✅🔘 SIKAP WARA' ULAMA SALAF
💢 Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata,
ما أتيت امرأة في نوم ولا يقظة إلا أم عبد الله يعني زوجته وقال إني أرى المرأة في المنام فأعرف أنها لا تحل لي فأصرف بصري عنها
تاريخ بغداد 5/336
🌻 "Aku tidak pernah mendatangi seorang wanita baik di dalam mimpi atau terjaga kecuali ummu Abdillah (yaitu isterinya sendiri)."
🌸 Dan ia berkata, "Sesungguhnya aku melihat seorang wanita di dalam tidurku, aku mengetahui bahwa ia tidak halal bagiku, maka aku palingkan pandanganku darinya." (Tarikh Baghdad 5/336)
📝 Disajikan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
💢 Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata,
ما أتيت امرأة في نوم ولا يقظة إلا أم عبد الله يعني زوجته وقال إني أرى المرأة في المنام فأعرف أنها لا تحل لي فأصرف بصري عنها
تاريخ بغداد 5/336
🌻 "Aku tidak pernah mendatangi seorang wanita baik di dalam mimpi atau terjaga kecuali ummu Abdillah (yaitu isterinya sendiri)."
🌸 Dan ia berkata, "Sesungguhnya aku melihat seorang wanita di dalam tidurku, aku mengetahui bahwa ia tidak halal bagiku, maka aku palingkan pandanganku darinya." (Tarikh Baghdad 5/336)
📝 Disajikan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
✅ PELAJARAN FIKIH (8⃣): BAB KEEMPAT: TENTANG SIWAK DAN SUNNAH-SUNNAH FITHROH (BAG: 1⃣
🔘 Pada bab ini terdapat beberapa permasalahan yang akan dibahas:
☑️ Siwak adalah: menggunakan ranting pohon atau yang sejenisnya (untuk membersihkan) gigi dan gusi. Fungsinya untuk menghilangkan sisa makanan atau aroma yang menempel pada keduanya.
1⃣ Permasalahan Pertama: Hukum Bersiwak
🔗 Disunnahkan bersiwak pada setiap waktu. Bahkan bagi orang yang berpuasa sekalipun. Seandainya ia bersiwak pada saat sedang berpuasa maka tidak mengapa, baik dilakukan di awal siang atau di akhir siang. Disebabkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah mengimbau (agar bersiwak) secara mutlak dan tidak mengaitkannya dengan waktu tertentu.
🔹 Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
السواك مطهرة للفم مرضاة للرب
🔸 "Siwak merupakan pembersih bagi mulut dan (perbuatan yang) diridhai oleh Allah." (HR. Al-Bukhari secara mu'allaq dengan shighah jazem, Ahmad dan Nasai)
🔹 dan beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda,
لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة
🔸 "Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahkan mereka agar bersiwak setiap kali hendak melaksanakan shalat." (HR. Al-Bukhari no.887 dan Muslim no.252)
- Bersambung Insya Allah -
🌻 Ikuti terus pelajaran FIKIH setiap hari Selasa dan Kamis, Insya Allah.
🌍 Sumber Panduan: الفقه الميسر (hal.13)
📝 Disajikan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
🔘 Pada bab ini terdapat beberapa permasalahan yang akan dibahas:
☑️ Siwak adalah: menggunakan ranting pohon atau yang sejenisnya (untuk membersihkan) gigi dan gusi. Fungsinya untuk menghilangkan sisa makanan atau aroma yang menempel pada keduanya.
1⃣ Permasalahan Pertama: Hukum Bersiwak
🔗 Disunnahkan bersiwak pada setiap waktu. Bahkan bagi orang yang berpuasa sekalipun. Seandainya ia bersiwak pada saat sedang berpuasa maka tidak mengapa, baik dilakukan di awal siang atau di akhir siang. Disebabkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah mengimbau (agar bersiwak) secara mutlak dan tidak mengaitkannya dengan waktu tertentu.
🔹 Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
السواك مطهرة للفم مرضاة للرب
🔸 "Siwak merupakan pembersih bagi mulut dan (perbuatan yang) diridhai oleh Allah." (HR. Al-Bukhari secara mu'allaq dengan shighah jazem, Ahmad dan Nasai)
🔹 dan beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda,
لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة
🔸 "Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahkan mereka agar bersiwak setiap kali hendak melaksanakan shalat." (HR. Al-Bukhari no.887 dan Muslim no.252)
- Bersambung Insya Allah -
🌻 Ikuti terus pelajaran FIKIH setiap hari Selasa dan Kamis, Insya Allah.
🌍 Sumber Panduan: الفقه الميسر (hal.13)
📝 Disajikan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
✍1👍1
✅🕋 TAHIYYATUL MASJID HANYA BAGI ORANG YANG INGIN DUDUK DI MASJID
🌷 Syari’at shalat tahiyyatul masjid hanya diperuntukkan bagi orang yang ingin duduk di masjid. Sedangkan masuk masjid karena sekadar lewat, mengambil sesuatu, atau ingin menyampaikan keperluan kepada orang lain, maka tidak disyari’atkan shalat tahiyyatul masjid. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qatadah Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu,
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّىَ رَكْعَتَيْنِ
📡 “Apabila seorang di antara kalian masuk masjid, janganlah ia duduk hingga (mengerjakan) shalat dua raka’at.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
💢 Al-Imam Malik Rahimahullah menerangkan, “Perintah tersebut berlaku bagi orang yang ingin duduk saja. Oleh karena itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, '… hendaklah ia shalat dua raka'at sebelum duduk.'.” (Al-Muntaqo Syarhul Muwatto' 1/399, dan Al-Muntaqa Syarhul Muwatho’ 1/286)
💢 Ibnu Rajab Rahimahullah berkata: ”Pada riwayat ini terdapat larangan untuk duduk sebelum melakukan shalat (tahiyyatul masjid). Sehingga barangsiapa masuk masjid bukan untuk duduk, yaitu sekadar lewat melintasi masjid atau masuk untuk suatu kebutuhan kemudian keluar lagi dan bukan untuk duduk, maka tidak terkenai larangan tersebut.” (Fathul Baari Syarhu Shahihil Bukhari Ibnu Rajab 3/275)
🔗 Di dalam kitab Al-Muntaqo Min Fatawa Al-Fauzan (4/26), Asy-Syaikh Shalih Al Fauzan juga menjelaskan, "Barangsiapa masuk masjid karena ingin duduk (di dalamnya), maka hendaknya dia shalat dua raka'at sebelum duduk. Adapun seorang yang masuk masjid hanya sekadar lewat bukan untuk duduk atau ingin mengambil kebutuhan kemudian keluar lagi, maka tidak disyari’atkan shalat (tahiyyatul masjid) atasnya.”
📌 Dan diriwayatkan pula bahwasanya Ibnu Umar dan para shahabat lainnya Radhiallahu ‘anhum memasuki masjid kemudian keluar tanpa melakukan shalat tahiyyatul masjid.
- wallahu a'lam-
📝 Dikumpulkan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
🌷 Syari’at shalat tahiyyatul masjid hanya diperuntukkan bagi orang yang ingin duduk di masjid. Sedangkan masuk masjid karena sekadar lewat, mengambil sesuatu, atau ingin menyampaikan keperluan kepada orang lain, maka tidak disyari’atkan shalat tahiyyatul masjid. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qatadah Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu,
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّىَ رَكْعَتَيْنِ
📡 “Apabila seorang di antara kalian masuk masjid, janganlah ia duduk hingga (mengerjakan) shalat dua raka’at.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
💢 Al-Imam Malik Rahimahullah menerangkan, “Perintah tersebut berlaku bagi orang yang ingin duduk saja. Oleh karena itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, '… hendaklah ia shalat dua raka'at sebelum duduk.'.” (Al-Muntaqo Syarhul Muwatto' 1/399, dan Al-Muntaqa Syarhul Muwatho’ 1/286)
💢 Ibnu Rajab Rahimahullah berkata: ”Pada riwayat ini terdapat larangan untuk duduk sebelum melakukan shalat (tahiyyatul masjid). Sehingga barangsiapa masuk masjid bukan untuk duduk, yaitu sekadar lewat melintasi masjid atau masuk untuk suatu kebutuhan kemudian keluar lagi dan bukan untuk duduk, maka tidak terkenai larangan tersebut.” (Fathul Baari Syarhu Shahihil Bukhari Ibnu Rajab 3/275)
🔗 Di dalam kitab Al-Muntaqo Min Fatawa Al-Fauzan (4/26), Asy-Syaikh Shalih Al Fauzan juga menjelaskan, "Barangsiapa masuk masjid karena ingin duduk (di dalamnya), maka hendaknya dia shalat dua raka'at sebelum duduk. Adapun seorang yang masuk masjid hanya sekadar lewat bukan untuk duduk atau ingin mengambil kebutuhan kemudian keluar lagi, maka tidak disyari’atkan shalat (tahiyyatul masjid) atasnya.”
📌 Dan diriwayatkan pula bahwasanya Ibnu Umar dan para shahabat lainnya Radhiallahu ‘anhum memasuki masjid kemudian keluar tanpa melakukan shalat tahiyyatul masjid.
- wallahu a'lam-
📝 Dikumpulkan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
👍2
✅🌴🌸 SIFAT-SIFAT AL-JANNAH, KENIKMATANNYA, DAN SIFAT PENDUDUKNYA
======================
📕 Pelajaran Shohih Muslim
🔰 Kitabul-Jannah
🔘 Hadits No.1
—-------------------
✅ Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Al-Jannah (surga) dikelilingi oleh perkara-perkara yang tidak disenangi, dan An-Naar (neraka) dikelilingi oleh syahwat (hawa nafsu).” (HR. Muslim No.2822)
✅ Takhrij Hadits
Hadits ini diriwayatkan pula oleh:
Ahmad (12559), (13671), (14030), At-Tirmidzi (2559), Abu Nu’aim dlm “Sifatul-Jannah” (42), dan selain mereka.
📌 Disebutkan pula dalam Shohih Al-Bukhori No. 6487 , dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu dengan lafazh,
حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ
“An-Naar ditutupi dengan syahwat (hawa nafsu), dan Al-Jannah ditutupi dengan perkara-perkara yang dibenci.”
〰➰〰
✅ Syarah (Penjelasan):
📝📮 Makna Hadits ini, Al-Jannah tidak akan bisa dicapai kecuali dengan melakukan hal-hal yang dibenci hawa nafsu, misalnya:
➖ Bersungguh-sungguh dalam ibadah serta menekuninya,
➖ Bersabar dalam menghadapi kesulitan (kesukaran) ketika menjalankan ibadah tersebut,
➖ Menahan amarah,
➖ Memaafkan orang lain,
➖ Bersikap tenang (tidak terburu-buru),
➖ Bersedekah,
➖ Berbuat baik kepada orang yang menyakitinya,
➖ Bersabar dalam melawan tuntutan hawa nafsu,
➖ Dan yang semisalnya.
⚠️ Adapun An-Naar, dikelilingi oleh Syahwat (hawa nafsu) yang diharamkan,
🔻Misalnya:
❌ Minuman Keras (khomr),
❌ Perzinaan,
❌ Melihat wanita yang bukan mahrom,
❌ Ghibah (membicarakan aib orang lain),
❌ Bermain alat musik,
❌ Dan yang semisalnya.
↔️ Adapun Syahwat (hawa nafsu) yang diperbolehkan tidak masuk dalam pembahasan tadi. Namun makruh (dibenci hukumnya) jika dilakukan secara berlebihan, karena dikhawatirkan akan menyeret pelakunya ke dalam:
⭕️ Perbuatan haram,
⭕️ Membuat hatinya keras,
⭕️ Melalaikan dirinya dari amal ketaatan,
atau justru...
🚫 Menjadikan dirinya semakin tamak dalam mendapatkan harta dunia untuk digunakan foya-foya,
🚫 Dan yang semisalnya.
- SELESAI -
Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita semua ke dalam al-Jannah dan menjauhkan kita dari Adzab-Nya. Aamiin
Wallahu a’lamu bisshowab...
🌍 Diringkas dari Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim (8/165 - 166), karya: Al-Imam An-Nawawi rohimahullah
📝 FAEDAH INI DIKIRIMKAN OLEH AL-USTADZ ABDUL HADI PEKALONGAN HAFIZHAHULLAH
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
======================
📕 Pelajaran Shohih Muslim
🔰 Kitabul-Jannah
🔘 Hadits No.1
—-------------------
✅ Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Al-Jannah (surga) dikelilingi oleh perkara-perkara yang tidak disenangi, dan An-Naar (neraka) dikelilingi oleh syahwat (hawa nafsu).” (HR. Muslim No.2822)
✅ Takhrij Hadits
Hadits ini diriwayatkan pula oleh:
Ahmad (12559), (13671), (14030), At-Tirmidzi (2559), Abu Nu’aim dlm “Sifatul-Jannah” (42), dan selain mereka.
📌 Disebutkan pula dalam Shohih Al-Bukhori No. 6487 , dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu dengan lafazh,
حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ
“An-Naar ditutupi dengan syahwat (hawa nafsu), dan Al-Jannah ditutupi dengan perkara-perkara yang dibenci.”
〰➰〰
✅ Syarah (Penjelasan):
📝📮 Makna Hadits ini, Al-Jannah tidak akan bisa dicapai kecuali dengan melakukan hal-hal yang dibenci hawa nafsu, misalnya:
➖ Bersungguh-sungguh dalam ibadah serta menekuninya,
➖ Bersabar dalam menghadapi kesulitan (kesukaran) ketika menjalankan ibadah tersebut,
➖ Menahan amarah,
➖ Memaafkan orang lain,
➖ Bersikap tenang (tidak terburu-buru),
➖ Bersedekah,
➖ Berbuat baik kepada orang yang menyakitinya,
➖ Bersabar dalam melawan tuntutan hawa nafsu,
➖ Dan yang semisalnya.
⚠️ Adapun An-Naar, dikelilingi oleh Syahwat (hawa nafsu) yang diharamkan,
🔻Misalnya:
❌ Minuman Keras (khomr),
❌ Perzinaan,
❌ Melihat wanita yang bukan mahrom,
❌ Ghibah (membicarakan aib orang lain),
❌ Bermain alat musik,
❌ Dan yang semisalnya.
↔️ Adapun Syahwat (hawa nafsu) yang diperbolehkan tidak masuk dalam pembahasan tadi. Namun makruh (dibenci hukumnya) jika dilakukan secara berlebihan, karena dikhawatirkan akan menyeret pelakunya ke dalam:
⭕️ Perbuatan haram,
⭕️ Membuat hatinya keras,
⭕️ Melalaikan dirinya dari amal ketaatan,
atau justru...
🚫 Menjadikan dirinya semakin tamak dalam mendapatkan harta dunia untuk digunakan foya-foya,
🚫 Dan yang semisalnya.
- SELESAI -
Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita semua ke dalam al-Jannah dan menjauhkan kita dari Adzab-Nya. Aamiin
Wallahu a’lamu bisshowab...
🌍 Diringkas dari Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim (8/165 - 166), karya: Al-Imam An-Nawawi rohimahullah
📝 FAEDAH INI DIKIRIMKAN OLEH AL-USTADZ ABDUL HADI PEKALONGAN HAFIZHAHULLAH
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
✍1👍1
✅PELAJARAN TAUHID : Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 8⃣)
🌴 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata,
قال الشافعي: لَوْ مَا أَنْزَلَ اللهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلا هَذِهِ السورة لكفتهم
"Asy-Syafi'i berkata, Kalau seandainya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya kecuali surat ini saja, niscaya (surat ini) sudah mencukupi mereka."
〰〰➰〰〰
💢 PENJELASAN:
📝📌 Ucapan Imam Asy-Syafi’i bagian-2
🔘 Makna Ucapan tsb:
📝📌 Empat sebab kebahagiaan hakiki (yang telah kita pelajari) pada hakekatnya dijelaskan secara ringkas di dalam surat ini (secara garis besar).
🔻Adapun isi Al-Qur`an (seluruhnya) beserta As-Sunnah, menjabarkan rinciannya.
🔰📕 (Sehingga perlu kita pahami) Bahwa tatkala surat ini menjelaskan sebab-sebab kebahagiaan secara garis besar. Saat itulah hujjah telah ditegakkan terhadap makhluk dengan surat ini.
🔻Adapun dalil-dalil yang ada, Yakni selain surat ini –baik dari Al-Qur`an maupun dari as-Sunnah- maka (kedudukannya) sebagai perinci dan penjelas empat hal tadi.
📛 Jangan sampai kita memahami:
Bahwa, “Surat ini (sudah) cukup bagi makhluk-Nya, andaikata Allah tidak menurunkan selainnya.”
✅ 👍 Namun (yang seharusnya kita katakan),
“Surat ini sudah cukup sebagai hujjah (penuntut atau pembela, -pen) bagi makhluk-Nya (secara garis besar) , karena Allah Ta’ala telah menjelaskan sebab-sebab kebahagiaan dan kesengsaraan (di dalamnya).
↔️ Sehingga pada hari kiamat nanti, tidak ada seorang pun yang mengatakan:
➖Saya tidak tahu sebab-sebab kebahagiaan, (atau mengatakan)
➖ Saya tidak tahu sebab-sebab kesengsaraan.
Dalam keadaan, (di dunia) dia telah membaca surat yang ringkas dan pendek ini.
» (Disadur dari Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah (hal.24), karya Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan Hafizhohullah)
➖➖➖➖➖
‼️ Sebagian Ulama menyatakan bahwa pernyataan ini tidak benar. Karena terdapat beberapa versi riwayat dari Asy-Syafi’i rohimahullah yang secara dhohir maknanya berbeda.
👌 Namun di atas tadi kita telah baca bersama makna yang seharusnya kita pahami dari ucapan seorang Imam, seperti Asy-Syafi’i rohimahullah, hal ini karena menimbang kepercayaan kita kepada penukilnya, yaitu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullahu Ta’ala. Wallahu A’lamu bish showab
🔘Sebagai Penutup:
—------------------—
🔻Sebagai seorang mukmin; Seharusnya hati kita tergerak untuk meraih kebahagiaan tatkala membaca surat ini.
🔻Dengan giat berusaha:
- Menjadi insan beriman yang melandasi keimanannya dengan ilmu,
- (kemudian) Beramal sholih,
- Berdakwah kepada kebenaran ,
- Serta Bersabar hingga kita bertemu dengan Allah Azza wa Jalla-.
👍 Semoga Allah Azza wa Jalla memudahkan jalan kita untuk meraih kebahagiaan yang hakiki....
Aamiin Yaa Robbal 'Aalaamiin
🌍 Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis
📝 FAEDAH INI DIKIRIM OLEH AL-USTADZ ABDUL HADI PEKALONGAN HAFIZHAHULLAH.
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
🌴 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata,
قال الشافعي: لَوْ مَا أَنْزَلَ اللهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلا هَذِهِ السورة لكفتهم
"Asy-Syafi'i berkata, Kalau seandainya Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya kecuali surat ini saja, niscaya (surat ini) sudah mencukupi mereka."
〰〰➰〰〰
💢 PENJELASAN:
📝📌 Ucapan Imam Asy-Syafi’i bagian-2
🔘 Makna Ucapan tsb:
📝📌 Empat sebab kebahagiaan hakiki (yang telah kita pelajari) pada hakekatnya dijelaskan secara ringkas di dalam surat ini (secara garis besar).
🔻Adapun isi Al-Qur`an (seluruhnya) beserta As-Sunnah, menjabarkan rinciannya.
🔰📕 (Sehingga perlu kita pahami) Bahwa tatkala surat ini menjelaskan sebab-sebab kebahagiaan secara garis besar. Saat itulah hujjah telah ditegakkan terhadap makhluk dengan surat ini.
🔻Adapun dalil-dalil yang ada, Yakni selain surat ini –baik dari Al-Qur`an maupun dari as-Sunnah- maka (kedudukannya) sebagai perinci dan penjelas empat hal tadi.
📛 Jangan sampai kita memahami:
Bahwa, “Surat ini (sudah) cukup bagi makhluk-Nya, andaikata Allah tidak menurunkan selainnya.”
✅ 👍 Namun (yang seharusnya kita katakan),
“Surat ini sudah cukup sebagai hujjah (penuntut atau pembela, -pen) bagi makhluk-Nya (secara garis besar) , karena Allah Ta’ala telah menjelaskan sebab-sebab kebahagiaan dan kesengsaraan (di dalamnya).
↔️ Sehingga pada hari kiamat nanti, tidak ada seorang pun yang mengatakan:
➖Saya tidak tahu sebab-sebab kebahagiaan, (atau mengatakan)
➖ Saya tidak tahu sebab-sebab kesengsaraan.
Dalam keadaan, (di dunia) dia telah membaca surat yang ringkas dan pendek ini.
» (Disadur dari Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah (hal.24), karya Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan Hafizhohullah)
➖➖➖➖➖
‼️ Sebagian Ulama menyatakan bahwa pernyataan ini tidak benar. Karena terdapat beberapa versi riwayat dari Asy-Syafi’i rohimahullah yang secara dhohir maknanya berbeda.
👌 Namun di atas tadi kita telah baca bersama makna yang seharusnya kita pahami dari ucapan seorang Imam, seperti Asy-Syafi’i rohimahullah, hal ini karena menimbang kepercayaan kita kepada penukilnya, yaitu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullahu Ta’ala. Wallahu A’lamu bish showab
🔘Sebagai Penutup:
—------------------—
🔻Sebagai seorang mukmin; Seharusnya hati kita tergerak untuk meraih kebahagiaan tatkala membaca surat ini.
🔻Dengan giat berusaha:
- Menjadi insan beriman yang melandasi keimanannya dengan ilmu,
- (kemudian) Beramal sholih,
- Berdakwah kepada kebenaran ,
- Serta Bersabar hingga kita bertemu dengan Allah Azza wa Jalla-.
👍 Semoga Allah Azza wa Jalla memudahkan jalan kita untuk meraih kebahagiaan yang hakiki....
Aamiin Yaa Robbal 'Aalaamiin
🌍 Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis
📝 FAEDAH INI DIKIRIM OLEH AL-USTADZ ABDUL HADI PEKALONGAN HAFIZHAHULLAH.
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
👍1
✅ PELAJARAN FIKIH (9⃣): BAB KEEMPAT: TENTANG SIWAK DAN SUNNAH-SUNNAH FITHROH (BAG: 2⃣
💢 PERMASALAHAN KEDUA: KAPAN DITEKANKAN (BERSIWAK)?
📡 Ditekankan (bersiwak) :
▶️ ketika hendak berwudhu'
▶️ ketika terbangun dari tidur
▶️ ketika terjadi perubahan aroma mulut,
▶️ sebelum membaca Al-Qur'an
▶️ sebelum mengerjakan shalat
▶️ demikian juga ketika masuk masjid dan masuk rumah.
🔹 Hal ini berdasarkan hadits Miqdam bin Syuraih dari bapaknya, ia berkata,
🔸 "Aku bertanya kepada Aisyah Radhiallahu 'anha, "Perkara apa yang pertama kali dilakukan Nabi Shallalallahu 'alaihi wa Sallam pada saat masuk ke rumahnya?"
🔹 Aisyah menjawab, "(beliau memulai) dengan siwak."
dan ditekankan pula untuk bersiwak ketika:
▶️ Diam dalam waktu yang lama
▶️ dan menguningnya gigi.
🌻 berdasarkan hadits-hadits yang telah lalu.
💢 Dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam apabila bangun pada malam hari, beliau menggosok mulutnya dengan siwak.
✳️ dan seorang muslim ketika beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah diperintahkan dalam kondisi yang paling baik dari sisi kebersihannya dan kesuciannya.
- Bersambung Insya Allah -
🌻 Ikuti terus pelajaran FIKIH setiap hari Selasa dan Kamis, Insya Allah.
🌍 Sumber Panduan: الفقه الميسر (hal.13)
📝 Disajikan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
💢 PERMASALAHAN KEDUA: KAPAN DITEKANKAN (BERSIWAK)?
📡 Ditekankan (bersiwak) :
▶️ ketika hendak berwudhu'
▶️ ketika terbangun dari tidur
▶️ ketika terjadi perubahan aroma mulut,
▶️ sebelum membaca Al-Qur'an
▶️ sebelum mengerjakan shalat
▶️ demikian juga ketika masuk masjid dan masuk rumah.
🔹 Hal ini berdasarkan hadits Miqdam bin Syuraih dari bapaknya, ia berkata,
🔸 "Aku bertanya kepada Aisyah Radhiallahu 'anha, "Perkara apa yang pertama kali dilakukan Nabi Shallalallahu 'alaihi wa Sallam pada saat masuk ke rumahnya?"
🔹 Aisyah menjawab, "(beliau memulai) dengan siwak."
dan ditekankan pula untuk bersiwak ketika:
▶️ Diam dalam waktu yang lama
▶️ dan menguningnya gigi.
🌻 berdasarkan hadits-hadits yang telah lalu.
💢 Dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam apabila bangun pada malam hari, beliau menggosok mulutnya dengan siwak.
✳️ dan seorang muslim ketika beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah diperintahkan dalam kondisi yang paling baik dari sisi kebersihannya dan kesuciannya.
- Bersambung Insya Allah -
🌻 Ikuti terus pelajaran FIKIH setiap hari Selasa dan Kamis, Insya Allah.
🌍 Sumber Panduan: الفقه الميسر (hal.13)
📝 Disajikan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
🌻🌷 LAKSANA POHON YANG HIJAU DI TENGAH PEPOHONAN GERSANG
🌴 Humaid bin Hilal al-'Adawi Rahimahullah berkata,
مثل ذاكر الله في السوق كمثل شجرة خضراء وسط شجر ميت
Perumpamaan orang yang berdzikir mengingat Allah di tengah pasar laksana pohon yang hijau di tengah pepohonan yang gersang." (Hilyatul Auliya 2/252)
➖➖➖
💢 Humaid bin Hilal bin Hubairah al-Adawi, Abu Nashr al-Bashri. Beliau seorang tabi'in yang faqih dan hafizh. Meriwayatkan dari Abdullah bin Ma'qil, Abdurrahman bin Samurah, Anas bin Malik, dan yang lainnya. Beliau hidup sampai mendekati tahun 120 H. (Siyar 5/310)
➖➖➖
📝 Dikumpulkan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
🌴 Humaid bin Hilal al-'Adawi Rahimahullah berkata,
مثل ذاكر الله في السوق كمثل شجرة خضراء وسط شجر ميت
Perumpamaan orang yang berdzikir mengingat Allah di tengah pasar laksana pohon yang hijau di tengah pepohonan yang gersang." (Hilyatul Auliya 2/252)
➖➖➖
💢 Humaid bin Hilal bin Hubairah al-Adawi, Abu Nashr al-Bashri. Beliau seorang tabi'in yang faqih dan hafizh. Meriwayatkan dari Abdullah bin Ma'qil, Abdurrahman bin Samurah, Anas bin Malik, dan yang lainnya. Beliau hidup sampai mendekati tahun 120 H. (Siyar 5/310)
➖➖➖
📝 Dikumpulkan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
📕 2⃣ PELAJARAN SHAHIH MUSLIM (PEMBAHASAN TENTANG SURGA )
〰〰〰〰〰〰
🔘 Kitabul-Jannah
—————————-
📗 Hadits No.2
—————————————————
📚📌 Dari Abu Huroiroh –rodhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:
Allah –subhanahu wata’ala- berfirman:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Telah ku sediakan untuk hamba-hamba-Ku yang sholih, sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbayang di dalam hati seorang manusia pun.”
🔻Kemudian Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wasallam- mengatakan, “Pembenarnya terdapat di dalam Al-Qur`an:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajdah:17)
》[HR. Muslim No.2824 dalam beberapa lafadz.
🔻 Disebutkan pula pada nomer 2825 hadits yang semakna, dari shahabat Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy –rodhiyallahu ‘anhu]
🔘Takhrij Hadits:
—————————-
Hadits ini diriwayatkan pula oleh:
Al-Bukhori (3244), (4779), (4780), (7498), Ahmad (8143), (9649), (10017), (10423), (10577), At-Tirmidzi (3197), (3292), Ibnu Majah (4328), dan selain mereka.
🔘 Syarah (Penjelasan):
——————————————-
📕🍃 Di dalam hadits ini dijelaskan, bahwa kenikmatan di dalam Jannah tidak pernah dilihat, didengar, atau dibayangkan oleh seorang pun.
🔻Pendalilan ini diperkuat dengan surat As-Sajdah ayat 17 yang dibacakan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman (artinya):
“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajdah:17)
🔻Di dalam hadits ini pula disebutkan, bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah menyediakan Jannah bagi hamba-hamba-Nya yang sholih, yaitu yang bertakwa.
🔻Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang (telah) disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Al-Imron:133)
🔘 Faedah:
———————————
🌼✏️ Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa al-Jannah (surga)) sekarang sudah diciptakan dan sudah ada.
✅📜 Inilah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab Aqidah. Di antaranya kitab “Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah” karya Imam Ath-Thohawi, kitab “Lum’atul I’tiqod” karya Imam Ibnu Qudamah –rohimahullah, dimana mereka menjelaskan:
الجَنَّةُ وَ النَّارُ مَخْلُوقَتَان ...
“Al-Jannah dan An-Nar (keduanya) sudah diciptakan....”
📒 Di antara dalil yang menunjukkan permasalahan itu adalah Surat Ali Imron ayat 133 yang tadi disebutkan di atas.
Kemudian hadits ini.
🔻Kemudian sabda Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam (setelah beliau sholat gerhana):
إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا، وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا...
“Sesungguhnya aku telah melihat Jannah (surga) (ketika dalam sholat gerhana tersebut), Akupun berusaha mengambil setandan (buah-buahan). Andai aku berhasil mengambilnya, niscaya kalian dapat memakannya selama dunia ini masih ada.” 🔻(HR. Al-Bukhori No.1052 dan Muslim No.907 , dari Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma)
▶️ (Silahkan lihat penjelasan Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin –rohimahullah- selengkapnya di kitab “Syarh Lum’atul I’tiqod" karya beliau Hal.131-133)
🌷 Ikuti terus pelajaran Shahih Muslim di channel ini, insya Allah.
📝 FAEDAH INI DIKIRIMKAN OLEH AL-USTADZ ABDUL HADI PEKALONGAN HAFIZHAHULLAH
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
〰〰〰〰〰〰
🔘 Kitabul-Jannah
—————————-
📗 Hadits No.2
—————————————————
📚📌 Dari Abu Huroiroh –rodhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:
Allah –subhanahu wata’ala- berfirman:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Telah ku sediakan untuk hamba-hamba-Ku yang sholih, sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbayang di dalam hati seorang manusia pun.”
🔻Kemudian Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wasallam- mengatakan, “Pembenarnya terdapat di dalam Al-Qur`an:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajdah:17)
》[HR. Muslim No.2824 dalam beberapa lafadz.
🔻 Disebutkan pula pada nomer 2825 hadits yang semakna, dari shahabat Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy –rodhiyallahu ‘anhu]
🔘Takhrij Hadits:
—————————-
Hadits ini diriwayatkan pula oleh:
Al-Bukhori (3244), (4779), (4780), (7498), Ahmad (8143), (9649), (10017), (10423), (10577), At-Tirmidzi (3197), (3292), Ibnu Majah (4328), dan selain mereka.
🔘 Syarah (Penjelasan):
——————————————-
📕🍃 Di dalam hadits ini dijelaskan, bahwa kenikmatan di dalam Jannah tidak pernah dilihat, didengar, atau dibayangkan oleh seorang pun.
🔻Pendalilan ini diperkuat dengan surat As-Sajdah ayat 17 yang dibacakan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman (artinya):
“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajdah:17)
🔻Di dalam hadits ini pula disebutkan, bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah menyediakan Jannah bagi hamba-hamba-Nya yang sholih, yaitu yang bertakwa.
🔻Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur`an, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang (telah) disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Al-Imron:133)
🔘 Faedah:
———————————
🌼✏️ Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa al-Jannah (surga)) sekarang sudah diciptakan dan sudah ada.
✅📜 Inilah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab Aqidah. Di antaranya kitab “Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah” karya Imam Ath-Thohawi, kitab “Lum’atul I’tiqod” karya Imam Ibnu Qudamah –rohimahullah, dimana mereka menjelaskan:
الجَنَّةُ وَ النَّارُ مَخْلُوقَتَان ...
“Al-Jannah dan An-Nar (keduanya) sudah diciptakan....”
📒 Di antara dalil yang menunjukkan permasalahan itu adalah Surat Ali Imron ayat 133 yang tadi disebutkan di atas.
Kemudian hadits ini.
🔻Kemudian sabda Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam (setelah beliau sholat gerhana):
إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا، وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا...
“Sesungguhnya aku telah melihat Jannah (surga) (ketika dalam sholat gerhana tersebut), Akupun berusaha mengambil setandan (buah-buahan). Andai aku berhasil mengambilnya, niscaya kalian dapat memakannya selama dunia ini masih ada.” 🔻(HR. Al-Bukhori No.1052 dan Muslim No.907 , dari Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma)
▶️ (Silahkan lihat penjelasan Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin –rohimahullah- selengkapnya di kitab “Syarh Lum’atul I’tiqod" karya beliau Hal.131-133)
🌷 Ikuti terus pelajaran Shahih Muslim di channel ini, insya Allah.
📝 FAEDAH INI DIKIRIMKAN OLEH AL-USTADZ ABDUL HADI PEKALONGAN HAFIZHAHULLAH
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
📕 3⃣ PELAJARAN SHAHIH MUSLIM (PEMBAHASAN TENTANG SURGA )
〰〰〰〰〰〰
🔘 Kitabul-Jannah
—————————-
📚 Bab 1: Sebuah Pohon yang Besar di Jannah
—————————————————————
🔘 Hadits No.3
—————————————————
📌📜 Dari Abu Huroiroh –rodhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata; Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ سَنَةٍ، لاَ يَقْطَعُهَا
“Sungguh, di dalam Jannah ada sebuah pohon yang (jarak) naungannya (ketika) ditempuh selama 100 tahun oleh pengendara kuda, (tetap) tidak bisa melampauinya.”
》(HR. Muslim No.2826)
🔘Takhrij Hadits:
—————————-
Hadits ini diriwayatkan pula oleh:
Al-Bukhori (3252), (4881), Ahmad (7498), (9243), (9832), (9870), (9950), (10065), (10259), At-Tirmidzi (2523), Ibnu Majah (4335), Ma’mar bin Rosyid dalam Jami’-nya (20877), Abu Nu’aim dalam Sifatul-Jannah (403), Ibnul Mubarok dalam Az-Zuhud (1485), Sunan Ad-Darimi (2881) dan selain mereka.
🔘 Syarah (Penjelasan):
——————————————-
Rasulullah Sholalllahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepada kita bahwa di dalam Jannah terdapat sebuah pohon yang sangat besar.
↔️ Jarak antara ujung naungannya begitu jauh. Walaupun seorang pengendara memacu kuda pacuannya untuk berlari kencang selama 100 tahun perjalanan, niscaya tetap tidak bisa melewati ujungnya. Hal ini, sebagaimana disebutkan dalam hadits nomer 2828 dalam Shohih Muslim-
...الرَّاكِبُ الْجَوَادَ الْمُضَمَّرَ السَّرِيعَ
“... Pengendara kuda pacuan yang berlari kencang...”
🔻Dalam Jami’ Ma’mar bin Rosyid –rohimahullah- (no.20877) disebutkan:
لَا يَبْلُغُهَا
“(Pengendara tersebut tetap) Tidak bisa melewatinya.”
🔻Dalam kitab “Az-Zuhud” milik Al-Imam Ibnul Mubarok –rohimahullah- (no. 1485) disebutkan:
مَا يَبْلُغُ طَرَفَهَا
“(Pengendara tersebut) Belum bisa mencapai ujungnya.”
🔻Itulah yang disebut oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam dengan:
وَظِلٍّ مَمْدُودٍ
“Naungan yang terbentang luas.”
🔻Yang disebutkan di dalam surat Al-Waqi’ah ayat 30. (Lihat Shohih Al-Bukhori (3252), (4881) dan juga Musnad Ahmad (10259))
🔻Sampai-sampai, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan bahwa dedaunannya menutupi Jannah, beliau Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَإِنَّ وَرَقَهَا لَيُخَمِّرُ الْجَنَّةَ
“Dan sungguh! Dedaunannya menutupi Jannah.” (Musnad Ahmad (9243))
🔻Berkata Ka’ab Al-Ahbar (*): “Maha Benar (Allah Ta’ala) yang telah menurunkan Taurat kepada nabi Musa ‘Alaihis salam, dan menurunkan Al-Qur`an kepada Nabi Muhamamad Shollallahu ‘alaihi wasallam, Jika seandainya seseorang itu menaiki unta yang berumur 3 tahun atau unta yang berumur 4 sampai 5 tahun untuk mengelilingi batang pohon itu, niscaya dia tidak akan bisa melakukannya, walaupun sampai tua renta (dimakan usia).” (Lihat “Az-Zuhud” (1485) karya Ibnul-Mubarok dan “Sifatul-Jannah” no.42, karya Ibnu Abid-Dunya)
(*) Beliau adalah seorang mukhoddrom (hidup sejaman dengan Nabi Sholllallahu ‘alaihi wasallam namun belum pernah ketemu dengan beliau) (Lihat At-Taqrib no.5648)
🍃Saudaraku,... Tatkala kita yakin akan besarnya pohon ini, Tentu kita juga akan semakin yakin akan kebesaran penciptanya; yang pasti lebih besar lagi.
🌷 Ikuti terus pelajaran Shahih Muslim di channel ini, insya Allah.
📝 FAEDAH INI DIKIRIMKAN OLEH AL-USTADZ ABDUL HADI PEKALONGAN HAFIZHAHULLAH
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
〰〰〰〰〰〰
🔘 Kitabul-Jannah
—————————-
📚 Bab 1: Sebuah Pohon yang Besar di Jannah
—————————————————————
🔘 Hadits No.3
—————————————————
📌📜 Dari Abu Huroiroh –rodhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata; Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ سَنَةٍ، لاَ يَقْطَعُهَا
“Sungguh, di dalam Jannah ada sebuah pohon yang (jarak) naungannya (ketika) ditempuh selama 100 tahun oleh pengendara kuda, (tetap) tidak bisa melampauinya.”
》(HR. Muslim No.2826)
🔘Takhrij Hadits:
—————————-
Hadits ini diriwayatkan pula oleh:
Al-Bukhori (3252), (4881), Ahmad (7498), (9243), (9832), (9870), (9950), (10065), (10259), At-Tirmidzi (2523), Ibnu Majah (4335), Ma’mar bin Rosyid dalam Jami’-nya (20877), Abu Nu’aim dalam Sifatul-Jannah (403), Ibnul Mubarok dalam Az-Zuhud (1485), Sunan Ad-Darimi (2881) dan selain mereka.
🔘 Syarah (Penjelasan):
——————————————-
Rasulullah Sholalllahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepada kita bahwa di dalam Jannah terdapat sebuah pohon yang sangat besar.
↔️ Jarak antara ujung naungannya begitu jauh. Walaupun seorang pengendara memacu kuda pacuannya untuk berlari kencang selama 100 tahun perjalanan, niscaya tetap tidak bisa melewati ujungnya. Hal ini, sebagaimana disebutkan dalam hadits nomer 2828 dalam Shohih Muslim-
...الرَّاكِبُ الْجَوَادَ الْمُضَمَّرَ السَّرِيعَ
“... Pengendara kuda pacuan yang berlari kencang...”
🔻Dalam Jami’ Ma’mar bin Rosyid –rohimahullah- (no.20877) disebutkan:
لَا يَبْلُغُهَا
“(Pengendara tersebut tetap) Tidak bisa melewatinya.”
🔻Dalam kitab “Az-Zuhud” milik Al-Imam Ibnul Mubarok –rohimahullah- (no. 1485) disebutkan:
مَا يَبْلُغُ طَرَفَهَا
“(Pengendara tersebut) Belum bisa mencapai ujungnya.”
🔻Itulah yang disebut oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam dengan:
وَظِلٍّ مَمْدُودٍ
“Naungan yang terbentang luas.”
🔻Yang disebutkan di dalam surat Al-Waqi’ah ayat 30. (Lihat Shohih Al-Bukhori (3252), (4881) dan juga Musnad Ahmad (10259))
🔻Sampai-sampai, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan bahwa dedaunannya menutupi Jannah, beliau Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَإِنَّ وَرَقَهَا لَيُخَمِّرُ الْجَنَّةَ
“Dan sungguh! Dedaunannya menutupi Jannah.” (Musnad Ahmad (9243))
🔻Berkata Ka’ab Al-Ahbar (*): “Maha Benar (Allah Ta’ala) yang telah menurunkan Taurat kepada nabi Musa ‘Alaihis salam, dan menurunkan Al-Qur`an kepada Nabi Muhamamad Shollallahu ‘alaihi wasallam, Jika seandainya seseorang itu menaiki unta yang berumur 3 tahun atau unta yang berumur 4 sampai 5 tahun untuk mengelilingi batang pohon itu, niscaya dia tidak akan bisa melakukannya, walaupun sampai tua renta (dimakan usia).” (Lihat “Az-Zuhud” (1485) karya Ibnul-Mubarok dan “Sifatul-Jannah” no.42, karya Ibnu Abid-Dunya)
(*) Beliau adalah seorang mukhoddrom (hidup sejaman dengan Nabi Sholllallahu ‘alaihi wasallam namun belum pernah ketemu dengan beliau) (Lihat At-Taqrib no.5648)
🍃Saudaraku,... Tatkala kita yakin akan besarnya pohon ini, Tentu kita juga akan semakin yakin akan kebesaran penciptanya; yang pasti lebih besar lagi.
🌷 Ikuti terus pelajaran Shahih Muslim di channel ini, insya Allah.
📝 FAEDAH INI DIKIRIMKAN OLEH AL-USTADZ ABDUL HADI PEKALONGAN HAFIZHAHULLAH
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
👍1
✅ 💯 IA MENYIBUKKAN DIRINYA DENGAN IBADAH
🌴 Ismail bin Musa Rahimahullah berkata,
لَوْ قُلْتُ لَكُمْ إِنِّي مَا رَأَيْتُ حَمَّادَ بْنَ سَلَمَةَ ضَاحِكًا قَطُّ صَدَقْتُكُمْ، كَانَ مَشْغُولًا بِنَفْسِهِ إِمَّا أَنْ يُحَدِّثَ، وَإِمَّا أَنْ يَقْرَأَ وَإِمَّا أَنْ يُسَبِّحَ، وَإِمَّا أَنْ يُصَلِّيَ، كَانَ قَدْ قَسَمَ النَّهَارَ عَلَى هَذِهِ الْأَعْمَالِ
🌻 "Seandainya aku berkata kepada kalian, 'sesungguhnya aku tidak pernah melihat Hammad bin Salamah tertawa sama sekali' sungguh aku telah berkata jujur kepada kalian. Ia tersibukkan dengan dirinya sendiri, terkadang dengan menyampaikan hadits, atau membaca (Alquran), atau bertasbih, atau melakukan shalat. Ia telah membagi waktu siangnya di atas amalan-amalan ini."
🔘 Hammad bin Salamah Rahimahullah adalah ahli hadits dan ahli ibadah. Ia mengungguli teman sejawatnya yaitu Hammad bin Zaid dalam hal ibadah.
🌍 Sumber: Hilyatul Auliya (6/250)
📝 Disajikan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
🌴 Ismail bin Musa Rahimahullah berkata,
لَوْ قُلْتُ لَكُمْ إِنِّي مَا رَأَيْتُ حَمَّادَ بْنَ سَلَمَةَ ضَاحِكًا قَطُّ صَدَقْتُكُمْ، كَانَ مَشْغُولًا بِنَفْسِهِ إِمَّا أَنْ يُحَدِّثَ، وَإِمَّا أَنْ يَقْرَأَ وَإِمَّا أَنْ يُسَبِّحَ، وَإِمَّا أَنْ يُصَلِّيَ، كَانَ قَدْ قَسَمَ النَّهَارَ عَلَى هَذِهِ الْأَعْمَالِ
🌻 "Seandainya aku berkata kepada kalian, 'sesungguhnya aku tidak pernah melihat Hammad bin Salamah tertawa sama sekali' sungguh aku telah berkata jujur kepada kalian. Ia tersibukkan dengan dirinya sendiri, terkadang dengan menyampaikan hadits, atau membaca (Alquran), atau bertasbih, atau melakukan shalat. Ia telah membagi waktu siangnya di atas amalan-amalan ini."
🔘 Hammad bin Salamah Rahimahullah adalah ahli hadits dan ahli ibadah. Ia mengungguli teman sejawatnya yaitu Hammad bin Zaid dalam hal ibadah.
🌍 Sumber: Hilyatul Auliya (6/250)
📝 Disajikan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
Pelajaran TAUHID: Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 9⃣)
🌴 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah berkata,
وقال البخاري رحمه الله : ))بَابُ العِلْمِ قَبْلَ القَوْلِ وَالْعَمَلِ )). وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا الله وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ} [سورة محمد، الآية: 19] ، فبدأ بالعلم قبل القول والعمل.
“(Imam) Al-Bukhori Rohimahullah berkata:
‘Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan’,
Dalilnya firman Allah Ta’ala (artinya):
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Sesembahan Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (Surat Muhammad ayat 19),
(Di dalam ayat ini) Allah Ta’ala memulai dengan (menyebut) Ilmu (terlebih dahulu) sebelum ucapan dan perbuatan.”
〰〰➰〰〰
💢 PENJELASAN:
📝Pembahasan kali ini terbagi menjadi dua bagian;
1⃣Bagian Pertama: Biografi Ringkas Al-Imam Al-Bukhori Rohimahullah.
2⃣Bagian Kedua: Penjelasan ucapan beliau Rohimahullah.
—-
Bagian Pertama:
✅Biografi Ringkas Al-Imam Al-Bukhori Rohimahullah:
🔘Nama Beliau: Muhammad bin Isma’il bin Ibrohim bin al-Mughiroh al-Ju’fi al-Bukhori (*)
Kunyah beliau: Abu Abdillah
(*) al-Bukhori (nisbah kepada kota Bukhoro; tempat kelahiran beliau);
📜 Al-Bukhori kecil lahir di bulan Syawwal tahun 194 Hijriah, tepatnya malam Jum’at tanggal 13. (Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah” 11/30)
🔻Keadaan beliau yang yatim sepeninggal ayahnya tidak menghalanginya untuk melanglang buana, mengembara mencari hadits ke segala penjuru negeri, mengambil ilmu dari para Ulama, setelah beliau selesai menghafal Al-Quran.
🌼Imam Bukhori menuturkan, “Aku temui lebih dari seribu orang Ulama dari Hijaz, Mekkah, Madinah, Kufah, Basroh, Wasith, Baghdad, Syam, dan Mesir.” (“Sifatus-Shofwah” 2/345 , Ibnul Jauzi)
🍃Hingga akhirnya beliau mendapatkan ratusan ribu hadits yang menancap kuat di dalam dadanya. Beliau mengatakan, “Aku hafal 100.000 hadits shohih, dan 200.000 hadits dho’if.” (Lihat“Ma’rifah Anwa’ Ulumil-Hadits” 1/20; Ibnus-Sholah)
🔘Al-Hafizh Ibnu Hajar menjuluki beliau dengan “Jabalul-Hifzh” (Gunung Hafalan, dikarenakan banyak dan kuatnya hafalan beliau, pen) (At-Taqrib No.5726)
📚Karya tulis beliau sangat banyak. Yang paling masyhur adalah
“Al-Jami’ Al-Musnad Ash-Shohih Al-Mukhtashor min Umuuri Rasulillah Shollallahu ‘alaihi wasallam Wa Sunanihi wa Ayyaamihi”.
📗Yang dikenal sebagai “Shohih Al-Bukhori”.
Sebuah kitab yang disepakati oleh umat Islam sebagai kitab paling shohih setelah Al-Qur`an. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi Rohimahullah. (Lihat “Al-Minhaj” 1/14)
👍 Begitu panjang coretan pena Ulama menuliskan pujian mereka terhadap Imam besar semisal Al-Bukhori. Yang kesemuanya itu berujung pada firman Allah Ta'ala,
ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ
“Itulah keutamaan (dari) Allah, (yang) diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.” [Al-Maidah:54, Al-Hadid:21, Al-Jumu’ah:4]
Wallahu A’lamu bisshowaab.
🌍 Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah
📝 FAEDAH INI DIKIRIM OLEH AL-USTADZ ABDUL HADI PEKALONGAN HAFIZHAHULLAH.
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
🌴 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rohimahullah berkata,
وقال البخاري رحمه الله : ))بَابُ العِلْمِ قَبْلَ القَوْلِ وَالْعَمَلِ )). وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا الله وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ} [سورة محمد، الآية: 19] ، فبدأ بالعلم قبل القول والعمل.
“(Imam) Al-Bukhori Rohimahullah berkata:
‘Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan’,
Dalilnya firman Allah Ta’ala (artinya):
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Sesembahan Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (Surat Muhammad ayat 19),
(Di dalam ayat ini) Allah Ta’ala memulai dengan (menyebut) Ilmu (terlebih dahulu) sebelum ucapan dan perbuatan.”
〰〰➰〰〰
💢 PENJELASAN:
📝Pembahasan kali ini terbagi menjadi dua bagian;
1⃣Bagian Pertama: Biografi Ringkas Al-Imam Al-Bukhori Rohimahullah.
2⃣Bagian Kedua: Penjelasan ucapan beliau Rohimahullah.
—-
Bagian Pertama:
✅Biografi Ringkas Al-Imam Al-Bukhori Rohimahullah:
🔘Nama Beliau: Muhammad bin Isma’il bin Ibrohim bin al-Mughiroh al-Ju’fi al-Bukhori (*)
Kunyah beliau: Abu Abdillah
(*) al-Bukhori (nisbah kepada kota Bukhoro; tempat kelahiran beliau);
📜 Al-Bukhori kecil lahir di bulan Syawwal tahun 194 Hijriah, tepatnya malam Jum’at tanggal 13. (Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah” 11/30)
🔻Keadaan beliau yang yatim sepeninggal ayahnya tidak menghalanginya untuk melanglang buana, mengembara mencari hadits ke segala penjuru negeri, mengambil ilmu dari para Ulama, setelah beliau selesai menghafal Al-Quran.
🌼Imam Bukhori menuturkan, “Aku temui lebih dari seribu orang Ulama dari Hijaz, Mekkah, Madinah, Kufah, Basroh, Wasith, Baghdad, Syam, dan Mesir.” (“Sifatus-Shofwah” 2/345 , Ibnul Jauzi)
🍃Hingga akhirnya beliau mendapatkan ratusan ribu hadits yang menancap kuat di dalam dadanya. Beliau mengatakan, “Aku hafal 100.000 hadits shohih, dan 200.000 hadits dho’if.” (Lihat“Ma’rifah Anwa’ Ulumil-Hadits” 1/20; Ibnus-Sholah)
🔘Al-Hafizh Ibnu Hajar menjuluki beliau dengan “Jabalul-Hifzh” (Gunung Hafalan, dikarenakan banyak dan kuatnya hafalan beliau, pen) (At-Taqrib No.5726)
📚Karya tulis beliau sangat banyak. Yang paling masyhur adalah
“Al-Jami’ Al-Musnad Ash-Shohih Al-Mukhtashor min Umuuri Rasulillah Shollallahu ‘alaihi wasallam Wa Sunanihi wa Ayyaamihi”.
📗Yang dikenal sebagai “Shohih Al-Bukhori”.
Sebuah kitab yang disepakati oleh umat Islam sebagai kitab paling shohih setelah Al-Qur`an. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi Rohimahullah. (Lihat “Al-Minhaj” 1/14)
👍 Begitu panjang coretan pena Ulama menuliskan pujian mereka terhadap Imam besar semisal Al-Bukhori. Yang kesemuanya itu berujung pada firman Allah Ta'ala,
ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ
“Itulah keutamaan (dari) Allah, (yang) diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.” [Al-Maidah:54, Al-Hadid:21, Al-Jumu’ah:4]
Wallahu A’lamu bisshowaab.
🌍 Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah
📝 FAEDAH INI DIKIRIM OLEH AL-USTADZ ABDUL HADI PEKALONGAN HAFIZHAHULLAH.
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
👍3
✅‼️ NIKMAT AGAMA LEBIH PATUT UNTUK DISYUKURI DARIPADA NIKMAT DUNIA
🌻 Salam bin Abi Muthi' rahimahullah berkata,
كُنْ لِنِعْمَةِ اللهِ عَلَيْكَ فِي دِينِكَ أَشْكَرُ مِنْكَ لِنِعْمَةِ اللهِ عَلَيْكَ فِي دُنْيَاكَ
🔗 "Jadilah engkau terhadap nikmat Allah atasmu dalam urusan agamamu lebih bersyukur daripada nikmat Allah atasmu dalam urusan duniamu."
➖➖➖
🔘 Abu Sa'id Sallam bin Abi Muthi' Al-Bashri merupakan seorang Imam yang kokoh dan panutan. Beliau mengambil ilmu dari Qatadah, Ayyub As-Sakhtiani, Hisyam bin Urwah, dan selain mereka. Di antara murid beliau adalah Abdull bin Al-Mubarak, Abdurrahman bin Mahdi, dan selain keduanya.
Imam Ahmad berkata, "Ia adalah seorang yang kuat dan shahibu sunnah." (As-Siyar 7/96)
➖➖➖
🌍 Sumber: Hilyatul Auliya (6/188)
📝 Dikumpulkan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
🌻 Salam bin Abi Muthi' rahimahullah berkata,
كُنْ لِنِعْمَةِ اللهِ عَلَيْكَ فِي دِينِكَ أَشْكَرُ مِنْكَ لِنِعْمَةِ اللهِ عَلَيْكَ فِي دُنْيَاكَ
🔗 "Jadilah engkau terhadap nikmat Allah atasmu dalam urusan agamamu lebih bersyukur daripada nikmat Allah atasmu dalam urusan duniamu."
➖➖➖
🔘 Abu Sa'id Sallam bin Abi Muthi' Al-Bashri merupakan seorang Imam yang kokoh dan panutan. Beliau mengambil ilmu dari Qatadah, Ayyub As-Sakhtiani, Hisyam bin Urwah, dan selain mereka. Di antara murid beliau adalah Abdull bin Al-Mubarak, Abdurrahman bin Mahdi, dan selain keduanya.
Imam Ahmad berkata, "Ia adalah seorang yang kuat dan shahibu sunnah." (As-Siyar 7/96)
➖➖➖
🌍 Sumber: Hilyatul Auliya (6/188)
📝 Dikumpulkan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
👍1
✅📝 ULAMA SALAF SAJA MENCATAT ILMU.. MENGAPA KITA TIDAK?
☑️ Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu berkata,
مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدٌ أَكْثَرَ حَدِيثًا عَنْهُ مِنِّي، إِلَّا مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلاَ أَكْتُبُ
🔸 "Tidak ada seorang pun dari shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang paling banyak (meriwayatkan) hadits dari beliau (shallallahu 'alaihi wa Sallam) selain aku, kecuali dari Abdullah bin Amr, karena ia dahulu menulis sedangkan aku tidak menulis." (HR. Al-Bukhari no.113)
☑️ Asy-Sya'bi rahimahullah berkata,
إذا سمعت شيئا فاكتبه ولو في الحائط
"Apabila engkau mendengar sesuatu (dari ilmu) maka tulislah walaupun di atas tembok." (HR. Abu Khaitsamah dalam Al-Ilmu no.146)
☑️ Ma'mar bin Rasyid rahimahullah berkata,
"Aku menceritakan kepada Yahya bin Abi Katsir beberapa hadits. Maka ia berkata kepadaku, 'tuliskanlah untukku hadits ini dan hadits ini'
Aku menjawab, "Sesungguhnya kami tidak menyukai menulis ilmu.'
Ia berkata, "Tulislah, karena sesungguhnya engkau jika tidak menulisnya maka sungguh engkau telah menyia-nyiakan (hadits tersebut)."
☑️ Abu Shalih Al-Farra' rahimahullah berkata,
"Aku bertanya kepada Abdullah bin Al-Mubarak tentang menulis ilmu. Maka beliau menjawab, "Seandainya bukan karena kitab (buku catatan ilmu,pen) niscaya kami tidak hafal." (As-Siyar 8/409)
✅ Keadaan mereka yang memiliki hafalan yang kuat dan kecerdesan saja sangat bersemangat mencatat ilmu dan menasehatkan kepada para muridnya untuk mencatat. Lalu bagaimana dengan kita??
🌍 Referensi: An-Nubadz fi Adabi Thalabil ilmi (hal.138)
📝 Dikumpulkan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
☑️ Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu berkata,
مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدٌ أَكْثَرَ حَدِيثًا عَنْهُ مِنِّي، إِلَّا مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلاَ أَكْتُبُ
🔸 "Tidak ada seorang pun dari shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang paling banyak (meriwayatkan) hadits dari beliau (shallallahu 'alaihi wa Sallam) selain aku, kecuali dari Abdullah bin Amr, karena ia dahulu menulis sedangkan aku tidak menulis." (HR. Al-Bukhari no.113)
☑️ Asy-Sya'bi rahimahullah berkata,
إذا سمعت شيئا فاكتبه ولو في الحائط
"Apabila engkau mendengar sesuatu (dari ilmu) maka tulislah walaupun di atas tembok." (HR. Abu Khaitsamah dalam Al-Ilmu no.146)
☑️ Ma'mar bin Rasyid rahimahullah berkata,
"Aku menceritakan kepada Yahya bin Abi Katsir beberapa hadits. Maka ia berkata kepadaku, 'tuliskanlah untukku hadits ini dan hadits ini'
Aku menjawab, "Sesungguhnya kami tidak menyukai menulis ilmu.'
Ia berkata, "Tulislah, karena sesungguhnya engkau jika tidak menulisnya maka sungguh engkau telah menyia-nyiakan (hadits tersebut)."
☑️ Abu Shalih Al-Farra' rahimahullah berkata,
"Aku bertanya kepada Abdullah bin Al-Mubarak tentang menulis ilmu. Maka beliau menjawab, "Seandainya bukan karena kitab (buku catatan ilmu,pen) niscaya kami tidak hafal." (As-Siyar 8/409)
✅ Keadaan mereka yang memiliki hafalan yang kuat dan kecerdesan saja sangat bersemangat mencatat ilmu dan menasehatkan kepada para muridnya untuk mencatat. Lalu bagaimana dengan kita??
🌍 Referensi: An-Nubadz fi Adabi Thalabil ilmi (hal.138)
📝 Dikumpulkan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
📕 4⃣ PELAJARAN SHAHIH MUSLIM (PEMBAHASAN TENTANG SURGA )
—————————-
Bab 2
Pemberian “Ridhwan” (atau: Ridho) kepada Penduduk Jannah, Sehingga Allah Ta’ala tidak akan murka kepada mereka selamanya.
—————————————————————
🔘Hadits No.4
—————————————————
Dari Abu Sa’id Al-Khudri Rodhiyallahu ‘anhu, beliau mengabarkan bahwa Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:
🔻"Sungguh Allah 'Azza waJalla akan mengajak bicara penduduk Jannah dengan mengatakan,
“Wahai Penduduk Jannah!”
Mereka pun menjawab: “Labbaik (Kami sambut panggilan-
Mu) dengan senang hati, wahai Robb kami. Seluruh kebaikan ada di kedua tanganmu.”
🔻Allah Azza waJalla pun mengatakan: “Apakah kalian rela?”
Mereka pun menjawab: “Kenapa kami tidak rela, Wahai Tuhan kami? Engkau telah memberikan kepada kami sesuatu yang belum pernah Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu.”
🔻Allah ‘Azza waJalla mengatakan: “Maukah Ku berikan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari itu semua.”
Mereka menjawab: “Wahai Robb Kami, Sesuatu apakah itu? Yang lebih baik dari (pemberianmu) ini?
🔻Allah 'Azza waJalla mengatakan:
: أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي، فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا
“Sekarang, Aku halalkan kepada kalian Ke-Ridho-an Ku, Dan Aku tidak akan murka kepada kalian setelah ini, selamanya.”
》 (HR. Muslim No.2829)
🔘Takhrij Hadits:
—————————-
》Hadits ini diriwayatkan pula oleh:
Al-Bukhori (6549), (7518), Muslim (2829), Ahmad (11835), At-Tirmidzi (2555), Al-Hakim di dalam “Al-Mustadrok (8736), Ma’mar bin Rosyid di dalam "Jami'-nya" (20857), Ibnul-Mubarok di dalam “Musnadnya” (112), Abu Daud At-Thoyalisi di dalam Musnadnya (2293), dan selain mereka.
🔘Syarah (Penjelasan):
——————————————-
Di dalam hadits ini Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepada kita sebuah sesi hari Akhir berisi percakapan antara Allah ‘Azza wa Jalla dengan satu golongan penduduk Jannah yang disebut dengan “Jahannamiyyun”, (bekas penduduk Jahannam yang dimasukkan ke dalam Jannah). Mereka belum pernah beramal kebaikan sama sekali. Namun dengan rahmat Allah Ta’ala mereka bisa mendapatkan kenikmatan Jannah. Bahkan mendapatkan ke-Ridhoan-Nya. Sehingga selamat dari murka Allah Ta’ala selama-lamanya. (Lihat “Al-Mustadrok” no.8736, Jami' Ma’mar bin Rosyid no.20857, Musnad Abi Dawud At-Thoyalisi No.2293, Lihat pula “Shohih Al-Bukhori” no.7450 dari shahabat Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu tentang rahmat Allah Ta’ala kepada mereka).
🔘Faedah:
—————-
1⃣ Hadits ini termasuk dalil yang menetapan sifat Kalam untuk Allah Ta’ala sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya. Bahwasanya Allah Ta’ala berbicara sekehendak-Nya, kapanpun Dia menginginkannya, dengan suara yang didengar dan dipahami, ucapan yang betul-betul hakiki. (Selengkapnya lihat “Ma’arijul-Qobul” (1/255), karya Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami Rohimahullah)
-Wallahu a’lamu bisshowab-
🌷 Ikuti terus pelajaran Shahih Muslim di channel ini, insya Allah.
📝 FAEDAH INI DIKIRIMKAN OLEH AL-USTADZ ABDUL HADI PEKALONGAN HAFIZHAHULLAH
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
—————————-
Bab 2
Pemberian “Ridhwan” (atau: Ridho) kepada Penduduk Jannah, Sehingga Allah Ta’ala tidak akan murka kepada mereka selamanya.
—————————————————————
🔘Hadits No.4
—————————————————
Dari Abu Sa’id Al-Khudri Rodhiyallahu ‘anhu, beliau mengabarkan bahwa Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:
🔻"Sungguh Allah 'Azza waJalla akan mengajak bicara penduduk Jannah dengan mengatakan,
“Wahai Penduduk Jannah!”
Mereka pun menjawab: “Labbaik (Kami sambut panggilan-
Mu) dengan senang hati, wahai Robb kami. Seluruh kebaikan ada di kedua tanganmu.”
🔻Allah Azza waJalla pun mengatakan: “Apakah kalian rela?”
Mereka pun menjawab: “Kenapa kami tidak rela, Wahai Tuhan kami? Engkau telah memberikan kepada kami sesuatu yang belum pernah Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu.”
🔻Allah ‘Azza waJalla mengatakan: “Maukah Ku berikan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari itu semua.”
Mereka menjawab: “Wahai Robb Kami, Sesuatu apakah itu? Yang lebih baik dari (pemberianmu) ini?
🔻Allah 'Azza waJalla mengatakan:
: أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي، فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا
“Sekarang, Aku halalkan kepada kalian Ke-Ridho-an Ku, Dan Aku tidak akan murka kepada kalian setelah ini, selamanya.”
》 (HR. Muslim No.2829)
🔘Takhrij Hadits:
—————————-
》Hadits ini diriwayatkan pula oleh:
Al-Bukhori (6549), (7518), Muslim (2829), Ahmad (11835), At-Tirmidzi (2555), Al-Hakim di dalam “Al-Mustadrok (8736), Ma’mar bin Rosyid di dalam "Jami'-nya" (20857), Ibnul-Mubarok di dalam “Musnadnya” (112), Abu Daud At-Thoyalisi di dalam Musnadnya (2293), dan selain mereka.
🔘Syarah (Penjelasan):
——————————————-
Di dalam hadits ini Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepada kita sebuah sesi hari Akhir berisi percakapan antara Allah ‘Azza wa Jalla dengan satu golongan penduduk Jannah yang disebut dengan “Jahannamiyyun”, (bekas penduduk Jahannam yang dimasukkan ke dalam Jannah). Mereka belum pernah beramal kebaikan sama sekali. Namun dengan rahmat Allah Ta’ala mereka bisa mendapatkan kenikmatan Jannah. Bahkan mendapatkan ke-Ridhoan-Nya. Sehingga selamat dari murka Allah Ta’ala selama-lamanya. (Lihat “Al-Mustadrok” no.8736, Jami' Ma’mar bin Rosyid no.20857, Musnad Abi Dawud At-Thoyalisi No.2293, Lihat pula “Shohih Al-Bukhori” no.7450 dari shahabat Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu tentang rahmat Allah Ta’ala kepada mereka).
🔘Faedah:
—————-
1⃣ Hadits ini termasuk dalil yang menetapan sifat Kalam untuk Allah Ta’ala sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya. Bahwasanya Allah Ta’ala berbicara sekehendak-Nya, kapanpun Dia menginginkannya, dengan suara yang didengar dan dipahami, ucapan yang betul-betul hakiki. (Selengkapnya lihat “Ma’arijul-Qobul” (1/255), karya Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami Rohimahullah)
-Wallahu a’lamu bisshowab-
🌷 Ikuti terus pelajaran Shahih Muslim di channel ini, insya Allah.
📝 FAEDAH INI DIKIRIMKAN OLEH AL-USTADZ ABDUL HADI PEKALONGAN HAFIZHAHULLAH
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
✅ PELAJARAN FIKIH (1⃣0⃣): BAB KEEMPAT: TENTANG SIWAK DAN SUNNAH-SUNNAH FITHROH (BAG: 3⃣
💢 Permasalahan ketiga: dengan benda apa sajakah bersiwak dilakukan?
🔷 Bersiwak disunnahkan (dianjurkan) dengan menggunakan batang yang masih basah, tidak bercerai berai, dan tidak menimbulkan luka pada mulut karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersiwak dengan menggunakan batang arak (yaitu batang pohon yang biasa digunakan untuk bersiwak).
🔷 Boleh menggunakan tangan kanan atau kiri ketika bersiwak. Permasalahan ini longgar.
🔸 Apaabila tidak ada batang arak ketika berwudhu, boleh menggunakan jari untuk bersiwak. Sebagaimana perbuatan yang telah diriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib radhiyallah anhu tentang tata cara wudhu Nabi shallallahu alaihi wa sallam. (HR. Ahmad dalam Al-Musnad 1/158 dan dishahihkan Ibnu Hajar dalam At-Talkhishul Habir 1/70)
- Bersambung Insya Allah -
🌻 Ikuti terus pelajaran FIKIH setiap hari Selasa dan Kamis, Insya Allah.
📝 Faedah ini dikirimkan oleh Al-Ustadz Fathul Mujib Hafizhahullah.
🌍 Sumber Panduan: الفقه الميسر (hal.14)
📝 Disajikan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
💢 Permasalahan ketiga: dengan benda apa sajakah bersiwak dilakukan?
🔷 Bersiwak disunnahkan (dianjurkan) dengan menggunakan batang yang masih basah, tidak bercerai berai, dan tidak menimbulkan luka pada mulut karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersiwak dengan menggunakan batang arak (yaitu batang pohon yang biasa digunakan untuk bersiwak).
🔷 Boleh menggunakan tangan kanan atau kiri ketika bersiwak. Permasalahan ini longgar.
🔸 Apaabila tidak ada batang arak ketika berwudhu, boleh menggunakan jari untuk bersiwak. Sebagaimana perbuatan yang telah diriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib radhiyallah anhu tentang tata cara wudhu Nabi shallallahu alaihi wa sallam. (HR. Ahmad dalam Al-Musnad 1/158 dan dishahihkan Ibnu Hajar dalam At-Talkhishul Habir 1/70)
- Bersambung Insya Allah -
🌻 Ikuti terus pelajaran FIKIH setiap hari Selasa dan Kamis, Insya Allah.
📝 Faedah ini dikirimkan oleh Al-Ustadz Fathul Mujib Hafizhahullah.
🌍 Sumber Panduan: الفقه الميسر (hal.14)
📝 Disajikan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
👍1
✅📝 MENJAGA RAHASIA
☑️ Rahasia adalah apa yang terjadi secara tersembunyi antara seseorang dengan temannya. Tidak halal baginya menyebarkan rahasia tersebut atau menceritakannya kepada orang lain.
💢 dan rahasia bisa diketahui dengan salah satu dari tiga hal:
1⃣ Pertama: Ia mengatakan kepadamu "Jangan beritahu siapa pun."
2⃣ Kedua: Adanya indikasi dari perbuatannya bahwa ia tidak suka diketahui oleh orang lain, contohnya: ia menoleh ke kanan dan ke kiri pada saat menceritakan sesuatu tersebut.
3⃣ Ketiga: Apa yang dia ceritakan merupakan perkara yang malu atau perkara yang takut bila diketahui oleh orang lain, seperti menceritakan tentang permasalahan pribadi atau keluarganya.
🔷 Jika terdapat salah satu dari tiga keadaan di atas, maka tidak halal bagi seseorang untuk menyebarkan rahasia saudaranya, walaupun dia tidak mengatakan, "jangan beritahu orang lain."
🕋 Allah berfirman, "dan penuhilah janji, karena janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra:34)
🌍 Sumber Panduan: Syarah Riyadhus Shalihin Ibnu Utsaimin (4/36)
📝 Disajikan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
☑️ Rahasia adalah apa yang terjadi secara tersembunyi antara seseorang dengan temannya. Tidak halal baginya menyebarkan rahasia tersebut atau menceritakannya kepada orang lain.
💢 dan rahasia bisa diketahui dengan salah satu dari tiga hal:
1⃣ Pertama: Ia mengatakan kepadamu "Jangan beritahu siapa pun."
2⃣ Kedua: Adanya indikasi dari perbuatannya bahwa ia tidak suka diketahui oleh orang lain, contohnya: ia menoleh ke kanan dan ke kiri pada saat menceritakan sesuatu tersebut.
3⃣ Ketiga: Apa yang dia ceritakan merupakan perkara yang malu atau perkara yang takut bila diketahui oleh orang lain, seperti menceritakan tentang permasalahan pribadi atau keluarganya.
🔷 Jika terdapat salah satu dari tiga keadaan di atas, maka tidak halal bagi seseorang untuk menyebarkan rahasia saudaranya, walaupun dia tidak mengatakan, "jangan beritahu orang lain."
🕋 Allah berfirman, "dan penuhilah janji, karena janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra:34)
🌍 Sumber Panduan: Syarah Riyadhus Shalihin Ibnu Utsaimin (4/36)
📝 Disajikan oleh Tim Warisan Salaf
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
🍃Pelajaran TAUHID:
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 🔟)
—---------------------------------------------—
📚Penjelasan ucapan Imam Al-Bukhori Rohimahullah,
Bagian Kedua.
—----------------
🌴Beliau rohimahullah mengatakan,
“Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.”
✅Asy-Syaikh Al-Fauzan Hafizhohullah menjelaskan, “Mengapa Ilmu (harus didahulukan) sebelum ucapan dan perbuatan?
📝Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah karena amal perbuatan tidak akan bermanfaat (bagi pelakunya) kecuali jika dilakukan di atas ilmu.
🔻Beliau kembali menegaskan, bahwa suatu amal perbuatan yang dilakukan di atas kejahilan (kebodohan) tidak akan bermanfaat bagi pelakunya, bahkan bisa berbahaya dan membinasakan (pelakunya) pada hari kiamat (nanti), oleh karena itu ilmu harus didahulukan sebelum melakukan amal perbuatan. (Lihat “Syarah Tsalatsatil Ushul” hal. 37 – 38)
🔻Dalil atas pernyataan tersebut terdapat dalam surat Muhammad ayat 19.
{فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ}
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Sesembahan Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (Muhammad:19)
🔻Di dalam ayat tersebut Allah Ta’ala menyebutkan “ilmu” terlebih dahulu sebelum “istighfar” (permintaan ampun) yang mengandung ucapan dan amal perbuatan. (Lihat ’Umdatul Qori` vol.2/39; oleh Al-‘Aini Rohimahullah)
🔘Faedah:
—------------
🔻Jika pada pembahasan yang lalu kita telah mengetahui ancaman murka Allah Ta’ala bagi orang-orang yang tidak mengamalkan ilmunya.
🔻Maka pada pembahasan kali ini, ancaman kesesatan ditujukan bagi orang-orang yang beramal suatu amalan tanpa didasari ilmu.
👍Seorang muslim yang baik akan menjauhi jalan kedua kelompok tadi. Karena kehidupan kaum Mukminin dipenuhi dengan ilmu dan amal.
👎Lain halnya dengan kaum Yahudi; mereka menghilangkan amal. (Yakni berilmu tapi tidak beramal); sehingga mendapatkan murka.
Sementara kaum Nashoro mereka menghilangkan ilmu. (Yakni beramal tanpa ilmu); hingga mereka tersesat. (Penjelasan selengkapnya bisa meruju’ kepada “Tafsir Ibn Katsir” 1/141, pada tafsir surat Al-Fatihah)
Wallahu A’lamu bisshowaab.
🌍 Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah
📝 FAEDAH INI DIKIRIM OLEH AL-USTADZ ABDUL HADI PEKALONGAN HAFIZHAHULLAH.
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Kajian Kitab Tsalatsatul Ushul (Bagian 🔟)
—---------------------------------------------—
📚Penjelasan ucapan Imam Al-Bukhori Rohimahullah,
Bagian Kedua.
—----------------
🌴Beliau rohimahullah mengatakan,
“Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.”
✅Asy-Syaikh Al-Fauzan Hafizhohullah menjelaskan, “Mengapa Ilmu (harus didahulukan) sebelum ucapan dan perbuatan?
📝Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah karena amal perbuatan tidak akan bermanfaat (bagi pelakunya) kecuali jika dilakukan di atas ilmu.
🔻Beliau kembali menegaskan, bahwa suatu amal perbuatan yang dilakukan di atas kejahilan (kebodohan) tidak akan bermanfaat bagi pelakunya, bahkan bisa berbahaya dan membinasakan (pelakunya) pada hari kiamat (nanti), oleh karena itu ilmu harus didahulukan sebelum melakukan amal perbuatan. (Lihat “Syarah Tsalatsatil Ushul” hal. 37 – 38)
🔻Dalil atas pernyataan tersebut terdapat dalam surat Muhammad ayat 19.
{فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ}
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Sesembahan Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (Muhammad:19)
🔻Di dalam ayat tersebut Allah Ta’ala menyebutkan “ilmu” terlebih dahulu sebelum “istighfar” (permintaan ampun) yang mengandung ucapan dan amal perbuatan. (Lihat ’Umdatul Qori` vol.2/39; oleh Al-‘Aini Rohimahullah)
🔘Faedah:
—------------
🔻Jika pada pembahasan yang lalu kita telah mengetahui ancaman murka Allah Ta’ala bagi orang-orang yang tidak mengamalkan ilmunya.
🔻Maka pada pembahasan kali ini, ancaman kesesatan ditujukan bagi orang-orang yang beramal suatu amalan tanpa didasari ilmu.
👍Seorang muslim yang baik akan menjauhi jalan kedua kelompok tadi. Karena kehidupan kaum Mukminin dipenuhi dengan ilmu dan amal.
👎Lain halnya dengan kaum Yahudi; mereka menghilangkan amal. (Yakni berilmu tapi tidak beramal); sehingga mendapatkan murka.
Sementara kaum Nashoro mereka menghilangkan ilmu. (Yakni beramal tanpa ilmu); hingga mereka tersesat. (Penjelasan selengkapnya bisa meruju’ kepada “Tafsir Ibn Katsir” 1/141, pada tafsir surat Al-Fatihah)
Wallahu A’lamu bisshowaab.
🌍 Ikuti terus pelajaran Tsalatsatul Ushul (ثلاثة الأصول) setiap hari senin dan kamis, Insya Allah
📝 FAEDAH INI DIKIRIM OLEH AL-USTADZ ABDUL HADI PEKALONGAN HAFIZHAHULLAH.
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
Telegram
Warisan Salaf
Warisan Salaf
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)
ميراث السلف
Menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
Admin
Abdurrahman Rauf Almaidany
085276328934 (Tegur Sapa)