى " (13/148)
"Merupakan sunnah, mengangkat kedua tangan pada keempat takbir (sholat jenazah) seluruhnya. Berdasarkan riwayat yang valid dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum, bahwa mereka berdua biasa mengangkat kedua tangan mereka pada seluruh takbirnya. Juga diriwayatkan oleh Ad Daruquthni secara marfu' dari hadits Ibnu Umar dengan sanad jayyid." (Majmu' Al Fatawa 13/148)
³) Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushobi (wafat 1436 H / 2015 M). Salah seorang Ulama dari negeri Yaman, sahabat dekat Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'i rahimahumullah, sekaligus guru beberapa asatidzah kita Ahlussunnah di Indonesia.
Beliau menjawab, "Baiklah".
Sayapun selanjutnya menyampaikan beberapa hujjah dan dalil-dalil yang saya dapati. Ternyata beliau menerimanya dengan adab dan penghargaan beliau rahimahullah.
Berselang beberapa waktu setelah itu, beliau secara implisit menyebut tentang saya dalam (revisi) kitab beliau (Ahkam) Al Janaiz. Disana beliau menyatakan, "Dan salah seorang yang mulia telah berpendapat demikian dan demikian." Yang dimaksud ini adalah hal-hal yang saya sampaikan kepada beliau itu.
Kemudian (juga) saya pernah melihat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushobi hafizhahullah³ tidak mengangkat tangan (pula). Ketika saya mencoba berdiskusi dengan beliau, awalnya beliau bersikeras dengan pendapatnya. Sampai kami memutuskan bersama menuju perpustakaan dan kami pelajari bersama hadits tersebut. Hingga beliau sendiri sampai pada kesimpulan bahwa sanad hadits Umar bin Syabbah⁴ tersebut shohih.
(Demikianlah) Ahli hadits selalu berusaha mengikuti kebenaran insyaAllah. Tentu saja dibarengi dengan sikap saling mencintai dan saling menghormati. Sedangkan perbedaan pendapat yang terjadi di antara mereka tidaklah menjadi permusuhan.
Selama mereka bersama dalam aqidah dan manhaj (yang satu), kalaupun kemudian pendapatnya salah, mereka tidaklah keluar dari potensi memperoleh pahala. Seorang ahli ijtihad apabila benar (dalam upayanya berijtihad) dia akan memperoleh 2 pahala. Jikapun ternyata ijitihadnya salah dia masih mendapatkan 1 pahala.
Karenanya kita dapat mengetahui dalam sejarah bila ada yang berbeda pendapat dalam permasalahan seperti ini, memang mereka menyampaikan bantahan (ilmiah) menghadapi ucapan dan lawan-lawan diskusinya. Namun itu dilakukan dengan tetap mempertahankan adab dan menjaga kehormatan. Tanpa mencela, tidak dengan merendahkan, juga tanpa mencaci. Karena memang maksud mereka adalah menyampaikan nasihat dan menjelaskan kebenaran.
______________
Catatan kaki:
¹) Hadits yang dimaksudkan tampaknya adalah:
ﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ اﻟﺠﺮاﺡ، ﻭاﺑﻦ ﻣﺨﻠﺪ، ﻗﺎﻻ: ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺷﺒﺔ، ﻗﺎﻝ: ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻳﺰﻳﺪ ﺑﻦ ﻫﺎﺭﻭﻥ، ﻗﺎﻝ: ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﺳﻌﻴﺪ، ﻋﻦ ﻧﺎﻓﻊ، ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ؛ ﺃﻥ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﺇﺫا ﺻﻠﻰ ﻋﻠﻰ ﺟﻨﺎﺯﺓ ﺭﻓﻊ ﻳﺪﻳﻪ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ، ﻭﺇﺫا اﻧﺼﺮﻑ ﺳﻠﻢ.
Ahmad bin Muhammad bin Al Jarroh dan Ibnu Makhlad beliau berdua berkata, telah menceritakan kepada kami Umar bin Syabbah dia berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dia berkata, telah meyampaikan berita kepada kami Yahya bin Sa'id dari Nafi' dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma "bahwa Nabi ﷺ beliau biasanya jika melaksanakan sholat jenazah beliau mengangkat kedua tangannya pada setiap takbirnya, dan apabila beliau hendak mengakhirinya beliau membaca salam (sekali)."
(HR. Ad Daruquthni dalam Al 'Ilal no. 2908)
²) Syaikh bin Baz rahimahullah menyebutkan,
"السنة رفع اليدين مع التكبيرات الأربع كلها ; لما ثبت عن ابن عمر وابن عباس أنهما كانا يرفعان مع التكبيرات كلها , ورواه الدار قطني مرفوعا من حديث ابن عمر بسند جيد" (مجموع الفتاوى " (13/148)
"Merupakan sunnah, mengangkat kedua tangan pada keempat takbir (sholat jenazah) seluruhnya. Berdasarkan riwayat yang valid dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum, bahwa mereka berdua biasa mengangkat kedua tangan mereka pada seluruh takbirnya. Juga diriwayatkan oleh Ad Daruquthni secara marfu' dari hadits Ibnu Umar dengan sanad jayyid." (Majmu' Al Fatawa 13/148)
³) Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Wushobi (wafat 1436 H / 2015 M). Salah seorang Ulama dari negeri Yaman, sahabat dekat Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'i rahimahumullah, sekaligus guru beberapa asatidzah kita Ahlussunnah di Indonesia.
⁴) Diperoleh faedah dari seorang pemberi nasihat jazahullahu khaira bahwa ejaan yang tepat adalah "Syabbah" (harokat fathah pada huruf syin) untuk nama Abu Zaid Umar bin Syabbah sebagaimana disebutkan oleh Al Hafidz ibnu Hajar dalam Talkhisul Habir dan Al Albani rahimahumullah sendiri dalam Adh Dho'ifah. Juga terdapat perbedaan dengan sebagian yang tertulis pada transkrip fatwa disebut dengan Syaibah yang tampaknya adalah kesalahan ejaan oleh pentranskrip fatwa Syaikh hafidzahullah,
Wallahu a'lam.
[Liqo' Haditsi Manhaji Ma'a Ba'dhi Thullabil 'ilmi Bi Makkah, pertanyaan ke-11 file pdf hal. 12-13]
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
السؤال :
هل تصححون حديث ابن عمر في رفع اليدين في صلاة الجنازة مرفوعا؟
الجواب
إن شاء الله, هذا علله الدارقطني وتابعه الحافظ ابن حجر وحسنه الشيخ ابن باز وأجرينا عليه دراسة ووجدنا أنّه في درجة الحسن أو يصل إلى درجة الصحة, لأنّ الذي رفعه وهو عمر بن شبّة، قال الدارقطني: خالفه غيره, ودرسنا هذه المخالفة فلم نجدلها تأثيراً على رواية عمر بن شبّة.
أولا: لم يسمّ الدارقطني هؤلاء المخالفين.
ثانيا: هو - يعني ابن شبّة - ثقة أو صدوق, الظاهر أنّه ثقة، فالحديث ثابت - إن شاء الله - وقد عضده آثار, منها أثر عبد الله بن عمر وعمر بن عبد العزيز وبعض السلف وهذا مما يتقوى به الحديث سواءً كان مرسلا أو فيه شيء من الضعف فكيف إذا كان ثابتا.
الشيخ الألباني شيخنا - رحمه الله - لكن منهج السلف أنّ الحق أكبر من الشخص كائنا من كان, هذا الألباني حبيبنا و شيخنا وله جهود عظيمة, ولكن إذا أخطأ نرد خطأه ولا نقبله, ونرده بأدب واحترام.
الحديث علّله الدارقطنبي بالوقف, تعارض الوقف والرفع هنا ماذا تفعل إذا تعارض الرفع والوقف؟ ننظر إلى الأدلة فنرجح ما ترجحه الأدلة.
هنا تعارض الوقف والرفع فوجدنا أن الرفع أرجح من الوقف وعضّده آثار, عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما- نفسه كان يرفع يديه إذا صلى على الجنازة,
ووجدنا الأحاديث التي تعلّق بها الشيخ الألباني ضعيفة جدا وهي مذكورة في السنن للدار قطني -رحمه الله- منها حديث أبي هريرة فيه ضعف شديد وحديث عبد الله بن عباس فيه ضعف شديد أيضاً وهي لا تقاوم حديث ابن عمر - رضي الله عنه - وما سانده من الآثار.
وأنا كنت قديماً آخذا بمذهب الشيخ الألباني - رحمه الله - ثمّ درست الحديث فغيرت رأيي, فصلّى ليلة إلى جانبي - رحمه الله - في المسجد النبوي خارج المسجد, صلينا على جنازة فكان لا يرفع وأنا أرفع وأنا بجنبه فقلت له: شيخنا كنت على رأيك ثم خالفتك فيه, قال: طيّب, فأعطيته بعض حججي وأدلتي فتقبلها بأدبه واحترامه - رحمه الله- وبعد ذلك أشار إليّ في كتابه الجنائز فقال: ورأى بعض الأفاضل كذا وكذا , هذا إشارة إلى تنبيهي أنا.
ثم رأيت الشيخ محمد عبد الوهاب الو صابي - حفظه الله - لا يرفع فناقشته فصمّم على رأيه فجئنا هنا إلى المكتبة ودرسنا الحديث, حتّى وصل هو نفسه إلى الحكم بالصحة لحديث عمر بن شيبة.
أهل الحديث يدورون مع الحقّ - إن شاء الله - مع المحبة والاحترام لبعضهم بعض, والخلافات بينهم ليست خصومة إذا كان معهم على العقيدة والمنهج ثمّ أخطأ فلا يخرج عن دائرة الأجر, المجتهد إن أصاب فله أجران وإن أخطأ فله أجر واحد, ولهذا نرى أهل حديث من فجر التاريخ يختلفون في مثل هذه المسائل وينتقدون المقالات والأشخاص لكن بأدب واحترام، بدون سب, بدون تحقير، بدون شتم لأنّ قصدهم النّصيحة وبيان الحق.
[لقاء حديثي منهجي مع بعض طلاب العلم بمكّة]
▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️
Diterjemahkan oleh Abu Abdirrohman Sofian dari petikan Fatwa Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkholi hafizhahullah pada:
https://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=43&id=755
dan file pdf pada link
http://www.rabee.net/ar/artdownload.php?id=252
📚 Grup WA Al I'tishom
Situs resmi:
https://itishom.org/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Wallahu a'lam.
[Liqo' Haditsi Manhaji Ma'a Ba'dhi Thullabil 'ilmi Bi Makkah, pertanyaan ke-11 file pdf hal. 12-13]
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
السؤال :
هل تصححون حديث ابن عمر في رفع اليدين في صلاة الجنازة مرفوعا؟
الجواب
إن شاء الله, هذا علله الدارقطني وتابعه الحافظ ابن حجر وحسنه الشيخ ابن باز وأجرينا عليه دراسة ووجدنا أنّه في درجة الحسن أو يصل إلى درجة الصحة, لأنّ الذي رفعه وهو عمر بن شبّة، قال الدارقطني: خالفه غيره, ودرسنا هذه المخالفة فلم نجدلها تأثيراً على رواية عمر بن شبّة.
أولا: لم يسمّ الدارقطني هؤلاء المخالفين.
ثانيا: هو - يعني ابن شبّة - ثقة أو صدوق, الظاهر أنّه ثقة، فالحديث ثابت - إن شاء الله - وقد عضده آثار, منها أثر عبد الله بن عمر وعمر بن عبد العزيز وبعض السلف وهذا مما يتقوى به الحديث سواءً كان مرسلا أو فيه شيء من الضعف فكيف إذا كان ثابتا.
الشيخ الألباني شيخنا - رحمه الله - لكن منهج السلف أنّ الحق أكبر من الشخص كائنا من كان, هذا الألباني حبيبنا و شيخنا وله جهود عظيمة, ولكن إذا أخطأ نرد خطأه ولا نقبله, ونرده بأدب واحترام.
الحديث علّله الدارقطنبي بالوقف, تعارض الوقف والرفع هنا ماذا تفعل إذا تعارض الرفع والوقف؟ ننظر إلى الأدلة فنرجح ما ترجحه الأدلة.
هنا تعارض الوقف والرفع فوجدنا أن الرفع أرجح من الوقف وعضّده آثار, عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنهما- نفسه كان يرفع يديه إذا صلى على الجنازة,
ووجدنا الأحاديث التي تعلّق بها الشيخ الألباني ضعيفة جدا وهي مذكورة في السنن للدار قطني -رحمه الله- منها حديث أبي هريرة فيه ضعف شديد وحديث عبد الله بن عباس فيه ضعف شديد أيضاً وهي لا تقاوم حديث ابن عمر - رضي الله عنه - وما سانده من الآثار.
وأنا كنت قديماً آخذا بمذهب الشيخ الألباني - رحمه الله - ثمّ درست الحديث فغيرت رأيي, فصلّى ليلة إلى جانبي - رحمه الله - في المسجد النبوي خارج المسجد, صلينا على جنازة فكان لا يرفع وأنا أرفع وأنا بجنبه فقلت له: شيخنا كنت على رأيك ثم خالفتك فيه, قال: طيّب, فأعطيته بعض حججي وأدلتي فتقبلها بأدبه واحترامه - رحمه الله- وبعد ذلك أشار إليّ في كتابه الجنائز فقال: ورأى بعض الأفاضل كذا وكذا , هذا إشارة إلى تنبيهي أنا.
ثم رأيت الشيخ محمد عبد الوهاب الو صابي - حفظه الله - لا يرفع فناقشته فصمّم على رأيه فجئنا هنا إلى المكتبة ودرسنا الحديث, حتّى وصل هو نفسه إلى الحكم بالصحة لحديث عمر بن شيبة.
أهل الحديث يدورون مع الحقّ - إن شاء الله - مع المحبة والاحترام لبعضهم بعض, والخلافات بينهم ليست خصومة إذا كان معهم على العقيدة والمنهج ثمّ أخطأ فلا يخرج عن دائرة الأجر, المجتهد إن أصاب فله أجران وإن أخطأ فله أجر واحد, ولهذا نرى أهل حديث من فجر التاريخ يختلفون في مثل هذه المسائل وينتقدون المقالات والأشخاص لكن بأدب واحترام، بدون سب, بدون تحقير، بدون شتم لأنّ قصدهم النّصيحة وبيان الحق.
[لقاء حديثي منهجي مع بعض طلاب العلم بمكّة]
▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️
Diterjemahkan oleh Abu Abdirrohman Sofian dari petikan Fatwa Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkholi hafizhahullah pada:
https://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=43&id=755
dan file pdf pada link
http://www.rabee.net/ar/artdownload.php?id=252
📚 Grup WA Al I'tishom
Situs resmi:
https://itishom.org/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 TAUBAT NASUHA TATKALA WABAH MELANDA
Pada tahun 1224 H terjadi wabah (pandemi) dan penyakit yang parah, khususnya di negeri Dir’iyyah (Negara Saudi Pertama). Qaddaralallah wa ma syaa fa’al. Wabah ini terjadi sampai bulan Jumada (bulan ke-5 dan ke-6 tahun hijriyah, pen).
Kala itu di Dir’iyyah korban berjatuhan sangat banyak, baik dari kalangan pendatang maupun penduduk setempat. Kondisi terus memuncak, hingga terjadi dalam satu hari 30 sampai 40 orang meninggal dunia!
Maka pimpinan Dir’iyyah (Negara Saudi Pertama) pada masa itu, seorang raja yang shalih dan bijak, al-Imam Su’ud bin Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud, Raja ke-3 Negara Saudi Pertama, – rahimahullah – menulis nasehat yang sangat mendalam kepada seluruh rakyat Dir’iyyah, yang dikirim ke seluruh penjuru negeri.
Dalam nasehatnya tersebut, sang Raja mengajak seluruh rakyat untuk meninggalkan dosa-dosa dan bertaubat dengan taubah nasuha. Seraya beliau menyebutkan perkara-perkara dosa, disertai dengan dalil-dalil dan ancaman agar meninggalkannya.
Beliau juga berdo’a kepada Allah dengan doa yang luar biasa memohon agar wabah dan bencana tersebut segera diangkat oleh Allah. Dalam doa tersebut beliau banyak memuji dan menyanjung Allah Ta’ala, bertawassul kepada-Nya dengan Asmaul Husna (nama-nama-Nya yang indah).
Nasehat agung ini dibacakan kepada segenap rakyat di masjid-masjid negeri Dir’iyyah. Dengan izin Allah, tak lama setelah itu wabahpun berakhir. Walhamdulillah.
Disebutkan dalam sejarah, bahwa di antara yang wafat dalam peristiwa wabah ini adalah seorang tokoh ulama besar, Mufti Agung Negeri Dir’iyyah, Al-‘Allamah al-Mufid Husain bin Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah. Beliau ulama besar dalam bidang ilmu tauhid, aqidah, tafsir, fiqh, dan lainnya. Beliau meninggal pada bulan Rabiul Akhir 1224 H.
Di antara yang tercatat meninggal dunia dalam peristiwa wabah ini pula: Sa’d bin Salim, Sa’d bin Abdillah bin Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud, Ali bin Musa bin Suwailim, dan lainnya, termasuk 4 tokoh besar dari Alu Ma’mar.
(Dikisahkan ulang dari Kitab Sejarah: ‘Unwan al-Majd fi Tarikh Najd, 1/299-300, karya ‘Utman bin Abdillah bin Bisyr).
* * *
Semoga petikan sejarah ini bermanfaat bagi kita semua. Terkhusus pada bulan-bulan terakhir ini kita juga mengalama bencana pandemi di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Kita pun perlu mengoreksi diri sekaligus memperbaikinya.
Mari kita segera kembali kepada Allah, bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya. Karena petaka yang terjadi akibat perbuatan dan dosa anak manusia. Berapa banyak dari manusia, disadari maupun tidak, sengaja atau pun tidak melakukan tindak kerusakan di muka bumi.
* * *
Musibah dan bencana juga bisa terjadi akibat dosa dan kemaksiatan yang perbuat oleh manusia. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (30) [الشورى: 30]
“Segala musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (asy-Syura: 30)
(Bersambung)
📬 TAUBAT NASUHA TATKALA WABAH MELANDA
Pada tahun 1224 H terjadi wabah (pandemi) dan penyakit yang parah, khususnya di negeri Dir’iyyah (Negara Saudi Pertama). Qaddaralallah wa ma syaa fa’al. Wabah ini terjadi sampai bulan Jumada (bulan ke-5 dan ke-6 tahun hijriyah, pen).
Kala itu di Dir’iyyah korban berjatuhan sangat banyak, baik dari kalangan pendatang maupun penduduk setempat. Kondisi terus memuncak, hingga terjadi dalam satu hari 30 sampai 40 orang meninggal dunia!
Maka pimpinan Dir’iyyah (Negara Saudi Pertama) pada masa itu, seorang raja yang shalih dan bijak, al-Imam Su’ud bin Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud, Raja ke-3 Negara Saudi Pertama, – rahimahullah – menulis nasehat yang sangat mendalam kepada seluruh rakyat Dir’iyyah, yang dikirim ke seluruh penjuru negeri.
Dalam nasehatnya tersebut, sang Raja mengajak seluruh rakyat untuk meninggalkan dosa-dosa dan bertaubat dengan taubah nasuha. Seraya beliau menyebutkan perkara-perkara dosa, disertai dengan dalil-dalil dan ancaman agar meninggalkannya.
Beliau juga berdo’a kepada Allah dengan doa yang luar biasa memohon agar wabah dan bencana tersebut segera diangkat oleh Allah. Dalam doa tersebut beliau banyak memuji dan menyanjung Allah Ta’ala, bertawassul kepada-Nya dengan Asmaul Husna (nama-nama-Nya yang indah).
Nasehat agung ini dibacakan kepada segenap rakyat di masjid-masjid negeri Dir’iyyah. Dengan izin Allah, tak lama setelah itu wabahpun berakhir. Walhamdulillah.
Disebutkan dalam sejarah, bahwa di antara yang wafat dalam peristiwa wabah ini adalah seorang tokoh ulama besar, Mufti Agung Negeri Dir’iyyah, Al-‘Allamah al-Mufid Husain bin Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah. Beliau ulama besar dalam bidang ilmu tauhid, aqidah, tafsir, fiqh, dan lainnya. Beliau meninggal pada bulan Rabiul Akhir 1224 H.
Di antara yang tercatat meninggal dunia dalam peristiwa wabah ini pula: Sa’d bin Salim, Sa’d bin Abdillah bin Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud, Ali bin Musa bin Suwailim, dan lainnya, termasuk 4 tokoh besar dari Alu Ma’mar.
(Dikisahkan ulang dari Kitab Sejarah: ‘Unwan al-Majd fi Tarikh Najd, 1/299-300, karya ‘Utman bin Abdillah bin Bisyr).
* * *
Semoga petikan sejarah ini bermanfaat bagi kita semua. Terkhusus pada bulan-bulan terakhir ini kita juga mengalama bencana pandemi di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Kita pun perlu mengoreksi diri sekaligus memperbaikinya.
Mari kita segera kembali kepada Allah, bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya. Karena petaka yang terjadi akibat perbuatan dan dosa anak manusia. Berapa banyak dari manusia, disadari maupun tidak, sengaja atau pun tidak melakukan tindak kerusakan di muka bumi.
* * *
Musibah dan bencana juga bisa terjadi akibat dosa dan kemaksiatan yang perbuat oleh manusia. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (30) [الشورى: 30]
“Segala musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (asy-Syura: 30)
(Bersambung)
Pakar dan imam ahli tafsir terkemuka, Al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah (w. 310 H) menjelaskan tentang tafsir ayat di atas:
“Wahai umat manusia, tidaklah musibah yang menimpa kalian di dunia ini, baik musibah yang mengenai diri kalian sendiri, keluarga kalian, atau pun harta kalian, tidaklah musibah itu menimpa kalian kecuali sebagai hukuman dari Allah akibat dosa-dosa yang kalian perbuat, baik perbuatan dosa antara sesama kalian, maupun perbuatan dosa kalian terhadap Sang Pencipta. Itu pun Allah memaafkan banyak dari dosa-dosa kalian, sehingga kalian tidak dihukum karenanya.” (Tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an 21/538)
Sejarah juga mencatat, bahwa berapa banyak dari bangsa-bangsa besar pada masa lalu, yang memiliki kebudayaan dan peradaban besar, berujung kepada kehancuran akibat perbuatan mereka sendiri yang berani melawan Allah Ta’ala, tidak mau tunduk terhadap agama-Nya, dan menentang para rasul-Nya.
Ada yang mengalami musibah banjir bandang, ada yang mengalami gempa bumi yang sangat keras, ada yang ditenggelamkan dalam bumi, dan berbagai bencana dan musibah lainnya yang terjadi dengan kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam al-Qur’an al-Karim Allah Ta’ala berkata,
فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (40) [العنكبوت: 40]
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan (di lautan). Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (al-‘Ankabut : 40)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda,
يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ، خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ:
لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا.
وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ، إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ.
وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ، إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا.
وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ، إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ.
وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ، إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
“Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima perkara apabila kalian ditimpa ujian karenanya, dan aku minta perlindungan kepada Allah agar lima hal tersebut jangan sampai menimpa kalian:
➊ Tidaklah perbuatan keji tampak terjadi pada suatu kaum, sampai mereka berani melakukannya secara terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka (wabah) tha’un dan berbagai penyakit yang belum pernah terjadi pada umat-umat sebelumnya.
➋ Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan mengalami paceklik, kehabisan bahan pangan, dan akan datang penguasa yang zhalim yang memimpin mereka.
“Wahai umat manusia, tidaklah musibah yang menimpa kalian di dunia ini, baik musibah yang mengenai diri kalian sendiri, keluarga kalian, atau pun harta kalian, tidaklah musibah itu menimpa kalian kecuali sebagai hukuman dari Allah akibat dosa-dosa yang kalian perbuat, baik perbuatan dosa antara sesama kalian, maupun perbuatan dosa kalian terhadap Sang Pencipta. Itu pun Allah memaafkan banyak dari dosa-dosa kalian, sehingga kalian tidak dihukum karenanya.” (Tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an 21/538)
Sejarah juga mencatat, bahwa berapa banyak dari bangsa-bangsa besar pada masa lalu, yang memiliki kebudayaan dan peradaban besar, berujung kepada kehancuran akibat perbuatan mereka sendiri yang berani melawan Allah Ta’ala, tidak mau tunduk terhadap agama-Nya, dan menentang para rasul-Nya.
Ada yang mengalami musibah banjir bandang, ada yang mengalami gempa bumi yang sangat keras, ada yang ditenggelamkan dalam bumi, dan berbagai bencana dan musibah lainnya yang terjadi dengan kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam al-Qur’an al-Karim Allah Ta’ala berkata,
فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (40) [العنكبوت: 40]
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan (di lautan). Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (al-‘Ankabut : 40)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda,
يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ، خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ:
لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا.
وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ، إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ.
وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ، إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا.
وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ، إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ.
وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ، إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
“Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima perkara apabila kalian ditimpa ujian karenanya, dan aku minta perlindungan kepada Allah agar lima hal tersebut jangan sampai menimpa kalian:
➊ Tidaklah perbuatan keji tampak terjadi pada suatu kaum, sampai mereka berani melakukannya secara terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka (wabah) tha’un dan berbagai penyakit yang belum pernah terjadi pada umat-umat sebelumnya.
➋ Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan mengalami paceklik, kehabisan bahan pangan, dan akan datang penguasa yang zhalim yang memimpin mereka.
➌ Tidaklah sebuah kaum menolak membayar zakat hartanya, kecuali akan terhalangi hujan dari langit, kalau bukan karena keberadaan hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan sama sekali.
➍ Tidaklah mereka melanggar perjanjian dengan Allah dan perjanjian dengan Rasul-Nya, kecuali akan Allah jadikan musuh-musuh mereka dari selain mereka akan menguasai mereka, sehingga musuh-musuh itu pun akan mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka.
➎ Apabila para pimpinan mereka tidak berhukum dengan Kitabullah, dan tidak mau mencari kebaikan dari agama yang Allah turunkan, kecuali akan Allah jadikan kejelekan mereka akan menimpa mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah 4019, lihat ash-Shahihah no. 106)
Dalam hadits tersebut, dengan jelas Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam memberitakan bahwa berbagai musibah dan bencana, baik berupa wabah penyakit, kelaparan, kekeringan, kehabisan bahan pangan, bahkan sampai kezhaliman penguasa, penjajahan, dan ditimpa oleh akibat dari kejelekan diri sendiri, itu semua terjadi sebagai akibat perbuatan dosa-dosa mereka sendiri.
Dalam hadits tersebut, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam memberitakan bahwa wabah penyakit terjadi ketika perbuatan keji terjadi pada suatu kaum, sampai mereka berani melakukannya secara terang-terangan.
Jika hal ini terjadi pada suatu kaum, maka akan terjadi wabah tha’un atau wabah penyakit lainnya yang belum pernah terjadi pada umat-umat sebelumnya.
Sungguh kita takut kepada Allah Ta’ala. Takut akan kemurkaan dan adzab-Nya, akibat kita berani berbuat dosa, menentang perintah-Nya dan melanggar larangan-Nya.
Mari segera kembali kepada Allah, segera bertaubat kepada-Nya. Segera memperbaiki iman dan taqwa kepada-Nya.
Termasuk taqwa kepada Allah Ta’ala adalah meningkat ketaatan dan amal shalih, menjauhi berbagai kemaksiatan.
Termasuk taqwa kepada-Nya adalah menaati imbauan pemerintah untuk disiplin protokol kesehatan dan melakukan segala upaya pencegahan. Tak hanya karena takut kena sanksi, namun karena dorongan iman dan kesabaran.
Semoga bencana pandemi Covid-19 ini segera Allah angkat dari muka bumi. Hanya kepada-Nya kita berharap dan memohon pertolongan. Amin.
Sumber: https://www.tanggapcovid19.com/taubat-nasuha-tatkala-wabah-melanda/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
➍ Tidaklah mereka melanggar perjanjian dengan Allah dan perjanjian dengan Rasul-Nya, kecuali akan Allah jadikan musuh-musuh mereka dari selain mereka akan menguasai mereka, sehingga musuh-musuh itu pun akan mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka.
➎ Apabila para pimpinan mereka tidak berhukum dengan Kitabullah, dan tidak mau mencari kebaikan dari agama yang Allah turunkan, kecuali akan Allah jadikan kejelekan mereka akan menimpa mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah 4019, lihat ash-Shahihah no. 106)
Dalam hadits tersebut, dengan jelas Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam memberitakan bahwa berbagai musibah dan bencana, baik berupa wabah penyakit, kelaparan, kekeringan, kehabisan bahan pangan, bahkan sampai kezhaliman penguasa, penjajahan, dan ditimpa oleh akibat dari kejelekan diri sendiri, itu semua terjadi sebagai akibat perbuatan dosa-dosa mereka sendiri.
Dalam hadits tersebut, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam memberitakan bahwa wabah penyakit terjadi ketika perbuatan keji terjadi pada suatu kaum, sampai mereka berani melakukannya secara terang-terangan.
Jika hal ini terjadi pada suatu kaum, maka akan terjadi wabah tha’un atau wabah penyakit lainnya yang belum pernah terjadi pada umat-umat sebelumnya.
Sungguh kita takut kepada Allah Ta’ala. Takut akan kemurkaan dan adzab-Nya, akibat kita berani berbuat dosa, menentang perintah-Nya dan melanggar larangan-Nya.
Mari segera kembali kepada Allah, segera bertaubat kepada-Nya. Segera memperbaiki iman dan taqwa kepada-Nya.
Termasuk taqwa kepada Allah Ta’ala adalah meningkat ketaatan dan amal shalih, menjauhi berbagai kemaksiatan.
Termasuk taqwa kepada-Nya adalah menaati imbauan pemerintah untuk disiplin protokol kesehatan dan melakukan segala upaya pencegahan. Tak hanya karena takut kena sanksi, namun karena dorongan iman dan kesabaran.
Semoga bencana pandemi Covid-19 ini segera Allah angkat dari muka bumi. Hanya kepada-Nya kita berharap dan memohon pertolongan. Amin.
Sumber: https://www.tanggapcovid19.com/taubat-nasuha-tatkala-wabah-melanda/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬HUKUM UCAPAN BERKABUNG SAAT KEMATIAN ORANG KAFIR DAN HUKUM MENDOAKANNYA
Pertanyaan:
Apabila seorang laki-laki atau wanita kafir meninggal, apakah boleh atau tidak, kami mengucapkan : Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un , dan kita mengucapkan :
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً [الفجر:27-28]
hingga akhir surah ?
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab:
Apabila seorang kafir meninggal tidak mengapa kalian mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un
Alhamdulillah, mengucapkan kepada kerabatmu tidak mengapa, karena semua manusia akan kembali kepada Allah, semua manusia milik Allah, yang demikian tidak mengapa, akan tetapi tidak perlu mendoakannya.
Ketika yang meninggal kafir, maka tidak boleh mendoakannya, dan tidak pula mengucapkan : Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu... karena jiwanya adalah jiwa yang tidak tenang, jiwa yang jelek (kafir). Jangan mengucapkan kalimat ini. Kalimat ini hanya diucapkan kepada seorang mukmin.
Maka kesimpulannya orang kafir yang meninggal, tidak mengapa kita mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un
Dan tidak mengapa yang lain mengucapkan kepadamu : Semoga Allah memperbesar pahalamu dan menjadikan duka-citamu dalam kebaikan, ini tidak mengapa.
Mungkin ada manfaat bagimu selama hidupnya dulu atau dia pernah berbuat baik kepadamu, atau dia pernah berjasa baik kepadamu. Akan tetapi:
- Tidak boleh mendoakannya,
- Tidak boleh memintakan ampun baginya,
- dan Tidak boleh bershodaqoh untuknya, apabila dia meninggal dalam keadaan kafir.
======================
السؤال:
إذا مات رجل أو امرأة وهو كافر، هل يمكن أن نقول: إن لله وإنا إليه راجعون أو لا يجوز، ونقول أيضاً: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً [الفجر:27-28] إلى آخره؟
الجواب:
الكافر إذا مات لا بأس أن تقول: إنا لله وإنا إليه راجعون، الحمد لله، من أقربائك، لا بأس، كل الناس إلى الله راجعون، كل الناس ملك لله ، لا بأس بهذا، ولكن لا يدعى له، ما دام كافر لا يدعى له، ولا يقال: يا أيتها النفس المطمئنة ارجعي، لأن النفس هذه غير مطمئنة، نفس فاجرة، لا يقال لها هذا، وإنما يقال هذا في المؤمن، فالحاصل أن الكافر إذا مات لا بأس أن تقول إنا لله وإنا إليه راجعون، ولا بأس أن يقول لك غيرك: عظم الله أجرك فيه، وأحسن عزاءك فيه، ما في بأس، قد يكون لك مصلحة في حياته، قد يكون في حياته يحسن إليك، ينفعك، فلا بأس، لكن لا يدعى له، ولا يستغفر له، ولا يتصدق عنه، إذا مات كافراً.
▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️
Diterjemahkan oleh Abu Muhammad Qosim dari situs resmi Syaikh bin Baz rahimahullah : http://bit.ly/39OXiZj
Grup WA Al I'tishom
Situs resmi:
https://itishom.org/
Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬HUKUM UCAPAN BERKABUNG SAAT KEMATIAN ORANG KAFIR DAN HUKUM MENDOAKANNYA
Pertanyaan:
Apabila seorang laki-laki atau wanita kafir meninggal, apakah boleh atau tidak, kami mengucapkan : Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un , dan kita mengucapkan :
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً [الفجر:27-28]
hingga akhir surah ?
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab:
Apabila seorang kafir meninggal tidak mengapa kalian mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un
Alhamdulillah, mengucapkan kepada kerabatmu tidak mengapa, karena semua manusia akan kembali kepada Allah, semua manusia milik Allah, yang demikian tidak mengapa, akan tetapi tidak perlu mendoakannya.
Ketika yang meninggal kafir, maka tidak boleh mendoakannya, dan tidak pula mengucapkan : Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu... karena jiwanya adalah jiwa yang tidak tenang, jiwa yang jelek (kafir). Jangan mengucapkan kalimat ini. Kalimat ini hanya diucapkan kepada seorang mukmin.
Maka kesimpulannya orang kafir yang meninggal, tidak mengapa kita mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un
Dan tidak mengapa yang lain mengucapkan kepadamu : Semoga Allah memperbesar pahalamu dan menjadikan duka-citamu dalam kebaikan, ini tidak mengapa.
Mungkin ada manfaat bagimu selama hidupnya dulu atau dia pernah berbuat baik kepadamu, atau dia pernah berjasa baik kepadamu. Akan tetapi:
- Tidak boleh mendoakannya,
- Tidak boleh memintakan ampun baginya,
- dan Tidak boleh bershodaqoh untuknya, apabila dia meninggal dalam keadaan kafir.
======================
السؤال:
إذا مات رجل أو امرأة وهو كافر، هل يمكن أن نقول: إن لله وإنا إليه راجعون أو لا يجوز، ونقول أيضاً: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً [الفجر:27-28] إلى آخره؟
الجواب:
الكافر إذا مات لا بأس أن تقول: إنا لله وإنا إليه راجعون، الحمد لله، من أقربائك، لا بأس، كل الناس إلى الله راجعون، كل الناس ملك لله ، لا بأس بهذا، ولكن لا يدعى له، ما دام كافر لا يدعى له، ولا يقال: يا أيتها النفس المطمئنة ارجعي، لأن النفس هذه غير مطمئنة، نفس فاجرة، لا يقال لها هذا، وإنما يقال هذا في المؤمن، فالحاصل أن الكافر إذا مات لا بأس أن تقول إنا لله وإنا إليه راجعون، ولا بأس أن يقول لك غيرك: عظم الله أجرك فيه، وأحسن عزاءك فيه، ما في بأس، قد يكون لك مصلحة في حياته، قد يكون في حياته يحسن إليك، ينفعك، فلا بأس، لكن لا يدعى له، ولا يستغفر له، ولا يتصدق عنه، إذا مات كافراً.
▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️
Diterjemahkan oleh Abu Muhammad Qosim dari situs resmi Syaikh bin Baz rahimahullah : http://bit.ly/39OXiZj
Grup WA Al I'tishom
Situs resmi:
https://itishom.org/
Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
binbaz.org.sa
حكم قول الحوقلة عند موت الكافر، وحكم الدعاء له
الجواب:
الكافر إذا مات لا بأس أن تقول: إنا لله وإنا إليه راجعون، الحمد لله، من أقربائك، لا
الكافر إذا مات لا بأس أن تقول: إنا لله وإنا إليه راجعون، الحمد لله، من أقربائك، لا
::
📬 MEMILIH GURU YANG DIKENAL BERPEGANG TEGUH KEPADA SUNNAH NABI DALAM BERAKIDAH, BERIBADAH, BERAKHLAK DAN MUAMALAH
Sebab, urusan ilmu adalah urusan agama. Seseorang tidak bisa sembarangan atau asal comot mengambilnya, tanpa peduli dari siapa dia dapatkan.
Hal ini akan berakibat fatal sampai akhirat kelak. Maka dari itu, dia harus mengetahui orang yang akan dia ambil ilmu agamanya.
⚠️ Jangan sampai dia mengambil agamanya dari orang yang memusuhi As-Sunnah, orang yang memusuhi Ahlus Sunnah, orang yang tidak pernah diketahui belajar akidah yang benar karena selama ini mempelajari akidah-akidah yang salah atau orang yang mendapatkan ilmu hanya dari hasil membaca tanpa bimbingan para ulama Ahlus Sunnah. Sangat dikhawatirkan, dia memiliki pemahaman-pemahaman yang salah karena hal tersebut.
Seorang tabiin bernama Muhammad bin Sirin mengatakan, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka dari itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
Beliau juga berkata, “Dahulu orang-orang tidak bertanya tentang sanad (rangkaian para rawi yang meriwayatkan) hadits. Tatkala terjadi fitnah, mereka mengatakan, ‘Sebutkan kepada kami sanad kalian.’ Mereka melihat (sanadnya adalah) Ahlus Sunnah, lalu mereka menerima haditsnya. Mereka juga melihat (sanadnya adalah) ahlul bid’ah, lalu menolak haditsnya.”
📚 (Riwayat Muslim dalam “Muqaddimah” Shahih-nya)
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ
“Keberkahan ada pada orang-orang besar kalian.”
📚 (Sahih, HR. Ibnu Hibban, al-Hakim, dan Ibnu Abdil Bar dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi hlm. 614 dengan tahqiq Abul Asybal; dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2887 dan ash-Shahihah no. 1778)
Dalam ucapan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَخَذُوا الْعِلْمَ عَنْ أَكَابِرِهِمْ، فَإِذَا أَخَذُوا عَنْ صِغَارِهِمْ وَشِرَارِهِمْ هَلَكُوا
“Manusia tetap akan baik selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang besar mereka. Jika mereka mengambilnya dari orang-orang kecil dan jahat di antara mereka, mereka akan binasa.”
Diriwayatkan pula yang semakna dengannya dari sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu. (Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi hlm. 615 dan 616, tahqiq Abul Asybal; dinilai sahih olehnya)
Ibnu Abdil Bar menukilkan dari sebagian ulama tentang maksud dari hadits di atas, “Yang dimaksud dengan orang-orang kecil dalam hadits Umar dan hadits-hadits yang semakna dengannya ialah orang yang dimintai fatwa padahal tidak berilmu. Adapun orang besar artinya yang berilmu tentang segala hal, atau yang mengambil ilmu dari para sahabat.”
📚 (Lihat Jami’ Bayanil ‘Ilmi hlm. 617)
Simak selengkapnya: https://asysyariah.com/prinsip-prinsip-mengkaji-agama/ | @hikmahsalafiyyah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 MEMILIH GURU YANG DIKENAL BERPEGANG TEGUH KEPADA SUNNAH NABI DALAM BERAKIDAH, BERIBADAH, BERAKHLAK DAN MUAMALAH
Sebab, urusan ilmu adalah urusan agama. Seseorang tidak bisa sembarangan atau asal comot mengambilnya, tanpa peduli dari siapa dia dapatkan.
Hal ini akan berakibat fatal sampai akhirat kelak. Maka dari itu, dia harus mengetahui orang yang akan dia ambil ilmu agamanya.
⚠️ Jangan sampai dia mengambil agamanya dari orang yang memusuhi As-Sunnah, orang yang memusuhi Ahlus Sunnah, orang yang tidak pernah diketahui belajar akidah yang benar karena selama ini mempelajari akidah-akidah yang salah atau orang yang mendapatkan ilmu hanya dari hasil membaca tanpa bimbingan para ulama Ahlus Sunnah. Sangat dikhawatirkan, dia memiliki pemahaman-pemahaman yang salah karena hal tersebut.
Seorang tabiin bernama Muhammad bin Sirin mengatakan, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka dari itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
Beliau juga berkata, “Dahulu orang-orang tidak bertanya tentang sanad (rangkaian para rawi yang meriwayatkan) hadits. Tatkala terjadi fitnah, mereka mengatakan, ‘Sebutkan kepada kami sanad kalian.’ Mereka melihat (sanadnya adalah) Ahlus Sunnah, lalu mereka menerima haditsnya. Mereka juga melihat (sanadnya adalah) ahlul bid’ah, lalu menolak haditsnya.”
📚 (Riwayat Muslim dalam “Muqaddimah” Shahih-nya)
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ
“Keberkahan ada pada orang-orang besar kalian.”
📚 (Sahih, HR. Ibnu Hibban, al-Hakim, dan Ibnu Abdil Bar dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi hlm. 614 dengan tahqiq Abul Asybal; dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2887 dan ash-Shahihah no. 1778)
Dalam ucapan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَخَذُوا الْعِلْمَ عَنْ أَكَابِرِهِمْ، فَإِذَا أَخَذُوا عَنْ صِغَارِهِمْ وَشِرَارِهِمْ هَلَكُوا
“Manusia tetap akan baik selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang besar mereka. Jika mereka mengambilnya dari orang-orang kecil dan jahat di antara mereka, mereka akan binasa.”
Diriwayatkan pula yang semakna dengannya dari sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu. (Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi hlm. 615 dan 616, tahqiq Abul Asybal; dinilai sahih olehnya)
Ibnu Abdil Bar menukilkan dari sebagian ulama tentang maksud dari hadits di atas, “Yang dimaksud dengan orang-orang kecil dalam hadits Umar dan hadits-hadits yang semakna dengannya ialah orang yang dimintai fatwa padahal tidak berilmu. Adapun orang besar artinya yang berilmu tentang segala hal, atau yang mengambil ilmu dari para sahabat.”
📚 (Lihat Jami’ Bayanil ‘Ilmi hlm. 617)
Simak selengkapnya: https://asysyariah.com/prinsip-prinsip-mengkaji-agama/ | @hikmahsalafiyyah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Forwarded from منتدى نشر الفـــــــوائد
::
🚇 BAGAIMANA SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP PERAYAAN IMLEK?
Pembaca buletin Al-Faidah rahimakumullah
Menanggapi upaya-upaya yang keras dari orang-orang kafir didalam meredam dan menggugurkan prinsip albara' (kebencian) melalui hari raya mereka maka sangatlah penting untuk setiap muslim mengetahui dan memahami perkara-perkara berikut ini:
1. Tidak Menghadiri Hari Raya Mereka
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata:
"Berbaurnya kaum muslimin dengan selain muslimin dalam acara hari raya mereka adalah haram. Sebab, dalam perbuatan tersebut mengandung unsur tolong-menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan. Padahal Allah Ta'ala berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah kalian tolong menolong di dalam dosa dan pelanggaran." (QS. Al-Maidah:2)
Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa kaum muslimin tidak boleh ikut bersama orang-orang kafir dalam acara hari raya mereka, meskipun hanya sekedar menonton pertunjukkan atau acara mereka, seperti pertunjukkan barongsai yang menjadi ciri khas mereka dan lain sebagainya.Karena hal itu menunjukkan persetujuan dan keridhaan terhadap agama mereka yang batil.Turut memeriahkan perayaan non muslim merupakan bentuk loyalitas kepada mereka. Padahal Allah melarang keras kaum muslimin untuk memberikan loyalitas kepada non-muslim. AIlah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang yahudi dan nasrani sebagai kekasih (yang diberi loyalitas) Sebagian mereka menjadi kekasih bagi sebagian yang lain. Siapa yang memberikan loyalitas kepada mereka berarti dia bagian dari mereka." (QS. Al-Maidah: 51)
Kitapun tentu paham, turut menyambut dengan gembira dan memeriahkan hari raya imlek termasuk bukti adanya loyalitas dan kecintaan terhadap tradisi tersebut. Untuk disebut memeriahkan hari raya orang kafir, tidak harus dengan mengikuti ritual mereka.
❗️Sebatas turut merasa gembira, senang, dan bahagia dengan kehadiran perayaan orang kafir, sudah bisa dianggap bentuk memeriahkan hari raya mereka. Sekali lagi meskipun isinya hanya main-main bergembira-ria, tanpa ada ritual apapun.
2. Tidak Memberikan Ucapan Selamat Hari Raya
Didalam salah satu fatwanya, beliau (Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin) mengatakan bahwa memberikan ucapan selamat hari raya dari hari-hari raya orang kafir adalah haram.
Keharaman tersebut disebabkan adanya unsur keridhaan dan persetujuan terhadap syiar kekufuran mereka, walaupun pada dasarnya tidak ada keridhaan terhadap kekufuran itu sendiri. Beliau pun membawakan ayat yaitu:
إِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا۟ يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ
"Bila kalian kufur maka sesungguhnya Allah tidak butuh kepada kalian. Dia tidak ridha adanya kekufuran pada hamba-hamba-Nya. (Namun) bila kalian bersyukur maka Dia ridha kepada kalian."(QS. Az Zumar:7).
Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir pada hari raya mereka, kalaupun dia ini selamat dari kekufuran maka dia pasti terjatuh kepada keharaman. (Ahkamu Ahlidz Dzimmah)
🚇 BAGAIMANA SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP PERAYAAN IMLEK?
Pembaca buletin Al-Faidah rahimakumullah
Menanggapi upaya-upaya yang keras dari orang-orang kafir didalam meredam dan menggugurkan prinsip albara' (kebencian) melalui hari raya mereka maka sangatlah penting untuk setiap muslim mengetahui dan memahami perkara-perkara berikut ini:
1. Tidak Menghadiri Hari Raya Mereka
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata:
"Berbaurnya kaum muslimin dengan selain muslimin dalam acara hari raya mereka adalah haram. Sebab, dalam perbuatan tersebut mengandung unsur tolong-menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan. Padahal Allah Ta'ala berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah kalian tolong menolong di dalam dosa dan pelanggaran." (QS. Al-Maidah:2)
Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa kaum muslimin tidak boleh ikut bersama orang-orang kafir dalam acara hari raya mereka, meskipun hanya sekedar menonton pertunjukkan atau acara mereka, seperti pertunjukkan barongsai yang menjadi ciri khas mereka dan lain sebagainya.Karena hal itu menunjukkan persetujuan dan keridhaan terhadap agama mereka yang batil.Turut memeriahkan perayaan non muslim merupakan bentuk loyalitas kepada mereka. Padahal Allah melarang keras kaum muslimin untuk memberikan loyalitas kepada non-muslim. AIlah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang yahudi dan nasrani sebagai kekasih (yang diberi loyalitas) Sebagian mereka menjadi kekasih bagi sebagian yang lain. Siapa yang memberikan loyalitas kepada mereka berarti dia bagian dari mereka." (QS. Al-Maidah: 51)
Kitapun tentu paham, turut menyambut dengan gembira dan memeriahkan hari raya imlek termasuk bukti adanya loyalitas dan kecintaan terhadap tradisi tersebut. Untuk disebut memeriahkan hari raya orang kafir, tidak harus dengan mengikuti ritual mereka.
❗️Sebatas turut merasa gembira, senang, dan bahagia dengan kehadiran perayaan orang kafir, sudah bisa dianggap bentuk memeriahkan hari raya mereka. Sekali lagi meskipun isinya hanya main-main bergembira-ria, tanpa ada ritual apapun.
2. Tidak Memberikan Ucapan Selamat Hari Raya
Didalam salah satu fatwanya, beliau (Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin) mengatakan bahwa memberikan ucapan selamat hari raya dari hari-hari raya orang kafir adalah haram.
Keharaman tersebut disebabkan adanya unsur keridhaan dan persetujuan terhadap syiar kekufuran mereka, walaupun pada dasarnya tidak ada keridhaan terhadap kekufuran itu sendiri. Beliau pun membawakan ayat yaitu:
إِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا۟ يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ
"Bila kalian kufur maka sesungguhnya Allah tidak butuh kepada kalian. Dia tidak ridha adanya kekufuran pada hamba-hamba-Nya. (Namun) bila kalian bersyukur maka Dia ridha kepada kalian."(QS. Az Zumar:7).
Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir pada hari raya mereka, kalaupun dia ini selamat dari kekufuran maka dia pasti terjatuh kepada keharaman. (Ahkamu Ahlidz Dzimmah)
Forwarded from منتدى نشر الفـــــــوائد
3. Tidak Menjual Sesuatu Untuk Keperluan Hari Raya Mereka.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan bahwa seorang muslim yang menjual barang dagangannya untuk membantu kebutuhan hari raya orang-orang kafir baik berupa makanan, pakaian, atau selainnya maka ini merupakan bentuk pertolongan untuk mensukseskan acara tersebut.
Perbuatan ini dilarang atas dasar suatu kaidah,yaitu tidak boleh menjual air anggur atau air buah kepada orang-orang kafir untuk dijadikan minuman keras (khamr). Demikian halnya, tidak boleh menjual senjata kepada mereka untuk memerangi seorang muslim. (Iqtidha' Shiratil Mustaqim hal.325)
4. Tidak memberikan respon dalam bentuk apapun.
Respon yang dimaksud disini yaitu adanya unsur dukungan, berpartisipasi dalam acara tersebut, bekerjasama dengan orang yang merayakannya, membantunya dengan sesuatu apapun, seperti:
▪️Membuat spanduk/ iklan,
▪️Menulis ucapan pada jam dinding,
▪️Menyablon/membuat baju bertuliskan perayaan yang dimaksud,
▪️Membuat cinderamata dan kenang-kenangan,
▪️Membuat dan mengirimkan kartu ucapan selamat,
▪️Memberi keistimewaan seperti hadiah /diskon khusus di dalam perdagangan,
▪️ataupun yang banyak terjadi yaitu Mengadakan lomba olah raga di dalam rangka memperingati hari raya mereka.
❗️Kesemua ini termasuk di dalam rangka membantu syiar mereka.
••••
Sumber:
"Imlek Dalam Pandangan Islam"
Buletin Al-Faidah edisi 46 Tahun ke-2 1437 H hal. 2-4 | Penyusun: Team Buletin Al-Faidah
https://t.me/ForumBerbagiFaidah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan bahwa seorang muslim yang menjual barang dagangannya untuk membantu kebutuhan hari raya orang-orang kafir baik berupa makanan, pakaian, atau selainnya maka ini merupakan bentuk pertolongan untuk mensukseskan acara tersebut.
Perbuatan ini dilarang atas dasar suatu kaidah,yaitu tidak boleh menjual air anggur atau air buah kepada orang-orang kafir untuk dijadikan minuman keras (khamr). Demikian halnya, tidak boleh menjual senjata kepada mereka untuk memerangi seorang muslim. (Iqtidha' Shiratil Mustaqim hal.325)
4. Tidak memberikan respon dalam bentuk apapun.
Respon yang dimaksud disini yaitu adanya unsur dukungan, berpartisipasi dalam acara tersebut, bekerjasama dengan orang yang merayakannya, membantunya dengan sesuatu apapun, seperti:
▪️Membuat spanduk/ iklan,
▪️Menulis ucapan pada jam dinding,
▪️Menyablon/membuat baju bertuliskan perayaan yang dimaksud,
▪️Membuat cinderamata dan kenang-kenangan,
▪️Membuat dan mengirimkan kartu ucapan selamat,
▪️Memberi keistimewaan seperti hadiah /diskon khusus di dalam perdagangan,
▪️ataupun yang banyak terjadi yaitu Mengadakan lomba olah raga di dalam rangka memperingati hari raya mereka.
❗️Kesemua ini termasuk di dalam rangka membantu syiar mereka.
••••
Sumber:
"Imlek Dalam Pandangan Islam"
Buletin Al-Faidah edisi 46 Tahun ke-2 1437 H hal. 2-4 | Penyusun: Team Buletin Al-Faidah
https://t.me/ForumBerbagiFaidah
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 SELAMA AQIDAH SAMA, JANGAN SAMPAI PERBEDAAN PENDAPAT FIQH MENYEBABKAN PERMUSUHAN
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Grup WA Al I'tishom
Situs resmi:
https://itishom.org/
Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menjawab secara bijak prasangka buruk bahwa telah terjadi perselisihan antara beliau dengan para ulama Kerajaan Saudi Arabia (KSA):
"Sesungguhnya perbedaan pendapat itu merupakan perkara yang sangat lumrah terjadi. Hal itu memiliki sebab-sebab sebagaimana telah disebutkan oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam tulisan beliau yang telah dikenal luas dengan judul apa? Rof'ul Malam 'an A-immatil A'lam.
Karena itu, bukanlah hal yang mengherankan adanya pihak yang berbeda pendapat (dengan pendapat saya) dari beberapa ulama dari negara manapun mereka berasal. Karena memang perkara ini adalah keadaan yang lumrah terjadi, juga sebagaimana yang anda isyaratkan dalam pertanyaan anda tentang ucapan imam Malik rahimahullah yang mengatakan:
"Tidak ada seorangpun diantara kita yang ucapannya bisa ditolak maupun diterima mutlak kecuali penghuni kubur ini (yakni Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam)." ¹)
Akan tetapi saya akan mengatakan sebuah ucapan yang jelas, Bahwa bisa saja terkadang didapati dari diri saya sebagian kalimat oleh sebagian pihak yang membacanya, sedangkan dia belum membaca pendapat pihak lain yang saya bantah, walaupun sekedar membaca secara umum. Dia mendapati padanya beberapa ungkapan yang dikategorikan sikap kaku ataupun keras.
Saya tidak mengingkari kemungkinan adanya jenis sikap tegas, tidak pula tentang sikap keras pada sebagian tulisan saya. Akan tetapi saya mengakui bahwa yang seperti itu tidak dimaksudkan untuk menyerang.
Hanyalah saya sekedar berusaha mengambil hak saya terhadap pihak yang berbuat salah kepada saya. Dimana betapa banyak yang dia katakan tentang diri saya adalah sesuatu yang bukan keyakinan saya.
Seperti misalnya sebagian tuduhan kepada saya yang sama sekali saya tidak meyakininya, seperti tuduhan saya zindiq, atau saya telah mengarah ke keyakinan zindiq hanya karena saya mengatakan sesuatu yang sudah pernah diucapkan oleh sebagian ulama, bahkan yang disebutkan oleh jumhur ulama, bahwa wajah wanita bukan termasuk aurat.
Demikianlah,
Apabila saya mengatakan semisal pendapat itu dan saya berdalil serta menjelaskannya dengan dasar alkitab, assunnah maupun atsar-atsar salafiyyah dan seterusnya, bersamaan dengan hal itu sebagian mereka tetap saja menuduh saya telah membuka pintu fitnah, dan membuka pintu bersolek (tabarruj) bagi para wanita. Dan bisa jadi beberapa pihak menilai saya dengan selain yang telah saya sebutkan tadi.
Sehingga memang apabila terjadi dalam pembelaan diriku terhadap tuduhan yang semisal ini terdapat (pembelaan) yang mengandung ucapan kaku ataupun keras, saya tidak mengingkarinya.
Hanya saja saya sebatas upaya yang bisa saya lakukan tidaklah memulai seorang pun yang menyampaikan bantahan kepada saya bantahan ilmiah dengan tanggapan yang kaku.
Dan saya berharap kepada setiap yang mencintai saya dan tulus terhadap saya, apabila dia melihat saya yang memulai menyerang dan mengawali celaan terhadap seorang alim siapapun, yang berasal dari negeri manapun di dunia ini, hendaklah dia mengingatkan saya. Dan saya akan mengatakan kepadanya:
رحم الله امرأ أهدى إليّ عيوبي
"semoga Allah merahmati sesorang yang telah menghadiahkan paparan aib-aibku kepadaku." ²)
(Sehingga) apabila perbedaan pendapat yang terjadi masuk kategori perkara manusiawi yang lumrah, sebagaimana juga merupakan tabiat manusiawi pada diri saya ketika berbeda pendapat dengan sebagian ulama di negeri (KSA) tersebut.
Akan tetapi saya bertahmid (memuji Allah) bahwa perbedaan yang terjadi sebagaimana dibahasakan - walaupun saya sendiri tidak mendukung ungkapan ini - bahwa perbedaan yang terjadi pada ranah cabang (الفروع) bukan pada ranah prinsip (الأصول).
📬 SELAMA AQIDAH SAMA, JANGAN SAMPAI PERBEDAAN PENDAPAT FIQH MENYEBABKAN PERMUSUHAN
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Grup WA Al I'tishom
Situs resmi:
https://itishom.org/
Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menjawab secara bijak prasangka buruk bahwa telah terjadi perselisihan antara beliau dengan para ulama Kerajaan Saudi Arabia (KSA):
"Sesungguhnya perbedaan pendapat itu merupakan perkara yang sangat lumrah terjadi. Hal itu memiliki sebab-sebab sebagaimana telah disebutkan oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam tulisan beliau yang telah dikenal luas dengan judul apa? Rof'ul Malam 'an A-immatil A'lam.
Karena itu, bukanlah hal yang mengherankan adanya pihak yang berbeda pendapat (dengan pendapat saya) dari beberapa ulama dari negara manapun mereka berasal. Karena memang perkara ini adalah keadaan yang lumrah terjadi, juga sebagaimana yang anda isyaratkan dalam pertanyaan anda tentang ucapan imam Malik rahimahullah yang mengatakan:
"Tidak ada seorangpun diantara kita yang ucapannya bisa ditolak maupun diterima mutlak kecuali penghuni kubur ini (yakni Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam)." ¹)
Akan tetapi saya akan mengatakan sebuah ucapan yang jelas, Bahwa bisa saja terkadang didapati dari diri saya sebagian kalimat oleh sebagian pihak yang membacanya, sedangkan dia belum membaca pendapat pihak lain yang saya bantah, walaupun sekedar membaca secara umum. Dia mendapati padanya beberapa ungkapan yang dikategorikan sikap kaku ataupun keras.
Saya tidak mengingkari kemungkinan adanya jenis sikap tegas, tidak pula tentang sikap keras pada sebagian tulisan saya. Akan tetapi saya mengakui bahwa yang seperti itu tidak dimaksudkan untuk menyerang.
Hanyalah saya sekedar berusaha mengambil hak saya terhadap pihak yang berbuat salah kepada saya. Dimana betapa banyak yang dia katakan tentang diri saya adalah sesuatu yang bukan keyakinan saya.
Seperti misalnya sebagian tuduhan kepada saya yang sama sekali saya tidak meyakininya, seperti tuduhan saya zindiq, atau saya telah mengarah ke keyakinan zindiq hanya karena saya mengatakan sesuatu yang sudah pernah diucapkan oleh sebagian ulama, bahkan yang disebutkan oleh jumhur ulama, bahwa wajah wanita bukan termasuk aurat.
Demikianlah,
Apabila saya mengatakan semisal pendapat itu dan saya berdalil serta menjelaskannya dengan dasar alkitab, assunnah maupun atsar-atsar salafiyyah dan seterusnya, bersamaan dengan hal itu sebagian mereka tetap saja menuduh saya telah membuka pintu fitnah, dan membuka pintu bersolek (tabarruj) bagi para wanita. Dan bisa jadi beberapa pihak menilai saya dengan selain yang telah saya sebutkan tadi.
Sehingga memang apabila terjadi dalam pembelaan diriku terhadap tuduhan yang semisal ini terdapat (pembelaan) yang mengandung ucapan kaku ataupun keras, saya tidak mengingkarinya.
Hanya saja saya sebatas upaya yang bisa saya lakukan tidaklah memulai seorang pun yang menyampaikan bantahan kepada saya bantahan ilmiah dengan tanggapan yang kaku.
Dan saya berharap kepada setiap yang mencintai saya dan tulus terhadap saya, apabila dia melihat saya yang memulai menyerang dan mengawali celaan terhadap seorang alim siapapun, yang berasal dari negeri manapun di dunia ini, hendaklah dia mengingatkan saya. Dan saya akan mengatakan kepadanya:
رحم الله امرأ أهدى إليّ عيوبي
"semoga Allah merahmati sesorang yang telah menghadiahkan paparan aib-aibku kepadaku." ²)
(Sehingga) apabila perbedaan pendapat yang terjadi masuk kategori perkara manusiawi yang lumrah, sebagaimana juga merupakan tabiat manusiawi pada diri saya ketika berbeda pendapat dengan sebagian ulama di negeri (KSA) tersebut.
Akan tetapi saya bertahmid (memuji Allah) bahwa perbedaan yang terjadi sebagaimana dibahasakan - walaupun saya sendiri tidak mendukung ungkapan ini - bahwa perbedaan yang terjadi pada ranah cabang (الفروع) bukan pada ranah prinsip (الأصول).
Demikianlah..
Maksudnya bahwa perbedaan pandangan yang terjadi hanyalah dalam beberapa permasalahan fiqh saja. Adapun dalam permasalah aqidah, kami semua walhamdulillah sama-sama bersepakat.
Memang sudah sekian lama kami dituduh termasuk dari wahhabiyyin. Sudah sekian lama pula kami hidup seakan di antara dua "batu giling". Di satu sisi, beliau-beliau yang disebut sebagai wahhabiyyah tidak membela manhaj kami, dan di sisi yang lain sebagian orang yang disandarkan kepada wahhabiyyah juga tidak ridha kepada kami. Namun kami berharap semoga Allah meridhai kita semua."
Semoga Allah merahmati para ulama ahlussunnah yang telah wafat, dan menjaga para ulama yang masih hidup, serta kita semua untuk istiqomah bersaudara karena Allah dan bersatu dalam aqidah dan manhaj yang benar ini.
___________
Catatan kaki:
¹) Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani sendiri pernah meneliti asal kaedah ini, beliau rahimahullah menyebutkan:
"Penyandaran ucapan ini kepada Imam Malik sudah dikenal luas di kalangan ulama generasi akhir. Sementara Ibnu Abdil Hadi dalam "IrsyadusSalik (1/227)" telah membenarkannya. Telah diriwayatkan Ibnu Abdil Bar dalam "Al Jami' (2/91),"_ Ibnu Hazm dalam "Ushulul Ahkam (6/145 & 179)" sebagai ucapan Al Hakam bin 'Utbah, dan Mujahid." dst. (Lihat Ashl Shifat Sholat Nabi 1/27)
²) Beliau tampaknya mengisyaratkan kepada ucapan Umar bin Al Khoththob radhiyallahu 'anhu:
ﺭﺣﻢ اﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺃﻫﺪﻯ ﺇﻟﻲ ﻋﻴﻮﺑﻲ
sebagaimana dikutip dalam Sunan Ad Darimi 1/506
Diterjemahkan oleh Abu Abdirrohman Sofian dengan koreksi para afadhil jazahumullahu khoiro dari audio http://bit.ly/39WChfb
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Maksudnya bahwa perbedaan pandangan yang terjadi hanyalah dalam beberapa permasalahan fiqh saja. Adapun dalam permasalah aqidah, kami semua walhamdulillah sama-sama bersepakat.
Memang sudah sekian lama kami dituduh termasuk dari wahhabiyyin. Sudah sekian lama pula kami hidup seakan di antara dua "batu giling". Di satu sisi, beliau-beliau yang disebut sebagai wahhabiyyah tidak membela manhaj kami, dan di sisi yang lain sebagian orang yang disandarkan kepada wahhabiyyah juga tidak ridha kepada kami. Namun kami berharap semoga Allah meridhai kita semua."
Semoga Allah merahmati para ulama ahlussunnah yang telah wafat, dan menjaga para ulama yang masih hidup, serta kita semua untuk istiqomah bersaudara karena Allah dan bersatu dalam aqidah dan manhaj yang benar ini.
___________
Catatan kaki:
¹) Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani sendiri pernah meneliti asal kaedah ini, beliau rahimahullah menyebutkan:
"Penyandaran ucapan ini kepada Imam Malik sudah dikenal luas di kalangan ulama generasi akhir. Sementara Ibnu Abdil Hadi dalam "IrsyadusSalik (1/227)" telah membenarkannya. Telah diriwayatkan Ibnu Abdil Bar dalam "Al Jami' (2/91),"_ Ibnu Hazm dalam "Ushulul Ahkam (6/145 & 179)" sebagai ucapan Al Hakam bin 'Utbah, dan Mujahid." dst. (Lihat Ashl Shifat Sholat Nabi 1/27)
²) Beliau tampaknya mengisyaratkan kepada ucapan Umar bin Al Khoththob radhiyallahu 'anhu:
ﺭﺣﻢ اﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺃﻫﺪﻯ ﺇﻟﻲ ﻋﻴﻮﺑﻲ
sebagaimana dikutip dalam Sunan Ad Darimi 1/506
Diterjemahkan oleh Abu Abdirrohman Sofian dengan koreksi para afadhil jazahumullahu khoiro dari audio http://bit.ly/39WChfb
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 MENGAMBIL IBROH DARI FITNAH MUSHO'FIQOH : ORANG SUDAH RUJUK DAN TAUBAT TIDAKLAH CUKUP, TAPI HARUS DIHANCURKAN!
Al-Ustadz Usamah Mahri hafizhahullah
Transkrip:
Ibroh yang bisa kita ambil dari Fitnah mushofiqoh, Fitnah Muhammad Bin Hady.. dan banyak fitnah mereka,
Salah satunya.. mereka menilai dan menganggap rujuknya orang dari kesalahannya itu rodhilah kerendahan dan kehinaan.. yusyanna' mereka cela..!
Mereka jadikan itu Sukhriyyah bahan tertawaan..!
Mereka jadikan itu nilai negatif..!
Fulan pernah begini, fulan pernah mengatakan ini..
Dan dijadikan bahan untuk menjatuhkan..!
ITU MANHAJ HADDADIY.. MANHAJ MUSHO'FIQOH!!
Bukan manhaj 'ulama..arroskhiin min ahlil 'ilmy,
ORANG RUJUK MENGAKU SALAH YA ALHAMDULILLAH.. ITU YANG DIHARAPKAN, TIDAK LEBIH!
Kecuali memang tampak kalau orang itu punya muatan lain.. bukan karena Allah tapi ADA MUATAN-MUATAN PRIBADI INGIN MENGHANCURKAN KARAKTER TERTENTU..!
INGIN MERUSAK DAN MENJATUHKANNYA..!
Hanya sekedar Rujuk Taubat nggak cukup baginya, HARUS DIHANCURKAN ORANG INI...!!
DAN ITU AKHLAK RENDAH..! AKHLAK MUNAFIK..!
Mukmin yastur wa yanshoh.. sifat seorang mukmin menutupi dan menasehati..
Tidak dibiarkan saudaranya dalam kesalahan.. Ta'aal! diingatkan!
Aku melihat kamu begini Ittaqillah ya fulan, ini salah..! ini jelek.. rubah, benahi, tinggalkan! lakukan ini! nasehat.. ! (Tapi dia tutupi..)
TIDAK DIA SIARKAN DAN GEMBAR-GEMBORKAN KESANA KEMARI!
Walmunaafik yafdhoh wa yu'ayyirrr..!!
Sifat munafik yafdhoh..! Bangga dan senangnya kalau dapat kesalahan saudaranya!
DIA BONGKAR DAN DIA SEBAR KESANA-KEMARI.. dan bukannya dia nasehati tapi yu'ayyir..
Haah kan ketahuaan..!? Makanya hua ini.. dia lakukan ini ! (Sudah tobat) makanya hhh..! Aku kan sudah pernah bilang dia itu begini-gini !
Bukannya Alhamdulillah saudara kita rujuk, Semoga Allah beri Taufik.. semoga.. disambut dengan baik!
La, munafik yu'ayyirrr!
Dia Jadikan itu poin bagaimana menghancurkan.. bukan akhlak seorang mukmin.. 'azhiim.
http://bit.ly/33lbEx2
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 MENGAMBIL IBROH DARI FITNAH MUSHO'FIQOH : ORANG SUDAH RUJUK DAN TAUBAT TIDAKLAH CUKUP, TAPI HARUS DIHANCURKAN!
Al-Ustadz Usamah Mahri hafizhahullah
Transkrip:
Ibroh yang bisa kita ambil dari Fitnah mushofiqoh, Fitnah Muhammad Bin Hady.. dan banyak fitnah mereka,
Salah satunya.. mereka menilai dan menganggap rujuknya orang dari kesalahannya itu rodhilah kerendahan dan kehinaan.. yusyanna' mereka cela..!
Mereka jadikan itu Sukhriyyah bahan tertawaan..!
Mereka jadikan itu nilai negatif..!
Fulan pernah begini, fulan pernah mengatakan ini..
Dan dijadikan bahan untuk menjatuhkan..!
ITU MANHAJ HADDADIY.. MANHAJ MUSHO'FIQOH!!
Bukan manhaj 'ulama..arroskhiin min ahlil 'ilmy,
ORANG RUJUK MENGAKU SALAH YA ALHAMDULILLAH.. ITU YANG DIHARAPKAN, TIDAK LEBIH!
Kecuali memang tampak kalau orang itu punya muatan lain.. bukan karena Allah tapi ADA MUATAN-MUATAN PRIBADI INGIN MENGHANCURKAN KARAKTER TERTENTU..!
INGIN MERUSAK DAN MENJATUHKANNYA..!
Hanya sekedar Rujuk Taubat nggak cukup baginya, HARUS DIHANCURKAN ORANG INI...!!
DAN ITU AKHLAK RENDAH..! AKHLAK MUNAFIK..!
Mukmin yastur wa yanshoh.. sifat seorang mukmin menutupi dan menasehati..
Tidak dibiarkan saudaranya dalam kesalahan.. Ta'aal! diingatkan!
Aku melihat kamu begini Ittaqillah ya fulan, ini salah..! ini jelek.. rubah, benahi, tinggalkan! lakukan ini! nasehat.. ! (Tapi dia tutupi..)
TIDAK DIA SIARKAN DAN GEMBAR-GEMBORKAN KESANA KEMARI!
Walmunaafik yafdhoh wa yu'ayyirrr..!!
Sifat munafik yafdhoh..! Bangga dan senangnya kalau dapat kesalahan saudaranya!
DIA BONGKAR DAN DIA SEBAR KESANA-KEMARI.. dan bukannya dia nasehati tapi yu'ayyir..
Haah kan ketahuaan..!? Makanya hua ini.. dia lakukan ini ! (Sudah tobat) makanya hhh..! Aku kan sudah pernah bilang dia itu begini-gini !
Bukannya Alhamdulillah saudara kita rujuk, Semoga Allah beri Taufik.. semoga.. disambut dengan baik!
La, munafik yu'ayyirrr!
Dia Jadikan itu poin bagaimana menghancurkan.. bukan akhlak seorang mukmin.. 'azhiim.
http://bit.ly/33lbEx2
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
﷽ ADAKAH MANFAAT BAGIMU JIKA KAU ENGGAN MEMAAFKAN SAUDARAMU?
✍🏻 Untaian nasihat indah, pernah dituturkan oleh al-Imam Ahmad bin Hambal رحمه اللّٰه,
العفو أفضل، وما ينفعك أن يعذب أخوك المسلم بسببك؟!
❝ Memaafkan itu yang lebih utama, apa manfaat bagimu tatkala saudaramu yang muslim diazab dengan sebab dirimu?! ❞
📖 Al-Musnad lil Imam Ahmad Hal. 115, Jilid 1, Cetakan Darul Hadits.
@BuletinAlFaidah
✍🏻 Untaian nasihat indah, pernah dituturkan oleh al-Imam Ahmad bin Hambal رحمه اللّٰه,
العفو أفضل، وما ينفعك أن يعذب أخوك المسلم بسببك؟!
❝ Memaafkan itu yang lebih utama, apa manfaat bagimu tatkala saudaramu yang muslim diazab dengan sebab dirimu?! ❞
📖 Al-Musnad lil Imam Ahmad Hal. 115, Jilid 1, Cetakan Darul Hadits.
@BuletinAlFaidah
::
📬 SUDAHKAH KAU BERKORBAN UNTUK AGAMAMU?
🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Abul Harits Muhammad bin Muslih -hafizhahullah-
◙ Durasi 01:18:14
◙ Ukuran file 18 MB
◙ Link: http://bit.ly/3pLlTTx
(*) Juga disampaikan Bimbingan dari Ulama Kibar:
1. Ayah kita al-'Allamah asy-Syaikh Rabi' al-Madkhali hafizhahullah.
2. Ayah kita al-'Allamah asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah.
3. Al-'Allamah asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari hafizhahullah.
4. Asy-Syaikh Arafat al-Muhammadi hafizhahullah.
Yang berisi agar Salafiyyin menjalin persatuan dan ukhuwah sesama mereka.
Sumber audio: @albahrbintan
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 SUDAHKAH KAU BERKORBAN UNTUK AGAMAMU?
🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Abul Harits Muhammad bin Muslih -hafizhahullah-
◙ Durasi 01:18:14
◙ Ukuran file 18 MB
◙ Link: http://bit.ly/3pLlTTx
(*) Juga disampaikan Bimbingan dari Ulama Kibar:
1. Ayah kita al-'Allamah asy-Syaikh Rabi' al-Madkhali hafizhahullah.
2. Ayah kita al-'Allamah asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah.
3. Al-'Allamah asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari hafizhahullah.
4. Asy-Syaikh Arafat al-Muhammadi hafizhahullah.
Yang berisi agar Salafiyyin menjalin persatuan dan ukhuwah sesama mereka.
Sumber audio: @albahrbintan
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 MUNCULNYA FITNAH DAN BENCANA AKIBAT BERPALING DARI ULAMA
Al Allamah Muqbil Al Wadi'i rahimahullah berkata,
● إن من الفتن والبلايا
● والمصائب التي دهمت المسلمين، في جميع البلاد الإسلامية
>>> هو الإعراض عن العلماء .
"Sesungguhnya termasuk fitnah dan bencana serta musibah yang menimpa kaum muslimin di berbagai negeri Islam yaitu sikap berpaling dari para ulama."
📚 [ Ijabatus Sa'il hlm:18 ].
@manhajulhaqcom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 MUNCULNYA FITNAH DAN BENCANA AKIBAT BERPALING DARI ULAMA
Al Allamah Muqbil Al Wadi'i rahimahullah berkata,
● إن من الفتن والبلايا
● والمصائب التي دهمت المسلمين، في جميع البلاد الإسلامية
>>> هو الإعراض عن العلماء .
"Sesungguhnya termasuk fitnah dan bencana serta musibah yang menimpa kaum muslimin di berbagai negeri Islam yaitu sikap berpaling dari para ulama."
📚 [ Ijabatus Sa'il hlm:18 ].
@manhajulhaqcom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com