منتدى نشر الفـــــــوائد
7.55K subscribers
4.31K photos
259 videos
279 files
5.62K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
.:
INGIN TA'ADDUD (POLIGAMI) TAPI UANGNYA BELUM CUKUP, BAGAIMANA INI?

🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Muhammad Afifuddin -hafizhahullah-

🗓 Sesi TJ Dauroh "Mengenal Keindahan Islam" | Ahad, 2 Robi'ul Akhir 1440H/ 9 Desember 2018M di Masjid Utsman bin Affan, Batang, Jateng

(1,3 MB) - Durasi [00:05:10]


•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
Forwarded from Audioku
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
::
🚇 YANG TERCECER DARI IAIN (5) – POLIGAMI

Tema poligami sangat hangat untuk dibicarakan, sehingga kelompok ini tidak melewatkan pembicaraan tentangnya. Di antara wujudnya adalah sebuah buku yang ditulis oleh Siti Musdah Mulia dengan judul "Islam Menggugat Poligami".

Mereka mengecam habis-habisan apa yang disebut poligami, tanpa rasa takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan tanpa rasa malu kepada-Nya. Seolah-olah mereka tidak tahu bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala membolehkan poligami. Seakan-akan mereka juga tidak mau tahu akan hikmah dan aturan Islam yang membolehkannya, tidak mengharuskannya. Bagi mereka, pokoknya tidak setuju, dan bagi mereka, poligami adalah diskriminasi bagi kaum hawa. Satu sikap yang angkuh dan tidak mau tahu.

Sebagai seorang muslim, kita harus melihat syariat Allah Subhanahu wa ta’ala berlandaskan asas dugaan baik atau husnuzhan. Bahkan, kita harus yakin dan memastikan kebaikannya, karena Allah Subhanahu wa ta’ala Maha hikmah dalam segala aturan-Nya.

Di antara ciri khas syariat ini adalah bahwa Islam datang dengan kebaikan yang murni atau dengan kebaikan yang dominan, termasuk dalam hukum berpoligami. Juga, Islam datang dengan syariat yang bersih dari segala yang mencelakakan, sehingga berpoligami sama sekali tidak mencelakakan kaum wanita, asalkan aturan Islam dipakai secara utuh dalam hal tersebut, bukan sekadar mengambil syariat poligaminya lalu segala aturan yang meliputinya dicampakkan, alias hanya mau enaknya.

Jangan pula beranggapan bahwa berpoligami hanya menguntungkan kaum lelaki. Sama sekali tidak. Sekali lagi, bila aturan Islam dalam hal poligami diterapkan, poligami justru merupakan beban bagi kaum lelaki. Bahkan bisa jadi, beban yang dia tanggung tidak seimbang dengan kenikmatan yang dia dapatkan.

Dia mesti menanggung nafkah dua keluarga yang meliputi istri dan anak-anaknya. Ia mesti bersabar dan tekun mencari nafkah. Ia mesti berlapang dada dengan problem yang muncul dari kedua keluarganya. Belum lagi apabila kecemburuan mulai menyapa. Ia pun mesti memikirkan pendidikan keluarga besarnya. Ia harus adil dalam memberi nafkah, sandang, pangan, dan papan. Harus adil pula ia dalam menggilir para istrinya. Apabila hal itu tidak dia lakukan, ancaman telah menghadangnya. Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ

“Barangsiapa yang memiliki dua istri lalu ia condong kepada salah satu dari keduanya, ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan salah satu sisi tubuhnya lumpuh.” (Sahih, HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Dalam kitab Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abu Dawud dinyatakan, “Hadits ini menunjukkan kewajiban seorang suami untuk menyamaratakan antara istri-istrinya, dan haram baginya untuk condong kepada salah satu dari mereka. Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

فَلَا تَمِيلُواْ كُلَّ ٱلۡمَيۡلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلۡمُعَلَّقَةِۚ

“Karena itu, janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” (an-Nisa: 129)

Yang dimaksud adalah ketidakadilan dalam hal nafkah dan giliran, bukan dalam hal rasa cinta, karena hal itu sesuatu yang di luar kemampuan seorang hamba.” Itulah beban dan ancaman bagi sang suami.

Adapun si wanita sebenarnya cukup dimuliakan. Nafkah tinggal menerima. Sandang, pangan, dan papan tinggal ia nikmati. Semuanya adalah tanggungan suami dan ia bisa menuntut suami bila tidak adil. Ia sebenarnya berada pada posisi yang diuntungkan.

Lihatlah keindahan ajaran agama ini dan bagaimana dia hendak membagi kebaikan kepada pemeluknya. Lihat pula kebutuhan manusia akan ajaran ini.

Jangan disamakan kondisi setiap manusia, sebagian kaum lelaki sangat membutuhkannya, sebagaimana sebagian perempuan juga sangat membutuhkannya.

Jangan menilai masalah ini dengan perasaan iri, cemburu, tidak mau tahu, atau dengan memandangnya dengansebelah mata. Lihatlah secara utuh dan lengkap, dari segala sudut pandangnya.
.:
Seorang mufassir (pakar tafsir), asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah, dalam kitab tafsirnya Adhwa’ul Bayan menjelaskan,

“Di antara petunjuk Al-Qur’an kepada yang terbaik adalah pembolehannya atas poligami hingga empat istri, dan bahwa jika seorang laki-laki khawatir berbuat tidak adil di antara mereka maka hendaknya ia hanya membatasi pada satu istri (monogami) atau budak wanita. Ini sebagaimana firman-Nya:

وَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تُقۡسِطُواْ فِي ٱلۡيَتَٰمَىٰ فَٱنكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۖ فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُواْ فَوَٰحِدَةً أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَلَّا تَعُولُواْ ٣

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (an-Nisa: 3)

Tidak diragukan, jalan yang paling lurus dan paling adil adalah bolehnya berpoligami. Hal itu berdasarkan alasan-alasan yang bisa dirasakan dan diketahui oleh setiap orang yang berakal. Di antaranya adalah:

1. Seorang wanita mengalami haid, sakit, dan nifas, juga penghalang lainnya yang menghalanginya untuk melakukan kewajiban seorang istri yang paling khusus,

2. Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjalankan kebiasaan bahwa laki-laki lebih sedikit jumlahnya dari wanita, dan laki-laki lebih banyak mendekati sebab-sebab kematian daripada wanita di segala sisi-sisi kehidupan. Oleh karena itu, apabila seorang lelaki dibatasi pada satu wanita, maka wanita dalam jumlah yang besar akan terhalangi dari pernikahan, sehingga memaksa mereka untuk melakukan perbuatan keji,

3. Wanita semuanya (pada dasarnya) siap untuk menikah[1], sementara banyak laki-laki tidak mampu untuk melakukan kewajiban-kewajiban nikah karena miskin. Seandainya dibatasi pada satu istri, sekian banyak kaum wanita yang siap menikah akan tersia-siakan karena ketiadaan pasangan.

Jadi, Allah Subhanahu wa ta’ala membolehkan berpoligami itu demi kebaikan wanita pada umumnya, dalam hal agar mereka tidak terhalangi dari pernikahan. Juga demi maslahat kaum laki-laki, agar manfaatnya tidak terhenti saat istrinya yang satu berhalangan. Di samping itu, demi maslahat umat dengan memperbanyak jumlah mereka….”
(Adhwa’ul Bayan, tafsir surat al-Isra’ ayat 9 dengan diringkas)

Beliau juga menyebutkan bahwa problem yang muncul dalam rumah tangga berpoligami itu kecil bila dibandingkan dengan kemaslahatan besar yang menyangkut masyarakat luas.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc hafizhahulloh

[1] Karena tanpa modal pun wanita bisa menikah. Berbeda dengan laki-laki yang harus dengan modal untuk menikah.

Tags: #IAIN_Liberal #poligami

••••
http://asysyariah.com/yang-tercecer-dari-iain-5-poligami/
.:
BOLEHKAH BERWUDHU DI KAMAR MANDI/WC TANPA MEMAKAI BAJU DAN PAKAIAN?

🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Muhammad Afifuddin -hafizhahullah-

🗓 Sesi TJ Dauroh "Kala Orangtua Mengabaikan Anak" | Ahad, 2 Robi'ul Akhir 1440H/ 9 Desember 2018M di Masjid Umar Ibnul Khottob, Pekalongan, Jateng

(500 KB) - Durasi [00:01:33]


•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
::
🚇 MENGAPA POLIGAMI (TA'ADDUD) DIBENCI?

بسم الله الرحمن الرحيم

Ya Allah,
Hatiku galau...

Mengapa taaddud dibenci, padahal Allah yang mensyari'atkan..
Mengapa taaddud dibenci, padahal Nabi melakukan..

Mengapa taaddud dibenci padahal disana ada aturan...
Mengapa taaddud dibenci, padahal disyari'atkan demi kemaslahatan...

Mengapa taaddud dibenci, jangan ikuti perasaan...
Mengapa taaddud dibenci, ilmu mesti kau dahulukan...

Mengapa taaddud dibenci, dengannya janda terayomi...

Tidakkah kau bayangkan, saat seorang janda bersendiri...
Tidakkah kau bayangkan, saat seorang janda mesti menafkahi...
Tidakkah kau bayangkan, saat seorang janda safar pergi...
Tidakkah kau bayangkan, saat seorang janda mengasuh anak sendiri...

Dengan taaddud anak yatim mendapat naungan, mengapa taaddud dibenci...

Tidakkah kau dengar, jeritan si yatim mendambakan ayah..
Tidakkah kau dengar, isak tangisnya mengingat ayah..
Tega-kah dirimu, si yatim tumbuh tanpa ayah...
Tega-kah dirimu, ia bermain tanpa pengawasan ayah...

Hati ini pilu, melihat kenyataan itu...dengannya anak dapat perhatian. Mengapa taaddud dibenci...

Tidakkah kau tahu, saat ayahnya pergi hatinya tersakiti..
Tidakkah kau tahu, saat ayahnya pergi perhatian terkurangi...
Tidakkah kau tahu, saat ayahnya pergi, kasih-sayang terburai...
Tidakkah kau tahu, saat ayah pergi pelukannya hanya impian tiada arti...

Datanglah taaddud, untuk melindungi..Mengapa taaddud dibenci...

Tidakkah kau mengerti, jumlah wanita makin meningkat...
Tidakkah kau mengerti, banyak wanita cari jalan singkat...
Tidakkah kau mengerti, pergaulan bebas semakin menggeliat...
Tidakkah kau mengerti, banyak lelaki bermain jahat...
Tidakkah kau mengerti, nikah adalah jalan selamat...

Saatnya taaddud memberikan arti, lelaki sholeh menjadi solusi... Mengapa taaddud dibenci...

Wahai para istri, memang berat..
Memang berat, tapi itu syariat.
Memang berat, tapi itu manfaat.
Memang berat, tapi sedikit mudhorot.

Wahai para istri, kalian bukan orang pertama yang merasakan.
Wahai para istri, istri Nabi lebih cemburu dari kalian...
Wahai para istri, istri Nabi adalah teladan...
Wahai para istri, para istri Nabi telah merelakan...
Wahai para istri, dengan ilmu, maslahat mereka utamakan...

Taaddud tidak untuk diperalat, Mengapa taaddud dibenci...

Wahai lelaki, saatnya kau mengerti..
Tanpa tanggung jawab, taaddud tiada arti...
Tanpa niat baik, taaddud hanya menyakiti....
Tanpa aturan Nabi, taaddud menjadi basi...
Tanpa sikap adil, taaddud adalah cemeti...
Tanpa kelembutan, taaddud menjadi ngeri...
Tanpa kesabaran, taaddud tak lagi happy...
Tanpa taqwa, taaddud tanggung jawab di sisi illahi...

Sadarkah kau, wahai lelaki... Jangan jadi sebab taaddud dibenci... Taaddud bukan untuk lelaki, Mengapa taaddud dibenci...

Wahai kaumku, jangan dikira taaddud ringan...
Asyik dan menyenangkan...
Bagi lelaki, menguntungkan...
Tapi Itu adalah beban...
Tanggungjawab di hadapan ar Rahman...

Justru perempuan yang diuntungkan...
Tak percaya, silahkan buktikan...
Dengan syarat lelaki sholeh yang melakukan...
Aku hanya bisa berdoa kepada Ar Rahman...
Untukku, anak cucu dan teman teman...
Menjadi mereka yang diidamkan...
Lelaki sholeh para teladan...

Ampunilah kami wahai Ar Rahman...
Atas segala kekhilafan...
Lapangkan dada kami dan keluarga kami untuk syariat yang Kau turunkan...
Tanpa peduli segala cemoohan
Amin...

Inilah suara hati lelaki...
Sang musafir di atas kereta api...
Sawunggalih malam yang sunyi...
Dari (stasiun) Senen menuju kroya sejati...
Aku adalah Q diakhiri dengan i, kiranya kau tahu jati diri ini..
Yang sedang galau karena taaddud dibenci...
29 September 2015, hari ini...

@ForumSalafy
Forwarded from Audioku
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
::
🚇 BERAMAL SHALIH ADALAH SIKAP JUJUR DALAM BERIMAN
[Hubungan Iman, Amal Shalih, dan Takwa]


Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy –rahimahullah- berkata:

“Allah sering menyandingkan iman dengan amal shalih atau takwa atau sabar, karena butuh penyebutan yang disandingkan tersebut, agar tidak ada seorang pun yang menduga bahwa iman cukup dengan apa yang ada di hati.

Seberapa banyak di dalam Al-Qur’an dari firman-Nya:

﴿ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ ﴾

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh."

Setelahnya baru Dia menyebutkan berita tentang mereka.

Amalan-amalan shalih itu bagian dari iman, konsekuensi dari iman, dan yang menjadikan iman terlaksana dengannya.

Sehingga siapa yang mengaku bahwa ia mukmin sementara ia tidak beramal dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintah, dari apa-apa yang wajib dan meninggalkan apa-apa yang diharamkan, maka ia tidak jujur dalam imannya.

Sebagaimana Allah menyandingkan antara iman dan takwa semisal dalam firman-Nya Ta’ala:

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٦٢﴾ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ ﴿٦٣﴾

062. "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."

"063. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa". Q.S. Yunus: 62 – 63.

Allah telah menyebutkan(dalam ayat ini) iman yang mencakupi segala yang ada di hati --dari akidah-akidah dan niatan-niatan yang baik-- dan amalan-amalan shalih.

Dan hal-hal tersebut tidak akan sempurna bagi seorang mukmin sampai ia berlindung dari apa yang Allah murkai, dari kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Oleh karenanya Allah menguatkan hal tersebut dengan firman-Nya:

وَكَانُواْ يَتَّقُونَ ﴿٦٣﴾

"dan mereka selalu bertakwa".

Sebagaimana Allah telah menyifati makhluk-makhluk pilihannya dengan sifat ini dengan firman-Nya:

 وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ ﴿٧﴾ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿٨﴾

007. "...tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus",

008. "sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". Q.S. Al-Hujuuraat: 7 – 8.

Sehingga inilah karunia terbesar dengan Dia menjadikan seorang hamba cinta kepada iman, Dia jadikan iman itu indah di hatinya, ia merasakan manisnya iman, anggota tubuhnya tunduk untuk mengamalkan syariat Islam. Dan Dia jadikan pada seorang hamba rasa benci kepada jenis-jenis keharaman.

Dan Allah-lah yang Maha Mengetahui siapa yang berhak untuk mendapatkan keutamaan ini, Maha Bijaksana dalam meletakkannya di tempat yang layak untuknya.”

📖 At-Taudhih wal Bayaan li Syajaratil Imaan, As-Sa’diy, hal. 22 – 24.

📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
.:
APA JAWABANNYA APABILA ADA SEORANG NASRANI YANG MENGUCAPKAN "SELAMAT NATAL" KEPADA KITA?

🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Qomar Su'aidi, Lc -hafizhahullah-

🗓 TJ Kajian "Media Sosial Kebutuhan atau Musibah" | Ahad, 28 Rabi'ul Awwal 1439H/ 17 Desember 2017 M di Masjid Baitul Maghfiroh, Asrama Haji Palembang

(695 KB) - Durasi [00:01:26]

#mary_christhmas
•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com